Você está na página 1de 5

Asesmen Faktor-Faktor Psikososial pada Disclosure

terhadap Anak [DIKTI]

28 May 2013 04:09

Written by Super User

Category: Current Research

Hits: 121

Dalam Laporan Tahun 2010 Triwulan Keempatnya (Oktober 2010 Desember 2010) Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa jumlah kasus baru HIV dan AIDS dalam kurun
waktu pelaporan adalah 1405 kasus, yang dilaporkan oleh 62 Kabupaten/Kota dan 15 provinsi.
Cara penularan kasus HIV dan AIDS baru dilaporkan terbanyak melalui hubungan heteroseksual
(78,22%), IDU (16,30), perinatal (2,49%) dan LS (1,78%). Peningkatan jumlah kasus HIV dan AIDS
baru ini tentu sangat memprihatinkan, karena dampak dari kasus-kasus baru tersebut akan
menentukan nasib ribuan keluarga, perempuan dan anak-anak di seluruh Indonesia.
Menteri Kesehatan RI secara khusus mengemukakan bahwa jumlah penderita HIV dan AIDS saat
ini sudah menyentuh ibu rumah tangga dan jumlahnya akan bertambah besar karena penularan
melalui hubungan heteroseksual. Dampak selanjutnya adalah semakin banyak anak Indonesia
yang dimungkinkan untuk dilahirkan dengan HIV positif. Data UNAIDS (2010) menunjukkan, di
tahun 2009, sekitar 400.000 orang anak di bawah 15 tahun terinfeksi HIV. Sebagian besar terjadi
karena penularan transmisi vertikal dari ibu ke anak, proses kelahiran atau menyusui. Artinya, laju
epidemi HIV dan AIDS mengharuskan adanya perhatian yang lebih besar dari sisi kesehatan
masyarakat, perubahan perilaku, dan upaya pencegahan yang semaksimal mungkin. Peran ilmuilmu sosial menjadi sangat penting, karena dampak psikososial yang ditimbulkan penularan HIV dan
AIDS seringkali sama besarnya dari dampak biologis dan medis yang harus ditanggung oleh para
ODHA dan keluarganya.

Berbagai upaya untuk menghapuskan diskriminasi terhadap ODHA dan keluarganya telah banyak
dilakukan oleh lembaga-lembaga yang bergerak di bidang HIV dan AIDS di seluruh Indonesia,
dengan tujuan agar setiap keluarga yang terdampak HIV dan AIDS memperoleh kesempatan untuk
hidup, bersekolah, bekerja dan berkegiatan, sama seperti anggota masyarakat lainnya. Namun
kompleksitas masalah yang dihadapi keluarga-keluarga yang salah satu atau beberapa anggota
keluarganya adalah ODHA, atau keluarga dengan orangtua tunggal, serta keluarga-keluarga
dengan anak-anak yatim (atau yatim piatu) karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia,
menyebabkan upaya pengurangan stigma dan diskriminasi sangat sulit. Akibat selanjutnya,
keterbukaan (disclosure) terhadap status HIV positif pada ODHA dewasa (baik pada ayah maupun
ibu yang terinfeksi HIV) bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, begitu pula jika hal yang
sama terjadi pada anak-anak yang dilahirkan.

Kesedihan dan konflik internal dalam diri orangtua, yaitu apakah mereka harus menceritakan
keadaan yang sebenarnya pada anak (atau anak-anak) mereka atau lebih baik menutup keadaan
tersebut sampai anak dianggap siap untuk tahu, adalah masalah-masalah psikologis yang tidak
mudah. Keterbukaan, dianggap akan berakibat pada diskriminasi, sehingga berujung pada semakin
kurangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan hidup yang layak.
Di sisi lain, kajian Wilfert, Beck, Fleischman, Mofenson, Pantell, Schonberg, Scott, Sklaire, dan
Whitley-Williams (1999) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengetahui bahwa dirinya terinfeksi
HIV tetap memiliki harga diri yang lebih baik dari anak-anak yang tidak mengetahui keadaan diri
mereka. Anak-anak yang mengetahui status mereka juga lebih siap dalam menghadapi pengobatan
yang harus mereka jalani. Hasil penelitian serupa juga diperoleh oleh Instone (2000), Bachanas,
Kullgren dan Schwartz dkk (2001) serta Lester, Chesney dan Cooke (2002), yang mengemukakan
bahwa kurangnya pengetahuan tentang keadaan diri anak-anak yang sebenarnya justru akan
menghambat pemahaman mereka tentang pengobatan yang harus dijalani, serta menyebabkan
masalah-masalah psikologis dan perilaku sertaan. Pada saat mereka beranjak dewasa,
pengetahuan tentang keadaan diri akan membuat mereka lebih mampu menghadapi berbagai
upaya pengobatan jangka panjang.
Perlunya pembekalan pengetahuan dan keterampilan dari dalam diri sendiri agar mampu
menghadapi kesulitan hidup dan melakukan penyesuaian yang positif terhadap kondisi terinfeksi
HIV, dengan demikian adalah masalah yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Semakin
banyaknya anak-anak yang mampu bertahan hidup dengan HIV positif harus disertai dengan upaya
yang sungguh-sungguh untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan selanjutnya.
Kemampuan seseorang untuk berhasil melakukan penyesuaian yang positif walaupun berada dalam
lingkungan yang cukup beresiko dan dapat membuat individu mengalami dampak negatif disebut
juga sebagai resiliensi (Buckner, Mezzacappa, dan Beardslee, 2003). Belum adanya penelitian
mengenai disclosure serta dampaknya terhadap resiliensi anak dengan HIV positif di Indonesia
mendorong pentingnya penelitian ini untuk dilakukan.

http://www.arc-atmajaya.org/penelitian/current-research/8-asesmen-faktor-faktorpsikososial-pada-disclosure-terhadap-anak-dikti

informasitips.com Psikososial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan


hubungan antara kondisi sosial seseorang dengan kesehatan mental/emosionalnya.
Dari katanya, istilah psikososial melibatkan aspek psikologis dan sosial. Contohnya,
hubungan antara ketakutan yang dimiliki seseorang (psikologis) terhadap bagaimana
cara ia berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sosialnya. Seseorang yang sehat
mentalnya akan bereaksi dengan cara yang positif dalam banyak situasi. Berbeda
dengan orang yang tidak stabil mentalnya, ia akan bereaksi negatif terhadap segala
sesuatu yang terjadi dalam hidup.
Pemikiran yang irasional (tidak rasional) merupakan salah satu tanda kurang sehatnya
kondisi psikososial seseorang. Sering munculnya prasangka buruk atau pikiran negatif

(negatif thinking) terhadap banyak hal yang ada dalam hidup adalah salah satu wujud
nyata dari kondisi psikososial yang buruk, yang bisa mengarah pada hubungan sosial
yang buruk pula.
Jika Anda ingin tahu apakah Anda termasuk orang yang memiliki kondisi psikososial
yang baik (sehat), lihat beberapa tanda berikut ini:
1. Memiliki perasaan yang baik (positif) terhadap diri sendiri
2. Merasa nyaman berada di sekitar orang lain
3. Mampu mengendalikan ketegangan dan kecemasan
4. Mampu menjaga pandangan atau pikiran positifnya dalam hidup
5. Memiliki rasa syukur terhadap apa yang dimiliki dalam hidup, bahkan untuk hal
sederhana sekalipun
6. Mampu menghormati dan menghargai alam dan lingkungan sosialnya
Istilah psikososial pertama kali digunakan oleh Erik Erikson, seorang psikolog yang
meneliti tentang tahapan perkembangan emosional manusia. Teori Erik Erikson
mengenai perkembangan psikososial merupakan teori terkenal mengenai kepribadian
dalam ilmu psikologi. Seperti halnya Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa
kepribadian berkembang dalam beberapa tahapan.
Apakah itu Perkembangan Psikososial?
Menurut Erikson, perkembangan kepribadian seseorang berasal dari pengalaman sosial
sepanjang hidupnya sehingga disebut sebagai perkembangan psikososial.
Perkembangan ini sangat besar mempengaruhi kualitas ego seseorang secara sadar.
Identitas ego ini akan terus berubah karena pengalaman baru dan informasi yang
diperoleh dari interaksi sehari-hari dengan orang lain. Selain identitas ego, persaingan
akan memotivati perkembangan perilaku dan tindakan. Secara sederhananya, apabila
seseorang ditangani dengan baik maka ia akan memiliki kekuatan dan kualitas ego
yang baik pula. Namun jika penanganan ini dikelola dengan buruk, maka akan muncul
perasaan tidak mampu.
Ada 8 tahap perkembangan psikososial dalam teori yang didefinisikan oleh Erikson,
sebagai berikut:
1. Harapan : Kepercayaan vs Rasa Tidak Percaya Diri (0 18 Bulan)

Tahap ini adalah tahapan dasar dari kehidupan awal manusia. Pada usia ini,
bayi merasakan dunia melalui mulut, mata, telinga, dan sentuhan. Ibu memiliki
tanggung jawab yang sangat penting sebagai pendamping yang memperkenalkan
dunia.

Bayi memiliki ketergantungan terhadap sentuhan emosional. Sehingga apabila


bayi tidak mendapatkan perawatan yang baik secara emosional maka bayi tidak

merasa aman. Kegagalan untuk mengembangkan kepercayaan bayi pada dunia


awalnya menyebabkan perasaan takut dan rasa tidak percaya diri.
2. Keinginan : Kemandirian vs Rasa Ragu dan Malu (8 Bulan 3 Tahun)

Tahap ini anak mengembangkan perasaannya yang kuat akan kontrol terhadap
konsentrasinya.

Erikson percaya bahwa latihan buang air kecil dan air besar merupakan bagian
penting dari tahapan ini. Dengan adanya pembelajaran untuk mengontrol fungsi
tubuhnya sendiri menimbulkan perasaan bebas sekaligus terkontrol.

Latihan-latihan lain yang dianggap penting adalah bagaimana mereka mulai


belajar mengenakan pakaiannya sendiri atau memilih mainan yang disukainya.
3. Tujuan : Inisiatif vs Rasa Bersalah (3 6 Tahun)

Selama tahun-tahun prasekolah, anak mulai mengembangkan rasa inisiatifnya


dan mulai mencari interaksi sosial sendiri dibantu oleh keluarganya.

Pencapaian dari tahap ini adalah perasaan saat mencapai tujuannya.


Penguasaan anak yang baik terhadap apa yang ia lakukan akan mempengaruhi
kemampuan bahasa dan fantasinya untuk mengeksplorasi obyek. Dengan
demikian anak akan memahami untuk memimpin kekuatannya atau merasakan
perasaan bersalah secara terus menerus jika tidak diberi kesempatan untuk
mencoba sesuatu yang baru.
4. Persaingan : Ketekunan vs Rasa Rendah Diri (6 12 Tahun)

Tahap ini meliputi tahun-tahun pertama sekolah. Melalui interaksi sosial dengan
orang lain, anak-anak mulai mengembangkan rasa bangga akan prestasi yang
diraihnya dan akan kemampuannya bersaing dengan teman yang lain.

Anak-anak yang sering dipuji dan didukung oleh keluarga atau guru akan
memiliki perasaan kompetensi yang kuat dan kepercayaan diri yang tinggi.
Sedangkan bagi anak-anak yang kurang mendapatkan dukungan dan penghargaan
akan lebih mudah merasa rendah diri.
5. Ketelitian : Identitas vs Rasa Binggung (12 19 Tahun)

Selama masa remaja, anak memperjuangkan rasa identitas pribadinya dan


mulai mengeksplorasinya satu persatu. Di sini anak akan mempertanyakan
Siapakah Aku yang sebenarnya ? dan Dapat menjadi apakah Aku?.

Mereka yang mendapatkan dorongan yang kuat dan positif akan membangun
karakter diri yang kuat dan memiliki keyakinan bahwa mereka bisa. Rasa
binggung hanya akan terjadi bila anak tidak dibimbing untuk memahami apa
yang tidak mereka pahami.
6. Cinta : Keintiman vs Isolasi (19 40 Tahun)

Tahap ini mencakup awal masa dewasa dimana orang-orang mulai peduli akan
kapasitas kebutuhan untuk mencintai. Mereka akan bertanya Apakah saya dapat
mencintai dan dicintai?

Sangatlah penting dalam usia ini untuk mengembangkan komitmen hubungan


dengan orang lain yang dipercaya untuk saling berbagi hampir sebagian
hidupnya. Kuatnya identitas pribadi berpengaruh besar terhadap perkembangan
hubungan intim.Namun jika seseorang memiliki tingkat kepercayaan diri yang
rendah maka akan muncul perasaan depresi, sendiri, dan takut untuk
berkomitmen lebih dalam.
7. Perhatian : Aktifitas Umum vs Tekanan (40 65 Tahun)

Selama masa dewasa ini, orang-orang terus membangun kehidupannya dan


fokus terhadap perkembangan karir dan keluarga. Di sini orang-orang akan
mempertimbangkan tentang kontribusi yang telah ia lakukan selama hidupnya.

Mereka yang sukses dalam tahap ini akan terlibat lebih aktif di lingkungan
keluarga dan masyarakat. Mereka yang gagal akan merasa tidak produktif dan
tidak ingin terlibat lebih jauh dengan dunia. Perhatian adalah kunci dari tahap
ini karena dengan adanya tekanan namun mereka akan terus berusaha bangkit.
8. Kebijaksanaan : Integritas Ego vs Keputusasaan (65 Tahun Ke Atas)

Tahap ini merupakan tahapan usia bagi orang-orang yang mencoba untuk
merefleksikan dirinya kembali.

Mereka yang tidak berhasil pada tahap ini merasa bahwa kehidupan mereka
telah terbuang percuma, hidupnya sia-sia, dan mengalami penyesalan yang
berlebih-lebihan. Dari pikiran-pikiran negatif itu, muncullah keputusasaan untuk
terus meneruskan hidupnya.

Mereka yang merasa bangga akan segala yang telah dilakukan beserta dengan
prestasi yang dibuat, maka mereka akan mencapai kebijaksanaan bahkan ketika
mendekati kematian.
http://informasitips.com/teori-tentang-psikososial