Você está na página 1de 37

Anaestesi Umum dengan Laryngeal

Mask Airway pada Limfadenopati Colli

Anak Agung Dewi Adnya


Swari
112014142

Identitas pasien

Nama
: Ny. I
Umur
: 28 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan
: Cleanning service
Alamat
: Jalan Petamburan 2
Tanggal masuk RS : 9 April 2015

Keluhan utama
Benjolan pada leher kiri semakin
membesar

Riwayat penyakit sekarang


Sebulan yang lalu os mengeluh adanya
benjolan di leher kiri sebesar kacang
polong.
3 hari SMRS OS mengeluh benjolan
semakin besar seperti buah anggur. OS
menyangkal tidak ada demam, tidak sakit
tenggorakan, dan tidak nyeri tekan saat
benjolan itu muncul. OS berkata benjolan
keras dan warna seperti kulit sekitarnya.

Riwayat penyakit penyerta


Pasien memiliki riwayat tuberkulosis
kelenjar limfe di leher dan rutin
minum obat selama 8 bulan.
DM (-), hipertensi (-), asma (-), dan
alergi (-).

Kebiasaan
Pasien tidak memiliki kebiasaan

Riwayat operasi
sebelumnya
Riwayat operasi amandel sewaktu
kelas 6 SD

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum : tampak sakit ringan


Kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 109/60 mmHg
Frekuensi nadi : 73 x/menit
Frekuensi nafas: 15x/menit
Suhu : 36,20C
Kulit, kepala, mata, mulut dan gigi, mandibula, hidung,
thoraks abdomen, ekstremitas DBN
Leher : leher tidak pendek, benjolan pada leher kiri dengan
benjolan sebesar buah anggur, keras, tidak ada nyeri tekan,
dan warnanya sama seperti kulit sekitarnya, dan tidak
hangat.

Pemeriksaan penunjang
Hb
: 13,7 gr/dL
Ht
: 40,9%
Leukosit :
7920/mm3
Eritrosit : 4,86
juta/uL
Trombosit :
257.000/mm3
GDS : 88 mg/dL

INR
: 1,01
PT : 14,7 detik
PT ctr : 14,8 detik
APTT: 35,2 detik
APTT ctr : 40,4
detik

Status fisik (ASA)


ASA 2
Diagnosis kerja
Limfadenopati colli
Rencana tindakan bedah
BE + PA
Rencana teknik anestesi
Anestesi umum

Pre-operatif
Anamnesis :
Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat-obatan
maupun makanan.
Pasien memiliki riwayat penyakit tuberkulosis
kelenjar limfe di leher.
Pasien tidak memiliki penyakit penyerta seperti
asma, DM, hipertensi, jantung, dan penyakit
ginjal.
Pasien tidak menggunakan obat terlarang.
Pasien tidak memiliki kebiasaan olahraga,
merokok, atau minum alkohol.

Pre-operatif
Pemeriksaan fisik :
Airway paten, nafas spontan, tidak ada ronki,
tidak ada wheezing
Malampati 2 (uvula dan palatum molle
terlihat)
Leher ekstensi maksimal
Membuka mulut >2 jari dan tidak ada
kelainan pada lidah
Tidak ada gigi goyang atau gigi palsu pada
gigi atas dan bawah

Tindakan anestesi
Prosedur :
Mempersiapkan mesin anestesi, monitor, dan
ventilator
Persiapkan STATICS
Menyiapkan obat-obatan anestesi umum seperti
fentanil, midazolam untuk premedikasi dan
propofol intravena dan sevofluran inhalasi induksi.
Pasien dipersiapkan diruang operasi dengan tidur
terlentang pada meja operasi
Pasien dipasang manset, oxymeter pulse, EKG
lead, dan kateter urin

Penilaian pra induksi anestesi

Jam : 11.30
TD : 109/60 mmHg
Kesadaran : compos mentis
Sat O2 : 100%
Suhu : 36,50C
Nadi : 73 x/menit
BB : 48 kg
RR : 15 x/menit

Intubasi dengan LMA


Menyiapkan LMA (Pasien menggunakan LMA no 3)
Buka mulut pasien dengan tangan kiri, gerakan jari
menyilang (ibu jari menekan mandibula bawah dan
jari telunjuk menekan maksila ke atas)
Masukan ujung LMA ke dalam rongga mulut, lalu
dorong sesuai alur lidah sampai LMA tersangkut pada
ujung laring
Kembungkan balon agar tidak ada udara yang bocor
Sambungkan Y-piece ke pipa LMA, jika pasien sudah
terlihat dapat bernafas, fiksasi pipa LMA
menggunakan tape
Alirkan gas sevofluran 2vol%

Intraopratif
Lama operasi
: 20 menit (11.45
12.05)
Lama anestesi
: 50 menit (11.30
12.20)
Teknik anestesi : anestesi umum

Medikasi selama operasi


Fentanil 100 mcg dan midazolam 10
mg untuk premedikasi
Propofol 150 mg intravena dan
sevofluran 2vol% inhalasi untuk
induksi
Ketorolac 30 mg untuk anti nyeri
Oksigen awal 7 liter dan
maintanance 2 liter
Cairan infus : 500 MI ringerfundin

Post operatif
Pasca bedah pasien dibawa ke ruangan PACU dengan nafas spontan
dan kesadaran belum sadar pulih
Aldrete score :
Kesadaran : 2 (pasien bangun dan memberi respon bila dipanggil)
Respirasi : 2 (sanggup diminta bernafas dan batuk)
Sirkulasi : 2 (tekanan darah naik berkisar 20%)
Aktivitas : 2 (anggota gerak dapat bergerak dengan baik dan dapat
diperintah)
Warna kulit : 2 (merah muda, CRT <2 detik)
Tanda-tanda vital :
TD : 90/59 mmHg
RR : 11 x/menit
Nadi : 62 x/menit
SpO2 : 100%
Skala nyeri : 3

Terapi pasca bedah


Monitor luka post operasi

Anestesi Umum

Indikasi anestesi umum :


-Infant dan anak usia muda
-Dewasa yang memilih anestesi umum
-Pembedahan luas
-Penderita sakit mental
-Pembedahan dimana anestesi local tidak
praktis atau tidak memuaskan
-Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi
local
-Penderita dengan pengobatan antikoagulan

Persiapan pra anestesi umum


Tujuan kunjungan pra anestesi:
Mempersiapkan mental dan fisik
pasien
Merencanakan dan memilih teknik
serta obat-obat anestesi yang sesuai
keadaan fisik dan kehendak pasien
Menentukan ASA sebagai gambaran
prognosis pasien secara umum.

Penilaian prabedah

Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium
Kebugaran untuk anestesia
Klasifikasi ASA
Masukan oral
Premedikasi

Mesin anestesi
Mesin yang aman dan ideal ialah mesin
yang memenuhi persyaratan berikut:
- Dapat menyalurkan gas anestetik dengan
dosis tepat
- Ruang rugi (dead space) minimal
- Mengeluarkan CO2 dengan efisien
- Bertekanan rendah
- Kelembaban terjaga dengan baik
- Penggunaannya sangat mudah dan aman

Sirkuit anestesi
Sirkuit anestesi umum
terdiri dari:
Sungkup muka, sungkup
laring, atau pipa trakea
Katup ekspirasi dengan per
atau pegas (APL, adjustable
pressure limiting valve)
Plastic transparent anti
static, anti tertekuk
(corrugated tube, reservoir
tube)

LMA
Untuk pembedahan yang singkat
KI : abses, obstruksi faring, perut penuh seperti
hamil atau komplians paru rendah seperti
penyakit jalan nafas restriktif.

Induksi anestesi
Untuk persiapan induksi anestesi,
sebaiknya diingat kata STATICS:

S : Scope
T : Tubes
A : Airway
T : Tape
I : Introducer
C : Connector
S : Suction

Induksi anestesi
Induksi anestesi dapat dikerjakan
secara intravena,
intramuscular,
inhalasi atau rectal.

Induksi intravena
Induksi cara ini dikerjakan pada
pasien
yang
kooperatif
dng
kecepatan 30-60 detik.
Propofol IV :
dosis 2-2,5 mg/kgBB, onset 30-45
detik, durasi 4-7 menit.
Ketamin IV :
dosis 1-2 mg/kgBB, onset 50-70 detik

Induksi intramuskular
Ketamin (ketalar)
dapat diberikan
secara IM dengan dosis 5-7 mg/kgBB
dan setelah 3-5 menit pasien tidur.

Induksi inhalasi
Sevofluran

Isofluran

Kecepatan induksi

2-3 menit

2-3 menit

Konsentrasi induksi

6-7%

5%

Konsentrasi
pemerliharaan

2-3%

1-1,5%

Warna

Kuning

Ungu

Cepar, lancar, tidak


iritatif pd saluran
pernafasan

Jarang karena iritatif


pd saluran
pernafasan

Induksi rectal
Untuk anak atau bayi menggunakan
thiopental atau midazolam
Tanda-tanda induksi berhasil adalah
hilangnya refleks bulu mata. Jika bulu
mata disentuh, tidak ada gerakan
pada kelopak mata.

Teknik anestesi LMA


Intubasi
Teknik anestesi nafas spontan dengan face mask
Indikasi : keadaan umum pasien cukup baik,
lambung harus kosong.
Ekstubasi
Mengangkat keluar LMA (ekstubasi) harus mulus
dan tidak disertai batuk dan kejang otot yang
dapat menyebabkan gangguan nafas, hipoksia
sianosis.

Pasca bedah
Pasien
harus
diobservasi
(pernafasan, tekanan darah, dan
nadi) sesudah operasi dan anestesi
selesai sewaktu masih dikamar
bedah dan kamar pulih.

Aldrete score
Activity
Voluntary movement of all limbs
to command -- 2 points
Voluntary movement of 2
extremities to command -- 1 point
Unable to move -- 0 points
Apneic -- 0 points
Respiration
Breath deeply and cough -- 2
points
Dyspnea, hypoventilation -- 1
point
Circulation
BP 20 mm Hg of preanesthesia
level -- 2 points
BP > 20-50 mm Hg of
preanesthesia level -- 1 point
BP > 50 mm Hg of preanesthesia
level -- 0 points

Consciousness
Fully awake -- 2 points
Arousable -- 1 point
Unresponsive -- 0 points
Color
Pink -- 2 points
Pale, blotchy -- 1 point
Cyanotic -- 0 points
Total score must be > 8 at
conclusion of monitoring.

Visual analog scale

VAS
VAS
VAS
VAS

0
: tidak nyeri
1-3
: nyeri ringan
4-6
: nyeri sedang
7-10
: nyeri berat

Kesimpulan
Anestesi umum stadium anestesi umum meliputi,
analgesia,
amnesia,
hilangnya
kesadaran,
terhambatnya sensorik dan reflex otonom, dan
relaksasi otot rangka. Untuk menimbulkan efek
ini, setiap obat anestesi mempunyai variasi
tersendiri bergantung pada jenis obat, dosis yang
diberikan, dan keadaan secara klinis. Anestetik
yang ideal akan bekerja secara tepat dan baik
serta mengembalikan kesadaran dengan cepat
segera sesudah pemberian dihentikan.