Você está na página 1de 12

Pembuatan Larutan Kimia

APRIL 20, 2013MENINGGALKAN KOMENTAR

1.

Larutan CuSO4 1 M

Timbang CuSo4 sebanyak 4 gram


Masukkan dalam labu ukur 250 mL, lalu larutakn dengan aquadest
sampai tanda tera
2.

Larutan Yodium

Larutkan 1,3g Yodium( I ) dan 2,5g Kalium Yodida( KI ) dalam kira-kira 10


mL air. Kemudian tambahkan air sampai menjadi 100 mL.
3.

Larutan Yodium Untuk Reaksi Yodoform

Larutkan 10 g Yodium( I ) dan 20g Kalium Yodida( KI ) dalam 80g air.


4.

Larutan Amilum

Masukkan 1 g Amilum ke dalam kira-kira 10 mL air, kemudian mengaduk


terus-menerus. Lalu tambahkan lalutan tersebut ke dalam 200 mL air
panas. Lanjutkan panaskan, mengaduk sampai warna berubah bening.
Perhatikan : Beberapa macam amilum mengandung glukosa, harus hatihati.
(Kalau mengandung glukosa, beraksi dengan Larutan Fehling)
5.

Larutan Tollens

Membuat Larutan 2 mL AgNO3 5%. Kemudian teteskan 1 tetes NaOH. Lalu


teteskan NH4OH 6 M ke dalam Larutan tersebut sampai warna menjadi
bening.
Perhatikan : Larutan Tollens itu tidak boleh disimpan selama lebih 1hari.
Sebelum mau pakai, baru membuat LarutanTollens
6.

Larutan BTB (Bromotimol Biru)

Larutkan 0,1-1 g BTB dalam 20 mL Etanol 90-95%. Kemudian tambahkan


air sampai menjadi 100 mL
7.

Larutan TB (Timol Biru)

Larutkan 0,1 g Timol Biru dalam 20 mL Etanol 90-95%, kemudian


tambahkan air sampai menjadi 100 mL
8.

Larutan Fenolftalin

Larutan 0,1-1,0 g Fenolftalin dalam 90 mL Etanol 95%, kemudian


tambahkan air sampai menjadi 100 mL
9.

Larutan Metil Jingga

Larutkan 0,1g Metil Jingga dalam air sampai menjadi 100 mL


10.

Larutan MM (Metil Merah)

Larutkan 0,2 g Metil Merah dalam 90 mL Etanol 95%, kemudian


tambahkan air sampai menjadi 100 mL
11.

Larutan Fehling

Fehling A
Larutkan 3,5 g Tembaga Sulfat (CuSO45H2O) dalam air sampai menjadi 50
mL
Fehling B
Larutkan 17,3 g Kalium-Natrium Tartrat (KNaC4H4O64H2O) dan 5 g Natrium
Hidorokisada (NaOH) dalam air sampai menjadi 50 mL
Cara pakai
Sebelum praktek, Campur A dan B dengan sama ukurannya. Larutan
Fehling teidak boleh simpan lama, karena itu campur A dan B sebelum
praktek. (Hanya untuk 1 kali praktek)
12.

Larutan Sodium Sitrat (C6H5Na3O7 2H2O) 0,1 M

Mengambil dan menimbang sodium sitrat seberat 29.4 g


Melarutkan dengan aquades hingga volume 1000 mL
13.

Larutan Asam Sitrat (C6H8O7) 0,1 M

Mengambil dan menimbang asam sitrat seberat 19.2 g


Melarutkan dengan aquades hingga volume 1000 mL
14.

Larutan Buffer Sitrat 0,1 M pH 5,5

Mencampurkan 152 mL larutan asam sitrat 0,1 M dengan 848 mL larutan


sodium sitrat 0,1 M
Mengecek pH dengan pH universal untuk mendapatkan pH 5,5 dengan
menambahkan larutan asam sulfat (1N) atau larutan sodium hidroksida
(1N)

15.

Larutan Kalium Dikromat 0,5 N

Menimbang padatan kalium dikromat sebanyak 24,54 g


Melarutkan padatan kalium dikromat dengan aquades sampai 1 L
16.

Larutan Ferro Ammonium Sulfat (FAS) 0,1 N

Menimbang padatan Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O sebanyak 40,5 gram


Melarutkan padatan FAS dengan aquades dan ditambahkan 10 ml larutan
asam sulfat pekat sampai volume total 1 L
17.

Larutan Asam Sulfat 3 N

Memipet larutan asam sulfat pekat sebanyak 83,5 mL


Mengencerkan larutan asam sulfat pekat sampai mencapai volume total 1
L
18.

Larutan HCl 0,1 N

Memasukkan akuades secukupnya (+ 10 ml)


Mengambil 0,83 mL HCl pekat, masukkan dalam labu takar 100 mL
Mengisi dengan akuades sampai tanda garis
Mengocok hingga homogen dan pindahkan ke erlenmeyer
Standarisasi 0,1 N HCl dengan Borax (Na2B4O7 10H2O)
Mengambil 0,4 g Borax murni
Masukkan dalam erlenmeyer dan larutkan dengan 50 ml akuades
Menambahkan 2 3 tetes indikator Mo
Menitrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna
Menghitung N HCl dengan rumus
19.

Larutan Titer Cerium (IV)

Ditimbang 5 gram serium (IV) ammonium nitrat dalam piala gelas.


Kemudian ditambahkan H2SO4pekat sebanyak 31 mL, dan dicampurkan.
Lalu dibubuhi air dengan hati-hati tiap kali 20 mL, hingga larutan
sempurna. Kemudian ditutup dan dibiarkan 1 malam. Lalu disaring
dengan cawan kaca masir berpori halus, diencerkan saringan dengan air
secukupnya hingga volume larutan mencapai 1 liter dan dicampurkan.
20.

Larutan Cerium (IV) Sulfat 0,1 N

Timbang dengan kasar 33 gram contoh. Tambahkan zat padat ini

sambil diaduk pada larutan asam sulfat yang dibuat dengan penambahan
28 mL H2SO4 pekat dalam 500 mL air. Aduk sampai larut dan encerkan
larutan sampai 1 liter dalm botol yang bersih dan beri label.
Bila Cerium (IV) oksida yang dipakai, timbang 21 gram zat padat
tersebut, masukkan dalam piala 1500 mL. Tambahkan larutan H 2SO4 panas
yang dibuat dengan penambahan 78 mL H2SO4pekat dalam 300 mL air.
Setelah oksida larut, encerkan larutan sampai 1 liter, pindahkan dalam
botol yang bersih.
Bila larutannya keruh, sebelum dipakai harus disaring. Pengendapan
Cerium (IV) fosfat dalam larutan asam lambat sekali dan bila segera
dipakai setelah dibekukan, penyaringan dapat dihapuskan
21.

Larutan Cerium (IV) Ammonium Nitrat 0,1 N

Timbang 54.83 gram contoh yang murni. Masukkan dalam piala 1 liter.
Tuangkan 56 mL H2SO4, aduk kira-kira 2 menit. Tambahkan 100 ml air dan
aduk. Lanjutkan penambahan air sedikit demi sedikit sambil diaduk
sampai volumenya 600 ml. Pindahlan larutan ke dalam labu ukur 1 liter
dan encerkan sampai tanda tera, homogenkan.
Metoda I : Dilarutkan kira-kira 28 gram Ammonium Ce (IV) Nitrat
proanalisis (ekivalen = 548.23) dalam 100 mL air, tambahkan larutan
ammonia encer perlahan-lahan dan sambil diaduk sampai terdapat sedikit
kelebihan (kira-kira 60 ml larutan ammonia sekitar 2,5 N diperlukan).
Saring Ce (IV) Hidroksida yang mengendap dengan kaca masir dan cuci
denganlima porsi air 50 ml untuk menghilangkan ammonium nitrat ;
biarkan endapan di atas pompa air selama kira-kira 30 menit untuk
menghilangkan air sebanyak mungkin. Pindahkan endapan kembali ke
wadah semula sebanyak mungkin, dan pindahkan hidroksida yang tersisa
di atas saringan dari kaca masir dalam membilas dengan empat porsi dan
50 ml asan sulfat 2 M yang sebelumnya telah dipanaskan sampai kira-kira
60C. Tambahkan cairan cucian pada endapan dalam wadah dan
panaskan sampai endapan melarut lengkap. Dinginkan dan pindahkan
larutan ke dalam sebuah labu ukur 500 ml, dan encerkan sampai tanda

tera dengan air suling. Larutan Ce (IV) Sulfat yang dihasilkan kira-kira 0.1
N, dan memerlukan standardisasi sebelum digunakan.
Metoda II : Uapkan 55.0 gram Ammonium Ce (IV) Nitrat proanalisis
sampai hamper kering dengan asam sulfat pekat berlebih (48 ml) dalam
sebuah pinggan penguap. Larutan Ce (IV) Sulfat yang dihasilkan dalam
asam sulfat 1 M (28 mL asam sulfat pekat ke dalam 500 mL air),
pindahkan ke dalam sebuah labu ukur 1 liter. Tambahkan asam sulfat 1 M
sampai dekat tanda tera, dan encerkan sampai tanda tera dengan air
suling, homogenkan.
Metoda III : Timbang 35-36 gram Ce (IV) Sulfat murni, tambahkan 56 ml
asam sulfat 1 : 1 dan aduk, dengan sering penambahan air dan
memanaskan perlahan-lahan sampai garam melarut. Pindahkan ke
sebuah labu ukur 1 liter yang bersumbat kaca dan ketika dingin encerkan
sampai tanda tera sampai air suling. Homogenkan.
Metoda IV : Simpan kira-kira 21 gram Ce (IV) Hidroksida dan tambahkan
100 mL asam sulfat sambil diaduk rata. Teruskan pengadukan dan
masukkan 300 mL air suling dengan perlahan-lahan dan hati-hati.
Diamkan semalaman, dan jika ada suatu residu tertinggal, saring larutan
ke dalam sebuah labu ukur 1 liter dan encerkan sampai tanda tera.
Standardisasi Larutan Cerium (IV)
v Dengan As2O3
Ditimbang 200 mg As2O3 pekat yangdikeringkan pada suhu 100C
selama 1 jam, kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer 500 mL. Cuci
dengan 25 ml larutan natrium hidroksida pekat (8 % W/V), lalu dikocok
hingga larut dan ditambahkan 100 mL air suling. Tambahkan H2SO4 (33.3
%W/V) sebanyak 10 mL dan 2 tetes larutan 0-Phenantrolin pekat dan
larutan Osmium tetraoksida pekat (0.25 % W/V) dalam H2SO4 0.1 N. Titrasi
perlahan-lahan dengan larutan Ce (IV) sulfat hingga warna merah muda
berubah menjadi biru sangat pucat. Tiap ml Ce (IV) sulfat setara dengan
4.946 mg As2O3. Reaksinya lambat kecuali kalau Osmium tetraoksidasi
OsO4, atau iodium monoklorida ICl, digunakan sebagai katalis. Dengan

katalis OsO4, titrasi dapat dilakukan pada suhu kamar. Feroin merupakan
indikator yang cocok. Dengan katalis ICl larutan dipanaskan sampai 50C.
Swift telah menemukan bahwa titrasi dapat dilakukan pada suhu kamar
dengan menggunakan ICl sebagai katalis, jika larutan adalah 4 M asam
klorida. ICl bekerja juga sebagai indikator.
v Dengan Natrium Oksalat
Reaksi dengan ion Ce (IV) lambat dalam H2SO4 pada suhu kamar dan baik
dengan OsO4 atau ICl merupakan katalis yang paling cocok. Siapkan
larutan ammonium besi (II) sulfat kira-kira 0.1 N dalam asam sulfat ener,
dan titrasi dengan larutan Ce (IV) Sulfat dengan memakai indikator feroin.
Timbang kira-kira 0.2 gram natrium oksalat p.a, masukkan ke dalam
Erlenmeyer dan tambahkan 25-30 asam sulfat 1 M. Panaskan larutan
sampai kira-kira 60C dan tambahkan 30 mL larutan Ce (IV) yang akan
distandarkan itu setetes demi setetes, denganmenambahkan larutan
secepat mungkinselaras dengan pembentukan tetes. Panaskan ulang
larutan sampai 60C lalu tambahkan 10 mL larutan Ce(IV). Diamkan
selama 3 menit lalu dinginkan dan titrsi balik kelebihan Ce (IV) dengan
larutan besi (II) dengan memakai feroin sebagai indikator. Akan tetapi,
jika dengan larutan asam perklorat 2 M, reaksi berlangsung cepat pada
suhu kamar.
Besi kawat murni dapat dipergunakan sebagai standar primer, reaksi
berlangsung cepat pada suhu kamar. Cara kerjanya adalah dengan
menimbang 0.15-0.20 gram kawat besi p.a. Masukkan sumbat karet yang
pas yang dilengkapi dengan sebuah pipa penghantar yang bengkok,
dalam sebuah Erlenmeyer 300 mL dan jepit labu pada statif labu suling,
dalam kedudukan miring, di mana tabung membengkok sedemikian
sehingga mecelup ke dalam sebuah piala kecil yang mengandung larutan
natrium hidrogen karbonat jenuh atau larutan kalium hidrogen karbonat
20% (dibuat dari zat-zat padat pa-nya). Taruh 100 ml asam sulfat 3 N ke
dalam labu dan tambahkan 0.1-1 gram natrium hidrogen karbonat p.a
dalm 2 porsi; karbondioksia yang dihasilakan akan mengusir keluar udara.

Sementara itu, hasil penimbangan kawat besi p.a taruh cepat-cepat ke


dalam labu, masukkan kembali sumbat beserta pipa bengkok, dan
panaskan perlahan-lahan sampai besi larut sempurna. Dinginkan labu
dengan cepat di bawah aliran air yang dingin, lalu tambahkan larutan Ce
(IV) Sulfat setelah ditambahkab indicator yang sesuai. Feroin merupakan
indikator yang baik
22.

Larutan Indikator Bromocresol Purple 0.1%

Timbang 0.1 gram indikator bromocresol purple dalam cawan yang sudah
kering dan bersih
Masukkan dalam labu ukur 100 mL, larutkan dengan menggunakan
ethanol 20%
Aduk hingga homogeny
23.

Larutan Clean Super Shijiyaku

Timbang 0.4 gram methylene red


Timbang 0.2 gram methylene blue
Tambahkan 200 mL ethanol
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan
Perubahan warna indikator hijau menjadi merah muda
24.

Larutan Indikator Amilum (Kanji) 1%

Timbang sebanyak 1 gram indikator amilum


Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga 100 mL
Aduk larutan hingga homogen sambil dipanaskan
Larutan siap digunakan
25.

Larutan Mangan Sulfat 2.15 N

Timbang sebanyak 363,393 gram mangan sulfat monohydrate


(BM=169.02 gr/mol)
Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga volume 1000 mL
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan

26.

Larutan Potassium Iodate (KIO3) 0.025 N

Timbang sebanyak 0.0892 gram KIO3 (BM=214 gr/mol, BE= 35.666


gr/mol)
Larutkan dengan menggunakan aquadest tanda tera (100 mL)
Aduk larutan hingga homogeny
Larutan siap digunakan
27.

Larutan Natrium Tiosulfat (Na2S2O3.5H2O) 0.025 N

Timbang sebanyak 1.5511 gram natrium tiosulfat secara seksama


(BM=248.18 gr/mol)
Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga volume 500 mL
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan. (standardisasi larutan sebelum digunakan)
28.

Larutan H2SO4 2 N

Pipet hati-hati 5.3 mL asam sulfat pekat (96%, :1.84 gr/mL), lakukan di
ruang asam. (BE=1/2. 98.08 gr/mol)
Masukkan kedalam labu ukur yang telah diisi air.
Tepatkan volume hingga tanda tera (100 mL)
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan
29.

Larutan KI 10%

Timbang 10 gram KI dalam cawan timbang


Masukkan Kristal KI yang telah ditimbang kedalam labu ukur 100 mL
Larutkan dengan aquadest hingga tanda tera (100 mL)
Aduk larutan hingga homogen
Larutan siap digunakan
30.

Larutan Alkali Iodide Azide (NaOH-KI)

Timbang sebanyak 50 gram Sodium Hydroxide (NaOH), larutkan dengan


50 ml aquadest. Aduk hingga homogen (Larutan A)
Timbang sebanyak 15 gram potassium iodide (KI), larutkan dengan 20 mL
aquadest. Aduk hingga homogen (Larutan B)
Campurkan larutan A dan larutan B (Hati-hati dalam mencampur kedua

larutan)
Aduk hingga homogen (Larutan C)
Timbang 1 gram sodium azide (NaN3), larutkan dengan 4 mL aquadest.
Aduk hingga homogeny (Larutan D)
Campurkan larutan C dengan larutan D (hati-hati dalam mencampurkan
kedua larutan)
Tambahkan aquadest hingga tanda tera (100 mL)
Aduk hingga homogeny
Larutan siap digunakan
Catatan: untuk membuat laruatan NaOH-KI 1000ml = bobot bahan kimia
dan volume air x 10
Masa kadaluarsa reagent selama 3 bulan (ganti reagent jika sudah lebih
dari 3 bulan)
31.

Larutan Indikator Ferroin (Penanthroline Monohydrate)

Timbang 1.485 gram indikator phenanthroline indikator


Masukkan dalam labu ukur 100 mL
Tambahkan 0.695 gram FeSO4.7H2O
Larutkan dengan aquadest hingga tanda tera (volume 100 mL)
Kocok hingga homogen
Larutan siap digunakan
32.

Larutan Kalium Bikromat (K2Cr2O7) 0.25 N

Timbang 6.1295 gram Kalium dikromat (K2Cr2O7). (Mr= 294.19 gr/mol,


BE=1/6 xBE)
Larutkan dengan aquadest dalam labu ukur 500 mL hingga tanda tera.
Aduk larutan hingga homogen
Larutan siap digunakan
33.

Larutan Asam Sulfat-Perak Sulfat (AgSO4-H2SO4)

Timbang 5 gram perak sulfat


Tambahkan 500 mL asam sulfat pekat secara hati-hati
Lakukan di ruang asam
34.

Larutan Ferro Ammonium Sulfat/FAS((NH4)2SO4.FeSO4.6H2O)

0.05 N
Timbang Ferro Ammonium Sulfate sebanyak 19.56 gram (Mr=391.2
gr/mol)
Larutkan dengan 300 mL aquadest
Tambahkan 20 mL Asam Sulfat pekat
Tepatkan volume larutan hingga 1000 mL
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan
35.

Larutan Ammonium Chloride-Ammonium Hydroxide (Larutan

Buffer pH 10)
Timbang Ammonium Chloride sebanyak 67,5 gram
Tambahkan Ammonium Hydroxide 570 mL
Aduk larutan
Masukkan dalam Labu ukur 1000 ml dan tepatkan volumenya dengan
menggunakan Aquadest hingga 1000 mL
36.

Larutan Indikator Eriochrom Black T (Erio-T)

Timbang Erio-T sebanyak 0.5 gram


Tambahkan methanol 100 mL
Larutkan hingga homogeny
Tambahkan 0.5 gram Hydroksilamin Hydrochloride (NH 2OH. HCl)
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan
37.

Larutan EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid) 0.01 M

Keringkan EDTA disodium Salt Dehydrate dalam oven bersuhu 80 C


selama 5 jam.
Dinginkan dalam desikator
Timbang 3.722 gram EDTA disodium salt dehydrate
Masukkan dalam lbu ukur 1000 mL
Larutkan dengan aquadest hingga volume 1000 mL
Aduk hingga homogen, dan larutan siap digunakan
38.

Larutan Potassium Hydroxide (KOH) 8 N

Timbang sebanyak 225 gram KOH dalam beaker glass


Larutkan dengan beberapa ml aquadest
Masukkan dalam Labu ukur 500 mL
Larutkan dengan menggunakan aquadest hingga tanda tera
Aduk hingga homogeny, dan larutan siap digunakan
39.

Larutan Indikator Murexide (Ammonium Purpurate) 1%

Timbang 1 gram indikator murexide


Masukkan dalam labu ukur 100 mL
Larutkan dengan aquadest
Tambahkan aquadest hingga tanda tera
Aduk hingga homogen dan larutan siap digunakan
40.

Larutan Asam Sulfat (H2SO4) 0.02 N

Pipet hati-hati 0.55 mL asam sulfat pekat (96%, :1.84 gr/cm 3), lakukan di
ruang asam. (BE=1/2. 98.08 gr/mol)
Masukkan kedalam labu ukur yang telah diisi air.
Tepatkan volume hingga tanda tera (1000 mL)
Aduk hingga homogen
Larutan siap digunakan
41.

Larutan Methyl Orange Indicator

Timbang 0.04 gram methyl orange dalam cawan timbang


Masukkan dalam beaker glass
Larutkan dengan etanol 20% beberapa mL
Masukkan dalam labu ukur 100 ml
Encerkan dengan ethanol 20% hingga tanda tera
Aduk hingga homogeny, dan larutan siap digunakan
42.

Larutan Phenolphtalein Indicator

Timbang 0.1 gram Phenolpthalein dalam cawan timbang


Masukkan dalam beaker glass
Larutkan dengan etanol 96% beberapa mL
Masukkan dalam labu ukur 100 mL
Encerkan kembali dengan ethanol 96% hingga tanda tera

Aduk hingga homogen, dan larutan siap digunakan


43.

Larutan HCl 0,1 N

Diukur sebanyak 2,07 ml larutan HCl 37%, lalu diencerkan dengan


akuades dalam labu takar 250 ml sampai garis batas dan distandarisasi
dengan menggunakan larutan Na2CO3 0,1 N
44.

Larutan Na2CO3 0,5 N

Sebanyak 6,625 gram Na2CO3 dilarutkan dengan aquades dalam labu


takar 250 ml sampai garis batas
45.

KOH-Alkohol 0,5 N

Ditimbang KOH sebanyak 7,0125 gram dan dilarutkan dengan alkohol


dalam labu takar 250 ml sampai garis batas dan distandarisasi dengan
menggunakan larutan H2C2O4 0,1 N dan indikator fenolptalein
46.

Larutan KOH 0,1 N

Ditimbang KOH sebanyak 1,4 gram dan dilarutkan dengan akuades dalam
labu takar 250 ml sampai garis batas dan distandarisasi dengan
menggunakan larutan H2C2O4 0,1 N indikator fhenolptalen
47.

Larutan KOH 0,02 N

Diukur sebanyak 50 ml larutan KOH 0,1 N dan diencerkan dalam labu


takar 250 ml dengan menggunakan akuades batas
48.

Larutan H2C2O4 0,1 N

Ditimbang 1,575 gram H2C2O4.2H2O dimasukkan kedalam labu takar


250 ml dan diencerkan dengan akuades sampai garis batas
49.

Larutan Indikator Fhenolptalein

Ditimbang 1 gram Fenolptalein dan dilarutkan dengan alkohol dalam labu


takar 100 ml
50.

Larutan Alkohol Netral

Sebanyak 200 ml alkohol 96%, ditambahkan 4 tetes indikator Fenolptalein


dan ditetesi dengan larutan KOH 0,1 N hingga menjadi larutan merah
muda