Você está na página 1de 3

AKUNTANSI ATAS MATA UANG ASING

PENYAJIAN DALAM LAPORAN KEUANGAN


Pengaruh dari fluktuasi valuta asing di bursa umum di sajikan pada 2 aspek
penyajian :
1. Translation Foreign Exchange Financial Statement
Pada aspek dimaksud sebagai pejabaran laporan keuangan yang disusun
dalam mata uang atau valuta asing seperti diatur dalam PSAK No.12 reformat
2007. Penjabaran ini digunakan untuk perubahan multi nasional yang cabang
anak perusahaannya berada di Negara lain. Awalnya digunakan untuk
kepetingan laporan konsolidasi didalam negri yang memiliki anak/cbangcabang diluar negeri
2. Foreign Exchange Transaction
Aspek ini sebagai penjabaran yang disebabkan adanya transaksi perusahaan
yag berhubungan dengan valuta asing. Peraturan ini berada pada PSAK No.10
reformat 2007
Beberapa jenis transaksi mata uang asing dengan memperhatikan sumber
terjadinya yang meliputi:
1. Hutang Dagang
Timbul sebagai akibat kredit impor, baik untuk barang dagang maupun
pembelian barang modal.
2. Hutang Jasa
Timbul sebagai akibat struktur permodalan perusahaan yang sebagian
dibiayai dengan pinjaman luar negeri dalam valuta asing baik pinjaman
jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Hutang Bunga Pinjaman
Timbul sebagai akibat pinjaman valuta asing.
4. Piutang
Timbul sebagai akibat adanya ekspor ataupun piutang permodalan.
5. Deviden dalam bentuk valuta asing dan adanya kas, tabungan, deposito
atau secara kas dalam valuta asing.
6. Kontrak Berjangka Dalam Valas
Untuk kontrak berjangka ini antara lain dalam betuk SWAP, Future dan
lindung nilai (Hedge) atas utang piutang valas.
Dari transaksi-transaksi di atas, permasalahan yang pokok, yaitu pos
manakah dalam laporan keuangan dari valas yang harus di jabarkan dalam rupiah?,
dan bagaimanakah perlakuan pencatatan selisih kurs dalam laporan keuangan?,
serta kurs manakah yang di gunakan dalam penjabaran valas ke dalam rupiah,
karena kurs tersebut dapat menggunakan kurs Bank Indonesia, kurs tanggal neraca
(spote rate), dan kurs yang di tetapkan oleh Mentri Keuangan

dalam teori akuntansi ataupun praktik akuntansi terdapat pengelompokan


pos-pos yang harus dijabarkan dalam mata uang asing, yaitu :
1. Pendekatan moneter/nonmoneter
Pos-pos moeter telah dinyatakan dalam mata uang pada akhir periode
berjalan dan terjadi perubahan nilai valuta asing. Seperti PSAK No 10
paragraf 5 memberikan batasan pos moneter adalah kas dan setara kas,
aset dan kewajiban yang akan diterima atau di bayar dimana jumlahnya
pasti akan ditentukan pada pendekatan moneter ini terdapat aset
moneter dan kewajiban moneter
2. Pendekatan lancar atau tidak lancar
Pada pendekatan pos-pos lancar dijabarkan dengan kurs berjalan, untuk
pos-pos tidak lancar di laporkan sesuai kurs historisnya
3. Pendekatan temporal
Pendekatan ini kas dan bank, piutang dan utang lancar dan utang jangka
panjang disajikan dengan menggunakan kurs berjalan, sedangkan lainnya
disajikan sesuai dengan kurs histories.
4. Pendekatan mata uang fungsional
Merupakan penjabaran mata uang asing dengan mata uang yang berlaku
pada suatu negara sebagai contoh rupiah dan dollar Amerika Serikat

AKUNTANSI KERUGIAN SELISIH KURS MATA UANG ASING


Perlaku akibat kerugian selisih kurs ini terdapat beberapa teori yang umum di
gunakan yaitu :
1. Pembebanan langsung dalam perhitungan laba atau rugi pada periode
terjadinya perubahan.
Pembebanan langsung ini menganui teori prespektif dua transaksi.
contoh : oembelian mesin secara kredit akan menombulkan dua pencatatan.
Anatar utang dan mesin di anggap terpisah
kelemahan dari perlakuan akuntansi dengan perspektif dua transaksi
antara lain :
a. Pendekatan ini mengabaikan segi keuntungan/kenaikan harga dari aset
nonmoneter yang pembeliannya menimbulkan utang dan dibayar
berdasarkan nilai kurs saat pembayaran
b. Pembebanan kerugian yang besar akan mengakibatkan terdistorinya
laporan laba rugi
2. Penanggulan dan amortisasi selama periode berikut sesuai realisasi
Pada pendekatan ini kerugian akibat seluruh yang dimasukkan dalam
akun selisih kurs yang di tangguhkan.

Kelemahan perlakuan akuntansi dengan penangguhan yaitu :


a. Apabila terjadi penurunan nilai kurs terus menerus dan lebih cepat dari
yang diramalkan, berarti kerugian telah terealisasi dan kurang bermanfaat
dalam penentuan laba rugi
b. Selisih kurs yang ditangguhkan sebenernya tidak mempunyai nilai
realisasi, sehingga aset laporan terlalu tinggi dari nilai realisasi
sesungguhnya.
3. Di kapitalisasi dengan harga yang bersangkutan
Teori ini mendasari pada perspektif satu transksi yaitu dengan
mengganggap bahwa kerugian yaitu bagian dari aset yang menimbulkan
kerugian dan pembelian atau penjualan, selisih kurs tersebut yaitu bagian
dari harga perolehan aset yang bersangkutan.