Você está na página 1de 2

http://www.konsultasisyariah.

com/hukum-memejamkanmata-ketika-shalat/
Memejamkan Mata Ketika Shalat
Apakah hukumnya memejamkan mata saat sholat? Karena saat memejamkan mata rasanya
lebih khusyuk?
Dari: Danya
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ala rasulillah, amma badu,
Terdapat sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,



Apabila kalian melakukan shalat makan janganlah memejamkan kedua mata kalian.
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Thabrani (w. 360 H) dalam Mujam as-Shagir no. 24. dari jalur
Musab bin Said, dari Musa bin Ayun, dari Laits bin Abi Salim.
Hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama pakar hadis, karena dua alasan,
1. Laits bin Abi Salim dinilai dhaif karena mukhtalat (hafalannya kacau), dan dia perawi
mudallis (suka menutupi)
2. Musab bin Said, dinilai sangat lemah oleh para ulama. Ibnu Adi mengatakan tentang perawi
ini,

Beliau membawakan hadis-hadis munkar atas nama perawi terpercaya dan menyalahi ucapan
mereka. Status dhaif hadisnya sangat jelas.
(al-Fatawa al-Haditsiyah, al-Huwaini, 1/45 46).
Kesimpulannya, hadis di atas adalah hadis dhaif dan Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) menilainya
munkar. Karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dalil.

Memejamkan Mata Ketika Shalat Hukumnya Makruh

Hanya saja para ulama menegaskan, memejamkan mata ketika shalat hukumnya makruh.
Kecuali ketika hal ini dibutuhkan, karena pemandangan di sekitarnya sangat mengganggu
konsentrasi shalatnya.
Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya,
a. Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnul Qoyim (w. 751 H) mengatakan,

Bukan termasuk sunah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.
(Zadul Maad, 1/283)
b. Memejamkan mata ketika shalat, termasuk kebiasaan shalat orang yahudi. Dalam ar-Raudhul
Murbi kitab fikih madzhab hambali pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika shalat,
dinyatakan,

Makruh memejamkan mata ketika shalat, karena ini termasuk perbuatan orang yahudi. (arRaudhul Murbi, 1/95).
c. Karena memejamkan mata bisa menyebabkan orang tertidur, sebagaimana keterangan dalam
Manar as-Sabil (1/66).
Untuk itu, sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan. Misalnya,
dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya.
Ibnul Qoyim mengatakan,
:


Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika shalat) tidak mengganggu kekhusyuan,
maka ini yang lebih afdhal. Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di
arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu
konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini tidak makruh memejamkan mata. Dan pendapat
yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih
mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya. (Zadul Maad,
1/283).