Você está na página 1de 24

Asal Mula Penyembelihan Hewan Kurban

Posted by Kisah Islami Teladan on Monday, November 07, 2011


Kisah islamiah sore ini tentang asal muasal syariat islam tentang penyembelihan hewan kurban.
Peringatan Hari Raya Idul Adha memang telah usai, dimana pada hari itu agama islam
mensyariatkan menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Zulhijjah selepas Shalat Idul Adha.
Penyembelihan hewan kurban ini memiliki kisah sendiri. Kala itu Nabi Ibrahim mendapatkan
wahyu untuk menyembelih anaknya, namun Allah SWT kemudian mengganti anak itu dengan
seekor kambing.

Kisahnya.
Kisah ini sumbernya adalah Al Qur'an, Surat Ash-Shaffat ayat 104-107.
Dikisahkan bahwa setelah Nabi Ibrahim as berpindah dari negeri kaumnya, ia memohon kepada
Allah SWT agar dikarunia seorang anak yang saleh.
Doa Nabi Ibrahim as dikabulkan Allah SWT. Tak lama kemudian istrinya, Hajar melahirkan
seorang bayi mungil tampan rupawan yang diberi nama Ismail.
Ketika Ismail lahir, Nabi Ibrahim as berusia 86 tahun. Ismail inilah yang kemudian
menggantikan peran ayahnya untuk menyiarkan agama Allah.
Namun, Allah SWT tengah menguji kepasrahan dan kesabaran Nabi Ibrahim as.
Pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi agar menyembelih anaknya, Ismail. Sebanyak tiga
kali mimpi, namun perintahnya juga sama, menyembelih anak kesayangannya itu. Akhirnya Nabi
Ibrahim yakin bahwa itu merupakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan.
"Jika benar ini adalah perintah Allah, maka aku akan pasrah dan sabar," yakinnya dalam hati.

Wahyu dari Allah SWT.


Selanjutnya Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya itu kepada Ismail yang kala itu
masih kecil. Ia ingin mendengar pertimbangan anaknya atas perintah itu.
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" tanya Nabi Ibrahim.
Di luar dugaaan, sang anak bisa berbicara dan mengamini perintah dalam mimpi
ayahnya.
Ismail tidak merasa takut atau marah kepada ayah kandungnya karena ia yakin
mimpi itu merupakan wahyu Allah SWT.
"Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar," kata Ismail.
Keputusan Ismail itu dipilih sendiri dan bukan karena paksaan seseorang. Kemudian
Ismail tidak lupa meminta pertolongan kepada Allah SWT agar ia diberi kesabaran.
Saat itu Ismail tidak mengandalkan kekuatan yang ada dalam dirinya, melainkan ia
meminta kekuatan dari Allah SWT. Karena itu juga, Allah SWT mencatat nama Ismail
sebagai golongan nabi-nabi yang sabar.
Nabi Ibrahim semakin mantap menunjukkan kepasrahan dan kesabarannya menjadi
hamba Allah SWT. Di satu sisi, ia bersyukur karena juga dikaruniai anak yang pasrah
dan sabar.
Kemudian ayah dan anak itu pergi ke sebuah tempat yang tinggi. Di atas tempat itu
Ismail membaringkan dan bersiap untuik disembelih oleh ayahnya. Namun, ketika
semuanya sudah siap, Allah SWT menurunkan wahyu.
Diganti Kambing Besar.
Karena membenarkan mimpi iotu, Allah SWT membalasnya dengan balasan yang
setimpal. Allah SWT menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar.
Allah SWT berfirman,





Artinya:
"Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya
Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

(QS. Ash-Shaaffat: 104-107).


Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu
benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.
Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah
melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya
dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya
Qurban yang dilakukan pada hari raya haji.
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan sembelihan besar adalah
kambing atau domba.
Nabi Ibrahim as berhasil meraih predikat Khalilullah (kekasihAllah) karena telah
mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya berupa anak, demi mencapai
kecintaan kepada Allah SWT.
Peristiwa inilah yang selalu kita peringati setiap tahun dengan anjuran
menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha.

Sejarah / Asal Mula Qurban


Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya
mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah
kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah
dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang
tunduk patuh (kepada Allah). (Al Hajj: 34).

1. Qurban Di masa Nabi Adam As.

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut
yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari
salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah
hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maidah: 27).

Allh memerintah Adam agar mengawinkan Qabil dengan saudara perempuan


kembar Habil yang bernama Lubuda yang tidak bagus rupa, dan mengawinkan
Habil dengan saudara perempuan kembar Qabil yang bernama Iqlima yang cantik
rupa. Pada saat itu Adam dilarang Allh mengawinkan perempuan kepada saudara
laki-lakinya yang kembar. Namun Qabil menolak hal ini, sementara Habil menerima.
Qabil ingin kawin dengan saudara perempuan kembarnya sendiri yang cantik rupa.
Maka Adam menyuruh kedua anaknya untuk berqurban, siapa yang diterima
qurbannya, itu yang menjadi suami bagi saudara perempuan kembar Qabil yang
cantik

Kemudian kedua anak Adam itu berqurban, Habl adalah seorang peternak kambing
dan ia berqurban denganKambing Qibas yang berwarna putih, matanya bundar dan
bertanduk mulus, dan berqurban dengan jiwa yang bersih. DanQabil adalah tukang
bercocok tanam, Ia berqurban dengan makanan yang jelek, dan niat yang tidak
baik. Maka diterima qurbannya Habil dan tidak diterima qurbannya Qabil. Dan
qurban-qurban itu diletakkan di sebuah gunung dan tanda diterimanya qurban itu
ialah dengan datangnya api dari langit lalu membakarnya. Dan ternyata api
menyambar Kambing Qibas qurbannyaHabil, sebagai tanda diterima qurbannya.
Melihat hal demikian Qabil marah, dan membunuh saudaranya.

2. Qurban di masa Nabi Idris As.

Disunnahkan kepada kaum Nabi Idris As yang taat kepadanya antara lain;
beragama Allh, bertauhid, ibadah kepada khaliq, membersihkan jiwa dari siksa
akhirat dengan cara beramal shalih di dunia, bersifat Zuhud, adil, puasa pada hari
yang ditentukan pada tiap bulan, berjihad, berzakat dan sebagainya. Dan bagi
kaum Idris ditetapkan hari-hari raya pada waktu-waktu yang tertentu, serta
berqurban; di antaranya saat terbenam matahari ke ufuk dan saat melihat hilal.
Mereka diperintah berqurban antara lain dengan al-Bakhr (dupa atau wangiwangian), al-Dzabih (sembelihan), al-Rayyhn (tumbuhan-tumbuhan yang harum
baunya), di antaranya al-Wardu (bunga ros), dan al-hubb biji-bijian, seperti alHinthah (biji gandum), dan juga berqurban dengan al-Fawkih (buah-buahan),
seperti al-Inab (buah anggur).

3. Qurban di masa Nabi Nuh As.

sesudah terjadi taufan (banjir) Nh, Nabi Nh As membuat tempat yang sengaja
dan tertentu untuk meletakkan qurban, yang nantinya qurban tersebut sesudah
diletakkan di tempat tadi dibakar.

4. Qurban di masa Nabi Ibrohim As.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa usia Ismail sekitar 6 atau 7 tahun. Sejak
dilahirkan sampai sebesar itu Nabi Ismail senantiasa menjadi anak kesayangan.
Tiba-tiba Allah memberi ujian kepadanya, sebagaimana firman Allah dalam surat
Ash-Shaffaat: 102 :

Maka ketika sampai (pada usia sanggup atau cukup) berusaha, Ibrahim berkata:
Hai anakku aku melihat (bermimpi) dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah bagaimana pendapatmu Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa
yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.

Dalam

mimpinya,

Ibrahim

mendapat

perintah

dari

Allah

supaya

menyembelih putranya Nabi Ismail. Ketika sampai di Mina, Ibrahim menginap dan
bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah, malamnya
di Mina, Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang tidak berbeda pula. Ibrahim
kemudian mengajak putranya, Ismail, berjalan meninggalkan tempat tinggalnya,
Mina. Baru saja Ibrahim berjalan meninggalkan rumah, syaitan menggoda Siti Hajar:
Hai Hajar! Apakah benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih
anakmu Ismail?. Akhirnya Siti Hajar, sambil berteriak-teriak: Ya Ibrahim, ya
Ibrahim mau diapakan anakku? Tapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah
Allah SWT tersebut.

Setibanya di Jabal Qurban, sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya. Nabi Ibrahim
melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Rencana itu pun berubah
drastis, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffaat ayat 103107:

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah Dia: "Hai Ibrohim,
Kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu
ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar .

5. Qurban di masa Nabi Musa As.

Penyembelihan qurban berlaku hingga zaman Nabi Musa As. Nabi Musa membagi
binatang yang disediakan untuk qurban kepada dua bagian, sebagian dilepaskan
saja dan dibiarkan berkeliaran sesudah di beri tanda yang diperlukan. Dan sebagian
lagi disembelih.

6. Qurban Bani Isroil.

Ummat dulu sebelum kita, jika seorang dari mereka berqurban, orang-orang keluar
menyaksikan apakah qurban mereka itu diterima atau tidak. Jika diterima datang
api putih (Baidh`u) dari langit membakar apa yang diqurbankan. Jika qurbannya
tidak diterima, api itu tidak muncul. Dan rupa api itu L dukhna lah wa lah
dawiyun (api yang tidak berasap dan berbunyi). Dan bila seorang laki-laki dari
mereka (Bani Isrl) bershadaqah, jika diterima turun api dari langit, lalu membakar
apa yang mereka sodaqohkan.

7. Qurban di masa Nabi zakaria As dan Nabi Yahya As.

Nabi Zakaria As dan Nabi Yahya As adalah di antara nabi dan rosul dari Bani Isroil,
pada keduanya ada qurban. Dan qurbannya adalah binatang dan Amti'atun
(barang-barang) lalu di bakar api.

8. Qurban Pada Bangsa Yahudi dan Nashrani

Bangsa Yahudi merupakan sebagian dari bani Isrl. Sementara Bani Isrl adalah
keturunan Nabi Yaqub As. Nabi Yakub bergelar, Isrl. Pada bangsa Yahudi terdapat

qurban yang biasa mereka lakukan demikian juga pada bangsa Nashrani. Qurban
pada bangsa Yahudi dan bangsa Nashrani, yaitu melakukan pengurbanan dengan
membakar sebagai sesaji yang bertujuan mengingat-ingat kesalahan, yaitu dengan
menyembelih sapi dan kambing jantan yang mulus, tidak cacat. Dengan
menghidangkan: tepung, minyak dan susu. Qurban karena adanya ketentraman,
sebagai rasa syukur kepada al-Rabb . Qurban pada bangsa Nashrani, antara lain:
Persembahan missa seorang Kahin berupa roti dan arak. Yang menurut keyakinan
pada mereka hakekatnya, roti dan arak yang mereka qurbankan ditukar dengan
daging dan darah al-Masih.

9. Qurban Pada Bangsa Arab Jahilliyah.

Bangsa Arab Jahiliyah juga suka berqurban. Qurban mereka dipersembahkan untuk
berhala-berhala yang mereka sembah. Qurbannya ada binatang yang disembelih
untuk berhala, dan ada binatang yang dilepas bebas berkeliaran, juga untuk
berhala.

Cara qurban Arab Jahiliyah, yaitu mereka jika menyembelih binatang qurban,
seperti unta, mereka percikan daging dan darahnya pada al-baet (kabah).

Arab Jahili jika mereka menyembelih binatang, memercikan darahnya pada


permukaan kabah, dan memotong-motong dagingnya lalu mereka simpan di atas
batu.

Selain qurban yang disembelih, juga ada qurban Jahiliyah yang dilepas untuk
sembahan mereka, yaitu Bahrah, sibah, washlah, hm.

* Bahrah, ialah unta betina yang telah beranak lima kali, dibebaskan, tidak boleh di
ganggu. Jika anak yang kelima jantan, mereka sembelih dan boleh dimakan baik
oleh laki-laki atau perempuan. Jika Betina dibelah telinganya, dan hanya dapat
diambil manfaatnya oleh laki-laki, tidak boleh oleh wanita. Jika betina itu mati, halal,
baik bagi laki-laki atau wanita.

* Sibah, yaitu unta jantan yang dilepas tidak boleh diganggu karena dipakai nazar
pada Thaugut-thaugut mereka. Orang Arab Jahiliyyah jika mereka sakit atau sesuatu
yang hilang kembali lagi, mereka jadikan unta jantan saibah ini sebagai qurban.

* Washlah, ialah domba betina jika melahirkan betina, mereka makan. Jika lahir
jantan dipersembahkan buat Tuhan mereka. Jika kembar, mereka tidak
menyembelih yang jantan karena buat Tuhan mereka.

* Hm, ialah unta jantan yang telah dapat membuntingkan unta betina 10 kali, tidak
boleh diganggu-gugat lagi, untuk Tuhan mereka.

Sembelihan Jahiliyyah itu terbagi tiga:

1. Untuk mendekatkan diri kepada sesuatu yang dipuja. Sembelihan untuk maksud
ini dibakar, mereka ambil kulitnya saja, dan mereka berikan kepada Kahin (dukun).

2. Untuk meminta ampun. Untuk maksud ini, dibakar separuh, dan separuhnya lagi
diberikan kepada kahin (dukun).

3. Untuk memohon keselamatan. Untuk maksud ini mereka makan.

10. Qurban Abdul Muthalib (Kakek Nabi SAW).

Pada waktu Ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib, belum dilahirkan. Abdul
Muthalib pernah bernazar kepada berhalanya, bahwa jika anaknya laki-laki sudah
ada sepuluh orang , maka salah seorang dari mereka akan dijadikan qurban di muka
berhala yang ada di sisi Ka'bah yang biasa di puja oleh bangsawan Quraisy. Oleh
sebab itu, setelah istri Abdul Muthalib melahirkan anak laki-laki maka mereka itu
genaplah sepuluh orang.

Abdul Muthalib bermimpi pada suatu malam ada suara yang memanggil, yang ia
tidak mengerti maknanya, yaitu, Ihfir Thayyibah!, lalu pada malam kedua bermimpi
lagi, Ihfir Barrah!, berikutnya bermimpi, Ihfir Madhmnah! dan malam keempat
suara dalam mimpinya yaitu, Ihfir Zamzam!. Setelah itu baru ia mengerti dan
bermaksud untuk melaksanakan mimpinya itu.

Sebelum pelaksanaan qurban itu, Abdul Muthalib mengumpulkan semua anak lakilakinya dan mengadakan undian. Pada saat itu undian telah jatuh pada diri
Abdullah. Padahal Abdullah itu seorang anak yang paling muda, yang paling bagus
rupanya, dan yang paling dicintainya. Tetapi apa boleh buat, undian jatuh
kepadanya, dan Abdullah menurut saja apa yang menjadi kehendak ayahnya.

Seketika tersiar kabar di seluruh kota Mekkah, bahwa Abdul Muthalib akan
mengurbankan anaknya yang paling muda. Namun ketika itu orang-orang quraisy
menolak dan menghalanginya. Hingga mereka mendatangi seorang al-Arfat yaitu
kahin di Yatsrib. Kahin Yatsrib menghukumi mereka supaya mengundi antara
Abdullah dengan unta. Bila keluar unta, maka sembelih unta. Jika yang keluar
Abdullah maka setiap kali keluar diganti dengan 10 ekor unta. Lalu mereka kembali
ke Makkah, dan melakukan undian antara Abdullah dengan 10 ekor unta. Undian
pertama keluar Abdullah, lalu diganti dengan 10 ekor unta. Hal ini berulang sampai
undian yang kesembilan yang keluar Abdullah, baru yang kesepuluh keluar unta.
Maka Abdul Muthalib mengganti Abdullah dengan 100 ekor unta untuk berqurban.
Dan dengan demikian Abdullah urung untuk dijadikan qurban oleh ayahnya.

Dengan adanya peristiwa itu. Maka Nabi SAW setelah beberapa tahun lamanya
menjadi rosul pernah bersabda,'Aku anak laki-laki dari dua orang yang di sembelih
"Ibnu Dzabihain"."

11. Qurban Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW melakukan qurban pada waktu Haji Wada di Mina setelah
solat Iedul Adha. Beliau menyembelih 100 ekor unta, 70 ekor di sembelih dengan
tangannya sendiri dan 30 ekor di sembelih oleh Sayyidina Ali Ra.

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah,
kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama
Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat).
kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri
makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak memintaminta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta
itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur." (Al Hajj:36).

Ayat ini menjelaskan binatang yang dijadikan qurban, tujuan qurban, cara
menyembelih hewan qurban, kapan memakan daging qurban, siapa yang dapat
memakan daging qurban. Binatang qurban, yaitu al-Budnu, dalam bahasa ialah
nama yang khusus bagi unta. Sedangkan sapi dipandang sama menempati tempat
unta dalam hukumnya karena Nabi Saw berkata, "Unta dijadikan dalam tujuh
(bentuk) dan sapi merupakan bagian dari ketujuh bentuk itu."

WaAllhu A'lam bi showab.

Kisah Kesabaran Nabi Ismail (Sejarah Hari Idul Adha)


14 Oktober 2010 pukul 19:20
Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba,
300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun
terkagum-kagum atas kurbannya.

Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki,
pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya, kata Nabi Ibrahim AS,
sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang
diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT
agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat
itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama
Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya
memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".

Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada
malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, Hai
Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).

Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu
dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari
tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).

Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya,
beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah
disebut dengan hari Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang
berada di tanah Arafah.

Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya,
beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga
hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS
bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah
100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira
bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih
unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang
menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.

Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, Sesungguhnya Allah SWT
memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail. Beliau terbangun seketika, langsung
memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah
SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata,
Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu
kepada Allah. Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta
meminyaki dan menyisir rambutnya.

Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan
membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan
belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera
mendekati ayahnya.

Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu? seru Iblis.

Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya), jawab Nabi Ibrahim AS.

Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. Mengapa kau
hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih? goda
Iblis.

Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya? jawab Hajar.

Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?
rayu Iblis lagi.

Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya? jawab Hajar balik bertanya.

Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu, goda Iblis meyakinkannya.

Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku
sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan
mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa! jawab Hajar dengan mantap.

Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya
penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, Hai Ismail!
Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu
ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,

Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku? jawab Ismail dengan heran.
Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu kata Iblis meyakinkannya.

Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa
ragaku, jawab Ismail dengan mantap.

Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail
memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah
matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal
dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.

Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, Wahai anakku!
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa
pendapatmu? (QS. Ash-Shfft, [37]: 102).

Ia (Ismail) menjawab, Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya
Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. Ash-Shfft, [37]: 102).

Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan
Alhamdulillh) sebanyak-banyaknya.

Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, Wahai ayahanda!
Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku
agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah
agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu
melihatnya tentu akan turut berduka.

Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses
mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan
baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, Wahai ibu! Bersabarlah
dalam melaksanakan perintah Allah. Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke
rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah
melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka
rasa sedih di hati ayah, sambung Isma'il.

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, Sebaik-baik kawan
dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!

Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya
yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.

Ismail berkata, Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak
dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat
megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karenaNya.

Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah
anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat
tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu
terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu,
dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi
mengapa kau tak mampu menembus daging? gerutu beliau.

Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih,
sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, jangan disembelih. Jika begitu, kenapa aku
harus menentang perintah Allah?

Allah SWT berfirman, Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shfft, [37]: 106)

Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah
dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang
membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan
pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya bertakbir (Allhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya
dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas
mengagungkan asma Allah, Allhu Akbar, Allhu Akbar, Allhu Akbar. Nabi Ibrahim AS
menyahut, L Ilha Illallhu wallhu Akbar. Ismail mengikutinya, Allhu Akbar wa lillhil
hamd. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Meskipun waktu untuk qurban sudah berlalu, namun tak ada salahnya juga
bila kita kembali mengingat sejarah mengenai berqurban itu sendiri. Artikel
dibawah ini saya dapat copas dari blog sebelah, silakan disimak.
Qurban adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT,
sebagai wujud penghambaan kepada-NYA. Qurban yang pertama kali
dilakukan adalah Qurbannya putra-putra Nabi Adam AS, yaitu Qabil dan
Habil, dimana Qabil berqurban hasil tani yang paling buruk, dan Habil
berqurban dengan domba yang paling bagus. Dan Allah menerima qurban
Habil bukan karena bentuknya bagus, tapi karena keikhlasannya mengurban
yang terbaik kepada Allah.

Qurban berikutnya adalah qurban yang dilakukan nabi Ibrahim AS,


ketika beliau diperintah Allah menyembelih Ismail putra satu-satunya pada
saat itu. Seperti Allah gambarkan dalam surat 37 ayat 102.

Nabi Ibrahim AS sampai usia lanjut belum juga diberikan seorang anak
oleh Allah, akan tetapi beliau tidak pernah berhenti berdoa meminta anak
yang sholeh, doa ini Allah abadikan dalam surat 37 ayat 100.Ketika anak itu
menjelang dewasa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih
putranya, maka disampaikan hal ini kepada Ismail, lalu Ismailpun menjawab,
Ayah kalau itu perintah Allah lakukan ayah, semoga aku termasuk orang
yang sabar.
Allah menguji nabi Ibrahim dan Ismail dengan perintah ini, dan keduanya
sukses menjalankan perintah ini. Maka kemudia Allah dalam ayat-ayat
berikitnya dari surat 37 menjelaskan beberapa hal penting berikut ini :
1. Allah mengucapkan salam sejahtera kepada nabi Ibrahim, dikarenakan
kecintaannya kepada anak tidak menutup mata beliau untuk lebih
mengutamakan kecintaannya kepada Allah.
2. Nabi Ibrahim diberikan lagi putra yang diberinama ishak, artinya bagi
orang yang mau berqurban dijalan Allah akan diberikan sesuatu yang
boleh jadi diluar jangkauan aqalnya. Karena menurut aqal siti sarah
isteri beliau yang pertama sudah tua, tapi Allah berkehendak lain, siti
sarah hamil dan melahirkan ishaq.
3. Allah memberkahi kelurga Nabi Ibrahim dengan keturunnya jadi Nabi
dan Rasul, maka orang yang qurban insyaallah kelurganya akan
diberkhkan oleh Allh SWT, amiin.

Asal Mula Hari Raya Qurban / Idul Adha

Terjadinya sumur Zamzam


Nabi Ibrahim AS menikah untuk kedua kalinya dengan Hajar, salah seorang
pembantu yang berakhlak mulia, atas saran dari istrinya Sarah. Hal itu karena
hingga usia mereka yang semakin lanjut, mereka belum juga dikaruniai anak.
Sementara Nabi Ibrahim berharap bisa memiliki keturunan untuk meneruskan
dakwahnya. Atas izin Allah, tidak berapa lama kemudian Hajar mengandung dan
melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim AS sangat bersuka
cita. Namun Sarah yang semula begitu menyetujui pernikahan mereka, merasa
cemburu melihat Hajar dapat memberi suaminya seorang putra.
Kenapa bukan aku? pikirnya.
Setelah kecemburuannya tak tertahankan lagi, ia meminta suaminya untuk
mengusir Hajar.
Suamiku, bawalah Hajar dan anaknya Ismail pergi dari sini, aku tidak tahan
melihatnya, pinta Sarah.
Tapi, Hajar baru saja melahirkan dan Ismail masih bayi merah, tidak kasihankah
engkau pada mereka? tanya Nabi Ibrahim AS.
Aku tidak dapat menahan kecemburuanku melihat anugerah yang diberikan Allah

pada Hajar, tolonglah bawa mereka pergi jauh-jauh! Sarah memohon.


Nabi Ibrahim terdiam. Kemudian turunlah wahyu Allah yang memerintahkannya
untuk membawa Hajar dan Ismail ke sebuah gurun pasir. Maka ia segera
menyiapkan perbekalan untuk perjalanan mereka. Esoknya berangkatlah ketiga
anak beranak ini dari Palestina menuju gurun pasir yang tandus.
Berhari-hari mereka mengarungi gurun pasir yang tandus dan terik hingga tibalah
mereka di suatu tempat yang sekarang bernama Mekah. Allah memerintahkan Nabi
Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat itu.
Istriku, disinilah aku harus meninggalkan engkau dan Ismail. Sementara aku harus
kembali ke Palestina dan meneruskan dakwahku, kata Nabi Ibrahim AS.
Mendengar kata-kata suaminya, Hajar menangis karena ketakutan.
Suamiku tegakah engkau meninggalkan aku dan anakmu yang baru lahir ini di
padang tandus tak berpenghuni ini? tangisnya. Kemana nantinya aku encari
perlindungan?
Hajar istriku. Tentu saja berat hatiku meninggalkan kalian berdua di sini. Tapi ini
adalah perintah Allah. Percayalah pada perlindungan-Nya. InsyaAllah Ia akan selalu
menolongmu, kata Nabi Ibrahim AS.
Hajar segera menyadari tugas yang diemban suaminya sebagai Nabi, maka dengan
ikhlas ia merelakan suaminya untuk kembali ke Palestina.
Nabi Ibrahim AS segera memanjatkan doa, memohon perlindungan Allah untuk
anak dan istrinya, Ya Allah lindungilah anak dan istriku dan muliakanlah tanah ini di
kemudian hari.
Kemudian dengan perasaan berat ia berpamitan kepada Hajar dan mencium kening
Ismail.
Sepeninggal Nabi Ibrahim, Hajar terduduk di tengah gurun. Matahari seolah ingin
membakar semua makhluk yang ada di bawahnya. Setan yang senang menggoda
manusia, membisikkan pikiran-pikiran jahat di benak Hajar.
Hai Hajar. Percayakah engkau dengan yang diucapkan suamimu? Allah tidak
mungkin memberikan perintah yang kejam. Itu pastilah akal-akalan suamimu untuk
mengusir kalian, bisiknya.
Demi Allah, aku percaya dengan kemuliaan suamiku. Pergilah dari pikiranku! Hajar
berbicara dalam batinnya.
Untuk menentramkan hati, Hajar memanjatkan doa kepada Allah SWT, Ya Allah
yang Maha Agung lindungilah hambaMu. Dan berilah hamba ketabahan serta
kesabaran yang tinggi.

Sebentar saja perbekalan mereka habis. Tak ada air yang tersisa.
Ismail mulai menangis karena kelaparan dan kehausan. Hajar mencoba
menyusuinya, namun tak setetes pun ASInya yang keluar. Ia mulai panik. Ia
mencoba memeras kerudungnya, berharap ada keringatnya yang bisa diminum
Ismail, tapi keringatnya pun kering. Ia meletakkan putranya di tanah.
Anakku, tunggulah di sini. Ibu akan mencoba mencari air. Mudah-mudahan di bukit
itu ada mata airnya, kata Hajar.
Lalu ia berlari-lari kecil mendaki bukit Shofa hingga ke puncaknya. Alangkah
kecewanya ia, karena tidak setetes air pun yang ditemukannya. Dari puncak bukit
Shofa ia melihat bahwa di bukit satunya (bukit Marwah) sepertinya ada mata air.
Maka ia kembali berlari menuruni bukit Shofa dan mendaki bukit Marwah. Namun
ternyata yang dilihatnya hanyalah fatamorgana. Tak ada air di sana. Bukit itu sama
tandusnya. Tiba-tiba ia melihat bahwa di bukit Shofa ada mata air.
Segera ia kembali menuju bukit Shofa dan menemukan bukit itu tandus. Ia terus
berlari bolak-balik antara Shofadan Marwah hingga tujuh kali. Inilah nantinya yang
dalam ibadah haji disebut Sai.
Hajar sangat kelelahan dan hampir putus asa. Tiba-tiba ia melihat Ismail yang masih
menangis, menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Dari hasil hentakkannya itu
keluarlah air yang memancar. Hajar segera berlari mendekati anaknya. Air iu
memancar deras dan menyebar kemana-mana.
Zam zam! kata Hajar yang artinya berkumpullah.
Air itu kemudian berkumpul dan membentuk sebuah genangan yang luas. Dengan
gembira Hajar memberi minum putranya hingga kenyang, lalu ia pun minum untuk
menghilangkan dahaganya.
Mimpi Nabi Ibrahim AS
Dalam mimpinya ia merasa mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih
Ismail. Nabi Ibrahim AS terbangun dengan terkejut.
Astaghfirullah, kata Nabi Ibrahim AS dalam hati. Mungkinkah setan yang telah
memberiku mimpi buruk ?
Pada waktu itu para pedagang sering melintasi padang gurun tersebut. Mereka
terkejut dengan kemunculan kolam mata air itu. Terlebih lagi melihat keberadaan
Hajar dan Ismail di tempat itu.
Nyonya, kami adalah rombongan pedagan yang akan pergi ke negeri jauh.

Ijinkanlah kami beristirahat dan mengisi perbekalan air kami, kata ketua
rombongan.
Tentu saja anda boleh. Ambillah air hadiah dari Allah ini. Tapi bolehkah kami
meminta sedikit makanan untuk kami? kata Hajar.
Dengan senang hati, kata ketua rombongan.
Lama-kelamaan semakin banyak pedagang yang lewat dan mampir di air Zamzam
untuk mengisi perbekalan. Hajar dan Ismail dianggap sebagai pemilik air Zamzam
tersebut. Bahkan mereka membangunkan tempat tinggal untuk mereka berdua.
Kemudian banyak dari pedagang dan musafir yang meminta izin untuk menetap
sehingga tempat itu menjadi perkampungan yang ramai dan subur. Hajar dan Ismail
tidak sendiri lagi. Maha kuasa Allah yang telah menjawab doa hambaNya.
Beberapa tahun kemudian, Nabi Ibrahim AS datang untuk mengunjungi istri dan
anaknya. Ia sangat heran melihat perubahan yang terjadi.
Ki sanak, apakah di tempat ini ada seorang perempuan bernama Hajar dan
putranya Ismail? tanya Nabi Ibrahim AS kepada seorang penduduk.
Oh tentu saja. Mereka adalah pemilik sumur Zamzam. Mereka biasanya sedang
menggembalakan ternaknya di Arofah, jawab penduduk.
Terima kasih, kata Nabi Ibrahim AS.
Akhirnya Nabi Ibrahim menemukan istri dan anaknya yang sedang menggembala.
Mereka berpelukkan dengan bahagia.
Bagaimana kabarmu istriku? tanya Nabi Ibrahim AS.
Alhamdulillah, Allah selalu melindungi kami, jawab Hajar. Ini adalah Ismail
putramu. Nak ini adalah ayahmu.
Ismail mencium tangan Nabi Ibrahim AS.
Maafkan ayahmu nak. Karena telah meninggalkan kalian begitu lama, kata Nabi
Ibrahim AS.
Tidak apa-apa ayahanda. Itu sudah takdir Allah, jawab Ismail bijak.
Mari kita pulang ke rumah. Pastinya engkau capai dan ingin beristirahat, ajak
Hajar.
Baiklah, kata Nabi Ibrahim AS.

Perintah berqurban
Mereka segera beranjak dari Arofah. Namun setibanya di Mudzdalifah Nabi Ibrahim
AS mengajak mereka untuk beristirahat sejenak. Saking capainya mereka ketiduran.
Saat itu Nabi Ibrahim AS bermimpi. Dalam mimpinya ia merasa mendapatkan
perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim AS terbangun dengan
terkejut.
Astaghfirullah, kata Nabi Ibrahim AS dalam hati. Mungkinkah setan yang telah
memberiku mimpi buruk? Namun esok malamnya, mimpi itu terulang kembali
hingga tiga kali. Akhirnya ia membicarakan hal itu kepada Ismail.
Nak, sesungguhnya ayah telah bermimpi sebanyak tiga kali. Dan dalam mimpiku,
Allah memerintahkanku untuk menyembelihmu. Bagaimana menurut
pendapatmu? tanya Nabi Ibrahim AS.
Ayahku, jika memang mimpi itu perintah Allah, maka laksanakanlah. Insya Allah
engkau akan mendapatiku sebagai anak yang berbakti dan sabar, jawab Ismail.
Nabi Ibrahim AS sangat bersedih hingga menitikkan air mata. Bagaimana tidak,
setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kini ia harus menyembelih putera
tercintanya. Ismail memantapkan hati ayahnya.
Maka esoknya Ismail berdandan dengan baju terbaiknya. Kepada Hajar mereka
pamit untuk berjalan-jalan. Di tengah jalan mereka bertemu seseorang..
Hai Ibrahim. Betapa kejam hatimu hingga tega menyembelih anakmu sendiri,
katanya.
Nabi Ibrahim AS segera menyadari siapa yang menegurnya. Ia mengambil batu
kerikil dan melempari orang itu. Kelak inilah yang dalam ibadah haji disebut
Jumratul Ula.
Dengan nama Allah pergilah kau setan, kata Nabi Ibrahim AS.
Setan itu pun lari ketakutan dan menghilang.
Lalu muncul lagi orang yang kedua. Ia pun mengatakan hal yang sama dan Nabi
Ibrahim AS melemparinya dengan batu juga. Inilah yang disebut Jumratul Wustha.
Muncul lagi yang terakhir yang juga dilempari batu oleh Nabi Ibrahim AS. Yang ini
disebut sebagai Jumratul Aqobah. Kemudian sampailah mereka di bukit Mina tempat
Nabi Ibrahim AS akan menyembelih Ismail.
Nak, benarkah kau ikhlas dengan perintah Allah ini? tanya Nabi Ibrahim AS.
InsyaAllah, jawab Ismail. Tapi aku meminta padamu untuk meringankan deritaku.
Ikatlah kedua tangan dan kakiku. Tutuplah mukaku dengan baju ini. Percepatlah

gesekan pedangmu. Lalu sampaikan salam dan berikan pakaianku kepada ibuku
untuk kenang-kenangan.
Baik anakku. Aku akan melakukan permintaanmu, kata Nabi Ibrahim AS dengan
hati hancur.
Ismail berbaring terlentang di atas sebuah batu, sementara pedang Nabi Ibrahim AS
telah berada di lehernya.
Bismillahirrohmanirrohiim.. suara Nabi Ibrahim AS begitu gemetar.
Sesaat sebelum pedangnya menyentuh kulit Ismail, terdengar suara ghaib
memecah angkasa.
Wahai Ibrahim kau telah membuktikan ketaatanmu kepada Allah. Dan Allah
berkenan memberimu balasan yang setimpal.
Di depan Nabi Ibrahim AS kini berdiri sesosok malaikat yang bercahaya. Ia
menuntun seekor domba yang besar dan bagus.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.. salamnya.
La Ilaaha Illalahu, Allahu Akbar.. sahut Nabi Ibrahim AS.
Allahu Akbar, Walillahil Hamdu, lanjut Ismail.
Wahai Ibrahim. Allah memerintahkan untuk mengganti kurbanmu dengan seekor
domba. Sembelihlah domba itu sebgaia ganti anakmu. Makanlah dagingnya dan
jadikanlah hari ini sebagai hari raya bagimu. Sedekahkanlah sebagian dagingnya
kepada fakir miskin. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang
taat, kata Malaikat.
Nabi Ibrahim AS dan Ismail sangat gembira. Mereka menyembelih domba tersebut
dan membagi-bagikan sebagian dagingnya kepada fakir miskin. Begitulah asal mula
adanya Hari Raya Idul Adha atau Hari aya Qurban atau disebut juga Hari Raya Haji.

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam hitungan tahun Masehi setiap muslim selalu memperingati
Hari Raya Idul Adha, ada juga yang menyebut Hari Raya Haji atau Hari Raya Qurban.
Sebenarnya seperti apa sih sejarah atau kisah Hari Raya Qurban itu? Berikut ini kami dari
infoting akan berbagi kisah Hari Raya Idul Adha. Semoga dengan artikel ini bisa membantu anda
untuk memahami kisah dan sejarah Hari Raya Qurban itu.

Kisah Hari Raya Idul Adha : Awal mula Qurban itu adalah, mimpinya Nabi Ibrahim yang
terjadi secara berturut turut, dimana dalam mimpi itu Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT
untuk meyembelih putera kesayangannya. Ismail adalah putera semata wayang, atau putera satu
satunya yang disayang dan dicintainya, yang ditunggu selama bertahun tahun untuk
mendapatkannya. Ismail adalah seorang anak yang penurut, patuh pada orang tua dan perintah
Allah, Anak Ceria dan Cerdas. Tentu saja Ibrahim hatinya terguncang dengan mimpi yang
memerintahkan untuk menyembelih ismail.
Namun Ibrahim tidak bisa berbuat banyak karena itu adalah perintah langsung dari Allah SWT.
Kemudian setelah mimpi yang ketiga, dipanggillah Ismail. dan lebih kurang dialog mereka
adalah seperti berikut ini:
Ibrahim : "wahai anakku, tiga malam berturut turut ini ayah bermimpi mendapatkan perintah
dari Allah SWT untuk menyembelihmu, bagaimana menurutmu nak?" sungguh berat lidah ini
untuk berujar nak, tapi ini adalah perintah-NYA.
Ismail : Ayahku, Lakukanlah jika itu adalah perintah dari Allah SWT. maka aku akan tegar
dengan penuh kesabaran karena Iman.
Mendengar ucapan Ismail, tentu saja Ibrahim sangat terkejut karena putera kesayangannya begitu
ikhlas menerima perintah dari Allah SWT.
Namun tidak mudah bagi Ibrahim untuk menjalankan perintah itu karena setan terus menggoda
agar perintah itu tidak dilaksanakan, Setan menggoda Ibrahim tidak sukses, kemudian menggoda
Ismail - tidak juga sukses, Menggoda isteri Ibrahim namun tidak juga berhasil.
Kemudian tibalah hari H, yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah, Ibrahim dan puteranya pergi ke tanah
lapang untuk menjalankan perintah Allah - menyembelih Ismail yang tidak lain adalah putera
nabi Ibrahim. Agar anaknya tidak merasakan sakit, pedang yang akan digunakan untuk
menyembelih di asah setajam mungkin. Dalam perjalanan itu Setan terus menggoda agar proses
penyembelihan dibatalkan, Namun keyakinan Ibrahim dan Ismail telah bulat maka Setan yang
terus menggoda tadi dilempari Batu oleh Ibrahim dengan menyebut "Bismillahi Allahu Akbar..."
- dimana ritual lempar batu itu hingga kini diterapkan dalam urutan ibadah haji yaitu Lempar
Jumrah.
Allah SWT punya kuasa, Ismail yang telah siap untuk disembelih dengan kuasa-NYA digantilah
Ismail dengan Domba yang besar, bersih dan sehat.
dan mulai saat itu, setiap tahun setiap muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih
Qurban, boleh domba, sapi, kerbau atau Unta. dimana waktu penyembelihan itu adalah setiap
tanggal 10 Dzulhijjah.
Tidak lama lagi Idul Adha akan tiba, maka persiapkanlah untuk menyembelih qurban untuk
dibagi bagikan kepada yang berhak menerimanya, Jika anda sudah punya banyak rejeki maka
jangan lupa untuk menunaikan Ibadah Haji seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT.