Você está na página 1de 20

Asuhan Keperawatan Ibu Hamil Post Partum

Masalah kesehatan jiwa dapat menyebabkan komplikasi selama periode kehamilan,


kelahiran bayi, dan periode pasca partum. Gangguan perkembagandan kepribadian biasanya
dimulai pada masa-kanak-kanak atau masa remaja. Hal ini biasanya berlangsung sampai
dewasa (Stuart, Sundeen, 1991). Retadarsi mental, autisem, dan gangguan perilaku yang
merusak merupakan beberapa contoh. Gangguan tidur dan bangun, gangguan skizofrenik,
gangguan waham (paranoid), dan ganggaun kecemasan merupakan beberapa kategori
perilaku.
Kehamilan itu sendiri bukan merupakan penyakit psikiatri. Stres psikologis dan fisik
yang terkait dengan kehamilan atau kewajiban baru sebagi ibu dapat juga mengakibatkan
krisis emosional (Affonso, 1984). Ganggaun emosional yang tertuama mengakibatkan
komplikasi kehamilan adalah gangguan mood (afektif) dan skizofrenia. Sindrom dan
ganggajn mental organik (tidak termasuk non-substansi) juga dapat terlihat. Gangguan mood
meliputi depresi atau depresi dengan episode manik (ganngguan bipolar). Paranoid atau
masalah disorganisasi lain bisa merupakan ciri gangguan skizofrenia. Delirium toksis yang
berhubungan dengan penyalahgunaan zat, analgesik berlebihan, atau gangguan metabolik
berat jarang terjadi. Gangguan mental organik akibat induksi zat psikoaktif kini lebih sering
terjadi.
Tidak ada satu faktor pun dicurigai bertanggung jawab sebagai pencetus penyakit
mental pasca partum. Penyakit emosional yang timbul selama masa nifas didiagnosa dari
gambaran awwal berikut: Afektif, skizofrenia,atau organik, Penyakit yang tidak memenuhi
kriteria untuk setiap ganggaun ini disebut psikosis pasca partum (American Psychiatric
Association, 1994).
Gangguan Mood
Meskipun penyebab gangguan mood bekum seuluruh nya dipahami, riwayat keluarga
dapat menjelaskan bahwa satu atau beberapa orang dewwasa memiliki masalah ini. Lebih
jauh lagi, para wanita yang memiliki komplikasi psikiatri selama masa hamil acap kali
memiliki penyakit psikiatri sebelumnya (Marks dkk, 1992) Lebih dari 50% kehamilan yang
berhubungan dengan penyakit jiwa merupakan rekasi efektif. Dari jumlah ini, sekitar 10%
adalah keadaan prenatal manik atau status depresif, sisanya terjadi selama periode pascanatal.
Para wanita yang lebih muda tampaknya lebih banyak menderita reaksi manik. Tetapi depresi
lebih sering terjadi pada kebanyakan wanita.

Kesulitan ikatan antara ibu dan bayinya adalah gambaran nyata gangguan mood.
Kadang-kadang seorang ibu terobsesi dengan pemikiran bahwa keturunannya akan merebut
kemesraan pasangannya dari dirinya. Disisi lain, rasa bersalah karena enggan untuk hamil,
upaya untuk melakukan abortus, atau konflik personal lain merupakanmasalah yang
mendasar.
Reaksi manik sering terjadi selama minggu pertama dan minggu kedua masa nifas,
kemungkinan terjadi depresi ringan (Marks, dkk.,1992). Agitasi, kegirangan, dan banyak
bicara terlihat disertai peerilaku menyindir. Wanita menjadi kurang tertarik dengan perawatan
diri dan makanannya. Karena dehidrasi atau keletihan dapat terjadi, penanganan singkat dan
efektif yang mendukung merupakan hal penting.
Terapi psikiatri bisa menggunakan tranquilizer dengan efek sedatif yang penting,
misalnya, prometazin (Phenergan). Selanjutnya litium bisa juga diberikan untuk mengontrol
lebih lama. Psikoterapi adalah terapi yang penting. Manik biasanya berlangusng selama satu
sampai tiga minggu. Prognosis ibu dan bayinya baik setelah perpisahan awal dan penyatuan
kembali secara bertahap.
Reaksi depresi lebih umum terjadi daripada reaksi anik. Stres kehamilan bersifat
biologis dan psikologis. Selama periode pasca patum, wanira seringkali mengalami banyak
reaksi emosional (Laizner, Jeans, 1990) empat aspek setelah melahitkan yangmenuntut
kemampuan kopign, ialah: penyesuaian fisik, ketidakamanan awal, sistem pendukung, dan
kehilangan identitas sebelumnya. Beberapa ibu tidak dapat menyesuaikan diri dan menjadi
depresi atau menglami masalah emosional lain (Nicolson, 1990). Gangguan emosional
periode pascapartum dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori: Postpartum blues, depresi
pascapartum non-psikodis, dan psikosis pascapartum.
1. Postpartum blues
Postpartum blues biasanya bersifat sementara dan bisa mempengaruhi 75%
sampai 80% wanita melahirkan (Hansen,1990; Jones, 1990). Pentingnya transisi yang
terkait dengan depresi telah mendorong tambahan diagnosis khusus dalam edisi
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders berikutnya, yakni awitan
pascapartum (pada depresi dan mania) (American Psychiatric Association, 1994).
Blues disini bisa menampilkan: tangisan singkat, perasaan kesepian, atau ditolak,
cemas, bingung, gelisah, letih, pelupa, dan tidak dapat tidur (Hansen,1990; Jones,
1990). Reaksi ini dapat terjadi setiap waktu setelah wanita melahirkan, tetapi
seringkali terjadi pada hari ketiga atau keempat pascapartum dan memuncak antara
hari kelima dan keempat belas pascapartum. Penetapan diagnosis dan kategori blues

cukup sulit karena tidak ada instrumen pengkajian standar. Namun, Kennerley dan
Gath (1989) menjelaskan sebuah instrumen yang dapat dipercaya dan sahih, yang
mengukur tujuh gejala postpartum blues: perubahan mood, merasa "rendah", cemas,
merasa terlalu emosional, mudah menangis, letih, dan bingung atau pikiran kacau.
Faktor predisposisi postpartum blues meliputi perubahan biologis, stres,
respon normal, atau penyebab sosial atau lingkungan. Para ahli teori biologis telah
melakukan penelitian tentang fluktuasi hormon dan tanda beberapa reaksi afeksi
terhadap perubahan progesteron, estradiol, kortisol, dan kadar prolaktin (Ehlert,dkk.,
1990; Harris, dkk., 1989; Majewski, Ford-Rice, Falkey, 1989). Pendukung teori stres
berpendapat bahwa setiap peristiwa yang menimbulkan stres (misalnya pembedahan)
dapat merangsang reaksi, seperti blues (Iles, Gath, Kennerley, 1989).
Beberapa orang memandang blues sebagai peristiwa fisiologis normal
berdasarkan respons yang meningkatkan naluri ibu dan sifat protektif terhadap
bayinya (Majewski Ford-Rice, Falkey, 1989). Masalah sosial dan lingkungan, seperti
tekanan dalam hubungan pernikahan dan hubungan keluarga, riwayat sindrom
pramenstruasi (premenstrual syndrome [PMS]), rasa cemas, rasa takut tentang
persalinan dan depresi selama masa hamil, dan penyesuaian sosial yang buruk dapat
merupakan faktor predisposisi (Kennerley, Gath, 1989b).
Post partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang
ringan. Oleh sebab itu, sering tidak diperdulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak
ditindak lanjuti sebagaimana seharusnya. Jika hal ini dianggap enteng, keadaan ini
bisa menjadi serius dan bisa bertahan dua minggu sampai satu tahun dan akan
berlanjut menjadi depresi dan psikosis post partum. Banyak ibu yang berjuang sendiri
dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada hal yang salah namun
mereka sendiri tidak mengetahui penyebabnya.
Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, namun banyak faktor yang
diduga berperan dapat menyebabkan post partum blues, diantaranya :
1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen,
progesterone, prolaktin dan ekstradiol.
Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada
gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi
aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja
menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan
mood dan depresi. Perubahan kadar estrogen dan progesterone yaitu terjadi

fluktuasi hormonal dalam tubuh. Kadar hormone kortisol (hormone pemicu


stress) pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang mengalami
depresi. Disaat yang sama, hormone laktogen dan prolaktin yang memicu
produksi ASI sedang meningkat. Sementara pada saat yang sama kadar
progesterone sangat rendah. Pertemuan kedua hormone ini akan menimbulkan
keletihan fisik pada ibu dan memicu depresi.
2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas.
3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
4. Latar belakang psikososial ibu, seperti : tingkat pendidikan, status
perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa
sebelumnya, social ekonomi serta keadekuatan dukungan social dari
lingkungan ( suami, keluarga dan teman ). Apakah suami menginginkan juga
kehamilan ini, apakah suami, keluarga dan teman memberikan dukungan
moril ( misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga selama atau
berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah ) selama ibu menjalani
kehamilannya atau timbul permasalahan misalnya suami yang tidak
membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya
dengan suami, problem dengan orangtua dan mertua, problem dengan si
sulung.
5. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.
6. Faktor psikologis
Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena semua
perhatian tertuju pada anak yang baru lahir. Padahal usai persalinan si ibu
yang merasa lelah dan sakit pasca persalinan membuat ibu membutuhkan
perhatian. Kecewa terhadap penampilan fisik bayi karena tidaksesuai dengan
harapannya juga bisa memicu baby blues.
7. Faktor fisik
Kelelahan fisik karena aktifitas

mengasuh

bayi,

menyusui,

memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari bahkan tidak


jarang di malam buta sangatlah menguras tenaga. Apalagi jika tidak ada
bantuan dari suami atau anggota keluarga yang lain.
8. Faktor sosial
Si ibu merasa sulit menyesuaikan dengan peran baru sebagai ibu.
Apalagi kini gaya hidupnya akan berubah drastis. Ibu merasa dijauhi oleh
lingkungan dan merasakan terasa terikat terus pada si kecil.
Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak

berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara 8 %


sampai 12 % wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi
sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para wanita lebih
mungkin mengembangkan depresi postpartum jika mereka tertekan secara sosial dan
emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menekan.
Dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik dalam penanganan ibu post
partum blues. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di
tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-sama
dengan melibatkan lingkungannya, yaitu suami, keluarga dan teman dekatnya.
Manifestasi Klinis
Gejala-gejala post partum blues, sebagai berikut :
Cemas tanpa sebab
Menangis tanpa sebab
Tidak percaya diri
Tidak sabar
Sensitif, mudah tersinggung
Merasa kurang menyayangi bayinya
Tidak memperhatikan penampilan dirinya
Kurangnya menjaga kebersihan dirinya
Gejala fisiknya seperti : kesulitan bernafas, ataupun perasaan yang berdebar

debar
Ibu merasa kesedihan, kecemasan yang berlebihan
Ibu merasa kurang diperhatikan oleh suami ataupun keluarga

Insiden
Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinis yang memberi perhatian
khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah
melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai
kaitan dengan gejala-gejala tersebut. Berbagai studi mengenai post partum blues di
luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara
26 % - 85 % yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan
kriteria diagnosis yang digunakan.
Pencegahan
Post partum blues dapat dicegah dengan cara :
Anjurkan ibu untuk merawat dirinya, yakinkan pada suami atau keluarga

untuk selalu memperhatikan si ibu


Menu makanan yang seimbang
Olahraga secara teratur

Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya
Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami
Rekreasi

Pemeriksaan Diagnostik
Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara
langsung post partu blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa symptom
yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi post partum blues bila
memenuhi kriteria dan gejala yang ada. Kekurangan hormon thyroid yang ditemukan
pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa ( fatique ) ditemukan juga pada
ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar thyroid yang sangat
rendah.
Skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah merupakan acuan
pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan
beberapa kuesioner dengan alat bantu. Endinburgh Postnatal Depression Scale
(EPDS) merupakan kuesioner dengan validasi yang teruji yang dapat mengukur
intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaanpertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah
serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post partum blues. Kuesioner ini
terdiri dari 10 ( sepuluh ) pertanyaan, dimana setiap pertanyaan memiliki 4 ( empat )
pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan
gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Pertanyaan harus dijawab
sendiri oleh ibu dan rata rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit, nilai scoring
lebih besar 12 ( dua belas ) memiliki sensitifitas 86 % dan nilai prediksi positif 73 %
untuk mendiagnosis psot partum blues. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu
pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 ( dua )
minggu kemudian.
Penatalaksanaan
Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan
tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang berjuang sendiri dalam beberapa saat
setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu yang salah namun mereka sendiri
tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi
mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya untuk minta pertolongan, seringkali
hanya mendapatkan saran untuk istirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah,

minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira
menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai.
Penangganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda
dengan penangganan gangguan mental pada momen-momen lainnya. Para ibu yang
mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para
ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini
membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus
juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan
perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan
pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali merasa gembira mendapat pertolongan
praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk
mengatur

atau

menata

kembali

kegiatan

rutin

sehari-hari,atau

mungkin

menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang


keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan dapat diberikan pertolongan
dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yangberpengalaman
dalam bidang tersebut.
Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para
wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera
memberikan penangganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk
kepada para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang
memadai dari para petugas obstetri, yaitu : dokter dan bidan/perawat sangat
diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat
tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin
timbul dalam masa-masa tersebut serta penangganannya.
Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan
menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan, ikhlas
dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi,
membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung
dengan kelompok ibu-ibu baru. Dalam penangganan para ibu yang mengalami postpartum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Pengobatan medis,
konseling, emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual
tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka miungkin pada saat-saat tertentu.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan ditingkat perilaku,

emosional, intelektual, social dan psikologis secara bersama-sama dengan melibatkan


lingkungannya yaitu : suami, keluarga, dan juga teman dekatnya.

2. Depresi pasca partum


Frekuensi depresi pasca partum bervariasi dari 5% sampai lebih dari 25% pada
wanita yang melahirkan (Daw, 1988; Steiner, 1990). Kriteria untuk mengklasifikasi
depresi pasca partum bervariasi, tetapi sering kali terbatas pada sindrom afektif /
emosi yang terjadi dalam enam bulan setelah melahirkan. Episodenya depresinya.
Dapat bersifat minor atau mayor tanpa gmbaran psikosis (Jones, 1990; Troutman;
Cutrona 1990).
Hilangnya minat berhubungan seksual dan keletihan umumnya di alami semua
wanita. Namun, pengalaman depresi yang dialami juga menunjukkan konsentrasi
yang buruk, perasaan bersalah, kehilangan energi, dan kehilangan minat dalam
aktivitas sehari-hari (Hopkins, Campbell, Mercus,1989).
Gejala depresi pascapartum berlangsung lebih lama dari pada blues. Selain itu,
wanita tersebut dapat mengalami perubahan berat badan (penurunan atau peningkatan
berat badan), menarik diri dari lingkungan sosial, tidak dapat mengatasi masalah, dan
kekhawatiran tentang ketrampilan ibu dalam merawat bayinya. Jika depresi mayor ini
berlanjut, pasien perlu di rawat. Dukungan dari keluarga di perlukan, demikian pula
terapi individual dan pemberian obat antidepresan, seperti fluoksetin (prozac),
sertralin (zoloft), dan bupropion (wellbutrin) (Busch, Perrin, 1989; Harding, 1989;
Martell, 1990; Taylor, 1989). Obat-obat ini tidak di anjurkan untuk wanita yang
menyusui.
Faktor predisposisi bisa berhubungan dengan hormonal, stres, atau bayi. Para
peneliti telah mengidentifikasi. Hubungan antara kadar hormon dan depresi
pascapartum. (Harris, dkk., 1989; smith, dkk.,1990). Kadar prolaktin dan progresteron
secara signifikan berhubungan dengan depresi.masalah lingkungan dan keluarga bisa
di kaitkan dengan depresi pascapartum. Wanita yang mengalami depresi seringkali
memiliki sedikit sistem pendukung, lebih banyak mengalami peristiwa stress
kehidupan, dan sumber personal yang kurang baik untuk mengatasi peristiwa ini.
Faktor-faktor prediktif pada depresi pascapartum, yang bisa membantu perawat dalam
mengkaji masalah potensial, meliputi penghasilan yang rendah, tidak ada orang yang
di percaya untuk memberi dukungan, tidak ada dukungan sosial, dan peristiwa hidup
yg menekan (misalnya orangtua tunggal, cerai, atau kematian orangtua atau bayi yang
baru saja terjadi) (Auerbach, Jacobi,1990; Stein dkk,.1989). Ada korelasi antara

perilaku bayi dengan depresi ibu. Depresi maternal berhuhbungan dengan lingkup
hasil akhir yang buruk untuk bayi baru lahir, seperti iritabilitas pada bayi (Zuckerman,
dkk.,1990) dan berat badan lahir rendah (McAnarney, Stevens-simon, 1990). Bayi
yang memiliki sifat yang sulit dan tidak dapat diduga serta kurang dapat beradaptasi
seringkali lahir dari ibu yang mengalami depresi. Namun ibu jarang menyalurkan
depresinya pada bayinya, tetapi menyalahkan diri mereka sendiri karena kurang
terampil dalam merawat bayinya (Whiffen, Gotlib, 1989).
Gejala depresi antara lain adalah:

Perasaan sedih, tidak berdaya dan galau


Sering menangis
Tidak ada energy dan motivasi hidup
Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit
Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
Sulit untuk fokus, mengingat atau mengambil keputusan
Rasa tidak berharga dan bersalah
Kehilangan semangat atau kenyamanan dalam beraktifitas
Menjauhkan diri dari teman atau keluarga
Sakit kepala, nyeri di dada, jantung berdebar-debar dan nafas cepat

3. Psikosis pascapartum
Krisis psikiatri yang paling parah ialah psikosis pascapartum. Gejalanya
seringkali bermula dengan postpartum. Gejalanya seringkali bermula dengan
postpartum blues atau depresi pascapartum. Waham, halusinasi, konfusi, delirium, dan
pihak bisa timbul (Metz, Sichel, Goff, 1988). Wanita tersebut dapat memperlihatkan
gejala yang menyerupai skizofrenia atau kerusakan psikoafektif (Marks, dkk., 1992;
Steiner,1990). Perawatan di rumah sakit selama beberapa bulan mungkin di perlukan.
Bunuh diri atau bahaya pada bayi atau keduanya merupakan bahaya psikosis terbesar
(Goldstein, 1989; Hamilton,1989).
Skizofrenia
Skizofrenia atau reaksi skizofrenia bisa merupakan suatu kerusakan pada
metabolisme serebral dan atau perubahan struktural. Skizofrenia lebih sering terjadi
pada remaja dan orang dewasa muda dari pada lansia.gambaran proses berfikir yang
abnormal, seperti berpikir konkret, keras kepala nyata, dan kecurigaan yang terus
menerus merupakan hal yang umum terjadi (American Psychiatric Association, 1994).

Pengobatan antipsikosis seperti trifluperazin (stelazine) dan halopendol (haldol)


sangat bernanfaat. Pemindahan wanita ke lingkungan rumah sakit adalah hal yang
penting. Prognosis baik terutama jika Merupakan episode psikosis pertama,
khususnya jika tanpa gejala selama masa nifas (Miller, dkk., 1990)

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh
perawat perinatal. Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku yang
diharapkan dari gangguan tertentu. Rencana individu didasarkan pada karakteristik
wanita dan keadaannya yang spesifik. Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat
mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut.
Pengkajian klien post-partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat dilakukan
pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang baru. Pengkajiannya meliputi :

Identitas Klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical
record, dan lain-lain.
Keluhan Utama
Mudah marah, cemas, melukai diri.
Riwayat Kesehatan
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada Ibu dengan depresi postpartum biasanya terjadi kurang nafsu makan,
sedih murung, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa

terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri.


Riwayat Kesehatan Dahulu
Berhubungan dengan kejadian pada persalinan masa lalu serta kesehatan
pasien.
Riwayat kesehatan keluarga
Berhubungan dengan dukungan keluarga terhadap keadaan pasien.
Riwayat Persalinan
Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses
kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam
upaya retrospeksi diri (Konrad, 1987). Selama hamil, ibu dan pasangannya

mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka,
hal-hal yang mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis.
Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang
diharapkan (misalnya ; induksi, anestesi epidural, kelahiran sesar), orang tua
bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan
sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan
sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.
Dampak Pengalaman Melahirkan
Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses
kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam
upaya intropeksi diri ( Kondrat, 1987 ). Selama hamil ibu dan pasangannya
mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka,
hal-hal yang mencakup kelahiran pervaginam dan beberapa intervensi medis.
Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang
diharapkan ( misalnya induksi, anastesi epidural, kelahiran sesar ), orang tua
bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan
sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan
sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.
Citra Diri Ibu
Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri. Citra tubuh dan seksualitas
ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya selama masa nifas
dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam menjadi orangtua.
Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya.
Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah
seringkali menimbulkan kekahwatiran pada orang tua baru. Ibu yang
melahirkan bisa merasa enggan untuk memulai hubungan seksual karena
merasa takut nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan menganggu
penyembuhan jaringan perineum.
Interaksi Orang Tua Bayi
Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evaluasi interaksi
orang tua dengan bayi baru. Respon orang tua terhadap kelahiran anak
meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladaptive. Baik ibu maupun ayah
menunjukan kedua jenis perilaku. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan
untuk menjadi orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik.
Kualitas keibuan ataau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan

dan perlindungan anak. Tanda-tanda yang menunjukan ada atau tidaknya


kualitas ini, terlihat segera setelah ibu melahirkan, saat orang tua bereaksi
terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan
mereka.
Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif
Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang tua
terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dengan keterbatasan kemampuan
mereka, respon social yang tidak matur, dan ketidakberdayaannya. Orang tua
menunjukan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena
kehadiran bayinya dank arena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan
bersama anaknya, saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui
ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan kemudian menenangkan bayinya
dan ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa tingkat
kelelahan bayi.
Struktur dan Fungsi Keluarga
Komponen penting lain dalam pengkajian pasa pasien post aprtum blues ialah
melihat komposisi dan fungsi keluarga. Penyesuaian seorang wanita terhadap
perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan
pasangannya, ibunya dengan keluarga lain, dan anak-anak lain. Perawat/bidan
dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan
mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan
membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut
sebelum keluar dari rumah sakit.
Sedangkan pengkajian dasar data klien menurut Marlynn E.Doeges ( 2001 ) adalah:
1. Aktivitas / istirahat insomnia mungkin teramati.
2. Sirkulasi : episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
3. Integritas Ego : peka rangsang, takut / menangis ( sering terlihat kira-kira 3
hari setelah kelahiran ).
4. Eliminasi : dieresis diantara hari ke-2 dan ke-5.
5. Makanan / cairan : kehilangan nafsu makam mungkin dikeluhkan hari-hari
ketiga.
6. Nyeri / ketidaknyamanan : nyeri tekan payudara / pembesaran dapat terjadi
diantara hari ke-3 sampai ke-5 pascapartum.
7. Seksualitas : uterus 1 cm diatas umbilicus pada 12 jam pertama setelah
kelahiran, menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. Lokhea rubra berlanjut
sampai hari ke-2 dan ke-3 berlanjut menjadi lokhea serosa dengan aliran

tergantung pada posisi ( misalnya rekumben versus ambulasi berdiri ) dan


aktivitas ( misalnya menyusui ). Payudara ; produksi kolostrum 48 jam
pertama, berlanjut pada susu matur biasanya pada hari ke-3, mungkin lebih
dini, tergantung kapan menyusui dimulai.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan stress kelahiran, konsep
diri negative, system pendukung, yang tidak adekuat.
Batasan Karakteristik:
Gangguan tidur
Penyalahgunaan bahan kimia
Penurunan penggunaan dukungan sosial
Konsentrasi yang buruk
Kelelahan
Problem solving tidak adekuat
Mengeluhkan ketidakmampuan koping atau ketidakmampuan untuk

meminta bantuan
Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan dasar
Perilaku merusak terhadap diri atau orang lain
Ketidakmampuan memnuhi harapan peran
Tingkat kesakitan/penyakit yang tinggi
Perubahan dalam pola komunikasi
Menggunakan bentuk koping yang meghalangi/mengganggu perilaku

adaptif
Kurangnya perilaku yang bertujuan langsung/resolusi masalah,
termasuk

ketidakmampuan

untuk

mengorganisasikan informasi
2. Kecemasan berhubungan dengan stress psikologi
Batasan karakteristik :
a. Perilaku
Penurunan produktivitas
Gelisah
Insomnia
Resah
b. Afektif
Kesedihan yang mendalam
Takut
Gugup
Mudah tersinggung
Nyeri hebat
Ketakutan
Distres

merawat,

dan

kesulitan

Khawatir
Cemas
c. Fisiologi
Goyah
Peningkatan respirasi (simpatis)
Peningkatan keringat
Wajah tegang
Anoreksia (simpatis)
Kelelahan (parasimpatis)
Gugup (simpatis)
Mual (parasimapatis)
Pusing (parasimpatis)
d. Kognitif
Bingung
Kerusakan perhatian
Ketakutan terhadap hal yang tidak jelas
Sulit berkonsentrasi
3. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan depresi berat
Batasan Karakteristik :
Mengungkapkan/menunjukan ketidakmampuan untuk menerima atau
mengkomunikasikan rasa kepuasan, rasa memiliki, menyayangi,

ketertarikan atau membagi pengalaman


Mengungkapkan / menunjukan ketidaknyamanan dalam situasi sosial
Menunjukkan penggunaan perilaku interaksi social tidak berhasil
Keluarga melaporkan perubahan gaya hidup atau pola interaksi

4. Kerusakan pola tidur berhubungan dengan kelelahan, kekhawatiran financial


Batasan karakteristik :
Terbangun dalam waktu lama
Insomnia dalam waktu lama
Kerusakan pola normal karena diri sendiri
Insomnia pagi hari
Terbangun lebih awal atau terlambat bangun
Mengeluh untuk mulai tidur
Tidur tidak puas
Tiga kali atau lebih bangun di malam hari.
5. Risiko kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan status emosional
post partum
Batasan karakteristik :
Putus asa
Penolakan
Cemas

Panic
Mudah marah
Permusuhan

C. RENCANA KEPERAWATAN
a. Diagnose 1 : Koping individu tidak efektif
NOC : Anxiety Control (1402)
Indikasi :
Kontrol instensitas cemas
Eliminasi tanda cemas
Menggunakan strategi koping efektif
Menggunakan teknik relaksasi untuk menekan kecemasan
NIC : Counseling (5240)
Aktivitas :
Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan

perasaan untuk mengeksternalisasikan kecemasan.


Bantu pasien untuk menfokuskan pada situasi saat ini, sebagai alat
untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk

mengurangi kecemasan.
Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan serta terapi

okupasi untuk mengurangi kecemasan dan memperluas focus.


Sediakan penguatan yang positif ketika apsien mampu meneruskan
aktivitas sehari-hari dan lainnnya meskipun mengalami Kecemasan.

b. Diagnosa 2 : Kecemasan
NOC : Anxiety Control (1402)
Indikasi :
Kontrol instensitas cemas
Eliminasi tanda cemas
Menggunakan strategi koping efektif
Menggunakan teknik relaksasi untuk menekan kecemasan
NIC : Counseling (5240)
Aktivitas :
Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan

perasaan untuk mengeksternalisasikan kecemasan.


Bantu pasien untuk menfokuskan pada situasi saat ini, sebagai alat
untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk

mengurangi kecemasan.
Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan serta terapi
okupasi untuk mengurangi kecemasan dan memperluas focus.

Sediakan penguatan yang positif ketika apsien mampu meneruskan


aktivitas sehari-hari dan lainnnya meskipun mengalami Kecemasan.

c. Diagnosa 3 : Kerusakan interaksi soial


NOC : Social Interaction Skill (1502)
Pengungkapan
Kesiapan
Kerjasama
Kepekaan
Konfrontasi
Pertimbangan
Kehangatan
Ketenangan
Relaksasi
Keterlibatan
Kepercayaan dan Kompromi
NIC :
mendorong keterlibatan ditingkatkan dalam hubungan yang sudah

ditetapkan
mendorong pasien dalam pengembangan hubungan
mendorong untuk berhubungan dengan orang lain
mendorong untuk beraktivitas dalam masyarakat / social
mendorong untuk berbagi masalah dengan orang lain

d. Diagnosa 4 : Gangguan istirahat dan tidur


NOC : REST (0003)
Indikasi :
Banyaknya tidur
Pola tidur
Kualitas tidur
Tidur fisik (ketenangan)
NIC : SLEEP ENHACEMENT (1850)
Aktivitas :
Pantau pola tidur dan catat hubungan faktor-faktor fisik
Hindari suara keras dan penggunaan lampu saat tidur malam
Cari teman sekamar yang cocok bagi pasien, jika memungkinkan.
Ajarkan pada pasien untuk menghindari makanan dan minuman pada

jam tidur yang dapat mengganggu tidur


Berikan tidur siang jika diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tidur

e. Diagnosa 5 : Risiko kekerasan terhadap diri sendiri


NOC :
Interaksi sosial

Tanda-tanda akan melakukan kekerasan seperti ingin marah, jengkel,

ingin merusak, memukul,dll


Mengenal penanganan klien dengan perilaku kekerasan
Penanganan klien dengan perilaku kekerasan
Bantuan yang adaptif pada klien dengan perilaku kekerasan
Cara yang dipilih untuk membantu merubah perilaku klien
Tingkat kemarahan

NIC :
a. Bantuan kontrol marah
Prinsip komunikasi terapeutik
Pertahankan konsistensi sikap (terbuka,tepati janji, hindari kesan

negatif)
Gunakan tahap-tahap interaksi dengan tepat
Observasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien
Bantu klien mengidentifikasi tanda-tanda perilakukekerasan : (emosi,

fisik, social, spiritual)


Jelaskan pada klien tentang respon marah
Dukung dan fasilitasi klien untuk mencari bantuansaat muncul marah
Diskusikan bersama klien pangaruh negatif perilaku kekerasan

terhadap dirinya, orang laindan lingkungan


b. Libatkan keluarga dalam perawatan klien
Identifikasi kultur, peran, dan situasikeluarga dalam pengaruhnya
terhadap perilaku klien
Berikan informasi yang tepat tentang penanganan klien dengan
perilaku marah kekerasan
Ajarkan ketrampilan koping efektif yangdigunakan untuk penangannan
klien perilakukekerasand.berikan konseling pada keluarga
Bantu keluarga memilih untuk menentukan dalam penanganan klien
dengan perilaku kekerasan
Fasilitasi pertemuan keluarga dengan pemberi perawatan
Beri kesempatan pada keluarga untuk mendiskusikan cara yang dipilih
Anjurkan pada keluarga untuk menerapkancara yang dipilih

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Depresi postpartum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang
bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung
terus - menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun.
Faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik
yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor
sosial dan karakteristik ibu, dengan gejalagejalanya antara lain adalah trauma
terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan nafsu
makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai
bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.
Untuk mengatasi depresi tersebut dibutuhkan pendekatan dalam pemecahan
masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap setiap orang
(ibu yang mengalami depresi).
Proses keperawatan secara umum diartikan sebagai pendekatan dalam
pemecahan masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap
setiap orang.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama pengkajian antara lain:
1. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan
cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual
yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.

2.

Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini
bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna
membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari

3.

perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain.


Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer. Sumber informasi
sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan
kesehatan klien.

B. Saran
Sehubungan dengan rumitnya kondisi pasien dengan depresi postpartum maka
diharapkan dalam pelaksanaan perawatan dalam hal ini pemberian asuhan
keperawatan memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan teori persepsi, antara
lain :
Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh
persepsi individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini akan
membawa konsekwensi terhadap permasalahan keperawatan yang ditegakan
pada setiap individu. Meskipun sumber masalah yang dihadapinya sama, akan
tetapi setiap individu memiliki persepsi dan respon yang berbeda-beda.
Misalnya, walaupun kedua pasien mengalami penyakit / masalah yang sama,

akan tetapi permasalahan keperawatan yang dihadapi tidak mesti sama.


Untuk memahami arti persepsi, maka seseorang harus mengadakan
pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan dalam situasi
yang memunyai makna bagi kita. Makna di sini mengandung arti penjabaran
dari persepsi, ingatan, dan tindakan. Dengan demikian persepsi memiliki arti
penting dalam kehidupan, dimana kira bisa mengumpulkan data dari informasi
tentang diri sendiri, kebutuhan manusia, dan lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budi Santosa. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Prima Medika :
Jakarta
2. Http://Www.Scribd.Com/Doc/23775250/Depresi-Post-Partum
3. Http://Klinis.Wordpress.Com/2007/12/29/Depresi-Postpartum/
4. Johnson, Marion,dkk. Nursing Outcome Classification (NOC). St. Louis, Missouri:
Mosby Yearbook,Inc.
5. Mc. Closkey, Joanne. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). St. Louis,
Missouri: Mosby Yearbook,Inc.
6. Nursalam, 2001, Proses & Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktek, Salemba
Medika, Jakarta.