Você está na página 1de 12

APLIKASI ENERGI DALAM, ENTALPI, HELMHOLTZ, DAN GIBBS

(Disusun guna memenuhi tugas Semester Antara Termodinamika)

Oleh:
Ayu Fajarotul Maghfiroh

(120210102063)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

A. ENERGI
Energi merupakan kemampuan untuk melakukan kerja (misalnya untuk
energi listrik dan mekanika), daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk
melakukan berbagai proses kegiatan. Energi di alam semesta memiliki berbagai
macam cakupan, seperti energi mekanis, nuklir, potensial, dan masih banyak lagi.
Mengenai energi yang berkaitan dengan dengan termodinamika, terdapat energi
yang disebut energi bebas atau potensial termodinamik. Bentuk-bentuk energi
bebas tersebut antara lain:
1. Energi Dalam
Energi internal atau energi dalam (U) pada hakekatnya merupakan energi
total yang dimiliki oleh suatu materi, yaitu berupa energi inti, energi elektronik,
energi vibrasi, energi rotasi dan energi translasi.
U = Uinti + Uelektronik + Uvibrasi + Urotasi + Utranslasi
Energi inti adalah energi yang mengikat proton dan elektron dalam inti, dan
memiliki kisaran yang sangat besar dalam MeV (1 eV = 23,06 kkal/mol). Energi
elektronik adalah energi yang mengikat elektron dan memiliki kisaran yang cukup
besar yaitu ratusan kkal/mol. Energi vibrasi adalah energi yang timbul akibat
vibrasi molekul dan memiliki kisaran yang tidak terlalu besar yaitu dalam puluhan
kal/mol. Energi rotasi adalah energi yang timbul karena rotasi molekul dan
memiliki kisaran yang kecil yaitu dalam skala beberapa kalori. Energi translasi
adalah energi yang timbul akibat translasi molekul dan memiliki kisaran yang
sangat kecil yaitu hanya beberapa kalori. Dalam kebanyakan reaksi kimia, unsur
yang terlibat dalam reaksi kimia mengalami perubahan konfigurasi elektronik.
Dengan demikian, Energi yang mengalami perubahan pada saat terjadi reaksi
hanya sampai pada energi elektronik, sedangkan energi inti tidak mengalami
perubahan.
Energi internal meliputi semua jenis energi mikroskopik, yaitu akibat dari
struktur dan aktivitas molekul dalam masa yang ditinjau. Struktur molekul adalah
jarak antar molekul dan besar gaya tarik antar molekul, sedang aktivitas molekul
adalah kecepatan gerak molekul. Energi kimia termasuk energi internal sebagai
akibat dari komposisi kimia suatu zat, yang merupakan energi yang mengikat
atom dalam molekul zat tersebut.

2. Entalpi
Entalpi adalah jumlah total dari semua bentuk energi yang dimiliki dari
suatu materi atau zat yang mempunyai isi kalor tertentu, dengan simbol (H) yang
berasal dari bahasa Yunani Enthalpein yang berarti menghangatkan.
Perubahan kalor atau entalpi yang terjadi selama proses penerimaan atau
pelepasan kalor dinyatakan dengan perubahan entalpi (H) . Harga entalpi zat
sebenarnya tidak dapat ditentukan atau diukur. Tetapi H dapat ditentukan
dengan cara mengukur jumlah kalor yang diserap sistem. Misalnya pada
perubahan es menjadi air, yaitu 89 kalori/gram. Pada perubahan es menjadi air,
H adalah positif, karena entalpi hasil perubahan, entalpi air lebih besar dari pada
entalpi es. Pada perubahan kimia selalu terjadi perubahan entalpi. Besarnya
perubahan entalpi adalah sama besar dengan selisih antara entalpi hasil reaksi dan
jumlah entalpi pereaksi.
Pada reaksi endoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih besar, sehingga
H positif. Sedangkan pada reaksi eksoterm, entalpi sesudah reaksi menjadi lebih
kecil, sehingga H negatif. Perubahan entalpi pada suatu reaksi disebut kalor
reaksi. Kalor reaksi untuk reaksi-reaksi yang khas disebut dengan nama yang khas
pula, misalnya kalor pembentukan,kalor penguraian, kalor pembakaran, kalor
pelarutan dan sebagainya.
Penentuan harga entalpi juga dapat dilakukan menggunakan suatu alat yang
disebut kalorimeter. Perubahan entalpi adalah perubahan kalor yang diukur pada
tekanan konstan, untuk menentukan perubahan entalpi dilakukan dengan cara
yang sama dengan penentuan perubahan kalor yang dilakukan pada tekanan
konstan. Perubahan kalor pada suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran
perubahan suhu yang terjadi pada reaksi tersebut. Pengukuran perubahan kalor
dapat dilakukan dengan alat yang disebut kalorimeter.
Kalorimeter adalah suatu sistem terisolasi (tidak ada perpindahan materi
maupun energi dengan lingkungan di luar kalorimeter). Kalorimeter terbagi
menjadi dua, yaitu kalorimeter bom dan kalorimeter sederhana. Jika dua buah zat
atau lebih dicampur menjadi satu maka zat yang suhunya tinggi akan melepaskan
kalor sedangkan zat yang suhunya rendah akan menerima kalor, sampai tercapai
kesetimbangan termal.

Beberapa jenis kalorimeter :


a. Kalorimeter bom

Kalorimeter bom adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor
(nilai kalori) yang dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O 2
berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, bahan bakar atau khusus digunakan
untuk menentukan kalor dari reaksi-reaksi pembakaran. Kalorimeter ini
terdiri dari sebuah bom (tempat berlangsungnya reaksi pembakaran, terbuat
dari bahan stainless steel dan diisi dengan gas oksigen pada tekanan tinggi)
dan sejumlah air yang dibatasi dengan wadah yang kedap panas. Sejumlah
sampel ditempatkan pada tabung beroksigen yang tercelup dalam medium
penyerap kalor (kalorimeter), dan sampel akan terbakar oleh api listrik dari
kawat logam terpasang dalam tabung. Reaksi pembakaran yang terjadi di
dalam bom, akan menghasilkan kalor dan diserap oleh air dan bom.
b. Kalorimeter Sederhana

Pengukuran kalor reaksi; selain kalor reaksi pembakaran dapat dilakukan


dengan menggunakan kalorimeter pada tekanan tetap yaitu dengan
kalorimeter sederhana yang dibuat dari gelas stirofoam. Kalorimeter ini
biasanya dipakai untuk mengukur kalor reaksi yang reaksinya berlangsung
dalam fase larutan (misalnya reaksi netralisasi asam basa / netralisasi,
pelarutan dan pengendapan). Pada kalorimeter ini, reaksi berlangsung pada
tekanan tetap, sehingga perubahan kalor yang terjadi dalam sistem sama
dengan perubahan entalpinya.

3. Energi Helmholtz
Energi Bebas Helmholtz (F), adalah selisih perubahan energi internal
terhadap suhu dan entropi, Karena perubahan energi menjadi kerja adalah proses
irreversible, sedangkan dalam proses irreversible entropi selalu meningkat.
Penerapan energi bebas helmholtz ini terdapat pada resonansi helmholtz.
Resonansi Helmholtz merupakan peristiwa resonansi udara dalam suatu rongga.
Resonator tersebut terdiri dari suatu badan yang berbentuk bola dengan satu
volume udara dengan sebuah leher.
Prinsip Kerja Helmholtz Resonator

Getaran yang terjadi ini adalah karena melenting, misalnya udara : jika
udara ditekan, maka tekanannya meningkat dan cenderung untuk memperluas
kembali ke volume awalnya. Ketika udara masuk ke dalam suatu rongga, tekanan
di dalam meningkat gaya luar yang menekan udara menghilang, udara di bagian
dalam akan mengalir keluar. Udara yang mengalir keluar akan mengimbangi
udara yang ada di dalam leher. Proses ini akan berulang dengan besar tekanan
yang berubah semakin menurun. Efek ini sama seperti suatu massa yang
dihubungkan dengan sebuah pegas. Udara yang berada dalam rongga berlaku
sebagai sebuah pegas dan udara yang berada dalam leher. Resonator yang berisi
udara identik dengan sebuah massa, sebuah rongga yang yang lebih besar dengan
volume udara yang lebih banyak akan membuat suatu pegas menjadi lebih lemah
dan sebaliknya. Udara dalam leher yang berfungsi sebagai suatu massa, karena
sedang bergerak maka pada massa terjadi suatu momentum. Apabila leher
semakin panjang akan membuat massa lebih besar demikian sebaliknya. Diameter
leher sangat berkaitan dengan massa udara dalam leher dan volume udara dalam
rongga. Diameter yang terlalu kecil akan mempersempit aliran udara sedangkan
diameter yang terlalu besar akan mengurangi momentum udara dalam leher.

4. Energi Gibs
Energi Bebas Gibbs (G), fungsi termodinamik yang menyatakan
kespontanan reaksi secara lebih langsung. Energi Gibbs ini juga terdapat pada sel
hidup.
Sel hidup memiliki suhu yang relative sama pada seluruh bagiannya,
sehingga tidak dapat memanfaatkan sumber energi panas secara berarti. Energi
panas bermanfaat bagi sel hidup untuk mempertahankan suhu optimum bagi
aktivitas sel hidup. Oleh sebab itu, energi yang terlibat dalam proses metabolism
sel hidup adalah energi bebas (dan yang digunakan adalah parameter energi
bebas Gibbs), yang dapat melakukan kerja pada suhu dan tekanan tetap. Dimana
pada suhu dan tekanan tetap, secara matematis besarnya energi bebas Gibbs (G)
ditentukan melalui persamaan:

G adalah perubahan energi bebas Gibbs pada sistem yang sedang


berreaksi, H adalah perubahan kandungan panas sistem atau entalpi, S adalah
perubahan entropi semesta (sistem + lingkungan), termasuk sistem yang sedang
bereaksi. Jika suatu reaksi kimia berjalan menuju kearah keseimbangan, maka S
selalu meningkat, sehingga S selalu berharga positif dalam keadaan yang nyata.
Ketika S semesta meningkat selama reaksi, G sistem yang sedang bereaksi
mengalami penurunan. Oleh sebab itu G sistem yang sedang bereaksi selalu
bertanda negatif, bila peningkatan entalpi (G) tidak melampaui peningkatan
entropi.
Perubahan energi bebas (G) dapat dihitung dari harga tetapan
kesetimbangan pada keadaan standar. Hukum ke II menyatakan, jika suatu sistem
tertutup dibiarkan, sistem cenderung menuju keseimbangan. Hubungan perubahan
energi bebas berhubungan dengan konstanta equilibrium dapat dinyatakan sebagai
berikut:
a. Jika G negatif (< 0), reaksi disebut eksergonik. Reaksi ini berlangsung secara
spontan, dan reaksi kebalikanya tidak akan dapat berlangsung.
b. Jika G positif (> 0), reaksi disebut endergonik. Reaksi tedak akan trjadi secara
spontan ke kanan, dan reaksi kebalikannya akan berlangsung secara spontan.
c. Jika G sama dengan 0, reaksi berada dalam keadaan keseimbangan, tidak ada
selisih perbedaan arah reaksi.

B. APLIKASI BENTUK ENERGI DALAM TERMODINAMIKA


Secara umum, aplikasi bentuk energi dalam termodinamika pada kehidupan
sehari-hari adalah:
1. Air Conditioner (AC)
Sistem kerja AC terdiri dari bagian yang berfungsi untuk menaikkan dan
menurunkan tekanan supaya penguapan dan penyerapan panas dapat berlangsung.
Kompresor yang ada pada sistem pendingin dipergunakan sebagai alat untuk
memampatkan fluida kerja (refrigent), jadi refrigent yang masuk ke dalam
kompresor dialirkan ke kondenser yang kemudian dimampatkan di kondenser.
Di bagian kondenser ini refrigent yang dimampatkan akan berubah fase dari
refrigent fase uap menjadi refrigent fase cair, maka refrigent mengeluarkan kalor

yaitu kalor penguapan yang terkandung di dalam refrigent. Adapun besarnya kalor
yang dilepaskan oleh kondenser adalah jumlahan dari energi kompresor yang
diperlukan dan energi kalor yang diambil evaparator dari substansi yang akan
didinginkan.
Pada kondensor, tekanan refrigent yang berada dalam pipa-pipa kondensor
relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan refrigent yang berada pada
pipi-pipa evaporator. Setelah refrigent lewat kondensor dan melepaskan kalor
penguapan dari fase uap ke fase cair maka refrigent dilewatkan melalui katup
ekspansi, pada katup ekspansi ini refrigent tekanannya diturunkan sehingga
refrigent berubah kondisi dari fase cair ke fase uap yang kemudian dialirkan ke
evaporator, di dalam evaporator ini refrigent akan berubah keadaannya dari fase
cair ke fase uap, perubahan fase ini disebabkan karena tekanan refrigent dibuat
sedemikian rupa sehingga refrigent setelah melewati katup ekspansi dan melalui
evaporator tekanannya menjadi sangat turun. Hal ini secara praktis dapat
dilakukan dengan jalan diameter pipa yang ada dievaporator relatif lebih besar
jika dibandingkan dengan diameter pipa yang ada pada kondenser.
Dengan adanya perubahan kondisi refrigent dari fase cair ke fase uap maka
untuk merubahnya dari fase cair ke refrigent fase uap maka proses ini
membutuhkan energi yaitu energi penguapan, dalam hal ini energi yang
dipergunakan adalah energi yang berada didalam substansi yang akan
didinginkan. Dengan diambilnya energi yang diambil dalam substansi yang akan
didinginkan maka entalpi, substansi yang akan didinginkan akan menjadi turun,
dengan turunnya entalpi maka temperatur dari substansi yang akan didinginkan
akan menjadi turun. Proses ini akan berubah terus-menerus sampai terjadi
pendinginan yang sesuai dengan keinginan.

2. Dispenser
Prinsip kerja pemanas air
Proses pemanasan air terjadi pada saat air masuk kedalam tabung pemanas.
Tabung pemanas merupakan tabung yang terbuat dari logam yang disekitar
tabung tersebut dikelilingi oleh elemen pemanas, sehingga ketika air mengalir dari
tampungan menuju tabung pemanas sensor suhu yang ada pada tabung pemanas

akan memicu elemen pemanas untuk bekerja, suhu tinggi yang dihasilkan elemen
pemanas diserap oleh air yang suhunya lebih rendah, setelah suhu air dalam
tabung pemanas tinggi maksimal sensor suhu yang ada pada tabung pemanas akan
memutuskan arus listrik pada elemen pemanas, pada saat elemen pemanas
menyala lampu indikator pemanas menyala dan pada saat elemen pemanas mati
lampu indikator pemanas mati.
Pada tabung dispenser dipasang Heater/pemanas serta sensor suhu atau
thermostat yang berfungsi untuk membatasi kerja heater agar tidak bekerja terusmenerus yang akan menimbulkan suhu air dalam tabung dispenser berlebihan,
karena apabila heater berkerja berlebih, heater akan panas dan bahkan heater
tersebut akan terjadi kerusakan didalamnya. Untuk mengurangi terjadinya resiko
tersebut, di heater dipasang thermostat yang berguna untuk mengatur suhu.
Ketika suhu air yang dipanaskan oleh heater mencapai suhu tertentu
sehingga melebihi suhu kerja sensor/thermostat maka sensor akan bekerja dan
memutuskan arus yang mengalir ke heater, dengan demikian heater akan berhenti
bekerja sehingga suhu air tetap terjaga sesuai dengan kebutuhan, bisa dilihat di
lampu indikator dari warna merah akan berganti warna hijau. Heater akan bekerja
kembali manakala suhu air pada tabung menurun sampai suhunya berada dibawah
suhu kerja sensor, sensor dipasang seri dengan heater, dengan demikian fungsi
dari sensor ini mirip seperti saklar, hanya saja bekerjanya secara otomatis
berdasarkan perubahan suhu.
Prinsip kerja pendingin air
Proses pendinginan air pada dispenser pada umumnya dibedakan menjadi 2
yaitu:
a. Pendinginan Air dengan Fan
Proses pendinginan air menggunakan fan dilakukan dengan cara menghisap
suhu tinggi pada air ketika air berada pada tampungan air kedua yang
letaknya berada dibawah tampungan air pertama, namun pada kenyataannya
fan hanya alat bantu untuk mempercepat pembuangan panas pada air,
sehingga temperatur air hanya akan turun sedikit saja. Setelah melewati
tampungan air kedua air akan dikeluarkan melalui keran dan siap untuk
diminum.

b. Pendinginan Air dengan Sistem Refrigran


Pendinginan air pada dispenser menggunakan sistem refrigran sama seperti
sistem refrigran pada kulkas hanya saja evaporatornya dimasukkan kedalam
tampungan air kedua yang berada dibawah tampungan air pertama, sehingga
air disekitar evapurator akan menjadi air dingin. Hasil pendinginan air pada
dispenser menggunakan sistem refrigran lebih maksimal dibandingkan
pendinginan air menggunakan fan. Setelah air melalui proses pendinginan
pada tampungan air kedua, air akan mengalir dan keluar memalui keran.

3. Rice Cooker
Pada rice cooker, energi panas ini dihasilkan dari energi listrik. Suatu cairan
akan menguap bila tekanan uap gas yang berasal dari cairan adalah sama dengan
tekanan dari cairan ke sekitarnya (Puap = Pcair). Jadi, titik didih suatu cairan
sebenarnya bisa dimanipulasi dengan meningkatkan tekanan di luar cairan
(tekanan eksternal). Pada penanak nasi biasa, air akan dididihkan dengan tekanan
eksternal biasa, yaitu 101 kPa, dan mendidih pada titik didih biasa, yaitu 100C
(373 K).
Sementara, pada penanak nasi yang memanipulasi tekanan (pressure
cooker, atau electric pressure cooker) jika tutup lubang uapnya dibuka, maka
pressure cooker akan bekerja seperti penanak nasi biasa, karena tekanan
eksternalnya sama dengan tekanan udara luar.
Namun, jika tutup lubang uapnya (biasanya berupa katup) ditutup, akan ada
perubahan pada tekanan udara di ruang dalam pressure cooker dan titik didih
cairan akan berubah. Ketika katupnya ditutup, kondisi sistem berubah karena uap
airnya hanya dapat berada di dalam ruang pressure cooker.
Karena ada tambahan massa (tutup katup), tekanan makin tinggi dan titik
kesetimbangan antar fase (dalam hal ini, antara fase cair dan fase uap) berubah ke
temperatur yang lebih tinggi, dan terbentuklah titik didih baru. Massa tutup katup
menentukan tekanan di dalam ruang pressure cooker, karena lubang katup akan
membiarkan uap air keluar ketika tekanannya telah mencapai titik tertentu.
Kelebihan tekanan akan dikurangi dengan melepaskan sedikit uap melalui katup.

4. Lemari Es (Kulkas)
Adalah suatu unit mesin pendingin di pergunakan dalam rumah tangga,
untuk menyimpan bahan makanan atau minuman. Untuk menguapkan bahan
pendingin di perlukan panas.
Lemari es memanfaatkan sifat ini. Bahan pendingin yang digunakan sudah
menguap pada suhu -200C. panas yang diperlukan untuk penguapan ini diambil
dari ruang pendingin, karena itu suhu dalam ruangan ini akan turun. Penguapan
berlangsung dalam evaporator yang ditempatkan dalam ruang pendingin. Karena
sirkulasi udara, ruang pendingin ini akan menjadi dingin seluruhnya.
Lemari Es merupakan kebalikan mesin kalor. Lemari Es beroperasi untuk
mentransfer kalor keluar dari lingkungan yang sejuk kelingkungn yang hangat.
Dengan melakukan kerja W, kalor diambil dari daerah temperatur rendah T L
(katakanlah, di dalam lemari Es), dan kalor yang jumlahnya lebih besar
dikeluarkan pada temperature tinggi Th (ruangan).
Sistem lemari Es yang khas, motor kompresor memaksa gas pada
temperatur tinggi melalui penukar kalor (kondensor) di dinding luar lemari Es
dimana Qh dikeluarkan dan gas mendingin untuk menjadi cair. Cairan lewat dari
daerah yang bertekanan tinggi , melalui katup, ke tabung tekanan rendah di
dinding dalam lemari es, cairan tersebut menguap pada tekanan yang lebih rendah
ini dan kemudian menyerap kalor (QL) dari bagian dalam lemari es. Fluida
kembali ke kompresor dimana siklus dimulai kembali.
Lemari Es yang sempurna (yang tidak membutuhkan kerja untuk
mengambil kalor dari daerah temperatur rendah ke temperatur tinggi) tidak
mungkina

ada.

Ini

merupakan pernyataan

Clausius

mengenai

hukum

Termodinamika kedua. Kalor tidak mengalir secara spontan dari benda dingin ke
benda panas. Dengan demikian tidak akan ada lemari Es yang sempurna.

Cara Kerja Instalasi Mesin Kulkas


Setelah ke dalam kompresor diisi gas freon , maka gas itu dapat dikeluarkan
kembali dari silinder oleh kompresor untuk diteruskan ke kondensor, setelah itu
menuju saringan, setelah itu menuju ke pipa kapiler dan akan mengalami

penahanan. Adanya penahanan ini akan menimbulkan suatu tekanan di dalam pipa
kondensor. Sebagai akibatnya gas tersebut menjadi cairan di dalam pipa
kondensor. Dari pipa kapiler cairan tersebut terus ke evaporator dan terus
menguap untuk menyerap panas. Setelah menjadi gas terus dihisap lagi ke
kompresor. Demilian siklus kembali terulang.
Jenis Aliran Udara Pendingin
Jenis aliran udara pada lemari es ada 2 macam :
a. Secara alamiah tanpa fan motor, di dalam lemari es udara dingin pada bagian
atas dekat evaporator mempunyai berat jenis lebih besar. Dari beratnya
sendiri udara dingin akan mengalir ke bagian bawah lemari es. Udara panas
pada bagian bawah lemari es karena berat jenisnya lebih kecil dan di desak
oleh udara dingin dari atas, akan mengalir naik ke atas menuju evaporator.
Udara panas oleh evaporator didinginkan menjadi dingin dan berat lalu
mengalir ke bawah lagi. Demikianlah terjadi terus menerus secara alamiah.
b. Aliran udara di dalam lemari es dengan di tiup oleh fan motor, lemari es yang
memakai fan motor, dapat terjadi sirkulasi udara dingin yang kuat dan merata
ke semua bagian dari lemari es. Udara panas di dalam lemari es dihisap oleh
fan motor lalu dialirkan melalui evaporator. Udara menjadi dingin dan oleh
fan motor di dorong melalui saluran atau cerobong udara, di bagi merata ke
semua bagian dalam lemari es.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2012.

Potensial

Termodinamika

(http://hikam.freevar.com/kuliah/termo/pdf_bab/thmd05.pdf).

Diakses

pada 08 Februari 2015.

Anonim. 2012. Aplikasi Termodinamika dalam Kehidupan (http://wildanarchibald.blogspot.com/2012/05/aplikasi-termokimia-dalamkehidupan.html). Diakses pada 08 Februari 2015.

Anonim.

2013.

Termodinamika

dalam

Kehidupan

Sehari-hari

(http://peggytarezacollins.blogspot.com/2013/10/termodinamika-dalamkehidupan-sehari.html). Diakses pada 08 Februari 2015.

Sunyono. 2010. Bioenergitika. Surabaya: UNESA.