Você está na página 1de 5

ASEAN Free Trade Area merupakan kepanjangan dari AFTA.

AFTA merupakan
sebuah kesepakatan dari negara-negara yang tergabung di ASEAN untuk membentuk
suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi
kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia
serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.
AFTA dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di
Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA merupakan wujud dari kesepakatan dari
negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam
rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN.
Perdagangan bebas ASEAN (AFTA) disetujui pada KTT-ASEAN di Singapura tahun
1992, dengan tujuan untuk meningkatkan perdagangan intra-ASEAN dan
pendayagunaan bersama semua sumber daya dari dan oleh negara-negara ASEAN.
Pada waktu disetujuinya AFTA tersebut, target implementasi penuhnya adalah pada 1
Januari 2008, dengan cakupannya adalah produk industri.
AFTA dibangun dengan tujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat
produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar
global, menarik lebih banyak Investasi asing, serta meningkatkan kualitas
perdagangan antar negara anggota ASEAN.
Bagi Indonesia sendiri, AFTA merupakan kerjasama yang menguntungkan. AFTA
merupakan peluang bagi kegiatan eksport komoditas pertanian yang selama ini
dihasilkan dan sekaligus menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menghasilkan
komoditas yang kompetitif pasar regional AFTA sendiri. Peningkatan daya saing ini
akan mendorong perekonomian Indonesia untuk semakin berkembang. AFTA juga
merangsang para pelaku usaha di Indonesia untuk menghasilkan barang yang
berkualitas sehingga dapat bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh
negara-negara ASEAN lainnya.
Dengan adanya AFTA, Indonesia memiliki beberapa keuntungan seperti peluang
pasar yang semakin besar dan luas bagi produk Indonesia, tersedianya barang modal
dan bahan baku/penolong dari negara anggota ASEAN lainnya dan termasuk biaya

pemasaran, Kerjasama dalam menjalankan bisnis semakin terbuka dengan beraliansi


dengan pelaku bisnis di negara anggota ASEAN lainnya.
Selain keuntungan-keuntungan tersebut Indonesia mendapatkan pula tantangantantangan yaitu pengusaha/produsen Indonesia dituntut terus menerus dapat
meningkatkan kemampuan dalam menjalankan bisnis secara profesional guna dapat
memenangkan kompetisi dari produk yang berasal dari negara anggota ASEAN
lainnya baik dalam memanfaatkan peluang pasar domestik maupun pasar negara
anggota ASEAN lainnya.
Dalam mengimplementasikan AFTA ada dua kendala yang dihadapi Indonesia.
Pertama, besarnya peran pemerintah dalam perdagangan luar negeri. Peran
pemerintah Indonesia dalam perdagangan luar negeri masih lebih besar jika
dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya. Kedua, kelemahan mencolok
yang dihadapi Indonesia saat ini adalah lemahnya daya saing produk Indonesia dalam
persaingan global, khususnya AFTA.
Adapun tiga faktor yang dapat mempengaruhi daya saing produksi suatu negara
adalah akses pasar, kualitas produk, infrastruktur hukum dan kebijakan dalam negeri.
Pertama, pada sisi akses pasar, Indonesia sebenarnya telah memiliki pasar ASEAN
yang tidak kecil. Setidaknya 550 juta penduduk ASEAN merupakan pasar yang amat
potensial bagi produk Indonesia. Namun, komoditi dagang yang relatif sama
antarnegara ASEAN menjadikan pasar ini begitu banyak pesaing. Kedua, di samping
persaingan pasar, ternyata kualitas daya saing produk Indonesia juga tertinggal
dibanding negara lain.
Kedua, pada sisi kualitas produk Indonesia yang jika dibandingkan dengan kualitas
produk Negara lain yang telah menggunakan teknologi canggih untuk memproduksi
produknya
Negara-negara di ASEAN sebenarnya memiliki perbedaan tingkat perekonomian. Hal
itu terlihat pada pendapatan perkapita masing-masing negara anggota ASEAN.
Beberapa negara memiliki pendapatan perkapita lebih tinggi dari pada negara lainnya.
Belum lagi ketidak stabilan politik dalam negeri yang juga mempengaruhi
perekonomian di negara-negara anggota ASEAN. ASEAN-6 contohnya, pendapatan
perkapita negara-negara ASEAN-6 lebih tinggi dibandingkan empat negara lainnya

yaitu, Lao PDR, Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Sehingga sulit bagi keempat
negara tersebut untuk menurunkan tarif bagi barang yang dianggap sensitif bagi
kepentingan dalam negerinya.
Belum lagi persaingan barang komoditas antara negara-negara anggota ASEAN,
terkadang kualitas barang yang rendah dan tidak dapat bersaing membuat ambruknya
industri kecil di beberapa negara tersebut. Bahkan bukan bagi keempat negara di
ASEAN yang tergolong memiliki perekonomian rendah tetapi juga negara anggota
ASEAN-6 harus menghadapi kenyataan bahwa industri kecil di negaranya harus
mengalami guncangan karena tidak dapat bersaing dengan barang komoditas yang
masuk ke negaranya.
Bahkan banyak anggapan bahwa AFTA hanya menghasilkan persaingan yang tidak
seimbang bagi negara anggota ASEAN itu sendiri. Penurunan tarif barang bagi
barang yang masuk dari negara anggota ASEAN menimbulkan kerugian. Ketidak
siapan pasar industri lokal juga yang menjadi kendala bagi berjalannya AFTA dan
penerapan penurunan tarif. Seperti negara-negara anggota ASEAN lainnya Indonesia
pun mengalami hal yang sama. Daya saing barang yang diperdagangkan kurang
memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini mengakibatkan banyaknya industriindustri kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian yang besar. Persaingan
produk dalam negeri dengan produk yang masuk kedalam negeri membuat para
pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas barang produksinya. Hal tersebut tidak
mudah dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh para pengusaha-pengusaha
kecil dan menengah. Belum lagi keterbatasan dari segi infrastruktur di Indonesia,
keterbatasan tekhnologi yang menunjang produksi para pengusaha kecil dan
menengah di Indonesia juga menjadi suatu masalah tersendiri. Dalam AFTA para
pengusaha dipaksa untuk memiliki daya saing yang tinggi, agar nantinya pengusahapengusaha dalam negeri ini dapat mandiri.
Peran dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan disini, pemerintah haruslah
membuat suatu regulasi yang jelas dalam menanggapi masalah-masalah yang
dihadapi oleh para pengusaha di Indonesia khususnya pengusaha kecil dan menengah
mengenai bantuan modal usaha. Pemerintah sepatutnya menolong para pengusaha
kecil dan menengah kita dalam meningkatkan kualitas produknya agar nantinya

produksi mereka tidak berhenti dan rugi. Selama ini permasalahan yang yang selalu
timbul adalah ketidak mampuan pemerintah Indonesia dalam melindungi para
pengusaha kecil dan menengah di Indonesia.
Hal ini terlihat dari banyaknya para pengusaha yang tergolong pengusaha kecil dan
menengah di Indonesia mengalami kerugian besar dan produksinya berhenti
dikarenakan kualitas barang mereka kalah dibandingkan dengan barang-barang yang
masuk dari Vietnam dan Cina. Contohnya industri rotan di Indonesia, biasanya para
pengusaha rota hanya mengirim berupa rotan yang belum diolah sehingga merugikan
pihak pengusaha rotan dalam negeri, sedangkan rotan yang masuk dari Cina dan
Vietnam biasanya telah diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual lebih
tinggi. Dari permasalah tersebut seharusnya pemerintah sudah memiliki langkah yang
pasti untuk melindungi para pengusaha rotan, caranya dengan mengekspor produk
rotan bukan sekedar bahan dasarnya saja tapi berupa rotan yang telah di olah menjadi
suatu produk yang harga jualnya lebih tinggi, sama dengan yang diekspor Vietnam
dan Cina.
Dalam banyak hal, AFTA dapat efektif dan menguntungkan Indonesia jika para
pengusaha dan pemerintah Indonesia bekerja sama. Solusi yang jelas bagi para
pengusaha di Indonesia akan membantu Indonesia dalam menghadapi pasar bebas
yang diberlakukan. Pemerintah melindungi para pengusaha kecil dan menengah
dengan cara bantuan modal untuk melakukan produksi agar para pengusaha kecil dan
menengah di Indonesia dapat membuat suatu produk yang memiliki daya saing yang
tinggi saat dipasarkan. Kendala yang tengan dihadapi adalah masalah infrastruktur di
Indonesia yang kurang mendukung. Pemerintah juga sepatutnya menyediakan
infastruktur yang memadai, seperti jalanan yang rusak akan menghambat proses
distribusi barang dan dapat merugikan. Indonesia memiliki banyak barang komoditas
yang tidak kalah oleh Vietnam dan Cina. Masalahnya hanya terletak pada daya saing
para pengusaha di Indonesia dalam persaingan di dalam pasar bebas ini.
Salah satu kemungkinan yang membuat kita kurang berhasil menembus pasar
ASEAN adalah karena pengusaha kita relatif kurang memperhatikan pasar ASEAN.
Eksportir Indonesia lebih banyak berkonsentrasi pada pasar-pasar besar, seperti

Amerika Serikat dan Jepang, sementara Thailand tampaknya lebih serius dalam
menggarap pasar ASEAN.
Pemerintah Indonesia dapat lebih meningkatkan peranannya dengan meminta seluruh
informasi yang berkaitan dengan pasar ASEAN dan AFTA dari Sekretariat ASEAN,
mengidentifikasi produk potensial yang dapat dipasarkan, dan menyediakan informasi
tersebut kepada pengusaha Indonesia secara cuma-cuma melalui situs Internet yang
dirancang khusus untuk hal itu.
Dampak dari AFTA adalah ASEAN akan menjadi satu pasar terintegrasi dengan
pembeli potensial sebanyak 500 juta orang. Tentu hal ini akan menarik banyak
perusahaan multinasional untuk menggarap pasar ini. AFTA membuat mereka dapat
melakukan proses produksi di satu negara untuk dipasarkan ke seluruh negara
ASEAN.
Tampaknya, Indonesia juga tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya
dalam hal menarik investasi asing langsung. Bahkan, Indonesia mengalami FDI
negatif sejak tahun 1998. Artinya, lebih banyak investasi asing yang keluar
dibandingkan dengan yang masuk. Sebaliknya, meskipun sama-sama terpukul oleh
krisis, Thailand tidak pernah mengalami FDI negatif. Demikian pula dengan beberapa
negara ASEAN lainnya. Kecenderungan seperti ini mengindikasikan bahwa Indonesia
kalah menarik untuk dijadikan pusat produksi sehingga perusahaan multinasional
lebih memilih negara lain sebagai pusat produksi untuk menyuplai pasar ASEAN.
Apabila tidak diatasi secepatnya, tentunya hal ini akan kurang menguntungkan
Indonesia karena potensi penciptaan lapangan kerja baru menjadi berkurang.