Você está na página 1de 39

POTENSI KOMBINASI KUERSETIN-BROMELAIN

SEBAGAI AGEN GASTROPROTEKTIF


MELALUI PENINGKATAN INTEGRITAS MUKOSA GASTRODUODENAL
DAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN ULKUS PEPTIKUM

Disusun oleh:
Ardianto Arsadi Ali

(C111 12 303)

Angkatan 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

ABSTRAK
Penyakit ulkus peptikum, yang teridiri dari ulkus gaster dan ulkus duodenum, merupakan
salah satu masalah kesehatan dengan angka prevalensi yang tinggi di Indonesia dan di Dunia.
Penyakit ulkus peptikum diperkirakan diderita oleh 4 juta orang di seluruh dunia setiap
tahunnya. Meskipun pada umumnya tidak mengancam jiwa namun apabila tidak ditangani
dengan tepat dan segera maka dapat terjadi komplikasi-komplikasi mengancam nyawa seperti
kanker lambung maupun perforasi. Ulkus gaster maupun ulkus duodenum terjadi akibat
adanya ketidakseimbangan antara faktor-faktor agresif (asam klorida/asam lambung dan
pepsin) dengan faktor pertahanan mukosa. Kuersetin, salah satu bioflavanoid yang melimpah
di alam, diketahui mampu menurunkan faktor agresif dan meningkatkan faktor pertahanan
mukosa. Kuersetin mampu melindungi mukosa gaster dari lesi akut yang disebabkan oleh
berbagai model eksperimental dan terhadap agen nekrotik yang berbeda, termasuk stres,
ligasi pilorus, reserpin, aspirin, indometasin, dan etanol. Mekanisme aksi senyawa ini
melibatkan peningkatan produksi lendir, menghambat pertumbuhan H. pylori, mencegah
inflamasi mukosa, menekan sekresi asam oleh sel parietal, serta melindungi epitel dari radikal
bebas. Akan tetapi kuersetin diketahui memiliki bioavailabilitas rendah. Bromelain, enzim
yang berasal dari nanas, mampu meningkatkan absorbsi kuersetin dari saluran cerna serta
juga memiliki efek mempercepat penyembuhan ulkus. Penulis meyakini bahwa kombinasi
kedua senyawa ini memiliki potensi menjadi bahan alternatif suplemen makanan yang
bersifat gastroprotektif.

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................... ................ ...........i
ABSTRAK ............................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii
BAB 1 - PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang .............................................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah ........................................................................................................2

1.3.

Tujuan Penulisan .........................................................................................................2

1.4.

Manfaat Penulisan .......................................................................................................3

BAB 2 -TINJAUAN PUSTAKA


2.1.

Anatomi dan Histologi Lambung-Duodenum .............................................................4

2.2.

Fisiologi Sekresi Asam Lambung ................................................................................7

2.3.

Pertahanan Mukosa Lambung-Duodenum ................................................................11

2.4. Penyakit Ulkus Peptikum ...........................................................................................13


2.5.

Kuersetin ....................................................................................................................19

2.6.

Bromelain ..................................................................................................................26

BAB 3 - METODE PENULISAN


3.1.

Metode Penulisan.......................................................................................................28

3.2.

Metode Analisis Bahan ..............................................................................................28

3.3.

Sintesis Penulisan ......................................................................................................28

BAB 4 - ANALISIS DAN SINTESIS


4.1.

Efek Gastroprotektif dari Kuersetin...........................................................................30

4.2

Efek Gastroprotektif dari Bromelain .........................................................................32

4.3

Pengaruh Bromelain pada Absorbsi Kuersetin ..........................................................32

BAB 5 - PENUTUP
5.1

Kesimpulan ................................................................................................................34

5.2

Saran ..........................................................................................................................34

DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit ulkus peptikum (tukak peptik), yang teridiri dari ulkus gaster dan ulkus
duodenum, merupakan salah satu masalah kesehatan dengan angka prevalensi yang tinggi di
Indonesia dan di Dunia. Di Inggris sekitar 620% penduduk menderita ulkus pada usia 55
tahun, sedangkan prevalensinya 24%. Di Amerika Serikat ada 4 juta pasien dengan
gangguan asampepsin, prevalensinya adalah 12% pada pria dan 10% pada wanita dengan
angka kematian pasien 15.000 per tahun dan menghabiskan dana 10 milyar dolar per tahun.[1]
Di Indonesia, khususnya di Makassar, ditemukan prevalensi ulkus duodenum sebanyak 14%
dan ulkus duodenum disertai dengan ulkus gaster sebanyak 5%. Umur terbanyak yaitu antara
umur 45-65 tahun dengan kecenderungan semakin tua umur, prevalensi semakin meningkat
dengan dominasi pria lebih banyak dibandingkan dengan wanita. Dari waktu ke waktu,
manajemen ulkus gaster lebih baik seiring dengan ditemukannya faktor-faktor penyebab yang
ditunjang dengan kemajuan dalam bidang farmasi.[2]
Penyakit ulkus peptikum diperkirakan diderita oleh 4 juta orang di seluruh dunia
setiap tahunnya. Meskipun pada umumnya tidak mengancam jiwa namun apabila tidak
ditangani dengan tepat dan segera maka dapat terjadi komplikasi-komplikasi yang tidak
diinginkan seperti kanker lambung maupun perforasi gaster. Perforasi gaster sendiri
kemuadian dapat berlanjut menjadi peritonitis bakterial sekunder yang dapat menyebabkan
kematian jika terjadi syok sepsis. Komplikasi terjadi pada 10% -20% pasien dan 2% -14%
dari ulkus akan mengalami perforasi. Angka kematian dari perforasi ulkus peptik bervariasi
dari 10% -40%. Selain itu, kualitas hidup masyarakat yang mengalami ulkus peptik akan
terganggu yang pada akhirnya akan berkontribusi pada menurunnya produktivitas. [3]
Flavonoid adalah sekelompok zat alami dengan struktur fenolik bervariasi dan
ditemukan dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian, akar, kulit kayu, batang, dan bunga.
Produk-produk alami ini telah dikenal dengan efek menguntungkan terhadap kesehatan jauh
sebelum flavonoid diisolasi sebagai senyawa yang efektif. Lebih dari 4000 jenis flavonoid
telah diidentifikasi, banyak yang bertanggung jawab untuk warna yang menarik dari bunga,
buah-buahan dan daun-daunan. Salah satu flavonoid yang paling banyak dipelajari dan diteliti
terkait efek gastroprotektifnya adalah kuersetin. Kuersetin ditemukan melimpah dalam
bawang, brokoli, dan apel.[4]
1

Kuersetin diketahui mampu mencegah terjadinya ulkus peptikum dan membantu


percepatan penyembuhan ulkus melalui berbagai mekanisme.[5] Akan tetapi, kuersetin
umumnya diyakini sulit diserap. Hanya sekitar 25% dari dosis pemberian kuersetin diserap
dari usus halus. Untuk itu diperlukan agen yang mampu meningkatkan absorbsi senyawa ini.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, enyawa yang memiliki efek tersebut antara lain adalh
bromelain dan papain.[4]
Berdasarkan hal-hal di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut
mengenai pengaruh kuersetin yang dikombinasikan dengan bromelain sebagai adjuvan dalam
mencegah terjadinya serta mempercepat penyembuhan ulkus peptikum.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dirumuskan berdasarkan latar belakang di atas adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh konsumsi kuersetin terhadap integritas mukosa gastroduodenal
dan penyembuhan ulkus peptikum?
2. Bagaimana pengaruh konsumsi bromelain terhadap integritas mukosa gastroduodenal
dan penyembuhan ulkus peptikum?
3. Bagaimana pengaruh bromelain terhadap absorbsi kuersetin pada saluran cerna?

1.3. Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ilmiah ini, penulis
merumuskan tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan karya tulis ilmiah ini, yaitu:
1. Mengetahui pengaruh konsumsi kuersetin terhadap integritas mukosa gastroduodenal
dan penyembuhan ulkus peptikum.
2. Mengetahui pengaruh konsumsi bromelain terhadap integritas mukosa gastroduodenal
dan penyembuhan ulkus peptikum.
3. Mengetahui pengaruh bromelain terhadap absorbsi kuersetin melalui saluran cerna.

1.4. Manfaat Penulisan


Adapun manfaaat yang diharapkan dapat diperoleh dari karya tulis ilmiah ini adalah
sebagai berikut:
a. Sebagai referensi ilmiah bagi dokter dalam melakuakan edukasi ke pasien mengenai
pencegahan terjadinya ulkus peptitkum
b. Sebagai referensi ilmiah bagi produsen suplemen makanan mengenai kombinasi zatzat yang memiliki efek gastroprotektif

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Histologi Lambung-Duodenum
Lambung adalah bagian melebar dari traktus gastrointestinal, yang menunjukan
variasi signifikan dalam ukuran dan konfigurasi. Organ ini dimulai dari batas bawah
esogagus sampai berakhir di lapisan tebal otot polos (sfingter pilorus) untuk berlanjut
menjadi duodenum.[6] Lambung berbentuk mirip huruf J, berada di bawah diafragma, terletak
pada regio epigastrik, umbilikal, dan hipokondrium kiri pada regio abdomen. Secara
anatomik, lambung memiliki lima bagian utama, yaitu kardiak, fundus, korpus, dan pilorus.
Kardia adalah daerah kecil yang berada pada hubungan gastroesofageal (gastroesophageal
junction) dan terletak sebagai pintu masuk ke lambung Fundus adalah daerah berbentuk
kubah yang menonjol ke bagian kiri di atas kardia. Badan (corpus) adalah suatu rongga
longitudinal yang berdampingan dengan fundus dan merupakan bagian terbesar dari
lambung. Pilorik adalah suatu struktur tubular yang menghubungkan lambung dengan
duodenum dan terdiri dari antrum pilorik dan sfingter pilorik. Saat kosong, sisi dalam
lambung berbentuk lipatan-lipatan besar yang disebut rugae. Sisi kanan lambung berbentuk
konkaf, disebut kurvatura minor, sedangkan sisi kiri lambung berbentuk cembung, disebut
kurvatura mayor.[7] Duodenum sendiri merupakan bagian pertama dari usus halus yang terdiri
dari pars superior, pars descendens, pars horizontalis, dan pars ascendens. Pars superior
disebut juga sebagai ampulla dan merupakan kelanjutan dari pylorus.[6]
Lambung, sebagaimana mayoritas organ pencernaan lainnya terdiri dari 4 lapisan
yaitu mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa atau adventitia. Mukosa lambung terdiri
atas epitel permukaan, lamina propia, dan muskularis mukosa. Permukaan lumen mukosa
ditutupi epitel selapis silindris. Epitel ini juga meluas kedalam dan melapisi foveola gastrica
yang merupakan invaginasi epitel permukaan. Di daerah fundus lambung, foveola ini tidak
dalam dan masuk kedalam mukosa sampai kedalaman seperempat tebalnya. Di bawah epitel
permukaan terdapat lapisan jaringan ikat longgar, yaitu lamina propia, yang mengisi celah
diantara kelenjar gastrika. Lapisan luar mukosa dibatasi selapis tipis otot polos yaitu mukosa
muskularis yang terdiri atas lapisan sirkuler didalam dan longitudinal diluar. Berkas serat otot
polos dan mukosa muskularis meluas dan terjulur ke dalam lamina propria diantara kelenjar
lambung ke arah epitel permukaan.[8]

Gambar 1. Anatomi gaster dan duodenum proximal[7]

Histologi mukosa lambung dapat dibagi menjadi 3 jenis sebagai berikut:


a. Kardia
Lamina proprianya mengandung kelenjar kardia tubular simpleks atau bercabang.
Bagian terminal kelenjar ini banyak sekali bergelung dan sering dengan lumen lebar.
Hampir semua sel sekresi menghasilkan mucus dan lisozim, tetapi terlihat beberapa
sel parietal (yang menghasilkan HCL). Struktur kelenjar ini serupa dengan kelenjar
kardia bagian akhir esofagus.[8]
b. Fundus dan Korpus
Lamina propria di daerah ini terisi kelenjar lambung. Penyebaran sel-sel epitel pada
kelenjar lambung tidak merata. Bagian leher terdiri atas sel-sel pra kembang dan sel
mukosa leher, sedangkan bagian dasar kelenjar mengandung sel parietal (oksitik), sel
zimogen (chief cell) dan sel enteroendokrin. Sel parietal berupa sel bulat atau
berbentuk piramid, dengan satu inti bulat ditengah, dengan sitoplasma yang sangat
eosinofilik dan membentuk kanalikulus intraseluler.[8]
c. Pilorus.
Kelenjar pilorus lambung adalah kelenjar mukosa tubular bercabang atau bergelung.
Kelenjar ini mengeluarkan mukus dan cukup banyak lisozim. Sel gastrin (G) yang
melepaskan gastrin, tersebar diantara sel-sel mukosa dari kelenjar pilorus. Gastrin
yang merangsang pengeluaran asam oleh sel parietal dari kelenjar lambung.[8]
5

Gambar 2. Histologi gaster[7]

Duodenum memiliki struktur histologi yang mirip dengan lambung yaitu ditutupi
epitel selapis toraks. Selain itu duodenum memiliki struktur evaginasi yaitu plica circularis,
villi, dan micro villi dan struktur invaginasi yaitu crypte Lieberkuhn. Di dalam lapisan
submukosa duodenum terdapat kelenjar yang disebut sebagai kelenjar Brunner.[8]

2.2. Fisiologi Sekresi Asam Lambung


Sel-sel parietal secara aktif mengeluarkan HCl ke dalam lumen kantung lambung,
yang kemudian mengalirkannya ke dalam lumen lambung. pH isi lumen turun sampai
serendah 2 akibat sekresi HCl. Ion hidorgen (H+) dan ion klorida (Cl-) secara aktif
ditransportasikan oleh pompa yang berbeda di membran plasma sel parietal. Ion hidrogen
secara aktif dipindahkan melawan gradien konsentrasi yang sangat besar, dengan konsentrasi
H+ di dalam lumen mencapai tiga sampai empat juta kali lebih besar dari pada konsentrasinya
dalam darah. Karena untuk memindahkan H+ melawan gradien yang sedemikian besar
diperlukan banyak energi, sel-sel parietal memiliki banyak mitokondria, yaitu organel
penghasil energi. Klorida juga disekresikan secara aktif, tetapi melawan gradien konsentrasi
yang jauh lebih kecil, yakni hanya sekitar satu setengah kali.[9]
Ion H+ yang disekresikan tidak dipindahkan dari plasma tetapi berasal dari prosesproses metabolisme di dalam sel parietal. Secara spesifik, ion H+ disekresikan sebagai hasil
pemecahan dari molekul H2O menjadi H+ dan OH-. Di sel parietal H+ disekresikan ke lumen
oleh pompa H+-K+-ATPase yang berada di membran luminal sel parietal. Transpot aktif
primer ini juga memompa K+ masuk ke dalam sel dari lumen. Ion K+ yang telah
ditranspotkan, secara pasif balik ke lumen, melalui kanal K+, sehingga jumlah K+ tidak
berubah setelah sekresi H+. Sel-sel parietal memiliki banyak enzim karbonat anhidrase.
Dengan adanya karbonat anhidrase, H2O mudah berikatan dengan CO2, yang diproduksi
oleh sel parietal melalui proses metabolisme atau berdifusi masuk dari darah. Kombinasi
antara H2O dan CO2 menghasilkan H2CO3 yang secara parsial terurai menjadi H+ dan
HCO3-. HCO3- dipindahkan ke plasma oleh antipoter Cl-/HCO3- pada membran basolateral
dari sel parietal. Kemudian mengangkat Cl- dari plasma ke lumen lambung. Pertukaran Cldan HCO3- mempertahankan netralitas listrik plasma selama sekresi HCl.[9]
Faktor kimiawi, saraf, dan hormonal yang multipel berpartisipasi dalam pengaturan
sekresi asam lambung. Sekresi asam dirangsang oleh gastrin dan oleh serabut vagal
pascaganglion melalui reseptor kolinergik muskarinik pada sel parietal. Gastrin, stimulan
sekresi asam lambung yang dikenal paling kuat, dikandung dalam dan dilepaskan ke dalam
sirkulasi dari granula sekretorius sitoplasmik sel gastrin (sel G) yang tersebar satu-satu atau
dalam kelompok kecil di antara sel pelapis epitelial bagian tengah dan lebih dalam dari
kelenjar pilorik antral. Pelepasan gastrin dihambat oleh somatostatin dan dirangsang oleh
neuropeptida peptida pelepas gastrin. Gastrin juga terdapat dalam mukosa duodenum dengan
7

konsentrasi tertingginya pada duodenum paling proksimal (kira-kira 10% dari konsentrasi
pada antrum). Efek gastrin dan perangsangan vagal pada sekresi asam lambung saling
berhubungan dengan erat. Perangsangan vagal meningkatkan sekresi asam lambung melalui
perangsangan kolinergik sekresi sel parietal, dengan dirangsangnya pelepasan gastrin ke
dalam sirkulasi, dan dengan menurunkan ambang sel parietal untuk berespons terhadap
konsentrasi gastrin yang beredar. Cabang atau serabut vagal tertentu juga mencegah
pelepasan gastrin. Mukosa lambung mengandung histamin dalam jumlah besar. Histamin
terkandung dalam granula sitoplasmik sel mast, yang letaknya bukan epitelial (interstitial)
dan sel menyerupai-enterokromafin (ECL), sel endokrin epitelial yang tersebar satu demi satu
dalam kelenjar oxyntic, sering pada kontak langsung dengan sel parietal. Histamin
merangsang sekresi asam lambung dengan meningkatkan adenosin monofosfat siklik (AMP)
sel parietal, dengan demikian mengaktifkan protein kinase yang bergantung pada AMP siklik.
Gastrin dan asetilkolin, yang tidak merangsang produksi AMP siklik, merangsang sekresi
asam dengan meningkatkan kalsium sitosolik sel parietal.[10]

Gambar 3. Fisiologi sekresi asam lambung[7]

Rangsang fisiologik utama untuk sekresi asam lambung ialah menyantap makanan.
Secara umum, pengaturan sekresi asam lambung telah diklasifikasikan ke dalam 3 tahap,
yaitu sefalik, gastrik, dan intestinal. Klasifikasi ini agak berarti dalam menganalisis faktor
8

yang mengambil bagian dalam pengaturan sekresi asam lambung. Tahap sefalik yang
mencakup respons sekresi asam lambung pada pandangan, bau, rasa dan menantikan
makanan. Tahap lambung disebabkan oleh makanan dalam lambung. Tahap usus disebabkan
karena masuk atau terdapatnya makanan di dalam lumen usus halus. Walaupun ketiga tahap
ini baik sekali untuk mengingat akan bermacam sumbangan kepada sekresi asam lambung.
Tahap usus disebabkan karena masuk atau terdapatnya makanan di dalam lumen usus halus.
Walaupun ketiga tahap ini baik sekali untuk mengingat akan bermacam sumbangan kepada
sekresi lambung, tiap tahap adalah kompleks dan tidak perlu disebabkan karena suatu
mekanisme pengendalian perangsangan yang tunggal. Tahap sefalik, yang mencakup
komponen kortikal dan komponen hipotalamik, diperantarai terutama oleh aktivasi vagal,
yang meningkatkan sekresi asam lambung terutama oleh rangsangan langsung sel parietal
dan untuk sebagian kecil dengan meningkatkan pelepasan gastrin. Tahap lambung
diakibatkan oleh perangsangan reseptor kimiawi dan reseptor mekanis pada dinding lambung
oleh isi dalam lumen. Distensi lambung mekanis merangsang sekresi asam lambung namun
menyebabkan dalam jumlah kecil, bila ada, pelepasan gastrin; efek mekanis ini dihambat oleh
atropin dan tampaknya diperantarai oleh refleks vagal. Makanan dalam lambung menaikkan
sekresi asam dengan meningkatkan pelepasan gastrin. Terutama protein dan khususnya
produk pencernaan protein yang terkandung dalam makanan yang mempunyai efek ini;
glukosa oral dan lemak menyebabkan sedikit peningkatan gastrin serum tetapi tidak
merangsang sekresi lambung. Makanan dalam usus halus yang proksimal merangsang tahap
intestinal sekresi asam lambung.[10]
Suatu santapan yang mengandung pepton (protein daging yang dihidrolisis sebagian)
dalam usus halus merangsang sekresi asam lambung tetapi tidak pelepasan gastrin. Makanan
dalam usus halus mungkin menginduksi pelepasan hormon intestinal (berbeda dari gastrin)
yang merangsang sekresi asam lambung. Peningkatan asam amino yang beredar, yang
diserap dari usus halus, juga mungkin meningkatkan tahap intestinal sekresi asam lambung.
Sekresi asam lambung interdigestif atau basal dapat dipertimbangkan untuk menjadi tahap
keempat sekresi asam. Tahap ini tidak berhubungan dengan makan, mencapai puncaknya
sekitar tengah malam dan titik terendahnya pukul 7 pagi, dan jalur neural mungkin
merupakan yang paling penting dalam regulasinya. Minum kopi baik yang mengandung
kafein maupun yang bebeas kafein, merangsang sekresi asam lambung, dan keduanya akan
merangsang pelepasan gastrin. Pencernaan etanol dan minuman yang mengandung etanol
merangsang sekresi asam lambung, hal ini menimbulkan kesan bahwa mekanisme lokal dan
9

sistemik keduanya terlibat. Kalsium intravena melibatkan rangsangan dalam sekresi asam
lambung dan menghasilkan peningkatan minimal dalam kadar gastrin serum. Kalsium oral
juga akan dapat menignkatkan sekresi asam lambung secara langsung.[10]
Hambatan sekresi asam lambung dapat dihasilkan oleh beberapa mekanisme. Sekresi
asam mungkin dihambat oleh asam dalam lambung atau duodenum, oleh hiperglikemia, atau
oleh cairan hipertonik atau lemak dalam duodenum. Pengurangan pH intragastrik hingga 3,0
menghasilkan hambatan sebagian pelepasan gastrin; pengurangan lebih lanjut hingga pH 1,5
atau di bawahnya menghambat secara lengkap pelepasan gastrin terhadap hampir semua
rangsangan. Somatostatin tampaknya memainkan suatu peranan penting dalam hambatan
mekanisme unpan balik yang disebabkan oleh asam dari pelepasan gastrin. Somatostatin
menghambat pelepasan gastrin melalui efek lokalnya (parakrin) pada sel gastrin. Sel endokrin
mukosa antrum yang mengandung somatostatin (sel D) mempunyai proses sitoplasmik yang
meluas ke sel gastrin yang berdekatan. Selain itu, proses sitoplasmik sel somatostatin dalam
kelenjar oksintik meluas hingga kontak erat langsung dengan sel parietal lainnya.
Somatostatin mengurangi sekresi asam lambung melalui penghambatan pelepasan gastrin dan
melalui penghambatan langsung sekresi sel parietal. Asam dalam duodenum menurunkan
sekresi asam lambung oleh lambung, kemungkinan besar melalui perangsangan pelepasan ke
dalam sirkulasi peptida intestinal yang menghambat sekresi asam lambung. Sekretin, adalah
suatu polipeptida linear (27 asam amino) yang secara struktural berkaitan dengan glukagon,
mampu menghambat sekresi asam lambung. Sekretin dilepaskan oleh sel-sel endokrin (sel-sel
S) dalam mukosa usus halus yang proksimal dalam respons terhadap pengasaman mukosa.
Lemak dalam duodenum juga mengahambat sekresi asam lambung, peptida inhibitori
lambung (PIL) telah diusulkan sebagai suatu calon untuk kerja enterogastron ini; namun efek
PIL ini masih perlu diuji lagi. Mekanisme dengan hiperglikemia dan hiperosmolalitas
intraduodenal menghambat sekresi asam lambung tidak diketahui. Peptida tambahan mukosa
usus halus yang memiliki kemampuan untuk menghambat sekresi asam lambung termasuk
peptida intestinal vasoaktif (PIV), enteroglukagon, neurotensin, peptida YY, dan urogastron.
Peptida intestinal vasoaktif, suatu neuropeptida dan neurotransmiter yang diduga, mungkin
tidak menghambat sekresi asam lambung seperti suatu hormon yang bersirkulasi karena
meskipun dilepaskan pada respons terhadap makan, peptida tidak diaktifkan selama lintasan
portalnya melalui hati. Enteroglukagon, tersusun dari oksintomodulin (glukagon dengan
suatu perjalanan 8 asam amino terminal karboksil) dan glisentin (oksintomodulin dengan
suatu perpanjangan 32 asam amino terminal amino). Neurotensin, oksintomodulin dan
10

peptida dilepaskan dari usus halus pada perfusi lipid terminal. Urogastron secara secara
struktural dan fungsional idnetik dengan faktor pertumbuhan epidermal. Sejauh mana peptida
ini meningkatkan pengaturan fisiologis sekresi asam lambung belum pernah ditetapkan.[10]
2.3. Pertahanan Mukosa Lambung-Duodenum
Efek proteolitik pepsin sesuai dengan sifat korosif asam lambungyang disekresikan
merupakan komponen integral yang menyebabkan cedera jaringan yang menimbulkan ulkus
peptikum. Asam lambung akan mengkatalisis pembelahan molekul pepsinogen yang tidak
aktif, mengubahnya menjadi pepsin yang aktif secara proteolitik, dan juga akan memberikan
pH yang rendah untuk aktivitas pepsin. Aktivitas pepsin adalah maksimal pada pH kira-kira
2,0 dan akan sangat berkurang pada pH di atas 4,0. Pepsin mengalami denaturasi dan
inaktivasi secara ireversibel pada pH netral atau alkalis.[10]
Mekanisme lambung dan duodenum normal dalam menahan efek korosif dari pepsinasam (yaitu, resistensi mukosa terhadap jejas atau pertahanan mukosa) belum sepenuhnya
dimengerti. Meskipun demikian, berbagai faktor yang berperan dalam dan yang dianggap
berfungsi dalam pertahanan mukosa, telah dapat dikenali. Mukus lambung penting dalam
pertahanan mukosa dan mencegah ulserasi peptik. Mukus lambung disekresi oleh sel mukosa
pada sel epitel mukosa lambung dan kelenjar lambung. Sekresi mukus dirangsang oleh iritasi
mekanis atau kimiawi dan oleh rangsang kolinergik. Mukus lambung terdapat dalam 2 fase:
dalam cairan lambung pada fase terlarut dan sebagai lapisan jeli mukus yang tidak larut
dengan tebal kira-kira 0,2 mm, yang melapisi permukaan mukosa lambung. Normalnya, gel
mukus disekresi secara terus menerus oleh sel epitel mukosa lambung dan secara kontinu
dilarutkan oleh pepsin yang disekresi ke dalam lumen lambung. Mukus lambung merupakan
suatu glikoprotein primer yang besar mengandung empat subunit yang dihubungkan oleh
jembatan disulfida. Depolimerisasi subunit glikoprotein pada mukus, melalui pencernaan
peptik atau pemutusan ikatan disulfida, menyebabkan glikoprotein tidak mampu membentuk
atau mempertahankan jeli. Jika intak, jeli mukus ini bertindak sebagai lapisan air yang tidak
teraduk yang memeperlambat difusi ion tetapi jauh lebih tidak permeabel terhadap peneterasi
makromolekul seperti pepsin. Molekul pepsin yang disekresi ke dalam lumen lambung tidak
dapat masuk kembali dengan adanya jeli mukus yang intak, sehingga berpotensi melindungi
sel mukosa dari jejas proteolitik. [10]
Ketebalan

mukus meningkat dengan adanya prostaglandin E dan berkurangnya

dengan adanya obat-obatan OAINS, termasuk aspirin. Ion bikarbonat, yang disekresikan oleh
11

sel nonparietal epitel lambung, memasuki mukus mukosa, berperan pada pembangunan
lingkungan mikro di dalam mukus dengan gradien ion hidrogen yang besar di anatara zona
mukus yang meghadap ke lumen (pH 1 sampai 2) dan zona yang berhubungan dengan
mukosa lambung (pH 6 sampai 7). Sebagai lapisan air yang tidak teraduk, jeli mukus
memperlambat ion hidrogen untuk berdifusi kembali ke permukaan mukosa lambung, hal ini
memungkinkan pendaparan oleh bikarbonat di dalam mukus. Sekresi bikarbonat lambung
dirangsang oleh kalsium, seri tertentu dari prostaglandin E dan F, agen kolinergik, dan
dibutiril siklik guanosin monofosfat. Sekresi bikarbonat lambung dihambat oleh OAINS,
termasuk aspirin, dan oleh asetazolamid, agen alfa adrenergik, dan etanol. [10]
Normalnya permukaan lumen dan sambungan interseluler yang ketat dari sel epitel
lambung memeberikan barier mukosa lambung yang hampir total impermeabel difusi balik
ion-ion hidrogen dari lumen; barier ini merupakan komponen penting dari resistensi mukosa
terhadap jejas asam-peptik. Barier ini dapat terputus oleh asam empedu, salisilat, etanol, dan
asam lemah organik sehingga memungkinkan terjadinya difusi balik ion-ion hidrogen dari
lumen ke dalam jaringan lambung. Hal ini dapat menyebabkan jejas sel, pelepasan histamin
dan sel mast, rangsangan sekresi asam yang lebih lanjut, kerusakan pembuluh-pembuluh
darah kecil, perdarahn mukosa, dan erosi atau ulserasi. Interupsi barier mukosa lambung ini
sangat memungkinkan menjadi penyebab dari gastritis erosif hemoragik yang berhubungan
dengan penelanan salisilat atau etanol dan dengan bentuk jejas mukosa lambung lainnya.
Karena tingginya kecepatan aktivitas metabolik dam perlunya oksigen dalam jumlah besar,
upaya untuk mempertahankan aliran darah normal ke mukosalambung merupakan suatu
komponen penting pada resistensi mukosa terhadap jejas. Penurunan aliran darah mukosa
yang disertai difusi balik ion H dari lumen merupakan penyebab dari segala kerusakan
mukosa lambung.[10]
Prostaglandin, terdapat dalam jumlah besar di dalam mukosa lambung. Bermacammacam prostglandin terutama dari seri E, terlihat menghambat jejas mukosa lambung yang
disebabkan oleh berbagai macam agen. Prostaglandin endogen merupakan elemen penting
yang membangun pertahanan mukosa. Prostaglandin ini merangsang sekresi mukus lambung
dan bikarbonat mukosa lambung dan duodenum, yang akan mendaparkan sebagian besar
asam lambung yang telah disekresi. Prostaglandin ini berperan dalam mempertahankan aliran
darah mukosa lambung dan dalam integritas barier mukosa lambung. Prostaglandin
mempermudah pembaruan sel epitel dalam responsnya terhadap jejas mukosa.[10]

12

2.2. Penyakit Ulkus Peptikum


2.2.1. Definisi
Ulkus peptikum (UP) adalah kerusakan pada lapisan mukosa, sub mukosa sampai
lapisan otot saluran cerna yang disebabkan oleh aktifitas pepsin dan asam lambung. Ulkus
peptikum dapat mengenai esofagus sampai usus halus, tetapi kebanyakan terjadi pada bulbus
duodenum (90%) dan kurvatura minor. Bila terjadi di antara kardia dan pilorus disebut ulkus
lambung dan bila terjadi pada daerah setelah pilorus disebut ulkus duodenum. Ulkus
peptikum sangat jarang terjadi pada bayi dan anak dibanding dewasa, namun insiden yang
pasti belum diketahui. Pada kelompok anak, usia yang paling sering dikenai adalah 12-18
tahun; laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.[11]
2.2.2. Etiologi dan Faktor Resiko
Pada umumnya ulkus peptikum terjadi karena kehadiran asam, HP atau faktor-faktor
lain yang mengacaukan pertahanan mukosa dan proses penyembuhan normal. Hipersekresi
asam adalah mekanisme pathogenik utama yang menyebabkan terjadinya hipersekresi ZES.
Lokasi terjadinya ulkus (luka) sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor etiologinya. Ulkus
lambung jinak dapat terjadi dimana pun pada bagian perut, namun bagian yang paling sering
adalah kurvatura minor. Ulkus duodenum lebih sering terjadi di bagian pertama
duodenum.[12]
a. Infeksi Helicobacter pylori
Pada semua individu, infeksi Helicobacter pylori (HP) menyebabkan gastritis kronis
yang lebih lanjut dapat menyebabkan penyakit ulkus peptikum, kanker lambung, dan
limpoma jaringan mukosa yang berhubungan dangan limfoid (MALT). Sekitar 20
pasien gastritis kronis akibat infeksi HP akan berkembang menjadi ulkus peptikum.[12]
b. Obat Antiinflamasi nonsteroid (AINS)
AINS merupakan golongan obat yang paling sering diresepkan terutama pada pasien
lanjut usia. Terdapat banyak bukti yang menunjukan penggunaan AINS kronis
berhubungan dengan terbentuknya berbagai luka/ulkus pada saluran pencernaan.
Pendarahan lambung subepitel terjadi sekitar 15-30 menit setelah menelan obat ini.
Ulkus peptikum akibat induksi AINS akan semakin parah dan memungkinkan
terjadinya berbagai komplikasi bila terdapat faktor-faktor resiko berikut:
13

I.

Faktor resiko independen: usia lebih dari 60 tahun, riwayat ulkus peptikum
sebelumnya, riwayat pendarahan saluran gastrointestinal atas, sedang
menjalani terapi kortikosteroid, penggunaan beberapa AINS dalam dosis
tinggi, penggunaan antikoagulan atau koagulopati, kerusakan organ kronis
(misalnya; gagal jantung atau gagal ginjal).

II.

Faktor resiko pendukung: penggunaan AINS yang berhubungan dengan


dispepsia, durasi penggunaan AINS, infeksi HP, reumatoid arthritis.

III.

Faktor resiko lain yang masih diragukan kebenarannya: kebiasaan merokok


dan atau konsumsi alkohol.[12]

Kombinasi beberapa faktor resiko pada diri seseorang akan semakin meningkatkan
resiko parahnya kondisi ulkus peptikum. Penting tidaknya pengaruh faktor psikologis
seseorang (stres) terhadap kondisi ulkus peptikum masih kontroversial. Pengamatan klinis
menunjukan adanya hubungan berbanding lurus antara kondisi ulkus dan kondisi stres
psikologis seorang pasien, namun studi terkontrol memberikan hasil yang bertentangan dan
gagal untuk mendokumentasikan hubungan sebab akibatnya. Ada kemungkinan bahwa stres
akan memicu seseorang untuk melakukan hal-hal yang mencetuskan faktor resiko ulkus
seperti merokok atau konsumsi alkohol dan kemungkinan meningkatkan penggunaan
AINS.[12]
2.2.3. Patofisiologi
Ulkus gaster maupun

ulkus duodenum terjadi akibat adanya ketidakseimbangan

antara faktor-faktor agresif (asam klorida/asam lambung dan pepsin) dengan faktor
pertahanan mukosa.[12]
Asam lambung dan Pepsin
Sekresi asam lambung dan pepsin akan berpotensi merusak dinding mukosa. Asam
lambung (HCl) disekresikan oleh sel-sel parietal yang mengandung resptor histamin, gastrin
dan asetilkolin. Asam lambung sebagaimana halnya HP dan AINS merupakan faktor resiko
yang independen yang merusak dinding mukosa. Peningkatan sekresi asam lambung pada
pasien dengan ulkus duodenum akan memicu terjadinya infeksi HP. Pasien dengan ZES
umumnya akan mengalami hipersekresi asam lambung akibat produksi gastrin dari tumor.
Sedangkan pasien dengan ulkus gastrik umumnya akan mensekresi asam lambung dalam
kadar normal atau dibawah normal (hipokloridria).[12]
14

Sekresi asam dinyatakan dalam berbagai istilah diantaranya:


a. Output asam basal/ basal acid output (BAO) yaitu jumlah asam yang dikeluarkan
dalam kondisi basal atau puasa.
b. Maximal acid output (MAO) yaitu jumlah maksimum asam lambung yang
disekresikan setelah adanya stimulasi, atau sebagai respon adanya makanan.
Sekresi asam basal, maksimal dan akibat adanya stimulasi makanan bervariasi pada
tiap-tiap individu tergantung pada waktu, kondisi psikologis seseorang, usia, jenis kelamin,
dan status kesehatannya. BAO mengikuti ritme circadian, dimana sekresi asam lambung
tertinggi terjadi pada malam hari dan terendah pada pagi hari. Peningkatan rasio BAO:MAO
menunjukan adanya hipersekresi basal seperti yang terjadi pada pasien ZES.[12]
Pepsinogen merupakan prekursor pepsin yang disekresikan oleh sel chief yang berada
pada fundus lambung. Pepsin dapat diaktifkan oleh kondisi PH yang asam (PH optimalnya
1,8-3,5). Inaktivasi reversibel terjadi pada PH 4 dan irreversibel pada PH 7. Pepsin
memainkan peranana penting dalam aktivitas proteolitik yang mengakibatkan terjadinya
ulkus.[12]
Pertahanan dan Perbaikan Mukosa
Mekanisme pertahanan dan perbaikan mukosa melindungi mukosa gastroduodenum
dari pengaruh bahan eksogen maupun endogen. Mekanisme pertahanan mukosa meliputi:
sekresi lendir dan bikarbonat, pertahanan sel epitel intrinsik, dan aliran darah mukosa.
Kekentalan dan PH netral dari barier lendir-bikarbonat melindungi isi perut dari pengaruh
asam dalam lumen perut. Perbaikan mukosa setelah cedera/luka berhubungan dengan
restitusi, pertumbuhan, dan regenerasi sel epitel.[12]
Pemeliharaan mukosa dimediasi oleh pembentukan prostaglandin, hal ini sering
disebut dengan istilah sitoproteksi. Hiperemia lambung dan peningkatan sekresi
prostaglandin menunjukan adanya sitoproteksi adaptif, suatu bentuk adaptasi jangka pendek
sel mukosa terhadap iritasi lokal yang terjadi. Perubahan dalam pertahanan mukosa yang
disebabkan oleh HP atau AINS merupakan kofaktor penting terbentuknya ulkus peptikum.[12]
Infeksi beberapa bakteri yang didukung dengan faktor resiko intern pasien dapat
menyebabkan luka mukosa gastroduodenum, melalui mekanisme:

15

a. Perusakan mukosa secara langsung. Perusakan mukosa secara langsung ini dihasilkan
oleh

faktor-faktor

virulensinya

(vacuolating

cytotoxine,

cytotoxine

yang

berhubungan dengan gen protein, faktor penghambat pertumbuhan), mengelaborasi


enzim bakteri (lipase, protease, dan urease), serta adherence. Sekitar 50% strain HP
menghasilkan protein toksin (Vac A) yang bertanggung jawab pada pembentukan sel
vakuola. Strain dengan sitokin terkait gen protein (cagA) berhubungan dengan ulkus
duodenum, gastritis atropik, dan kanker lambung. Lipase dan protease menurunkan
kadar lendir lambung, amonia menghasilkan urease yang dapat bersifat toksik pada
sel epitelial lambung. Adherence bakteri meningkatkan penyerapan racun ke dalam
sel epitel lambung.
b. Alterasi respon imun/inflamasi pada inang. Infeksi HP merubah respon inflamasi dan
merusak sel-sel epitel inang secara langsung melalui mediasi sel-sel imun, atau secara
tidak langsung melalui aktivasi netrofil atau makrofag.
c. Hipergastrinemia yang menyebabkan sekresi asam lambung
d. HP juga meningkatkan konversi karsinogenik sel-sel epitel lambung.[12]
AINS dapat menyebabkan terjadinya kerusakan mukosa lambung melalui dua mekanisme:
a. Iritasi langsung topikal pada epitelium lambung
b. Penghambatan sintesa prostaglandin endogen.[12]
Pada hampir semua ulkus peptikum yang disebabkan penggunaan AINS, ulkus
umumnya diawali dengan iritasi lokal pada mukosa lambung akibat sifat asam dari AINS.
Namun, inhibisi sintesa prostaglandin endogenlah yang lebih berperan pada kondisi
terjadinya ulkus peptikum. Dimana AINS berperan menghambat proses konversi asam
arakhidonat menjadi prostaglandin.[12]
2.2.4. Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Presentasi klinis (tanda dan gejala) penyakit ulkus peptikum bervariasi tergantung
pada tingkat keparahan nyeri abdominal dan ada tidaknya komplikasi yang menyertainya.
Namun secara umum, ulkus peptikum akan ditandai dengan adanya rasa nyeri epigastrik.[12]

16

Gejala:
a. Nyeri abdomen yang sering terasa seperti rasa terbakar, kembung, perasaan perut
penuh. Nyeri pada ulkus duodenum terjadi sekitar 3 jam setelah makan atau saat lapar
sedangkan nyeri pada ulkus gaster terjadi segera setelah makan.
b. Tingkat keparahan nyeri akibat ulkus bervariasi pada beberapa pasien, dan mungkin
bersifat musiman terutama pada penderita yang tinggal dinegara empat musim.
Episode nyeri dapat berlangsung dalam beberapa minggu yang diikuti dengan periode
bebas nyeri dalam kurun waktu mingguan hingga tahunan.
c. Adanya perubahan karakter nyeri dapat menunjukan adanya komplikasi
d. Mulas, bersendawa, dan kembung yang sering disertai rasa nyeri
e. Mual, muntah dan anoreksia lebih sering terjadi pada pasien ulkus lambung dibanding
ulkus duodenum.[12]
Tanda:
a. Penurunan berat badan sebagai konsekuensi dari gejala mual, muntah dan anoreksia
b. Ditemukannya komplikasi seperti pendarahan, perforasi, penetrasi dan obstruksi.[12]
Dalam penentuan diagnosa ulkus peptikum, maka perlu dilakukan sejumlah pemeriksaan,
diantaranya:
a. Data pengujian asam lambung
b. Pengujian konsentrasi gastrin lambung puasa, bila pasien tidak responsif terhadap
terapi yang telah diberikan, atau pada pasien yang diduga mengalami hipersekresi
gastrin
c. Pasien ulkus peptikum akan menunjukan hasil pengujian hematokrit dan hemoglobin
yang rendah bila disertai dengan pendarahan, dan hasil tes hemmocult terhadap tinja
positif
d. Uji Helicobacter pylori
e. Eshophagogastroduodenoscopy. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi lebih dari 90%
pasien ulkus peptikum dan memungkinkan untuk inspeksi, biopsi, visualisasi erosi
superfisial, situs pendarahan aktif secara langsung.
f. Radiografi dengan kontras barium tunggal rutin dapat mendeteksi 30% ulkus
peptikum dan dengan kontras ganda dapat mendeteksi 60-80% ulkus peptikum.[12]

17

2.2.4. Terapi
Terapi penyakit ulkus peptikum pada dasarnya adalah dengan membasmi
pertumbuhan HP dan mengurangi resiko ulkus akibat OAINS. Obat-obatan yang berupa
antibiotika (klaritromisin, metronidazole, amoksisilin dan garam-garam bismut) dan
antisekretori seperti proton pump inhibitor (PPI) dan H2 Receptor antagonist (H2RA)
digunakan untuk meringankan dan menyembuhkan ulkus serta membasmi bakteri HP.[12]
PPI dan H2RA serta sukralfat digunakan untuk terapi ulkus akibat induksi OAINS dan
terbukti negatif infeksi HP, namun pasien dengan terapi ini beresiko tinggi mengalami
kekambuhan ulkus jika penggunaan OAINS terus berlanjut. Terapi pendukung untuk
profilaksis ulkus pada pasien pengguna OAINS dapat berupa PPIs atau misoprostol.
Mengganti jenis OAINS nonselektif dengan OAINS yang selektif COX-2 juga terbukti
efektif dalam mengurangi dan mencegah ulkus akibat induksi OAINS.[12]
Modifikasi diet bagi orang-orang yang kurang mampu mentoleransi makanan tertentu juga
perlu dilakukan disamping perlunya melakukan modifikasi gaya hidup seperti mengurangi
stres, mengurangi/menghilangkan kebiasaan merokok.[12]
Terapi Nonfarmakologi
a. Mengurangi/menghilangkan stres psikologis, kebiasaan merokok dan penggunaan
OAINS
b. Menghindari makanan/minuman tertentu yang dapat merangsang ulkus seperti
makanan pedas, kafein dan alkohol
c. Mengganti

penggunaan

OAINS

nonselektif

dengan

asetaminofen,

salisilat

takterasetilasi (misal salsalat) atau OAINS selektif COX-2 untuk mengatasi timbulnya
rasa nyeri
d. Dalam kondisi tertentu, ulkus peptikum memerlukan tindakan pembedahan.[12]
Terapi Farmakologi
a. Regimen terapi eradikasi H. pylori yaitu kombinasi Klaritromisin, Amoxicillin, dan
PPI.
b. PPIs dapat dipilih diantara alternatif berikut Omeprazole 20-40 mg/hari, atau
lanzoprazole 15-30 mg/hari, atau pantoprazole 40 mg/hari, atau esomeprazole 20-40
mg/hari.
18

c. Antagonis reseptor H2 (H2RA) dapat berupa simetidin 4x300 mg/hari atau 2x400
mg/hari atau 800 mg/hari sebelum tidur, dosis maintenance 800 mg sebelum tidur.
Atau Ranitidin 2x150 mg atau 1x300 mg sebelum tidur, dengan dosis maintenance
150-300 mg sebelum tidur. Atau famotidin 2x20 mg atau 1x40 mg sebelum tidur,
dengan dosis maintenance 20-40 mg sebelum tidur.
d. Sukralfat 4x1 mg atau 2x2 mg dengan dosis maintenance 2x1-2 mg/hari.[12]
2.3. Kuersetin
Kuersetin adalah bioflavonoid yang unik yang telah dipelajari secara ekstensif oleh
para peneliti selama 30 tahun terakhir. Bioflavonoid pertama kali ditemukan oleh pemenang
Hadiah Nobel, Albert Szent Gyorgyi, pada tahun 1930. Flavonoid adalah sekelompok zat
alami dengan struktur fenolik bervariasi dan ditemukan dalam buah-buahan, sayuran, bijibijian, akar, kulit kayu, batang, dan bunga. Produk-produk alami ini telah dikenal dengan
efek menguntungkan terhadap kesehatan jauh sebelum flavonoid diisolasi sebagai senyawa
yang efektif. Lebih dari 4000 jenis flavonoid telah diidentifikasi, banyak yang bertanggung
jawab untuk warna yang menarik dari bunga, buah-buahan dan daun-daunan.[4]

Gambar 4. Struktur kimia kuersetin[14]


Kuersetin ditemukan melimpah dalam bawang, brokoli, apel dan beri. Kuersetin,
flavonoid yang paling melimpah (nama berasal dari -quercetum (Latin), yang berarti hutan
oak) terdiri dari 3 cincin dan 5 kelompok hidroksil. Kuersetin merupakan anggota dari kelas
flavonoid yang disebut flavonol dan membentuk tulang punggung bagi banyak flavonoid
lainnya termasuk flavonoid sitrus seperti rutin, hesperidins, Naringenin dan tangeritin.
Kuersetin sendiri merupakan aglikon atau aglukon yang tidak memiliki sebuah bagian
karbohidrat dalam strukturnya. Kuersetin biasanya ditemukan pada tumbuhan sebagai
19

konjugat glikon atau karbohidrat. Glikon konjugat dari kuersetin termasuk rutin dan thujin.
Rutin juga dikenal sebagai Kuersetin-3-rutinoside.Thujin juga dikenal sebagai quercitrin,
Kuersetin-3-L-rhamnoside dan 3-rhannosyl qurcetin. Bawang mengandung konjugat dari
Kuersetin dan karbohidrat antara lain Kuersetin-3-4'-di-o beta glukosida, isorhamnetin-4'-obeta glukosida dan Kuersetin-4'-o beta glukosida.[4]
Kuersetin umumnya diyakini sulit diserap. Sekitar 25% dari dosis pemberian
kuersetin diserap dari usus kecil. Meskipun penelitian terbaru oleh Hollman et al
menyimpulkan bahwa manusia menyerap jumlah kuersetin yang cukup banyak, bertentangan
dengan asumsi tersebut. Akan tetapi, zat ini ditemukan dalam plasma manusia sebagian besar
berkonjugat dengan asam glukuronat, sulfat atau gugus metil, dengan jumlah kuersetin bebas
yang tidak signifikan. Kuersetin ditemukan mencapai 0,1-10 umol/L (mikromol per liter)
dalam sirkulasi. Konsentrasi kuersetin terutama disebabkan adanya metabolit kuersetin
daripada bentuk aglikon sebagaimana baru-baru ini direvisi oleh Murota dan Terao.
Mengenai farmakokinetik kuersetin glukosida konjugat; tampaknya bahwa penentu utama
penyerapan konjugat ini adalah sifat dari bagian gula. Misalnya kuersetin glukosida diserap
dari usus kecil, sedangkan kuersetin rutinosides diserap dari usus besar setelah penghapusan
bagian karbohidrat oleh enzim bakteri. Selain bentuk kimia flavonol itu, kandungan lemak
dari diet juga mempengaruhi bioavailabilitas oral kuersetin. Lesser et al meneliti pengaruh
lemak makanan pada bioavailabilitas oral kuersetin. Menurut mereka,

bioavailabilitas

Kuersetin dari setiap diet selalu lebih tinggi dari glukosida daripada dari aglikon tapi terlepas
dari bentuk kimianya, bioavailabilitas kuersetin juga ditemukan lebih tinggi pada diet lemak
17% dibandingkan dengan diet lemak 3%.[5]
Penelitian telah menunjukkan bahwa Bromelain, enzim yang berasal dari nanas,
meningkatkan penyerapan kuersetin. Bromelain adalah zat kompleks yang sebagian besar
terdiri dari enzim proteolitik. Beberapa studi telah menyajikan bukti bahwa bromelain adalah
agent fibrinolitik. Bromelain juga dikenal memiliki banyak sifat inhibitorik histamin dan
leukotrien sebagaimana kuersetin. Dengan cara ini mereka saling mendukung satu sama
lainnya.[5]
Setelah diserap dalam usus kecil, kuersetin diangkut ke hati melalui sirkulasi portal, di
mana ia mengalami metabolisme pertama. Kuersetin dan metabolitnya didistribusikan ke
berbagai jaringan dalam tubuh. Kuersetin sangat terikat pada albumin dalam plasma. Tingkat
plasma puncak mencapai 0,7 jam dalam 7,0 jam setelah menelannya. Waktu paruh dari
20

kuersetin adalah sekitar 25 jam. Eliminasi kuersetin secara signifikan tertunda setelah aplikasi
dengan diet kaya lemak.[5]
Kuersetin dikontraindikasikan dengan antibiotik; zat ini mungkin berinteraksi dengan
fluorokuinolon, dimana kuersetin secara kompetitif mengikat DNA gyrase dari bakteri.
Apakah ini menghambat atau meningkatkan efek fluorokuinolon tidak sepenuhnya jelas.
Kuersetin telah terbukti menyebabkan mutasi kromosom pada bakteri tertentu dalam studi in
vitro. Meskipun pentingnya temuan ini untuk manusia tidak jelas, beberapa dokter menaruh
perhatian tentang kemungkinan bahwa cacat lahir bisa terjadi pada keturunan orang tang
mengkonsumsi suplemen kuersetin selama kehamilan.[14]
Antioksidan
Khasiat terbaik Kuersetin yang dapat dijelaskan adalah kemampuannya untuk
bertindak sebagai antioksidan. Kuersetin tampaknya menjadi flavonoid yang paling kuat
untuk melindungi tubuh terhadap spesies oksigen reaktif, yang dihasilkan selama
metabolisme oksigen normal atau yang disebabkan oleh jejas eksogen. Salah satu mekanisme
yang paling penting dan urutan peristiwa dimana radikal bebas mengganggu fungsi sel
tampaknya adalah peroksidasi lipid yang akhirnya menyebabkan kematian sel. Untuk
melindungi kematian sel ini terjadi dari spesies oksigen reaktif, organisme hidup telah
mengembangkan lini antioksidan pertahanan sendiri. Ini termasuk antioksidan enzimatik dan
non-enzimatik yang menjaga tingkat ROS/RNS dan memperbaiki sel yang mengalami jejas
oksidatif. Enzim utama, yang merupakan garis pertahanan pertama, terlibat langsung dalam
netralisasi ROS/RNS adalah: superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT) dan glutathione
peroxidase (GPx) Garis pertahanan kedua diwakili oleh antioksidan pemulung radikal seperti
vitamin C, vitamin A, dan fitokimia tanaman termasuk kuersetin yang menghambat inisiasi
rantai oksidasi dan mencegah propagasi berantai .Ini juga dapat mencakup penghentian rantai
dengan reaksi dari dua radikal.Mekanisme perbaikan dan enzim de novo bertindak sebagai
garis pertahanan ketiga dengan memperbaiki kerusakan dan membangun kembali membran.
Ini termasuk lipase, protease, enzim perbaikan DNA dan transferases. Produksi radikal bebas
pada sel hewan dapat menjadi kebetulan atau disengaja. Dengan meningkatnya penerimaan
radikal bebas sebagai intermediet biokimia yang penting, mereka telah terlibat dalam
sejumlah besar penyakit manusia. Kuersetin bertindak sebagai pemulung radikal bebas
ditunjukkan untuk mengerahkan efek perlindungan dalam cedera reperfusi.[4]

21

Anti kanker
Banyak penelitian in vitro dan in vivo pada hewan percobaan telah berusaha untuk
menjelaskan efek kuersetin dalam kanker. Dalam bukti vitro menunjukkan bahwa kuersetin
memiliki berbagai mekanisme antikanker, termasuk pro-apoptosis, efek cell-signalling, dan
penurunan faktor pertumbuhan, serta potensi sinergisme dengan beberapa agen kemoterapi.
Kuersetin juga telah terbukti dapat menghambat pertumbuhan kanker in vivo pada hewan
percobaan yang dirancang untuk mempromosikan pembentukan tumor.[15]
Antiinflamasi
Kuersetin telah menunjukkan aktivitas anti-inflamasi yang signifikan karena
penghambatan langsung dari beberapa proses awal peradangan.[14] Zat ini menghambat baik
produksi dan pelepasan mediator inflamasi. Pada konsentrasi 1 pM, flavonoid sudah
mengurangi produksi sitokin 77 7%. Produksi IL-10 terinduksi LPS tetap tidak terpengaruh
oleh flavonoid ini. Akibatnya, kuersetin juga mampu secara signifikan mengurangi rasio
penanda pro- terhadap anti-inflamasi TNF/IL-10, yang sering digunakan parameter
diagnostik peradangan. Ditemukan bahwa efek in vitro dari kuersetin sangat tergantung pada
tingkat TNF diinduksi oleh LPS.[16]

Gambar 5. Efek kuersetin terhadap produksi TNFa diinduksi-LPS[16]

Antialergi
Secara in vitro, kuersetin menghambat pelepasan histamin oleh sel mast dan basofil,
yang tidak lain menunjukkan efek antialergi. Bukti hewan menunjukkan bahwa kuersetin
mungkin memiliki potensi terapi untuk penyakit alergi pada saluran napas. Beberapa studi
yang dilakukan pada marmut telah melaporkan bahwa kuersetin, disediakan secara oral atau
22

diberikan melalui inhalasi, memiliki aktivitas anti-asma Dalam model murine dengan
peradangan saluran napas alergi dan asma, kuersetin telah menunjukkan efek anti-inflamasi,
mengurangi jumlah eosinofil dan neutrofil jumlah dan infiltrasi di jaringan paru-paru, dan
menghambat reaksi asma.[15]
Gastroprotektif
Kuersetin diketahui merupakan flavanoid denan efek gastroprotektif yang paling
banyak dipelajari. Zat ini melindungi mukosa gastrointestinal dari lesi akut yang disebabkan
oleh berbagai model experiemental dan terhadap agen nekrotik yang berbeda, termasuk stres,
ligasi pilorus, reserpin, aspirin, indometasin, asam-etanol dan ulkus lambung yang diinduksi
etanol. Mekanisme aksi gastroprotektif yang melibatkan PAF endogen, peningkatan produksi
lendir, sifat antihistamin, yang menurunkan kadar histamin dan pengurangan jumlah sel mast
diinduksi-etanol. Zat ini juga menghambat pertumbuhan H. pylori, pembentukan asam oleh
sel parietal dalam menanggapi rangsangan oleh histamin dan dibutyryl siklik AMP, serta
pompa proton lambung. Mekanisme utama aksi untuk efek gastroprotektif dari flavonol ini
adalah sifat antioksidan, karena pretreatment oral dengan kuersetin (200 mg / kg) memiliki
efek protektif dalam hal itu secara signifikan mengurangi keparahan ulkus diinduksi etanol
dengan menghambat peroksidasi lipid.[5]
Dalam penelitian terkini, peningkatan pH dan penurunan keasaman, output asam dan
konsentrasi pepsin terbukti pada hewan dengan ulkus peptik yang diobati dengan kuersetin.
Efek gastroprotektif dari QUE mungkin disebabkan oleh tindakan langsung pada sel-sel yang
memproduksi asam. Kuersetin menghambat produksi asam dalam sel parietal terisolasi dalam
respon terhadap stimulasi histamin dan dibutyryl-cAMP dan menghambat aktivitas H+/K(+)ATPase. Penghambatan H+/K(+)-ATPase tergantung pada konsentrasi ATP. Temuan ini
menunjukkan bahwa pengaruh flavonoid pada aktivitas
dengan pengaruh mereka terhadap kompleks ATP.[17]

23

H+/K(+)-ATPase berhubungan

Gambar 6. Pengaruh kuersetin terhadap parameter-parameter lambung pada tikus yang diberi indometasin[17]

Penelitian in vitro oleh Brown menunjukkan bahwa kuersetin menghambat


pertumbuhan semua strain H. pylori yang diuji, menunjukkan bahwa zat ini mungkin juga
dapat efektif secara in vivo. Meskipun H. pylori tidak dibasmi sempurna setelah pengobatan,
angka bakteri lebih rendah pada kelompok perlakuan bila dibandingkan dengan kontrol yang
terinfeksi, mendukung bahwa respon antibakteri kuersetin bergantung pada dosis. Temuan ini
sesuai dengan penelitian serupa di mana polifenol lain gagal untuk sepenuhnya memberantas
H. pylori bila diberikan ke hewan yang terinfeksi sambil menunjukkan penurunan moderat
dalam angka H. pylori. Untuk mendukung hal ini, Gonzalez- Segovia et al. (2008) baru-baru
ini melaporkan bahwa kuersetin signifikan menurun kolonisasi H. pylori di marmut
terinfeksi. Namun, dosis kuersetin yang digunakan dalam penelitian yang empat kali lipat
lebih tinggi daripada Brown dan langsung diberikan dua kali sehari selama 2 minggu. Oleh
karena itu, perbedaan dalam tingkat H. pylori setelah pengobatan dapat dijelaskan oleh
konsentrasi kuersetin yang lebih tinggi. Namun, perbandingan antara dua studi tidak bisa
dibuat akibat perbedaan hewan model pada kedua penelitian.[18]

Gambar 7. Pengaruh pemberian kuersetin pada pertumbuhan strain H. pylori [18]

24

Salah satu kriteria penting untuk menentukan status resistensi mukosa adalah keadaan
sekresi lendir. kuersetin meningkatkan sekresi mukus dari sel-sel lambung. Mukus
polisakarida menyediakan buffer pelindung bagi sel-sel lambung dari pH rendah dari isi
lambung. Kontak yang berkurang memberikan perlindungan dari lesi lambung. Mukus ini
terdiri dari jenis glikoprotein musin, yang dapat diperkirakan dengan rasio total karbohidrat
ke protein. Glikoprotein dengan berat molekul tinggi ini terutama bertanggung jawab untuk
karakteristik kental dan gel pembentukan lendir. Peningkatan sekresi lendir oleh sel-sel
mukosa lambung dapat mencegah ulserasi lambung melalui beberapa mekanisme, termasuk
berkurangnya gesekan dinding lambung selama peristaltik dan kontraksi lambung,
meningkatkan penyangga getah lambung asam dan dengan bertindak sebagai penghalang
efektif untuk mendukung difusi ion H+.[17]

Gambar 8. Perbandingan konten mukus adheren lambung pada berbagai jenis perlakuan[19]

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 8, mukus adheren secara signifikan menurun pada
kedua kelompok hewan setelah induksi iskemia/reperfusi tanpa praterapi dengan kuersetin
Dalam hewan yang mendapat praterapi kuersetin hanya sedikit penurunan yang tidak
signifikan dalam konten mukus.[19] Kuersetin dalam mempercepat penyembuhan luka telah
dijelaskan oleh beberapa mekanisme, seperti merangsang kontraksi luka dan meningkatkan
pembentukan epitelisasi.[17]

25

Gambar 9. Perbandingan ukuran lesi mukosa gaster diinduksi iskemi/reperfusi setelah diberi dosis bertingkat
kuersetin[19]

2.4. Bromelain
Isolasi pertama bromelain tercatat oleh kimiawan Venezuela Vicente Marcano pada
tahun 1891 dari buah nanas. Bromelain terdapat di semua bagian tanaman nanas (Ananas
comosus), tetapi batang adalah sumber komersial yang paling umum, mungkin karena sudah
tersedia setelah buah telah dipanen. Nanas memiliki tradisi panjang sebagai tanaman obat di
antara penduduk asli Amerika Selatan dan Tengah. Namun, hanya makan nanas tidak akan
memberikan banyak bromelain ekstra, karena zat ini sangat terkonsentrasi di batang, yang
hampir pasti tidak enak (meskipun masih dapat dimakan).[20]
Bromelain dianggap sebagai suplemen makanan dan tersedia secara bebas untuk
masyarakat umum di toko makanan kesehatan dan apotek di Amerika Serikat dan Eropa. Ada
bukti menunjukkan bahwa bromelain bisa menjadi kandidat yang menjanjikan untuk
pengembangan terapi enzim oral masa depan untuk pasien onkologi. Bromelain dapat diserap
dalam usus manusia tanpa degradasi dan tanpa kehilangan aktivitas biologisnya.[21]
Bromelain diserap melalui saluran grastrointestinal. Zat ini terdeteksi (sampai 40%)
dalam darah setelah pemberian oral pada tikus. Konsentrasi bromelain ditemukan tertinggi
dalam darah setelah satu jam pasca administrasi. Penelitian sebelumnya juga melaporkan
bahwa lebih dari 40% dari bromelain diserap di usus. Dalam sebuah studi eksperimental

26

ditentukan waktu paruh (6-9 jam) dan konsentrasi plasma (2,5-4 ng / ml) bromelain setelah
pemberian oral 8,6 gram setiap hari.[22]
Khasiat Bromelain berasal dari enzim, atau protein, yang merangsang aktivitas kimia
dalam tubuh. Bromelain dikenal sebagai enzim proteolitik, yang berarti bahwa ia mencerna
protein (atau protease). Delapan bahan kimia yang berbeda dalam bromelain membantu
mencerna protein. Walaupun inflamasi membantu menyembuhkan tubuh selama cedera,
terlalu banyak pembengkakan dapat menyebabkan komplikasi kesehatan. Dengan memecah
fibrin bromelain dikatakan membantu mencegah penggumpalan darah dan melancarkan
sirkulasi. Demikian pula, para pembuat suplemen mengklaim aktivitas enzimatik ini
mengencerkan darah dan mencegah penumpukan plak di arteri.[20]
Bromelain juga telah dilaporkan untuk menyembuhkan ulkus lambung. Dalam sebuah
studi ekstensif dari pengaruh bromelain pada mukosa lambung, ditemukan bahwa bromelain
meningkatkan penyerapan sulfur sebesar 50% dan glukosamin sebesar 30-90%. Peningkatan
penyerapan zat ini memungkinkan mukosa lambung untuk menyembuh lebih cepat di bawah
pengaruh bromelain.[20] Penelitian telah menunjukkan bahwa Bromelain meningkatkan
penyerapan falavanoid kuersetin. Akan tetapi mekanisme peningkatan absorbsi tersebut
masih perlu dikaji melalui penelitian-penelitian lebih lanjut.[4,14,23]
Menurut Taussig et al, bromelain memiliki toksisitas yang sangat rendah dengan
LD50 (dosis letal) lebih besar dari 10 g/kg pada tikus dan kelinci. Uji toksisitas pada anjing,
dengan meningkatnya tingkat bromelain hingga 750 mg/kg diberikan setiap hari, tidak
menunjukkan efek toksik setelah enam bulan. Dosis 1500 mg/kg per hari bila diberikan pada
tikus tidak menunjukkan efek karsinogenik atau teratogenik dan tidak memprovokasi setiap
perubahan dalam asupan makanan, histologi jantung, pertumbuhan, limpa, ginjal, atau
parameter hematologi. Eckert et al setelah memberikan bromelain (3000 satuan FIP/hari)
untuk manusia selama sepuluh hari tidak menemukan perubahan signifikan dalam parameter
pembekuan darah.[21]

27

BAB III
METODE PENULISAN

3.1. Metode Penulisan


Karya tulis ilmiah ini merupakan suatu bentuk studi kepustakaan murni yang
memaparkan tentang Potensi kombinasi kuersetin-bromelain sebagai agen gastroprotektif
melalui peningkatan integritas mukosa gastroduodenal dan percepatan penyembuhan ulkus
peptikum. Informasi dan materi dalam karya tulis ilmiah ini diperoleh dari textbook dan
publikasi ilmiah yang valid.
3.2. Metode Analisa Bahan
Informasi yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis secara sistematis dengan
metode pendekatan komprehensif terhadap masalah yang ada dan umum terjadi di
masyarakat untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang berhubungan dengan permasalahan
yang dikaji. Disamping itu berbagai hipotesis yang muncul dikonsultasikan dengan ahli untuk
mendapatkan suatu jawaban yang mendekati permasalahan yang diangkat.
3.3. Sistematika Penulisan
Secara garis besar, sistematika penyusunan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah
sebagai berikut:
a. Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan,
dan manfaat penulisan.
b. Tinjauan Pustaka yang berisi :
-

uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan


dengan

masalah yang dikaji,

uraian mengenai pemecahan masalah yang pernah dilakukan.

c. Metodologi yang meliputi metode pengumpulan data, metode analisis data, dan
sistematika penulisan.
d. Analisis dan Sintesis
-

Analisis permasalahan didasarkan pada data dan/atau informasi serta telaah


pustaka

Sintesis untuk menghasilkan alternatif model pemecahan masalah atau


gagasan yang kreatif

28

e. Simpulan dan saran


-

Berupa jawaban dari tujuan analisis yang didasarkan dari analisis dan sintesis.

Saran disampaikan berupa kemungkinan atau prediksi transfer gagasan dan


adopsi teknologi.

29

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

4.1. Efek Gastroprotektif dari Kuersetin


Ulkus peptikum (UP) adalah kerusakan pada lapisan mukosa, sub mukosa sampai
lapisan otot saluran cerna yang disebabkan oleh aktifitas pepsin dan asam lambung. Ulkus
peptikum dapat mengenai esofagus sampai usus halus, tetapi kebanyakan terjadi pada bulbus
duodenum (90%) dan kurvatura minor. Bila terjadi di antara kardia dan pilorus disebut ulkus
lambung dan bila terjadi pada daerah setelah pilorus disebut ulkus duodenum.[11] Ulkus gaster
maupun ulkus duodenum terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara faktor-faktor
agresif (asam klorida/asam lambung dan pepsin) dengan faktor pertahanan mukosa. Faktor
pertahanan mukosa terdiri dari lapisan mukus tebal, kemampuan restitusi epitel, serta aliran
darah yang adekuat.[10,13]
Kuersetin mampu melindungi mukosa gastrointestinal dari lesi akut yang disebabkan
oleh berbagai model experiemental dan terhadap agen nekrotik yang berbeda, termasuk stres,
ligasi pilorus, reserpin, aspirin, indometasin, asam-etanol dan ulkus lambung yang diinduksi
etanol. Mekanisme aksi gastroprotektif yang melibatkan peningkatan produksi lendir, sifat
antihistamin, yang menurunkan kadar histamin dan pengurangan jumlah sel mast diinduksietanol. Zat ini juga menghambat pertumbuhan H. pylori, pembentukan asam oleh sel parietal,
serta pompa proton lambung. Mekanisme utama aksi untuk efek gastroprotektif dari flavonol
ini adalah sifat antioksidan, karena praterapi oral dengan kuersetin (200 mg / kg) memiliki
efek protektif yaitu secara signifikan mengurangi keparahan ulkus diinduksi etanol dengan
menghambat peroksidasi lipid.[5]
Kuersetin telah menunjukkan aktivitas anti-inflamasi yang signifikan karena
penghambatan langsung dari beberapa proses awal peradangan. Zat ini menghambat baik
produksi dan pelepasan mediator inflamasi. Produksi IL-10 terinduksi LPS tetap tidak
terpengaruh oleh flavonoid ini. Akibatnya, kuersetin juga mampu secara signifikan
mengurangi rasio penanda pro- terhadap anti-inflamasi TNF/IL-10, yang sering digunakan
parameter diagnostik peradangan. Ditemukan bahwa efek in vitro dari kuersetin sangat
tergantung pada tingkat TNF diinduksi oleh LPS.[16]

30

Dalam penelitian terkini, peningkatan pH dan penurunan keasaman, output asam dan
konsentrasi pepsin terbukti pada hewan dengan ulkus peptik yang diobati dengan kuersetin.
Efek gastroprotektif dari kuersetin mungkin disebabkan oleh tindakan langsung pada sel-sel
yang memproduksi asam. Kuersetin menghambat produksi asam dalam sel parietal terisolasi
dalam respon terhadap stimulasi histamin dan dibutyryl-cAMP dan menghambat aktivitas
H+/K(+)-ATPase. Penghambatan H+/K(+)-ATPase tergantung pada konsentrasi ATP.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh flavonoid pada aktivitas

H+/K(+)-ATPase

berhubungan dengan pengaruh mereka terhadap kompleks ATP.[17]


Penelitian in vitro oleh Brown menunjukkan bahwa kuersetin menghambat
pertumbuhan semua strain H. pylori yang diuji, menunjukkan bahwa zat ini mungkin juga
dapat efektif secara in vivo. Meskipun H. pylori tidak dibasmi sempurna setelah pengobatan,
angka bakteri lebih rendah pada kelompok perlakuan bila dibandingkan dengan kontrol yang
terinfeksi, mendukung bahwa respon antibakteri kuersetin bergantung pada dosis. Temuan ini
sesuai dengan penelitian serupa di mana polifenol lain gagal untuk sepenuhnya memberantas
H. pylori bila diberikan ke hewan yang terinfeksi sambil menunjukkan penurunan moderat
dalam angka H. pylori. Untuk mendukung hal ini, Gonzalez- Segovia et al. (2008) baru-baru
ini melaporkan bahwa kuersetin signifikan menurun kolonisasi H. pylori di marmut
terinfeksi. Namun, dosis kuersetin yang digunakan dalam penelitian yang empat kali lipat
lebih tinggi daripada Brown dan langsung diberikan dua kali sehari selama 2 minggu. Oleh
karena itu, perbedaan dalam tingkat H. pylori setelah pengobatan dapat dijelaskan oleh
konsentrasi kuersetin yang lebih tinggi. Namun, perbandingan antara dua studi tidak bisa
dibuat akibat perbedaan hewan model pada kedua penelitian.[18]
Salah satu kriteria penting untuk menentukan status resistensi mukosa adalah keadaan
sekresi lendir. kuersetin meningkatkan sekresi mukus dari sel-sel lambung. Mukus
polisakarida menyediakan buffer pelindung bagi sel-sel lambung dari pH rendah dari isi
lambung. Kontak yang berkurang memberikan perlindungan dari lesi lambung. Mukus ini
terdiri dari jenis glikoprotein musin, yang dapat diperkirakan dengan rasio total karbohidrat
ke protein. Glikoprotein dengan berat molekul tinggi ini terutama bertanggung jawab untuk
karakteristik kental dan gel pembentukan lendir. Peningkatan sekresi lendir oleh sel-sel
mukosa lambung dapat mencegah ulserasi lambung melalui beberapa mekanisme, termasuk
berkurangnya gesekan dinding lambung selama peristaltik dan kontraksi lambung,
meningkatkan penyangga getah lambung asam dan dengan bertindak sebagai penghalang
efektif untuk mendukung difusi ion H+. Kuersetin dalam mempercepat penyembuhan luka
31

telah dijelaskan oleh beberapa mekanisme, seperti merangsang kontraksi luka dan
meningkatkan proses epitelisasi atau restitusi sel.[17]
4.2. Efek Gastroprotektif dari Bromelain
Bromelain diserap melalui saluran grastrointestinal. Konsentrasi bromelain ditemukan
tertinggi dalam darah setelah satu jam pasca administrasi. Penelitian sebelumnya juga
melaporkan bahwa lebih dari 40% dari bromelain diserap di usus. Dalam sebuah studi
eksperimental ditentukan waktu paruh (6-9 jam) dan konsentrasi plasma (2,5-4 ng / ml)
bromelain setelah pemberian oral 8,6 gram setiap hari. Bromelain juga telah dilaporkan untuk
menyembuhkan ulkus lambung. Dalam sebuah studi ekstensif dari pengaruh bromelain pada
mukosa lambung, ditemukan bahwa bromelain meningkatkan penyerapan sulfur sebesar 50%
dan glukosamin sebesar 30-90%. Peningkatan penyerapan zat ini memungkinkan mukosa
lambung untuk menyembuh lebih cepat di bawah pengaruh bromelain.[20]
4.3. Pengaruh Bromelain terhadap Absorbsi Kuersetin
Kuersetin umumnya diyakini sulit diserap. Sekitar 25% dari dosis pemberian
kuersetin diserap dari usus kecil. Untuk itu diperlukan agen yang mampu meningkatkan
absorbsi senyawa ini. Selain bentuk kimia flavonol itu, kandungan lemak dari diet juga
mempengaruhi bioavailabilitas oral kuersetin. Lesser et al meneliti pengaruh lemak makanan
pada bioavailabilitas oral kuersetin. Menurut mereka, bioavailabilitas Kuersetin dari setiap
diet selalu lebih tinggi dari glukosida daripada dari aglikon tapi terlepas dari bentuk
kimianya, bioavailabilitas kuersetin juga ditemukan lebih tinggi pada diet lemak 17%
dibandingkan dengan diet lemak 3%. Akan tetapi, diet kaya lemak ini akan berakibat pada
peningkatan resiko terjadinya dislipidemkia dan aterosklerosis yang tentu tidak diharapkan.[5]
Penelitian telah menunjukkan bahwa Bromelain, enzim yang berasal dari nanas,
meningkatkan penyerapan kuersetin. Akan tetapi mekanisme peningkatan absorbsi tersebut
masih perlu dikaji melalui penelitian-penelitian lebih lanjut. [4,14,23]

32

NSAID

Helicobacter pylori

QUE

Prostaglandin
Pelepasan mediator Stimulasi sel G
pro-inflamasi
QUE

Aliran Darah Mukosa

Gastrin

QUE

Inflamasi
Asam lambung

Produksi
mukus

Kerusakan Mukosa
dan Ulserasi

BRO

Stres oksidatif
QUE

Keterangan:
QUE: kuersetin
BRO: bromelain
: sasaran kerja
: hubungan implikasi

Radikal Bebas

Restitusi sel

Penyembuhan
QUE,BRO

Absorbsi QUE

33

QUE

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan tinjauan pustaka dan analisis sumber informasi maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Kuersetin, suatu bioflavanoid yang melimpah di alam, memiliki efek gastroprotektif
dengan cara meningkatkan produksi lendir, menghambat pertumbuhan H. pylori,
mencegah inflamasi mukosa, menekan sekresi asam oleh sel parietal, serta melindungi
epitel dari radikal bebas. Kuersetin juga mampu mempercepat penyembuhkan ulkus
melalui

peningkatan

epitelisasi.

Akan

tetapi

kuersetin

diketahui

memiliki

bioavailabilitas rendah.
2. Bromelain, enzim yang berasal dari nanas, mampu meningkatkan absorbsi kuersetin
dari saluran cerna. Senyawa ini juga memiliki efek mempercepat penyembuhan ulkus.
3. Kombinasi kedua senyawa ini diyakini memiliki potensi menjadi bahan alternatif
suplemen makan yang mampu mencegah terjadinya ulkus peptikum serta
mempercepat penyembuhan ulkus.
5.2. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai:
1. Efek kombinasi kuersetin dan bromelain secara in vivo di dalam lambung hewan coba
dan manusia.
2. Metode peracikan, proporsi kedua senyawa, dan dosis pemberian yang optimal.
Dengan demikian diharapkan teori-teori yang termuat dalam karya tulis ini mampu memiliki
nilai aplikatif dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia.

34

DAFTAR PUSTAKA
1. Tarigan, Pengarapen. 2006. Tukak Gaster. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi IV. Jakarta : FKUI. 340-346.
2. Akil, HAM. 2006. Tukak Duodenum. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi
IV. Jakarta : FKUI. 347-350.
3. Thorsen K, et al. Epidemiology of perforated peptic ulcer: Age- and gender adjusted
analysis of incidence and mortality. World J Gastroenterol 2013; 19(3): 347-354.
4. Lakhanpal P dan Rai DK. Quercetin: A Versatile Flavonoid. Internet Journal of
Medical Update 2007; 2(2):22-37.
5. Mota KS, et al. Flavonoids with Gastroprotective Activity. Molecules 2009; 14:9791012.
6. Hansen JT, editor. 2014. Netter's Clinical Anatomy 3rd Edition. Philadelphia:
Elsevier. 159-160.
7. Tortora GJ dan Derrickson B. 2012. Principles of Anatomy and Physiology. New
Jersey: Wiley.
8. Mescher AL, editor. 2012. Histologi Dasar Junqueira. Jakarta: EGC.
9. Sherwood L. 2012. Fisiologi Manusia Edisi 6. Jakarta: EGC.
10. McGuigan, J. E. 2007. Ulkus Peptikum dan Gastritis. Dalam: Harrison, PrinsipPrinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume 4. Jakarta: EGC. 1532-53
11. Azis N. Peran Antagonis Reseptor H-2 Dalam Pengobatan Ulkus. Sari Pediatri
2002;3(4): 222 226.
12. Di Piro JT, et al. 2005. Pharmacotherapy A Patophysiologic Appproach Sixth Edition.
New York: McGraw-Hill.
13. Nakamura Y, et al. Effects of Quercetin and Rutin on Serum and Hepatic Lipid
Concentrations, Fecal Steroid Excretion and Serum Antioxidant Properties. Journal
of Health Science 2000;46(4):229-240.
14. Sharma A dan Gupta H. Quercetin- A Flavanoid. Chronicles of Young Scientists
2010;1(1):1-6.
15. Kelly GS. Quercetin. Alternative Medicine Review 2011;16(2):172-194.
16. Boots AW. In vitro and ex vivo anti-inflammatory activity of quercetin in healthy
volunteers. Nutrition 2008;24(7-8):703-10.
17. Shakeerabanu M, et al. The Defensive Effect of Quercetin on Indomethacin Induced
Gastric Damage in Rats. Advances in Biological Research 2011;5(1): 64-70.
35

18. Brown JC. Activities of muscadine grape skin and quercetin against Helicobacter
pylori infection in mice. Journal of Applied Microbiology 2010;110:139146.
19. Mojzis J, et al. Protective Effect of Quercetin on Ischemia/Reperfusion induced
Gastric Mucosal Injury in Rats.Physiol. Res. 2001;50:501-506.
20. Dighe NS, et al. Bromelain A Wonder Supplement: A Review. Pharmacologyonline
2010;1: 11-18.
21. Pavan R, et al. Properties and Therapeutic Application of Bromelain: A Review.
Biotechnology Research International 2012, Article ID 976203.
22. Bhattacharyya

BK.

Bromelain:

An

Overview.

Natural

Product

Radiance

2008;7(4):359-363.
23. Bentz AB. A Review of Quercetin: Chemistry, Antioxidant Properties, and
Bioavailability. Journal of Young Investigators 2009.

36