Você está na página 1de 17

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS


A. Definisi
Alzheimer merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan penurunan daya ingat,
intelektual, dan kepribadian. Tidak dapat disembuhkan, pengobatan ditujukan untuk menghentikan
progresifitas penyakit dan meningkatkan kemandirian penderita.
B. Etiologi
Penyebab pasti tidak diketahui. Beberapa penelitian menunjukkan faktor predisposisi sebagai
berikut :
1. Faktor genetik. Diturunkan melalui gen autosomal dominan, pada early onset kelainan lokus pada
kromosom 21 sedangkan pada late onset didapatkan kelainan lokus pada kromosom 19.
2. Riwayat keluarga dengan Alzheimer, parkinson, diabetes melitus, hipertensi dan kelenjar tiroid.
3. Infeksi virus pada susunan saraf pusat yang bersifat lambat, kronik dan remisi.
4. Faktor lingkungan. Faktor lingkungan antara lain aluminium, silikon, mercury dan zinc.
5. Faktor imunologis. 60 % pasien yang menderita Alzheimer didapatkan kelainan serum protein
seperti penurunan albumin.
6. Trauma kepala.
7. Faktor neurotransmiter pada jaringan otak. Dimana terjadi penurunan neurotransmitter
asetilkolin, noradrenalin, dopamin dan peningkatan neurotransmitter MAO A dan MAO B.

C. Manifestasi Klinis
1. Hilangnya ingatan terhadap peristiwa yang baru terjadi, lupa akan alamat rumah, istri, anak,
sahabat, dll.
2. Menaruh barang-barang ditempat yang tidak seharusnya, misalnya meletakkan sepatu di meja
makan, atau menaruh makanan di kamar mandi.
3. Kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, seperti melakukan personal hygiene, berpakaian,
nyisir, dll
4. Gangguan kejiwaan seperti depresi, cemas serta halusinasi.
5. Penderita biasanya menjadi tidak senang melakukan hobinya dan berkurangnya interaksi sosial.
6. Disorientasi waktu, tempat dan orang.
7. Sulit belajar terhadap hal yang baru dan sering mengajukan pertanyaan secara berulang-ulang.
8. Bila penyakit berlanjut penderita mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
D. Patofisiologi
Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropoatologi yang di jumpai pada
penyakit Alzheimer, antara lain : serabut neuron yang khusus dan neuritis deposit protein beta amiloid
bagian dari suatu protein besar, protein precursor amiloid. Kerusakan neuron tersebut terjadi secara
primer pada korteks cerebri, dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak, perubahan serupa juga
dijumpai pada tonjolan kecil jaringan otaknormal lansia. Sel utama yang terkena penyakit ini adalah

yang menggunakan neurotransmitter asetilkolin. Secara biokimia produksi asetil kolin yang
dipengaruhi aktivitas enzim menurun.
E. Penatalaksanaan
Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan
patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan simptomatik dan suportif seakan hanya memberikan
rasa puas pada penderita dan keluarga. Pemberian obat stimulan, vitamin B, C, dan E belum
mempunyai efek yang menguntungkan.
1. Inhibitorkolinesterase
Beberapa tahun terakhir ini, banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan
simptomatik penyakit Alzheimer, dimana penderita Alzheimer didapatkan penurunan kadar
asetilkolin. Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase
yang bekerja secara sentral seperti fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine). Pemberian
obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama pemberian berlangsung.
Beberapa peneliti mengatakan bahwa obat-obatan anti kolinergik akan memperburuk
penampilan intelektual pada organ normal dan penderita Alzheimer .
2. Thiamin
Penelitian telah membuktikan bahwa pada penderita Alzheimer didapatkan penurunan
thiamin pyrophosphatase dependent enzyme yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase
(45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nucleus basalis. Pemberian thiamin
hidrochloryda dengan dosis 3gr/hari selama tiga bulan peroral, menunjukan perbaikan
bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.
3. Nootropik
Nootropik merupakan obat psikotropik, telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi kognisi

dan proses belajar pada percobaan binatang. Tetapi pemberian 4000mg pada penderita
Alzheimer tidak menunjukan perbaikan klinis yang bermakna.
4. Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita Alzheimer dapat disebabkan kerusakan
noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alpha 2
reseptor agonis dengan dosis maksimal 1,2 mg peroral selama 4 mgg, didapatkan hasil yang
kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif.
5. Haloperiodol
Pada penderita Alzheimer, sering kali terjadi gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan
tingkah laku. Pemberian oral haloperiodol 1-5 mg/hari selama 4 mgg akan memperbaiki
gejala tersebut. Bila penderita Alzheimer menderita depresi sebaiknya diberikan tricyclic anti
depressant (aminitryptiline25-100 mg/hari).
6. Acetyl L- Carmitine (ALC).
Merupakan suatu substrate endogen yang disintesa didalam mitokondria dengan bantuan
enzim ALC transferace. Penelitian ini menunjukan bahwa ALC dapat meningkatkan aktivitas
asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase. Pada pemberiaan dosis 1-2 gr /hari/oral selama 1
tahun dalam pengobatan, disimpulakan bahwa dapat memperbaiki atau menghambat
progresifitas kerusakan fungsi kognitif.
F. Komplikasi
1. Infeksi
2. Malnutrisi
3. Pneumonia

4. Dehidrasi
G. Prognosis
1. Kematian dapat terjadi akibat komplikasi seperti pneumonia, malnutrisi, dan dehidrasi.
2. Pasien biasanya tidak mampu bergerak dan memerlukan perawatan total, terkadang dapat
mengenali keluhan.

BAB II
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A. Data Dasar Pengkajian
Adapun pengkajian yang dilakukan pada penyakit Alzheimer
Aktifitas istirahat
Gejala

: merasa lelah

Tanda

: siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur Letargi dan gangguan

keterampilan motorik.
Sirkulasi
Gejala : Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik.hipertensi,episode emboli
Integritas ego
Gejala : curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan, kesalahan persepsi terhadap
lingkungan,
Tanda : menyembunyikan ketidakmampuan, duduk dan menonton yang lain, aktivitas
pertama mungkin menumpuk benda tidak bergerak dan emosi stabil

Eliminasi
Gejala : Dorongan berkemih
Tanda : Inkontinensia urine/feaces
Makanan/cairan
Gejala : Riwayat episode hipoglikemia, perubahan dalam pengecapan, nafsu makan,
kehilangan berat badan.
Tanda : kehilangan kemampuan untuk mengunyah, menghindari/menolak makan.dan tampak
semakin kurus.
Higene
Gejala : Perlu bantuan tergantung orang lain
Tanda : kebiasaan personal yang kurang, lupa untuk pergi kekamar mandi dan kurang
berminat pada waktu makan
Neurosensori
Gejala : Peningkatan terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif, kehilangan
sensasi propriosepsi dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/ sistemik serta aktifitas
kejang.
Kenyamanan
Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius,
trauma kecelakaan
Tanda : Ekimosis laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain
Integritas social
Gejala : Mersa kehilangan kekuatan
Tanda : Kehilangan control social,perilaku tidak tepat
B. Pemeriksaan Diagnostik
1. EEG
2. CT Scan dan MRI. Pemeriksaan non invasif ini dapat menilai luasnya atropi otak.
3. Otopsi

C. Patoflodiagaram (terlampir).
D. Dignosa keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake kurang.


Intoleransi aktivitas b/d kelemahan.
Gangguan pola tidur b/d klien terjaga.
Perubahan pola eleminasi BAB; konstipasi b/d absorpsi makanan dan air terganggu.
Gangguan pola eliminasi BAK b/d makin rentannya Neuron terhadap stressor.
Kerusakan komonikasi verbal b/d kehilangan memori.

E. Intervensi Keperawatan dan Rasional


1) Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake kurang.
Tujuan: -mendapat diet nutrisi yang seimbang
-mempertahankan/mendapatkembaliberatbadan yang sesuai
Intervensi:
Kaji pengetahuan pasien/ orang terdekat mengenai kebutuhan akan makanan
R/ : Identifikasi kebutuhan untuk membantu memformulasikan perencanaan pendidikan
secara individual satu keadaan dengan peran terbalik dapat terjadi (seperti sekarang anak
memasak untuk orang tua, suami mengambil perkerjaan tugas istri) yang meningkatkan
kebutuhan terhadap informasi
Tentukanjumlahlatihan/langkah yang pasienlakukan
R/ : Masukan nutrisi mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan yang mendekati
berhubungan dengan kekecupan kalori secara individual dalam perjalanan. Antisipasi
kebutuhan, buatkan makanan yang dipotong-potong, berikan makanan lunak dan
sebagainya.
Berikan privasi ketidakbiasaan makan pasien menjadi bermasalah, terima keadaan pasien
makan dengan makan dengan tangan, dan sedikit kreasi, seperti selada dalam susu/ lada dalam
es krim. Catatan: Hindari pemisahan pasien dengan orang lain
R/ : Ketidakmampuan menerima dan hambatan social dari kebiasaan
Makan berkembang sesuai dengan berkembangnya penyakit. Penerimaan atau
pengakuan dapat menjaga harga diri:
Menurunkan frutasi dan penolakan untuk makan sebagai satu akibat dari marah frustasi
pemisahaan dapat mengakibatkan pasien dalam perasaan yang kacau dan menolak
dapat secara nyata mengurangi masukan makanan.
2) Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
Tujuan: - Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari).

- Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi misalnya nadi, pernapasan


tekanan darah masih dalam rentang normal pasien
Intervensi :
Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal.

dan

Catat laporan kelelahan,

keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas.


R/ : Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.
Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot,
R/ : Menunjukan perubahan neorologi karena defisiensi vit B12
Mempengaruhi keamanan pasien/resiko cedera.
Awasi TD nadi, pernapasan, selama da sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat
aktivitas (misalnya peningkatan denyut jantung/ TD, distritmia, pusing, dispnea, takipnea dan
sebagainya)
R/ : Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen
adekuat kejaringan
Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi
pengunjung, telepon dan gangguan berulang tindakan yang tidak direncanakan
R/ : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan paru
Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.
R/ : Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut dan
peningkatan resiko cedera
Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istrahat
dengan periode aktivitas.
R/ : Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada sistem jantung dan
pernapasan
Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu, memungkinkan pasien untuk
melakukannya sebanyak mungkin.
R/ : Membantu bila perlu,harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri
Rencanakan kemajuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu
tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi.
R/ : Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus
otot/ stamina tanpa kelemahan meningkatkan harga diri dan rasa terkontrol
Gunakan teknik penghematan energy misalnya mandi dengan duduk, duduk untuk melakukan
tugas-tugas.
R/ : Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan
mencegah kelemahan.
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek,
kelemahan atau pusing terjadi.
R/:regangan/stress kordiopulmonal berlebihan/stress dapat menimbulkan dekompensasi/
Kegagalan
3) Gangguan pola tidur b/d klien terjaga
Tujuan : - Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan terhadap pikiran
yang melayang-melayang (melamun)

- Tampak atau melaporkan dapat beristirahat yang cukup


Intervensi:
Berikan kesempatan untuk beristirahat atau tidur sejenak, anjurkan latihan setiap hari,
turunkan aktivitas mental atau fisik pada sore hari.

R/ : karena aktivitas dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat
meningkatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa astimulasi yang
berlebihan yang meningkatkan waktu tidur
Hindari penggunaan pengikatan secara terus-menerus
R/ : Resiko gangguan sensori, meningkatkan asitasi dan menghambat waktu istrirahat
Evaluasi tingkat stress atau orientasi sesuai perkembangan hari demi hari
R/ : Peningkatan kebingungan,discrentasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (syndrome
sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah
waktu tidur
R/ : Penguatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan

catatan:

penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkinkan, pasien membuang


kelebihan energy dan memfasilitasi tidur.
Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat,mandi dan masage punggung.
R/ : Meningkatkan relaksasi dan perasaan mangantuk
Putarkan musik yang lembut atau suara yang jernih.
R/ : Menurunkan stimulasi sensori dan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar
yang akan menghambat tidur nyenyak
4) Perubahan pola eleminasi BAB; konstipasi b/d absorpsi makanan dan air terganggu dan
gangguan pola eliminasi BAK b/d makin rentannya Neuron terhadap stressor

Tujuan: - Mampu menciptakan pola eliminasi yang edekut atau sesuai


Intervensi :
Kaji pola sebelumnya dan bandingkan dengan pola yang sekarang.
R/ : Memberikan informasi mengenai perubahan yang mungkin memerlukan
pengkajian/intervensi.
Letakkan tempat tidur dekat dengan kamar mandi, jika memungkinkan buatkan tanda
tertentu/pintu berkode khusus. Berikan cahaya yang cukup terutama malam hari.
R/ : Meningkatkan orientasi atau penemuan kamar mandi, inkontensia mungkin disertai
ketidakmampuan untuk menentukan tempat berkemih/ defekasi.
Berikan kesempatan untuk melakukan toileting dengan interval waktu yang teratur. Biarkan
melakukan sendiri satu persatu tahap pada waktu tertentu gunakan penguatan positif.
R / : Ketaatan pada jadwal harian dan teratur dapat mencegah cidera, sering masalahnya
merupakan apa yang akan dilakukan, seperti melepaskan/ ponsi mendorong.
Buat program latihan defekasi/kandung kemih. Tingkatkan partisipasi pasien sesuai dengan
tingkat kemampuannya.
R/ : menstimulasi kesadaran pasien, meningkatkan pengaturan fungsi tubuh dan membantu
menghindarkan kecelakaan.

Anjurkan untuk minum adekuat selama siang hari (paling sedikit 2 liter sesuai dengan
toleransi) diet tinggi serat dan sari buah. Batasi minum saat menjelang malam dan waktu
tidur.
R/ : menurukan resiko konstipasi/dehidrasi.pembalasan minum pada sore menjelang malam
hari dapat menurunkan seringnya berkemih/inkotenensia selama malam hari.
Hindari perasaan yang diburu-buru.

R/ : hal yang terburu-buru tersebut dapat diterima sebagai suatu instruksi yang
menimbulkan keadaan marah dan tidak kooperatif dengan aktivitas
Sadari tanda-tanda non verbal seperti gelisa, memegang sendiri,atau membuka-buka baju.

R/ : dapat menujukan dorongan,tidak ada prihatin terhadap tantersebut dan/atau tidak


mampu menentukan letak kamar mandi
Sampaikan penerimaan ketika terjadi inkontinensia.lakukan perubahan dengan segera,berikan
perawatan kulit dengan baik.
R/ : penerimaan merupakan hal yang amat penting untuk menurunkan kebingungan dan
perasaan putus asa yang mungkin terjadi selama proses perubahan tersebut,menurunkan
resiko iritasi kulit/kerusakan kulit.
Pantau penampilan/warna urine,catat konsistensi dari fases.
R/ : pendeteksian suatu perubahan memberikan kesempatan untuk merubah intervensi,untuk
mencegah komplikasi atau memerlukan penanganan sesuai dengan kebutuhan(seperti
adanya konstipasi/infeksi kantong kemih dan sebagainya).
5) Kerusakan komonikasi verbal b/d kehilangan memori

Tujuan : - mengidentivikasi pemahaman tentang masalah kemonikasi


- membuat metode komunikasidimana kebutuhan dapat diekspresikan
- menggunakan sumber-suber yang tetap
Intervensi :

Kaji tipe/derajat disfungsi,seperti pasien tidak tampak memahami kata atau mengalami
kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri.

R/ : membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan
kesulitan pasien dalam beberapa atau seluruh tahap proses kemunikasi pasien
mungkin mempunyai kesulitan memahami kata yang diucapkan (afasia
sensorik/kerusakan pada area wernick),mengucapkan kata-kata dengan benar
(afasia akspresi/kerusakan pada area bicara broca)atau mengalami kerusakan
pada kedua daerah tersebut

10

Bedakan antara afasia dengan disartria.

R/ :intervensi yang dipilih tergantung pada tipe kerusakannya afasia adalah gangguan
dalam menggunakan dan menginterpertasikan symbol-simbol bahasa dan
mungkin melibatkan komponen sensorik dan/atau motoric,seperti ketidak
mampuan untuk memahami tulisan/ucapan atau menulis kata, berbicara seseorang
dengan disatria dapat memahami membaca, dan menulis bahasa tetapi mengalami
kesulitan membentuk/ mengucapkan kata sehubungan dengan kelemahan dan
paralysis dari otot-otot daerah oral.

Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik


R/ : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapan ucapan yang keluar
dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang diucapkan tidak nyata, umpan balik
membentuk pasien merealisasikan kesempatan untuk mengerti/berespon sesuai dan
memberikan kesempatan untuk mengklarifikasikan isi/makna yang terkandung dalam

ucapannya.
Mintalah pasien untuk mengikuti perintah sederhana (seperti buka mata, tunjuk kepintu)
ulangi dengan kata/kalimat yang sederhana .
R/ : melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensori (afasia sensorik).
Tunjukan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda tersebut,
R/ : melakukan penilaoan terhadap adanya kerusakan motoric (afasia motorik), seperti
pasien mungkin mengenalinya tetapi tidak dapat menyebutkannya.
Mintalah pasien untuk megucapkan suara sederhana seperti Sh atau Pus
R/ : mengidentifikasi adanya disartria seduai komponen motoric dari bicara (seperti lidah,
gerakan bibir, kontrol napas) yang dapat mempengaruhi artikulasi dan mungkin juga

disertai afasia motorik.


Mintalah pasien untuk menulis nama dan/atau kalimat yang pendek, jika tidak dapat menulis,
mintalah pasien membaca kalimat yang pendek.
R/ : menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan dalam membaca yang benar

(aleksia) juga merupakan bagian dari afasia sensorik dan afasia motorik.
Tempatkan tanda pemberitahuan pada ruang perawat dan ruangan pasien tentang adanya
gangguan bicara, berikan bel khusus bila perlu.
R/ : menghilangkan ansietas pasien sehubungan dengan ketidakmampuannya untuk
berkomunikasi dan perasaan takut bahwa kebutuhan pasien tidak akan terpenuh dengan
segera. Penggunaan bel yang diaktifkan dengan tekanan minimal akan bermanfaat

ketika pasien tidak dapat menggunakan system bel regular.


Berikan metode komunikasi alternatie, seperti menulis dipapan tulis, cgambar, berikan
petunjuk visual (gerakan tangan, gambar-bambar, daftar kebutuhan, demonstrasi).

11

R/ : memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan/defisit yang

mendasarinya.
Antisipasi dan penuhi kebutuhan pasien.
R/ : bermanfaat dalam menurunkan frustasi bila tergantung pada orang lain dan tidak dapat
berkomunikasi secara berarti.
Katakana secara langsung dengan pasien, bicara perlahan, dan dengan tenang, gunakan
pertanyaan terbuka dengan jawaban ya/tidak, selanjutnya kembangkan pada pertanyaan
yang lebih kompleks sesuai dengan respon pasien.
R/ : menurunkan kebingungan/ansietas selama proses komunikasi dan berespon pada
informasi yang lebih banyak pada satu waktu tertentu. Sebagai proses latihan kembali
untuk lebih memngembangkan komunikasi lebih lanjut dan lebih kompleks akan

menstimulasi memori dan dapat meningkatkan asosiasi ide/kata.


Bicaralah dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat. Berikan pasien jarak
waktu untuk berespon. Bicaralah tanpa tekanan terhadap sebuah respon.
R/ : pasien tidak perlu merusak pendengaran dan meninggikan suara dapat menimbulkan
mara pasien/menyebabkan kepedihan.

Memfokuskan respon dapat mengakibatkan

frustasi dan mungkin menyebabkan pasien terpaksa untuk bicara otomatis, seperti

memutarbalikan kata, berbicara kasar/kotor.


Anjurkan pengunjung/orang terdekat mempertahankan usahanya untuk berkomunikasi

dengan pasien, seperti membaca surat, diskusi tentang hal-hal terjadi pada keluarga.
R/ : mengurangi isolasi sosial pasien dan meningkatkan penciptaan komunikasi yang efektif.
Diskusikan mengenai hal-hal yang dikenal pasien, seperti pekerjaan, keluarga dan hobi
(kesenangan).
R/ : meningkatkan percakapan yang bermakna dan memberikan kesempatan untuk

keterampilan praktis.
Hargai kemmapuan pasien sebelum terjadi penyakit, hindari pembicaraan yang
merendahkan pada pasien atau membuat hal-hal yang menentang kebanggan pasien.
R/ : kemampuan pasien untuk merasakan harga diri sebab kemampuan intelektual pasien

sering kali tetap baik.


Kolaborasi
Konsultasikan dengan/rujuk kepada ahli terapi bicara.
R/ : pengkajian secara individual kemampuan bicara dan sensori motorik dan kognitif
berfungsi untuk mengidentifikasi kekuarangan/kebutuhan terapi.
6. Perubahan proses pikir b/d isi pikir terganggu.
Tujuan : - mampu mengenali perubahan dalam berfikir/tingkah laku dan factor-faktor penyebab
jika memungkinkan

12

- Mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak diinginkan,


ancaman kebingungan
Kaji derajat gangguan kognitif, seperti perubahan orientasi terhadap orang, tempat, waktu
perhatian, kemampuan berfikir. Bicarakan dengan orang terdekat mengenai perubahan dari
tingkah laku yang biasa/lamanya masalah yang telah ada.
R/ : memberikan dasar untuk evaluasi/perbandingan yang akan datang dan dipengaruhi pilihan
terhadap intervensi.
Catatan : evaluasi dari orientasi secara berulang dapat secara nyata meningkatkan respon yang
negatif/tingkat frekuensi pasien.
Pertahankan lingkungan yang menyenagkan dan tenang.
R/ : kebisingan, keramaian, orang banyak biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang
meningkatkan gangguan neuron.
Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang.
R/ : pendekatan yagn terburu-buru dapat mengancam pasien bingung yang mengalami
kesalahan persepsi/perasaan terancam oleh imajinasi orang dan/atau situasi tertentu.
Tatap wajah ketika bercakap-cakap dengan pasien.
R/ : menimbulkan perhatian, terutama pada orang-orang dengan gangguan perseptual.
Panggil pasien dengan namanya.
R/: nama merupakan bentuk identitas diri dan menimbulkan pengenalan terhadap realita dan
menimbulkan pengenalan terhadap realita dan individu. Pasien mungkin berespon pada
namanya sendiri setelah lama tidak mengenal orang terdekat.
Gunakan suara yang agak rendah dan bicara dengan perlahan pada pasien.
R/ : meningkatkan kemungkinan pemahaman ucapan yang tinggi dan suara yang keras
menimbulka stress/marah yang kemungkinan dapat mencetuskan memori konfrontasi
sebelumnya dan menjadi provokasi respon marah.
Gunakan kata-kata yang pendek pada kalimat yang sederhana dan berikan instruksi sederhana
(tahap demi tahap) ulangi instruksi tersebut sesuai dengan kebutuhan.
R/ : sesuai dengan berkembangnya penyakit, pusat dalam otak mungkin saja terganggu yang
menghilakngkan kemampuan individu pada proses penerimaan pesan dan percakapan
secara menyeluruh.
Berhenti sejenak diantara kalimat/pertanyaan. Berikan isyarat-isyarat tertentu dan berikan
kalimat terbuka jika memungkinkan.
R/ : menimbulkan respon verbal dan mungkin juga meningkatkan pemahaman.

Isyarat

menstimulasikan komunikasi dan memberikan orang tersebut satu kemungkinan


pengalaman yang positif.
Hindari kritikan, argumentasi dan konfrontasi negative (simulasi provokasi).
R/ : provokasi menurunkan harga diri dan mungkin diartikan sebagai satu ancaman yang
mencetuskan agitasi atau meningkatkan tingkah laku yang tidak sesuai.

13

Berikan distraksi, bicarakan mengenai orang-orang atau kejadian yang sebenarnya ketika
pasien mulai merenungkan (mengungkapkan) ide-ide yang salah, jika hal tersebut tidak
meningkatkan kecemasan/agitas.
R/ : lamunan membantu dalam meningkatkan disorientasi.

Orientasi pada realita

menignkatkan perasaan realita pasien, penghargaan diri dan kemuliaan personal


(kebahagiaan personal).
Hindari pasien dari aktivitas dan komunikasi yang dipaksakan.
R/ : keterpaksaan menurunkan keikutsertaan pasien dan mungkin juga dapat meningkatkan
kecurigaan, delusi.
Gunakan hal-hal yang humoris saat berinteraksi pada pasien.
R/ : tertawa dapat membantu komunikasi dan membantu meningkatkan kestabilan emosi.
Fokuskan pada tingkah laku yang sosial, berikan penguatan posotif, seperi tepuk punggung
pasien, tepukan tangan.

Berikan sentuhan yang bijaksana, berikan perhatian pada setiap

respon individu.
R/ : menguatkan tingkah laku yang benar dan sesuai. Karena sentuhan secara teratur bertujuan
menggantikan ungkapan verbal (memberikan kehangatan penerimaan, dan balita) maka
individu mungkin akan salah interpretasi terhadap arti dari sentuhan tersebut. Gangguan
dalam lingkup personal dapat mengancam alam perasaan pasien.
Hormati individu dan evaluasi kebutuhan secara spesifik.
R/ : seorang yang mengalami satu penurunan kognitif sepantasnya mendapatkan
penghormatan, penghargaan dan kebahagiaan sebagai individu.

Masa lalu dan latar

belakang pasien merupakan satu hal yang penting dalam mempertahankan konsep diri
perencanaan aktivitas, komunikasi dan sebagainya.
Berikan kesempatan untuk rasa saling memiliki dan dimiliki secara personal.
R/ : kekeluargaan meningkatkan keamanan dan menurunkan perasaan dan kehilangan atau
deprivasi.
Izinkan untuk mengumpulkan benda-benda yang tidak aman.
R/ : memelihara keamanan dan membuat kehilangan yang tidak pasti.
Ciptakan aktifitas yang sederhana dan tidak bersifat kompetitif yang berdasarkan pada
kemampuan individu.
R/ : memotifasi pasien dalam cara yang akan menguatkan kegunaannya dan kesenangannya
dan kesenangan diri dengan merangsang realita.
Buat aktivitas yang bermanfaat dan gerakan yang berulang, seperti membuat koleksi prangko,
membuat kliping, melipat linen, memantulkan bola, membersihkan debu dan kotoran,
menyapu lantai dan sebagainya.
R/ : dapat menurunkan kegelisahan dan memberikan pilihan terhadap aktifitas yang dapat
menyenangkan.

14

Bantu menemukan/membetulkan hal-hal yang salah dalam penempatannya. Berikan label


gambar-gambar/hal yang dimiliki pasien, jangan melawan atau menentang pasien.
R/ : dapat menurunkan defensive pasien jika pasien mempercayai ia sedang ada dalam tempat
yang salah, tersimpan/tersembunyi membantah hal yang kelitu dari pasien tidak akan
mengubah kepercayaan dan mungkin juga akan menimbulkan kemarahan.
Pantau penggunaan telepon secara ketat, tempatkan nomor telepon penting pada tempat yang
terlihat dengan jelas, beri jarak yang cukup pada nomor-nomor tersebut.
R/ : dapat digunakan untuk mengorientasikan pada realita, tetapi gangguan pengambilan
keputusan tidak memungkinkan pengenalan sejumlah nomor dan membuat pasien mudah
menghubungi hp yang tidak diinginkan.
Evaluasi pola kecukupan tidur atau istirahat, cacat adanya latergi, peningkatan perangsang,
sering menguap adanya garis hitam dibawah mata.
R/ : kekurangan tidur dapat mengganggu proses pikir dan kemampuan koping pasien (rujuk
pada diagnose keperawatan gangguan pola tidur).

15

C. Patoflodiagram
Trauma kepala virus lambat

genetic

lingkungan factor immunologic

factor neurotransmiter

Gangguan sensori

Agitasi

RAS meningkat
Mengganggu hubungan intersuler dan
menurunnya respon peredaran darah

REM menurun

Klien terjaga

Gangguan persepsi

Gangguan pola tidur

Makin rentannya neuron


terhadap stressor

Kehilangan memori
Kerusakan neuron

Gangguan rangsangan
pada saraf cranial

Gangguan pada nervus


vagus

Gangguan saraf cranial


V,VII, XII

Peristaltic menurun

Isi pikir terganggu


Kerusakan neuronfibrilaris
Perubahan proses pikir
Fosforilasi abnormal dari
protein yang menumpuk
Kerusakan
komunikasi verbal

Secara kimia menyebabkan perubahan


pada tau
(tidak dpt terikat pada mikrotubulus
secara bersama-sama
Masuk ke filament heliks ganda yang
sekelilingnya masing-masing luka

Kolapsnya system transport internal


Kematian sel

Intake berkurang

Nutrisi kurang dari


keb. tubuh
Gangguan metabolisme
KH dan Glukosa

ATP menurun

Elergi berkurang

Alzheimer

kelemahan

Intoleransi aktivitas

16

Absorpsi makanan dan air


terganggu

Perubahan pola
eliminasi BAB
konstipasi

17