Você está na página 1de 11

Pengukuran Antropometri tunggal dari tubuh manusia, antara lain:

a.

Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan
penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah.
Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, akan menjadi

tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.
b. Berat Badan
Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan
mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat dan
protein otot menurun.
Pada orang yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam
tubuh. Sedangkan adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot,
c.

khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.


Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang
telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Di
samping itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting karena
dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan. Pengukuran
tinggi badan pada umumnya dilakukan dengan menggunakan alat yang

disebut Microtoice yang mempunyai ketelitian 0,1 cm.


d. Lingkar Lengan Atas
Lingkar lengan atas (LILA) dewasa ini merupakan salah satu pilihan
untuk penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan
alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah.
Baku lingkar lengan atas yang digunakan sekarang belum mendapat
pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Hal ini didasarkan
pada hasil-hasil penelitian yang umumnya menunjukkan perbedaan angka
prevalensi KEP yang cukup berarti antar penggunaan LILA di satu pihak
dengan berat bedan menurut umur atau berat menurut tinggi badan
maupun indeks-indeks lain di pihak lain.

Kesalahan pengukuran pada LILA (pada berbagai tingkat keterampilan


pengukur)relatif lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan, mengingat
batas antara baku dengan gizi kurang, lebih sempit pada LILA daripada
tinggi badan. Ini berarti kesalahan yang sama besar jauh lebih berarti

pada LILA dibandingkan dengan tinggi badan.


Lingkar lengan atas sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah),
tetapi kurang sensitif pada golongan lain terutama orang dewasa. Tidak
demikian halnya dengan berat badan.
Alat ukur yang digunakan merupakan suatu pita pengukur yang terbuat
dari fiberglass atau jenis kertas tertentu berlapis plastik.
e. Lingkar Pinggang dan Pinggul
Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga
yang

terlatih

dan

posisi

pengukuran

harus

tepat.

Perbedaan

posisi

pengukuran akan memberikan hasil yang berbeda. Seidell, dkk (1987)


memberikan petunjuk bahwa rasio lingkar pinggang dan pinggul untuk
perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki.
f.
Lingkar Kepala
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak
secara praktis, yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari
besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh yang sering
digunakan

adalah

kepala

besar

(hidrosefalus)

dan

kepala

kecil

(mikrosefalus).
Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang
tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat pada tahun pertama, akan
tetapi besar lingkaran kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan
gizi. Bagaimanapun juga ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan
tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi.
Dallam antropometri gizi, rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup
berarti dalam menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala dapat juga
digunakan sebagai informasi tambahan dalam pengukuran umur.
g. Lingkar Dada
Pengukuran lingkar dada biasanya dilakukan pada anak yang berumur
2-3 tahun, karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6
bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara lambat dan

pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5 tahun, rasio
lingkar kepala dan lingkar dada adalah kurang dari 1. Hal ini dikarenakan
akibat kegagalan perkembangan dan pertumbuhan atau kelemahan otot dan
lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam
menentukan KEP pada anak balita.
h. Tebal Lemak di Bawah Kulit
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah
kulit(skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pembagian
lengan atas (biceps dan triceps), lengan bawah (forearm), tulang belikat
(subscapular), di tengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut
(abdominal), paha (suuprailiaca), tempurung lutut (suprapatellar), dan
pertengahan tungkai bawah (medial calf).
C. ALAT UKUR
1. Timbangan Seca (mengukur berat badan)
2. Microtoice (mengukur tinggi badan)
3. Alat ukur tinggi lutut
4. Pita LILA
5. Pita Lingkar Pinggang
6. Skinfold Caliper
D. PROSEDUR PENGUKURAN
a. Berat Badan
1. Subjek mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang
2.
3.

minimal) serta tidak mengenakan alas kaki.


Pastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0.
Subjek berdiri diatas timbangan dengan berat yang tersebar merata
pada kedua kaki

dan posisi kepala dengan pandangan lurus ke depan.

Usahakan tetap tenang.


4. Bacalah berat badan pada tampilan dengan skala 0,1 kg terdekat.
b. Tinggi Badan
1. Subjek tidak mengenakan alas kaki, lalu posisikan subjek tepat di bawah
Microtoice.
2. Kaki rapat, lutut lurus, sedangkan tumit, pantat dan bahu menyentuh
dinding vertikal.

3. Subjek dengan pandangan lurus ke depan, kepala tidak perlu menyentuh


dinding vertikal. Tangan dilepas ke samping badan dengan telapak tangan
menghadap paha.
4. Mintalah subjek untuk menarik napas panjang dan berdiri tegak tanpa
mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang belakang.
Usahakan bahu tetap santai.
5. Tarik Microtoice hingga menyentuh ujung kepala, pegang secara
horisontal. Pengukuran tinggi badan diambil pada saat menarik napas
maksimum, dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk angka
untuk menghindari kesalahan penglihatan.
6. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.
c.

Tinggi Lutut
1. Objek duduk dengan salah satu kaki ditekuk hingga membentuk sudut
90o

proximal

hingga

patella.

Gunakan

mistar

siku-siku

untuk

menentukan sudut yang dibentuk.


2. Letakkan alat ukur dengan dasar (titik 0) pada titik tengah lutut dan
tarik hingga telapak kaki.
3. Baca alat ukur hingga 0,1 cm terdekat.
d. LILA
1. Subjek diminta untuk berdiri tegak.
2. Tanyakan kepada subjek lengan mana yang aktif digunakan. Jika yang
aktif digunakan adalah lengan kanan, maka yang diukur adalah lengan kiri,
3.

begitupun sebaliknya.
Mintalah subjek untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan

4.

yang tidak aktif digunakan.


Untuk menentukan titik mid point lengan ditekuk hingga membentuk
sudut 90o, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri di
belakang subjek dan menentukan titik tengah antara tulang atas pada

5.
6.

bahu dan siku.


Tandailah titik tersebut dengan pulpen.
Tangan kemudian tergantung lepas dan siku lurus di samping badan serta
telapak tangan menghadap ke bawah.

7.

Ukurlah lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA
menempel pada kulit. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau

8.

ada rongga antara kulit dan pita.


Catat hasil pengukuran pada skala 0,1 cm terdekat

e. Lingkar Pinggang
1. Subjek menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga
alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur
tidak berada di atas pakaian yag digunakan.
2. Subjek berdiri tegak dengan perut dalam keadaan yang rileks.
3.
Letakkan alat ukur melingkari pinggang secara horisontal, dimana
merupakan bagian terkecil dari tubuh. Bagi subjek yang gemuk, dimana
sukar menentukan bagian paling kecil, maka daerah yang diukur adalah
antara tulang rusuk dan tonjolan iliaca. Seorang pembantu diperlukan
untuk meletakkan alat ukur dengan tepat.
4. Lakukan pengukuran di akhir ekspresi yang normal dengan alat ukur tidak
menekan kulit.
5. Bacalah hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat.
f.
1.
2.

Lingkar Panggul
Subjek mengenakan pakaian yang tidak terlalu menekan.
Subjek berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada sisi tubuh dan

kaki rapat.
3. Pengukur jongkok di samping subjek sehingga tingkat maksimal dari
panggul terlihat.
4. Lingkarkan alat pengukur secara horisontal tanpa menekan kulit. Seorang
pembantu diperlukan untuk mengatur posisi alat ukur pada sisi lainnya.
5. Bacalah dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm
tterdekat.
g. Tebal Lipatan Kulit (Triceps dan Subscapular)
1. Pegang Skinfold Caliper dengan tangan kanan.
2. Untuk triceps, pengukuran dilakukan pada titik mid point sedangkan untuk
subscapular, pengukur meraba scapula dan meencarinya ke arah bawah
lateral sepanjang batas vertebrata sampai menentukan sudut bawah
scapula.

3. Angkat lipatan kulit pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus arah kulit
pada pengukuran triceps (ibu jari dan jari telunjuk menghadap ke bawah)
atau ke arah diagonal untuk pengukuran subscapular.
4. Jepit lipatan kulit tersebut dengan Caliper dan baca hasil pengukurannya
dalam 4 detik penekanan kulit oleh Caliper dilepas

Data Anthropometri
Secara garis besar pedoman pengukuran pada data anthropometri antara
lain, yaitu :
1. Posisi Duduk Samping
- Tinggi Duduk Tegak (TDT), cara pengukuran yaitu dengan mengukur
jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung atas kepala.
Subjek duduk tegak dengan mata memandang lurus ke depan dan
lutut membentuk sudut siku-siku.
- Tinggi Bahu Duduk (TDT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung tulang bahu yang
menonjol pada saat subjek duduk tegak.
- Tinggi Mata Duduk (TMD), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung mata bagian dalam.
Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke depan.
- Tinggi Siku Duduk (TSD), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal dari permukaan alas duduk samping ujung bawah siku kanan.
Subjek duduk tegak dengan lengan atas vertikal di sisi badan dan
lengan bawah membentuk sudut siku-siku dengan lengan bawah.
- Tebal Paha (TP), cara pengukuran yaitu mengukur sybjek duduk tegak,
ukur jarak dari permukaan alas duduk samping ke permukaan atas
paha.
- Tinggi Popliteal(TPO), cara pengukuran yaitu mengukur jarak vertikal
dari lantai sampai bagian bawah paha.
- Pantat Popliteal (PP), cara pengukuran yaitu mengukur subjek duduk
tegak dan ukur jarak horizontal dari bagian terluar pantat sampai
lekukan lutut sebelah dalam (popliteal). Paha dan kaki bagian bawah
membentuk sudut siku-siku.
- Pantat Ke Lutut (PKL), cara pengukuran yaitu mengukur subjek duduk
dan ukur horisontal dari bagian terluar pantat sampai ke lutut. Paha
dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku
2. Posisi Berdiri.
- Tinggi Siku Berdiri (TSB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal dari lantai ke titik pertemuan antara lengan atas dan lengan

bawah. Subjek berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung secara


wajar.
Panjang Lengan Bawah (PLB), cara pengukuran yaitu mengukur subjek
berdiri tegak dan tangan di samping, ukur jarak dari siku sampai
pergelangan tangan.
Tinggi Mata Berdiri (TMB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian dalam (dekat pangkal
hidung). Subjek berdiri tegak dan memandang lurus ke depan.
Tinggi Badan Tegak (TBT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal telapak kaki sampai ujung kepala yang paling atas, sementara
subjek berdiri tegak dengan mata memandang lurus ke depan.
Tinggi Bahu Berdiri (TBB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
vertikal dari lantai sampai bahu yang menonjol pada saat subjek
berdiri tegak.
Tebal Badan (TB), cara pengukuran yaitu mengukur berdiri tegak dan
ukur jarak dari dada (bagian ulu hati) sampai punggung secara
horisontal.

3. Posisi Berdiri Dengan Tangan Kedepan.


- Jangkauan Tangan (JT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
horisontal dari punggung samping ujung jari tengah dan subjek berdiri
tegak dengan betis, pantat dan punggung merapat ke dinding, tangan
direntangkan secara horisontal ke depan.
4. Posisi Duduk Menghadap Kedepan.
- Lebar Pinggul (LP), cara pengukuran yaitu mengukur subjek duduk
tegak dan ukur jarakhorisontal dari bagaian terluar pinggul sisi kiri
samping bagian terluar pinggul sisi kanan.
- Lebar Bahu (LB), cara pengukuran yaitu mengukur jarak horisontal
antara kedua lengan atas dan subjek duduk tegak dengan lengan atas
merapat ke badan dan lengan bawah direntangkan ke depan.
5.
-

Posisi Berdiri Dengan Kedua Lengan Direntangkan.


Rentangan Tangan (RT), cara pengukuran yaitu mengukur jarak
horisontal dari ujung jari terpanjang tangan kiri samping ujung jari
terpanjang tangan kanan. Subjek berdiri tegak dan kedua tangan
direntangkan horisontal ke samping sejauh mungkin.

6. Pengukuran Jari Tangan


- Panjang Jari 1,2,3,4,5 (PJ-12345), cara pengukuran yaitu mengukur
masing-masing pangkal ruas jari sampai ujung jari. Jari-jari subjek
merentang lurus dan sejajar.
- Pangkal Ke Lengan (PPT), cara pengukuran yaitu mengukur pangkal
pergelangan tangan sampai pangkal ruas jari. Lengan bawah sampai
telapak tangan subjek lurus.

Lebar Jari 2345 (LJ-2345), cara pengukuran yaitu mengukur dari sisi
luar jari telunjuk sampai sisi luar jari kelingking dan jari-jari subjek
lurus merapat satu sama lain.
Lebar Tangan (LT), cara pengukuran yaitu mengukur sisi luar ibu jari
sampai sisi luar jari kelingking

Pengunaan Data Antropometri dalam Perancangan Produk


Displin ilmu ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh
manusia adalah antropometri. Data antropometri diperlukan untuk
perancangan sistem kerja yang baik. Lingkungan fisik juga dapat
mempengaruhi para pekerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan fisik adalah semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat
kerja.
Secara umum lingkungan fisik terbagi dalam dua kategori, yaitu :
- Lingkungan yang langsung berhubungan dengan pekerja
tersebut. Contoh : Stasiun kerja, kursi, meja dan
sebagainya.
- Lingkungan perantara atau lingkungan umum. Contoh:
temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan,
kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna, dan lainlain.
Untuk bisa meminimumkan pengaruh lingkungan fisik terhadap para pekerja,
maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari manusia baik mengenai
sifat dan tingkah lakunya serta keadaan fisiknya.
Antropometri
merupakan
kumpulan
data
numerik
yang
berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia (ukuran,
volume, dan berat) serta penerapan dari data tersebut untuk
perancangan fasilitas atau produk.
Penelitian awal tentang dimensi tubuh manusia dimulai sejak awal abad ke14 dan sampai pada abad ke-19 barulah dapat dihasilkan data anthropometri
yang lengkap. Metode pengukuran ini distandarisasikan selama periode awal
sampai pertengahan abad ke-20. Dan belakangan ini adalah yang dilakukan
pada tahun 1980-an oleh
International Organization For Standarisation. Antropometri terbagi atas dua
cara pengukuran yaitu antropometri statis dan anthropometri dinamis.
1. Antropometri Statis
Antropometri statis disebut juga dengan pengukuran dimensi struktur
tubuh. Anthropometri statis berhubungan dengan pengukuran dengan

keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi
standar. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain berat
badan, tinggi tubuh, ukuran kepala, panjang lengan dan sebagainya.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia
diantaranya :
- Umur
- Jenis kelamin
- Suku bangsa
- Pekerjaan.
- Genetika
2.

Antropometri dinamis
Antropometri dinamis berhubungan dengan pengukuran keadaan dan ciriciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakangerakan yang mungkin terjadi saat pekerjaan tersebut melaksanakan
kegiataannya.
Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis yaitu:
o Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan
untuk mengertikeadaan mekanis dari suatu aktivitas
o Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat
kerja
o Pengukuran variabilitas kerja

Pengukuran Anthropometri bertujuan untuk mengetahui bentuk dimensi


tubuh manusia, agar peralatan yang dirancang lebih sesuai dan dapat
memberikan rasa nyaman serta menyenangkan.
Data antropometri yang diperoleh akan diaplikasikan secara luas
dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll.).
2. Perancangan peralatan kerja (perkakas, mesin, dll.).
3. Perancangan produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja,
dll.).
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
5. Desain tempat kerja interior
Target, dalam perancangan misalnya sedikitnya 90 sampai 95 % dari
populasi harus dapat menggunakan hasil desainnya tersebut.
Hal ini sangat diharapkan di banyak situasi dan kondisi di mana mesin atau
peralatan yang dioperasikan membutuhkan human interchangeability, di
mana hal tersebut dapat dicapai dengan membuat rancangan yang dapat
disesuaikan (adjustable design).

Contoh kursi mobil untuk pengemudi, di mana kursi seharusnya dapat


disesuaikan di berbagai variasi gerakan dan kedudukan pada waktu
mengemudi supaya si pengemudi merasa nyaman. Orang yang bertubuh
pendek mungkin tidak akan bisa menjangkau kontrol yang dilakukan dengan
kaki, yaitu pedal gas, pedal rem dan pedal klos tanpa kursi yang bisa
disesuaikan dengan cara digerakkan maju/mundur.
Penyesuaian juga mutlak diperlukan jika merancang sesuatu yang akan
digunakan oleh populasi yang luas, misalnya untuk produk-produk yang
diekspor, dimana pemakai adalah populasi di seluruh dunia yang berbedabeda dimensi dan ukuran tubuhnya.
Perancangan Produk
Bila dilihat dalam skema sistem produksi, berdasarkan sistem input dan
output, maka sistem produksi memiliki beberapa karakteristik berikut :
a. Mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan satu
sama lain dan membentuk satu-kesatuan yang utuh. Hal ini
berkaitan dengan komponen struktural yang membangun Sistem
Produksi itu.
b. Mempunyai tujuan yang mendasari keberadaannya, yaitu
menghasilkan produk (barang dan/atau jasa) yang berkualitas
yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar.
c. Mempunyai aktivitas, berupa proses transformasi nilai tambah
input menjadi output secara efektif dan efisien.
d. Mempunyai mekanisme yang mengendalikan pengoperasiannya,
berupa optimasi pengalokasian sumber-sumber daya.
Proses perancangan sangat mempengaruhi produk, sedikitnya
dalam tiga hal, yaitu
biaya pembuatan produk,
kualitas produk dan
waktu penyelesaian produk mulai dari diterimanya kebutuhan
akan suatu produk sampai produk tersebut dapat dipasarkan.
Prinsip dalam perancangan area kerja, yaitu:
a. Menentukan ketinggian permukaan area kerja dengan tinggi siku
b. Menyesuaikan ketinggian berdasarkan pekerjaan yang dilakukan
c. Menyediakan kursi yang nyaman untuk operator duduk
d. Menyediakan kursi yang dapat disesuaikan
e. Mendorong fleksibilitas postural
f. Menyediakan tikar anti lelah (antifatigue mats) untuk operator yang
berdiri

g. Meletakkan semua alat dan bahan dalam jangkauan kerja yang


normal
h. Menetapkan lokasi alat dan bahan untuk mendapatkan posisi terbaik
i. Menggunakan alat pengiriman untuk mengurangi jangkauan dan
perpindahan berulang
j. Mengatur alat, kontrol, dan komponen lain secara optimal untuk
meminimalkan gerakan.