Você está na página 1de 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia.
Produktivitas dan aktivitas seseorang dipengaruhi oleh kondisi kesehatan orang
tersebut. Dengan kesehatan orang dapat berpikir dengan baik dan dapat
melakukan aktivitas secara optimal. Ketika kesehatan seseorang terganggu,
mereka akan melakukan berbagai cara untuk dapat sehat kembali. Salah satunya
adalah dengan cara berobat dan mendapatkan tindakan kedokteran di saranasarana pelayanan kesehatan yang tersedia seperti puskesmas, klinik, dan rumah
sakit.

Setiap tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi harus


mendapat persetujuan dari pasien/keluarga pasien. Persetujuan tindakan
tersebut dikenal dengan Persetujuan Tindakan Kedokteran atau dalam dunia
kedokteran sering disebut sebagai Informed Consent.
Informed artinya telah diberitahukan, disampaikan atau diinformasikan.
Consent artinya persetujuan yang diberikan kepada seseorang untuk berbuat
sesuatu. Dengan demikian, Informed Consent adalah persetujuan yang
diberikan pasien kepada dokter setelah diberi penjelasan.
Dalam permenkes 585/Men.Kes/Per/ IX/1989 tentang persetujuan medik
pasal 6 ayat 1 sampai 3 disebutkan bahwa yang memberikan informasi dalam
hal tindakan bedah adalah dokter yang akan melakukan operasi, atau bila tidak
ada, dokter lain dengan pengetahuan atau petunjuk dokter yang bertanggung
jawab. Dalam hal tindakan yang bukan bedah (operasi) dan tindakan invasif
lainnya, informasi dapat diberikan oleh dokter lain atau perawat, dengan
pengetahuan atau petunjuk dokter yang bertanggung jawab.
Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 1996
tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 disebutkan bagi tenaga kesehatan
jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk
diantaranya adalah kewajiban untuk menghormati hak pasien, memberikan
informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan,

dan kewajiban untuk meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan


dilakukan.
Di Indonesia informed consent dalam pelayanan kesehatan dulunya
diatur oleh Peraturan Menteri kesehatan Nomor No.585/Menkes/Per/IX/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medik yang kemudian di cabut menjadi
Peraturan

Menteri

290/Menkes/Per/III/2008

Kesehatan
tentang

republik
Persetujuan

(Permenkes Pertindok) (Yosephine, 2011).


B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan informed consent?
2. Apa tujuan dari informed consent?
3. Bagaimana pemberian informed consent?
4. Bagaimana model informed consent?
5. Apa dasar hukum informed consent?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui informed consent.
2. Untuk mengetahui tujuan informed consent.
3. Untuk mengetahui pemberian informed consent.
4. Untuk mengetahui model informed consent.
5. Untuk mengetahui dasar hukum informed consent.

Indonesia
Tindakan

nomor
Kedokteran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Informed Consent
Dalam istilah bahasa Indonesia informed consent diterjemahkan sebagai
persetujuan tindakan medik, yang terdiri dari dua suku kata bahasa Inggris,
yaitu informed dari kata dasar inform yang bermakna informasi, dan consent
berarti persetujuan. Informed consent dapat diartikan sebagai persetujuan yang
diberikan seorang pasien kepada dokter atas suatu tindakan medik yang akan
dilakukan, setelah mendapatkan informasi yang jelas akan tindakan tersebut.
(J Guwandi, 1995).
Menurut Permenkes

No.585/Menkes/Per/IX/1989,

PTM

berarti

persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan


mengenai tindakanmedik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Dari
pengertian diatas PTM adalah persetujuan yang diperoleh sebelum melakukan
pemeriksaan, pengobatan atau tindakan medik apapun yang akan dilakukan.
Menurut Permenkes 290/Menkes/Per/III/2008 persetujuan tindakan
kedokteran atau informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarga terdekat setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap
mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
terhadap pasien.

Tindakan kedokteran merupakan tindakan medis berupa

preventif, diagnostik, terapeutik atau rehabilitative.


Di Indonesia perkembangan informed consent ditandai dengan munculnya
persyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui SK PB-IDI No.
319/PB/A.4/88 tahun 1988 tentang informed consent kemudian dipertegas lagi
dengan Permenkes No. 585 Tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik
kemudian diubah dengan PerMenkes No. 290 tahun 2008 tentang Persetujuan
Tindakan Dokter.

B. Tujuan informed consent


Tujuan informed consent menurut J. Guwandi adalah:

1. Melindungi pasien terhadap segala tindakan medis yang dilakukan tanpa


sepengetahuan pasien. Misalnya hendak dilakukan prosedur medis yang
sebenarnya tidak perlu dan tanpa ada dasar medisnya.
2. Memberikan perlindungan hukum kepada dokter terhadap akibat yang
terduga dan bersifat negative. Misalnya terhadap risk of treatmentI yang
tidak mungkin dihindari, walaupun sang dokter telah berusaha sedapat
mungkin dan bertindak sangat hati-hati dan teliti. Contoh lain adalah error
of judgment.
C. Pemberian Informed Consent
1. Persetujuan
Tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi adalah tindakan
medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan
kematian atau kecacatan. Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan
terhadap pasien harus mendapatkan persetujuan. Ada 2 bentuk persetujuan
yaitu: Implied consent (tidak dinyatakan) dan Expressed consent
(dinyatakan) (Wardhani, 2014). Implied consent pasien tidak menanyakan,
baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku yang
menunjukkan jawaban. Consent ini tidak memiliki bukti namun consent
jenis inilah yang paling banyak dilakukan, misalnya pasien yang diambil
darahnya. Expressed consent secara umum persetujuan dalam bentuk ini
terdiri dari persetujuan tertulis dan lisan.
Persetujuan tertulis diberikan apabila setiap tindakan kedokteran
mengandung resiko tinggi dan harus memperoleh persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Tindakan
kedokteran yang mengandung resiko tinggi adalah tindakan medis yang
berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian
atau kecacatan. Persetujuan tertulis dibuat dalam bentuk pernyataan yang
tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk tindakan tersebut.
Persetujuan lisan diberikan terhadap tindakan medik yang tidak
invasif dan tidak mengandung resiko besar dan berbahaya. Persetujuan
lisan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukan

kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju. Apabila persetujuan


lisan dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persertujuan tertulis.
Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan nyawa pasien
dan atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan
kedokteran. Keputusan untuk melakukan tindakan kedokteran diputuskan
oleh dokter dan dicatat didalam rekam medik. Penjelasan sesegera
mungkin diberikan kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada
keluarga terdekat. Orang yang berhak memberikan persetujuan yaitu:
a. Persetujuan diberikan oleh pasien yang kompeten, atau oleh wali, atau
keluarga terdekat atau pengampunya.
b. Persetujuan yang diberikan oleh pasien yang tidak kompeten atau
diragukan kompetensinya tetap dianggap sah, namun dapat dibatalkan
oleh wali, keluarga terdekat atau pengampunya.
Pasien dianggap kompeten bila:
a. Pasien telah berusia 18 tahun atau telah berusia 21 tahun atau telah
menikah
b. Pasien tidak terganggu kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi
secara wajar dan mampu membuat keputusan secara bebas.
c. Pasien tidak mengalami retardasi mental dan tidak mengalami penyakit
mental yang membuatnya tidak mampu membuat keputusan secara
bebas. Pasien dengan gangguan jiwa dapat dianggap kompeten apabila
dia

masih

mampu

mempertahankannya,

memahami
untuk

informasi,

kemudian

mempercayainya,

menggunakannya

dalam

membuuat keputusan yang bebas.


d. Kompetensi pasien harus dinilai dokter pada saat diperlukam
persetujuannya dan apabila meragukan maka harus ditentukan oleh tim
dokter yang kompeten.
2. Penjelasan
Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung
kepada pasien dan atau keluarga terdekat, baik diminta maupun tidak
diminta. Pasien anak-anak atau orang yang tidak sadar, penjelasan
diberikan kepada keluarga atau yang mengantar. Penjelasan diberikan
sekurang-kerangnya mencakup:
a. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran

b.
c.
d.
e.
f.

Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan


Alternative tindakan lain dan resikonya
Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
Perkiraan biaya

Penjelasan diberikan secara lengkap dengan Bahasa yang mudah


dimengerti atau cara lain. Penjelasan didokumentasikan dalam berkas
rekam medis oleh dokter yang memberikan penjelasan dengan mencantum
tanggal, waktu, nama, dan tanda tangan pemberi penjelasan dan penerima
penjelasan. Apabila penejelasan dapat merugikan kepentingan kesehatan
pasien atau pasien menolak diberikan penjelasan, maka dokter dapat
memberikan penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat dengan
didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi. Penjelasan
diberikan oleh dokter yang merawat pasien atau salah satu sokter dari tim
dokter yang merawatnya.

Bila dokter berhalangan untuk memberikan

penjelasan secara langsung, maka pemberian harus didelegasikan kepada


dokter lain yang kompeten. Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu
memberikan penjelasan sesuai dengan kewenangannya yaitu, tenaga
kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung
kepada pasien (Permenkes No. 290 tahun 2008).

D. Model Informed consent


Model sederhana dari informed consent berisi dua aspek informasi dan
pengambilan keputusan. Hal ini dinyatakan dalam dua tahapan, yaitu fase
pemberian pernyataan atau informasi dan fase pengambilan informasi. Dokter
dituntut untuk menyediakan informasi dan memberikan kemungkinan atau
peluang kepada pasien dalam mengambil keputusannya. Sementara pasien
dituntut untuk dapat menerima dan bersifat comprehensive terhadap informasi
yang diberikan serta sikap untuk mengambil keputusan. Ini dapat digambarkan
sebagai berikut:

Tahap penyajian IC
Peryataan informasi

Hak dokter
Memberikan informasi

Pengambilan keputusan

Hak pasien
Mempertimbangkan
keputusan
Mengambil keputusan

Memberikan pertimbangan
terhadap pilihan
Dalam literature ditemukan beberapa pernyataan untuk model-model yang

lain, seperti yang dikembangkan Wear yang membagi informed consent ke


dalam 3 tahapan. Tahapan tersebut adalah:
1. Tahap pernyataan komprehensive
Tujuan tahapan ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada
pasien agar lebih mengerti terhadap perannya sendiri atau mengeluarkan
perasaan ragu-ragu, keberatan, miskonsep atau ingin mendiskusikan
informasi yang diterima lebih lanjut.
Pada tahapan ini pula pasien akan disajikan informasi tentang masalah
atau diagnosis, interfensi yang direkomendasikan atau alternative cara lain
dimana hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap resiko atau manfaat
dan prognosisnya jika interfensi yang ditawarkan dilaksanakan.
2. Tahapan inti
Merupakan tindakan untuk mengcounter informasi yang cinderung
berlebihan pada tahap pertama. Tujuan dari bagian ini adalah untuk
menunjukkan esensi terhadap pilihan yang diambil oleh pasien sesuai
manfaatnya. Tahapan ini akan menjadikan pasien lebih siap untuk
memahami karakteristik tindakan yang dimaksudkan oleh dokter.
3. Penilaian, klarifikasi dan menentukan pilihan
Tahapan ini merupakan bagian yang lebih interaktif dalam
melaksanakan proses informed consent. Hal ini bertujuan agar pasien
dapat membuat pilihan dari informasi yang diberikan. Kemudian
menemukan informasi yang tidak relevan sebagai langkah awal. Dokter
seharusnya tidak hanya memberikan informasi kepada pasien tetapi akan
lebih baik dipastikan juga pasien mengerti akan situasi yang cukup baik
apakah menyetujui atau tidak. pertimbangan seharusnya diberikan apakah
informasi yang diberikan sudah cukup lengkap dan jika hal itu disetujui
oleh pasien maka hal itu diambil sukarela.
Tahap penyajian IC

Hak dokter

Hak pasien

Tahap Komprehensive
Tahap inti

Informasi awal
Diskusi pilihan

Penilaian, klarifikasi,
dan mengambil
keputusan

Periksa menyeluruh dan


kualitas keputusan yang
diambil

Interpretasi informasi
Berpikir tentang
pilihannya
Keputusan akhir:
menyetujui atau tidak

E. Dasar Hukum Informed Consent


Persetujuan tindakan dokter ini diatur dalam Pasal 45 Undang-Undang
No. 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran dan Permenkes No. 290 tahun
2008 tentang Persetujuan Tindakan Dokter, sebagaimana dinyatakan bahwa
setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi terhadap pasien harus
mendapatkan persetujuan. Suatu tindakan pembedahan yang dilakukan tanpa
persetujuan pasien maka dokter dapat dikenai Pasal 351 KUHPidana sebagai
suatu penganiayaan, misalnya dokter mengoperasi tanpa izin pasien atau ahli
anestesi yang membius tanpa izin pasien bisa dikenakan KUHPidana pasal 89,
yaitu membuat orang pingsan atau tidak berdaya yang disamakan dengan
menggunakan kekerasan. Bahkan untuk memeriksa dan mengetuk-ngetuk
badan pasien (melakukan perkusi) pun diperlukan persetujuan, karena hal itu
berarti sudah menyentuh hak milik pribadi seseorang. Dokter yang melakukan
tindakan medik tanpa persetujuan dari pasien atau keluarganya dapat
dikenakan sanksi administrative berupa teguran lisan, teguran tertulis, dan
pencabutan Surat Ijin Prakteknya. Untuk sanksi perdatanya dapat digunakan
KUHPerdata pasal 1365 mengenai onrechtmatige daad. Sanksi perdata adalah
dalam bentuk ganti rugi atas cacat atau luka karena adanya perbuatan yang
salah, misalnya krena lalai. Apabila tindakan medik yang dilakukan dokter
tidak sampai menimbulkan kerugian, tidak dapat dijatuhkan sanksi perdata.
F. Contoh informed consent secara tertulis (formulir)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Informed consent diartikan sebagai persetujuan yang diberikan seorang
pasien kepada dokter atas suatu tindakan medik yang akan dilakukan,
setelah mendapatkan informasi yang jelas akan tindakan tersebut.
2. Tujuan informed consent: melindungi pasien terhadap segala tindakan
medis yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasien. Memberikan
perlindungan hukum kepada dokter terhadap akibat yang terduga dan
bersifat negative.
3. Persetujuan diberikan oleh orang yang kompeten yang tidak ada gangguan.
Penjelasan diberikan sekurang-kurangnya mencakup: Diagnosis dan tata
cara tindakan kedokteran, Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan,
Alternative tindakan lain dan resikonya, Resiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi, Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan, Perkiraan
biaya.
4. Model sederhana dari informed consent berisi dua aspek informasi dan
pengambilan keputusan.
5. Persetujuan tindakan dokter ini diatur dalam Pasal 45 Undang-Undang No.
29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran dan Permenkes No. 290 tahun
2008 tentang Persetujuan Tindakan Dokter
B. Saran
Pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu diperlukan
kritik dan saran yang dapat membangun untuk kemajuan pembuatan makalah
ini.

DAFTAR PUSTAKA
J, Guwandi. 1995. Persetujuan tindakan medik (informed consent). Jakarta:FKUI
Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 Tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan
Medik.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008 tentang Persetujuan Tindakan
Dokter.
Wardhani, Ida Ayu Sri kusuma. 2014. Implementasi Persetujjuan Tindakan
Kedokteran (Informed Consent) Dalam Perjanjian Terapeutik oleh
Tenaga Kesehatan Terhadap Pasien Rumah Sakit di Provinsi Bali.
Pasca sarjana Bali: Universitas Udayana.
Yoshepine, Gloria Gomgom. 2011. Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran
(Informed Consent) di RSUP DR. M. Djamil Padang. Fakultas
Hukum: Universitas Andalas.