Você está na página 1de 6

Aliran Dana Lembaga Penjamin Simpanan pada Bank Century atau secara teknis

disebut sebagai penyertaan modal sementara(PMS) yang dikucurkan dalam kurun waktu delapan
bulan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mencapai sejumlah Rp 6,7 triliun adalah
salah satu tata cara penanganan terhadap bank gagal yang dilakukan oleh Komite Stabilitas
Sektor

Keuangan (KSSK)yang

beranggotakan Menteri

Keuangan, Bank

Indonesia (BI)

dan Lembaga Pengawas Perbankan (LPP) dalam hal ini termasuk bank gagal dalam dampak
sistemik, untuk saat sekarang Lembaga Pengawas Perbankan (LPP) masih berada dalam naungan
lingkup kerja pada Bank Indonesia (BI). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Bank
Century diubah nama menjadi Bank Mutiara
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pelaksana penjaminan pembayaran bagi dana
masyarakat berkaitan dengan produk-produk jasa perbankan tetapi dalam pengucuran dana pada
Bank Century akhirnya justru menimbulkan polemik politik dibandingkan dengan penegakan
hukum bahkan pada tanggal 30 November 2009 dalam sebuah jumpa pers di Jakarta, Mustar
Bona Ventura danFerdi Simaun, aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) menyebutkan
sejumlah nama yang dikatakan ikut menerima sejumlah aliran dana dari pengucuran dana
Lembaga Penjamin Simpanan pada Bank Century[2] dan dengan tanpa menyebutkan sumber data
hanya dikatakannya sebagai Data-data yang diumumkan berdasarkan dari jaringan aktivis
Jakarta, Bandung, Cianjur dan Bogor[3], keesokan harinya sejumlah nama yang disebutkan
melakukan pelaporan pada Polda Metro Jaya terhadap apa yang dikatakan sebagai berita fitnah
dan pencemaran nama baik.[4] Presiden SBY ikut menyatakan bahwa tidak pernah ada temuan itu
dan silakan cek dari kebenaran berita itu, berita itu merupakan fitnah luar biasa dan perlu
diselesaikan supaya keadilan ditegakkan dan masih menurut presiden, masyarakat berhak
mendapatkan informasi yang terbuka dan sebenar-benarnya soal kasus Bank Century. Presiden
mendukung proses supaya persoalan yang mendapat perhatian luas publik itu terbuka secara
terang dan jelas, saya prihatin dengan berita yang beredar yang tidak berlandaskan kebenaran.
saya nilai berita itu fitnah. berita itu sudah keterlaluan.[5]
Kehebohan politik berujung pada tanggal 1 Desember 2009 dalam Sidang Paripurna Pengesahan
Panitia Hak Angket Bank Century terhadap usulan penggunaan Hak Angket DPR yang diusulkan
oleh 503 Anggota DPR tersebut disahkan dan disetujuinya penggunaan hak angket untuk
mengungkap skandalBank Century dengan didukung oleh seluruh fraksi yang berada di DPR
yakni 9 Fraksi.[6] dengan fokus penyelidikan angket [7]
1. Mengetahui sejauh mana pemerintah melaksanakan peraturan perundangan yang berlaku,
terkait keputusannya untuk mencairkan dana talangan (bail out) Rp 6,76 triliun untuk

Bank Century. Adakah indikasi pelanggaran peraturan perundangan, baik yang bersifat
pidana maupun perdata.
2. Mengurai secara transparan komplikasi yang menyertai kasus pencairan dana talangan
Bank Century. Termasuk mengapa bisa terjadi perubahan Peraturan Bank Indonesia
secara mendadak, keterlibatan Kabareskrim Mabes Polri ketika itu, Komjen Susno
Duadji, dalam pencairan dana nasabah Bank Century, dan kemungkinan terjadi
konspirasi antara para pemegang saham utama Bank Century dan otoritas perbankan dan
keuangan pemerintah.
3. Menyelidiki ke mana saja aliran dana talangan Bank Century, mengingat sebagian dana
talangan tersebut oleh direksi Bank Century justru ditanamkan dalam bentuk Surat Utang
Negara (SUN) dan dicairkan bagi nasabah besar (Budi Sampoerna). Sementara
kepentingan nasabah kecil justru terabaikan. Adakah faktor kesengajaan melakukan
pembobolan uang negara demi kepentingan tertentu, misalnya politik, melalui skenario
bail out bagi Bank Century.
4. Menyelidiki mengapa bisa terjadi pembengkakan dana talangan menjadi Rp 6,76 triliun
bagi Bank Century? Sementara Bank Century hanyalah sebuah bank swasta kecil yang
sejak awal bermasalah, bahkan saat menerima bail out, bank ini dalam status
pengawasan khusus. Rasionalkah alasan pemerintah bahwa Bank Century patut
diselamatkan karena mempunyai dampak sistemik bagi perbankan nasional secara
keseluruhan.
5. Mengetahui seberapa besar kerugian negara yang ditimbulkan oleh kasus bail out Bank
Century dan sejumlah kemungkinan penyelamatan uang negara bisa dilakukan. Sebab
lain penegakan hukum, di tengah berbagai kesulitan hidup yang dialami masyarakat
kebanyakan, aspek penyelamatan uang negara ini sangat penting untuk dijadikan
perioritas demi memenuhi rasa keadilan rakyat. Selanjutnya, uang negara yang dapat
diselamatkan bisa digunakan untuk kepentingan meningkatkan kesejahteraan rakyat pada
umumnya.
Hasil penggunaan hak konstitusional Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang seharusnya
menghasilkan secara tegas dengan menyatakan dalam sebuah pendapat keadaan hasil
pernyelidikan parlemen tidak pula membuahkan kejelasan hasil pengungkapkan bukti-bukti atau
temuan-temuan yang didapat dalam persidangan-persidangan dengan menyatakan pendapat
konstitusional sebagai terbukti atau tidak terbukti ini tidak terjadi malahan memberikan

rekomendasi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),Kepolisian dan kejaksaan agar


menindak lanjuti laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang sebenarnya merupakan bidang
kerja dari Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN DPR)[8] dan kemudian oleh
presiden dalam dalam pidatonya mengatakan sebagai praktik- praktik buruk yang penuh
prasangka jahat demikian. Kehidupan bermasyarakat dan berbangsa memerlukan pertalian sosial
yang merupakan modal untuk kerja bersama di segala bidang. Modal sosial itu kuat apabila kita
membangun sikap saling percaya mempercayai dan sikap saling hormat menghormati. Modal
sosial itu melemah apabila kita hidup dengan dasar saling mencurigai, apalagi saling memfitnah

Pada tanggal 13 November 2008 Bank Century mengalami keadaan tidak bisa membayar
dana permintaan dari nasabah atau umumnya disebut sebagai kalah kliring keadaan ini hingga
membuat terjadinya kepanikan atau rush dalam penarikan dana pada Bank Century selanjutnya
pada tanggal 14 November 2008 manajemen Bank Century melapor kejadian tersebut serta ikut
mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas pendanaan darurat kepada Komite
Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) selanjutnya pada tanggal 20 November 2008Bank
Indonesia (BI) melakukan penetapan status Bank Century menjadi bank gagal, Menteri
Keuangan yang dijabat oleh Sri Mulyani selaku Ketua dari Komite Stabilitas Sektor
Keuangan (KSSK) mengadakan rapat untuk pembahasan nasib Bank Century, dalam rapat
tersebut, Bank Indonesia (BI) diwakili oleh Gubenur Bank Indonesia yang dijabat
oleh Boediono melalui data per 31 Oktober 2008 menyatakan bahwa rasio kecukupan
modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Century telah minus hingga 3,52 persen, dalam
agenda rapat tersebut antara lain turut dibahas dampak yang akan terjadi atau akan timbul apakah
akan berdampak sistemik, seperti dalam istilah teknis disebut bank run ataurun on the bank bila
Bank Century diperlakukan sebagai bank gagal yang akan dilikuidasi kemudian dalam rapat
tersebut diputuskan untuk menyerahkan Bank Century kepada Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS)
Aliran dana Bank Century
Pada tanggal 1 Desember 2009 Ahmad Fadjar, Direktur Treasury Bank Mutiara (dahulu bernama
Bank Century) bersama sejumlah Direktur LPS melakukan jumpa pers di Kantor LPS, Jakarta,
mengenai dana Penyertaan Modal Sementara (PMS) sebesar Rp 6,76 triliun yang dikucurkan
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kepada Bank Century yang dipergunakan oleh Bank
Century dengan perincian sebagai berikut : [25]

Rp 2,25 triliun atau 33 persen berupa aset Bank Century dalam bentuk Surat Utang
Negara (SUN)/Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Rp 490 miliar atau 8 persen digunakan untuk membayar pinjaman antarbank, fasilitas
pendanaan jangka pendek (FPJP)

Rp 4,02 triliun atau 59 persen untuk membayar kewajiban bank kepada seluruhnya 8.577
nasabah penyimpan dengan perincian sebagai berikut;

7.770 atau 91 persen merupakan nasabah perorangan dengan jumlah pembayaran


sebesar Rp 3,2 triliun atau 81 persen dari total penarikan simpanan

807 atau 9 persen merupakan nasabah BUMN/ korporat

96 persen penarikan dilakukan oleh nasabah dengan nilai kurang dari Rp 2


miliar

4 persen atau 328 nasabah dilakukan nasabah yang memiliki dana lebih
dari Rp 2 miliar. Rata-rata penarikan sebesar Rp 5,6 miliar per nasabah.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Aliran_Dana_Lembaga_Penjamin_Simpanan_pada_Bank_Century

TUGAS
GCG
KASUS BANK CENTURY

Nama Kelompok :
I Dewa Agung Ade Krisna Dinata
(1206305181)
Putu Agus Agung Wirajunayasa

(1206305095)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS UDAYANA
2013