Você está na página 1de 7

Arti ibadah

Alasan ibadah
Bentuk ibadah
Apakah Allah menciptakan kita tanpa tujuan? Kenapa Allah menciptakan matahari, bumi, pepohonan, Allah juga turunkan
hujan, Allahpun pergilirkan siang dan malam? Apakah Allah hanya main-main saja? Apakah Allah menciptakan akal pada
manusia itu tanpa maksud? Tak kah kau lihat bahwa hanya pada manusia, ya hanya pada manusia saja, akal diberikan? Tidak
pada hewan, tidak pula pada tumbuhan.
Maka jawabannya sungguh sangat mudah, hanya satu kata: IBADAH, yakni menyembah Allah dengan ikhlas.
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)
Lalu kitapun tersindir:
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak
akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al Mukminun [23]: 115)
Ibadah itu wujud syukur kita kepada Allah
Rasulullah Saw pernah ditanya oleh Aisyah Wahai Rasulullah bukankah engkau hamba Allah yang paling dekat dengan Allah,
hamba yang paling khusyuk shalatnya, hamba yang tidak pernah absen shalat malamnya, hamba yang tidak pernah absen
untuk bershaum? Mengapa engkau bersusah payah untuk beribadah?, Rasulullah menjawab Tidak bolehkah aku menjadi
hamba yang bersyukur? .
Ya ampun, Rasulullah yang terbebas dari dosa, dijamin surga saja masih bersusah payah ibadah. Kok kita yang masih sering
berbuat dosa, belum khusyuk solatnya, masih saja malas ibadah? Ya namanya juga manusia itu terkadang susah bersyukur.
Kalau dianalogikan, ibadah adalah sebuah ungkapan terima kasih kita kepada Allah. Nah, masalahnya bagaimana kita akan
berterima kasih kepada Allah kalau kita tidak sadar apa saja yang telah Allah lakukan untuk kita? Untuk itu, saya akan
beberkan kenapa kita harus bersyukur kepada Allah, ini alasannya:
1. Allah Pencipta dan pemelihara alam semesta, termasuk kita.
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az Zumar [39]: 62)
Karena dialah pencipta kita, tanpa-Nya, kita tak akan pernah ada di dunia ini, dan tanpanya pula kita sudah tak terurus.
2. Allah Menciptakan Kita dengan bentuk Terbaik
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(QS. At Tiin [95]: 4)
As-Sidiy berkata, Maksudnya adalah diciptakan dengan sempurna, anggota tubuh yang sesuai dan perawakan yang pantas,
tidak kurang sesuatu apa pun yang ia butuhkan. (Taisir Karim Al Rahman: 929)
3. Allah Memberi kita Akal
Sebagaimana saya katakan di awal, bahwa hanya manusia, ya hanya manusa yang Allah berikan akal sehingga manusia
dapat membuat pesawat, membuat kereta, dan segala teknologi lainnya yang tak pernah terpikirkan oleh hewan lain.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)
bagi orang-orang yang berakal. (Q.S. Ali-Imraan (3); 190
4. Allah memberi kita rizki
Atau siapakah dia yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? (QS. Al Mulk [67]: 21)
Segala rizki yang Allah titipkan pada kita di dunia ini hakikatnya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ga
percaya? Sekarang orang mati mana yang akan membawa segala hartanya ke alam kubur? Tidak ada, semua ditinggal di
dunia, ya karena memang harta itu hanya titipan.
Pun, Syukur tersebut akan kembali ke kita juga kok.

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang
siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri. QS Luqman (31): 12
Kalau dikisahkan tuh ya ginilah:
Ali punya motor nih. Budi pinjem bilangnya sih bentar, ternyata ditungguin lama banget baliknya, begitu balik ternyata bensin
habis, motor jadi kotor, ban kempes, lampu depan mati, jok copot. Apa kata Ali? Nyesel gue pinjemin Budi, besok-besok ga
bakal lagi gue pinjemin motor gueh
Beda kasus nih. Ali punya motor. Mudin pinjem bentar, ternyata beneran bentar, pas dikembalikan bensin jadi full, motor
dicucikan, diservis juga, Mudin ngasih duit buat jajan pula. Apa kata Ali? Besok-besok kalau mau pinjem motor, bilang gue aje
ye
Barang siapa bersyukur, maka niscaya akan Ku tambah nikmat-Ku padamu, dan barang siapa kufur maka sesungguhnya
azab Allah lsangat pedih.QS Ibrahim (14) :7
Wah, enak banget to? syukur alias ibadah kan emang kewajiban kita, eh pas kita ngelakuin kewajiban itu, nikmat kita ditambah
pula. Kurang baik apa Allah? Ampuni kamu Ya Allah, yang sering lupa diri untuk mensyukuri karunia nikmatmu yang sangat
banyak. T_T

Untuk sia-sia kah Allah menciptakan kita? Menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan? Hanya untuk
main-main saja kah Allah mempergilirkan siang dan malam? Menurunkan hujan? Menumbuhkan
pepohonan dan mengalirkan sungai-sungai? Tanpa tujuan kah Allah mengaruniakan akal pikiran kepada
kita?
Sederet pertanyaan yang jawabannya sangat mudah dan tidak membutuhkan pemikiran mendalam
sebetulnya, namun sering terlewatkan dalam pengamatan kita karena hati kita kerap sibuk dengan
keinginan-keinginan jiwa kita yang melalaikan, karena mata kita sering silau dengan kerling indah dunia,
dan karena akal pikiran kita tidak jarang tertutup kabut kegelapan yang menyamarkan kebenaran. Bahkan,
sebagian kita lupa daratan dan menjadi pengingkar hakikat dirinya ..
Satu kata saja, dengan satu tarikan nafas saja untuk mengucapkannya, yang kita butuhkan untuk
menjawab sejumlah pertanyaan di atas. Yaitu: Al Ibaadah. Ya, semua itu Allah lakukan agar kita
beribadah kepada-Nya. Dengan tegas Allah menyatakan,


Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. AdzDzariyaat [51]: 56)
Allah pun menyindir kita dengan pertanyaan,

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja),
dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. Al Mukminun [23]: 115)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah- berkata, Firman Allah, Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja)? Apakah kaling menyangka bahwa
kalian diciptakan tanpa maksud, tujuan dan hikmah? Firman Allah, bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami? Tidak dikembalikan ke negeri akhirat? (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 5/500)
Jika muncul dalam benak kita pertanyaan, lalu, mengapa Allah memerintahkan kita untuk beribadah?
Alasan-alasan berikut mudah-mudahan semakin dapat meyakinkan kita mengapa kita harus beribadah
kepada Sang Pencipta kita, Allah subhaanahu wa taaala.
Karena Allah adalah Pencipta Kita dan Semesta serta Pemelihara Semuanya.
Hal ini sebagaimana pernyataan Allah dalam ayat yang telah lalu penyebutannya (QS. Adz-Dzariyat [51]:
56, Al Mukminun [23]: 115)
Allah pun berfirman,


Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az Zumar [39]: 62)
Oleh karena Allah satu-satunya dzat yang menciptakan kita dan juga menciptakan semesta tempat hidup
kita, maka kita harus beribadah kepada-Nya, mengabdi sebagai hamba dan bagian dari makhluk-Nya.
Karena Allah menciptakan Kita dengan Bentuk yang Terbaik
Allah tidak menciptakan kita dalam bentuk yang asal-asalan, tapi menciptakan kita dengan bentuk yang
terbaik. Perhatikan firman Allah berikut,

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(QS. At Tiin [95]:
4)

As-Sidiy berkata, Maksudnya adalah diciptakan dengan sempurna, anggota tubuh yang sesuai dan
perawakan yang pantas, tidak kurang sesuatu apa pun yang ia butuhkan. (Taisir Karim Al Rahman: 929)
Karena Allah Memuliakan kita dengan Akal Pikiran
Tidak hanya itu, Allah pun mengistimewakan kita dengan akal pikiran. Allah berfirman,

Dan sungguh kami telah memuliakan anak Adam. (QS. Al Isra [17]: 70)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa manusia telah dimuliakan dengan akal. (Lihat Tafsir Al Baghawi:
5/108)
Karena Allah yang Mengarunikan kepada Kita Rizki untuk Menopang Kehidupan Kita
Setelah diciptakan, diciptakan dengan bentuk terbaik dan dimuliakan dengan akal pikiran, karunia Allah
selanjutnya adalah menurunkan beragam rizki yang dengannya manusia mampu bertahan hidup di bumi
ini. Allah berfirman,

Atau siapakah dia yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? (QS. Al Mulk [67]: 21)
Itulah beberapa alasan mengapa kita harus beribadah kepada Dzat yang telah mengaruniakan kepada kita
segala hal yang kita miliki saat ini. Jelas sekali, sejelas matahari di siang hari. Bagi orang-orang yang mau
berfikir, bagi orang-orang yang berakal, bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan bagi orangorang yang mau mengikuti fitrah sucinya. Begitulah Allah sering menyinggung nalar kita untuk berfikir di
dalam Al Qur`an. Semoga Allah menuntun kita kepada petunjuk dan keridhaan-Nya***Wallahu alam.

Manusia melakukan ibadah dibedakan dalam 4 macam alasan :


1. Beribadah sebagai kewajiban, dalam tingkat ini manusia merasa keharusan untuk sholat. Kalau tidak sholat menjadi takut.
2. Beribadah sebagai suatu kebutuhan, manusia melakukan sholat karena kebutuhan. Kalau tidak sholat akan merasa ada
yang kurang.
3. Beribadah sebagai suatu kehormatan. Yaitu manusia melakukan sholat karena dorongan rasa cinta kepada sang khaliq.
4. Beribadah sebagai suatu anugrah. Manusia merasa terpilih sebagai khalifah didunia hanyalah untuk menegakkan
keagungan sang khaliq. Maka kalau tidak melakukan sholat hidupnya terasa tidak berarti.
Diposkan oleh Ulun di 09.19

BAB I
PENDAHULUAN
Alhamdulillah, seluruh pujian hanya untuk-Nya, Pemilik dua alam, Penguasa bumi dan langit, timur hingga barat, tempat
bergantung segala urusan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah atas Baginda Rasul Al-Amin, Sayyidina Muhammad
SAW.
Ibadah, dalam berbagai agama di dunia ini termasuk hal yang sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan. Dalam Islam,
ibadah merupakan sarana untuk berkomunikasi vertikal dengan Allah SWT. Melalui ibadah, kita membutuhkan keikhlasan dan
kepasrahan secara utuh dan menyeluruh. Dengan keikhlasan dalam beribadah itulah Allah menilai keimanan dan ketaqwaan
kita, yang mana ketaqwaan inilah sebagai parameter derajat kita di sisi Allah.
Ibadah tidak hanya berfungsi sebagai hubungan hamba dengan Pencipta, akan tetapi juga dapat berfungsi sebagai kontrol
sosial. Hal ini tentunya dapat dibuktikan apabila sholat sebagai ibadah pokok seseorang baik, maka akhlaknya juga baik,
begitu juga sebaliknya.
Banyak motivasi seseorang melakukan ibadah. Di antara motivasi-motivasi itu, bagi umat Islam, paling tidak ada beberapa
alasan yang mendasari kita beribadah. Alasan-alasan ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber hukum pertama

Islam. Alasan-alasan ini hendaknya menjadi motivasi tersendiri agar kita terus meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah
SWT.
Sesungguhnya tidak ada yang menguasai diri kita kecuali Allah SWT. Allah-lah Yang Maha Menguasai setiap inchi kehidupan.
Tiada yang luput dari pengawasan-Nya. Maka, hendaklah setiap perbuatan kita adalah demi mengharapkan ridho-Nya.
BAB II
ALASAN IBADAH dan
TINGKATAN IBADAH kepada ALLAH
Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan (mati)
Firman Allah dalam Surat Al-Hijr ayat 99 tersebut maksudnya adalah istiqamah atau disiplin dalam beribadah selama hidup.
Ibadah merupakan satu tugas pokok bagi manusia dan jin, karena kejadiannya berhubungan dengan rububiyah (ketuhanan)
Allah dalam pengaturan alam semesta dan khaliqiyah (ketuhanan Allah dalam ciptaan-Nya). Allah mempertegas kejadian jin
dan manusia dalam Al-Quran surat adz-Dzariyat : 56
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku
Setidaknya, ada 6 alasan mengapa kita harus beribadah kepada Allah SWT, antara lain :
Kita, manusia, memang diciptakan untuk ibadah, sebagaimana firman Allah di atas.
Ibadah sebagai tanda syukur atas diciptakannya kita oleh Allah, sebagaimana firman-Nya :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS Ibrahim : 7)
Konsekuensi janji kita kepada Allah SWT.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS Al-Araaf : 172)
Ibadah merupakan tugas yang harus ditanamkan oleh setiap Rasul kepada umatnya.
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang
yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orangorang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS An-Nahl : 36)
Allah satu-satunya yang tepat untuk disembah karena Dia Mahakuasa.
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui
bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala
sesuatu. (QS At-Thalaq : 17)
Adanya azab-azab di akhirat bagi orang-orang yang tidak mengabdi kepada-Nya.
Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku. (QS AlAnam : 15)
Ibadah yang diajarkan Islam adalah ibadah yang melingkupi seluruh aspek kehidupan dan bersifat umum, baik ibadah
mahdhah seperti ibadah-ibadah wajib, sholat, zakat, puasa dan haji, maupun ghairu mahdhah sesuai dengan intelegensi
manusia yang bertingkat-tingkat, demikian juga potensinya.
Tingkatan ibadah dapat dibagi tiga tingkat, yaitu :
1. Tingkat yang diberi istilah ibadah
Ibadahnya orang awam, yaitu umumnya kaum muslimin.
Ilmunya baru ilmu al yaqin (ilmu keyakinan).

Melaksanakan ibadah hanya karena kewajiban.


Ibadahnya insidentil, temporer.
Ibadahnya pada tingkat mujahadah (optimalisasi).
Jiwanya tidak pernah mengeluh kepada Allah (Ridha).
2. Tingkat yang diberi istilah ubudiyah
Ibadahnya golongan pilihan (khawash).
Ilmunya sudah mencapai ainu al yaqin.
Pelaksanaan ibadahnya merupakan kebutuhan yang tidak dapat terpisah dari dirinya setiap saat.
Ibadahnya pada setiap saat, situasi dan kondisi tidak dipengaruhi lagi oleh situasi dan kondisi.
Ibadahnya pada tingkat mukabilah (menanggung kesulitan). Artinya dalam keadaan sulitpun tetap konsisten beribadah.
Jiwanya dermawan kepada Allah dan dampaknya kelihatan dalam hubungan sosialnya yang senantiasa berusaha
menggembirakan orang lain.
Ubudiyah berarti menggantikan sesuatu dengan yang lain secara total. Jalan untuk mencapai itu adalah :
Mencegah agar nafsu tidak terjerat dengan apa-apa yang diinginkannya.
Bertahan dengan kondisi yang tidak disukai (al ridha)
Kunci menuju hal itu ialah :
Meninggalkan bersantai-santai.
Senantiasa berkhalwat (berdua-duaan dengan Allah SWT).
Mengetahui hakikat kefakiran kepada Allah.
3. Tingkat yang diberi istilah abuda atau mulika
Ibadahnya golongan yang sangat terpilih (khawas al khawas).
Ilmunya sudah mencapai haqqu al yaqin.
Ibadahnya berada pada tingkat kenikmatan.
Ibadahnya sudah tenggelam dalam lautan Rububiyah dan Uluhiyah.
Sifatnya sudah mencapai derajat dan maqam ahli musyahadah (menyaksikan Allah) atau mukasyafah (terbuka tabir antara
dirinya dengan Allah).
Ruhnya senantiasa bertengger pada amar (perintah) dan nahi (larangan) Allah SWT, yaitu tenggelam dalam perintah dan
larangan Allah SWT dalam kehidupannya setiap saat dan di mana saja.
Ketiga tingkatan ini baru sekedar perbandingan sederhana. Masih banyak indikator-indikator yang dapat kita temukan jika
diperhalus lagi, perbedaan antara tiga tingkatan itu. Dengan gambaran sederhana ini, kita dapat membedakan ketiga tingkatan
ini dan jika kita merenung, kita bisa menentukan pada tingkat mana ibadah kita.
BAB III
KESIMPULAN
Tidak pernah ada alasan untuk tidak beribadah kepada Allah SWT karena Allah telah menciptakan jin dan manusia untuk
beribadah. Alasan-alasan untuk beribadah antara lain : sebagai rasa syukur kita kepada Allah atas segala kasih sayang-Nya,
konsistensi janji kita kepada Allah, dan sebagainya.

Dalam ibadah, setiap manusia berbeda-beda tingkatan atau derajatnya. Perbedaan ini setidaknya dapat dilihat dari indikatorindikator yang ditunjukkan oleh orang tersebut. Indikator-indikator ini dapat dilihat dari tata cara orang beribadah, berperilaku
sehari-hari, dll.
Tingkatan ibadah di sini dijelaskan ada tiga : Ibadah, Ubudiyah dan Mulika. Tingkatan terendah namun banyak orang
mencapainya adalah Ibadah. Pada tingkatan ini, seseorang beribadah hanya sebagai kewajiban, sehingga bersifat temporer.
Lebih tinggi lagi tingkatannya adalah Ubudiyah. Ketika seseorang mencapai tingkatan ini, ibadahnya tidak lagi hanya sebagai
kewajiban, akan tetapi lebih pada kebutuhan yang tak dapat dipisahkan. Hal ini membuat orang tersebut beribadah di mana
saja dan dalam keadaan apa saja. Tingkatan ketiga, tingkatan tertinggi, hanya dimiliki oleh orang-orang yang sangat khusus.
Ibadah pada tingkatan ketiga ini sudah bersifat sebagai kenikmatan. Tidak ada rasa khawatir ketika beribadah, semuanya tulus
dan ikhlas.
Subhaanaka Allaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik
Daftar Pustaka
Al-Quran Al-Karim.
Adam, Muchtar, KH., dan Fadlullah Muh. Said. 2007. Marifatullah, Membangun Kecerdasan, Sosial, dan Akhlak
Karimah. Sulawesi Selatan : Usaha Dakwah Islamiyah Silaturrahim Indonesia.
Tim PPK F. Saintek. 2009. Buku Panduan Peserta PPK. Yogyakarta.