Você está na página 1de 140
Ilmu Bedah CATATAN TUTORIAL OPTIMA BEDAH ATLS Tetanus Trauma Thorax Trauma Uretra Peritonitis Hernia Ileus Obstruktif

Ilmu Bedah

CATATAN TUTORIAL OPTIMA

BEDAH

ATLS Tetanus Trauma Thorax Trauma Uretra Peritonitis Hernia

Ileus Obstruktif

Sindroma Kompartment Fraktur

Phimosis

Labiopalatoshisis Limb ischemia

Kelainan kongenital GI

Masalah payudara

Pembahasan Bedah

Bedah Plastik

Bedah Digestive

Bedah Urologi

Bedah Orthopaedi & Traumatology

Bedah Anak

Bedah Onkologi

Bedah Thorax Kardio Vaskuler

Bedah Umum

Bedah Saraf

Primary Survey

 

Airway

Breathing

Circulation

Secondary Survey

 
 

Simple

 

pneumothorax

 

Open

 

pneumothorax (sucking chest

wound)

 

Flail chest

Hemothorax masive

Kontusio paru

ATLS

Airway/ jalan nafas: pastikan jalan nafas

paten dan control cervikal

pertama dilakukan bila ada trauma mayor yang mengenai jalan nafas

Patensi jalan nafas dan pertukaran udara sebaiknya dinilai dengan mendengarkan pergerakan udara melalui hidung, mulut, lapang paru dari pasien

Inspeksi : orofaring untuk liat adanya

obstruksi benda asing dan mengamati adanya retraksi otot intercostalis dan supraklavikular

Observasi Stridor (obstruksi saluran nafas

atas) atau perubahan bermakna pada kualitas suara (jika pasien mampu

bersuara)

ATLS 8th Edition, Bab 4 : Trauma Toraks

Primary Survey

Breathing/ pernafasan: pastikan

oksigenasi dan ventilasi yang

adekuat

Dada dan leher harus diperiksa menyeluruh untuk menilai

pernafasan dan vena leher.

Tanda trauma toraks atau hipoksia :

peningkatan kecepatan pernafasan dan perubahan pola pernafasan, khususnya pernafasa yang makin dangkal.

Cirlutation/ sirkulasi : memastikan

fungsi sirkulasi dan menghentikan

perdarahan

Derajat kesadaran Warna kulit dan temperatur

Kecepatan nadi, isi dan equalitas

Disability Evaluasi neurologi dasar

Skor GCS

Respon Pupil

Environment

memastikan lingkungan sekitar

aman bagi penolong maupun

pasien, misal menghangatkan, mengeringkan, dsb

Buka semua pakaian pasien untuk evaluasi menyeluruh

Primary Survey • Breathing/ pernafasan: pastikan oksigenasi dan ventilasi yang adekuat • Dada dan leher harus

Algoritma Initial Assessment ATLS

Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi

Penilaian

 

Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan control servikal

 

in-line immobilisasi

 

Tentukan laju dan dalamnya pernapasan

terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks simetris atau tidak, pemakaian

Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan

 
 

otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera lainnya. Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor

Auskultasi thoraks bilateral

Pengelolaan

 

Pemberian oksigen konsentrasi tinggi ( nonrebreather mask 11-12 liter/menit)

Ventilasi dengan Bag Valve Mask

Menghilangkan tension pneumothorax dekompresi

Menutup open pneumothorax kasa kedap udara dengan plester di tiga sisi

Memasang pulse oxymeter

Evaluasi

Circulation dengan kontrol perdarahan

Penilaian

 

Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal

Mengetahui sumber perdarahan internal

Periksa nadi : kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus paradoksus.

Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi masif segera.

Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.

Periksa tekanan darah

Pengelolaan

 

Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal

Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi bedah serta konsultasi pada ahli bedah.

Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, tes kehamilan (pada wanita usia subur), golongan darah dan cross-match serta Analisis Gas Darah (BGA).

Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan cepat.

Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada pasienpasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa.

Cegah hipotermia

Evaluasi

Disability

Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS

Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, reflek cahaya

dan awasi tanda-tanda lateralisasi

Evaluasi dan Re-evaluasi aiway, oksigenasi, ventilasi dan circulation.

Exposure/Environment

Buka pakaian penderita

Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan

pada ruangan yang cukup hangat.

Secondary Survey

Secondary Survey • komponen: A. History : – A llergic M edication P ast illness L

komponen:

  • A. History :

Allergic Medication Past illness Last meals Event (AMPLE)

  • B. Physical exam : head to toe

  • C. Every orrifice examination

  • D. Complete Neurological examination

  • E. Special diagnostic tests

  • F. Re-evaluation

Pencegahan Tetanus Pasca Trauma

Pencegahan Tetanus Pasca Trauma

Tetanus

Tetanus

Hemotoraks

Terkumpulnya darah pada ruang pleura

Etiologi : laserasi pembuluh darah di rongga dada

Penimbunan darah pada rongga dada akan

mendesak jantung dan pembuluh darah di

ronggga dada

Dapat menampung hinggga 1,5 l darah di masing-masing kavum thorax.

Sumber perdarahan: arteriintercostalis atau

arteri mamaria interna (85%), a. torakalis interna, parenkim paru dan jantung.

Perdarahan jarang melibatkan pembuluh darah

besar seperti arkus aorta, vena azygos, dan

vena cava.

Klinis: Sesak napas, Nyeri, Frothy, Bloody Sputum, Takikardi, Takipnoe, Gerakan dada tertinggal saat ekspirasi, Fremitus melemah,

Suara napas melemah, Anxiety/Restlessness, syok, Flat Neck Veins

Tatalaksana

ABC’s with c-spine control

WSD : preventif, diagnosis, kuratif

Resusitasi cairan sesuai dengan jumlah kehilangan darah

Darah yang banyak di rongga pleura menyebabkan berkurangnya volume paru,

empyema, dan kerusakkan diafragma

Indikasi torakotomi :

3-5 cc/kgbb/jam dalam 3 jam berturut

>5 cc/kg bb dalam 1 jam

Trauma Thorak

Simple/Closed Pneumothorax

Terdapatnya udara / gas dalam rongga pleura

Pneumotoraks karena traumahubungan antara rongga dada dan dunia luar, melalui luka dinding dada menembus pleura parietalis atau luka di jalan nafas sampai ke

pleura viseralis.

Bila luka penyebab tetap terbukatidak ada tekanan negatif yang menariknya, sedangkan jaringan paru elastisparu akan menguncup (kolaps).

Klinis: Nyeri dada, sesak, Takipnoe, Menurunnya suara napas

Tata laksana :

ABC’s with C-spine control

Airway Assistance

WSD

Open Pneumothorax

Pneumotoraks terbuka/ open pneumothorax (sucking chest wound)

Pneumotoraks terbuka (open) terjadi

akibat adanya defek yang besar pada

dinding dada sehingga tekanan di

dalam rongga dada dan tekanan atmosfer seimbang.

Pada setiap fase inspirasi, udara

dapat masuk melalui defek tersebut

dan mengganggu proses ventilasi efektif sehingga dapat menyebabkan hipoksia dan hiperkarbia.

Klinis: Sesak, Nyeri yang sangat,

Empisema subkutan, Menurunnya suara napas, Bubble darah pada luka,

Sucking wound (+)

Tata laksana

ABC’s with c-spine control

High Flow oxygen

Tutupi luka dengan occlusive dressing

dan plester di tiga sisi

WSD

Tension Pneumothorax

Pneumotoraks yang progresif dan

cepat. Membahayakan jiwa

penderitadalam waktu singkat.

Mekanisme ventile. Penekanan mediastinum hebat penurunan cardiac output

Klinis:Keluhan sesak nafas yang progresif dan berat.Tanda2 hipoksia:

sianosis, takipneu, hunger of air. Trias: hipotensi, jvp meningkat, hipersonor. Pemeriksaan cepat:

inspeksi, perkusi dan aukultasi.

Tata laksana

ABC’s with c-spine

Needle Decompression:

Pada sela iga II/III garis midclavikula

Insersi iv cath 14 G/ lebih pada tepi atas

 

costa III/IV

 

Hindari insersi pada tepi bawah krn terdapat N.A.V intercostalis

High Flow oxygen

http://emedicine.medscape.com/

Open Pneumothorax

http://emedicine.medscape.com/ Open Pneumothorax Causes the lung to collapse due to increased pressure in pleural cavity Can
http://emedicine.medscape.com/ Open Pneumothorax Causes the lung to collapse due to increased pressure in pleural cavity Can

Causes the lung to collapse due to increased

pressure in pleural cavity

Can be life threatening and can deteriorate

rapidly

Th/ :

ABC’s with c-spine

control as indicated

High Flow oxygen

Listen for decreased

breath sounds on

affected side

Apply occlusive dressing

to wound

Notify Hospital and ALS

unit as soon as possible

http://www.cssolutions.biz

Occlusive dressing

Hemothorax

Hemotoraks ialah

terdapatnya darah di dalam

rongga pleura. Kondisi tersebut disebabkan oleh

laserasi pembuluh darah

interkostal atau arteri

mammaria interna atau

laserasi paru, dapat

dicetuskan oleh trauma tembus atau tumpul.

Hemotoraks yang besar dan

akut dapat terlihat pada foto toraks, seperti

gambaran efusi pleura,

yaitu radioopak

Hemothorax • Hemotoraks ialah terdapatnya darah di dalam rongga pleura. Kondisi tersebut disebabkan oleh laserasi pembuluh

May put pressure on the heart

S/S of Hemothorax

Anxiety/Restlessness Tachypnea Signs of Shock Frothy, Bloody Sputum Diminished Breath Sounds on Affected Side Tachycardia

Flat Neck Veins

S/S of Hemothorax • Anxiety/Restlessness • Tachypnea Signs of Shock Frothy, Bloody Sputum Diminished Breath Sounds

Treatment for Hemothorax

Memerlukan pemasangan

chest tube/water sealed

drainage (WSD). Jika volume

darah yang diperoleh 1500 ml dari tube atau lebih dari

200 ml/jam selama 2-4 jam,

operasi eksplorasi

direkomendasikan.

Flail Chest

Flail Chest

http://emedicine.medscape.com/article/433779

FLAIL CHEST

Fraktur segmental dari tulang-tulang iga yang berdekatan, sehingga ada bagian dari dinding

dada yang bergerak secara independen

Flail chest:

Beberapa tulang iga

Beberapa garis fraktur pada

satu tulang iga

http://emedicine.medscape.com/article/433779 FLAIL CHEST Fraktur segmental dari tulang-tulang iga yang berdekatan, sehingga ada bagian dari dinding dada

The first rib is often fractured

posteriorly (black arrows). If multiple rib fractures occur along the midlateral

(red arrows) or anterior chest wall

(blue arrows), a flail chest (dotted black lines) may result.

http://emedicine.medscape.com/

Treatment

ABC’s dengan c-spine control sesuai indikasi Analgesik kuat intercostal blocks Hindari analgesik narkotik Ventilation membaiktidal volume meningkat, oksigen darah meningkat Ventilasi tekanan positif Hindari barotrauma Chest tubes bila dibutuhkan Perbaiki posisi pasien Posisikan pasien pada posisi yang paling nyaman dan membantu mengurangi nyeriPasien miring pada sisi yang terkena Aggressive pulmonary toilet Surgical fixation rarely needed Rawat inap24 hours observasion

Tamponade Jantung

Akumulasi darah/cairan pada rongga pericardium

Etiologi :

Neoplasma

Perdarahan pada : Trauma tumpul/tembus dada, Ruptur dinding ventrikel, Diseksi aorta

Trias beck :

Hipotensi

JVP meningkat

Suara jantung menjauh

Pada PF ditemukan pulsus parodoksus

Tata laksana

ABC’s dengan c-spine control

High Flow oxygen

Cardiac Monitor IV access besar

– – Pericardiocentesis Bedah : pericardial window

http://emedicine.medscape.com/article/152083-overview

http://emedicine.medscape.com/article/152083-overview

http://www.learningradiology.com/archives2007/COW%20274-Pericardial%20effusion/perieffusioncorrect.html

http://www.learningradiology.com/archives2007/COW%20274-Pericardial%20effusion/perieffusioncorrect.html “ Water bottle configuration"  bayangan pembesaran jantung yang simetris

Water bottle configuration" bayangan pembesaran jantung yang simetris

http://www.learningradiology.com/archives2007/COW%20274-Pericardial%20effusion/perieffusioncorrect.html “ Water bottle configuration"  bayangan pembesaran jantung yang simetris

Dicurigai Tamponade jantung:

Echocardiography Pericardiocentesis

Dilakukan segerauntuk diagnosis dan terapi

Needle pericardiocentesis

Sering kali merupakan pilihan terbaik saat terdapat kecurigaan adanya tamponade jantung atau terdapat penyebab yang diketahui untuk timbulnya

tamponade jantung

http://emedicine.medscape.com/article/152083-overview

http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

Trauma Uretra

http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf Trauma Uretra • Curiga adanya trauma pada traktus urinarius bag.bawah, bila: – Terdapat trauma disekitar

Curiga adanya trauma

pada traktus urinarius

bag.bawah, bila:

Terdapat trauma disekitar traktus urinariusterutama fraktur pelvis

Retensi urin setelah kecelakaan

Darah pada muara OUE Ekimosis dan hematom perineal

Uretra Anterior:

Anatomy:

 

Bulbous urethra

Pendulous urethra

Fossa navicularis

Etiologi:

 

Straddle type injuries

Intrumentasi

Fractur penis

Gejala Klinis:

 

Disuria, hematuria

Hematom skrotal

Hematom perineal akan timbul bila terjadi robekan pada fasia Buck’s sampai ke dalam fasia Colles‘‘butterfly’’ hematoma in the perineum

will be present if the injury has disrupted Buck’s fascia and tracks deep to Collesfascia, creating a characteristic ‘‘butterfly’’ hematoma in the perineum

Therapy:

 

Cystostomi

Immediate Repair

Uretra Posterior :

Anatomy

 

Prostatic urethra

Membranous urethra

Etiologi:

 

Fraktur tulang Pelvis

Gejala klinis:

 

Darah pada muara OUE

Nyeri Pelvis/suprapubis

Perineal/scrotal hematom

RTProstat letak tinggi atau melayang

Radiologi:

 

Pelvic photo

Urethrogram

Therapy:

 

Cystostomi

Delayed Repair

Don't pass a diagnostic

catheter up the patient's

urethra because:

The information it will give will be unreliable.

May contaminate the haematoma round the injury. May damage the slender

bridge of tissue that joins

the two halves of his injured urethra

Retrograde

urethrography

Modalitas pencitraan yang utama untuk mengevaluasi

uretra pada kasus trauma

dan inflamasi pada uretra

Posterior urethral rupture above the

intact urogenital diaphragm following blunt trauma

http://ps.cnis.ca/wiki/index.php/68

._

Urinary

Appendisitis

Appendisitis merupakan peradangan appendiks vermivormis, penyebab

nyeri abdomen akut paling sering, hampir 10% populasi akan mengalami

appendisitis akut

Dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI 2012), dokter umum

harus dapat membuat diagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik dan

penunjang, memutuskan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien, serta merujuk ke spesialis yang relevan kasus appendisitis akut (kategori 3B).

DIAGNOSIS

ALVARADO SCORE

Gejala

Nyeri berpindah

1

 

Anorexia

1

 

Mual/muntah

1

Tanda

Nyeri kanan bawah

2

 

Rebound

1

 

Peningkatan suhu

1

Lab

Leukositosis

2

 

Hitung leukosit bergeser ke kiri

1

9-10 (almost certain) harus segera operasi

Total poin 10

7-8 (high likehood) dipastikan dengan pencitraan abdomen 5-6 (compatible) dipastikan dengan pencitraan abdomen 0-4 (extremely unlikely, but not immposible) observasi

36

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang Gambaran USG pada appendiks normal(A) dan appendisitis yang mengalami distensi dan penebalan dinding (B)

Gambaran USG pada appendiks normal(A) dan appendisitis yang mengalami distensi dan penebalan dinding (B)

Pemeriksaan Penunjang Gambaran USG pada appendiks normal(A) dan appendisitis yang mengalami distensi dan penebalan dinding (B)

CT scan appendiks dengan distensi (tanda panah) dan cairan periapendiceal (kepala panah)

DIAGNOSIS BANDING

Masalah

Appendisitis akut

Proses

Inflamasi akut appendiks, distensi dan obstruksi

Lokasi

Diagnosa

Nyeri periumbilikal, diikuti nyeri di kuadran kanan

CT scan

Ulkus

peptikum

&

ulkus

di

mukosa

bawah Epigastrik, dapat terasa

Endoskopi

dispepsia

lambung/infeksi H, pylori

sampai ke punggung

Pankreatitis akut

Peradangan

akut

pada

Epigastrik, dapat menjalar ke

Serum amylase

 

pankreas

punggung

/lipase, CT scan

Divertikulitis akut

 

Inflamasi akut divertikulum kolon

Kuadran kiri/kanan bawah CT scan

Obstruksi usus akut

Sumbatan

lumen

usus

Usus halus: periumbilikal,

Barium enema

(mekanik)

akibat adhesi/herniasi

kuadran atas abdomen

Nyeri abdomen

akut pada wanita

PID, KET, gangguan adnexa

Kolon: kuadran bawah kolon

atau general

Kuadran bawah abdomen

Pemeriksaan

pelvis,

USG

38

atau

laparoskopi

TATALAKSANA

Umum

Medikamentosa

Cairan parenteral

Tirah baring

Diet rendah serat

Pembedahan pengangkatan appendiks (apendektomi)

Obat pencahar, analgesik dan antibiotik tidak diberikan bila diagnosis

masih diragukan.

Bila diagnosis sudah tegakkan, terapi antibiotik:

infeksi ringan-sedang: cefoxitin,

cefotetan, atau asam tikarsilin- klavunat

infeksi berat: cephalosporin generasi ketiga, monolactam, atau

aminoglikosida dan ditambahkan

antibiotik anaerob seperti klindamisin atau metronidazol

PERITONEUM

Peritoneum merupakan membrane serosa yang

terletak pada rongga abdomen, terdiri atas

mesotel serta jaringan ikat areolar Visceral peritoneum: Peritoneum yang melapisi organ-organ visceral Parietal peritoneum: Peritoneum yang melapisi rongga abdomen dan pelvis.

Lipatan Besar Pada Peritoneum:

Greater omentum

Lipatan peritoneum yang menggantung seperti celemek dari greater curvature lambung hingga duodenum, dan kembali ke bagian anterior mesokolon.

Lesser omentum

Menghubungkan lesser curvature lambung dan duodenum ke liver

Ligamentum

falciform

Mesenterium

Mesokolon

menghubungkan liver dengan dinding abdomen serta diafragma

Lipatan seperti kipas yang menghubungkan

usus halus dengan dinding abdomen posterior

Menghubungkan kolon transverum dan kolon sigmoid ke dinding posterior abdomen

Sumber: Tortora, G. J. (2009). Principle of Human Anatomy and Physiology 12 edition

Sumber: Tortora, G. J. (2009). Principle of Human Anatomy and Physiology 12 th edition

Sumber: Moore, K. L. (2006). Clinically Oriented Anatomy

Sumber: Moore, K. L. (2006). Clinically Oriented Anatomy

PERITONITIS

Peritonitis adalah inflamasi membran serosa

yang melapisi rongga abdomen dan organ

yang ada di dalamnya. Peritonitis adalah

peristiwa mengancam jiwa yang sering disertai

dengan bakterimia dan gejala sepsis.

KLASIFIKASI

PERITONITIS PRIMER • Terjadi melalui penyebaran hematogen atau limfatik. • Organisme paling sering menjadi penyebab adalah
PERITONITIS
PRIMER
• Terjadi melalui
penyebaran
hematogen atau
limfatik.
• Organisme paling
sering menjadi
penyebab adalah
gram (-) bakteri
seperti E coli.
• Gejala paling sering
adalah demam.
PERITONITIS SEKUNDER • Peritonitis sekunder berkembang ketika bakteri mengontaminasi rongga peritoneum akibat kebocoran intraabdomen • Perforasi
PERITONITIS
SEKUNDER
• Peritonitis sekunder
berkembang ketika
bakteri
mengontaminasi
rongga peritoneum
akibat kebocoran
intraabdomen
• Perforasi bilio-
enterik (perforasi
gaster, colon),
kebocoran
anastomosis,
pankreatitis
terinfeksi.
PERITONITIS TERSIER • Terjadi pada infeksi intraabdominal persisten yang berespon terhadap operasi, akibat infeksi nosokomial
PERITONITIS TERSIER
• Terjadi pada infeksi
intraabdominal
persisten yang
berespon terhadap
operasi, akibat
infeksi nosokomial

DIAGNOSIS

ANAMNESIS •Adanya nyeri perut yang tiba-tiba •nyeri tumpul seluruh perut •Rasa nyeri semakin bertambah dengan pergerakan
ANAMNESIS
•Adanya nyeri perut yang
tiba-tiba
•nyeri tumpul seluruh
perut
•Rasa nyeri semakin
bertambah dengan
pergerakan dan
penekanan.
•Keluhan disertai demam
PEMERIKSAAN FISIK •Demam>38 •Takikardi. •Dapat terjadi syok sepsis •Distensi abdomen •Bising usus menurun atau berkurang •Terdapat
PEMERIKSAAN FISIK
•Demam>38
•Takikardi.
•Dapat terjadi syok sepsis
•Distensi abdomen
•Bising usus menurun atau
berkurang
•Terdapat nyeri tekan, nyeri
lepas
•Rigiditas dinding abdomen
PEMERIKSAAN PENUNJANG •X-Ray abdomen 3 posisi. •USG Abdomen melihat adanya koleksi cairan •Pemeriksaan darah rutin
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
•X-Ray abdomen 3 posisi.
•USG Abdomen melihat
adanya koleksi cairan
•Pemeriksaan darah rutin

TATALAKSANA

MEDIKAMENTOSA:

penisilin intravena, atau cefoxitin 4 kali 2gr/hari 4dd1 levofloxacin 750 mg 4 kali sehari

seftriaxone 2 gram 4 kali sehari

500 mg 3 kali sehari.

Pasien di ICU imipenem 500 mg 4 kali sehar intravenai, meropenem 1 gram 3 kali sehari.

Terapi Pembedahan

Pada peritonitis sekunder yang diakibatkan oleh perforasi organ, memerlukan

pembedahan dengan laparotomy untuk

mereparasi organ yang mengalami perforasi

serta membersihkan pus

Hernia

/VENTRAL HERNIA

Hernia Location and Nomenclature

Hernia Location and Nomenclature Additional : Spigellian hernia : very rare, a hernia through the spigelian

Additional:

Spigellian hernia: very rare, a hernia through the spigelian fascia and in most cases, it has a small size Ventral hernia: hernia in the abdominal wall, for example: incisional, umbilical and paraumbilical hernia

 

Reponible

Kantong hernia dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga peritoneum secara manual atau spontan

Irreponible

Kantong hernia tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga

peritoneum

Incarserated

Obstruksi dari pasase usus halus yang terdapat di dalam kantong

hernia

Strangulated

Obstruksi dari pasase usus dan Obstruksi vaskular dari kantong herniatanda-tanda iskemik usus: bengkak,nyeri,merah

Indirekmengikuti kanalis inguinalis

• Indirek  mengikuti kanalis inguinalis

Karena adanya prosesus vaginalis

persistent The processus vaginalis outpouching of peritoneum attached to the testicle that trails behind as it descends retroperitoneally into the scrotum.

http://emedicine.medscape.com/article/

DirekTimbul karena adanya defek atau kelemahan pada fasia transversalis dari

trigonum Hesselbach

ILEUS

Ileus merupakan gangguan pasase usus. Gangguan pasase tersebut dapat terjadi karena

sumbatan (obstruktif/mekanik) maupun karena kelumpuhan otot otot usus (paralitik).

  • Obstruction

    • Adanya sumbatan mekanik yang disebabkan karena adanya kelainan struktural sehingga menghalangi gerak peristaltik usus.

    • Partial or complete

    • Simple or strangulated

  • Ileus

    • Kelainan fungsional atau terjadinya paralisis dari gerakan peristaltik usus

  • Ileus Paralitik Komplikasi pasca pembedahan Peritonitis Ileus strangulata Infeksi berat Gangguan metabolik Gangguan elektrolit Fraktur pelvis Pankreatitis Iskemia mesenterika Gangguan neurologis

    Etiologi

    Ileus Obstruktif

    Keganasan Riwayat pembedahan Sliding hernia Volvulus Invaginasi Benda asing Crohn disease Divertikulitis

    Penyebab- Usus Halus

    Luminal

    Mural

    Extraluminal

    Benda asing

    Neoplasims

    Postoperative

    Bezoars

    lipoma

    adhesions

    Batu Empedu

    polyps

    Sisa-sisa

    leiyomayoma

    Congenital

    makanan

    hematoma

    adhesions

    A. Lumbricoides

    lymphoma

    carcimoid

    Hernia

    carinoma

    secondary Tumors Crohns TB

    Volvulus

    Stricture

    Intussusception

    Congenital

    Penyebab- Usus Halus Luminal Mural Extraluminal Benda asing Neoplasims Postoperative Bezoars lipoma adhesions Batu Empedu polyps
    Penyebab- Usus Halus Luminal Mural Extraluminal Benda asing Neoplasims Postoperative Bezoars lipoma adhesions Batu Empedu polyps
    Penyebab- Usus Halus Luminal Mural Extraluminal Benda asing Neoplasims Postoperative Bezoars lipoma adhesions Batu Empedu polyps

    Lokasi Ileus dan Gejalanya

    Lokasi Ileus dan Gejalanya Tabel 3. Lokasi ileus berdasarkan gejala yang muncul. Siegenthaler W. Ileus. In:

    Tabel 3. Lokasi ileus berdasarkan gejala yang muncul. Siegenthaler W. Ileus. In: Differential Diagnosis in Internal Medicine, From Symptom to Diagnosis. Thieme, New York 2007.

    1. Anamnesis

    The Universal Features

    Nyeri kolik (Colicky abdominal pain), muntah, konstipasi (absolute),

    distensi abdominal.

    Anamnesis Lengkap

    High

    Pain is rapid

    Vomiting copious and contains bile jejunal content

    Abdominal distension is limited or localized

    Rapid dehydration

    Distal small bowel

    Pain: central and colicky Vomitus is feculunt Distension is severe Visible peristalsis May continue to pass flatus and feacus before absolute constipation

    Colonic

    Preexisting change in bowel habit

    Colicky in the lower abdomin

    Vomiting is late Distension prominent Cecum ? distended

    Persistent pain may be a sign of strangulation Relative and absolute constipation

    2. Pemeriksaan Fisik

    General

    Abdominal

    Others

    Vital signs:

    •Abdominal distension and it’s

    High pitched (metallic sound)

    Systemic

    P, BP, RR, T, Sat

    pattern

    examination

    dehydration

    Hernial orifices

    If deemed necessary.

    Visible peristalsis

    CNS

    Anaemia, jaundice, LN

    Cecal distension

    Vascular

    Assessment of vomitus

    Tenderness, guarding and rebound

    Gynaecological

    if possible

    Organomegaly

    muscuoloskeltal

    Full lung and heart examination

    Bising Usus

    Meningkat Menghilang

    Rectal examination

    Darm konturterlihatnya bentuk usus pada dinding abdomen

    Darm Steifungterlihatnya gerakan peristaltik pada dinding abdomen

    Diagnosis

    Suara usus akan meningkat saat dilakukan auskultasi pada

    pasien dengan ileus dan akan hilang jika dalam perkembangan ileus mekanik berubah menjadi ileus paralitik.

    Gerakan peristaltik intestinum yang abnormal (kekakuan) yang

    disebabkan oleh stenosis intestinum akan dapat dirasakan pada saat palpasi.

    Pada kasus tertentu, tanda ini dapat dilihat pada saat inspeksi

    abdomen.

    Gambaran radiologis abdomen akan tampak intestinum yang terdistensi dan air fluid level

    Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dapat membantu diagnosis

    untuk melihat distensi dan gerakan usus yang patologis.

    Menentukan lokasi ileus dapat dilakukan dengan melihat

    adanya muntah, nyeri, meteorismus, retensi gas dan feses

    Pemeriksaan Radiologis

    Pemeriksaan Radiologis Posisi: Supine, tegak dan CXR Pola udara dalam usus: • Gastric, • Colonic and

    Posisi: Supine, tegak dan CXR Pola udara dalam usus:

    Gastric,

    Colonic and 1-2 small bowel

    Fluid Levels:

    Gastric

    1-2 small bowel

    Periksa udara pada 4 area:

    • 1. Caecal

    • 2. Hepatobiliary

    • 3. Udara bebas dibawah diaphragma

    • 4. Rectum

    Periksa adanya kalsifikasi Periksa adanya massa, psoas shadow Periksa adanya feses

    The Difference between small and

    large bowel obstruction

    Large bowel

    Small Bowel

    Peripheral ( diameter 8 cm max) Presence of haustration

    Central ( diameter 5 cm max) Vulvulae coniventae Ileum: may appear tubeless

    The Difference between small and large bowel obstruction Large bowel Small Bowel • Peripheral ( diameter
    The Difference between small and large bowel obstruction Large bowel Small Bowel • Peripheral ( diameter

    Radiologi: Supine dan tegak(LLD)

    • A. Sensitivitas: 60% (sampai 90%)

      • B. Yang dapat ditemukan:

        • 1. Distensi usus pada proksimal dari obstruksi

        • 2. Usus kolaps pada distal dari obstruksi

        • 3. Posisi tegak atau LLD: Air-fluid levels

        • 4. Posisi Supine

          • a. Sharply angulated distended bowel loops

          • b. Step-ladder arrangement or parallel bowel loops

    Komplikasi

    Frekuensi pernafasan akan meningkat karena intoksikasi dan distensi yang berlebih.

    Distensi yang berlebih tersebut menyebabkan diafragma tertekan sehingga nafas menjadi cepat.

    Tampak mata cekung dengan halo di sekitar mata dan sudut bibir menjadi pucat.

    Tatalaksana Awal di UGD

    Resusitasi ABC bila pasien tidak stabil Infus 2 akses vena bila dibutuhkan

    Resusitasi ABC bila pasien tidak stabil

    Infus

    Resusitasi ABC bila pasien tidak stabil Infus 2 akses vena bila dibutuhkan

    2 akses vena bila dibutuhkan

    Air way (O2 60-100%)

    Infus kristaloid

    Infus kristaloid sesuai kondis pasien

    sesuai kondis pasien

    Pemeriksaan laboratorium

    Pemeriksaan laboratorium Pemasangan kateter urin monitor

    Pemasangan kateter urin monitor

    Dekompresi dengan Naso-gastric tube

    output urin setiap jam balans cairan ketat Antibiotik IV (tidak ada bukti yang jelas)

    output urin setiap jam balans cairan ketat Antibiotik IV (tidak ada bukti yang jelas)

    Pemasangan CVP Bila dikhawatirkan akan terjadi pemberian cairan yang berlebih

    Pemasangan CVP Bila dikhawatirkan akan terjadi pemberian cairan yang berlebih

    Follow-up hasil lab dan Koreksi

    ketidakseimbangan elektrolit Perawatan di intermediate care

    Rectal tubes hanya dilakukan pada

    Sigmoid volvulus.

    Indikasi operasi segera

    Adanya strangulasicontoh: hernia

    Adanya tanda-tanda

    peritonitis yang disebabkan

    karena perforasi atau

    iskemia

    Compartement Syndrom

    Definisi: adalah gejala kompleks disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan jaringan dalam suatu kompartemen (yang dibatasi oleh suatu jaringan fibro osseus) dari anggota gerak yang mempengaruhi sirkulasi dan fungsi jaringan dalam kompartemen tersebut lebih dari 30 mmHg.

    Kompartemen terdiri dari otot, arteri, vena dan saraf dalam suatu ruangan yang meliputi (dibatasi) oleh jaringan osseofacial.

    Mekanisme kejadiannya

    • - meningkatnya volume dalam ruang anatomy

    • - berkurangnya ruangna utk volume

    • - kombinasi keduanya

    7‘Ps’:

    Pain (nyeri)

    Paresthesia

    Paralysis

    Pallor (pucat)

    Pulselessness (hilangnya pulsasi)

    Poikiloterm (dingin)

    puffiness (kulit yang tegang)

    Diagnosis

    a.

    Nyeri: nyeri yang dalam, terus menerus, dan tidak terlokalisir (pain at rest) serta

    regangan pasif dari otot-otot yang terkena akan menimbulkan nyeri yang hebat (pain on

     

    passive movement).

    Pemeriksaan ini, lebih-lebih bila disertai parestesia di sepanjang distribusi saraf sensoris yang melalui kompartemen, merupakan tanda kompartemen syndrome yang paling terpercaya.

    b.

    Parestesia, sesuai dengan dermatom saraf yang bersangkutan.

    Dari dermatomnya kita dapat memperkirakan saraf yang lesi sekaligus mengetahui kompartemen mana yang mengalami proses patologis.

    c.

    Paresis/paralysis

    d.

    Hilangnya denyut nadi (pulselessness), terjadinya lambat kadang tidak terjadi sama

    sekali

    e.

    Kulit di atas kompartemen tegang

    f.

    Pengukuran tekanan intra kompartemen

    Sebenarnya secara klinis sindroma kompartemen sudah dapat ditegakkan, akan tetapi pada penderita-penderita yang tidak kooperatif atau tidak dapat dipercaya (uncooperative/unreliable patient), penderita yang tidak sadar (unresponsive patient) serta

    pada adanya defisit neurologis.

    Secara umum, apabila tekanan intra kompartemen melebihi 30 mmHg penderita harus diobservasi ketat, fasciotomi dilakukan bila tekanan di atas 40 mmHg.

    • Pain : sakit yang berlebihan setelah timbul cedera • Muncul sakit saat peregangan pasif and

    Pain : sakit yang

    berlebihan setelah timbul

    cedera

    Muncul sakit saat

    peregangan pasif and

    nyeri saat perabaan

    kompartment yang

    terlibat

    Th/ Fasciotomy

    Willis &Rorabeck OCNA 1990
    Willis &Rorabeck OCNA 1990

    DISORDER

    ONSET

    ETIOLOGY

    CLINICAL feat

    Buerger dis

    Chronic

    Segmental vascular

    Intermitten

    inflamation

    claudicatio

    Acute limb ischemia

    Acute

    Emboli, trombus

    Pain, pallor,

    pulseless,parestesi,

    poikilotermi

    DVT

    Acute/chronic

    Venous stasis

    Pain and limb edema

    Compartement

    acute

    Edema of the

    5P :Pain, pallor,

    syndrom

    tissue, trauma

    parestesia, paralisis,

    pulseless

    Chronic limb

    Chronic/acute

    Atherosclerosis

    Intermiten

    ischemia

    claudicatio

    25. Fraktur

    Fraktur adalah putusnya kontinuitas struktur tulang. fraktur dapat hanya

    berupa retakan hingga suatu patah

    tulang yang hingga merusak jaringan lunak di sekitarnya.

    Kontinuitas Tulang

    Fraktur Komplit: terjadi apabila tulang

    patah menjadi 2 atau lebih fragmen yang terpisah satu sama lain.

    Berdasarkan garis frakturnya terbagi

    menjadi transversa, segmental, dan

    spiral.

    Fraktur Inkomplit: terjadi apabila tulang tidak sepenuhnya patah karena periosteumnya masih utuh. Berdasar bentuknya dibagi menjadi fraktur greenstick di mana sering terjadi pada anak-anak karena tulang yang masih relatif lebih elastis atau jenis fraktur buckle/ torus di mana tulang terbengkok. Jenis fraktur inkomplit yang lain adalah fraktur kompresi.

    Mekanisme/ Penyebab

    Trauma: sebagian besar fraktur

    disebabkan oleh trauma di mana gaya

    yang dikenakan tulang lebih besar dari resistensi tulang.

    Fatique/ Stres Repetitif: suatu trauma atau tekanan yang repetitif dalam

    jangka waktu yang lama karena pekerjaan berat (atlet, pedansa, militer, dsb) menyebabkan fraktur-fraktur mikroskopik yang menyebabkan proses

    resorbsi menjadi lebih cepat dibanding

    deposisinya. Akhirnya kekuatan tulang menjadi lemah dan terjadi fraktur.

    Patologis: fraktur yang terjadi pada kekuatan yang pada kondisi normal

    tidak menyebabkan fraktur. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya penyakit/ kondisi tertentu yang menyebabkan tulang menjadi rapuh, pada

    osteoporosis, osteosarkoma,

    osteogenesis imperfekta, kista tulang, dsb

    Hubungan Fragmen

    Fraktur dengan Dunia

    Luar

    Fraktur Tertutup:

    - apabila tidak terdapat hubungan antara tulang

    yang fraktur dengan

    dunia luar. Kulit

    dipastikan intak.

    -

    Fraktur Terbuka:

    apabila kontinuitas kulit

    terganggu sehingga

    memungkinkan adanya kontak antara tulang yang

    fraktur dengan dunia luar.

    • Fraktur Terbuka (Klasifikasi Gustilo-Anderson) • (Sumber: Greene, Walter B., dkk. 2006. Netter’s Orthopaedics, 1 st
    Fraktur Terbuka (Klasifikasi Gustilo-Anderson)
    (Sumber: Greene, Walter B., dkk. 2006. Netter’s Orthopaedics,
    1 st edition. Philadelphia: Saunders Elsevier.)
    • Posisi Fraktur (Klasifikasi Muller) • - apabila garis fraktur terdapat Fraktur Diafisis: terjadi pada diafisis
    Posisi Fraktur (Klasifikasi
    Muller)
    -
    apabila garis fraktur terdapat
    Fraktur Diafisis: terjadi
    pada diafisis atau bagian
    tengah tulang, terbagi menjadi
    fraktur simpleks, wedge, dan
    kompleks/ kominutif.
    -
    Proksimal: terjadi apabila garis
    Fraktur Distal dan
    fraktur mengenai bagian

    metafisis dan/ atau epifisis, terbagi menjadi fraktur ekstra-

    artikular, atrikular parsial, dan

    artikular komplit

    Klasifikasi Fraktur Menurut Muller

    (b) simpleks; (c) wedge; (d) kominutif;

    (e) ekstra-artikular; (f) parsial artikular; (g) komplit artikular

    (Sumber: Solomon, Louise, dkk. 2010. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition. London: Hodder Arnold.)

    Kontak Fragmen Tulang

    di mana ujung-ujung fragmen

    Undisplaced: merupakan kondisi

    fraktur saling bertemu (aposisi baik).

    Displaced: merupakan kondisi di mana ujung-ujung fragmen fraktur tidak saling bertemu (aposisi buruk), paling sering

    dikarenakan oleh adanya gerakan.

    Proses pergeseran yang mungkin terjadi adalah translasi

    (pergeseran transversal), angulasi

    (menyudut), rotasi, dan perubahan panjang (pemendekan/ shortening)

    • Kontak Fragmen Tulang di mana ujung-ujung fragmen • Undisplaced: merupakan kondisi fraktur saling bertemu (aposisi

    Tipe Displacement

    (Sumber: Greene, Walter B., dkk. 2006. Netter’s Orthopaedics, 1 st edition. Philadelphia: Saunders Elsevier.)

    PEMERIKSAAN FRAKTUR

    PEMERIKSAAN FRAKTUR

    Pemulihan Fraktur

    Pemulihan Fraktur Netter’s Orthopaedics, 1 edition. • Mekanisme Kalus – Destruksi Jaringan dan Pembentukan Hematoma Segera

    Netter’s Orthopaedics, 1 st edition.

    Mekanisme Kalus

    Destruksi Jaringan dan Pembentukan Hematoma

    Segera setelah fraktur, pembuluh

    darah mengalami kerusakan dan hematoma muncul pada garis fraktur. Jaringan pada ujung-ujung

    fraktur mengalami kekurangan

    aliran darah sehingga mati dan

    mengalami penyusutan beberapa

    millimeter.

    Inflamasi dan Proliferasi Sel

    Pada 8 jam pertama dari kejadian fraktur terjadi reaksi inflamasi dan

    mulai bermigrasi dan proliferasinya

    sel-sel mesenkim tulang dari

    daerah periosteum dan menyebar

    ke sekitarnya. Hematoma mulai

    mengalami absorbsi dan kapiler mulai tumbuh pada area fraktur.

    Pemulihan Fraktur

    Mekanisme Kalus (lanjutan)

    Pembentukan Kallus Lunak Sel-sel mesenkim tulang mulai menunjukkan aktivitas kondrogenik dan

    osteoblastik dan dimulai dari pembentukan kartilago. Osteoklas mulai

    bekerja meresorbsi jaringan tulang yang rusak. Terbentuk kallus yang merupakan tulang yang masih tersusun atas jaringan fibrosa dan

    belum mengalami mineralisasi/ tulang primer (woven). Konsolidasi/ Pembentukan Kallus Keras

    Aktivitas osteoblastik dan osteoklastik terus terjadi sehingga mulai

    terbentuk tulang lamellar/ tulang sekunder yang terus mengalami

    mineralisasi/ kalsifikasi. Hubungan antarfragmen tulang saat ini sudah menjadi rigid, namun masih belum cukup kuat untuk menerima beban secara normal hingga beberapa bulan.

    Remodeling

    Pada tahap ini, antarfragmen tulang telah dijembatani oleh tulang yang solid. Dalam waktu beberapa bulan-tahun berikutnya akan terjadi

    resorbsi pada tulang yang mengalami penyembuhan sehingga menjadi

    lebih ‘rapi’. Medulla osseum sudah terbentuk dan kekuatan tulang

    berangsur kembali normal.

    Pemulihan Fraktur

    Mekanisme Union Langsung

    Pemulihan secara langsung ini terjadi apabila fragmen tulang yang fraktur berhimpitan satu sama lain atau dalam tekanan yang kuat.

    Tidak terbentuk kallus dan terjadi proses osteoblastik secara langsung antara kedua ujung fraktur (contact healing).

    Mekanisme ini sering terjadi pada fraktur kompresi.

    Union langsung relatif tidak sekuat pemulihan kallus, karena pemulihan kallus lebih memastikan kekuatan ujung-ujung

    fraktur.

    Semakin besar tekanan yang terjadi, semakin kuat aktivitas osteoblastik dan remodeling yang terjadi (hukum Wolff).

    Tanda, Gejala, dan Diagnosis

    Anamnesis

    Nyeri, keterbatasan gerak Bengkak, luka, memar, deformitas Mekanisme trauma Riwayat trauma lampau

    Sesak napas, gangguan BAB-BAK, keluar darah dari hidung/ telinga (tanda sekunder fraktur)

    Lemas, pucat, keringat dingin (tanda syok)

    Tanda, Gejala, dan Diagnosis

    Pemeriksaan Fisik

    Pastikan ABC aman terlebih dahulu Pemeriksaan lokal:

    Look

    Pemeriksa mengamati adanya tanda-tanda bengkak, memar, deformitas, dan tanda keutuhan kulit untuk menentukan adanya fraktur terbuka.

    Selain itu perlu diamati kondisi kulit (adanya pucat atau membiru)

    terutama di bagian distal ekstremitas yang mengalami masalah untuk menilai adanya gejala kerusakan syaraf dan gangguan vaskular.

    Feel

    Pemeriksa melakukan palpasi pada bagian yang mengalami cedera dan sekitarnya secara hati-hati untuk menentukan tanda-tanda seperti nyeri tekan. Selain itu dilakukan palpasi nadi dan juga memeriksa sensibilitas

    kulit di bagian distal bagian yang cedera untuk memastikan fungsi syaraf

    dan perfusi jaringan.

    Move

    Pemeriksa dapat membuat gerakan secara hati-hati untuk menilai adanya

    gerakan abnormal dan krepitasi. Hal tersebut kurang nyaman bagi pasien

    karena akan memicu nyeri. Pasien diminta untuk menggerakkan bagian distal dari cedera untuk menilai gangguan fungsi syaraf.

    Tanda, Gejala, dan Diagnosis

    Pemeriksaan Penunjang: pencitraan radiologi (foto X-Ray, CT-Scan,

    dan sebagainya)

    Syarat suatu X-Ray yang baik/ adekuat untuk diagnosis fraktur:

    Two Views: dilakukan foto dengan setidaknya 2 proyeksi, misal AP dan lateral.

    Two Joints: meliputi 1 sendi di bagian proksimal dan 1 sendi di bagian distal deformitas.

    Two Limbs: dilakukan pada dua ekstremitas sebagai perbandingan (terutama pada anak-anak).

    Two Injuries: dilakukan pemeriksaan x-ray pada tulang lain yang berkaitan dengan mekanisme cedera (misal cedera parah pada femur sebaiknya juga memeriksa coxae dan sakrum).

    Two Occasions: pada jenis fraktur biasanya sulit dideteksi pada awal cedera, justru menjadi jelas setelah beberapa minggu.

    X-Ray Yang Adekuat

    X-Ray Yang Adekuat (a,b) two views; (c,d) two occasions; (e,f) two joints; (g,h) two limbs -

    (a,b) two views; (c,d) two occasions; (e,f) two joints; (g,h) two limbs -Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition-

    Manajemen Fraktur Tertutup

    Manajemen Fraktur Tertutup • Mekanisme Reduksi Tertutup (a)retraksi; (b) disimpaksi; (c) reduksi - Apley’s System of

    Mekanisme Reduksi Tertutup

    (a)retraksi; (b) disimpaksi; (c) reduksi -Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition-

    Reduksi (Reduce)

    Reduksi Tertutup (Closed Reduction)

    efektif jika periosteoum dan otot masih utuh, dilakukan di bawah anestesi dan dalam kondisi otot

    rileks. Meliputi traksi bagian distal,

    reposisi/ disimpaksi fragmen, dan merapikan pada tiap bagian/

    reduksi.

    Reduksi Terbuka (Open Reduction) dilakukan apabila reduksi tertutup

    gagal, kesulitan mengontrol fragmen, atau jika melibatkan sendi besar yang sangat mobile. Reduksi terbuka dilakukan secara operatif dan

    menjadi langkah awal fiksasi internal

    Manajemen Fraktur Tertutup

    Hold/ Imobilisasi

    Traksi Kontinyu (Continuous Traction) traksi dilakukan dengan bantuan gravitasi, traksi kulit, maupun traksi skeletal. Kelemahan traksi kontinyu adalah waktu hospitalisasi pasien yang lama.

    Cast Splintage merupakan metode yang sering digunakan, yakni gips dengan plaster of paris. Kelemahan cast splintage adalah gerakan pasien yang sangat terbatas. Prinsip pemasangan gips adalah melewati 2 sendi, tidak terlalu ketat sehingga tidak mengganggu vaskularisasi dan inervasi

    syaraf.

    Functional Bracing merupakan metode pemasangan gips dengan plaster of paris maupun materi yang lebih ringan dengan melakukan bracing pada tulang yang mengalami fraktur sehingga mobilitas sendi yang sehat dapat

    tetap terjaga.

    Fiksasi Internal (Internal Fixation) dilakukan secara operatif dengan memasang pen.

    Fiksasi Eksternal (External Fixation) dilakukan secara operatif dengan memasang wire dan baut-baut yang difiksasi di luar ekstremitas.

    Metode Aplikasi Gips/ Cast Splintage
    Metode Aplikasi Gips/ Cast Splintage

    -Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition-

    Manajemen Fraktur Tertutup

    Exercise

    Optimalisasi fungsi motorik bagian yang mengalami cedera dan bagian lainnya secara

    bertahap

    Latih beban dan pergerakan bertahap dapat mempercepat deposisi tulang (hukum Wolff)

    Hal yang harus dilakukan secara bertahap adalah mencegah edema, elevasi, latihan pasif, latihan

    aktif, gerakan dengan alat bantu, dan latihan

    aktivitas fungsional.

    Manajemen Fraktur Terbuka

    Profilaksis Antibiotik

    Antibiotik profilaksis harus diberikan segera untuk mencegah infeksi

     

    karena kontaminasi maupun sebagai persiapan operatif dalam 24 jam

    pertama fraktur terbuka. Pemilihan antibiotik profilaksis tergantung pada grading fraktur terbuka menurut Gustilo.

    Debridemen

     

    Prinsip debridemen adalah membersihkan luka, baik di kulit maupun diantara fragmen tulang, dari kotoran, benda asing, dan juga jaringan yang sudah mengalami kematian permanen.

    Stabilisasi

     

    Stabilisasi fraktur terbuka dilakukan secara reduksi terbuka (open reduction). Sementara untuk fiksasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal maupun internal tergantung pada kondisi fraktur.

    Menutup Luka

    Luka kecil pada fraktur derajat I dan II dapat segera dijahit setelah

    dilakukan debridement dan stabilisasi. Luka yang lebih parah dan sulit dapat ditutup sementara atau permanen dengan skin graft. Apabila dilakukan penutupan sementara, harus dilakukan evaluasi 48-72 jam berikutnya.

    Antibiotik Profilaksis Untuk Fraktur Terbuka (Menurut Grading Gustilo)

    Antibiotik Profilaksis Untuk Fraktur Terbuka (Menurut Grading Gustilo) Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 edition

    Apley’s System of Orthopaedics and Fractures, 9 th edition

    Montegia Fracture Dislocation

    Montegia Fracture Dislocation optimized by optima

    optimized by optima

    Montegia Fracture Dislocation optimized by optima

    Galliazi Fracture

    Galliazi Fracture optimized by optima

    optimized by optima

    Galliazi Fracture optimized by optima
    Galliazi Fracture optimized by optima

    Greenstick Fractures

    optimized by optima

    Colles ’ Fracture optimized by optima

    Colles’ Fracture

    Colles ’ Fracture optimized by optima

    optimized by optima

    Colles’ Fracture

    Colles ’ Fracture Gambaran Radiologis optimized by optima

    Gambaran Radiologis

    Colles ’ Fracture Gambaran Radiologis optimized by optima

    optimized by optima

    Colles’ Fracture

    optimized by optima
    optimized by optima

    Smith Fracture

    Smith Fracture optimized by optima

    optimized by optima

    Posterior Hip Dislocation

    Gejala

    Nyeri lutus

    ekstremitas

    Nyeri pada sendi

    panggul bag. belakang Sulit

    menggerakkan

    bawah Kaki terlihat

    memendek dan dalam posisi fleksi, endorotasi

    dan adduksi

    Risk Factor

    Kecelakaan

    Improper seating

    adjustment sudden break in

    the car

    netterimages.com

    Posterior Hip Dislocation Gejala • Nyeri lutus ekstremitas • Nyeri pada sendi • panggul bag. belakang

    soundnet.cs.princeton.edu

    Anterior Hip Dislocation

    Gejala

    Nyeri pada sendi panggul Tidak dapat berjalan atau melakukan adduksi dari kaki. The leg is externally rotated, abducted, and extended at the hip

    Anterior Hip Dislocation Gejala • Nyeri pada sendi panggul • Tidak dapat berjalan atau melakukan adduksi

    soundnet.cs.princeton.edu

    netterimages.com

    Dislokasi Panggul

    ANTERIOR

    POSTERIOR

    JARANG TERJADI (10%)

    PALING SERING TERJADI AKIBAT

    TRAUMA DASHBOARD SAAT

    MENGEREM (90%)

    DISLOKASI ANTERIOR ACETABULUM

    DISLOKASI POSTERIOR ACETABULUM

    EKSTENSI PANGGUL, ABDUKSI, EKSTERNAL ROTASI

    FLEKSI PANGGUL, INTERNAL ROTASI, ADDUKSI, EKSTREMITAS TERLIHAT MEMENDEK

    Tatalaksana Dislokasi Sendi Panggul:

    Reposisi

    Bila pasien tidak memiliki komplikasi lain:

    Berikan Anestetic atau sedative dan manipulasi tulang sehingga kembali pada posisi yang seharusnyareduction/reposisi

    Pada beberapa kasus, reduksi harus dilakukan di OK dan diperlukan pembedahan

    Setelah tindakan, harus dilakukan pemeriksaan radiologis ulang atau CT-scan

    untuk mengetahui posisi dari sendi.

    Bahu (D. Glenohumeralis)

    Dislokasi Anterior

    Lengkung (contour) bahu berobah, Posisi bahu abduksi & rotasi ekterna Teraba caput humeri di bag anterior Back anestesi ggn n axilaris

    Dislokasi Posterior

    Lengan dipegang di depan dada Adduksi Rotasi interna Bahu tampak lebih datar (flat and squared off)

    Tatalaksana

    Reduksi tertutup dengan sedasi

    LUKA BAKAR

    • 1. Luka bakar grade I Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5 7 hari, misalnya luka tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat.

    LUKA BAKAR 1. Luka bakar grade I Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya
    LUKA BAKAR 1. Luka bakar grade I Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya

    103

    Luka bakar derajat dua

    Mencapai

    kedalaman

    dermis

    tapi

    masih

    ada

    elemen epitel sehat yang tersisa. Elemen epitel

    tersebut misalnya epitel sel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel sebasea.

    Dengan

    adanya

    sisa

    sel

    epitel

    ini,

    luka

    dapat

    sembuh sendiri dalam dua sampai tiga minggu.

    Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung, atau

    bula berisi cairan eksudat yang keluar dari kapiler

    karena permeabilitasnya meningkat.

    2. Luka bakar grade II

    Superficial partial thickness: (2A)

    Meliputi epidermis & lapisan atas dari dermis

    Kulit kemerahan, oedem dan rasa nyeri lebih berat daripada luka bakar grade I

    Ditandai dengan bula yang muncul beberapa jam setelah terkena luka

    Deep partial thickness : (2B)

    Meliputi epidermis dan lapisan dalam dari dermis

    Juga dengan bula

    Permukaan luka berbercak merah muda dan putih karena variasi

    dari vaskularisasi pembuluh

    darah

    2. Luka bakar grade II Superficial partial thickness: (2A) – Meliputi epidermis & lapisan atas dari

    3. Luka bakar grade III (Full thickness burn)

    Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis, atau organ yang lebih

    dalam. Tidak ada lagi elemen hidup yang tersisa,

    sehingga untuk penyembuhan luka haruis dilakukan cangkok kulit. Kulit tampak pucat atau abu abu gelap atau hitam, dengan permukaan kulit lebih rendah dari jaringan sekitarnya. Tidak ditemukan bula dan luka tidak terasa nyeri.

    3. Luka bakar grade III (Full thickness burn) • Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman
    3. Luka bakar grade III (Full thickness burn) • Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman

    106

    http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

    Luka Bakar

    prick test (+)

    Luas Luka Bakar (Rule of Nines)

    Pada orang dewasa (Rule of Nines):

    Pada bayi :

    Kepala dan leher

    : 9 %

    Kepala dan leher

    : 18 %

    Thoraks dan abdomen anterior:

    Thoraks dan abdomen

    18%

    anterior: 18%

    Thoraks dan abdomen posterior:

    Thoraks dan abdomen

    18%

    posterior: 18%

    Ekstremitas atas

    : 9%

    Ekstremitas atas

    : 9%

    Ekstremitas bawah

    : 18%

    Ekstremitas bawah

    : 14%

    Genitalia

    : 1%

    Genitalia Luka bakar kecil

    : - : 1% dihitung

    dengan ukuran telapak tangan

    pasien

    Tatalaksana

    Umum/ Non Medikamentosa

    • Didinginkan menggunakan air dalam suhu 10-25 0 C selama 30 menit setelah terkena luka bakar. Luka perlu dibersihkan dari jaringan mati lalu ditutup dengan dressing.

    • Irigasi luka bakar kimia

    • Indikasi rawat :

      • Luka bakar derajat dua atau tiga lebih dari 10% TBSA pada pasien di bawah 10 tahun atau lebih dari 50 tahun

      • Luka bakar derajat dua lebih dari 20% TBSA pada usia berapapun.

      • Luka bakar derajat tiga lebih dari 5% TBSA pada usia berapapun

      • Luka bakar yang signifikan pada wajah, tangan, kaki, alat kelamin, atau perineum

      • Luka bakar karena tersengat listrik / petir

      • Luka bakar signifikan akibat bahan kimia

      • Trauma inhalasi, trauma mekanis, atau penyakit medis lain yang sudah ada sebelumnya

      • Luka bakar yang membutuhkan dukungan sosial, emosional, atau

    rahabilitasi jangka panjang, terutama apabila dicurigai terdapat kekerasan pada anak.

    Medikamentosa

    • Penatalaksanaan awal: ABCDEF (A = airway, B = breathing, C = circulation, D = disability, E = expose, F = fluid).

    • Evaluasi luka bakar luas dan derajat luka bakar

    • Resusitasi cairan:

      • Pada pasien luka bakar dengan TBSA> 15%.

      • Baxter /Parkland Formula: 4 mL Ringer laktat / kgBB /% TBSA selama 24 jam pertama ½ vol dimasukkan dalam 8 jam pertama paska luka bakar, sisanya dalam 16 jam berikut.

      • Koloid 24 jam kedua, apabila pemenuhan kebutuhan cairan belum tercapai.

      • Pemberian darah luka bakar berat lebih dari 10% TBSA 1% dari volume darah normal pasien untuk setiap 1% luka bakar

      • Pemantauan resusitasi cairan pantau jumlah urine (N = 0,5-1 cc / kg / jam).

        • Obat anti nyeri :

          • Narkotika IV pada luka bakar berat.

          • Patient-controlled analgesic (PCA) pasien sadar penuh.

      • Profilaksis tetanus.

      • Escharotomy dan fasiotomi luka bakar konstriksi.

      • Pencangkokan kulit.

    KOMPLIKASI

    Trauma Inhalasi

    karena inhalasi asap dan zat iritatif lainnya,dapat

    mengakibatkan

    terjadinya trakeobronkitis dan

    pneumonitis akut Tanda-tanda

    Rambut hidung yang terbakar Luka bakar pada wajah Sputum berkarbon

    Serak

    Bunyi stridor

    Level

    karboksihemoglobin

    melebihi 15% setelah

    3 jam posteksposure

    Evaluasi

    x-ray thoraks dan AGD

    Bronkoskopi fiberoptik

    Xenon ventilation/perfusion scanning

    Tx awal : O2 100%

    Keloid dan Hipertropik Skar

    pertumbuhan berlebih dari jaringan fibrosa padat yang

    muncul setelah penyembuhan

    luka pada kulit

    Fisiologi : Dalam proses

    anabolik dan katabolik mencapai

    penyembuhan luka, proses

    keseimbangan 6-8 minggu setelah luka jar parut terbentuksemakin matang kekuatan tarikan jaringan parut meningkat bekas luka hiperemis, menebal, lalu mengecil secara bertahap

    Patof : ketidakseimbangan antara fase anabolik dan katabolik kolagen diproduksi berlebih bekas luka tumbuh ke segala arah

    Keloid : bekas luka timbul

    meninggi, tumbuh melampaui batas luka asli

    Hipertropik skar : mirip keloid tapi penebalan tidak melebihi batas luka asli.

    Tx :

    Tx awal : pijatan,

    pelembab, antihistamin, dan silicone sheet therapy

    Nonbedah : pemberian tekanan/ mechanical pressure, inj triamsinolon, nitrogen mustard, tetroquine, asam retinoit, zinc, vitamin A, vitamin E, dan verapamil

    Bedah : eksisi sederhana, Z-plasty, V-Y plasty, W- plasty, laser, dan cryosurgery

    Kontraktur

    Kontraksi : proses biologis dimana luas

    kulit yang hilang pada

    luka terbuka mengecil

    karena terjadi penurunan konsentrik

    ukuran luka hasil akhir kontraksi =

    kontraktur

    Pencegahan : menutup luka sedini mungkin dengan split-skin graft.

    Tx : bedahtidak boleh dilakukan pada

    masa

    prosespenyembuhan

    aktif (min 1 tahun).

    Kontraktur

    membutuhkan

    peregangan secara

    bertahap jadi tindakan

    bedah tidak dapat

    dilakukan hanya 1x.

    • Kontraktur – Kontraksi : proses biologis dimana luas kulit yang hilang pada luka terbuka mengecil

    Phimosis

    Phimosis

    Prepusium tidak dapat

    ditarik kearah proksimal

    Fisiologis pada

    neonatus

    Komplikasi

    Balanitis Postitis Balanopostitis

    Treatment

    Dexamethasone 0.1% (6 weeks) for spontaneous

    retraction

    Phimosis Phimosis • Prepusium tidak dapat ditarik kearah proksimal • Fisiologis pada neonatus • Komplikasi –
    Phimosis Phimosis • Prepusium tidak dapat ditarik kearah proksimal • Fisiologis pada neonatus • Komplikasi –

    Paraphimosis

    Prepusium tidak

    dapat ditarik kembali dan terjepit di sulkus

    koronarius

    Gawat darurat bila

    Obstruksi vena superfisial edema dan nyeri Nekrosis glans penis

    Treatment

    Manual reposition Dorsum incision

    Hydrocele

    Hydrocele

    Hipospadia

    Hipospadia kelainan kongenital dimana meatus

    berlokasi pada bagian

    ventral penis, proksimal

    dari posisi normal yaitu

    diujung glans.

    Kasus sedang hingga berat

    memiliki karakteristik

    muara uretra yang lebih

    proximal pada penis, skrotum atau perineum.

    Bentuk yang lebih berat

    biasanya disertai kurvatura penis (membengkok).

    Epispadia adalah suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretraterdapat di bagian punggung penis atau
    Epispadia adalah suatu kelainan bawaan
    pada bayi laki-laki, dimana lubang
    uretraterdapat di bagian punggung penis
    atau uretra tidak berbentuk tabung,
    tetapi terbuka.Terdapat 3 jenis epispadia
    yaitu:
    1. Lubang uretra terdapat di puncak kepala
    penis.
    2. Seluruh uretra terbuka di sepanjang penis.
    3.Seluruh uretra terbuka dan lubang kandung
    kemih terdapat pada dinding perut
    OUE berada di dorsum penis
    Penis lebar, pendek dan melengkung
    keatas (dorsal chordee)
    Penis menempel pada tulang pelvis
    • Tulang pelvis terpisah lebar
    • Classification:
    the glans (glanular)
    along the shaft of the penis (penile)
    near the pubic bone (penopubic)

    http://emedicine.medscape.com/article/

    http://en.wikipedia.org/wiki/

    Male Genital Disorders

    Disorders

    Etiology

    Clinical

    Testicular torsion

    Intra/extra-vaginal

    Sudden onset of severe testicular pain followed by

    torsion

    inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal

    upset with nausea and vomiting.

    Hidrocele

    Congenital anomaly, blood blockage in the

    accumulation of fluids around a testicle, swollen testicle,Transillumination +

    spermatic cord

    Inflammation or injury

    Varicocoele

    Vein insufficiency

    Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is often described as feeling like a bag of worms

    Hernia skrotalis

    persistent patency of the processus vaginalis

    Mass in scrotum when coughing or crying

    Chriptorchimus

    Congenital anomaly

    Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other area, hidden or palpated as a mass in inguinal.Complication:esticular neoplasm, subfertility, testicular torsion and inguinal hernia

    HERNIA SKROTALIS

    http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

    Torsio Testis

    Gejala dan tanda:

    Nyeri hebat pada skrotum yang mendadak Pembengkakan skrotum Nyeri abdomen Mual dan muntah

    Testis terletak lebih tinggi dari biasanya atau pada posisi yang tidak biasa

    Labiognatopalatoshisis

    Celah pada bibir

    (labio), gusi (gnato)

    dan langitan (palate) Indikasi Operasi RULE

    OF TEN :

    Berat badan 10 lb (5 kg)

    Usia 10 minggu

    Kadar hemoglobin

    darah 10 g/dL

    Labiognatopalatoshisis • Celah pada bibir (labio), gusi (gnato) • dan langitan (palate) Indikasi Operasi RULE OF

    Limb Ischemia

    Limb Ischemia

    DISORDER

    ONSET

    ETIOLOGY

    CLINICAL feat

    Buerger dis

    Chronic

    Segmental vascular

    Intermitten

    inflamation

    claudicatio

    Acute limb ischemia

    Acute

    Emboli, trombus

    Pain, pallor,

    pulseless,parestesi,

    poikilotermi

    DVT

    Acute/chronic

    Venous stasis

    Pain and limb

    edema

    Compartement

    acute

    Edema of the

    5P :Pain, pallor,

    syndrom

    tissue, trauma

    parestesia, paralisis,

    pulseless

    Chronic limb

    Chronic/acute

    Atherosclerosis

    Intermiten

    ischemia

    claudicatio

    Congenital Malformation

    Atresia duodenum

    Atresia jejunum

    Hipertrofi

     

    Atresia esofagus

    pylorus

    stenosis

    -

    Klinis : muntah

    -

    Klinis : muntah

    -

    muntah

    • - neonates

    bilious, minimal

    bilious,

    non

    • - drooling

    distensi

    distensi

    bilious

    distensi distensi bilious - orogastric tube
    • - orogastric tube

    Ro: gambaran klasik

    progresif

    mkn hari

    gagal masuk

    double bubble

     

    mkn