Você está na página 1de 12

LAPORAN KELOMPOK COLLABORATIVE LEARNING

HIPEREMIS GRAVIDARUM
Disusun untuk memenuhi tugas Blok Sistem Reproduksi

Oleh:
Irfan Marsuq Wahyu R.

135070201111002

Dwi Kurnia Sari

135070201111003

Puput Lifvaria Panta A.

135070201111004

Adelita Dwi Aprilia

135070201111005

Wahyuni

135070201111006

Ratna Juwita

135070201111007

Zahirotul Ilmi

135070201111008

Ni Putu Ika Purnamawati

135070201111009

Siska Puji Lestari

135070201111019

Hasnah Cholida Sani

135070201111020

KELOMPOK 5 REGULER

PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

1. DEFINISI HIPEREMIS GRAVIDARUM


Hyperemesis gravidarum ialah suatu keadaan (biasanya pada hamil
muda) dimana penderita mengalami mual muntah yang berlebihan,
sedemikian rupa mengganggu aktivitas dan kesehatan penderita secara
keseluruhan (Chrisdiono,2004).
Hyperemesis gravidarum ialah mual dan muntah yang berat dan
berlebihan selama kehamilan, yang mengakibatkan ketidakseimbangan
elektrolit, metabolic, nutrisi tanpa masalah-masalah medis lainnya.
2. ETIOLOGI HIPEREMIS GRAVIDARUM
Etiologi hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Dulu
penyakit ini dikelompokkan ke dalam penyakit toksemia gravidarum
karena diduga adanya semacam racun yang berasal dari janin atau
kehamilan. Runiari (2010) dan Guyton (2004) menjelaskan beberapa teori
penyebab terjadinya hiperemesis gravidarum namun tidak ada satupun
yang dapat menjelaskan proses terjadinya secara tepat. Teori tersebut
antara lain adalah:
a. Teori Endokrin
Teori endokrin menyatakan bahwa peningkatan kadar progesteron,
estrogen, dan Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dapat menjadi
faktor pencetus mual muntah.

Peningkatan

hormon

progesteron

menyebabkan otot polos pada sistem gastrointestinal mengalami


relaksasi, hal itu mengakibatkan penurunan motilitas lambung sehingga
pengosongan

lambung

melambat.

Refleks

esofagus,

penurunan

motilitas lambung dan penurunan sekresi dari asam hidroklorid juga


berkontribusi terhadap terjadinya mual dan muntah. Selain itu HCG
juga menstimulasi kelenjar tiroid yang dapat mengakibatkan mual dan
muntah. Hormon progesteron ini dihasilkan oleh korpus luteum pada
masa awal kehamilan dan mempunyai fungsi menenangkan tubuh ibu
hamil selama kehamilan, termasuk saraf ibu hamil sehingga perasaan
ibu hamil menjadi tenang. Hormon ini berfungsi untuk membangun
lapisan di dinding rahim untuk menyangga plasenta di dalam rahim.
Hormon ini juga dapat berfungsi untuk mencegah gerakan kontraksi
atau pengerutan otot-otot rahim. Hormon ini dapat "mengembangkan"
pembuluh darah sehingga menurunkan tekanan darah, itu penyebab
mengapa wanita sering pusing saat hamil. Hormon ini juga membuat
sistem pencernaan jadi lambat, perut menjadi kembung atau sembelit.
Hormon ini juga mempengaruhi perasaan dan suasana hati ibu,
meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan pernafasan, mual, dan
menurunnya gairah berhubungan intim selama hamil. Seseorang dalam
kondisi stress akan meningkatkan aktifitas saraf simpatis, untuk

melepaskan hormon stress berupa adrenalin dan kortisol. Sistem imun


merupakan komponen penting dan responden adaptif stress secara
fisiologis.

Stress

menggunakan

adrenalin

dalam

tubuh

untuk

meningkatkan kepekaan, prestasi dan tenaga. Peningkatan adrenalin


akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh
darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan
tekanan darah terial dan menambah volume darah ke jantung dan
jumlah

detak

jantung.

Adrenalin

juga

menambah

pembentukan

kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Tekanan darah yang


tinggi dan peningkatan denyut jantung akan dapat meningkatkan HCG.
HCG

(Human

Chorionic

Gonadotrophin)

adalah

hormone

yang

dihasilkan selama kehamilan, yang dapat dideteksi dari darah atau air
seni wanita hamil sesudah kurang lebih 10 hari sesudah pembuahan.
HCG ini dapat menstimulasi terjadinya mual dan muntah pada ibu
hamil.
b. Teori Metabolik
Teori metabolik menyatakan bahwa kekurangan vitamin B6 dapat
mengakibatkan mual dan muntah pada kehamilan.
c. Teori Alergi
Adanya histamin sebagai pemicu dari mual dan muntah mendukung
ditegakkannya teori alergi sebagai etiologi hiperemesis gravidarum.
Mual dan muntah berlebihan juga dapat terjadi pada ibu hamil yang
sangat sensitif terhadap sekresi dari korpus luteum.
d. Teori Infeksi
Hasil penelitian menemukan adanya hubungan
Helicobacter
sehingga

pykori

dijadikan

dengan
dasar

terjadinya

antara

hiperemesis

dikemukakannya

teori

infeksi

gravidarum,

infeksi

sebagai

penyebab hiperemesis gravidarum.


e. Teori Psikosomantik
Menurut teori psikomatik, hiperemesis gravidarum merupakan keadaan
gangguan psikologis yang dirubah dalam bentuk gejala fisik. Kehamilan
yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan serta tekanan pekerjaan
dan

pendapatan

menyebabkan

terjadinya

perasaan

berduka,

ambivalen, serta konflik dan hal tersebut dapat menjadi faktor


psikologis penyebab hiperemesis gravidarum.
3. EPIDEMIOLOGI HIPEREMIS GRAVIDARUM
Hiperemesis Gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang
berat selama kehamilan, yang terjadi pada 1%-2% dari semua kehamilan
atau 1-20 pasien per 1000 kehamilan. Penelitian-penelitian memperkirakan
bahwa mual dan muntah terjadi pada 50-90% dari kehamilan. Mual dan
muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida.

Dari

seluruh

kehamilan

yang

terjadi

di

Amerika

Serikat

0,3-2%

diantaranya mengalami hiperemesis gravidarum atau kurang lebih 5 dari


1000 kehamilan.
Mual dan muntah yang berkaitan dengan kehamilan biasanya
dimulai pada usia kehamilan 9-10

minggu,

puncaknya

pada

usia

kehamilan 11-13 minggu, dan sembuh pada kebanyakan kasus pada


umur kehamilan 12-14 minggu. Dalam 1-10% dari kehamilan, gejala-gejala
dapat berlanjut melampaui 20-22 minggu. Kejadian hiperemesis dapat
berulang
studi

pada

terhadap

wanita

hamil.

J.

Fitzgerald

(1938-1953)

melakukan

159 wanita hamil di Aberdeen, Skotlandia, menemukan

bahwa hiperemesis pada kehamilan pertama

merupakan

faktor

risiko

untuk terjadinya hiperemesis pada kehamilan berikutnya. Berdasarkan


penelitian, dari 56 wanita yang kembali hamil, 27 diantaranya mengalami
hiperemesis pada kehamilan kedua dan 7 dari 19 wanita mengalami
hiperemesis pada kehamilan ketiga (Bailit, 2005)
4. PATOFISIOLOGI HIPEREMIS GRAVIDARUM
(terlampir)
5. FAKTOR RESIKO HIPEREMIS GRAVIDARUM
a. Faktor psikologis, bergantung pada:
Apakah si ibu dapat menerima kehamilannya.
Apakah kehamilannya diinginkan atau tidak.
b. Faktor fisik:
Terdapat kemungkinan masuknya villi khorealis ke

dalam

sirkulasi darah.
Terjadi peningkatan yang mencolok atau belum beradaptasi
dengan kenaikan human chorionic gonadothropin.
Faktor konsentrasi human chorionic gonadothropin yang tinggi:
- Primigravida lebih sering dari multigravida
- Semakin meningkat pada mola hidatidosa, hamil ganda,
dan hidramnion.
Faktor
gizi/anemia

meningkatkan

terjadinya

hiperemis

gravidarum.
6. MANIFESTASI KLINIS HIPEREMIS GRAVIDARUM
Secara umum manifestasi klinis hiperemesis gravidarum adalah Muntah
yang hebat, Haus, Dehidrasi, BB menurun (>1/10 normal), Keadaan umum
menurun,

Peningkatan

suhu

tubuh,

Ikterik,

Gangguan

kesadaran

(delirium), dan pada pemeriksaan Laboratorium didapatkan proteinurine,


ketonuria, urobilinogen Biasanya terjadi pada minggu ke 6-12.
Hiperemesis gravidarum dibagi berdasarkan berat ringannya gejala
menjadi 3 tingkat, yaitu:
a. Ringan
Ditandai dengan muntah terus menerus yang membuat keadaan umum
ibu berubah, ibu merasa sangat lemah, tidak ada nafsu makan, berat
badan menurun, dan nyeri ulu hati. Pada pemeriksaan fisik ditemukan

denyut nadi sekitar 100 kali permenit, tekanan darah sistolik menurun,
turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.
b. Sedang
Pasien terlihat lebih lemah dan apatis, turgor kulit berkurang, lidah
mengering dan tampak kotor, denyut nadi lemah dan cepat, suhu akan
naik dan mata sedikit ikteris, berat badan turun dan mata cekung, tensi
turun, hemokonsetrasi, oliguria(volume buang air kecil sedikit) dan
konstipasi(sulit buang air besar). Bau aseton dapat tercium dari nafas
dan dapat pula ditemukan dalam urin.
c. Berat
Keadaan umum tampak lebih parah, muntah berhenti, penurunan
kesadaran, bisa somnolen sampai koma. Nadi lemah dan cepat,
tekanan darah menurun dan suhu meningkat. Komplikasi pada susunan
saraf yang fatal dapat terjadi, dikenal dengan ensefalopati wernicke,
dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan
tersebut diakibatkan oleh kekurangan zat makanan, terutama vitamin
B1 dan B2.
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK HIPEREMIS GRAVIDARUM
Untuk menetapkan kejadian hiperemis gravidarum tidaklah sukar,
yaitu dengan menentukan kehamilan dan adanya muntah berlebihan yang
sampai menimbulkan gangguan aktivitas hidup sehari-hari dan dehidrasi.
Muntah yang terus-menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan
gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim dengan manifestasi
klinisnya. Oleh karena itu, hiperemis gravidarum berkelanjutan harus
dicegah dan harus diobati secara adekuat. Kemungkinan penyakit lain
yang menyertai kehamilan harus dipikirkan dan berkonsultasi dengan
dokter tentang penyakit hati, penyakit ginjal, dan penyakit tukak lambung.
Pemeriksaan

laboratorium

dapat

membedakan

tiga

kemungkinan

kehamilan yang disertai penyakit. (Manuaba, 2008)


Selain itu apabila dicurigai ada infeksi gastrointestinal

dapat

dilakukan pemeriksaan antibody Helicobacter pylori, sebagai berikut:


Sekarang ini ada beberapa cara populer untuk mendeteksi adanya infeksi
H.

pylori,

masing-masing

memiliki

kelebihan,

kekurangan

dan

keterbatasan. Pada dasarnya tes yang tersedia untuk diagnosis ada 2


metode yaitu metode invasif dan metode non invasif. Pada metode yang
invasif dapat dilakukan biopsi endoskopi untuk pemeriksaan histologi,
kultur, Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Rapid Urease Test. Pada yang
non invasif dapat dilakukan Urea Breath Test, Serologi Test dan Stool
Antigen Test.
Metode invasif:
a. Histologi

Evaluasi histologi merupakan metode standar emas untuk memastikan


adanya kuman H. pylori pada lambung. Untuk evaluasi ini diperlukan
tindakan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi. Dengan sensitivitas
98% dan spesifitas 95%, namun tidak dapat dilakukan pada wanita
hamil. Kelemahan teknik evaluasi histologi ini adalah diperlukannya
endoskopi untuk mendapatkan jaringan. Keterbatasan yang lain adalah
jumlah yang tidak layak dari spesimen biopsi yang diperoleh atau
kegagalan mendapatkan spesimen dari daerah lambung. Pada sebagian
kasus, teknik pemulasan yang berbeda-beda mungkin diperlukan, yang
bisa melibatkan waktu pemprosesan yang lebih lama dan biaya yang
lebih tinggi.
b. Kultur
Karena H. pylori sulit tumbuh pada medium kultur, peranan kultur
dalam diagnosis infeksi sebagian besar terbatas pada penelitian dan
pertimbangan epidemiologi. Pemeriksaan kultur mahal, memakan
waktu yang lama dan intensif, namun kultur tetap memegang peranan
dalam studi kerentanan terhadap antibiotik dan studi tentang faktorfaktor pertumbuhan dan metabolisme. Di Amerika Serikat, kultur tidak
dianggap cara diagnosis lini pertama yang rutin.
c. Polymerase Chain Reaction (PCR)
Dengan lahirnya PCR, banyak kemungkinan yang menarik muncul
untuk mendiagnosa dan mengklasifikasikan infeksi H. pylori. PCR
memungkinkan identifikasi organisme dalam sampel kecil dengan
sedikit bakteri dan tidak membutuhkan persyaratan khusus dalam
pemprosesan

dan

pengangkutan.

PCR

juga

sedang

dievaluasi

manfaatnya dalam mengidentifikasi H. pylori dalam sampel plak gigi,


saliva dan feces yang mudah diambil sampelnya. Keterbatasan dari
PCR

adalah

bahwa

relatif

sedikit

laboratorium

yang

memiliki

kemampuan untuk mengoperasikan pengujian ini. Selain itu, karena


PCR bisa mendeteksi segmen-segmen DNA H. pylori dalam mukosa
lambung pasien yang diobati sebelumnya, hasil positif palsu bisa
terjadi.
d. Rapid Urease Test
Rapid Urease Test/Pengujian Urease Cepat dilakukan berdasarkan dari
fakta bahwa H. pylori adalah organisme yang menghasilkan urease.
Sampel yang diperoleh dari endoskopi ditempatkan di dalam medium
yang mengandung urea. Jika urease ada, urea akan diuraikan menjadi
karbon dioksida dan ammonia, akibatnya terjadi peningkatan pH
medium dan selanjutnya terjadi perubahan warna pada medium. Test
ini memiliki kelebihan yaitu tidak mahal, cepat dan tersedia secara

luas. Akan tetapi, test ini dibatasi oleh kemungkinan hasil positif palsu,
dimana terjadi penurunan aktivitas urease yang disebabkan konsumsi
antibiotik yang masih baru, senyawa bismuth, inhibitor pompa proton
atau sucralfate atau oleh reflux empedu, bisa turut andil atas hasil
positif palsu ini.
Metode non invasif:
a. Urea Breath Test
Urea Breath Test/Test Napas Urea mengandalkan aktivitas urease H.
pylori untuk mendeteksi keberadaan infeksi aktif. Dalam test ini, pasien
yang diduga mengidap infeksi diberi urea berlabel-14C atau urea
berlabel-13C. Urea berlabel-14C atau 13C memiliki kelebihan bersifat
nonradioaktif dan karenanya lebih aman untuk anak-anak dan wanita
setelah

melahirkan.

Urea

Breath

Test

memiliki

sensitivitas

dan

spesifisitas lebih dari 90 %. Pemeriksaan Urea Breath Test bersifat non


invasif, tidak menggunakan bahan radioaktif, hasil cepat, praktis tanpa
persiapan khusus dan tanpa efek samping. Pemeriksaan Urea Breath
Test dapat dilakukan dengan menggunakan alat Infra Red Isotope
Analyser

(IRIS)

untuk

mendeteksi

adanya

H.

pylori.

Prosedur

pemeriksaan dilakukan dengan cara meniupkan udara pernafasan ke


dalam kantong udara yang tersedia yang kemudian dihubungkan ke
alat IRIS untuk mengetahui ada tidaknya H. pylori. Prosedurnya
sederhana dan hasilnya cepat dengan waktu 30 menit. Non invasif
karena tidak ada alat yang dimasukkan kedalam tubuh dan tanpa efek
samping karena hanya menggunakan udara pernafasan.
b. Serologi Test
Metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Pemeriksaan serologi dengan metode ELISA untuk melihat adanya
antibodi terhadap kuman H. pylori memililki sensitivitas 90-95 % dan
spesifitas 92%. Teknik ini dinilai cukup efektif, ekonomis serta lebih
mudah dilakukan dibanding tes diagnostik lainnya. Sebagai reaksi
terhadap infeksi H. pylori, sistem kekebalan akan memunculkan reaksi
melalui produksi immunoglobulin terhadap antigen spesifik organisme.
Antibodi ini bisa terdeteksi dalam serum atau sampel darah yang
dengan mudah diperoleh. Keberadaan antibodi IgG terhadap H. pylori
bisa dideteksi dengan menggunakan pengujian biokimia dan banyak
pengujian yang berbeda-beda tersedia. Test serologi berguna dalam
mengidentifikasi H. pylori dengan mendeteksi antibodi yang terkait

dengan penyakit yang lebih berat yaitu, ulcus yang terkomplikasi,


kanker lambung dan lymphoma.
Prinsip test
Prinsip test ini didasarkan pada teknik ELISA. Test ini untuk menentukan
kadar semi kuantitatif IgG H. pylori di dalam serum atau plasma
manusia. Saat ini telah banyak dilaporkan kemungkinan terlibatnya H.
pylori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum. Beberapa penelitian
menyebutkan

bahwa

terdapat

hubungan

antara

hiperemesis

gravidarum dengan infeksi H. pylori. Mekanisme terjadinya hal ini dapat


dijelaskan secara teoritis yaitu bahwa infeksi subklinis H. pylori
merupakan akibat perubahan kadar hormon steroid dan pH lambung
pada kehamilan. Para peneliti membuat suatu hipotesa bahwa pada
fase awal kehamilan, perubahan pada konsentrasi cairan tubuh wanita
mempengaruhi pH saluran cerna, yang kemudian dapat mengaktifkan
H. pylori laten yang ada di saluran cerna. Perubahan pH saluran cerna
dapat mengaktivasi bakteri H. pylori laten sehingga timbul manifestasi
penyakit tersebut. Juga beberapa laporan kasus menyatakan bahwa
pemberantasan

infeksi

H.

pylori

memperbaiki

klinis

hiperemesis

gravidarum.
c. Stool Antigen Test
H. pylori Stool Antigen (HpSA)/Pengujian antigen tinja merupakan
metodologi yang relatif baru yang menggunakan enzyme immunoassay
untuk mendeteksi keberadaan antigen H. pylori di dalam spesimen
tinja. Biaya cukup efektif dan cara yang handal dalam mendiagnosa
infeksi aktif dan menegaskan kesembuhan. Pengujian ini mempunyai
sensitivitas dan spesifisitas yang sebanding dengan sensitivitas dan
spesifisitas test non invasif lainnya. Stool Antigen Test memiliki
sensitivitas dan spesifisitas lebih dari 90%. (Prawihardjo,2002)
8. PENATALAKSANAAN MEDIS HIPEREMIS GRAVIDARUM
Menurut Manuaba (2010) penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu hamil
dengan hiperemesis gravidarum adalah:
a. Memberikan penjelasan tentang kehamilan dan persalinan sebagai
suatu proses yang fisiologis.
b. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
merupakan gejala fisiologis pada kehamilan muda dan akan hilang
setelah kehamilan 4 bulan.
c. Menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam
jumlah kecil tetapi sering.
d. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari
tempat tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau biscuit dengan teh
hangat.

e.
f.
g.
h.

Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaikya dihindarkan.


Makanan sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.
Defekasi yang teratur.
Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting,

i.

dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.


Obat-obatan

Sedative yang sering digunakan adalah phenobarbital. Vitamin yang


dianjurkan vitamin B1 dan B6. Anti histaminika juga dianjurkan juga
seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan antiemetic
seperti

disiklomin

hidrokhonae

atau

khlorpromasin.

Penanganan

hiperemesis gravidarum yang berat perlu dikelola dirumah sakit.

Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk
hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar
penderita sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak

diberikan makanan atau minuman selama 24 jam.


Terapi psikologi
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit

dapat

disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi


pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya

dapat menjadi latar belakang penyakit ini.


Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolik, karbohidrat dan
protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologis sebanyak
2-3 liter/hari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin,
khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan

protein, dapat diberikan pula asam amino secara intravena.


Penghentian kehamilan
Pada beberapa kasus pengobatan hiperemesis gravidarum tidak
berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun
sehingga

diperlukan

pertimbangan

untuk

melakukan

gugur

kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung


diantaranya:
- Gangguan kejiwaan (delirium, apatis, somnolen sampai koma,
-

terjadi gangguan jiwa ensefalopati wernicke).


Gangguan penglihatan (perdarahan retina,

penglihatan).
Gangguan faal (hati dalam bentuk ikterus, ginjal dalam bentuk

kemunduran

anuria, jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat,


tekanan darah menurun).

Diet

Menurut

Runiari

(2010)

tiga

macam

diet

pada

hiperemesis

gravidarum yaitu:
- Diet hiperemesis I
Diet ini diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya
terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar
atau rebus, dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama
dengan makanan tetapi 1-2 jam setelahnya. Karena pada diet
ini zat gizi yang terkandung didalamnya kurang, maka tidak
-

diberikan dalam waktu lama.


Diet hiperemesis II
Diet ini diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang.
Diet

diberikan

secara

bertahap

dan

dimulai

dengan

memberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman


tetap tidak diberikan bersamaan dengan makanan. Pemilihan
bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi
kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi. Jenis makanan ini
-

rendah kandungan gizinya, kecuali vitamin A dan D.


Diet hiperemesis III
Diet ini diberikan kepada klien hiperemesis gravidarum ringan.
Diet diberikan sesuai kemampuan klien, dan minuman boleh
diberikan bersamaan dengan makanan. Makanan pada diet ini
mencukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi.

TRIGGER
Seorang perempuan berusia 23 tahun datang ke IGD RS Kasih Bunda diantar oleh
suaminya. Klien datang pada hari senin pukul 11 siang. Klien mengeluh mual
muntah yang terus-menerus sejak 2 hari yang lalu namun masih bisa
mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang ringan seperti menyapu dan mencuci
piring. Klien mengeluh mual muntah semakin sering dan pusing sejak tadi pagi
sehingga suami klien membawa klien ke RS. Usia kehamilan klien 13 minggu dan
saat ini merupakan kehamilan yang pertama. Klien mengatakan tidak nafsu
makan. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi
89x/menit, RR 22x/menit, suhu aksila 37,2 0 C, bising usus 22x/menit dan terdapat
nyeri epigastrum. Bibir klien kering, konjungtiva pucat, turgor kulit menurun dan
kondisi lemah. Berat badan saat ini 46 kg, berat badan sebelumnya 48 kg, tinggi
badan

150

cm.

Klien

mengatakan

khawatir

dengan

kondisi

janin

yang

dikandungnya. Saat ini perawat sedang menyusun rencana asuhan keperawatan


untuk klien.

DAFTAR PUSTAKA

Achadiat, Chrisdiono. 2004. Prosedur Tetap Obstetric Dan Ginekologi. Jakarta:


EGC.
Bailit JL. 2005.

Hyperemesis gravidarium: Epidemiologic findings from a large

cohort. Am J Obstet Gynecol.


Guyton AC., Hall JE. 2004. Text Book of Medical Physiology. 10th ed. New York:
WB. Saunders
Company. Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2008. Buku Ajar Patologi Obstetri
untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Ayu Chandranita, Dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan,
dan KB. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC.
Mitayani. 2012. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.
Prawirohardjo
IlmuKebidanan;

S,

Wiknjosastro

Jakarta;

H.

Yayasan

Hiperemesis

Bina

Pustaka

Gravidarum.
Sarwono

Dalam:

Prawirohardjo;

Jakarta:2002; hal. 275-280


Runiari, Nengah. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis
Gravidarum. Jakarta: Salemba Medika.

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo