Você está na página 1de 29

1

BAB I
PENDAHULUAN
Abortus adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, yaitu
sebelum janin mencapai berat 500 gram atau

umur kehamilan kurang dari 20

minggu. Hal ini didasari bahwa sampai saat ini janin yang terkecil yang dilaporkan
dapat hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Dan
lagi fakta menunjukan bahwa janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500
gram sangat jarang yang dapat hidup terus. Berdasarkan mekanisme terjadinya, istilah
abortus dibedakan menjadi abortus spontan dan abortus buatan. Abortus yang
berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Abortus buatan adalah
pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan. Abortus terapeutik ialah
abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik.1
Sedangkan berdasarkan aspek klinisnya, abortus spontan dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu abortus imminens (threatened abortion), abortus insipiens
(inevitable abortion), abortus inkomplit, abortus komplit, missed abortion, dan
abortus habitualis (recurrent abortion), abortus servikalis, abortus infeksiosus, dan
abortus septik.1,2 Fenomena yang terjadi terkait reproduksi manusia yang tidak
efisien, dan abortus adalah komplikasi tersering pada kehamilan, dengan kejadian
keseluruhan sekitar 15% dari kehamilan yang ditemukan. 2,4 Namun angka kejadian
abortus sangat tergantung kapada riwayat obstetri terdahulu, dimana kejadiannya
lebih tinggi pada wanita yang sebelumnya mengalami keguguran daripada pada
wanita yang hamil dan berakhir dengan kelahiran hidup.4
Prevalensi abortus juga meningkat dengan bertambahnya usia, dimana pada
wanita berusia 20 tahun adalah 12%, dan pada wanita diatas 45 tahun adalah 50%. 4
Delapan puluh persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan.2 Penelitianpenelitian terdahulu menyebutkan bahwa angka kejadian abortus sangat tinggi.
Sebuah penelitian pada tahun 1993 memperkirakan total kejadian abortus di
Indonesia berkisar antara 750.000. dan dapat mencapai 1 juta per tahun dengan rasio
1

18 abortus per 100 konsepsi. Angka tersebut mencakup abortus spontan maupun
buatan.
Abortus inkomplit sendiri yang akan dibahas lebih lanjut dalam paper ini
merupakan salah satu bentuk klinis dari abortus spontan maupun sebagai komplikasi
dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis. Yang per definisi mempunyai
arti sebagai pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Insiden abortus inkompit sendiri
belum diketahui secara pasti namun yang penting diketahui adalah sekitar 60 % dari
wanita hamil yang mengalami abortus inkomplit memerlukan perawatan rumah sakit
akibat perdarahan yang terjadi2,3,4.
Abortus inkomplit memiliki komplikasi yang dapat mengancam keselamatan
ibu karena adanya perdarahan masif yang bisa menimbulkan kematian akibat adanya
syok hipovolemik apabila keadaan ini tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan
tepat. Seorang ibu hamil yang mengalami abortus inkomplit dapat mengalami
guncangan psikis. tidak hanya pada ibu namun juga pada keluarganya, terutama pada
keluarga yang sangat menginginkan anak. Oleh karena hal itulah, mengenal lebih
dekat tentang abortus inkomplit menjadi penting bagi para pelayan kesehatan agar
mampu menegakkan diagnosis kemudian memberikan penatalaksanaan yang sesuai
dan akurat, serta mencegah komplikasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram dengan
sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus. Abortus inkomplit
sendiri merupakan salah satu bentuk klinis dari abortus spontan maupun sebagai
komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis.1
2.2 Epidemiologi
Angka kejadian abortus sulit untuk diketahui secara pasti karena banyak kasus
yang tidak dilaporkan. Selain itu angka kejadian abortus bervariasi menurut
ketekunan dalam identifikasi kasus. Di Indonesia proporsi kejadian abortus spontan
sebesar 17,75%. Angka terbesar terjadi di Riau yakni 35,96% dan angka terendah di
papua yakni 7,72%. Diperkirakan total kejadian abortus spontan di Indonesia
mencapai 2,3 Juta per tahun. Diperkirakan terjadi 37 aborsi untuk setiap 1000
perempuan usia reproduksi (15-49 tahun) di Indonesia.3,4
Lebih dari 80% aborsi spontan terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan dan
angka tersebut kemudian menurun secara cepat pada umur kehamilan selanjutnya.
Lima puluh persen kejadian abortus pada trimester pertama diakibatkan oleh
abnormalitas kromosom, kemudian menurun menjadi 20-30% pada trimester kedua
dan 5-10% pada trimester ketiga. Terdapat pula perbedaan antara jumlah janin lakilaki dan perempuan pada abortus awal, dimana ratio laki-laki : perempuan 1:5.5
Risiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya paritas di
samping dengan semakin lanjutnya usia ibu serta ayah. Frekuensi abortus yang
dikenali secara klinis bertambah dari 12% pada wanita yang berusia kurang dari 20
tahun, menjadi 26% pada wanita yang berumur di atas 40 tahun dan pada wanita
diatas 45 tahun adalah 50%. Untuk usia paternal yang sama, kenaikannya adalah dari
3

12% menjadi 20%. Insiden abortus bertambah pada kehamilan yang belum melebihi
umur 3 bulan.3,6,7
Angka kejadian abortus inkomplit tidak diketahui secara pasti. Kejadian
abortus berkisar antara 15-20% dari semua kehamilan dengan sekitar 60% dari wanita
hamil dirawat di rumah sakit dengan perdarahan akibat mengalami abortus inkomplit.
Data dari Afrika Selatan menunjukan bahwa 44.686 perempuan dirawat di rumah
sakit pemerintah dengan abortus inkomplit setiap tahunnya. 15% dari semua pasien
tersebut datang dengan morbiditas berat sementara 19% datang dengan morbiditas
sedang.8
2.3 Etiologi
Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas peristiwa abortus tidak selalu
tampak jelas. Pada beberapa bulan pertama kehamilan, ekspulsi hasil konsepsi yang
terjadi secara spontan hampir selalu didahului kematian embrio atau janin, namun
pada kehamilan beberapa bulan berikutnya, terkadang janin masih hidup dalam uterus
sebelum ekspulsi. Terjadinya abortus secara spontan dapat dipengaruhi oleh berbagai
etiologi yang saling terkait. Secara umum, etiologi terjadinya abortus spontan dapat
dibagi menjadi tiga yakni janin, maternal, dan paternal.5
2.3.1 Perkembangan Zigot yang Abnormal
Abortus

spontan

sering

disebabkan

oleh

adanya

abnormalitas

dari

perkembangan zigot, embrio, fetus atau plasenta. Abnormalitas kromosom


bertanggung jawab terhadap 50-60% embrio yang gugur. Angka ini menurun seiring
kemajuan dari umur persalinan. Sembilan puluh lima persen dari abnormalitas
kromosom disebabkan oleh kesalahan gametogenesis maternal sementara 5%
disebabkan oleh kesalahan paternal. Autosomal trisomi, monosomi X (45,X), dan
autosomal trisomi merupakan kelainan kromosom yang paling sering ditemui pada
abortus.5 Sebuah penelitian meta-analisis menemukan kasus abnormalitas kromosom
sekitar 49% dari abortus spontan. Trisomi autosomal merupakan anomali yang paling

sering ditemukan (52%), kemudian diikuti oleh poliploidi (21 %) dan monosomi X
(13%).9

Gambar 1. Kromosom trisomi9


2.3.2 Faktor Maternal
Faktor maternal pada kejadian abortus sering dikaitkan dengan abortus yang
terjadi pada zigot euploidi. Peristiwa abortus tersebut mencapai puncaknya pada
kehamilan 13 minggu, dan karena saat terjadinya abortus lebih belakangan, pada
sebagian kasus dapat ditentukan etiologi abortus yang dapat dikoreksi. Penyebab dari
abortus euploidi tidak dipahami secara penuh, namun beberapa penyakit medis,
kondisi kejiwaan dan kelainan perkembangan pernah terlibat dalam peristiwa abortus
euploidi.5
a. Infeksi
Beberapa organisme seperti Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis,
Neisseria

gonorhoeae,

Streptococcus

agalactina,

virus

Herpes

Simplex,

Cytomegalovirus listeria monocytogenes, dan Toxoplasma dicurigai berperan


sebagai penyebab abortus. Isolasi yang dilakukan pada Mycoplasma hominis dan
Ureaplasma urealyticun dari traktus genetalia sebagaian wanita yang mengalami
abortus telah menghasilkan hipotesis yang menyatakan bahwa infeksi mikoplasma
yang menyangkut traktus genetalia dapat menyebabkan abortus. Dari kedua

organisme tersebut, diketahui bahwa Ureaplasma urealyticum merupakan


penyebab utama.5
b. Penyakit Kronis yang Melemahkan
Abortus pada masa awal kehamilan jarang disebabkan oleh penyakit kronis yang
melemahkan imunitas ibu seperti tuberculosis atau karsinomatosis. Salah satu
penyakit yang diasosiasikan dengan abortus spontan adalah celiac sprue. Terdapat
asosiasi yang kuat antara abortus dan abortus berulang dengan antibodi antigliadin
dari penyakit celiac karena bersifat toksik terhadap trophoblast. 10 Abortus jarang
disebabkan karena seorang ibu mengalami hipertensi, namun hipertensi dapat
menyebabkan kematian janin dan persalinan prematur. Diabetes yang tidak
terkendali sering dihubungkan dengan peningkatan kejadian abortus spontan.
Peningkatan kejadian dikaitkan dengan abnormalitas struktur pada fetus. Namun
pada wanita dengan diabetes yang terkendali, diabetes jarang menjadi penyebab
abortus.5,10
c. Pengaruh Endokrin
Peningkatan kejadian abortus dapat dikaitkan dengan kondisi hipotiroidisme,
diabetes mellitus, dan defisiensi progesteron. Hipotiroidisme sering disebakan oleh
adanya antibodi antitiroid. Kejadian abortus spontan terjadi 2 kali lipat lebih seing
pada perempuan dengan antibodi tiroid yang terdeteksi 17% dibandingkan dengan
perempuan tanpa antibodi tiroid. Diabetes tidak menyebabkan abortus jika kadar
gula dapat dikendalikan dengan baik. Defesiensi progesteron karena kurangnya
sekresi hormon tersebut dari korpus luteum atau plasenta mempunyai hubungan
dengan kenaikan insiden abortus. Karena progesteron berfungsi mempertahankan
desidua, defesiensi hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada
hasil konsepsi dan dengan demikian turut berperan dalam peristiwa abortus
spontan. 5,10
d. Nutrisi
Pada saat ini, hanya malnutrisi umum sangat berat yang paling besar
kemungkinanya menjadi predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus. Nausea
serta vomitus yang lebih sering ditemukan selama awal kehamilan dan setiap

deplesi nutrien yang ditimbulkan akibat hyperemesis gravidarum jarang diikuti


dengan abortus spontan. Sebagaian besar mikronutrien pemah dilaporkan sebagai
unsur yang penting untuk mengurangi abortus spontan.5
e. Obat-obatan dan Toksin Lingkungan
Berbagai macam zat dilaporkan berhubungan dengan kenaikan insiden abortus.
Rokok, alkohol, kafein, dan radiasi merupakan salah satu penyebab utama
peningkatan resiko abortus pada ibu hamil. Kline dalam penelitianya menemukan
bahwa wanita yang merokok lebih dari 14 batang setiap harinya memiliki resiko
abortus 1,7 kali lebih besar dari kelompok kontrol. Wanita yang meminum alkohol
paling tidak dua kali dalam seminggu memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk
mengalami abortus dibandingkan wanita yang tidak mengkonsumsi alkohol.10
f. Faktor-Faktor Immunologis
Abortus diperkirakan terjadi akibat gagalnya sebuah proses supresi sistem imun.
Faktor imunologis yang telah terbukti signifikan dapat menyebabkan abortus
spontan yang berulang antara lain : antikoagulan lupus (LAC) dan antibodi anti
cardiolipin (ACA) yang mengakibatkan destruksi vaskuler, trombosis, abortus
serta destruksi plasenta. 10
g. Gamet yang Menua
Angka insiden abortus spontan juga dipengaruhi oleh umur sperma dan ovum.
Insiden abortus meningkat terhadap kehamilan yang berhasil bila inseminasi
terjadi empat hari sebelum atau tiga hari sesudah peralihan temperatur basal tubuh,
karena itu disimpulkan bahwa garnet yang bertambah tua di dalam traktus genitalis
wanita sebelum fertilisasi dapat menaikkan kemungkinan terjadinya abortus.
Beberapa percobaan binatang juga selaras dengan hasil observasi tersebut.6,9
h. Laparotomi
Trauma akibat laparotomi kadang-kadang dapat mencetuskan terjadinya abortus.
Pada umumnya, semakin dekat tempat pembedahan tersebut dengan organ
panggul, maka kemungkinan terjadinya abortus semakin besar.7

i. Trauma Fisik dan Trauma Emosional


Kebanyakan abortus spontan terjadi beberapa saat setelah kematian embrio atau
kematian janin. Jika abortus disebabkan khususnya oleh trauma, kemungkinan
kecelakaan tersebut bukan peristiwa yang baru terjadi tetapi lebih merupakan
kejadian yang terjadi beberapa minggu sebelum abortus. Abortus yang disebabkan
oleh trauma emosional bersifat spekulatif, tidak ada dasar yang mendukung konsep
abortus dipengaruhi oleh rasa ketakutan marah ataupun cemas.6,9
j. Kelainan Uterus
Kelainan uterus dapat dibagi menjadi kelainan uterus kongenital dan kelainan
uterus yang didapat. Paparan diethylstilbestrol (DES) pada janin dapat
mengakibatkan abnormalitas pembentukan duktus mllerian. Kavitas endometrium
pada wanita yang terpapar DES memiliki luas permukaan yang lebih kecil dari
pada wanita normal. Hal ini diperkirakan dapat menjadi penyebab dari
peningkatan kasus abortus spontan pada perempuan yang terpapar DES.10 Insiden
abnormalitas perkembangan uterus berkisar antara 1:200 hingga 1:600 wanita.
Secara umum, 25 % wanita dengan abnormalitas uterus memiliki masalah
reproduksi. Kelainan kongenital yang paling sering diasosiasikan dengan abortus
adalah uterus bikornu dan septae uteri. Menurut studi yang dilakukan oleh Acien
(1996), dari 170 pasien hamil dengan malformasi uterus hanya 18,8% yang
mampu bertahan hingga melahirkan cukup bulan, sementara 36,5 % mengalami
persalinan abnormal.1,10
k. Inkompetensi serviks
Kejadian abortus pada uterus dengan serviks yang inkompeten biasanya terjadi
pada trimester kedua. Inkompetensi serviks merupakan dilatasi asimptomatik dari
ostium servikalis internus. Keadaan ini akan mengakibatkan dilatasi kanalis
serviks selama trimester kedua persalinan. Tidak adanya bantalan yang menunjang
fetus akan mengakibatkan terjadinya ruptur dan prolaps, yang sering diikuti
dengan ekspulsi fetus dan plasenta. 5

2.3.3 Faktor Paternal


Peranan faktor paternal tidak banyak diketahui dalam proses timbulnya
abortus spontan. Adanya kelainan kromososomal pada sperma seperti terjadinya
translokasi abnormal kromosom pada sperma dapat menimbulkan zigot yang
mendapat bahan kromosom yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, sehingga dapat
mengakibatkan abortus.5
2.4 Patogenesis
Abortus inkomplit dapat terjadi secara spontan, maupun sebagai komplikasi dari
abortus provokatus, atau dari abortus imminens yang tidak ditangani dengan baik.
Proses terjadinya abortus berawal dari perdarahan pada desidua basalis yang
kemudian diikuti oleh proses nekrosis pada jaringan sekitar daerah yang mengalami
perdarahan itu. Dengan demikian konseptus terlepas sebagian atau seluruhnya dari
tempat implantasinya. Konseptus yang telah lepas dari perlekatannya merupakan
benda asing di dalam uterus dan merangsang rahum untuk berkontraksi. Rangsangan
yang terjadi semakin lama semakin bertambah kuat dan terjadilah his yang memeras
isi rahim keluar. 1,5,10
Pada keguguran yang terjadi sebelum kehamilan kurang dari 8 minggu
pelepasannya dapat terjadi sempurna sehingga terjadi abortus kompletus oleh karena
villi koreales belum tumbuh terlalu mendalam ke dalam lapisan desidua. Pada
kehamilan antara 8 minggu sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih
dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna oleh karena villi
koriales telah tumbuh dan menembus lapisan desidua jauh lebih tebal sehingga ada
bagian yang terisa melekat pada dinding rahim dan terjadilah abortus inkomplit. yang
dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu
umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin, disusul
kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk. Sisa abortus yang tertahan
didalam mengganggu kontraksi rahim yang menyebabkan pengeluaran darah yang
lebih banyak. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan
lengkap.1,5,10

10

2.5 Gambaran Klinis


Gejala umum yang merupakan keluhan utama pada pasien dengan abortus
inkomplit adalah perdarahan pervaginam derajat sedang sampai berat disertai dengan
kram pada perut bagian bawah, bahkan sampai ke punggung. Perdarahan dapat
berjumlah banyak atau sedikit tergantung dari jaringan fetus/plasenta yang tersisa
pada janin. Perdarahan yang masif pada pasien akan menyebabkan pasien jatuh dalam
kondisi syok hipovolemi. Pasien abortus inkomplit datang dengan riwayat telat haid
serta hilangnya tanda-tanda kehamilan. Pada pemeriksaan fisik anogenital didapatkan
adanya perdarahan pada vagina yang dapat disertai dengan keluarnya jaringan. Pada
pemeriksaan tinggi fundus didapatkan tinggi fundus lebih rendah dari usia kehamilan.
Nyeri tekan dapat ditemukan pada daerah supra pubik. Pada pemeriksaan dalam
(vaginal toucher) dapat ditemukan porsio terbuka, perdarahan, dan ditemukannya sisa
jaringan.5,10
2.6 Diagnosis
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik serta dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang.
a. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk memperoleh riwayat lengkap termasuk diantaranya
adalah sebagai berikut.10,11

Riwayat menstruasi: pada pasien perlu ditanyakan hari pertama haid


terakhir, periode menstruasi sebelumnya, interval menstruasi, dan keteraturan
menstruasi. Hal ini penting untuk mendeteksi kemungkinan adanya
penyimpangan dari periode menstruasi normal yang mungkin mencerminkan
adanya pendarahan yang berasal dari implantasi dari kehamilan yang normal
maupun yang abnormal.

Tanggal terjadinya konsepsi (jika diketahui).

Obat-obatan yang digunakan sejak HPHT: alkohol, tembakau kafein


dan obat-obatan yang lain.

11

Masalah kesehatan: diabetes militus, infeksi pendarahan, penyakit


tiroid dan autoimun.

Riwayat operasi: terutama operasi yang melibatkan uterus dan


adneksa.

Riwayat obstetri: jumlah kelahiran aterm dan preterm, jumlah


terjadinya abortus baik yang spontan maupun yang diinduksi, jumlah anak
yang hidup dan jumlah komplikasi yang berhubungan dengan persalinan
tranfusi darah, perforasi uterus).

Riwayat ginekologi: termasuk tes pap smear abnormal, STD dan


kontrasepsi.

Pasien dengan abortus spontan inkomplit biasanya akan mengeluarkan flek-flek


atau mengalami perdarahan pervaginam yang banyak, yang disertai dengan nyeri
perut bagian bawah yang hebat. Pasien juga dapat mengeluh mengeluarkan darah
yang bergumpal dan sesuatu yang menyerupai daging. Menghitung jumlah
pendarahan sangat penting (jumlah pembalut atau tampon) untuk melihat pendarahan
apakah meningkat atau memburuk. Pendarahan dari abortus inkomplit bergantung
pada jaringan sisa namun umumnya berat. Adanya bekuan darah atau jaringan
mungkin suatu tanda yang penting untuk mengetahui perkembangan dari abortus
spontan. Nyeri yang berhubungan atau kram seharusnya dicatat termasuk lokasi,
beratnya dan durasi dari nyeri. Gejala lain seperti demam ataupun menggigil adalah
lebih khas terhadap abortus septik.10,11
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pasien dengan abortus inkomplit, sebelum melakukan pemeriksaan fisik
menyeluruh perlu diperhatikan ada tidaknya tanda-tanda kegawatan seperti syok.
Perhatikan tanda-tanda vital pasien. Jika terdapat ortostatik hipotensi merupakan
suatu tanda awal untuk dilakukannya resusitasi cairan ataupun tranfusi darah. Adapun
beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan pada abortus inkomplit adalah sebagai
berikut:10,11,12

12

Memeriksa perut dengan memperhatikan adanya nyeri tumpul,


bengkak, tanda peritoneal merupakan suatu kemungkinan terjadinya
pendarahan intraperitoneal.

Palpasi tinggi fundus uteri pada abortus inkomplit dapat sesuai dengan
umur kehamilan atau lebih rendah. Palpasi akan mendapatkan tinggi fundus
uteri yang sesuai dengan umur kehamilan atau lebih rendah dan terasa lunak.

Melalui inspekulo terlihat adanya dilatasi serviks yang mungkin


disertai dengan keluarnya jaringan konsepsi atau gumpalan-gumpalan darah.
Pemeriksa juga mungkin dapat melihat adanya jaringan yang tertinggal dalam
vagina. Bimanual palpasi untuk menentukan besar dan bentuk uterus perlu
dilakukan sebelum memulai tindakan evakuasi sisa hasil konsepsi yang masih
tertinggal. Pastikan intensitas pendarahan pemeriksaan bekuan darah atau
bagian-bagian daging. Menentukan ukuran sondase uterus juga penting
dilakukan untuk menentukan jenis tindakan yang sesuai3.

Vaginal toucher (VT) akan mendapatkan terbukanya kanalis servikalis


dan teraba jaringan di dalamnya. Periksa adanya nyeri goyang porsio untuk
menentukan adanya kehamilan ektopik. Pastikan adanya pembukaan serviks,
jika ada pembukaan mencerminkan suatu abortus insipiens atau abortus
inkomplit. Jika tertutup merupakan suatu abortus imminens.

Periksa ukuran uterus, konsistensi, ketegangan dan adanya nyeri tekan


adneksa ataupun massa. Jika dirasakan adanya suatu massa, palpasi harus
dilakukan dengan hati-hati dan mantap untuk menghidari terjadinya ruptur
pada kehamilan ektopik ataupun kista ovarium.

Jika terdapat cairan abnormal dari vagina atau serviks, perlu dibuat
preparat basah dan kultur serviks untuk organisme gonorrhea dan clamydia.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan

laboratorium

yang

dilakukan

dapat

berupa

pemeriksaan

laboratorium berupa darah lengkap untuk mengetahui ada tidaknya tanda infeksi,
tanda anemia, Pemeriksaan PP test perlu dilakukan untuk memastikan tanda

13

kehamilan.

Pemeriksaan

radiologi

berupa

USG

penting

dilakukan

untuk

menunjukkan ada tidaknya sisa jaringan dalam uterus.2,10


Tiap jenis abortus menunjukan gambaran radiologi yang berbeda. Abortus
imminens akan menunjukan gambaran gestasional sac yang normal dan embrio yang
viable. Pada abortus inkomplit gestasional sac akan terlihat kempes dan ireguler,
terdapat materi echogenic yang menunjukan sisa plasenta pada kavitas uteri.
Sementara pada abortus komplit, endometrium terlihat berdekatan dengan tidak
terlihat adanya produk konsepsi.9
2.7 Diagnosa Banding
Abortus inkomplit dapat didiagnosis banding dengan abortus iminens, abortus
insipien, abortus komplit, missed abortion, mola hidatidosa, blighted ovum, dan
kehamilan ektopik terganggu.13
Diagnosis
Banding
Abortus
inkomplit

Abortus
Iminens

Abortus
insipient

Gejala
- Perdarahan
banyak/sedang dari
uterus
pada
kehamilan sebelum
20 minggu
- Nyeri perut ringan
- Keluar
jaringan
sebagian (+)
- Perdarahan
dari
uterus
pada
kehamilan sebelum
20 minggu berupa
flek-flek
- Nyeri perut ringan
- Keluar jaringan (-)

Pemeriksaan
Penunjang
TFU kurang dari - Tes kehamilan urin
umur kehamilan
masih positif
Dilatasi serviks (+)
- USG: terdapat sisa
Teraba jaringan dari
hasil konsepsi (+)
cavum uteri atau
masih menonjol pada
osteum
uteri
eksternum
TFU sesuai dengan - Tes kehamilan urin
umur kehamilan
masih positif
Dilatasi serviks (-)
- USG:gestasional
sac (+), fetal plate
(+), fetal movement
(+), fetal heart
movement (+)
Pemeriksaan Fisik

- Perdarahan banyak - TFU sesuai dengan - Tes kehamilan urin


dari uterus pada
umur kehamilan
masih positif
kehamilan sebelum - Dilatasi serviks (+)
- USG:gestasional
20 minggu
sac (+), fetal plate

14

- Nyeri perut berat


- Keluar jaringan (-)

Abortus
komplit

(+), fetal movement


(+/-), fetal heart
movement (+/-)

- Perdarahan (-)
- TFU kurang dari - Tes kehamilan urin
- Nyeri perut (-)
umur kehamilan
masih positif bila
- Keluar
jaringan - Dilatasi serviks (+/-)
terjadi 7-10 hari
sebagian (+)
setelah abortus
- USG: sisa hasil
konsepsi (-)
Missed
- Perdarahan (-)
- TFU kurang dari - Tes kehamilan urin
abortion
- Nyeri perut (-)
umur kehamilan
negative setelah 1
- Biasanya
tidak - Dilatasi serviks (-)
minggu
dari
merasakan keluhan
terhentinya
apapun
kecuali
pertumbuhan
merasakan
kehamilan
pertumbuhan
- USG:gestasional
kehamilannya tidak
sac (+), fetal plate
seperti
yang
(+), fetal movement
diharapkan.
Bila
(-), fetal heart
kehamilannya >14
movement (-)
minggu sampai 2o
minggu, penderita
merasakan
rahimnya
mengecil, tandatanda
kehamilan
sekunder
pada
payudara
mulai
menghilang.
Mola
- Tanda kehamilan - TFU lebih dari umur - Tes kehamilan urin
Hidatidosa
(+)
kehamilan
masih
positif
- Terdapat
banyak - Terdapat banyak atau
(Kadar HCG lebih
atau
sedikit
sedikit
gelembung
dari
100.000
gelembung mola
mola
mIU/mL
- Perdarahan
- DJJ (-)
- USG:adanya pola
banyak/sedikit
badai salju (snow
- Nyeri perut (+)
storm)
ringan

15

- Mual muntah (+)


Blighted
ovum

Kehamila
n ektopik
terganggu
(KET)

- Perdarahan berupa - TFU kurang dari usia - Tes kehamilan urin


flek-flek
kehamilan
positif
- Nyeri perut ringan - OUE menutup
- USG: gestasional
- Tanda kehamilan
sac (+), namun
(+)
kosong (tidak terisi
janin)
- Nyeri abdomen (+) - Nyeri abdomen (+)
- Lab darah : Hb
- Tanda kehamilan - Tanda-tanda
syok
rendah,
eritrosit
(+)
(+/-) : hipotensi,
dapat meningkat,
- Perdarahan
pucat,
ekstremitas
leukosit
dapat
peraginam (+/-)
dingin
meningkat
- Tanda-tanda
akut - Tes
kehamilan
abdomen (+): perut
positif
tegang bagian bawah, - USG: gestasional
nyeri tekan dan nyeri
sac di luar cavum
lepas
dinding
uteri
abdomen
- Rasa
nyeri
pada
pergerakan servik
- Uterus dapat teraba
agak membesar dan
teraba benjolan di
samping uterus yang
batasnya
sukar
ditentukan
- Cavum
douglas
menonjol berisi darah
dan nyeri bila diraba

2.8 Penatalaksanaan
Terlebih dahulu dilakukan penilaian mengenai keadaan pasien dan diperiksa
apakah ada tanda-tanda syok. Penatalaksanaan abortus spontan dapat dilakukan
dengan menggunakan teknik pembedahan maupun medis. Teknik pembedahan dapat
terdiri dari dilatasi serviks yang diikuti dengan pengosongan isi uterus baik dengan
cara kuretase, aspirasi vakum, dilatasi dan evakuasi, maupun dilatasi dan ekstrasi,

16

teknik induksi haid, dan laparotomi yang dapat dilakukan dengan histerotomi maupun
histerektomi. Induksi abortus dengan tindakan medis menggunakan preparat antara
lain : oksitosin intravenus, larutan hiperosmotik intraamnion seperti larutan salin 20%
atau urea 30%, prostaglandin Ez, F2a dan analog prostaglandin yang dapat berupa
injeksi intraamnion, injeksi ekstraokuler, insersi vagina, injeksi parenteral maupun
per oral, antiprogesteron - RU 486 (meferiston), atau berbagai kombinasi tindakan
tersebut diatas.
Pada kasus-kasus abortus inkomplit, dilatasi serviks sebelum tindakan
kuretase sering tidak diperlukan. Pada banyak kasus, jaringan plasenta yang tertinggal
terletak secara longgar dalam kanalis servikalis dan dapat diangkat dari ostium
ekstema yang sudah terbuka dengan memakai forsep ovum atau forsep cincin. Bila
plasenta seluruhnya atau sebagian tetap tertinggal di dalam uterus, induksi medis
ataupun tindakan kuretase untuk mengevakuasi jaringan tersebut diperlukan untuk
mencegah terjadinya perdarahan lanjut.
Perdarahan pada abortus inkomplit kadang-kadang cukup berat, tetapi jarang
berakibat fatal4. Evakuasi jaringan sisa di dalam uterus untuk menghentikan
perdarahan dilakukan dengan cara.15
1. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu,
evakuasi dapat dilakukan secara digital atau cunam ovum untuk mengelaurkan
hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika pendarahan berhenti, beri
ergometrin 0,2 mg intramuskular atau misoprostol 400 mcg per oral.
2. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16
minggu, evakuasi hasil konsepsi dengan:

Aspirasi Vakum merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi dengan


kuret tajam sebaiknya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.

Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg


intramuskular (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg
per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu).

3. Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:

17

Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam


fisiologis atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai
terjadi ekspuisi hasil konsepsi.

Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai
terjadi ekspuisi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg).

Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.


Teknik kuretase dengan penyedotan (aspirasi vakum) sangat bermanfaat untuk

mengosongkan uterus, dilakukan dengan menyedot isi uterus menggunakan kanula


yang terbuat dari bahan plastik atau metal dengan tekanan negatif. Tekanan negatif
dapat menggunakan pompa vakum listrik atau dengan syringe pump 60 ml. Aspirasi
vakum merupakan prosedur pilihan yang lebih aman jika dibandingkan dengan teknik
kuretase tajam, digunakan pada kehamilan kurang dari 12 minggu, dapat dilakukan
hanya dengan atau tanpa analgesia lokal pada serviks maupun analgesia sistemik
sedang. Aplikasi aspirasi vakum bahkan dapat dilakukan sampai pada umur
kehamilan 15 minggu, tergantung pada ketrampilan dan pengalaman operator.
Complete abortion rate aspirasi vakum berkisar antara 95 - 100%. Metode ini
merupakan metode pilihan untuk mengatasi abortus inkomplit.
Evakuasi jaringan sisa dapat dilakukan secara lengkap dalam waktu 3-10
menit. Sebelum melakukan tindakan kuretase, pasien, tempat dan alat kuretase
disiapkan terlebih dahulu. Pada pasien yang mengalami syok, atasi syok terlebih
dahulu. Kosongkan kandung kencing, selanjutnya dapat diberikan anestesi (jika
diperlukan). Lakukan pemeriksaan ginekologik ulang untuk menentukan besar dan
bentuk uterus, kemudian lakukan tindakan antisepsis pada ginitalia ekstema, vagina
dan serviks. Spekulum vagina dipasang dan selanjutnya serviks dipresentasikan
dengan tenakulum. Uterus disonde dengan hati-hati untuk menentukan besar dan arah
uterus. Masukan kanula yang sesuai dengan dalam kavum uteri melalui serviks yang
telah berdilatasi (tersedia ukuran kanula dari 4 mm sampai 12 mm). Selanjutnya
kanula dihubungkan dengan aspirator (60 Hg pada aspirator listrik atau 0,6 atm pada
syringe). Kanula digerakkan perlahan-lahan dari atas kebawah dan sebaliknya, sambil
diputar 360. Bila kavum uteri sudah bersih dari jaringan konsepsi, akan terasa dan

18

terdengar gesekan kanula dengan miometrium yang kasar, sedangkan dalam botol
penampung jaringan akan timbul gelembung udara. Pasca tindakan tanda-tanda vital
diawasi selama 15-30 menit tanpa anestesi dan selama 1-2 jam bila dengan anestesi
umum. Pemeriksaan lanjut dapat dilakukan 1-2 minggu kemudian.15
Berbagai kemungkinan komplikasi tindakan kuretase dapat terjadi, seperti
perforasi uterus, laserasi serviks, perdarahan, evakuasi jaringan sisa yang tidak
lengkap dan infeksi. Komplikasi ini meningkat pada umur kehamilan setelah
trimester pertama, dengan demikian, tindakan evakuasi yang dilakukan pada
kehamilan diatas trimester pertama berupa dilatasi dan evakuasi. Panas bukan
merupakan kontraindikasi untuk kuretase apabila pengobatan dengan antibiolik yang
memadai segera dimulai.6
Penatalaksanaaan abortus dengan teknik medis dibuktikan aman dan efektif.
Efikasi terapi mifepriston dengan misoprostol dilaporkan sebesar 98% pada
kehamilan trimester pertama awal. Namun demikian, pada abortus inkomplit, metode
ini tidak memberikan keuntungan yang signifikan. Untuk mencapai ekspuisi spontan
yang lengkap dengan terapi prostaglandin (misoprostol) diperlukan waktu rata-rata
selama 9 hari. Regimen mefepriston, antiprogesteron digunakan secara luas, bekeria
dengan cara mengikat reseptor prigesteron, sehingga terjadi inhibisi efek progesteron
untuk menjaga kehamilan. Dosis yang digunakan 200 mg. Kombinasi selanjutnya (36
- 48 jam) dengan pemberian prostaglandin 800 g insersi vagina mengakibatkan
kontraksi uterus lebih lanjut yang kemudian diikuti dengan ekspuisi jaringan
konsepsi.
Efek yang terjadi pada terapi dengan obat-obatan ini berupa kram pada perut
yang disertai dengan perdarahan yang menyerupai menstruasi namun dengan fase
yang memanjang, selama 9hari bahkan dapat terjadi selama 45 hari. Kontraindikasi
penggunaan obat-obat tersebut adalah pada keadaan dengan gagal ginjal akut,
kelainan fimgsi hati, perdarahan abnormal, perokok berat dan alergi.2
2.9 Prognosis
Abortus inkomplit yang dievakuasi dini tanpa infeksi memberikan prognosis

19

yang baik terhadap ibu. Pada wanita dengan riwayat pernah mengalami abortus
sebanyak satu kali, maka kemungkinan untuk mengalami abortus kembali pada
kehamilan selanjutnya adalah sekitar 15%. Sedangkan jika ia pernah mengalami
abortus sebanyak dua atau tiga kali, maka kemungkinannya meningkat, yaitu
berturut-turut sekitar 25% dan 30-45%.1
2.10 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh abortusnya sendiri maupun
akibat dari tindakan penanganan yang dilakukan. Abortus inkomplit yang tidak
ditangani dengan baik dapat mengakibatkan syok akibat perdarahan hebat dan infeksi
akibat retensi sisa hasil konsepsi yang lama di dalam kavum uteri. Tindakan kuretase
pada abortus inkomplit juga dapat menimbulkan komplikasi antara lain:14
a.

Dapat terjadi refleks vagal yang menimbulkan muntahmuntah, bradikardia, dan cardiac arrest.

b.

Perforasi uterus akibat sonde atau dilatator. Bila perforasi


oleh kanula, segera putuskan hubungan kanula dengan aspirator. Selanjutnya
kavum uteri dibersihkan sedapatnya. Kemudian pasien diberikan antibiotika dosis
tinggi. Biasanya perdarahan akan berhenti segera.

c.

Serviks robek yang disebabkan oleh tenakulum. Bila

perdarahan sedikit dan berhenti, tidak perlu dijahit.


d.
Perdarahan karena sisa jaringan konsepsi. Tindakan yang
harus dilakukan adalah pembersihan sisa jaringan konsepsi.
e.
Infeksi juga merupakan salah satu komplikasi yang dapat
terjadi. Pengobatannya berupa pemberian antibiotika yang sensitif terhadap kuman
aerob maupun anaerob.
Komplikasi ini meningkat pada umur kehamilan setelah trimester pertama,
dengan demikian, tindakan evakuasi yang dilakukan pada kehamilan diatas trimester
pertama berupa dilatasi dan evakuasi.14

20

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas penderita
Nama

: KS

Umur

: 34 tahun

Alamat

: Penebel, Tabanan

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Hindu

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Status perkawinan

: Menikah

Tanggal MRS

: 25 Mei 2015 (pk 12.30 WITA)

3.2 Anamnesis

Keluhan utama :
Penderita datang dengan keluhan perdarahan pervaginam keluar flek flek sejak
tiga hari yang lalu (22-5-2015), disertai gumpalan-gumpalan darah berwana
merah kehitaman. Penderita juga mengeluh nyeri pada perut bagian bawah.
Riwayat tes kencing positif sekitar 1 bulan lalu. Riwayat trauma panas badan, dan
pingsan disangkal. Riwayat coitus juga disangkal.

Riwayat menstruasi :
-

Menarche umur 14 tahun, dengan siklus teratur setiap 28-29 hari, lamanya 3-5
hari tiap kali menstruasi

Hari pertama haid terakhir : 30-3-2015

Nyeri saat menstruasi kadang-kadang dirasakan oleh penderita

Riwayat pernikahan : menikah satu kali dengan suami sekarang selama 15 tahun
Riwayat persalinan :

21

1. Lahir anak perempuan secara spontan di bidan dengan berat badan 3600 gram
pada tahun 2000
2. Lahir anak perempuan secara spontan di bidan dengan berat badan 3700 gram
20
pada tahun 2003
Riwayat Ante Natal Care (ANC) : pernah satu kali di bidan
Riwayat USG : pernah satu kali
Riwayat KB : penderita memakai KB IUD selama 1,5 tahun, stop pada tahun 2005
Riwayat penyakit sebelumnya : riwayat penyakit asma, penyakit jantung,
hipertensi, diabetes mellitus disangkal oleh penderita
Riwayat alergi obat : riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu disangkal oleh
penderita
3.3 Pemeriksaan Fisik

Status present :
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: E4V5M5 (CM)

Tekanan Darah

: 110/70

Nadi

: 84X/menit

Respirasi

: 20X/menit

Suhu tubuh

: 36,5oC

Tinggi badan

: 155 cm

Berat badan

: 45 kg

Status general :
Kepala

: Mata: anemia -/-, ikterus -/-, isokor

Jantung

: S1S2 tunggal, regular, murmur(-)

Pulmo

: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-

Ekstremitas : edema tidak ada pada keempat ekstrimitas

Status ginekologi :
Abdomen : Tinggi fundus uteri tidak teraba
nyeri tekan tidak ada
tanda cairan bebas tidak ada

22

massa tidak ada


Inspekulo : fluksus (+), fluor (-)
pembukaan porsio (+), tampak jaringan
VT

: fluksus (+), fluor (-)


pembukaan porsio (+), teraba jaringan
korpus uteri antefleksi dengan besar dan bentuk setara dengan umur
kehamilan 8-9 minggu
adneksa parametrium dan cavum Douglasi dalam batas normal

3.4 Pemeriksaan lab


Darah lengkap :
WBC

: 11,3 (4,60-10,2)

RBC

: 4,31 (3,80-6,50)

HGB

: 13,0 (11,5-18,0)

HCT

: 37,1 (37,0-54,0)

PLT

: 288 (150-400)

3.5 Diagnosis Kerja


G3P2002 8-9 minggu dengan abortus inkomplit
3.6 Diagnosis Banding
1.

Abortus iminens

2.

Abortus insipien

3.

Abortus inkomplit

4.

Missed abortion

5.

Mola hidatidosa

6.

Blighted ovum

7.

Kehamilan ektopik terganggu

3.7 Penatalaksanaan

23

Terapi

: Kuretase
Amoxicillin 3 X 500 mg selama 5 hari
Asam mefenamat 3 X 500 mg
Methylergometrin 3 X 5 mg selama 5 hari

Monitoring

: observasi 30 menit post kuret

KIE

: Pasien dan keluarga

Tindak lanjut

: Penderita dipulangkan 24 jam post kuret


Kontrol ke poliklinik kandungan dan kebidanan 1 minggu
kemudian

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Diagnosis

24

Seorang pasien 34 tahun, Hindu, Bali, datang dengan keluhan perdarahan


pervaginam sejak tiga hari yang lalu (22-5-2015), dikatakan bahwa perdarahan
berupa keluar flek-flek disertai gumpalan-gumpalan darah berwana merah kehitaman.
Penderita juga mengeluh nyeri pada perut bagian bawah sejak 3 hari yang lalu. Nyeri
dirasakan bertambah keras setelah keluar flek. Terdapat riwayat telat haid dengan hari
pertama haid terakhir tanggal 30 Maret 2014. Riwayat tes kencing positif sekitar 1
bulan lalu di bidan. Riwayat trauma, panas badan, dan pingsan disangkal. Riwayat
coitus disangkal, begitu pula adanya keinginan untuk menghentikan kehamilan juga
disangkal oleh pasien.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status present dan general dalam batas
normal, pemeriksaan abdomen fundus uteri tidak teraba, nyeri tekan tidak ada, tanda
cairan bebas tidak ada, massa tidak ada. Inspeksi vagina menggunakan spekulum
ditemukan adanya fluksus (+), flour (-), p (+), jaringan (+). Dari pemeriksaan dalam
(vaginal toucher) didapatkan fluksus (+), flour (-), p (+) teraba jaringan, korpus uteri
antefleksi dengan besar dan konsistensi sesuai dengan usia kehamilan 8-9 minggu,
adneksa parametrium serta cavum douglas dalam keadaan normal.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan tersebut pasien
ini didiagnosa sebagai abortus inkomplit dengan keadaan umum penderita masih
baik. Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa perdarahan
pervaginam yang terjadi pada usia kehamilan di bawah 20 minggu serta sebagian
hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri yang diketahui dari terbukanya porsio
dengan sisa jaringan yang masih teraba pada pemeriksaan dalam. Pasien dengan
abortus spontan inkomplit biasanya akan mengeluh mengeluarkan flek-flek atau
mengalami perdarahan pervaginam derajat sedang sampai berat, yang disertai dengan
nyeri perut bagian bawah yang hebat. Pasien juga dapat mengeluh mengeluarkan
darah yang bergumpal dan sesuatu yang menyerupai daging. Palpasi tinggi fundus
uteri pada abortus inkomplit dapat sesuai dengan umur kehamilan atau lebih rendah.
24
Palpasi akan mendapatkan tinggi fundus uteri yang sesuai dengan umur kehamilan
atau lebih rendah dan terasa lunak. Melalui inspekulo terlihat adanya dilatasi serviks
yang mungkin disertai dengan keluarnya jaringan konsepsi atau gumpalan-gumpalan

25

darah. Vaginal toucher (VT) akan mendapatkan terbukanya kanalis servikalis dan
teraba jaringan di dalamnya. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa
pemeriksaan darah lengkap dilakukan untuk mengevaluasi apakah pasien mengalami
anemia, infeksi, atau beresiko untuk terjadinya suatu perdarahan lebih lanjut.
Pemeriksaan penunjang berupa USG perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi kembali
apakah masih ada jaringan yang tertinggal di dalam kavum uteri, dan pemeriksaan PP
test dilakukan untuk memastikan bahwa pasien sedang dalam kondisi mengandung.
4.2 Faktor predisposisi atau etiologi
Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas peristiwa abortus tidak selalu
tampak jelas. Kematian janin sering disebabkan oleh abnormalitas pada ovum atau
zigot atau oleh penyakit sistemik pada ibu, dan kadang-kadang mungkin juga
disebabkan oleh faktor paternal seperti translokasi kromosom. Dari anamnesis
didapatkan bahwa kejadian abortus ini adalah kejadian yang pertama kalinya. Namun
penyebab terjadinya abortus inkomplit pada pasien ini belum dapat dipastikan. Faktor
yang mungkin menyebabkan terjadinya abortus adalah faktor infeksi dikarenakan
adanya peningkatan sel darah putih. Penyebab lain yang dapat dipertimbangkan
adalah faktor nutrisi, faktor paternal, serta paparan obat-obatan dan toksin
lingkungan. Untuk mencegah hal ini berulang lagi maka diperlukan pemeriksaan
tambahan untuk menelusuri faktor penyebab terjadinya abortus ini sebagai persiapan
kehamilan berikutnya. Faktor emosional juga turut memegang peranan penting
sehingga pengaruh dokter sangat besar dalam mengatasi ketakutan dan keresahan
pasien. Dianjurkan pada penderita untuk banyak beristirahat serta menghindari
aktivitas yang berat.

4.3 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan abortus inkomplit dapat dilakukan baik dengan teknik
pembedahan maupun medikamentosa. Adapun penanganan yang dilakukan pada
kasus ini adalah kuretase dengan anestesi umum. Mengingat komplikasi tindakan ini

26

cukup banyak, maka perlu dilakukan dengan prosedur yang benar dan hati-hati untuk
mengurangi resiko tersebut seminimal mungkin. Pasca tindakan kuretase pasien
diberikan medikamentosa berupa amoxicillin 3 x 500 mg selama 5 hari, asam
mefenamat 3 x 500 mg, metil ergometrin 3 x 5 mg selama 5 hari. Amoxicillin
merupakan antibiotik yang diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi pasca
tindakan, sedangkan asam mefenamat diberikan sebagai analgesik untuk mengurangi
rasa nyeri yang dirasakan pasien, sedangkan metil ergometrin diberikan untuk
menimbulkan kontraksi yang spastik pada uterus sehingga mencegah perdarahan
yang berkelanjutan.
Kemudian dilakukan observasi pasca tindakan untuk mengevaluasi keadaan
pasien. Pada pasien didapatkan status present dan status general dalam batas normal,
serta tidak ditemukan adanya perdarahan aktif. Dapat disimpulkan bahwa pasien
berada dalam kondisi stabil, sehingga pasien dipulangkan 24 jam pasca kuretase
dengan melanjutkan terapi yang telah diberikan sebelumnya serta disarankan untuk
kontrol kembali ke poliklinik satu minggu kemudian.

4.4 Prognosis
Prognosis pada pasien ini adalah dubius ad bonam mengingat tidak ada faktor
resiko yang berat pada pasien yang mungkin menyebabkan terjadinya abortus
berulang serta tidak ditemukannya komplikasi pasca tindakan kuretase.

BAB V
KESIMPULAN

27

Telah dilaporkan kasus wanita 34 tahun, hamil muda 8-9

minggu yang

mengalami perdarahan pervaginam. Dari hasil pemeriksaan klinis didiagnosa dengan


abortus inkomplit. Penatalaksanaan awal pada kasus abortus adalah melakukan
penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien dan selanjutnya diperiksa
apakah ada tanda-tanda syok. Untuk mengurangi resiko perdarahan dan komplikasi
lain yang mungkin timbul, maka pada kasus abortus inkomplit ini dilakukan
pengeluaran sisa jaringan dengan kuretase, kemudian diberikan medikamentosa
seperti golongan uterotonika, antibiotika dan analgetik. Dari hasil pemeriksaan klinis
didiagnosa dengan abortus inkomplit. Setelah dilakukan kuretase dan post kuretase
keadaan penderita baik dan dipulangkan 24 jam setelah kuretase. Penderita diberikan
obat oral yaitu Amoxicillin 3 x 500mg, Asam mefenamat 3 x 500mg,
Methylergometrin 3 x 5mg. Penderita disarankan untuk kontrol ke poliklinik satu
minggu kemudian untuk mengetahui perkembangan penderita. Abortus inkomplit
yang di evakuasi lebih dini tanpa disertai infeksi memberikan prognosis yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
27

28

1. Hadijanto B. Perdarahan pada Kehamilan Muda. Dalam : Wiknjosastro GH,


Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Ilmu Kebidanan. Edisi 5. Jakarta : PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo ; 2010 : hal. 459-474.
2. Pedoman Diagnosis Terapi Dan Bagian Alir Pelayanan Pasien, Lab/SMF
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RS Sanglah
Denpasar. 2003
3. Guttmacther institute. 2008. Aborsi di Indonesia dalam Kesimpulan. Seri 2008
No. 2.
4. Mulyati S. Hubungan Riwayat Infeksi Saluran Reproduksi dengan Kejadian
Abortus Spontan di Beberapa Rumah Sakit di Wilayah DKI Jakarta Tahun 2002.
Thesis. Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
5. Abortion. In : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Bilstrap LC,
Wenstrom KD, editors. William Obsetrics. 24nd ed. USA : The McGraw-Hills
Companies, Inc ; 2014 : p. 215-237
6. Abortion. In: Leveno KJ, et all. Williams Manual of Obstetrics. USA: McGrawHill Companies, 2003 : p. 45 55
7. Stovall TG. Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy. In : Berek JS, et all.
Novak's Gynaecology. 13th ed. Philadelphia; 2002 : p. 507 - 9
8. Rees H. 1997. The Epidemiology of Incomplete Abortion South Africa. SA tr
Med J 1997;87:432-437
9. Griebel CP, Vorsen JH, Golemon TB, Day AA. Management of Spontaneus
Abortion. AAFP American Family Physician. October 01,2005;72;1.
10. Morton A, Stenchever MD, William, Droegemueller MD, Herbst Arthur L MD,
Daniel R Mishell. MD, Arthur L. H. Spontaneous and Recurrent Abortion,
Etiology, Diagnosis, Treatment in Comprehensive Gynecology 5th eds. Mosby:
2002, p.157-16
11. Garmel SH. Early Pregnancy Risk. In: De Cherney AH, Nathan L, editors.
Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment 9th ed. New York, NY:
28
McGraw Hill; 2003
12. Sagili H. 2007. Review Modern Management of Miscarriage. The Obstetrician &
Gynaecologist 2007;9:102108.
13. Valley.V.T.
Early
Pregnancy

Loss.

http://reference.medscape.com/article/266317-overview
September 2014

In:Emedicine.
last

updated:

29

29

14. Safe Abortion: Technical & Policy Guidance for Health System. Geneva: WHO,
2003
15. Wiknjosastro GH, Saifflidin AB, Rachimadhi T. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirorahardjo, 2000.

Você também pode gostar