Você está na página 1de 29

LAPORAN OBSERVASI

PRAKTIKUM PENGUKURAN DEBIT AIR SALURAN IRIGASI

Disusun Oleh:

Rizqan Alfian

(20140210146)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Air sangat dibutuhkan oleh setiap tanaman. Kebutuhan air untuk setiap luasan
lahan berbeda-beda. Air merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting
bagi tanaman, karena sebagian besar penyusun tubuh tanaman terdiri dari air.
Selain itu banyak proses pada tanaman yang membutuhkan air, oleh karena itu
jika tanaman kekurangan air akan menyebabkan tanaman layu bahkan mati. Untuk
menghindari hal tersebut maka diperlukan saluran irigasi jika kekurangan air atau
drainase untuk meminimalisir kelebihan air (Direktorat Jenderal Pengairan. 1986).
Irigasi adalah penambahan kekurangan kadar air tanah secara buatan dengan
cara menyalurkan air yang perlu untuk pertumbuhan tanaman ke tanah yang
diolah dan mendistribusikannya secara sistematis. Sebaliknya pemberian air yang
berlebih pada tanah yang diolah itu akan merusakkan tanaman. Jika terjadi curah
hujan yang lama yang disebabkan oleh curah hujan yang deras, maka tanah yang
diolah itu akan tergenang dan dibanjiri air, yang kadang-kadang mengakibatkan
kerusakan yang banyak. Daerah-daerah yang rendah yang kurang baik
drainasenya, selalu akan tergenang air. Pada daerah-daerah demikian, pelapukan
dan dekomposisi tanah tidak berkembang, sehingga daerah itu tidak akan menjadi
lingkungan yang baik untuk pertumbuhan padi.
Banyaknya air yang diperlukan untuk berbagai tanaman, masing-masing
daerah dan masing-masing musim adalah berlainan. Hal ini tergantung dari
beberapa faktor antara lain jenis tanaman, sifat tanah, keadaan tanah, cara
pemberian air, pengelolaan tanah, iklim, waktu tanam, kondisi saluran dan
bangunan, serta tujuan pemberian air. Oleh karena itu diperlukan perhitungan
yang tepat agar pemberian air pada lahan tidak melebihi yang dibutuhkan tanaman
untuk proses pertumbuhan dan perkembangan.
B. Tujuan
Untuk mengetahui kecepatan debit air sungai dengan berbagai luasan
penampang yang berbeda-beda dan untuk mengetahui kecukupan air bagi luasan
lahan.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Debit Air
Menurut Asdak (2002) debit adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air)
yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam
satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/dt).
Pengukuran debit air sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus air. Kecepatan arus
yang berkaitan dengan pengukuran debir air ditentukan oleh kecepatan gradien
permukaan, tingkat kekasaran, kedalaman, serta lebarnya perairan.
Data debit atau aliran sungai merupakan informasi yang paling penting bagi
pengelola sumberdaya air (Bazak. 1999). Debit puncak (banjir) diperlukan untuk
merancang bangunan pengendali banjir. Sementara data debit aliran kecil
diperlukan untuk perencanaan alokasi (pemanfaatan) air untuk berbagai keperluan
terutama pada musim kemarau panjang. Debit rata-rata tahunan dapat
memberikan gambaran potensi sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan dari
suatu daerah aliran sungai.
Menurut Harsoyo (1977) Metode pengukuran debit dilakukan dengan dua
metode, yaitu pengukuran debit secara langsung dan pengukuran debit secara
tidak langsung. Dimana pengukuran ini dilakukan dengan alat dan cara yang telah
ditetapkan sebelumnya.
a. Pengukuran debit secara langsung (debit sesaat) :
Dalam pengukuran debit air secara langsung digunakan beberapa alat
pengukur yang langsung dapat menunjukkan ketersediaan air dalam pengairan
bagi penyaluran melalui jaringan-jaringan yang telah ada atau telah dibangun.
Dalam hal ini berbagai alat pengukur yang telah biasa digunakan yaitu :
1. Alat Ukur Pintu Romin
Ambang dari pintu Romin dalam pelaksanaan pengukuran dapat di naik
turunkan, yaitu dengan bantuan alat pengangkat. Pengukuran debit air dengan
pintu ukur romijin yaitu dengan menggunakan rumus:
Q= 1,71 b h3/2
Keterangan:
Q

= debit air

= lebar ambang

= tinggi permukaan air

2. Sekat Ukur Thompson


Berbentuk segitiga sama kaki dengan sudut 90o dapat dipindah-pindahkan
karena bentuknya sangat sederhana (potable), lazim digunakan untuk
mengukur debit air yang relatif kecil. Penggunaan dengan alat ini dengan
memperhatikan rumus sebagai berikut:
Q = 0,0138
Keterangan:
Q

= debit air

= tinggi permukaan air

3. Alat Ukur Parshall Flume


Alat ukur tipe ini ditentukan oleh lebar dari bagian penyempitan, yang
artinya debit air diukur berdasarkan mengalirnya air melalui bagian yang
menyempit (tenggorokan) dengan bagian dasar yang direndahkan.
4. Bangunan Ukur Cipoletti
Prinsip kerja bangunan ukur Cipoletti di saluran terbuka adalah menciptakan
aliran kritis. Pada aliran kritis, energi spesifik pada nilai minimum sehingga
ada hubungan tunggal antara head dengan debit. Dengan kata lain Q hanya
merupakan fungsi H saja. Pada umumnya hubungan H dengan Q dapat
dinyatakan dengan:
Q = k . H3./2 . b
Keterangan:
Q

= debit air

= head

k dan n = konstanta ,(0/0186)


Besarnya konstanta k dan n ditentukan dari turunan pertama persamaan
energi pada penampang saluran yang bersangkutan. Pada praktikum ini
besarnya konstanta k dan n ditentukan dengan membuat serangkaian hubungan
H dengan Q yang apabila diplotkan pada grafik akan diperoleh garis hubungan
H-Q yang paling sesuai untuk masing-masing jenis bangunan ukur.
Dalam pelaksanaan pengukuran-pengukuran debit air secara langsung
dengan pintu ukur romijin, sekat ukur tipe cipoletti dan sekat ukur tipe

Thompson biasanya lebih mudah karena untuk itu dapat memperhatikan


daftar debit air yang tersedia.
b. Pengukuran debit air secara tidak langsung
1. Pelampung
Menurut Harsoyo (1977) terdapat dua tipe pelampung yang digunakan
yaitu: (1) pelampung permukaan, dan (2) pelampung tangkai. Tipe pelampung
tangkai lebih teliti dibandingkan tipe pelampung permukaan. Pada permukaan
debit dengan pelampung dipilih bagian sungai yang lurus dan seragam, kondisi
aliran seragam dengan pergolakannya seminim mungkin. Pengukuran
dilakukan pada saat tidak ada angin. Pada bentang terpilih (jarak tergantung
pada kecepatan aliran, waktu yang ditempuh pelampung untuk jarak tersebut
tidak boleh lebih dari 20 detik) paling sedikit lebih panjang dibanding lebar
aliran. Kecepatan aliran permukaan ditentukan berdasarkan rata-rata yang
diperlukan pelampung menempuh jarak tersebut. Sedang kecepatan rata-rata
didekati dengan pengukuran kecepatan permukaan dengan suatu koefisien yang
besarnya tergantung dari perbandingan antara lebar dan kedalaman air.
Koefisien kecepatan pengaliran dari pelampung permukaan sebagai berikut :
B/H

10

15

20

30

40

Vm/Vs

0,98

0,95

0,92

0,90

0,87

0,85

Keterangan:
B

= lebar permukaan aliran

= kedalaman air

Vm

= kecepatan rata rata

Vs

= kecepatan pada permukaan


Dalam pelepasan pelampung harus diingat bahwa pada waktu pelepasannya,

pelampung tidak stabil oleh karena itu perhitungan kecepatan tidak dapat
dilakukan pada saat pelampung baru dilepaskan, keadaan stabil akan dicapai 5
detik sesudah pelepasannya. Pada keadaan pelampung stabil baru dapat dimulai
pengukuran kecepatannya. Debit aliran diperhitungkan berdasarkan kecepatan
rata-rata kali luas penampang. Pada pengukuran dengan pelampung,
dibutuhkan paling sedikit 2 penampang melintang. Dari 2 pengukuran

penampang melintang ini dicari penampang melintang rata-ratanya, dengan


jangka garis tengah lebar permukaan air kedua penampang melintang yang
diukur pada waktu bersama-sama disusun berimpitan, penampang lintang ratarata didapat dengan menentukan titik-titik pertengahan garis-garis horizontal
dan vertikal dari penampang itu, jika terdapat tiga penampang melintang, maka
mula-mula dibuat penampang melintang rata-rata antara penampang melintang
rata-rata yang diperoleh dari penampang lintang teratas dan terbawah. Debit
aliran kecepatan rata-rata:
Q = C . Vp Ap
Keterangan:
Q

debit aliran

koefisien yang tergantung dari macam pelampung yang digunakan

Vp

kecepatan rata rata pelampung

Ap

luas aliran rata rata

2. Pengukuran dengan Current meter


Alat ini terdiri dari flow detecting unit dan counter unit. Aliran yang
diterima detecting unit akan terbaca pada counter unit, yang terbaca pada
counter unit dapat merupakan jumlah putaran dari propeller maupun langsung
menunjukkan kecepatan aliran, aliran dihitung terlebih dahulu dengan
memasukkan dalam rumus yang sudah dibuat oleh pembuat alat untuk tiap
tiap propeller. Pada jenis yang menunjukkan langsung, kecepatan aliran yang
sebenarnya diperoleh dengan mengalihkan factor koreksi yang dilengkapi pada
masing-masing alat bersangkutan. Propeler pada detecting unit dapat berupa :
mangkok, bilah dan sekrup. Bentuk dan ukuran propeler ini berkaitan dengan
besar kecilnya aliran yang diukur.
Debit aliran dihitung dari rumus :
Q = V x A
dimana :
V = Kecepatang aliran
A = Luas penampang
Dengan demikian dalam pengukuran tersebut disamping harus mengukur
kecepatan aliran, diukur pula luas penampangnya. Distribusi kecepatan

untuk tiap bagian pada saluran tidak sama, distribusi kecepatan tergantung
pada :

Bentuk Saluran

Kekasaran Saluran dan

Kondisi Kelurusan Saluran

Dalam penggunaan current meter pengetahuan mengenai distribusi


kecepatan ini amat penting. Hal ini bertalian dengan penentuan kecepatan
aliran yang dapat dianggap mewakili rata-rata kecepatan pada bidang
tersebut. Dari hasil penelitian United Stated Geological Survey aliran air
di saluran (stream) dan sungai mempunyai karakteristik distribusi kecepatan
sebagai berikut:
a. Kurva distribusi kecepatan pada penampang melintang berbentuk
parabolic.
b. Lokasi kecepatan maksimum berada antara 0,05 s/d 0,25 h kedalam air
dihitung dari permukaan aliran.
c. Kecepatan rata-rata berada 0,6 kedalaman dibawah permukaan air.
d. Kecepatan rata-rata 85 % kecepatan permukaan.
e. Untuk memperoleh ketelitian yang lebih besar dilakukan pengukuran
secara mendetail kearah vertical dengan menggunakan integrasi dari
pengukuran tersebut dapat dihitung kecepatan rata-ratanya. Dalam
pelaksanaan kecepatan rata-rata nya.
Pengukuran luas penampang aliran dilakukan dengan membuat profil
penampang melintangnya dengan cara mengadakan pengukuran kearah
horizontal (lebar aliran) dan ke arah vertical (kedalamam aliran).Luas aliran
merupakan jumlah luas tiap bagian (segmen) dari profil yang terbuat pada
tiap bagian tersebut di ukur kecepatan alirannya.
Debit aliran di segmen = (Qi) = Ai x Vi
Keterangan :

Qi : Debit aliran segmen i


Ai : Luas aliran pada segmen i
Vi : Kecepatan aliran pada segmen in

Untuk dapat menentukan debit air maka harus mengetahui satuan ukuran
volume dan satuan ukuran waktu terlebih dahulu, karena debit air berkaitan erat
dengan satuan volume dan satuan waktu.
Perhatikan konversi satuan waktu berikut :
1 jam = 60 menit, 1 menit = 60 detik, 1 jam = 3.600 detik, 1 menit = 1/60 jam, 1
detik = 1/60 detik, 1 jam = 1/3.600 detik.
Konversi satuan volume :
1 liter = 1 dm = 1.000 cm = 1.000.000 mm = 0.001 m
1 cc = 1 ml = 1 cm
Persamaan debit air yang diperoleh adalah :
Q = A K U m3/detik
Keterangan :
Q = debit aliran (m3/detik)
U = kecepatan pelampung
K = koefisien pelampung
A = luas penampang basah

B. Irigasi
Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawah tanah,
irigasi pompa dan irigasi rawa (Susanto. 2006). Semua proses kehidupan dan
kejadian di dalam tanah yang merupakan tempat media pertumbuhan tanaman
hanya dapat terjadi apabila ada air, baik bertindak sebagai pelaku (subjek) atau
air sebagai media (objek). Proses-proses utama yang menciptakan kesuburan
tanah atau sebaliknya yang mendorong degradasi tanah hanya dapat berlangsung
apabila terdapat kehadiran air. Oleh karena itu, tepat kalau dikatakan air
merupakan sumber kehidupan (Bustomi. 2000).
Irigasi berarti mengalirkan air secara buatan dari sumber air yang tersedia
kepada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Dengan demikian
tujuan irigasi adalah mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan tanaman
pada saat persediaan lengas tanah tidak mencukupi untuk mendukung
pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara normal (Lenka.

1991). Pemberian air irigasi yang efisien selain dipengaruhi oleh tatacara aplikasi,
juga ditentukan oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi air tersedia yang
dibutuhkan tanaman (sudjarwadi. 1990).
Adapun fungsi irigasi yaitu :
a.

memasok kebutuhan air tanaman

b.

menjamin ketersediaan air apabila terjadi betatan

c.

menurunkan suhu tanah

d.

mengurangi kerusakan akibat frost (pembekuan)

e.

melunakkan lapis keras pada saat pengolahan tanah

Tujuan irigasi yaitu sebagai berikut :


a.

Irigasi bertujuan untuk membantu para petani dalam mengolah lahan


pertaniannya, terutama bagi para petani di pedesaan yang sering
kekurangan air.

b.

Meningkatkan produksi pangan terutama beras

c.

Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan air irigasi

d.

Meningkatkan intensitas tanam

e.

Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat desa dalam pembangunan


jaringan irigasi perdesaan.

Irigasi sangat bermanfaat bagi pertanian, terutama di pedesaan. Dengan


irigasi, sawah dapat digarap tiap tahunnya, dapat dipergunakan untuk peternakan,
dan keperluan lain yang bermanfaat.
Macam-macam irigasi, yaitu :
a.

Irigasi Permukaan
Irigasi Permukaan terjadi di mana air dialirkan pada permukaan lahan. Di
sini dikenal alur primer, sekunder dan tersier. Pengaturan air ini dilakukan
dengan pintu air. Prosesnya adalah gravitasi, tanah yang tinggi akan
mendapat air lebih dulu.

b.

Irigasi curah
Irigasi curah atau siraman (sprinkle) menggunakan tekanan untuk
membentuk tetesan air yang mirip hujan ke permukaan lahan pertanian.
Disamping untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Sistem ini dapat pula
digunakan

untuk

mencegah

pembekuan,

mengurangi

erosi

angin,

memberikan pupuk dan lain-lain. Pada irigasi curah air dialirkan dari sumber
melalui jaringan pipa yang disebut mainline dan sub-mainlen dan ke beberapa
lateral yang masing-masing mempunyai beberapa mata pencurah (sprinkler)
(Prastowo, 1995).
c.

Irigasi pompa
Pompa Irigasi digunakan bila Muka Air berada jauh dari lahan pertanian
yang diusahakan. Menaikan Muka air selain dengan membangun konstruksi
bagunan bendung dan mengalirkannya melalui saluran memang sangat tepat
namun pembiayaan pembangunan juga sangat tinggi. Penggunaan pompapompa irigasi dapat mengatasi hal tersebut. Namun peyediaan dan
pengoperasian pompa mekanis berbahan bakar minyak juga memerlukan
biaya operasi dan pemeliharaan yang tinggi pula dan mereka belum tahu
bagaimana menggunakan mesin-mesin penggerak untuk pompa-pompa irigasi
dengan baik, apalagi memelihara mesin-mesin itu supaya tetap dapat terawat
dengan baik. Maka penggunaan pompa irigasi sederhana tanpa menggunakan
BBM dapat menjadi alternatifnya.

d.

Irigasi tetes
Irigasi tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan
membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui
permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa dan
emitor.
Kegiatan menyiram tanaman di musim kemarau bagi sebagian petani
tradisional menjadi rutinitas yang cukup merepotkan. Mulai dari mengambil
air dari sumbernya, mengangkutnya ke kebun, hingga menyiramkannya satu
per satu pada setiap tanaman, merupakan aktivitas yang melelahkan. Namun
bagi petani yang "melek" teknologi kegiatan menyiram tanaman menjadi hal
yang mudah dan praktis, tinggal putar kran maka semua tanaman pun akan
tersiram secara merata. Salah satu cara mempermudah rutinitas penyiraman
tersebut adalah dengan sistem irigasi tetes (drip irrigation). Sistem irigasi ini
menggunakan air sedikit sekali yang langsung mengalirkan air ke tanamantanaman secara terus menerus sesuai kebutuhan. Irigasi jenis ini terbukti
berhasil menyuburkan tanaman di daerah pertanian Israel yang kering.

10

Prinsip dasar irigasi tetes adalah memompa air dan mengalirkannya ke


tanaman dengan perantaraan pipa-pipa yang dibocorkan tiap 15 cm
(tergantung jarak antartanaman). Penyiraman dengan sistem ini biasanya
dilakukan dua kali sehari pagi dan petang selama 10 menit. Sistem tekanan
air rendah ini menyampaikan air secara lambat dan akurat pada akar-akar
tanaman, tetes demi tetes.
Keuntungannya dengan sistem ini sedikit menggunakan air, air tidak
terbuang percuma, dan penguapan pun bisa diminimalisir. Irigasi tetes
tampaknya bisa dijadikan pilihan cerdas untuk mengatasi masalah kekeringan
atau sedikitnya persediaan air di lahan-lahan kering

III.

BAHAN dan ALAT

A. Waktu dan Tempat


Observasi pengukuran debit air saluran irigasi dilakukan pada tanggal 19
Desember 2015 pada pukul 07:30 pagi sampai dengan pukul 11:30 siang.
Observasi ini dimulai dari tempat pemberhentian pertama yaitu Bendungan
Kamijoro yang berada Di Pedukuhan Kamijoro, Desa Sendangsari, Kecamatan
Pajangan, Kabupaten Bantul, D.I.Yogyakarta, Kemudian dilanjutkan ke tempat
kedua yaitu bendungan Makam Bulan. Pemberhentian ketiga yaitu Bendungan
Pasar Pijenan yang terletak di Pedukuhan Gesikan, Desa Wijirejo, Kecamatan
Pandak, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta dan tempat pemberhentian terakhir
yaitu Bendungan Gejlik Pintu yang merupakan saluran sekunder dari Bendungan
Pijenan.
B. Bahan dan Alat
1. Stop Watch
2. Roll Meter
3. Botol Pelampung
4. Alat tulis (Pena/pensil)
5. Alat hitung (kalkulator)
6. Buku
7. Curent Meter
C. Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam observasi berupa praktikum pengukuran
debit air saluran air irigasi yang dilakukan pada dua tempat yaitu saluran irigasi di
bendungan Pasar Pijenan sebagai saluran induk dan saluran air irigasi Gejlik pitu
sebgai saluran sekunder dengan menggunakan dua metode yaitu dengan
menggunakan alat current meter dan pelampung dari botol yang sebelumnya
ditentukan jarak alirannya. Cara menggunakan current meter yaitu dengan
mencelupkan batang besi yang terdapat baling-baling sehingga didapatkan
kecepatan alirannya. Sedangkan dengan menggunakan botol pelampung yaitu
dengan membiarkan botol pelampung bergerak yang mengikuti kecepatan aliran
sungai dalam kurun waktu tertentu. Data yang diperoleh yaitu bentuk penampang
irigasi, lebar penampang, ketinggain penampang basah, ketinggian penampang

11

12

kering, total ketinggian saluran, luas penampang basah, waktu putaran current
meter, jumlah putaran current meter, kecepatan aliran dari alat current meter,
panjang sungai yang ditentukan dan waktu. Sehingga dengan menggunakan rumus
maka didapatkan debit air yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air
untuk penanaman oleh petani.
A. Prosedur kerja
Dengan menggunakan currentmeter:
1. Batang besi yang tedapat baling-balingnya dicelupkan diair irigasi yang
akan dihitung debitnya, pastikan baling-baling tercelup air dan bergerak,
2. Baling-baling akan bergerak dan currentmeter akan menunjukkan data
waktu berputar, jumlah putaran dan kecepatan aliran, cata masing data,
3. Mengukur lebar sungai dan kedalaman sungai dengan menggunakan roll
meter,
4. Menghitung luas penampang dan debit irigasi.
Dengan menggunakan cara manual atau pelampung:
1. Memilih saluran irigasi terbuka dengan penampang yang lurus,
2. Menentukan jarak aliran dengan menggunakan meteran,
3. Mengisi air pada botol dengan ukuran 250 ml kira-kira 1/8 dari isi botol
4. Setelah mengisi air, masukkan botol kedalam saluran,
5. Membiarkan botol mengalir mengikuti arus air,
6. Saat botol dititik awal dari jarak, maka mulai pula menghitung waktu
botol mengalir dengan menggunakan stopwatch,
7. Menghentikan waktu stopwatch saat botol dititik akhir,
8. Mengulangi prosedur kerja nomor 5-7 sebanyak tiga kali agar didapatkan
waktu yang konstan,
9. Kemudian

waktu

dirata-rata,

menghitung

luas

penampang

menghitung debit air sesuai dengan data yang didapatkan.

dan

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perhitungan
Perhitungan debit air dilakukan pada saluran primer Pijenan dan saluran
sekunder pijenan (Gejlig Pitu) dengan menggunakan karam meter dan manual dengan
botol pelampung.
1. Saluran Pijenan (Primer)
Mengairi

: 2300,5 hektar
2,7 meter

2 meter

1,5 meter

Bentuk penampang irigasi

: persegi panjang

Lebar penampang

: 2,7m

Ketinggian penampang basah : 150 cm atau 1,5 m


Ketinggian penampang kering: 50 cm
Total ketinggian saluran

:2m

Luas penampang basah

: ketinggian penampang basah x lebar


= 1,5m x 2,7m = 4,05 m2

Alat ukur

: current meter

Waktu putaran current meter : 1 menit (60 detik)


Jumlah putaran current meter : 1922 kali
Kecepatan aliran

: 1,8507 m/menit

Debit air
Rumus debit aliran dengan pengukuran menggunakan Current meter :
Q=V.A
Keterangan:
V = Kecepatang aliran (m/s)

13

14

A = Luas penampang (m2)


Debit = Kecepatan aliran x Luas penampang basah
=
=
=
= 0,125 m3/ detik
= 125,0 lt/detik
Jadi, Saluran Induk Pijenan digunakan untuk mengairi 2300,5 Ha sawah, maka
saluran tersebut dapat mengairi sawah sebanyak

125,0 lt/detik : 2300,5 Ha =

0,0543lt/detik/Ha.

2. Saluran Gejlig Pitu; SalSek (Saluran Sekunder) Pijenan Kanan


Mengairi

: 625 hektar
2 meter

1,2 meter 0,9 meter

Bentuk penampang irigasi

: persegi panjang

Lebar penampang

:2m

Ketinggian penampang basah : 90 cm atau 0,9 m


Ketinggian penampang kering: 30 cm atau 0,3 m
Total ketinggian saluran

: 1,2 m

Luas penampang basah

: ketinggian penampang basah x lebar


= 0,9 m x 2 m = 1,8 m2

Alat ukur

: current meter

Waktu putaran current meter : 5 detik


Jumlah putaran current meter : 0,6 putaran
Kecepatan aliran

: 0,0926 m/detik

15

Debit air
Rumus debit aliran dengan pengukuran menggunakan Current meter :

Q=V.A

Keterangan :
V = Kecepatang aliran (m/s)
A = Luas penampang (m2)
Debit = Kecepatan aliran x Luas penampang basah
= 0,0926 m/detik x 1,8 m2
= 0,16668 m3/ detik
= 166,68 lt / detik
Alat ukur

: manual dengan menggunakan pelampung botol dan meteran

Botol Pelampung

Aliran sungai

Titik awal

15 meter

titik akhir

Panjang sungai yang ditentukan: 15 meter


Waktu pelampung bergerak
T1

= 24,6 detik,

T2

= 24,5 detik,

T3

= 22,6 detik,

Rerata T = 71,7 detik / 3


= 23,9 detik
Nilai

= Bagian botol aqua yang tercelup air : penampang basah


= 10 cm : 90 cm = 0,11

Nilai Konstanta Pelampung (C)

= 1 (0,116

0,1

= 1 (0,116. 0,94. 0,1)

16

= 1 0,0109
= 0,989
Debit air
Rumus debit aliran dengan pengukuran menggunakan pelampung (botol aqua
bekas) :
Q=CxVxA
Keterangan:
Q = debit aliran (detik)
C = Konstanta pelampung
V = kecepatan pelampung didapat dari rumus
V = S / t, yaitu jarak dibagi rata-rata waktu
A = luas penampang (m2)

Debit = {

} x konstanta

={

} x 0,989

={

} x 0,989

= 1, 129 m3/detik x 0,989


= 1,116 m3/detik
= 1116 lt/detik
Jadi, Saluran Sekunder Pijenan Kanan digunakan untuk mengairi 625 Ha sawah,
maka saluran tersebut dapat mengairi sawah yang dihitung dengan Current meter
166,68 lt / detik : 625 Ha = 0,266 lt/detik/Ha dan dengan pelampung sebanyak 1116
lt/detik : 625 Ha = 1,7856 lt/detik/Ha.

3. Saluran Gejlig Pitu; SalSek (Saluran Sekunder) Pijenan Tengah


Mengairi

: 324 ha
1,2 meter

1,2 meter 0,8 meter

17

Bentuk penampang Irigasi

: Persegi panjang

Lebar penampang

: 1,2 m

Ketinggian penampang basah : 80 cm atau 0,8 m


Ketinggian penampang kering: 40 cm atau 0,4 m
Total ketinggian saluran

: 1,2 m

Luas penampang basah

: Ketinggain penampang basah x lebar


= 0,8 m x 1 m = 0,8 m2

Alat ukur

: manual dengan menggunakan pelampung botol dan meteran

Botol Pelampung

Aliran sungai
Titik awal

10 meter

titik akhir

Panjang sungai yang ditentukan: 10 m


Waktu
T1

= 16,10 detik,

T2

= 14,95 detik,

T3

= 16,81 detik,

Rerata T= 47,86 detik / 3


=15,95 detik
Nilai

= Bagian botol aqua yang tercelup air : penampang basah


= 10 cm : 80 cm = 0,125

Nilai Konstanta Pelampung (C)

= 1 (0,116

]
0,1)

= 1 (0,116. 0,93. 0,1)


= 1 0,0107
= 0,989
Debit Air

18

Rumus debit aliran dengan pengukuran menggunakan pelampung (botol aqua


bekas) :
Q=CxVxA
Keterangan:
Q = debit aliran (detik)
C = Konstanta pelampung
V = kecepatan pelampung didapat dari rumus
V = S / t, yaitu jarak dibagi rata-rata waktu
A = luas penampang (m2)

Debit = {

} x konstanta

={

} x 0,989

={

} x 0,989

= 0,5015 m3/detik x 0,989


= 0,4959 m3/detik
= 495,9 lt/detik
Jadi, Saluran Sekunder Pijenan Tengah digunakan untuk mengairi 324 Ha
sawah, maka saluran tersebut dapat mengairi sawah sebanyak 495,9 lt/detik : 324 Ha =
1,530 lt/detik/Ha.
4. Saluran Gejlig Pitu; salsek (saluran Sekunder) pijenan Kiri
Bentuk penampang Irigasi

: Persegi panjang
3 meter

1,1 meter 0,5 meter

Lebar penampang

:3m

Ketinggian penampang basah : 50 cm atau 0,5 m


Ketinggian penampang kering: 60 cm atau 0,6 m

19

Total ketinggian saluran

: 1,1 m

Luas penampang basah

: Ketinggain penampang basah x lebar = 0,5 m x 3 m =


1,5 m2
: manual dengan menggunakan pelampung botol dan
meteran

Alat ukur

Botol Pelampung

Aliran sungai

Titik awal

15 meter

titik akhir

Panjang sungai yang ditentukan: 15 m


Waktu
T1= 21,73 detik,
T2= 23,78 detik,
T3= 22,07 detik,
Rerata T= 67,58 detik / 3
= 22,52 detik
Nilai

= Bagian botol pocari sweet yang tercelup air : penampang basah


= 5 cm : 50 cm = 0,1

Nilai Konstanta Pelampung (C)

= 1 (0,116

0,1)

= 1 (0,116. 0,948. 0,1)


= 1 0,0109
= 0,989
Debit Air
Rumus debit aliran dengan pengukuran menggunakan pelampung (botol aqua
bekas) :
Q=CxVxA
Keterangan:
Q = debit aliran (detik)

20

C = Konstanta pelampung
V = kecepatan pelampung didapat dari rumus
V = S / t, yaitu jarak dibagi rata-rata waktu
A = luas penampang (m2)

Debit = {

} x konstanta

={
={

} x 0,989
} x 0,989

= 0,9991 m3/detik x 0,989


= 0,9881 m3/detik
= 988,1 lt/detik
B. Pembahasan
Pada observasi dalam rangka praktikum perhitungan debit air irigasi yang
dilakukan pada tanggal 19 Desember 2015, yang dilakukan di beberapa bendungan
yaitu, Bendungan Kamijoro, Bendungan Makam Bulan, Bendungan Pasar Pijenan dan
Bendungan Gejlik Pitu telah di dapatkan data perhitungan saluran air irigasi dari dua
bendungan yaitu bendungan saluran utama berupa Bendungan Pijenan dan Bendungan
Gejlik Pitu.
a. Bendungan Kamijoro
Bendungan Kamijoro terletak di Pedukuhan kamijoro, tepatnya di Desa
Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, D.I.Yogyakarta. Bendungan ini
merupakan Bendungan Primer atau Saluran Induk Utama yang mengaliri air yang
diambil dari Kali Progo atau Sungai Progo menuju ke bendungan Makam Bulan dan
bendungan Gejlik Pitu untuk memenuhi kebutuhan sumber daya air bagi tanaman yang
dibudidayakan di 4 kecamatan yakni Pandak, Srandakan, Sanden, dan Kretek yang
memiliki 11 desa. Saluran irigasi dari bendungan ini dapat mengaliri area dengan luas
sekitar 2300,5 ha.
Bendungan Kamijoro sebagai pintu pengambilan sendiri mengambil air dari
sungai Progo dengan cara pengambilan lansung atau yang disebut dengan intake. Pada
saat observasi diketahui bahwa bendungan ini sedang tidak dapat digunakan
dikarenakan curah hujan yang terlalu tinggi yang menyebabkan di Kali Progo banjir
sehingga ditakutkannya air yang akan diambil dari pintu pengambilan bendungan akan

21

membawa butiran pasir yang dapat mengendap di sepanjang saluran irigasi sehingga
menyebabkan sedimen pasir yang lama-kelamaan akan semakin tinggi dan akhirnya
volume penyimpanan air di bendungan ini semakin lama akan semakin menyusut
dikarenakan tingginya sedimen yang terbentuk dari butiran pasir yang terbawa oleh air
dari sungai Progo. Pada praktikum kali ini fungsi saluran induk atau primer dari
bendungan Kamijoro digantikan oleh bendungan Pijenan sebagai saluran induk untuk
mengalirkan air menuju bendungan Gejlik Pitu untuk mencukupi kebutuhan air tanaman
di setiap masing-masing desa yang akan dialiri oleh air irigasi dari bendungan ini.
Di desa yang dialiri oleh air irigasi dari bendungan Kamijoro ini memiliki pola
tanam dan musim tanam sesuai dengan ketersediaan air yang telah disediakan pada
setiap musimnya. Pada musim tanam 1, umumnya para petani disarankan untuk
menanam tanaman padi dikarenakan musim tanam 1 ini dilakukan pada bulan Oktober
atau November yang mana merupakan awal dari musim penghujan sehingga dapat
memenuhi kebutuhan air dari tanaman padi pada musim ini. Musim tanam 2 dilakukan
pada bulan Februari dan petani masih tetap bisa menanam tanaman padi dikarenakan
kebutuhan air tanaman padi masih tetap dapat tercukupi oleh air irigasi dan adanya
penambahan air dari curah hujan yang masih terjadi pada bulan ini. Pada musim tanam
3 dilakukan pada bulan Juni atau awal dari musim kemarau. Pada musim tanam 3 ini
para petani disarankan untuk lebih menanam tanaman yang tahan akan kurangnya
kecukupan air dikarenakan ketersidaan air semakin sedikit yang disebabkan kurangnya
intensitas curah hujan yang mengakibatkan ketersediaan air menurun. Tanaman
palawija yang dapat ditanam oleh petani pada musim ini dapat berupa tanaman kacangkacangan, jagung, tebu dan bero serta tanaman yang bersifat tahan dalam kodisi
kekurangan air lainnya.
b. Bendungan Makam Bulan
Bendungan makam bulan ini merupakan saluran sekunder yang terletak sejauh 2
km dari bendungan kamijoro sebagai saluran primer atau saluran induk. Bendungan
irigasi makam bulan memiliki bentuk penampang berupa trapesium. Pada saat obsevasi,
diketahui jika bendungan makam bulan ini belum dapat dibuka untuk mengaliri air
irigasi menuju ke bendungan ketiga atau tersier yaitu berupa bendungan Gejlik Pitu
yang selanjutnya akan mengairi tanaman budidaya warga. Pintu irigasi dari bendungan
makam bulan sendiri ditutup dikarenakan bendungan kamijoro yang merupakan saluran

22

induk untuk menyuplai air ke bendungan ini belum dapat dibuka untuk mengairi air
yang disebabkan oleh sungai progo yang meluap dikuatirkan akan membawa butiran
pasir sehingga mengakibatkan sedimentasi pasir, tidak hanya pada area bendungan
kamijoro tetapi juga dapat mengakibatkan sedimen di sekitar area benndungan makam
bulan yang menerima suplai air dari bendugan kamijoro. Apabila bendungan makam
bulan dibuka untuk mengaliri air irigasi menuju bendungan gejlik pitu dikuatirkan akan
menyebabkan masalah yang sama di sepanjang aliran sungainya akan terjadi
sedimentasi oleh pasir sehingga akan menurunkan kapasitas penyimpanan air pada
bendungannya. Oleh karena benudngan primer kamijoro dan bendungan sekunder
makam bulan belum dapat mengairi air irigasi menuju bendungan gejlik pitu maka
digunakanlah atau dibukalah pintu irigasi dari bendungan primer atau saluran induk
Pijenan sebagai penambah (suplisi) air irigasi menuju bendungan gejlik pitu.
c. Bendungan Pijenan
Bendungan pijenan adalah salah satu saluran primer atau saluran induk yang
berfungsi sebagai penambah air irigasi menuju bendungan gejlik pitu apabila saluran air
primer dari bendungan kamijoro tidak dapat mengairi air irigasi menuju bendungan
makam bulan dan gejlik pitu. Bendungan ini terletak di Pedukuhan Gesikan, Desa
Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, D.I.Yogyakarta. Saluran ini
mendapatkan air dari sungai bedog yang difungsikan untuk mengairi 4 kecamatan.
Pada observasi kali ini, saluran induk pijenan dapat dibuka untuk mengairi air
menuju bendungan gejlik pitu sehingga dapat dilakukan pengukuran untuk mengetahui
besarnya debit air dari bendungan gejlik pitu ini. Metode yang digunakan untuk
mengukur debit air pada bendungan gejlik pitu ini yaitu dengan metode pengukuran
debit air secara tidak langsung dengan menggunakan alat pengukur current meter. Hasil
yang didapatkan dari pengukuran jumlah putaran dengan waktu putaran selama 1 menit
(60 detik) adalah sebanyak 1922 kali dengan kecepatan aliran sebesar 1,8507 m/menit.
Bentuk penampang basahnya berupa persegi panjang dengan lebar 2 m dan tinggi
penampang basah 90 cm atau 0,9 m serta penampang keringnya setinggi 30 cm atau 0,3
m dengan total ketinggian sebesar 1,2 m, didapatkan pula luas penampang basahnya
yaitu sebsar 1,8 m2. Dari data pengukuran dengan menggunakan metode alat current
meter ini didapatkan besarnya debit air yang mengalir dari bendungan pijenan ini yaitu
sebesar 125,0 lt/detik. Saluran Induk Pijenan digunakan untuk mengairi 2300,5 Ha

23

sawah, maka saluran tersebut dapat mengairi sawah sebanyak 125,0 lt/detik : 2300,5
Ha = 0,0543 lt/detik/Ha.
d. Bendungan Gejlik Pitu
Bendungan gejlik pitu ini merupakan saluran sekunder yang menampung air
irigasi yang berasal dari saluran induk bendungan pijenan. Bandungan ini memiliki
pintu pengambilan air irigaasai sesuai dengan namanya yaitu sebanyak 7 pintu. Dari 7
pintu yang terdapat di bendungan gejlik pitu ini hanya 3 pintu saja untuk dihitung debit
airnya yang digunakan untuk memenuhi kebuthan air tanaman warga. Adapaun ketiga
pintunya yaitu:
1) Pintu pengambilan air gejlik pitu kanan
Pada observasi perhitungan debit air didaptkan hasil atau data dari penggunaan
alat current meter yaitu waktu putaran selama 5 detik dengan jumlah putaran sebanyak
0,6 putaran dan kecepatan aliran sebesar 0,0926 m/detik. Bentuk penampangnya berupa
persegi panjang dengan lebar penampang 2 m dan ketinggian penambang basahnya
sebesar 90 cm atau 0,9 m dan tinggi penampang kering sebesar 30 cm atau 0,3 m serta
didapatkan total ketinggian penampang sebesar 1,2 m dan luas penampangnya 1,8 m2.
Dari data yang didapatkan dari alat ukur current meter tersebut didaptkan perhitungan
debit air sebesar 166,68 lt /detik.
Pada metode perhitungan dengan menggunakan botol apung haruslah terlebih
dahulu ditentukan panjang sungai sebagai acuan pemberhentian botol dengan panjang
sekitar 15 meter dengan rerata botol apung bergerak 23,9 detik dan dicari nilai konstanta
botol apung senilai

0,11 dan nilai konstanta pelampungnya (C) 0,989 detik. Dari data

tersebut maka didapatkan debit air yang mengalir yaitu 1116 lt/detik.

Jadi, Saluran Sekunder Pijenan Kanan digunakan untuk mengairi 625 Ha sawah,
maka saluran tersebut dapat mengairi sawah yang dihitung dengan Current meter
166,68 lt / detik : 625 Ha = 0,266 lt/detik/Ha dan dengan pelampung sebanyak 1116
lt/detik : 625 Ha = 1,7856 lt/detik/Ha. Namun, terdapat hasil yang berbeda jauh dengan
menggunakan metode yang berbeda, karena disebabkan kedua alat memiliki tingkat
kestabilan yang berbeda.
2) Pintu pengambilan air gejlik pitu tengah
Dari pengamatan diketahui bahwa bentuk penampang irigasi dari pintu
pengambilan air gejlik pitu tengah berupa persegi panjang dengan lebar penampang

24

yaitu 1,2 m dan ketinggian penampang basahnya 80 cm atau 0,8 m dan ketinggian
penampang keringnya yaitu 40 cm atau 0,4 m dan total ketinggian penampang yaitu 1,2
m serta luas penampang basahnya yaitu 0,8 m2. Dari perhitungan yang telah dilakukan
dengan menggunakan metode botol apung yang sudah ditentukan panjang titik awal
hingga titik akhir botol apung yaitu 10 m dengan rerata waktu sebesar 15,95 detik dan
dicari nilai konstanta pelampungnya yaitu dengan nilai

0,125 dan nilai konstanta

pelampung (C) 0,989, sehingga didapatkan besarnya debit air yang mengalir yaitu
sebesar 495,9 lt/detik.
3) Pintu pengambilan air gejlik pitu kiri
Dari hasil pengamatan didapatkan data berupa bentuk penampang dari bendungan
gejlik pitu kiri ini berupa persegi panjang dengan lebar 3 m dan ketinggian penampang
basahnya sebesar 50 cm atau 0,5 m dan tinggi penampang keringnya yaitu 60 cm atau
0,6 m sehingga seluruh total ketinggiannya yaitu 1,1 m dengan luas penampang
basahnya 1,5 m2. Metode yang digunakan untuk menghitung debit air di pintu
pengambilan ini adalah metode botol apung yang ditentukan panjang titik awal menuju
titik akhirnya sepanjang 15 m dan didapatkan rerata waktu dari 3 percobaan
penghanyutan botol apung sebesar 22,52 detik. Karena menggunakan botol aqua maka
harus dicari nilai konstanta pelampungnya yaitu dengan nilai

0,1 dan Nilai Konstanta

Pelampung (C) 0,989. Sehingga dari data tersebut didapatkan debit air yang mengalir
yaitu 988,1 lt/detik.
Dari semua data perhitungan yang telah diperoleh diketahui bahwa adanya
ketidaksesuaian hasil perhitungan antara debit air masukkan yang lebih kecil dan debit
air keluarannya yang lebih besar. Namun, perbedaan hasil perhitungan debit air diantara
kedua bendungan tersebut tidaklah terlalu signifikan. Hal ini diduga dikarenakan pada
saat perhitungan saluran induk pijenan hanya digunakan metode perhitungan
mengguanakan alat current meter sedangkan ketiga saluran sekunder gejlik pitu
menggunakan metode perhitungan botol pelampung dan hanya saluran skunder pintu
pengambilan gejlik pitu kanan yang menggunakan dua metode perhitungan debit air,
sehingga dengan adanya perbedaan cara, dimana botol pelampung memiliki nilai
konstanta dan tingkat kestabilan yang berbeda-beda yang tidak didaptkan oleh metode
pengukuran dengan menggunakan alat current meter sehingga terjadi perbedaan debit
air antara bendungan pijenan dan gejlik ptiu.

25

Dengan bedanya debit masukkan dan debit keluaran, saluran ini digunakaan untuk
memenuhi kebutuhan air di 4 kecamatan yakni Pandak, Srandakan, Sanden, dan Kretek
yang memiliki 11 desa dengan luas area 2300,5 ha. Air yang digunkan sebagai air
irigasi haruslah mencukupi kebutuhan air tanaman dari ke- 4 kecamatan tersebut. .
Adapun sebelas desa tersebut yakni Desa Trimurti, Poncosari (Kecamatan Srandakan),
Caturharjo (Kecamatan Pandak), Murtigading, Gadingsari, Gadingharjo, Srigading
(Kecamatan Sanden), Tirtomulyo, Donotirto, Tirtohargo Dan Tirtosari (Kecamatan
Kretek) dengan luas area 2300,5 hektar
Air yang tersedia didapatkan dari Q kebutuhan tanaman dibagi Q debit atau Q
bendung. Dari masing-masing saluran yaitu Saluran Induk Pijenan dengan air irigasi
mengalir sebanyak 125,0 lt/detik. Pada Saluran Sekunder Gejlik Pintu atau Salsek
Pijenan Kanan dengan air irigasi mengalir sebanyak 166,68 lt / detik dengan
menggunakan current meter dan 1116 lt/detik dengan menggunakan pelampung. Pada
Saluran Sekunder Gejlik Pintu atau Salsek Pijenan Tengah dengan air irigasi mengalir
sebanyak 495,9 lt/detik dengan menggunakan pelampung. Pada Saluran Sekunder
Gejlik Pintu atau Salsek Pijenan kiri dengan air irigasi mengalir sebanyak 988,1 lt/detik
dengan menggunakan pelampung.
Sedangkan untuk kebutuhan air pada bulan Desember ini yang termasuk musim
tanam pertama yaitu tanaman padi untuk 2300,5 ha x kebutuhan air (1,5) = 3450 lt/det.
Dari saluran tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan air tanaman sehingga terjadi
kekurangan air. Namun, untuk menambah kebutuhannya maka dibutuhkan suplisi dari
Bendungan Kamijoro namun tidak mengalir karena ditutup. Jika Bendungan Kamijoro
di alirkan maka akan lebih dari >3000 lt/ det debit air yang keluar sedangkan untuk
kebutuhan air 3450 lt/det. Kurangnya air dapat dipenuhi karena saat ini sedang musim
hujan maka dapat dipenuhi oleh suplisi dari air hujan yang dihitung setiap terjadi hujan
turun.

V.

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil observasi dalam rangka praktikum pengukuran debit air yang
dilakukan pada tanggal 19 Desember 2015, dapat disimpulkan bahwa:
1. Debit air adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu
penampang melintang sungai per satuan waktu yang dinyatakan dalam satuan
meter kubik per detik ( m3/dt)
2. Sistem irigasi yang terdapat di Bantul memiliki saluran induk utama berupa
Bendungan Kamijoro dan saluran induk penambah berupa Bendungan Pijenan
dan saluran induk Makam Bulan merupakan saluran sekunder sedangkan
Bendungan Gejlik pitu merupakan saluran tersier dari Bendungan Kamijoro dan
sekunder dari Bendungan Pijenan.
3. Setiap saluran dari pintu pengambilan memiliki kecepatan dan luas penampang
yang berbeda-beda yang menyebabkan perbedaan besarnya debit air yang
dikeluarkan, namun hal ini dikarenakan setiap saluran mengairi lahan dengan
luas lahan yang berbeda-beda pula.
4. Debit air yang mengalir pada setiap saluran irigasi di Bantul ini tidak memenuhi
kebutuhan air tanaman yaitu sebesar 3450 lt/det. Hal itu disebabkan karena
bendungan kamijoro dalam kondisi terpenuhi oleh sedimentasi. Tetapi
kekurangan tersebut dapat dipenuhi dengan adanya suplisi dari air hujan yang
turun.
B. SARAN
Dengan terus meningkatnya tinggi sedimentasi pasir yang ada di setiap
bendungan mengakibatkan kemampuan bendungan dalam menyimpan air menjadi
rendah sehingga air yang dapat disimpan lebih sedikit. Apabila kondisi ini terus
menerus terjadi maka akan menyebabkan pendistribusian air dari saluran menuju
saluran sekunder dan seterusnya akan menjadi berkurang sehingga kebutuhan air
tanaman tidak dapat tercukupi pada waktu mendatang. Sebaiknya untuk kelancaran
bendungan dalam menyimpan air demi terlaksananya kecukupan air irigasi untuk
tanaman warga maka dapat dijaga dan selalu dikontrol kebersihan saluran irigasi dan
dapat juga melakukan pengangkatan pasir yang telah menjadi sedimen di dalam
bendungan agar kemampuan penyimpanan air dapat lebih optimal.

26

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Bazak, N.N., 1999. Irrigation Engineering. Tata McGraw-Hill Publishing Company
Limited, New Delhi.
Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia, 1986,
Standart Perencanaan Irigasi, Kriteria Perencencanaan (KP-01, KP-07).
Fuad Bustomi, 2000. Simulasi Tujuh Teknik Pemberian Air Irigasi Untuk Padi di
Sawah dan Konsekuensi Kebutuhan Air Satu Masa Tanam. Tesis Program Pasca
sarjana Program Studi Teknik Sipil UGM, Yogyakarta
Harsoyo. 1977. Pengelolaan Air Irigasi. Dinas Pertanian Jawa timur.
Lenka, D. 1991. Irrigation and Drainage. Kalyani Publishers, New Delhi.
Prastowo, H. 1995. Kriteria Pembangunan Irigasi Sprinkler dan Drip Fateta. IPB.
Bogor.
Sudjarwadi. 1990. Teori dan Praktek Irigasi. Pusat Antara Universitas Ilmu Teknik,
UGM, Yogyakarta.
Susanto, E. 2006. Teknik Irigasi dan Drainase. USU Press, Medan.

LAMPIRAN