Você está na página 1de 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN STROKE

A. DEFINISI
Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah di bagian
otak. ( Brunner & Suddart,2002.
Menurut WHO, 1989, Stroke adalah defisit neurologisakut yang di sebabkan oleh gangguan aliran
darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai daerah fokal otak yang terkena.
B. ETIOLOGI
Penyebab-penyebabnya antara lain:
a. Trombosit : bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak.
b. Embolisme cerebral :bekuan darah atau material lain.
c. Iskemia : penurunan aliran darak ke area otak.
C. FAKTOR RESIKO
Ada beberapa factor resiko stroke, yaitu :
1. Factor yang tidak dapat dirubah / Non Reversible
Jenis kelamin
: pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita
Usia
: makin tinggi usia makin tinggi pula resiko terkena stroke pada
usia lanjut terjadi proses klasifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak
Keturunan
: adanya riwayat keluarga yang terkena stroke
2. Factor yang dapat dirubah / Reversible
Hipertensi
Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus
sehingga dapat mengganggu aliran darah celebral
Penyakit jantung / kelainan jantung
Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kacdiak autput dan menurunkan aliran
darah ke otak. Disamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada
kelainan jantung dan pembuluh darah
Kolesterol tinggi
Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya
embolus dari lemak
Obesitas
Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolestrol sehingga dapat
mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh darah otak
Diabetes mellitus (DM)
Penderita DM berpotensi mengalami stroke, yaitu terjadinya peningkatan viskositas
darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan
microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada
pembuluh darah selebral
Policitemia
Pada policitemia, viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat
sehingga perfusi otak menurun
1

3. Kebiasaan hidup
Perokok
Pada perokok akan timbul plague pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi
aterosklerosis
Peminum alcohol
Kurang aktifitas fisik
Kurang aktifitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan
pembuluh darah (pembuluh darah kaku) salah satunya pembuluh darah otak

D. KLASIFIKASI STROKE
Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya, stroke diklasifikasikan menjadi :
1. Stroke Hemoragik
Terjadi pendarahan cerebral dan mungkin juga pendarahan subarachnoid yang disebabkan
pecahnya pembuluh darah otak umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas, namun juga
dapatbterjadi pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling
banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol.
2. Stroke Non Hemoragik
Stroke Non Hemoragik terjadi bila aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis
(penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah
menyumbat suatu pembuluh darah ke otak.
Umumnya berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak.
Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau bangun tidur. Tidak terjadi pendarahan,
kesadaran umumnya baik dan terjadi proses oedem otak oleh karena hypoksia jaringan otak.
Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.

E. MANIFESTASI KLINIK
Gejala - gejala muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya
aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul bervariasi, tergantung bagian otak yang
terganggu.
1. TIA (Transient Ischemic Attack)
Gangguan neurologis sesaat, beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan
atau tanpa pengobatan dalam waktu kurang dari 24 jam.
2. RIND (Reversible Ischemic Neurologic Defisit)
Gangguan neurologis setempat, gejala timbul lebih dari 24 jam dan akan hilang dalam waktu 1
minggu.
3. Stroke In Volution
Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat
dan bertambah buruk.
4. Stroke Komplit
Gangguan neurologis yang timbul bersifat menetap atau permanent.

1.

2.

3.
4.

5.

6.

Selain itu gejala yang timbul pada stroke non hemoragik tergantung pada bagian otak yang
terganggu, misalnya :
Defisit Neurologis
a. Homonimus hemianopsia : kehilangan setengah lapang penglihatan.
Tidak menyadari orang / obyek ditempat kehilangan penglihatan, mengabaikan sisi
tubuh, kesulitan menilai jarak.
b. Kehilangan penglihatan perifer : sulit melihat pada malam hari dan tidak menyadari obyek atau
batas obyek.
c. Diplopia : penglihatan ganda.
Defisit Motorik
a. Hemiparesis : kelemahan pada separuh bagian tubuh.
Kelemahan jiwa, lengan dan kaki pada sisi yang sama.
b. Hemiplegia : kelumpuhan pada separuh bagian tubuh.
Pavalisis wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama.
c. Ataksia : berjalan tidak mantap / tegak.
Tidak mampu menyatukan kaki, perlu dasar berdiri yang luas.
d. Disatria : kesulitan membentuk kata.
e. Disfagia : kesulitan dalam menelan.
Defisit Sensori
Parestesia : kebas dan kesemutan pada bagian tubuh.
Defisit Verbal
a. Afasia ekspresif : tidak mampu membentuk kata yangdapat dipahami
b. Afasia reseptif : tidak mampu memahami kata yanmg diucapkan
c. Afasi global : kombinasi afasia ekspresif dan reseptif
Defisit Kognitif
a. Kehilangan memori jangka pendek dan panjang
b. Penurunan lapang perhatian
c. Kerusakan kemampuan untuk berkosentrasi
d. Perubahan penilaian
Defisit Emosional
a. Kehilangan control diri
b. Labilitas emosional
c. Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stress
d. Depresi
e. Menarik diri
f. Rasa takut, bermusuhan dan marah

F. PATOFISIOLOGI
1. Stroke Non Hemoragik
Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus.
Thrombus umumnya terjadi oleh karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding
pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi
berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark
pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral
melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba 3

tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologis fokal. Pendarahan otak dapat
disebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
2. Stroke Hemoragik
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke subtansi atau ruangan
subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang tidak dapat di
kompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan
herniasi otak sehingga timbul kematian. Disamping itu, darah yang mengalir ke subtansi otak
atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak atau
penekanan padadaerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada,
sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang diagnostic yang dapat dilakukan, adalah :
1. Laboratorium : mengarah pada pemeriksaan darah lengkapi elektrolit, kolesteroldan bila perlu
AGD, gula darah dan sebagainya.
2. CT scan : memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infark.
3. Angiografi : mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang
teganggu.
4. Pungsi Lumbal : menunjukkan adanya tekanan normal. Tekana meningkat pada cairan yang
mengandung darah menunjukkan adanya pendarahan.
5. MRI : mengetahui adanya edema, infark, hematoma dan bergesernya struktur otak.
H. PENATALAKSANAAN
Secara umum penatalaksanaan pada pasien stroke, adalah :
1. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh dimulai
mobilisasi bertahap jika hemodinamik baik.
2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu diberikan oksigen
sesuai kebutuhan
3. Tanda- tanda vital diusahakan stabil
4. Bed rest
5. Koreksi adanya hiperglikemia dan hypoglikemia
6. Perthankan keseimbangan cairan dan elektrolit
7. Kandun kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu dilakukan kateterisasi
8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa
atau cairan hipotonik
9. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi atau suction berlebih yang dapat meningkatkan
TIK
10. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran menurunatau ada
gangguan menelan sebaiknya dipasang NET

I.

ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengkajian Primer
1. Airway
4

Adanya sumbatan / obstruksi jalan nafas oleh adanya penumpukan skret akibat
kelemahan reflek batuk
2. Breathing
Kelemahan menelan / batuk / melindungi jalan nafas, timbulnya pernafasan yang sulit
dan atau tidak teratur, suara nafas terdengar ronchi / aspirasi
3. Circulation
Tekanan darah dapat normal atau meningkat, hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
tokikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membrane mucosa
pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
b. Pengkajian Sekunder
1. Pemeriksaan head to toe
2. Pemeriksaan saraf cranial
3. Kaji riwayat kesehatan
a. Kaji riwayat penyakit dahulu
b. Kaji riwayat penyakit sekarang
c. Kaji riwayat penyakit keluarga
4. Kaji riwayat psikososial
5. Pengkajian nyeri
6. Pemeriksaan diagnostic
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan,
spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
Ditandai oleh :
1. Perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori.
2. Perubahan respon sensorik/motorik, kegelisahan.
3. Defisit sensori, bahasa dan emosional.
4. Perubahan tanda-tanda vital.

Tujuan / kriteria hasil :


1. Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran.
2. Menampakkan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK.
Intervensi :
1. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi
koma/penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK.
2. Monitor dan catat status neurologis.
3. Monitor tanda-tanda vital.
4. Evaluasi pupil ( ukuran dan reflek ).
5. Pertahankan tirah baring, sediakan lingkungan yang tenang.

individu/penyebab

Kolaborasi
Berikan oksigen sesuai indikasi

a. Ketidakmampuan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuskuler, ketidak mampuan persepsi


kognitif.
Ditandai oleh :
Ketidakmampuan bergerak
pada lingkungan fisik : kelemahan, koordinasi,
keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kekuatan otot .
Tujuan /kriteria hasil :
1. Tidak ada kontraktur.
2. Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh.
3. Menampakkan kemampuan perilaku/teknis aktifitas sebagaimana permulaannya.
4. Terpeliharanya integritas kulit.
Intervensi :
1. Alih baring tiap dua jam.
2. Mulai latihan aktif/pasif rentang gerak sendi pada semua extremitas.
3. Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi.
4. Bantu meningkatkan keseimbangan duduk.
5. Awasi bagian kulit di atas tonjolan tulang.
Kolaborasi :
1. Konsul bagian fisioterapi.
2. Gunakan bed khusus sesuai indikasi.
b. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan neuromuskular,
kehilangan tonus otot fasial/kelemahan umum/letih.
Ditandai oleh :
1. Tidak mampu berbicara /disartria.
2. Ketidakmampuan modula wicara, mengenal kata, mengidentifikasi obyek.
3. Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif.
Tujuan/kriteria hasil :
1. Pasien mampu memahami problem komunikasi.
2. Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi.
3. Menggunakan sumber bantuan dengan tepat.
Intervensi :
1. Bantu menentukan derajat disfungsi.
2. Bedakan antara afasia dengan disartria.
3. Sediakan bel khusus jika diperlukan.
4. Sediakan metode komunikasi alternatif.
5. Antisipasi dan sediakan kebutuhan klien.
6. Bicara langsung kepada klien dengan perlahan dan jelas.
Kolaborasi :
Konsul dengan ahli terapi wicara
c. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan,
kehilangan kontrol/koordinasi otot.
6

Ditandai oleh :
Ketidakmampuan makan, mandi, memakai/melepas pakaian, kesulitan tugas toileting.
Tujuan/kriteria hasil :
1. Melakukan aktifitas perawatan dini dalam tingkat kemampuan diri .
2. Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai
kebutuhan.
Intervensi :
1. Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan sendiri, tetapi berikan
bantuan sesuai kebutuhan.
3. Berikan unpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.
4. Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal
tersebut. Kadar makanan yang berserat, anjurkan untuk minum banyak.
Kolaborasi :
1. Berikan supositoria dan pelunak faeces.
2. Konsultasi dengan ahli fisioterapi/okupasi.