Você está na página 1de 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit, baik menular maupun tidak menular, semakin berkembang jenisnya
seiring dengan perkembangan zaman. Berbeda daerah, berbeda pula jenis penyakit
yang umumnya menerpa. Oleh karena itu, setiap daerah membutuhkan pengendalian
dan penanganan penyakit yang berbeda, disesuaikan dengan jenis penyakit yang ada.
Di sinilah peran puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat tingkat
pertama sangat dibutuhkan. Puskemas tidak hanya berperan dalam mengedukasi
masyarakat, namun juga dalam mencegah merebahnya suatu wabah penyakit dalam
lingkungan masyarakat yang merupakan tanggung jawab dari puskesmas itu sendiri.
Untuk mengetahui apa saja jenis penyakit, baik menular maupun tidak
menular, yang umumnya menerpa pada suatu daerah tertentu, maka diadakanlah
kegiatan field study pada hari Selasa tanggal 1 Desember 2015

ke Puskesmas

Sukmajaya, Depok. Melalui field study ini, diharapkan mahasiswa/i tingkat satu
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta dapat
mengetahui sepuluh penyakit menular dan tidak menular yang umum terjadi di daerah
Depok, serta apa saja upaya preventif dan promotif yang telah dilakukan oleh
Puskesmas Sukmajaya dalam mengendalikan dan menangani penyakit yang ada.
Mahasiswa/i tingkat satu Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Jakarta juga diberi kesempatan untuk mewawancarai pasien-pasien
mengenai pelayanan dari Puskesmas Sukmajaya itu sendiri.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
1. Mengikuti program kegiatan field study yang diselenggarakan oleh
Fakultas Kedoteran UPN Veteran Jakarta,
2. Memenuhi tugas yang diberikan oleh Fakultas Kedoteran UPN Veteran
Jakarta,
3. Mendapatkan nilai mata kuliah CHOP.

b. Tujuan Khusus
1. Mendapatkan data-data valid untuk digunakan sebagai salah satu
sumber laporan ilmiah setelah mengikuti kegiatan field study,
1 | Page

2. Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi dan komunikasi


dalam menghimpun data yang relevan,
3. Menggunakan keterampilan mengidentifikasi dan merangkum data,
4. Mencari kasus penyakit baik menular maupun tidak menular,
5. Mengetahui upaya pemberantasan dan penanggulangan penyakit
menular dan tidak menular yang dilakukan oleh Puskesmas.
6. Mengembalikan peran mahasiswa kedokteran sebagai tonggak pejuang
aspirasi masyarakat yaitu sebagai Agent of Health, Agent of Change,
dan Agent of Development.
C. Manfaat
a. Membangun rasa kerja sama antar mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UPN
Veteran Jakarta dalam mencapai tujuan bersama,
b. Menggugah rasa kepedulian mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UPN
Veteran Jakarta untuk turut serta dalam upaya penanggulangan dan
pemberantasan penyakit yang menjadi masalah di masyarakat,
c. Menambah pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UPN Veteran
Jakarta mengenai masalah kesehatan terkini,
d. Menambah pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UPN Veteran
Jakarta mengenai cara mengembangkan riset, analisis wacana, dan
kebijakan publik dalam bidang kesehatan,
D. Tinjauan Pustaka
a. Penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang
disebabkan oleh agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan
disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan).
Cara cara penularan penyakit:
1. Media Langsung dari Orang ke Orang (Permukaan Kulit)
Jenis Penyakit yang ditularkan antara lain: penyakit kelamin,
rabies, dan lain sebagainya,
2. Media Udara
Penyakit yang dapat ditularkan dan menyebar secara langsung
maupun tidak langsung melalui udara pernapasan disebut sebagai
air borne disease.
Jenis Penyakit yang ditularkan antara lain: TBC Paru, Varicella,
dan lain sebagainya,
3. Media Air
Penyakit dapat menular dan menyebar secara langsung maupun
tidak langsung melalui air. Penyakit-penyakit yang ditularkan

2 | Page

melalui air disebut sebagai water borne disease atau water related
disease,
4. Media Vektor
Penyakit arthropod borne disease atau sering juga disebut sebagai
vector borne diseases merupakan penyakit penting yang sering kali
bersifat

endemis

maupun

epidemis

dan

pada

umumnya

menimbulkan bahaya kematian.


b. Penyakit tidak menular adalah jenis penyakit yang tidak menular seperti
cacat fisik, gangguan mental, kanker, penyakit degeneratif, penyakit
gangguan metabolisme dan kelainan-kelainan organ tubuh lain, penyakit
jantung, pembuluh darah, tekanan darah tinggi, kencing manis, berat badan
lebih, osteoporosis, kanker usus, depresi dan kecemasan.

BAB II
HASIL KEGIATAN KUNJUNGAN KE PUSKESMAS
A. Penyakit Menular
1. Tuberculosis Paru
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium tuberculosis yang memiliki karakteristik yaitu, berjenis batang,
tahan asam, aerob, dan dapat bertahan hidup baik dalam udara kering maupun
dingin. Penularan penyakit ini melalui media udara.
Gejala klinis dari penyakit tuberculosis ini adalah,
3 | Page

Demam, biasanya subfebril tanpa sebab yang jelas,


Batuk, dimulai dari batuk kering kemudian menjadi produktif (sputum)

hingga batuk darah (hemoptoe),


Sesak nafas,
Nyeri dada, berhubungan dengan pleuritis,
Maleise.

Diagnosa dapat dilakukan dengan melaksanakan prosedur anamnesa,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan sputum BTA
S-P-S, darah perifer lengkap, rontgen thoraks, dan tes tuberkulin (biasanya pada
anak balita).
Dalam penatalaksanaannya, dapat dilakukan pengobatan dengan paduan obat
(obat paket), yang terdiri atas,
Kategori I & III: INH, Rif, PZA, etambutol,
Kategori II: ditambah suntik Streptomycin.
PMO (Pengawas Minum Obat) juga diperlukan untuk memastikan pasienpasien tuberculosis meminum obatnya dengan teratur, dan yang lebih penting lagi,
dilakukannya perbaikan sanitasi lingkungan untuk mencegah mewabahnya
penyakit tuberculosis.
2. Campak
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus campak. Virus ini
memiliki sifat yaitu dapat bertahan di udara selama lebih dari dua jam. Penyakit
ini menular melalui percikan ludah saat penderita bersin atau batuk. Virus ini
sudah dapat ditularkan oleh penderita sejak empat hari sebelum keluarnya ruam
sampai dengan empat hari setelah keluarnya ruam. Gejala klinisnya adalah,
demam, batuk, pilek, ruam kulit (awal di telinga belakang dan wajah), dan mata
merah berair. Penyakit ini dapat terjadi bersamaan dengan diare, radang telinga
tengah yang dapat menimbulkan ketulian, pneumonia, encephalitis, dan kebutaan.
Penatalaksanaan campak dapat dilakukan melalui pemberian vitamin A, nutrisi
yang baik, dan penanganan komplikasi jika ada.
3. Diare dan Diare Kronik
Diare adalah BAB (defekasi) yang tidak normal, perubahan frekuensi,
konsistensi, dan jurgensi dengan tinja berbentuk cair atau setengah padat.
Kandungan air tinja lebih banyak dari normal. Frekuensi BAB lebih dari tiga kali
sehari, dapat disertai lendir dan darah. Diare kronik adalah diare yang berlangsung
lebih dari dua minggu.
Diare dapat disebabkan oleh:

4 | Page

Infeksi oleh bakteri, virus (sebagian besar diare pada bayi dan anak

disebabkan oleh infeksi rotavirus) atau parasit.


Alergi terhadap makanan atau obat tertentu terutama antibiotik.
Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti:

campak, infeksi telinga, infeksi tenggorokan, malaria, dll.


Pemanis buatan.
Pada bayi saat dikenalkam MPASI seringkali memiliki efek samping
yaitu diare karena perut mereka kaget dengan makanan dan minuman

yang baru dikenal lambungnya.


Diare selain disebabkan oleh beberapa infeksi virus dan juga akibat dari racun
bakteri, juga bisa disebabkan oleh faktor kebersihan lingkungan tempat tinggal.
Lingkungan yang kumuh dan kotor menjadi tempat berkembang bakteri (E. coli),
virus dan parasit (jamur, cacing, protozoa), dan juga lalat yang turut berperan
dalam membantu penyebaran kuman penyakit diare.
Gejala-gejala dari diare adalah sebagai berikut,
Buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mules yang

berkepanjangan
Tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari
Pegal pada punggung, dan perut sering berbunyi
Mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh)
Diare yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan mual dan

muntah-muntah
Badan lesu atau lemah
Panas
Tidak nafsu makan
Darah dan lendir dalam kotoran
Beberapa cara penggulangan diare antara lain,
Meminum oralit atau dapat membuatnya sendiri dengan melarutkan
satu sendok teh garam dan delapan sendok teh gula dalam satu liter air

matang.
Jaga hidrasi dengan elektrolit yang seimbang. Ini merupakan cara
paling

sesuai

di

kebanyakan

kasus

diare,

bahkan

disentri.

Mengkonsumsi sejumlah besar air yang tidak diseimbangi dengan


elektrolit

yang

dapat

dimakan

dapat

ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya dan berakibat fatal


Mencoba makan lebih sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit,

frekuensi teratur, dan jangan makan atau minum terlalu cepat.


Menjaga kebersihan dan isolasi, kebersihan tubuh merupakan faktor
utama dalam membatasi penyebaran penyakit.

5 | Page

mengakibatkan

Karena tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering
melakukan kontak langsung dengan benda lain, maka sebelum makan disarankan
untuk mencuci tangan dengan sabun. Sebuah hasil studi Cochrane menemukan
bahwa dalam gerakan-gerakan sosial yang dilakukan lembaga dan masyarakat
untuk membiasakan mencuci tangan menyebabkan penurunan tingkat kejadian
yang signifikan pada diare.
4. Varicela
Cacar air atau Varicella simplex adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster. Penyakit ini disebarkan secara
aerogen. Virus varicella-zoster adalah virus penyebab cacar air dan cacar ular
(herper zoster). Inang dari virus ini hanya terbatas pada manusia dan primata
(simian). Stuktur partikel virus (virion) varicella-zoster berukuran 120-300 nm.
Virus ini akan mengalami inaktivasi pada suhu 56-60 C dan menjadi tidak
berbahaya apabila bagian amplop (selubung) dari virus ini rusak. Penyebaran
virus ini dapat terjadi melalui pernapasan. Masa inkubasi pada cacar atau waktu
terekspos sampai kena penyakit terjadi dalam tempo dua sampai tiga pekan atau
13-17 hari. hal ini bisa ditandai dengan badan yang terasa panas namun bukan
demam.
Gejala yang ditimbulkan pada permulaannya, penderita akan merasa sedikit
demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk
infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi, sakit
kepala, dan pusing. Beberapa hari kemudian, timbul kemerahan pada kulit yang
berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau
punggung lalu diikuti anggota gerak dan wajah.
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk cacar air salah satunya adalah
imunisasi, imunisasi ini tersedia bagi anak-anak yang berusia lebih dari 12 bulan.
Imunisasi ini dianjurkan bagi orang di atas usia 12 tahun yang tidak mempunyai
kekebalan. Penyakit ini erat kaitannya dengan kekebalan tubuh. Menjaga
kebersihan badan, pakaian, dan lingkungan, serta mengkonsumsi makanan yang
bergizi perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit ini.
5. Avian Influenza
Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu
penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh
unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis
H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam,
6 | Page

Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber
virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.
Bila kita bandingkan dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)
Penyakit flu burung ini lebih sedikit kasusnya hanya 25 kasus di seluruh dunia dan
yang meninggal mencapai 19 orang (CFR=76%). Sedangkan pada penyakit SARS
dari 8098 kasus yang meninggal hanya 774 orang (CFR = 9,6%).
Gejala flu burung dapat dibedakan pada unggas dan manusia,
a. Gejala pada unggas
Jengger berwarna biru
Borok di kaki
Kematian mendadak
b. Gejala pada manusia
Demam (suhu badan diatas 38 C)
Batuk dan nyeri tenggorokan
Radang saluran pernapasan atas
Pneumonia
Infeksi mata
Nyeri otot
Masa Inkubasi

Pada unggas: satu minggu


Pada manusia: 1-3 hari, masa infeksi satu hari sebelum sampai 3-5 hari
sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari.

Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas ke manusia,
melalui air liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini dapat menular melalui
udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekret burung atau
unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat
terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.
Contohnya, pekerja di peternakan ayam , pemotong ayam, dan penjamah produk
unggas lainnya.
Sebagai upaya pencegahan, dapat dilakukan:

Pada unggas:
1. Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung
2. Vaksinasi pada unggas yang sehat
Pada Manusia:
1. Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang)
a. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis
bekerja.

7 | Page

b. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang


terinfeksi flu burung.
c. Menggunakan alat pelindung diri.
d. Meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja.
e. Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
f. Imunisasi.
2. Masyarakat umum
a. Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan
bergizi & istirahat cukup
b. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu:
pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala

penyakit pada tubuhnya)


Memasak daging ayam sampai dengan suhu 800C
selama satu menit dan pada telur sampai dengan
suhu 640C selama 4,5 menit.

Pengobatan bagi penderita flu burung adalah oksigenasi bila terdapat sesak
napas; hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus); pemberian obat anti
virus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 7 hari; Amantadin diberikan pada
awal infeksi, sedapat mungkin dalam waktu 48 jam pertama selama 3-5 hari
dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2 dosis. Bila berat badan lebih dari
45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari.
6. HIV
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang manusia
dengan sasarannya adalah sel-sel sistem imun tubuh manusia dan berkembang
biak di limfosit T (CD4). Infeksi HIV dapat menyebabkan penyakit AIDS
(Acquired Immuno Deficiency Syndrome) setelah tiga sampai sepuluh tahun
menginfeksi. HIV disebabkan oleh retrovirus dan infeksinya bersifat permanen.
HIV terdapat pada cairan tubuh seperti cairan serebrospinal, darah, cairan seksual,
urine, saliva, dan cairan lambung.
Jalur penularan HIV dapat melalui,
Parenteral seperti transfusi darah atau pemakaian jarum suntik bersama
Hubungan seksual
Perinatal, yaitu penularan saat proses persalinan dan pemberian ASI.
Namun HIV tidak dapat menular melalui,
Gigitan nyamuk
Berciuman pipi
Berenang di kolam renang yang sama dengan penderita HIV
Alat makan
Hidup satu rumah dengan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS)

8 | Page

Penyakit HIV memiliki empat stadium yaitu,


Stadium I
Tidak ada gejala

Stadium II
Pada stadium ini penderita akan mengalami,

Penurunan berat badan sebesar 10% dari berat badan semula


Infeksi saluran nafas berulang
Menderita penyakit kulit seperi herpes zoster, cheilitis
angularis, ulkus oral, papular pruritic eruption, dermatitis

seboroik, dan infeksi jamur kuku.


Stadium III
Pada stadium ini penderita akan mengalami,

Penurunan berat badan sebesar 10% dari berat badan semula


Diare kronik yang tidak diketahui penyebabnya selama lebih

dari satu bulan.


Demam tanpa sebab yang jelas selama lebih dari satu bulan
Kandidiasis oral persisten (oral thrush), oral hairy leukopia
Tuberculosis paru
Infeksi bakteri berat
Stadium IV
Pada stadium ini penderita akan mengalami:

HIV wasting syndrome yaitu penurunan berat badan sebesar


10% dari berat badan semula dan diari kronis selama lebih

dari satu bulan


Penumonia Pneumocystis (PCP)
Kandidiasis esophagus
Tuberculosis ekstra paru
Infeksi CMV seperti retinitis atau organ lain
Toksoplasma SSP, enselopati
Mikosis diseminata

Pemeriksaan laboratorium dapat berupa,

Pemeriksaan antibodi meliputi Rapid test, ELISA (Enzyme Linked


ImuunoSorbent Assay), dan Western blot Assay

9 | Page

PCR- HIV RNA (Viral load)


Antigen P24
Pemeriksaan kultur atau biakan
Terapi pada HIV dapat dilakukan dengan cara,
Medis, yaitu:
Sesuai infeksi opportunistic
Anti retro viral (ARV) mengobati infeksi HIV dengan
beberapa obat. ARV tidak membunuh virus tersebut. Namun
ART dapat melambatkan pertumbuhan virus dengan cara
waktu pertumbuhan virus dilambatkan
Asupan gizi yang baik
Psikososial berupa dukungan dari keluarga dan orang-orang sekitar
Pencegahan,
Tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom
Melakukan hubungan seks tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh
Persalinan secara Caesar
Tidak memberikan ASI
Pemberian AZT pada masa akhir kehamilan dan setelah kelahiran bayi
Pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan
menghindari donor yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV
B. Penyakit Tidak Menular
1. Hipertensi
Hiper artinya berlebihan, tensi artinya tekanan atau tegangan. Jadi, hipertensi
adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan
darah di atas nilai normal.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan
anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada
dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih
tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan
darah dalam satu hari juga berbeda, paling tinggi di waktu pagi hari dan paling
rendah pada saat tidur malam hari.
Untuk menilai apakah seseorang itu menderita penyakit hipertensi atau tidak
haruslah ada suatu standar nilai ukur dari tensi atau tekanan darah. Berbagai
macam klasifikasi hipertensi digunakan di masing-masing negara seperti
klasifikasi menurut Joint National Committee 7 (JNC 7) yang digunakan di negara
Amerika Serikat, klasifikasi menurut Chinese Hypertension Society yang
digunakan di Cina, klasifikasi menurut European Society of Hypertension
(ESH) yang
10 | P a g e

digunakan

negara-negara

di

Eropa,kKlasifikasi

menurut

International Society on Hypertension in Blacks (ISHIB) yang khusus digunakan


untuk warga keturunan Afrika yang tinggal di Amerika. Badan kesehatan dunia,
WHO juga membuat klasifikasi hipertensi. Pakar hipertensi Indonesia sepakat
untuk menggunakan klasifikasi WHO dan JNC 7 sebagai klasifikasi hipertensi
yang digunakan di Indonesia.
Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori
Optimal
Normal
Tingkat 1 (hipertensi ringan)
Sub grup : perbatasan
Tingkat 2 (hipertensi sedang)
Tingkat 3 (hipertensi berat)
Hipertensi sistol terisolasi
Sub grup : perbatasan

Sistol (mmHg)
< 120
< 130
140-159
140-149
160-179
180
140
140-149

Diastol (mmHg)
< 80
< 85
90-99
90-94
100-109
110
< 90
< 90

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7

Kategori
Normal
Pre hipertensi
Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2
Faktor

Sistol (mmHg)
<120
120-139
140-159
160
risiko terjadi tekanan

Dan/atau
Diastole (mmHg)
Dan
<80
Atau
80-89
Atau
90-99
Atau
100
darah tinggi atau hipertensi dapat dibedakan

menjadi dua macam, yaitu faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang
dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat dikendalikan meliputi keturunan
(herediter/genetik), usia dan ras. Sedangkan faktor yang dapat dikendalikan adalah
asupan garam, obesitas, inaktivitas/jarang olah raga, merokok, stress, minuman
beralkohol

dan

obat-obatan.

Penggunaan

obat-obatan

seperti

golongan

kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat hormon, termasuk beberapa obat anti
radang (anti-inflammasi) secara terus menerus dapat meningkatkan tekanan darah
seseorang. Penting bagi penderita untuk melakukan modifikasi pada faktor yang
dapat dikendalikan tersebut.
Pada umumnya, pada penderita hipertensi tidak ditemukan keluhan atau tanda
klinis khusus, tetapi mungkin menderita pusing, sakit kepala, dan rasa lelah.
Gejala lain yang tidak spesifik mencakup epistaksis, marah, telinga berdengung,
berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang-kunang.
Penanganan,

11 | P a g e

Prehipertensi: tidak memerlukan terapi obat tetapi hanya Life Style

Modification,
Hipertensi Stadium I: Life Style Modification dan satu jenis terapi obat,
Hipertensi Stadium II: Life Style Modification dan terapi obat

kombinasi.
2. Diabetes Melitus
Diabetes mellitus
gangguan

kesehatan

(DM)
yang

atau

disingkat

berupa

diabetes

kumpulan

gejala

adalah
yang

disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat


kekurangan ataupun resistensi insulin.
DM diklasifikan dengan melihat jenis faktor etiologisnya, yaitu
DM tipe 1 (Tipe I IDDM) disebabkan oleh gangguan sel
Beta pankreas. Pada DM tipe 1 terjadi destruksi sel Beta,

ditandai dengan defisisensi insulin absolute.


DM tipe 2 (DDM) terjadi dari bervariasi sebab, dari
dominansi

insulin

resistensi

sampai

defek

sekresi

insulin.

Sebagai gambaran,perbandingan DM tipe 1 dan tipe 2 dapat


dilihat dalam tabel berikut.
-

DM tipe 1
Sel pembuat insulin rusak
Mendadak, berat dan fatal
- Insulin
absolut
dibutuhkan

seumur hidup
Bukan turunan tapi auutoimun
DM memiliki beberapa faktor resiko, yaitu
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

DM tipe 2
Lebih sering dari tipe 1
Faktor turunan positif
Muncul saat dewasa
Diawali dengan kegemukan
Komplikasi jika tidak terkendali

Berumur lebih dari 40 tahun


Obesitas
Hipertensi
Riwayat keluarga DM
Riwayat melahirkan bayi lebih dari 4 kg
Riwayat DM pada kehamilan
Dislipidemia

Gejala klinis DM antara lain adalah polidipsi, polifagi, poliuri,


lemas, berat badan menurun. DM juga memiliki gejala lain

12 | P a g e

berupa tanda neuritis pada perifer, gatal, dan rasa baal pada
anggota badan, bisul kulit, dan keputihan pada wanita.
Diagnosa DM apabila :
1. Kadar gula darah sewaktu >200 mm/dl dengan gejala
khas DM
2. Kadar gula darah sewaktu >200 mm/dl dalam dua kali
pemeriksaan tanpa gejala khas DM.
3. Kadar glukosa darah PP >200 mm/dl setelah beban
glukosa75 gr untuk kasus dengan gejala klinik tidak
khas.
Pilar utama pengelolaan DM dapat berupa perencanaan
makan, latihan jasmani, obat berkhasiat hipoglikemik, dan
penyuluhan atau edukasi.
3. Asma
Asma merupakan penyakit jangka panjang yang dapat menyebabkan
penderitanya sulit bernapas, batuk-batuk, dan mengalami mengi ketika kambuh.
Pada tiap orang, tingkat keparahan penyakit ini berbeda-beda, dan umumnya dapat
dikendalikan dengan baik.
Asma terjadi ketika saluran napas atau bronkus mengalami radang. Bronkus
yang berbentuk seperti tabung kecil ini berfungsi untuk membawa udara masuk
dan keluar dari paru-paru. Bronkus penderita asma pada umumnya lebih sensitif
dari orang-orang lain dan lebih gampang mengalami radang.
Ketika paru-paru seorang penderita teriritasi oleh sesuatu yang menjadi
pemicu asma, saluran napasnya menjadi menyempit, otot-otot di sekitarnya
menjadi mengencang, dan produksi dahak meningkat. Setelah itu timbullah
beberapa gejala seperti dada yang terasa sesak, sulit bernapas, mengi, dan batukbatuk.
Serangan parah gejala-gejala tersebut dikenal sebagai serangan asma atau
eksaserbasi asma akut. Penderita serangan asma bisa saja membutuhkan
perawatan rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa membahayakan
nyawa. Bagi penderita asma kronis, radang pada saluran napasnya yang sudah
berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.
Jika seseorang terdiagnosis mengidap asma saat kanak-kanak, gejalanya
mungkin bisa menghilang ketika dia remaja dan muncul kembali saat dewasa.
13 | P a g e

Namun gejala asma yang tergolong sedang atau berat di masa kanak-kanak, akan
cenderung tetap ada walau bisa juga muncul kembali. Kendati begitu, asma bisa
muncul di usia berapa pun dan tidak selalu berawal dari masa kanak-kanak.
Asma merupakan penyakit keturunan. Seseorang berpeluang besar terkena
asma jika salah satu atau kedua orang tuanya juga menderita asma. Meski
begitu, penyebab dasar penyakit ini masih belum sepenuhnya dipahami.
Ada beberapa hal yang dapat menjadi pemicu umum asma, diantaranya bulu
hewan, udara dingin, tungau debu, asap rokok, serbuk sari, infeksi paru-paru, dan
olah raga. Beberapa aktivitas tertentu seperti pekerjaan juga dapat memperburuk
asma. Hal ini diistilahkan sebagai asma akibat kerja atau asma yang
berhubungan dengan pekerjaan. Contohnya seperti pekerja bangunan yang terkena
asma akibat sering terpapar debu atau pasir.
Untuk obat asma sendiri hingga saat ini belum ditemukan, namun ada
sejumlah

langkah

penanganan

yang

dapat

diterapkan

guna

membantu

mengendalikan asma. Penanganan tersebut didasarkan pada dua sasaran penting,


yaitu meredakan gejalanya dan mencegah terjadinya serangan asma. Kedua
sasaran tersebut juga melibatkan kombinasi obat-obatan, identifikasi dan
penghindaran diri dari pemicu asma, serta nasihat pola hidup.
4. Artritis
Radang sendi atau artritis rheumatoid : Rheumatoid Arthritis, RA) merupakan
penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem
kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama
pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi,
yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi
serta atrofi otot dan penipisan tulang.
RA dapat mengakibatkan nyeri, kemerahan, bengkak dan panas di sekitar
sendi. Berdasarkan studi, RA lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria
dengan rasio kejadian 3 : 1. Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi
bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium
lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan
kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah.
Penderita RA selalu menunjukkan simtoma ritme sirkadia dari sistem
kekebalan neuroindokrin RA umumnya ditandai dengan adanya beberapa gejala
yang berlangsung selama minimal enam minggu, yaitu :
14 | P a g e

1. Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di
pagi hari
2. Bengkak pada tiga atau lebih sendi pada saat yang bersamaan
3. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan
4. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada
sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang sendi
pergelangan tangan.
Pada tahap yang lebih lanjut, RA dapat dikarakterisasi juga dengan adanya
nodul-nodul rheumatoid, konsentrasi rheumatoid factor (RF) yang abnormal
dan perubahan radiografi yang meliputi erosi tulang. Penyebab artrhitis dapat
terjadi akibat infeksi maupun tanpa infeksi. Pelepasan mediator inflamasi dari
leukosit, kondrosit, sinoviosit menyebabkan kehilangan proteoglikan dan
matriks ektraselular kartilago, sehingga terjadi kerusakan tulang. Kerusakan
dan hilangnya kolagen dan kondrosit dapat menyebabkan perubahan yang
tidak dapat kembali. Gejala klinis yang disebabkan artritis adalah adanya rasa
sakit, panas, dan pembengkakan pada persendian lutut (gejala panca radang).
Terasa adanya fluktuasi, sakit dan panas, kemerahan; secara umum penderita
menjadi demam jika sakit sudah menjadi sepsis, frekuensi nadi dan napas
frekuen, pincang yang hebat bahkan kadang sampai penderita tidak dapat
berdiri.
Penanggulangan Penyakit Arthritis tak hanya penyembuhan dengan medis.
Terapi fisik, penggantian pola hidup (termasuk latihan fisik serta mengontrol
berat badan), dan diet juga memainkan fungsi penting di dalam penyembuhan
arthritis atau sakit sendi.
Mengkonsumsi suplemen glucosamine diimbangi dengan chondroitin serta
methylsulfonylmethane (msm), dapat memberikan hasil yang lebih maksimal.
gabungan ketiganya dapat menolong menangani nyeri sendi, menambah
elastisitas sendi, kurangi peradangan pada sendi, membentuk tulang rawan,
serta melindungi kesehatan sendi.

15 | P a g e

BAB III
PEMBAHASAN HASIL KUNJUNGAN KE PUSKESMAS
DATA-DATA JENIS PENYAKIT YANG TERJADI DIPUSKESMAS SUKMAJAYA 2014
A. Penyakit menular
1. Faringitis Akuta
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
16 | P a g e

:644 orang
:780 orang
:838 orang
:988 orang
:0
:1108 orang

Juli
:1629 orang
Agustus :1130 orang
September :1012 orang
Oktober :1033 orang
November :1370 orang
Desember :1365 orang
Jumlah
:11.897 orang
2. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak spesifik
Januari
:255 orang
Februari :370 orang
Maret
:1093 orang
April
:1339 orang
Mei
:696 orang
Juni
:514 orang
Juli
:697 orang
Agustus :522 orang
September :430 orang
Oktober :797 orang
November :1035 orang
Desember :1003 orang
Jumlah
:8.751 orang
3. Nasofaringitis Akuta
Januari
:652 orang
Februari :931 orang
Maret
:1145 orang
April
:412 orang
Mei
:651 orang
Juni
:768 orang
Juli
:255 orang
Agustus :494 orang
September :419 orang
Oktober :387 orang
November :476 orang
Desember :406 orang
Jumlah
:7.026 orang
4. Diare dan Gastroenteritis
Januari
:54 orang
Februari :50 orang
Maret
:69 orang
April
:154 orang
Mei
:131orang
Juni
:88 orang
Juli
:108 orang
Agustus :156 orang
September :119 orang
17 | P a g e

Oktober :125 orang


November :109 orang
Desember :76 orang
Jumlah
:1.239 orang

5. Influenza
Januari
:23 orang
Februari :38 orang
Maret
:47 orang
April
:35 orang
Mei
:338 orang
Juni
:24 orang
Juli
:5 orang
Agustus :14 orang
September :12 orang
Oktober :13 orang
November :18 orang
Desember :11 orang
Jumlah
:578 orang
6. Konjungtivitis
Januari
:34 orang
Februari :0 orang
Maret
:25 orang
April
:53 orang
Mei
:76 orang
Juni
:92 orang
Juli
:69 orang
Agustus :56 orang
September :34 orang
Oktober :26 orang
November :47 orang
Desember :40 orang
Jumlah
:549 orang

7. Demam Tifoid
Januari
Februari
Maret
18 | P a g e

:27 orang
:58 orang
:61 orang

April
:54 orang
Mei
:0 orang
Juni
:24 orang
Juli
:0 orang
Agustus :33 orang
September :28 orang
Oktober :33 orang
November :25 orang
Desember :26 orang
Jumlah
:369 orang
8. Otitis Media Supurativa tidak spesifik
Januari
:16 orang
Februari :15 orang
Maret
:23 orang
April
:19 orang
Mei
:29 orang
Juni
:0 orang
Juli
:31 orang
Agustus :27 orang
September :19 orang
Oktober :20 orang
November :35 orang
Desember :19 orang
Jumlah
:253 orang

9. Tuberkulosis Paru Klinis


Januari
:20 orang
Februari :29 orang
Maret
:29 orang
April
:38 orang
Mei
:0 orang
Juni
:18 orang
Juli
:21 orang
Agustus :22 orang
September :10 orang
Oktober :9 orang
November :2 orang
Desember :22 orang
Jumlah
:220 orang
10. Varisela/Cacar Air
Januari
:25 orang
19 | P a g e

Februari :22 orang


Maret
:25 orang
April
:6 orang
Mei
:10 orang
Juni
:24 orang
Juli
:0 orang
Agustus :20 orang
September :23 orang
Oktober :10 orang
November :14 orang
Desember :15 orang
Jumlah
:194 orang

B. Penyakit Tidak Menular


1. Hipertensi Primer
Januari
:277 orang
Februari :374 orang
Maret
:296 orang
April
:500 orang
Mei
:0 orang
Juni
:444 orang
Juli
:175 orang
Agustus :158 orang
September :189 orang
Oktober :221 orang
November :134 orang
Desember :194 orang
Jumlah
:2982 orang
2. Rematisme, tidak spesifik
Januari
:291 orang
Februari :258 orang
Maret
:252 orang
April
:132 orang
Mei
:0 orang
Juni
:208 orang
Juli
:92 orang
Agustus :238 orang
September :123 orang
Oktober :145 orang
20 | P a g e

November :158 orang


Desember :135 orang
Jumlah
:2032 orang

3. Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkutan yang tidak terklasifikasikan.
Januari
:124 orang
Februari :141 orang
Maret
:156 orang
April
:214 orang
Mei
:235 orang
Juni
:180 orang
Juli
:172 orang
Agustus :183 orang
September :132 orang
Oktober :145 orang
November :67 orang
Desember :223 orang
Jumlah
:1972 orang
4. Gastroduodenitis tidak spesifik
Januari
:210 orang
Februari :197 orang
Maret
:224 orang
April
:294 orang
Mei
:0 orang
Juni
:140 orang
Juli
:160 orang
Agustus :154 orang
September :182 orang
Oktober :145 orang
November :25 orang
Desember :134 orang
Jumlah
:1865 orang

5. Myalgia
Januari
Februari
Maret
April
Mei
21 | P a g e

:178 orang
:209 orang
:126 orang
:86 orang
:0 orang

Juni
:209 orang
Juli
:116 orang
Agustus :121 orang
September :213 orang
Oktober :222 orang
November :204 orang
Desember :170 orang
Jumlah
:1854 orang
6. Diabetes Mellitus tidak spesifik
Januari
:50 orang
Februari :96 orang
Maret
:88 orang
April
:80 orang
Mei
:0 orang
Juni
:158 orang
Juli
:97 orang
Agustus :93 orang
September :75 orang
Oktober :76 orang
November :86 orang
Desember :74 orang
Jumlah
:973 orang

7. Atritis

Januari
:30 orang
Februari :23 orang
Maret
:35 orang
April
:81 orang
Mei
:0 orang
Juni
:127 orang
Juli
:100 orang
Agustus :59 orang
September :45 orang
Oktober :52 orang
November :65 orang
Desember :69 orang
Jumlah
:686 orang
8. Tukak Lambung
Januari
:11 orang
Februari :20 orang
Maret
:16 orang
22 | P a g e

April
:0 orang
Mei
:33 orang
Juni
:77 orang
Juli
:81 orang
Agustus :75 orang
September :54 orang
Oktober :79 orang
November :79 orang
Desember :28 orang
Jumlah
:553 orang

9. Abses, furunkel, karbunkel kutan


Januari
:15 orang
Februari :23 orang
Maret
:52 orang
April
:44 orang
Mei
:20 orang
Juni
:14 orang
Juli
:38 orang
Agustus :51 orang
September :58 orang
Oktober :12 orang
November :44 orang
Desember :44 orang
Jumlah
:415 orang
10. Gangguan Telinga tidak spesifik
Januari
:12 orang
Februari :14 orang
Maret
:23 orang
April
:20 orang
Mei
:11 orang
Juni
:9 orang
Juli
:12 orang
Agustus :19 orang
September :22 orang
Oktober :9 orang
November :10 orang
Desember :16 orang
Jumlah
:117 orang

23 | P a g e

C. Analisa Grafik
1. Pemyakit Menular
1800
1600
1400
1200

Faringitis Akuta

1000

Nasofaringitis Akuta

Penyakit ISPA Akut tidak


spesifik
Diare dan Gastroenteritis

800

Influenza
Konjungtivitis

600
400

Demam Tifoid
Otitis Media Supurativa tidak
spesifik
Tuberkulosis Paru Klinis
Varisela

200
0

2. Penyakit Tidak Menular

24 | P a g e

600

500
Hipertensi Primer
400

Rematisme, tidak spesifik


Gangguan lain pada kulit

300

Gastroduodenitis tidak
spesifik
Myalgia
DM tidak spesifik

200

Atritis
Tukak Lambung
Abses, Furunkel, Karbunkel
Kutan

100

25 | P a g e

Gangguan Telinga tidak


spesifik

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A Kesimpulan
1 Penyakit berdasarkan kemampuan penularannya dapat diklasifikasikan menjadi
2

dua jenis, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular.


Penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang
disebabkan oleh agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan

disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan).
Penyakit tidak menular adalah jenis penyakit yang tidak menular seperti cacat
fisik, gangguan mental, kanker, penyakit degeneratif, penyakit gangguan
metabolisme dan kelainan-kelainan organ tubuh lain, penyakit jantung, pembuluh
darah, tekanan darah tinggi, kencing manis, berat badan lebih, osteoporosis,

kanker usus, depresi dan kecemasan.


Faringitis Akuta adalah penyakit menular yang paling banyak ditangani oleh
Puskesmas Sukmajaya pada tahun 2014, dengan jumlah total penderita sebanyak

11.897 orang.
Hipertensi Primer adalah penyakit tidak menular yang paling banyak ditangani
oleh Puskesmas Sukmajaya pada tahun 2014, dengan jumlah total penderita

sebanyak 2.982 orang.


B Saran

DAFTAR PUSTAKA

26 | P a g e

Anonim.Asma.http://www.alodokter.com/asma (diakses tanggal 14 Desember

2015)
Bustan, M.N. 2007. Epidemiologi:Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Anonim.Klasifikasi Tekanan Darah Tinggi Menurut JNC
VII.https://obatalamidarahtinggi94.wordpress.com/2014/12/25/klasifikasi-tekanan-

darah-tinggi-menurut-jnc-vii/ (diakses tanggal 14 Desember 2015)


Haryana, Iman.2009.Klasifikasi Hipertensi.http://doktermedis.blogspot.co.id/2009/09/klasifikasi-hipertensi.html (diakses tanggal 14

Desember 2015)
Kristina, dkk.2008.Flu Burung. https://flutrackers.com/forum/forum/foreignlanguage-forum/indonesian/33691-flu-burung-epidemiologi-pencegahan-pengobatankebijakan-pemerintah-kesimpulan (diakses tanggal 14 Desember 2015)

27 | P a g e