Você está na página 1de 108

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU

DI PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA


MAJALENGKA

Oleh :
WAWAN KURNIAWAN
A14105620

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
WAWAN KURNIAWAN. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di
Perusahaan Kecap Segitiga Majalengka. (Di bawah bimbingan
JOKO PURWONO)
Kecap merupakan hasil dari perkembangan teknologi pengolahan kedelai,
yaitu melalui proses fermentasi 1 sampai 2 minggu. Dilihat dari kandungan
gizinya kecap kedelai ternyata masih memilki protein dan kadar abu yang cukup
tinggi. Sementara komposisi asam amino pada kecap kedelai sebagian besar
didukung oleh asam glutamat, prolin, asam asportat dan lesitin (Santoso, 1994).
Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan kecap menyebabkan
persaingan semakin meningkat di antara perusahaan kecap, terutama dampak
persaingan ini dirasakan sekali bagi perusahaan kecap yang masih kecil, sehingga
keunggulan kompetitif menjadi penting. Salah satu strategi yang dapat diterapkan
adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi
melalui manajemen produksi dan persediaan.
Perusahaan Kecap Segitiga merupakan salah satu produsen kecap yang
sedang berkembang. Adanya perubahan permintaan konsumen terhadap kecap
seringkali menuntut pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap
rencana produksinya (revisi rencana produksi). Selain itu, kebijakan perusahaan
menyangkut perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku
sering dihadapkan pada kendala investasi yang terlalu banyak atau menekan
persediaan. Masing-masing akan memiliki konsekuensi terhadap biaya
persediaan, kelancaran produksi dan pelayanan kepada pelanggan. Untuk itu,
diperlukan sistem pengendalian persediaan yang optimal sehingga perusahaan
mampu meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) melakukan kajian terhadap sistem
pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan. (2) menganalisis
sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dan menentukan
alternatif teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat diterapkan pada
perusahaan.
Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh langsung dari Perusahaan Kecap Segitiga yang berlokasi di Jalan
Raya Tonjong No 54. Kabupaten Majalengka, pada bulan februari 2007 Maret
2008 melalui hasil pengamatan dan wawancara dengan karyawan, manajer, dan
kepala divisi yang berkaitan. Data sekunder diperoleh dari buku-buku, hasil
laporan penelitian terkait, catatan perusahaan, literatur perusahaan dan instansi
terkait serta literatur lainnya. Data kuantitatif diolah dengan menggunakan
program Microsoft Excel . Untuk menganalisis metode pengendalian persediaan
bahan baku perusahaan periode Maret 2007-Februari 2008 akan digunakan model
MRP teknik LFL, EOQ, dan POQ. dipilih kemudian akan dipilih satu model
alternatif untuk dijadikan sebagai bahan rekomendasi dalam pengendalian
persediaan bahan baku perusahaan Segitiga.
Data pembelian bahan baku perusahaan seringkali berfluktuasi, dengan
tingkat persediaan yan cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan tingkat pembelian yang
melebihi dari kebutuhan bahan baku untuk produksi kecap untuk setiap
periodenya.

Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu Biaya yang


ditanggung perusahaan untuk biaya persediaan bahan baku sebesar
Rp 14 106 009.43 dengan biaya pembelian bahan baku selama periode Maret
2007-Februari 2008 sebesar Rp 1 340 203 482.00. Sedangkan dengan teknik LFL,
EOQ dan POQ biaya persediaan perusahaan masing-masing Rp 27 659 748.70 ,
Rp 9 365 809.48, Rp 8 278 409.65. Sistem pengadaan dan pengendalian
persediaan bahan baku kecap belum optimal dari segi biaya persediaan bahan
baku. Hal ini ditunjukkan dari tingginya biaya persediaan yang dihasilkan
perusahaan, dibandingkan dengan biaya persediaan menggunakan metode MRP
teknik EOQ dan teknik POQ. Sedangkan dari hasil analisis dengan Metode MRP
teknik POQ yang menghasilkan penghematan biaya paling besar di antara teknik
yang lainnya, yaitu menghasilkan biaya persediaan sebesar Rp 8 278 409.65 atau
perusahaan dapat menghemat biaya persediaan sebesar 41.3 persen. Biaya
pembelian bahan baku dengan teknik POQ sebesar Rp 1 228 478 728.50 atau
perusahaan mengalami penghematan biaya pembelian bahan baku sebesar 8.3
persen. Oleh karena itu metode MRP teknik POQ direkomendasikan sebagai
model alternatif dalam sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal
dilihat dari biaya persediaan bahan bakunya. Penggunaan metode MRP teknik
POQ dapat dijadikan alternatif bagi pengendalian persediaan perusahaan karena
metode ini menghasilkan periode gabungan yang akan meminimumkan biaya
persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan) serta biaya pembelian
bahan baku.

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU


DI PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA
MAJALENGKA

SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian pada
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
WAWAN KURNIAWAN
A14105620

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

Judul Skripsi : Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di Perusahaan


Kecap Segitiga Majalengka
Nama
: Wawan Kurniawan
NRP
: A14105620

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir. Joko Purwono, MS


NIP:131 578 844

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, MAgr,


NIP. 131 124 019

Tanggal lulus : 3 Mei 2008

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
ANALISIS

PENGENDALIAN

PERSEDIAAN

BAHAN

BAKU

DI

PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA MAJALENGKA BELUM PERNAH


DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN
MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK
TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHANBAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK
LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN
DALAM NASKAH.

Bogor, April 2008


Wawan Kurniawan
A14105620

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 11 Mei 1982 di Majalengka, Jawa Barat.
Penulis yang bernama lengkap Wawan Kurniawan adalah anak ketujuh dari enam
bersaudara pasangan ayahanda Abu sufyan dan ibunda Yayah Khususiah.
Penulis memulai pendidikan dasar di SD Negeri 1 Maja tahun 1990 hingga
tahun 1996. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan pada sekolah menengah
pertama di SLTP Negeri 1 Maja hingga tahun 1999. Pada tahun 2002 penulis
menamatkan pendidikan menengah atas pada SMU Negeri 1 Majalengka,
kemudian pada tahun yang sama melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor
(IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Diploma III
Program Studi Teknologi dan Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan
Makanan Ternak, Fakultas Peternakan hingga tahun 2005. Kemudian penulis
melanjutkan ke program Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan,
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) periode 2004-2005
sebagai staf Departemen Pertanian. Sebagai pengurus Keluarga Muslim Ekstensi
(KAMUS X10C) dan terakhir menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Majalengka
2002-2007.

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Analisis
Pengendalian Persediaan Bahan Baku di Perusahaan Kecap Segitiga Majalengka.
Penelitian ini membahas tentang pengendalian persediaan bahan baku kecap
khususnya bahan baku Kedelai, Gula Aren, Gula kelapa dan garam.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari metode alternatif bagi perusahaan
dalam pengadaan bahan baku, dengan memberikan tingkat persediaan dan biaya
persediaan yang optimal, serta dapat menghemat biaya pembelian bahan baku.
Model pengendalian persediaan yang digunakan adalah model Material
Requirement Planning (MRP) teknik Lot For Lot (LFL), Teknik Economic Order
Quantity (EOQ) dan Teknik Period Order Quantity (POQ). Model pengendalian
persediaan tersebut dibandingkan dengan metode pengendalian persediaan
perusahaan untuk mendapatkan alternatif dalam pengendalian persediaan bahan
baku yang menghasilkan biaya persediaan minimum.
Besar harapan penulis agar hasil penelitian ini mendapatkan berkah dari
Allah SWT dan dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Terima kasih.

Bogor, April 2008


Wawan Kurniawan

UCAPAN TERIMA KASIH


Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan, arahan dan
dorongan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada :
1. Allah SWT yang selalu memberikan Rahmat, Berkah dan Ridho kepada
penulis sepanjang hayat ini.
2. Bapak dan ibu tercinta, Teteh-tetehku dan Aa-Aaku atas daya upaya selalu
mendoakan, member kasih sayang, dorongan dan kesabarannya dalam
membimbing penulis dari kecil hingga sekarang.
3. Ir.Joko Purwono, MS sebagai pembimbing skripsi yang telah begitu banyak
memberi bimbingan, saran, dan masukannya selama proses penelitian
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
4. Ir. Yayah K. Wagiono, Mec sebagai dosen evaluator, atas masukannya berupa
saran dan kritik dalam kolokium proposal penelitian.
5. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS sebagai dosen penguji utama yang telah
memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini.
6. Ir. Netti Tinaprilla, MM sebagai dosen penguji dari komisi pendidikan yang
telah memberikan koreksi dan saran demi perbaikan skripsi ini.
7. Pak Dhany sebagai pembimbing lapang penulis, terima kasih atas bantuan
data-datanya, serta Bapak Deden Herdian selaku Pimpinan perusahaan dan
seluruh staf Perusahaan Kecap Segitiga yang telah banyak memberi
bimbingan dan motivasi selama penelitian di Perusahaan

8. Daeng Iksal atas segala bantuannya dan kebersamaannya yang memberikan


semangat kepada penulis sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik
dan Bu Mia atas pinjaman buku-bukunya, selamat atas kelahiran buah hatinya.
9. Dr. Arisman Adnan dan Mas Yuri atas dorongan semangat dan Doanya.
10. Teman-teman seperjuangan (Asep, Hery, Hayya, Guna, Usman, Erfan, Iyan)
atas keceriaan dan kebersamaan kita dalam perjuangan tidak lupa juga untuk
mas Way. Sungguh suatu nikmat yang indah bisa mengenal kalian semua
saudaraku ;-)
11. Semua teman-teman ekstensi 13(esp :Pengurus KAMUS,dan Tim Pelopor :
Husni, Rudy, Husen, dan Abdul, Sol, dan Akhwatnya) atas kebersamaan kita,
semoga silaturahim kita tidak terputus.
12. Teman-teman satu atap (Arif, Aris, Fajar, Jaman, Sudar, Ubay) atas
kebersamaan dan semangat kalian yang turut memotivasiku dalam
menyelesaikan skripsi ini. Selamat berjuang untuk kehidupan selanjutnya dan
teman-teman yang setia bersama (TIP 39 : Solihin, Sisca, Dizy).
13. Teman-teman Bogor Tengah, terus semangat perjuangan kita belum berakhir,
karena harapan itu masih ada.
14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang turut membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


UCAPAN TERIMAKASIH ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR......................................................................................... v
I.

II.

III.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................................
1.4 Kegunaan Penelitian............................................................................
1.5 Ruang LingkupPenelitian ...................................................................

1
4
9
9
9

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecap...................................................................................................
2.2 Bahan Baku ..........................................................................................
2.3 Persediaan ...........................................................................................
2.3.1 Fungsi dan Peranan Persediaan ................................................
2.3.2 Jenis-jenis Persediaan fisik ........................................................
2.3.3 Biaya-biaya Persediaan ............................................................
2.3.4 Pengendalian Persediaan............................................................
2.4 Perencanaan Kebutuhan Bahan (MRP) ...............................................
2.4.1 Lot For Lot ...............................................................................
2.4.2 Economic Order Quantity.........................................................
2.4.3 Part Periode Balancing ...........................................................
2.4.4 Period Order Quantity ..............................................................
2.5 Persediaan Pengaman ..........................................................................
2.6 Titik Pemesanan Kembali ....................................................................
2.7 Hasil Penelitian Terdahulu...................................................................

11
13
14
14
15
16
19
19
22
22
25
27
27
28
28

KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Identifikasi Kebijakan Perusahaan Dalam Pegadaan bahan Baku....... 31
3.2 Analisis Prosedur Pembelian Bahan Baku........................................... 31
3.3 Analisis Pengendalian Persediaan Bahan baku.................................... 33

IV. METODE PENELITIAN


4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ..............................................................
4.2 Jenis dan Sumber Data........................................................................
4.3 Metode Analisis Data..........................................................................
4.3.1 Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan .............................
4.3.2 Penyesuaian dan Penentuan Volume Pemakaian Bahan Baku ..
4.3.3 Penyesuaian dan Penentuan Waktu Tunggu ..............................
4.3.4 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku......
4.3.5 Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan........................

36
36
37
37
38
39
39
44

4.4Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan


Berdasarkan Data Historis ................................................................. 44
4.5 Definisi Operasional ............................................................................. 45
V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
5.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan.....................................................
5.2 Lokasi Perusahaan ..............................................................................
5.3 Aspek Pemasaran ................................................................................
5.4 Aspek Teknis/Produksi .......................................................................
5.4.1 Proses Produksi .........................................................................
5.5 Aspek Sumberdaya Manusia ..............................................................
5.6 Fasilitas Pabrik dan Kantor ................................................................

46
47
48
49
49
53
53

VI. SISTEM PENANGANAN DAN PENGADAAN BAHAN BAKU


KECAP PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA
6.1 Jenis dan Asal Bahan Baku ................................................................ 55
6.1.1 Kacang Kedelai ......................................................................... 56
6.1.2 Gula Aren .................................................................................. 57
6.1.3 Gula Kelapa ............................................................................... 57
6.1.4 Garam ........................................................................................ 57
6.2 Prosedur Pengadaan Bahan Baku....................................................... 58
6.3 Waktu Tunggu Bahan Baku(Lead Time) Pada Perusahaan Segitiga.. 59
6.4 Proses penanganan Bahan Baku......................................................... 60
6.5 Volume Penanganan Bahan Baku ...................................................... 60
6.6 Biaya-Biaya Persediaan...................................................................... 62
6.6.1 Biaya Pemesanan....................................................................... 62
6.6.2 Biaya Penyimpanan ................................................................... 64
VII.ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA
7.1 Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan ............................ 66
7.2 Metode Material Requirement Planning (MRP)................................ 70
7.2.1 Metode MRP Teknik Lot For Lot (LFL) ................................... 71
7.2.2 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) .......... 73
7.2.3 Metode MRP Teknik Period Order Quantity (POQ) ................ 75
7.3 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan.................. 77
7.4 Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan
Baku Berdasarkan Data Historis perusahaan Periode
Maret 2007-Februari 2008.................................................................. 80
VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
8.1 Kesimpulan......................................................................................... 82
8.2 Saran ................................................................................................... 83
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 84
LAMPIRAN ..................................................................................................... 86

DAFTAR TABEL

Nomor

Teks

Hal

1.

Produksi Tanaman Sekunder Indonesia Tahun 2003-2007 ..................

2.

Konsumsi dan Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Seminggu untuk


Komoditas Kecap di Indonesia..............................................................

3.

Susunan Aset Suatu Perusahaan Manufaktur (Tipikal) ........................

4.

Daftar Industri Kecap Kabupaten Majalengka Tahun 2007 .................

5.

Kuantitas Pesanan dan Persediaan Rata-rata Bahan BakuKacang


Kedelai Berdasarkan kondisi Aktual Perusahaan Tahun 2007 .............

6.

Komposisi Zat Gizi Kecap Kedelai (100gr) .........................................

12

7.

Penentuan Lot dengan Teknik PPB ......................................................

26

8.

Penelitian Terdahulu .............................................................................

30

9.

Format Rencana MRP...........................................................................

40

10. Komponen Bahan-bahan Pembentuk Keca pada Perusahaan Kecap


Segitiga..................................................................................................

55

11. Volume Pemakaian Bahan Baku Kecap Perusahaan Kecap Segitiga


Periode Maret 2007-Februari 2008 .......................................................

62

12. Biaya Pemesanan Bahan Baku Perusahaan Segitiga Periode Maret


2007-Februari 2008 (Rupiah/pesanan)

64

13. Biaya Penyimpanan Bahan Baku PerusahaanKecap Segitiga ..............

65

14. Persediaan Kacang Kedelai, Gula Aren, Gula Kelapa dan Garam
Selama Periode Maret 2007-Februari 2008 (kg)...................................

67

15. Biaya Persediaan Bahan Baku per Tahun Periode Maret 2007Februari 2008 Menggunakan Kondisi Aktual Perusahaan....................

68

16. Biaya Pembelian Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008 ......

69

17. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Segitiga dengan Teknik


Lot For Lot Periode Maret 2007-Februari 2008 ...................................

72

18. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Lot For Lot Periode
Maret 2007-Februari 2008 .....................................................................

73

19. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Segitiga dengan Teknik


Economic Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008. . 74
20. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Economic Order Quantity
Periode Maret 2007-Februari 2008 .......................................................... 75
21. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Segitiga Teknik Period
Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 ................................ 76
22. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Period Order Quantity
Periode Maret 2007-Februari 2008 .......................................................... 77
23. Perbandingan Frekuensi Biaya Persediaan dan Biaya Pembelian Total
Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008 ..................................... 78
24. Penghematan Biaya Persediaan dan Pembelian dengan MRP Teknik
LFL, EOQ dan POQ................................................................................. 79

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Teks

Hal

1. Biaya Persediaan ...............................................................................................

23

2. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ...........................................

35

3. Prosedur Pembelian Bahan Baku........................................................

59

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor perindustrian merupakan

sektor yang cukup diandalkan dalam

perekonomian Indonesia, terutama dari sektor industri pengolahan hasil pertanian.


Hal tersebut menjadikan industri pengolahan hasil produk pertanian sangat
berperan dalam pertumbuhan perekonomian, karena sektor pertanian masih
menjadi penghasilan utama sebagian besar masyarakat Indonesia, sebagai
masyarakat agraris.
Indonesia sebagai negara agraris, yang mempunyai luas lahan pertanian
yang cukup luas, masih mempunyai potensi yang besar dalam meningkatkan
produksi industri pengolahan hasil pertanian. Data produksi beberapa komoditas
pertanian di Indonesia menunjukkan produksi hasil pertanian yang tinggi, seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 1. Data menunjukkan bahwa produksi pada tahun
2007 untuk komoditas jagung

menduduki peringkat terbesar, yaitu

sebesar

11.609.463 ton; kedelai sebesar 808 353 ton pada tahun 2005; kacang tanah
sebesar 838 096 ton pada tahun 2006; singkong sebesar 19.986 640 ton pada
tahun 2006; ubi jalar sebesar 1 991 478 ton pada tahun 2003.
Tabel 1. Produksi Tanaman Sekunder Indonesia tahun 2003-2007 (Ton)
Tahun

Jagung

Kedelai

2003
2004

10 886 442
11 225 243

671 600
723 483

2005

12 523 894

2006

11 609 463
13 279 794

808 353
747 611

2007*

Sumber: BPS. 2007


Keterangan : * Data sementara

608 263

Kacang
tanah
785 526
837 495
836 295

Singkong

Ubi jalar

18 523 810
19 424 707

1 991 478
1 901 802

19 321 183

1 856 969

838 096

19 986 640

1 854 238

789 327

18 950 274

1 874 036

Produksi produk pertanian untuk tahun 2007, pada Tabel 1 menunjukkan


penurunan dalam produksi yaitu untuk komoditas kedelai, kacang tanah dan
singkong. Hal ini menimbulkan kenaikan harga beberapa komoditas pertanian,
khususnya

yang terjadi pada tahun 2007 adalah kenaikan harga komoditas

kedelai, sehingga berdampak pada melambungnya harga produk-produk olahan


kedelai.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu

Krisnamurthi, menyatakan bahwa harga komoditas pangan naik sebesar 10%-35%


selama enam bulan terakhir. Peningkatan harga itu dipicu kenaikan harga minyak
mentah dunia. Komoditas pangan yang dimaksud seperti jagung, kedelai, daging,
dan terigu.1
Salah satu industri

pengolahan

hasil

pertanian yang menggunakan

komoditas kedelai sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya adalah
industri kecap.

Kecap sebagai salah satu hasil olahan kedelai, telah lama

dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Industri kecap sangat berperan dalam


meningkatkan nilai tambah

komoditas kedelai. Industri kecap juga berperan

dalam penyediaan tenaga kerja bagi masyarakat di sekitar lokasi pabrik dan
meningkatkan permintaan kedelai nasional.
Tabel 2. Konsumsi dan Pengeluaran Rata-rata per Kapita Seminggu untuk
Komoditas Kecap di Indonesia (Rp/14ml)
Tahun
1996
1999
2002
2003

Konsumsi
(Liter)
0.064
0.063
0.083
0.078

Pertumbuhan
(%)
-1.6
31.8
-6.0

Nilai
(Rp)
37.00
79.00
124.00
127.00

Sumber : BPS (1996, 1999, 2002, dan 2003)

http://www.wartaekonomi.com/search_detail.asp?aid=9948&cid=2&x=kedelai

Pertumbuhan
(%)
113.5
57.0
2.4

Apabila ditinjau dari aspek konsumsi, masyarakat Indonesia memiliki


tingkat konsumsi kecap yang cukup tinggi. Data pengeluaran dan konsumsi kecap
di Indonesia pada Tabel 2 menunjukkan bahwa ratarata konsumsi dan
pengeluaran untuk kecap per kapita per minggu pada tahun 2002 mengalami
pertumbuhan yang signifikan yaitu sebesar 31.8 persen, dengan tingkat konsumsi
per kapita per minggu sebanyak 0.083 liter, nilai pengeluaran Rp 124.00 serta
pertumbuhan nilai pengeluaran sebesar 57 persen. Meskipun pada tahun 2003
dalam tingkat konsumsi mengalami penurunan menjadi 0,078 liter per kapita per
minggu, dengan tingkat pertumbuhannya sebesar 6,0 persen, tetapi dengan nilai
pengeluaran yang

mengalami peningkatan menjadi Rp 127.00, tentunya ini

menjadi pendorong bagi pelaku bisnis kecap untuk meningkatkan produksinya.


Industri kecap berlomba-lomba menghasilkan kecap dengan berbagai rasa,
ukuran, dan kemasan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam.
Peningkatan tingkat konsumsi ini tentunya mendorong perusahaan untuk
meningkatkan jumlah produksi. Peningkatan produksi ini memerlukan perhatian
yang cukup serius dari pihak perusahaan, mulai dari manajemen sistem pengadaan
bahan baku baku kecap; manajemen sistem produksi; manajemen persediaan
bahan baku kecap. Masing-masing komponen tersebut menimbulkan biaya dari
setiap unit bahan baku kecap yang dibeli perusahaan.
Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan bahan baku
sedemikian rupa sehingga di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada
waktunya dan di lain pihak investasi persediaan bahan baku dapat ditekan secara
optimal. Pengendalian tingkat persediaan bertujuan mencapai efisiensi dan

efektivitas optimal dalam penyediaan bahan baku. Dalam pengadaan dan


penyimpanan bahan baku diperlukan biaya besar, baik itu untuk perusahaan besar
maupun perusahaan kecil. Biasanya biaya yang paling besar adalah nilai inventory
dan biaya penyimpanannya. Biaya penyimpanan ini setiap tahun pada umumnya
mencapai

sekitar

20

persen

sampai

40

persen

dari

harga

barang

(Indrajit, 2003). Oleh karena itu, perlu ditempuh strategi atau manajemen tertentu
yang bertujuan menjaga agar tingkat persediaan barang dapat ditekan seminimal
mungkin, namun di lain pihak harus diusahakan agar penjualan dan operasi
perusahaan tidak terganggu. Berikut ini dapat dilihat susunan aset tipikal dari
suatu perusahaan manufaktur pada Tabel 3.
Tabel 3. Susunan Aset Suatu Perusahaan Manufaktur (Tipikal)
No
1
2
3
4
5
6

Susunan Aset
Kas
Piutang
Aset cair lain
Persediaan barang
Aset tetap
Aset lain

Persentase (%)
4
26
6
31
27
6

Sumber : Indrajit, 2003.

Berdasarkan Tabel di atas terlihat jelas bahwa aset berupa barang


merupakan kelompok yang paling besar dari seluruh aset perusahaan, sehingga
perlu mendapat perhatian yang besar dari manajemen perusahaan.
1.2. Perumusan Masalah
Industri kecap merupakan salah satu subsistem agribisnis dalam bidang
industri pengolahan hasil pertanian. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Kabupaten Majalengka (2007), tercatat sebanyak 24 perusahaan
yang bergerak dalam industri kecap.

Hal ini menyebabkan tingkat persaingan

yang cukup tinggi dalam aspek pemasaran dan harga, dimana sebagian besar
dipasarkan di wilayah Kabupaten Majalengka.
Tabel 4. Daftar Industri Kecap di Kabupaten Majalengka Tahun 2007
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Nama
Perusahaan/Pengrajin
Segi tiga
Maja menjangan
Cap Sate
Anton Yuliyanto
Potret Matahari Terbit dan
Merak
Ijoh
Andon
T3
Roda Bersayap
H. Santana
Panggang Ayam
Potret Matahari
Kambing
Ikan mas koki
Ayam jago
Moh. Suherman
Tohri
Iyah dasiyah
Oman
Sari
Sapyudin
Saroni
Dua bintang
Cap Matahari

Jumlah
Produksi

Satuan

860 000
624 175
183 000
108 000
180 000

Botol
Botol
Botol
Botol

960
750
180 000
144 000
250 000
45 000
15
100
20 000
225 000
7000
240
750
5
1000
950
240 000
84 000
15

Botol
Krat
Botol
Botol
Botol
Botol
Ton
Krat
Botol
Botol
Botol
Botol
Ton
Botol
Krat
Botol
Botol
Ton

Jumlah
Tenaga
Kerja
40
12
7
15
5
2
2
13
10
4
3
5
4
11
10
3
2
3
2
2
2
4
4
5

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Majalengka (2007), diolah

Salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha produksi kecap
adalah Perusahaan Kecap Segitiga, yang merupakan perusahaan kecap terbesar
di Kabupaten Majalengka yang telah dirintis sejak tahun 1958.
Bahan baku utama kecap di Perusahaan Kecap Segitiga terdiri dari kacang
kedelai hitam, gula aren, gula kelapa, garam. Bahan baku tersebut diperoleh dari
distributor yang sudah menjadi pemasok perusahaan, yaitu berasal dari Bandung,

Banjar, Cianjur, Cirebon dan Majalengka.

Kondisi aktual yang terjadi di

perusahaan selama ini adalah perusahaan tidak melakukan perhitungan


berdasarkan metode pengendalian bahan baku tertentu dalam menentukan jumlah
bahan baku yang dipesan. Perusahaan hanya melakukan pemesanan berdasarkan
kondisi aktual persediaan bahan baku di gudang sehingga sering terjadi
pemesanan bahan baku yang tidak terjadwal dan jumlah pesanannya jauh lebih
besar dari rata-rata kebutuhan bahan baku. Hal ini mengakibatkan tingginya
persediaan bahan baku perusahaan yang menyebabkan besarnya biaya kesempatan
(opportunity cost) yang harus ditanggung perusahaan. Contohnya dapat dilihat
pada Tabel 5 yang menjelaskan perbandingan antara kuantitas pesanan dan
kebutuhan pemakaian bahan baku kacang kedelai, berdasarkan kondisi aktual
perusahaan.
Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa tingkat persediaan bahan baku kacang
kedelai cukup besar. Bahkan pada bulan Mei sampai dengan bulan November
angkanya melebihi kebutuhan produksi. Hal ini menunjukan bahwa cadangan
persediaan bahan baku pada bulan tersebut melebihi rata-rata kebutuhan bahan
baku perbulannya. Besarnya tingkat persediaan ini terjadi karena pemesanan
bahan baku yang dilakukan perusahaan tidak teratur, dimana kuantitas pemesanan
perbulan sangat bervariasi. Besarnya kuantitas pemesanan yang dilakukan tidak
sesuai dengan kebutuhan produksi. Pada bulan-bulan tertentu pemesanan bahan
baku melebihi kebutuhan produksinya, tetapi kemudian kuantitas

pemesanan

dapat jauh lebih kecil dari kebutuhan produksi.


Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan kecap di
Kabupaten Majalengka menyebabkan persaingan semakin meningkat sehingga

keunggulan kompetitif menjadi penting. Salah satu strategi yang dapat diterapkan
adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi
melalui manajemen produksi dan persediaan.
Tabel 5.

Kuantitas Pesanan dan Persediaan Rata-Rata Bahan Baku


Kacang Kedelai Berdasarkan Kondisi Aktual Perusahaan Tahun
2007

Bulan
Januari

Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Total
Rata-rata

Kuantitas
Stok
Pesanan Awal (kg)
(kg)
1800
840
1650
600
2185
1000
1625
8223
1625
8337
7663
3429
10589
6000
7737
8408
6488
2684
7006
5010
1597
39 927
54 569
3 327.25
4 547.42

Pemakaian
(kg)
150
305
1160
1000
2185
5411
6281
5329
5724
2166
5409
3946
39 066
3 255.5

Stok
Akhir
(kg)
1650
2185
1625
1625
7663
10589
7737
8408
2684
7006
1597
2661
55 430
4 619.17

Persediaan
Rata-Rata
(kg)
1725
1917.5
1905
1625
4644
9126
9163
8072.5
5546
4845
4301.5
2129
55 059.5
4 588.29

Sumber : Data perusahaan (2007), diolah

Untuk

menghadapi

persaingan

dalam

industri

kecap,

Perusahaan Kecap Segitiga merasa perlu menciptakan keunggulan kompetitif.


Salah satunya melalui manajemen produksi dan persediaan yang optimal, yaitu
melalui pengendalian

persediaan bahan baku kecap. Hal ini didasari dari

beberapa permasalahan dalam manajemen produksi dan persediaan yang dihadapi


Perusahaan Kecap Segitiga, diantaranya: perubahan permintaan konsumen akan
produk kecap pada saat menjelang hari raya serta keterlambatan kedatangan bahan
baku dari pemasok. Selain itu dengan semakin banyaknya perusahaan kecap perlu
diperhatikan juga mengenai persaingan dalam mendapatkan vahan baku.

Perubahan permintaan konsumen terhadap kecap seringkali menuntut


pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap rencana produksinya
(revisi rencana produksi). Selain itu kebijakan perusahaan menyangkut
perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku sering
dihadapkan pada kendala investasi yang terlalu banyak atau menekan persediaan.
Masing-masing akan memiliki konsekuensi terhadap biaya persediaan, kelancaran
produksi dan pelayanan kepada pelanggan. Untuk itu, diperlukan sistem
pengendalian

persediaan

yang

optimal

sehingga

perusahaan

mampu

meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya.


Persediaan bahan baku merupakan salah satu faktor produksi yang sangat
penting karena menunjang kelancaran dan kesinambungan dalam proses produksi.
Persediaan bahan bahan baku yang melebihi maupun yang persediaan bahan
baku yang kurang akan merugikan perusahaan. Kekurangan persediaan akan
menyebabkan terganggunya proses produksi, yaitu tidak tercapainya target
produksi

sesuai

dengan

permintaan

konsumen.

Kelebihan

persediaan

mengakibatkan meningkatnya biaya penyimpanan, di samping dengan tingginya


resiko kerusakan bahan baku akibat proses penyimpanan bahan baku yang terlalu
lama, yang dapat merugikan perusahaan secara keseluruhan. Dengan melihat
kondisi tersebut perusahaan memerlukan sistem pengendalian persediaan bahan
baku yang dapat menjaga ketersediaan bahan baku, serta dapat meminimalkan
biaya persediaan. Oleh karena itu permasalahan yang akan dianalisis adalah :
1.

Bagaimana sistem pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan


oleh perusahaan ?

2. Bagaimanakah model alternatif pengendalian persediaan bahan baku yang


dapat meminimalkan biaya, sesuai dengan kondisi perusahaan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dari
penelitian ini adalah :
1. Melakukan kajian terhadap sistem pengendalian persediaan bahan baku
yang dilakukan perusahaan.
2. Menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal
dan menentukan alternatif teknik pengendalian persediaan bahan baku
yang dapat diterapkan pada perusahaan.
1.4. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam

menentukan alternatif

teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat meminimalkan


biaya, serta sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam pengadaan
dan pengendalian persediaan, yang sesuai

bagi pelaksanaan kegiatan

produksi perusahaan.
2. Sebagai media untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh, dan bagi
masyarakat umum, penelitian ini dapat berguna sebagai informasi yang
berkenaan dengan pengendalian persediaan bahan baku.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini meliputi gambaran umum, sistem pengadaan
dan penanganan bahan baku perusahaan, serta analisis pengendalian persediaan

bahan baku. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada


perusahaan mengenai teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat
meminimalkan biaya. Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Kecap Segitiga,
Kabupaten Majalengka.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kecap
Kecap adalah sari kedelai yang telah difermentasikan dengan atau tanpa

penambahan gula dan bumbu. Dilihat dari kandungan gizinya, kecap kedelai
ternyata masih memiliki protein dan kadar abu yang cukup tinggi. Sementara
komposisi asam amino pada kecap kedelai sebagian besar didukung oleh asam
glutamat, prolin, asam asportat dan lesitin (Santoso, 1994). Dengan demikian
mengkonsumsi kecap bukanlah sekedar menikmati rasa asin atau manis, akan
tetapi kecap kedelai memiliki zat gizi yang lengkap dengan asam aminonya.
Pada umumya bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan kecap adalah
kacang kedelai (Glycine max merr). Hal ini didasarkan kandungan nilai gizi
kedelai yang cukup tinggi, terutama kandungan protein dan kandungan
karbohidratnya sehingga memungkinkan perkembangbiakan mikroorganisme
yang menghasilkan enzim pemecah substrat pada kedelai (Yokotsuka dalam
Ramdhan, 2002).

Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman

polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan Timur Jauh seperti
kecap, tahu dan tempe. Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling
tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna
kuning, agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam).
G.max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti Tiongkok dan
Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia
Tenggara.
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun
Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. Ini terjadi karena

kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli
tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan
Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah
sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif
kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih
cocok bagi Indonesia.
Jenis kedelai yang digunakan

untuk pembuatan kecap adalah kedelai

hitam dan kedelai kuning (Judoamidjojo, dalam Ramdhan, 2002). Komposisi


kimia antara kedelai hitam dengan kedelai kuning tidak begitu berbeda. Selain itu
perbedaan jenis kedelai tersebut tidak berpengaruh pada efektifitas fermentasi.
Kedelai hitam lebih banyak digunakan oleh kalangan industri dalam pembuatan
kecap, namun beberapa perusahaan

menggunakan kedelai kuning, dan hasil

samping dari pembuatan kecap tersebut dijadikan tauco (Judoamidjojo dalam


Ramdhan, 2002).
Tabel 6. Komposisi Zat Gizi Kecap Kedelai (100gr)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Zat Gizi
Energi
Air
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
Abu
Kalsium
Besi
Vitamin B1
Vitamin B2

Kecap

Satuan
86.00
57.40
5.50
0.60
15.10
0.60
21.40
85.00
4.40
0.04
0.17

Sumber : Direktorat Gizi Dep. Kesehatan RI dalam Santoso, 1994

kalori
gram
gram
gram
gram
gram
gram
mg
mg
mg
mg

Secara umum kecap di Indonesia dikelompokan menjadi dua golongan,


yaitu kecap asin dan kecap manis. Kecap dapat diproduksi dengan tiga metode
produksi, yaitu fermentasi kedelai, hidrolisa asam, atau kombinasi keduanya.
Kecap hidrolisa kurang populer dibandingkan dengan kecap hasil fermentasi dari
segi rasa dan aroma yang kurang baik. Hal ini disebabkan selama proses hidrolisa,
beberapa asam amino dan gula rusak, serta timbul senyawa off flavour seperti
asam levulinat, H2S dan beberapa komponen lainnya yang ada pada kecap
fermentasi tidak terbentuk. Di Indonesia pembuatan kecap pada umumnya
dilakukan secara fermentasi.
2.2

Bahan Baku
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh dari

produk jadi. Tanpa bahan baku suatu industri tidak dapat menghasilkan output
produksinya. Masalah yang sering dihadapi produsen adalah ketersediaan bahan
baku, baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Masalah lainnya adalah
penanganan bahan baku yang berasal dari produk pertanian yang bersifat mudah
rusak dalam penyimpanannya.
Menurut Assauri (1999) pengertian bahan baku meliputi semua bahan
yang dipergunakan dalam perusahaan pabrik, kecuali terdapat bahan-bahan yang
secara fisik akan digabungkan dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan
pabrik tersebut. Perusahaan yang memiliki penguasaan atas produksi bahan baku
sendiri lebih menjamin ketersediaan bahan baku dibandingkan bila pengadaan
bahan baku tersebut dilakukan melalui pembelian (Gaspersz, 2002). Menurut
Webster dan Wind dalam Kotler (1997), pembelian merupakan proses
pengambilan keputusan yang digunakan dalam menetapkan kebutuhan akan

barang dan jasa, mengidentifikasikan, menilai, dan memilih berbagai alternatif


merek dan pemasok.
2.3

Persediaan
Persediaan merupakan hal penting bagi suatu perusahaan manufaktur,

dalam menjaga keberlangsungan proses produksi. Karena persediaan dalam hal


ini adalah bahan baku, maka persediaan memiliki persentase terbesar dari modal
kerja.
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian
yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan dan
menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi,
dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan
dan menjamin tersedianya sumberdaya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat dan
pada waktu yang tepat. Istilah persediaan (iventory) adalah istilah umum yang
menunjukan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam
antisipasinya dalam pemenuhan permintaan (Handoko, 1997).
2.3.1 Fungsi dan Peranan Persediaan
Menurut Heizer dan Render (1999), persediaan memiliki beberapa fungsi
untuk dapat menciptakan fleksibilitas pada kegiatan operasi perusahaan.
Efisisensi operasional perusahaan dapat ditingkatkan karena berbagai fungsi
penting persediaan (Handoko, 1997). Fungsi penting persediaan adalah sebagai
berikut :
1. Fungsi Decoupling. Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan
operasi-operasi perusahaan internal dan eksternal memiliki kebebasan.

Persediaan decouples ini memungkinkan perusahaaan dapat memenuhi


permintaan pelanggan tanpa tergantung pada supplier.
2. Fungsi Economic Lot Sizing adalah fungsi yang memungkinkan
perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumberdaya-sumberdaya
dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-biaya per unit. Fungsi Lot
Size ini perlu mempertimbangkan penghematan biaya. Penghematan dari
potongan pembelian, biaya pengangkutan, dan sebagainya. Penghematan
ini timbul karena perusahaan membeli dalam kuantitas yang lebih besar.
3. Fungsi Antisipasi merupakan persediaan untuk mengahadapi permintaan
yang dapat diramalkan dan menjaga kemungkinan kesulitan memperoleh
bahan baku. Fungsi ini untuk menanggulangi ketidakpastian jangka waktu
pengiriman dan penerimaan bahan baku selama periode pemesanan
kembali. Fungsi ini sangat penting untuk menjaga kelancaran proses
produksi
2.3.2

Jenis-Jenis Persediaan Fisik


Setiap jenis persediaan mempunyai karakteristik tersendiri dan cara

pengelolaan yang berbeda. Menurut jenisnya, persediaan fisik dibedakan menjadi


(Handoko, 1977):
1. Persediaan bahan mentah (raw material), yaitu persediaan persediaan
barang-barang

berwujud seperti baja, kayu, dan komponen-komponen

lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat


diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari suplier dan atau dibuat
sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi
selanjutnya.

2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/component),


yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen
yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit
menjadi suatu produk.
3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan
barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi tetapi tidak
merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4. Persediaan barang dalam proses (work in proses), yaitu persediaan
barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses
produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu
diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang
yang telah diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau
dikirim ke pelanggan.
2.3.3

Biaya-Biaya Persediaan
Dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi besarnya

jumlah persediaan, biaya-biaya variabel berikut ini harus dipertimbangkan,


diantaranya (Handoko, 1997):
a. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs)
Merupakan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya
persediaan barang. Biaya ini terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara
langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan
semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak, atau rata-

rata persediaan semakin tinggi. Biaya -biaya yang termasuk sebagai biaya
penyimpanan adalah:
1. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pemanas
atau pendingin)
2. Biaya modal (oportunity cost of capital, yaitu alternatif pendapatan
atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan)
3. Biaya keusangan
4. Biaya penghitungan fisik dan kondisi laporan
5. Biaya asuransi persediaan
6. Biaya pajak persediaan
7. Biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan
b. Biaya Pemesanan (Pembelian)
Merupakan biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan
pemesanan bahan sejak

pemesanan bahan sampai bahan tersedia di gudang.

Setiap kali barang dipesan, perusahaan menanggung biaya pemesanan (ordercosts


atau procurement costs). Biaya-biaya pemesanan secara terperinci meliputi :
1. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi
2. Upah
3. Biaya telepon
4. Pengeluaran surat menyurat
5. Biaya pengepakan dan penimbangan
6. Biaya pemeriksaan penerimaan
7. Biaya pengiriman kegudang
8. Biaya hutang lancar dan sebagainya.

Secara normal biaya per pesanan (di luar biaya bahan dan potongan
kuantitas) tidak naik bila kuantitas pesanan bertambah besar. Apabila semakin
banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per periode
turun, maka biaya pemesanan total akan turun.
c. Biaya penyiapan (manufacturing).
Bila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri dalam pabrik
perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup costs) untuk
memproduksi komponen tertentu.
Biaya- biaya ini terdiri dari :
1. Biaya mesin-mesin menganggur
2. Biaya persiapan tenaga kerja langsung
3. Biaya scheduling
4. Biaya ekspedisi dan sebagainya.
d. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs)
Merupakan biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedia bahan pada
waktu diperlukan, bukan biaya nyata melainkan biaya kehilangan kesempatan.
Biaya ini merupakan biaya yang sulit diperkirakan. Biaya ini timbul bilamana
persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang
termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :
1. Kehilangan penjualan
2. Kehilangan langganan
3. Biaya ekspedisi
4. Selisih harga
5. Biaya pemesanan khusus

6. Terganggunya operasi
7. Tambahan pengeluaran manajerial dan sebagainya.
2.3.4

Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan merupakan kegiatan untuk menentukan tingkat

dan komposisi persediaan komponen rakitan (part), bahan baku dan barang
hasil/produk, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan
penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelajaran perusahaan dengan efektif dan
efisien (Assauri, 1999). Tujuan dari pengendalian dinyatakan sebagai usaha
untuk:
1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat
mengakibatkan terhentinya proses produksi.
2. Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar
atau berlebihan, sehingga

biaya-biaya yang timbul akibat persediaan

bahan baku tidak terlalu besar.


3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari, karena hal
ini akan mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar
2.4 Perencanaan Kebutuhan Bahan (Material Requirement Planning/MRP)
Material

Requirement

Planning

(MRP)

merupakan

suatu

sistem

perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material untuk produksi, yang


memerlukan beberapa tahapan/fase, atau dengan kata lain merupakan suatu
rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke bahan
mentah (komponen), yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang.
Sehingga

dapat

ditentukan

kapan

dan

berapa

banyak

masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat.

pesanan

untuk

Sistem

ini

memainkan

peranan

penting

dalam

menjawab

pertanyaan-pertanyaan tentang bahan-bahan dan komponen-komponen apa yang


harus dibuat atau dibeli, berapa jumlah yang dibutuhkan, dan kapan dibutuhkan.
Menurut Heizer dan Render (1999), untuk mengetahui model persediaan terikat,
maka manajer harus mengetahui :
1. Jadwal produksi master (master production schedule)
Master production schedule (MPS) menjabarkan apa yang harus dibuat dan
penjadwalan yang harus sesuai dengan jadwal produksi. Rencana produksi
diturunkan dari teknik perencanaan agregat (agregat planning techniques).
Rencana agregat ini mencakup perencanaan jenis-jenis input, keuangan,
permintaan pelanggan, kemampuan teknik, ketersediaan tenaga kerja,
fluktuasi persediaan, keragaan pemasok, dan pertimbangan-pertimbangan
lainnya. Dari rencana produksi inilah jadwal dibangun MPS yang memberi
informasi apa yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan dan memenuhi
rencana permintaan.
2. Spesifikasi dari daftar bahan (bill of material)
Spesifikasi dari bahan material merupakan daftar kualitas komponen,
kandungan,

dan

kebutuhan

bahan

untuk

membuat

produk

yang

menggambarkan struktur produk. Bill of materials ini tidak hanya


menjabarkan kebutuhan tetapi juga pertimbangan dalam pembiayaannya dan
dapat memberikan daftar barang-barang yang harus diproduksi atau dirakit.
3. Ketersediaan barang persediaan (inventory avaibilty)
Catatan persediaan ini menjadi landasan untuk memberikan informasi
tentang jumlah persediaan bahan baku.

Catatan ini juga mendukung

penyusunan MRP yang tepat untuk merencanakan jumlah dan waktu


pesanan bahan baku yang tepat agar proses produksi tidak terhambat.
4. Posisi pesanan, pembelian (purchase order outstanding)
Pengetahuan atas perjanjian pesanan pembelian harus dimiliki bagian
pengendalian persediaan. Ketika pemesan terjadi, catatan tentang persediaan
tersebut dan jadwal pengantaran harus tersedia, sehingga manajer dapat
menyiapkan rencana produksi dan melakukan sistem MRP dengan baik.
5. Waktu ancang-ancang (lead time)
Pengetahuan atas waktu ancang-ancang untuk masing-masing komponen
diperlukan dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan
pembelian, produksi, atau perakitan yang sesuai dengan waktu produk
tersebut dibutuhkan.
Langkah selanjutnya adalah membuat rencana kotor kebutuhan bahan
(gross material requirement planning). Langkah ini mengkombinasikan jadwal
produksi master dan jadwal tingkatan waktu (time phased schedule). Rencana
kebutuhan kotor memperkirakan jadwal yang menunjukkan kapan suatu barang
harus dipesan dari pemasok, jika tidak ada persediaan di tangan atau ketika
produksi barang harus dimulai untuk masing-masing produksi, manejemen harus
menyiapkan sebuah jadwal induk produksi.
Menurut Heizer dan Render (1999) metode MRP dalam pengelolaannya
akan

lebih

komplek,

tetapi

dapat

menghasilkan

banyak

keuntungan.

Keuntungannya antara lain dapat mengurangi persediaan dan biaya gabungan


(inventory holding cost) karena biaya itu hanya sebesar materi dan komponen

yang dibutuhkan dan kalau bias tidak ada biaya sama sekali. Kelebihan MRP
lainnya dalam menangani barang-barang, yaitu :
1) Meningkatkan pelayanan dan kepuasan pelanggan
2) Meningkatkan kegiatan, fasilitas, dan tenaga kerja
3) Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik
4) Respon yang cepat terhadap perubahan pasar
5) Mengurangi tingkat persediaan tanpa mengurangi pelayanan terhadap
pelanggan
2.4.1

MRP Teknik Lot for lot


Teknik Lot for lot merupakan teknik penentuan ukuran lot, dengan

memesan kuantitas bahan baku tepat sebesar yang dibutuhkan, tanpa persediaan
pengaman dan tanpa antisipasi atas pesanan lebih lanjut, prosedur semacam ini
konsisten dengan ukuran lot kecil, pesanan berkala, persediaan tepat waktu
rendah, dan permintaan terikat (Buffa dan Sarin,1999).
Teknik ini berusaha menghilangkan biaya penyimpanan atas persediaan
bahan yang disimpan. Tetapi teknik ini tidak dapat mengambil keuntungan
ekonomis yang berhubungan dengan ukuran pesanan tepat, teknik ini juga tidak
dapat digunakan apabila bahan baku yang digunakan jumlahnya sedikit di pasaran
sehingga permintaan tepat pada waktunya tidak dapat dilakukan.
2.4.2

MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ)


Teknik EOQ merupakan teknik persediaan yang tertua dan paling umum

dikenal. Model ini mengidentifikasi kuantitas pemesanan atau pembelian optimal

dengan tujuan meminimalkan biaya persediaan yang terdiri dari biaya pemesanan
dan biaya penyimpanan.
Tujuan dari sebagian model persediaan adalah meminimalkan biaya total.
Dengan asumsi-asumsi yang diberikan, biaya-biaya yang signifikan adalah biaya
pemesanan (set up cost) dan biaya penyimpanan (holding cost/ carrying cost).
Biaya- biaya lain seperti biaya satuan ini sendiri adalah konstan. Sehingga dengan
meminimalkan jumlah pemesanan dan penyimpanan dapat berarti meminimalkan
biaya total. Penjelasan mengenai biaya-biaya tersebut dapat dilihat dalam
Gambar 1.
Pada Gambar 1 menunjukkan hubungan antara biaya penyimpanan
(holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering atau set up cost), dalam
bentuk grafik. Kuantitas pesanan tetap yang meminimumkan biaya tersebut terjadi
pada saat kurva biaya pemesanan dan kurva biaya penyimpanan berpotongan,
yaitu pada saat total biaya pemesanan sama dengan total biaya penyimpanan.
Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama dari biaya
total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan nol (Buffa, 1996; Herjanto,
1999; Rangkuti, 2004).
Biaya Total

Biaya
Total

Biaya Penyimpanan
Biaya Pemesanan

EOQ

Q (kuantitas)

Gambar 1. Biaya Persediaan


Sumber: Rangkuti, 2004

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penentuan kuantitas yang optimal


dengan menggunakan model EOQ dapat dirumuskan sebagai berikut :
Total biaya per tahun (TC) = Biaya Penyimpanan + Biaya Pemesanan
TC =

HQ
2

SD
Q

Dimana:
TC

= Total biaya tahunan

= Biaya penyimpanan (carrying cost) per unit per tahun

= Biaya pemesanan (ordering cost)


Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama

dari biaya total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan 0.


TC min :

dTC
=0
dQ
dTC H SD
=

dQ
2 Q2
0=

H SD

2 Q2

H SD
=
2 Q2
2 SD
Q2 =
H
Sehingga rumus dasar dari EOQ adalah:

EOQ =

2SD
H

Dimana :
D = Penggunaan dan Permintaan yang diperkirakan per periode waktu (kg)
S = Biaya pemesanan per pesanan (Rp)
H = Biaya penyimpanan per unit per tahun (Rp)
Model EOQ dapat diterapkan jika asumsi-asumsi ini dapat dipenuhi
(Handoko,2000) :

1.

Permintaan akan produk adalah konstan, seragam, dan diketahui


(deterministik).

2.

Harga per unit adalah konstan

3.

Biaya penyimpanan per unit per tahun (H) adalah konstan

4.

Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan

5.

Waktu antara pesanan pesanan dilakukan dan barang-barang diterima


(lead time) adalah konstan

6.

Tidak terjadi kekurangan barang atau back order.

Keuntungan penggunaan teknik EOQ adalah pemesanan dilakukan lebih


besar dari kebutuhan bersihnya, sehingga apabila terjadi perubahan kualitas
produksi menjadi lebih besar, maka persediaan bahan baku tersedia. Kekurangan
teknik ini adalah memberikan biaya penyimpanan yang lebih besar dibandingkan
dengan teknik Lot for lot.
2.4.3

MRP Teknik Part Periode Balancing (PPB)

Teknik penyeimbangan bagian periode merupakan pendekatan yang lebih


dinamis, yaitu menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
Menurut Herjanto (1999), metode PPB secara sederhana menambahkan
kebutuhan sampai nilai bagian periode mencapai Economic Part Period (EPP),
yang merupakan rasio antara biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan.
EPP dihitung dengan rumus :
EPP =

Cp
Ch

Keterangan :
EPP : Economic Part Period

Cp : Biaya pemesanan Per pesanan


Ch : Biaya penyimpanan per periode
Prinsip dari teknik ini adalah mencoba menggabungkan suatu periode
dengan periode berikutnya kemudian menghitung kumulatif bersih dari periode
gabungan tersebut serta kumulatif bagian periodenya. Kumulatif bagian periode
diperoleh dengan mengakumulasikan perkalian kebutuhan suatu periode dengan
periode tambahan yang ditanggung. Tabel 7 menunjukkan penentuan ukuran lot
dengan menggunakan PPB.
Bagian periode yang paling mendekati nilai EPP merupakan gabungan
periode yang dipilih (Herjanto, 1999). Besar pesanan adalah sebesar kebutuhan
bersih kumulatif yang dilakukan sebelum kebutuhan tersebut terjadi, dengan
harapan akan diterima tepat pada awal periode gabungan tersebut dan akan
digunakan selama periode gabungan.
Kelemahan teknik

PPB apabila diterapkan perusahaan, yaitu adanya

kemungkinan kerusakan persediaan bahan baku akibat penyimpanan bahan baku


di gudang. Teknik PPB tidak dapat dilakukan apabila nilai EPP-nya lebih kecil
dibandingkan dengan kebutuhan kotornya.
Tabel 7. Penentuan Lot dengan Teknik PPB

Periode yang
digabungkan

Kebutuhan bersih kumulatif

Kumulatif bagian periode

a x (1-1)

1,2

a+b

b X (2-1)

1,2,3

a+b+c

b X (2-1) + c x (3-1)

Sumber: Buffa dan Sarin, 1999

2.4.4

MRP Teknik Period Order Quantity (POQ)

Ukuran lot ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah


periode yang telah ditetapkan sebelumnya, dalam teknik POQ ini. Dengan
demikian jumlah sediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ
dihilangkan. Keunggulan teknik POQ adalah dibandingkan dengan teknik EOQ
adalah dalam mengurangi biaya penyimpanan sediaan kebutuhan tidak uniform
(seragam) karena sediaan yang berlebih dapat dihindarkan. Untuk menghitung
jumlah periode kebutuhannya harus dipenuhi oleh satu lot tunggal, digunakan
perhitungan sebagai berikut :
Jumlah pesanan = EOQ / permintaan rata-rata
2.5

Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Dalam kondisi aktual, perusahaan sering dihadapkan dengan fluktuasi


permintaan. Persediaan penyangga merupakan tindakan penanggulangan yang
logis dalam mengatasi permintaan yang flluktuatif. Ada beberapa pendekatan
dalam menentukan persediaan pengaman :
1) Pendekatan kemungkinan kehabisan bahan baku. Asumsi yang digunakan
adalah waktu tunggu yang terjadi konstan, dan seluruh barang yang
dipesan diserahkan kepada pemasok pada waktu yang sama.
2) Pendekatan tingkat pelayanan. Hal ini ditentukan dan diukur dengan
tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh adanya persediaan pengaman.
Persediaan pengaman merupakan persediaan minimum yaitu batas jumlah
persediaan yang paling rendah yang harus ada untuk suatu jenis bahan baku.
Persediaan minimum ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan
kekurangan bahan baku. Sedangkan persediaan maksimum dimaksudkan untuk

menghindari kerugian, karena kelebihan bahan baku yang akan menimbulkan


pemborosan biaya.
2.6

Titik Pemesanan Kembali

Titik pemesanan kembali merupakan suatu titik atau batas dari jumlah
persediaan yang ada pada suatu saat dimana pesanan harus diadakan kembali.
Titik ini menunjukkan kepada bagian pembelian untuk mengadakan pesanan
kembali bahan-bahan pesanan untuk menggantikan persediaan yang telah
digunakan. Dalam penentuan titik ini harus memperhatikan besarnya penggunaan
bahan baku selama bahan-bahan yang dipesan belum datang dan persediaan
minimum. Besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum
diterima, ditentukan oleh dua faktor yaitu lead time dan tingkat penggunaan ratarata. Jadi besarnya penggunaan bahan baku selama bahan baku dipesan belum
diterima adalah hasil perkalian antara waktu yang dibutuhkan untuk memesan
(lead time) dan jumlah penggunaan rata-rata bahan tersebut (Assauri,1999).
2.7

Hasil Penelitian Terdahulu

Sofyan (2004) menganalisis persediaan bahan baku Roti di PT. Maja Sary
bakery, Majalengka. Bahan baku yang dianalisis yaitu tepung terigu, mentega,
telur, gula pasir, dan ragi. Teknik pengendalian persediaan bahan baku yang
digunakan dalam penelitian adalah teknik MRP. Hasil analisis menunjukkan
bahwa biaya persediaan bahan baku metode perusahaan tidak menghasilkan biaya
yang efisien dibanding empat metode alternatif lainnya (metode MRP teknik Lot
for lot, teknik EOQ teknik POQ, dan teknik PPB). Hasil penghematan dari
analisis yang dilakukan, Metode MRP teknik POQ menghasilkan penghematan

biaya tertinggi untuk pengendalian persediaan bahan baku gula pasir. Untuk
keempat bahan baku lainnya yaitu bahan baku terigu, mentega, ragi, dan kelapa
metode MRP teknik PPB menghasilkan penghematan biaya terbesar. Berdasarkan
analisis perbandingan metode perusahaan dengan metode alternatif lainnya,
metode MRP teknik PPB adalah teknik yang mampu menghasilkan penghematan
biaya persediaan tertinggi untuk kumulatif kelima bahan baku.
Widyastuti (2001) melakukan penelitian dengan judul sistem pengandalian
persediaan bahan baku susu kental manis, studi kasus PT. Indolakto, Sukabumi.
pada penelitiannya menggunakan analisis dengan teknik EOQ, persediaan
pengaman (safety stock), dan titik pemesanan kembali (reorder point). Bahan
baku yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah susu segar, gula, skimmed
milk powder (SMP). Hasil penelitian menyatakan bahwa kebijakan perusahaan
terhadap pengendalian persediaan belum optimal dan perusahaan perlu
mengurangi persediaan pengaman untuk ketiga bahan tersebut.
Okristian (1999) menganalisis persediaan bahan baku dengan teknik ABC
yang mengelompokkan bahan baku berdasarkan urutan nilai pembelanjaan
tahunan. Urutannya adalah tepung terigu cakra, tepung terigu segitiga, shortening,
telur ayam kampung, ragi roti, susu bubuk full cream, dan gula pasir. Alat analisis
yang digunakan dalam penelitiannya adalah metode MRP. Hasil penelitianya
menunjukkan bahwa biaya persediaan bahan baku dengan metode MRP lebih
tinggi dibandingkan dengan metode perusahaan. Walaupun dari aspek biaya
persediaan bahan baku dengan metode MRP lebih tinggi, namun metode ini
lebih tepat digunakan, karena metode yang diterapkan pada perusahaan,
menyebabkan terjadinya kekurangan bahan baku relatif lebih besar yang

menyebabkan timbulnya biaya kekurangan bahan baku berupa biaya pemesanan


mendadak, dan berupa biaya imbangan (opportunity cost).
Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai perencanaan
kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku, dapat disimpulkan bahwa
umumnya model analisis untuk persediaan bahan baku adalah metode MRP.
Metode MRP teknik Lot For Lot cocok digunakan pada perusahaan yang
melakukan pemesanan hanya sejumlah kebutuhan bersih tanpa adanya persediaan.
Metode MRP teknik POQ cocok untuk perusahaan yang memilki kebutuhan
bahan baku yang tiap periodenya tidak seragam.
Tabel 8. Penelitian Terdahulu
No Peneliti
1
Sofyan M

Tahun
2004

Komoditas

Widyastuti

2001

Susu segar,
gula, skimmed
milk powder
(SMP)

Okristian

1999

Tepung terigu
cakra, epung
terigu segitiga,
shortening, telur
ayam kampung,
ragi roti, susu
bubuk full
cream, dan gula
pasir.

Tepung terigu,
mentega, telur,
gula pasir, dan
ragi

Topik
Analisis
Pengendalian
Persediaan Bahan
Baku di Perusahaan
Majasari
bakery
Majalengka
Sistem
Pengandalian
Persediaan Bahan
Baku Susu kental
manis, Studi Kasus
PT.
Indolakto,
Sukabumi.
Analisis
Pengendalian
Persediaan Bahan
Baku
di
PT.
Purnama Bakery,
Jakarta.

Alat Analisis
MRP
(Teknik
LFL,
EOQ,
POQ,PPB)

Teknik
EOQ,
Persediaan
pengaman (safety
stock), dan Titik
pemesanan
kembali (reorder
point).
Metode MRP.

III. KERANGKA PEMIKIRAN


Penelitian ini dilakukan dengan dilatarbelakangi oleh upaya perusahaan
dalam meningkatkan keuntungannya. Dalam upayanya tersebut sering kali
perusahaan terkendala dengan tingginya persediaan bahan baku, ini dikarenakan
biaya pengendalian bahan baku yang dikeluarkan belum efisien. Hal ini dapat
diketahui dari besarnya penyimpanan bahan baku yang dibebankan pada
perusahaan, sebagai konsekuensi dari tingginya tingkat persediaan bahan baku.
Dari permasalahan perusahaan ini dapat dianalisis, yang diawali dengan
mengidentifikasi kebijakan perusahaan dalam pengadaan bahan baku, kemudiaan
dilakukan analisis prosedur pembelian, dan terakhir dengan menganalisis
pengendalian persediaan bahan baku.
3.1

Identifkasi Kebijakan Perusahaan dalam Pengadaan Bahan Baku

Dalam mengidentifikasi kebijakan yang diterapkan perusahaan untuk


pengadaan bahan baku, maka sebelumnya perlu diketahui jenis dan asal bahan
baku, prosedur pembelian, dan proses penanganan bahan baku. Selain itu perlu
juga diketahui sistem pesanan yang dilakukan antara perusahaan dengan pemasok,
fasilitas perusahaan dalam penyimpanan, dan proses pencatatan bahan baku yang
dilakukan. Hal terpenting yang perlu diketahui juga adalah perlu dipelajari sejarah
kekurangan bahan baku yang mungkin pernah dialami oleh perusahaan.
3.2

Analisis Prosedur Pembelian Bahan Baku

Aspek-aspek yang akan dianalisis dalam prosedur pembelian bahan baku


mencakup kebutuhan bahan baku pada tiap periode produksi, waktu tunggu yang
diperlukan dalam setiap pengadaan persediaan bahan baku, biaya-biaya yang

dikeluarkan dalam pengadaan persediaan bahan baku, harga bahan baku, dan
kebijakan bahan baku yang diterapkan perusahaan. Contoh dari kebijakan bahan
baku misalnya stok minimum dan maksimum persediaan bahan baku untuk
persediaan pengaman.
Dalam analisis ini akan banyak digunakan data volume pemakaian bahan
baku, sebab volume pemakaian bahan baku akan menentukan besarnya
permintaan bahan baku, yang merupakan salah satu variabel dalam penentuan
kuantitas optimal. Volume pemakaian bahan baku ini didasarkan pada catatan
historis perusahaan.
Waktu tunggu digunakan dalam menentukan waktu pelaksanaan pesanan
sampai bahan baku diterima perusahaan. Waktu tunggu diperoleh berdasarkan
catatan-catatan historis perusahaan.
Biaya persediaan bahan baku meliputi biaya pemesanan dan biaya
penyimpanan bahan baku utama.

Biaya ini meliputi seluruh biaya yang

menyangkut penyimpanan barang di tempat penyimpanan akhir di perusahaan.


Perhitungan biaya-biaya ini akan menentukan kuantitas pesanan optimal pada
analisis pengendalian persediaan.
Biaya pemesanan adalah biaya yang dikeluarkan yang berkaitan dengan
pengeluaran surat pesanan atau kontrak pembelian, biaya ini tidak tergantung dari
jumlah barang yang dipesan, tetapi tergantung dari jumlah surat pesanan yang
dikeluarkan. Komponen biaya pemesanan ini terdiri dari biaya administrai
penerimaan dan penempatan order, dan biaya penempatan pesanan (biaya telepon,
surat menyurat, faximile), biaya pengangkutan dan bongkar muat (yang
ditanggung perusahaan).

Biaya penyimpanan merupakan biaya yang timbul karena adanya bahan


baku yang disimpan perusahaan. Biaya penyimpanan meliputi biaya gudang,
biaya upah dan gaji pengawas, biaya peralatan penanganan bahan baku di gudang
(listrik, air, dan lain-lain), dan bunga atas modal yang ditanamkan ke dalam
investasi tersebut sebagai komponen opportunity cost. Dalam keadaan aktual di
lapangan biaya-biaya ini didasarkan pada catatan-catatan historis perusahaan atas
biaya tersebut.
Harga dari bahan baku sangat diperlukan dalam menentukan besarnya
beban bunga atas modal (opportunity cost) dalam penentuan biaya penyimpanan.
Harga bahan baku ini merupakan harga rata-rata pembelian bahan baku oleh
perusahaan selama periode pencatatan. Selain itu pengetahuan atas besarnya suku
bunga bank sangat diperlukan dalam menentukan bunga atas modal ini. Suku
bunga yang dipakai adalah suku bunga rata-rata tabungan deposito pada bank
umum (komersial).
3.3

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Langkah selanjutnya setelah dilakukan analisis prosedur pembelian bahan


baku, maka perlu dicari tingkat persediaan bahan baku yang optimal, baik dari
segi tingkat pesanan ataupun kuantitas pembeliannya dengan menggunakan
metode Material Requirement Planning (MRP). Metode MRP yang digunakan
sebagai perbandingan dengan metode yang digunakan perusahaan adalah metode
MRP teknik Lot for Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ), Period Order
Quantity (POQ). Komponen yang dibandingkan dalam analisis model
pengendalian persediaan bahan baku tersebut meliputi : frekuensi pemesanan,
biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya total persediaan, dan biaya

pembelian total bahan baku. Hasil yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut
kemudian akan dibandingkan dengan metode pengendalian yang dijalankan
perusahaan, untuk mengetahui besarnya penghematan biaya yang dihasilkan
masing-masing teknik. Dari analisis ini akan menentukan kebijakan bahan baku
yang optimal sehingga perusahaan dapat merumuskan suatu strategi alternatif
dalam pengendalian persediaan bahan bakunya. Kerangka penelitian operasional
peneltian dapat dilihat pada Gambar 2.

Visi Perusahaan:
Meningkatkan
Keuntungan Perusahaan

Masalah Perusahaan:
Biaya pengendalian persediaan bahan baku
belum efisien.

Identifikasi kebijakan Perusahaan dalam Pengadaan Bahan Baku

Volume
Pemakaian Bahan
Baku

Biaya Persediaan
Bahan Baku

Harga Bahan
Baku

Waktu
Tunggu
Bahan Baku

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Kondisi Aktual
Perusahaan

Metode MRP teknik LFL


Metode MRP teknik EOQ
Metode MRP teknik POQ

Analisis Perbandingan dan Penghematan Antar Metode Pengendalian Persediaan

Tingkat Persediaan dan Kebijakan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Optimal

Rekomendasi model Alternnatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional

IV.
4.1

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Kecap Segitiga, Jalan Raya


Tonjong No 54. Kabupaten Majalengka. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara
sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di Kabupaten Majalengka
terdapat banyak industri kecap dimana dengan banyaknya industri tersebut
menyebabkan persaingan dalam mendapatkan bahan baku. Adapun waktu
pengambilan data ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan
Maret 2008.
4.2

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kualitatif
dan kuantitatif yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh secara langsung dari Perusahaan Kecap Segitiga, yang terdiri
atas: gambaran umum perusahaan, data produksi dan penjualan produk kecap,
kebijakan pengadaan dan penanganan bahan baku di perusahaan yang mencakup
jenis bahan baku yang digunakan, jumlah kebutuhan bahan baku, waktu tunggu
(lead time) pembelian bahan baku, pemasok, sistem pemesanan dan
penyimpanannya.
Data primer dikumpulkan melalui hasil pengamatan, pencatatan langsung
di lapang dan wawancara dengan pihak perusahaan. Wawancara langsung
dilakukan kepada karyawan, manajer produksi, dan pihak perusahaan yang
berkaitan. Pemilihan responden ini dilakukan dengan sengaja (porposive) dengan
pertimbangan bahwa responden mengetahui dan dapat memberikan informasi

mengenai kondisi perusahaan dengan baik, khususnya mengenai kebijakan


pengendalian persediaan bahan baku dan pelaksanaan pengendalian persediaan
bahan baku di perusahaan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari (bahan
pustaka) buku, hasil laporan penelitian terkait, catatan-catatan yang dimiliki
perusahaan, literatur perusahaan dan instansi terkait serta internet.
4.3

Metode Analisis Data

Hasil perolehan data kuantitatif diolah dengan menggunakan program


Microsoft Excel. Output data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel dan
diuraikan secara narasi. Sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk
deskriptif dengan gambar dan tabel agar mudah dipahami.
4.3.1

Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan

Perhitungan-pehitungan yang dilakukan dalam

menentukan kuantitas

optimal pesanan pada analisis pengendalian persediaan merupakan perhitungan


yang melibatkan berbagai jenis biaya yang terkandung dalam persediaan. Oleh
sebab itu dalam perhitungannya perlu ditentukan terlebih dahulu komponenkomponen biaya-biaya persediaan yang terjadi. Biaya-biaya ini meliputi biaya
pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku. Biaya pemesanan merupakan
semua biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan dan
penerimaan bahan baku. Biaya ini meliputi biaya administrasi penempatan dan
penerimaan order, biaya penempatan pesanan (biaya telepon, faximile, surat
menyurat). Biaya pemesanan setahun diperoleh dengan cara :
Tc =f x C

Dimana : Tc = Biaya pemesanan setahun


f = Frekuensi pemesanan selama setahun
C = Biaya pemesanan per pesanan
Biaya penyimpanan adalah biaya-biaya yang diperlukan berkenaan
dengan diadakannya persediaan. Biaya ini berhubungan dengan jumlah persediaan
yang ada di gudang. Termasuk didalamnya biaya gudang, upah dan gaji pegawai
gudang, biaya administrasi gudang, dan bunga atas modal yang ditanamkan ke
dalam investasi.
Biaya penyimpanan dihitung dengan cara:
TH = tHi
tHi = Qi x h
Maka : TH = { Qi x h}
Dimana : TH = biaya penyimpanan setahun (Rp/kg)
tHi = biaya penyimpanan harian (Rp/kg)
h = biaya penyimpanan perunit per hari (Rp/kg)
Qi = tingkat persediaan ditangan harian (kg)
4.3.2

Penyesuaian dan Penentuan Volume Pemakaian Bahan Baku

Jumlah pemakaian bahan baku akan banyak digunakan dalam analisis ini.
Hal ini dikarenakan jumlah pemakaian bahan baku menunjukkan jumlah
permintaan akan bahan baku.

4.3.3

Penyesuaian dan Penentuan Waktu Tunggu Pengendalian Persediaan

Waktu tunggu berguna dalam menentukan waktu pelaksanaan pesanan,


sehingga pesanan dapat diterima pada saat tepat waktu tunggu bahan baku utama
didasarkan atas catatan-catatan historis perusahaan.
4.3.4

Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Dalam penelitian ini akan dilakukan perbandingan atas beberapa model


tersebut sehingga akan didapat alternatif pilihan model yang tepat bagi
perusahaan. Tujuan dari analisis kuantitatif ini adalah untuk menentukan waktu
pesanan yang tepat dan kuantitas pesanan yang optimal. Dengan demikian
diharapkan tingkat persediaan di tangan menjadi lebih optimal dan biaya
persediaan bahan baku dapat ditekan. Model yang digunakan dalam penelitian ini
digunakan untuk menganalisis pengendalian persediaan bahan baku adalah model
perencanaan kebutuhan bahan (Material Requirement Planning system = MRP).
MRP adalah sistem perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material
untuk produksi yang memerlukan beberapa tahapan proses atau dengan kata lain
adalah suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke
bahan mentah yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang. Masalah
yang dihadapi perusahaan adalah inefisiensi dalam menentukan ukuran lot yang
akan dipesan. Metode MRP akan membantu perusahaan dalam menentukan waktu
pemesanan dan ukuran lot yang akan dipesan, sekaligus dapat memberikan model
yang dapat menurunkan biaya persediaan minimum bagi perusahaan. Format
perhitungan dengan sistem MRP adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Format Rencana MRP

Uraian
1

Periode
5 6

10

Kebutuhan kotor (kg)


Sediaan di tangan (kg)
Penerimaan terjadwal (kg)
Kebutuhan bersih (kg)
Pesanan yang direncanakan (kg)
Sumber : Elwood, 1996

Langkah-langkah pengisian tabel MRP (Tabel 9) yaitu sebagai berikut:


6) Menentukan kebutuhan kotor
Kebutuhan kotor adalah rencana pemakaian bahan baku yang telah
ditentukan sebelumnya pada saat penjadwalan produksi.
7) Menghitung persediaan di tangan
Persediaan di tangan adalah persediaan awal yang ada di tangan pada
suatu periode. Apabila tidak terdapat kebutuhan bersih dan tidak terdapat
rencana penerimaan pada periode sebelumnya, maka besarnya proyeksi
persediaan di tangan periode sebelumnya dikurangi kebutuhan kotor
periode sebelumnya. Apabila terdapat penerimaan terjadwal pada periode
sebelumnya, tetapi tidak terdapat kebutuhan bersih dan rencana
penerimaan terjadwal pesanan pada periode sebelumnya, maka proyeksi
persediaan di tangan untuk suatu periode adalah sebesar penerimaan
terjadwal periode sebelumnya dikurangi kebutuhan kotor periode
sebelumnya. Apabila terdapat kebutuhan bersih dan penerimaan pesanan
pada periode sebelumnya, maka proyeksi persediaan di tangan untuk suatu
periode adalah sebesar rencana penerimaan pesanan periode sebelumnya
dikurangi dengan kebutuhan bersih periode sebelumnya.

3) Kebutuhan bersih
Kebutuhan bersih adalah kebutuhan bahan baku yang tidak dapat dipenuhi
oleh persediaan perusahaan. Apabila jumlah penerimaan terjadwal dan
proyeksi persediaan ditangan untuk suatu periode lebih besar dari
kebutuhan kotor periode tersebut, maka tidak terdapat kebutuhan bersih
untuk periode tersebut. Apabila jumlah penerimaan terjadwal dan proyeksi
persediaan di tangan untuk suatu periode lebih kecil daripada kebutuhan
kotor periode tersebut, maka kebutuhan bersih untuk periode tersebut
adalah kebutuhan kotor dikurangi dengan jumlah penerimaan terjadwal
dan proyeksi persediaan periode tersebut.
4) Rencana penerimaan pesanan
Rencana penerimaan pesanan adalah besar pesanan yang direncanakan
akan diterima untuk suatu periode. Besar rencana penerimaan pesanan
ditentukan berdasarkan teknik penentuan ukuran lot (lot sizing technique)
yang digunakan.
5) Rencana pelaksanaan pesanan
Rencana pelaksanaan pesanan adalah besar pesanan yang direncanakan
akan dipesan pada suatu periode dengan harapan akan diterima oleh
perusahaan pada saat yang tepat. Rencana pesanan sama dengan rencana
penerimaan pesanan, hanya saja periode pelaksanaannya adalah lebih
besar waktu tunggu (lead time) pesanan.

Ukuran lot adalah jumlah kuantitas yang akan dipesan untuk memenuhi
kebutuhan bahan baku perusahaan dengan kuantitas yang minimum. Beberapa
teknik yang dapat digunakan dalam menentukan ukuran lot pada sistem MRP,
diantaranya Lot for lot, Teknik EOQ, teknik POQ.
Berikut ini beberapa teknik yang digunakan dalam penentuan lot (lot
sizing technique), yaitu:
a. Teknik Lot for lot (LFL)
Hal yang pertama kali dilakukan dalam metode MRP teknik Lot For Lot
adalah menentukan kebutuhan kotor, apabila pada awal periode pengamatan
terdapat persediaan yang cukup besar, maka perusahaan akan menghabiskan
persediaan awal tersebut terlebih dahulu, sehingga tidak perlu dilakukan
pemesanan bahan baku sampai diperkirakan persediaan awal tersebut hanya
cukup memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan selama waktu tunggu dan
tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan selanjutnya.
Pada saat persediaan bahan baku suatu periode tidak lagi dapat memenuhi
kebutuhan kotor, maka dilakukan perencanaan penerimaan pesanan tepat sebesar
kebutuhan bersih, sehingga proyeksi persediaan di tangan dapat ditekan sampai
sebesar nol. Besar dan waktu pemakaian bahan baku dalam menjalankan teknik
ini perlu diketahui secara akurat, serta didasarkan pada jadwal produksi master
dan waktu tunggu bahan baku.
b. Teknik Economic Order Quantity (EOQ)
Teknik EOQ yang sering digunakan dalam persediaan barang-barang
bebas, dapat juga digunakan dalam teknik penentuan ukuran lot sistem MRP.
Setelah diperoleh nilai kuantitas pesanan optimal dengan teknik EOQ, maka

dilakukan metode MRP seperti yang dilakukan dengan teknik Lot for lot, besar
pesanan adalah sebesar kelipatan EOQ yang lebih besar dan terdekat dengan
kebutuhan bersih. Biaya-biaya yang signifikan dalam penentuan optimal dengan
teknik EOQ adalah biaya pemesanan (ordering) dan biaya penyimpanan (holding
atau carrying), sehingga dengan meminimalkan kuantitas pesanan dan
penyimpanan dapat berarti meminimalkan biaya total.
Apabila terdapat persediaan awal yang cukup besar, maka perusahaan
tidak perlu melakukan rencana permintaan bahan baku sampai persediaan tersebut
tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan. Pesanan yang
direncanakan akan diterima pada saat dan jumlah dan jumlah yang mencukupi dan
mendekati kebutuhan bersih sesuai dengan kelipatan EOQ yang telah dihitung
sebelumnya.
c. Teknik Period Order Quantity (POQ)
Dalam teknik POQ ukuran lot ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual
dalam jumlah periode yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dengan demikian

jumlah persediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ dihilangkan.


Keunggulan kebijakan POQ dibandingkan kebijakan EOQ adalah dalam
mengurangi biaya penyimpanan sediaan bila kebutuhan tidak uniform (seragam)
karena sediaan yang berlebih dapat dihindarkan untuk menghitung jumlah periode
kebutuhannya harus dipenuhi oleh satu lot tunggal, digunakan perhitungan
sebagai berikut :
Jumlah pesanan = EOQ / permintaan rata-rata

e. Metode Perusahaan
Metode ini disesuaikan dengan kondisi yang dijalankan perusahaan. Biaya
persediaan dihitung berdasarkan biaya aktual yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Biaya tersebut meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku.
4.3.5 Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan

Dari hasil analisis biaya persediaan bahan baku untuk setiap model yang
digunakan, akan dibandingkan besarnya pesanan, banyaknya pesanan, dan biaya
persediaan yang timbul. Selain melakukan perbandingan antar teknik juga
dilakukan perbandingan antar teknik-teknik tersebut dengan sistem pengendalian
persediaan yang selama ini dilakukan perusahaan, kemudian dilakukan
perhitungan penghematan biaya bahan baku. Dari hasil analisis perbandingan dan
perhitungan penghematan tersebut dapat dilakukan pemilihan alternatif sistem
pengendalian yang tepat bagi perusahaan. Metode yang menghasilkan persentase
penghematan terbesar dengan biaya persediaan yang paling minimum akan
direkomendasikan untuk digunakan perusahaan sebagai alat metode pengendalian
persediaan bahan bakunya.
4.4

Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Berdasarkan


Data Historis

Berdasarkan analisis perbandingan biaya dan penghematan akan dipilih


suatu model alternatif yang memberikan tingkat biaya persediaan yang paling
rendah dan tepat bagi perusahaan. Model alternatif ini tentunya harus disesuaikan
dengan kondisi perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang ada dalam perusahaan
mengenai pengendalian persediaan bahan baku.

4.5 Definisi Operasional

1.

Waktu tunggu (lead time) adalah selang antara pemesanan bahan baku
dengan saat datang dan diterimanya bahan baku di gudang persediaan.
Waktu tunggu ini diukur dalam satuan hari, minggu atau bulan, tergantung
dari sifat dan kebutuhan bahan yang diperlukan perusahaan. Untuk bahan
baku SMP dan gula dihitung dalam satuan bulan.

2.

Frekuensi pembelian adalah banyaknya (kali) pembelian yang dilakukan


perusahaan selama satu tahun produksi.

3.

Biaya pemesanan bahan baku yaitu biaya yang dikeluarkan setiap kali
melakukan pemesanan dan penerimaan pesanan. Biaya pemesanan diukur
dalam rupiah per pesanan (Rp/pesanan). Besarnya biaya yang dikeluarkan
tidak tergantung pada besarnya atau banyaknya barang yang dipesan.

4.

Biaya penyimpanan bahan baku yaitu semua biaya yang dikeluarkan


perusahaan selama satu tahun produksi karena penyimpanan persediaan
bahan baku. Biaya penyimpanan bahan baku diukur dalam satuan rupiah
per kilogram per tahun (Rp/kg/th).

V.
5.1.

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah Perkembangan Perusahaan

Perusahaan Kecap Segitiga merupakan perusahaan perseorangan yang


bergerak di bidang usaha industri kecap. Perusahaan ini mulai dirintis sejak tahun
1958 oleh Bapak H. Lukman. Pada awal beroperasinya perusahaan hanya
menggunakan peralatan-peralatan sederhana atau hanya diproduksi dalam skala
rumah tangga.

Pemberian Lambang atau nama SEGITIGA ini diilhami karena

pada awal pendirian perusahaan ini terdapat kesepakatan diantara tiga orang
bersaudara, yaitu Bapak H. Lukman sebagai penanam modal, Bapak Endek
sebagai tanaga ahli dalam bagian produksi kecap, dan Bapak Aman sebagai
tenaga ahli dalam bidang pemasaran produk.
Pada awal produksinya, sarana dan peralatan yang digunakan adalah
sebuah dapur pemasakan yang kecil, dan cara penjualannya dilakukan dengan
cara berjalan kaki serta memakai sepeda. Produk ditawarkan dari rumah ke
rumah atau dari toko ke toko yang terletak di sekitar lokasi perusahaan. Pada saat
itu produk yang dijual hanya kecap rasa asin dan manis sedang yang dikemas
dalam botol kecil yang berukuran 250 ml.
Mulai tahun 1964, proses legalitas perusahaanpun dilakukan, yaitu dengan
melakukan pendaftaran perusahaan, sesuai SK Menteri Perindustrian dan
Perdagangan tanggal 28 Juli tahun 1964 No. 207/SK/VII/64. Pada tahun 1978
perusahaan memperoleh Surat Izin Usaha (SIU) No. 503. U/Perek/I-TU/SK/1978
dari Pemerintah Tingkat II Kabupaten Majalengka.
Berbekal semangat dan kerja keras pengelola perusahaan, perusahaan ini
mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Mulai tahun 1980 kelengkapan

administrasi perizinan dilengkapi oleh perusahaan, yaitu dengan diterbitkannya


Surat

Tanda

Pendaftaran

Industri

Kecil

No.50/Kandep.1.207/I/VII/1980.

berdasarkan SK Menteri Perindustrian No. 157/M/SK/4/1980. Pada tahun 1987


ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Surat Standar Industri Indonesia (SII)
No. 0032-74.1089/M/9/1987. Kelengkapan perizinan usaha yang terakhir
dilakukan adalah dengan diterimanya surat izin yang diperbaharui dan berlaku
selama perusahaan itu berdiri yaitu SIUP Nomor : 517/0025/PK-P/KPP/XI/2001;
Tanda Daftar Perusahaan
Nomor:

Nomor : 102351500113; Tanda Daftar Industri

530/047/TDI/KOPERINDAG/IX/2002;

Surat

Ijin

Gangguan

Nomor: 536/61.SK.KPP/VIII/IG/02; Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah


Tangga Nomor : P-IRT NO.115321007012; Sertifikat Penggunaan Tanda SNI
Nomor : 0729/Bd/SNI/IV/1995.
Mutu dan kualitas produk juga sangat diperhatikan oleh perusahaan,
langkah yang ditempuh dalam menjaga kualitas mutu dari aspek higienis
produknya adalah dengan mengikuti penyuluhan dari Departemen Kesehatan, dan
diperoleh Sertifikat Penyuluhan (SP) No. SP 005/10.15/1988 berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 02192/B/SK/IX/1986. Pada tahun 2002
perusahaan telah mengantongi sertifikat halal dari LPPOM MUI Jawa Barat
No. MUI-JB 100250.
5.2

Lokasi Perusahaan

Penentuan Lokasi Perusahaan Kecap Segitiga dipengaruhi oleh beberapa


faktor, diantaranya ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, sarana dan prasarana
transportasi, serta daerah pemasaran. Perusahaan Kecap Segitiga berlokasi di
Jalan Raya Tonjong No. 54. Kecamatan Cigasong,

Kabupaten Majalengka,

Propinsi Jawa Barat. Lokasi ini sangat strategis karena terletak di tepi jalan raya,
dekat dengan lintasan yang menghubungkan lintasan jalan utama Kabupaten
Majalengka dengan Kabupaten Cirebon. Sehingga mendukung bagi kelancaran
sarana transportasi bahan baku dan pemasaran produk. Letak yang strategis ini
juga memudahkan penyerapan tenaga kerja. Hal ini memberikan keuntungan
tersendiri bagi perusahaan, karena konsumen dapat langsung mendatangi
perusahaan karena lokasi yang mudah dijangkau.
5.3

Aspek Pemasaran

Pada saat ini Perusahaan Kecap SEGI TIGA tengah mempersiapkan diri
untuk merubah sifat produksi dari MTO (Make To Order) menjadi MTS (Make To
Stock). Pada dasarnya hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang
semakin meningkat dari lokal menjadi antar daerah dalam satu propinsi yang pada
akhirnya direncanakan pula untuk tingkat pasar nasional atau internasional.
Daerah pemasaran Perusahaan

Kecap Segitiga meliputi daerah : Kabupaten

Majalengka; Kabupaten Subang; Kabupaten Indramayu; Kabupaten Sumedang;


Kabupaten Kuningan; Bandung; Tangerang; Bekasi. Perusahaan juga menjalin
kerjasama dengan beberapa mitra yaitu : Pesantren Al-Zaitun; PT. CNA (Ummul
Quro) Bandung dan PT. MQ Bandung untuk memasarkan produk dengan sistem
multi level yang dipasarkan secara nasional.
Sasaran pasar untuk tahap awal ini pihak perusahaan lebih menekankan
masyarakat konsumen tingkat menengah ke bawah. Selanjutnya tidak menutup
kemungkinan pemasaran dan jaringan pasar perusahaan akan dikembangkan
secara bertahap untuk memenuhi tingkat konsumen lain seperti diantaranya

mensuplai ke atau untuk super market, hotel, tempat wisata, Restoran asing / fast
food.
5.4

Aspek Teknis/Produksi

5.4.1

Proses produksi

Perusahaan Kecap Segitiga memproduksi tiga jenis produk kecap, yaitu


kecap manis, kecap asin, dan kecap manis sedang. Ketiga jenis kecap tersebut
dikemas dalam beberapa ukuran dan

merek yang berbeda. Produksi kecap

perusahaan Kecap Segitiga dari tahun ketahun mengalami peningkatan, seiring


dengan tingkat penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun.
Proses produksi kecap pada Perusahaan Kecap Segitiga terdiri dari tiga
tahap, yaitu tahap persiapan bahan baku, tahapan kedua adalah proses produksi
dan tahapan terakhir adalah tahap pengemasan. Berikut ini akan dijelaskan ketiga
tahapan proses produksi tersebut. Proses persiapan bahan baku dimulai dari bahan
baku yang berupa kacang kedelai hitam, segera dikeluarkan dari gudang. Kedelai
terlebih dahulu diperiksa apakah ada kerusakan dalam proses penyimpanan.
Setelah bahan baku kedelai siap maka dilakukan proses produksi.
Proses produksi atau proses pembuatan kecap pada Perusahaan Kecap
Segitiga, melalui tahap-tahap sebagai berikut, yaitu proses pengolahan kecap yang
pertama, adalah tahap pencucian kedelai. Kedelai yang telah memenuhi syarat
diolah

selanjutnya

dicuci

dengan

menggunakan

air

bersih.

Pencucian

dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada


kedelai, seperti tanah, dan pasir. Kemudian dilakukan pengadukan agar kotoran
yang menempel dapat terlepas dari kedelai. Setelah selesai proses pencucian,

kedelai kemudian ditiriskan dengan tujuan untuk mengurangi kandungan air sisa
pencucian dengan menggunakan bakul.
Selanjutnya dilakukan perebusan kedelai, perebusan dilakukan selama tiga
jam, sampai keempukan kedelai mencapai tingkat yang diinginkan. Perebusan ini
untuk menyiapkan kedelai sebagai media pertumbuhan jamur yang baik. Proses
perebusan dilakukan dilakukan di atas tungku pembakaran.
Kacang kedelai yang telah ditiriskan dari hasil perebusan selama 15 menit.
selanjutnya dilakukan penjemuran dalam wadah (tampah) dengan ketebalan 2 cm,
dibawah terik sinar matahari selama 2 hari, tergantung intesintas cahaya matahari
sampai tingkat kadar air tertentu (setengah kering).
Kedelai yang telah kering, kemudian ditebar di atas tampah-tampah
dengan ketebalan dua sampai tiga cm dan disimpan dalam rak-rak penyimpanan
di ruang fermentasi selama dua hari dua malam, sampai tumbuh jamur. Kemudian
tumpukan kedelai dibalik supaya pertumbuhan jamur merata, dan didiamkan lagi
selama tiga hari tiga malam. Untuk mempercepat fermentasi kedelai dilakukan
penutupan tampah agar suhu menjadi hangat dan stabil.
Setelah proses fermentasi

kedelai sempurna, kemudian dilakukan

penjemuran kedua untuk menghentikan proses fermentasi. Penjemuran dilakukan


kurang lebih satu hari, dengan sesekali dilakukan pengadukan dan penggosokan,
untuk membersihkan kedelai dari jamur-jamur yang menempel.
Tahap pengolahan berikutnya adalah perendaman dalam larutan garam.
Pembuatan larutan garam yaitu dengan mencampurkan air bersih dengan garam
lalu direbus sampai mendidih. Larutan garam yang digunakan adalah hasil
pelarutan 37 kg garam dalam 140 liter air, dan dapat digunakan untuk merendam

100 kg kedelai. Proses perendaman (pembelengan) adalah proses pencampuran


larutan garam dengan kedelai hasil dari fermentasi. Perendaman dilakukan dalam
tong tong kayu selama 15 hari. Makin lama proses perendaman semakin baik
kecap yang dihasilkan, karena pada proses ini bertujuan agar sari-sari makanan
pada kedelai terserap dalam larutan. Pengadukan dilakukan seminggu sekali,
dengan menggunakan pengaduk, agar proses perendaman merata. Pengaturan
suhu dilakukan dengan cara membuka tutup tong pada siang hari, dan ditutup
pada malam hari. Proses perendaman ini juga bertujuan agar mikroorganisme
yang hanya bertahan dalam larutan garam saja yang dapat tumbuh, sehingga
mikroorganisme yang merugikan dapat dihilangkan.
Setelah proses perendaman selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan,
maka kedelai yang ada dalam tong-tong kayu kemudian diangkat, sehingga yang
tertinggal adalah air rendaman saja (wedang). Penyaringan dilakukan selama 15
menit dengan menggunakan saringan ayakan.
Kedelai hasil perendaman masih harus direbus kembali dengan air tawar
biasa sampai mendidih, agar sari-sari kedelai dapat terserap sempurna ke dalam
air rebusan. Perebusan ini dilakukan selama 2 jam, dengan menggunakan kancah
di atas tungku pembakaran. Setelah perebusan selesai, kedelai dipisahkan dari air
rebusannya dengan cara disaring memakai kain halus, hasilnya dinamakan ampas
kecap. Sedangkan air rebusan dicampurkan dengan air dari hasil rendaman.
Campuran air rebusan dan air rendaman kemudian dimasak selama empat
jam hingga mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan. Pada proses ini
dilakukan pencampuran dengan gula aren dan gula kelapa, yang terlebih dahulu

telah melalui proses pemasakan, guna memisahkan kotoran yang terdapat pada
gula, yaitu dengan penyaringan larutan gula.
Kecap yang telah dimasak kemudian disaring dengan menggunakan kain
halus. Tujuan dari penyaringan ini adalah untuk memisahkan kecap dari
gumpalan-gumpalan yang terbentuk pada saat pemasakan. Penyaringan ini
berlangsung selama 30 menit.
Kecap kemudian dimasukan ke dalam tong-tong kayu yang telah
disiapkan. Untuk dilakukan proses pendinginan. Proses pendiaman kecap ini
dilakukan selam 2-3 hari, agar kecap benar-benar dingin sebelum dimasukan
kedalam botol.
Tahapan terakhir adalah pengemasan atau pembotolan. Kecap yang telah
melalui proses pendinginan kemudian dimasukan ke dalam botol dengan berbagai
ukuran, kemudian ditutup serta diberi segel. Kecap yang telah selesai dikemas
dimasukan dalam kemasan peti dan kardus. Satu peti berisi 30 botol kecap. Petipeti kecap disimpan di gudang dan siap untuk dipasarkan.
Apabila dilihat dari proses produksi yang dilakukan oleh Perusahaan
Kecap Segitiga, maka dapat dikategorikan ke dalam pembuatan kecap dengan
teknologi tradisional. Hampir semua kegiatan dilakukan secara manual dengan
menggunakan tangan. Perusahaan berpendapat bahwa teknologi yang dipakai saat
ini akan tetap dipertahankan, karena hal itu telah menjadi ciri tersendiri
Perusahaan Kecap Segitiga. Alasan pemilihan penggunaan teknologi tradisional
dikarenakan, Perusahaan Kecap Segitiga telah memiliki pasar tersendiri, yaitu
melayani konsumen yang mengkonsumsi kecap yang diolah secara tradisional.

5.5

Aspek Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor yang harus dimilki


perusahaan. Sumberdaya di sini adalah tenaga kerja yang digunakan perusahaan
dalam melaksanakan usahanya. Tenaga kerja yang ada pada Perusahaan Kecap
Segitiga terdiri dari dua macam tenaga kerja produksi dan tenaga kerja non
produksi. Tenaga kerja produksi adalah tenaga kerja yang melakukan proses
produksi kecap, sedangkan tenaga kerja non produksi adalah tenaga kerja yang
menangani masalah administari, pemasaran dan keuangan.
Tenaga kerja pada Perusahaan Kecap Segitiga merupakan tenaga kerja
yang berasal dari lingkungan sekitar perusahaan, sehingga dapat mengurangi
pengangguran di daerah sekitar perusahaan. Saat ini tenaga kerja pada Perusahaan
Kecap Segitiga berjumlah 40 orang yang dibagi dalam tiga divisi, yaitu divisi
produksi terdiri dari 9 orang lulusan SD, 14 orang lulusan SMP dan 7 orang
lulusan SMA. Divisi pemasaran terdiri dari 3 orang lulusan SMP, 3 orang lulusan
SMA, 1 orang lulusan D3, dan 2 orang lulusan S1. Untuk divisi keuangan dan
SDM terdiri dari 1 orang lulusan S1.
Menurut pernyataan manajer jumlah tenaga kerja pada Perusahaan Kecap
Segitiga bersifat fleksibel artinya dapat berubah sewaktu-waktu khususnya untuk
bagian produksi. Hal ini dikarenakan permintaan konsumen yang fluktuatif.
Apabila terjadi kenaikan permintaan, perusahaan akan menambah tenaga kerja
bagian produksi sebagai tenaga kerja kontrak.
5.6

Fasilitas Pabrik dan Kantor

Perusahaan Kecap Segitiga mempunyai areal seluas 2086 m2 dengan luas


bangunan 1275 m2. Area perusahaan terbagi dua, karena terpisah oleh jalan raya.

Sarana yang dimiliki perusahaan terdiri dari bangunan pabrik dan kantor.
Bangunan pabrik terdiri dari beberapa bagian, yang diperuntukkan untuk proses
produksi kecap. Bangunan pabrik terdiri dari gudang penyimpanan bahan baku,
area produksi, ruang fermentasi, tempat penjemuran, mushola, toilet. Untuk
tempat penjemuran kedelai dan botol kemasan dilakukan di tempat terbuka, yaitu
di area pekarangan pabrik yang cukup luas.
Bangunan kantor terdiri dari ruangan pimpinan perusahaan, ruang staf
administrasi dan keuangan, ruang tamu serta tempat penjualan secara langsung.
Peralatan kantor perusahaan telah cukup lengkap, mulai alat tulis, komputer,
telepon dan lemari-lemari tempat penyimpanan berkas. Untuk menunjang
kelancaran transportasi kecap ke tempat pemasaran, perusahaan mempunyai tiga
unit kendaraan mobil box, dan satu unit kendaraan mobil operasional.

VI. SISTEM PENANGANAN DAN PENGADAAN BAHAN


BAKU PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA

6.1

Jenis dan Asal Bahan Baku

Perusahaan Kecap Segitiga dalam memproduksi kecapnya memerlukan


berbagai bahan baku dalam proses pembuatannya. Bahan baku tersebut meliputi
kacang kedelai hitam, gula kelapa dan gula aren, garam, serta beberapa bahan
pembantu yang diperlukan dalam jumlah yang sangat kecil. Ketersediaan bahan
baku dalam jumlah dan waktu yang tepat akan mempengaruhi produktifitas
perusahaan dalam memproduksi kecap. Bahan baku tersebut diperoleh perusahaan
dengan membeli melalui supplier yang telah menjadi mitra perusahaan dalam
pengadaan bahan bakunya, dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan
perusahaan.
Berdasarkan wawancara dengan bagian produksi, diperoleh keterangan
mengenai bahan baku kecap Segitiga. Gula aren merupakan bahan baku utama
yang berkontribusi paling besar terhadap keseluruhan proses pembuatan kecap
yaitu sebesar 35 persen. Secara berurutan, bahan baku yang digunakan dalam
membuat kecap adalah gula kelapa kedelai hitam, garam . Secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Komponen Bahan-Bahan Pembentuk Kecap pada Perusahaan
Kecap Segitiga
Jenis Bahan Baku

Kacang Kedelai Hitam


Gula Aren
Gula kelapa
Garam
Lain-lain
Sumber : Perusahaan Kecap Segitiga, 2008

Persentase (%)

23
35
30
10
2

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak perusahaan, diperoleh


keterangan bahan baku yang vital bagi perusahaan dalam memproduksi kecap
yaitu kacang kedelai hitam, gula aren, gula kelapa, garam. Tingkat kepentingan
bahan baku ini didasarkan pada tingkat pemakaian bahan baku tersebut dalam
proses produksi, dimana keempat bahan baku tersebut memiliki kontribusi yang
besar terhadap biaya pengadaan bahan baku yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan. Bahan baku kacang kedelai hitam, gula aren, gula kelapa, garam
termasuk bahan baku utama Perusahaan Kecap Segitiga.
6.1.1

Kacang Kedelai

Kacang kedelai merupakan bahan baku utama dalam proses pembuatan


kecap, karena dari sari kedelai inilah kecap dihasilkan. Melalui proses fermentasi
dari kacang kedelai ini akan dihasilkan sari kedelai, yang merupakan bahan
pembentuk kecap.
Kacang kedelai yang digunakan pada Perusahaan

Kecap Segitiga

merupakan kacang kedelai hitam lokal, yang diperoleh langsung dari distributor
kacang kedelai dari Kabupaten Cirebon. Alasan perusahaan memilih kacang
Kedelai hitam lokal dikarenakan menurut perusahaan bahwa kacang kedelai lokal
memiliki pati yang tinggi sehingga dapat menghasilkan sari kedelai yang
berkualitas, selain itu perusahaan pernah mencoba satu kali menggunakan kacang
kedelai hitam impor, tetapi ampas dari sisa pembuatan kecap yang dapat dijual
kembali sebagai bahan makanan, tidak laku dipasaran dikarenakan kurang disukai
oleh konsumen.Kacang kedelai ini dibeli dalam kemasan karung dengan berat 50
kg, dengan harga Rp 5 092.00 per kg .

6.1.2

Gula Aren

Gula aren adalah gula merah yang terbuat dari sari air tandan buah aren.
Pemilihan jenis gula ini dikarenakan gula aren merupakan gula merah yang cukup
digemari masyarakat sebagai pemanis, serta memiliki aroma yang harum dan
warna gula yang gelap. Gula aren ini diperoleh perusahaan dengan cara memesan
melalui distributor di daerah Kabupaten Bandung, dengan harga Rp 5 625.00 per
kg.
6.1.3

Gula Kelapa

Gula kelapa merupakan gula yang dibuat dari sari air tandan buah kelapa.
Gula ini digunakan sebagai pemanis tambahan dari gula aren, pemilihan gula ini
karena gula kelapa memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan gula
aren. Tetapi gula kelapa memiliki kekurangan yaitu tidak tahan terhadap
penyimpanan dan suhu lembab atau panas. Gula ini diperoleh perusahaan dengan
cara memesan dari distributor di daerah Banjar Kabupaten Ciamis, harga gula
kelapa Rp 4 928.00 per kg.
6.1.4

Garam

Garam ini digunakan sebagai pembuatan air garam dalam proses


perendaman kacang kedelai hitam hasil fermentasi, dan pemberi rasa asin pada
produk kecap. Garam ini diperoleh dari distributor garam di daerah Kabupaten
Cirebon. Garam ini dibeli dalam kemasan karung dengan berat 60 kg dengan
harga Rp 459.00 per kg.

6.2

Prosedur Pengadaan Bahan Baku pada Perusahaan Kecap Segitiga

Sistem pengadaan bahan baku utama yang diterapkan oleh Perusahaan


Kecap Segitiga dalam memperoleh bahan baku kacang kedelai hitam, gula aren,
gula kelapa, dan garam adalah dengan cara melakukan pembelian melalui sistem
jatuh tempo. dengan tambahan biaya upah pada setiap pengiriman masingmasing bahan baku. Hal ini juga dilakukan karena lokasi distributor bahan baku
yang relatif jauh. Waktu jatuh tempo untuk bahan baku kacang kedelai hitam,
gula aren, gula kelapa, dan garam memiliki waktu jatuh tempo selama satu bulan
semenjak bahan baku diterima perusahaan. Pembelian bahan baku penolong
dilakukan secara tunai.
Prosedur pembelian dan pemesanan bahan baku pada Perusahaan Kecap
Segitiga adalah dimulai dari bagian pemasaran yang memberikan perkiraan
jumlah permintaan berdasarkan jadwal rencana produksi kepada bagian produksi.
Kemudian bagian produksi akan mencatat jumlah permintaan tersebut dan
memperhitungkan kebutuhan bahan baku produksi, dan menyerahkan ke bagian
gudang. Bagian gudang akan melihat stok bahan baku yang tersedia, kemudian
mencatat jumlah bahan baku yang harus dibeli. Catatan tersebut akan diberikan
kepada bagian keuangan kemudian bagian keuangan yang akan melakukan
pemesanan bahan baku kepada distributor sesuai dengan jumlah yang diminta
oleh bagian gudang. Secara sistematis prosedur pembelian bahan baku terlihat
pada

Gambar 3.

Bagian Pemasaran

Bagian Produksi

Bagian Gudang

Distributor

Bagian Keuangan

Gambar 3 . Prosedur Umum Pembelian Bahan Baku Perusahaan Kecap


Segitiga

Dalam prosedur pemesanan bahan baku,

bagian keuangan akan

mengirimkan Purchasing Order (PO) dengan menelepon atau cukup dengan


mengirimkan SMS kepada pemasok bahan baku kacang kedelai hitam, gula aren,
gula kelapa, dan garam. Hal ini dilakukan karena sudah terciptanya kepercayaan
antara kedua belah pihak.
Ketika bahan baku yang dipesan diterima di gudang, kemudian dilakukan
pemeriksaan sampel bahan baku yang meliputi kondisi kemasan, label segel,
kuantitas bahan baku. Sampai saat ini syarat dan

mutu bahan baku yang

diterapkan perusahaan kepada pemasok selalu terpenuhi dengan baik, sehingga


pengembalian bahan baku dapat dihindarkan.
6.3

Waktu Tunggu Bahan Baku ( Lead Time) pada Perusahaan Kecap


Segitiga

Waktu tunggu bahan baku merupakan waktu yang dibutuhkan bahan baku
semenjak dipesan kepada distributor sampai bahan baku diterima perusahaan.
Waktu tunggu yang diperlukan dalam proses pemesanan untuk bahan baku kacang

kedalai hitam, gula aren, dan gula kelapa adalah satu minggu dan sedangkan
garam memiliki waktu tunggu selama dua minggu.
6.4

Proses Penanganan Bahan Baku

Proses penanganan bahan baku meliputi proses penyimpanan bahan baku


di gudang penyimpanan dan pengeluaran bahan baku dari gudang untuk dilakukan
proses produksi. Penyimpanan bahan baku kacang kedelai hitam, gula aren, gula
kelapa dan garam serta bahan baku lainnya ditempatkan di gudang tertutup, serta
tanpa ada perlakuan khusus. Pemeriksaan bahan baku hanya dilakukan pada saat
bahan baku tiba di perusahaan untuk dilakukan pengecekan mutu bahan baku.
Penempatan bahan baku pada perusahaan dilakukan di gudang yang berbeda,
Perusahaan Kecap Segitiga memiliki tiga gudang bahan baku. Penyusunan bahan
baku kacang kedelai, gula aren , gula kelapa dan garam ditempatkan di atas papan
kayu agar tidak terjadi kontak langsung antara bahan baku dengan lantai. Lokasi
gudang bahan baku ditempatkan di area pabrik, hal ini dilakukan untuk
memudahkan dalam proses pengambilan bahan baku dalam proses produksi.
Pengeluaran bahan baku dalam proses produksinya mengikuti sistem First
In First Out (FIFO), bahan baku yang pertama kali masuk akan digunakan
terlebih dahulu untuk proses produksi. Hal tersebut dilakukan karena bahan baku
tersebut memiliki daya simpan yang terbatas dan menghindari kerugian atas
penyimpanan bahan baku yang terlalu lama.
6.5

Volume Pemakaian Bahan Baku

Pemakaian bahan baku kacang kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam
dalam proses produksi kecap pada Perusahaan Kecap Segitiga disesuaikan dengan

rencana produksi yang telah disusun oleh bagian produksi. Penentuan rencana
produksi berdasarkan pesanan para sales-sales dan kapasitas produksi perusahaan.
Berdasarkan rencana prduksi tersebut perusahaan dapat memperkirakan
kebutuhan bahan baku yang akan digunakan.
Pemakaian tertinggi untuk bahan baku kacang kedelai hitam, gula aren,
gula kelapa, dan garam terjadi pada bulan Juli 2007 yaitu sebesar 6 281.0 kg
untuk kacang kedelai hitam, gula aren sebesar 16 395.0 kg pada bulan Agustus
2007, gula kelapa sebesar 17 800.0 kg pada bulan Januari 2008, serta garam
sebesar 3 776.0 kg pada bulan Agustus 2007. Untuk pemakaian bahan baku
terendah untuk kacang kedelai hitam terjadi pada bulan April 2007 yaitu sebesar
1 000.0 kg, gula aren sebesar 500.0 kg pada bulan Februari 2008, gula kelapa
sebesar 2 711.0 kg pada bulan September 2007, serta garam sebesar 1 585.0 kg
terjadi pada bulan Maret 2007. Pemakaian tertinggi dan terendah bahan baku
berbeda-beda untuk tiap bulannya, tergantung dari permintaan jenis kecap di
pasaran. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada bulan Agustus 2007
permintaan tertinggi untuk produk jenis kecap manis sedang, pada bulan Januari
dan Februari 2008 permintaan tertinggi untuk jenis kecap manis. Volume
pemakaian bahan baku kecap di Perusahaan Kecap Segitiga dapat dilihat pada
Tabel 11.
Volume pemakaian bahan baku menunjukkan adanya variasi antara bulan
yang satu dengan bulan yang lainnya. Peningkatan dan penurunan pemakaian
bahan baku sejalan dengan tingkat penjualan kecap.

Tabel 11.

Volume Pemakaian Bahan Baku Preusan Kecap Segitiga


Periode Maret 2007-Februari 2008 (kg)

Bulan

Kacang Kedelai
Hitam

Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007

Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Februari 2008
Jumlah
Rata-rata

1 160.0
1 000.0
2 185.0
5 411.0
6 281.0
5 329.0
5 724.0
2 166.0
5 409.0
3 946.0
4 245.0
2 126.0
44 982.0
3 788.5

Gula Aren

4 431.0
10 623.0
8 167.0
10 014.0
11 933.0
16 395.0
15 494.0
10 856.0
6 272.0
1 500.0
700.0
500.0
95 389.0
7 949.1

Gula
Kelapa
5 241.0
5 663.0
9 266.0
4 334.0
0.0
4 763.0
2 711.0
3 568.0
9 836.0
14 085.0
17 800.0
13 875.0
91 142.0
7 595.2

Garam

1 585.0
3 194.0
3 247.0
3 672.0
3 517.0
3 776.0
3 165.0
3 569.0
3 754.0
2 560.0
2 935.0
2 276.0
37 250.0
3 106.2

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

6.6

Biaya-Biaya Persediaan

Biaya persediaan Perusahaan Kecap Segitiga secara umum dapat


dikelompokan menjadi dua, yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
Biaya pemesanan terdiri dari biaya telepon, biaya administrasi dan biaya upah.
Untuk biaya penyimpanan hanya terdiri dari biaya opportunity cost. Hal ini
dikarenakan sebagai perbandingan jika uang yang digunakan untuk pengadaan
bahan baku disimpan dalam bentuk tabungan, yang menghasilkan opportunity
cost berupa bunga bank
6.6.1

Biaya Pemesanan

Biaya pemesanan bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan oleh


perusahaan, berkenaan dengan dilakukannya pembelian bahan baku yang tidak
dipengaruhi oleh kuantitas bahan baku yang dipesan. Total biaya pemesanan

adalah hasil dari perkalian antara frekuensi pemesanan dengan biaya per pesanan.
Komponen biaya pemesanan untuk berbagai jenis bahan baku terdiri dari biaya
telepon, biaya administrasi dan biaya transportasi. Biaya pemesanan bersifat
konstan dimana besarnya biaya yang muncul tidak dipengaruhi besarnya kuantitas
bahan baku yang dipesan oleh perusahaan. Komponen biaya pemesanan bahan
baku kacang kedelai hitam, gula aren, gula kelapa, dan garam dapat diuraikan
sebagai berikut:
(a) Biaya administrasi, meliputi biaya pembuatan catatan atau dokumen
pemesanan dan penerimaan bahan baku. Total biaya administrasi per
pesanan perusahaan Segitiga untuk bahan baku kedelai adalah Rp 2 000.00
per pesanan, total biaya administrasi pemesanan gula aren adalah sebesar
Rp 1 500.00 per pesanan, total biaya administrasi pemesanan gula kelapa
sebesar Rp 1 500.00 per pesanan dan total biaya administrasi pemesanan
garam sebesar Rp 1500.00 per pesanan.
(b) Biaya telepon adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk
melakukan pemesanan kepada pemasok bahan baku. Total biaya telepon
per pesanan Perusahaan Kecap Segitiga untuk bahan baku kedelai adalah
Rp 9 500.00, Rp 10 000.00 untuk pemesanan gula aren, Rp 8 000.00 untuk
pemesanan gula kelapa dan Rp 8 000.00 untuk pemesanan garam.
(c) Biaya upah adalah biaya tambahan dari distributor kepada perusahaan
dalam setiap pengiriman bahan baku. Biasanya biaya ini digunakan
sebagai uang lelah supir yang membawa bahan baku, dan digunakan pula
sebagai upah bongkar muat bahan baku. Besarnya biaya transportasi untuk
bahan baku kedelai adalah sebesar Rp 250 000.00, biaya transportasi

untuk bahan baku gula aren, gula kelapa dan garam masing-masing
sebesar Rp 100 000.00. Komponen

besarnya biaya pemesanan per

pesanan untuk setiap jenis bahan baku Perusahaan Kecap Segitiga secara
rinci dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12.

Biaya Pemesanan Bahan Baku Preusan Kecap Segitiga Periode


Maret 2007 Februari 2008 (Rupiah/pesanan)

Jenis Biaya
-Biaya telepon
-Biaya administrasi
-Biaya upah

Total

Kacang
Gula Aren
Kedelai Hitam
9 500.00
10 000.00
2 000.00
1 500.00
250 000.00 100 000.00
261 500.00 111 500.00

Gula
Kelapa
8 000.00
1 500.00
100 000.00
109 500.00

Garam

8 000.00
1 500.00
100 000.00
109 500.00

Sumber: wawancara dengan pihak perusahaan, 2008

6.6.2

Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan merupakan biaya yang dikeluarkan karena perusahaan


menyimpan bahan baku di gudang. Biaya penyimpanan adalah hasil perkalian
dari tingkat persediaan rata-rata dengan biaya penyimpanan bahan baku per unit..
Biaya penyimpanan yang dibahas adalah biaya yang berubah karena adanya bahan
baku yang disimpan. Biaya listrik, biaya fasilitas, biaya penyusutan gudang dan
biaya lain-lain termasuk biaya tetap, maka dibebankan pada biaya overhead
perusahaan. Biaya tetap tidak tergantung dengan jumlah bahan baku yang
disimpan, oleh karena itu tidak diperhitungkan dalam pengendalian persediaan.
Komponen biaya penyimpanan untuk keempat bahan baku hanya terdiri dari biaya
kesempatan (opportunity cost).
Opportunity cost adalah biaya yang dikorbankan karena adanya persediaan
sehingga perusahaan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan apabila
dana tersebut disimpan di bank. Besarnya biaya ini tergantung dari lamanya

barang disimpan dan tingkat suku bunga yang berlaku. Opportunity cost tahunan
merupakan perkalian dari rata-rata tingkat suku bunga deposito per tahun dengan
rata-rata harga bahan baku. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah rata-rata
tingkat suku bunga simpanan berjangka rupiah bank umum (12 bulan) periode
bulan Maret 2007sampai dengan Februari 2008, yaitu sebesar 8.38 persen.
Opportunity

cost

untuk

bahan

baku

kedelai

sebesar

Rp 426.71/kg (Rp 5 092.00 x 8.38%) per tahun, gula aren sebesar Rp 448.50/kg
(Rp 5 352.00 x 8.38%) per tahun, gula kelapa sebesar Rp 412.97/kg
(Rp 4 928.00 x 8.38%) per tahun, dan garam sebesar Rp 38.46/kg
(Rp 459.00 x 8.38%) per tahun. Semakin banyak persediaan di gudang, maka
akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap biaya penyimpanan.
Tabel 13. Biaya Penyimpanan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga
Bahan Baku
Kedelai
Gula aren
Gula kelapa
Garam

Komponen
Biaya
Opportunity
cost
Opportunity
cost
Opportunity
cost
Opportunity
cost

Nilai
(Rp/kg/Tahun)
426.71

Nilai
Nilai
(Rp/kg/bulan) (Rp/kg/minggu)
35.56
8.21

448.50

37.38

8.63

412.97

34.41

7.94

38.46

3.21

0.74

Sumber: Data Perusahaan (diolah), 2008

Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa biaya penyimpanan untuk


setiap bahan baku berbeda. Biaya penyimpanan untuk bahan baku gula aren
merupakan biaya penyimpanan terbesar yaitu sebesar Rp 8.63 per minggu, dan
biaya penyimpanan terkecil adalah untuk bahan baku garam yaitu sebesar Rp 0.74
per minggu.

VII. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN


BAKU PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA
7.1

Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan

Pengendalian persediaan dilakukan

oleh perusahaan bertujuan untuk

memperlancar proses produksi dan melindungi perusahaan agar tidak terjadi


kekurangan bahan baku, yang dapat menghambat kegiatan produksi perusahaan.
Pengendalian persediaan juga berguna untuk mengantisipasi kelebihan bahan
baku yang dapat meningkatkan biaya penyimpanan. Sehingga diharapkan metode
pengendalian persediaan yang dilakukan ini dapat lebih mengefisienkan biaya
yang yang harus dikeluarkan perusahaan, terkait dengan pengadaan bahan baku
serta dapat menjamin kontinuitas kegiatan produksi perusahaan. Biaya pengadaan
bahan baku tersebut meliputi biaya pemesanan bahan baku, biaya penyimpanan
bahan baku dan biaya pembelian bahan baku. Pada Perusahaan Kecap Segitiga
sendiri telah memiliki metode sendiri dalam pengadaan bahan baku, dimana
pemesanan bahan baku didasarkan pada kebutuhan produksi dan kondisi
persediaan bahan baku di gudang.
Penelitian ini untuk mencari alternatif metode pengendalian bahan baku
yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini

adalah

metode

perencanaan

bahan

baku

(Material

Requirement

Planning/MRP). Teknik yang digunakan dalam metode ini adalah teknik Lot For
Lot (LFL), Economic Order Quantity (EOQ), dan Period Order Quantity (POQ).
Komponen biaya merupakan komponen yang menjadi acuan, dalam
mencari teknik mana yang tepat untuk digunakan sebagai teknik pengendalian
persediaan bahan baku kacang kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam. Metode

tersebut haruslah dapat meminimumkan total biaya persediaan dan biaya


pembelian bahan baku. Dalam pembahasan metode pengendalian persediaan ini
digunakan lembaran MRP. Contoh penggunaan lembaran MRP untuk bahan baku
kacang kedelai akan dilampirkan pada lampiran 9, 11 dan 13 sedangkan untuk
bahan baku lainnya tidak dilampirkan karena pada prinsipnya penggunaan
lembaran MRP sam untuk semua bahan baku.
Sistem pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan pada dasarnya
bertujuan untuk melakukan pemesanan sejumlah kebutuhan untuk beberapa waktu
tertentu (sesuai lead time). Lead time untuk bahan baku kacang kedelai, gula aren,
gula kelapa adalah satu minggu, dan garam adalah selama dua minggu.pemesanan
bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan adalah untuk kacang kedelai setiap
satu bulan sekali, untuk gula aren dan gula kelapa setiap 2-3 kali perbulan, hal ini
dilakukan karena untuk mengurangi tingkat kerusakan bahan baku gula.
Sedangkan untuk garam dilakukan setiap 2-3 bulan sekali.
Tabel 14. Persediaan Kacang Kedelai, Gula Aren, Gula Kelapa dan Garam
Selama Periode Maret 2007- Februari 2008 (Kg)
Bulan
Kedelai
Maret 2007
8 290.0
April 2007
7 150.0
Mei 2007
31 164.0
Juni 2007
51 473.0
Juli 2007
37 126.0
Agustus 2007
46 065.0
September 2007
19 142.0
Oktober 2007
32 319.0
November 2007
14 839.0
Desember 2007
15 966.0
Januari 2008
20 148.0
Februari 2008
13 697.0
Total
297 379.0
Rata-rata
24 781.58
Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

Gula aren
3 367.0
9 595.0
12 790.0
10 423.0
9 660.0
11 257.0
18 841.0
31 340.0
9 516.0
4 385.0
39 640.0
44 798.0
205 612.0
17 134.33

Gula Kelapa
5 597.0
12 438.0
13 490.5
6 399.0
2.0
5 961.5
5 386.0
17 023.5
21 396.0
33 217.0
37 964.5.0
23 097.0
181 972.0
15 164.33

Garam
26 804.5
24 448.0
14 859.0
21 725.0
12 131.0
14 587.0
20 691.0
16 263.0
4 028.0
23 992.0
27 083.5
11 278.0
217 890.0
181 57.50

Persediaan bahan baku kacang kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam
setiap bulannya dapat dilihat pada Tabel 15. Berdasarkan tabel tersebut diketahui
bahwa selama periode Maret 2007 sampai periode Februari 2008, total persediaan
yang tersimpan di gudang untuk kacang kedelai adalah sebesar 297 379.0 kg,
gula aren sebesar 205 612.0 kg, gula kelapa sebesar 181 972.0 kg, dan garam
sebesar 217 890.0 kg. Adanya persediaan bahan baku akan berpengaruh terhadap
biaya penyimpanan perusahaan. Semakin besar tingkat persediaan bahan baku
yang disimpan, maka semakin besar biaya penyimpanannya.
Tabel 15. Biaya Persediaan Bahan Baku Periode Maret 2007Februari 2008
Menggunakan Kondisi Aktual Perusahaan
Bahan
Baku

Biaya Pemesanan/tahun
Rp/pesan

Kedelai
Gula
aren
Gula
kelapa
Garam

Frek

Biaya Penyimpanan/tahun

Biaya total
persediaan
(Rp/tahun)

261 500.00
111 500.00

11
21

Total biaya Rp/kg


Jumlah
Total Biaya
Pemesanan
persediaan Penyimpanan
Per tahun
(Kg/tahun)
Per tahun
(Rp/tahun)
(Rp/tahun)
2 876 500.00 8.21 297 379.0 2 441 481.59
2 341 500.00 8.63 205 612.0 1 774 431.56

109 500.00

22

2 409 000.00

7.94

181 972.0

109 500.00

657 000.00

0.74

217 890.0
161 238.60
818 238.60
Total Biaya Persediaan 14 106 009.43

1 444 857.68

5 317 981.59
4 115 931.56
3 853 857.68

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

Total biaya persediaan bahan baku per tahun adalah total biaya antara
pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku. Pada Tabel 15 biaya
pemesanan perusahaan pada periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008
adalah sebesar Rp 2 876 500.00 untuk bahan baku kedelai dengan frekuensi
pemesanan sebanyak 11 kali, dan merupakan biaya pemesanan terbesar yang
harus dikeluarkan perusahaan. Sedangkan biaya pemesanan terkecil yaitu untuk
bahan baku garam sebesar Rp 675 000.00 dengan frekuensi pemesanan sebanyak
6 kali. Biaya penyimpanan bahan baku perusahaan terbesar pada periode yang

sama yaitu untuk bahan baku kedelai sebesar Rp 2 441 481.59 karena bahan baku
kedelai merupakan bahan baku dengan tingkat persediaan terbesar pada
perusahaan, sedangkan biaya penyimpanan terendah adalah untuk bahan baku
garam sebesar Rp 161 238.60. Biaya persediaan total perusahaan terbesar adalah
untuk biaya persediaan bahan baku kedelai yaitu sebesar Rp 5 317 981.59 dan
biaya persediaan terendah adalah sebesar Rp 818 238.60 untuk bahan baku garam.
Total Biaya persediaan untuk keempat bahan baku yang harus ditanggung
perusahaan adalah sebesar Rp 14 106 009.43. Pada Tabel 15 terlihat bahwa biaya
pemesanan lebih besar dari biaya penyimpanan, hal ini dikarenakan tingginya
biaya per pesanan yang harus ditanggung perusahaan. Sehingga perusahaan perlu
menurunkan frekuensi pemesanan dengan tanpa menggangu proses produksi, agar
biaya persediaan bahan baku dapat ditekan.
Kuantitas pemesanan yang dilakukan perusahaan berbeda-beda setiap
periode pemesanan, hal ini tergantung dari perkiraan permintaan konsumen akan
produk kecap. Perusahaan saat ini memiliki empat pemasok untuk bahan baku
gula kelapa, pembelian dilakukan secara bergiliran untuk tiap pemasok dan untuk
pemasok kedelai, gula aren, dan garam masing-masing satu pemasok.
Tabel 16. Biaya Pembelian Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008
Bahan Baku

Kuantitas
(kg)
Kedelai
45 988
Gula Aren
107 886
Gula Kelapa
97 394.5
Garam
41 860
Total Biaya Pembelian

Harga beli
(Rp/kg)
5 092.00
5 625.00
4 928.00
459.00

Biaya Pembelian Total


(Rp/tahun)
234 170 896.00
606 858 750.00
479 960 096.00
19 213 740.00
1 340 203 482.00

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

Pada Tabel 16 dapat dilihat rincian biaya pembelian bahan baku kedelai,
gula aren, gula kelapa, dan garam yang ditujukan untuk produksi kecap pada

periode produksi Maret 2007 sampai dengan Februari 2008. Biaya pembelian
terbesar yaitu untuk bahan baku gula aren yang mencapai Rp 606 858 750.00 dan
merupakan bahan baku dengan kuantitas pemesanan yang terbesar dari ketiga
bahan baku lainnya. Sedangkan biaya pembelian terkecil yaitu untuk bahan baku
garam yaitu sebesar Rp 19 213 740.00 dan biaya pembelian total
Rp 1 340 203 482.00 untuk keempat bahan baku.
7.2

Metode Material Requirement Planning (MRP)

MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan


persediaan untuk barang-barang dengan sifat permintaan dependent (terikat).
Keempat bahan baku yang digunakan oleh perusahaan merupakan bahan baku
untuk produksi kecap yang bersifat terikat. Oleh karena itu metode MRP ini dapat
digunakan sebagai alternatif bagi perusahaan untuk merencanakan kebutuhan
bahan baku, terutama dalam hal ukuran lot pemesanan, biaya pemesanan, biaya
penyimpanan, besarnya tingkat persediaan dan kuantitas pembelian kumulatif
bahan baku. Teknik MRP yang digunakan dalam pembahasan ini yaitu mengkaji
Teknik LFL, Teknik EOQ, dan Teknik POQ.
Rencana pelaksanaan pesanan merupakan perhitungan waktu mundur dari
rencana penerimaan pesanan. Dalam hal ini, rencana pelaksanaan pesanan sangat
bergantung dari lead time pengadaan bahan baku kedelai, gula aren, gula kelapa,
dan garam. Oleh karena itu perusahaan harus memesan kedelai, gula aren, gula
kelapa seminggu sebelum adanya kebutuhan bersih persediaan bahan baku
tersebut, sedangkan untuk garam perusahaan harus memesan dua minggu sebelum
timbulnya kebutuhan bersih.

7.2.1

Metode MRP Teknik Lot For Lot (LFL)

Penggunaan

metode

LFL

mengharuskan

perusahaan

melakukan

pemesanan bahan baku kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam sebesar
kebutuhan bersih keempat bahan baku tersebut, tanpa menghendaki adanya
persediaan. Dengan menggunakan teknik LFL, perusahaan melakukan pemesanan
bahan baku untuk setiap periode, teknik ini memiliki kelemahan bila bahan baku
mengalami keterlambatan, dimana proses produksi akan terganggu dikarenakan
perusahaan tidak memiliki persediaan.dalam teknik ini sebanyak 44 kali untuk
bahan baku kedelai, 51 kali untuk bahan baku gula aren, 47 kali untuk gula
kelapa, dan 48 kali untuk pembelian bahan baku garam. Frekuensi pemesanan
pada teknik LFL ini lebih besar dari frekuensi yang dilakukan perusahaan,
sehingga berdampak pada melambungnya biaya pemesanan.
Jumlah persediaan di tangan pada periode tersebut dengan metode LFL
adalah sebanyak 7 640 kg untuk bahan baku kedelai, adanya persediaan pada
bahan baku kedelai ini adalah karena adanya persediaan pada awal periode.
Jumlah persediaan untuk bahan baku gula aren dan gula kelapa sebesar nol,
karena perusahaan tidak memiliki persediaan pada awal periode tersebut, sehingga
perusahaan hanya melakukan pemesanan sebesar kebutuhan bersih untuk setiap
periodenya. Sedangkan untuk bahan baku garam, persediaan perusahaan sebesar
2 735.5 kg hal ini disebabkan juga karena adanya persediaan pada awal periode.
Adanya persediaan tersebut mengakibatkan perusahaan menanggung biaya
penyimpanan untuk kedelai sebesar Rp 62 724.40 dan Rp 2 024.27 untuk biaya
penyimpanan garam. Biaya total persediaan untuk keempat bahan baku teknik
LFL lebih tinggi dari teknik perusahaan yaitu sebesar Rp 27 659748.70 dengan

bahan baku dengan biaya persediaan terbesar adalah bahanbaku kedelai sebesar
Rp 11 568 724.40. Biaya persediaan yang tinggi ini disebabkan karena dalam
teknik LFL frekuensi pemesanan bahan baku menjadi lebih sering karena
pemesanan bahan baku berdasarkan pada kebutuhan bersih tiap periode. Secara
rinci mengenai biaya persediaan bahan baku dengan teknik LFL dapat dilihat pada
Tabel 17.
Tabel 17. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga dengan
Teknik Lot For Lot Periode Maret 2007-Februari 2008
Bahan
Baku

Biaya Pemesanan/tahun
Rp/pesan

Kedelai
Gula
aren
Gula
kelapa
garam

Frek

Biaya penyimpanan /tahun

Biaya Total
Persediaan

(Rp/tahun)
Total biaya Rp/kg Jumlah
Total Biaya
pemesanan per
persediaan Penyimpanan
tahun
setahun
Pertahun
(Rp/tahun)
(Kg/tahun) (Rp/tahun)
11 506 000.00 8.21
7 640.0
62 724.40 11 568 724.40
5 686 500.00 8.63
0.0
0.00 5 686 500.00

261 500.00
111 500.00

44
51

109 500.00

47

5 146 500.00

7.94

109 500.00

48

5 256 000.00

0.74

0.0

0.00

5 146 500.00

2 735.5
2 024.27 5 258 024.30
Total Biaya Persediaan 27 659 748.70

Sumber: Data perusahaan (diolah), 2008

Kuantitas pembelian bahan baku untuk produksi kecap pada periode yang
sama, dengan teknik LFL untuk ke empat bahan baku lebih kecil dari kuantitas
yang dibeli dengan teknik perusahaan, karena dalam melakukan pesanan bahan
baku didasarkan pada jumlah kebutuhan bersih pada setiap periode. Kuantitas
pembelian bahan baku terbesar dalam teknik ini yaitu untuk pembelian bahan
baku gula aren sebesar 96 874.0 kg dengan biaya pembelian sebesar
Rp 544 916 250.00, dan kuantitas pembelian terkecil yaitu untuk pemesanan
bahan baku garam sebesar 35 579.0 kg, dengan biaya pembelian sebesar
Rp 16 330 761.00. Rincian Biaya pembelian untuk ke empat bahan baku secara
rinci dalam Tabel 18.

Tabel 18. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Lot For Lot Periode
Maret 2007-Februari 2008
Bahan Baku
kedelai
gula aren
gula kelapa
garam
Total biaya pembelian

Kuantitas
(Kg)
42 797.0
96 874.0
91 139.0
35 579.0

Harga beli
(Rp/kg)
5 092.00
5 625.00
4 928.00
459.00

Biaya pembelian total


(Rp/tahun)
217 922 324.00
544 916 250.00
449 132 992.00
16 330 761.00
1 228 302 327.00

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

7.2.2

Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ)

Penggunaan

teknik

EOQ

mengharuskan

perusahaan

melakukan

pemesanan kacang kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam sebesar tingkat
EOQnya atau kelipatan dari EOQ pada setiap kali melakukan pemesanan bahan
baku, apabila kebutuhan bersih melebihi dari tingkat EOQ-nya. Nilai EOQ untuk
kacang kedelai adalah 7 423.18 kg, untuk gula aren sebesar 6 938.23 kg, gula
kelapa sebesar 6 952.91 kg, dan EOQ garam sebesar 14 560.25 kg untuk setiap
kali pemesanan bahan baku.
Dengan menggunakan teknik EOQ perusahaan melakukan pemesanan
bahan baku yang lebih rendah dibandingkan dengan teknik yang dilakukan
perusahaan. Teknik ini memungkinkan perusahaan dapat menekan biaya
pemesanan dengan penghematan yang cukup besar. Pada teknik ini perusahaan
melakukan pemesanan sebanyak 6 kali pemesanan untuk kacang kedelai, untuk
gula aren sebanyak 13 kali pemesanan, gula kelapa sebanyak 12 kali pemesanan,
dan 3 kali pemesanan untuk bahan baku garam. Jumlah persediaan bahan baku
yang paling besar untuk teknik ini yaitu untuk bahan baku gula kelapa sebanyak
195 614.7 kg per tahun dengan biaya persediaan sebesar Rp 3 095 014.50 dan
untuk jumlah persediaan yang paling rendah yaitu untuk bahan baku gula aren

sebesar 155 462.6 kg dengan biaya persediaan sebesar Rp 2 791 142.24. Biaya
persediaan total untuk keempat bahan baku dengan menggunakan teknik EOQ
adalah sebesar Rp 9 365 809.48. Penghematan dari teknik ini hampir setengahnya
dari biaya

persediaan yang ditanggung perusahaan. Secara rinci biaya

peresediaan bahan baku dengan teknik EOQ dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga Teknik
Economic Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008
Bahan
baku

Kedelai
Gula
aren
Gula
kelapa
Garam

Biaya Pemesanan/tahun
Rp/pesan
Frek Total Biaya
Pemesanan
Per tahun
(Rp/tahun)
261 500.00
6 1 569 000.00

Biaya Total
Persediaan
Biaya Penyimpanan/tahun
Jumlah
Total Biaya
(Rp/tahun)
Rp/kg
persediaan Penyimpanan
setahun
per tahun
(kg/tahun) (Rp/tahun)
8.21 185 872.7 1 526 014.50 3 095 014.50

111 500.00

13 1 449 500.00

8.63

155 462.6

1 341 642.24 2 791 142.24

109 500.00
109 500.00

12 1 314 000.00
3 328 500.00

7.94
0.74

195 614.7 1 553 180.90 2 867 180.90


383 742.0
283 969.10
612 471.10
Total Biaya Persediaan 9 365 809.48

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

Kuantitas pembelian bahan baku gula kelapa untuk produksi kecap pada
periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008 menempati urutan terbesar
dalam pembelian bahan baku, yaitu sebesar 97 340.7 kg, dengan biaya pembelian
sebesar Rp 479 694 969.60. Sedangkan kuantitas pembelian bahan baku terendah
yaitu untuk bahan baku garam sebesar 43 630.8 kg, dengan biaya pembelian
sebesar Rp 20 049 487.20 kuantitas tersebut masih lebih rendah daripada yang
dibeli perusahaan. Perusahaan melakukan pembelian dengan kuantitas yang lebih
besar, karena dalam pembelian bahan baku, perusahaan tidak melihat kebutuhan
bersih yang dapat dipenuhi oleh persediaan di tangan. Biaya pembelian total untuk
keempat bahan baku dengan teknik EOQ adalah Rp 1 272 921 929.00. Rincian
biaya pembelian bahan baku dengan teknik EOQ dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Kuntitas Pembelian Bahan Baku Teknik Economic Order Quantity
Periode Maret 2007-Februari 2008
Bahan Baku
kedelai
gula aren
gula kelapa
garam
Total biaya pembelian

Kuantitas
(Kg)
44 539.1
97 135.0
97 340.7
43 680.8

Harga beli
(Rp/kg)
5 092.00
5 625.00
4 928.00
459.00

Biaya pembelian total


(Rp/tahun)
226 793 097.20
546 384 375.00
479 694 969.60
20 049 487.20
1 272 921 929.00

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

7.2.3

Metode MRP Teknik Period Order Quantity (POQ)

Dalam teknik POQ, ukuran lot ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual
dalam jumlah periode tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan
demikian, kelebihan persediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ dapat
ditekan. Keunggulan teknik POQ dibandingkan dengan teknik EOQ adalah dalam
mengurangi biaya penyimpanan sediaan bila kebutuhan tidak uniform, karena
sediaan yang berlebihan dapat dihindari. Kebutuhan akan bahan baku perusahaan
dalam produksi kecap memiliki kebutuhan yang tidak seragam tiap periodenya,
oleh karena itu teknik POQ cocok diterapkan dalam menganalisis persediaan ke
empat bahan baku pada Perusahaan Kecap Segitiga.
Hasil perhitungan jumlah periode yang harus dipenuhi menghasilkan nilai
POQ untuk kedelai adalah 9 periode, yang berarti kebutuhan untuk sembilan
periode atau sembilan minggu harus dipenuhi oleh satu kali pemesanan bahan
baku kedelai. Untuk bahan baku gula aren dan gula kelapa nilai POQ-nya sebesar
4 periode, sedangkan untuk garam memiliki nilai POQ yang cukup besar yaitu,
sebesar 20 periode.
Dengan menggunakan teknik POQ ini tingkat persediaan bahan baku
perusahaan lebih rendah dibanding dengan teknik LFL dan teknik EOQ, sehingga

dengan teknik ini perusahaan dapat menekan biaya persediaan dari biaya
penyimpanan. Pemesanan bahan baku yang dilakukan dalam teknik ini untuk
bahan baku kedelai sebanyak 5 kali, bahan baku gula aren 12 kali, bahan baku
gula kelapa 12 kali, dan bahan baku garam 3 kali.
Tabel 21. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga Teknik
Period Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008
Bahan
baku

Biaya Pemesanan/tahun
Biaya Penympanan/tahun
Rp/pesan Frek Total Biaya Rp/kg
Jumlah
Total Biaya
Pemesanan
persediaan Penyimpanan
Per tahun
setahun
per tahun
(Rp/tahun)
(kg/tahun) (Rp/tahun)
Kedelai 261 500.00
5 1 307 500.00
8.21 167 086.0 1 371 776.06
Gula aren 111 500.00
12 1 338 000.00
8.63 141 267.0 1 219 134.21
Gula
Kelapa
109 500.00
12 1 314 000.00
7.94 140 495.0 1 115 530.30
Garam
109 500.00
3 328 500.00
0.74 383 742.0
283 969.08
Biaya Total Persediaan
Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

Biaya Total
Persediaan
(Rp/tahun)

2 679 276.06
2 557 134.21
2 429 530.30
612 469.08
8 278 409.65

Tingkat persediaan bahan baku yang tertinggi dalam teknik ini yaitu,
untuk bahan baku garam sebesar 383 742.0 kg, tetapi karena biaya opportunity
cost nya rendah maka biaya penyimpanan untuk bahan baku garam menjadi yang
paling rendah diantara keempat bahan baku yang lain. Sedangkan tingkat
persediaan yang paling rendah yaitu untuk bahan baku gula kelapa sebesar
140 495.0 kg, dengan biaya penyimpanan sebesar Rp 1 115 530.30. Total biaya
persediaan untuk keempat bahan baku dalam teknik ini yang harus ditanggung
perusahaan adalah sebesar Rp 8 278 409.65. Secara rinci biaya persediaan bahan
baku yang ditanggung perusahaan dengan menggunakan teknik POQ, dapat
dilihat dalam Tabel 21.
Kuantitas pembelian bahan baku dalam teknik POQ, lebih rendah
dibandingkan dengan teknik LFL dan EOQ. Perusahaan melakukan pembelian

bahan baku kedelai sebesar 42 822.0 kg, gula aren sebesar 96 874.0 kg, gula
kelapa sebesar 91 141.0 kg, dan garam sebesar 35 664.5 kg. Biaya pembelian
terbesar adalah untuk bahan baku gula aren, yaitu mencapai Rp 544 916 250.00
dan biaya pembelian terendah yaitu untuk bahan baku garam sebesar
Rp 16 370 005.50. Secara lebih rinci biaya pembelian untuk bahan baku kedelai,
gula aren, gula kelapa dan garam dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Period Order Quantity
Periode Maret 2007-Februari 2008

Bahan Baku
kedelai
gula aren
gula kelap
garam
Total biaya pembelian

Kuantitas
(Kg)
42 822.0
96 874.0
91 141.0
35 664.5

Harga beli
(Rp/kg)
5 092.00
5 625.00
4 928.00
459.00

Biaya Pembelian total


(Rp/tahun)
218 049 624.00
544 916 250.00
449 142 848.00
16 370 005.50
1 228 478 728.50

Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

7.3

Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan

Berdasarkan

hasil

perhitungan

metode

pengendalian

persediaan

perusahaan dengan teknik LFL, EOQ, dan POQ selama periode Maret 2007
sampai dengan Februari 2008, dapat dilakukan perbandingan diantara teknikteknik tersebut. Ringkasan perhitungan disajikan

pada Tabel 23. Dari hasil

perhitungan diperoleh hasil bahwa metode MRP menghasilkan biaya persediaan


yang lebih rendah dari biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, hal ini
dikarenakan Metode MRP dapat menekan tingkat persediaan, sehingga biaya
penyimpanan yang lebih rendah. Selain itu metode MRP juga dapat menghasilkan
frekuensi pemesanan yang lebih rendah dari frekuensi yang dilakukan oleh
perusahaan. Kecuali metode MRP teknik LFL yang menghasilkan biaya
persediaan yang lebih besar dari biaya perusahaan, hal ini dikarenakan dalam

teknik LFL menghasilkan frekuensi yang lebih banyak, sehingga berdampak pada
biaya penyimpanan yang melonjak naik.
Tabel 23. Perbandingan Frekuensi, Biaya Persediaan dan Biaya Pembelian
Total Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008
Uraian
Frekuensi Pemesanan

Perusahaan
11 kali Kedelai
21 kali gula aren
22 kali gula
kelapa
6 kali garam

LFL
44 kali kedelai
51 kali Gula aren
47 kali Gula
kelapa
48 kali garam

Biaya persediaan
Kedelai (Rp)
5 317 981.59
11 568 724.40
Biaya Persediaan
Gula Aren (Rp)
4 115 931.56
5 686 500.00
Biaya Persediaan
Gula Kelapa (Rp)
3 853 857.68
5 146 500.00
Biaya persediaan
Garam (Rp)
818 238.60
5 258 024.30
Biaya Persediaan
Total (Rp)
14 106 009.43
27 659 748.70
Biaya Pembelian
Kedelai (Rp)
234 170 896.00
217 922 324.00
Biaya Pembelian
Gula Aren (Rp)
606 858 750.00
544 916 250.00
Biaya Pembelian
Gula Kelapa (Rp)
479 960 096.00
449 132 992.00
Biaya Pembelian
Garam (Rp)
19 213 740.00
16 330 761.00
Biaya Pembelian
Total (Rp)
1 340 203 482.00 1 228 302 327.00
Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

EOQ
6 kali Kedelai
13 kali Gulaaren
12 kali Gula
kelapa
3 kali garam

POQ
5 kali Kedelai
12 kali Gula aren
12 kali Gula
Kelapa
3 Kali Garam

3 095 014.50

2 679 276.06

2 791 142.24

2 557 134.21

2 867 180.90

2 429 530.30

612 471.10

612 469.08

9 365 809.48

8 278 409.65

226 792 995.20

218 049 624.00

546 384 375.00

544 916 250.00

479 694 969.60

449 142 848.00

20 049 487.20

16 370 005.50

1 272 921 929.00

1 228 478 728.50

Dalam metode MRP teknik POQ menghasilkan biaya persediaan total dan
juga biaya pembelian total untuk keempat bahan baku yang paling rendah
dibanding dengan yang dilakukan oleh perusahaan, tenik LFL dan EOQ.
Penghematan yang dihasilkan dengan metode POQ tersebut adalah yang terbesar.
Pada Tabel 24 dapat dilihat bahwa penghematan biaya persediaan untuk keempat
bahan baku dengan metode POQ mampu menghemat sebesar 41.3 persen
dibanding dengan yang dilakukan oleh perusahaan. Biaya persediaan kedelai
memiliki persentase terbesar dalam penghematan dengan metode POQ, yaitu
sebesar 49.6 persen.

Tabel 24. Penghematan Biaya Persediaan dan Pembelian dengan MRP


Teknik LFL, EOQ dan POQ
Uraian

EOQ
(Rp)

LFL

(Rp)

(%)

Biaya persediaan
Kedelai
-6 250 742.81
Biaya persediaan
Gula aren
-1 570 568.44
Biaya Persediaan
Gula Kelapa
-1 292 642.32
Biaya persediaan
Garam
-4 439 785.67
Biaya Persediaan
Total
-13 553 739.27
Biaya Pembelian
Kedelai
16 248 572.00
Biaya pembelian
Gula aren
61 942 500.00
Biaya Pembelian
Gula Kelapa
30 827 104.00
Biaya Pembelian
Garam
2 882 979.00
Biaya Pembelian
Total
111 901 155.00
Sumber : Data Perusahaan (diolah), 2008

(%)

POQ
(Rp)

(%)

-117.5

2 222 967.09

41.8

2 638 705.53

49.6

-38.2

1 324 789.32

32.2

1 558 797.35

37.8

-33.5

986 676.78

25.6

1 424 327.38

37.0

-542.6

205 767.50

25.1

205 769.52

25.1

-96.1

4 740 199.95

33.6

5 827 599.78

41.3

6.9

7 377 900.80

3.1

16 121 272.00

6.9

10.2

60 484 375.00

10.0

61 942 500.00

10.2

6.4

265 126.40

0.1

30 817 248.00

6.4

15.0

-835 747.20

-4

2 843 734.50

14.8

8.3

67 281 555.00

5.0 111 724 755.50

8.3

Sedangkan untuk penghematan terhadap biaya pembelian metode POQ


juga menghasilkan penghematan terbesar yaitu 8.3 persen, penghematan ini sama
besarnya dalam teknik LFL. Apabila dilihat dari persentase penghematan
pembelian teknik POQ, bahan baku garam memeliki kontribusi dalam biaya
penghematan yaitu sebesar

14.8 persen. Tetapi apabila dilihat dari nominal,

bahan baku gula aren memiliki kontribusi yang besar dalam penghematan biaya
pembelian yaitu sebesar Rp 61 942 500.00 atau sebesar 10.2 persen dari biaya
pembelian yang harus ditanggung perusahaan.

7.4

Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan


Baku Berdasarkan Data Historis Peerusahaan Periode Maret 2007Februari 2008

Berdasarkan hasil analisis perbandingan biaya persediaan dan biaya


pembelian bahan baku serta penghematan metode MRP terhadap kebijakan
perusahaan periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008, maka dapat
direkomendasikan suatu model alternatif pengendalian persediaan bahan baku
kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam Perusahaan Kecap Segitiga. Metode
alternatif

ini

diharapkan

dapat

menghemat

biaya

perusahaan,

melalui

penghematan biaya persediaan bahan baku yang terdiri dari biaya pemesanan dan
biaya penyimpanan bahan baku, serta melalui penghematan biaya pembelian
bahan baku.
Hasil analisis perbandingan biaya persediaan dan penghematan metode
MRP terhadap kebijakan perusahaan periode Maret 2007 sampai dengan Februari
2008, menunjukan bahwa kebijakan pengendalian persediaan kedelai, gula aren,
gula kelapa dan garam perusahaan belum optimal, artinya biaya persediaan masih
dapat ditekan lebih rendah. Biaya persediaan bahan baku yang ditanggung
perusahaan pada periode tersebut mencapai Rp 14 106 009.43 dengan biaya
pembelian bahan baku sebesar Rp 1 340 203 482.00.
Sementara metode MRP teknik EOQ dan teknik POQ memungkinkan
perusahaan melakukan penghematan terhadap biaya persediaan, terutama teknik
POQ. Sedangkan

teknik LFL tidak dapat digunakan dalam model alternatif

pengendalian persediaan, hal ini dikarenakan teknik LFL menyebabkan


meningkatnya biaya persediaan, sebagai akibat frekuensi pemesanan yang
menjadi lebih banyak. Tingginya biaya pembelian bahan baku yang ditanggung

perusahaan disebabkan oleh kuantitas selama periode tersebut, bahan baku yang
dibeli perusahaan lebih banyak dibandingkan dengan metode MRP teknik LFL,
EOQ dan POQ.
Hasil analisis dengan metode POQ dalam penelitian ini dapat memberikan
alternatif bagi perusahaan untuk menghasilkan penghematan terhadap biaya
pemesanan dan biaya penyimpanan. Penghematan biaya persediaan perusahaan
dengan teknik POQ untuk keempat bahan baku, yaitu sebesar Rp 5 827 599.78
(41.3%) serta penghematan terhadap biaya pembelian sebesar Rp 111 724 755.50
atau dapat menghemat biaya pembelian perusahaan sebesar 8.3 persen.
Penghematan biaya pembelian ini terutama terhadap biaya pembelian gula aren
yang menghasilkan penghematan sebesar Rp 61 942 500.00.
Metode POQ digunakan untuk menentukan ukuran lot yang ditetapkan
sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah periode tertentu yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian kelebihan sediaan yang mungkin timbul
dalam kebijakan EOQ dihilangkan. Teknik ini dapat mengurangi biaya
penyimpanan sediaan bila kebutuhan tidak uniform, karena sediaan yang
berlebihan dapat dihindari. Oleh karena itu metode MRP teknik POQ dapat
direkomendasikan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku kedelai,
gula aren, gula kelapa, dan garam pada Perusahaan Kecap Segitiga. Dimana nilai
POQ untuk kacang kedelai sebanyak sembilan periode, gula aren dan gula kelapa
nilai POQ-nya 4 periode dan garam dengan nilai POQ sebanyak 20 periode. Nilai
POQ ini sesuai dengan batas lama penyimpanan bahan baku yang perusahaan
terapkan, yaitu untuk kacang kedelai batas penyimpan selama 12 minggu, gula
aren dan gula kelapa selama 8 minggu, dan garam lebih dari 20 minggu.

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1

Kesimpulan

1. Biaya yang dikeluarkan oleh Perusahaan kecap segitga untuk persediaan


sebesar

Rp

14

106

009.43

dengan

biaya

pembelian

sebesar

Rp 1 340 203 482.00 sedangkan dengan teknik POQ biaya persediaan


perusahaan sebesar Rp 8 278 409.65 atau perusahaan dapat menghemat
biaya persediaan sebesar Rp 5 827 599.78 atau sebesar 41.3 persen dari
biaya aktual yang dikeluarkan oleh Perusahaan Kecap Segitiga. Biaya
pembelian dengan teknik POQ sebesar Rp 1 228 478 728.00 atau
perusahaan mengalami penghematan biaya pembelian bahan baku sebesar
Rp 111 724 755.00 atau sebesar 8.3 persen.
2. Sistem pengadaan dan

pengendalian persediaan bahan baku kecap di

Perusahaan Kecap Segitiga belum optimal dari segi biaya persediaan. Hal
ini ditunjukkan dengan tingginya

biaya persediaan yang dihasilkan

perusahaan, dibandingkan dengan sistem pengendalian menggunakan


metode MRP teknik EOQ dan POQ. Sedangkan dengan menggunakan
teknik LFL biaya persediaan yang akan ditanggung perusahaan mengalami
peningkatan sebagai akibat dari tingginya frekuensi pemesanan. Metode
MRP teknik POQ menghasilkan penghematan terbesar dibanding dengan
dengan kondisi aktual perusahaan saat ini, baik dari penghematan biaya
persediaan maupun dari biaya pembelian bahan baku.
3. Metode MRP teknik POQ dapat dijadikan model alternatif dalam sistem
pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya
persediaan bahan baku. Penghematan terhadap biaya persediaan

perusahaan adalah 41.3 persen dan 8.3 persen terhadap biaya pembelian
bahan baku kedelai, gula aren, gula kelapa, dan garam.
8.2

Saran

1. Metode MRP teknik POQ yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan


dapat direkomendasikan sebagai model alternatif dalam pengendalian
persediaan bahan baku perusahaan, dengan harapan dapat lebih
menghemat biaya persediaan, sehingga penghematan yang diperoleh
perusahaan, dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lain.
2. Perusahaan perlu memperhatikan kebutuhan bersih dari bahan baku,
sehingga persediaan bahan baku perusahaan dapat ditekan.

DAFTAR PUSTAKA
Assauri, S. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
BPS. 2007. Statistik Industri Besar dan Sedang Indonesia. BPS. Jakarta.
Buffa, E. S dan Sarin, R. K. 1999. Manajemen Operasi dan Produksi Moderen.
Jilid 1. Bina Rupa aksara. Jakarta.
Gaspersz, V. 2002. Production Planning and Inventory Control Berdasarkan
Pendekatan Sistem Integrasi MRP II dan JIT Menuju Manufakturing 21.
Edisi Revisi dan Perluasan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Handoko, T. H. 1997. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi ke1. BPFE. Yogyakarta.
Heizer, J and Render. 2005. Operation Management (Manajemen Operasi). Edisi
ke-7.Salemba Empat. Jakarta.
Herjanto, Eddy. 1999. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi kedua. Grasindo.
Jakarta.
Indrajit, R.E. dan R. Djokopranoto. 2005. Manajemen Persediaan. Grasindo.
Jakarta.
Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran. Edisi Revisi jilid 1. Prenhalindo. Jakarta.
Munawar, S. 2006. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di PT. Maja
Sari Bakery, Majalengka. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Okristian, 1999. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di PT. Purnama
Bakery. Jakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ramdhan, Asep M. 2002. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Produk Kecap
Untuk Pengembangan Perusahaan (Studi Kasus di Perusahaan kecap
Segitiga, Kabupaten Majalengka). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rangkuti, F. 2002. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. PT. Raja
Grafindo persada. Jakarta.
Santoso, B. 1994. Kecap dan Tauco Kedelai. Kanisius. Jakarta.

Situs Bank Indonesia. 2008. Tingkat Suku Bunga Pinjaman Berjangka Rrupiah
Menurut
Kelompok
Bank.
Bank
Umum-12
Bulan.
http://www.bi.go.id/utama/datastatistik/.(20 Maret 2008)
Situs BPS. 2007. Produksi Tanaman Sekunder Indonesia tahun 2003-2007.
http;/www. BPS.go.id/agriculture. (21 Desember 2007)
Widyastuti, M. 2001. Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu Kental
Manis (studi kasus : PT. Indolakto, Sukabumi). Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu
Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Lampiran 1. Daftar Produk Kecap Produksi Perusahaan Kecap Segitiga


Pada Bulan Maret 2008
No

Kode

Nama Barang

Unit

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

01-001
01-002
01-003
01-004
01-005
01-006
01-007
01-008
01-009
01-010
01-011
01-013
01-015
01-033
01-034
01-035
01-040
01-041
01-042
01-043
01-044

Kecap Segitiga Asin 140 ml


Kecap Segitiga Asin 250 ml
Kecap Segitiga Asin 300 ml
Kecap Segitiga Asin 500 ml
Kecap Segitiga Asin 600 ml
Kecap Segitiga Manis Sedang 140 ml
Kecap Segitiga Manis Sedang 250 ml
Kecap Segitiga Manis Sedang 300 ml
Kecap Segitiga Manis Sedang 500 ml
Kecap Segitiga Manis Sedang 600 ml
Kecap Segitiga Manis 140 ml
Kecap Segitiga Manis 300 ml
Kecap Segitiga Manis 600 ml
Kecap Segitiga Asin 300 ml Plastik
Kecap Segitiga M.S 300 ml Plastik
Kecap Segitiga Manis 300 ml Plastik
Sachet Segitiga Asin 15 ml
Sachet Segitiga Manis Sedang 15 ml
Sachet Segitiga Manis 15 ml
Sachet Samara Manis Sedang 15 ml
Sachet Samara Manis 15 ml

Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pcs
Pak
Pak
Pak
Pak
Pak

HARGA
Pabrik (Rp)
2 400.00
2800.00
5 250.00
5 600.00
10 000.00
2 650.00
3 400.00
5 500.00
6 800.00
10 500.00
2 900.00
5 750.00
11 000.00
5 000.00
5 300.00
5 700.00
3 500.00
3 500.00
4 000.00
3 000.00
3 000.00

Lampiran 2. Daftar Pembelian Bahan Baku Perusahaan Periode Maret


2007-Februari 2008 (kg)
Bulan
Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Februari 2008
Total

Kedelai
600
1 000
8 223
8 223
3 429
6 000
0
6 488
0
5 010
5 015
2 000
45 988

Gula Aren
4 613
10 480
8 128
10 014
11 949
16 368
17 469
11 697
3 471
2 000
11 697
0
107 886

Gula Kelapa
5 239
6 888.5
8 061
4 313
0
4 824
2 980
5 200
14 466
14 006
15 259
16 158
97 394.5

Garam
8 023
0
0
8 078
0
6 941
0
7 658
0
2 600
8 560
0
41 860

Lampiran 3. Diagram Alir Proses Pembuatan Kecap Perusahaan Kecap


Segitiga 2008

Pencucian Kedelai
Penirisan I
Perebusan I
Penirisan II
Penjemuran I

Fermentasi Jamur
Penjemuran II
Pembuatan air Garam
Pembelengan

Penyaringan I

Perebusan II
Penyaringan II

Pemasakan I

Pamasakan II
Penyaringan

Ampas Kecap

Pemasakan Gula

Lampiran 4. Struktur Organisasi Perusahaan Kecap Segitiga


Direktur

Wakil Direktur

Marketing

Lampiran 5.

Produksi

Keuangan

Suku Bunga Simpanan Berjangka Rupiah Bank Umum


(12 Bulan) Maret 2007-Februari 2008 (%)

Bulan

Suku Bunga Simpanan Berjangka


9.00
9.00
8.75
8.50
8.25
8.25
8.25
8.25
8.25
8.00
8.00
8.00
8.38

Maret 2007
April 2007
Mei 2007
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Februari 2008
Rata-rata

Lampiran 6. Data Penjualan Perusahaan Kecap Segitiga


Tahun

2002
2003
2004
2005
2006

Penjualan (Botol)
353 210

358 712
376 122
426 974
497 851
Pertumbuhan Rata-rata

Pertumbuhan (%)

1.6
4.9
13.5
16.6
7.3

Lampiran 7. Perhitungan EOQ Bahan Baku

EOQ Kedelai = 2 SD
H

2 x 261500 x865.01
8.21

= 7 423.18kg

2 SD =
H

2 x111500 x1862.96
8.63

= 6 938.23 kg

EOQ Gula Kelapa = 2 SD = 2 x109500 x1752.73


H
7.94

= 6 952.91 kg

EOQ Gula Aren =

EOQ Garam =

2 SD
H

2 x109500 x716.35
0.74

= 14 560.25 kg

Lampiran 8. Perhitungan POQ Bahan Baku

POQ Kedelai

= EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode)


= 7 423.18 kg / 865.01
= 9 Periode

POQ Gula Aren

= EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode)


= 6 938.23 / 1 862.96
= 4 Periode

POQ Gula Kelapa

= EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode)


= 6 952.91 / 1 752.73
= 4 Periode

POQ Garam

= EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode)


= 14 560.25 / 716.35
= 20 Periode

Lampiran 9. MRP dengan Teknik LFL untuk Bahan Baku Kedelai

Lead Time 1 Minggu


Periode (Minggu)

Komponen
1

10

11

12

13

280

300

250

330

200

250

250

300

437

450

420

430

448

1905

1605

1355

1025

825

575

325

25

Kebutuhan bersih

412

450

420

430

448

Rencana Penerimaan Pesanan

412

450

420

430

448

450

420

430

448

950

Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan 2 185 kg

Rencana pelaksanaan Pesanan


Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan

412
14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

950

1250

1350

1861

1500

1500

1320

1961

1069

1100

1065

1065

1030

Kebutuhan bersih

950

1250

1350

1861

1500

1500

1320

1961

1069

1100

1065

1065

1030

Rencana Penerimaan Pesanan

950

1250

1350

1861

1500

1500

1320

1961

1069

1100

1065

1065

1030

Rencana pelaksanaan Pesanan

1250

1350

1861

1500

1500

1320

1961

1069

1100

1065

1065

1030

1250

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

Kebutuhan Kotor

1250

1600

1400

1474

433

450

425

435

423

1000

1400

1560

1449

Persediaan di tangan
Kebutuhan bersih

1250

1600

1400

1474

433

450

425

435

423

1000

1400

1560

1449

Rencana Penerimaan Pesanan

1250

1600

1400

1474

433

450

425

435

423

1000

1400

1560

1449

Rencana pelaksnaan Pesanan

1600

1400

1474

433

450

425

435

423

1000

1400

1560

1449

1100

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

1100

950

900

996

850

835

849

849

862

645

550

450

481

Kebutuhan bersih

1100

950

900

996

850

835

849

849

862

645

550

450

481

Rencana Penerimaan Pesanan

1100

950

900

996

850

835

849

849

862

645

550

450

481

Rencana pelaksnaan Pesanan

950

900

996

850

835

849

849

862

645

550

450

481

Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan

Lampiran 10 . Persediaan di Tangan, Pembelian dan Frekuensi Pembelian


Komponen
Persediaan di tangan (kg)
Frekuensi pemesanan (kali)
Pembelian (kg)

Total
7 640
44
42 797

Lampiran 11 .MRP dengan Teknik EOQ untuk Bahan Baku Kedelai

Lead Time 1 Minggu


Periode (Minggu)

Jenis Komponen
Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan 2185 kg

10

11

12

13

280

300

250

330

200

250

250

300

437

450

420

430

448

1905

1605

1355

1025

825

575

325

25

7011.18

6561.18

6141.18

5711.18

5263.18

Kebutuhan bersih

412

Rencana Penerimaan Pesanan

7423.18

Rencana pelaksnaan Pesanan


Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan

7423.18
14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

950

1250

1350

1861

1500

1500

1320

1961

1069

1100

1065

1065

1030

4313.18

3063.18

2063

202

6125.18

4625.18

3305.18

1694

625

6948.18

5883.18

4818.18

3788.18

37

38

39

Kebutuhan bersih
Rencana Penerimaan Pesanan
Rencana pelaksnaan Pesanan

Persediaan di tangan

28

30

31

32

34

35

36

1600

1400

1474

433

450

425

435

423

1000

1400

1560

1449

938.18

6961.36

5487.36

5054.36

4604.36

4179.36

3744.36

3321.36

2321.36

921.36

6784.54

5335.54

461.82

638.64

7423.18

Rencana pelaksnaan Pesanan

7423.18

7423.18
40

41

7423.18
42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

1100

950

900

996

850

835

849

849

862

645

550

450

481

4235.54

3285.54

2385.54

1389.54

539.54

7127.72

6278.72

5429.72

4567.72

3922.72

3372.72

2922.72

2441.72

Kebutuhan bersih
Rencana Penerimaan Pesanan

7423.18

Rencana pelaksnaan Pesanan

7423.18

Lampiran 12. Persediaan di Tangan, Pembelian dan Frekuensi Pembelian


Komponen
Persediaan di tangan (kg)
Frekuensi pemesanan (Kali)
Pembelian (kg)

33

1250

Rencana Penerimaan Pesanan

Persediaan di tangan

29

7423.18

2538.18

Kebutuhan bersih

Kebutuhan Kotor

475
7423.18

7423.18
27

Kebutuhan Kotor

1298
7423.18

Total
185 873
6
44 539.1

Lampiran 13. MRP dengan Teknik POQ untuk Bahan Baku Kedelai

Lead Time 1 Minggu


Periode (Minggu)
Jenis Komponen
Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan 2 185 kg

10

11

12

13

280

300

250

330

200

250

250

300

437

450

420

430

448

1905

1605

1355

1025

825

575

325

25

7184

6734

6314

5884

5436

Kebutuhan bersih

412

Rencana Penerimaan Pesanan

7596

Rencana pelaksnaan Pesanan


Kebutuhan Kotor
Persediaan di tangan

7596
14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

950

1250

1350

1861

1500

1500

1320

1961

1069

1100

1065

1065

1030

4486

3236

1886

25

10135

8635

7315

5354

4285

3185

2120

1055

25

Kebutuhan bersih

1475

Rencana Penerimaan Pesanan

11610

Rencana pelaksnaan Pesanan

11610

7890

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

Kebutuhan Kotor

1250

1600

1400

1474

433

450

425

435

423

1000

1400

1560

1449

Persediaan di tangan

6665

5065

3665

2191

1758

1308

883

448

25

9230

7830

6270

4821

49

50

51

52

Kebutuhan bersih
Rencana Penerimaan Pesanan

975
7890

10205

Rencana pelaksnaan Pesanan

10205
40

41

42

43

44

45

46

47

48

Kebutuhan Kotor

1100

950

900

996

850

835

849

849

862

645

550

450

481

Persediaan di tangan

3721

2771

1871

875

25

4711

3862

3013

2151

1506

956

506

25

Kebutuhan bersih

810

Rencana Penerimaan Pesanan

5521

Rencana pelaksnaan Pesanan

5521

Lampiran 14. Persediaan di Tangan, Pembelian dan Frekuensi Pembelian


Komponen
Persediaan di tangan (kg)
Frekuensi pemesanan (kali)
Pembelian (kg)

Total
167 006
5
42 822