Você está na página 1de 8

2.

Definisi
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan
hidup (Cunningham, 2006).
Abortus adalah berakirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar
kandungan (Saifuddin).
Keguguran atau abortus adalah terhentinya proses kehamilan yang sedang berlangsung
sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin sekitar 500 gram (Manuaba, 2007).
Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan
secara paksa sebelum janin mampu bertahan hidup jika dilahirkan (Varney, 2007).

2.2 Jenis Abortus


1. Abortus spontan
Adalah terminasi kehamilan sebelum periode viabilitas janin atau sebelum gestasi minggu ke 20
atau berat badan 500 gram (Walsh, 2008; Varney, 2007).
Abortus spontan dibagi menjadi:
a. Abortus Imminens
1) Terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan.
Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan (Saifuddin,
2006; Wals, 2008).
2) Ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana
hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi servik (Wiknjosastro, 2008).

b. Abortus Insipiens
1) Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada
dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan
berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit (Saifuddin, 2006).
2) Ialah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi
servik uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Aborsi ini terjadi ketika
ada pembukaan servik dan atau pecah ketuban di sertai perdarahan dan nyeri pada abdomen
bagian bawah atau pada punggung (Wiknjosastro, 2008; Varney, 2007).
c. Abortus Inkomplit
1) Perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri melalui kanalis servikalis (Saifuddin, 2006).
2) Ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada
sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika plasenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat
terjadi aborsi (Wiknjosastro, 2008; Varney, 2007).
d. Abortus Komplit

Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum
uteri (Saifuddin, 2006).
2. Abortus Infeksiosa
Adalah abortus yang diserta komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin
kedalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septikemia, sepsis atau peritonitis.
Atau disebut juga abortus yang disertai infeksi pada genetalia sedang (Saifuddin, 2006;
Wiknjosastro, 2008).
3. Missed Abortion (Retensi Janin Mati)
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati
hingga 8 minggu atau lebih. Kematian janin berusia 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak
dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih (Saifuddin, 2006; Wiknjosastro, 2008).
4. Abortus Habitualis
Ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-urut. (Wiknjosastro, 2008;
Wiknjosastro, 2005; Walsh, 2008; Manuaba, 2007).
2.3
1.

a.
b.
c.
2.

3.

4.

Etiologi
Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut:
Kelainan hasil pertumbuhan konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat.
Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor yang
menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut:
Kelainan kromosom
Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan
pula kelainan kromosom seks
Lingkungan kurang sempurna
Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga
pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi tergangganggu.
Pengaruh dari luar
Radiasi, virus, obat dan sebaginya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan
hidupnya dalan uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen
Kelainan pada plasenta
Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenasi plasenta
tergganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini
bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun
Penyakit ibu
Penyakit mendadak, seperti pnemonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lainlain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus ata plasmodium dapat melalui plasenta
masuk kejanin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia
berat, keracunan, laparatomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun sperti gruselosis,
mononukleosis infeksiosa, toksoplamosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih
jarang.
Kelainan traktus genetalia
Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi,
harus dingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang
memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trismerster kedua ialah servik inkompeten

yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada servik, diltasi servik berlebihan, konisasi,
amputasi, atau robekan servik luas yang tidak dijahit. (Wiknjosastro, 2008; Walsh, 2008; Varney,
2007).
2.4

Patologi
Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh
nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau
seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi
itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi korealis menembus desidua lebih
dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak
perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban
pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika
plasenta segera terlepas dengan lepas. Peristiwa aborsi ini menyerupai persalinan dalam bentuk
miniatur
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong
amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum);
mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion).
Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi
oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa
apabila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi, sehingga semuanya
tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberosa; dalam hal ini amnion tampak
berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi:
janin mengering dan karena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap, ia menjadi agak
gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen
(fetus papi raseus).
Kemungkinan lain pada janin-mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadinya maserasi:
kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar kerena terisi cairan, dan janin
berwarna kemerah-merahan. (Wiknjosastro, 2008).
2.5

Diagnosis
Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula rasa mules.
Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan
bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologik bilamana hal itu dikerjakan
harus diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan servik dan adanya jaringan
dalam kavum uteri atau vagina.
1. Abortus Spontan
a. Abortus imminens
Diagnosis abortus imminens ditentukan karena pada wanita hamil terjadi perdarahan melalui
ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, terus membesar sebesar
tuanya kehamilan, servik belum membuka, dan tes kehamilan positif. Abortus imminens dapat
disertai nyeri akibat kram tetapi bisa juga tidak.

b. Abortus insipiens
Rasa mules sering dan kuat, perdarahan bertambah. Pada trimester pertama kehamilan, tidak
ditemukan perdarahan atau nyeri berlebihan, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak
mengalami distres emosional yang berat, dan kadar hertokrit mencapai 30%.
c. Abortus inkomplit
Pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri
atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan mulai sebagai
bercak dan berlanjut menjadi perdarahan hebat, atau dapat mulai sebagai perdarahan hebat. Kram
biasanya ada, dan ibu melihat keluarnya jaringan. Ibu melihat pecah ketuban nyata bila usia
gestasi adalah 12 minggu atau lebih.
d. Abortus komplit
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah
banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat
dinyatakan bahwa semua sudah keluar dengan lengkap.
2. Abortus Infeksiosa
Ditemukannya servik membesar dan diatas ostium uteri eksternum teraba jaringan.
3. Missed Abortion (Retensi Janin Mati)
Dahulu diagnosis biasanya tidak dapat ditentukan dalam satu kali pemeriksaan melainkan
memerlukan waktu pengamatan untuk menilai tanda-tanda tidak tumbuhnya malahan
mengecilnya uterus. Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus imminens
yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Bercak mungkin ada,
kurang pertumbuhan uteri dalam pemeriksaan, tidak ada gerakan jantung janin, terlihat pada
ultrasuara atau ada jaringan janin tanpa tanda viabilitas.
4. Abortus Habitualis
Diagnosis abortus habitualis tidak sukar ditentukan dengan anamnesis. Khususnya diagnosis
abortus habitualis karena inkompetensia menunjukkan gambaran klinik yang khas, yaitu dalam
kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan servik tanpa disertai mules, ketuban menonjol dan
pada suatu saat pecah. Kemudian timbul mules yang selanjutnya diikuti oleh pengeluaran janin
yang biasanya masih hidup normal. (Wiknjosastro, 2008; Varney; walsh, 2008).
2.6 Penanganan
1. PenilaianAwal
Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian dari :
a. Keadaan umum pasien
b. Tandatanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik <90 mmHg, nadi > 112
x/menit)
c. Bila syok disertai dengan masa lunak di adneksa, nyeri perut bawah, adanya cairan bebas dalam
kavum pelvis (kemungkinan kehamilan ektopik yang terganggu)
d. Tandatanda infeksi atau sepsis (demam tinggi, secret berbau vaginam, nyeri perut bawah,
dinding perut tegang, nyeri goyang porsio, dehidrasi, gelisah atau pingsan).
e. Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat di tatalaksana fasilitas kesehatan setempat
atau di rujuk (setelah dilakukan stabilisasi)
2. Penanganan Spesifik
a. Abortus imminens

1) Tidak diperlukan pengobatan medis yang khusus atau tirah baring secara total. Tirah baring
merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran
darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
2) Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau melakukan
hubungan seksual.
3) Bila perdarahan :
a) Berhenti : lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi .
b) Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG). Lakukan konfirmasi
kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).
c) Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantuan hanya dilakukan melalui gejala
klinik dan hasil pemeriksaan gynekologi
b. Abortus insipiens
1) lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi
2) Bila usia gestasi 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan peralatan Aspirasi Vakum Manual
(AVM) setelah bagian-bagian janin dikeluarkan.
3) Bila usia gestasi 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan prosedur Dilatasi dan Kuretase (D &
K).
4) Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi lebih besar dari 16
minggu, lakuakn tindakan pendahuluan dengan :
a) Infuse Oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL, mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat
dinaikkan 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil
konsepsi.
b) Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian.
c) Misoprostol 400 mg per oral dan apabila masih diperlukan, dapat di ulangi dengan dosis yang
sama setelah 4 jam dari dosis awal.
5) Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan AVM atau D & K (hati
hati resiko perforasi).
c. Abortus Inkomplit
1) Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat,
syok, infeksi/sepsis).
2) Hasil konsepsi yang terperangkap pada servik yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang,
dapat dikeluarkan secara digital atau vunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan :
a) Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg per oral.
b) Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan
tergantung dari usia gestasi, pembukaan servik dan keberadaan bagian-bagian janin)
3) Bila tak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisilin 500 mg oral atau
doksisiklin 100 mg)
4) Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 gram dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam.
5) Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi
dengan AVM.
6) Bila pasien tampak anemi, berikan sulfasferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia
sedang) atau transfusi darah (anemia berat).
Pada beberapa kasus, abortus inkomplit erat kaitannya dengan abortus tidak aman, oleh sebab itu
perhatikan hal-hal berikut ini :

1) Pastikan tidak ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus atau cidera intra abdomen
(mual/muntah, nyeri punggung, demam, perut kembung, nyeri perut bawah, dinding perut
tegang).
2) Bersihkan ramuan tradisional, jamu, bahan kaustik, kayu atau benda-benda lainnya dari regio
genetalia.Berikan boster tetanus toksoid 0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau
kanalis servisis dan pasien pernah di imunisasi.
3) Bila riwayat imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus (ATS) 1500 Unit IM diikuti dengan
pemberian tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu.
4) Konseling untuk kontrasepsi pasca keguguran dan pemantuan lanjut
d. Abortus komplit
1) Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet Ergometrin 3x1 tablet perhari untuk 3 hari.
2) Pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet Sulfas Ferosus 600 mg per hari selama 2
minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan,
daging, telur). Untuk anemia berat, berikan tranfusi darah.
3) Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika, atau bila kawatir akan
infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis
e. Abortus infeksiosa
1) Kasus ini tinggi untuk terjadi sepsis, apabila fasilitas kesehatan setempat tidak mempunyai
fasilitas yang memadai, rujuk pasien kerumash sakit.
2) Sebelum merujuk pasien, lakukan retorasi cairan dengan NS atau RL melalui infus dan berikan
anti biotika (misalnya ampisilin 1 g dan metronidazol 500 mg).
3) Jika ada riwayat abortus tidak aman, beri ATS dan TT.
4) Pada fasilitas kesehatan yang lengkap dengan perlindungan antibiotika berspektrum luas dan
upaya stabilisasi hingga kondisi pasien memadai, dapat dilakukan pengosongan uterus sesegera
mungkin.
Tabel 2.1 Kombinasi antibiotika untuk abortus infeksiosa
Kombinasi antibiotika
Dosis Oral
Ampisilin
dan 3 x 1 g oral dan 3 x
Metronidazol
500 mg
Tertasiklin
Klindanisin

dan

4 x 500 mg dan
2 x 300 mg

Trinethoprim
Sulfamethoksazol

dan

160 mg dan
800 mg

Tabel 2.2 Antibiotika parenteral untuk abortus infeksiosa


Antibiotika
Cara pemberian
Sulbenisilin
IV
Gentamisilin
Metronidazol
Seftriaksone
IV
Amoksilklin
+
IV
Klavulanik Acid
Klindamisin

Catatan
Berspektrum luas dan
mencakup
untuk
gonorrhea dan bakteri
an aerob
Baik untuk klamidia,
gonorrhea
dan
bakteriodes fragilis
Spectrum cukup luas
dan harganya relative
murah

Dosis
3x1g
2 x 80 mg
2x1g
1x1g
3 x 500 mg
3 x 600 mg

f. Missed Abortion
Missed abortion seharusnya seharusnya ditangani di rumah sakit atas pertimbangan :
1) Plasenta dapat melekat sangat erat didinding rahim, sehingga prosedur evakuasi kuretase akan
lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi.
2) Pada umumnya kanalis servisis dalam keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi dengan
batang laminaria selama 12 jam .
3) Tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut dengan gangguan pembekuan
darah.
4) Apabila diputuskan untuk mengeluarkan hasil konsepsi itu, pada uterus yang besarnya tidak
melebihi 12 minggu sebaiknya dilakukan pembukan serviks uteri dengan memasukkan laminaria
selama 12 jam dalam kanalis servikalis, yang kemudian dapat diperbesar dengan busi Hegar
sampai cunam ovum atau jari dapat masuk ke dalam kavum uteri. Jika kehamilan lebih dari 12
minggu, maka pengeluaran hasil konsepsi dapat dilakukan dengan infus intravena oksitosin.
Dosis oksitosin dapat dimulai dengan 20 tetes/menit dari cairan 500 ml glukosa 5% dengan 10 iu
oksitosin.
(Saifuddin, 2006; Wiknyosastro, 2008; Cunningham, 2006).
2.7
1.

2.

3.

4.

Komplikasi
Komplikasi yanag berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi dan syok
Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jka perlu
pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak
diberikan pada waktunya.
Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi.
Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu
segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka
perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam
menimbulkan persoalaan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi
perlukaan kandung kemih atau usus. Degan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi,
laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera, untuk selanjutnya
mengambil tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.
Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan
pada abortus inkomletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa
memperhatikan asepsis. Umumnya pada abortus infeksius infeksi terbatas pada desidua.
Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat
(syok endoseptik).
(Wiknjosastro, 2008)

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, Gary, F. dkk. 2006. Obstetri Williams Vol. 2. Jakarta: EGC, 951-964.
Manuaba, dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC, 697-683.
Saifuddin, Abdul Bahri. 2008. Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 145-148.