Você está na página 1de 12

ANALISA PROSES INTERAKSI

Nama Mahasiswa
Tanggal
Waktu
Tempat
Inisial Klien
Interaksi ke
Lingkungan
Deskripsi pasien
Tujuan komunikasi

: I Made Eka Santosa


: 26 Maret 1999
: Pkl. 16.30 - 16.50 WIB (20 Menit)
: Ruang Cendrawasih RSJP Jakarta
: Tn.O.T.B.
: I (Fase Perkenalan)
: Meja makan, berhadapan dengan klien, suasana tenang
: Penampilan kurang rapi, pakaian banyak lobang bekas rokok, pasien merokok puntung, menunduk.
: Klien dapat mengenal perawat dan mengungkapkan secara terbuka permasalahnya

KOMUNIKASI VERBAL

KOMUNIKASI NON VERBAL

P : Selamat sore Pak, boleh saya


duduk di sebelah Bapak ?

P: Memandang K dan tersenyum


K: Ekpresi datar

K : Sore, silahkan.

K: Ekpresi datar
P: Memandang K

P : Wah, suasana sore ini sejuk


sekali ya Pak

P : Memandang ke halaman sambil


melirik K
K : Ikut melihat ke halaman lalu
menghisap rokoknya dan
menunduk lagi
P : Memandang K sambil
menjulurkan tangan ke K
K : Mengalihkan rokok ke tangan
kiri lalu tanpa memandang P
menerima uluran tangan P

ANALISA BERPUSAT PADA


PERAWAT
P : Ingin membuka percakapan
dengan klien dan berharap dengan
sapaan sederhana P bisa diterima
oleh K.

ANALISA BERPUSAT PADA


KLIEN
K masih ragu terhadap orang baru
yang masuk ke lingkungannya

RASIONAL
Salam merupakan kalimat pembuka
untuk memulai suatu percakapan
sehingga dapat terjalin rasa
percaya.

K ragu terhadap orang baru

K : (diam)
P : Oh ya, perkenalkan saya Made,
saya mahasiswa praktek disini yang
akan merawat Bapak.
K : (diam)
P : Nama Bapak siapa ?

P : Masih menjabat tangan pasien


dan mendekatkan diri ke-K
K : Menoleh sebentar

P merasa senang ada tanggapan atas


salam walaupun belum
diekpresikan secara tulus
P ingin memulai percakapan
dengan topik ringan sebelum masuk
ke kondisi K

K memberikan respon sepintas dan


menunjukkan perhatian cukup
terhadap P

Topik ringan akan memudahkan


interaksi lebih lanjut

P merasa bahwa K harus diberikan


penjelasan tentang kedatangan P

K masih memberikan tanggapan


secara ragu-ragu

Memperkenalkan diri dapat


menciptakan rasa percaya klien
terhadap perawat

P ingin tahu nama pasien

K ragu-ragu

Mengenal nama pasien akan


memudahkan interaksi

K : Ong. Ong Tian Bian.

K : Menyebut nama dengan


menunduk dan menarik tangannya

P merasa pasien enggan berkenalan

P : Bapak senangnya dipanggil


dengan nama apa

P : Memandang K
K : Menoleh ke halaman

P ingin menjalin kedekatan dengan


pasien

K : Ong.

K : Melihat ke arah P dan


menjawab singkat lalu menunduk
lagi
P : Memandang K sambil
tersenyum
K : Menunduk

P senang walaupun jawaban singkat

K mulai tertarik dengan perkenalan


dengan P

P mencoba mengakrabkan suasana

K berpikir sejenak, mengngingat


nama yang disukainya

P : Wah, kedengarannya enak kalau


saya manggil Pak Ong

P merasa pertanyaan mendapatkan


respon

K : Iya

K : Menoleh ke P
P : Memperhatikan K

P : Bapak asalnya dari mana Pak


Ong?

P : Memandang K
K : Menunduk dan berpikir

K : Salatiga, Jawa Tengah

K : Menoleh ke P dan tersenyum


lalu menunduk lagi
P : Memperhatikan K

P : Wah, jauh juga ya. Bapak Ong


sudah berapa lama disini?

P : Memandang K sambil
tersenyum
K : Menghisap rokok dan
melemparkannya karena sudah
habis

P mulai mengkaji data umum


pasien

K : Lama! Dua puluh tahun.

K : Bicara tanpa menoleh P


P : Memandang K
P : Menunjukkan perhatian
K : Menunduk sambil memandang
kakinya

P khawatir kalau pertanyaan


membuat K tersinggung
P berharap dapat memperoleh data
lama rawat secara lebih pasti
sambil mengkaji daya ingat pasien
P senang karena mendapat respon
dari K

P masih berusaha membangun


keakraban dengan topik sederhana

K merasa perkenalan hanya


formalitas belaka
K mencoba mengingat nama yang
disukainya

Nama panggilan merupakan nama


akrab klien sehingga menciptakan
rasa senang akan adanya pengakuan
atas namanya
Pujian berguna untuk mendekatkan
perawat menjalin hubungan
therapeutik dengan klien

K mulai merasa bahwa P datang


untuk membantu K
K berpikir dan mengingat-ingat

Topik sederhana membantu


menjalin kedekatan dengan klien

P senang karena K memberi respon

P : Sejak tahun berapa Bapak


disini ?
K : Yach, delapan puluh tiga

K : Masih menunduk

K senang karena ingat daerah


asalnya dan kembali
membayangkan daerah asalnya
tersebut
K berpikir dan berusaha mengingat

Lama rawat menentukan apakah


klien kronis atau akut

K membayangkan keadaan yang


telah lama dijalaninya
K berusaha mengingat

K menjawab dengan sekedarnya

Daya ingat pasien dapat dikaji


dengan menanyakan data-data
pasien yang sederhana

P : Memperhatikan
P : Sekarang Bapak Ong umurnya
berapa?

P : Mendekatkan diri ke K
K : Menoleh ke halaman dan
terdiam beberapa lama

P mengkaji daya ingat K

K berusaha mengingat-ingat

K : Em56 tahun

K : Menoleh P sebentar lalu


menunduk lagi
P : Tersenyum
P : Menunjukkan keseriusan
K : Menunduk

P merasa arah pertanyaan sudah


dapat dijawab jelas oleh K

K menjawab sesuai dengan daya


ingat yang dimilikinya

P berhati-hati karena pertanyaan tsb


sangat spesifik dan takut
menyinggung pasien
P lega karena K tidak tersinggung

K mengingat-ingat

P mengkaji lebih jauh alasan pasien


dirawat

K mengingat-ingat

P : Pak Ong ingat nggak, kenapa


pak Ong dirawat disini
K : Saraf, sakit saraf. ECT, ini di
ECT.
P : Pak Ong pernah ngamuk?

K : Menoleh ke P dan menepuknepuk kepalanya


P : Bertanya pelahan
K : Menunduk

K : Nggak, nggak, saya suka


ngelamun. Enak sendirian. Kakak
saya sudah meninggal tapi hidup
lagi. Itu dia !!
P:-

K : Menoleh ke halaman lalu


menunjuk-nunjuk
P : Memperhatikan respon pasien

P kaget, dan sadar kalau pasien


mengalami halusinasi lihat

K mengalami halusinasi lihat

P : Masih kaget
K : Memandang ke halaman

K melihat kakaknya dan mencoba


menceritakannya pada P

K : Kakak saya orangnya sukses,


sayang mati, anak saya tujuh belas
semuanya di Jerman.
P : Bapak Ong sudah berkeluarga?

K : Menunjuk ke halaman dan


nyerocos
P : Memperhatikan
P : Mendekatkan diri
K : Memandang kosong ke
halaman
K : Menunduk sambil nyerocos
P : Memperhatikan

P mendiamkan karena belum


menemukan pertanyaan yang tepat
untuk K
P menemukan adanya flight of
ideas dan berpikir tentang faktor
penyebab
P berusaha mengkaji data yang
terkait kata-katanya tadi
P menemukan adanya kemungkinan
waham kebesaran pada pasien

K menikmati waham yang


dirasakannya

P mendiamkan dengan harapan


pasien akan lebih terbuka tetang
dirinya

K membayangkan ank-anaknya

K : Anak saya di Jerman dan di


Peking. Saya profesor, ngajar di UI,
bolak-balik dari Bandung ke
Jerman.
P:-

P : Memperhatikan
K : Menunduk

Umur mempengaruhi daya ingat


klien

Keluhan utama merupakan dasar


pasien dirawat di RS Jiwa

K menjawab ragu-ragu
Halusinasi dapat terjadi kapan saja
karena adanya stimulus tertentu

Dengan diam therapeutik, klien


merasa didengarkan dan bercerita
tentang keadaannya

K teringat kondisi keluarganya


K membayangkan keadaan
keluarganya

Waham kemungkinan terjadi karena


menarik diri

Diam therapeutik akan membantu


pasien mengungkapkan
perasaannya pada perawat

K : Keadaan diluar perang, Ong


pusing mikirin biaya anak-anak,
pada kuliah.
P : Pak Ong, kegiatan bapak seharihari ngapain saja Pak ?

K : Berbisik pada P dengan nada


sedih
P : Mendengarkan dengan serius
P : Menepuk bahu K
K : Menoleh P

P menemukan adanya fligt of ideas

K sedih tentang anaknya

P mencoba mengalihkan
pembicaraan terkait waham

K teralih karena pertanyaan baru

K : Mandi, makan ehmya itu.

K : Menggaruk-garuk kepalanya
P : Memperhatikan respon K
P : Menekankan pertanyaan
K : Menunduk

P merasa senang karena pasien bisa


beralih
P mencoba menggali data lebih
dalam

K bingung tentang yang


dilakukannya sehari-hari
K mengingat-ingat

K : Baca-baca buku. Saya kan


profesor.
P : Bapak Ong betah tinggal di sini?
Suasananya enak ya!

K : Menoleh P
P : Memperhatikan
P : Melihat halaman
K : menunduk

P menemukan lagi adanya


kemungkinan waham
P mengalihkan perhatian K dari
waham

K merasa dirinya harus rajin belajar

K : Betah.

K : Ikut melihat halaman


P : memperhatikan
P : Memandang K sambil
tersenyum
K : Menoleh P

P senang karena dapat mengalihkan


perhatian pasien
P ingin mengkaji keterlibatan
keluarga terhadap perawatan K

K berusaha menjawab sekenanya

K : Sebulan sekali.

K : Menunduk lagi
P : Memperhatikan respon K

P senang mendapatkan jawaban K

P : Kalau Pak Ong suka pulang juga


ya?

P : Memandang K
K : Menunduk

P mengkaji hubungan K dengan


keluarganya

K mengingat hubungannya dengan


keluarga

K : Ya, sebulan sekali juga

P senang mendapatkan jawaban


sesuai pertanyaan
P berusaha mengkaji aktivitas K di
rumah

K senang membayangkan pulang

P : Kalau di rumah, ngapain aja Pak


Ong

K : Menoleh P dan tersenyum


P : Memperhatikan
P : Memandang K sambil
tersenyum
K : Menoleh P lalu melihat ke
halaman

K : Yah, tidur dan baca-baca buku

K : Memandang P

P menemukan pengulangan

P : Kemudian?

P : Tentunya keluarga Bapak Ong


suka menjenguk kesini.

K masih terbawa oleh waham

K berusaha mengingat keluarganya

Pengalihan agar klien tidak larut


dalam waham dan halusinasinya

Tehnik ekplorasi berguna untuk


mendapatkan lebih banyak data
terkait masalah klien
Pengalihan agar pasien tidak larut
pada waham dan halusinasinya
pada fase interaksi ini
Keluarga merupakan support sistem
bagi klien sehingga harus dikaji
keterlibatannya

K ingat terhadap keluarganya

K mengingat aktivitasnya di rumah

K menikmati waham yang


dialaminya

Berada di lingkungan keluarga akan


membuat klien melihat realitas
menyenangkan atau malahan
stressor
Aktivitas di rumah merupakan data
pantas tidaknya pasien dilibatkan
dalam keluarga

penelitian. Profesor harus banyak


baca.
P : Suka ngobrol nggak dengan
keluarga

P : Memperhatikan respon K

terhadap waham pada K

P : Memandang K
K : Menunduk

P mengkaji peran keluarga terhadap


K

K : Enakan diem, soalnya


mengganggu saya baca buku
P : Bagaimana perasaan Pak Ong
sekarang?

K : Menunduk
P : Memperhatikan
P : Memandang K
K : Menunduk

P mendapatkan data menarik diri


pada K
P mengalihkan topik bahasan

K : Saraf, sakit saraf. Kakak saya


hidup lagi, itu dia.

K : Menggaruk-garuk kepala
P : Memperhatikan

P bingung harus ngobrol tentang


apa lagi

K menjawab tentang keadaannya

P:-

P : Memandang halaman
K : Ikut memandang halaman

P memikirkan topik lain yang


terkait

K merenungkan keadaannya

K : Dia sukses.

K : Menunjuk ke halaman
P : Kaget dan memperhatikan
respon K

P kaget karena kembali


menemukan adanya halusinasi pada
K

K menikmati halusinasi lihatnya

P : Pak Ong, kita tadi sudah


berkenalan, masih inget nggak
nama saya?

P : Memandang K
K : Menoleh

P ingin mengakhiri fase I karena


sudah cukup banyak data yang
terkaji

K memperhatikan P

K : Made

K : Memandang P dan tersenyum


P : Memperhatikan

P senang karena K ingat nama P

K mengingat-ingat nama P

P : Nah, saya senang sekali bisa


ngobrol dengan pak Ong.
Bagaimana kalau selesai makan
kita ngobrol lagi? Sebentar saja
kok, yach cukup 20 menit saja.

P : Menepuk bahu K
K : Menoleh dan tersenyum

P memberikan reinforcement pada


K

K senang diberikan reinforcement

K : Boleh

K : Tersenyum
P : Tersenyum

P senang karena K mau


menentukan kontrak berikutnya

P : Nah kalau Pak Ong setuju, nanti

P : Memandang K

P menentukan topik dan aktivitas

K mengingat aktivitasnya di rumah

Menarik diri membuat K asyik


dengan dunianya sendiri

K menganggap ngobrol
mengganggu wahamnya
K bingung dengan pertanyaan yang
diberikan

Pengalihan agar K tidak larut


dengan wahamnya

Diam berguna untuk memikirkan


interaksi selanjutnya

Evaluasi fase I berhasil jika K dapat


mengingat nama P sehingga
nantinya terjalin trust

Kontrak berikutnya harus


ditentukan dan harus mendapatkan
persetujuan klien agar klien ingat
terhadap kontrak

K ikut menentukan kontrak

K memikirkan tentang kegiatan

Kegiatan yang akan dilaksanakan

kita ngobrol tentang perasaan Pak


Ong terhadap keluarga Pak Ong.
Sekalian saya periksa tekanan
darahnya ya.

K : Menunduk

pada kontrak berikutnya

yang ditawarkan

K : Ya, ya.

K : Mengangguk
P : Tersenyum

P senang karena K setuju dengan


kegiatan yang akan dilaksanakan

K setuju tentang kegiatan yang


akan dilaksanakan

P : Terimakasih atas kesediaan Pak


Ong ngobrol dengan saya, selamat
sore

P : Menepuk bahu K dan


mengulurkan jabat tangan
K : Menoleh, menjabat tangan P

P menutup fase I

K menunjukkan rasa percaya pada


P

K : Sore.

K : Tersenyum lalu menunduk


P : Tersenyum

P senang karena K mau berinteraksi


dengan P

K menyambut salam P

harus mendapat persetujuan K


sehingga bila K keluar dari kegiatan
dimaksud, bisa diingatkan tentang
batasan kegiatan sesuai kontrak

Salam penutup merupakan akhir


fase yang harus dilakukan untuk
mencegah tidak percaya pada klien

KESAN PERAWAT :
Fase awal yaitu fase I (perkenalan) dapat dilaksanakan dengan baik.Klien cukup kooperatif walaupun sering terganggu dengan halusinasinya. Data yang tergali
adalah data mengenai harga diri rendah kronik, halusinasi lihat, menarik diri, koping individu tidak efektif, koping keluarga kurang efektif, flight of ideas dan
ideal diri yang tinggi. Kontrak selanjutnya telah dilaksanakan dan pasien menerima kontrak tersebut. Secara umum proses interaksi sudah dapat dilanjutkan
dengan fase berikutnya yaitu fase kerja.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA


RUANG RAWAT : R. Cendrawasih RSJP Jakarta

TANGGAL DIRAWAT : 26 Maret 1999

1. IDENTITAS KLIEN
Initial
: Tn. O. T. B.
Umur
: 56 Tahun
Informan
: Klien sendiri
Tanggal Pengkajian : 26 Maret 1999
RM No
:2. ALASAN MASUK
Klien mengatakan karena sakit saraf
3.
1.
2.
3.
4.
5.

FAKTOR PREDISPOSISI
Tidak pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya, klien sudah dirawat sejak tahun 1983
Pengobatan sebelumnya tidak berhasil
Aniaya fisik, aniaya seksual, penolakan, kekerasan dalam keluarga, tindakan kriminal tidak ada
Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa : belum terkaji
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : belum terkaji

4. FISIK
1. Tanda vital : TD 130/90 mmHg, N 84 x/menit, S 36,9 C, P 16 x/menit
2. Ukur : TB/BB belum terkaji
3. Keluhan fisik : Tidak ada
Masalah keperawatan : 5. PSIKOSOSIAL
1. Genogram : belum terkaji
2. Konsep diri
a. Gambaran diri : Klien mengatakan puas terhadap tubuhnya

b. Identitas : Tidak ada gangguan identitas


c. Peran : Klien tidak tahu perannya sebagai apa.
d. Ideal diri : Klien bercita-cita menjadi profesor, sehingga merasa harus rajin baca buku. Klien merasa cita-citanya sudah tercapai sekarang
(padahal tidak)
e. Harga diri : Klien mengatakan kakaknya sukses.
Masalah keperawatan :
- Ideal diri terlalu tinggi
- Harga diri rendah
3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti : Belum terkaji
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat : Belum terkaji
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Klien tidak mau ngobrol dengan sesama pasien atau dengan perawat, suka menyendiri.
Masalah keperawatan :
- Isolasi sosial : Menarik Diri
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : Belum terkaji
b. Kegiatan Ibadah : Belum terkaji
6. STATUS MENTAL
1. Penampilan : kurang rapi
Pasien berpakaian seadanya, celana bolong-bolong bekas rokok, kantung baju coklat bekas tembakau yang berbau
Masalah Keperawatan : Resiko kurangnya perawatan diri
2. Pembicaraan : Gagap, inkoheren
Pasien menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tidak jelas dan terputus-putus, kadang-kadang tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan
Masalah Keperawatan : Gangguan pola komunikasi verbal
3. Aktivitas motorik : lemah dan lesu
Saat wawancara, pasien sedang duduk termenung dan memandang di kejauhan serta terlihat loyo
Masalah Keperawatan : Kelemahan aktivitas

4. Alam perasaan : sedih


Ekpresi wajah pasien nampak sedih saat wawancara
Masalah Keperawatan : Depresi
5. Afek : Datar
Afek pasien selama wawancara tidak terdapat perubahan yang berarti, terkesan hambar
Masalah Keperawatan : Menarik diri
6. Interaksi selama wawancara : kontak mata kurang
Selama wawancara, pasien lebih banyak menunduk dan menjawab pertanyaan dengan tidak melihat perawat
7. Persepsi : Halusinasi
Pasien mengatakan ia sering melihat kakaknya yang sudah mati tapi hidup kembali dan lalu mereka ngobrol
Masalah Keperawatan : Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
8. Proses pikir : Flight of Ideas, Persevarasi
Pembicaraan klien tidak terarah dengan ide yang tidak nyambung satu sama lain, klien sering mengulang pernyataan bahwa kakaknya hidup
kembali
Masalah Keperawatan : Gangguan persepsi Sensori
9. Isi pikir : Waham kebesaran
Pasien mengaku dirinya sudah menjadi profesor dan guru besar di UI, ia juga mengatakan bahwa situasi di dunia sudah perang semua
Masalah Keperawatan : Gangguan Orintasi Realitas : Waham Kebesaran
10. Tingkat kesadaran : CM, disorientasi waktu tempat dan orang tidak ada
Selama wawancara, pasien tampak sadar
Masalah Keperawatan : 11. Memori : Ada gangguan daya ingat jangka panjang
Saat pasien diminta menyebutkan peristiwa di masa lalu, pasien tampak bingung
Masalah Keperawan : Demensia
12. Tingkat konsetrasi dan berhitung : Mudah beralih, mampu berhitung sederhana
Sering saat wawancara klien menoleh ke satu arah, dan klien lupa pertanyaan yang telah diberikan kepadanya
Masalah Keperawatan : Halusinasi lihat
13. Kemampuan penilaian : Belum terkaji
14. Daya tilik diri : Belum terkaji

7. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Makan : bantuan minimal
2. BAB/BAK : bantuan minimal
3. Mandi : bantuan minimal
4. Berpakaian/berhias : bantuan minimal
5. Istirahat dan tidur : tidak teratur, kegiatan sebelum tidur yaitu melamun
6. Penggunaan obat : bantuan minimal
7. Pemeliharaan kesehatan : belum terkaji
8. Kegiatan dalam rumah : hanya berdiam diri saja
9. Kegiatan di luar rumah : tidak ada
Masalah keperawatan : Koping keluarga kurang efektif
8. MEKANISME KOPING
Menghindari masalah, dan suka menyendiri
Masalah keperawatan : Koping individu tidak efektif
9. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
1. Masalah berhubungan dengan dukungan kelompok : klien jarang bergaul dengan sesama pasien, lebih senang menyendiri dan melamun
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan : teman-teman klien sesama pasien malas ngobrol dengan klien
3. Masalah berhubungan dengan pendidikan : klien mengatakan ia kuliah di berbagai negara sehingga ia layak disebut profesor
4. Masalah berhubungan dengan pekerjaan : belum terkaji
5. Masalah berhubungan dengan perumahan : belum terkaji
6. Masalah berhubungan dengan ekonomi : belum terkaji
7. Masalah berhubungan dengan pelayanan kesehatan : belum terkaji
Masalah keperawatan :
Isolasi sosial : menarik diri
Waham kebesaran
10. PENGETAHUAN KURANG TENTANG
1. Penyakit jiwa
2. Koping

3. Sistem pendukung
4. Faktor presipitasi
Masalah keperawatan :
Kurang pengetahuan
11. ASPEK MEDIS
1. Diagnosa Medis : belum terkaji
2. Therapi Medik : belum terkaji
12. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
1. Gangguan harga diri : harga diri rendah
2. Isolasi sosial : menarik diri
3. Gangguan persepsi sensori : halusinasi lihat
4. Gangguan konsep diri : Ideal diri terlalu tinggi
5. Kurang pengetahuan
6. Gangguan orientasi realitas : Waham kebesaran
7. Koping individu tidak efektif
8. Koping keluarga tidak efektif
9. Gangguan komunikasi verbal
10. Resiko kurangnya perawatan diri
Pohon Masalah
RESIKO PRILAKU KEKERASAN
RESIKO KURANGNYA PERAWATAN DIRI
HALUSINASI LIHAT

GGN. KOM. VERBAL

WAHAM

MENARIK DIRI
Core Problem

HARGA DIRI RENDAH : Kronis

KOPING IND. TDK., EFEKTIF


KOPING KELUARGA TIDAK EFEKTIF

IDEAL DIRI TINGGI


KURANG PENGETAHUAN
13. DAFTAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Gangguan harga diri: harga diri rendah kronis berhubungan dengan ideal diri tinggi
2. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
3. Perubahan persepsi sensori : halusinasi lihat berhubungan dengan menarik diri
4. Resiko prilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi
5. Resiko kurangnya perawatan diri berhubungan dengan menarik diri
6. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan menarik diri
7. Waham : Kebesaran berhubungan dengan menarik diri
8. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan harga diri rendah
9. Gangguan harga diri : harga diri rendah kronis berhubungan dengan koping keluarga tidak efektif
10. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan
RSJP Jakarta, 26 Maret 1999
Mahasiswa Program B-Ektensi 1997