Você está na página 1de 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Pengertian
Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu
dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang
ditemukan (Depkes RI, 1996).
Antenatal care adalah perawatan selama masa kehamilan sebagai suatu manajemen
kehamilan dimana ibu dan anaknya diharapkan sehat dan baik (Hanifa Wiknjosastro, SPOG, dkk
(2002) Ilmu Kebidanan).
B. Tujuan Pelayanan Antenatal Care.
a. Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan
pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses kelahiran bayi.
b. Mendeteksi dan menatalaksanakan komplikasi medis, bedah ataupun obstetri selama
kehamilan.
c. Mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiagaan menghadapi komplikasi.
d. Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan sukses, menjalankan puerperium normal,
dan merawat anak secara fisik, psikologi dan social (Kusmiyati, et al., 2008).
C. Pelayanan Antenatal Care
Pelayanan antenatal dalam penerapan operasionalnya dikenal dengan standar minimal 7T yang
terdiri dari:
1. Timbang badan dan tinggi badan dengan alat ukur yang terstandar.
Penimbangan dilakukan setiap kali ibu hamil memeriksakan diri, karena hubungannnya
erat dengan pertambahan berat badan lahir bayi. Berat badan ibu hamil yang sehat akan
bertambah antara 10-12 Kg sejak sebelum hamil (Nadesul, 2006). Tinggi badan hanya diukur
pada kunjungan pertama. Ibu dengan tinggi <145cm perlu diperhatikan kemungkinan
panggul sempit sehingga menyulitkan pada saat persalinan (Depkes RI, 1998).

2. Mengukur tekanan darah dengan prosedur yang benar.

Pengukuran tekanan darah harus dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk melakukan
deteksi dini terhadap terjadinya tiga gejala preeklamsi. Tekanan darah tinggi, protein urin
positif, pandangan kabur atau oedema pada ekstremitas. Apabila tekanan darah mengalami
kenaikan 15 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 1 jam atau tekanan darah >
140/90 mmHg , maka ibu hamil mengalami preeklamsi. Apabila preeklamsi tidak dapat
diatasi maka akan menjadi eklamsi (Mufdlillah, 2009).
3. Mengukur Tinggi fundus uteri dengan prosedur yang benar.
Pengukuran tinggi fundus uteri dilakukan secara rutin untuk mendeteksi secara dini
terhadap berat badan janin. Indikator pertumbuhan janin intrauterin, tinggi fundus uteri juga
dapat digunakan untuk mendeteksi terhadap terjadinya molahidatidosa, janin ganda atau
hidramnion (Nadesul, 2006)
4. Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) lengkap (sesuai jadwal).
Pemberian imunisasi TT untuk mencegah terjadinya penyakit tetanus.
Tabel 2. Jadwal pemberian imunisasi TT
Antigen
TT1
TT2
TT3
TT4
TT5

Interval (selang waktu

Lama

minimal)
Pada kunjungan antenata pertama
4 minggu setelah TT1
6 bulan setelah TT2
1 tahun setelah TT3
1 tahun setelah TT4

perlindungan
3 tahun *
5 tahun
10 tahun
25 tahun/seumur

perlindungan
80
95
99
99

hidup
Ket : * artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang
dilahirkan akan terlindung dari TN (Tetanus Neonatorum) sumber: (Prawirohardjo, 2006).
5. Pemberian Tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.
Pemberian tablet tambah darah dimulai setelah rasa mual hilang satu tablet setiap hari,
minimal 90 tablet. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat
500 g. Tablet besi sebaiknya tidak minum bersama kopi, teh karena dapat mengganggu
penyerapan (Prawirohardjo, 2006).
6. Tes laboratorium (rutin dan khusus).

Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan hemoglobin, protein urine, gula


darah, dan hepatitis B. Pemeriksaan khusus dilakukan didaerah prevalensi tinggi dan atau
kelompok perilaku terhadap HIV, sifilis, malaria, tubercolusis, cacingan dan thalasemia.
(Meilani, et al., 2009).
7. Temu wicara (konseling).
Memberikan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan seperti perawatan diri selam hamil,
perawatan payudara, gizi ibu hamil, tandatanda bahaya kehamilan dan janin sehingga ibu dan
keluarga dapat segera mengambil keputusan dalam perawatan selanjutnya dan mendengarkan
keluhan yang disampaikan (Meilani, et al., 2009).
Menurut dr. Suparyanto, pelayanan ANC yang benar adalah sebagai berikut :
a) Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu
sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya (Saifudin,
2006).
b) Bidan harus dapat mengenali perubahan yang mungkin terjadi, sehingga kelainan yang ada
dapat dikenali lebih dini. Ibu diberi tahu tentang kehamilannya, perencanaan tempat bersalin,
juga perawatan bayi dan menyusui (Mansjoer, 2005).
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen (Saifudin,
2006) sebagai berikut:
1. Informasi yang dapat diberikan
a) Kegiatan fisik dapat dilakukan dalam batas normal.
b) Kebersihan pribadi khususnya daerah genitalia harus lebih dijaga karena selama
kehamilan terjadi peningkatan sekret vagina.
c) Pemilihan makanan sebaiknya yang bergizi dan tinggi serat.
d) Pemakian obat harus dikonsultasikan dahulu dengan dokter atau tenaga medis lainnya.
e) Wanita perokok atau peminum alkohol harus menghentikan kebiasaannya. Suami perlu
diberi pengertian tentang keadaan istrinya yang sedang hamil.

2. Anamnesis

a. Pada wanita dengan haid terlambat dan diduga hamil. Ditanyakan hari pertama haid
terakhir (HPHT). Taksiran partus dapat ditentukan bila HPHT diketahui dan siklus
haidnya teratur + 28 hari dengan menggunakan rumus Naegele.
b. Bila ibu lupa HPHT, tanyakan tentang hal lain seperti gerakan janin. Untuk primigravida
gerakan janin terasa pada kehamilan 18 minggu, sedangkan multigravida 16 minggu.
Nausea biasanya hilang pada kehamilannya 12-14 mingggu.
c. Tanyakan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya serta berat bayi yang
pernah dilahirkan. Demikian pula riwayat penyakit yang pernah diderita seperti penyakit
jantung, paru, ginjal, diabetes melitus. Selain itu ditanyakan riwayat menstruasi,
kesehatan, keluarga, sosial, obstetri, kontrasepsi, dan faktor risiko yang mungkin ada
pada ibu.
3. Pemeriksaan umum
Pada ibu hamil yang datang pertama kali lakukan penilaian keadaan umum, status gizi
dan tanda vital. Pada mata dinilai ada tidaknya konjungtiva pucat, sklera ikterik, edema
kelopak mata, dan kloasma gravidarum. Periksa gigi untuk melihat adanya infeksi lokal.
Periksa pula jantung, paru, mammae, abdomen, anggota gerak secara lengkap.
4. Pemeriksaan Obstetri
Terdiri dari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Sebelum pemeriksaan kosongkan
kandung kemih. Kemudian ibu diminta berbaring terlentang dan pemeriksaan dilakukan di
sisi kanan ibu.
5. Pemeriksaan luar
a. Lihat apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi, harus ditunggu sampai
dinding perut lemas agar dapat diperiksa dengan teliti. Agar tidak terjadi kontraksi dinding
perut akibat perbedaan suhu dengan tangan pemeriksa, sebelum palpasi kedua tangan
pemeriksa digosokkan dahulu.
b. Cara pemeriksaan yang umum digunakan cara Leopold yang dibagi dalam 4 tahap. Pada
pemeriksaan Leopold I, II, dan III pemeriksa menghadap ke arah muka ibu, sedangkan
pada Leopold IV ke arah kaki. Pemeriksaan Leopold I untuk menentukan tinggi fundus
uteri, sehingga usia kehamilan dapat diketahui. Selain secara anatomi, tinggi fundus uteri
dapat ditentukan dengan pita pengukur. Bandingkan usia kehamilan yang didapat dengan
hari pertama haid terakhir. Selain itu, tentukan pula bagian janin pada fundus uteri: Kepala
teraba sebagai benda keras dan bulat, sedangkan bokong lunak dan tidak bulat.

c. Dengan pemeriksaan Leopold II ditentukan batas samping uterus dan posisi punggung
pada bayi letak memanjang. Pada letak lintang ditentukan kepala. Pemeriksaan Leopold
III menentukan bagian janin yang berada di bawah.
d. Leopold IV selain menentukan bagian janin yang berada di bawah, juga bagian kepala
yang telah masuk pintu atas panggul (PAP). Bila kepala belum masuk PAP teraba
balotemen kepala.
e. Dengarkan DJJ pada daerah punggung janin dengan stetoskop monoaural atau doppler.
Dengan stetoskop monoaural BJJ terdengar pada kehamilan 18-20 minggu, sedangkan
dengan Doppler terdengar pada kehamilan 12 minggu.
f. Dari pemeriksaan luar diperoleh data berupa usia kehamilan, letak janin, persentase janin,
kondisi janin, serta taksiran berat janin.
g. Taksiran berat janin ditentukan berdasarkan rumus Johnson Toshack. Perhitungan penting
sebagai pertimbangan memutuskan rencana persalinan pervaginam secara spontan. Rumus
tersebut:
h. Taksiran Berat Janin (TBJ) = (Tinggi fundus uteri (dalam cm) N) X 155.
N = 13 bila kepala belum melewati PAP
N = 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika.
6. Pemeriksaan dalam
a. Siapkan ibu dalam posisi-litotomi lalu bersihkan daerah vulva dan perineum dengan
larutan antiseptik. Inspeksi vulva dan vagina apakah terdapat luka, varises, radang, atau
tumor. Selanjutnya lakukan pemeriksaan inspekulo. Lihat ukuran dan warna porsio,
dinding, dan sekret vagina. Lakukan pemeriksaan colok vagina dengan memasukan
telunjuk dan jari tengah. Raba adanya tumor atau pembesaran kelenjar di liang vagina.
Periksa adanya massa di adneksa dan parametrium. Perhatikan letak, bentuk, dan ukuran
uterus serta periksa konsistensi, arah, panjang, porsio, dan pembukaan servik.
Pemeriksaan dalam ini harus dilakukan dengan cara palpasi bimanual.
b. Ukuran uterus wanita yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam. Pada kehamilan 8
minggu sebesar telur bebek, 12 minggu sebesar telur angsa, dan 16 minggu sebesar kepala
bayi atau tinju orang dewasa.
7. Pemeriksaan panggul
Lakukan penilaian akomodasi panggul bila usia kehamilan 36 minggu karena jaringan
dalam rongga panggul lebih lunak, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit. Masukkan
telunjuk dan jari tengah ke dalam liang vagina. Arahkan ujung kedua jari ke promontorium,

coba untuk merabanya. Bila teraba, tentukan panjang konjugata diagonalis. Dengan ujung
jari menelusuri linea inominata kiri dan kanan sejauh mungkin, tentukan bagian yang teraba.
Raba lengkung sakrum dan tentukan apakah spina iskiadika kiri dan kanan menonjol ke
dalam. Raba dinding pelvik, apakah luruh atau konvergen ke bawah dan tentukan panjang
distansia interspinarum. Arahkan bagian palmar jari-jari tangan ke dalam simfisis dan
tentukan besar sudut yang dibentuk antara os pubis kiri dan kanan.
8. Pemeriksaan laboratorium
Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah, hematokrit, dan hitung
leukosit. Dari urin diperiksa beta-hCG, protein, dan glukosa.
D. Tempat Pelayanan Antenatal Care
Pelayanan antenatal care bisa didapatkan di Rumah Sakit, Puskesmas, Bidan Praktek
Swasta, Dokter Praktek Swasta, Posyandu. Pelayanan antenatal care hanya diberikan oleh
tenaga kesehatan dan bukan dukun bayi (Meilani, et al., 2009).
E. Kunjungan Antenatal
Kunjungan antenatal adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk
mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan (Meilani, et al.,
2009). Menurut kebijakan dari Pemerintah kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling
sedikit 4 kali selama hamil. Dengan ketentuan minimal satu kali pada trimester pertama,
minimal satu kali pada trimester kedua, minimal dua kali pada trimester ketiga. Standar
waktu pelayanan tersebut ditentukan untuk menjamin mutu pelayanan antenatal dan untuk
memberi kesempatan yang cukup kepada pemberi asuhan antenatal dalam menangani kasus
risiko tinggi yang ditemukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan antenatal:
a.
b.
c.
d.
e.

Kurangnya pengetahuan ibu tentang antental care


Kesibukan
Tingkat sosial ekonomi yang rendah
Dukungan suami yang kurang
Kurangnya kemudahan untuk pelayanan

F. Asuhan Keperawatan Teori Antenatal Care

1.
a)
b)
c)
d)

e)

Pengkajian Antenatal Care


Aktifitas / Istirahat
BP , HR , Episode Sinkop, Edema.
Integritas Ego
Persepsi diri
Eliminasi
Konstipasi, miksi , BJ urine , haemoroid.
Makanan & Cairan
Morning sickness (TM I), nyeri ulu hati.
Penambahan BB (8-12 kg), hipertrofi gusi (berdarah).
Anemi fisiologis (Hemodilusi).
Nyeri / Ketidak Nyamanan
Kram kaki, nyeri payudara & punggung, Braxton Hicks.

f) Pernafasan
RR
g) Keamanan
Suhu : 36,10C 37,60C.
DJJ ( 12 minggu dengan dopler, 20 minggu dengan fetoskop).
Gerakan janin (20 minggu).
Quickening & Ballotement.
(16-20 minggu).
h) Seksualitas
Perubahan seksualitas, leukorea, peningkatan uterus.
Payudara membesar , pigmentasi.
Goodell, Hegar, chadwiks.
i) Interaksi Sosial
Denial, maturasi, aseptent.
j) Penyuluhan / Pembelajaran.
k) Pemeriksaan Diagnostik.
2.

Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d perubahan nafsu
2.
3.
4.
5.
6.
7.

makan, mual dan muntah.


Resiko tinggi defisit volume cairan b/d perubahan napsu makan, mual dan muntah.
Perubahan eliminasi urine b/d pembesaran uterus, GFR, sensitifitas VU.
Pola nafas tidak efektif b/d pergeseran diagfragma sekunder kehamilan.
Ketidaknyamanan b/d perubahan fisik dan pengaruh hormonal.
Perubahan pola seksualitas b/d perubahan struktur tubuh & ketidaknyaman.
Resiko tinggi konstipasi b/d penurunan peristaltik, penekanan uterus.

3.
Intervensi Keperawatan
1. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d perubahan napsu makan,
mual dan muntah.
Kriteria Hasil :
1.
2.
3.
4.

Menjelaskan komponen diet seimbang prenatal.


Mengikuti diet yang dianjurkan.
Mengkonsumsi Zat besi/ vitamin.
Menunjukkan BB ( min 1,5 kg pd TM I).

Intervensi :
1. Tentukan asupan nutrisi /24 jam.
2. Kaji tentang pengetahuan kebutuhan diet.
3. Berikan nformasi tertulis diet prenatal & suplemen.
4. Tanyakan keyakinan diet sesuai budaya.
5. Timbang BB & kaji BB pregravid.
6. Berikan BB selama TM I yang optimal.
7. Tinjau tentang mual & muntah.
8. Pantau kadar Hb, test urine (aseton, albumin & glukosa).
9. Ukur pembesaran uterus.
10. Kolaborasi : program diet ibu hamil.
2. Resiko tinggi defisit volume cairan b/d perubahan napsu makan, mual dan muntah.
Kriteri Hasil :
1. Mengidentifikasi & melakukan kegiatan untuk menurunkan frekwensi & keparahan
mual/muntah.
2. Mengkonsumsi cairan sesuai kebutuhan.
3. Mengidentifikasi tanda & gejala dehidrasi.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Auskultasi DJJ.
Tentukan beratnya mual/muntah.
Tinjau riwayat (gastritis, kolesistiasis).
Anjurkan mempertahankan asupan cairan.
Kaji suhu, turgor kulit, membran mukosa, TD, intake & output, Timbang BB.
Anjurkan asupan minum manis, makan sedikit tapi sering, makan roti kering sebelum
bangun tidur.

3. Perubahan eliminasi urine b/d pembesaran uterus, GFR, sensitifitas VU.


Kriteria Hasil :
1. Mengungkapkan penyebab sering kencing.

2. Mengidentifikasi cara mencegah stasis urinarius.


Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Berikan informasi perubahan berkemih.


Anjurkan menghindari posisi tegak & supine dl waktu lama.
Berikan informasi intake cairan 6-8 gls/hr, penurunan intake 2-3 j pra rest.
Kaji nokturia, anjurkan keagel exercise/
Tekankan higiene toileting, memakai celana dr katun & menjaga vulva tetap kering.
Kolaborasi : Kaji riwayat medis (hipertensi, peny. ginjal & jantung)

4. Pola nafas tidak efektif b/d pergeseran diagfragma sekunder kehamilan.


Kriteria Hasil :
1. Melaporkan keluhan.
2. Mendemonstrasikan fungsi pernapasan.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kaji status pernapasan.


Pantau riwayat medis (alergi, rinitis, asma, TBC).
Kaji kadar HB tekankan pentingnya vit.
Informasikan hubungan program latihan & kesullitan pernafasan.
Anjurkan istirahat & latihan berimbang.
Tinjau tindakan pasien untuk mengurangi keluhan.

5. Ketidaknyamanan b/d perubahan fisik dan pengaruh hormonal.


Kriteria Hasil :
1. Mengidentifikasi tindakan yang melegakan & menghilangkan Ketidak nyamanan.
2. Melaporkan penatalaksanaan ketidak nyamanan.
Intervensi :
1. Catat derajat rasa tidak nyaman minor.
2. Evaluasi derajat rasa tidak nyaman selama pemeriksaan lanjutan.
3. Anjurkan pemakaian korset uterus.
4. Tekankan menghindari stimulasi puting.
5. Instruksikan perawatan puting mendatar.
6. Kaji adanya haemoroid.
7. Instruksikan penggunaan kompres dingin & intake tinggi serat pada haemoroid.
8. Instruksikan posisi dorsofleksi pd kaki & mengurangi keju/susu.
9. Kaji tingkat kelelahan dengan aktifitas dl keluarga.
10. Kolaborasi : suplemen kalsium.
6. Perubahan pola seksualitas b/d perubahan struktur tubuh & ketidaknyaman.

Kriteria Hasil :
1. Mendiskusikan perubahan dl hasrat seksual.
2. Identifikasi langkah mengatasi situasi.
3. Melaporkan adaptasi perubahan & modifikasi situasi selama kehamilan.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.

Tentukan pola aktivitas seksual pasangan.


Kaji dampak kehamilan terhadap kehamilan.
Diskusikan miskonsepsi seksualitas kehamilan.
Anjurkan pilihan posisi koitus selama kehamilan.
Informasikan tindakan yang dpt kontraksi (stimulasi puting susu, orgasme pada wanita,

sperma).
6. Kolaborasi : konseling bila masalah tidak teratasi.
7. Resiko tinggi konstipasi b/d penurunan peristaltik, penekanan uterus.
Kriteria Hasil :
1. Mempertahankan pola fungsi usus normal.
2. Mengidentifikasi perilaku beresiko.
3. Melaporkan tindakan untuk meningkatkan eliminasi.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.

Tentukan kebiasaan eliminasi sebelum hamil & perhatikan perubahan selama hamil.
Kaji adanya haemoroid.
Informasikan diet : buah, sayur, serat & intake cairan adekuat.
Anjurkan latihan ringan.
Kolaborasi : berikan pelunak feces bila diet tak efektif.

BAB II
TINJAUAN KASUS
I.

PENGKAJIAN
Data Demografi
Nama klien

: Ny. R

Umur klien

: 23 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Purworejo

Status perkawinan

: Kawin

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Nama suami

: Tn. D

Umur suami

: 23 tahun

Tanggal periksa

: 25 Maret 2015

Tanggal pengkajian

: 25 Maret 2015

Keluhan Utama Saat Ini


Ibu mengatakan kadang-kadang merasa nyeri pada daerah ulu hati terutama jika untuk
bernafas dalam. Ibu juga mengatakan ingin mengetahui keadaan bayinya.

Riwayat Penyakit Dahulu


Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang berat atau memerlukan perawatan di
rumah sakit baik sebelum maupun selama kehamilan.

Riwayat Penyakit Keluarga


Menurut ibu tidak ada anggota keluarganya maupun suaminya yang menderita penyakit berat
atau menahun seperti darah tinggi, penyakit gula, hepatitis, penyakit jantung, atau penyakit
lainnya.

Riwayat Ginekologi
Ibu mengatakan belum pernah menderita penyakit menular seksual, juga pembedahan yang
berhubungan dengan alat kandungan. Ibu belum pernah melakukan pemeriksaan pap smear,

menurutnya selama ini tidak ada keluhan yang berhubungan dengan kondisi alat
kandungannya yang memerlukan pemeriksaan oleh dokter.
Riwayat Obstetri
Menstruasi
Menarche

: 15 tahun

Siklus menstruasi

: 28 hari lamanya 5 hari

Karakteristik

: Darah encer, merah tua.

G1 P0 A0
HPMT

: 25 Agustus 2014

HPL

: 01 Juni 2015

Usia kehamilan

: 27 minggu.

Keluhan yang muncul selama kehamilan ini


Trimester
I

Keluhan
Tidak ada.
Riwayat perdarahan pada usia kehamilan 2 bulan karena
minum jamu datang bulan, ibu tidak tahu k alau hamil.
Hasil

periksa

di

RS

tidak ada masalah dengan

kehamilannya.
II

Nyeri pada daerah ulu hati ketika untuk nafas dalam.

III

Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu


N

Tahun

Tipe

Lahir

Persalinan

Lama/

Tempat/

Proses

Penolong

Persalinan

Persalinan

BB

Kondisi

Masalah

Komplikasi

Saat Lahir

Nifas &

Selama

Laktasi

Kehamilan

Kebiasaan yang Merugikan


Ibu mengatakan sebelum diketahui hamil biasa membeli obat dan minum jamu di warung.
Ibu bertanya kebiasaan dulu minum jamu tersebut apakah berpengaruh terhadap janinnya.
Kebiasaan lain yang merugikan kesehatan ibu menyatakan tidak melakukannya misalnya
merokok, minum minuman beralkohol, obat-obat terlarang, dan lain-lain.
Imunisasi
Ibu mengatakan selama hamil ini baru periksa sekali ke RS Panti Rapih dan belum pernah
mendapatkan imunisasi Tetanus Toxoid. Ibu juga bertanya mengenai alasan perlunya
imunisasi bagi dirinya.

Kebutuhan Dasar
Nutrisi
Pola makan, frekuensi, jenis, jumlah
Ibu mengatakan pola makan baik tidak ada gangguan, frekuensi makan bisa lebih dari
3 kali sehari dan porsinya lebih banyak dari biasanya. Makanan yang biasa
dikonsumsi terdiri dari nasi, sayur, lauk pauk, kadang buah-buahan, ibu tidak
memiliki kebiasaan ngemil. Ibu pernah mengkonsumsi susu Prenagent tetapi
mengalami konstipasi sehingga dihentikan.
Perubahan pola makan selama hamil
Selama hamil tidak ada perubahan pola makan.
Alergi makanan
Ibu menyatakan tidak ada alergi terhadap makanan tertentu.
Minum jumlah dan jenis
Minum air putih 2 liter perhari, kadang-kadang teh manis.
Keluhan yang berhubungan dengan nutrisi
Keluhan yang berhubungan dengan nutrisi tidak ada.
Eliminasi
Buang air kecil
Ibu mengatakan selama hamil ini frekuensi berkemihnya bertambah menjadi 8-10 kali
per hari, warna air kencing kuning terang jernih, jumlah kadang banyak kadang

sedikit ( 1500-2000 ml/hari), ibu juga menyatakan merasa terganggu dengan


seringnya kencing.
Buang air besar
Frekuensi 1-2 kali sehari, kotoran lunak, jumlah kadang banyak kadang hanya sedikit,
keluhan tidak ada.
Aktifitas dan latihan
Aktifitas selama hamil
Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tidak ada waktu khusus untuk aktifitas
yang menunjang kehamilannya seperti: senam Ibu hamil, jalan-jalan, dll.
Keluhan dalam beraktivitas
Selama hamil tidak ada keluhan yang berarti, terutama dalam melakukan pekerjaan
sehari-hari.
Istirahat dan tidur
Menurut ibu tidur malam 8 jam mulai jam 21.00-05.00 WIB, kalau siang 1-2 jam.
Selama hamil tidak ada masalah dalam istirahat dan tidur.
Seksualitas
Hubungan seksual tetap dilakukan dengan frekuensi 1-2 kali seminggu dengan
pembatasan posisi dan frekuensi, komunikasi dan hubungan dengan suami berjalan
dengan baik, selama hamil ini belum ada masalah yang berarti dengan suaminya.Tidak
ada keluhan dari ibu yang berhubungan dengan masalah seksualitas.
Persepsi dan kognitif
Status mental

: Baik, emosi stabil, kesadaran compos mentis.

Sensasi
1). Pendengaran
2). Berbicara

: Baik, bisa mendengar dengan baik.


: Baik, agak cepat, jelas, dan mudah dimengerti, dengan

bahasa Jawa dan Indonesia.


3). Penciuman

: Baik, tidak ada gangguan dan keluhan.

4). Perabaan

: Baik tidak ada keluhan.

5). Kejang : Selama hamil ini tidak pernah.


6). Nyeri

: Pada daerah ulu hati ketika nafas dalam, nyeri terasa

sengkring-sengkring seperti tertusuk jarum, nyeri sedang skala 4.


Persepsi dan konsep diri
Motivasi terhadap kehamilan
Ibu mengatakan pada awalnya tidak tahu kalau hamil dan tidak dapat menerima kalau
dirinya hamil, tetapi sekarang sudah dapat menerima termasuk suami dan
keluarganya.
Efek kehamilan terhadap body image
Ibu menyatakan tidak ada masalah dengan perubahan bentuk tubuh akibat
kehamilannya ini.
Orang yang paling dekat
Suami dan sudara perempuannya.
Tujuan dari kehamilan
Ibu mengatakan untuk mendapatkan anak atau keturunan karena belum mempunyai
anak.

Keluarga Berencana
Ibu mengatakan selama ini belum pernah menggunakan alat kontrasepsi.

Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda vital
Tekanan darah

:130/70 mmHg

Nadi

: 88 kali/menit

Temperatur

: 36,5 oC

Respirasi rate

: 24 kali/menit.

Status gizi
Berat badan

: 46 Kg

Tinggi badan

: 154 Cm.

Kulit, rambut, dan kuku


Inspeksi kulit: bersih, hiperpigmentasi pada areola dan papilla mammae, papilla
menonjol.
Inspeksi kuku dan rambut: bersih, kuku pendek, rambut hitam, lurus, tidak ada gangguan
pada kuku dan rambut.
Kepala dan leher
Ekspresi tenang, rileks, tidak tampak kelelahan atau lemah, ketika nafas dalam ibu
memegangi perutnya, ekspresi wajah tampak menahan nyeri.
Mata: bersih, fungsi baik, tidak anemis, tidak ikterik, tidak menggunakan alat bantu.
Telinga: Bersih, tidak ada serumen,dapat mendengar dengan baik.
Leher: limfe node anterior dan posterior tidak membesar, kelenjar tiroid dalam batas
normal.
Mulut, tenggorokan dan Hidung :
Inspeksi mulut: mukosa kemerahan lembab, tidak terdapat stomatitis atau radang gusi,
tidak teradapat masalah apda gigi, bersih.
Inspeksi tenggorok: mukosa baik, tidak ada kelainan, faring tidak hiperemis, tonsil tidak
membesar.
Inspeksi hidung: tidak kemerahan, tidak terjadi epistaksis, bersih, fungsi baik, septum
normal.
Thoraks dan paru-paru
Inspeksi: simetris kanan-kiri,

tidak terdapat retraksi dinding dada, tidak tampak

ketinggalan gerak, pernafasan diafragma.


Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa.
Perkusi: resonan pada lapang paru, paru-paru dalam batas normal.
Auskultasi: tidak terdengar suara nafas tambahan.
Payudara
Inspeksi: membesar, puting susu menonjol keluar, hiperpigmentasi pada areola dan
papilla mammae, ASI belum keluar.
Palpasi: lunak, tidak teraba adanya massa, tidak terdapat nyeri tekan.
Jantung

Inspeksi: iktus kordis tidak tampak, jantung tidak membesar, tidak tampak pelebaran
vena jantung.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat pembesaran, iktus kordis teraba dengan
pulsasi baik.
Perkusi: dullnes pada area jantung, batas-batas jantung normal.
Auskultasi: S1 dan S2 murni, tidak teredengar bising jantung.
Abdomen
Inspeksi: tampak striae gravidarum pada tengah abdomen, membesar, bentuk bulat, tidak
tampak pelebaran vena abdomen, umbilikus bersih tidak terdapat discharge.
Palpasi:
Leopold I

: tinggi fundus uteri 20 Cm.


pada daerah fundus uteri teraba kepala, janin belum
turun.

Leopold II

: punggung kiri.
bagian kecil janin teraba di bagian kanan.

Leovold III

: presentasi bokong.

Leopold IV

: kepala janin belum masuk pintu atas panggul.

Auskultasi DJJ

: 131312= 152 kali/menit, kuat, teratur.

Tafsiran berat janin

: TFU-12 Cm x 155 gr
20-12 x 155= 1270 gr.

Genetalia
Tidak dikaji karena tidak ada keluhan.
Anus dan rektum
Tidak dikaji, tidak ada keluhan.
Vaskularisasi perifer
Inspeksi wajah dan ekstremitas: tidak terdapat oedema, tidak ada kelainan.
Perkusi refleks tendo: positif, tidak ada gangguan.
Muskuloskeletal

Lengkap, tidak ada masalah, kekuatan otot normal (5).


Neurologik
Nyeri pada daerah ulu hati terutama jika untuk nafas dalam.

Pemeriksaan Laboratorium atau Hasil Pemeriksaan Diagnostik Lainnya


Tanggal dan Jenis

Hasil Pemeriksaan dan

Pemeriksaan

Nilai Normal

Interpretasi

Terapi Medis yang Diberikan


Tanggal
23-03-

Jenis Terapi
Emineton

2015

Rute Terapi

Dosis

Indikasi Terapi

Oral

3x1 tablet

Suplemen vitamin dan


zat besi

Lainlain
Selama kehamilan ini Ibu baru memeriksakan diri 1 kali di RS Panti Rapih ketika usia
kehamilan 2 bulan dan 1 kali di Poli kebidanan dan Kandungan RSUP Dr.Sardjito, Ibu juga
belum mendapatkan imunisasi TT, Ibu menyatakan akan kontrol secara rutin sampai
melahirkan di rumah sakit ini.

ANALISA DATA

DATA

ETIOLOGI

PROBLEM

DS:

Ibu mengatakan nyeri pada daerah Agen

injuri

ulu hati ketika nafas dalam, nyeri Perubahan

biologis: Nyeri akut.


fisiologis

terasa sengkring-sengkring seperti kehamilan.


tertusuk jarum, nyeri sedang skala
4.
DO:

Ketika nafas dalam ibu memegangi


perutnya.

Ekspresi wajah menahan nyeri.

Tanda-tanda vital: Tekanan darah:


130/70 mmHg, Nadi: 88 kali/menit,
Temperatur: 36,5 oC, Respirasi rate:
24 kali/menit.

DS:

Ibu

mengatakan

selama

hamil Situasi krisis

merasa cenas dan takut

Ibu mengatakan cemas dengan


keadaan bayinya
DO

Wajah ibu tampak tegang

Ibu selalu gelisah

Cemas

Tampak takut

DS:

Ibu bertanya mengenai keadaan Kurangnya informasi.

Kurang

janinnya, kebiasaan dulu minum

pengetahuan:

jamu apakah berpengaruh terhadap

Perawatan

janinnya, alasan perlunya imunisasi

kehamilan.

bagi dirinya.
DO:

Ibu G1 P0 A0 dengan usia kehamilan


27 minggu.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan prioritas diagnosa keperawatan yang muncul adalah:


1. Nyeri akut berhubungan dengan Agen injuri biologis: Perubahan fisiologis kehamilan.
2. Cemas b.d. Situasi krisis.

3. Kurang pengetahuan: Perawatan kehamilan berhubungan dengan Kurangnya informasi.

INTERVENSI
No

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Keperawata
n
1.

Cemas

b.d.

Situasi krisis.

Setelah

dilakukan

tindakan Kaji
Klien

kecemasan

dan respon fisiknya.

keperawatan selama 3x24 jam


diharapkan

tingkat

Gunakan

kehadiran,

menunjukkan

kontrol

kecemasan

sentuhan

dengan

Dapat mengidentifikasi,
dan

mendemonstrasikan
teknik

menurunkan

kecemasan.
Menunjukkan

postur,

ekspresi

wajah,

perilaku,

tingkat

aktivitas

yang

menggambarkan
kecemasan menurun.

untuk

mengingatkan klien tidak

verbalisasi,

ijin),

verbalisasi

kriteria:

(dengan

sendiri.

Terima

pasien

dan

keluarganya apa adanya.

Gali reaksi personal dan


ekspresi cemas.

Bantu

mengidentifikasi

penyebab.

Gunakan

empati

untuk

mendukung orang tua.

Jelaskan

aktivitas,

prosedur.

mampu mengidentifikasi
dan

verbalisasi

penyebab cemas.

2.

Nyeri akut b.d

Nyeri klien berkurang/hilang a. Kaji skala nyeri klien.

perubahan

dengan kriteria:

fisiologis pada

1. Klien

kehamilan

b. Beri penjelasan pada klien

paham

bahwa

nyerinya fisiologis.
2. Klien dapat beradaptasi
dengan nyerinya.
3. Klien

melaporkan

nyerinya berkurang.
4. Skala nyeri 0-1.

tentang fisiologis nyeri.


c. Ajarkan

klien

tehnik

relaksasi nafas dalam.


d. Anjurkan

klien

beristirahat

untuk

bila

nyeri

datang.
e. Ajarkan

klien

untuk

mencatat frekuensi, lama,


dan intensitas nyeri.
f. Anjurkan
segera
tempat

klien

untuk

mendatangi
pertolongan

bila

sudah ada tanda2 akan

3.

tindakan

melahirkan.
Kaji tingkat pengetahuan

Kurang

Setelah

pengetahuan

keperawatan selama 3x24 jam

tentang

diharapkan Pengetahuan klien Beri

kehamilan

bertambah dengan kriteria:

perubahan-perubahan

fisik

dan

proses

persalinan b.d

dilakukan

Klien

mengatakan

paham

Kurangnya

yang
dapat

Klien
perubahan
Klien

dapat

menyebutkan

dapat

memutuskan

pada

informasi

tentang

Beri

informasi

memilih

tentang
pelayanan

yang

dapat

dikunjungi

untuk

mendapat

pertolongan

dalam persalinan.

tanda-

tanda persalinan.
Klien

Beri

kesehatan

pada

kehamilan.

normal

tempat

menyebutkan

tentang

tanda-tanda persalinan.

diberikan.

informasi

kehamilan.

dengan

penjelasan

informasi.

klien.

Beri

informasi

tentang

persiapan

akan

melahirkan.

tempat melahirkan.

IMPLEMENTASI

Tgl

o
1.

Diagnosa
Keperawatan

23-3-

Nyeri

2015

berhubungan

akut

dengan Agen injuri


biologis: Perubahan
fisiologis
kehamilan.

Evaluasi

Implementasi
S:
Ibu

menyatakan

nyeri

masih terasa jika untuk


nafas

dalam,

tapi

jika

melakukan hal-hal yang

telah

diajarkan

nyeri

sedikit berkurang.
Ibu

menyatakan

nyeri

berkurang sedikit skala 3


(ringan).

O:
Ketika
dalam

menarik
masih

menahan

nafas
tampak

nyeri

dan

memegangi perutnya.
Ibu mampu melakukan halhal yang diajarkan.
Aktif dalam diskusi dan
demonstrasi.

A:
Tujuan berhasil sebagian.

P:

Anjurkan

ibu

untuk

melakukan teknik yang

2.

23-32015

S:
Ibu

mengatakan

paham

tentang perubahan yang

terjadi pada dirinya.


Ibu

menyatakan

melakukan

cara

akan
yang

disarankan.

O:
Tidak terdapat tanda-tanda
ISK.
Mendengarkan penjelasan
dengan penuh perhatian.
Tidak

pergi

ke

toilet

selama pemeriksaan.

A:
Tujuan berhasil.

P:

Observasi

pada

saat

kunjungan ulang mengenai


masalah ini.

3.

23-3-

Kurang

2015

pengetahuan:

S:

Perawatan
kehamilan
berhubungan
dengan

Kurangnya

informasi.

Ibu

mengatakan

paham

tentang perubahan yang


terjadi pada dirinya, dan
perlunya imunisasi.
Ibu menyatakan tidak akan

minum jamu atau obat


tanpa perintah dari dokter,
dan akan memeriksakan
kehamilannya

secara

teratur di Sardjito.
Ibu mengatakan selama ini
tidak ada masalah dalam
hal makan dan menu yang
dimakan sudah cukup baik.

O:
Aktif dalam diskusi.
Mampu mengulangi halhal

yang

diidiskusikan

telah
dan

diajarkan.

A: masalah teratasi
P:

Kaji ulang hal-hal yang


telah

dijelaskan

kunjungan ulang.

pada