Você está na página 1de 2

Pulau Nias, Sumatera Barat

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias, Sumatera Utara. Dalam bahasa aslinya, orang Nias
menamakan diri mereka Ono Niha (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai Tan Niha
(Tan = tanah). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi.
Hukum adat Nias secara umum disebut fondrak yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai
kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik, ini dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa
ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.
Di Nias Selatan masih banyak terdapat desa-desa adat. Yang menonjol dari desa-desa adat ini adalah penataan
arsitekurnya, baik landskap maupun bangunannya. Dulunya setiap desa di pimpin oleh seorang raja. Desa-desa ini
terletak di daerah yang sulit dijangkau seperti di perbukitan terjal atau lembah-lembah yang ada di baliknya.
Tujuannya adalah untuk membentengi diri dari serangan desa lain. Pada masa lalu perang antar desa kerap kali
terjadi.

Omo Sebua
Penyerbuan sebuah desa oleh desa yang lainnya kerap terjadi. Biasanya disertai dengan penculikan penduduk yang
nantinya akan dijadikan budak. Maka struktur masyarakat Nias masa lalu terdiri dari kelas raja, cendikia dan
bangsawan, rakyat biasa dan budak. Dan pola pemukiman pun terbentuk dari struktur masyarakat ini. Di mana
rumah tinggal raja yang disebut ,Omo Sebua, yang artinya rumah besar terletak di poros pola jalan yang berbentuk
tegak lurus, tepat di tusuk satenya. Rumah raja, Omo Sebua, diapit oleh rumah-rumah adat yang lebih kecil
lainnya yang disebut Omo Hada. Rumah-rumah adat atau Omo Hada ini kuat menahan gempa, pada gempa lalu
banyak menyelamatkan nyawa manusia. Dari 850 lebih korban jiwa hanya satu korban yang tinggal dalam rumah
adat, tepatnya di desa Hilimondregeraya, Teluk Dalam. Sebagian besar yang tewas adalah yang tinggal di rumah
berkontruksi modern.

Omo Hada

Budaya Nias
1. Hombo Batu ( Lompat Batu )
Kekayaan budaya Nias yang diwariskan para leluhur yang menjadi kebanggaan pemuda Nias yaitu

Lompat Batu, tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias
dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 meter. Saat ini, Lompat Batu menjadi
tujuan Wisata Dunia.
Dahulu, melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan untuk mempertahankan diri dan membela
nama kampung. Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung. Misalnya: Masalah perbatasan
tanah, perempuan dan sengketa lainnya. Hal ini mengundang desa yang satu menyerang desa yang lain,
sehingga para prajurit yang ikut dalam penyerangan, harus memiliki ketangkasan melompat untuk
menyelamatkan diri. Akan tetapi dahulu, ketika tradisi berburu kepala manusia masih dijalankan,
peperangan antar kampung juga sangat sering terjadi. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar
atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran yang telah
dibangun dari batu atau bambu atau dari pohon supaya tidak terperangkap di daerah musuh.
Ketangkasan melompat dibutuhkan karena dahulu setiap desa telah dipagar atau telah membuat

benteng pertahanan yang dibuat dari batu, bambu atau bahan lain yang sulit dilewati oleh musuh. Para
pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain, akan menjadi pahlawan di
desanya.

2. Tari Perang
Para penari mengenakan pakaian tradisional, pakaian yang terbuat dari sabut ijuk dan serat kulit kayu dan kepala
mereka dihiasi dengan bulu burung, dan ditangan mereka membawa tombak dan perisai.
Maluaya (tari perang), terdapat diseluruh daerah Nias. Di bagian utara namanya Baluse. Tarian tersebut ditarikan
minimal 12 orang pria, dan bila lebih maka akan lebih baik. Pada umumnya lebih 100 orang, gerakannya sangat
kuat. Maluaya di PP Batu berbeda dengan daerah Nias lainnya, di PP Batu para wanita juga turut menari. Para
wanita menari dengan langkah kecil yang lemah gemulai. Tarian Maluaya ditarikan pada upacara pernikahan untuk
masyarakat kelas atas, penguburan dan pesta untuk menyambut pendatang baru.

3. Pakaian Adat Nias

Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan rba Sili untuk pakaian
perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna
lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:
Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Niobakola) dan pola bunga kapas
(Niobowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan,
kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.

Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Niohulayo/ niogna) sering dikenakan
oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.

Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan,
ketabahan dan kewaspadaan.

Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan
kesucian, kemurnian dan kedamaian.