Você está na página 1de 50

BUKU AJAR

EKOTOKSIKOLOGI
(BIO 409)

DISUSUN OLEH:
ANDHIKA PUSPITO NUGROHO, M.Si.

FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
JULI 2004

Minggu I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ekotoksikologi dari kata Ekologi dan Toksikologi

timbul karena adanya

efek bahan kimia di lingkungan (ekosistem) organisme

Ekotoksikologi
mempelajari efek toksik substansi (substances) pada non human species dalam suatu
kompleks sistem (system) (Gambar 1).

Gambar 1. Ekotoksikologi merupakan studi multidisipliner mengenai efek toksik


substansi pada species dalam kompleks sistem (Leuween 1995).
Tabel 1 menunjukkan disiplin dan bidang kajian ekotoksikologi.

Tabel 1. Disiplin ekotoksikologi dan beberapa topik penelitian (Leuween 1995).


Kimia

Ekologi

Toksikol

Matematik

Exposure

Effect
ogi assessment

Struktur komunitas

Envi. fate amodels

assessment

Modes of toxic

Fungsi komunitas

Phamacokinetic

Transpor

action

Dinamika populasi

models LC50 &

Partitioning

Bioakumulasi

Siklus nutrien

NOEC statistics

Transformasi

Biotransformasi

Various

Species2

SARs/QSARs

Ekstrapolasi

interactions

extrapolation
Population

&

ecosystem models
Efek ekotoksikologis yang dipelajari merupakan respon pada tingkat organisasi
biologis, dari tingkat molekular-ekosistem (Gambar 2). Berdasarkan gambar tersebut,
perubahan biokimiawi merupakan salah satu respon molekular yang dapat dipelajari.
Respon biokimiawi terjadi dalam waktu paling singkat, setelah organisme
mengalami pendedahan suatu bahan kimia (polutan). Selain itu, respon tersebut
merupakan respon yang paling mudah untuk mengetahui hubungan respon dengan
bahan kimia spesifik. Namun, berdasarkan relevansi ekologis, respon biokimiawi
menunjukkan relevansi yang paling rendah.

Gambar 2. Skema hubungan antara respon terhadap polutan pada tingkat organisasi
biologis dengan peningkatan waktu respon, peningkatan kesulitan untuk
mengetahui hubungan respon dengan bahan kimia spesifik, dan
increasing importance (Walker et al. 2001).

Adanya polutan dalam suatu lingkungan (ekosistem), dalam waktu singkat,


dapat menyebabkan perubahan biokimiawi suatu organisme. Selanjutnya perubahan
tersebut dapat mempengaruhi perubahan fisiologis dan respon organisme, perubahan
populasi, komposisi komunitas, dan fungsi ekosistem (Gambar 2). Perubahan
biokimiawi sampai dengan ekosistem menunjukkan adanya peningkatan waktu respon
terhadap bahan kimia, peningkatan kesulitan untuk mengetahui hubungan respon
dengan bahan kimia spesifik, dan increasing importance.
Berdasarkan Gambar 2, apabila terjadi perubahan komposisi komunitas, hal
tersebut diawali dengan adanya perubahan biokimiawi individu individu dari
populasi penyusun komunitas, yang selanjutnya diikuti perubahan fisiologis, respon
organisme (kematian dan kemampuan reproduksi), dan perubahan populasi, yang
pada akhirnya mempengaruhi komposisi komunitas.
Gambar 3 menunjukkan sumber, distribusi, transpor, dan transformasi polutan
serta efek (respon) pada individu, populasi, komunitas, dan ekosistem. Berdasarkan
gambar tersebut, polutan dilepaskan dari sumber polutan ke dalam ekosistem,
selanjutnya mengalami proses distribusi dan transpor melalui daur atau siklus
biogeokimia serta mengalami transformasi, balk secara fisik atau biologis. Polutan
tersebut kemudian dapat diuptake oleh organisme dan dapat menyebabkan efek
lethal (kematian) dan sublethal. Dalam tubuh organisme, polutan dapat mengalami
biotransformasi dan bioakumulasi. Selanjutnya, terjadi perubahan karakteristik dan
dinamika populasi (reproduksi, imigrasi, recruitment, mortalitas), struktur dan fungsi
komunitas (diversitas spesies, perubahan hubungan predator prey), dan fungsi
ekosistem (respirasi terhadap rasio fotosintesis, laju siklus nutrien, dan pola aliran
nutrien).
Rute masuknya polutan ke dalam lingkungan
1.

Secara alami

a. Mengikuti daur biogeokimia


b. Pelapukan batuan
c. Aktivitas/letusan gunung berapi
2.

Disebabkan aktivitas manusia

a. Pelepasan unintended (kecelakaan nuklir, penambangan, kecelakaan kapal)


b. Pembuangan berbagai jenis limbah ke lingkungan secara sengaja maupun
tidak sengaja

c. Aplikasi biocide dalam penanganan hama dan vektor

Gambar 3. Sumber, distribusi, transpor, dan transformasi polutan serta respon


terhadap polutan pada organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem
(Francis 1994).

Minggu II
KELAS UTAMA POLUTAN
Klasifikasi utama polutan (Walker et al. 2001 : 3 22)
1.

2.

Ion anorganik
a.

Metal : kadmium (Cd), timbal (Pb), seng (Zn), mangan (Mn), merkuri (Hg)

b.

Anion : nitrat dan fosfat

Polutan organik
Senyawa organik : senyawa yang mengandung karbon (C), kecuali CO 2 dan
CO

3.

a.

Hidrokarbon : Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH)

b.

Polychlorinated Biphenyls (PCBs)

c.

Polychlorinated Dibenzodioxins (PCDDs)

d.

Polychlorinated Dibenzofurans (PCDFs)

e.

Polybrominated Biphenyls (PBBs)

f.

lnsektisida organoklorin (DDT, aldrin, dieldrin, dan lindane)

g.

Insektisida organofosfat

h.

lnsektisida karbamat

i.

Insektisida piretroid

j.

Herbisida fenoksida

k.

Rodentisida antikoagulan I. Deterjen m. Klorofenol

Senyawa organometalik
Senyawa hasil ikatan antara logam dengan ligan organik, misalnya senyawa
organomerkuri (metilmerkuri) dan organotimbal

4.

Isotop radioaktif (radionuklida)

5.

Polutan gas
Ozon (03) dan oksida karbon, nitrogen, dan sulfur

Minggu III
EMISI DAN TRANSPOR POLUTAN SERTA NASIB POLUTAN DALAM
LINGKUNGAN
A. Emisi dan Tipe Emisi
Emisi
Pelepasan polutan dari sumbernya atau pelepasan polutan ke dalam
kompartemen lingkungan yang lain atau yang lebih lugs (kompartemen
lingkungan dibedakan menjadi air, tanah atau sedimen, udara, dan
organisme).
Secara alami, emisi suatu substansi ke dalam kompartemen lingkungan yang
lain, dapat disebabkan adanya letusan gunung berapi (gas SO2), pelapukan
batuan (mineral), adanya angin (Pb di udara, yang berasal dari kendaraan
bermotor, dapat terbawa angin dan terdeposisi dalam tanah) atau terbawa air .
Tipe emisi :
1.

Continuous emissions
Emisi yang terjadi dengan laju aliran konstan dalam periode waktu yang
panjang
Contoh

: emisi bahan kimia dari proses produksi yang kontinyu (kilang


minyak-oil refinery).

2.

Block emissions
Emisi dengan laju aliran yang konstan pada waktu tertentu dan terdapat
interval waktu tanpa atau rendah emisi.
Contoh

: emisi dari lalu lintas dalam sehari, pada jam sibuk, terjadi emisi
gas buangan kendaraan bermotor yang tinggi.

3.

Peak emissions
Emisi polutan dalam jumlah besar, yang terjadi dalam waktu singkat, tetapi
jarak antar emisi dapat terjadi dalam waktu yang lama.
Contoh

: emisi spent liquid setelah isolasi suatu substansi dalam batch


process.

Berkaitan dengan emisi, ada beberapa tipe sumber polutan :


1.

Point sources
Sumber polutan, berupa satu atau beberapa titik, yang dapat dikuantifikasi
berdasarkan jumlah polutan yang diemisikan dari sumber.

2.

Diffuse sources
Kumpulan small point sources dengan tipe sama

3.

Line sources
Kumpulan besar small point sources dengan tipe sama (mobile), yang
terdistribusi sepanjang jalur tertentu.

4.

Area sources
Konsentrasi sejumlah point sources

Emisi berhubungan dengan risk assessment where and when?


B. Transpor
Setelah masuk ke dalam lingkungan, bahan kimia ditranspor dan dapat
ditransformasi menjadi bahan kimia yang lain. Transpor dapat terjadi dalam suatu
kompartemen, misalnya dalam udara atau tanah, atau antar kompartemen, antara
air udara, udara - tanah, dan air - tanah (Gambar 4).
Mekanisme transpor :
1.

Transpor Intramedia (dalam suatu kompartemen)


Transpor intramedia terjadi dalam kompartemen yang mobile, yaitu air dan
udara, melalui mekanisme adveksi dan dispersi. Adveksi menyebabkan bahan
kimia berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, sebagai hasil aliran atau
pergerakan medium (kompartemen). Sedangkan dispersi menyebabkan
terjadi perpindahan bahan kimia, yang disertai dengan penurunan gradien
konsentrasi.

2.

Transpor Intermedia (antar kompartemen)


Transpor intermedia jugs terjadi melalui mekanisme adveksi dan dispersi.
Proses adveksi terjadi jika suatu bahan kimia ditranspor dari suatu
kompartemen ke kompartemen lain oleh adanya physical carrier, misalnya
deposisi fog, raindrop, dan aerosol dari udara ke tanah atau air. Intermedia
dispersi terjadi seperti intramedia dispersi, misal volatilizasi dan absorpsi gas
(udara - air dan udara - tanah).

Gambar 4. Transpor intramedia dan intermedia. 1, 5, 8 : adveksi dan dispersi


intramedia; 2, 3, 4, 6, dan 7 : adveksi dan dispersi intermedia (Berg et
al. 1995).
Dalam suatu sistem yang terdiri dari lebih dari satu fase atau kompartemen
(phase or compartment), bahan kimia cenderung untuk bermigrasi dari satu fase
ke fase yang lain (transpor intermedia), jika fase-fase tersebut belum mencapai
ekuilibrium (Gambar 5).
Faktor yang mempengaruhi tFaktor yang mempengaruhi transpoalam
lingkungan :
1.

Solubilitas dalam air


Jumlah maksimum senyawa yang larut dalam air murni pada scat ekuilibrium
dan suhu tertentu.
Solubilitas dalam air menentukan
a.

distribusi,

b.

mobilitas, dan

c.

efek bahan kimia.

Gambar 5. Sifat

senyawa

(compound

properties)

yang

menunjukkan

ekuilibrium antara 2 fase (Berg et al. 1995).


2.

Octanol water partition coefficient (Kow)


Kow merupakan rasio konsentrasi bahan kimia (X) organik pada scat
ekuilibrium dalam fase octanol dengan konsentrasi bahan tersebut (X) dalam
fase air (Gambar 6). Octanol merupakan model solven, yang dipandang
menyerupai lipid dalam organisme dan karbon organik dalam tanah. Kow
berguna untuk :

a.

Model estimasi untuk untuk pengukuran toksisitas, bioakumulasi, dan


sorption pada tanah dan sedimen.

b.

Pengukuran hidrofobisitas
Nilai Kow tergantung pada jenis bahan kimia. Gambar 6 menunjukkan

Kow

hexachlorobenzene

lebih

tinggi

dibandingkan

acetone.

Hal

ini

disebabkan hexachlorobenzene menunjukkan preferensi yang tinggi pada


octanol dibandingkan acetone.
Dalam Gambar 6, nilai Kow berbanding lurus dengan bioconcentration
factor dan soil sorption, tetapi berbanding terbalik dengan LC50.

KOW = (X) octanol / (X) water

Gambar 6. Kow merupakan rasio konsentrasi bahan kimia dalam octanol dan
air pada saat ekuilibrium. Kow digunakan untuk estimasi
biokonsentrasi, sorption, dan toksisitas (Leeuwen and Hermens
1995).
3.

Vapour pressure
The compound's tendency to evaporate into the air compartment to
affect partitioning and transport of chemicals between environmental media
(compartment).

4.

Henry's law constant


Volatilization affect transport of chemicals between the air and water
compartment. Henry's law partitioning of a chemical between a gaseous
phase and a liquid phase Henry's law (H, Pa.m3/mol).

5.

Stabilitas molekular
Molekul rekalsitran mempunyai resistensi (stabilitas) tinggi terhadap
transformasi biokimiawi dan mempunyai waktu paruh yang lama dalam biota,
tanah, sedimen, dan air.
Contoh : p,p' DDE, dieldrin, beberapa PCB, dan dioxin.

C. Nasib (fate) polutan dalam Iingkungan


Polutan yang masuk ke dalam suatu Iingkungan dapat mengalami proses
abiotik dan biotik, yang dapat mengubah struktur kimiawi polutan tersebut.
1.

Proses abiotik
a. Hidrolisis
Perubahan struktur kimiawi melalui reaksi dengan air secara langsung
b. Oksidasi
Proses transformasi, elektron ditransfer dari bahan kimia pada spesies
penerima elektron
c. Reduksi
Transfer elektron terjadi dari reduktan ke bahan kimia, untuk direduksi
d. Degradasi fotokimiawi
Transformasi melalui interaksi dengan cahaya

2.

Proses biotik
a. Biodegradasi
Pemecahan (breakdown) suatu bahan kimia secara enzimatis
b. Biotransformasi
Konversi suatu bahan kimia menjadi satu atau lebih produk dengan
mekanisme biologis

Minggu IV
NASIB POLUTAN ORGANIK DALAM INDIVIDU DAN EKOSISTEM
A. Individu
Polutan organik yang masuk ke dalam suatu ekosistem, dapat teruptake oleh
organisme, sebagai konsekuensi adanya mekanisme difusi pasif melalui natural
barrier (lipid bilayer). Sebagai contoh, masuknya polutan melalui dawn dan akar
tumbuhan; melalui kulit, saluran pencernaan, dan paru-paru pada vertebrate;
tracheae pada invertebrate terestrial, dan insang pada ikan.
Proses pergerakan polutan melalui lipid bilayer tergantung pada solubilitas
polutan. Polutan yang mempunyai keseimbangan antara solubilitas dalam lipid dan
air (Kow 1), akan dengan mullah melalui lipid bilayer. Selain itu, proses difusi
juga ditentukan fluiditas lipid bilayer. Pada suhu rendah, lipid bilayer kehilangan
fluiditas, sehingga proses difusi tidak terjadi.
Setelah melalui proses uptake, selanjutnya, polutan tersebut dapat mengalami
proses distribusi, metabolisme, dan penyimpanan dalam tubuh organisme serta
ekskresi dari tubuh organisme. Keseluruhan proses ini disebut toksikokinetik.

Gambar 7. Model yang menggambarkan nasib polutan lipofilik dalam organisme


(Walker et al. 2001).

Berdasarkan Gambar 7, setelah melalui proses uptake, polutan akan


mengalami proses distribusi dalam tubuh organisme dan dapat mencapai :
1.

Site of action
Bentuk toksik polutan akan berinteraksi dengan makromolekul, misalnya
protein atau DNA, yang menyebabkan efek toksik pada organisme.

2.

Site metabolism
Polutan dapat mengalami proses metabolisme secara enzimatis, yang
merupakan proses detoksifikasi atau bioaktivasi.

3.

Site of storage
Polutan dapat terakumulasi atau tersimpan dalam organ, tetapi tidak
berinteraksi dengan makromolekul atau mengalami metabolisme.

4.

Site of excretion
Polutan yang masuk dalam tubuh organisme dapat langsung mencapai
tempat ekskresi, untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Selain itu, juga
diekskresikan hasil metabolisme atau biotransformasi yang larut dalam air.
Gambar 8 memberikan ilustrasi mengenai proses uptake, rute distribusi,

metabolisme, dan penyimpanan polutan dalam tubuh serta ekskresi polutan dari
dalam tubuh mamalia.
1.

Metabolisme
Polutan organik dapat menyebabkan efek merugikan pada organisme.
Selain itu, berdasarkan konsep fugasitas (kecenderungan polutan (bahan
kimia) untuk berpindah dari satu fase ke fase yang lain), polutan organik dapat
terakumulasi dalam jumlah besar dalam tubuh organisme. Hal ini disebabkan
tubuh organisme mempunyai kapasitas yang besar untuk mengikat polutan
organik, dengan adanya jaringan lemak.
Apabila organisme membutuhkan energi melalui proses katabolisme
lemak, polutan organik yang semula terikat pada jaringan lemak akan terurai,
dapat &pat berinteraksi dengan sel. Berdasarkan hal tersebut, organisme
mempunyai kemampuan untuk melakukan proses biotransformasi polutan
organik menjadi produk (metabolit) yang mullah larut dalam air, dan dapat
dikeluarkan dari dalam tubuh (Gambar 9 dan 10).

Gambar 9 menunjukkan jenis polutan organik dan proses biotransformasi


yang mengarah kepada pembentukan produk yang larut dalam air. Pada
umumnya, polutan organik mengalami 2 fase biotransformasi, yaitu fase I dan
II (Gambar 10). Reaksi fase I menyebabkan polutan menjadi lebih larut dalam
air, dengan penambahan gugus polar, misal gugus OH. Fase ini merupakan
microsomal mixed function oxidase, yang dikatalisis oleh cytochrome P
450 enzim, yang terdapat dalam retikulum endoplasma sel hati (Gambar 10).
Pada reaksi fase II, hasil reaksi fase I mengalami reaksi konjugasi,
dengan penambahan agen konjugasi (Tabel 2). Hal ini bertujuan agar hasil
reaksi fase II mempunyai polaritas dan kelarutan yang tinggi serta mullah
diekskresi (Gambar 10).
Reaksi konjugasi dalam fase II dapat terjadi dalam 4 jalur, yaitu glucuronic
acid conjugation, sulphate conjugation, acetyl conjugation, dan glutathione
conjugation.
Reaksi glucuronic acid conjugation :

dimana :

O, COO or NH

UDPGA

uridine diphosphoglucuronic acid

GT

glucuronyltransferase

Tabel 2. Agen konivaasi dan enzim vana menakatalisis reaksi fase II


Agen Konjugasi

Enzim

Glucuronide

UDP glucuronyltranferase

Glutathione

Glutathionetransferase

Sulphate

Sulphotransferase

Acetyl

Acetyltransferase

Gambar 8. Proses uptake, rute distribusi, metabolisme, dan penyimpanan polutan


dalam tubuh serta ekskresi polutan dari dalam tubuh mamalia
(Manahan 1994).

Gambar 9. Jalur biotransformasi polutan dalam organisme (Berg et al 1995).

Ilustration of Phase II reactions (Manahan 1994)


Gambar 10. Reaksi fase I dan II biotransformasi (Manahan 1994).
2.

Penyimpanan
Polutan lipofilik yang masuk ke dalam tubuh organisme, dapat
mengalami proses penyimpanan. Proses ini bertujuan untuk mencegah
interaksi polutan dengan site of action. Polutan yang bersifat lipofilik
umumnya disimpan dalam jaringan lemak.

3.

Ekskresi
Beberapa vertebrata akuatik dapat mengekskresikan polutan
lipofilik melalui difusi. Ikan dapat mengekskresikan polutan tersebut melalui
insang, sedangkan katak melalui kulit yang permeabel. Burung dan
mamalia air tidak mempunyai kulit yang permeabel, sehingga ekskresi
dilakukan melalui feses atau urin. Ekskresi polutan lipofilik melalui urin
merupakan hasil proses reaksi fase I dan II biotransformasi.

Minggu V
NASIB POLUTAN ORGANIK DALAM INDIVIDU DAN EKOSISTEM
4.

Konsep Model
Model tiruan ekosistem sebagai alat analisis

interaksi komponen dalam ekosistem

seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir dalam


studi ekologis
Model dan real (realita) dihubungkan melalui dua prosedur, yaitu abstraksi
dan interpretasi
abstraction
real system

model
interpretation

Abstraction

berarti

generalisasi

parameter)

paling

-4

memilih

penting

komponen

dalam

real

(variabel,

system

dan

mengabaikan komponen yang kurang penting


Interpretation :

komponen dan perilaku model dapat menggambarkan


komponen, karakteristik, dan perilaku dari real system.

Modelling strategy :

1.

Select optimal level of complexity

2.

Never plan model development for more than 1 year

3.

Avoid the temptation to incorporate all available information into the model

4.

Follow specific objectives, don't try to make a universal model

5.

If possible, incorporate already existing models

System properties and model properties :

1.

Many system propeties are not represented in the model

2.

Some model properties cannot be found in real systems

Sistem
Kumpulan komponen yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu
keseluruhan yang terpadu
Ciri sistem

5.

1.

Adanya masukan

2.

Adanya keluaran

3.

Adanya organisasi

4.

Mengandung hirarki

5.

Memungkinkan umpan- balik

6.

Dapat dibuat simulasi

7.

Dapat dibuat model

Model Toksikokinetik (Toxicokinetic Models)


Model toksikokinetik untuk mendeskripsikan dan memprediksi laju uptake,
laju eliminasi, dan biokonsentrasi toksikan dalam organisme. Model yang
sederhana dapat terdiri dari 2 kompartemen :
1.

Organisme

2.

Lingkungan di sekitarnya

Dalam model tersebut


dapat

menunjukkan

perpindahan

toksikan

antar

kompartemen,

yaitu

perpindahan toksikan dari lingkungan sekitar organisme ke dalam organisme,


dan perpindahan toksikan dari dalam tubuh organisme ke lingkungan
sekitarnya (Berg et al. 1995).
Menurut Berg et al. (1995), Widianarko dan Straalen (1996), dan Hattum
(1995), peningkatan atau penurunan konsentrasi toksikan dalam organisme
akuatik dapat dinyatakan dalam fungsi waktu :
dCo/dt = kwCw - keCo

(persamaan 1)

dimana,
Co

= konsentrasi toksikan dalam tubuh organisme (mol/kg)

Cw

= konsentrasi toksikan dalam air (mol/L)

kw

= laju uptake toksikan (L/kg.d)

ke

= laju eliminasi toksikan (l/d)

Bila organisme secara kontinu terdedah oleh suatu toksikan, maka


Co (t) = Cwkw/ke[1 e-ke.t]

(persamaan 2)

Laju uptake dapat diperoleh dari inisial uptake toksikan, dengan asumsi, tidak terjadi
eliminasi toksikan, sehingga
Co = kwCwt

(persamaan 3)

Dalam t , e-ke.t mendekati nol, dan steady state akan dicapai (dC o/dt = 0),
sehingga faktor biokonsentrasi (BCF) dapat ditentukan,
BCF = Co/C, = kw/ke

(persamaan 4)

Rasio konsentrasi toksikan dalam organisme akuatik dan air (C o/Cw) (persamaan 4),
hanya merepresentasikan biokonsentrasi pada steady state. Jika konsentrasi
dalam organisme dan air ditentukan sebelum steady state diperoleh, maka rasio
Co/Cw akan mengunderestimate nilai BCF. Tetapi, jika rasio ditentukan dalam
kondisi, yaitu konsentrasi dalam air menurun lebih cepat dibandingkan konsentrasi
dalam organisme, maka rasio C o/Cw akan mengoverestimate nilai BCF.
Dalam lingkungan akuatik, organisme dapat mengalami pendedahan dalam
periode

waktu

yang

pendek.

Penghentian

pendedahan

dan

penurunan

konsentrasi toksikan dalam air (atau C w = 0), akan menyebabkan toksikan


tereliminasi dari organisme. Laju eliminasi dapat ditentukan dari persamaan 1,
dengan C w = 0, sehingga akan menghasilkan penurunan konsentrasi toksikan
dalam organisme dan diperoleh persamaan
Co(t) = Co(t=0) e-ke.t

(persamaan 5)

dimana, Co(t=0) merupakan konsentrasi toksikan dalam organisme, saat awal periode
eliminasi (mol/kg) (Berg et al. 1995).

Minggu VI
NASIB POLUTAN ORGANIK DALAM INDIVIDU DAN EKOSISTEM
6.

Toksikodinamik
Dalam

tubuh

organisme,

polutan

mengalami

fase

kinetik

(toksikokinetik) dan dinamik (toksikodinamik). Toksikodinamik merupakan


interaksi polutan dengan sel, jaringan atau organ, dalam bentuk respon
toksik. Fase dinamik dapat dibedakan menjadi

1.

Reaksi polutan dengan reseptor atau organ target

2.

Respon biokimiawi

3.

Efek yang dapat diobservasi (Gambar 11)


Toxicant or toxic metabolite

Primary reaction
Toxicant + receptor modified receptor

Biochemical effect
Enzyme inhibition
Cell membrane disruption
Malfunction of protein biosynthesis
Disruption of lipid metabolism
Disruption of carbohydrate metabolism
Inhibition of respiration (02 utilization)

Behavioural or physiological response


Alteration of vital signs
Central nervous system
Teratogenesis
Mutagenesis
Carcinogenesis
Effects on immune system
Gambar 11. Fase dinamik toksikan (Manahan 1994).

B. Ekosistem
1.

Ekosistem akuatik
Nasib polutan yang masuk ke dalam ekosistem akuatik ditentukan oleh
sifat fisik, lipofilisitas, vapour pressure, dan stabilitas kimiawi. Senyawa yang
mempunyai stabilitas kimiawi yang rendah, cenderung mengalami hidrolisis,
sehingga tidak menimbulkan efek merugikan bagi ekosistem akuatik, kecuali
bila senyawa tersebut mengalami transformasi menjadi senyawa (produk)
yang toksik. Dalam ekosistem akuatik, senyawa yang bersifat volatil
cenderung tidak berada dalam waktu yang lama. Polaritas senyawa berperan
penting dalam menentukan distribusi dan persistensi senyawa tersebut.
Senyawa hidrofilik cenderung terlarut dan terdistribusi pada permukaan air.
Sebaliknya senyawa lipofilik berasosiasi dengan materi organik yang berada
di dalam sedimen.
Pada sedimen sungai dan danau terdapat bentuk asosiasi antara partikel
organik-anorganik dengan organisme. Polutan organik dapat diadsorbsi oleh
partikel sedimen, sehingga membatasi mobilitas polutan dan availibilitas
terhadap organisme akuatik. Namun, keberadaan polutan dalam sedimen
memungkinkan teruptakenya polutan tersebut oleh organisme benthik
tertentu, misalnya makroinvertebrata benthik (grazer), yang menggunakan
partikel sedimen (organik) sebagai somber makanannya. Selain itu organisme
benthik yang bersifat filter feeder (bivalvia), memungkinkan berinteraksi
langsung dengan polutan.
Dalam suatu perairan, kandungan oksigen terlarut menentukan laju
transformasi kimiawi dan biokimiawi polutan. Bila kandungan oksigen terlarut
menurun, proses transformasi oksidatif akan segera digantikan oleh proses
reduksi.
Dalam ekosistem akuatik adanya proses makan memakan (rantai
makanan) menyebabkan terjadinya transfer polutan. Keberadaan atau lama
waktu suatu polutan dalam suatu rantai makanan sangat tergantung dari
waktu paruh dan bioavailibilitas senyawa polutan tersebut dalam organisme.
Polutan lipofilik,
misalnya PAHs, tidak menunjukkan keberadaan dalam jangka waktu yang
lama dan menyebabkan terjadinya biomagnifikasi, dalam suatu rantai
makanan. Hal ini disebabkan waktu paruh senyawa tersebut yang relatif
singkat. Beberapa invertebrata pada tingkat trofik yang rendah (Mytilus

edulis), mempunyai kemampuan yang rendah dalam melakukan metabolisme


terhadap PAHs, sehingga PAHs terakumulasi dalam kadar yang rendah.
Organisme pada tingkat trofik yang lebih tinggi, misalnya ikan, mempunyai
kemampuan untuk mendetoksifikasi senyawa tersebut melalui mekanisme
induksi

enzim

monooksigenase,

sehingga

kecenderungan

terjadinya

biomagnifikasi pada tingkat trofik yang lebih tinggi, menjadi lebih kecil.
2.

Ekosistem daratan
Pestisida merupakan polutan penting dalam tanah pertanian. Polutan
tersebut langsung mengkontaminasi tanah atau melalui transfer residu dari
tanaman yang telah mengalami aplikasi pestisida.
Beberapa pestisida merupakan senyawa organik. Distribusi senyawa
organik tersebut dalam tanah tergantung pada solubilitas (Kow), vapour
pressure, dan stabilitas kimiawi. Polutan tersebut akan mengalami hidrolisis,
oksidasi, isomerasi, dan apabila terdapat di permukaan tanah akan
mengalami degradasi secara fotokimiawi. Degradasi tersebut umumnya
mengarah pada penurunan toksisitas, tetapi beberapa senyawa menjadi
bersifat lebih toksik, misalnya isomerasi senyawa organofosfat malathion
menjadi isomalathion. Senyawa yang bersifat polar mullah larut dalam soil
water dengan konsentrasi rendah dan cenderung secara kuat teradsorbsi
pada permukaan partikel tanah. Senyawa yang mempunyai vapour
pressure tinggi cenderung mengalami volatilisasi ke dalam soil water atau
atmosfer (Gambar 12). Pengikatan molekul organik (polutan) pada
permukaan koloid tanah membatasi pergerakan polutan dalam tanah dan
availibilitas pada organisme tanah.

Gambar 12. Nasib pencemar dalam tanah (Walker et al. 2001).

Minggu VII
BIOMARKER DAN BIOINDIKATOR
Bioindikator
Respon yang diinduksi secara antropogenik, yang dikaji melalui parameter
biomolekular, biokimiawi atau fisiologis, yang dihubungkan dengan efek
biologis pada tingkat organisasi biologis, dari individu-ekosistem.
Biomarker
Respon biologis terhadap adanya polutan di lingkungan pada tingkat individu
pengukuran secara biokimiawi, fisiologis, histologis, dan morfologis.

Gambar 13. Signifikansi ekologis dan lama respon beberapa parameter


bioindikator/biomarker terhadap polutan (Walker et al. 2001).

Tabel 3. Tipe bioindikator/biomarker (Anonymous 2001)


Fisiolo

Histopato

gis

logis

Integritas
DNA

Hormon
steroid

Protein
stres

Biokimiawi

Enzim
antioksidan

Individu

Populasi

Komunitas

Nekrosis

Pertumbuhan

Kemelimpahan

Richness

Fungsi
imunitas

Lesi
parasitik

Total lipid

Distribusi/stru
ktur umur

Indeks
diversitas

Trigliseri
da

Karsinoma

Anomali
pertumbuhan

Rasio seks
Indeks

integritas
biotik

Tabel 4. Karakteristik bioindikator dan biomarker (Anonymous 2001)


Tipe respon
Sensitivitas terhadap
Hubungan
terhadap efek
stresor
Variabilitas respon
Spesifitas terhadap stresor
Relevansi ekologis

Biomarker (exposure)
Biomolekular, biokimiawi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Medium tinggi
Rendah

Bioindikator (efek)
Individu komunitas
Rendah
Rendah
Rendah medium
Rendah medium
Tinggi

Gambar 14. Kondisi fisiologis organisme terhadap adanya polutan pada tiap zona
stres. Indikator dalam zona stres 1 lebih sensitif terhadap polutan, sedangkan indikator
pada zona stres 3 kurang sensitif terhadap polutan, tetapi mempunyai relevansi
ekologis lebih tinggi (Anonymous 2001).

Tabel 5. Bioindikator dalam tiap zona stres (Anonymous 2001)


Zona stres 1

Zona stres 2

Zona stres 3

(paling sensitif)

(moderately sensitive)

(kurang sensitif)

Enzim detoksifikasi
Kerusakan DNA
Enzim antioksidan
Protein stres

Bioenergetik
Sistem imunitas
Pertumbuhan
Parameter reproduksi

Parameter populasi
Parameter komunitas
Perubahan rasio seks
Perubahan food web

Gambar 15. Efek langsung dan tidak langsung polutan terhadap organisme
(Anonymous 2001).

Kriteria pemilihan bioindikator (Anonymous 2001) :


1.

Relevansi - hubungan kausal terhadap endpoints yang signifikan secara ekologis

2.

Sensitivitas - responsiveness dosis terhadap stressor/polutan spesifik

3.

Spesifisitas - respon terhadap stressor/polutan spesifik

4.

Broad applicability - over temporal and spatial scales

5.

Representativeness - role as surrogate for other responses

6.

Variabilitas - variabilitas relatif rendah terhadap adanya gangguan dalam sistem

7.

Biaya - reasonable for available resources and scope of study

Potensi penggunaan bioindikator (Anonymous 2001) :

1.

mengindikasikan adanya kontaminan

2.

membantu identifikasi mekanisme toksisitas

3.

memberikan peringatan awal adanya kerusakan lingkungan

4.

memberikan indikasi awal adanya perbaikan lingkungan

5.

menunjukkan adanya hubungan antara penyebab (polutan) dengan efek relevan


secara ekologis

6.

dapat digunakan dalam ecological risk assessment

Komponen utama dalam bioassessment evaluation (Anonymous 2001) :


Biomarkers Is biological exposure to stressors significant?

BioindicatorsIs the stressors hazardous to organisms & populations?

Ecological Is the stressor causing significant ecological damage to the ecosystem?


Risk Assessment
Contoh aplikasi bioindikator (Jeffree et al. 1995: 33 - 41) :
Bivalvia Air Tawar Australia : Aplikasinya dalam Studi Polusi Logam
Pendahuluan
Bivalvia air tawar mempunyai sejumlah atribut fisiologis, perilaku, life history
(sejarah hidup), dan anatomis, yang dapat digunakan sebagai indikator adanya polusi
logam yang masuk ke dalam ekosistem akuatik (Tabel 6).

Investigasi terhadap beberapa spesies bivalvia air tawar Australia, yaitu Velesunio
angasi, Velesunio ambiguus, dan Hyridella depressa, telah menunjukkan bahwa
spesies tersebut relevan untuk studi polusi logam, termasuk sebagai indikator dalam
monitoring tingkat (level) logam yang bioavailable dalam ekosistem akuatik.

Tabel 6. Atribut biologis bivalvia air tawar yang relevan dalam studi polusi
logam (Jeffree et al. 1995 : 33 41)
Atribut biologis

Relevansi terhadap polusi logam


Fisiologis

Membran

mempunyai

permeabilitas

tinggi terhadap medium akuatik potensial

Laju

influx yang

tinggi Ca

dan

logam yang analog dengan Ca ke dalam


jaringan, terjadi bioakumulasi

Granula

kalsium

fosfat

ekstraseluler

terdeposit dalam jaringan

Logam yang mengalami bioakumulasi


dengan

konsentrasi

tinggi

dalam

jaringan,

mempunyai

waktu

paruh

biologis yang lama


Perilaku
Filtrasi air dalam volume yang besar

Derajat kontak

yang tinggi dengan

polutan dalam medium akuatik


Siklus hidup dan anatomi
Struktur

cangkang

berkapur

terlaminasi, yang

bertambah,

dan

berkaitan

panjangnya

lama

dengan

Rekaman

mengenai

tingkat

logam bioavailable di lingkungan akuatik


dalam periode panjang

hidup
Siklus hidup kompleks,
ikan

sebagai

pemajanan tahap-

host

memerlukan
species,

dan

tahap siklus hidup

pada media lingkungan yang berbeda

Probabilitas pemajanan (exposure) lebih


besar pada konsentrasi polutan yang
ditingkatkan

dengan

konsekuensi

mengganggu siklus hidup

Namun, informasi mengenai (1) dasar mekanisme metabolisme logam, (2)


waktu paruh logam dalam jaringan tubuh bivalvia, dan (3) variabilitas konsentrasi
logam dalam jaringan di antara individu (spesies) bivalvia, akan lebih menunjukkan
kemampuan bivalvia sebagai indikator yang efektif dalam monitoring atau studi polusi
logam dalam ekosistem akuatik. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari karakter
kinetika logam dalam jaringan melalui model mekanistik dan prediktif.

Model Metabolic Analogue Akumulasi Logam oleh Bivalvia Air Tawar


Hasil investigasi dengan menggunakan model yang telah diuji dalam skala
laboratorium dan investigasi lapangan menunjukkan bahwa

(1)

beberapa logam diabsorbsi dari medium akuatik oleh bivalvia melalui jalur
metabolik yang analog dengan Ca, yaitu melalui kanal Ca.

(2)

logam tersebut kemudian mengikuti jalur metabolik Ca, dan sebagian besar
terdeposit dalam granula kalsium fosfat ekstraseluler, yang kemudian terdispersi
secara meluas dalam jaringan bivalvia.

(3)

laju diferensiasi akumulasi logam dalam seluruh jaringan dipengaruhi oleh laju
diferensiasi penurunan logam yang terdeposit dalam granula.

(4)

laju diferensiasi penurunan logam dari seluruh jaringan dikontrol oleh kelarutan
logam tersebut sebagai hidrogen fosfat dalam granula ekstraseluler.
Aplikasi dalam Lingkungan
Signifikansi Ca dalam air. Keberadaan (konsentrasi) Ca dalam air

menentukan laju uptake logam yang bioavailable dibandingkan konsentrasi logam


tersebut dalam air. Hal ini ditunjukkan oleh uptake

226

Ra oleh V. angasi, yang

mengalami tingkat reduksi sama besar dengan peningkatan konsentrasi Ca dalam air.
Namun, adanya Mg dalam air tidak menunjukkan signifikansi reduksi uptake seperti
Ca. Peningkatan konsentrasi Mg dalam air hanya mereduksi uptake logam sebesar
one tenth dari reduksi oleh Ca. Reduksi efektif uptake logam oleh Ca secara
eksperimen juga terjadi dalam uptake logam Pb, Mn, Co, dan Cd, pada spesies V.
ambiguus dan H. depressa, sehingga Ca merupakan variabel utama yang mengontrol
bioavailabilitas logam yang ada di medium akuatik. Implikasi hasil ini menunjukkan
konsistensi terhadap logam (divalen dan trivalen) dan filum air tawar lain.
Penqgunaan Ca sebagai prediktor konsentrasi loqam dalam jaringan. Peningkatan
konsentrasi Ca dalam jaringan V. angasi dapat menunjukkan peningkatan konsentrasi
logam lain (Ba dan

226

Ra) dalam jaringan, dengan variabilitas antar individu sebesar

87-98 %, dibandingkan variabel umur bivalvia (36-65 %) (P 0.05). Konsentrasi Ca


dalam jaringan juga menunjukkan konsentrasi logam Mn dan Zn dalam jaringan H.
depressa dan V. ambiguus, dengan variabilitas antar individu sebesar 76-97 %,
dibandingkan variabel panjang cangkang bivalvia (56-59%). Namun, variabilitas
konsentrasi Mn dan Zn dalam jaringan V. ambiguus tidak signifikan terhadap panjang
cangkang (Gambar 16 dan 17).

Gambar 16.

Regresi konsentrasi Ba dan 226Ra dalam jaringan dengan umur bivalvia (atas) dan
konsentrasi Ca dalam jaringan bivalvia (bawah), untuk V. angasi dari Corndorl dan
Mudginberri billabongs in Magela Creek, Northern Territory, Australia (Jeffree et al.
1995 : 36).

Gambar 17. Regresi konsentrasi Zn dan Mn dalam jaringan dengan panjang cangkang bivalvia
(atas) dan konsentrasi Ca dalam jaringan bivalvia (bawah), untuk H. depressa dan
V. ambiguus, dari the upper Nepean River, New South Wales, Australia (Jeffree et
al. 1995: 37).

Minggu VIII
EFEK POLUTAN PADA INDIVIDU, POPULASI, DAN KOMUNITAS
A. Efek Biokimiawi Polutan Organik (Individu)
Polutan yang masuk dalam tubuh organisme tubuh (uptake) dapat
menyebabkan perubahan pada organisme. Perubahan tersebut dapat
bersifat melindungi organisme terhadap efek toksik yang ditimbulkan polutan
(respon protektif) atau mengarah pada manifestasi toksik (respon non
protektif) (Tabel 7). Induksi MFO dan metallohionein merupakan salah satu
contoh

respon

protektif.

Sedangkan

penghambatan

AChE

(asetilkolinesterase) dan pembentukan DNA adduct merupakan salah satu


contoh respon non protektif.
Tabel 7. Respon protektif dan non protektif terhadap polutan (Walker et al 2001)
Tipe respon

Protektif

Contoh

Konsekuensi

Induksi monooxygenases

Peningkatan

(mixed function oxidases-

polutan menjadi lebih larut dalam air

MFO)

dan peningkatan laju ekskresi

Induksi metallothionein

Peningkatan laju pengikatan logam

laju

metabolisme

untuk menurunkan bioavailibilitas


Non
protektif

Penghambatan AChE

Efek toksik timbul apabila terjadi


penghambatan AChE sebesar 50 %

Formasi DNA adduct

Dapat menyebabkan mutasi


(Walker et al 2001)

Gambar 18. Jalur aktivasi dan detoksifikasi bahan kimia (Walker et al 2001).

Gambar 18 menunjukkan jalur aktivasi dan detoksifikasi bahan kimia.


Dalam gambar tersebut, bahan kimia dapat mengalami proses detoksifikasi dan
aktivasi yang dikatalisis oleh monooxigenase (MFO). Reaksi detoksifikasi yang
terjadi merupakan reaksi fase I biotransformasi.
+

Cytochrome P 450 enzymes merupakan bagian dari sistem enzim (MFO)


Selain

itu,

bahan

kimia

dapat

berinteraksi

dengan

DNA,

yang

dapat

mengakibatkan mutasi atau terjadi mekanisme DNA repair.


Tabel 8 menunjukkan beberapa spesifitas respon terhadap masuknya
bahan kimia tertentu ke dalam tubuh organisme.
Tabel 8. Beberapa spesifitas respon terhadap bahan kimia tertentu (Walker et al 2001)
Respon Biologis

Bahan Kimia

Penghambatan ALAD (Amino-

Lead

Laevulinic
Penghambatan
siklus vitamin K
Acid Dehydratase)

Anticoagulant rodenticides
Organophosphorous (OPs) compounds

Penghambatan AChE

and carbamates

Induksi monooxygenases

Organochlorines, polynuclear aromatic

Metallothionein
Metallothionein (MT) ditemukan oleh Margoshes dan Vallee pada tahun
1957. Metalothioneins merupakan protein stres yang terdapat dalam berbagai
spesies hewan dan tumbuhan. Protein ini mempunyai berat molekul yang rendah
dan hanya memiliki sedikit asam amino aromatik. Namun, metallothionein memiliki
banyak residu sistein dalam bentuk tereduksi (Gambar 19), sebesar 26 33 %,
yang mempunyai kemampuan tinggi dalam mengikat ion logam.
CH2 - CH - COO|

SH NH3+
Amino acid : cystein (polar)
Gambar 19. Asam amino sistein.

Metallothionein menunjukkan peranan dalam detoksifikasi logam berat


(Hg2+, Cd(+2), metabolisme ion Zn+2 dan Cu+2, detoksifikasi oksigen reaktif, dan
metabolisme metallodrugs dan alkylating agents.
Pada manusia dan mamalia, MTs mengikat 7 ion Zn+2 atau Cd+2 s melalui
20 residu sistein, yang terdistribusi dalam 2 klaster bebas dan sangat dinamik,
Cd4(Stb)11 dan Cd3(Stb)9, terletak pada domain alpha- and beta- protein
(Gambar 20).

Gambar 20. Metallothionein yang mengikat Cd.

Formasi DNA Adduct


Polutan dapat menyebabkan adduct pada DNA. Adanya adduct dapat
diperbaiki dengan mekanisme DNA repair (Gambar 21).

Gambar 21. Mekanisme DNA repair (Walker et al. 2001).

Penghambatan Asetilkolinesterase (AChE)


Polutan organofostat (OP) dapat menyebabkan terjadinya penghambatan
asetilkolinesterase. OP berikatan dengan gugus hidroksil, yang merupakan gugus
fungsional AChE (Gambar 22), sehingga enzim yang terfosforilasi tersebut tidak
dapat mengkatalisis hidrolisis asetilkolin menjadi asam asetat dan kolin.

Gambar 22.

Mekanisme aksi AChE. Dalam kondisi normal, asetilkolin berikatan


dengan asetilkolonesterase dan dihidrolisis menghasilkan asam
asetat dan kolin. Organofosfat mengikat gugus hidroksil, yang
menyebabkan enzim dihambat dan tidak dapat menghidrolisis
asetilkolin (Walker et al. 2001).

Minggu IX
EFEK POLUTAN PADA INDIVIDU, POPULASI, DAN KOMUNITAS
B. Efek pada Populasi dan Komunitas
1.

Populasi
Polutan yang masuk ke dalam suatu ekosistem dapat berinteraksi dengan
individu suatu populasi. Interaksi tersebut dapat menyebabkan efek lethal
maupun sublethal pada individu organisme, yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan dinamika populasi.
Berdasarkan Gambar 23, saat polutan masuk ke dalam ekosistem :

a.

Ukuran populasi beberapa spesies akan mengalami penurunan sampai


zero atau hilang dari ekosistem tersebut (i).

b.

Ukuran populasi beberapa spesies mengalami penurunan, tetapi tidak


mencapai zero. Hal ini terjadi apabila konsentrasi polutan dalam
ekosistem bersifat kronis (rendah) (ii).

c.

Laju pertumbuhan populasi mengalami peningkatan (iii).


Apabila polusi terjadi dalam waktu singkat, populasi dapat mengalami

recovery, sehingga ukuran populasi pada Gambar 23 (ii) mengalami


peningkatan (Gambar 23 (iv)). Adanya imigrasi dan rekolonisasi, populasi
yang hilang dari suatu ekosistem (Gambar 23 (i)), akan muncul kembali dan
mengalami peningkatan besarnya ukuran populasi.

Gambar 23. Respon ukuran populasi terhadap pencemar (Walker et al.


2001 : 195).

2.

Komunitas
Polutan dapat mempengaruhi struktur dan fungsi komunitas, antara lain
melalui gangguan terhadap hubungan atau interaksi antar spesies (populasi)
(Gambar 24).
Dalam hubungan atau interaksi predator-prey, penurunan besarnya
ukuran populasi prey dapat mempengaruhi satu atau lebih predator, yang
selanjutnya mempengaruhi struktur komunitas. Selain itu, efek polutan yang
dapat menyebabkan eliminasi populasi, dapat menurunkan biodiversitas.
Polutan/toksikan

Efek sublethal/lethal

populasi target

Interaksi antar spesies (hubungan predator-prey dan kompetisi)


Gambar 24. Efek toksikan pada interaksi antar spesies (Stine and Brown
1996: 189).

Minggu X
PENGUJIAN TOKSISITAS AKUT
Pengujian toksisitas
Untuk

mengevaluasi

konsentrasi/dosis

pencemar

(toksikan)

dan

durasi

pendedahan, . yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek tertentu.


Kriteria dan pendekatan
1. Pengujian harus dapat memprediksi efek pencemar pada organisme yang berbeda
2. Prosedur pengujian menggunakan dasar statistik dan dapat diulang pada waktu dan
tempat yang berbeda, dengan hasil yang hampir sama
3. Data meliputi efek berbagai konsentrasi selama durasi pendedahan dan dapat
dikuantitatifkan melalui grafik interpolasi atau analisis statistik
4. Data dapat digunakan untuk risk assessment analysis
5. Pengujian mudah dilakukan dan ekonomis
6. Pengujian dapat dengan mudah (sensitif) mendeteksi dan mengukur efek
Organisme uji
1. mempunyai kisaran sensitifitas yang lebar
2. merepresentasikan kondisi Iingkungan yang tercemar
3. mudah diperoleh (melimpah)
4. mudah dipelihara dalam kondisi laboratorik, termasuk untuk culturing dan rearing.
Sistem pendedahan pengujian toksisitas dalam Iingkungan akuatik
1. Statik
Bejana uji terdiri dari still solution dan kontrol
2. Renewal
Larutan bahan kimia uji diganti secara periodik
3. Flow - through
Bahan kimia uji mengalir masuk dan keluar bejana uji, balk secara intermittent atau
kontinyu
Berdasarkan lama pendedahan, pengujian
1. Akut, 14 hari, dinyatakan dalam LC50 atau LD50
2. Kronis, > 90 hari
Life span organisme uji jugs menentukan lama pendedahan

Faktor yang harus diperhatikan dalam pengujian toksisitas


1. Rute pendedahan dalam aplikasi dosis
a. Oral
b. Intraperitoneal
c. Intramuscular
d. Subcutaneous
e. Intravenous
2. Lama pendedahan
Life span organisme uji menentukan lama pendedahan
3. Analisis data
a. Statistik (analisis probit)
b. Interpolasi, ekstrapolasi atau intrapolasi
A. Pengujian toksisitas akut
Pengujian toksisitas akut bertujuan menentukan konsentrasi (dosis) bahan kimia
yang menyebabkan efek merugikan pada organisme, melalui pendedahan bahan
kimia dalam waktu yang singkat. Dalam pengujian ini, respon yang dipelajari berupa
quantal response (dead or alive). Hubungan antara konsentrasi (dosis) bahan kimia
dengan persentase organisme yang menunjukkan efek (respon), dinyatakan dalam
bentuk kurva konsentrasi (dosis) mortalitas.
Hasil pengujian toksisitas akut berupa persentase organisme yang mati dalam
setiap konsentrasi (dosis) dan LC50 atau LD50 (konsentrasi atau dosis yang
menyebabkan kematian 50 % organisme uji).
1. Organisme Uji
a.

Vertebrata, ikan

Cyprinus carpio dan Tilapia nilotica, tikus : Mus


musculus dan Rattus norvegicus

b.

Invertebrata, daphnid :

Daphnia

magna;

amphipod

Gammarus

lacustris; midge : Chironomus sp.


2. Penentuan konsentrasi atau dosis definitive test (uji sebenarnya)
Konsentrasi atau dosis ditentukan berdasarkan range-finding test (uji
pendahuluan). Dalam pengujian ini, organisme uji mengalami pendedahan
dengan konsentrasi (dosis) bahan kimia berdasarkan rasio logaritmik, yaitu 0.01,
0.1, 1, 10, dan 100 mg/I atau mg/kg, dalam waktu 96 jam atau sama dengan
lama waktu uji sebenarnya.

Penentuan konsentrasi atau dosis yang akan digunakan dalam uji sebenarnya
berdasarkan kisaran konsentrasi atau dosis dalam uji pendahuluan, yang
menyebabkan kematian 50 % organisme uji.
3. Definitive test (Uji Sebenarnya)
Kisaran konsentrasi atau dosis dari hasil uji pendahuluan digunakan dalam
penentuan konsentrasi atau dosis uji sebenarnya. Dalam kisaran tersebut,
konsentrasi atau dosis ditentukan secara geometrik, misalnya 10, 5, 2.5, 1.25,
0.62 mg/I atau mg/kg.
Setelah penentuan konsentrasi atau dosis, organisme uji mengalami masa
pendedahan dalam waktu yang ditentukan, misalnya 96 jam, tergantung pada life
span organisme uji.
Selama masa pendedahan, dicatat jumlah kematian dalam setiap konsentrasi
atau dosis.
4. Penentuan LC50 atau LD50
Setelah masa pendedahan berakhir, hasil uji sebenarnya dianalisis untuk
menentukan LC50 atau LD 50. Penentuan LC50 atau LD 50 dapat dilakukan
dengan
a.

Analisis probit

b.

Interpolasi
Hasil uji sebenarnya diplotkan dalam grafik dengan sumbu X =
konsentrasi (dosis) dan sumbu Y = persentase kematian. Kemudian dicari
kisaran antar titik, yang terdapat kematian 50 % organisme uji dan
dihubungkan dengan garis. Pada konsentrasi atau dosis 50 % sumbu Y
ditarik garis, sampai memotong garis antara 2 titik tersebut. Titik potong
tersebut diproyeksikan ke sumbu X, sehingga diperoleh LC50 atau LD50.

c.

Ekstrapolasi
Apabila hasil uji sebenarnya, tidak diperoleh konsentrasi atau dosis
dengan kematian organisme uji > 50 %. Hasil uji sebenarnya diplotkan
dalam grafik dengan sumbu X = konsentrasi (dosis) dan sumbu Y =
persentase kematian. Di antara titik-titik dalam grafik tersebut, dibuat garis
linier sembarang, kemudian dari konsentrasi atau dosis 50 % sumbu Y
ditarik garis, sampai memotong garis linier tersebut. Titik potong tersebut
diproyeksikan ke sumbu X, sehingga diperoleh LC50 atau LD50.

d.

Penggunaan garis
Hasil uji sebenarnya diplotkan dalam grafik dengan sumbu X =
konsentrasi (dosis) dan sumbu Y = persentase kematian. Di antara titik-titik
dalam grafik tersebut, dibuat garis linier sembarang, kemudian dari
konsentrasi atau dosis 50 % sumbu Y ditarik garis, sampai memotong garis
linier tersebut. Titik potong tersebut diproyeksikan ke sumbu X, sehingga
diperoleh LC50 atau LD50.

Minggu XI
PENGUJIAN TOKSISITAS CAMPURAN BAHAN KIMIA
Dalam lingkungan alami, organisme umumnya mengalami pendedahan beberapa
bahan kimia secara bersamaan. Pengujian suatu toksisitas bahan kimia terhadap
organisme, kurang dapat memberikan gambaran kondisi sebenarnya di clam. Hal ini
yang mendorong dikembangkan pengujian toksisitas campuran bahan kimia.
Pengujian toksisitas campuran bahan kimia dilakukan berdasarkan konsep isobol
(Gambar 25). Dari gambar tersebut, 2 bahan kimia diaplikasikan berdasarkan rasio
konsentrasi antara kedua bahan kimia tersebut, sehingga apabila bahan kimia A
diaplikasikan sebesar 50 % LC50 bahan kimia A, maka bahan kimia B diaplikasikan
sebesar 50 % LC50 bahan kimia B. Aplikasi kedua bahan kimia tersebut dapat
menimbulkan efek aditif, sinergisme atau antagonisme.

Gambar 25. Isobol LC50 senyawa A dan B (Marking 1985).


Efek aditif merupakan efek yang diharapkan akibat adanya pencampuran bahan
kimia. Sinergisme (greater than additive) terjadi apabila pencampuran bahan kimia
mengakibatkan peningkatan toksisitas atau efek toksik pada organisme. Sedangkan
antagonisme (less than additive) terjadi apabila pencampuran bahan kimia
mengakibatkan penurunan toksisitas pada organisme.

Dalam pengujian toksisitas campuran bahan kimia, efek aditif, sinergisme atau
antagonisme yang dihasilkan, dapat dipelajari dengan menghitung indeks aditif, melalui
pengujian toksisitas akut setiap bahan kimia, baik secara individu maupun campuran.
Pengujian

secara

campuran

dengan

memperhatikan

konsep

isobol,

yaitu

menggunakan beberapa konsentrasi campuran dengan rasio tertentu. Selanjutnya,


hasil kedua pengujian tersebut dihitung dengan menggunakan rumus :
+

Keterangan :
i dan m toksisitas bahan kimia A dan B secara individu dan campuran
Apabila nilai :
S 1, maka indeks aditif = 1.0

S 1, maka indeks aditif = S(-1) + 1


Dengan memperhatikan Gambar 26, berdasarkan indeks aditif yang diperoleh,
dapat dipelajari efek campuran bahan kimia.

Gambar 26. Penentuan efek campuran bahan kimia. Titik 0 menunjukkan efek aditif
(Marking 1985).

Minggu XII
PENGUJIAN TOKSISITAS KRONIK
Toksisitas kronik merupakan potensi suatu bahan kimia untuk menimbulkan efek
merugikan pada organisme melalui masa pendedahan organisme secara terus
menerus dalam jangka waktu lama.
1.

Pengujian Toksisitas Kronik

a.

Mempelajari dan mengevaluasi efek suatu bahan kimia pada setiap tahap
dalam siklus hidup suatu organisme.

b.

Menerapkan berbagai konsentrasi atau dosis bahan kimia pada setiap tahap
siklus hidup organisme, dari gamet dewasa (pertumbuhan, perkembangan,
dan reproduksi), untuk mempelajari efek merugikan bahan kimia tersebut,
sehingga pengujian ini berlangsung secara terus menerus, dalam jangka
waktu minggu- tahun, tergantung pada lama siklus hidup suatu organisme.

c.

Dalam populasi organisme uji, pemberian konsentrasi bahan kimia yang


tinggi diharapkan dapat menimbulkan efek merugikan, sesuai dengan kriteria
spesifik (standar). Sedangkan pada konsentrasi bahan kimia yang rendah,
efek (respon) yang diharapkan sesuai dengan kontrol.

d.

Memberikan hasil pengujian yang lebih sensitif dibandingkan pengujian


toksisitas akut.

2.

3.

Kriteria efek spesifik dalam pengujian toksisitas kronik organisme uji

a.

Jumlah atau persentase embrio yang dapat berkembang secara normal

b.

Jumlah Fl (offspring) yang dapat tumbuh secara normal

Organisme uji

a.

Permasalahan menentukan jenis spesies yang akan digunakan dalam


pengujian toksisitas kronik

b.

Organisme uji yang digunakan


1)

Invertebrata,

Daphnia

magna,

Mysidopsis

bahia,

Acartia

tonsa,

Palaemonetes pugio, Gammarus pseudolimnaeus, Chironomus tentans,


Tanytarus dissimilis, Neanthes arenaceodentata, dan Capitella capitata.
2)

Vertebrata, Pimephales promelas, Cyprinodon variegatus, Jordanella


floridae, dan Salvelinus fontinalis.

4.

Tipe pengujian toksisitas kronik


a.

Life - cycle toxicity test


Mengukur efek pendedahan kronik suatu bahan kimia pada reproduksi,
pertumbuhan, kesintasan, dan parameter lain, dalam satu atau lebih generasi
suatu populasi organisme uji.

b.

Sensitive life stage test


Mengukur efek pendedahan kronik pada kesintasan dan pertumbuhan, scat
organisme uji berada pada tahapan siklus hidup yang paling sensitif.

c.

Functional test
Mengukur efek bahan kimia pada fungsi biokimiawi atau fisiologis suata
organisme uji.

5.

Desain Pengujian
a.

Terdiri dari minimum 5 konsentrasi bahan kimia dan 1 kontrol negatif

b.

Pemilihan konsentrasi berdasarkan hasil flow through acute toxicity

c.

Konsentrasi yang digunakan berkisar 0.01 - 0.05 dari hasil pengujian akut

d.

Sistem pendedahan dengan flow through

e.

Hasil pengujian yang diharapkan konsentrasi bahan kimia yang tinggi dapat
menimbulkan efek merugikan, sesuai dengan kriteria spesifik (standar).
Sedangkan pada konsentrasi bahankimia yang rendah, efek (respon) yang
diharapkan sesuai dengan kontrol. Hal ini bertujuan untuk menentukan MATC
(Maximum Acceptable Toxicant Concentration - kisaran konsentrasi toksikan
yang menimbulkan efek merugikan), berdasarkan nilai NOEC (No Observed
Effect Concentration konsentrasi bahan kimia tertinggi yang secara statistik
tidak menyebab efek merugikan, dengan membandingkan kontrol) dan LOEC
(Low Observed Effect Concentration - konsentrasi bahan kimia terendah yang
secara

statistik

signifikan

menyebabkan

efek

merugikan,

dengan

membandingkan kontrol).
6.

Data yang dikoleksi


Berdasarkan pengujian toksisitas kronik dengan menggunakan organisme uji, ikan
a. Hasil analisis kualitas air
b. Jumlah dan persentase telur yang menetas dan dapat menjadi larva normal
c. Jumlah dan persentase juvenil yang sintas dalam 30 hari perlakuan
d. Total panjang dan berat basah ikan
e. Abnormalitas fisik dan perilaku

7.

Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis statistik dengan menggunakan analisis
variansi, membandingkan kontrol dan perlakuan. Jika hasil analisis variansi
menunjukkan P 0.05, dilanjutkan dengan pengujian DMRT.
Berdasarkan Tabel 9 diperoleh hasil NOEC = 0.049 dan LOEC = 0.096,
sehingga diperoleh NOEC<MATC<LOEC = 0.049<MA TC<0.096.
Tabel 9. Hasil pengukuran biologis pada pengujian toksisitas akut bahan kimia X

Minggu XIII
BIOMONITORING
Biomonitoring
Biomonitoring (pemantauan biologis) merupakan pengukuran dan evaluasi
kondisi sistem kehidupan (biota). Hasil kegiatan tersebut merupakan
parameter/metrik yang dapat memberikan gambaran kondisi sistem biologis,
dari tingkat individu ekosistem, dan jugs landscape (abiotik), terutama akibat
aktivitas manusia (Tabel 10).
Tabel 10. Tipe metrik (parameter) merefleksikan multidimensi sistem biologis (Karr and
Chu 1999 : 63)
Tipe metrik

lndividu

Kekayaan taksa

Toleransi,
intoleransi
Struktur trofik
Kesehatan
individu

Populasi Komunitas
v

v
v

Ekosistem

Landscape

Pendekatan
Biomonitoring merupakan "slat" untuk mempelajari dinamika suatu ekosistem,
balk secara meruang maupun mewaktu, sebagai usaha melindungi ekosistem dan
kepentingan manusia. Kegiatan pemantauan tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan parameter fisik, kimiawi, dan biologis. Usaha pemantauan secara fisik
dan kimiawi, relatif lebih mudah dan cepat diketahui, tetapi kurang memberikan
keakuratan mengenai kondisi atau masalah ekosistem yang sebenarnya. Penggunaan
organisme dalam pemantauan tersebut (biomonitoring) mempunyai kelebihan
dibandingkan jenis pemantauan yang lain, yaitu organisme sungai tertentu dapat
memberikan respon biologis, dari tingkat molekuler komunitas, terhadap perubahan
yang terjadi dalam ekosistem.
Dalam kegiatan biomonitoring, respon biologis pada tingkat populasi dan
komunitas paling mudah dipelajari dibandingkan respon biokimiawi dan fisiologis,

meskipun respon pada tingkat tersebut merupakan respon yang diperoleh dalam
jangka waktu yang lebih lama dibandingkan respon biokimiawi atau fisiologis. Respon
tingkat komunitas, yaitu kekayaan taksa, jumlah genus dominan, jumlah total individu,
kesamaan dan keanekaragaman komunitas, merupakan jenis respon atau parameter
biologis yang umum digunakan dalam menilai atau merefleksikan kondisi suatu
ekosistem.
Usaha biomonitoring diawali dengan pemilihan jenis parameter/respon biologis
(metrik), dengan mempelajari respon biologis tingkat komunitas, pada berbagai
kondisi ekosistem. Jenis parameter biologis yang dipilih berdasarkan adanya
perubahan respon signifikan sejalan dengan perubahan kondisi ekosistem
(Gambar 27). Pemilihan tersebut melibatkan pemilihan bioindikator yang tepat,
yang dapat merefleksikan dinamika kondisi ekosistem.

Gambar 27. Pemilihan metrik dalam biomonitoring. Metrik A merupakan indikator yang baik untuk
biomonitoring, dibandingkan metrik B (Karr and Chu 1999 : 50).