Você está na página 1de 6

Asuhan Keperawatan Katarak

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in Askep , Materi | Posted on 10/21/2010

Pengertian
Katarak merupakan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa
di dalam kapsul mata. Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa
menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa.
Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul
pada berbagai usia tertentu. Katarak dapat terjadi pada saat perkembangan serat lensa
masih berlangsung atau sesudah serat lensa berhenti dalam perkembangannya dan
telah memulai proses degenerasi.
Katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut:
1. Katarak perkembangan (developmental) dan degeneratif,
2. Katarak congenital, juvenil, dan senile
3. Katarak komplikata
4. Katarak traumatic
Penyebab terjadinya kekeruhan lensa ini dapat:
1. Primer, berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar
2. Sekunder, akibat tindakan Pembedahan lensa
3. Komplikasi penyakit lokal ataupun umum
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat dibagi dalam:
1. Katarak congenital, katarak yang terlihat pada usia dibawah 1 tahun
2. Katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun dan di bawah
40 tahun
3. Katarak presenil, yaitu katarak sesudah usia 30-40 tahun
4. Katarak senile, yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun
Etiologi
Penyebab utama katarak adalah proses penuaan. Anak dapat menderita katarak yang
biasanya merupakan penyakit yang diturunkan, peradangan di dalam kehamilan,
keadaan ini disebut sebagai katarak congenital.

Faktor lain dapat mempengaruhi kecepatan berkembangnya kekeruhan lensa seperti


DM, dan obat tertentu, sinar ultraviolet B dari cahaya matahari, efek racun dari rokok,
dan alkoho, gizi kurang vitamin E, dan radang menahan di dalam bola mata. Obat yang
dipergunakan untuk penyakit tertentu dapat mempercepat timbulnya katarak seperti

betametason, klorokuin, klorpromazin, kortizon, ergotamin, indometasin, medrison,


pilokarpin dan beberapa obat lainnya.
Penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti DM, dapat mengakibatkan timbulnya
kekeruhan lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata.
Cedera mata dapat mengenai semua umur seperti pukulan keras, tusukan benda,
terpotong, panas yang tinggi, bahan Kimia, dapat merusak lensa mata dan keadaan ini
di sebut sebagai katarak traumatic.
Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk
kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga
komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleuas, di perifer ada korteks, dan
yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambah
usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar
opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada
kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna namapak seperti
kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan Kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi,
perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang daari badan silier ke
sekitar daerah di luar lensa Misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami
distorsi. Perubahan Kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi. Sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu
teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam
lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi
sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi
lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia darn
tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat
disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistematis, seperti DM, namun sebenarnya
merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak
berkembang secara kronik dan matang ketika orang memasuki decade ke tujuh.
Katarak dapat bersifat congenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak
didiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen.
Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar
ultraviolet B, obat-obatan, alcohol, merokok, DM, dan asupan vitamin antioksidan yang
kurang dalam jangka waktu lama.
Manifestasi klinis dan diagnosis
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya pasien melaporkan
penurunan ketajaman penglihatan dan silau dan gangguan fungsional sampai derajat
tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan objektif
biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina
tak akan tampak pada oftalmoskop.

Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya
ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah
pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi
bayangan dan susah melihat di mlam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak
kekuningan abu-abu atau putih. Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahuntahun dan ketika katarak sudah sangat memburuk lensa koreksi yang lebih kuat pun
tak akan mampu memperbaiki penglihatan. Bisa melihat dekat pada pasien rabun dekat
(hipermetropia), dan juga penglihatan perlahan-lahan berkurang dan tanpa rasa sakit.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari
silau yang menjengkelkan yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya ada
yang mengatur ulang perabot rumahnya sehingga sinar tidak akan langsung menyinari
mata mereka. Ada yang mengenakan topi berkelapak lebar atau kacamata hitam dan
menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari.
Seorang dokter mata akan memeriksa mata dengan berbagai alat untuk menentukan
tipe, besar dan letaknya kekeruhan pada bagian lensa. Bagian dalam dari mata
diperiksa dengan alat oftalmoskop, untuk menentukan apakah ada kelainan lain di mata
yang mungkin juga merupakan penyebab berkurangnya pengliahatan.
Bila diketahui adanya gejala di atas sebaiknya segera diminta pendapat seorang dokter
mata. Secara umum seseorang yang telah berusia 40 tahun sebaiknya mendapatkan
pemeriksaan mata setiap 1 tahun.
Diagnosa keperawatan
Ketakutan atau ansietas berhubungan dengankurangnya pengetahuan
No

Intervensi

Kaji derajat dan durasi gangguan visual.


Dorong percakapan untuk mengetahui
keprihatinan pasien, perasaan, dan tingkat

Rasional
Informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tidak
diketahui. Mekanisme koping dapat membantu pasien
berkompromi dengan kegusaran, ketakutan, depresi,

pemahaman

tegang, keputusasaan, kemarahan, dan penolakan

Orientasikan pasien pada lingkungan yang


baru

Pengenalan terhadap lingkungan membantu


mengurangi ansietas dan meningkatkan keamanan

Menjelaskan rutinitas perioperatif

Pasien yang telah banyak mendapat informasi lebih


mudah menerima penanganan dan mematuhi instruksi

Menjelaskan intervensi sedetil-detilnya

Pasien yang mengalami gangguan visual bergantung


pada masukan indera yang lain untik mendapatkan
informasi

Dorong untuk menjalankan kebiasaan


hidup sehari-hari bila mampu

Perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan


rasa sehat

Dorong partisipasi keluarga atau orang


yang berarti dalam perawatan pasien

Pasien mungkin tak mampu melakukan semua tugas


sehubungan dengan penanganan dari perawatan diri

Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial


dan pengalihan bila memungkinkan
(pengunjung, radio, rekaman audio, TV,
kerajinan tangan, permainan)

Isolasi sosial dan waktu luang yang terlalu lama dapat


menimbulkan perasaan negatif

Resiko terhadap cedera berhubungan dengan pandangan kabur


No

Intervensi

Rasional

Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi


pascaoperasi sampai stabil dan mencapai penglihatan
dan keterampilan koping yang memadai,
menggunakan teknik bimbingan penglihatan

Menurunkan resiko jatuh atau cedera ketika


langkah sempoyongan atau tidak
mempunyai keterampilan koping untuk
kerusakan penglihatan

Bantu pasien menata lingkungan

Memanfasilitasi kemandirian dan


menurunkan resiko cedera

Orientasikan pasien pada ruangan

Meningkatkan keamanan mobilitas dalam


lingkungan

Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca


mata bila diperintahkan

Tameng logam atau kaca mata melindungi


mata terhadap cedera

Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena


trauma

Tekanan pada mata dapat menyebabkan


kerusakan serius lebih lanjut

Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan


obat mata

Cedera dapat terjadi bila wadah obat


menyentuh mata

Nyeri berhubungan dengan insisi dan peningkatan TIO


No

Intervensi

Rasional

Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan


TIO sesuai resep

Sesuai resep akan mengurangi nyeri dan TIO dan


meningkatkan rasa nyaman

Berikan kompres dingin sesuai


permintaan untuk trauma tumpul

Mengurangi edema akan mengurangi nyeri

Kurangi tingkat pencayahaan

Tingkat pencahayaan yang lebih rendah lebih nyakan


setelah Pembedahan

Dorong penggunaan kaca mata hitam


pada cahaya kuat

Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman


setelah penggunaan tetes mata dilator

Resiko kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan penglihatan


No

Intervensi

Rasional

Beri instruksi kepada pasien atau orang terdekat


mengenal tanda atau gejala komplikasi yang harus
dilaporkan segera kepada dokter

Penemuan dan penanganan awal


komplikasi dapat mengurangi resiko
kerusakan lebih lanjut

Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan


orang yang berati mengenal teknik yang benar
memberikan obat

Pemakaian teknik yang benar akan


mengurangi resiko infeksi dan cedera mata

Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan

Sumber daya harus tersedia untuk layanan


kesehatan, pendampingan dan teman di
rumah

Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan

Memungkinkan tindakan yang aman dalam


lingkungan

Resiko infeksi berhubungan trauma insisi


No

Intervensi

Rasional

Jaga teknik aseptic ketat, lakukan cuci tangan


sesering mungkin

Akan meminimalkan infeksi

Awasi dan laporkan segera adanya tanda dan


gejala komplikasi, misalnya: perdarahan,
peningkatan TIO atau infeksi

Penemuan awal komplikasi dapat mengurangi


resiko kehilangan penglihatan permanen

Jelaskan posisi yang dianjurkan

Peninggian kepala dan menghindari berbaring


pada sisi yang di operasi dapat mengurangi
edema

Instruksikan pasien mengenal pembatasan


aktivitas tirah baring, dengan keleluasaan ke
kamar mandi, peningkatan aktivitas bertahap
sesuai toleransi

Pembatasan aktivitas diresepkan untuk


mempercepat penyembuhan dan menghindari
kerusakan lebih lanjut pada mata yang cedera

Jelaskan tindakan yang harus dihindari, seperti


yang diresepkan batuk, bersin, muntah (minta
obat untuk itu)

Dapat mengakibatkan komplikasi seperti prolaps


vitreus atau dehisensi luka akibat peningkatan
tegangan luka pada jahitan yang sangat halus

Berikan obat sesuai resep, sesuai teknik yang


diresepkan

Obat yang diberikan dengan cara yang tidak


sesuai dengan resep dapat mengganggu
penyembuhan atau menyebabkan komplikasi

Source:
Christine Brooker, Buku saku Keperawatan, Edisi 31, 2001, EGC, Jakarta.

Doenges E. Marlynn, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.


Luckman and Surensens, Medical Surgical Nursing, Pshychologic Approach 4th
Editor, 1993 Philadelphia : WB. Sanders Company.
Lynda Juall Carpenito, diagnosa Keperawatan, Aplikasi Pada Praktik Klinis, 1998,
EGC, Jakarta. Robbins, Cotran and Kumar, Dasar Patologi Penyakit, Edisi 5, 1999,
EGC, Jakarta.

http://keperawatanku.blogspot.com/2010/10/asuhan-keperawatan-katarak.html