Você está na página 1de 11

Pemberian ASI Eksklusif

ASI EKSKLUSIF

Oleh,
Z U RAI D A

NIM. 961001137

Pembimbing,
Dr. M. BIRZA RIZALDI

SMF Obstetri & Ginekologi


Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
Medan, Januari 2003
KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

ASI EKSKLUSIF
1. PENDAHULUAN
Penggunaan Air Susu Ibu (ASI) di Indonesia perlu ditingkatkan dan dilestarikan.
Dalam "pelestarian penggunaan ASI", yang terutama perlu ditingkatkan adalah pemberian
ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI segera (kurang lebih 30 menit setelah lahir) sampai
bayi berumur 4 bulan dan memberikan kolostrum pada bayi (Depkes RI; 1992:15).
Bila kesehatan ibu setelah melahirkan baik, menyusui merupakan cara memberi
makan yang paling ideal untuk 4--6 bulan pertama sejak dilahirkan, karena ASI dapat
memenuhi kebutuhan gizi bayi. Setelah ASI tidak lagi cukup mengandung protein dan
kalori, seorang bayi mulai memerlukan minuman/makanan pendamping ASI (Evi
Nurvidya Anwar, 1992:5).
Gambaran mengenai pemberian ASI pada bayi ditunjukkan dalam SKRT. SKRT
tersebut menunjukkan bahwa pada bayi umur 0--2 bln yang mulai diberi makanan
pendamping cair sebesar 21,2%; makanan lumat/lembik 20,1%; dan makanan padat 13,7%.
Pada bayi berumur 3--5 bln, yang mulai diberi makanan pendamping cair sebesar 60,2%;
lumat/lembek 66,2%; dan padat 45,5% (Badan Litbangkes - BPS, SKRT 1992:46).
Sementara itu, hasil penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa para ibu memberi
makanan pralaktal (susu formula dan madu) pada hari pertama atau hari kedua sebelum
ASI diberikan, sedangkan yang menghindari pemberian kolostrum 62,6% (Unika-Atma
Jaya 1990:15). Selain itu, hasil SDKI 1991 dan 1994 menunjukkan bahwa proporsi
pemberian ASI eksklusif di pedesaan pada 1991 sebesar 54,9% dan menurun menjadi 48%

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

pada 1994. Sedangkan di perkotaan pada 1991 sebesar 46,7% dan menurun menjadi 45,7%
pada 1994 (Ratna Budiarso, 1995:84).
Sampai saat ini, telah banyak informasi yang menggambarkan tentang besarnya
prosentase pemberian ASI eksklusif, tetapi belum banyak informasi yang menganalisis
penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, rendahnya pemberian ASI
eksklusif oleh para ibu masih perlu dipelajari, terutama yang berhubungan dengan latar
belakang sosial ekonomi, sosial demografi, dan perawatan kesehatan waktu hamil serta
melahirkan.

2. DEFINISI
Yang dimaksud dengan pemberian ASI Eksklusif, menurut Dr Utami Roesli, Ketua
Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Sint Carolus, adalah bayi hanya diberi ASI saja
tanpa makanan tambahan cairan lain. Misalnya susu formula, jeruk, madu, air teh, air
putih, dan tanpa bantuan bahan makanan padat seperti pisang, pepaya, nasi yang
dilembutkan, bubur susu, biskuit, bubur nasi, tim, dan lain sebagainya.
Kegunaan pemberian ASI Ekslusif ini tidak hanya diperoleh bayi, ibu yang
menyusuinya pun akan mendapatkan keuntungan, yaitu, si ibu akan lebih cepat kembali ke
berat badan yang normal, ini disebabkan adanya refleks prolaktin yang bisa mempercepat
pengerutan rahim

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

3. PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF


Dalam upaya meningkatkan pemberian ASI eksklusif, yang terutama ditingkatkan
adalah "Menyusui ASI Eksklusif". Menurut petunjuk Bina Gizi Masyarakat, pengertian
ASI eksklusif adalah "hanya ASI sampai bayi berumur 4 bulan dan diberikan kolostrum"
yang diberikan kepada anak < 4 bulan. Untuk mengetahui anak/bayi tersebut menyusui
ASI eksklusif atau tidak, ditelusuri dari anak menyusu ASI/tidak menyusui. Dari anak yang
menyusu, ditelusuri anak yang hanya diberi ASI saja dan diberi makan/minum, kemudian
anak tersebut dalam 24 jam hanya diberi ASI.
Dari definisi ini, telah diperoleh gambaran bahwa bayi yang < 1 bulan, proporsi
menyusu ASI ekslusif justru lebih rendah dari bayi umur 1 bulan. Proporsi ini terjadi di
daerah perkotaan dan di pedesaan. Hal ini kemungkinan karena ibu-ibu dalam masa kini
banyak melakukan kegiatan untuk memperoleh tambahan pendapatan keluarga. Hal ini
didasarkan pada hasil analisis asosiasi bahwa proporsi pemberian ASI eksklusif
mempunyai hubungan dengan kegiatan yang dilakukan oleh ibu.
Proporsi pemberian ASI eksklusif di perkotaan dan pedesaan untuk umur bayi < 1-3 bulan cenderung tidak jauh berbeda. Hal ini kemungkinan terjadi karena para ibu di desa
dan di kota telah sama-sama terpapar oleh media, sehingga pengetahuan dan kepedulian
mereka terhadap bayi untuk menyusui cukup besar.
Jumlah anak umur 0--4 tahun dalam keluarga tampaknya mendukung pemberian
ASI eksklusif oleh para ibu. Hal ini didasarkan pada hasil uji regresi bahwa jumlah anak
1--2 dalam keluarga mempunyai pengaruh dibandingkan dengan keluarga yang tidak
mempunyai 1--2 anak.

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

Berdasarkan umur, proporsi pemberian ASI eksklusif tampak cukup bervariasi dari umur <
1 bulan sampai umur 3 bulan. Hal ini yang menunjukkan bahwa bayi yang berumur 2
bulan mempunyai kemungkinan untuk diberi ASI eksklusif 4 kali dibandingkan dengan
yang tidak berumur 2 bulan, tertinggi dibandingkan dengan kemungkinan pada umur 1
bulan dan 3 tiga bulan.
Sementara itu, proporsi pemberian ASI eksklusif berdasarkan kategori lokasi (di
perkotaan, di pedesaan, di desa tertinggal, dan di desa tak tertinggal), tidak terjadi
perbedaan yang cukup tajam. Hal ini kemungkinan terjadi karena pengaruh modernisasi di
desa-desa sehingga para ibu kurang menyadari pentingnya pemberian ASI eksklusif. Di
samping itu, telah terjadi peningkatan iklan susu buatan yang secara gencar memasarkan
produk susunya sebagai pengganti ASI.
Dalam pemberian ASI ekslusif, walaupun ada kecenderungan bahwa yang
pengeluaran rata-rata sebulannya tinggi, rata-rata pengeluaran untuk makan tinggi, dan
penghasilan bersih dari pekerjaan utama tinggi, tampaknya tidak mempunyai pengaruh
langsung pada kemungkinan pemberian ASI eksklusif. Hal ini terbukti dengan tidak
adanya pengaruh yang bermakna pada menyusui ASI ekslusif dengan variabel pertolongan
pertama/kedua waktu melahirkan, terpaparnya dari media radio, TV, serta membaca koran.
Oleh karena itu, tampaknya masih diperlukan informasi dari sumber lain mengenai faktorfaktor yang menentukan ibu-ibu dalam menyusui ASI, khususnya ASI eksklusif.

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

4. KEBIJAKAN-KEBIJAKAN PEMERINTAH RI SEHUBUNGAN


PENGGUNAAN ASI EKSKLUSIF
1. Inpres No.14/1975 Menko Kesra selaku koordinator pelaksana menetapkan bahwa
salah satu program dalam usaha perbaikan gizi adalah peningkatan penggunaan
ASI.
2. Permenkes No.240/1985 Melarang produsen susu formula untuk mencantumkan
kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa produk
tersebut setara atau lebih baik mutunya daripada ASI.
3. Permenkes No.76/1975 Mengharuskan produsen susu kental manis (SKM) untuk
mencantumkan pada label produknya bahwa SKM tidak cocok untuk bayi, dengan
warna tulisan merah dan cukup mencolok.
4. Melarang promosi susu formula yang dimaksudkan sebagai ASI di semua sarana
pelayanan kesehatan.
5. Menganjurkan menyusui secara eksklusif sampai bayi berumur 4-6 bulan dan
menganjurkan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun.
6. Melaksanakan rawat gabung di tempat persalinan milik pemerintah maupun swasta.
7. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal PP-ASI sehingga petugas
tersebut terampil dalam melaksanakan penyuluhan pada masyarakat luas.
8. Pencanangan Peningkatan Penggunaan ASI oleh Bapak Presiden secara nasional
pada peringatan Hari Ibu ke-62 (22Desember1990).
9. Upaya penerapan 10 langkah untuk berhasilnya menyusui di semua rumah sakit,
rumah bersalin dan puskesmas dengan tempat tidur.

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

5. KESIMPULAN
1. Pola pemberian ASI eksklusif pada bayi umur < 1--2 bulan relatif cukup tinggi,
sedangkan yang berumur 3 bulan relatif cukup rendah, baik secara keseluruhan
ataupun yang dibedakan menurut perkotaan dan pedesaan.
2. Proporsi pemberian ASI ekslusif pada bayi berumur 2 bulan relatif cukup besar,
baik di perkotaan maupun di pedesaan, dan mulai menurun pada umur tiga bulan.
3. Proporsi bayi yang menyusu ASI eksklusif mulai umur < 1 bulan sampai 2 bulan
relatif cukup besar, baik secara keseluruhan maupun berdasarkan pedesaan dan
perkotaan, serta rendah proporsinya pada umur 3 bulan. Proporsi pemberian ASI
ekslusif pada bayi umur 3 bulan di perkotaan lebih rendah dibandingkan di
pedesaan.
4. Berdasarkan hal ini adanya hubungan antara sosial ekonomi, semuanya
menggambarkan proporsi pemberian ASI eksklusif pada semua tingkatan yang
relatif cukup besar dibandingkan dengan yang tidak eksklusif.
5. Faktor sosial ekonomi, demografi, pelayanan kesehatan, dan paparan media, yaitu
umur bayi, tingkat pendidikan yang ditamatkan, dan jumlah anak 0--4 tahun dalam
keluarga.

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

6. SARAN
1. Diperlukan penyuluhan yang intensif melalui komunikasi langsung oleh petugaspetugas kesehatan di desa: bidan desa, kader-kader Posyandu, dan dalam pertemuan
instrumen kelompok ibu-ibu tentang ASI eksklusif.
2. Diperlukan penyuluhan yang rinci tentang cara-cara menambah makanan tambahan
pada ibu-ibu untuk menjamin kecukupan gizi pada waktu menyusui.
3. Berhubung rendahnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi berumur kurang 1
bulan dibandingkan yang berumur 1 bulan, diperlukan informasi lebih lanjut
mengenai penyebab terjadinya hal ini.

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

DAFTAR PUSTAKA

1. Indonesia, Departemen Kesehatan, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Dikjen


Pembinaan Kesehatan Masyarakat (1992). Pedoman Pemberian Makanan Tambahan
Pendamping ASI (MP-ASI) Jakarta.
2. Evi NA (1992). Sudahkah Bayi Anda DIberi ASI? Warta Demografi, Th XXII, No.8,
Agustus 1992, Jakarta: 5
3. Indonesia, Departemen Kesehatan, Badan Litbangkes-BPS (1992). Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT), Jakarta
4. Ratna LB (1995). Perubahan Perilaku Pemberian ASI di Indonesia. Majalah Kesehatan
Perkotaan II (I), Jakarta:84

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .. i
Daftar Isi .. ii

Pemberian ASI Eksklusif


1. Pendahuluan.....................................................................................................................1
2. Definisi.............................................................................................................................2
3. Pemberian Asi Eksklusif..................................................................................................3
4. Kebijakan-Kebijakan Pemerintah RI Sehubungan Penggunaan ASI Eksklusif...............5
5. Kesimpulan......................................................................................................................6
6. Saran.................................................................................................................................7

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

Pemberian ASI Eksklusif

KATA PENGANTAR

Dengan rasa syukur dan hati lega, penulis telah selesai menyusun paper ini guna
memenuhi persyaratan Kepanitraan Klinik Senior di Bagian Obstetri & Ginekologi RSU.
Dr. Pirngadi Medan dengan judul ASI Eksklusif.
Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. M.
Birza Rizaldi atas bimbingan dan arahannya selama mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior
di Bagian Obstetri & Ginekologi RSU Dr. Pirngadi Medan serta dalam penyusunan paper
ini.
Bahwasanya hasil usaha penyusunan paper ini masih banyak kekurangannya,
tidaklah mengherankan karena keterbatasan pengetahuan yang ada pada penulis. Kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, guna perbaikan penyusunan
paper lain di kemudian kesempatan.
Harapan penulis semoga paper ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan
serta dapat menjadi arahan dalam mengimplementasikannya di masyarakat.

Medan, Januari 2003

Penyusun

KKS SMF Obstetri & Ginekologi PSUPM

10