Você está na página 1de 56

ARBITRASE DAN ADR

OLEH :
Dr. ACHIEL SUYANTO, SH., MBA.

Suatu bentuk penyelesaian sengketa diluar


pengadilan secara damai yang hasilnya
bersifat final dan mengikat.
PERJANJIAN ARBITRASE :
adalah suatu kesepakatan berupa klausula
arbitrase yang tercantum dalam suatu
perjanjian tertulis yang dibuat para pihak
sebelum timbul sengketa atau setelah timbul
sengketa dengan suatu perjanjian arbitrase
tersendiri (pasal 1 ayat (4) uu no. 30 tahun
1999 tentang arbitrase).
2

Menurut Prof Soebekti (Dalam buku Arbitrase


di indonesia) Arbitrase adalah
penyelesaian suatu perselisihan (perkara)
oleh seorang atau beberapa orang wasit
(arbiter) yang bersama-sama ditunjuk oleh
para pihak yang berperkara dengan tidak
diselesaikan lewat pengadilan.

Tanda adanya perjanjian arbitrase maka tidak


ada kewenangan arbitrase.
3

Perjanjian arbitrase meniadakan hak para


pihak untuk mengajukan sengketa ke
pengadilan dan meniadakan wewenang
pengadilan untuk mengadili.
Dalam arbitrase berlaku the law of parties
dan the law of prosedure yang disepakati
bersama dalam mengikuti alias non
konfrontatif dan alias kooperatif
(sedangkan pn sebaliknya).

KLAUSULA ARBITRASE TIDAK DIBATASI


Untuk perjanjian arbitrase yang dibuat sebelum
terjadinya sengketa (pactum de compromitendo),
umumnya dirumuskan secara singkat yakni:
1.
Hanya menunjuk forum & tempat arbitrase di
selenggarakan (choice of forum).
2.
Aturan hukum yang akan digunakan untuk
menyelesaikan sengketa (choice of law).
3.
Adapun bentuknya merupakan salah satu
klausula yang mengangkat tentang penyelesaian
sengketa (dispute settlement clause) dari dan
menyatu dengan perjanjian pokoknya.
5

Rumusan singkat tersebut diuraikan secara


umum seperti:
Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini akan
diselesaikan dalam tingkat pertama dan terakhir
menurut peraturan prosedur bani oleh arbiterarbiter yang ditunjuk oleh atau menurut peraturan
bani tersebut.
Dari rumusan tersebut seolah-olah sengketa yang
ditangani oleh arbitrase sangat luas dan tidak
terbatas. Pendapat tersebut tidak tepat karena ada
pembatasannya yakni sebagaimana ditentukan
dalam pasal 5 jo. Pasal 66 huruf B UU no. 30 tahun
1999 tentang arbitrase.
6

PASAL 5 AYAT (1) :

Sengketa yang dapat diselesaikan melalui


arbitrase hanya sengketa dibidang
perdagangan dan mengenai hak yang menurut
hukum dan peraturan perundangan di kuasai
sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa
AYAT (2) :
Sengketa yang tidak dapat diselesaikan melalui
arbitrase hanya sengketa yang menurut
peraturan perundang-undangan tidak dapat
diadakan perdamaian.
7

PASAL 66 HURUF B :
Sengketa yang jadi wewenang arbitrase
adalah sengketa perdagangan yang
meliputi: kegiatan-kegiatan perniagaan,
perbankan, keuangan, penanaman modal,
industri dan hak kekayaan intelektual.

Untuk perjanjian arbitrase yang dibuat setelah


sengketa terjadi (acta van compromise) harus
dirumuskan secara lebih rinci/detail dengan
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Masalah yang disengketakan;
2. Nama lengkap dan tempat tinggal para pihak;
3. Nama lengkap dan tempat tinggal arbiter atau
majelis arbitrase;
4. Tempat arbiter atau majelis arbitrase akan
mengambil keputusan;
5. Nama lengkap sekretaris;
6. Jangka waktu penyelesaian sengketa;
7. Pernyataan kesediaan arbiter;
9

8.

Pernyataan kesediaan dari para pihak yang


bersengketa untuk menanggung segala
biaya yang dibebankan untuk penyelesaian
sengketa melalui arbitrase.

(LIHAT PASAL 9 AYAT (3) UU no. 30 tahun


1999 tentang arbitrase dan ADR )

10

Persamaan antara pactum de compromitendo


dengan acta van compromise, adalah :

Sama-sama menundukkan diri pada


penyelesaian sengketa secara alternatif yakni
arbitrase;
Rumusan masalah yag di sengketakan harus
mengacu pada masalah-masalah, yang
secara yuridis termasuk kedalam lingkup
wewenang arbitrase (pasal 5 UU no.30 tahun
1999 tentang arbitrase).
11

Tata cara pengajuan pemeriksaan


arbitrase
1.

Untuk kasus perjanjian yang telah


dibuat sebelum sengketa terjadi :
- Pemohon atau kuasanya harus
memberitahukan dengan surat
tercatat, telegram, teleks, faximilie,
email atau dengan buku ekspedisi
kepada termohon bahwa syarat
arbitrase yang diadakan pemohon
dengan termohon berlaku,
(pemberitahuan untuk mengadakan
arbitrase).
12

Hal-hal yang termuat dalam surat


pemberitahuan harus secara jelas tentang :
1. Nama dan alamat para pihak;
2. Penunjukan pada klausula atau perjanjian
arbitrase yang berlaku;
3. Perjanjian atau masalah yang menjadi sengketa;
4. Dasar tuntutan dari jumlah yamh dituntut apabila
ada:
5. Cara penyelesaian yang dikehendaki;
6. Perjanjian yang diadakan oleh para pihak tentang
jumlah arbiter atau jika tidak ada perjanjian
semacam itu pemohon dapat mengajukan usul
tentang jumlah arbiter yang dikehendaki (jumlah
harus ganjil).
13

Untuk kasus perjanjian yang dibuat


setelah ada sengketa.

Dalam acta van compromise telah secara


lengkap memuat secara rinci berbagai syarat
untuk kelengkapan pengajuan pemeriksaan
arbitrase. Namun prosedur pemberitahuan
dan pemanggilan untuk kepentingan
pemeriksaan atau persidangan arbitrase
kepada para pihak yang bersengketa akan
dilakukan oleh arbiter atau majelis arbitrase
yang telah ditunjukkan oleh para pihak yang
bersengketa.
14

SYARAT-SYARAT ARBITRASE
1.
2.
3.
4.

5.
6.

Adanya kesepakatan / perjanjian tertulis;


Adanya kesepakatan hukum yang akan
digunakan;
Adanya kesepakatan untuk mengakhiri
sengketa;
Adanya hak untuk melakukan tuntutan dan
perlawanan (claim and de fund);
Berlaku prinsip kontradiksi (keseimbangan
bagi kedua pihak);
Putusan bersifat final, mengikat dan dapat
dilaksanakan (final, binding dan enforcable)
15

KEUNTUNGAN ARBITRASE
1.
2.

3.
4.

5.

Prosedur lebih cepat;


Waktu tidak lebih dari 60 hari dan bisa
diperpanjang hingga 180 hari sejak
dibentuknya majelis arbitrase;
Biaya lebih murah;
Arbiter dipilih oleh para pihak
berdasarkan keahlian;
Pemeriksaan arbitrase bersifat tertutup
16

KERUGIAN ARBITRASE
1.
2.

3.
4.
5.

6.

Kegunaan arbitrase berkurang jika para pihak


berpaling ke pengadilan;
Proses eksekusi jika tidak dijalankan secara sukarela
oleh para pihak harus meminta bantuan/perantaraan
pengadilan;
Pemohon dapat mengambil tindakan tidak sah
secara diam-diam;
Jika perselisihan atas dana yang besar maka biaya
adminstrasi untuk lembaga arbitrase juga besar;
Memungkinkan adanya penundaan karena
kebutuhan untuk menentukan langkah-langkah
pemeriksaan;
Putusan arbitrase dapat dimintakan pembatalan ke
Pengadilan Negeri (Pasal 70 UU No. 30 tahun 1999)
17

MEKANISME PENYELESAIAN MELALUI


ARBITRASE
1. PENDAFTARAN PEMOHON
a)

b)
c)

d)

Mengisi formulir pendaftaran;


Melampirkan perjanjian arbitrase;
Apabila ada kesepakatan proses arbitrase
melalui ad hoc maka para pihak akan
menunjuk para arbiter
Para arbiter menetapkan ketua majelis
arbitrase
18

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

2.

HAL-HAL YANG HARUS DINYATAKAN


DALAM PERMOHONAN
a)
b)

c)
d)
e)
f)

Hubungan hukum pemohon dan


termohon;
Duduk perkara / sengketa;
Alasan dan sebab sengketa;
Fakta kejadian dan peristiwa;
Tuntutan dan dasar tuntutan;
Daftar alat bukti / pendukung.
19

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

3. HUKUM ACARA YANG DIGUNAKAN


Dalam perkara arbitrase para pihak secara
bebas dapat menentukan satu prosedur yang
akan digunakan dalam proses persidangan,
jika tidak tercapai kesepakatan, maka
arbitrase yang akan menentukan prosedur
acara sesuai dengan peraturan hukum (Pasal
19 Model Law)

20

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

4. BIAYA ADMINISTRASI
Dalam berperkara di lembaga arbitrase, proses
pendaftaran dan biaya awal (penitipan) hampir
sama dengan di pengadilan umum, yakni
pemohon harus mendaftar lebih dahulu biaya
administrasi yang perhitungannya sudah
ditentukan oleh BANI.
Apabila pihak pemohon, setelah menerima
pemberitahuan adanya permintaan pemeriksaan
arbitrase kemudian mengajukan rekonpensi, maka
termohon harus membayar biaya administrasi
sendiri. Rekonpensi dan jawaban harus
disampaikan dalam waktu 30 hari
21

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

5. PENUNJUKKAN ARBITER
a. Pihak pemohon dan termohon dapat menunjuk
arbiter sesuai yang terdaftar
dalam BANI;
b. Kedua arbiter akan menunjuk satu arbiter
sebagai ketua majelis;
c. Jika keduanya tidak menunjuk maka ketua BANI
berwenang menunjuk ketua dari daftar anggota
BANI yang ada;
d. Perkara arbitrase dapat juga disidangkan oleh
seorang arbiter tunggal jika perkara dianggap
sederhana dan atas sepakat pihak-pihak yang
bersengketa;
e. Arbiter berwenang untuk mengadakan pertemuan
pendahuluan guna menyusun kerangka kerja yang
harus disepakati dalam melakukan pemeriksaan;
22

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

6. PERSIDANGAN ARBITRASE
a. Sidang pertama diadakan/dibuka 14 hari
setelah termohon memberi jawaban (tertulis);
b. Apabila termohon belum memberi jawaban
maka sidang diundur 14 hari lagi untuk
termohon memberi jawaban maupun
rekonpensi;
c. Apabila pada persidangan pertama termohon
tidak datang sidang akan diundur 14 hari,
tetapi jika setelah diundur kedua kalinya
tersebut termohon tidak juga hadir maka
perkara akan diputus secara verstek
23

Lanjutan proses persidangan arbitrase.

d. Atas putusan verstek termohon mempunyai


hak untuk mengajukan verzet;
e. Permohonan pemeriksaan arbitrase
gugur apabila pada persidangan pertama
pemohon dan kuasanya tidak hadir;
f. Pada persidangan pertama, majelis
arbitrase tetap menawarkan pada para
pihak untuk berdamai. Jika tidak berhasil
maka sidang diteruskan dengan
pemeriksaan (hearing) sesuai prosedur dan
agenda yang telah disusun;
24

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

7. PEMERIKSAAN BUKTI, SAKSI dan DENGAR


PENDAPAT
a. Bukti-bukti harus disampaikan oleh kedua pihak
b. Panggilan terhadap saksi harus disampaikan
kepada majelis arbitrase dan kepada pihak
lainnya yang berisi pokok kesaksian, nama,
alamat dan bahasa saksi;
c. Saksi ahli dapat dipanggil oleh arbiter tanpa
meminta persetujuan dari para pihak;
d. Jika pemriksaan selesai maka setelah masingmasing menyampaikan kesimpulan maka
majelis arbitrase harus memutuskan dalam
waktu 30 hari;
25

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

8. KEPUTUSAN ARBITRASE
a. Syarat formal :
- putusan harus sesuai dengan tuntutan dan
perlawanan;
- putusan ditandatangani oleh para arbiter;
- putusan dibubuhi materai;
- putusan dikirim kepada para pihak;
- putusan didaftarkan di pengadilan

26

Lanjutan keputusan arbitrase.

b. Syarat substansial
- putusan bersifat final dan binding (final
dan mengikat);
- putusan harus konsisten dan dapat
dijalankan;
- hanya memutus masalah yang
disengketakan

27

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

9. PELAKSANAAN PUTUSAN
Prinsip :
a) Dilaksanakan secara sukarela;
b) Melalui bantuan pengadilan;
A. PUTUSAN ARBITRASE NASIONAL
a) Pendaftaran putusan paling lama 30 hari
sejak dibacakan;
b) Dibuatkan akta pendaftaran;
c) Penyerahan putusan asli;
d) Pengangkatan sebagai arbiter keada
panitera/juru sita;
28

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

B. PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL


a)

b)

c)

d)

Bisa dilaksanakan di Indonesia melalui


Pengadilan Negeri Jakarta Pusat;
Putusan dijatuhkan oleh arbiter pada
negara yang mempunyai perjanjian
dengan Indonesia;
Putusan dalam lingkup hukum
peragangan;
Putusan tidak bertentangan dengan
kepentingan umum;
29

Lanjutan putusan arbitrase internasional.

e)

f)

g)

Putusan telah mendapat eksekutor dari


Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat;
Jika putusan menyangkut negara (BUMN
dsb) harus mendapat eksekutor dari
Mahkamah Agung;
Putusan didaftarkan oleh arbiter atau
kuasanya ke Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat.

30

Lanjutan mekanisme penyelesaian melalui arbitrase.

C. PUTUSAN YANG TIDAK DIJALANKAN


SECARA SUKARELA
1.

2.

Dilaksanakan atas perintah Ketua


Pengadilan atas permohonan salah satu
pihak yang bersengketa;
Pelaksanaannya dilakukan 30 hari setelah
permohonan eksekusi didaftarkan;

31

Lanjutan putusan yang tidak dijalankan secara sukarela.

3.

Pemeriksaan oleh ketua Pengadilan antara


lain :
a. apakah putusan tidak bertentangan
dengan Pasal 4 (persetujuan untuk
menyelesaikan sengketa melalui arbitrase)
dan Pasal 5 (sengketa hanya terbatas
pada sengketa dagang);
b. tidak bertentangan dengan kesusilaan dan
kepentingan umum.
32

ALTERNATIVE DISPUTE RESOLUTION


(ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA)

Suatu sengketa yang diselesaikan diluar


lembaga peradilan adalah bentuk upaya
penyelesaian sengketa yang
menguntungkan kedua belah pihak artinya
persetujuan cara penyelesaian
pemecahan masalah oleh para pihak
yang bersengketa melaluli bantuan pihak
ketiga yang independen baik dengan cara
negosiasi, mediasi atau pendapat ahli
(faluasi).
33

Untuk memudahkan secara praktis


apa saja hal-hal yang dapat
diselesaikan baik melalui alternatif
penyelesaian sengketa (APS) maupun
lembaga arbitrase perlu kita mengutip
pendapat ahli arbitrase yakni Prof.Dr.
H.Priyatna Abdur Rasyid, SH. dalam buku
"Arbitrasi & APS" telah mengelompokkan
dasar sengketa atau perselisihan yakni:

34

a)
b)

c)

d)
e)

Internasional - termasuk masalah-masalah hukum publik.


Konsistusional adminstratif dan fiskal - termasuk masalah
kewarganegaraan/status, pemerintahan, institusi pemerintah,,
jenis instansi pemerintah, perijinan, perencanaan, perpajakan
dan jaminan sosial.
Organisasional - termasuk masalah-masalah yang timbulk
dalam berbagai bentuk organisasi dan mencangkup
manajemen, struktur, prosedur dan perselisahan dalam
organisasi.
Ketenagakerjaan - di Indonesia diatur dalam UU Perburuhan.
Korporasi - termasuk perselisahan atar pemegang saham dan
masalah-masalah yang timbul dalam likuidasi, kepailitan dan
keuangan.
35

f. Perdagangan - termasuk didalamnya masalah


Kontrak Kemitraan Joint Venture, Perbankan,
Pengangkutan, Komoditas, Kekayaan
Intelektual, Industri Konstruksi, dan
sebagainya.
g. Perselisihan antara Distributor dan Konsumen
(product leability).
h. Perselisihan menaenai harta benda
i. Perselisihan tentang asuransi (klaim, tuntutan
kewajiban dan kealpaannya).
j. Perselisihan masalah marital (akibat
perceraian, anak, harta benda, dll.)
k. Perselisihan baik secara kelompok maupun
perseorangan.
36

BATASAN ADR

Alternatiive Dispute Resolution atau


Alternatif Penyelesaian Sengketa dapat
diberi batasan yakni merupakan
sekumpulan prosedur atau mekanisme
yang berfungsi memberi alternatif atau
pilihan suatu tatacara penyelesaian
sengketa agar mendapatkan putusan akhir
dan mengikat para pihak, baik melalui
perantara bantuan pihak ketiga maupun
penyelesaian antara para pihak sendiri.
37

NEGOSIASI

Adalah merupakan suatu cara


penyelesaian sengketa dimana individu
berkomunikasi satu dengan yang lain
diluar lembaga peradilan yang dilakukan
baik secara langsung maupun melalui
pihak ketiga yang tujuannya untuk
mengatur hubungan mereka dalam
menjalankan bisnis maupun kehidupan
sehari-hari.
38

TUJUAN NEGOSIASI
1)

2)

Untuk membuat
persetujuan/kesepakatan.
Bersifat memberi dan menerima (win win

solution).
3)

Mendapatkan hasil yang cepat dan lebih


baik.

39

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


DALAM PROSES NEGOSIASI:
1)

2)
3)
4)

5)
6)

Kepentingan masing-masing pihak.


Posisi masing-masing pihak.
Bersedia dialog/diskusi secara sehat.
Menyampaikan tawaran yang mungkin
diterima.
Ada oroses tawar menawar.
Menentukan target minimal.

40

SYARAT MENJADI
NEGOSIATOR

1)

2)
3)
4)

5)

Menguasai materi sengketa.


Mampu berpikir jernih dan cepat,
Tidak tercela.
Kemampuan mengundang respek dan
kepercayaan.
Ada kemampuan memutuskan dengan
prinsip imparsial.

41

HASIL NEGOSIASI
1)
2)

Ada kesepakatan (berhasil).


Ada kesepakatan untuk tidak
sepakat (tidak berhasil).

42

Dalam melakukan negosiasi terdapat


tahapan-tahapan yang harus diketahui oleh
seorang negosiator. Adapun tahapan sebuah
negosiasi adalah sebagai berikut:
A. Tahap Sebelum Negosiasi Berlangsung
1) Siapa saja yang terlibat negosiasi.
2) Apa negosiasi itu memang diperlukan.
3) Bagaimana hubungan antar para pihak dan
apa saja yang sebenarnya menjadi
hambatan sehingga timbul sengketa.
4) Pokok masalah yang akan dibicarakan yang
menjadi obyek dari negosiasi itu sendiri;

43

B. Tahap Berlangsungnya
Negosiasi :
1)

2)
3)
4)
5)
6)

Menetapkan Persoalan.
Menetapkan posisi awal masing-masing
pihak.
Argumentasi (masing-masing pihak)
Beberapa kemungkinan coba disimpulkan.
(Proposal Perdamaian)
Menetapkan proposal/usulan penyelesaian.
Menetapkan dan menandatangani
Persetujuan
44

Disamping tahapan-tahapan tersebut


diatas, dalam melakukan negosiasi harus
memperhatikan beberapa faktor. Adapun
Faktor-Faktor dalam Negosiasi menurut
Garry Good Paster adalah sebagai berikut
:
1) Kekuatan tawar-menawar.
2) Pola tawar menawar.
3) Strategi dalam tawar nemawar.

45

Dari ketiga faktor tersebut diatas masih


bersifat relatif karena dalam negosiasi masih
tergantung pada hal-hal sebagai berikut :
1.

2.

3.
4.

Bagaimana kebutuhan anda terhadap pihak


lain.
Bagaimana kebutuhan pihak lain terhadap
anda.
Bagaimana alternatif kedua belah pihak.
Apa persepsi para pihak mengenai
kebutuhan serta pilihan-pilihannya.
46

Dalam melakukan negosiasi terdapat


taktik dan strategi yang perlu untuk
dijadikan sebagai pegangan oleh
seorang negosiator. Mengenai
Strategi/Taktik dalam bernegosiasi
terdiri dari :
1. Bersaing (competing).
2. Berkompromi (compromising).
3. Pemecahan masalah (Problem

solving).

47

Dalam negosiasi terdapat suatu teknik


untuk menghindari/melarikan diri
(Avaidance) dari James E. Peterson dalam
buku How to Become a better Negotiation:
Teori ini dapat digunakan apabila :
a)
b)

Permasalahan tersebut sederhana atau sepele.


Bila pihak-pihak dalam sengketa kurang
mampu menawarkan penyelesaian win-win

solution,
c)

d)

Jika potensi kekalahan dalam conflict lebih


berat (berdasar analisis Cost benefit),
Bila tidak cukup waktu untuk menyelesaikan
conflict dengan waktu singkat.
48

MEDIASI

Mediasi merupakan proses penyelesaian suatu


sengketa dengan menggunakan jasa pihak ketiga
yang independen tapi tidak memutuskan, dimana
para pihak yang bersengketa menggunkan forum
tersebut atas dasar itikad baik.
Istilah mediasi sering disamakan dengan
proses perdamaian karena memang kehendak
untuk mengakhiri sengketa harus datang dari
kedua belah pihak, sedangkan seorang mediator
hanya mengatur mekanismenya dengan
memberikan saran dan pendapat hukum atas
permasahan yang dihadapi.
49

Proses mediasi di Indonesia telah diatur


dengan berbagai petunjuk melalui
Peraturan Mahkamah Agung (PERMA No.2
tahun 2004 tentang Mediasi) sekarang No.
1 Tahun 2008.
Adalah benar dengan kebebasan
kehendak kedua belah pihak untuk
menyelesaikan sengketa secara cepat
itulah yang memungkinkan seorang
mediator memberikan penyelesaian
yang inovatif melalui suatu bentuk
penyelesaian yang saling menguntungkan.
50

ASPEK POSITIF DARI MEDIASI.


a)

b)
c)
d)

e)

f)

Pihak yang bersengketa terlibat secara aktif


dalam proses penyelesaian sengketa.
Bersifat informal.
Penyelesaian bisa cepat dengan biaya murah.
Masing-masing pihak menjaga kepentingan
bukan hanya membicarakan hak.
Hubungan antar pihak yang terlibat tetap
terpelihara.
Usaha penyelesaian selalu praktis dan
konstruktif.
51

ASPEK NEGATIF MEDIASI


1.

2.

Pihak-pihak yang terlibat bisa tidak serius


karena prosedur longgar dan tidak formal,
Hasil mediasi adakalanya tidak
dilaksankan oleh salah satu pihak.

52

TUJUAN MEDIASI
a)
b)

c)
d)

menyelesaikan sengketa secara sukarela.


menyelesaikan sengketa secara singkat,
cepat dan murah.
menciptakan penyelesaian secara formal.
penyelesaian dengan keuntungan
keduabelah pihak yang bersengketa

53

FUNGSI MEDIATOR
1)

2)
3)
4)

5)

Menyusun rencana mediasi.


Memilih strategi yang tepat.
Merumuskan masalah dan menyusun
agenda.
Mengumpulkan dan menganalisa
semua informasi tentang latar
belakang masalah.
Mengupayakan penyelesaian secara
cepat.
54

HAL-HAL YANG HARUS


DIPERHATIKAN MEDIATOR
1)
2)

3)

4)

Memegang prinsip imparsial.


Mengagendir secara seksama semua
informasi dari para pihak.
Memberikan kesempatan yang sama
kepada masing-masing pihak.
Mediasi ditujukan untuk
penyelesaian sukarela.
55

HASIL AKHIR MEDIASI


1)

2)

3)

Penyelesaian diselesaikan secara


sukarela dan cepat.
Penyelesaian mengikat kedua belah
pihak.
Penyelesaian dengan saling mengerti
kelebihan dan kelemahannya.

56