Você está na página 1de 20

TINJAUAN PUSTAKA

INFECTIOUS CORYZA (SNOT)


a. Etiologi
Haemophilus paragallinarum, bakteri penyebab penyakit pernafasan yang akut pada
ayam. Merupakan bakteri gram negatif, coccobacilli, , motil, tidak membentuk spora, anaerob
fakultatif, membutuhkan faktor V, terdiri atas beberapas strain dengan antigenesitas yang
berbeda dan paling sedikit 3 serotipe, yaitu : A, B dan C(Quin,2002; Tabbu,2000).
b. Epidemiologi
Merupakan penyakit yang mempunyai dampak ekonomi yang sangat merugikan dunia
perunggasan di dunia. Di Indonesia, penyakit ini dapat ditemukan di berbagai daerah terutama
terjadi pada saat pergantian musim. Penyakit ini sulit diberantas oleh karena faktor pendukung
sulit dihilangkan, sehubungan dengan kondisi manajemen peternakan dan cuaca di
Indonesia(Tabbu,2000). Penyakit ini juga menyerang semua umur, namun jarang pada usia
yang masih muda, sering kali menyerang pada ayam betina yang sedang bertelur(Saif, 2008).
c. Pathogenesis
unggas yang menderita penyakit coryza kronis atau sebagai karier merupakan reservoir
yang utama. Infeksius coryza terjadi pada musim hujan dan dingin, meskipun dalam keadaan
perubahan menejemen tertentu juga dapat menimbulkan infeksi coryza. Penularan terjadi
secara horizontal, ditemukan pada saat pergantian musim atau berhubungan dengan adanya
berbagai jenis stress, misalnya cuaca, lingkungan kandang, nutrisi, perlakuan vaksinasi, dan
imunosupresif.
c. Gejala Klinis
Snot dapat ditemukan pada semua umur sejak usia 3 minggu sampai masa produksi.
Masa inkubasi pendek sekitar 24 46 jam, terkadang sampai 72 jam, dengan proses penyakit
6 14 hari, tetapi ada juga yang beberapa bulan (2 3 bulan).Snot kerapkali ditemukan
bersama sama dengan penyakit lainnya, misal CRD, SHS, IB, ILT, kolibaksilosis, dan fowl
pox. Gejala awal bersin, eksudat seropus s.d. mukous dari rongga hidung dan mata. Jika
proses berlanjut, eksudat akan menjadi purulen dan berbau tidak sedap. Kumpulan eksudat ini
akan mengumpul di daerah sekitar fasial dan sekitar mata, jika ditekan akan terasa empuk.
Pembengkakan pada pial, pada bibit jantan parent stock kelopak mata kemerahan seolah
olah mata menutup. Jika saluran pernapasan bagian bawah yang terkena, akan terdengar suara

ngorok halus. Ayam akan mengalami gangguan makan dan minum sehingga mengakibatkan
gangguan pertumbuhan, peningkatan jumlah ayam yang diafkir, dan penurunan produksi telur.
Snot memiliki tingkat morbiditas tinggi dan mortalitas rendah(Tabbu,2000).
d. Perubahan Pathologi
Makroskopik: Biasanya terbatas pada saluran respirasi bagian atas menyebabkan
keradangan kataralis akut pada membran mukosa kavum nasi dan sinus. Kerapkali akan
ditemukan konjungtivitis kataralis dan edema subkutanpada daerah fasial dan pial, jarang
ditemukan keradangan pada paru dan kantong udara(Saif, 2008).
Mikroskopik : Pada kavum nasi, sinus infraorbitalis, dan trakea terjadi deskuamasi,
desintegrasi, dan hiperplasia lapisan mukosa dan glandularis, edema, hiremia, infiltrasi
heterofil, mast cell, dan makrofag di daerah tunika propria. Jika meluas ke bagian bawah akan
ditemukan bronkhopneumonia akut, yang ditandai dengan infiltrasi heterofil di dinding
parabronki(Saif, 2008).
e. Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis, adanya edema pada bagian facial,
isolasi dan identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan mengambil swab pada daerah sinus,
eksudat trachea atau kantung udara juga dapat diswab, kemudian di tanam pada plat agar
darah dengan dicampur penanaman bakteri staphylococcus untuk menghasilkan V faktor,
dapat juga menggunakan PCR, HA HI, ELISA, FAT(Quin,2002; Saif, 2008).
f. Pengobatan dan pencegahan
Medikasi dengan memberikan minum yang dicampur dengan oxytetracyclin atau dengan
erhytromisin pada awal terjadinya outbreak. Manajemen all in all out, dihindari membawa
pullet yang carrier, praktek biosekuriti diperketat, pemberian vaksin inaktif , diberikan 3
minggu sebelum terjadi outbreak dari coryza.

HASIL PRAKTIKUM

a. Nama Pemilik

: Ibu Suratmi

b. Alamat

: Sleman

c. Jenis ayam, umur

: Betina layer, 26 minggu

d. Jumlah populasi

: 200 ekor

e. Riwayat vaksin

: Vaksin inaktif SNOT terakhir diberikan pada umur 7 Minggu

f. Mortalitas

: 1 ekor

g. Morbiditas

: 46 ekor

h. Kemampuan produksi

: produksi blm maksimal

i. Gejala klinis
Ayam terlihat kurus, tercium bau tidak sedap, jengger terkulai, bulu kusam, berdiri dan
rontok, ada pembengkakan didaerah fasial terutama ada edema dibagian mata,mata yang lain
agak tertutup dan ada leleran didaerah mata bersifat serous dan leleran didaerah hidung
bersifat mucus, daerah bagian kloaka kotor
j. Perubahan patologi anatomi per-sistem
Pada saluran respirasi terlihat adanya timbunan eksudat mukus didaerah nasal, adanya
bercak-bercak hitam di paru-paru. Saluran pencernaan, saluran urinasi, saluran reproduksi
tidak mengalami perubahan. Pada oedim disekitar muka saat dibuka menunjukan timbunan
eksudat berwarna kuning.
k. Diagnosa sementara
Melihat dari gejala diagnosa sementara ayam tersebut menderita infeksius coryza
l. Kata kunci penyakit

Adanya kebengkakan didaerah fasial, terutama adanya oedim didaerah mata, adanya
leleran mata dan hidung.
m.Kepentingan diagnosa laboratorium
Pemeriksaan sampel darah dengan memasukan darah ketdalam tabung heparin atau
dengamn pemberian edta pada tube untuk pemeriksaan darah rutin cara pengirimannya dapat
mnggunakan box pendingin yang steril, dengan apus darah pada object glass untuk
mengetahui deferensial leukosit cara pengirimannya ditempatkan pada box yang kering dan
steril laboratorium yang dituju untuk pemeriksaan darah adalah laboratorium patologi klinik.
Darah dimasukan kedalah tube tanpa edta untuk mendapat serum yang dibawa dengan
menggunakan box pendingin setelah serum terbentuk pada suhu ruang, serum ini dapat
digunakan untuk uji HA dan HI, swab dari nasal dengan menggunakan cottonbud yg steril dan
langsung dimasukan kedalam tabung yang steril dan kemudian ditanam pada plat agar darah
untuk mengisolasi bakteri, laboratorium yang dituju adalah laboratorium mikrobiologi.
Pemeriksaan pada organ dalam dengan memberikan Nacl fisiologis ditempatkan pada wadah
steril atau langsung bisa diperiksa saat dinekropsi laboratorium yang dituju adalah
laboratorium patologi umum.
n. Pembahasan
Ayam layer yang berjenis kelamin betina dengan umur 26 minggu, jumlah
populasi dalam kandang 200, mengalami penurunan dari hasil produksi dengan morbiditas
yang tinggi dan mortalitas yang rendah dalam satu populasi. Diagnosa dengan melihat
perubahan yang terjadi didaerah fasial, dan dengan melakukan swab pada nasal untuk
mengetahui agen infeksi yang akan diperiksa di laboratorium mikrobiologi dengan
penanaman pada plat agar darah. Diagnosa dari penyakit ini adalah infeksius coryza.
Medikasi dengan memberikan minum yang dicampur dengan oxytetracyclin atau dengan
erhytromisin pada awal terjadinya outbreak. Manajemen all in all out, dihindari membawa
pullet yang carrier, praktek biosekuriti diperketat, pemberian vaksin inaktif , diberikan 3
minggu sebelum terjadi outbreak dari coryza.

Terlihat adanya kelesuan pada ayam,


jengger terkulai

Adanya udema fasial dan terlihat


leleran pada mata

Dibawah mata terdapat kebengkakan


dan adanya leleran hidung

Pada bagian yang bengkak saat di


buka terdapat timbunan eksudat yang
sudah menguning

Terlihat koanae mengecil akibat


adanya timbunan eksudat didalam
sinus

Paru-paru terdapat bercak bercak


warna hitam yang sulit dibersihkan

o. Daftar pustaka
Quinn, P.J., Markey, B.K., Carter, M.E., Donnelly, WJC., Leonard, F.C. 2007. Veterinary
Microbiology and Microbial Disease. UK, Blackwell Science.
Saif, Y.M. 2008. Diseases of Poultry. 12th edition. Blackwell Publishing, Iowa.
Tabbu, C.R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

TINJAUAN PUSTAKA CRD KOMPLEKS COLLIBACILOSIS

Chronic Respiratory Disease


a. Etiologi
Mycoplasma merupakan organisme prokaryot yang sangat kecil, tidak memiliki dinding
sel, hanya mempunyai plasma membran. Morfologi Mycoplasma berbentuk seperti telur goreng,
hal ini membuat Mycoplasma resisten terhadap antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel.
Mycoplasma membutuhkan kebutuhan nutrisi yang lengkap (Saif, 2008).
M. gallisepticum yang diwarnai giemsa dan diamati dibawah mikroskop cahaya
menunjukkan bentuk sel yang cocoid, berukuran 0,25-0,5 m. pengamatan dibawah mikroskop
elektron menunjukkan material capsular berhubungan dengan kontak dari sel MG dengan epitel
trakea ayam. Organisme ini berbentuk bulat atau filamentous atau polaritas berbentuk botol dari
sel tubuh. Polaritas ini berhubungan dengan pembelahan sel dan berhubungan dengan
keberadaan dari organella terminal, seperti keterlibatan dalam motilitas, khemotaksis, interaksi
dengan hospes (cytoadherance) dan patogenitas (Saif, 2008).
b. Patogenesis
Tipe infeksi paling sering terjadi melalui inhalasi. Infeksi dapat eksogen atau endogen.
Bakteri melekat ke sel hospes melalui reseptor spesifik dan dimediatori sebagian oleh asam
sialic. Kontak dengan sel hospes diperlukan untuk assimilasi dari nutrien viral, seperti faktor
pertumbuhan dan prekusor asam nukleat yang tidak dapat disintesis sendiri oleh Mycoplasma.
Ukuran yang kecil dan plastik alami dari organisme ini membuatnya mampu beradaptasi dengan
bentuk dan contur dari permukaan sel hospes (Carter dan Wise, 2004).
Tingginya berat molekul dari protein telah diidentifikasi sebagai adhesin yang penting.
Beberapa Mycoplasma mempunyai predileksi untuk menginfeksi sel mesenkimal yang melapisi
cavitas serosa dan sendi, berparasit pada jaringan sistem respirasi termasuk paru-paru. Infeksi
dalam saluran pernafasan menghasilkan destruksi dari silia yang mempredisposisi dalam infeksi
sekunder bakterial. Kapsul galactan yang dihasilkan Mycoplasma mempunyai peran patogenitas.
Cytotoxic glycoprotein dan protein

yang diisolasi dari membran juga merupakan faktor

patogenitas. Kebanyakan produk yang diproduksi selama pertumbuhan bakteri adalah capsular
karbohidrat, hemolisin, enzim proteolitik, amonia dan endonuclease. Hal ini menyebabkan
akumulasi metabolit Mycoplasma yang berperan dalam efek cytopathic dan kerusakan jaringan
(Carter dan Wise, 2004).
c. Gejala Klinis

Karakteristik infeksi secara alami pada penyakit yang diakibatkan oleh M.gallisepticum
pada ayam dewasa adalah rales tracheal, leleran nasal, dan batuk. Feed consumption menurun
dan terjadi penurunan berat badan. Pada ayam layer, terjadi penurunan produksi telur sampai
level yang paling rendah. Ayam jantan memiliki gejala yang lebih hebat dan penyakit dapat
berlajut menjadi semakin parah selama musim dingin. Pada flok broiler, kebanyakan wabah
terjadi setelah usia 4 minggu. Wabah yang parah diserta dengan morbiditas dan mortalitas yang
tinggi diobservasi pada broiler secara frekuen mengikuti infeksi yang terjadi secara simultan dan
faktor lingkungan (Saif, 2008).
Konjungtivitis berkembang pada ayam mengikuti infeksi melalui mata. Kasus
keratoconjungtivitis ditemukan pertama kali di Jepang pada usia 30 hari. Ayam menunjukkan
gejala pembengkakan pada kulit fasial dan kelopak mata, kenaikan lakrimasi, kongesti dari
pembuluh darah konjungtival dan rales respirasi (Saif, 2008).
Infeksi M. gallisepticum tanpa komplikasi menghasilkan sinusitis yang relatif ringan,
tracheitis, dan airsacculitis. Infeksi E. coli yang sering terjadi bersamaan mengakibatkan
penebalan dan kekeruhan kantung udara yang parah, dengan akumulasi eksudatif, perikarditis
fibrinopurulent, dan perihepatitis, khususnya pada ayam pedaging. Pada kalkun menunjukkan
gejala sinusitis mukopurulen parah dan berbagai tingkat tracheitis dan airsacculitis. Selaput
lendir yang menebal, hiperplastik, nekrosis, dan menyusup dengan sel inflamasi. Daerah
Lymphofollicular ditemukan di submucosa tersebut.
d. Perubahan Patologi
Secara Makroskopis
Lesi secara makros menunjukkan eksudat katharal pada daerah nasal dan paranasal,
trakea, bronkus dan kantung udara. Sinusitis paling parah terjadi pada kalkun namun dapat
ditemukan pada ayam. Kantung udara mengandung eksudat kaseosa, meskipun dapathanya
menunjukkan manik-manik atau penampilan lymphofollicular. Beberapa derajat pneumonia
dapat diobservasi. Pada kasus yang parah, kantung udara menunjukkan fibrinous atau
fibrinopurulen perihepatitis dan ahesi dari pericarditis yang menghasil kan mortalitas dan
pengafkiran yang ekstensif pada ayam (Saif, 2008).
Secara Mikroskopis
Secara mikroskopis, terdapat penebalan dari membrana mukosa yang terjadi akibat
infiltrasi sel mononuclear dan hyperplasia dari kelenjar mucous. Focal area dari lymphoid
mengalami hiperplasia yang umumnya ditemukan pada daerah submukosa. Pada trakea,
mengalami destruksi silia yang hampir komplit dan pembengkakan sel epitel akibat perlekatan

MG pada silia, terdapat siliostatis akibat infeksi MG. Penebalan mukosa akibat infeksi
berkembang dengan baik pada 1-2 minggu kemudian menurun 2-3 minggu. Paru paru terdapt
area pnemonic, perubahan lymphofollicular dan lesi granulomatosa. Keratokonjungtivitis pada
ayam layer dikarakterisasikan dengan hiperplasia epitel, infiltrasi seluler parah, dan edema
subepitelial dan jaringan ikat central fibrovascular

stroma yang menghasilkan penebalan

kelopak mata (Saif, 2008).


e. Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan serologi, meliputi Rapid Plate
Agglutination Test (RPAT), Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), Standart Tube
Agglutination Test, Standart Hemagglutination Inhibition (HI). Prosedur isolasi dan identifikasi
membutuhkan waktu cukup lama (34 minggu) sehingga kurang efisien.
Selama fase infeksi akut (60-90 hari post infeksi), populasi organisme di saluran respirasi
atas dan insiden penyakit di flok tinggi. Seperti contoh kultur dari trakea atau choanal cleft 5
sampai 10 seringkali mencukupi. Swab melalui trachea, air sac dan jaringan yang lain,
diperkirakan 0,1 ml dari cairan sinus yang bengkak atau sendi diinokulasikan pada 3-5 ml media
kaldu. Potongan dari air sac atau jaringan yang lain dapat diinokulasi secara langsung pada
media kaldu. Inokulum harus kecil karena enzim dalam jaringan dapat merombak glukosa dan
menyebabkan turunnya pH atau inhibitor dalam jaringan kemungkinan ada. MG, MS dan
pefermentasi glukosa yang lain dikultur dan diinkubasi sampai indikator phenol red dalam
media berubah warna, jangan melakukan inkubasi lebih lama setelah perubahan warna karena
Mycoplasma sensiti terhadap pH yang rendah. Penanaman pada pelat agar memutuhkan waktu 45 hari pada suhu 37oC untuk pengamatan morfologi koloni ( kecil, halus, d= 0.1-1 mm dengan
pusat berelevasi) yang kemudian dapat dilanjutkan dengan uji biochemis (Purchase, dkk., 1989).
f. Pencegahan dan Terapi
Di lapangan, banyak kasus infeksi MG diperumit oleh bakteri patogen lainnya, dengan
demikian, pengobatan yang efektif juga harus menyerang infeksi sekunder. Sebagian besar strain
M. gallisepticum sensitif terhadap beberapa antibiotik, seperti chlortetracycline, eritromisin,
oxytetracycline, spectinomycin, Tiamulin, tylosin, atau fluoroquinolone seperti enrofloxacin.
Antibiotik biasanya diberikan dalam pakan atau air selama 5-7 hari, namun, pada kalkun,
antibiotik dapat diberikan melalui suntikan pada awalnya, diikuti oleh obat pakan atau air.
Antibiotik dapat mengurangi tanda-tanda klinis dan lesi tetapi tidak menghilangkan infeksi.

Program pengendalian yang paling efektif adalah untuk mengidentifikasi peternak tanpa
aglutinasi serum atau titer ELISA dan untuk menjaga stok seronegatif. Dalam pemuliaan yang
berharga, pengobatan telur, biasanya dengan tylosin atau panas, dapat digunakan untuk
menghilangkan penularan telur untuk keturunan. Obat bukan metode kontrol jangka panjang
yang baik tetapi nilai dalam mengobati ternak yang terinfeksi individu.
Penggunaan burung bebas M. gallisepticum diinginkan, tetapi infeksi dalam beberapa
usia peternakan komersial di mana telur depopulasi tidak masalah. Sebuah vaksin hidup telah
dilisensi di Amerika Serikat untuk digunakan dalam terinfeksi, beberapa usia kawanan lapisan
tetapi hanya dapat digunakan dengan izin dari dokter hewan. Vaksin ini terdiri dari strain ringan
M. gallisepticum (F-strain) dan biasanya diberikan pada usia 10-14 minggu. F-regangan adalah
patogenisitas rendah untuk ayam tetapi sangat virulen untuk kalkun. Burung divaksinasi tetap
operator, dan kekebalan berlangsung melalui musim bertelur. Baru-baru ini, 2 nonpathogenic
strain vaksin hidup (6/85 dan ts-11) telah diperkenalkan, strain menawarkan keuntungan dari
peningkatan keselamatan dan digunakan secara luas di lapisan komersial.
(Frasser, 2005)

Collibacilosis
Colibacillosis terjadi sebagai perikarditis septicemia atau subakut akut fatal dan
airsacculitis. Ini adalah penyakit sistemik yang umum pada unggas dan tersebar di seluruh dunia.
a. Etiologi dan Patogenesis:
Escherichia coli adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang, biasanya ditemukan di
usus unggas, walaupun sebagian besar nonpathogenic, sejumlah menghasilkan infeksi
ekstraintestinal. Strain patogen umumnya dari serotipe O1, O2, dan O78, tetapi serotipe O11,
O15, O18, O51, O115, dan O132 juga telah dilaporkan untuk isolat E.coli yang berhubungan
dengan colibacillosis. Faktor virulensi termasuk kemampuan untuk melawan fagositosis,
pemanfaatan sistem besi, produksi colicins, dan pelekatan terhadap epitel pernapasan. E coli
virulen umumnya nontoksikogenik, kurang invasif, dan tidak memiliki adhesins umum (Gyles
dkk., 2010).
Sejumlah besar E.coli ditularkan melalui kontaminasi tinja. Paparan awal untuk E.coli
patogen dapat terjadi dari penetasan telur yang terinfeksi atau terkontaminasi, tetapi infeksi
sistemik biasanya membutuhkan predisposisi faktor lingkungan atau penyebab infeksi.

Mycoplasmosis, bronkitis menular, penyakit Newcastle, enteritis hemoragik, dan bordetellosis


dapat terjadi mendahului colibacillosis. Kualitas udara yang buruk dan tekanan lingkungan
lainnya juga bisa menyebabkan rentan terhadap infeksi E coli (Gyles dkk., 2010).
Infeksi sistemik terjadi ketika sejumlah besar E.coli patogen mendapatkan akses ke
aliran darah dari saluran pernapasan atau usus. Bakteremia berkembang menjadi septicemia dan
kematian, atau infeksi meluas ke permukaan serosal, perikardium, sendi, dan organ lainnya
(Gyles dkk., 2010).
b. Gejala Klinis dan Lesi Patologis
Gejala dapat meliputi kelesuan, bulu kusut, sesak napas dan batuk. Ayam yang
terinfeksi mungkin menunjukkan diare, bengkak, dan kongesti pada hati dan limpa. Bakteri ini
kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi pusar pada anak ayam yang baru menetas. Infeksi E.
coli sekunder bisa berakibat fatal karena pneumonia dan radang kantung udara (Gyles dkk.,
2010).
Tanda-tanda spesifik berbeda ditunjukan tergantung pada usia, organ yang terlibat, dan
penyakit yang muncul secara bersamaan. Pada pemerikasaan postmortem yam muda yang
mengalami septikemia akut, ditemukan sedikit lesi pada hati dan limpa, dan nampak hyperemic
dengan cairan meningkat pada rongga tubuh. Pada bentuk kronis subakut, ditemukan
airsacculitis fibrinopurulent, perikarditis, perihepatitis, dan penipisan limfositik dari bursa dan
timus. Meskipun airsacculitis adalah lesi klasik colibacillosis, namun masih belum jelas apakah
itu hasil dari paparan penyakit pernafasan primer atau dari infeksi E.coli sendiri (Gyles dkk.,
2010).
c. Diagnosis:
Isolasi dari kultur murni dari E.coli dari darah jantung, hati, atau lesi viseral khas di
bangkai segar menunjukkan colibacillosis primer atau sekunder. Pertimbangan harus diberikan
untuk predisposisi infeksi dan faktor lingkungan. Patogenisitas isolat didirikan inokulasi
parenteral ketika anak ayam muda atau hasil poults pada lesi septicemia atau khas yang fatal
dalam waktu 3 hari. Patogenisitas juga dapat dideteksi dengan inokulasi kantung allantoic dari
embrio ayam berumur 12 hari. Lesi makros yang dihasilkan meliputi perdarahan tengkorak dan
kulit dari embrio diinokulasi dengan isolat virulen (Chauhan dan Roy, 2007)
d. Pengobatan dan Pengendalian:

Strategi pengobatan mencakup upaya untuk mengendalikan infeksi predisposisi atau


faktor lingkungan dan penggunaan awal antibakteri. Sebagian besar isolat resisten terhadap
tetrasiklin, streptomisin, dan obat sulfa, meskipun keberhasilan terapi kadang-kadang dapat
dicapai dengan tetrasiklin. Penggunaan fluorokuinolon kontroversial karena penggunaan obat ini
pada ayam pedaging komersial diyakini menyebabkan resisten terkait infeksi Campylobacter spp
bawaan makanan manusia. Bacterins komersial, diberikan kepada ayam peternak atau anak
ayam, telah memberikan perlindungan terhadap serotipe homolog E.coli (Chauhan dan Roy,
2007).
HASIL PRAKTIKUM
a. Nama Pemilik

: Bu Suharni

b. Alamat

: Jln. Monjali

c. Jenis ayam, umur

: Kampung, 2 bulan

d. Jumlah Populasi

: 20 ekor

e. Riwayat Vaksin

:-

f. Mortalitas

:-

g. Morbiditas

:-

h. Kemampuan Produksi

:-

i. Gejala Klinis

: Lemas, ngorok, penurunan nafsu makan, keluar leleran


dari hidung

j. Perubahan Anatomi Organ

: Kerusakan pada hati


Hemoragi pada usus
Perubahan warna padda paru-paru
Exudat pada saluran pernafasan

k. Diagnosa sementara

: CRD kompleks Collibacilosis

l. Kata kunci

: Exudat, hemoragi, pulmo, hati, usus, CRD, Collibacilosis

m. Kepentingan diagnosa

Laboratorium Patologi Klinik ; Sampel darah; untuk mengetahui perubahan leukosit dan eritrosit.
Laboratorium Patologi Umum ; Sampel hati, usus, dan paru-paru; untuk mengetahui perubahan
pada kerusakan organ

Laboratorium Mikrobiologi; Sampel usus, trakea dan paru-paru; identifikasi dan isolasi bakteri
n. Pembahasan
Ayam yang diperksa menunjukan gejala klinis lemas, terdengar suara ngorok, dan keluar
exudat dari sinus. Sesuai anamnesa dari pemilik ayam mangalami penurunan nafsu makan dan
berbadan kurus. Setelah dinekropsi, ditemukan exudat pada saluran pernafasan, dan adanya
perubahan warna pada paru-paru (gambar 1), menjadi lebih gelap pada beberapa bagian. Selain
itu pada saluran pencernaan juga ditemukan perubahan patologi secara makros yaitu adanya
hemoragi pada intestinum bagian atas (gambar 2), dan terjadi penebalan lemak pada dinding hati
(gambar 3). Adanya eksudat pada saluran pernafasan mencondongkan diagnosa pada Chronic
Respiratory Disease (CRD), diagnosa ini didukung dengan ditemukan pneumonia pada paruparu. CRD sering diikuti collibacilosis sebagai infeksi sekunder,yang menyerang saluran
pencernaan.

Gambar 1. Perubahan warna dan hemoragi pada pulmo

Gambar 2. Hemoragi pada usus bagian atas

Gambar 3. Perubahan warna dan penebalan lemak pada organ hati


o. Daftar Pustaka
Carter,G.R. dan Wise, D.J. 2004. Essentials of Veterinary Bacteriology and Mycology. Iowa :
Iowa State University Press.
Chauhan, H. V. S. Roy, S. 2007. Poultry diseases, diagnosis and treatment. China : Saunders
Elsevier Ltd.
Frasser, C.M. 2005. The Merck Veterinary Manual: a Handbook of Diagnosis, Therapy, and
Disease. USA : Blackwell Publishing.
Gyles, C.L., Prescott, J.F., Songer, J.G. dan Thoen, C.O. 2010. Pathogenesis of Bacterial
Infections in Animals 4TH Edition. Iowa, USA : Blackwell Science Ltd.
Purchase, H.G.; Lawrence H.A.; Domermuth, C.H. dan Pearson, J.E. 1989. A Laboratory
Manual for The Isolation and Identification of Avian Pathogens 3 rd Edition. Iowa :
Kendall/Hunt Publishing Company.
Saif, Y.M. 2008. Disease of Poultry 12th Edition. Iowa USA: Iowa State University Press.

Mikotoksikosis (aflatoksikosis) dengan infeksi penyakit lain


SHS (Swollen Head Syndrome)
Mikotoksikosis (aflatoksikosis)
Mikotoksin ialah metabolit sekunder dari fungi yang berkembang dalam pakan secara
alami (Coulombe, 1991). Ayam terserang mikotoksin jika ayam memakan pakan yang
tercemar beberpa mikotoksin. Pakan dapat tercemar mikotoksin saan produksi maupun
prosesing, saat penanaman, transportasi dan penyimpanan. Prosesing dan pengemasan
dapat menghilangkan fungi namu mikotoksin akan tetap ada. Faktor yang mempengaruhi
kontaminasi ialah kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban) serta metode prosesing
maupun produksi dan juga penyimpanan.

Mikotoksiskosis ialah penyakit yang disebabkan oleh mikotoksin yang masuk ke dalam
tubuhmelalui ingesti. Keparahan ditentukan dari mikotoksin yang masuk dan spesies jamur
serta efeknya tergantung pada dosis toksin yang masuk. Penyakit ini tidak menular.
Penyakit ini tidak menular ataupun bersifat infeksius. Biasanya ada lebih dari satu
mikotoksin yang masuk dalam tubuh unggas pada saat yang bersamaan (Hussein & Brasel,
2001).
Jenis mikotoksin yang sering ditemukan pada industri perunggasan :
Aflatoksin
Aflatoksin merupakan toksin yang diproduksi sebagai metabolit sekunder oleh fungi
Aspergillus flavus, Aspergillus nominus dan Aspergillus parasiticus (Kurtzman, 1987).
Aflatoksin yang dihasilkan Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus bersifat
hepatotoksik dan hepatocarcinogenic. Gejala khas yang ditimbulkan di ayam ialah kongesti
ginjal, hemoraghi atau nekrosis hati, kematian terjadi pada umur 4-6 minggu (Santurio,
2000). Aflatoksin memiliki lebih dari 20 tipe molekul, beberapa diantaranya ialah B1
(AFB1), B2 (AFB2), G1 (AFG1) dan G2 (AFG2). B1 dan B2 memiliki cincin cyclopentane
di molekulnya dan jika dilihat di bawah sinar UV tampak blue flourescence. Sedangkan G1
dan G2 memiliki cincin lakton di molekulnya dan di bawah sinar UV tampak green-yellow
flourescence.Tipe AFB1 merupakan yang paling toxigenic diikuti G1, B2 lalu G2
(Coulombe, 1991).
Standar minimal cemaran mikotoksin di tiap negara berbeda beda, di Indonesia menurut
SNI batas cemaran minimal 50 ppb aflatoksin, menurut European Union 10 ppb AFB1
dalam pakan, di Kanada dan Amerika Serikat 20 ppb AFB1 AFB2 AFG1 AFG2 (Fonseca,
2003).
Efek dari Aflatoksin :
a. Absorbsi pakan dalam tubuh menurun sehingga ditemukan food passase atau pakan yang
belum tercerna sempurna keluar bersama feses
b. Ekskresi lipid meningkat sehingga menurunkan efisiensi pakan atau FCR meningkat
c. Pada broiler terjadi penurunan aktivitas lipase pankreas yang merupakan enzim pankreas
untuk pencernaan lemat dan penurunan garam empedu yang dibutuhkan untuk pencernaan
dan absorbsi lemak

d. Pada layer terjadi penurunan produksi telur dan berat telur, meningkatnya lemak di hati dan
perubahan enzim serum serta terjadi atresia ovarium pada layer yang diberi pakan minimal
8 ppm AFB1 dalam 7 hari
e. Kepucatan mukosa dan kaki karena absobsi dan transportasi karoten dari pakan dalam
jaringan menurun
f. Imunosupresi karena terjadi aplasia timus dan bursa, aktivitas dan jumlah T sel menurun,
respon antibodi menurun,supresi aktivitas fagositosis dan reduksi komponen humoral
seperti complement, interveron, IgG dan IgA. Kondisi ini mendukung terjadinya infeksi
sekunder virus dan bakteri
(Osbourne &Hamilton, 1981)
Patogenesis aflatoksin mula mula masuk ke dalam tubuh kemudian diabsorbsi cepat di
saluran pencernaan, AFB1 berikatan segera dengan albumin darah dan melanjut ke protein
lain. Bentuk aflatoksin baik yang berikatan atau tidak berikatan dengan serum, tersebar di
jaringan terutama hati kemudian setelah di deposit di hati, AFL yang terabsorbsi
mengalami biotransformasi oleh enzim mikrosomal dari sistem oksidatif lalu ikatan AFL
dengan protein menyebabkan fungsi hati menurun dengan adanya gangguan sintesis protein
(Biehl & Buck, 1987).
Efek primer yang ditimbulkan aflatoksin dapat dijadikan indikasi diagnosa klinis yaitu
perubahan ukuran organ dalam : pembesaran hati, limpa dan ginjal, bursa dan timus
mengecil, terjadi perubahanwarna dan tekstur organ : hati berwarna kuning dan rapuh
dengan infiltrasi lemak. AFL tidak menyebabkan erosi mukosa di gizzard. Aspergillus
flavus selain memproduksi aflatoksin juga memproduksi mycotoksin yang disebut asam
cyclopiazonic (Wyatt, 1991).
Diagnosa dapat ditegakkan dari gejala klinis dan perubahan patologi organ dalam.
Swollen Head Syndrome (SHS)
SHS disebabkan oleh Avian Pneumo virus (APV). Virus ini bereplikasi di saluran
pernafasan dan shedding di feses juga dapat terjadi.tidak ada penularan secara vertical.
Terdapat dua subgroup APV yaitu subtype A dan B. Kedua grup dapat menginfeksi kalkun
dan ayam.
Gejala klinisnya yaitu kebengkakan pada sinus infraorbital dan kebengkakan pada muka
baik unilateral maupun bilateral, diikuti disorientasi dan tortikolis.

Perubahan patologinya ialah sinusitis eksudatif dapat ditemukan dengan edema subkutan.
Diagnose dapat ditegakkan dari gejala klinis yang tampak, hasil laboratorium virology atau
serologi dengan teknik polymerase chain. Metode ELISA juga dapat digunakan.
HASIL PRAKTIKUM
a. Nama Pemilik

: Bu Siti Rahayu

b. Alamat

: Jln. Bantul km 10

c. Jenis ayam, umur

: Kampung, 2 bulan

d. Jumlah Populasi

: 50 ekor

e. Riwayat Vaksin

:-

f. Mortalitas

:-

g. Morbiditas

:-

h. Kemampuan Produksi

:-

i. Gejala Klinis

: bengkak di sekitar mata, ada memar di belakang


mata, lesu, lemah, kurus, ada leleran di hidung

j. Perubahan Anatomi Organ

: hati pucat dan terdapat warna kekuningan


di hati terdapat jaringan ikat
konsistensi hati keras
hemoraghi pada usus
terdapat cacing Ascaridia galli di usus
ada eksudat di subkutan kepala

k. Diagnosa sementara

: Mikotoksikosis (aflatoksikosis) dengan infeksi penyakit


lain SHS

l. Kata kunci

(Swollen Head Syndrome)

: hati kekuningan, eksudat subkutan kepala, mikotoksikosis


(aflatoksin), SHS

m. Kepentingan diagnosa

: Laboratorium Patologi Klinik ; Sampel darah; untuk

mengetahui perubahan leukosit dan eritrosit. Laboratorium Patologi Umum ; Sampel hati,
usus, dan subkutan kepala; untuk mengetahui perubahan pada kerusakan organ.
Laboratorium Mikrobiologi; Sampel usus ; identifikasi dan isolasi bakteri
n. Pembahasan
Ayam yang diperksa menunjukan gejala klinis bengkak di sekitar mata, ada memar di
belakang mata (gambar 1), lesu, lemah, kurus, ada leleran di hidung. Sesuai anamnesa dari

pemilik ayam mangalami penurunan nafsu makan dan berbadan kurus. Setelah dinekropsi,
ditemukan hati pucat dan terdapat warna kekuningan (gambar 2), di hati terdapat jaringan
ikat, konsistensi hati keras, ada eksudat di subkutan kepala (gambar 3), hemoraghi pada usus
(gambar 4), terdapat cacing Ascaridia galli di usus.

Gambar 1. Memar di belakang mata

Gambar 2. Hati berwarna kekuningan

Gambar 3. Eksudat di subkutan kepala

Gambar 4. Hemoraghi pada usus

o. Daftar Pustaka
Burditt, S.J., Winston, M., Hagler, W., Hamilton, P.B. 1983. Survey of molds and
mycotoxins for heir ability to cause feed refusal in chickens. Poultry Science;
62:2187-91.
Hamilton, P.B., Garlich, J.D. 1971. Aflatoxin as a possible cause of fatty liver syndrome in
laying hens. Poultry Science 50:800-804
Kubena, L.F., Swanson, S.P., Harvey, R.B.1985. Effects of feeding deoxynivalenol
(vomitoxin)-contaminated wheat to growing chicks. Poultry Science 64 (9): 16491655
Kurtzman, C.P., Horn, B.w., Hesseltine C.W. 1987. Aspergillus nomius, a new aflatoxinproducing species related to Aspergillus flavus and Aspergillus tamarii. Antonie
Leeuwenhoek. 53:147-158.
Osborne, D.J., Hamilton, P.B. 1981. Decreased pancreatic digestive enzymes during
aflatoxicosis. Poultry Science.60: 1818-22.