Você está na página 1de 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari

senyawa karbon yang hanya tersusun dari atom hidrogen (H) dan atom karbon
(C). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang
berikatan dengan rantai tersebut. Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa
karbon yang paling sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui
senyawa hidrokarbon, misalnya minyak tanah, bensin, gas alam, plastik dan lainlain.
Berdasarkan susunan atom karbon dalam molekulnya, senyawa karbon
terbagi dalam 2 golongan besar, yaitu senyawa alifatik dan senyawa siklik.
Senyawa hidrokarbon alifatik adalah senyawa karbon yang rantai C nya terbuka
dan rantai C itu memungkinkan bercabang. Berdasarkan jumlah ikatannya,
senyawa hidrokarbon alifatik terbagi menjadi senyawa alifatik jenuh dan tidak
jenuh.
Sampai saat ini terdapat lebih kurang dua juta senyawa hidrokarbon. sifat
senyawa-senyawa hidrokarbon ditentukan oleh struktur dan jenis ikatan koevalen
antar atom karbon.oleh karena itu,untuk memudahkan mempelajari senyawa
hidrokarbon yang begitu banyak,para ahli melakukan pergolongan hidrokarbon
berdasarkan strukturnya,dan jenis ikatan kovalen antar atom karbon dalam
molekulnya.
a. Senyawa alifatik jenuh adalah senyawa alifatik yang rantai C nya hanya
berisi ikatan-ikatan tunggal saja. Golongan ini dinamakan alkana.
b. Senyawa alifatik tak jenuh adalah senyawa alifatik yang rantai C nya
terdapat ikatan rangkap dua atau rangkap tiga. Jika memiliki rangkap dua
dinamakan alkena dan memiliki rangkap tiga dinamakan alkuna.
c. Senyawa hidrokarbon siklik adalah senyawa karbon yang rantai C nya
melingkar dan lingkaran itu mungkin juga mengikat rantai samping. Golongan ini
terbagi lagi menjadi senyawa alisiklik dan aromatik. Senyawa alisiklik yaitu
senyawa karbon alifatik yang membentuk rantai tertutup.

d. Senyawa aromatik yaitu senyawa karbon yang terdiri dari 6 atom C


yang membentuk rantai benzena.
1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam makalah ini penulis merumuskan
masalah yang akan dibahas:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
1.3

Apa pengertian dari Alkana?


Bagaimana isomer Alkana?
Apa itu gugus alkil Alkana?
Bagaimana tata nama dari Alkana?
Apa saja sifat-sifat dari Alkana?
Apa saja kegunaan dan bahaya Alkana?
Apa itu Alkena?
Bagaimana isomer Alkena?
Bagaimana tata nama dari Alkena?
Apa saja sifat-sifat dari Alkena?
Apa itu Alkuna?
Bagaimana isomer Alkuna?
Bagaimana tata nama dari Alkuna?
Apa saja sifat-sifat dari Alkuna?
Apa itu Alkadiena?
Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah yang dibahas di makalah ini maka penulisan makalah ini
mempunyai tujuan sebagai berikut:
a. Memberikan pengetahuan tentang senyawa hidrokarbon.
b. Memberi pengertian dari Alkana.
c. Memberikan pengetahuan isomer dari Alkana.
d. Memberi pengertian dari gugus alkil Alkana.
f. Memberikan pengetahuan tatanama dari Alkana.
g. Memberikan pengetahuan sifat dari Alkana.
h. Memberikan pengetahuan tentang penggunaan dan bahaya Alkena.
i. Memberi pengertian dari Alkena.
j. Memberikan pengetahuan isomer dari Alkena.
k. Memberikan pengetahuan tatanama dari Alkena.
l. Memberikan pengetahuan sifat dari Alkena.
m. Memberi pengertian dari Alkuna.
n. Memberikan pengetahuan isomer dari Alkuna.

o. Memberikan pengetahuan tatanama dari Alkuna.


p. Memberikan pengetahuan sifat dari Alkuna.
q. Memberi pengertian dari Alkadiena.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Karakteristik Atom Karbon

Suatu senyawa dikatakan senyawa Hidrokarbon apabila senyawa yang


tersusun oleh atom karbon (C) dan hidrogen (H). Hidrokarbon terbagi menjadi 3
kelompok yaitu hidrokarbon alifatik, hidokarbon alisiklik dan hidrokarbon
aromatik. yang termasuk hidrokarbon alifatik yaitu alkana, alkena dan alkuna
alisiklik yaitu sikloalkana dan sikloalkena aromatik yaitu benzena dan
turunannya. Atom karbon memiliki empat elektron valensi. Keempat elektron
valensi tersebut dapat membentuk empat ikatan kovalen melalui penggunaan
bersama pasangan elektron dengan atom-atom lain. Atom karbon dapat
berikatan kovalen tunggal dengan empat atom hidrogen membentuk molekul
metana (CH4).

Rumus Lewisnya:

Selain berikatan dengan atom-atom lain, atom karbon dapat juga


berikatan dengan atom karbon lain, baik ikatan kovalen tunggal maupun rangkap
dua dan tiga seperti pada etana,etena,dan etuna.

Kecenderungan atom karbon dapat berikatan dengan atom karbon


lain memungkinkan terbentuknya senyawa karbon dengan berbagai struktur
(membentuk rantai panjang atau siklik). Hal inilah yang menjadi ciri khas atom
karbon.
Jika satu atom hidrogen pada metana (CH4) diganti oleh gugus CH3
maka akan terbentuk etana (CH3CH3). Jika atom hidrogen pada etana diganti
oleh gugus CH3 maka akan terbentuk propana (CH3CH2CH3) dan seterusnya
hingga terbentuk senyawa karbon berantai atau siklik.

2.2

Alkana
Akana adalah hidrokarbon yang rantai C nya hanya terdiri dari ikatan

kovalen tunggal saja. sering disebut sebagai hidrokarbon jenuh karena jumlah
atom Hidrogen dalam tiap-tiap molekulnya maksimal. Memahami tata nama
Alkana sangat vital, karena menjadi dasar penamaan senyawa-senyawa karbon
lainnya.
CnH2n + 2
Dari rumus umum di atas jika diketahui jumlah atom karbon maka
jumlah H dapat ditentukan demikian pula sebaliknya. Nama-nama beberapa
alkana tidak bercabang yang sering disebut sebagai deret homolog dapat dilihat
pada tabel berikut:

Nama
Metana
Etana
propana

Rumus molekul
CH4
C2H6
C3H8

Nama
heksadekana
heptadekana
oktadekana

Rumus molekul
C16H34
C17H36
C18H38

Butane
pentana
heksana
heptana
Oktana
nonana
dekana
undekana
dodekana
tridekana
tetradekana
pentadekana
2.2.1

C4H8
C5H12
C6H14
C7H16
C8H18
C9H20
C10H22
C11H24
C12H26
C13H26
C14H30
C15H32

nonadekana
eikosana
heneikosana
dokosana
trikosa
tetrakosana
pentakosana
keksakosana
heptakosana
oktaoksana
nonakosana
trikontana

C19H40
C20H42
C21H44
C22H46
C23H48
C24H50
C25H52
C26H54
C27H56
C28H58
C29H60
C30H62

Keisomeran Alkana
Struktur alkana dapat berupa rantai lurus atau rantai bercabang. Alkana

yang mengandung tiga atom karbon atau kurang tidak mempunyai isomer seperti
CH4, C2H6 dan C3H8 karena hanya memiliki satu cara untuk menata atom-atom
dalam struktur ikatannya sehingga memilki rumus molekul dan rumus struktur
molekul sama. Perhatikan gambar di bawah ini:

Dalam senyawa alkana juga ada yang rumus molekulnya sama, tetapi
rumus struktur molekulnya berbeda. Mulai dari alkana dengan rumus molekul
C4H10 mempunyai dua kemungkina struktur ikatan untuk menata atom-atom
karbonnya seperti di bawah ini:

Untuk senyawa-senyawa tersebut disebut isomer. Oleh karena perbedaan


hanya pada kerangka struktur maka isomernya disebut isomer kerangka.
Untuk pentana (C5H12) memiliki tiga kemungkinan struktur ikatan untuk
menata atom-atom karbonnya yaitu:

Kita dapat menyimpulkan dari 2 contoh di atas bahwa semakin bertambah


jumlah atom C pada rumus molekul suatu alkana maka semakin banyak
isomernya seperti yang tertera ditabel bawah ini:
Jumlah atom C
Rumus molekul

C4
C4H10

C5
C5H12

C6
C6H14

C7
C7H16

C8
C8H18

C9
C9H20

C10
C10H22

Jumlah isomer

18

35

75

2.2.2

Gugus Alkil Alkana


Gugus alkil adalah alkana yang telah kehilangan satu atom H. Gugus alkil

ini dapat dituliskan dengan menggunakan rumus:

CnH2n + 1
Dengan menggantikan satu atom H, maka namanya juga akan berubah dari
metana menjadi metil. Berikut ini beberapa gugus alkil yang biasa digunakan.

Rumus
Nama Alkil
CH3
Metil
C2H5
Etil
C3H7
Propil
C4H9
Butil
Gugus metil dan gugus etil masing-masing hanya sejenis, yaitu:

Gugus propil ada dua jenis, yaitu:

Sedangkan gugus butil ada empat jenis, yaitu:

2.2.3

Tata Nama Alkana


Menurut IUPAC

Senyawa-senyawa alkana diberi nama berakhiran ana. Sobat


dapat menghapalkan nama-nama senyawa alkana di tabel yang telah
diberikan pada materi Rumus Umum Alkana. Misalnya, jika atom C-nya
ada lima atau C5, namanya pentana; jika C6, namanya heksana; dst.

Senyawa alkana yang mempunyai rantai karbon lurus namanya diberi


awalan normal dan disingkat dengan n.

CH3 CH2 CH2 CH3


CH3 CH2 CH2 CH2 CH3
CH3 CH2 CH2 CH2 CH2 CH3

n-butana
n-pentana
n-heksana

Senyawa alkana yang mempunyai rantai karbon bercabang terdiri dari


rantai utama dan rantai cabang. Rantai utama adalah rantai hidrokarbon
yang terpanjang diberi nomor secara berurutan dimulai dari ujung yang
terdekat dengan cabang.

Jika terdapat beberapa pilihan rantai utama maka pilihlah rantai utama
yang paling banyak cabangnya.

Jika ada dua cabang yang berbeda terikat pada atom C dengan jarak yang
sama dari ujung maka penomoran dimulai dari atom C yang lebih dekat ke
cabang yang lebih panjang.

10

Sebagai cabang adalah gugus alkil (alkana yang kehilangan satu atom
hidrogennya). Beberapa gugus alkil dan namanya dapat dilihat pada tabel
berikut

Penulisan nama untuk senyawa alkana bercabang dimulai dengan


penulisan nomor cabang diikuti tanda (). Lalu nama cabang berikut nama
rantai utamanya.

Rantai induk

butana

Gugus alkil (cabang)

metil

Nomor cabang

Namanya

2-metilbutana

11

Rantai induk

heksana

Gugus alkil (cabang)

isopropil

Nomor cabang

Namanya

3-isopropilheksana

Bila cabangnya terdiri atas lebih dari satu gugus alkil yang sama maka
cara penulisan namanya yaitu tuliskan nomor-nomor cabang alkil, tiap
nomor dipisahkan dengan tanda (,). Lalu diikuti nama alkil dengan diberi
awalan Yunani sesuai jumlah gugus alkilnya (dua = di, tiga = tri, empat =
tetra, dan seterusnya), kemudian nama rantai utamanya.

Rantai induk

pentana

Gugus alkil (cabang)

metil dan metil

Nomor cabang

2 dan 3

Namanya

2,3-dimetilpentana

12

Bila cabangnya terdiri atas gugus alkil yang berbeda, maka penulisan
nama cabang diurutkan berdasarkan abjad.

2.2.4
a.

Rantai induk

heptana

Gugus alkil (cabang)

metil, etil, dan metil

Nomor cabang

2, 4, dan 5

Namanya

4-etil-2,5-dimetilheptana

Sifat Alkana
Sifat fisik
1. Semua alkana merupakan senyawa polar sehingga sukar larut dalam air.
Pelarut yang baik untuk alkana adalah pelarut non polar, misalnya eter.
Jika alkana bercampur dengan air, lapisan alkana berada di atas, sebab
massa jenisnya lebih kecil daripada 1.
2. Pada suhu kamar, empat suku pertama berwujud gas, suku ke 5 hingga
suku ke 16 berwujud cair, dan suku diatasnya berwujud padat.
3. Semakin banyak atom C, titik didih semakin tinggi. Untuk alkana yang
berisomer (jumlah atom C sama banyak), semakin banyak cabang, titik
didih semakin kecil.
Rumus

Titik didih

Titik lebur

Massa jenis [gcm3]

Metana

CH4

[C]
-162

[C]
-183

(20C)
gas

Etana

C2H6

-89

-172

gas

Propana
Butana
Pentana
Heksana
Heptana
Oktana

C3H8
C4H10
C5H12
C6H14
C7H16
C8H18

-42
0
36
69
98
126

-188
-138
-130
-95
-91
-57

gas
gas
0.626 (cairan)
0.659 (cairan)
0.684 (cairan)
0.703 (cairan)

Alkana

13

Nonana
Dekana
Undekana
Dodekana
Ikosana
Triakontana
Tetrakontana
Pentakontana
Heksakontana

b.

C9H20
C10H22
C11H24
C12H26
C20H42
C30H62
C40H82
C50H102
C60H122

151
174
196
216
343
450
525
575
625

-54
-30
-26
-10
37
66
82
91
100

0.718 (cairan)
0.730 (cairan)
0.740 (cairan)
0.749 (cairan)
padat
padat
padat
padat
padat

Sifat kimia
1. Pada umumnya alkana sukar bereaksi dengan senyawa lainnya.
2. Dalam oksigen berlebih, alkana dapat terbakar menghasilkan kalor, karbon
dioksida dan uap air.
3. Jika alkana direaksikan dengan unsur-unsur halogen (F2, Cl2, Br2, I2), atomatom H pada alkana akan digantikan oleh atom-atom halogen.

2.2.5

Kegunaan dan Bahaya Alkana


Alkana adalah komponen utama dari gas alam dan minyak bumi.

Kegunaan alkana, sebagai :


a)
b)
c)
d)

Metana : zat bakar, sintesis, dan carbon black (tinta,cat,semir,ban).


Propana, Butana, Isobutana : zat bakar LPG (Liquified Petrolium Gases).
Pentana, Heksana, Heptana : sebagai pelarut pada sintesis.
Bahan baku untuk senyawa organik lain. Minyak bumi dan gas alam
merupakan bahan baku utama untuk sintesis berbagai senyawa organik

seperti alcohol, asam cuka, dan lain-lain.


e) Bahan baku indutri. Berbagai produk industry seperti plastic, detergen,
karet sintesis, minyak rambut, dan obat gosok dibuat dari minyak bumi
atau gas alam.

Fraksi tertentu dari Destilasi langsung Minyak Bumi/mentah


TD (oC)

Nama
Jumlah C

14

Penggunaan

< 30
30 180
180 230
230 305
305 405

14
5 -10
11 - 12
13 - 17
18 - 25

Fraksi gas
Bensin
Minyak tanah
Minyak gas ringan
Minyak gas berat

Bahab bakar gas


Bahan bakar mobil
Bahan bakar memasak
Bahan bakar diesel
Bahan bakar pemanas

Sisa destilasi :
a) Minyak mudah menguap, minyak pelumas, lilin dan vaselin.
b) Bahan yang tidak mudah menguap, aspal dan kokas dari m. bumi.
Sedangkan Bahaya alkana adalah:
a) Metana bersifat eksplosif (mudah meledak) ketika bercampur dengan
udara (1 8% CH4).
b) Alkana suku rendah lainnya juga mudah meledak apabila bercampur
dengan udara.
c) Alkana suku rendah yang berbentuk cairan sangat mudah terbakar.
d) Pentana, heksana, heptana, dan oktana digolongkan sebagai senyawa yang
berbahaya bagi lingkungan dan beracun.
e) Isomer rantai lurus dari heksana bersifat neurotoksin.
f) Alkana dengan halogen, seperti kloroform, juga

dapat

bersifat

karsinogenik.
2.3

Alkena
Alkena

atau

olefin

dalam kimia

organik adalah hidrokarbon tak

jenuh tetapi cukup reaktif dengan sebuah ikatan rangkap dua antara atom karbon.
Alkena asiklik yang paling sederhana, yang membentuk satu ikatan rangkap dan
tidak berikatan dengan gugus fungsional manapun, maka akan membentuk suatu
kelompok hidrokarbon.
Alkena yang

paling sederhana adalah etena atau etilena

(C2H4)

Senyawaaromatik seringkali juga digambarkan seperti alkena siklik, tapi struktur


dan ciri-ciri mereka berbeda sehingga tidak dianggap sebagai alkena. Gugus
fungsi alkena yang utama adalah adanya ikatan rangkap dua antar karbon (C=C).
Gugus fungsi ini sangat mempengaruhi reaksi pada golongan alkena. Alkena
mempunyai rumus umum CnH2n. .
15

2.3.1

Isomer Alkena
Pada senyawa alkena, keisomeran dimulai dari senyawa dengan rumus

kimia C4H8 sama seperti senyawa alkana. Jenis isomer yang dapat terjadi pada
senyawa alkena yaitu isomer struktur dan isomer geometri.
A. Isomer Struktur
a. Isomer Kerangka/ Rantai

b. Isomer posisi
Isomer posisi adalah isomer yang memiliki perbedaan posisi ikatan rangkap
karbon-karbon dalam molekul yang sama.

B. Isomer geometri
Ikatan rangkap dua karbon-karbon pada alkena tidak dapat memutar
(melintir) sebab jika diputar akan memutuskan ikatan rangkap, tentunya
memerlukan energi cukup besar sehingga mengakibatkan ketegaran diantara

16

ikatan rangkap tersebut. Akibat dari ketegaran, ikatan rangkap menimbulkan


isomer tertentu pada alkena. Pada contoh berikut, ada dua isomer untuk 2-butena
(CH3CH=CHCH3), yaitu cis-2-butena dan trans-2-butena.

C. Isomer Fungsional
Isomer fungsional pada alkena dimulai dari propena (C3H6)

2.3.2

Tatanama Senyawa Alkena

a) Alkena rantai lurus


Nama alkena rantai lurus sesuai dengan namanama alkana, tetapi dengan
mengganti akhiran ana menjadi ena
Contoh: CH3 CH2 CH2 CH2 CH3 = n-pentena

b) Alkena rantai bercabang


Urutan penamaan adalah:
1) Memilih rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang yang
mengandung ikatan rangkap.
Contoh:

17

2) Memberi nomor, dengan aturan penomoran dimulai dari salah


satu ujung rantai induk, sehingga ikatan rangkap mendapat nomor
terkecil (bukan berdasarkan posisi cabang).
Contoh:

3) Penamaan, dengan urutan:


- nomor atom C yang mengikat cabang
- nama cabang
- nomor atom C ikatan rangkap
- nama rantai induk (alkena)

Contoh:

18

2.3.3

Sifat Alkena
Semakin banyak atom C maka massa molekul relatif semakin tinggi dan

titik didihnya kana semakin tinggi pula. Untuk yang punya isomer, maka semakin
panjang rantai atom C maka semakin tinggi titik didihnya.
1. Alkena memiliki sifat fisis yang hampir sama dengan alkana seperti
kerapatannya kecil dan tidak larut dalam pelarut polar seperti air. Pada
suhu kamar, alkena dengan atom C1-C4 punya wujud gas, C5-C17 berwujud
cair, dan alkena dengan atom C lebih dari 17 punya wujud padat.
2. Senyawa hidrokarbon yang memiliki ikatan rangkap seperti alkena dapat
mengalami rekasi pemutusan ikatan rangkap atau sering disebut reaksi
adisi yang mengubah ikatan tak jenuh menjadi ikatan jenuh. Zat-zat yang
biasanya ditangkap seperti gas hidrogen (H2), golongan halogen (F2, Cl2,
Br2), senyawa asam-asam halida (HF, HBr, HCl, HI) contohnya

Hukum
Markovnikov
Jika ada senyawa alkena menangkap asam halida maka berlaku sebuah
hukum yang disebut hukum Markovnikov. Hukum ini ditemukan oleh

19

peneliti asal negeri beruang merah (Russia). di akhir abad ke 19 (1870).


Bunyi hukum Markovnikov sebagai berikut:
Ketika alkena bereaksi dengan asam halida maka, atom H dari asam
akan terikat pada atom C ikatan rangkap yang memiliki atom H lebih
banyak dan atom dari gologan halogennya akan berikatan dengan atom
C yang mengandung H lebih sedikit
Contoh penerapannya sebagai berikut:

Hukum
Anti-Markovnikov
pada tahun 1933 M.S Kharas dan F.W. Mayo dari universitas Chicago
menemukan

bantuan

katalis

hidrogen

peroksida,

ternyata

dapat

membalikkan hukum dari markovnikov. Ketika menggunakan katalis


tersebut atom C yang mengikat H lebih banyak cenderung mengikat atom
halogen pada senyawa asam halida, berikut reaksinya

3. Alkena

dapat

mengalami

rekasi

Polimerisasi

Senyawa alkena dapat mengalami rekasi polimerisasi karena punya ikatan


tidak jenuh (rangkap 2). Polimerisasi adalah penggabungan molekulmolekul sejenis menjadi molekul raksasa sehingga mempunyai rantai
karbon yang sangat panjang. Molekul-molekul tunggal disebut monomer
dan ketika digabung menjadi molekul besar yang disebut polimer.

20

2.3.4

Kegunaan Alkena
Kegunaan Alkena sebagai :

a) Dapat digunakan sebagai obat bius (dicampur dengan O2)


b) Untuk memasakkan buah-buahan
c) Bahan baku industri plastik, karet sintetik, dan alkohol.

2.4

Alkuna
Alkuna adalah hidrokarbon tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap tiga.

Salah satunya adalah etuna yang disebut juga sebagai asetilen dalam perdagangan
atau sebagai pengelasan.

2.4.1

Keisomeran Alkuna
Pada senyawa alkuna, keisomeran dimulai dari senyawa butuna dengan

rumus kimia (C4H6) memiliki jenis isomer yaitu isomer struktur. Pada pembahasan
berikut akan dijelaskan mengenai isomer struktur senyawa alkuna. Perhatikan dua
isomer yang dimiliki butuna (C4H6)
a. Isomer Posisi

Pada pentuna C5H8 memiliki 3 isomer seperti di bawah ini:

21

b. Isomer kerangka/ rantai

a. Isomer Fungsi

2.4.2

Tatanama Alkuna
1. Periksa jenis ikatannya, jika memiliki ikatan rangkap tiga, berarti senyawa
tersebut merupakan senyawa alkuna.
2. Hitung jumlah atom C-nya.
3. Tuliskan awalan berdasarkan jumlah atom C-nya dan diakhiri dengan
akhiran -una.
4. Jika jumlah atom C senyawa alkuna lebih dari 3, beri nomor setiap atom
sedemikian rupa sehingga nomor paling kecil terletak pada atom C yang
terikat ikatan rangkap tiga. Kemudian, penamaan senyawa diawali oleh
nomor atom C pertama yang terikat ke ikatan rangkap 3, diikuti tanda (-)
dan nama rantai induk.

22

Contoh:

Seperti halnya senyawa alkana dan alkena, senyawa alkuna pun ada yang
memiliki rantai cabang. Aturan penamaannya mirip dengan penamaan rantai
alkana dan alkena bercabang.
Aturan Penamaan Senyawa Alkuna Rantai Bercabang
1. Periksa jenis ikatannya, jika memiliki ikatan rangkap tiga, berarti senyawa
tersebut merupakan senyawa alkuna.
2. Tentukan rantai induk dan rantai cabangnya. Rantai induk ditentukan dari
rantai atom C terpanjang yang mengandung ikatan rangkap tiga.
3. Beri nomor setiap atom sedemikian rupa sehingga nomor paling kecil
terletak pada atom C yang terikat ikatan rangkap tiga.
4. Rantai induk diberi nama sesuai aturan penamaan senyawa alkuna rantai
lurus.
5. Rantai cabang diberi nama sesuai jumlah atom C dan struktur gugus alkil.
6. Urutan penulisan nama senyawa sama dengan urutan penulisan nama
senyawa alkana dan alkena.
Contoh

23

Aturan Penamaan Senyawa Alkuna yang Ikatan Rangkap Tiganya lebih dari
Satu
1. Periksa jenis ikatannya, jika memiliki ikatan rangkap tiga, berarti senyawa
tersebut merupakan senyawa alkuna.
2. Hitung jumlah atom C-nya.
3. Hitung jumlah ikatan rangkap tiganya.
4. Jika jumlah ikatan rangkap tiganya = 2, nama senyawa diakhiri dengan
akhiran -diuna. Jika jumlah ikatan rangkap tiganya = 3, nama senyawa
diakhiri dengan akhiran -triuna.
5. Beri nomor setiap atom sedemikian rupa sehingga nomor paling kecil
terletak pada dua atau tiga atom C pertama yang terikat ikatan rangkap
dua. Kemudian, penamaan senyawa diawali oleh nomor atom C pertama
dan kedua/ketiga yang terikat ke ikatan rangkap tiga, diikuti tanda (-) dan
nama rantai induk.
6. Jika terdapat rantai cabang, penamaan rantai cabang serupa dengan
penamaan senyawa alkuna.
Contoh:

24

Senyawa alkuna juga dapat membentuk deret homolog. Senyawa alkuna


tergolong hidrokarbon tidak jenuh yang mengandung satu ikatan rangkap tiga
antara dua atom C yang berurutan, sedangkan senyawa alkuna memiliki 2 atom H
lebih sedikit dari alkena dengan jumlah atom C yang sama. Oleh karena itu,
rumus umum alkuna adalah CnH2n-2.
2.4.3

Sifat Alkuna

1) Sifat Fisis
Sifat fisis alkuna, yakni titik didih mirip dengan alkana dan alkena.
Semakin tinggi suku alkena, titik didih semakin besar. Pada suhu kamar, tiga suku
pertama berwujud gas, suku berikutnya berwujud cair sedangkan pada suku yang
tinggi berwujud padat.

2) Sifat Kimia (Reaksi Alkuna)


Reaksi- reaksi pada alkuna mirip dengan alkena, hanya berbeda pada
kebutuhan

jumlah

pereaksi

untuk

penjenuhan

ikatan

rangkap. Alkuna

membutuhkan jumlah pereaksi dua kali kebutuhan pereaksi pada alkena untuk
jumlah ikatan rangkap yang sama.
Contoh:
Reaksi penjenuhan etena oleh gas hydrogen
Bandingkan dengan reaksi penjenuhan etuna dengan gas hidrogen!
2.4

Alkadiena
Alkuna dan alkadiena
Alkuna adalah senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap

tiga pada rantai atom karbonnya. Sedangkan alkadiena adalah senyawa

25

hidrokarbon yang mengandung dua buah ikatan rangkap dua. Senyawa ini (alkuna
dan alkadiena) tergolong ke dalam hidrokarbon alifatik tak jenuh yang
mempunyai rumus umum CnH2n-2. Cara penamaan senyawa-senyawa alkuna dan
alkadiena sama seperti pada alkena, tentu saja rantai induk pada senyawa alkuna
ditentukan dari rantai terpanjang yang mengandung ikatan rangkap tiga, ,
sedangkan alkadiena ditentukan dari rantai terpanjang yang mengandung dua buah
ikatan rangkap dua. Akhiran untuk nama rantai induk alkuna adalah una sebagai
pengganti ena pada alkena, dan akhiran untuk rantai induk alkadiena adalah
diena.
Rumus

Nama Alkuna

Nama Alkadiena

C2H2

Etuna

Asetilena

C3H4

Propuna

Propadiena

C4H6

Butuna

Butadiena

C5H8

Pentuna

Pentadiena

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Hidrokarbon adalah senyawa yang tersusun oleh atom karbon (C) dan

hidrogen (H). Hidrokarbon terbagi menjadi 3 kelompok yaitu hidrokarbon alifatik,


hidokarbon alisiklik dan hidrokarbon aromatik. yang termasuk hidrokarbon
alifatik yaitu alkana, alkena dan alkuna alisiklik yaitu sikloalkana dan
sikloalkena aromatik yaitu benzena dan turunannya.
Senyawa hidrokarbon alifatik adalah senyawa karbon yang rantai C nya
terbuka dan rantai C itu memungkinkan bercabang. Berdasarkan jumlah
26

ikatannya, senyawa hidrokarbon alifatik terbagi menjadi senyawa alifatik jenuh


dan tidak jenuh. Senyawa alifatik jenuh adalah senyawa alifatik yang rantai C nya
hanya berisi ikatan-ikatan tunggal saja. Golongan ini dinamakan alkana. Senyawa
alifatik tak jenuh adalah senyawa alifatik yang rantai C nya terdapat ikatan
rangkap dua atau rangkap tiga. Jika memiliki rangkap dua dinamakan alkena dan
memiliki rangkap tiga dinamakan alkuna. Senyawa hidrokarbon siklik adalah
senyawa karbon yang rantai C nya melingkar dan lingkaran itu mungkin juga
mengikat rantai samping. Golongan ini terbagi lagi menjadi senyawa alisiklik dan
aromatik. Senyawa alisiklik yaitu senyawa karbon alifatik yang membentuk rantai
tertutup.
Senyawa aromatik yaitu senyawa karbon yang terdiri dari 6 atom C yang
membentuk rantai benzena.

3.2

Saran
Sebaiknya penggunaan senyawa harus digunakan sebaik-baiknya, karena

setiap senyawa itu mempunyai manfaat dan bahaya.

DAFTAR PUSTAKA
Dany. 2013. Rumus Gugus Alkil dan Tata Nama Alkana.
http://danyhrm23015.blogspot.com/2013/09/rumus-gugus-alkil-dan-tatanama-alkana.html Diakses pada 12 September 2014
Mubarok, Husni. 2014. Makalah Kimia.
http://mubarrok93.blogspot.com/2014/01/makalah-kimia.html Diakses
pada 12 September 2014
Utami, Budi, Mahardiani. Ani. 2009. Kimia untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta:
CV.HaKa MJ
27

Purba Michael. 2004. Kimia untuk SMA. Jakarta: Erlangga.


http://esdikimia.wordpress.com/2012/06/03/alkana-alkena-alkuna/
Diakses pada 12 September 2014
https://isepmalik.wordpress.com/category/kimia/perguruan-tinggi/kimiaorganik/alkena-dan-alkadi
Diakses pada 12 September 2014

28