Você está na página 1de 25

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

LATAR BELAKANG
Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan

meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami


pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi
inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Kata anesthesia diperkenalkan oleh Oliver
Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara,
karena pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Pada
prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap
yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik
pasien, perencanaan anestesi, menentukan prognosis dan persiapan pada pada hari operasi.
Sedangkan tahap penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan
pemeliharaan, tahap pemulihan serta perawatan pasca anestesi.1,3
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus. Dewasa ini cara ini jauh lebih aman daripada dahulu
berhubung dengan adanya antibiotika, transfusi darah, teknik operasi yang lebih sempurna
dan anestesi yang lebih baik. Indikasi dilakukan tindakan sectio caesarea diantaranya
keadaan yang tidak memungkinkan janin dilahirkan pervaginam, keadaan gawat darurat
yang memerlukan pengakhiran kehamilan atau persalinan segera, yang tidak mungkin
menunggu kemajuan persalinan pervaginam secara fisiologis, persalinan tidak maju,
ataupun riwayat sectio caesarea sebelumnya.2
I.2

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang, maka perumusan masalahnya adalah:


1. Bagaimana anatomi vertebrae?
2. Apa yang dimaksud dengan anestesi?
3. Apa yang dimaksud dengan analgesia regional?
4. Apa yang dimaksud dengan analgesia spinal?
5. Apa saja indikasi dilakukannya analgesia spinal?
6. Apa saja kontraindikasi dilakukannya analgesia spinal?
7. Apa saja persiapan analgesia spinal?
8. Apa saja peralatan analgesia spinal?
9. Bagaimana teknik analgesia spinal?
10. Apa saja obat-obatan yang digunakan untuk analgesia spinal?
11. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada analgesia spinal?
1

12. Bagaimana penilaian klasifikasi ASA?


13. Bagaimana prosedur pada saat premedikasi analgesia spinal dan obat-obatan apa saja
yang digunakan?
14. Bagaimana pemantauan pasca analgesia spinal di ruang pemulihan?
15. Bagaimana penilaian skor Bromage?
I.3
TUJUAN
Tujuan dari penulisan presentasi kasus ini adalah:
1. Untuk mengetahui anatomi vertebrae.
2. Untuk mengetahui definisi anestesi, analgesia regional, dan analgesia spinal.
3. Untuk mengetahui indikasi dan kontraindikasi analgesia spinal.
4. Untuk mengetahui persiapan dan peralatan analgesia spinal.
5. Untuk mengetahui teknik analgesia spinal.
6. Untuk mengetahui obat-obatan yang digunakan untuk analgesia spinal.
7. Untuk mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada analgesia spinal
8. Untuk mengetahui penilaian klasifikasi ASA.
9. Untuk mengetahui prosedur pada saat premedikasi analgesia spinal.
10. Untuk mengetahui pemantauan pasca analgesia spinal di ruang pemulihan.
11. Untuk mengetahui penilaian skor Bromage.
I.4

MANFAAT

Manfaat Teoritis
Secara akademis, penulisan presentasi kasus ini dapat digunakan sebagai bahan
kajian ilmu pengetahuan mengenai manajemen analgesia spinal pada operasi sectio
caesarea.
Manfaat Praktis
1. Bagi institusi rumah sakit terkait yaitu RSUD Ambarawa adalah hasil penelitian ini
bisa digunakan sebagai salah satu acuan mengenai manajemen analgesia spinal pada
operasi sectio caesarea.
2. Bagi institusi pendidikan yaitu Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta adalah
sebagai kontribusi keilmuan dalam mengetahui manajemen analgesia spinal pada
operasi sectio caesarea.
3. Sebagai data dasar dan referensi pendukung untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

BAB II
ILUSTRASI KASUS
II.1IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. T

Usia

: 33 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam
3

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Alamat

: Jurang 2/2, Kenteng, Bandungan

MRS

: 29 Juli 2015

Bangsal perawatan

: Bougenville

Nomor RM

: 084102

Diagnosis pre-operasi : G4P3A0 hamil 38-39 minggu inpartu kala II memanjang JTH
preskep dengan BSC 1x, suspek ruptur uteri, dan gawat janin
Rencana tindakan

: Sectio caesarea cito

Rencana anestesi

: Analgesia spinal

II.2KUNJUNGAN PRAANESTESI
ANAMNESIS
(Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 29 Juli 2015 pukul 11.40)
Keluhan Utama
Kepala tidak maju-maju saat persalinan sejak 2 jam yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merupakan rujukan dari RS Bina Kasih datang dengan diagnosis G4P3A0 hamil 3839 minggu JTH preskep suspek ruptur uteri. Pasien sebelumnya dilakukan percobaan
persalinan pervaginam dan sudah dipimpin untuk mengedan sejak 2 jam yang lalu oleh
bidan, namun kepala tidak maju-maju. Kencang-kencang (+), keluar lendir darah (+),
keluar air-air (+). Pada pasien juga sebelumnya dilakukan induksi persalinan, namun tidak
diketahui obat apa yang diberikan. Saat ini pasien mengaku pergerakan janin masih terasa.
Riwayat Penyakit Dahulu
A (Allergy)

: tidak ada riwayat alergi obat-obatan maupun makanan

M (Medication)

: tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan tertentu

P (Past Illness)

: riwayat asma (-), DM (-), HT (-), penyakit jantung dan paru (-),
riwayat operasi (-)

L (Last Meal)

: puasa sejak 2 jam yang lalu

E (Events Leading) : ruptur uteri dan gawat janin

PEMERIKSAAN FISIK
(Dilakukan pada tanggal 29 Juli 2015 pukul 11.45)
Status Generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran

: compos mentis

Berat badan

: 60 kg

Tinggi badan

: 160 cm

Tanda vital
Tekanan darah : 150/80 mmHg
Nadi

: 92 x/menit

Suhu

: 36.6 C

Respirasi

: 22 x/menit

Kepala

: normocephal

Mata

: konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil bulat isokor 3 mm/3 mm,
refleks cahaya langsung/tidak langsung (+/+)

Leher

: pembesaran KGB (-), peningkatan JVP (-)

Thoraks

: simetris, vocal fremitus simetris, sonor di seluruh lapang paru


VBS (+/+), rhonki (-), wheezing (-)
S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: membesar sesuai usia kehamilan, BU (+)

Ekstremitas

: akral hangat, CRT <2 detik, edema (-), sianosis (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
(Dilakukan pada tanggal 29 Juli 2015 pukul 11.40)
Pemeriksaan Darah
Hb

: 9.5 g/dl

Ht

: 28 %

Eritrosit

: 4.22 x 106 /L

Leukosit

: 11.8 x 103 /L

Trombosit

: 217 x 106 /L
5

Golongan darah: A
BT

: 5

CT

: 2

HbsAg

: non reaktif

GDS

: 112 mg/dl

II.3RESUME
Seorang pasien merupakan rujukan dari RS Bina Kasih datang dengan diagnosis
G4P3A0 hamil 38-39 minggu JTH preskep suspek ruptur uteri. Pasien sebelumnya
dilakukan percobaan persalinan pervaginam dan sudah dipimpin untuk mengedan sejak 2
jam yang lalu oleh bidan, namun kepala tidak maju-maju. Kencang-kencang (+), keluar
lendir darah (+), keluar air-air (+). Pasien menyangkal riwayat alergi obat-obatan maupun
makanan, riwayat penggunaan obat-obatan tertentu, riwayat penyakit tertentu seperti asma,
DM, HT, penyakit jantung dan paru serta riwayat operasi sebelumnya. Pasien berpuasa
sejak 2 jam sebelum operasi.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 150/80 mmHg, nadi 92 x/menit,
suhu 36.6 C, dan respirasi 22 x/menit. Pemeriksaan fisik lain didapatkan dalam batas
normal.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan Hb 9.5 g/dl, Ht 28%, eritrosit
4.22 x 106 /L, leukosit 11.8 x 103 /L, trombosit 217 x 106 /L, golongan darah A, BT 5,
CT 2, HbsAg non reaktif, dan GDS 112 mg/dl.
Diagnosis pre-operasi : G4P3A0 hamil 38-39 minggu inpartu kala II memanjang dengan
BSC 1x, suspek ruptur uteri, dan gawat janin
Status operasi

: ASA IIE

Rencana operasi

: Sectio caesarea cito

Rencana anestesi

: Analgesia spinal

BAB III
LAPORAN ANESTESI
III. 1.
PREOPERASI
(Tanggal 29 Juli 2015 pukul 11.00)
Lembar informed consent (+)
Puasa 2 jam sebelum operasi (+)
Terpasang IVFD RL 20 tetes/menit
ASA IIE
Rencana analgesia spinal
7

Persiapan obat dan alat anestesi


1. Induksi bupivacain 20 mg = 1 amp bupivacain 0.5% 5 mg/ml @ 5 ml
2. Jarum spinal no. 26G
3. Spuit 5 cc
4. Kanul nasal
5. Inhalasi O2 3 liter/menit

Keadaan umum : tampak sakit sedang


Kesadaran
: compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Respirasi

:
:
:
:

150/80 mmHg
95 x/menit
36.6 C
22 x/menit

III. 2.
PREMEDIKASI
(Tanggal 29 Juli 2015 pukul 11.05)
Injeksi ondansetron 4 mg IV
Injeksi ranitidin 50 mg IV
III. 3.

INTRAOPERASI

(Tanggal 29 Juli 2015 pukul 10.15)


Lama anestesi : 45 menit (11.15 12.00)
Lama operasi
11.15

: 30 menit (11.25 11.55)

Pasien masuk ke ruang operasi dan berbaring di meja operasi.


Pemasangan manset dan pulse oxymeter untuk pemantauan TD, N, dan SpO2.

11.20

TD 150/80 mmHg N 90x/menit SpO2 99%


Pasien diposisikan duduk dan membungkuk maksimal untuk meraba ruang
antara processus spinosus.
Menentukan tempat tusukan yaitu perpotongan antara garis yang
menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung yaitu antara L4
dengan L5.
Mensterilkan tempat tusukan dengan betadin dan alkohol.
Menusuk tempat yang ditentukan dengan jarum spinal tipe Quincke-Babcock
26G dengan bevel menghadap ke atas.
Mencabut mandrin jarum spinal dan menunggu CSS keluar.
Memasang spuit berisi bupivacain, mengaspirasi sedikit, dan memasukkan obat
secara perlahan (0.5 ml/detik).
Menutup bekas tempat suntikan dengan plester.
8

11.25

Memposisikan kembali pasien berbaring di meja operasi.


Pemasangan kanul nasal dengan inhalasi O2 100% 3 liter/menit.

11.30

Operasi sectio caesarea dimulai.


Lahir bayi laki-laki, BB 2750 gram, AS 1-2-3.
Pemberian oxytocin 10 IU IV dan methylergometrin 0.2 mg IV.

11.45

TD 120/70 mmHg N 88x/menit SpO2 100%


Pemberian asam traneksamat 500 mg IV dan ethamsylate 250 mg IV.

11.55

TD 130/90 mmHg N 96x/menit SpO2 100%


Operasi sectio caesarea selesai.

12.00

Pemberian ketorolac 30 mg IV.


Pelepasan kanul nasal.
Pelepasan manset dan pulse oxymeter.
Pemindahan pasien ke ruang pemulihan.
TD 110/80 mmHg N 78x/menit SpO2 99%

III. 4.
POSTOPERASI
Kesadaran
: compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
SpO2
: 99%
Skor Bromage
No
Kriteria
1
Fleksi pergelangan kaki
Mampu
2
Fleksi lutut
Mampu
3
Ekstensi tungkai
Tidak mampu
4
Gerakan penuh
Tidak mampu
Total skor = 1 pasien dipindahkan ke ruang perawatan.
III. 5.

Skor
1

TERAPI CAIRAN

Terapi cairan preoperatif


[(4 ml/kgBB/jam untuk BB 10 kg pertama) + (2 ml/kgBB/jam untuk BB 10 kg
kedua) + (1 ml/kgBB/jam untuk BB selanjutnya)] x lama puasa (jam)

[(4 x 10) + (2 x 10) + (1 x 40)] x 2 = 100 x 2 = 200 ml

Terapi cairan perioperatif


a) Maintenance (rumatan)
9

4 ml/kgBB/jam untuk BB 10 kg pertama


2 ml/kgBB/jam untuk BB 10 kg kedua
1 ml/kgBB/jam untuk BB selanjutnya

4 ml/kgBB/jam x 10 kg = 40 ml/jam
2 ml/kgBB/jam x 10 kg = 20 ml/jam
1 ml/kgBB/jam x 40 kg = 40 ml/jam
Total: 100 ml/jam

b) Operatif
6-8 ml/kgBB untuk operasi besar
4-6 ml/kgBB untuk operasi sedang
2-4 ml/kgBB untuk operasi kecil

6-8 ml/kgBB x 50 kg = 350 ml

c) Puasa
M x lama puasa (jam)
1 jam pertama : 50% P
1 jam kedua
: 25% P
1 jam ketiga
: 25% P

100 x 2 jam = 200 ml


1 jam pertama : 50% x 200 ml = 100 ml
1 jam kedua : 25% P x 200 ml = 50 ml
1 jam ketiga : 25% P x 200 ml = 50 ml

Kebutuhan cairan perioperatif


1 jam pertama : M + O + P (50%)
1 jam kedua
: M + O + P (25%)
1 jam ketiga
: M + O + P (25%)
1 jam keempat : M + O
1 jam kelima : M + O, dst

1 jam pertama : 100 ml + 350 ml + 100 ml = 550 ml

Total kebutuhan cairan preoperatif + perioperatif: 200 ml + 550 ml = 750 ml


Terapi cairan parenteral untuk menggantikan kebutuhan cairan preoperatif +
perioperatif: kristaloid IVFD 2 x RL 500 ml = 1000 ml
Estimasi jumlah perdarahan
EBL: darah tabung suction + sponge basah = 600 ml + (8 x 5 ml) = 640 ml
EBV: 70 ml/kgBB x 60 kg = 4200 ml
% perdarahan : 640/4200 x 100% = 15.23%
terapi cairan pengganti dengan kristaloid atau koloid
10

Terapi cairan parenteral untuk menggantikan EBL: koloid IVFD HES 500 ml +
kristaloid IVFD RL 500 ml

11

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
IV.1

ANATOMI VERTEBRA
Tulang vertebra (kolumna vertebralis) terdiri dari 33 tulang yaitu 7 vertebra
servikal, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sakral, dan 4-5 vertebra
koksigeal. Tulang servikal, torakal, dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia
berapapun, tetapi tulang sakral dan koksigeal satu sama lain menyatu membentuk
dua tulang yaitu tulang sakrum dan koksigeus.

Kolumna vertebralis mempunyai lima fungsi utama, yaitu menyangga berat


kepala dan dan batang tubuh, melindungi medula spinalis, memungkinkan
keluarnya nervi spinalis dari kanalis spinalis, tempat untuk perlekatan otot-otot, dan
memungkinkan gerakan kepala dan batang tubuh.
12

Korpus vertebra selain dihubungkan oleh diskus intervertebralis juga oleh


suatu persendian sinovialis yang memungkinkan fleksibilitas tulang punggung,
kendati hanya memungkinkan pergerakan yang sedikit untuk mempertahankan
stabilitas kolumna vertebralis guna melindungi struktur medula spinalis yang
berjalan di dalamnya. Stabilitas kolumna vertebralis ditentukan oleh bentuk dan
kekuatan masing-masing vertebra, diskus intervertebralis, ligamen dan otot-otot.4
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan analgesia spinal adalah
lokasi medulla spinalis didalam kolumna vertebralis. Medulla spinalis berjalan
mulai dari foramen magnum kebawah hingga menuju ke konus medularis (segmen
akhir medulla spinalis sebelum terpecah menjadi kauda equina). Penting
diperhatikan bahwa lokasi konus medularis bervariasi antara vertebra T1-2 hingga
L1.1,4

Memperhatikan susunan anatomis dari vertebra, ada beberapa landmark yang


lazim digunakan untuk memperkirakan lokasi penting pada vertebra, diantaranya
adalah:

Vertebra C7: merupakan vertebra servikal dengan penonjolan yang paling


terlihat di daerah leher (vertebra prominens).
13

Papila mammae: berada kurang lebih di sekitar vertebra T3-4.

Epigastrium: berada kurang lebih di sekitar vertebra T5-6.

Umbilikus: berada kurang lebih di sekitar vertebra T10.

Krista iliaka: berada kurang lebih di sekitar vertebra L4-5.1,3,6


Berikut adalah susunan anatomis pada bagian yang akan dilakukan analgesia

spinal hingga mencapai cairan serebrospinalis.

Kutis

Subkutis: ketebalannya berbeda-beda, akan lebih mudah meraba ruang


intervertebralis pada pasien yang memiliki lapisan subkutis yang tipis.

Ligamentum supraspinosum: ligamen yang menghubungkan ujung processus


spinosus.

Ligamentum interspinosum

Ligamentum flavum: cukup tebal, sampai sekitar 1 cm. Sebagian besar terdiri
dari jaringan elastis. Ligamen ini berjalan vertikal dari lamina ke lamina. Ketika
jarum berada dalam ligamen ini, akan terasa sensasi mencengkeram dan
berbeda.

Epidural: ruang epidural berisi pembuluh darah dan lemak. Jika darah yang
keluar dari jarum spinal bukan CSF, kemungkinan vena epidural telah tertusuk.
Jarum spinal harus maju sedikit lebih jauh.

Duramater: sensasi yang sama mungkin akan dirasakan saat menembus


duramater seperti saat menembus epidural.

Subarachnoid: merupakan tempat penyuntikan obat anestesi spinal. Pada


ruangan ini akan dijumpai cairan serebrospinalis (CSS) pada penusukan.1,4

14

Cairan serebrospinalis (CSS) merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal


dari pleksus arteri koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan lateral. Cairan ini
jernih, tidak berwarna, dan mengisi ruang subarachnoid dengan jumlah total 100150 ml, sedangkan yang di punggung sekitar 25-45 ml.
Pembuluh darah pada daerah tusukan juga perlu diperhatikan, dimana
terdapat arteri dan vena yang lokasinya berada di sekitar tempat tusukan. Terdapat
arteri spinalis posterior yang memperdarahi 1/3 bagian posterior medulla, arteri
spinalis anterior yang memperdarahi 2/3 bagian anterior medulla, dan terdapat pula
arteri radikularis yang memperdarahi medulla, berjalan di foramen intervertebralis
dan memperdarahi radiks. Sistem vena yang terdapat di medulla ada 2 yaitu vena
medularis anterior dan posterior.
Ketinggian Segmental Anatomi
Klavikula
ICS II
Garis papilla mammae
Arcus subcostae
Umbilikus
Daerah inguinal
Perineum

C3-C4
T2
T4-T5
T7-T9
T10
L1
S1-S4

T7-T8
T9-T12
L1-L2
L2-L4
S1-S2
S4-S5

Ketinggian Segmen Refleks Spinal


Epigastrik
Abdominal
Kremaster
Lutut (knee jerk)
Plantar, pergelangan kaki (ankle jerk)
Sfingter anus, refleks kejut (wink reflexes)
Pembedahan

Tungkai bawah
Panggul
Uterus-vagina
Buli-buli, prostat
Tungkai bawah (dengan manset)
Testis, ovarium
Intraabdomen bawah
Intraabdomen lain
IV.2

Ketinggian Kulit
T12
T10
T10
T10
T8
T8
T6
T4

ANESTESI

15

Anestesi berasal dari Bahasa Yunani an yang berarti "tidak, tanpa" dan
aesthtos yang berarti "persepsi, kemampuan untuk merasa". Kata anestesi
diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan tidak
sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk
menghilangkan nyeri pembedahan. Analgesia ialah pemberian obat untuk
menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien.1,7
IV.3

ANALGESIA REGIONAL
Analgesia regional dibagi menjadi dua, yaitu:

Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal, epidural, dan
kaudal.

Blok perifer (blok saraf), misalnya blok pleksus brakialis, aksiler, analgesia
regional intravena, dan lain-lain.

IV.4

ANALGESIA SPINAL
IV.3.1 DEFINISI ANALGESIA SPINAL
Analgesia spinal (intratekal, intradural, subdural, subaraknoid) ialah
pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesia spinal
diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang
subaraknoid. Analgesia spinal yang disebut juga sub-arachnoid block (SAB)
diperkenalkan oleh August Bier pada tahun 1898, dan teknik ini telah digunakan
untuk anestesi, terutama untuk operasi pada daerah bawah umbilikus. Teknik ini
sederhana, cukup efektif, dan mudah dikerjakan.

16

IV.3.2 INDIKASI ANALGESIA SPINAL

Bedah ekstremitas bawah


Bedah panggul
Tindakan sekitar rektum-perineum
Bedah obstetri-ginekologi
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasikan
dengan anestesia umum ringan

IV.3.3 KONTRAINDIKASI ANALGESIA SPINAL

Kontraindikasi absolut analgesia spinal antara lain:


Pasien menolak
Infeksi pada tempat suntikan
Hipovolemia berat, syok
Koagulopati atau mendapat terapi koagulan
Tekanan intrakranial meninggi
Fasilitas resusitasi minim
Kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsultan anestesia

Kontraindikasi relatif analgesia spinal antara lain:


Infeksi sistemik (sepsis, bakteremia)
Infeksi sekitar tempat suntikan
Kelainan neurologis
Kelainan psikis
Bedah lama
Penyakit jantung
Hipovolemia ringan
Nyeri punggung kronis

IV.3.4 PERSIAPAN ANALGESIA SPINAL


Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada
anestesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau
pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan processus spinosus. Selain itu
perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Informed consent (izin dari pasien)
2. Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung dan lainlainnya.
17

3. Pemeriksaan laboratorium anjuran


Hemoglobin, hematokrit, PT (prothrombine time), dan PTT (partial
thromboplastine time).
IV.3.5 PERALATAN ANALGESIA SPINAL
1.

2.
3.

Peralatan monitor
Tekanan darah, nadi, pulse oximeter, dan EKG.
Peralatan resusitasi/anestesia umum
Jarum spinal
Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing, Quincke-Babcock)
atau jarum spinal dengan ujung pensil (pencil point, Whitecare).

IV.3.6 TEKNIK ANALGESIA SPINAL


Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis
tengah ialah posisi yang paling sering digunakan. Biasanya dikerjakan di atas
meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi
pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan
menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus lateral.
Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang
stabil. Buat pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah
teraba. Posisi lain ialah duduk.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan
tulang punggung ialah L4 atau L5. Tentukan tempat tusukan misalnya L2-3,
L3-4, atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap
medula spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.

18

4. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2% 23 ml.
5. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G,
atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau
29G, dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum
suntik biasa semprit 10 cc. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2 cm agak
sedikit ke arah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya
ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam (QuinckeBabcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater, yaitu
pada posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau ke bawah, untuk
menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala
pasca spinal. Setelah resistensi menghilang, mandrin jarum spinal dicabut
dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan
pelan-pelan (0.5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk
meyakinkan posisi jarum tetap baik. Apabila yakin ujung jarum spinal pada
posisi yang benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 biasanya
likuor keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter.
6. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hemoroid dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum
dewasa 6 cm.

19

IV.3.7 ANESTETIK LOKAL UNTUK ANALGESIA SPINAL


Berat jenis cairan serebrospinalis (CSS) pada suhu 37 C ialah 1.0031.008. Anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik.
Anestetik lokal dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik.
Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik.
Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh
dengan mencampur anestetik lokal dengan dekstrosa. Untuk jenis hipobarik
biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi.
Anestetik Lokal
Lidokain
2% plain
5% dalam dekstrosa
Bupivakain
0.5% dalam air
0.5% dalam dekstrosa 8,25%

Berat Jenis

Sifat

Dosis

1.006
1.033

Isobarik
Hiperbarik

20-100 mg (2-5 ml)


20-50 mg (1-2 ml)

1.005
1.027

Isobarik
Hiperbarik

5-20 mg (1-4 ml)


5-15 mg (1-3 ml)

Penyebaran anestetik lokal tergantung:


1. Faktor utama

Berat jenis anestetika lokal (barisitas)

Posisi pasien (kecuali isobarik)

Dosis dan volum anestetika lokal (kecuali isobarik)

2. Faktor tambahan

Ketinggian suntikan

Kecepatan suntikan/barbotase

Ukuran jarum

Keadaan fisik pasien


20

Tekanan intraabdominal

Lama kerja anestetika lokal tergantung:

Jenis anestesia lokal

Besarnya dosis

Ada tidaknya vasokontriktor

Besarnya penyebaran anestetika lokal

IV.3.8 KOMPLIKASI ANALGESIA SPINAL


Komplikasi tindakan analgesia spinal antara lain:

Hipotensi berat, dimana akibat blok simpatis, terjadi venous pooling. Pada
dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000 ml atau
koloid 500 ml sebelum tindakan.

Bradikardi, dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia, terjadi akibat
blok sampai T2.

Hipoventilasi, akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali


nafas.

Trauma pembuluh darah

Trauma saraf

Mual-muntah

Gangguan pendengaran

Blok spinal tinggi, atau spinal total


Komplikasi pasca tindakan analgesia spinal antara lain:

Nyeri tempat suntikan

Nyeri punggung

Nyeri kepala karena kebocoran likuor

Retensio urin

Meningitis

IV.3.9 PENILAIAN KLASIFIKASI ASA

21

American Society of Anesthesiologists (ASA) adalah klasifikasi status fisik


yang lazim digunakan untuk menilai status fisik pasien praanestesi yang berasal
dari The American Society of Anesthesiologists.
Kelas
I
II
III
IV

Status Fisik
Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, dan biokimia.
Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin terbatas.
Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan

penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.


Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya

VI

tidak akan lebih dari 24 jam.


Pasien yang telah dinyatakan mati otak yang mana organnya akan diangkat
untuk didonor.
Pada bedah darurat biasanya dicantumkan huruf E.

IV.3.10 PREMEDIKASI ANALGESIA SPINAL


Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia
antara lain:8

Meredakan kecemasan dan ketakutan.


Memperlancar induksi anestesia.
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus.
Meminimalkan jumlah obat anestetik.
Mengurangi mual muntah pasca bedah.
Menciptakan amnesia.
Mengurangi isi cairan lambung.
Mengurangi refleks yang membahayakan.
Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seorang dihadapkan pada situasi

yang tidak pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat membangun
kepercayaan dan menenteramkan pasien. Obat pereda kecemasan bisa digunakan
diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi anestesia. Jika
disertai nyeri karena penyakitnya, dapat diberikan opioid misalnya petidin 50 mg
intramuskular.
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2.5 dapat menyebabkan pneumonitis
asam. Untuk meminimalkan kejadian diatas dapat diberikan antagonis reseptor

22

H2 misalnya oral simetidin 600 mg atau oral ranitidine 150 mg 1-2 jam sebelum
jadwal operasi.
Untuk mengurangi mual muntah pasca bedah sering ditambahkan
premedikasi suntikan intramuskular untuk dewasa droperidol 2.5-5 mg atau
ondansentron 2-4 mg.
IV.3.11 PEMANTAUAN

PASCA

ANALGESIA

SPPINAL

DI

RUANG

PEMULIHAN
Pulih dari analgesia spinal secara rutin dikelola di kamar pulih atau unit
perawatan pasca anestesi (RR, recovery room atau PACU, post anesthesia care
unit). Idealnya, pulih dari analgesia secara bertahap, tanpa keluhan dan mulus.
Kenyataannya sering dijumpai hal-hal yang tidak menyenangkan akibat stress
pasca bedah atau pasca analgesia yang berupa gangguan nafas, gangguan
kardiovaskular, gelisah, kesakitan, mual-muntah, menggigil dan kadang-kadang
perdarahan.
Unit perawatan pasca anestesi (UPPA) harus berada dalam satu lantai dan
dekat kamar bedah, supaya kalau timbul kegawatan dan perlu segera diadakan
pembedahan ulang tidak akan banyak mengalami hambatan. Selain itu karena
segera setelah selesai pembedahan dan anestesia dihentikan, pasien sebenarnya
masih dalam keadaan anestesi dan perlu diawasi dengan ketat seperti masih
berada di kamar bedah.
Pengawasan ketat di UPPA harus seperti sewaktu berada di kamar bedah
sampai pasien bebas dari bahaya, karena itu peralatan monitor yang baik harus
disediakan. Tensimeter, oksimeter denyut (pulse oxymeter), EKG, peralatan
resusitasi jantung-paru dan obatnya harus disediakan tersendiri, terpisah dari
kamar bedah.
Personil dalam UPPA sebaiknya sudah terlatih dalam penanganan pasien
gawat, mahir menjaga jalan nafas tetap paten, tanggap terhadap perubahan dini
tanda vital yang membahayakan pasien.
Pasien harus diobservasi terus (pernafasan, tekanan darah, dan nadi)
sesudah operasi dan anestesi selesai sewaktu masih dikamar bedah dan kamar
pulih. Bila pasien gelisah, harus diteliti apakah karena kesakitan atau karena
hipoksia (tekanan darah menurun, nadi cepat) misalnya karena hipovolemia
(perdarahan di dalam perut atau kekurangan cairan).
23

IV.3.12 PENILAIAN SKOR BROMAGE


Skor Bromage adalah suatu kriteria untuk menilai keadaan pasien yang
dilakukan anestesi spinal selama observasi di ruang pemulihan (recovery room)
yang digunakan untuk menentukan boleh tidaknya pasien dikeluarkan dari ruang
pemulihan. Kriteria yang digunakan pada saat observasi di ruang pulih adalah
aktivitas ekstremitas bawah.4,6
No
1
2
3
4

Kriteria
Gerakan penuh tungkai
Tidak mampu ekstensi tungkai
Tidak mampu fleksi lutut
Tidak mampu fleksi pergelangan kaki

Skor
0
1
2
3

Skor Aldrette <2, maka dapat dipindah ke ruang perawatan.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi
Kedua. Penerbit Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI: Jakarta.
2. Baugh RF et al. Clinical Practice Guideline: Tonsillectomy in Children.
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2011; 144 (15):1-30.
3. Muhardi, M, dkk. (1989). Anestesiologi, Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif,
FKUI. CV Infomedia: Jakarta.
4. Burton MJ, Towler B, Glasziou P. Tonsillectomy versus non-surgical treatment for
chronic/recurrent acute tonsillitis (Cochrane Review). In: The Cochrane Library,
Issue 3, 2004. Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd.
5. Larizgoita I. Tonsillectomy: scientific evidence, clinical practice and uncertainties.
Barcelona: CAHTA 1999.
6. Pasternak LR, Arens JF, Caplan RA, Connis RT, Fleisher LA, Flowerdew R, et al.
Practice advisory for preanesthetic evaluation. A report by the American Society of
Anesthesiologists Task Force on Preanesthesia Evaluation 2003.
7. Mangku, Gde dan Tjokorda Gde Agung S. 2010. Buku Ajar Ilmu Anastesi dan
Reanimasi. Indeks : Jakarta.
8. Dobson, M.B.,ed. Dharma A., Penuntun Praktis Anestesi. EGC, Jakarta , 1994
9. Ganiswara, Silistia G. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy Pharmacology). Alih
Bahasa: Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta, 1995
10. Wrobel M, Werth M.2009. Pokok-pokok Anestesi. Edisi pertama. Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
11. Omoigui S. 2012.Obat-obatan Anestesia. Edisi kedua. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
12. .Syarif,Amir,et al. 2009.Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima. Departemen

Farmakologi dan Terapeutik FKUI: Jakarta.

25