Você está na página 1de 5

ANALISA KASUS HUMAN TRAFICKING DI ASIA TENGGARA DENGAN MENGGUNAKAN

PERSFEKTIF KONTURTIVISME SERTA PERBANDINGAN NYA DENGAN TEORI


NEOLIBERAL DALAM MEMANDANG DAN MEMBERI SOLUSI
Oleh : Jaka Satria Wibawa
1316071025

ABSTRACT
Didalam paper penulis akan menjelaskan tetntan isu masyarkat transnasional, dan di sini focus
terhadap satu isu yaitu isu human traficing, dan di dalam paper ini penulis menganalisis isu human
trafikcing dengan menggunakan persfektif kontruktivisme, serta bagaimana solusi yang di di terapkan
kontruktivisme dalam penyelesaian terhadapa masalah tersebut, kemudian membandingkan dengan salah
teori yaitu teori neoliberal

Kejahatan lintas batas adalah persoalan keamanan yang sangat erat kaitannya dengan kelompok
dan organisasi kekerasan. Sekalipun sudah ada kesepakatan regional maupun internasional untuk
memeranginya, unsure unsure yang membentuknya sangat beragam, yang menjadi sebab juga beragam.
Penerimaan kepada teknik teknik ini untuk mencari kekayaan menjangkau segenap unsure, bahkan actor
negara ikut bermain didalamnya. Kecanggihan teknologi dan kekuatan militer ditambah dengan
tingginya penghasilan negara untuk menyediakan alat alat keamanan tidak menjamin negara itu aman
dari kejahatan lintas batas. Sebab kepentingan yang terlibat dalam jaringan kejahatan tersebut sangat
banyak, bukan sekedar dalam rangka mencari hidup dan mencukupi kebutuhan sehari hari.
Salah satu kejahatan lintas batas yang mengatasi kejahatan lainnya adalah perdagangan manusia
(human trafficking). Kejahatan ini telah menjadi persoalan dunia. Oleh PBB human trafficking
dikategorikan sebagai kejahatan lintas batas (transnational crimes), dan dilihat sebagai salah satu
ancaman keamanan yang paling krusial dari aspek non militer. Michelle O.P Dunbar memperkirakan
bahwa jumlah keuntungan yang diperoleh pelaku perdagangan orang mencapai 9,5 miliar dolar setiap
tahunnya. Angka yang fantastic tentunya. Uang tersebut berhubungan erat dengan pencucian uang,
perdagangan obat-obatan terlarang, pemalsuan dokumen, dan penyeludupan manusia. Sedangkan jika
dilihat negara asal korban, umumnya mereka berasal dari Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur
Tengah, dan Afrika. Asia Tenggara merupakan negara dengan tingkat tertinggi asal korban perdagangan
orang. Diperkirakan sepertiga jumlah orang-orang yang menjadi korban perdagangan orang yang dikirim
ke Eropa dan Amerika berasal dari Asia Tenggara.

Human Trafficking merupakan isu yang sangat rumit. Karena melibatkan begitu banyak
kepentingan dan jaringan yang kompleks mulai dari local, nasional, regional sampai ke tingkat global.
Model model penanggulangan yang menekankan pada penghukuman dan perlindungan kepada korban
tentu saja amat penting. Namun hal ini harus didukung oleh system penegakkan hokum yang credible,
juga perangkat hokum yang komprehensif. Lebih jauh ini merupakan satu aktifitas kejahatan yang
meliputi beberapa aspek seperti eksploitasi seks, buruh paksa, dan buruh anak anak. Masing masing
aktifitas memiliki penekanan yang berbeda, tergantung kepada tujuan si penyeludup. Tapi apapun yang
menjadi korbannya, aktifitas ini tetap dalam kerangka pencarian keuntungan material. Para pelaku
maupun korban dengan jelas melihat bahwa ada keuntungan uang yang dijanjikan dari area ini.
Human trafficking, yang bekerja secara sistematis dan pada akhirnya juga akan bersentuhan
dengan beberapa bentuk kejahatan kepada kemanusiaan yang lain, baik itu eksploitasi secara ekonomi,
eksploitasi secara seksual, ataupun berbagai bentuk eksploitasi lainnya. Banyaknya keterkaitan antara isu
ini dengan kejahatan lainnya beserta motif kegiatan itu sendiri sebagai lahan pencari uang membuat
pentingnya kerjasama lintas negara untuk penanggulangannya. Konvensi dan protocol PBB yang sudah
ada saat ini belum mampu memberikan pressure kepada pemerintah untuk bersikap tegas dalam
penanggulangan permasalahan illegal trafficking. Contoh kasus di Kawasan Asia Tenggara
Dalam isu Human trafficking di ASIA TENGGARA penulis mencoba menganalisa dengan
persfektif

kontrutivisme,sebelumnya kita harus tahu persfektif

kontruktivisme, kontruktivisme

merupakan sebuah perspektif yang memandang dunia merupakan hasil konstruksi manusia,
konstruktivisme mempunyai sebuah asumsi ikonik yaitu anarchy is what states make of it yang
dipopulerkan oleh Alexander Wendt pada tahun 1992. Maksud dari kalimat tersebut adalah bagaimana
kondisi anarki yang ada di dunia ini tergantung oleh negara-negara itu sendiri. Konstruktivisme
berpandangan bahwa kondisi dunia merupakan hasil dari konstruksi manusia selama ini (Steans et al,
2010:187). Perspektif ini memandang bahwa tidak ada sesuatu yang sudah tercipta dengan sendirinya
atau give, Sementara itu kaum konstruktivis beranggapan bahwa segala tindakan negara bukanlah
didasari oleh sifat dasar yang sudah given, melainkan sudah terkonstruksikan sedemikian rupa oleh
norma, nilai, kepentingan, dan peraturan yang ada. Dan hal itu pula yang terjadi dalm asus human
trafficking di ASIA TENGGARA bagaimana kontruktivsme memandang Human Traficking,di awal
sudah di tekankan bahwa kaum konstruktivisme beranggapan bahwa segala tindakan bukanlah didasari

oleh sifat dasar yang sudah given, melainkan sudah terkonstruksikan sedemikian rupa oleh norma, nilai,
kepentingan, dan peraturan yang ada. Untuk Human Traficking di ASIA TENGGARA, kontruktivisme
memandangnya adalah adanya permainan social atau kontruksi pemikiran dari oknum-oknum yang
mana mengontruksi bahwa bekerja di luar negeri lebih menjanjikan dan untuk upah yang di dapat lebih
tinggi dari pada Negara di asalnya, apa lagi kebanyakan korban human trafficking atau kasusu human
trafficking terjadi di kawasan ASIA TENGGARA husnya Negara Filipina,Vietnam,Myanmar dan
Indonesia yang notabene masyarakatanya terbelakang dalam ekonomi maupun sumber daya manusianya,
selain itu kontruktivisme menganggap bahwa pemikiran atau anggapan kerja di luar negeri adalah
sesuatu yang sangat membanggakan jadi bagi korban kejahatan lintas batas ini atau human trafficking ini
mudah untuk di perdayai dan di ajak untuk di jadikan objek trafficking, jadi kontruktivisme menganggap
bahwa korban-korban secara tidak langsung pemikiran mereka sudah terontruksi bahwa bekerja di luar
negeri lebih memiliki keuntungan yang lebih dalam rangka pencarian uang atau materi.
Dalam kasus isu human trafficking yang marak terjadi di ASIA TENGGARA, dan sangat menyita
perhatian dunia, Human Trafficking telah menjadi ancaman serius bagi keamanan manusia di Asia
Tenggara dimana hampir semua negara di kawasan tersebut merupakan negara sumber perdagangan
manusia dan transit atau tujuan penyeludupan manusia, perdagangan seks, eksploitasi buruh dan anak.
Di sini adapun solusi dari perfektif kontrutivisme adalah Pendidikan yang memadai tentunya akan sangat
membantu masyarakat agar tidak terjebak dalam kasus perdagangan manusia. Kekurangtahuan akan
informasi mengenai perdagangan manusia membuat orang-orang lebih mudah untuk terjebak menjadi
korban perdagangan manusia khususnya di pedesaan dan terkadang tanpa disadari pelaku perdagangan
manusia tidak menyadari bahwa ia sudah melanggar hukum. Jadi di sini perlu adanya peran pemerintah
maupun elemen-elemen masyaraat yang mendukung dalam mebrantas trafikcing untuk mulai
mendekontrusi pemikiran-pemikiran warga atau masyarakat tentang hal-hal yang menjanjikan dalam
bekerja di luar negeri yang mana nanti nya malah menjadikan mereka korban human traficking, di
samping itu Umumnya para korban Trafficking adalah orang yang mudah terbujuk oleh janji-janji palsu
sang traffickers. Beberapa traffickers menggunakan taktik-taktik manipulasi untuk menipu korbannya
diantaranya dengan intimidasi, rayuan, pengasingan, ancaman, penyulikan dan penggunaan obat-obatan
terlarang. Jadi apabila pemikiran warga masyarakat Negara yang nanti akan di jadikan calon human
trafikcing dapat segera tercegah akan janj-janji yang di tawarkan sebab pemikiran

mereka sudah

terdekontruksi bahwa tidak selamnya bekerja di luar negeri tanpa lisensi atau instansi yang jelas dapat
memberikan keuntungan yang besar materi maupun uang. Selanjutnya adalah penguatan terhadap

instrument penegak hukum dan instnasi sosialn pemerintah untuk menindak tegas serta memberikan
sosialisasi yang sifat nya merekontruksi pemikiran akan bahaya dalam upaya-upaya dan fenomena
human trafficking yang berdampak luar biasa bagi para korbanya.
Selanjutnya pandangan teori neoliberal dalam memandang kasus human trafikcing yang terjadi,
isu human trficing yang terjadi di Kawasan Negara Asia Tenggara ialah tidak lain di sebabkan karena
tidak adanya pemerataan ekonomi sehingga yang teren dampaknya ialah masyarat di pedesaan yang
kurang akses informasi dan keterbelakangan ekonomi. neoLiberalisme mencita-citakan suatu masyarakat
yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa perhatian dasar neoliberalisme adalah kemajuan, kebebasan dan kesejahteraan
individu atau negara serta kerja sama. Kesejatrahan individu dalam kontes neoliberalisme ialah
berhubungan dengan mendapatan hak hidup yang layak bebas dari rasa keterbelakangan ekonomi dan
penyamarataan pembangunan dan langsung menyentuh langsung terhadap personal anak-anak maupun
perempuan yang menjadi sasaran para traffickers, sementara untuk kasus human trafikcing ini terjadi
karena faktor dan permasalahn ekonomi yang mana kurang nya peran pemerintah atau Negara yang
menjadi aktor penting dan kurang nya kerja sama asean dalam merealisasikan kebijakan yang dapat
meminimalisir human traficing di kawasan negara ASEAN. Selanjutnya sebagai solusi dari teori
neoliberal terhdap kasus human traficiking ini ialah kerja sama sesuai dengan focus dasar teori
neolibealis sudah semestinya Melalui penguatan kerjasama kawasan diharapkan pemerintah dapat
meningkatkan solidaritas dan pemahaman bahwa memerangi aksi kejahatan transnasional khususnya
perdagangan manusia ini tidak dapat dilakukan secara sepihak melainkan melibatkan unsure yang saling
berkaitan satu sama lain. ASEAN memainkan peran yang penting sebagai komandan anti trafficking di
kawasan yang merupakan bentuk kerjasama multilateral di tingkat kawasan. Kondisi ini mendorong
ASEAN, sebagai satu satunya institusi regional yang mewadahi negara negara di kawasan Asia
Tenggara, menginisiasi perjanjian kerjasama regional agar dapat menekan jumlah perdagangan manusia
Kesimpulanya bahwa isu human trafficking yang terjadi di kawasan negara ASIA TENGGRA
sangat meniyita perhatian dunia karena menjadi pusat perdagangan manusia, memandang persfektif
kontrutivis memndang bahwa masayrakat atau warga Negara yang minim SDM dan terbelakang
ekonomi sudah terkontrusi pikiran atau mainset nya bahwa bekerja di luar negeri pasti menajanjikan
upahn tinggi, solusinya mendekontruksi atas segala mainset bertola belakang

tesebut. Neoliberal

menanggap kurang nya peran pemerintah dan lemahnya perkeonomian di suatu negara maupun aktor-

aktor pejuang anti perdangan manusia menjadikan human traficking terjadi, solusi dari neorealist tidak
lain tidak lain tidak bukan adalah bukan kerja sama antar Negara kawasan asia tenggara dalam
meminimalisir human traficing dan menindak para traffickers tersebut.

DAFTAR PUSATAKA
Mahrus Ali, S.H.,M.H.(2011). Perdagangan Orang. Bandung: Penerbit PT Citra
Aditya Bakti
http://hibanget.com/konstruktivisme-sebuah-teori-dalam-hubungan-internasional/
(di akses tanggal 24 oktober 2015)
Weber, Cynthia. (2010). International Relations Theory, A Critical Introduction.
Routledge. (di akses tanggal 24 oktober 2015)

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen, 2009. Pengantar Studi Hubungan


Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations).