Você está na página 1de 153

Asuhan Keperawatan Kanker Hepar

23 May

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi Kanker Hepar

Kanker hepar atau kanker hati (hepatocellular carcinoma) adalah suatu kanker yang timbul dari
hati. Ia juga dikenal sebagai kanker hati primer atau hepatoma. Hati terbentuk dari tipe-tipe sel
yang berbeda (contohnya, pembuluh-pembuluh empedu, pembuluh-pembuluh darah, dan sel-sel
penyimpan lemak). Bagaimanapun, sel-sel hati (hepatocytes) membentuk sampai 80% dari
jaringan hati. Jadi, mayoritas dari kanker-kanker hati primer (lebih dari 90 sampai 95%) timbul
dari sel-sel hati dan disebut kanker hepatoselular (hepatocellular cancer) atau Karsinoma
(carcinoma).

2. Etiologi

Penyebab dari Ca. Hepar yaitu

Cerosis Hepatis
Virus Hepatitis B dan Hepatitis C
Kontak dengan racun kimia tertentu (misalnya : ninil klorida, arsen)
Kebiasaan merokok
Kebiasaan minum minuman keras (pengguna alkohol)
Aftatoksik atau karsinogen dalam preparat herbal
Nitrosamin

3. Patofisiologi

Berdasarkan etiologi dapat dijelaskan bahwa Virus Hepatitis B dan Hepatitis C, Kontak dengan
racun kimia tertentu (misalnya : ninil klorida, arsen), Kebiasaan merokok, Kebiasaan minum
minuman keras (pengguna alkohol), Aftatoksik atau karsinogen dalam preparat herbal, dan
Nitrosamin dapat menyebabkan terjadinya peradangan sel hepar.

Beberapa sel tumbuh kembali dan membentuk nodul yang menyebabkan percabangan pembuluh
hepatik dan aliran darah pada porta yang dapat menimbulkan hipertensi portal. Hipertensi portal
terjadi akibat meningkatnya resistensi portal dan aliran darah portal karena tranmisi dari tekanan
arteri hepatik ke sistem portal. Dapat menimbulkan pemekaran pembuluh vena esofagus, vena
rektum superior dan vena kolateral dinding perut. Keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan
(hematemesis melena). Perdarahan yang bersifat masif dapat menyebabkan anemia, perubahan
arsitektur vaskuler hati menyebabkan kongesti vena mesentrika sehingga terjadi penimbunan
cairan abnormal dalam perut (acites) menimbulkan masalah kelebihan volume cairan .

Pada waktu yang bersamaan peradangan sel hepar memacu proses regenerasi sel-sel hepar secara
terus menerus (fibrogenesis) yang mengakibatkan gangguan kemampuan fungsi hepar yaitu
gangguan metabolik protein, yang menyebabkan produksi albumin menurun (hipoalbuminenia),
sehingga tidak dapat mempertahankan tekanan osmotik koloid. Tekanan osmotik koloid yang
rendah mengakibatkan terjadinya acites dan oedema. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan
masalah kelebihan volume cairan. Metabolisme protein menghasilkan produk sampingan berupa
amonia bila kadarnya meningkat dalam darah dapat menimbulkan kerusakan saraf pusat (SSP)
yang dapat menimbulkan rangsangan mual dan ensefalopati hepatik.

Kerusakan sel hepar juga mempengaruhi terganggunya metabolisme karbohidrat. Sel hati tidak
mampu menyimpan glikogen sedangkan pemakaian tetap bahkan meningkat akibat proses
radang, menyebabkan depot glikogen di hati menurun. Kurangnya asupan (perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan) akibat anoreksia menyebabkan turunnya produksi energi sehingga timbul
gejala lemas, perasaan sepat lelah yang dapat mengganggu aktivitas. Peradangan hati
menyebabkan pembesaran pada hati yang menimbulkan nyari. Nyeri yang tidak dapat ditoleransi
menimbulkan penurunan nafsu makan, asupan berkurang menyebabkan kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh.

Berdasarkan sumber lain fatofisiologi Ca. Hepar ada yang menjelaskan bahwa :

Hepatoma 75 % berasal dari Sirosis hati yang lama / menahun. Khususnya yang disebabkan
oleh alkoholik dan post nekrotik.
Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat
dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak.
Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke
hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya
untuk keganasan pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan
kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya kanker payudara, paru-paru, uterus, dan
pankreas.
Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor
yang sangat luas, sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi.

4. Patologi

a. Ada 3 type :

1. Type masif tumor tunggal di lobus kanan.

2. Type Nodule tumor multiple kecil-kecil dalam ukuran yang tidak sama.

3. Type difus secara makroskpis sukar ditentukan daerah massa tumor.

b. Penyebarannya :

1. Intrahepatal.

2. Ekstrahepatal.

5. Manifestasi Klinik

Manifestasi dini penyakit keganasan pada hati mencakup tanda-tanda dan gejala seperti
:

Gangguan nutrisi : penurunan berat badan yang baru saja terjadi, kehilangan kekuatan,
anoreksia, dan anemia.
Nyeri abdomen
Pembesaran hati yang cepat
Pada pemeriksaan fisik, palpasi teraba permukaan hati yang ireguler
Gejala ikterus, terjadi jika saluran empedu yang besar tersumbat oleh tekanan nodul
malignan dalam hilus hati.
Acites timbul setelah nodul tersumbat vena porta atau bila jaringan tumor tertanam dalam
rongga peritoneal.

4. Pemeriksaan

Laboratorium:

1)
Darah Lengkap : Hb/Ht dan sel darah merah (SDM) mungkin menurun karena perdarahan
kerusakan SDM dan anemia terlihat dengan hipersplenisme dan defisit besi leukopenia mungkin
ada sebagai akibat hipersplenisme.

2)
Bilirubin serum : meningkat karena gangguan seluler, ketidak mampuan hati untuk
menkonjugasi atau obstruksi bilier.

3) AST (SGOT) / ALT (SGPT), LDH : meningkat karena kerusakan seluler dan mengeluarkan
enzim.

4)

Alkali fosfatase : meningkat karena penurunan ekskresi.

Radiologi :

Ultrasonografi (USG), CT-Scan, Thorak foto, Arteriography, MRI. Dan Laparoskopi

Biopsi jaringan hati.

6. Penatalaksanaan

a.

Penatalaksanaan Non Bedah

Penatalaksanaan atau terapi ini hanya dapat memperpanjang kelangsungan hidup


pasien dan memperbaiki kualitas hidupnya dengan cara mengurangi rasa nyeri serta gangguan
rasa nyaman, namun efek utamanya masih bersifat paliatif. Penatalaksanaan non bedah ini
seperti :

1) Terapi Radiasi

2) Kemoterapi

b.

1)

Penatalaksanaan Bedah

Lobektomi hati

2)

Transplantasi hati

7. Prognosa

Tumor ganas liver memiliki prognosa yang jelek dapat terjadi perdarahan dan akhirnya kematian.
Dan proses ini berlangsung antara 5-6 bulan atau beberapa tahun

B. MANAJEMEN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu prosesyang
sistematis dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan
pasien (Iyer et.al., 1996 dalam Nursalam, 2001 : 17).

Dalam pengumpulan data ada 2 tipe data yang ada pada pengkajian yaitu data subyektif dan data
obyektif (Nursalam, 2001 : 19).

Data Subyektif

Data Subyektif adalah data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu pendapat terhadap suatu
situasi dan kejadian. Data subyektif sering didapatkan dari riwayat keperawatan termasuk
persepsi pasien, perasaan dan ide tentang status kesehatan (Nursalam, 2001 : 19).

Data Subyektif yang biasanya muncul pada pengkajian dengan Ca. Hepar adalah

Keluhan berupa nyeri abdomen, kelemahan dan penurunan berat badan, anoreksia, rasa penuh
setelah makan terkadang disertai muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang penderita
mengeluh nyeri tulang.

Data Obyektif adalah dan diukurata yang dapat diobservasi dan diukur (Iyer, et.al., 1996,
dalam Nursalam, 2001 : 19). Data Obyektif yang dapat dikaji pada pasien dengan Ca. Hepar
adalah : penurunan tonus otot, distensi abdomen (hepatomegali, Splenomegali, asites),
penurunan BB atau peningkatan (cairan), edema, kulit kering, ikterik, ensefalopati hepatik,
takipnea, demam, hipoksia, pernapasan dangkal, perubahan mental, ekspansi paru terbatas,
peningkatan suhu tubuh, dan sebagainya.

Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan :

1. Ascites

2. Ikterus

3. Hipoalbuminemia

4. Splenomegali, Spider nevi, Eritoma palmaris, Edema.

Secara umum pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus kanker hati, meliputi :

1. Gangguan metabolisme

2. Perdarahan

3. Asites

4. Edema

5. Hipoproteinemia

6. Jaundice/icterus

7. Komplikasi endokrin

8. Aktivitas terganggu akibat pengobatan

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa yang dapat muncul pada pasien dengan Ca. Hepar yaitu :

Tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia, mual, gangguan absorbsi,


metabolisme vitamin di hati.
Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites ).
Intoleransi aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan
Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus,edema dan asites

III. RENCANAAN KEPERAWATAN

Rencana keperawatan merupakan langkah ketiga dalam proses keperawatan yang terdiri
dari tiga tahap yaitu menetapkan prioritas diagnosa keperawatan, menentukan tujuan dan
merumuskan intervensi keperawatan.

Adapun rencana keperawatan pada pasien dengan Ca. Hepar adalah.

a.
Tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia, mual, gangguan absorbsi,
metabolisme vitamin di hati.

Tujuan :

1. Mendemontrasikan BB stabil, penembahan BB progresif kearah tujuan dgn


laboratorium dan batas tanda-tanda malnutrisi

normalisasi nilai

2. Penanggulangan pemahaman pengaruh individual pd masukan adekuat .

Intervensi :

1. Pantau masukan makanan setiap hari, beri pasein buku harian tentang makanan
Indikasi
2. Dorong pasien utk makan deit tinggi kalori kaya protein dg masukan cairan

sesuai
adekuat.

Dorong penggunaan suplemen dan makanan sering / lebih sedikit yg dibagi bagi selama

sehari.

3. Berikan antiemetik pada jadwal reguler sebelum / selama dan setelah pemberian agent
antineoplastik yang sesuai .

Rasional :

1. Keefektifan penilaian diet individual dalam penghilangan mual pascaterapi. Pasien harus
mencoba untuk menemukan solusi/kombinasi terbaik.

2. Kebutuhan jaringan metabolek ditingkatkan begitu juga cairan ( untuk menghilangkan


produksi sisa ). Suplemen dapat memainkan peranan penting dlm mempertahankan masukan
kalori dan protein adekuat.

3. Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang
menimbulkan stess.

b. Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites )

Tujuan :

1. Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan


indikasi nyeri.

2. Melaporkan penghilangan nyeri maksimal / kontrol dengan pengaruh minimal


AKS

sesuai

pada

Intervensi :

1. Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi , frekwensi, durasi dan intensitas ( 0-10 ) dan tindakan
penghilang rasa nyeri misalkan berikan posisi yang duduk tengkurap dengan dialas bantal pada
daerah antara perut dan dada.

2. Berikan tindakan kenyamanan dasar misalnya reposisi, gosok punggung.

3. kaji tingkat nyeri / kontrol nilai

Rasional :

1. memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan / keefektifan intervensi

2. meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian

3. kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS.

c. Intoleransi aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan

Tujuan :

1. Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan tubuh.

Intervensi :

1. Dorong pasein untuk melakukan apa saja bila mungkin, misalnya mandi, bangun dari kursi/
tempat tidur, berjalan. Tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan.

2. Pantau respon fisiologi terhadap aktivitas misalnya; perubahan pada TD/ frekuensi jantung /
pernapasan.

3. Beri oksigen sesuai indikasi

Rasional :

1. Meningkatkan kekuatan / stamina dan memampukan pasein menjadi lebih aktif tanpa
kelelahan yang berarti.

2. Teloransi sangat tergantung pada tahap proses penyakit, status nutrisi, keseimbnagan cairan
dan reaksi terhadap aturan terapeutik.

3. Adanya hifoksia menurunkan kesediaan O2 untuk ambilan seluler dan


keletihan.

memperberat

d. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus,edema dan asites

Tujuan :

1. Mengedentifikasi fiksi intervensi yang tepat untuk kondisi kusus.

2. Berpartisipasi dalam tehnik untuk mencegah komplikasi / meningkatkan penyembuhan

Intervensi :

Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker. Perhatikan kerusakan atau perlambatan
penyembuhan
Mandikan dengan air hangat dan sabun

Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada
menggaruk.
Balikkan / ubah posisi dengan sering
Anjurkan pasein untuk menghindari krim kulit apapun ,salep dan bedak kecuali seijin dokter

Rasional :

Efek kemerahan atau reaksi radiasi dapat terjadi dalam area radiasi dapat terjadi dalam area
radiasi. Deskuamasi kering dan deskuamasi kering,ulserasi.
Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit.
Membantu mencegah friksi atau trauma fisik.
Untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit/ jaringan yang tidak perlu.
Dapat meningkatkan iritasi atau reaksi secara nyata.

IV. PELAKSANAAN

Pelaksanaan merupakan langkah keempat dari proses keperawatan dan merupaka wujud nyata
dari rencana keperawatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan pasien akan keperawatan dengan
melaksanakan kegiatan kegiatan sesuai dengan alternatif tindakan yang telah direncanakan.
Pelaksanaan keperawatan sebagai data untuk rencana keperawatan.

V. EVALUASI

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam keperawatan untuk menilai pencapaian tujuan.
Berdasarkan analisis, jika tujuan belum tercapai maka dilakukan perencanaan selanjutnya (P)
sebagai berikut :

Rencana dilanjutkan yang artinya diagnosa tetap berlaku, tujuan atau intervensi masih
memadai.
Direvisi yang artinya diagnosa tetap berlaku, tujuan atau intervensi perlu direvisi.
Diagnosa keperawatan atau kemungkinan menjadi aktual atau bahkan disingkirkan (untuk
diagnosa kemungkinan). Jika diagnosa menjadi aktual maka dibutuhkan perencanaan baru
sehinggadalam planning (P) diuraikan perencanaan yang dimaksud.
Tujuan tercapai maka perencanaan selanjutnya tidak perludilanjutkan, tidak perlu direvisi dan
tidak perlu perencanaan baru.
Rencana semula dipakai lagi, jika dalam analisis ditentukan bahwa masalah atau diagnosa
yang telah teratasi terjadi kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC : Jakarta

Inayah, Iin, 2004, Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan, Edisi
1, Salemba Medika : Jakarta

Nursalam, 2001, Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktek, Edisi 1, Salemba
Medika : Jakarta

Smeltzer, Suzanne C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth,
Edisi 8, EGC : Jakarta

TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN KANKER HATI

1. Pengertian
Karsinoma Hepatoselular merupakan tumor ganas hati primer yang
dermikian pula dengan karsinoma fibrolamelar

berasal dari hepatosit,

dan hepatoblastoma. (Nurdjanah, 2006).

Tumor ganas lainnya kolangioskarsinoma, sistodenokarsinoma, angiosarkoma.


2. Etiologi
Apabila timbul kanker hati biasanya dijumpai pada individu dengan riwayat infeksi hepatitis
B dan C atau penyakit hati kronik, misalnya sirosis, mereka yang juga dikeahui beresiko tinggi
mengidap kanker hati adalah orang yang terpajan ke karsinogen, karsinogen dosis tinggi,
termasuk aflatoksin yang ditemukan pada kacang atau jagung berjamur. Kanker hati primer dapat
berasal dari hepatosit (karsinoma hepatoselular) atau di duktus empedu (kolangiokarsinoma).
Kanker hati sekunder timbul akibat metastasis kanker dari tubuh lain misalnya usus dan
pancreas yang mengalirkan darahnya ke hati melalui vena porta. Kanker hati primer dan
sekunder sering bermetastasi keluar hati, terutama jantung dan paru, karena aliran darah dari hati
mula-mula menyerang kedua organ tersebut, semua jenis kaker hati memiliki prognosis yang
sangat buruk, dengan angka bertahan hidup 5 tahun sekitar 1% (Corwin, 2000).
3. Manifestasi Klinis
Menurut Corwin, (2000) gambaran klinik pasien dengan karsinoma hati adalah sebagai berikut:
a. Nyeri tumpul pada abdomen
b. Perasaan penuh pada abdomen
c. Mual dan muntah
d. Ikterus
e. Anorexia (penurunan nafsu makan dan keengganan tehadap makanan

tertentu

f. Apabila tumor menyumbat saluran empedu, maka dapat terjadi hipertensi porta dan asites,
ikteru akan memburuk dan dapat timbul nyeri kolik
g. Hepatomegali
4. Evaluasi Diagnostik

Diagnosis kanker hati dibuat berdasarkan tanda-tanda dan gejala klinik, riwayat penyakit,
hasil pemeriksaan fisik, laboratorium serta radiology, peningkatan kadar bilirubin,alkali
fosfatase,

asparatat

amino

transferase

(AST)

dapat

terjadi.

Leukositosis,eritrositosis,

hiperkalsemia, hipoglikemia, dan hipokolestrolemia juga dapat terlihat dalam pemeriksaan


laboratorium. Kadar alfa feto protein (AFP) serum yang berfungsi sebagai penanda tumor akan
mengalami kenaikan yang abnormal pada 30 % hingga 40 % penderita kanker hati. Pemeriksaan
radiology, pemindai hati, pemindai CT, USG, MRI, dan laparaskopi menjadio bagian dalam
menegakkan diagnosa dan menentukan derajat dan luas penyakti kanker tersebut.
5. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaanm Non Bedah
Meskipun reseksi tumor hati dapat dilakukan pada beberapa pasien sirosis yang
mendasari keganasan penyakit ini akan meningkatkan resiko pada saat dilakukan pembedahan.
Terapi radiasi dan kemoterapi telah digunakan untuk menangani penyakit malignan hati dengan
derajat keberhasilan yang bervariasi meskipun terapi ini dapat memperpanjang kelangsungan
hidup pasien dan memperbaiki kualitas hidupnya dengan cara mengurangi rasa

nyeri

serta

gangguan rasa nyaman, namun efek utamanya masih bersifat paliatif.


b. Penatalaksanaan Bedah
Lobektomi hati untuk penyakit kanker dapat sukses dikerjakan apabila tumor primer hati
terlokalisir atau pada kasus metastasis, apabila lokasi primernya dapat dieksisi seluruhnya dan
metastasisnya terbatas. Meskipun demikian metastasis ke dalam hati yang bersifat terbatas atau
soliter. Dengan mengandalkan kemampuan sel-sel hati untuk beregenerasi, sebgaian dokter
bedah telah melakukan pengangkatan 90% dariu organ dengan hasil yang baik. Meskipun
demikian, adanya sirosis akan membatasi kemampuan untuk beregenerasi.
6. Hal-HAL yang perlu diperhatikan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi kanker liver yaitu :
a. Mereka yang memiliki sejarah atau riwayat hepatitis kronik pengguna alcohol berlebih,
sirosis, kebiasaan terpapar bahan kimia dan penyakit genetic/ punya keluarga yang kanker hati
harus waspada karena memiliki resiko terkena kanker hati

b. Pemeriksaan fisis secara menyeluruh terutama untuk melihat ada tanda-tanda adanya tuimor
di bagian atas abdomen serta tanda-tanda gangguan liver sperti pembengkakan dan perdarahan
c. Setelah pemeriksaan fisis dilanjutkan dengan tes darah termasuk pemeriksaan kadar darah
lengkap untuk memeriksa adanya anemi dan infeksi
d. Biopsi, satu-satunya cara pasti untuk diagnosa kanker liver
7. Kesimpulan
Liver memang organ yang sangat liat dan kuat, namun jika telah diserang kanker, kondisinya
bisa menurun dengan cepat dan bisa membawa kematian. Setiap pasien dan keluarganya harus
mengetahui masalah ini, sehingga bila melakukan antisipasi dan peraweatan secepatnya,
diagnosa dan perawatan yang cepat bisa menentukan hidup dan matinya pasien. Kanker hati
hanya efektif diatasi denmgan transplantasi, itupun kalau sumber tumornya berasal dari liver
sendiri dan bukan dari daerah sekitarnya/sebaran.

8. Tindakan Keperawatan
Masalah-masalah keperawatan yang perlu ditangani antara lain :
a. Cemas berhubungan dengan hasil pemeriksaan diagnosis, dan prognosisnya.
b. Gangguan rasa nyaman yang berhubungan dengan nyeri, perasat i8nvasif, seperti kemoterapi,
Parasintesis dan biopsy
c. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan sifat penyakit, terap[I dan pemeriksaan.
d. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anorexia asupan
makanan kurang, dan metabolisme tubuh meningkat.
e. Berduka yang berhubungan dengan prognosis penyakit
f. Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan fisik, perubahan peran, dan rasa
tidak berdaya.
g. Ketidakefektifan mekanisme koping yang berhubungan dengan situasi yang menegangkan.
Pasien ini memerlukan bantuan dalam menangani rasa cemas dan takut yang timbul akibat
diagnosis dan prognosis kanker. Pasien perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai sifat

penyakitnya, pemeriksaan diagnosis, dan terapi yang akan dilaksanakan pasien dan keluarga
memerlukan bantuan dalam menangani, baik perubahan fisiologis maupun perubahan
psikososialyang diakibatkan penyakitnya
Read more: http://yayannerz.blogspot.com/2013/02/tinjauan-teoritis-asuhankeperawatan.html#ixzz2kPBo4IOk

KOLITITIS

materi kuliahku
semoga dapat membantu :)

Senin, 03 Juni 2013


ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN PADA
PASIEN DENGAN KOLITIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Feses berdarah, berlendir, dan bernanah adalah tanda-tanda dari terganggunya saluran
pencernaan. Jika ternyata Anda mengalami diare hebat, demam tinggi, dan pendarahan pada saat

buang air besar (BAB), Anda harus waspada. Bisa jadi Anda mengalami radang usus besar
(kolitis ulserativa).
Kolitis ulserativa adalah peradangan akut atau kronik pada kolon (usus besar). Karena
peradangan itu, terjadi kram perut, demam, dan diare berdarah. Peradangan itu dimulai di rektum
atau kolon sigmoid (ujung bawah dari usus besar) dan kemudian menyebar ke sebagian atau
seluruh bagian usus besar. Pada bagian yang meradang akan terjadi pembengkakan. Kolitis di
derita oleh siapa pun dan pada umur berapa pun. Tapi biasanya mulai diderita pada umur 15-30
tahun dan bisa juga di atas 50 tahun.
Kolitis banyak ditemukan di Amerika dan Eropa dengan kondisi penderitaan pasien
makin lama makin berat. Insiden kolitis ulseratif di Amerika utara yaitu 10-12 kasus per 100.000
tiap tahun, onset terjadi pada usia 15-25 tahun, dimana insiden pada wanita lebih besar daripada
laki-laki. Di Asia termasuk Indonesia prevalensi dan insiden kolitis masih rendah namun
cenderung meningkat. Meluasnya penggunaan alat endoskopi membuat pasien kolitis di
Indonesia, lebih banyak ditemukan. Penelitian yang dilakukan salah satu RS di Jakarta
mendapatkan hampir 20% kasus kolitis dari 107 pasien datang dengan keluhan diare kronik non
infeksi. Insiden kolitis ulseratif 6,8% dan penyakit Cohrn 5,5%.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengurangi angka kesakitan dan meningkatkan derajat kesehatan.
2. Tujuan khusus
Memperoleh gambaran mengenai penyakit Kolitis
Mampu mengidentifikasi kasus gangguan sistem pencernaan khususnya
Kolitis sehingga dapat mengatasi masalah keperawatan yang terjadi
Mampu mengenali pengkajian sampai evaluasi yang sering terjadi pada klien dengan
C. Manfaat
Dalam penulisan makalah ini, penulis mengharapkan agar hasil makalah ini dapat dipergunakan
1.

2.

sebagai:
Kegunaan Ilmiah
Sebagai bahan bacaan
Sebagai salah satu tugas akademik
Kegunaan Praktis
Manfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Kolitis
ulseratif dan Apendisitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Komsep teori
1. ANATOMI DAN FISIOLOGI KOLON
Usus besar atau colon berbentuk saluran muscular beronga yang membentang
dari secum hingga canalis ani dan dibagi menjadi sekum, colon (assendens, transversum,
desendens, dan sigmoid), dan rectum. Katup ileosekal mengontrol masuknya kimus ke dalam
kolon, sedangkan otot sfingter eksternus dan internus mengotrol keluarnya feses dari kanalis ani.
Diameter kolon kurang lebih 6,3 cm dengan panjang kurang lebih 1,5 m.
Usus besar memiliki berbagai fungsi, yang terpenting adalah absorbsi air dan
elektrolit. Ciri khas dari gerakan usus besar adalah pengadukan haustral. Gerakan meremas dan
tidak progresif ini menyebabkan isi usus bergerak bolak balik, sehingga memberikan waktu
untuk terjadinya absorbsi. Peristaltik mendorong feses ke rectum dan menyebabkan peregangan
dinding rectum dan aktivasi refleks defekasi.
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam kolon berfungsi mencerna beberapa
bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam kolon juga berfungsi membuat
zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa
penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar.
Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air sehingga
terjadilah diare.
Gerak dan sekresi Kolon Pergerakan kolon terdiri dari kontraksi segmentasi dan
gelombang peristaltik seperti yang terdapat pada usus halus. Kontraksi segmentasi mencampur
isi kolon dan dengan lebih banyak menyentuhkan isi ke mukosa, mempermudah absorbsi.
Gelombang peristaltik mendorong isi ke rektum, walaupun kadang-kadang terlihat antiperistaltik
yang lemah. Kontraksi tipe ke tiga yang terdapat hanya pada kolon adalah mass action
contraction, di mana terdpat kontraksi otot polos yang serentak meliputi daerah yang luas..
Kontraksi ini terjadi pada pars desenden dan sigmoid dan berperan untuk mengosongkan kolon
dengan cepat. Kontraksi ini merupakan kekuatan kontraksi yang jelas waktu defekasi.
Pergerakan kolon dikoordinasi oleh gelombang lambat kolon. Frekuensi
gelombang ini, tidak seperti gelombang pada usus halus, meningkat sepanjang kolon, dari kirakira 2 x / menit pada katup ileocaecal sampai 6 x / menit pada signoid. Sekresi kukus oleh

kelenjar kolon dirangsang oleh kontak antara sel-sel kelenjar dan isi kolon. Tidak ada hubungan
hormonal atau saraf berperan dalam respon dasar sekresi, walaupun beberapa sekresi tambahan
dapat dihasilkan oleh respon reflek lokal melalui nervus pelvicuc dan splanknikus. Tidak ada
enzem pencernaan disekresi dalam kolon.
Absorpsi dalam kolon
Kemampuan absorpsi mukos usus besar sangat besar. Na secara aktif ditransport
keluar kolon, dan air mengikuti osmotik gradier yang ditimbulkan. Terdapat sekresi K , dan HCO
kedalam kolon. Kapasitas absorpsi kolon membuat instalasi rektum merupakan suatu jalan yang
praktis untuk pemberian obat, khususnya anak-anak. Banyak senyawaan, termasuk obat anestesi,
sedatif, transquilizer, dan steroid, diabsorpsi dengan cepat oleh tempat ini. Sebagian air dalam
enema diabsorpsi, dan bila volime enema besar, absorpsi dapat cukup cepat menyebabkan
intoksikasi air. Koma dan kematian yang disebabkan karena intoksikasi air telah dilaporkan
setelah enema dengan air kran pada anak-anak dengan megakolon
2. PENGERTIAN
Kolitis adalah radang pada kolon. Radang ini disebabkan akumulasi cytokine
yang mengganggu ikatan antar sel epitel sehingga menstimulasi sekresi kolon, stimulasi sel
goblet untuk mensekresi mucus dan mengganggu motilitas kolon. Mekanisme ini menurunkan
kemampuan kolon untuk mengabsorbsi air dan menahan feses ( Tilley et al, 1997).
Kolitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain infeksi akut atau kronik
oleh virus, bakteri, dan amoeba, termasuk keracunan makanan. Kolitis dapat juga disebabkan
gangguan aliran darah ke daerah kolon yang dikenal dengan kolitis iskemik. Adanya penyakit
autoimun dapat menyebabkan kolitis, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Cohrn. Kolitis
limfositik dan kolitis kolagenus disebabkan beberapa lapisan dinding kolon yang ditutupi oleh
sel-sel limfosit dan kolagen. Selain itu, kolitis dapat disebabkan zat kimia akibat radiasi dengan
barium enema yang merusak lapisan mukosa kolon, dikenal dengan kolitis kemikal.
Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya kolitis ditinjau dari teori Blum
dibedakan menjadi empat faktor, yaitu: faktor biologi, faktor lingkungan, faktor pelayanan

kesehatan, dan faktor prilaku.


Faktor Biologi: Jenis kelamin: Wanita beresiko lebih besar dibanding laki-laki. Usia: 15-25

tahun, dan lebih dari 50 tahun. Genetik/ familial: Riwayat keluarga dengan kolitis
Faktor Lingkungan: Lingkungan dengan sanitasi dan higienitas yang kurang baik. Nutrisi yang
buruk

Faktor Perilaku: Kegemukan (obesitas). Merokok. Stress / emosi. Pemakaian laksatif yang
berlebihan. Kebiasaan makan makanan tinggi serat, tinggi gula, alkohol, kafein, kacang,
popcorn, makanan pedas. Kurang kesadaran untuk berobat dini. Keterlambatan dalam mencari

pengobatan. Tidak melakukan pemeriksaan rutin kesehatan.


Faktor Pelayanan Kesehatan: Minimnya pengetahuan petugas kesehatan. Kurangnya sarana dan
prasarana yang memadai. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi. Kekeliruan dalam diagnosis
dan terapi. Tidak adanya program yang adekuat dalam proses skrining awal penyakit.
3. ETIOLOGI
Kolitis bisa menjalar ke belakang sehingga menyebabkan proktitis. Penyebab
dari kolitis ada beberapa macam antara lain ( Tilley et al, 1997) :
Infeksi : Trichuris vulpis, Ancylostoma sp, Entamoeba histolytica, Balantidium coli, Giardia
spp, Trichomonas spp, Salmonella spp, Clostridium spp, Campylobacter spp, Yersinia
enterolitica, Escherichia coli, Prototheca, Histoplasma capsulatum, dan Phycomycosis.
Faktor familial/genetik
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih daripada orang kulit hitam dan orang
Cina, dan insidensinya meningkat (3 sampai 6 kali lipat) pada orang Yahudi dibandingkan

dengan orang non Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa dapat


ada predisposisi genetik terhadap perkembangan penyakit ini
Trauma : benda asing, material yang bersifat abrasif.
Alergi : protein dari pakan atau bisa juga protein bakteri.
Polyps rektokolon
Intususepsi ileokolon
Inflamasi : Lymphoplasmacytic, eoshinophilic, granulopmatous, histiocytic
Neoplasia : Lymphosarcoma, Adenocarcinoma
Sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome)

4. KLASIFIKASI
berdasarkan penyebab dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Kolitis infeksi, misalnya : shigelosis, kolitis tuberkulosa, kolitis amebik, kolitis pseudomembran,
kolitis karena virus/bakteri/parasit.
b. Kolitis non-infeksi, misalnya : kolitis ulseratif, penyakit Crohns kolitis radiasi, kolitis iskemik,
kolitis mikroskopik, kolitis non-spesifik (simple colitis).
Pembahasan ini difokuskan pada kolitis infeksi yang sering ditemukan di Indonesia
sebagai daerah tropik, yaitu kolitis amebik, shigellosis, dan kolitis tuberkulosa serta infeksi
E.coli patogen yang dilaporkan sebagai salah satu penyebab utama diare kronik di Indonesia.

5. PATOFISIOLOGI
Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam
tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak
sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita
memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja
yang berdarah dan berlendir.
Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal
atau keras dan kering. Tetapi selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar
lendir yang mengandung banyak sel darah merah dan sel darah putih. Gejala umum berupa
demam,

bisa

ringan

atau

malah

tidak

muncul.

Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak
10-20 kali/hari.
Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang
terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini
tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling
sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah.
Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya
berkurang.Kolitis ulseratif adalah penyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa
kolon dan rectum. Penyakit ini umumnya mengenai orang kaukasia, termasuk keturunan Yahudi.
Puncak insidens adalah pada usia 30-50 tahun. Kolitis ulseratif adalah penyakit serius, disertai

dengan komplikasi sistemik dan angka mortalitas yang tinggi. Akhirnya 10%-15% pasien
mengalami karsinoma kolon.
Kolitis ulseratif mempengaruhi mukosa superfisisal kolon dan dikarakteristikkan dengan adanya
ulserasi multiple, inflamasi menyebar, dan deskuamasi atau pengelupasan epitelium kolonik.
Perdarahan terjadi sebagai akibat dari ulserasi. Lesi berlanjut, yang terjadi satu secara bergiliran,
satu lesi diikuti lesi yang lainnya. Proses penyakit mulai pada rectum dan akhirnya dapat
mengenai seluruh kolon. Akhirnya usus menyempit, memendek dan menebal akibat hipertrofi
muskuler dan deposit lemak.

6. Manifestasi Klinik
Kebanyakan gejala Colitis ulserativa pada awalnya adalah berupa buang air besar
yang lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit perut dan diare
berdarah. Pasien juga dapat mengalami:
a. Anemia
b. Fatigue/ Kelelahan
c. Berat badan menurun
d. Hilangnya nafsu makan
e. Hilangnya cairan tubuh dan nutrisi
f. Lesi kulit (eritoma nodosum)
g. Lesi mata (uveitis)
h. Nyeri sendi
i. Kegagalan pertumbuhan (khususnya pada anak-anak)
j. Buang air besar beberapa kali dalam sehari (10-20 kali sehari)
k. Terdapat darah dan nanah dalam kotoran.
l. Perdarahan rektum (anus).
m. Rasa tidak enak di bagian perut.
n. Mendadak perut terasa mulas.
o. Kram perut.
p. Sakit pada persendian.
q. Rasa sakit yang hilang timbul pada rectum

r. Anoreksia
s. Dorongan untuk defekasi
t. Hipokalsemia
Sekitar setengah dari orang-orang didiagnosis dengan kolitis ulserativa memiliki
gejala-gejala ringan. Lain sering menderita demam, diare, mual, dan kram perut yang parah.
Kolitis ulserativa juga dapat menyebabkan masalah seperti radang sendi, radang mata, penyakit
hati, dan osteoporosis. Tidak diketahui mengapa masalah ini terjadi di luar usus. Para ilmuwan
berpikir komplikasi ini mungkin akibat dari peradangan yang dipicu oleh sistem kekebalan
tubuh. Beberapa masalah ini hilang ket

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Ulcerative colitis (Colitis ulcerosa, UC) adalah suatu bentuk penyakit
radang usus (IBD). Ulcerative colitis adalah suatu bentuk radang usus besar, suatu
penyakit dari usus, khususnya usus besar atau usus besar, yang meliputi
karakteristik bisul, atau luka terbuka, di dalam usus. Gejala utama penyakit aktif
biasanya konstan diare bercampur darah, dari onset gradual. Kolitis ulseratif
,biasanya diyakini memiliki sistemik etiologi yang mengarah ke banyak gejala di
luar usus. Karena nama, IBD sering bingung dengan sindrom iritasi usus besar
( IBS), yang merepotkan, tapi kurang serius, kondisi. Kolitis ulseratif memiliki
kemiripan dengan penyakit Crohn, bentuk lain dari IBD. Kolitis ulseratif adalah
penyakit hilang timbul, dengan gejala diperburuk periode, dan periode yang relatif
gejala-bebas. Meskipun gejala kolitis ulserativa kadang-kadang dapat berkurang
pada mereka sendiri, penyakit biasanya membutuhkan perawatan untuk masuk ke
remisi.
Colitis ulseratif terjadi pada 35-100 orang untuk setiap 100.000 di Amerika
Serikat, atau kurang dari 0,1% dari populasi. Penyakit ini cenderung lebih umum di
daerah utara. Meskipun kolitis ulserativa tidak diketahui penyebabnya, diduga ada
genetik kerentanan komponen. Penyakit ini dapat dipicu pada orang yang rentan

oleh

faktor-faktor

lingkungan.

Meskipun

modifikasi

diet

dapat

mengurangi

ketidaknyamanan seseorang dengan penyakit, kolitis ulserativa tidak diduga


disebabkan oleh faktor-faktor diet. Meskipun kolitis ulserativa diperlakukan seolaholah itu merupakan penyakit autoimun, tidak ada konsensus bahwa itu adalah
seperti itu. Pengobatannya dengan obat anti-peradangan, kekebalan, dan terapi
biologis penargetan komponen spesifik dari respon kekebalan. Colectomy (parsial
atau total pengangkatan melalui pembedahan usus besar) yang kadang-kadang
diperlukan, dan dianggap sebagai obat untuk penyakit.

BAB II
DASAR TEORI
A.Pengertian
Colitis ulserativa merupakan suatu penyakit menahun di usus besar
mengalani peradangan dan luka,yang menyebabkan diare berdarah,kram perut dan
demam.kolitis ulserativa bisa dimulai pada umur berapapun,tapi biasanya dimulai
antara umur 15-30 tahun. tidak seperti crohn,colitis ultrativa tidak selalu
menoengaruhi seluruh ketebalan dari usus dan tidak pernah mengenai usus
halus.penyakit ini biasanya di mulai di rectum atau kolon sigmoid dan akhirnya
menyebar ke sebagian atau seluruh usus besar.Sekitar 10% penderita hanya
mendapat satu kali serangan..
Proktitis ulserativa merupakan peradangan dan perlukaan di rectum.pada 1030% penderita penyakit ini akhirnya menyebar ke usus besar.jarang diperlakukan
pembedahan dan harapan hidupnya baik.
B.ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini tidak diketahui,namun factor keturunan dan respon
sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus,diduga berperan dalam terjadinya
jolitis ulserativa.
C.PATOFISIOLOGI
Suatu

serangan

ini

bisa

mendadak

dan

berat,menyabebkan

diare

hebat,demam tinggi,sakit perut,dan peritonitis(radang selaput perut) selama


serangan penderita tampak sangat sakit.
Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai secara bertahap,dimana
penderita memiliki keinginan untuk buang air besar,kram ringan pada perut bawah
dan tinja yang berdarah dan berlendir.

Jika penyakit ini tervatas pada rectum dan kolon sigmoid tinja mungkin
normal,kering,dank eras.tetapi ketika buang air besar ,dari rectum keluar lender
yang banyak mengandung sel darah merah dan sel darah putih.Gejala lain bisa
demam.
Jika menyebar ke usus besar ,tinja akan lunak dan penderita dapat buang air
besar sebanyak 10-20 kali/hari.Tinja tampak mengandung nanah,darah dah lendir.

D. Manifestasi Klinik
Kebanyakan gejala Colitis ulserativa pada awalnya adalah berupa buang air
besar yang lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit
perut dan diare berdarah. Pasien juga dapat mengalami:
1. Anemia
2. Fatigue/ Kelelahan
3. Berat badan menurun
4. Hilangnya nafsu makan
5. Hilangnya cairan tubuh dan nutrisi
6. Lesi kulit (eritoma nodosum)
7. Lesi mata (uveitis)
8. Nyeri sendi
9. Kegagalan pertumbuhan (khususnya pada anak-anak)
10. Buang air besar beberapa kali dalam sehari (10-20 kali sehari)
11. Terdapat darah dan nanah dalam kotoran.
12. Perdarahan rektum (anus).

13. Rasa tidak enak di bagian perut.


14. Mendadak perut terasa mulas.
15. Kram perut.
16. Sakit pada persendian.
17. Rasa sakit yang hilang timbul pada rectum
18. Anoreksia
19. Dorongan untuk defekasi
20. Hipokalsemia

E. Pathways

asuhan keperawatan (kesehatan)


Senin, 02 Januari 2012
askep kolitis ulseratif
ANATOMI FISIOLOGI
USUS BESAR (KOLON)
Merupakan usus yang memiliki diameter yang lebih besar dari usus halus.Memiliki panjang 1,5
M dan berbentuk huruf U terbalik.

Fungsi nya adalah :


- Menyerap air selama proses pencernaan
- Tempat di hasilkannya vitamin K dan H sebaga hasil simbiosis dengan
bakteri usus.
- Membentuk masa feses.
- Mendorong sisa makanan hasil pencernaan keluar dari tubuh.

A. TINJAUAN MEDIS
1. DEFINISI
Kolitis Ulseratif adalah peyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa kolon dan
rectum.(Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2.2001.1106)
Kolitis Ulseratif merupakan penyakit peradangan pada kolon non spesifik yang umumny
berlangsung lama disertai masa remisi dan eksaserbasi yang berganti- ganti. (Patofisiologi
Konsep Klinis Proses Penyakit. Vol 1.2005.461)
Kolitis Ulseratif adalah penyakit serius disertai dengan komplikasi sistemik dan angka mortilitas
yang tinggi. Akhirnya 10% sampai 15% pasien mengalami karsinoma kolon. (Keperawatan
Medikal Bedah. Vol 2. 2001.1106)
Kolitis Ulseratif adalah inflamasi usus yang kronis dan hanya mengenai mukosa dan submukosa
kolon. (Patofisiologi Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. 2009.321)
Kolitis Ulseratif adalah merupakan penyakit primer yang didapatkan pada kolon, yang
merupakan perluasaan dari rektum. (Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. 1990. 137)
Kolitis Ulseratif mempengaruhi mukosa superficial kolon dan dikarakteristikkan dengan adanya
ulserasi multiple, inflamasi menyebar, dan deskuamasi atau pengelupasan epithelium kolonik.
Awitan puncak penyakit ini adalah antara usia 15 sampai 40 tahun, dan menyerang kedua jenis
kelamin sama banyak.
Perdarahan terjadi sebagai akibat dari ulserasi. Lesi berlanjut, yang terjadi secara bergiliran, satu
lesi diikuti oleh lesi yang lainnya. Proses penyakit mulai pada rectum dan akhirnya dapat
mengenai seluruh kolon. Akhinya usus menyempit, memendek, dan menebal akibat hiperatrofi
muskuler dan deposit lemak.

2. ETIOLOGI
Beberapa faktor penyebab terjadinya Kolitis Ulseratif yaitu :
a. Faktor genetik tampaknya berperan dalam etiologi karena terdapat hubungan familial yang jelas
antara colitis ulseratif, enteritis regional dan spondilitis ankilosa.
b. Lingkungan seperti pestisida, adiktif makanan, tembakau, dan radiasi.
c. Imunologi. Penelitian menunjukkan abnormalitas dalam imunitas seluler dan humoral pada
orang dengan gangguan ini.
d. Mikobakterium.
e. Alergi.
f. Diet.

3. PATOFISIOLOGI

4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Diagnostik yang dapat dilakukan adalah :

Pemeriksaan
Sinar X

Hasil
Normal
Lesi menyebar pada

Tidak terdapat
kolon.

Endoskopi

Pemendekan kolon.

Mukosa yang rapuh.


Mukosa terinflamasi

dengan eksudat dan

lesi pada kolon.


Panjang kolon
1,5 M.
Mukosa
Tidak terdapat
eksudat

ulserasi.

dan

ulserasi.

Sigmoidoskopi

Mukosa yang rapuh.

Mukosa
berlapisan dengan
lendir

untuk

melapisi lambung.
Mukosa tidak
terinflamasi

Mukosa terinflamasi
dengan eksudat dan
ulserasi.

dan

tidak

adanya

cairan

eksudat

hanya

cairan

lender

untuk

melindungi
lambung

Koloniskopi

Mukosa rapuh dengan

dari

asam lambung.
Mukosa

pseudopolip atau ulkus berlapisan dengan

Tes laboratorium

pada kolon kiri.

lendir

Hemoglobin rendah.

melapisi lambung.
Lk : 13.5-18 g/dl.
Pr : 11.5-16 g/dl

untuk

3.5 - 5 g/dL.

Albumin rendah.

5. MANIFESTASI KLINIS
Gejala utama dari colitis ulseratif adalah :
a. Diare (10 sampai 20 kali/ hari)
b. Nyeri abdomen.
c. Tenesmus Intermitten.
d. Perdarahan rectal.
e. Anoreksia.
f. Demam.
g. Nausea.
h. Muntah.

6. KOMPLIKASI
Komplikasi pada Kolitis Ulseratif adalah :
a. Penyempitan lumen usus.
b. Pioderma gangrenosa.
c. Episkleritis.
d. Uveitis.
e. Arthritis.
f. Spondilitis ankilosa.
g. Gangguan fungsi hati.
h. Karsinoma kolon.
i. Retinitis.
j. Hemoragi.
k. Perforasi.
l. Neoplasma malignan.
m. Nefrolitiasis.
n. Eritema nodosum.
o. Batu ginjal.
p. Batu empedu.

7. PROGNOSA
Pada keadaan yang berat dimana didapatkan kelainan yang cukup luas, kemungkinan terjadinya
komplikasi serta berkembangnya penyakit ini menjadi karsinoma cukup besar, sehingga pada
keadaan ini prognosis tidak baik. Hal ini di sebabkan karena kolitis tidak dapat diobati sampai
tuntas dan setiap saat mungkin terjadi kekambuhan, yang dapat dihubungkan dengan waktu.
Faktor waktu itu juga sangat menentukan keberhasila pengobatan, yang dengan sendirinya tentu
akan mempengaruhi prognosis penyakit ini.
Kemungkinan dapat disembuhkan dengan tindakan kolektomi.
8. PENATALAKSANAAN MEDIS
Tindakan medis untuk colitis ulseratif ditujukan untuk mengurangi inflamasi, menekan respon
1.
a.
b.
c.

imun, dan mengistirahatkan usus yang sakit, sehingga penyembuhan dapat terjadi.
Penatalaksanaan secara umum
Pendidikan terhadap keluarga dan penderita.
Menghindari makanan yang mengeksaserbasi diare.
Menghindari makanan dingin, dan merokok karena keduanya dapat meningkatkan motilitas

usus.
d. Hindari susu karena dapat menyebabkan diare pada individu yang intoleransi lactose.
2. Terapi Obat.
Obat- obatan sedatife dan antidiare/ antiperistaltik digunakan untuk mengurangi peristaltic
a.

sampai minimum untuk mengistirahatkan usus yang terinflamasi.


Menangani Inflamasi : Sulfsalazin (Azulfidine) atau
Sulfisoxazal (Gantrisin).

b. Antibiotic
c. Azulfidin
kekambuhan.
d. Mengurangi Peradangan
dikurangi/ dihentikan, gejala

: Digunakan untuk infeksi.


: Membantu dalam mencegah
: Kortikosteroid (Bila kortikosteroid
penyakit dapat berulang. Bila kortikosteroid dilanjutkan gejala sisa

merugikan seperti hipertensi, retensi cairan, katarak, hirsutisme (pertumbuhan rambut yang
abnormal).
3. Psikoterapi
: Ditujukan untuk menentukan faktor
yang menyebabkan stres pada pasien, kemampuan menghadapi faktor- faktor ini, dan upaya
untuk mengatasi konflik ehingga mereka tidak berkabung karena kondisi mereka.

9. DAFTAR PUSTAKA
Price, A., & Wilson,L.M. (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Edisi 6, Vol 1,hal 461- 464. Jakarta : EGC.
Suddarth, B., Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Keperawatan
Medikal Bedah Edisi 8, Vol 2, hal 1106- 1120. Jakarta : EGC.
Doengoes, (2001). Perencanaan Asuhan Keperawatan
http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2009/08/kolitis- ulseratif
-ulseratif.html
Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005- 2006
Waspadji, S., dkk. (1990). Ilmu penyakit Dalam Jilid II. Jakarta:
FKUI.

Kasus
Ny. Y berusia 35 tahun, mengeluh kram berat, BAB cair lebih dari 10 kali/ hari, demam, nyeri
pada abdomen, anoreksia 3 minggu. Klien mengatakan mengalami demam hampir 1 minggu.
Setelah ditanya lebih lanjut feses berwarna gelap dan encer sebagian terbungkus darah. Ny. Y
mempunyai kebiasaan merokok 5 tahun dan baru berhenti. Ny. Y mengatakan mudah lelah,
penurunan BB, malaise dan pusing. Klien mengatakan kurang beristirahat dan tidak menghadiri
arisan karena diare dan rasa nyeri. Setelah dilakukan TTV di dapat T : 38 C, N: 50x/ menit, R :
30x/ menit, TD: 90/60 mmHg.
A. PENGKAJIAN
Pengkajian diambil dari

Pasien

: Tgl Pengkajian

Nama Lengkap

: Ny. Y

Tgl lahir/ Umur

: 8 Agustus 1976/

: 10 Oktober 2010

35 tahun
Ruang/ TT

: Mawar

Diagnosa Medik

: Belum ada

Alamat

: Jl. Ayani 2 Gg Buntu

No Hp
: 085750170907
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: RT
Status pernikahan
: Kawin.
1. INFORMASI MEDIK
1. Keluhan utama
: Nyeri abdomen, BAB cair
lebih dari 10x/ hari, pusing.
2. Keluhan yang menyertai
: Anoreksia 12 Minggu,
Penurunan BB.
3. Riwayat penyakit sekarang
: Tidak ada
4. Waktu dan tempat pengobatan terakhir
: 2 hari yang lalu membeli
obat di warung.
5. Obat terakhir yang didapat
: Entrostop, paramex.
6. Pemeriksaan penunjang medis
: Belum Ada.
7. Alat Bantu
: Kontak lensa/ Kacamata.
8. Keluarga Berencana
: [ Ya] :[ Suntik ]
9. Kebiasaan
: Kopi : 2 gelas/ hari.
Merokok 1 Batang/ hari.

10. Alergi
Reaksi alergi : Gatal- gatal
11. Riwayat penyakit keluarga

: Ada, Makanan : Udang.


: Hipertensi.

2. KEADAAN UMUM
1. Keadaan sakit
: Tampak sakit sedang
Data objektif dari hasil pengamatan/ inspeksi
:
Muka pucat.
Klien tampak lemah.
Klien merintih kesakitan.
TTV : T : 38 C, N: 50x/ menit, R: 30x/ menit, TD: 90/60 mmHg.
2. Tingkat kesadaran kualitatif
: Compos Mentis.
3. Tingkat kesadaran kuantitatif
:
Respon Motorik

:5

Respon verbal

:5

Respon membuka Mata

:3

Jumlah skor

: 13

Kesimpulan

4. Tanda Vital
T : 38 C,
[ Axila ]

N : 50x/ Menit,
[ Lemah ]

: Baik

TD : 90/60 mmHg,
[ Lengan Kanan ]
[ Duduk ]

R : 30x/ menit.

3. JANTUNG DAN PERNAPASAN


1.
2.
3.
4.

Bentuk thorax dan vertebrata


Pergerakan Dada
Ictus Cordis
Sirkulasi

: Normal
: Simetris
:
: [ Pusing ]. [ Kram ]

4. STATUS NUTRISI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

BB
: 40 Kg
TB
: 158 cm.
Rambut
: [ Mudah rontok, bercabang, mudah patah, kusam].
Rongga Mulut
: [ Stomatitis, Bersih ].
Lidah
: [ Bersih ]
Gerakan mulut dan tenggorokan
: [ Simetris ]
Kesulitan Menelan
: [ Tidak Ada ]
Kulit : Turgor
: [ Bersisik ]
Nafsu Makan
: [ Mual, Muntah, Menurun ]
Kebiasaan Makan / Jenis Makan
: 3x Sehari/ Gorengan, bakso.

10. Pantangan
11. Kebiasaan Minum
[ kopi : 2 gelas/ hari ].

: [ Tidak Ada ]
: [ air putih : 4 gelas/ hari]

5. ELIMINASI
1. Abdomen

: [ Datar ]

[Nyeri tekan, lokasi : bagian kiri bawah]


2. Kebiasaan Defekasi
3. Masalah usus besar
4. Masalah kandung kemih

: 10 x/ Sehari.
: [ Diare, Feses Berdarah ].
:

6. AKTIVITAS DAN LATIHAN


1. Posisi saat berdiri
2. Posisi saat berbaring
3. Kebiasaan
Berpakaian : 3x/ hari
4. Olahraga yang disukai
5. Frekuensi olahraga
Setalah beraktivitas ].

: [ Tegak ]
: [ Datar ]
: Mandi : 2x/ hari.
: Berenang, jogging.
: [ Sesak Napas, pusing

7. TIDUR DAN ISTIRAHAT


1. Kebiasaan Tidur
Siang, 1 jam.
2. Masalah

: Malam, 3 jam
: Insomnia

8. SENSORI KOGNITIF
1. Pupil
Kanan
: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 mm
Kiri
: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 mm
2. Reflek Cahaya
Kanan
: Positif.
Kiri
: Positif.
3. Lensa
: [ Jernih ]
4. Pendengaran telinga kanan/ kiri
: [ Tak ada kelainan ]
5. Bahasa sehari- hari
: [ Indonesia]
6. Berbicara
: [ Normal ]
7. Status Emosi
: [ Gelisah, Depresi, Takut,
Khawatir].
9. KEYAKINAN NILAI
1. Agama
: Islam
2. Permintaan kunjungan rohaniawan saai ini : [ Ada ]
3. Harapan pasien/ keluarga
: Secepatnya sembuh,
10. PENJELASAN KEPADA PASIEN DAN KELUARGA
Tentang

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jam tamu pukul/ jumlah.


Konsultasi dokter.
Tv.
Jam makan.
Wc/ kamar mandi.
Pengaturan tempat tidur.
Perlengkapan yang perlu dibawa.
Tanda Tangan
Istafiyana Rahayu

B. Analisa Data
Hari/

Symptom

Etiologi

tanggal
Selasa, Ds: - Klien mengatakan rasa Inflamasi
1 Maret nyeri pada perut.
Klien mengatakan kram.
2011.
08.00
Do:- Klien tampak gelisah.
sampai

sakit.
Klien tampak lemah.

Selasa,

Ds: - klien mengatakan BAB

1 Maret cair lebih dari 10x sehari.


Klien mengatakan feses
2011.
08.45
berwarna gelap dan
09.15

Nyeri

jaringan

Klien tampak menahan rasa

08.30

sampai

Proplem

Inflamasi

Diare

Usus/
Malabsorpsi
usus

terbungkus darah.
Adanya rasa nyeri.
Do: - Penurunan berat badan.

Selasa,

Feses berwarna gelap.


Muka pucat.
Bibir kering.
Klien tampak lemah.
Ds: - Klien mengatakan tidak Gangguan

1 maret nafsu makan.


absorpsi
Klien mengatakan berat
2011.
nutrisi.
09.30
badan menurun.
Klien mengatakan merasa
sampai
lemah, mual.
09.50
Do: - Penurunan BB.
Klien tampak lemah, pucat.
Bibir kering.
Rambut kusam.
Rabu, 2 Ds: - klien mengatakan Proses infeksi
Maret

mengalami demam selama 1

2011.

minggu.

Perubahan
nutrisi kurang
dari
kebutuhan
tubuh.

Hipertermi

10.00

Klien mengatakan mengalai

sampai

pusing.

10.20

Do: T : 38 C, N: 50.x/M, R :
30x/ M, TD: 90/60
mmHg.

Klien tampak menggigil


Rabu, 2 Ds: - klien mengatakan tidak Kurangnya

Kurang

Maret

mengetahui tentang penyakit informasi

pengetahuan

2011.
10.20

dan pengobatannya.
tentang
Do: - Klien banyak bertanya
penyakit.
mengenai penyakit yang

sampai
10.50

dialaminya.
Klien tidak

memgikuti

intutruksi dengan benar.


Terjadi komplikasi.

C. Diagnosa Keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.

Nyeri b/d inflamasi jaringan.


Diare b/d inflamasi atau malabsorpsi usus.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Gangguan absorpsi nutrisi.
Hipertermi b/d proses infeksi.
Kurang pengetahuan b/d Kurangnya informasi tentang penyakit.
Prioritas Masalah

1. Diare b/d inflamasi atau malabsorpsi usus.


2. Nyeri b/d inflamasi jaringan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Gangguan absorpsi nutrisi.
4. Hipertermi b/d proses infeksi.
5. Kurang pengetahuan b/d Kurangnya informasi tentang penyakit.
D. Intervensi Keperawatan.

Hari/ Tanggal : 1 Maret 2011


Paraf
Diagnosa : Diare b/d inflamasi atau malabsorpsi usus di tandai Tafi
dengan :
Ds :- Klien mengatakan BAB cair lebih dari 10x sehari.
Klien mengatakan feses berwarna gelap dan terbungkus darah.
Klien mengatakan adanya rasa nyeri.
Do :-

Penurunan berat badan.

Feses berwarna gelap.


Muka pucat.
Bibir kering.
Klien tampak lemah.
Tujuan & Kriteria

Hasil : Setelah dilakukan

tindakan Tafi

keperawatan 1x 24 jam frekuensi BAB menurun dengan KH :

BAB cair berhenti atau berkurang.


Klien melaporkan penurunan frekuensi defekasi berkurang.
Bibir terlihat lembab.

Intervensi
Observasi
frekuensi

dan

Rasional
catat
Membantu

membedakan

Paraf
penyakitTafi

defekasi, individu dan mengkaji beratnya episode.

karakteristik, jumlah dan

faktor pencetus.
Identifikasi makanan dan
cairan yang mencetuskan
diare, mis, buah,bumbu,
minuman

Meningkatkan iritasi meningkatkan


istirahat usus.

karbonat,

pruduk susu.
Tingkatkan tirah baring,
berikan

alat-

alat

di

samping tempat tidur.


Istirahat menurunkan mortilitas usus
juga menurunkan laju metabolisme bila

Mulai pemasukan cairan infeksi

atau

pendarahan

sebagai

per oral secara bertahap. komplikasi, defekasi tiba- tiba dapat


Hindari minuman dingin.

terjadi tanpa tanda dan dapat tidak

terkontrol.
Memberikan istirahat kolon dengan
menghilangkan/
menurunkan
rangsangan makan/ cairan. Makan
secara bertahap mencegah kram dan
diare berulang, cairan dingin dapat
meningkatkan motilitas usus.
Hari/ Tanggal : 1 Maret 2011
Paraf
Diagnosa : Nyeri b/d inflamasi jaringan di tandai dengan
Tafi
Ds :- Klien mengatakan rasa nyeri pada perut.
Klien mengatakan kram.

Do :-

Klien tampak gelisah.

Klien tampak menahan rasa sakit.


Klien tampak lemah.
Tujuan & Kriteria Hasil : setelah dilakukan tindakan 1x 30 menit Tafi
nyeri abdomen berkurang atau hilang dengan KH :

Klien mengatakan nyeri berkurang/ hilang.


Kram hilang.
Klien dapat mendeskripsikan bagaimana mengontrol nyeri.
Klien dapat menerapkan metode non farmakologi untuk
mengontrol nyeri.
Klien mengatakan kebutuhan istirahat dapat terpenuhi.
Skala nyeri 2- 5.
Intervensi
Rasional
Paraf
Kaji laporan kram Nyeri sebelum defekasi sering terjadiTafi
abdomen/

nyeri,

catat dengan tiba- tiba, dapat berat dan terus

lokasi, lamanya intesitas menerus. Perubahan pada karakteristik


(skala 0-10).

nyeri dapat menunjukkan komplikasi


mis, perforasi, toksik megakolik.
Menunjukkan

Kaji

faktor

yang

pemberat

atau

pencetus/

faktor

mengidentifikasikan

terjadinya komplikasi.

meningkatkan

atau Menurunkan tegangan abdomen.


Dengan lingkungan yang nyaman klien
mrnghilangkan nyeri.
Berikan posisi yang dapat merasa rileks dan dapat

nyaman.
beristirahat dengan tenang.
Ciptakan lingkungan yang Teknik farmakologi dapat menurunkan
nyaman.

ketengangan

Jelaskan

teknik

farmakologi
mengurangi nyeri.

Kolaborasi
modifikasi

meningkatkan

non relaksasi, rasa control diri dan


kemampuan koping.
untuk
Istirahat usus penuh dapat menurunkan
nyeri dan kram.

dalam
diet,

memberikan makanan dan


cairan

otot,

padat

toleransi.
Berikan analgesik.

sesuai

Nyeri bervariasi dari ringan sampai


berat dan perlu penanganan untuk
memudahkan

istirahat

adekuat

dan

penyembuhan.
Menghilangkan spasme saluran GI dan
berlanjutnya nyeri klonik.
Merilekskan otot rectal, menurunkan
nyeri spasme.

Antikolinergik.

Anodin supositoria.
Hari/ Tanggal : 1 Maret 2011
Paraf
Diagnosa : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Tafi
Gangguan absorpsi nutrisi di tandai dengan :
Ds :- Klien mengatakan tidak nafsu makan.
Klien mengatakan berat badan menurun.
Klien mengatakan merasa lemah, mual.

Do:-

Penurunan BB.

Klien tampak lemah, pucat.


Bibir kering.
Rambut kusam.
Tujuan & Kriteria Hasil : Setelah dilakukan keperawatan 2 x 24 Tafi

jam nutrisi klien terpenuhi dengan KH :


Menunjukkan peningkatan BB.
Bibir lembab.
Intervensi
Rasional
Kaji kebiasaan diet,
Makanan

yang

dimakan

Paraf
klienTafi

masukan makanan saat ini mempengaruhi status nutrisi klien.


dan kesulitan menelan.

Dengan adanya kesulitan menelan


asupan

nutrisi

menjadi

berkurang

sehingga terjadi penurunan berat badan

Dorong, tirah baring atau


pembatasan aktivitas selama

fase sakit akut.


Anjurkan istirahat sebelum

untuk mencegah penurunan kalori dan


simpanan energi.
Menenangkan

peristaltik

dan

meningkatkan energi untuk makan.


Mulut
yang
bersih
dapat

makan.

dan kelemahan.
Menurunkan kebutuhan metabolik

Berikan kebersihan oral.


Hindari makanan yang

meningkatkan rasa nyaman.


Mencegah serangan akut/ eksaserbasi
gejala.

dapat menyebabkan kram


abdomen,

flatus

mis,

produk susu.
Kolaborasi : Pertahankan
Istirahat usus menurunkan peristaltic

puasa sesuai indikasi.

dan

Berikan

obat

sesuai

diare

dimana

menyebabkan

malabsorpsi/ kehilangan nutrient.


Antikolinergik diberikan 15- 30 menit

indikasi, contoh :
sebelum
makan
memberikan
Donnatal, natrium dengan
penghilang
kram
dan
diare,
belladonna
(Butibel),
menurunkan motiltas gaster dan

propantelen

bromide meningkatkan waktu untuk absorpsi

(Probanthine).

Besi

(Imeron

nutrient.
Mencegah/ mengobati anemia.
yang Program ini mengistirahatkan saluran

disuntikkan).
GI sementara
Berikan nutrisi parentral
penting.
total, terapi IV sesuai
indikasi.

memberikan

nutrisi

Hari/ Tanggal : 2 Maret 2011


Diagnosa : Hipertermi b/d proses infeksi di tandai dengan :

Paraf
Tafi

Ds :- klien mengatakan mengalami demam selama 1 minggu.


Klien mengatakan mengalai pusing.
Do: T : 38 C, N: 50.x/M, R :30x/ M, TD: 90/60 mmHg.
Klien tampak menggigil
Tujuan & Kriteria Hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan Tafi
2 x 60 menit, suhu tubuh kembali normal dengan KH :

Suhu 36- 37 C.
Klien tidak menggigil.
Klien mengatakan dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi
Rasional
Paraf
Observasi TTV setiap 2 Mengetahui perubahan TTV. AapakahTafi
jam.

suhu kembali normal.


Klein hipertermi banyak kehilangan

Berikan minuman yang cairan.


Kompres dapat menurunkan suhu.
banyak.
Klien dengan hipertermi akan
Berikan kompres hangat.
Kolaborasi pemberian mengalami kesulitan untuk istirahat.
antipiretik.
Hari/ Tanggal : 2 Maret 2011
Paraf
Diagnosa : Kurang pengetahuan b/d Kurangnya informasi tentang Tafi
penyakit di tandai dengan :
Ds :- Klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit dan
pengobatannya.
Do:- Klien banyak bertanya mengenai penyakit yang dialaminya.
Klien tidak memgikuti intutruksi dengan benar.

Terjadi komplikasi.
Tujuan & Kriteria Hasil : Setelah dilakukan tindakan

Tafi

keperawatan 1 x 30 menit, jam klien mendapatkan informasi

tentang proses penyakit dan pengobatan dengan KH :


Pernyataan tentang informasi.
Klien mengikuti proses keperawatan.
Melakukan perubahan pola hidup.
Intervensi
Rasional
Paraf
Tentukan persepsi klien Membuat pengetahuan dasar danTafi

tentang proses penyakit.


memberikan kesadaran kebutuhan
Kaji ulang obat, tujuan, belajar individu.
frekuensi,
dosis,
dan Meningkatkan pemahaman dan dapat

kemungkinan efek samping. meningkatkan


Ingatkan klien untuk program.
mengobservasi
efek
samping

bila

steroid

diberikan

dalam

jangka

panjang, mis, ulkus, edema

Steroid
mengontrol

dapat

kerjasama

digunakan
inflamasi

dalam

untuk
dan

mempengaruhi remisi penyakit: namun

muka, kelemahan otot.


obat dapat menurunkan ketahanan
Tekankan
pentingnya
terhadap infeksi dan menyebabkan
perawatan kulit, mis, teknik
retensi cairan.
cuci tangan dengan baik dan Menurunkan penyebaran bakteri dan
perawatan perineal yang
resiko iritasi/ kerusakan kulit.
baik.
Anjurkan
berhenti
merokok.

Penuhi kebutuhan evaluasi


jangka panjang dan evaluasi
ulang periodik.

Dapat meningkatkan motilitas usus.


Pasien dengan inflamsi penyakit usus

Rujuk
ke
sumber berisiko untuk kanker kolon/ rectal dan
komunitas yang tepat, mis evaluasi diagnostik teratur dapat
perawat
kesehatan
diperlukan.

masyarakat,
ahli
diet,
Pasien dapat keuntungan dari
kelompok pendukung, dan
pelayanan ini dalam koping dengan
pengamat social.
penyakit
kronis
dan
evaluasi
pengobatan.

E. Implementasi

1.

No.

Hari/

DX

Tanggal
2 Maret

Waktu

09.00

2011.

Implementasi

Paraf

Mengobservasi karakteristik defekasi denganTafi


menanyakan kepada klien tentang warna,
banyaknya,apakah ada darah.
Menanyakan kepada klien makanan apa saja

09.15

yang mencetus terjadi diare.


Meletakkan klien dengan posisi tirah baring

09.30

yang sesuai.
Masukan cairan oral secara bertahap dengan
melibatkan keluarga dan menghindari minuman

2.

3 Maret

11.00

yang dingin.

09.00

Mengkaji nyeri yang dialami klien san respon Tafi


nyeri dengan menggunakan GCS.
Mengkaji factor pemicu nyeri dengan

2011

09.10

09.20
09.30

09.30
10.00
11.00

menanyakan kepada klien factor apa saja yang


dapat meningkatkan nyeri.
letakkan posisi yang nyaman untuk klien
beristirahat.
Menciptakan lingkungan yang nyaman dengan
cara :
Menghindari suasana yang ribut.
Membatasi jumlah pengunjung.
Menjelaskan teknik relaksasi yaitu : masase,
napas dalam, music ll.
Mengkolaborasi dengan ahli diet makanan yang
lunak.
Memberikan analgesik, antikolinergik, dan
anodin supositoria.

3.

4 Maret

09.00

2011
09.15

Mengkaji kebiasaan diet dan adanya kesulitanTafi


menelan.
Mendorong tirah baring dan membatasi
aktivitas klien yang memicu nyeri.
Mengganjurkan klien untuk istirahat sebelum

09.20

makan.
Memberikan kebersihan oral dengan cara

09.25

menggosok gigi klien.


Menghindari makanan yang menyebabkan

09.40

kram abdomen seperti produk susu, pedas.


Mengkolaborasikan dengan ahli diet tentang
nutrisi yang diperlukan klien.
Masukan nutrisi bisa dengan cara nutrisi oral.
Memberikan obat sesuai indikasi.

10.30
11.00
11.15
4.

5 Maret

08.00

2011
08.15

Mengobserasi TTV setiap 2 jam, denganTafi


menggunakan alat : stetoskop, tensimeter, jam.
Memberikan minum sekitar 2 liter sehari.
Memberikan kompres hangat pada dahi.
Mengkolaborasikan
dalam
pemberian
antipiretik sesuai indikasi.

08.30
09.00

5.

5 Maret
2011

09.15

Menanyakan persepsi klien tentang penyakitTafi


yang dialaminya.
Mengkaji ulang efek samping dari obat yang di
berikan.

Mengingatkan klien untuk mengamati efek


samping dari obat yang diberikan.
Menekankan kepada klien

pentingnya

perawatan kulit dengan cara memakai lation.


Mengganjurkan klien menghentikan merokok.
Memenuhi evaluasi jangka panjang dan
evaluasi ulang tentang penyakit.
Menempatan klien ke tempat komunitas untuk
meningkatkan koping klien.

F. EVALUASI
Hari/
Taggal
3 Maret

Jam
09.30

No. DX

Evaluasi

Setelah dilakukan tindakan

2011.

keperawatan 1x 24 jam daire

berkurang dengan :
S: Klien mengatakan frekuensi
BAB berkurang dari 10x/ hari
menjadi 5x/ hari.
Klien mengatakan dapat

beristirahat.
O : Bibir klien terlihat lembab.
A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi
1. Identifikasi makanan dan cairan
yang mencetuskan diare, mis,
buah,bumbu, minuman karbonat,
2.

produk susu.
Tingkatkan tirah baring, berikan

alat- alat di samping tempat tidur.


3. Mulai pemasukan cairan per oral
secara bertahap. Hindari minuman
dingin.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1 x 30 menit nyeri
abdomen berkurang atau hilang
dengan :

S : Klien mengatakan rasa nyeri


pada perut berkurang dan kram

3 Maret
2011

berkurang.
O : Klien tampak rileks.
Klien dapt beristirahat dengan

Paraf
Tafi

09.30

6 Maret

09.30

tenang.
A : Masalah teratasi tdalam

waktu 1 x 30 menit.
P : Intervensi dihentikan.

Setelah dilakukan keperawatan 2

2011

5 Maret

08.00

dengan :
S : Klien mengatakan nafsu

makan meningkat.
O : Peningkatan BB dari BB

semula menjadi 41 Kg.


Klien tampak rileks
Bibir lembab.
Rambut kusam.
A : Masalah teratasi dalam waktu

2 x 24 jam.
P : Intervensi dihentikan.

Setelah dilakukan tindakan

Tafi

keperawatan 2 x 60 menit, suhu

tubuh kembali normal dengan :


S : Klien mengatakan dapat
beristirahat dengan tenang.
Klien
mengatakan

2011

Tafi

x 24 jam nutrisi klien terpenuhi

2011

5 Maret

Tafi

09.50

tidak

menggigil.
O : Suhu 37 C.
Klien dapat beristirahat.
A : Masalah teratasi dalam waktu
2 x 60 menit.
P : intervensi dihentikan.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1 x 30 menit, jam
klien mendapatkan informasi

Tafi

tentang proses penyakit dan

pengobatan dengan :
S :Klien mengatakan mengerti

tentang penyakit.
O :Klien mengikuti

proses

keperawatan.
Klien dapat menjelaskan tentang
proses

penyakit

dan

pengobatannya.
Klien melakukan perubahan pola

hidup.
A : Masalah teratasi dalam waktu

30 menit.
P : Intervensi dihentikan.

narera

home
Power Poin

Link 3

Link 4

t;

Selasa, 05 Maret 2013


Asuhan Keperawatan ( Askep ) pada Klien dengan Gastroenteritis ( GE

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fisiologi adalah mempelajari fungsi atau kerja tubuh manusia dalam keadaan
normal. Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ masing-masing dan
fungsinya yang khusus untuk dilaksanakan. Fisiologi sistem pencernaan manusia
terdiri

dari

beberapa

organ

rongga

mulut,esopagus,lambung,usus

kecil,usus

besar,rectum,anus,dll. Semua sistem pencenaan itu akan bekerja sesuai dengan


tugasnya namun tetap saling berkaitan untuk mencerna semua makanan yang
masuk ketubuh.

B.

RUMUSAN MASALAH
Apa dan bagaimana pengertian, etiologi, klasifikasi, stadium, pathway,
patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan
pada klien dengan GE DEHIDRASI

C. TUJUAN
Mahasiswa

mampu

untuk

memahami

pengertian,

etiologi,

klasifikasi,

stadium, pathway, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan


asuhan keperawatan pada klien dengan GE DEHIDRASI.

BAB II
PEMBAHASAN

Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan Manusia


Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus)
adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan,
mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran
darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan
sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan jug
a meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas,
hati dan kandung empedu.
1. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada
hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal
dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari
mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang
terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis,
asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan
lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi
belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna.
Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut
dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung
antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang
bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara
otomatis.

2. Tenggorokan ( Faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari
bahasa yunani yaitu Pharynk.
Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang
banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi,
disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya
dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang. Keatas
bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang
bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan
perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.
Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan
hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior
= bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada
nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang
telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar
lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan
laring
3. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui
sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan
melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut
esofagus(dari bahasa Yunani: i, oeso membawa, dan , phagus
memakan).
Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi.
Esofagus dibagi menjadi tiga bagian:
bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).
4. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai.
Terdiri dari 3 bagian yaitu
Kardia.
Fundus.

Antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk
cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter
menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.
Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik
untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung
menghasilkan 3 zat penting :
* Lendir
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap
kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah
kepada terbentuknya tukak lambung.
* Asam klorida (HCl)
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh
pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan
sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
* Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)
5. Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah
yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus
melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan
pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah
kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M
sirkuler ), lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah
Luar )
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus
kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
- Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang
terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).
Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai
dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.

Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus
seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar
pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu
dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin
duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari.
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum),
yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam
duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus.
Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti
mengalirkan makanan.

- Usus Kosong (jejenum)


Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian
kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus
penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8
meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan
digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot
usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat
dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara
hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet
dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan
secara makroskopis.
Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti lapar dalam bahasa Inggris
modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti kosong.
- Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah
duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara
7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garamgaram empedu.
6. Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari :

*
*
*
*

Kolon
Kolon
Kolon
Kolon

asendens (kanan)
transversum
desendens (kiri)
sigmoid (berhubungan dengan rektum)

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna


beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti
vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit
serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus
besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan
air, dan terjadilah diare.

7. Usus Buntu (sekum)


Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, buta) dalam istilah anatomi
adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon
menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan
beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar,
sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
8. Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi
pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah
dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga
abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia,
umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya
appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum.
Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang
dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai
20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa
berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di
peritoneum.
Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan),
sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem
limfatik. Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi.
I. Rektum dan anus

Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah


ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di
anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya
rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada
kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum,
maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding
rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi,
sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan
kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi
dan pengerasan feses akan terjadi.
Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan
anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang
penting untuk menunda BAB.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar
dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian
lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses
dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar BAB), yang
merupakan fungsi utama anus.

9. Pankreas
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting
seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat
dengan duodenum (usus dua belas jari).
Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu :
* Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
* Pulau pankreas, menghasilkan hormon
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan
melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan
mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke
dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk
inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas
juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi
duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.
10. Hati

Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan
memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan.
Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa
fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan
penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan.
Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat- atau
hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar.
Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan
pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam
vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke
dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh
kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya
dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.Hati adalah organ
yang terbesar di dalam badan manusia.
11. Kandung empedu
Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk buah
pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk
proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7-10
cm dan berwarna hijau gelap bukan karena warna jaringannya, melainkan karena
warna cairan empedu yang dikandungnya. Organ ini terhubungkan dengan hati dan
usus dua belas jari melalui saluran empedu.

Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu:


Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin
(Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol.

RIWAYAT KEPERAWATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN


PENGKAJIAN KESEHATAN SECARA UMUM

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan


Meliputi : berat badan, lingkar lengan kiri atas, lingkar dada terakhir, perkembangan
motorik kasar dan halus.

Sosial Budaya

Terdiri dari : penggunaan alcohol dan tembakau, kebiasaan makanan yang kurang
sehat.

Keadaan Psikologi
Timbulnya gangguan pada saluran cerna cukup sering dikeluhkan dan
menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat. Penyakit-penyakit yang timbul pada
saluran cerna, selain disebabkan oleh adanya faktor organik (kelainan struktur
saluran cerna, infeksi) ternyata 40-60 % merupakan sindrom fungsional. Penderita
dapat mengalami gangguan pencernaan walaupun penyebab dan mekanisme
terjadinya gangguan tersebut secara pasti belum diketahui secara pasti, namun
gangguan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Sindrom fungsional
pada gangguan saluran cerna tersebut, antara lain adalah : gastritis (upper
abdominal syndrome), sindrom fungsional hipogastrium (lower abdominal
syndrome), dan aerofagi.
Penderita gastritis biasanya menunjukkan perubahan yang cukup mencolok
yaitu sikap depresi. Seringkali penderita menyalahkan lingkungan atau
makanannya, tetapi ternyata dengan diet (makanan) juga tidak mengurangi rasa
sakitnya. Mereka memiliki angan-angan untuk dirawat, dimanja, dan untuk memiliki
objek yang diinginkan sehingga mereka sulit menemukan kepuasan yang
dibutuhkannya. Keseimbangan yang rapuh yang mudah menjadi runtuh dapat
terlihat ketika penderita mengalami keluhan pada saluran cernanya dan jelas
terlihat adanya ketergantungan pada objek yang memanjakannya.
Tetapi penderita merasa takut tergantung pada orang yang menguasainya
dan ketergantungan ini dirasakannya sebagai suatu penghinaan. Rasa takut
ketergantungan, dan terhina mengakibatkan sikap agresif terhadap mereka, yang
dapat memberikan kepuasan. Timbulnya depresi pada penderita gastritis dikarena
mereka mengelakkan agresi yang timbul agar tidak kehilangan obyek yang
memanjanya, dan ini menimbulkan rasa bersalah (guild) yang dirasakan dirinya
sebagai sesuatu yang sangat buruk.
Gangguan pencernaan yang mengenai saluran cerna bagian bawah ini juga
dikenal sebagai spastic colon, irritable colon, colitis nervosa, dan obstipasi spastic.
Tidak ditemukannya penyebab spesifik (infeksi, peradangan atau gangguan
anatomis) dari hasil pemeriksaan pada saluran cerna bagian bawah, walaupun
penderitanya tetap mengeluhkan kelainan pada pencernaannya, merupakan salah
satu petunjuk kecurigaan adanya sindrom fungsional hipogastrium.
Penderita penyakit ini akan mengeluhkan rasa sakit pada perut, biasanya di
bawah pusat, diare atau obstipasi (sembelit). Bila terjadi obstipasi, feses penderita
dapat keluar berbentuk seperti potlot atau tahi kambing (obstipasi spastik).
Faktor psikologis yang berperan pada penderitanya yaitu adanya harapanharapan untuk meminta lebih banyak lagi dari orang lain karena mereka telah
memberi banyak pada orang tersebut. Angan-angan utama untuk dimanja telah
berhasil diubahnya menjadi mekanisme-mekanisme pengelak, sehingga tidak
timbul reaksi terhadap angan-angan pemanjaan yang tak dirasa puas. Mereka

secara sadar yakin dapat memberi banyak kepada orang lain namun secara tidak
sadar mereka meminta/mengharapkan lebih banyak lagi.
Penderita gangguan ini pada puncak intelektualitasnya dapat secara terus
terang mengakui bahwa dengan prestasi yang mereka miliki, mereka dapat
meminta lebih banyak. Secara tidak sadar mereka merasa bahwa mereka telah
memberi terlampau banyak. Pertahanan diri mereka akan runtuh dan dapat
mengakibatkan timbulnya gangguan saluran cerna tersebut bila mereka merasa
tidak dapat membayar atau ketika meraka merasa dirinya kurangdibayar.
AEROFAGI
Gejala yang timbul dari gangguan saluran cerna ini adalah berupa rasa sakit
perut dan perut dirasakan penuh dan membengkak, hal ini dibuktikan dengan
bersendawa (belching) yang keras bertubi-tubi. Simtom ini terutama ditemukan
pada meraka yang bergantian menelan dan mengeluarkan udara. Bila tidak dapat
bersendawa, maka perut akan terasa kembung (meteorismus) dan kentut (flatus)
yang tidak berbau.
Gejala-gejala tersebut juga sering disebut sebagai sindrom Roemheld yang
terdiri dari rasa sakit di daerah jantung yang disebabkan oleh diafragma yang
tertekan ke atas oleh lambung yang membengkak karena terisi oleh udara
(meteorismus).
Penatalaksanaan sindrom fungsional saluran cerna ini memerlukan kerjasama
yang baik dari penderita dan dokter yang merawatnya serta jika diperlukan dapat
meminta bantuan dari seorang psikiater. Karena penyebab yang mendasari
gangguan ini adalah faktor psikologis (setelah hasil pemeriksaan tidak ditemukan
adanya penyebab organik yang mendasari nya) dari penderitanya maka selain
memberikan pengobatan yang dapat mengurangi gejala yang dialami penderitanya
maka psikoterapi juga dibutuhkan untuk menghilangkan atau setidaknya
mengurangi gangguan ini. Yang terlebih penting adalah peran serta dari penderita
untuk mengatasi masalah yang dialaminya dengan petunjuk dan bantuan dari
dokter
dan
psikiaternya.

TANDA DAN KELUHAN UMUM SISTEM PENCERNAAN


1) Keluhan Utama
Keluhan utama didapat dengan menanyakan tentang gangguan terpenting yang dirasakan
pasien sampai perlu pertolongan. Keluhan utama pada pasien gangguan sistem pencernaan
secara umum antara lain:
a.

Nyeri

Keluhan nyeri dari pasien sering menjadi keluhan utama dari pasien untuk meminta pertolongan
kesehatan yang bersumber dari masalah saluran gastrointestinal dan organ aksesori. Dalam
mengkaji nyeri, perawat dapat melakukan pendekatan PQRST, sehingga pengkajian dapat lebih
komprehensif. Kondisi nyeri biasanya bergantung pada penyebab dasar yang juga
mempengaruhi lokasi dan distribusi penyebaran nyeri.
b.

Mual muntah

Keluhan mual muntah merupakan kondisi yang sering dikeluhkan dan biasanya selalu
berhubungan dengan kerja involunter dari gastrointestinal. Mual (nausea) adalah sensasi
subjektif yang tidak menyenangkan dan sering mendahului muntah. Mual disebabkan oleh
distensi atau iritasi dari bagian manasaja dari saluran GI, tetapi juga dapat dirangsang oleh
pusat-pusat otak yang lebih tinggi. Interpretasi mual terjadi di medulla, bagian samping, atau
bagian dari pusat muntah. Muntah merupakan salah satu cara traktus gastrointestinal
membersihkan dirinya sendiri dari isinya ketika hampir semua bagian atau traktus
gastrointestinal teriritasi secara luas, sangat mengembang, atau sangat terangsang.
c. Kembung dan Sendawa (Flatulens).
Akumulasi gas di dalam saluran gastrointestinal dapat mengakibatkan sendawa yaitu
pengeluaran gas dari lambung melalui mulut (flatulens) yaitu pengeluaran gas dari rektm.
Sendawa terjadi jika menelan udara dimana cepat dikeluarkan bila mencapai lambung.
Biasanya, gas di usus halus melewati kolon dan di keluarkan. Pasien sering mengeluh
kembung, distensi, atau merasa penuh dengan gas.
d.

Ketidaknyamanan Abdomen
Ketidaknyamanan pada abdomen secara lazim berhubngan dengan gangguan saraf lambung
dan gangguan saluran gastrointestinal atau bagian lain tubuh. Makanan berlemak cenderung
menyebabkan ketidaknyamanan karena lemak tetap berada di bawah lambung lebih lama dari
protein atau karbohidrat. Sayuran kasar dan makanan yang sangat berbumbu dapat juga
mengakibatkan penyakit berat. Ketidaknyamanan atau distress abdomen bagian atas yang
berhubungan dengan makanan yang merupakan keluhan utama dari pasien dengan disfungsi
gastrointestinal. Dasar distress gerakan abdomen ini merupakan gerakan peristaltic lambung

e.

pasien sendiri. Defekasi dapat atau tidak dapat menghilangkan nyeri.


Diare
Diare adalah peningkatan keenceran dan frekuensi feses. Diare dapat terjadi akibat adanya zat
terlarut yang tidak dapat diserap di dalam feses, yang disebut diare osmotic, atau karena iritasi
saluran cerna. Penyebab tersering iritasi adalah infeksi virus atau bakteri di usus halus distal
atau usus besar. Iritasi usus oleh suatu pathogen mempengaruhi lapisan mukosa usus

sehingga terjadi peningkatan produk-produk sekretorik termasuk mucus. Iritasi oleh mikroba jga
mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas
menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk penyerapan
zat-zat tersebut di kolon berkuran. Individu yang mengalami diare berat dapat meninggal akibat
syok hipovolemik dan kelainan elektrolit.
f.

Konstipasi

Konstipasi didefinisikan sebagai defekasi yang sulit atau jarang. Frekuensi defekasi berbedabeda setiap orang sehingga definisi ini bersifat subjektif dan dianggap sebagai penurunan
relative jumlah buang air besar pada seseorang. Defekasi dapat menjadi sulit apabila feses
mengeras dan kompak. Hal ini terjadi apabila individu mengalami dehidrasi atau apabila
tindakan BAB ditunda sehingga memungkinkan lebih banyak air yang terserap keluar sewaktu
feses berada di usus besar.diet berserat tinggi mempertahankan kelembaban feses dengan
cara menarik air secara osmosis ke dalam feses dan dengan merangsang peristaltic kolon
melalui peregangan. Dengan demikian, orang yang makan makanan rendah serat atau
makananan yang sangat dimurnikan beresiko lebih besar mengalami konstipasi. Olah raga
mendorong defekasi dengan merangsang saluran GE secara fisik. Dengan demikian, orang
yang sehari-harinya jarang bergerak berisiko tinggi mengalami konstipasi.

Pemeriksaan Diagnostik Untuk Saluran Pencernaan


Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari:
Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan
untuk memperoleh jaringan dari dalam tubuh)
Rontgen
Ultrasonografi (USG)
Perunut radioaktif
Pemeriksaan kimiawi.
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis,
menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem
pencernaan.
Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu;
ada juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan

puasa; sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus.


Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat
medis
dan
pemeriksaan
fisik.
Tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat samar sehingga dokter
mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti.
Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem
pencernaan
dan
menimbulkan
gejala-gejalanya.

Pemeriksaan Kerongkongan
1. Pemeriksaan
barium.
Penderita menelan barium dan perjalanannya melewati kerongkongan
dipantau melalui fluoroskopi (teknik rontgen berkesinambungan yang
memungkinkan
barium
diamati
atau
difilmkan).
Dengan fluoroskopi, dokter bisa melihat kontraksi dan kelainan anatomi
kerongkongan (misalnya penyumbatan atau ulkus). Gambaran ini seringkali
direkam
pada
sebuah
film
atau
kaset
video.
Selain cairan barium, bisa juga digunakan makanan yang dilapisi oleh
barium, sehingga bisa ditentukan lokasi penyumbatan atau bagian
kerongkongan
yang
tidak
berkontraksi
secara
normal.
Cairan barium yang ditelan bersamaan dengan makanan yang dilapisi oleh
barium
bisa
menunjukkan
kelainan
seperti:
- selaput kerongkongan (dimana sebagian kerongkongan tersumbat oleh
jaringan
fibrosa)
divertikulum
Zenker
(kantong
kerongkongan)
erosi
dan
ulkus
kerongkongan
varises
kerongkongan
- tumor.
2. Manometri.
Manometri adalah suatu pemeriksaan dimana sebuah tabung dengan alat
pengukur
tekanan
dimasukkan
ke
dalam
kerongkongan.
Dengan alat ini (alatnya disebut manometer) dokter bisa menentukan apakah
kontraksi kerongkongan dapat mendorong makanan secara normal atau
tidak.
3. Pengukuran
pH
kerongkongan.
Mengukur keasaman kerongkongan bisa dilakukan pada saat manometri.
Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah terjadi refluks asam
atau tidak.
4. Uji
Bernstein
(Tes
Perfusi
Asam
Kerongkongan).
Pada pemeriksaan ini sejumlah kecil asam dimasukkan ke dalam
kerongkongan
melalui
sebuah
selang
nasogastrik.
Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah nyeri dada disebabkan

karena iritasi kerongkongan oleh asam dan merupakan cara yang baik untuk
menentukan adanya peradangan kerongkongan (esofagitis).

Intubasi
Intubasi adalah memasukkan sebuah selang plastik kecil yang lentur melalui hidung
atau
mulut
ke
dalam
lambung
atau
usus
halus.
Prosedur ini bisa digunakan untuk keperluan diagnostik maupun pengobatan.
Intubasi bisa menyebabkan muntah dan mual, tetapi tidak menimbulkan nyeri.
Ukuran selang yang digunakan bervariasi, tergantung kepada tujuan dilakukannya
prosedur ini (apakah untuk diagnosik atau pengobatan).
1. Intubasi
Nasogastrik.
Pada intubasi nasogastrik, sebuah selang dimasukkan melalui hidung menuju
ke
lambung.
Prosedur ini digunakan untuk mendapatkan contoh cairan lambung, untuk
menentukan apakah lambung mengandung darah atau untuk menganalisa
keasaman,
enzim
dan
karakteristik
lainnya.
Pada korban keracunan, contoh cairan lambung ini dianalisa untuk
mengetahui racunnya. Kadang selang terpasang agak lama sehingga lebih
banyak
contoh
cairan
yang
bisa
didapat.
Intubasi nasogastrik juga bisa digunakan untuk memperbaiki keadaan
tertentu:
- Untuk menghentikan perdarahan dimasukkan air dingin
- Untuk memompa atau menetralkan racun diberikan karbon aktif
- Pemberian makanan cair pada penderita yang mengalami kesulitan
menelan.
Kadang intubasi nasogastrik digunakan secara berkesinambungan untuk
mengeluarkan isi lambung. Ujung selang biasanya dihubungkan dengan alat
penghisap, yang akan mengisap gas dan cairan dari lambung.
Cara ini membantu mengurangi tekanan yang terjadi jika sistem pencernaan
tersumbat atau tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
2. Intubasi
Nasoenterik.
Pada intubasi nasoenterik, selang yang dimasukkan melalui hidung lebih
panjang, karena harus melewati lambung untuk menuju ke usus halus.
Prosedur
ini
bisa
digunakan
mendapatkan
contoh
isi
mengeluarkan
cairan
memberikan
makanan.

untuk:
usus

Sebuah selang yang dihubungkan dengan suatu alat kecil di ujungnya bisa

digunakan untuk biopsi (mengambil contoh jaringan usus halus untuk


diperiksa secara mikroskopik atau untuk analisa aktivitas enzim).
Lambung dan usus halus tidak dapat merasakan nyeri, sehingga kedua prosedur
diatas
tidak
menimbulkan
nyeri.

Endoskopi
Endoskopi adalah pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung
serat
optik
yang
disebut
endoskop.
Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk memeriksa:
kerongkongan
(esofagoskopi)
lambung
(gastroskopi)
usus
halus
(endoskopi
saluran
pencernaan
atas).
Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk memeriksa:
rektum
dan
usus
besar
bagian
bawah
(sigmoidoskopi)
keseluruhan
usus
besar
(kolonoskopi).
Diameter endoskop berkisar dari sekitar 0,6 cm-1,25 cm dan panjangnya berkisar
dari
sekitar
30
cm-150
cm.
Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel menjalankan
fungsinya
sebagai
sumber
cahaya
dan
sistem penglihatan.
Banyak endoskop yang juga dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk
mengangkat contoh jaringan dan sebuah alat elektronik untuk menghancurkan
jaringan
yang
abnormal.
Dengan endoskop dokter dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah
yang mengalami iritasi, ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang
abnormal. Biasanya diambil contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya.

Endoskop juga bisa digunakan untuk pengobatan. Berbagai alat yang berbeda bisa
dimasukkan melalui sebuah saluran kecil di dalam endoskop:
Elektrokauter bisa digunakan untuk menutup suatu pembuluh darah dan
menghentikan perdarahan atau untuk mengangkat suatu pertumbuhan yang kecil
- Sebuah jarum bisa digunakan untuk menyuntikkan obat ke dalam varises
kerongkongan
dan
menghentikan
perdarahannya.
Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya dipuasakan
terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung bisa
menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan

dilakukan.
Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon, penderita biasanya
menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus besar.
Komplikasi
dari
penggunaan
endoskopi
relatif
jarang.
Endoskopi dapat mencederai atau bahkan menembus saluran pencernaan, tetapi
biasanya endoskopi hanya menyebabkan iritasi pada lapisan usus dan perdarahan
ringan.

Laparoskopi
Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop
Laparoskopi biasanya dilakukan dalam keadaan penderita terbius total.
Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat
pusar. Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga
perut.
Dengan
laparoskopi
dokter
dapat:
mencari
tumor
atau
kelainan
lainnya
mengamati
organ-organ
di
dalam
rongga
perut
memperoleh
contoh
jaringan
melakukan
pembedahan
perbaikan.

Rontgen
1. Foto polos perut.
Foto polos perut merupakan foto rontgen standar untuk perut, yang tidak
memerlukan persiapan khusus dari penderita.
Sinar X biasanya digunakan untuk menunjukkan:
- suatu penyumbatan
- kelumpuhan saluran pencernaan
- pola udara abnormal di dalam rongga perut
- pembesaran organ (misalnya hati, ginjal, limpa).
2. Pemeriksaan
barium.
Setelah penderita menelan barium, maka barium akan tampak putih pada
foto rontgen dan membatasi saluran pencernaan, menunjukkan kontur dan
lapisan dari kerongkongan, lambung dan usus halus.
Barium yang terkumpul di daerah abnormal menunjukkan adanya ulkus,
erosi,
tumor
dan
varises
kerongkongan.

Foto rontgen bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu untuk menunjukkan


keberadaan barium. Atau digunakan sebuah fluoroskop untuk mengamati
pergerakan barium di dalam saluran pencernaan. Proses ini juga bisa
direkam.
Dengan mengamati perjalanan barium di sepanjang saluran pencernaan,
dokter
dapat
menilai:
fungsi
kerongkongan
dan
lambung
kontraksi
kerongkongan
dan
lambung
penyumbatan
dalam
saluran
pencernaan.
Barium juga dapat diberikan dalam bentuk enema untuk melapisi usus besar
bagian bawah. Kemudian dilakukan foto rontgen untuk menunjukkan adanya
polip,
tumor
atau
kelainan
struktur
lainnya.
Prosedur ini bisa menyebabkan nyeri kram serta menimbulkan rasa tidak
nyaman.
Barium yang diminum atau diberikan sebagai enema pada akhirnya akan
dibuang ke dalam tinja, sehingga tinja tampak putih seperti kapur.
Setelah pemeriksaan, barium harus segera dibuang karena bisa
menyebabkan sembelit yang berarti. Obat pencahar bisa diberikan untuk
mempercepat pembuangan barium.

Parasentesis
Parasentesis adalah memasukkan jarum ke dalam rongga perut dan mengambil
cairannya.
Dalam keadaan normal, rongga perut diluar saluran pencernaan hanya
mengandung sejumlah kecil cairan. Cairan bisa terkumpul dalam keadaan-keadaan
tertentu, seperti perforasi lambung atau usus, penyakit hati, kanker atau pecahnya
limpa.
Parasentesis digunakan untuk memperoleh contoh cairan untuk keperluan
pemeriksaan atau untuk membuang cairan yang berlebihan.
Pemeriksaan fisik (kadang disertai dengan USG) dilakukan sebelum parasentesis
untuk memperkuat dugaan bahwa rongga perut mengandung cairan yang
berlebihan.
Selanjutnya daerah kulit (biasanya tepat dibawah pusar) dibersihkan dengan
larutan antiseptik dan dibius lokal. Melalui kulit dan otot dinding perut, dimasukkan
jarum yang dihubungkan dengan tabung suntik ke dalam rongga perut dimana
cairan
terkumpul.
Sejumlah kecil cairan diambil untuk pemeriksaan laboratorium atau sampai 0,96
liter
cairan
diambil
untuk
mengurangi
pembengkakan
perut.

USG

Perut

USG menggunakan gelombang udara untuk menghasilkan gambaran dari organorgan


dalam.
USG bisa menunjukkan ukuran dan bentuk berbagai organ (misalnya hati dan
pankreas) dan juga bisa menunjukkan daerah abnormal di dalamnya.
USG
juga
dapat
menunjukkan
adanya
cairan.
Tetapi USG bukan alat yang baik untuk menentukan permukaan saluran
pencernaan, sehingga tidak digunakan untuk melihat tumor dan penyebab
perdarahan
di
lambung,
usus
halus
atau
usus
besar.
USG merupakan prosedur yang tidak menimbulkan nyeri dan tidak memiliki resiko.
Pemeriksa menekan sebuah alat kecil di dinding perut dan mengarahkan
gelombang suara ke berbagai bagian perut dengan menggerakkan alat tersebut.
Gambaran dari organ dalam bisa dilihat pada layar monitor dan bisa dicetak atau
direkam
dalam
filem
video.

Pemeriksaan

Darah

Samar

Perdarahan di dalam saluran pencernaan dapat disebabkan baik oleh iritasi ringan
maupun
kanker
yang
serius.
Bila perdarahannya banyak, bisa terjadi muntah darah, dalam tinja terdapat darah
segar atau mengeluarkan tinja berwarna kehitaman (melena).
Jumlah darah yang terlalu sedikit sehingga tidak tampak atau tidak merubah
penampilan tinja, bisa diketahui secara kimia; dan hal ini bisa merupakan petunjuk
awal
dari
adanya
ulkus,
kanker
dan
kelainan
lainnya.
Pada pemeriksaan colok dubur, dokter mengambil sejumlah kecil tinja . Contoh ini
diletakkan pada secarik kertas saring yang mengandung zat kimia. Setelah
ditambahkan bahan kimia lainnya,

BAB II
PEMBAHASAN
Asuhan Keperawatan ( Askep ) pada Klien
dengan Gastroenteritis ( GE )

Pengertian
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih
banyak dari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk
cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi
yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).
Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari ( WHO,
1980),
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan
usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et
all.1996).
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk
tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang
disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang
patogen (Whaley & Wongs,1995).
Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang
disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995
).
Jadi dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa
gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya yang
disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.

Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus
enteris, VirusNorwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia
Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa
mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi
enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding
usus pada gastroenteritis akut.
Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang
lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan
minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik
(makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam
rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu
menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air

dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan mutilitas usus yang
mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri
adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan
asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang,
output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

Gejala Klinis
a. Diare.
b. Muntah.
c. Demam.
d. Nyeri abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel cekung
g. Kehilangan berat badan
h. Tidak nafsu makan
i. Badan terasa lemah

Komplikasi
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

Tingkat Dehidrasi Gastroenteritis


a. Dehidrasi Ringan
Kehilangan cairan 2 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit
kurang elastis, suara serak, klien belum jatuh pada keadaan syok.

b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit
jelek, suara serak, presyok nadi cepat dan dalam.

c. Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti
tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis
sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.

Penatalaksanaan Medis
a. Pemberian cairan.
b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan
penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
Memberikan asi.
Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral
dan makanan yang bersih.
c. Obat-obatan.

Pemberian cairan, pada klien Diare dengan memperhatikan


derajat dehidrasinya dan keadaan umum
a. Cairan per oral.
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral
berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na, HCO, K dan Glukosa, untuk Diare akut
diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan, atau sedang kadar natrium 50-60
Meq/l dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin
yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan
dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.
b. Cairan parenteral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari
berat badan atau ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan
sesuai dengan umur dan berat badannya.
1. Dehidrasi ringan.
1jam pertama 25 50 ml / Kg BB / hari, kemudian 125 ml / Kg BB / oral
2. Dehidrasi sedang.
1jam pertama 50 100 ml / Kg BB / oral, kemudian 125 ml / kg BB / hari.

3. Dehidrasi berat.
Untuk anak umur 1 bulan 2 tahun dengan berat badan 3 10 kg

1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15


tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20
tetes ).
16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan
dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 2 5 tahun dengan berat badan 10 15 kg.
- 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml =
15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
- 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat
diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 5 10 tahun dengan berat badan 15 25 kg.
-1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20
tetes ).
-16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
c. Diatetik ( pemberian makanan ).
Terapi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada klien dengan
tujuan meringankan, menyembuhkan serta menjaga kesehatan klien.
Hal hal yang perlu diperhatikan :
Memberikan Asi.
Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral dan
vitamin, makanan harus bersih.
d. Obat-obatan.
Obat anti sekresi.
Obat anti spasmolitik.
Obat antibiotik.

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan tinja.

Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila


memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau
astrup, bila memungkinkan.
Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik
atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.

Tumbuh Kembang Anak


Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang
pengertian dari pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam
besar, jumlah, ukuran atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan
perkembangan adalah menitik beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi
pematangan organ individu termasuk perubahan aspek dan emosional.
Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan miniatur
orang dewasa, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara
ekonomi.
Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak,
baik secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan
masyarakat.
Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.
a. Motorik halus.
1. Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.
2. Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya
3. Memasukkan benda kedalam mulutnya.
4. Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.
5. Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.
b. Motorik kasar.
1. Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.
2. Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.
3. Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.
c. Kognitif.
a. Berusaha memperluas lapangan.

b. Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.


c. Mulai mencari benda-benda yang hilang.
d. Bahasa.
Mengeluarkan suara ma.. pa.. ba.. walaupun kita berasumsi ia sudah dapat
memanggil kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.

Dampak Hospitalisasi terhadap Anak


a. Separation ansiety
b. Tergantung pada orang tua
c. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
d. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik
diri, sedih, kesepian dan apatis
e. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan
dengan orang lain dan menyukai lingkungan

Askep GE
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan
penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,
observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992
adalah :
1. Identitas klien.
2. Riwayat keperawatan.
Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anorekia
kemudian timbul diare.
Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan
elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar
cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering,
frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
3. Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
4. Riwayat psikososial keluarga.

Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,
kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan
anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah
dan merasa bersalah.
5. Kebutuhan dasar.
Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK
sedikit atau jarang.
Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan
berat badan pasien.
Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang
akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri
akibat distensi abdomen.
6. Pemerikasaan fisik.
a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran
composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan
agak cepat.
b. Pemeriksaan sistematik :
Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering,
berat badan menurun, anus kemerahan.
Perkusi : adanya distensi abdomen.
Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
d. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat
badan menurun.
e. Pemeriksaan penunjang.
f.Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui
penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.

Diagnosa Keperawatan GE

1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan output cairan yang berlebihan.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual dan muntah.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang
berlebihan.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakit, prognosis dan pengobatan.
6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang
menakutkan.

Intervensi
Diagnosa 1.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan output cairan yang berlebihan.
Tujuan :
Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil:
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan
seimbang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur input dan
output cairan (balan cairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan
minum yang banyak kurang lebih 2000 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian therapi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim
gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
Diagnosa 2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan
mual dan muntah.
Tujuan :
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi

Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual, muntah
tidak ada.
Intervensi :
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji
faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemeriksaan fisik abdomen
(palpasi, perkusi, dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil
tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Diagnosa 3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang
berlebihan.
Tujuan :
Gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada
Intervensi :
Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara perlahan menggunakan
sabun non alkohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therapi antifungi sesuai indikasi.
Diagnosa 4.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
Tujuan :
Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi
klien. Beri kompres hangat pada daerah abdomen. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian therapi analgetik sesuai indikasi.

Diagnosa 5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,
prognosis dan pengobatan.
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil :
Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang,
keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
Intervensi :
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang
proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui
pendidikan kesehatan. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum
dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Diagnosa 6.
Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur yang
menakutkan.
Tujuan :
Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan
Intervensi :
Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak
dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien.
Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga untuk selalu
mendampingi klien.

Evaluasi
1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
3. Integritas kulit kembali normal.
4. Rasa nyaman terpenuhi.
5. Pengetahuan kelurga meningkat.

6. Cemas pada klien teratasi.

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Gastroenteritis adalah
disebabkan

oleh

inflamasi

bakteri

pada

yang

daerah

lambung

bermacam-macam,virus

dan
dan

intestinal

yang

parasit

yang

patogen (Whaley & Wongs,1995).


Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang
disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995
).
Gastroenteritis

dapat

menyerang

segala

usia,

karena

ia

disebabkan

oleh

mikroorganisme yang merupakan bagian dari flora yang menghuni tempat di


seluruh permukaan bumi.

Dehidrasi adalah suatu gangguan dalam keseimbangan air yang disebabkan output
melebihi intake sehingga jumlah air pada tubuh berkurang. Meskipun yang hilang
adalah cairan tubuh, tetapi dehidrasi juga disertai gangguan elektrolit. Dehidrasi
dapat terjadi karena kekuarangan air ( watter deflection ), kekurangan natrium
( sodium deflection ), serta kekurangan air dan natrium secara bersama-sama
( prescilla 2009 ),
Jadi, Gastroenteritis dehidrasi adalah peradangan pada lambung, usus halus dan
usus besar dengan berbagai kodisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan
manifestasi diare dengan atau disertai muntah, serta ketidaknyamanan abdomen
yang bisa juga mengakibatkan dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar
karena gangguan tersebut.

B.

SARAN
Kepada pembaca diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memahami
dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana tindakan yang dapat
dilakukan jika menderita GE DEHIDRASI
1. Menggunakan air bersih dan sanitasi yang baik.
2. Memasak makanan dan air minum hingga matang.
3. Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan.
4. Menghindari makanan yang telah terkontaminasi oleh lalat.
5. Tidak mengkonsumsi makanan yang telah basi.
6. Menghindari mekanan yang dapat menimbulkan diare.
7. Makan dan minum secara teratur.
.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, (1996), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

Carpenito, L.J., (2006), Buku Saku Diagnosa Keperawatan,EGC, Jakarta.

Doengoes,M.E.,(1998), Dokumentasi & Rencana Asuhan Keperawatan Medikal


Bedah, EGC, Jakarta.

Guyton, A.C., (1995), Fisiologi Manusia, EGC, Jakarta.

Mansyur,A., (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Media Aeskulapius, Jakarta.

Price,S.A. & Wilson,L.M.,(1995), Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,


EGC, Jakarta.

Suyono, S., (1996), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit, Jakarta.
Diposkan oleh narera hehe di 02.16

ASKEP GASTROENTERITIS
ASKEP GASTROENTERITIS
BAB I
TINJAUAN TEORITIS
A.

Definisi Gastroenteritis ( GE )

Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan
lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula
bercampur lendir dan darah/lendir saja (Sudaryat Suraatmaja.2005).
Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala
diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh
bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wongs,1995).
Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan
oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa:
Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung, usus besar, dan usus halus
disebabkan oleh infeksi makanan yang mengandung bakteri atau virus yang memberikan gejala
diare dengan frekwensi lebih banyak dengan konsistensi encer dan kadang-kadang disertai
dengan muntah-muntah. Dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang
patogen.
Gastroenteritis dapat menyerang segala usia, karena ia disebabkan oleh mikroorganisme yang
merupakan bagian dari flora yang menghuni tempat di seluruh permukaan bumi.
B. Etiologi
Penyebab dari diare akut antara lain :
1.
Faktor Infeksi
v Infeksi Virus
Retavirus

Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah.

Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.

Dapat ditemukan demam atau muntah.

Di dapatkan penurunan HCC.


Enterovirus


Biasanya timbul pada musim panas.
Adenovirus

Timbul sepanjang tahun.

Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan / pernafasan.


Norwalk

Epidemik

Dapat sembuh sendiri ( dalam 24 - 48 jam ).


v Bakteri
Stigella

Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September

Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun

Dapat dihubungkan dengan kejang demam.

Muntah yang tidak menonjol

Sel polos dalam feses

Sel batang dalam darah


Salmonella

Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.

Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.

Mungkin ada peningkatan temperatur

Muntah tidak menonjol

Sel polos dalam feses

Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.

Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.


Escherichia coli

Baik yang menembus mukosa ( feses berdarah ) atau yang menghasilkan entenoksin.

Pasien ( biasanya bayi ) dapat terlihat sangat sakit.


Campylobacter

Sifatnya invasis ( feses yang berdarah dan bercampur mukus ) pada bayi dapat
menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain.

Kram abdomen yang hebat.

Muntah / dehidrasi jarang terjadi


Yersinia Enterecolitica

Feses mukosa

Sering didapatkan sel polos pada feses.

Mungkin ada nyeri abdomen yang berat

Diare selama 1-2 minggu.

Sering menyerupai apendicitis.


2.
Faktor Non Infeksiosus
v Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa,maltosa, dan sukrosa ), non sakarida
( intoleransi glukosa, fruktusa, dan galaktosa ). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering
ialah intoleransi laktosa.

Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.

Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.

v Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, down milk protein
senditive enteropathy/CMPSE).
v Faktor Psikologis
Rasa takut,cemas.
C.

Patofisiologi

Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus ( Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus
Norwalk ), Bakteri atau toksin ( Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia, dan
lainnya ), parasit ( Biardia Lambia, Cryptosporidium ).
Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi
enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada
Gastroenteritis akut.
Penularan Gastroenteritis biasa melalui fekal - oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa
kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak
dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul
diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi
air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang
mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah
kehilangan air dan elektrolit ( Dehidrasi ) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis
Metabolik dan HipokalemiaN ), gangguan gizi ( intake kurang, output berlebih), hipoglikemia,
dan gangguan sirkulasi darah.
Normalnya makanan atau feses bergerak sepanjang usus karena gerakan-gerakan peristaltik dan
segmentasi usus. Namun akibat terjadi infeksi oleh bakteri, maka pada saluran pencernaan akan
timbul mur-mur usus yang berlebihan dan kadang menimbulkan rasa penuh pada perut sehingga
penderita selalu ingin BAB dan berak penderita encer.
Dehidrasi merupakan komplikasi yang sering terjadi jika cairan yang dikeluarkan oleh tubuh
melebihi cairan yang masuk, cairan yang keluar disertai elektrolit.
Mula-mula mikroorganisme Salmonella, Escherichia Coli, Vibrio Disentri dan Entero Virus
masuk ke dalam usus, disana berkembang biak toxin, kemudian terjadi peningkatan peristaltik
usus, usus kehilangan cairan dan elektrolit kemudian terjadi dehidrasi.
D. Tanda dan Gejala
1.
Kuman Salmonella
Suhu badan naik, konsistensi tinja cair/encer dan berbau tidak enak, kadang-kadang mengandung
lendir dan darah, stadium prodomal berlangsung selama 2-4 hari dengan gejala sakit kepala,
nyeri dan perut kembung.
2.
Kuman Escherichia Coli
Lemah, berat badan sukar naik, pada bayi mulas yang menetap.

3.
Kuman Vibrio
Konsistensi encer dan tanpa diketahui mules dalam waktu singkat terjadi, akan berubah menjadi
cairan putih keruh tidak berbau busuk amis, yang bila diare akan berubah menjadi campurancampuran putih, mual dan kejang pada otot kaki.
4.
Kuman Disentri
Sakit perut, muntah, sakit kepala, BAB berlendir dan berwarna kemerahan, suhu badan
bervariasi, nadi cepat.
5.
Kuman Virus
Tidak suka makan, BAB berupa cair, jarang didapat darah, berlangsung selama 2-3 hari.
6.
Gastroenteritis Choleform
Gejala utamanya diare dan muntah, diare yang terjadi tanpa mulas dan tidak mual, bentuk feses
seperti air cucian beras dan sering mengakibatkan dehidrasi.
7.
Gastroenteritis Desentrium
Gejala yang timbul adalah toksik diare, kotoran mengandung darah dan lendir yang disebut
sindroma desentri, jarang mengakibatkan dehidrasi dan tanda yang sangat jelas timbul 4 hari
sekali yaitu febris, perut kembung, anoreksia, mual dan muntah.
E.

Manifestasi Klinis

Nyeri perut ( abdominal discomfort )


Rasa perih di ulu hati
Mual, kadang-kadang sampai muntah
Nafsu makan berkurang
Rasa lekas kenyang
Perut kembung
Rasa panas di dada dan perut
Regurgitasi ( keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba ).
Diare.
Demam.
Membran mukosa mulut dan bibir kering
Lemah
Diare.
Fontanel Cekung
F.

Komplikasi.

a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi

f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
G. Tingkat Derajat Dehidrasi
Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Dehidrasi ringan
Kehilangan cairan 2 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis,
suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok, ubun-ubun dan mata cekung, minum
normal, kencing normal.
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara
serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam. gelisah, sangat haus, pernafasan agak
cepat, ubun-ubun dan mata cekung, kencing sedikit dan minum normal.
c. Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 - 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda
dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku
sampai sianosis, denyut jantung cepat, nadi lemah, tekanan darah turun, warna urine pucat,
pernafasan cepat dan dalam, turgor sangat jelek, ubun-ubun dan mata cekung sekali, dan tidak
mau minum.
Atau yang dikatakan dehidrasi bila:
1. Dehidrasi ringan: kehilangan cairan 2-5% atau rata-rata 25ml/kgBB.
2. Dehidrasi sedang: kehilangan cairan 5-10% atau rata-rata 75ml/kgBB.
3. Dehidrasi berat: kehilangan cairan 10-15% atau rata-rata 125ml/kgBB.
Berdasarkan golongan Gastroenteritis dibagi menjadi:
1.
Pada bayi dan anak-anak.
Bayi dan anak-anak dikatakan diare bila sudah lebih dari tiga kali perhari BAB, sedangkan
neonatus dikatakan diare bila sudah lebih dari empat kali perhari BAB.
2.
Pada orang dewasa.
Pada orang dewasa dikatakan diare bila sudah lebih dari tujuh kali dalam 2 jam BAB.
Jenis-jenis diare:
1.
Diare cair akut
Keluar tinja yang encer dan sering ada terlihat darah, yang berakhir kurang dari 14 hari.

2.
Disentri.
Diare dengan adanya darah dalam feces, frekuensi sering dan feces sedikit-sedikit.
3.
Diare persisten.
Diare yang berakhir dlm 14 hari atau lebih, dimulai dari diare akut atau disentri.
H.

Pemeriksaan Penunjang.

Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :


1.
Pemeriksaan Tinja

Makroskopis dan mikroskopis.

pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat
intoleransi gula.

Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.


2.
Pemeriksaan Darah

pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium, Kalsium, dan Fosfor ) dalam
serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.

Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.


3.
Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )
Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan
pada penderita diare kronik.
I.

Penatalaksanaan Medis.

a. Pemberian cairan untuk mengganti cairan yang hilang.


b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan
penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
1.
2.

Memberikan asi.
Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein,
vitamin, mineral, dan makanan yang bersih.

c. Monitor dan koreksi input dan output elektrolit.


d. Obat-obatan.
Berikan antibiotik.
e.

Koreksi asidosis metabolik.

BAB II
ASKEP TEORITIS
1.

Pengkajian

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah.
Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, psikal assessment.
Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :
A. Identitas klien.
B. Riwayat keperawatan.
a.
Awalan serangan : Awalnya anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, anoreksia
kemudian timbul diare.
b.
Keluhan utama : Feces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit
terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan
turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali
dengan konsistensi encer.
C. Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
D. Riwayat psikososial keluarga.
Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat
jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit
anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
E. Kebutuhan dasar.
a.
Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK
sedikit atau jarang.
b.
Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat
badan pasien.
c.
Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
d.
Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
e.
Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat
distensi abdomen.

F. Pemerikasaan fisik.
a.
Pemeriksaan psikologis :
Keadaan umum tampak lemah, kesadran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi
cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.
b.
Pemeriksaan sistematik :
Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan
menurun, anus kemerahan.
Perkusi : adanya distensi abdomen.
Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.
Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c.
Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan
menurun.
d.
Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab
secara kuantitatip dan kualitatif.
2.
Diagnosa Keperawatan.
1.
Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
output cairan yang berlebihan.
2.
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah.
3.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
4.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis
dan pengobatan.
3.

Intervensi

1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
output cairan yang berlebihan.

Tujuan
: Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil :
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada.
Mukosa mulut.
Bibir lembab.
Cairan seimbang.

Intervensi
:
Observasi tanda-tanda vital.
Observasi tanda-tanda dehidrasi.
Ukur infut dan output cairan ( balanc ccairan ).
Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000
2500 cc per hari.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan pemeriksaan lab elektrolit.
Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah.
Tujuan
: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil :
Intake nutrisi klien meningkat
Diet habis 1 porsi yang disediakan
Mual dan muntah tidak ada.
Intervensi
:
Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.
Timbang berat badan klien.
Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
Lakukan pemerikasaan fisik abdomen ( palpasi,perkusi,dan auskultasi ).
Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.
Tujuan
: Gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :
Integritas kulit kembali normal
Iritasi tidak ada
Tanda-tanda infeksi tidak ada
Intervensi
:
Ganti popok anak jika basah.
Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol.
Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
Observasi bokong dan perineum dari infeksi.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.
4.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Tujuan
: Nyeri dapat teratasi.
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hilang.
Ekspresi wajah tenang.
Intervensi
:
Observasi tanda-tanda vital.
Kaji tingkat rasa nyeri.
Atur posisi yang nyaman bagi klien.
Beri kompres hangat pada daerah abdomen.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis


dan pengobatan.

4.

Tujuan
: Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil :
Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien.
Ekspresi wajah tenang
Keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
Intervensi
:
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien.
Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.
Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes.
Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.
Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Implementasi

1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
output cairan yang berlebihan.
a.
Mengobservasi tanda-tanda vital.
b.
Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi.
c.
Mengukur infut dan output cairan ( balanc ccairan ).
d.
Memberikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih
2000 2500 cc per hari.
e.
Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan pemeriksaan lab elektrolit.
f.
Mengkolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
3.

Mengkaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.


Menimbang berat badan klien.
Mengkaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
Melakukan pemerikasaan fisik abdomen ( palpasi,perkusi,dan auskultasi ).
Memberikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.
Mengkolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

a.
b.
c.
d.
e.

Mengganti popok anak jika basah.


Membersihkan bokong perlahan sabun non alcohol.
Memberi salp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
Mengobservasi bokong dan perineum dari infeksi.
Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.

4.

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

a. Mengobservasi tanda-tanda vital.


b. Mengkaji tingkat rasa nyeri.
c. Mengtur posisi yang nyaman bagi klien.
d. Memberi kompres hangat pada daerah abdomen.
e. Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis
dan pengobatan.
a.
b.
c.
d.
e.
5.
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Mengkaji tingkat pendidikan keluarga klien.


Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.
Meenjelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes.
Memberikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.
Melibatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Evaluasi
Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
Integritas kulit kembali normal.
Rasa nyaman terpenuhi.
Pengetahuan kelurga meningkat.
Cemas pada klien teratasi.

BAB III
PENUTUP
1.

Kesimpulan

Gastroentritis merupakan suatu peradangan yang terjadi pada lambung, usus besar, dan usus
halus disebabkan oleh infeksi makanan yang mengandung bakteri atau virus yang memberikan
gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dengan konsistensi encer dan kadang-kadang disertai
dengan muntah-muntah. Dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus Norwalk dan parasit

yang patogen.
Dan ditandai oleh infiltrasi mukosa usus halus oleh eosinofil, dengan edema tetapi tanpa
vaskulitis dan oleh eosinofilia darah tepi.
2.

Saran

Untuk Perawat
Sebaiknya perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus lebih memperhatikan faktor
penyebab maupun faktor pencetus dari penyakit yang diderita anak dan memberikan pendidikan
kesehatan pada orang tua klien dan klien agar masalah yang menyebabkan klien dirawat dapat
diatasi sehingga tidak terjadi perawatan yang berulang
Untuk Orangtua Klien
Menjaga kebersihan lingkungan rumah, dan membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum
dan sesudah memberi makan anak serta menjaga personal hygiene dan memberi mainan anak
yang bersih dan dapat dicuci, dan bila terjadi diare pada anak sebelum di bawah ke rumah sakit,
diberikan larutan gula garam.
DAFTAR PUSTAKA
Betz, Cecily Lynn. Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC, 2009.
Doengoes, E Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 Jakarta; EGC.
Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta; EGC.
Nursalam Dr. et. Al. 2005 Asuhann Keperawatan Bayi dan Anak. Edisi I Jakarta : Salemba
Medika.
Smeltzer C Suzanne, Brenda G Bare, Keperawatan Medikal Bedah, Penerbit Buku Kedokteran,
Jakarta; EGC.
Sudoyo, W. Aru, dkk., Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 Edisi IV, Pusat Penerbitan Departemen
Penyakit Dalam FKUI, Jakarta 2006.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta; EGC

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mata adalah organ manusia yang berfungsi sebagai alat indra penglihatan. Mata dibentuk
untuk menerima rangsangan berkas berkas cahaya pada retina, lantas dengan perantaran
serabut serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini ke pusat pengliahatan pada otak
untuk ditafsirkan.
Selain itu mata juga sangat sensitive terhadap rangsangan terutama rangsangan
ransangan nyeri.mata juga rentan terhadap infeksi bakteri atau virus atau juga sering mengalami
trauma karena benda benda asing yang berupa butiran butiran kecil seperti debu dan asap.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan menjelaskan berbagai cara dan prosuder pemberian obat
mata yang benar baik berupa obat tetes, salep serta cara untuk melakukan irigasi pada mata yang
mengalami infeksi atau iritasi.

1.2 Rumusan Masalah


1.

Bagaimana Anatomi dan Fisiologi Mata ?

2.

Bagaimana Cara Pemberian Obat tetes mata ?

3.

Bagaimana Cara Pemberian Obat salep mata ?

4.

Bagiman Cara melakukan Irigasi mata ?

1.3 Tujuan
1.

Untuk mengetahui Anatomi dan Fisiologi Mata.

2.

Untuk mengetahui Cara Pemberian Obat tetes mata.

3.

Untuk mengetahui Cara Pemberian Obat salep mata.

4.

Untuk mengetahui Cara melakukan Irigasi mata.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi dan Fisiologi Mata
A. Definisi

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling
sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap.
Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian Visual.
B. Struktur dan Fungsi

Struktur dan fungsi mata sangat rumit dan mengagumkan. Secara konstan mata
menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan
jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak.
Mata memiliki struktur sebagai berikut:
a. Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata yang berwarna putih dan relatif kuat.
b. Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera.
c.

Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil
dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.

d. Pupil : daerah hitam di tengah-tengah iris.


e.

Iris : jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan
lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran
pupil.

f.

Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi
membantu memfokuskan cahaya ke retina.

g. Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi
mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak.
h. Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak.
i.

Humor aqueus : cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi
segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh
prosesus siliaris.

j.

Humor vitreus : gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi
segmen posterior mata).
Cahaya yang masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Iris mengatur jumlah cahaya yang
masuk dengan cara membuka dan menutup, seperti halnya celah pada lensa kamera. Jika
lingkungan di sekitar gelap, maka cahaya yang masuk akan lebih banyak; jika lingkungan di
sekitar terang, maka cahaya yang masuk menjadi lebih sedikit. Ukuran pupil dikontrol oleh otot
sfingter pupil, yang membuka dan menutup iris.
Lensa terdapat di belakang iris. Dengan merubah bentuknya, lensa memfokuskan cahaya ke
retina. Jika mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otot silier akan berkontraksi,

sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Jika mata memfokuskan pada objek yang jauh,
maka otot silier akan mengendur dan lensa menjadi lebih tipis dan lebih lemah.
Sejalan dengan pertambahan usia, lensa menjadi kurang lentur, kemampuannya untuk
menebal menjadi berkurang sehingga kemampuannya untuk memfokuskan objek yang dekat
juga berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia.
Retina mengandung saraf-saraf cahaya dan pembuluh darah. Bagian retina yang paling
sensitif adalah makula, yang memiliki ratusan ujung saraf. Banyaknya ujung saraf ini
menyebabkan gambaran visuil yang tajam. Retina mengubah gambaran tersebut menjadi
gelombang listrik yang oleh saraf optikus dibawa ke otak.
Saraf optikus menghubungkan retina dengan cara membelah jalurnya. Sebagian serat saraf
menyilang ke sisi yang berlawanan pada kiasma optikus (suatu daerah yang berada tepat di
bawah otak bagian depan).
Kemudian sebelum sampai ke otak bagian belakang, berkas saraf tersebut akan bergabung
kembali.
Bola mata terbagi menjadi 2 bagian, masing-masing terisi oleh cairan:
1. Segmen anterior : mulai dari kornea sampai lensa.
2. Segmen posterior : mulai dari tepi lensa bagian belakang sampai ke retina.
Segmen anterior berisi humor aqueus yang merupakan sumber energi bagi struktur mata
di dalamnya. Segmen posterior berisi humor vitreus. Cairan tersebut membantu menjaga bentuk
bola mata.
Segmen anterior sendiri terbagi menjadi 2 bagian:
a.

Bilik anterior : mulai dari kornea sampai iris

b. Bilik posterior : mulai dari iris sampai lensa.


Dalam keadaan normal, humor aqueus dihasilkan di bilik posterior, lalu melewati pupil
masuk ke bilik anterior kemudian keluar dari bola mata melalui saluran yang terletak ujung iris.

Otot, Saraf, dan Pembuluh Darah

Beberapa otot bekerja sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial
tertentu.
Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya.
Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak
Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata
Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan merangsang otot pada tulang
orbita.
Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata kanan,sedangkan
darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. Pembuluh darah ini masuk dan
keluar melalui mata bagian belakang.
Struktur Pelindung
Struktur di sekitar mata melindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas ke
segala arah. Struktur tersebut melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, virus, jamur dan
bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkinkan mata tetap terbuka sehingga cahaya
masih bisa masuk.
a.

Orbita adalah rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf, pembuluh darah,
lemak dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air mata.

b. Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata. Kelopak mata secara refleks
segera menutup untuk melindungi mata dari benda asing, angin, debu dan cahaya yang sangat
terang. Ketika berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan cairan ke seluruh permukaan
mata dan ketika tertutup, kelopak mata mempertahankan kelembaban permukaan mata. Tanpa
kelembaban tersebut, kornea bisa menjadi kering, terluka dan tidak tembus cahaya. Bagian
dalam kelopak mata adalah selaput tipis (konjungtiva) yang juga membungkus permukaan mata.
c.

Bulu mata merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata dan berfungsi
membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier (penghalang).

Kelenjar kecil di ujung kelopak mata menghasilkan bahan berminyak yang mencegah penguapan
air mata.
d. Kelenjar lakrimalis terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan menghasilkan air
mata yang encer.
e.

Air mata mengalir dari mata ke dalam hidung melalui 2 duktus lakrimalis; setiap duktus
memiliki lubang di ujung kelopak mata atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi
menjaga kelembaban dan kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikel-partikel kecil
yang masuk ke mata. Selain itu, air mata kaya akan antibodi yang membantu mencegah
terjadinya infeksi.
2.2

Pemberian Obat Mata


Obat yang biasa digunakan oleh klien adalah tetes mata dan salep. Meliputi preparat yang

dapat dibeli bebas, misalnya air mata buatan dan vasokonstriktor ( Mis. Visine dan Murine ).
Namun banyak klien menerima resep obat obatan oftalmikunutk kondisi mata seperti
Glaukoma dan untuk terapi setelah suatu prosedur, misalnya Ekstaksi katarak. Presentase besar
klien yang menerima obat mata ialah klien lanjut usia. Masalah yang berhubungan dengan usia,
termasuk penglihatan yang buruk, tremor tangan, dan kesulitan dalam memegang atau
menggunakan botol obat. Mempengaruhi kemudahan lansia mengunakan obat mata secara
mandiri. Perawat memberi penjelasan pada klien dan anggota keluarga tentang teknik yang
digunakan dalam pemberian obat mata. ( donnelly.1987 ).
Menganjurkan untuk memperlihatkan klien setiap langkah prosedur pemberian tetes mata
untuk meningkatkan kepatuhan klien. Prinsip berikut dapat diikuti saat akan memberikan obat
mata.
1.

Kornea mata banyak disuplai serabut saraf nyeri sehingga menjadi sangat sensitif terhadap
apapun yang diberikan ke kornea. Oleh karena itu, perawat menghindari memasukkan bentuk
obat mata apapun secar langsung ke kornea.

2.

Resiko penularan infeksi dari suatu mata ke mata lain sangatlah tinggi. Perawat menghindari
menyentuh kelopak mata atau struktur mata yang lain dengan alat tetes mata tube salep.

3.

Perawat menggunakan Obat hanya untuk mata Terinfeksi.

Berikut ini adalah cara atau prosedur tindakan yang bisa digunakan perawat dalam
memberikan obat pada mata :
Obat Tetes Mata da Salep Mata
Pemberian obat pada mata dengan memberikan tetes mata atau salep mata. Prosedur ini
dapat digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi
pupil, pengukuran refraksi dengan cara melemahkan otot lensa, juga digunakan untuk
menghilangkan iritasi mata.
a.

Persiapan alat

1. Obat dalam tempatnya ( tetes steril atau salep )


2. Plester
3. Kain kassa
4. Kertas tissue
5. Balutan
6. Sarung tangan steril
7. Kapas pelembab
8. Air hangat
b. Persiapan Pasien dan lingkungan
1. Menjelaskan maksud dan tujuan
2. Menjelaskan prosedur tindakan
3. Minta persetujuan
4. Memposisikan pasien pada posisi yang memungkinkan
5. Menyiapkan lampu/penerangan
c.

Prosedur tindakan

1. Cuci tangan
2. Atur posisi pasien dengan kepala menegadah dan posisi perawat di samping kanan pasien
3. Pakai Sarung tangan
4. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab( atau tissue ) dari sudut luar mata
ke arah hidung, bila sangat kotor basuh dengan air hangat.
5. Buka mata dengan menekan perlahan bagian bawah menggunakann ibu jari atau jari telunjuk di
atas tulang orbita.

6. >>> Obat Tetes Mata


Teteskan obat mata di atas sakus konjungtiva seseuai dosis.
Minta pasie untuk menutup mata dengan perlahan ketika mwenggunakan tetes mata.
Pemberian obat pada mata ( sumber kathlen Hoerth Belland & Marry Ann Wells. 1986 )

>>> Obat Salep Mata


Bila menggunakan obat mata jenis salep, pegang aplikator di atas tepi kelopak mata.
Tekan tube hingga obat keluar dan berikan pada kelopak mata bawah
Setelah selesai anjurkan pasien untuk melihat ke bawah
Secara bergantian, berikan obat pada kelopak mata bagian atas dan biarkan pasien untuk
memejamkan mata dan nmenggosok kelopak mata.
7. Tutup mata dengan kassa bila perlu.
8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
9. Catat prosedur dan respon pasien.

Irigasi pada Mata


Irigasi dilakukan dalam rangka untuk pencucian konjungtiva dengan memakai spuit
khusus atau spuit dengan tabung yang besar.
a.

Persiapan alat

1. Tabung steril tempat cairan


2. Cairan irigasi 60 240 cc dengan suhu 37 0C
3. Spuit steril
4. Bengkok
5. Bola kapas
6. Cairan normal saline
7. Perlak pengalas
8. Lampu senter
9. Sarung tangan
b. Persiapan Pasien dan Lingkungan
Menjelaskan maksud dan tujuan
Menjelaskan prosedur tindakan

Minta persetujuan pasien


Menyiapkan lampu penerangan
Memposisikan pasien pada posisi yang memungkinkan untuk tindakan.
c.

Prosedur tindakan

1. Cuci tangan
2. Pakai sarung tangan
3. Pasang perlak dan pengalas
4. Atur posisi pasien dengan kepala menegadah dan posisi perawat di samping kanan pasien
5. Kaji keadaan mata pasien dengan menggunakan lampu senter
6. Bersihkan kelopak mata dengan jari telunjuk dan ibu jari
7. Semprotkan perlahan cairan irigasi ke kantong konjunctiva dari kantus dalam ke arak kantus
luar, lakukan sampai bersih.
8. Anjurkan pasien berkedip kedip
9. Bersihkan kelopkak dengan kapas kering
10. Dokumentasikan tindakan yang telah di lakukan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling
sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap.
Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian Visual.
Obat yang biasa digunakan oleh klien adalah tetes mata dan salep mata. Prosedur ini dapat
digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil,
pengukuran refraksi dengan cara melemahkan otot lensa, juga digunakan untuk menhilangkan
iritasi mata. Irigasi dilakukan dalam rangka untuk pencucian konjungtiva dengan memakai spuit
khusus atau spuit dengan tabung yang besar.
3.2 Saran
Pengobatan pada mata harus di lakukan secara hati hati dan harus di lakukan dengan
prosedur yang benar. Oleh Karena itu, perawat di haruskan mengetahui dan menguasai prosedur
dalam memberikan obat pada mata.

DAFTAR PUSTAKA

Perry, Potter.2006. Fundamental Keperawatan. Vol.1.Jakarta:EGC

Aziz Alimul Hidayat & Musrifatul Uliyah.2005.Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar
Manusia.Jakarta:EGC
Anonim.2009.http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/mata.di akses tanggal 01 april 2010
Pukul 20:00
Anonim.2010.http://andaners.wordpress.com/w/81/asuhan-keperawatan-pada-penyakit-mata.
Diakses tanggal 01 april 2010 Pukul 20:10

F. PENGOBATAN
Pengobatan ditujukan untuk mengendalikan peradangan mengurangi gejala
dan mengganti cairan dan zat gizi yang hilang.penderita sebaij\knya mengurangi
makan-makan sayur mentah untuk mengurangi cedera fisik pada lapisan usus besar
yang meradang.Diet bebas susu,dan minum obat antikolinergik.
Apabila sudah terjadi colitis toksis maka penderita harus diawasi,semua obat
dihentikan dan pasien dipuasakan.Jika pasien masih lemah dapat dilakukan
tindakan pembedahan.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
1.PENGKAJIAN
Riwayat

kesehatan

diambil

untuk

mengidentifikasi

awitan,durasi,dan

karakteristik nyeri abdomen,adanya diare atau dorongan fekal ,mual,anoreksiaatau


penurunan

berat

badan.Dan

riwayat

keluarga

tentang

penyakit

usus

inflamasi.Pengkajian pola eliminasi usus mencakup karakter ,frekuensi,dan adanya


darah,pus,lemak,atau

mucus.Alergi

penting

untuk

dokumentasi

khususnya

intoleransi usus atau laktasol.Pasien dapat menunjukkan gangguan pola tidur bila
diare / nyeri terjadi pada malam hari.

Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus dan


karakteriristiknya,palpasi abdomen terhadap nyeri tekan,inspeksi kulit tanda bukti
adanya fistula atau gejala dehidrasi.Pasian diinspeksi adanya darah dan mucus.
Tujuan utama:

Mendapatkan eliminasi usus normal


Hilangnya nyeri abdomen dan kram
Mencegah kekurangan volume cairan
Mempertahankan nutrisi dan berat badan
Menghindari keletihan
Mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang proses penyakit dan program
terapeutik.
2. Diagnosa keperawatan
1.Diare berhubungan dengan adanya inflamasi,iritasi atau malabsorbsi usus
Intervensi:

Observasi dan catat frekuensi defekasi,karakteristik,jumlah dan factor pencetus.


Identitas makanan dan cairan yang mencetuskan diare.
Observasi demam,takikardia,ansietas,dan kelesuan.
Memberikan obat antikolinergik
2.Nutrisi perubahan kurang dari kebutuhan tubuh berhubangan dengan gangguan
absorpsi nutrient
Intervensi:

Timbang beratbadan tiap hari


Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik,lingkungan yang nyaman
Pertahankan puasa sesuai indikasi
Tambahkan diet sesuai indikasi
3.Nyeri berhubungan dengan diare lama
Intervensi:

Dorong pasien untuk melaporkan nyeri


Kaji laporan kram abdomen atau nyeri ,catat lokasi,skala nyeri.
Izinkan pasien untuk memulai posisi yang nyaman.

4.Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan informasi


Intervensi:
Tentukan persepsi pasien tentang proses penyakit
Beri tahu pasien tentang penyakit
Beri pendidikan kesehatan
H. ANATOMI

BAB III

PENUTUP
1.

Kesimpulan
Colitis ulserativa

merupakan

suatu

penyakit

menahun

di

usus

besar

mengalani peradangan dan luka,yang menyebabkan diare berdarah,kram perut dan


demam.kolitis ulserativa bisa dimulai pada umur berapapun,tapi biasanya dimulai
antara umur 15-30 tahun.
Penyebab penyakit ini tidak diketahui, namun factor keturunan dan respon
sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus,diduga berperan dalam terjadinya
jolitis ulserativa.
Kebanyakan gejala Colitis ulserativa pada awalnya adalah berupa buang air
besar yang lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit
perut dan diare berdarah.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Moorhouse,Dongoes.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Edisi 3.Jakarta:EGC

2.

Smeltzer,Suzanne.2002.keperawatan Medikal Bedah. Volume 2.Edisi 8 .Jakarta EGC

3.

Anonim. 2011. http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/colitis/.

Posted by:

oktober 2011

SINDROM MALABSORBSI

A. Pengertian Malabsorbsi
Sindrom malabsorpsi adalah suatu kondisi di mana nutrisi
termasuk karbohidrat, protein, lemak, air, elektrolit, mineral, dan
vitamin yang tidak efektif diserap oleh mukosa usus,
mengakibatkan ekskresi pada tinja. Sindrom malabsorpsi
disebabkan oleh berbagai gangguan usus.
Penyakit usus kecil sering disertai dengan malabsorpsi.
Selain itu, medis dan pembedahan dapat mengakibatkan
malabsorpsi jika mempengaruhi pencernaan atau mukosa usus.
Penyakit utama dari mukosa usus kecil, seperti sariawan usus,
enteritis regional (penyakit Crohns), dan infeksi akut dapat
menyebabkan malabsorpsi. Mungkin juga hasil dari maldigesti,

suatu situasi di mana chyme tidak adekuat untuk mengabsorpsi.


Sebagai contoh, signifikan reseksi lambung, gangguan pankreas
yang melibatkan hilangnya sekresi enzim pankreas, dan
gangguan empedu yang melibatkan sekresi empedu
menyebabkan gangguan proses pencernaan dan penerapan
chime yang buruk.
Terlepas dari penyebabnya, sindroma malabsorpsi dicirikan
oleh manifestasi umum akibat gangguan penyerapan nutrisi
chyme. Dominan lokal atau manifestasi gastrointestinal termasuk
anoreksia; perut kembung, diare dengankehilangan, besar, tinja
berbau busuk dan steatorrhea (lemak tinja). Penurunan berat
badan, kelemahan, malaise umum, kejang otot, nyeri tulang,
perdarahan, dan anemia sering terjadi manifestasi sistemik
malabsorpsi. Manifestasi ini adalah hasil dari malnutrisi dan
kehilangan cairan akibat penyerapan yang buruk. Klasifikasi
malabsorbsi terjadi karena:
1. Biokimia atau defisiensi enzim,
2. Proliferasi bakteri,
3. Perpecahan mukosa usus kecil,
4. Gangguan limfatik dan sirkulasi vaskuler,
5. Kehilangan area permukaan.

Tiga gangguan malabsorpsi umum pada orang dewasa


adalah sariawan, laktosa intoleransi, dan sindrom usus pendek.
Intoleransi laktosa adalah kelainan malabsorbsi yang paling
umum,

diikuti

oleh

peradangan

usus,

nontropical

(celiac),

sariawan tropikal, dan cystic fibrosis.

B. Patofisiologi
Sindrom malabsorpsi adalah terkait dengan berbagai
gangguan dan prosedur pembedahan usus. Ini mengganggu
kemampuan untuk menyerap nutrisi dan merupakan hasil dari
generalized merata dari mukosa dari usus kecil. Dengan berbagai
kelainan, mekanisme fisiologis membatasi absorpsi nutrisi karena
satu atau lebih dari tindak kelainan:

1. kekurangan garam yang Empedu


2. Enzim kekurangan
3. Kehadiran bakteri
4. Gangguan dari sebuah lapisan mukosa usus kecil
5. Diubah limfatik dan sirkulasi vaskular seorang
6. Penurunan lambung atau usus area permukaan
Nutrisi yang terlibat dalam malabsorpsi tergantung pada jenis dan
lokasi dari kelainan pada saluran pencernaan.

Kekurangan garam empedu dapat menyebabkan


malabsorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.
Kekurangan garam empedu dapat menyebabkan penurunan
sintesis empedu dalam hati, obstruksi empedu, atau perubahan
penyerapan garam empedu di usus kecil.
Enzim biasanya ditemukan dalam usus split disaccharides (kompleks gula) untuk monosakarida (gula sederhana).
Contoh dari enzim ini adalah laktase, sucrase, maltase, dan
isomaltase. Kekurangan laktase yang paling umum adalah
kekurangan enzim disakarida. Tanpa jumlah yang cukup enzim ini,
tubuh tidak dapat memecah laktosa. Kekurangan laktase dapat
disebabkan oleh transmisi genetik, cedera pada usus mukosa dari
virus hepatitis, ploriferasi bakteri dalam usus, atau sariawan.
Kekurangan-kekurangan yang lain enzim disakarida jarang.
Enzim pankreas juga diperlukan untuk penyerapan
vitamin B12. Dengan kehancuran atau sumbatan pankreas atau
pankreas tidak mencukupi stimulasi, nutrisi ini malabsorbsi.
Pankreatitis kronis, karsinoma pankreas, reseksi dari pankreas,
dan cystic fibrosis dapat menyebabkan masalah malabsorpsi ini.
Loop dari usus dapat mengakumulasi isi usus, hasilnya
pertumbuhan bakteri yang berlebih, bila ada penurunan gerak
peristaltik. Bakteri pada tempat-tempat tersebut memecah garam
empedu, dan lebih sedikit garam yang tersedia untuk penyerapan
lemak. Bakteri ini juga bisa menelan vitamin B12, yang
memberikan kontribusi untuk defisiensi vitamin B12. Fenomena
ini dapat terjadi setelah gastrektomi atau dengan peningkatan

progressive sistemik dan diabetes enteropati.


Gangguan dari lapisan mukosa usus bertanggung jawab
atas malabsorpsi yang terjadi dengan celiac (nontropical)
sariawan, sariawan tropis, penyakit Crohn, dan ul-cerative kolitis.
Pada celiac (nontropical) sariawan, absorpsi area
permukaan dalam usus kecil hilang :malabsorpsi nutrisi Celiac
sariawan karena respon hipersensitiv imun genetic pada gluten
atau kerusakan produk atau hasil dari akumulasi gluten pada diet
dengan kekurangan peptide
Tropis sariawan disebabkan oleh agen infeksi yang belum
diidentifikasi tetapi dianggap bakteri. Perubahan mukosa terjadi
dalam cara yang lebih luas daripada di celiac sariawan. Namun,
perubahan tidak begitu parah seperti di celiac sariawan.sariawan
tropis merupakan hasil malabsorsi lemak, asam folat, dan vitamin
B12 dalam tahap akhir penyakit.
Peradangan pada penyakit Crohn mengganggu
permukaan sel-sel menyerap garam empedu dan karena itu
menyebabkan malabsorpsi lemak. Dalam ulseratif kolitis,
kehilangan protein dapat terjadi.
obstruksi aliran limfatik dalam usus dapat menyebabkan
hilangnya protein plasma bersama dengan hilangnya mineral
(seperti besi, tembaga, dan kalsium), vitamin B12, asam folat,
dan lipid. Obstruksi limfatik dapat disebabkan oleh banyak con
ditions. Kanker tertentu, seperti limfoma, peradangan , radiasi
enteritis, penyakit Crohn, penyakit Whipple, gagal jantung, dan
constrictive perikarditis, adalah penyebab obstruksi limfatik.

Gangguan aliran darah ke mukosa usus, yang terjadi di


celiac dan penyakit arteri mesenterika superior, mengakibatkan
malabsorpsi. Dengan operasi usus, terdapat hilangnya daerah
permukaan yang diperlukan untuk memfasilitasi penyerapan.
Reseksi ileum hasil dari vitamin B12, garam empedu, dan
kekurangan nutrisi . Operasi lambung merupakan salah satu
penyebab paling umum atau malabsorpsi dan maldigesti. Kondisi
lain yang berhubungan dengan malabsorpsi dan maldigesti
meliputi usus kecil iskemia dan radiasi enteritis.

C. Manifestasi Klinik Malabsorbsi


Manifestasi

Patofisiologi

Gastrointestinal

n berat badan Malabsorbsi lemak, karbohidrat, protein, dan terutama

kekurangan kalori ditandai dengan penurunan asupan kalori


Absorbsi air, sodium, asam lemak, empedu dan karbohidrat
yang dirusak
Fermentasi bakteri karbohidrat yang tidak diabsorbsi
Lemak tidak dicerna dan tidak diserap

Cheilosis, Stomatitis Defisiensi besi, riboflavin, kobalamin, asam folat dan


vitamin lainnya

ogi
Absorbsi besi, kobalamin, dan asam lemak yang dirusak

ungan hemoragik

Defisiensi vitamin C,

Defisiensi vitamin K menghambat produksi faktor II, VII, IX,


dan X

skeletal

ng

Osteoporosis dari absorbsi kalsium yang dirusak


Osteomalasia sekunder dari hipokalsemia, hipopospatemia,
dan tidak adekuatnya vitamin D
Hipokalsemia, hipomagnesemia

n, kram otot Anemia, kehabisan elektrolit (terutama potasium)

an otot

gi

malabsorbsi protein

n status mental

Dehidrasi

Defisiensi kobalamin

perifer

Defiseinsi kobalamin

a malam hari Defisiensi tiamin, defisiensi vitamin A

en
Defisiensi vitamin K

Defisiensi asam lemak, zinc, niasin, dan vitamin lainnya


Defisiensi besi

pis dan rontok

Defisiensi protein

skuler

ah

rifer

Dehidrasi
Hipovolemia, anemia
Malabsorbsi protein, kehilangan protein saat diare

Manifestasi klinik paling umum dari malabsorbsi adalah


steatorhea (kotoran lemak) dalam jumlah besar kotoran berbau
yang busuk, mengambang di air dan sulit dikeluarkan adalah
karakteristik dari steatorhea walaupun demikian steatorhea tidak
terjadi pada intoleransi laktosa.
Screening

tes

tersedia

untuk

malabsorbsi

termasuk

pemeriksaan kualitatif kotoran dari lemak (sudan stain), selama


72 jam kotoran dikumpulkan untuk pengukuran kuantitatif lemak
fekal

dan tes absorbsi-ekskresi d-xylose,

yang mana baik

dilakukan tes screening untuk absorbsi karbohidrat. Diagnosa lain


termasuk 3 jenis tes pernapasan yang berbeda:
1. Tes pernapasan asam empedu, digunakan untuk mengevaluasi
malabsorbsi garam empedu atau malabsorbsi dari pertumbuhan
bakteri yang berlebih,
2. Tes pernapasan triolein, pengukuran ekskresi karbon dioksida
setelah pencernaan trigiserida radio aktif, dan
3. Ekskresi pernapasan hydrogen setelah pencernaan laktosa yang
spesifik , yang mana sensitive dan tes noninvasive untuk
mendeteksi kekurangan laktase.
Alasan utama tes pernapasan hydrogen adalah metabolisme
bakteri yang hanya bersumber dari produksi hydrogen pada
manusia dan paling banyak terjadi di kolon.

Tes sekresi pankres menggunakan sekresi yang ditunjukkan


dengan ketidakcukupan pankreas. Endoskopi digunakan untuk
mendapat

biopsi

usus

halus

untuk

diagnosis.

Radiografi

mempelajari esophagus, lambung, usus halus yang akan di


indikasi. Suntikan barium pada usus halus sering kali dilakukan
untuk mengidentifikasi system mukosa abnormal.
Laboratorium mempelajari frekuensi keadaan termasuk
CBC, waktu ketepatan protrombin, serum vitamin A, dan tingkat
karoten, serum elektrolit, kolesterol dan kalsium.

D. Klasifikasi Gangguan Umum Malabsorbsi

wan
Dua kondisi yang berhubungan dengan malabsorbsi adalah
sariawn nontropical dan sariawan tropical. Sariawan tropical dan
nontropical ditemukan pada orang dewasa. Sariawan nontropical
paling umum berhubungan dengan sariawan celiac (terutama
pada anak-anak) tetapi disebut juga adult celiac disease dan
gluten induced enteropaty.

Patofisiologi

Penyakit

celiac

ditandai

dengan

pengecilan

dan

penghancuran vili. Sebagai hasil absorbsi dalam usus halus yang


direduksi. Sebab terjadi injuri villi adalah respon hipersensitivitas
di mulai oleh gluten dan gliadin (pembongkaran produksi gluten).
Gluten adalah protein yang ditemukan dalam wheat, rye, barley,
oats. Hipersensitivitas merupakan respon peradangan mukosa.
Sariawan tropikal adalah kelainan kronik yang didapat pada
area tropikal endemik. Penyebab tidak diketahui, tapi penyakit ini
dihubungkan dengan agen infeksi. Defisiensi folat juga dipercaya
mempunyai peran dalam perkembangan penyakit ini. Secara
klinis ini seperti sariawan nontropikal.

b. Manifestasi Klinik
Pasien menjadi simptomatik pada beberapa umur dengan
sariawan celiac, tapi pada masa kanak-kanak puncak insiden
ketika gluten pertama dikenalkan dan selama dekade keempat
dan kelima. Gejala termasuk steatorhea (sangat besar, berbau
busuk, kuning-abu-abu, kotoran berminyak dengan kekentalan
seperti

dempul)

diare,

kehilangan

berat

badan,

perut

menggembung, dan kelebihan gas dalam perut. Terdapat pula


tanda-tanda defisiensi multiple vitamin ( glositis, cheilosis).

c. Diagnosis dan Perawatan Kolaborasi

Diagnosa sariawan dibuat oleh analisis kotoran atau biopsi


intestinal. Barium enema didemonstrasi dengan ketidaknormalan
termasuk penghancuran usus yang membelit. Perawatan sindrom
sariawan
nontropikal

didasari
diet

oleh
bebas

penyebab
gluten

utama.

biasanya

Pada

sariawan

untuk

petunjuk

penyembuhan. Wheat, barley, oats dan rye akan dihindari.


Tepung kedele dapat digunakan. Makanan harus diperiksa dengan
teliti untuk untuk kadar gluten. Tambahan seperti protein sayuran
yang dihidrolisis sering berasal dari sereal padi-padian, termasuk
gandum. Pengecualian terapi diet (diet bebas gluten) untuk
pasien yang tidak bereaksi. Kortekosteroid digunakan untuk
perawatan sariawan nontropikal. Dasar perawatan ini adalah
respon peradangan melalui respon imunologi.
Sariawan tropical dirawat dengan antibiotic broad spektrum
(tetrasiklin) dalam penyembuhan dengan terapi asam folat.
Pasien yang berespon pada terapi tambahan ini dan mencapai
pembebasan yang biasanya dijaga stabilitas asam folat.

2. Defisiensi Laktasi
Defisiensi laktasi adalah kondisi dimana enzim laktasi
berkurang atau tidak ada. Laktasi adalah enzim yang dilaktasi
untuk memecah dalam 2 gula sederhana, glukosa dan galaktosa.
Walaupun kekurangan laktase seperti herditer, intoleransi pada
susu dapat menjadi jelas secara klinik sampai telat masa remaja
atau lebih dulu masa dewasa. Sekitar 5% populasi dewasa

mempunyai kekurangan laktasi. Insiden paling tinggi ditemukan


pada orang Afrika-Amerika, penduduk asli Amerika, orang MexicoAmerika, dan orang-orang keturunan jewish. Defisiensi laktasi
sering diperoleh pada penyakit gastrointestinal, pada mukosa
yang rusak termasuk menyebabkan radang usus yang bernanah,
penyakit crohn, gastroenteritis, dan sindrom sariawan.

a. Manifestasi Klinik
Gejala intoleransi laktosa termasuk bengkak, kelebihan gas
dalam perut, perut nyeri dan kejang dan diare. Terjadi dalam satu
setengah jam sampai beberapa jam setelah minum segelas susu
atau mencerna produk susu. Diare intoleransi laktosa merupakan
hasil dari sekresi cairan dalam usus halus, respon aksi osmotik
laktosa yang tidak dicerna.

b. Keperawatan dan Manajeman Kolaborasi Defisiensi Laktasi


Banyak intoleransi laktosa adalah kesadaran orang-orang
yang intoleransi laktosa dan menghindari susu. Tes intoleransi
laktosa dapat ditunjukkan dengan alergi susu. Pasien diberi 50 gr
laktosa secara oral. Sampel darah menggambarkan sebelum
mengonsumsi laktosa pada interval 15, 30, 60, 90 menit. Kadar
tingkat glukosa darah untuk meningkatkan lebih dari 20 g/dl. Hasil

tes pernapasan hidrogen setelah mencerna laktosa adalah


abnormal menunjukkan defisiensi laktasi.
Perawatan terdiri dari penghapusan laktosa dari diet
dengan menghindari susus dan produksi susu. Diet bebas laktosa
pada mulanya diberikan dan perlahan-lahan ditingkatkan sampai
diet rendah laktosa sebagai toleransi pada pasien. Perawatan
objektif merupakan belajar akan pentingnya patuh pada diet.
Banyak orang yang intoleransi laktosa menghambat gejala jika
laktosa diberikan dalam jumlah yang kecil. Pada beberapa orang
lebih baik dibiarkan jika diberikan melalui makanan.

3. Short Bowel Syndrom


Short bowel syndrome (SBS) hasil dari reseksi usus halus.
Usus cepat berpindah, saluran pencernaan dan proses absorbs
dirusak

dan

kehilangan

cairan

dan

elektolit

merupakan

karakteristik dari gejala. Pada dewasa reseksi usus halus penting


untuk

infark

usus

karena

thrombosis

vaskuler

atau

ketidakcukupan, trauma abdominal, kanker, radiasi radang usus


atau penyakit crohn.
Jumlah dan porsi di reseksi usus halus dihubungkan dengan
nomor dan keparahan gejala. Reseksi sampai 50% usus halus
karena gangguan kecil dari fungsi usus terutama jika kematian

ileum dan katup ileocecal utuh. Setelah mereseksi sisa-sisa usus


mengalami perubahan adaptif yang lebih ditunjukkan pada ileum.
Vili dan crypts meningkatkan ukuran dan kapasitas absorbsi sisa
usus yang meningkat. Usus beradaptasi dengan menambah
asupan makanan, serat, empedu, dan sekresi pankreas pada
lumen dan berlanjut sampai 2 tahun. Reseksi ileum, katup
ileocecal atau kolon hasil pada transit intestinal yang sangat
cepat. Penurunan waktu absorbsi, reseksi ileal karena malabsorbsi
kobalamin, garam-garam empedu dan lemak yang merupakan
hasil pada steatorhea.

a. Manifestasi Klinik
Manifestasi yang lebih berpengaruh pada SBS adalah diare
atau steatorhea. Terdapat tanda-tanda malnutrisi dan defisiensi
multivitamin dan mineral ( kehilangan berat badan, kobalamin,
defisiensi

zinc,

hipoklasemia)

pasien

dapat

meningkatkan

defisiensi laktasi dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan.


Oxalate batu ginjal dibentuk dari ditingkatkan absorbsi kolonik
dari oxalate.

b. Perawatan Kolaborative
Keseluruhan tujuan adalah pasien dengan SBS akan memiliki
cairan dan elektrolit yang seimbang, status nutrisi normal dan
control diare. Pada periode sangat cepat mengikuti reseksi usus

yang sangat besar, pasien menerima nutrisi parenteral total


untuk mengganti kehilangan cairan dan elektolit dan nutrisi dan
untuk usus beristirahat. Hipersekresi asam lambung yang tidak
diketahui penyebabnya adalah reduksi oleh H 2 reseptor antagonis
( cimetidin (tagamet) ).
Diet tinggi karbohidrat dan rendah lemak dianjurkan tinggi
karbohidrat, diet rendah lemak ditambah dengan serat yang
dapat

dilarutkan,

pektin,

asam

amino

glutamine

dan

pertumbuhan hormone parenteral meningkatkan absorbsi nutrisi,


mengurangi, pengeluaran kotoran dan memungkinkan pasien
untuk menghentikan nutrisi perenteral. Pasien dengan SBS
didorong untuk makan sekurang-kurangnya 6 makanan perhari
untuk

meningkatkan

kontak

waktu

antara

makanan

dan

pencernaan. Asupan oral dapat ditambah dengan formula nutrisi


elemen melalui pemberian makanan melalui tabung saat malam
hari. Untuk pasien dengan malabsorbsi yang parah, total nutrisi
parenteral dapat dimulai kembali transplantasi usus berdasarkan
prosedur terutama digunakan untuk pasien dengan SBS parah
yang komplikasi dengan kerusakan hati.
Obat antidiare paling efektif dalam menurunkan motilitas
usus. Untuk pasien dengan reseksi ileal dibatasi (<100 cm),
kolestiramin (questran) mereduksi hasil dari asam empedu yang
tidak diabsorbsi dan meningkatkan ekskresi pada feses. Asam
empedu menstimulasi cairan intestine dan mengurangi absorbsi
cairan kolonik.

E. Asuhan Keperawatan Pada Malabsorbsi


1. Pengkajian
kaji adanya:
a. Kehilangan berat badan Berat badan
b. kembung dan kentut (karbohidrat malabsorpsi)
c. Penurunan gairah
d. memar (purpura)
e. Anemia (defisiensi zat besi dan asam folat atau vitamin B12 )
f. Nyeri tulang (defisiensi kalsium dan vitamin D kekurangan)
g. Edema (disebabkan oleh hypoproteinemia)
h. Kotoran yang bercampur lemak, berminyak dan berbau busuk

2. Diagnosa Keperawatan
a) Defisit Volume Cairan berhubungan dengan hilangnya cairan
tubuh yang berlebih karena diare
b) Kegelisahan berkaitan dengan manifestasi dan pengobatan dari
gangguan absorbsi

c) Risiko untuk ketidakpatuhan dengan aturan diet yang berkaitan


dengan kurangnya pemahaman
d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3. Intervensi Keperawatan
a) pengkajian dan pendokumentasian frekuensi dan karakter fungsi
kotoran .fungsi usus menunjukan keparahan penyakit dan
pengobatan. Sebagai kondisi membaik dengan terapi, frekuensi
tinja menjadi lebih sedikit ,warna dan bentuk menjadi lebih
normal
b) Berat klien sehari-hari, memonitor intake dan output, dan menilai
turgor kulit dan membrane mukosa untuk indikasi keseimbangan
cairan. Clien dengan diare yang berisiko hipovolemia dan
dehidrasi akibat kehilangan cairan berlebihan pada tinja
c) pengkajian dan pendokumentasian kondisi kulit perianal
,seringnya perlintasan tinja menyebabkan iritasi kulit dan
membrane mukosa, meningkatkan risiko kerusakan
d) Peningkatan intake cairan.cairan oral penting untuk mengganti
kehilangan
e) menyusun program diet dan bebas gluten,diet pengurangi
lactosa seperti yang diperintahkan untuk penyakit celiac. Untuk
memperbaiki mukosa usus dari proses penyakit diary.dari proses
penyakit
f) Timbang klien sehari-hari dan menjaga asupan akurat output,
dan catatan diet. Langkah-langkah ini akan membantu
mengevaluasi efektivitas intervensi.

g) Monitor hasil penelitian laboratorium, termasuk hemoglobin dan


hematokrit, serum elektrolit, total serum protein, dan level
albumin . Penelitian ini memberikan ukuran status
Gizi klien.
h) Menyediakan dan menentukan tinggi kkal,tinggi protein, rendah
lemak dibatasi dalam gluten untuk penyakit celiac. Kalori dan
protein yang penting untuk menggantikan gizi yang hilang.
Pembatasan lemak membantu mengurangi diare dan gizi.
i)

Menyediakan nutrisi parenteral diperlukan untuk klien yang tidak


mampu menyerap nutrisi enteral. Nutrisi parenteral nutrisi dapat
membantu memulihkan defisit dan meningkatkan berat badan
klien dengan gejala akut.

j)

Konsultasikan diet,pengukuran ini dapat membantu


meningkatkan asupan makanan klien.

k) Tentukan suplemen gizi. Ini adalah penting untuk mengganti


kerugian dan membawa ke arah normal tingkat lebih cepat
daripada makanan sendiri dapat berarti efek. Termasuk anggota
keluarga, menyiapkan makanan utama pada khususnya, dalam
mengajar dan diskusi diet. Keluarga dapat memperkuat
pengajaran dan membantu klien mempertahankan asupan
kkal.
.
l)

Sediakan klien dan keluarga dengan daftar menu makanan yang


mengandung gluten dan perlu dihilangkan dari diet, serta
makanan yang diperbolehkan. mengajarkan klien bagaimana
mengidentifikasi produk komersial yang mengandung
gluten,dengan membaca label dan daftar komposisi.

m) Menganjurkan klien untuk menyiapkan makan dengan bebas


gluten.

SINDROMA MALABSORBSI
1.1 Pengertian :
Syndroma Mal-absorbsi adalah kumpulan gejala dan tanda-tanda yang
diakibatkan oleh absorbsi lemaknon adekuat didalam usus halus. (Barbara C.
Long, 1985).
Usus halus merupakan tempat proses pencernaan dan absorbsi nutrition yang
utama, khususnya lemak dengan adanya enzyme-enzym pancreas, empedu
serta enzy-enzym yang dihasilkan oleh usus sendiri.
Lemak makanan merupakan sumber energi yang utama bagi tubuh, pelarut
vitamin A,D,E,K serta sumber lemak esensial. Pada syndrome malabsorbsi ini,
vitamin-vitamin yang larut dalam lemak juga mengalami gangguan absorbsi
sehingga malabsorbsi lemak selalu disertai malabsorbsi vitamin A,D,E,K. Dalam
berbagai keadaan malabsorbsi lemak sering disertai dengan menurunnya
absorbsi protein, karbohidrat dan mineral. Gejala yang ditampakkan tergantung
pada berat ringannya malabsorbsi serta tergantung pula pada malabsorbsi jenis
nutrient tertentu.
1.2 Etiologi
Dihubungkan pada gangguan pencernaan dan absorbsi nutrient di dalam usus
halus.
1.3 Patofisiologi
Malabsorbsi diakibatkan oleh tiga hal yaitu :
A. Gangguan fungsi percernaan (phase Intra Lumen)
Pada keadaan ini nutrient tidak dapat dipecahkan menjadi bentuk yang dapat
diserap oleh villi-villi usus halus. Karbohidrat diserap dalam bentuk mono
sacharida / glukosa. Protein diserap dalam bentuk asam amino. Lemak diserap
dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Gangguan ini terjadi bila :
Enzym lipase pancreas kurang.
Cairan lambung khususnya gasterin kurang.
Konjugasi garam empedu kurang.
Keadaan-keadaan ini dapat terjadi pada ;
Sub total gastrectomy.
Pankreatitis
Ca. Pankreas.
Penyakit Lever.
Obstruksi saluran empedu.
B. Gangguan Mukosa Usus Halus (Phase Mukosal).
Pada keadaan ini nutrient telah dibentuk menjadi bentuk-bentuk yang dapat
diserap oleh villi-villi usus halus, namun bentuk-bentuk tidak dapat diserang
oleh gangguan pada mukosa usus halus / villi-villi. Normalnya mukosa usus
halus menghasilkan enzyme diantaranya enterokinase. Enzyme ini

mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin, selanjutkan tripsin mengubah protein


menjadi polypeptide. Mukosa usus menghasilkan enzyme disacharidase yaitu
lactosa, maltosa dan sukrosa.. Maltase mencegah maltose menjadi dua glukosa.
Sukrose atau invertase memecah skrosa menjadi fruktosa dan glukosa.
Keadaan ini dapat terjadi pula pada :
- Defisiensi Lactase.
- Celiac Disease
- Tropical Sprue.
- Enteritis Alergic
- Small Bowel Ischemic
- Radiation Enteritis
- Crohs Disease
C. Gangguan pengangkutan Nutrien ke dalam pembuluh limpa dan pembuluh
darah (Phase Transit).
Gangguan ini terjadi bila terdapat obstruksi limphatik seperti pada lymphoma
dan gangguan supply darah seperti pada thrombus mesenteric superior.
1.4 Gejala-gejala / Tanda-tanda :
Berbagai macam tnda atau gejala pada Malabsorbsi, yaitu :
.
.Feces tampak bercahaya, berminyak, licin dan terbatas, berbau (Steatorhoe)
Dalam air feces mengapung.
Berat badan rendah.
Pucat, lemas, badan lesu
Anorexia.
Mudah terkena infeksi.
Mudah berdarah (Echynosis,hematuria)
Nyeri otot / tulang.
Tulang rapuh, mudah terkena fraktur.
Kulit kasar dan kering, hyperfigmentasi.
Flatulence.
Hypokalsemia, anemi.
Pheriperal, neuritis.
Edema periper.
1.5 PENATALAKSANAAN
1.Diet :
Tinggi kalori dan protein serta rendah lemak.
Menghindarkan makanan makanan yang mengandung penyebab malabsorbsi
seperti susu yang banyak mengandung lactose (Intoleranse Lactose)
2.Medikamentosa.
Pada Malabsorbsi congenital,terapibersifat symptomatic seperti pemberian
preparat besi dan vitamin pada klien anemi serta transpusi darah bila perlu.
Terapi pada malabsorbsi yang didapat ditujukan pada etiologi seperti enteritis

kronis yang menyebabkan kerusakan mukosa halus.


Obstruksi pancreas yang menyebabkan enzyme-enzym pancreas tidak dapat
masuk ke dalam usus halus.
3.Penyuluhan :
Ditujukan kepada klien dan keluarga. Mencakup penyakit dan diet yang
diperlukan. Perawatan membantu klien dalam mengatasi perubahan pola
makan.
ASUHAN KEPERAWATAN.
1. Pengkajian :
a. Data Subjektif
Aanamnesa terhadap klien dan keluarga :
.Riwayat Penyakit
- Sejak kapan terjadi
- Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
- Tindakan-tindakan apakah yang sudah pernah dilakukan
.Keluhan Sekarang
- Badan lemas tidak ada gairah.
- Diare.
- Rasa tidak enak di perut.
- Pusing-pusing.
- Nyeri sendi
b. Data Objectif
- Ffeces tampak bercahaya / mengkilat dan licin
- Feces cair sampai sepertiodol dan berbau busuk
- Flatulence disrensipada perut.
- Berat badan menurun (tidak sesuai usia)
- Tanda-tanda defisiensi vitamin seperti mudah berdarah, anemia / pucat.
- Tanda-tanda defisiensi protein seperti edema perifer, kulit kering dan kasar.
- Pada pemeriksaan darah terdapat Hb rendah, hypokalsemia hypoproteinemi,
enzyme pencernaan tidak adekuat.
2.Analisa Data.
Dari hasil pengkajian data diperoleh berbagai masalah keperawatan.
Kemungkianan diagnosa keperawatan yang terdapat pada klien dengan
malabsorbsi adalah :
- GAngguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan
gangguan absorbsi di usus halus.
- Gangguan eliminasi : sehubungan dengan gangguan absorbsi lactosa.
- Gangguan rasa nyaman : nyeri pada perut sehubungan dengan gangguan
absorbsi lactosa.

- Potensia terjadinya gangguan integritas kulit sehubungan gangguan absorbsi


di usus halus.
Tujuan dirumuskan sesuai dengan permasalah, misalnya :
a.Tujuan jangka panjang (Goal).
- Kebutuhan nutrisi terpenuhi
- Diare berkurang.
- Rasa nyaman terpenuhi
- Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
b.Tujuan jangka pendek
- Dalam waktu 2 bulan berat badan naik 0,5 kg.
- Klien mengkonsumsi makanan yang dapat ditolerir tubuh.,
- Dalam waktu satu minggu konsistensi feces menjadi lembek.

SINDROMA MALABSORBSI
20.22 Mr. XxX No comments
Dr. Suparyanto, M.Kes
PENGERTIAN:

Sindroma malabsorbsi adalah berbagai kelainan yang menimbulkan malabsorbsi


intestinal dari elektrolit, karbohidrat, protein, lemak dan vitamin

GEJALA KLINIS:
Steatore
Rasa tidak enak pada perut

Distensi abdomen

Penurunan BB

Anemia

ETIOLOGI;
Kelainan mukosa
Kongenital

Infeksi

Gangguan kelenjar pencernaan

Obstruksi limfatik

Penyakit ekstra intestinal : DM. Penyakit Addison

PEMERIKSAAN:
Tes fungsi usus halus :
Tes malabsorbsi karbohidrat

Tes malabsorbsi lemak

Tes malabsorbsi protein

Tes malabsorbsi garam empedu

Test malabsorbsi vitamin B12

Biopsi usus halus

Radiologi dengan barium

REFERENSI:
Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit
Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah
Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

Askep Maladsorbsi

2.1Konsep Medis
Pengertian
Sindroma Malabsorbsi adalah kelainan-kelainan yang terjadi akibat
penyerapan zat gizi yang tidak adekuat dari usus kecil ke dalam aliran
darah.
Sindroma Malabsorbsi adalah kumpulan gejala dan tanda-tanda yang
diakibatkan oleh absorbsi lemak non adekuat didalam usus halus.
(Barbara C. Long, 1985).
2.1.2Klasifikasi
Malabsobsi karbohidrat
Malabsobsi
karbohidrat
yang
utama
adalah
intoleransi
laktosa.Karbohidrat dapat dibagi dalam Monosakarida (Glukosa,Galaktosa

dan fruktosa), Disakarida (Laktosa atau gula susu,Sukrosa atau gula pasir
dan Maltosa) serta Polisakarida (Glikogen,Amilum dan tepung).

Malabsobsi lemak
Gangguan absobsi lemak umumnya LCT (Long Chain Triglycerides)
dapat terjadi dalam keadaan lipase tidak ada atau kurang,mukosa usus
halus(vili) atrofi atau rusak,gangguan system limfe usus.
Keadaan ini menyebabkan diare dengan tinja berlemak (steatore) dan
malabsorbsi lemak. Dalam keadaan sehat absorbsi LCT dari usus halus
bergantung pada beberapa factor. Hidrolisis dari LCT menjadi asam lemak
dan gliserida terjadi di usus halus bagian atas dengan mempengaruhi
lifase pankreas dan conjugated bile salts yang ikut membentuk micelles
yaitu bentuk lemak yang siap untuk diabsorbsi. Sesudah masuk kedalam
usus halus terjadi re-esterifikiasi dari asam lemak hingga kemudian
terbentuk kilomikron yang selanjutnya diangkut melalui pembuluh limfe.
Malabsorbsi lemak dapat terjadi pada kelainan sebagai berikut:
a.Penyebab pancreas: fibrosis kistik, insufisiensi lifase pancreas
b.Penyakit hati: hepatitis neonatal, atresia biliaris, sirosis hepatis
c.Penyakit usus halus : penyakit seliak dan malabsorbsi usus (karna
kelainan mukosa usus atau atrofi ), reseksi usus halus yang ekstensif
(pada atresia volvulus, infrak masentrium ), enteritis regional,
abetalipoproteinemia (karna gangguan pembentukan kilomikron), yang
tidak diketahui sebabnya, dsb
d.Kelainan limfe: limfangiektasis usus, gangguan limfe karna trauma,
tuberculosis, kelainan congenital
e.Neonatus kurang bulan
Anak diduga menderita malabsobsi lemak bila tinja berlemak sehingga
lembek, tidak berbentuk, bewarna coklat muda sampai kuning dan terlihat
berminyak. Bertambahnya lemak didalam tinja atau disebut steatore
dikatakan suatu hal yang pasti terjadi pada malabsorbsi lemak. Fese perlu
diperiksa dilaboratorium.
Pengobatan ditujukan pada penyebab terjadinya malabsorbsi lemak.
Untuk malabsorbsi lemaknya sendiri diberikan susu MCT (medium chain
triglyceride).
Pada dasarnya pasien yang menderita diare karena faktor malabsorbsi
adalah karena kepekaan atau alergi terhadap jenis atau zat makanan
tertentu, seperti terhadap lemak, protein, dan pada seliak terhadap
gandum. Perawatan selama diare seperti diare lainnya, tetapi yang

penting penjelasan kepada orang tua agar tidak memberikan makanan


atau susu tertentu yang menjadi penyebab diare.

2.1.3 Etiologi
a.Gangguan pencernaan dan absorbsi nutrient di dalam usus halus.
b.Kelainan yang berhubungan langsung dengan pencernaan makanan
maupun karena kelainan yang secara langsung mempengaruhi poses
penyerapan makanan.
c.Penyakit-penyakit yang menyebabkan terhalangnya pencampuran yang
tepat antara makanan dengan asam lambung dan enzim-enzim
pencernaan
2.1.4 Patofisiologi
Malabsorbsi diakibatkan oleh tiga hal yaitu :
a.Gangguan fungsi percernaan (phase Intra Lumen)
Pada keadaan ini nutrient tidak dapat dipecahkan menjadi bentuk yang
dapat diserap oleh villi-villi usus halus. Karbohidrat diserap dalam bentuk
monosacharida glukosa. Protein diserap dalam bentuk asam amino. Lemak
diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Gangguan ini terjadi bila :
1.Enzym lipase pancreas kurang.
2.Cairan lambung khususnya gasterin kurang.
3.Konjugasi garam empedu kurang.
Keadaan-keadaan ini dapat terjadi pada :
1.Sub total gastrectomy
2.Pankreatitis
3.Ca. Pankreas
4.Penyakit Lever
5.Obstruksi saluran empedu.
b.Gangguan Mukosa Usus Halus (Phase Mukosal).
Pada keadaan ini nutrient telah dibentuk menjadi bentuk-bentuk yang
dapat diserap oleh villi-villi usus halus, namun bentuk-bentuk tidak dapat
diserang oleh gangguan pada mukosa usus halus / villi-villi. Normalnya
mukosa usus halus menghasilkan enzyme diantaranya enterokinase.
Enzyme ini mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin, selanjutkan tripsin

mengubah protein menjadi polypeptide. Mukosa usus menghasilkan


enzyme disacharidase yaitu lactosa, maltosa dan sukrosa. Maltase
mencegah maltose menjadi dua glukosa. Sukrose atau invertase memecah
skrosa menjadi fruktosa dan glukosa. Keadaan ini dapat terjadi pula pada :
1.Defisiensi Lactase
2.Celiac Disease, Tropical Sprue
3.Enteritis Alergic
4.Small Bowel Ischemic
5.Radiation Enteritis, Crohs Disease
c.Gangguan pengangkutan Nutrien
pembuluh darah (Phase Transit).

ke

dalam

pembuluh

limpa

dan

Gangguan ini terjadi bila terdapat obstruksi limphatik seperti pada


lymphoma dan gangguan supply darah seperti pada thrombus mesenteric
superior.

2.1.5 Manifestasi Klinis


Berbagai macam tanda atau gejala pada Malabsorbsi, yaitu :
a.Feces tampak
(Steatorhoe)

bercahaya,

berminyak,

b.Dalam air feces mengapung


c.Berat badan rendah
d.Pucat, lemas, badan lesu
e.Anorexia
f.Mudah terkena infeksi
g.Mudah berdarah (Echynosis,hematuria)
h.Nyeri otot / tulang
i. Tulang rapuh, mudah terkena fraktur
j. Kulit kasar dan kering, hyperfigmentasi
k.Flatulence
l. Hypokalsemia, anemi

licin

dan

terbatas,

berbau

m.Pheriperal, neuritis
n. Edema periper.

2.1.6 Komplikasi
Komplikasi jangka panjang meliputi komplikasi nutrisi parentral:
a.Infeksi kateter sentral
b.Trombosis
c.Hepatotoksisitas
d.Batu empedu
e.Defisiensi vitamin B1

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik


a.Pengukuran PH.
b.Penentuan kadar gula dalam tinja.
c.Laktosa loading test(tes toleransi),misalnya pasien puasa,diukur kadar
gula darahmya kemudian diberi laktosa 2 gr/kg BB.Gula darah diperiksa
setiap jam sampai 2 jam lamanya.Hasil dianggap positif bila selama 2
jam didapat hasil kurang dari 25 mg%.
d.Barium meal lactoce.Pasien dipuasakan,pemeriksaan dilakukan dibagian
radiologi.
e.Biopsi usus,hasil akan menunjukkan kelainan berupa atrofi mukosa usus
berbagai derajat dan kelainan lainnya.

2.1.8 Penatalaksanaan Medis


a.Diet
Tinggi kalori dan protein serta rendah lemak.Menghindarkan makanan
makanan yang mengandung penyebab malabsorbsi seperti susu yang
banyak mengandung lactose (Intoleranse Lactose).
b.Medikamentosa
Pada
Malabsorbsi
congenital,terapibersifat
symptomatic
seperti
pemberian preparat besi dan vitamin pada klien anemi serta transpusi

darah bila perlu.Terapi pada malabsorbsi yang didapat ditujukan pada


etiologi seperti enteritis kronis yang menyebabkan kerusakan mukosa
halus. Obstruksi pancreas yang menyebabkan enzyme-enzym pancreas
tidak dapat masuk ke dalam usus halus.
c.Penyuluhan
Ditujukan kepada klien dan keluarga. Mencakup penyakit dan diet yang diperlukan.
Perawatan membantu klien dalam mengatasi perubahan pola makan

3.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIAGNOSA SINDROM MALABSORBSI

3.3.1 Pengkajian
Dilakukan secara sistematis
subjektif yang meliputi :

yang

berisikan

informasi

objektif

dan

a.Identitas diri yang berisikan nama, umur, jenis kelamin, alamat,


pendidikan, suku bangsa, agama, status perkawinan, nomor RM , tanggal
masuk, alasan masuk, dll.
b.Riwayat kesehatan meliputi :
1.Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi riwayat yang pernah diderita, pengalaman riwayat di rumah sakit,
penyakit lain yang pernah diderita.
2.Riwayat Kesehatan Sekarang
Meliputi alasan masuk RS, keluhan utama yang dirasakan saat ini yang
mliputi sakit tenggorokan dan nyeri sekitar mata dan pada kedua sisi
hidung, kesulitan menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat,
rasa tidak nyaman umum, dan keletihan.
3.Riwayat Kesehatan keluarga
Meliputi adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami hal seperti ini,
riwayat penyakit keturunan dan penyakit menular pada keluarga.
c.Pemeriksaan fisik :
1.Rambut dan Hygiene kepala
Rambut hitam,bau tidak ada, rambut tumbuh subur dan kulit kepala
bersih
2.Mata

Meliputi keadaan konjunktiva anemis, mata cekung, dll


3.Hidung
Meliputi pemeriksaan septum hidung, sekret atau benda asing lainnya
4.Mulut
Meliputi pemerikasaan rongga mulut yang menandakan apakah bau mulut
atau ada caries, kebersihan lidah dan tidak adanya peradangan
5.Leher
Meliputi kelenjar getah bening dan submandibular disekitar leher terjadi
peradangan atau tidak
6.Thorax
Meliputi bentuk thorax, jenis pernafasan, frekuensi nafas yang cepat, dan
dangkal dan suara nafas
7.Abdomen
Klien dengan biasanya yang diperiksa tidak terjadi pembesaran pada
abdomen / auskultasi peristaltik usus 20 kali / l pada palpasi tidak terasa
masa dan perut terasa tegang. Pada perkusi berbunyi timpani
8.Kulit
Meliputi kebersihan kulit, dan turgor kulit yang jelek
9.Genitalia
Meliputi kelengkapan genitalia
d.Aktivitas Sehari hari :
1.Pola Eliminasi,
Pemeriksaan frekuensi BAK dan BAB
2.Pola Istirahat,
Kebutuhan istirahat klien terganggu karena sering kali nyeri sakit di
tenggorokan
3.Pola Nutrisi,
Kebutuhan Nutrisi terganggu karena tidak nafsu makan diakibatkan sulit
menelan dan sakit di tenggorokan
4.Personal Hygiene,

Kebersihan mulut terganggu diakibatkan sakit di tenggorokan


3.3.2 Diagnosa Keperawatan
a.Perubahan status nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia dan gangguan gastrointestinal.
b.Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan
berat badan.
c.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema.
3.3.3 Intervensi Keperawatan
N
o

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan dan
Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

Membantu
dalam
1 Perubahan
Setelah
Mandiri
status nutrisi,
dilakukan
mengidentifikasi
Kaji intake diet, Ukurdefisiensi dan kebutuhan
kurang dari
tindakan
pemasukan
diit,diet. Kondisi fisik umum,
kebutuhan tubuh keperawatan
berhubungan
selama 3x24 jamtimbang berat badangejala uremik (mual,
tiap minggu.
dengan
diharapkan
muntah, anoreksia, dan
anoreksia dan
kebutuhan
ganggguan rasa) dan
Berikan makanan sedikit
gangguan
nutrisi
klien
pembatasan diet dapat
dan
sering
sesuai
gastrointestinal. terpenuhi
mempengaruhi
intake
dengan diet.
makanan,
setiap
nutrisi
Tawarkan
perawatankebutuhan
diperhitungan
dengan
mulut
(berkumur/gosok gigi)tepat agar kebutuhan
dengan larutan asetatsesuai dengan kondisi
berat
badan
25 % sebelum makan. pasien,
ditimbang
untuk
Identifikasi
makananmengetahui
yang disukai termasukpenambahan
dan
kebutuhan kultural.
penuruanan berat badan
secara periodik.
Motivasi pasien untuk
Meminimalkan
anoreksia
menghabiskan
diet,
anjurkan
makan-dan mual sehubungan
makanan lunak.
dengan status uremik.
Berikan bahan penganti
Membran mukosa menjadi
garam
penggantikering
dan
pecah.
garam
yang
tidakPerawatan
mulut
mengandung
menyejukkan,
dan
amonium.
membantu
menyegarkan
rasa
Berikan
obat
sesuaimulut, yang sering tidak
dengan
indikasi
:nyaman pada uremia

Tambahan
vitamin,dan pembatasan oral.
thiamin, besi, asamPencucian dengan asam
folat
dan
Enzimasetat
membantu
pencernaan.
menetralkan
ammonia
yang
dibentuk
oleh
Kolaborasi
perubahan urea.
Pemberian antiemetik Jika makanan yang disukai
pasien
dapat
dimasukkan
dalam
perencanaan
makan,
maka
dapat
meningkatkan
nafsu
makan pasien.
Membantu
proses
pencernaan dan mudah
dalam
penyerapan
makanan, karena pasien
mengalami
gangguan
sistem pencernaan.
Garam
dapat
meningkatkan
tingkat
absorsi
dan
retensi
cairan, sehingga perlu
mencari
alternatif
penganti garam yang
tepat.
Hati yang rusak tidak
dapat
menyimpan
Vitamin A, B kompleks,
D dan K, juga terjadi
kekurangan besi dan
asam
folat
yang
menimbulkan anemia.
Untuk
menghilangkan
mual / muntah dan
dapat
meningkatkan
pemasukan oral.
Memberikan kalori bagi
2 Intoleransi
Setelah
Mandiri
aktivitas
dilakukan
tenaga dan protein bagi
Tawarkan
diet
tinggi
berhubungan
tindakan
proses penyembuhan.
kalori, tinggi protein
dengan
keperawatan
Menghemat tenaga pasien
kelelahan dan
selama 3x24 jam(TKTP).
sambil
mendorong
penurunan berat diharapkan

badan.

3 Gangguan
integritas kulit
berhubungan
dengan
pembentukan
edema.

Motivasi pasien untukpasien untuk melakukan


terjadi
peningkatan
dalam
batas
melakukan
latihanlatihan
energi
danyang
diselingitoleransi pasien.
partisipasi klienistirahat.
Memperbaiki
perasaan
dalam aktivitas.
Motivasi
dan
bantusehat secara umum dan
pasien
untukpercaya diri.
melakukan
latihan
dengan periode waktu
yang
ditingkatkan
secara bertahap.
Meminimalkan
Setelah
Mandiri
dilakukan
pembentukan edema.
Batasi natrium seperti
tindakan
Jaringan dan kulit yang
yang diresepkan.
keperawatan
edematus mengganggu
selama 3x24 jam
Berikan perhatian dansuplai
nutrien
dan
diharapkan
perawatan
yangsangat rentan terhadap
Integritas kulit
cermat pada kulit.
tekanan serta trauma.
klien dalam
keadaan baik Ubah posisi tidur pasien
Meminimalkan
tekanan
dengan sering.
yang
lama
dan
meningkatkan mobilisasi
Timbang berat badan
edema.
dan
catat
asupan
serta haluaran cairan
Memungkinkan perkiraan
setiap hari.
status
cairan
dan
pemantauan
terhadap
Lakukan latihan gerak
adanya retensi serta
secara pasif, tinggikan
kehilangan
cairan
ekstremitas
dengan cara yang paling
edematus.
baik.
Letakkan bantalan busa
Meningkatkan
mobilisasi
yang kecil dibawah
edema.
tumit, maleolus dan
tonjolan
tulang
Melindungi tonjolan tulang
lainnya.
dan
meminimalkan
trauma jika dilakukan
dengan benar.

3.3.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan
keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien.

Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan


validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal,
intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada
situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan
psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang
meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.
3.3.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi
merupakan
tahap
terakhir
dari
keperawatan. Kegiatan evaluasi iniadalah membandingkan hasil
telah dicapai setelah implementasi keperawatandengan tujuan
diharapkan dalam perencanaan.

proses
yang
yang

Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan


tercapai:

sil

: perilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal


yang ditetapkan di tujuan.

pai

sebagian
: pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang
ditentukan dalam pernyataan tujuan.

mt

ercapai.
: pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan perilaku
yang diharapakan sesuai dengan pernyataan
tujuan.