Você está na página 1de 26

BAB I

STATUS PASIEN
1.1.

Identitas Pasien

Nama

: Nn. ES

Umur

: 25 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Tempat, Tgl lahir

: Semarang, 5 Oktober 1988

Alamat

: Manggis RT. 03 RW. 08, Bawen

Status perkawinan

: Belum Menikah

Agama

: Islam

Pekerjaan

: PT. Ara Shoes Indonesia

Pembiayaan

: Umum

No. RM

: 053542-2014

Tanggal masuk

: 24 Februari 2014

Tanggal keluar: 28 Februari 2014


Ruangan
I. 2

: Cempaka kelas II

Anamnesa
Autoanamnesa dilakukan di Bangsal Cempaka RSUD Ambarawa pada 25 Februari 2014.
Keluhan utama :
Nyeri pinggang kanan
Keluhan Tambahan :
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli bedah RSUD Ambarawa pada tanggal 21 Februari 2014 dengan
keluhan nyeri pinggang kanan bawah sejak +/- 1 bulan yang lalu. Nyeri yang dirasa
seperti ditusuk-tusuk. Keluhan nyeri dirasakan hilang timbul dan saat nyeri sedang timbul
kadang menjalar sampai ke pinggang bagian belakang. Pada saat pertama kali nyeri
1

terasa, pasien sempat mengalami demam, kadang-kadang pasien merasa mual, dan perut
terasa nyeri saat dibuat berjalan ataupun batuk. BAK pasien dirasa lancar dan tidak ada
keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan belum pernah memiliki keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat
alergi (-), hipertensi (-), riwayat DM disangkal, riwayat penyakit jantung dan paru
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Anggota keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa. Riwayat hipertensi disangkal,
riwayat kencing batu disangkal, riwayat DM disangkal, riwayat penyakit jantung
disangkal.
Riwayat Kebiasaan :
Pasien jarang konsumsi sayur dan buah. Pasien senang mengkonsumsi mie instan dan
jarang mengkonsumsi air putih.
Riwayat Pengobatan :
Selama sakit pasien belum pernah berobat ke dokter dan belum mengkonsumsi obat
apapun.
I.3 Pemeriksaan Fisik
Status generalis
-

Keadaan umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis dengan GCS: E4V5M6

Tanda Vital

TD

: 120/70 mmHg

: 82 x/mnt

: 20 x/mnt

: 36,8 OC.

Kepala
-

Bentuk

: Bentuk bulat, mesosephal, deformitas (-)

Rambut

: Warna hitam, distribusi rambut merata

Mata

: Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor


diameter 3 mm, reflek cahaya (+/+), reflek kornea (+/+) pergerakan
mata ke segala arah baik.

Telinga

: Deformitas (-/-), benjolan (-/-), discharge (-/-), nyeri tekan (-/-),

pendengaran normal
-

Hidung

: Deformitas (-), deviasi septum (-), napas cuping hidung (-),


perdarahan (-), sekret (-), daya penciuman normal

Mulut

: warna mukosa bibir kemerahan, sianosis (-), mukosa kering (-)

Thorax
a. Jantung
Inspeksi

: simetris statis dan dinamis, iktus kordis tidak tampak, massa (-),

Palpasi
Perkusi
Auskultasi

sikatriks (-), petekie (-), jejas (-)


: iktus kordis tidak kuat angkat
: batas jantung normal
: BJ I/II normal, regular, murmur (-), gallop (-)

b. Paru paru

Inspeksi

: simetris statis dan dinamis, retraksi intercostae (-)

Palpasi

: fremitus taktil (n), nyeri tekan (-)

Perkusi

: sonor seluruh lapang paru

Auskultasi

: suara nafas vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)

c. Abdomen

Inspeksi

: bentuk perut datar, distensi (-)

Auskultasi

: BU + (n), hiperperistaltik (-), metallic sound (-)

Palpasi

: supel, nyeri tekan Mc. Burney (+), psoas sign (+)

Perkusi

: timpani seluruh lapang abdomen

d. Ekstremitas
Atas

: Akral hangat (+/+), deformitas (-/-), edema (-/-),

sianosis (-/-),

Bawah

capillary refill < 2 detik.


: Akral hangat (+/+), deformitas (-/-), edema (-/-), capillary refill < 2

detik.

Diagnosis Banding :
Batu saluran kemih
Appendisitis akut
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 22 Februari 2014


Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

Hematologi
Darah Rutin
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
MPV
PCT
PDW
CT-CBT
Clothing Time
Bleeding Time
KIMIA KLINIK
Gula Darah Sewaktu
Ureum
Creatinin
SGOT
SGPT
SEROLOGI
HbsAg

12,2 g/dl
5.2 ribu
3.85 juta
35.4 %
241 ribu
91.9 mikro m3
31.7 pg
34.5 g/dl
13.0 %
7.9 mikro m3
0.191
14.8

L
L

3.0
1.0
108 mg/dl
9.3 mg/dl
0.60mg/dl
15 IU/L
8 IU/L
NON REAKTIF

12,5-15,5 g/dl
4.0-10 ribu
3.8 5.4 juta
37 - 45 %
150-400 ribu
82-98 mikro m3
27-34 pg
32-36 g/dl
10-16 %
7-11 mikro m3
0.2-0.5
10-18
3-5
1-3

70-110 mg/dl
10-50 mg/dl
0.62-1.1 mg/dl
0-50 IU/L
0-50 IU/L
NON REAKTIF

Diagnosis Kerja
Appendisitis akut
Penatalaksanaan
-

Infus RL 20 tpm

Ciprofloxacin 2 x 1

Asam mefenamat 3 x 1

Konsul Sp.B untuk dilakukan operasi

1.2.

Appendiktomi Inj. Cefotaxim 1 jam pre Op.

Prognosis

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

Quo ad sanationam

: bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Anatomi Apendiks
Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang 6-10 cm dan
berpangkal pada caecum. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada
bagian distal. Apendiks Vermiformis merupakan derivat dan evolusi dari caecum. Apendiks
5

tersusun dari jaringan limfoid dan merupakan

bagian integral dari GALT (Gut-Associated

Lymphoid Tissue). Pada bayi, apendiks tampak sebagai divertikulum berbentuk seperti kerucut,
terletak pada ujung inferior dari caecum. Dengan tumbuh kembang bayi dan perkembangan dari
caecum maka apendiks terletak pada sisi kiri dan dorsal 2,5 cm dari katub ileocaecal. Selama
anak-anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi masih

dalam

intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu dipersambungan caecum dan
bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi apendiks. Posisi apendiks terbanyak
adalah retrocaecal (65%) lalu menyusul pelvic (31%), paracolica (2%), preileal (1%), dan
postileal (1%).
Dinding apendiks terdiri dari semua lapisan dinding usus, tiga taenia coli membentuk
lapisan luar dari lapisan muskulus longitudinal. Pertemuan ketiga taenia coli merupakan letak
basis apendiks dan merupakan petunjuk posisi apendiks, yaitu dengan menelusuri ketiga taenia
yang terdapat pada caecum (dan colon), yaitu taenia colica, taenia libera, dan taenia omental.
Pada 65% apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks
bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada
kasus selebihnya apendiks terletak retroperitoneal yaitu dibelakang sekum, di belakang kolon
asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.
Pada posisi yang lazim, apendiks terletak pada region abdomen kanan bawah di titik
McBurney. Titik McBurney dicari dengan menarik garis dari spina iliaca anterior superior
(SIAS) kanan ke umbilicus. Titik sepertiga lateral garis ini merupakan tempat pangkal apendiks.
Dasar apendiks muncul dari sisi posteromedial caecum dimana tiga taenia coli bertemu. Menurut
Helmut (1988) Posisi apendiks sangat bervariasi, sehingga kemungkinan sulit untuk menentukan
posisi normal apendiks.

Gambar 1. Variasi Posisi Appendiks

Apendiks mendapat aliran darah dari arteri apendikularis yang merupakan cabang
langsung dari arteri ileocolica. Vena berasal dari vena ileocolica dan akan kembali ke vena
mesenterika superior. Arteri appendicularis tidak memiliki kolateral sehingga ketika terjadi
oklusi apapun penyebabnya, maka mudah terjadi iskemia dan gangren, hingga akhirnya
perforasi.
Persyarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri
mesenterika superior, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. torakalis X. Karena itu nyeri
visceral pada apendisitis bermula dari umbilikus. Arteri apendiks termasuk end arteri. Apendiks
memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus limfe ileocaecal.
Perdarahan apendiks berasal dari a. apendikularis yang merupakan arteri kolateral. Jika arteri ini
tersumbat misalanya karena trombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangren.
II.2. Fisiologi Apendiks
Organ apendiks pada awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai
fungsi. Tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan
secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh). Immunoglobulin
sekretoal merupakan zat pelindung yang efektif terhadap infeksi (berperan dalam sistem imun).
Dan immunoglobulin yang banyak terdapat di dalam apendiks adalah Ig-A. Namun demikian,
adanya pengangkatan terhadap apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. Ini
dikarenakan jumlah jaringan limfe yang terdapat pada apendiks kecil sekali bila dibandingkan
dengan yang ada pada saluran cerna lain.
Apendiks mengeluarkan cairan yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin, dan
musin. Apendiks terdiri dari membran mukosa tanpa adanya lipatan. Vili usus tidak dijumpai
pada bagian ini. Apendiks mengandung sel epitel kolumnar dengan sel goblet yang
mensekresikan mukus. Muskularis terdiri atas berkas-berkas longitudinal dan sirkular. Meskipun
strukturnya sama dengan usus besar, apendiks mengandung lebih sedikit kelenjar usus, yang
lebih pendek, dan tak memiliki taenia coli.
Apendiks menghasilkan lendir 1 2 ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke
dalam lumen dan selanjutnya dialirkan ke sekum. Jika terjadi hambatan maka akan terjadi
patogenesa apendisitis akut. GALT (Gut Assoiated Lymphoid Tissue) yang terdapat pada

apendiks menghasilkan Ig-A. Namun, jika apendiks diangkat, tidak ada mempengaruhi sistem
imun tubuh karena jumlahnya yang sedikit sekali.
II.3 Definisi Apendisitis
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2000).
Sedangkan menurut Smeltzer C. Suzanne (2001), Apendisitis adalah penyebab paling umum
inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen dan merupakan penyebab paling
umum untuk bedah abdomen darurat. Jadi, dapat disimpulkan apendisitis adalah kondisi dimana
terjadi infeksi pada umbai apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering
terjadi.
Apendisitis kronis merupakan lanjutan appendisitis akut supuratif sebagai proses radang
yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi
parsial terhadap lumen. Diagnosa apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik appendiks
secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal, sub
mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan
eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak
dilatasi.
II.4 Klasifikasi Apendisitis
Klasifikasi Apendisitis ada 2, yaitu :
1

Apendisitis Akut, dibagi atas :


a

Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur
lokal.

Apendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.

Apendisitis akut dalam 48 jam dapat menjadi :

Sembuh

Kronik

Perforasi

Infiltrat

Apendisitis kronis, dibagi atas :


a

Apendisitis kronis fokalis atau parsial, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur
lokal.

Apendisitis kronis obliteritiva, yaitu appendiks miring dimana biasanya ditemukan


pada usia tua.

II.5 Etiologi Apendisitis


Apendisitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat:

Hiperplasia dari folikel limfoid.

Adanya fekalit dalam lumen appendiks.

Tumor appendiks.

Adanya benda asing seperti cacing askariasis.

Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica.


Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat

akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan appendiksitis. Hal tersebut akan
meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan
meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.
10

II.6 Patofisiologi Apendisitis


Patologi apendisitis dapat dimulai dimukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan
dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi
proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus atau adneksa sehingga
terbentuk masa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks.
Didalamnya dapat terjadi proses nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.
Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi
tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk
jaringan parut yang akan menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan
ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat
meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut.

Perjalanan penyakit apendisitis:


Apendisitis akut fokal (peradangan local)

Apendisitis supuratif (pembentukan nanah)

Apendisitis Gangrenosa (kematian jaringan apendiks)

11

Perforasi (bocornya dinding apendiks)

Peritonitis
II.7 Gejala Apendisitis
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar
(nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini
biasanya disertai dengan rasa mual muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun.
Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney.
Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik
setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat
konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap
berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai
dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.2,3,4
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari
apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala
yang timbul tersebut.2,4
Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh
sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan
peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan
seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi
m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala dan
tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan
menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya (Sjamsuhidajat, De Jong,
2004).
Gambaran klinis apendisitis akut
- Tanda awal nyeri mulai di epigastrium atau region umbilikalis disertai mual dan anoreksia.
- Nyeri pindah ke kanan bawah menunjukkan tanda rangsangan peritoneum lokal dititik
McBurney.

Nyeri tekan
12

Nyeri lepas

Defans muskuler

- Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung:

Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (rovsing sign).

Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg sign).

Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak, seperti bernafas dalam, berjalan, batuk,
mengedan.

Gejala klinis Apendisitis Kronik:


1. Reccurent/Interval Appendicitis:

Penyakit sudah berulang ulang dan ada interval bebas.

Biasanya pada anamnesa ada appendicitis acuta kemudian sembuh, setelah


beberapa lama kumat lagi tapi lebih ringan.

Gejala utama dari kumat kesatu dan kedua dalah gejala dispepsia (diare, mual,
tidak nafsu makan). Pemeriksaan klinis: Nyeri di titik Mc Burneys tapi tidak ada
defense.

2. Reccurent Appendicular Colic:

Ada obstruksi pada lumen appendixnya.

Gejala utama: kolik, tetapi tidak ada panas. Kolik disekitar umbilicus/ ke arah
lateral/ epigastrium.
Pemeriksaan fisik: Nyeri tekan di Appendix

II.8

Pemeriksaan Apendisitis
Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,50C. bila suhu lebih tinggi,

mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksiler dan rectal sampai 10C.
pada inspeksi perut tidak didapatkan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita
dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses
periapendikuler.

13

Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliakan dekstra, bisa disertai
nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan
perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan
dirasakan nyeri diperut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing. Pada apendisitis retrosekal
atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.
Karena terjadi pergeseran sekum ke kraniolatodorsal oleh uterus, keluhan nyeri pada
apendisitis sewaktu hamil trisemester II dan III akan bergeser ke kanan sampai ke pinggang
kanan. Tanda pada kehamilan trisemester I tidak berbeda pada orang dengan tidak hamil Karena
itu perlu dibedakan apakah keluhan nyeri berasal dari uterus atau dari apendiks. Bila penderita
miring ke kiri, nyeri akan berpindah sesuai dengan pergeseran uterus, terbukti proses bukan
berasal dari apendiks.
Peristaltik usus sering normal; peristaltik dapat hilang akibat ileus paralitik pada
peritonitis generalisata akibat apendisitis perforasi. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri
bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika.
Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan maka kunci diagnosis adalah nyeri
terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan
pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan.
Bila apendiks yang meradang menempel di m.psoas mayor, tindakan tersebut akan menyebabkan
nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan
m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endotorsi endi
panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendiksitis pelvika.
II.9 Diagnosis Apendisitis
Pada anamnesis penderita akan mengeluhkan nyeri atau sakit perut. Ini terjadi karena
hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh saluran cerna, sehingga nyeri
viseral dirasakan pada seluruh perut. Muntah atau rangsangan viseral akibat aktivasi n.vagus.
Obstipasi karena penderita takut untuk mengejan. Panas akibat infeksi akut jika timbul
komplikasi. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, antara 37,5-38,5 C. Tetapi jika
suhu lebih tinggi, diduga sudah terjadi perforasi.

14

Pada pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan membungkuk sambil
memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi perforasi, dan penonjolan perut bagian
kanan bawah terlihat pada apendikuler abses.
Pada palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung. Palpasi dinding
abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan, dimulai dari tempat yang jauh dari
lokasi nyeri. Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah:

Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan
bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.

Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness (nyeri lepas tekan)
adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan
setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan dalam di titik Mc. Burney.

Defens muskuler (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis. Defence muscular adalah
nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan
peritoneum parietale.

Rovsing sign (+). Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila
dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya
nyeri lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.

Psoas sign (+). Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh
peradangan yang terjadi pada apendiks.

Obturator sign (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut
difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut
menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium.
Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok. Auskultasi akan terdapat peristaltik normal,

peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat apendisitis
perforata. Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis, tetapi
kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus. Pada pemeriksaan
colok dubur (Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9-12
15

Foto barium kurang dapat dipercaya. USG bisa meningkatkan akurasi diagnosis.
Demikian pula laparoskopi pada kasus yang meragukan.
Selain itu, untuk mendiagnosis apendisitis juga dapat digunakan skor Alvarado, yaitu:
Skor
Migrasi nyeri dari abdomen sentral ke fossa

iliaka kanan
Anoreksia

Mual atau Muntah

Nyeri di fossa iliaka kanan

Nyeri lepas

Peningkatan temperatur (>37,5C)

Peningkatan jumlah leukosit 10 x 109/L

Neutrofilia dari 75%

Total

10

Tabel 1. Skor Alvarado


II.10 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis apendisitis akut. Pada
kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi.
Radiologi terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada

pemeriksaan

ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks.
Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit
serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.
II.11 Penatalaksanaan Apendisitis
16

Pengobatan tunggal yang terbaik untuk apendiks yang sudah meradang/apendisitis akut
adalah dengan operasi appendektomi. Pasien biasanya telah dipersiapkan dengan puasa antara 4
sampai 6 jam sebelum operasi dan dilakukan pemasangan cairan infus agar tidak terjadi
dehidrasi. Pembiusan akan dilakukan oleh dokter ahli anastesi dengan pembiusan umum atau
spinal/lumbal. Pada umumnya, teknik konvensional operasi pengangkatan usus buntu dengan
cara irisan pada kulit perut kanan bawah di atas daerah apendiks (Sanyoto, 2007).
Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif
dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa nasogastrik perlu dilakukan sebelum
pembedahan (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Alternatif lain operasi apendiks yaitu dengan cara bedah laparoskopi. Operasi ini
dilakukan dengan bantuan video camera yang dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas
dapat melihat dan melakukan appendektomi dan juga dapat memeriksa organ-organ di dalam
perut lebih lengkap selain apendiks. Keuntungan bedah laparoskopi ini selain yang disebut
diatas, yaitu luka operasi lebih kecil, biasanya antara satu dan setengah sentimeter sehingga
secara kosmetik lebih baik (Sanyoto, 2007).
TEKNIK APENDIKTOMI McBurney

Pasien berbaring terlentang dalam anastesi umum ataupun regional. Kemudian dilakukan

tindakan asepsis dan antisepsis pada daerah perut kanan bawah.


Dibuat sayatan menurut Mc Burney sepanjang kurang lebih 10 cm dan otot-otot dinding perut
dibelah secara tumpul menurut arah serabutnya, berturut-turut m. oblikus abdominis
eksternus, m. abdominis internus, m. transverses abdominis, sampai akhirnya tampak

peritoneum.
Peritoneum disayat sehingga cukup lebar untuk eksplorasi.
Sekum beserta apendiks diluksasi keluar.
Mesoapendiks dibebaskan dan dipotong dari apendiks secara biasa, dari puncak ke arah basis.
Semua perdarahan dirawat.
Disiapkan tabac sac mengelilingi basis apendiks dengan sutra, basis apendiks kemudian

dijahit dengan catgut.


Dilakukan pemotongan apendiks apical dari jahitan tersebut.
Puntung apendiks diolesi betadine
Jahitan tabac sac disimpulkan dan puntung dikuburkan dalam simpul tersebut. Mesoapendiks
diikat dengan sutra.
17

Dilakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum dan alat-alat didalamnya, semua

perdarahan dirawat.
Sekum dikembalikan ke abdomen.
Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan minimal 4 klem dan didekatkan untuk
memudahkan penutupannya. Peritoneum ini dijahit jelujur dengan chromic catgut dan otototot dikembalikan.

18

19

20

II.12 Komplikasi Apendisitis


Beberapa komplikasi yang dapat terjadi :
Perforasi
Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi. Perforasi
appendix akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri
makin hebat meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan
defans muskuler di seluruh perut, peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus
paralitik.
Peritonitis
Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk
akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari apendisitis. Bila
bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya
peritonitis generalisata. Dengan begitu, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus
paralitik, usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam
lumen usus menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan mungkin syok. Gejala :
demam, lekositosis, nyeri abdomen, muntah, Abdomen tegang, kaku, nyeri tekan, dan bunyi usus
menghilang (Price dan Wilson, 2006).
Massa Periapendikuler
Hal ini terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh
omentum. Umumnya massa apendix terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila
tidak terjadi peritonitis generalisata. Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif
ditandai dengan keadaan umum masih terlihat sakit, suhu masih tinggi, terdapat tanda-tanda
peritonitis, lekositosis, dan pergeseran ke kiri. Massa apendiks dengan proses meradang telah
mereda ditandai dengan keadaan umum telah membaik, suhu tidak tinggi lagi, tidak ada tanda
peritonitis, teraba massa berbatas tegas dengan nyeri tekan ringan, lekosit dan netrofil normal.
2.13 Prognosis Apendisitis
Apendiktomi yang dilakukan sebelum perforasi prognosisnya baik. Kematian dapat
terjadi pada beberapa kasus. Setelah operasi masih dapat terjadi infeksi pada 30% kasus apendiks
perforasi atau apendiks gangrenosa.

21

BAB III
AFTER CARE PATIENT

III.1.Definisi After Care Patient (ACP)


After Care Patient (ACP) adalah pelayanan yang terintegritas dengan meninjau ke
lingkungan demi menjamin kesembuhan pasien dengan melihat permasalahan yang ada
pada pasien dan mengidentifikasi fungsi dalam anggota keluarga serta memberikan
edukasi kepada pasien mengenai hidup sehat.
III.2. Tujuan After Care Patient (ACP)
Tujuan untuk dilakukan after care patient selain untuk melihat perkembangan
pasien dalam pengelolaan pengobatan pasien dan kesembuhan pasien.
III.3. Permasalahan Pasien
III.3.1. Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga
a. Fungsi Biologis dan Reproduksi
Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa saat ini semua anggota
keluarga kecuali pasien dalam keadaan sehat. Anggota keluarga lain tidak
memiliki riwayat penyakit khusus. Pasien adalah seorang perempuan berusia 25
tahun yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
b. Fungsi Psikologis
Hubungan pasien dengan anggota keluarganya baik. Pasien sehari-hari
bekerja di bagian accounting staff PT. Ara Shoes Indonesia.
c. Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah lulusan SMA.
d. Fungsi Sosial
Pasien tinggal di kawasan perumahan dengan tipe tempat tinggal yang sama
warga lainnya. Pergaulan umumnya berasal dari kalangan menengah dan
hubungan sosial dengan warga cukup erat. Pasien cukup dikenal dilingkungan
rumahnya tetapi terbatas hanya pada lingkungan terdekat saja.
e. Fungsi Religius
Agama yang dianut pasien adalah Islam.
22

III.3.2.Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan


a. Faktor Perilaku
Jika ada anggota keluarga yang sakit, pasien dan keluarga langsung berobat
ke rumah sakit. Pasien merupakan karyawan tetap PT. Ara Shoes Indonesia
sehingga memiliki jaminan sosial tenaga kerja (JAMSOSTEK) untuk keperluan
kesehatannya.
b. Faktor Non Perilaku
Sarana kesehatan di sekitar rumah relatif dekat. Rumah sakit dapat ditempuh
dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.
III.3.3. Identifikasi Lingkungan Rumah
Pasien tinggal di kawasan perumahan. Pasien tinggal bersama kedua orang
tua, seorang kakak dan seorang adik. Kawasan perumahan pasien merupakan
kawasan biasa yang dekat dengan jalan raya. Rumah pasien berdinding tembok
dengan lantai keramik dan atap genteng. Memiliki empat kamar tidur, satu ruang
tamu, dapur dan dua kamar mandi. Kebersihan dan kerapian rumah termasuk
dalam penilaian baik.
III.3.4. Diagnosis Fungsi-Fungsi Keluarga
a.

Fungsi Biologis
Pasien perempuan berusia 25 tahun dengan keluhan nyeri pinggang kanan

bagian bawah.
b.

Fungsi Psikologis
Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga cukup baik.

c.

Fungsi sosial dan budaya


Dapat bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar dengan baik.

d.

Faktor perilaku
Apabila ada anggota keluarga yang sakit, pasien berobat ke sarana kesehatan

terdekat.
e.

Faktor nonperilaku

Sarana pelayanan kesehatan dekat dari rumah (Rumah Sakit).


III.4. Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga

23

III.5. Risiko, Permasalahan dan Rencana Pembinaan Kesehatan Keluarga


Risiko dan Masalah
Kesehatan
Appendisitis

Rencana pembinaan
Edukasi mengenai cara perawatan bekas
OP serta memberitahu pola makan dan

Sasaran
Pasien dan
keluarga

minum yang baik kepada pasien.

III.6.Hasil Kegiatan
Tanggal
25/2/14

Subjektif

Objektif

Nyeri pada

KU: sakit ringan

Assesment

Planning

Appendisitis Edukasi untuk tidak


24

lokasi post

Kesadaran : compos

OP (+), Mual
(+), Sakit

mentis
Tanda vital

(Post

banyak bergerak

Appendiktomi

terlebih dahulu untuk

H1)

kepala (-),

TD : 120/80 mmHg

mempercepat proses

demam (-),

Nadi: 80x/menit

penyembuhan luka.

Muntah (-)

Suhu: 36,70C

1x24 jam setelah


operasi dibolehkan

Nyeri tekan pada

untuk makan dan

sekitar lokasi post


26/2/14

membantu

Nyeri pada

op (+)
KU: baik

lokasi post

Kesadaran : compos

OP (+),Mual
(-), Sakit

mentis

minum
Appendisitis Edukasi pasien
(Post
Appendiktomi
H2)

dibolehkan untuk
miring ke kanan dan
ke kiri, tetapi belum

Tanda vital

kepala (-),

TD:120/70 mmHg

dibolehkan untuk

demam (-),

Nadi:80x/menit

duduk / bangun.

Muntah (-)

Suhu: 36,50C
Nyeri tekan pada
sekitar lokasi post op
(+)

27/2/14

Nyeri pada

KU: baik

lokasi post

Kesadaran : compos

OP (+)
semakin

mentis
Tanda vital

berkurang,

TD : 125/75 mmHg

Mual (-),

Nadi: 88x/menit

Sakit kepala

Suhu: 36,60C

Appendisitis Edukasi pasien


(Post
Appendiktomi
H3)

dipersilakan untuk
duduk, bangun, dan
melatih diri untuk bisa
jalan ke kamar kecil.

(-),demam(-) Nyeri tekan pada


, Muntah (-)
sekitar lokasi post
28/2/14

Nyeri pada

op (-)
KU: baik

Appendisitis Pasien dibolehkan


25

lokasi post

Kesadaran : compos

OP (+)
minimal,

mentis
Tanda vital

(Post

untuk pulang dan

Appendiktomi

melakukan rawat jalan

H4)

Kontrol rutin untuk

Mual (-),

TD:115/70 mmHg

perawatan luka post

Sakit kepala

Nadi:80x/menit

op di poli Bedah

(-),demam(-) - Suhu: 36,50C


, Muntah (-)
Nyeri tekan pada
sekitar lokasi post op
(-)
III.7. Kesimpulan Pembinaan Keluarga
1. Tingkat pemahaman
Pemahaman terhadap edukasi yang dilakukan cukup baik.
2. Faktor penyulit
Tidak ada
3. Indikator keberhasilan
a. Pasien rajin kontrol atau memanggil perawat atau ke sarana pelayanan
kesehatan terdekat untuk mengganti balut sehingga luka bekas OP lebih bersih

26