Você está na página 1de 27

BAB II

PENJELASAN

II.1 Definisi Pelayanan ANTENATAL (Antenatal Care)


Pelayanan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan
penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan
yang aman dan memuaskan. Pada beberapa kepustakaan disebut sebagai Prenatal Care.
American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and
Gynecologist (2002) memberikan batasan mengenai prenatal care sebagai :
A comprehensive antepartum care program that involves a coordinated approach to medical
care and psychosocial support that optimally begins before conception and extends throughout
the antepartum periode
Pelayanan antenatal meliputi 4 program yang komperehansif yaitu :
1.
2.
3.
4.

Pelayanan prakonsepsi
Menegakkan diagnosa kehamilan
Perawatan prenatal awal
Perawatan pada kunjungan prenatal lanjutan

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter


spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama
masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 7T
yaitu :

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 1

1. Timbang berat badan dan Ukur tinggi badan


2. Ukur tekanan darah
3. Pemberian imunisasi TT
4. Ukur tinggi fundus uteri
5. Pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
6. Tes penyakit menular
7. Temu wicara

Tujuan pelaksanaan Antenatal care


1. Menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan, persalinan dan nifas serta
mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat.
2. Memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan merencanakan
penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi.
3. Menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.

Asuhan antenatal harus dilaksanakan sedini mungkin. Dan dilakukan sesuai perencanaan
sebagai berikut :
Jadwal pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) :
-

Sampai 28 minggu : 4 minggu sekali

28 36 minggu : 2 minggu sekali


Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 2

Di atas 36 minggu : 1 minggu sekali

Perkecualian jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan


penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.

II.2 Kunjungan Pertama / pemeriksaan pertama Antenatal Care


II.2.1 Tujuan Pemeriksaan :
1. Menentukan diagnosis ada atau tidaknya kehamilan
2. Menentukan usia kehamilan, dan perkiraan persalinan
3. Menentukan status kesehatan ibu, dan janin
4. Menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada atau tidaknya faktor risiko
kehamilan
5. Menentukan rencana pemeriksaan beserta penatalaksanaan selanjutnya

II.2.2 Anamnesis
1. Identitas Pasien
Identitas umum, perhatian pada usia ibu, status perkawinan dan tingkat
pendidikan. Range usia reproduksi sehat dan aman antara 20-30 tahun. Pada
kehamilan usia remaja, apalagi kehamilan di luar nikah, kemungkinan ada unsur
penolakan psikologis yang tinggi. Tidak jarang pasien meminta aborsi. Usia muda
juga faktor kehamilan risiko tinggi untuk kemungkinan adanya komplikasi obstetri
seperti preeklampsia, ketuban pecah dini, persalinan preterm, abortus.
2. Keluhan utama
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 3

Sadar atau tidak akan kemungkinan hamil, apakah semata-mata ingin periksa
hamil, atau ada keluhan beserta masalah lain yang dirasakan.
3. Riwayat kehamilan sekarang, atau riwayat penyakit sekarang
Ada atau tidaknya gejala, dan tanda kehamilan. Jika ada amenorea, kapan hari
pertama haid terakhir, siklus haid biasanya berapa hari. Hal ini penting untuk
memperkirakan usia kehamilan menstrual dan memperkirakan saat persalinan
menggunakan Rumus Naegele (h+7 b-3 + x + 1mg) untuk siklus 28 + x hari.
Ditanyakan apakah sudah pernah periksa kehamilan ini sebelumnya atau
belum (jika sudah, berarti ini bukan kunjungan antenatal pertama, namun tetap
penting untuk data dasar inisial pemeriksaan kita).
Apakah ada keluhan / masalah dari sistem organ lain, baik yang berhubungan
dengan perubahan fisiologis kehamilan maupun tidak.
4. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit sistemik lain yang mungkin mempengaruhi atau diperberat
oleh kehamilan (penyakit jantung, paru, ginjal, hati, diabetes mellitus), riwayat alergi
makanan, maupun obat tertentu, dan sebagainya. Ada atau tidaknya riwayat operasi
umum / lainnya maupun operasi kandungan (miomektomi, sectio cesarea dan
sebagainya).
5. Riwayat penyakit keluarga
Berisi tentang Riwayat penyakit sistemik, metabolik, cacat bawaan, dan
sebagainya.
6. Riwayat khusus obstetri ginekologi
a. Adakah riwayat kehamilan / persalinan / abortus sebelumnya (dinyatakan
dengan kode GxPxAx, gravida / para / abortus), berapa jumlah anak hidup.
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 4

b. Ada/tidaknya masalah2 pada kehamilan / persalinan sebelumnya seperti


prematuritas, cacat bawaan, kematian janin, perdarahan dan sebagainya.
c. Penolong persalinan terdahulu, cara persalinan, penyembuhan luka persalinan,
keadaan bayi saat baru lahir, berat badan lahir jika masih ingat.
d. Riwayat menarche, siklus haid, ada/tidak nyeri haid atau gangguan haid
lainnya, riwayat penyakit kandungan lainnya.
e. Riwayat kontrasepsi, lama pemakaian, ada masalah/tidak.
7. Riwayat sosial, dan ekonomi Pekerjaan, kebiasaan, kehidupan sehari-hari.

II.2.3 Diagnosa kehamilan


1. Riwayat amenorea
2. Pembesaran uterus
3. Tes kehamilan positif
4. Keluhan subyektif lain yang mungkin terjadi selama kehamilan : mual dan muntah
serta rasa berat pada payudara.

Manifestasi kehamilan dapat dibagi menjadi :


1. Dugaan kehamilan (presumptive)
a. Gejala :
i. Amenorea :
- Berhentinya menstruasi disebabkan oleh kenaikan kadar
-

estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh corpus luteum


Mempunyai arti penting dalam dugaan kehamilan hanya bila

siklus haid sebelumnya berlangsung secara teratur dan spontan.


Selain kehamilan, amenorea juga dapat terjadi akibat :
ketegangan emosional, penyakit menahun, obat-obat opioid

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 5

dan dopaminergik, penyakit endokrin dan tumor ginekologi


ii.

tertentu.
Mual dan muntah:
- 50% diderita oleh ibu hamil, mencapai puncak pada 8 12
-

minggu
Keluhan semakin berat pada pagi hari (morning sickness)
Derajat keluhan dipengaruhi oleh ketegangan emosi
Hiperemesis gravidarum : mual muntah disertai dengan
dehidrasi dan ketonuria sehingga mengganggu aktivitas
keseharian pasien. Keadaan ini memerlukan perawatan intensif

iii.

di Rumah Sakit
Terapi emesis gravidarum sedang:
1. Makan sedikit dan sering
2. Dukungan emosional
3. Vitamin B6 dosis tinggi dan Vitamin prenatal
4. Anti muntah diberikan sebagai pilihan akhir
Keluhan mual disebabkan oleh kenaikan kadar hCG dimana

pada trimester I kadar hCG dapat mencapai 100 mIU/ml


Perubahan pada payudara:
- Mastodinia (rasa tegang pada payudara).
- Pembesaran kelenjar sebaseus sirkumlakteal (Montgomery
tubercle) pada kehamilan 6 8 minggu akibat stimulasi
-

hormonal.
Sekresi kolustrum setelah kehamilan 16 minggu.

iv.

Quickening. Persepsi gerakan janin pertama kali (pada multigravida

v.

14 16 minggu; pada primigravida 18- 20 minggu)


Perubahan pada traktus urinarius:
- Iritabilitas vesika urinaria, sering berkemih dan nocturia
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 6

Infeksi traktus urinarius

2. Tanda:
a. Kenaikan suhu basal kenaikan suhu basal persisten selama 3 minggu.
b. Perubahan pada kulit:
i. Chloasma gravidarum: setelah kehamilan 16 minggu kulit didaerah
muka menjadi gelap dan menjadi semakin gelap bila terkena sinar
matahari.

ii.

Linea nigra: warna puting susu dan linea alba menjadi gelap akibat
adanya rangsangan oleh melanophore akibat peningkatan kadar MSHmelanocyte stimulating hormon.

iii.

striae gravidarum: striae pada payudara dan abdomen akibat separasi


jaringan kolagen yang terlihat sebagai jaringan parut iregular.
Diperkirakan

iv.

akibat

pengaruh

hormon adrenocorticosteroid dan

nampak pada kehamilan lanjut.


Spider telengangiectasis : kelainan kulit akibat tingginya kadar
estrogen sirkulasi yang juga dapat terlihat pada kegagalan hepar.

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 7

2. Kemungkinan kehamilan (probable)


a. Gejala: Gejala sama dengan yang sudah dijelaskan
b. Tanda
i. Organ panggul Terjadi sejumlah perubahan pada organ panggul yang
dapat dirasakan oleh dokter saat melakukan pemeriksaan vagina.
- Chadwicks sign: kongesti pembuluh darah yang menyebabkan
-

perubahan warna servik dan vagina yang kebiruan


Leukorea: peningkatan sekresi vagina yang terdiri dari sel
epitel dan peningkatan sekresi lendir servik akibat rangsangan
hormon. Lendir servik yang disapukan pada objek glas dan
dibiarkan mengering tidak memperlihatkan gambaran daun

pakis tapi gambaran granular.


Ladins sign: pada minggu ke 6 terjadi pelunakan uterus

dibagian mid-line anterior sepanjang uterocervical junction


Hegars sign: Meluasnya daerah isthmus yang menjadi lunak,
sehingga pada pemeriksaan vaginal corpus uteri seolah
terpisah dari bagian servik. Keadaan ini dijumpai pada

kehamilan 6-8 minggu.


Von Fernwalds sign: perlunakan fundus uteri yang iregular
diatas lokasi implantasi pada kehamilan 4 5 minggu. Bila
kejadian ini terjadi pada bagian cornu (Piskaceks sign) maka
harus dibedakan dengan adanya leiomioma uteri atau kelainan
uterus lain. Pada kehamilan 10 minggu, uterus menjadi
simeteris dan berukuran dua kali lipat.

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 8

ii.

Perubahan pada tulang dan ligamentum panggul: selama kehamilan


tulang panggul dan struktur ligamen mengalami sedikit perubahan.

iii.

Terjadi relaksasi ringan pada sendi simfsis pubis.


Terjadi pembesaran abdomen secara progresif dari kehamilan 7 sampai
28 minggu. Pada minggu 16-22, pertumbuhan terjadi secara cepat
dimana uterus keluar panggul dan mengisi rongga abdomen.

iv.

Kontraksi uterus : Oleh karena uterus membesar, bentuk uterus


menjadi globular dan sering mengalami dextro-rotasi. Kontraksi uterus
tanpa rasa sakit (Braxton Hicks contraction) mulai muncul pada
kehamilan 28 minggu dan biasanya menghilang bila dibawa berjalanjalan. Kontraksi uterus tersebut menjadi semakin kuat mendekati saat

v.

persalinan.
Balotemen : Pada kehamilan 16 20 minggu, dengan pemeriksaan
bimanual dapat terasa adanya benda yang melenting dalam uterus

( tubuh janin ).
3. Diagnosa pasti kehamilan (positive)
a. DJJ
i.

Detik jantung janin dapat terdengar dengan menggunakan fetoskop


pada ibu yang bertubuh langsing pada kehamilan 17 18 minggu.

ii.

Dengan tehnik Doppler, detik jantung janin dapat terdengar pada


kehamilan 10 minggu.

b. Palpasi bagian Janin


Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 9

i.

Bentuk tubuh janin sering dapat diperiksa melalui palpasi abdomen


pada kehamilan lebih dari 28 minggu.

ii.

Gerakan janin dapat dirasakan setelah kehamilan 18 minggu

c. Ultrasonografi
i.

Tehnik ini sangat bermanfaat bagi pemantauan viabilitas janin.

ii.

Aktivitas jantung dapat dilihat pada kehamilan 5 6 minggu

iii.

Ekstrimitas janin terlihat pada kehamilan 7 8 minggu

iv.

Gerakan jari tangan terlihat pada kehamilan 9 10 minggu

II.2.4 Pemeriksaan Fisis


1. Status generalis / pemeriksaan umum
Penilaian
Tanda

vital

keadaan

(tekanan

darah,

umum,
nadi,

kesadaran,
suhu,

pernapasan),

komunikasi/kooperasi.
tinggi/berat

badan.

Kemungkinan risiko tinggi pada ibu dengan tinggi < 145 cm, berat badan 75 kg.
Batas hipertensi pada kehamilan yaitu 140/90 mmHg (nilai diastolik lebih bermakna
untuk prediksi sirkulasi plasenta).
a. Kepala : apakah terdapat keluhan umum di kepala seperti nyeri kepala
pemeriksaan sekilas terhadap kojungtiva mata, pemeriksaan pada sklera.
pemeriksaan terhadap tanda cyanosis pada selaput lendir di bagian bibir, dan
juga pemeriksaan terhadap mulut dan bagian kepala lainnya.
b. Paru / jantung / abdomen inspeksi palpasi perkusi auskultasi umum.
Ekstremitas diperiksa terhadap edema, pucat, sianosis, varises, simetri
(kecurigaan

polio,

mungkin

terdapat

kelainan

bentuk

panggul).

Jika ada luka terbuka atau fokus infeksi lain harus dimasukkan menjadi
masalah dan direncanakan penatalaksanaannya.
2. Status obstetricus / pemeriksaan khusus obstetrik

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 10

a. Abdomen
Inspeksi : membesar/tidak (pada kehamilan muda pembesaran abdomen
mungkin belum nyata).
b. Palpasi : tentukan tinggi fundus uteri (pada kehamilan muda dilakukan dengan
palpasi bimanual dalam, dapat diperkirakan ukuran uterus pada kehamilan
lebih besar, tinggi fundus dapat diukur dengan pita ukuran sentimeter, jarak
antara fundus uteri dengan tepi atas simfisis os pubis).

Pemeriksaan palpasi Leopold dilakukan dengan sistematika :


i. Leopold I
Menentukan tinggi fundus dan meraba bagian janin yang di fundus
dengan kedua telapak tangan.
ii. Leopold II
Kedua telapak tangan menekan uterus dari kiri-kanan, jari ke arah
kepala pasien, mencari sisi bagian besar (biasanya punggung) janin,
atau mungkin bagian keras bulat (kepala) janin.
iii. Leopold III

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 11

Satu tangan meraba bagian janin apa yang terletak di bawah (di
atas simfisis) sementara tangan lainnya menahan fundus untuk fiksasi.
iv. Leopold IV
Kedua tangan menekan bagian bawah uterus dari kiri-kanan, jari ke
arah kaki pasien, untuk konfirmasi bagian terbawah janin dan
menentukan apakah bagian tersebut sudah masuk / melewati pintu atas
panggul (biasanya dinyatakan dengan satuan x/5)

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 12

Jika memungkinkan dalam palpasi diperkirakan juga taksiran berat


janin (meskipun kemungkinan kesalahan juga masih cukup besar).
Pada kehamilan aterm, perkiraan berat janin dapat menggunakan
rumus cara Johnson-Tossec yaitu :
tinggi fundus (cm) (12/13/14)) x 155 gram.
Auskultasi : dengan Funandoscope kayu Laennec atau alat
Doppler yang ditempelkan di daerah punggung janin, dihitung
frekuensi pada 5 detik pertama, ketiga dan kelima, kemudian dijumlah
dan dikalikan 4 untuk memperoleh frekuensi satu menit. Sebenarnya
pemeriksaan auskultasi yang ideal adalah denyut jantung janin
dihitung seluruhnya selama satu menit.

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 13

Batas frekuensi denyut jantung janin normal adalah 120-160


denyut per menit. Takikardi menunjukkan adanya reaksi kompensasi
terhadap beban / stress pada janin (fetal stress), sementara bradikardi
menunjukkan kegagalan kompensasi beban / stress pada janin (fetal
distress/gawat janin).
1. Takikardi berat; detak jantung diatas 180x/mnt
2. Takikardi ringan: antara 160-180x/mnt
3. Normal: antara 120-160x/mnt
4. Bradikardia ringan: antara 100-119x/mnt
5. Bradikardia sedang: antara 80-100x/mnt
6. Bradikardia berat: kurang dari 80x/mnt

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 14

c. Genitalia eksterna
i. Inspeksi luar : keadaan vulva / Vagina / uretra, ada tidaknya tanda
radang, luka / perdarahan, discharge, kelainan lainnya. Labia
dipisahkan dengan dua jari pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas.
ii. Inspeksi dalam menggunakan spekulum (in speculo) :
1. Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa
2. Alat spekulum Cusco (cocorbebek) dimasukkan ke vagina
dengan bilah vertikal kemudian di dalam liang vagina diputar
90 sehingga horisontal, lalu dibuka.
3. Deskripsi keadaan porsio serviks (permukaan, warna)
4. Keadaan ostium, ada/tidaknya darah/cairan/ discharge di
forniks
5. Keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak tumor, tanda radang
atau kelainan lainnya.
6. Spekulum ditutup horisontal, diputar vertikal dan dikeluarkan
dari vagina.
iii. Genitalia interna
1. Palpasi : colok vaginal (vaginal touch) dengan dua jari
sebelah tangan dan BIMANUAL dengan tangan lain menekan
fundus dari luar abdomen.
a. Ditentukan konsistensi, tebal, arah dan ada/tidaknya
pembukaan serviks. Diperiksa ada/tidak kelainan uterus
dan adneksa yang dapat ditemukan. Ditentukan bagian
terbawah
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 15

b. Pada pemeriksaan di atas 34-36 minggu dilakukan


perhitungan pelvimetri klinik untuk memperkirakan
adanya disproporsi fetopelvik atau sefalopelvik.
c. Kontraindikasi relatif colok vaginal adalah :
i. Perdarahan

per

vaginam

pada

kehamilan

trimester ketiga, karena kemungkinan adanya


plasenta

previa,

dapat

menjadi

pencetus

perdarahan yang lebih berat (hanya boleh


dilakukan di meja operasi, dilakukan dengan
cara perabaan fornices dengan sangat hati-hati)
ii. ketuban pecah dini dapat menjadi predisposisi
penjalaran infeksi (korioamnionitis)
Pemeriksaan dalam (vaginal touch) seringkali
tidak dilakukan pada kunjungan antenatal pertama, kecuali
ada indikasi.
Umumnya pemeriksaan dalam yang sungguh
bermakna untuk kepentingan obstetrik (persalinan) adalah
pemeriksaan pada usia kehamilan di atas 34-36 minggu,
untuk memperkirakan ukuran, letak, presentasi janin,
penilaian serviks uteri dan keadaan jalan lahir, serta
pelvimetri klinik untuk penilaian kemungkinan persalinan
normal pervaginam. Alasan lainnya, pada usia kehamilan
kurang dari 36 minggu, elastisitas jaringan lunak sekitar
jalan lahir masih minimal, akan sulit dan sakit untuk
eksplorasi.
iv. Pemeriksaan rektal (rektal touch) : dilakukan atas indikasi.

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 16

II.3 Pemeriksaan Lanjutan


II.3.1 Jadwal kunjungan
Idealnya seperti di atas (sampai 28 minggu 1 kali setiap bulan, 29-36 minggu setiap 2
minggu sekali dan di atas 36 minggu setiap minggu sekali).
Pada kunjungan pemeriksaan lanjutan, diperiksa :
1. Keluhan ibu, tekanan darah, berat badan, dan tinggi fundus uteri
2. Terhadap janin diperiksa perkiraan besar / berat janin, presentasi dan letak janin,
denyut jantung janin, aktifitas janin, perkiraan volume cairan amnion dan letak
plasenta (jika memungkinkan dengan USG).

II.3.2 Pemeriksaan Laboratorium


Jika terdapat kelainan, ditatalaksana dan diperiksa ulang terus sampai mencapai normal.
Jika sejak awal laboratorium rutin dalam batas normal, diulang kembali pada kehamilan 32-34
minggu.
Periksa juga infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Hepatitis / HIV).
Periksa gula darah pada kunjungan pertama, bila normal, periksa ulang pada kunjungan minggu
ke 26-28, untuk deteksi dini diabetes mellitus gestasional.

II.3.3 Pemeriksaan lain-lain


1. Pelvimetri radiologik (akhir trimester 3), jika diperlukan, untuk perhitungan jalan lahir.
Pada trimester 3 akhir, pembentukan dan pematangan organ janin sudah hampir selesai,
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 17

sehingga kemungkinan mutasi / karsinogen jauh lebih kecil dibandingkan pada trimester
pertama / kedua. Tetap harus digunakan dosis radiasi sekecil-kecilnya.
2. Ultrasonografi (USG), pemeriksaan ini tidak berbahaya karena menggunakan gelombang
suara. Frekuensi yang digunakan dari 3.5, 5.0, 6.5 atau 7.5 MHz. Makin tinggi frekuensi,
resolusi yang dihasilkan makin baik tetapi penetrasi tidak dapat dalam, karena itu harus
disesuaikan dengan kebutuhan. Pemeriksaan USG dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Pervaginam
Memasukkan probe USG transvaginal/seperti melakukan pemeriksaan dalam.
i. Dilakukan pada kehamilan di bawah 8 minggu.
ii. Lebih mudah dan ibu tidak perlu menahan kencing.
iii. Lebih jelas karena bisa lebih dekat pada rahim.
iv. Daya tembusnya 8-10 cm dengan resolusi tinggi.
v. Tidak menyebabkan keguguran.
b. Perabdominan
Probe USG di atas perut. Biasa dilakukan pada kehamilan lebih dari 12 minggu.
Karena dari atas perut maka daya tembusnya akan melewati otot perut, lemak
baru menembus rahim.

Pemeriksaan dengan USG wajib semasa kehamilan sebetulnya hanya dua kali, yaitu
1. Saat pertama kali pemeriksaan kehamilan (usia kehamilan berapa pun namun biasanya
pada usia kehamilan 10-12 minggu). Pemeriksaan ini dilakukan sebagai skrining awal.
Gambaran janin yang masih sekitar 8 cm akan terlihat tampil secara utuh pada layar
monitor.
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 18

2. Usia kehamilan 20-24 minggu sebagai skrining lengkap. Setelah usia kehamilan lebih
dari 12 minggu gambaran janin pada layar monitor akan terlihat sebagian-sebagian/tidak
secara utuh. Karena alat scan USG punya area yang terbatas, sementara ukuran besar
janin sudah bertambah atau lebih dari 8 cm. Jadi, untuk melihat kondisi janin dapat per
bagian, misalnya detail muka, detail jantung, detail kaki dan sebagainya.

Selain itu, penggunaan alat USG dapat dilakukan atas dasar indikasi yakni:
a. Pemeriksaan USG serial untuk mengukur pertumbuhan berat badan janin.
b. Bila perlu pada usia kehamilan 38-42 minggu untuk melihat bagaimana posisi
bayi apakah melintang, kepala turun, dan lainnya.
Manfaat pemeriksaan USG berdasarkan trimester :
a.

Trimester I
-

Memastikan hamil atau tidak.

Mengetahui keadaan janin, lokasi hamil, jumlah janin dan tanda


kehidupannya.

Mengetahui keadaan rahim dan organ sekitarnya.

Melakukan penapisan awal dengan mengukur ketebalan selaput lendir,


denyut janin, dan sebagainya

b. Trimester II:
-

Melakukan penapisan secara menyeluruh.

Menentukan lokasi plasenta.

Mengukur panjang serviks.


Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 19

c. Trimester III:
-

Menilai kesejahteraan janin.

Mengukur biometri janin untuk taksiran berat badan.

Melihat posisi janin dan tali pusat.

Menilai keadaan plasenta.

II.4 Nasehat untuk perawatan umum sehari-hari


II.4.1 Aktifitas Fisik
Dapat seperti biasa (tingkat aktifitas ringan sampai sedang), istirahat minimal 15 menit
tiap 2 jam. Jika duduk/berbaring dianjurkan kaki agak ditinggikan. Jika tingkat aktifitas berat,
dianjurkan untuk dikurangi. Istirahat harus cukup.
Olahraga dapat ringan sampai sedang, dipertahankan jangan sampai denyut nadi melebihi
140 kali per menit. Jika ada gangguan / keluhan yang mencurigakan dapat membahayakan
(misalnya, perdarahan per vaginam), aktifitas fisik harus dihentikan.

II.4.2 Pekerjaan
Hindari pekerjaan yang membahayakan atau terlalu berat atau berhubungan dengan
radiasi / bahan kimia, terutama pada usia kehamilan muda.

II.4.3 Imunisasi
Terutama tetanus toksoid. Imunisasi lain sesuai indikasi.
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 20

II.4.4 Berpergian
Tidak perlu kuatir bepergian dengan menumpang pesawat udara biasa, karena tidak
membahayakan kehamilan. Tekanan udara di dalam kabin kapal penumpang telah diatur sesuai
atmosfer biasa.

II.4.5 Mandi dan berpakaian


Mandi cukup seperti biasa. Pemakaian sabun khusus / antiseptik vagina tidak dianjurkan
karena justru dapat mengganggu flora normal vagina. Selain itu aplikasi sabun vaginal dengan
alat semprot dapat menyebabkan emboli udara atau emboli cairan yang dapat berbahaya.
Berpakaian sebaiknya yang memungkinkan pergerakan, pernapasan dan perspirasi yang
leluasa.
II.4.6 Senggama
Dapat seperti biasa, kecuali jika terjadi perdarahan atau keluar cairan dari kemaluan,
harus dihentikan (abstinentia). Jika ada riwayat abortus sebelumnya, coitus ditunda sampai usia
kehamilan di atas 16 minggu, di mana diharapkan plasenta sudah terbentuk, dengan implantasi
dan fungsi yang baik. Beberapa kepustakaan menganjurkan agar coitus mulai dihentikan pada 34 minggu terakhir menjelang perkiraan tanggal persalinan.
Hindari

trauma

berlebihan

pada

daerah

serviks

uterus.

Pada beberapa keadaan seperti kontraksi / tanda-tanda persalinan awal, keluar cairan
pervaginam, keputihan, ketuban pecah, perdarahan pervaginam, abortus iminens atau abortus
habitualis, kehamilan kembar, penyakit menular seksual, sebaiknya coitus jangan dilakukan.

II.4.7 Perawatan mamae dan abdomen


Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 21

Perawatan mammae dan abdomen Jika terjadi papila retraksi, dibiasakan papillla ditarik
manual dengan pelan. Striae / hiperpigmentasi dapat terjadi, tidak perlu dikuatirkan berlebihan.

II.4.8 Hewan peliharaan


Hewan piaraan dapat menjadi carrier infeksi (misalnya, bulu kucing / burung, dapat
mengandung parasit toxoplasma). Dianjurkan menghindari kontak.

II.4.9 Merokok dan alkohol


Harus dihentikan sekurang-kurangnya selama kehamilan dan sampai persalinan, nifas dan
menyusui selesai. Obat-obat depresan adiktif (narkotik dsb.) mendepresi sirkulasi janin dan
menekan perkembangan susunan saraf pusat pada janin.

II.4.10 Gizi
Makanan sehari-hari dianjurkan yang memenuhi standar kecukupan gizi untuk ibu hamil,
Untuk pencegahan anemia defisiensi, diberi tambahan vitamin dan tablet Fe.

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 22

1. Kalori
Seorang wanita selama kehamilan memiliki kebutuhan energi yang meningkat.
Energi ini digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, pembuluh darah,
dan jaringan yang baru. Selain itu, tambahan kalori dibutuhkan sebagai tenaga untuk
proses metabolisme jaringan baru. Namun dengan adanya pertambahan kebutuhan kalori
ini tidak lantas menjadikan anda terlalu banyak makan. Tubuh anda memerlukan sekitar
80.000 tambahan kalori pada kehamilan. Dari jumlah tersebut, berarti setiap harinya
sekitar 300 tambahan kalori dibutuhkan ibu hamil. Memang cukup sulit untuk
mengetahui berapa kalori yang telah dikonsumsi setiap harinya. Untuk jangka pendek,
gunakanlah rasa lapar anda sebagai panduan kebutuhan kalori. Monitorlah berat badan
anda untuk membantu menilai apakah anda mengkonsumsi makanan sejumlah kalori
yang tepat. Mungkin saja anda membutuhkan bantuan dokter ataupun ahli gizi untuk
membantu anda dalam mencukupi kebutuhan kalori selama kehamilan.
2. Protein
Anda membutuhkan protein lebih banyak selama kehamilan dibandingkan waktuwaktu lain di seluruh hidup anda. Hal ini dikarenakan protein diperlukan untuk
pertumbuhan jaringan pada janin. Ibu hamil membutuhkan sekitar 75 gram protein setiap
harinya, lebih banyak 25 gram dibandingkan yang lain. Menambahkan protein ke dalam
makanan merupakan cara yang efektif untuk menambah kalori sekaligus memenuhi
kebutuhan protein. Produk hewani seperti daging, ikan, telur, susu, keju, dan hasil laut
merupakan sumber protein. Selain itu protein juga bisa didapat dari tumbuh-tumbuhan
seperti kacang-kacangan, biji-bijian, tempe, tahu, oncom, dan lainnya.
3. Asam folat
Folat merupakan vitamin B yang memegang peranan penting dalam
perkembangan embrio. Folat juga membantu mencegah neural tube defect, yaitu cacat
pada otak dan tulang belakang. Kekurangan folat juga dapat meningkatkan kehamilan
kurang umur (prematur), bayi dengan berat badan lahir rendah (bayi berat lahir
rendah/BBLR), dan pertumbuhan janin yang kurang. Sebenarnya, asam folat sangat
diperlukan terutama sebelum kehamilan dan pada awal kehamilan. Namun, ibu hamil
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 23

tetap harus melanjutkan konsumsi folat. 600 mg folat disarankan untuk ibu hamil. Folat
dapat didapatkan dari suplementasi asam folat. Sayuran berwarna hijau (seperti bayam,
asparagus), jus jeruk, buncis, kacang-kacangan dan roti gandum merupakan sumber alami
yang mengandung folat.
4. Zat besi
Zat besi dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein di sel darah
merah yang berperan membawa oksigen ke jaringan tubuh. Selama kehamilan, volume
darah bertambah untuk menampung perubahan pada tubuh ibu dan pasokan darah bayi.
Hal ini menyebabkan kebutuhan zat besi bertambah sekitar dua kali lipat. Jika kebutuhan
zat besi tidak tercukupi, ibu hamil akan mudah lelah dan rentan infeksi. Risiko
melahirkan bayi tidak cukup umur dan bayi dengan berat badan lahir rendah juga lebih
tinggi. Kebutuhan zat besi bagi ibu hamil yaitu sekitar 27 mg sehari. Selain dari
suplemen, zat besi bisa didapatkan secara alami dari daging merah, ikan, unggas, sereal
sarapan yang telah difortifikasi zat besi, dan kacang-kacangan.
5. Zinc
Dari beberapa studi dilaporkan bahwa ibu hamil yang memiliki kadar zar seng
rendah dalam makanannya berisiko melahirkan prematur dan melahirkan bayi dengan
berat lahir rendah. Sedangkan uji klinis suplementasi zat seng tidak didapatkan kejelasan
mengenai keuntungan mengkonsumsi seng dalam jumlah yang lebih tinggi. Namun
mengkonsumsi zat seng dalam jumlah cukup bagi merupakan langkah antisipatif yang
dapat dilakukan. Zat seng dapat ditemukan secara alami pada daging merah, gandum
utuh, kacang-kacangan, polong-polongan, dan beberapa sereal sarapan yang telah
difortifikasi. Pada umumnya, wanita tidak membutuhkan tambahan suplemen. Namun
anda dapat mengkonsumsi suplemen (sekitar 25 mg zat seng sehari) jika anda dalam
kondisi yang kurang sehat.
6. Kalsium
Janin mengumpulkan kalsium dari ibunya sekitar 25 sampai 30 mg sehari. Paling
banyak ketika trimester ketiga kehamilan. Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium
untuk menguatkan tulang dan gigi. Selain itu, kalsium juga digunakan untuk membantu
pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi. Kalsium juga diperlukan untuk
mengantarkan sinyal saraf, kontraksi otot, dan sekresi hormon. Jika kebutuhan kalsium
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 24

tidak tercukupi dari makanan, kalsium yang dibutuhkan bayi akan diambil dari tulang
ibu. Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah sekitar 1000 mg per hari. Sumber kalsium dari
makanan diantaranya produk susu seperti susu, keju, yogurt. Selain itu ikan teri juga
merupakan sumber kalsium yang baik.
7. Vitamin C
Vitamin C yang dibutuhkan janin tergantung dari asupan makanan ibunya.
Vitamin C merupakan antioksidan yang melindungi jaringan dari kerusakan dan
dibutuhkan untuk membentuk kolagen dan menghantarkan sinyal kimia di otak. Wanita
hamil setiap harinya disarankan mengkonsumsi 85 mg vitamin C per hari. Anda dapat
dengan mudah mendapatkan vitamin C dari makanan seperti tomat, jeruk, strawberry,
jambu biji, dan brokoli. Makanan yang kaya vitamin C juga membantu penyerapan zat
besi dalam tubuh.
8. Vitamin A
Vitamin A memegang peranan penting dalam fungsi tubuh, termasuk fungsi
penglihatan, imunitas, serta pertumbuhan dan perkembangan embrio. Kekurangan
vitamin A dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah. Vitamin
A dapat ditemukan pada buah-buahan dan sayuran berwarna hijau atau kuning, mentega,
susu, kuning telur, dan lainnya.
BAB III
KESIMPULAN

Pelayanan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan
penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman
dan memuaskan.

Standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 7T yaitu :


1. Timbang berat badan dan Ukur tinggi badan
2. Ukur tekanan darah
Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 25

3. Pemberian imunisasi TT
4. Ukur tinggi fundus uteri
5. Pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
6. Tes penyakit menular
7. Temu wicara

Sebagai kesimpulan hasil pemeriksaan kehamilan harus disebutkan 10 hal berikut dibawah ini :
1. Hamil atau tidak hamil ( berdasarkan tanda pasti kehamilan ).
2. Primigravida atau multigravida.
3. G (gravida ) P(para) 1 2 3 4.
i. Jumlah partus aterm (> 37 minggu/ berat anak > 2500 g).
ii. Jumlah partus preterm (22 37 minggu / berat anak < 2500g )
iii. Jumlah abortus ( < 20 minggu ).
iv. Jumlah anak hidup saat ini.
4. Anak hidup atau mati.
5. Usia kehamilan ( aterm / preterm minggu ).
6. Letak anak :
a. Situs : misalnya situs longitudinal.
b. Habitus : misalnya fleksi.
c. Posisi : misalnya punggung kiri dengan ubun-ubun kecil kiri melintang.
d. Presentasi : misalnya presentasi belakang kepala.
7. Kehamilan intra atau ekstrauterin.
8. Hamil tunggal atau kembar.
9. Inpartu atau tidak ( sebutkan tahapan persalinan)
10. Keadaan jalan lahir : tumor jalan lahir, hasil pemeriksaan pelvimetri klinik, cacat rahim
pasca sectio caesar atau miomektomi intramural.
11. Keadaan umum ibu :

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 26

a. Komplikasi atau penyakit penyakit yang menyertai kehamilan atau persalinan


( misal: pre eklampsia, anemia , hepatitis dsb nya )
b. Komplikasi persalinan ( misal : secondary arrest , kala II memanjang, gawat
janin )

Pemeriksaan Obsteri dan ANTENATAL CARE | 27