Você está na página 1de 30

I.

Anamnesis
A. Identitas
MRS
Nama Pasien
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Suku
Alamat

:
:
: Laki-laki
: bulan
: Islam
: Aceh
:

B. Riwayat Penyakit
1. Keluhan Utama
Sesak Nafas
2. Keluhan Tambahan
Demam
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Aloanamnesis (ibu pasien)
Pasien datang diantar oleh keluarganya dengan keluhan sesak nafas
yang memberat sejak 8 jam SMRS. Sesak nafas dirasakan sudah sejak 2
hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan demam dan batuk. Pasien
tidak dapat minum ASI, karena saat minum ASI pasien sesak nafas.
Muntah tidak ada, BAB dan BAK dalam batas normal.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sebelumnya dirawat di RSUDZA dengan diagnosa
Bronkopneumonia
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga menderita batuk, sesak, bersin pagi hari, asma, alergi
dan gatal-gatal di kulit disangkal.
6. Riwayat Penyakit Kehamilan
Tidak ada riwayat penyakit selama hamil
7. Riwayat Persalinan
Pasien lahir cukup bulan, di bidan, spontan, langsung menangis, berat
badan lahir 3600 gram, pasien merupakan anak kedua dari dua
bersaudara.
8. Riwayat Makanan
0 2,5 bulan
2,5 6 bulan
6 9 bulan
9 12 bulan
1 Tahun

:
:
:
:
:

ASI Eksklusif ad libitum


-

Kesan
Kualitatif

: cukup sesuai umur

Kuantitatif : cukup sesuai umur


9. Riwayat Imunisasi
BCG
DPT
Campak
Hepatitis
Polio

:
:
:
:
:

scar (-)

Kesan
Imunisasi tidak lengkap sesuai umur
II.

Pemeriksaan Fisik
A. Status Present
Keadaan umum
Kesadaran
Suhu
Frekuensi nadi
Frekuensi nafas
BB awal
BB sekarang
PB
Lingkar lengan
Lingkar kepala
Status Gizi

: lemah, tampak sakit sedang


: compos mentis, gerak pasif, menangis, rewel
: 38,5C
: 145x/menit
: 66x/menit
: 3,9 kg
: 4 kg
: 55 cm
: 15 cm (sesuai menurut umur)
: 38 cm (sesuai menurut umur)
: Baik

Data Antropometrik
Bayi laki-laki usia 2,5 bulan dengan panjang badan (PB) = 55 cm dan berat
badan (BB) = 4 kg.
1. BB/U

a. BB/U dipatok pada kurva:BB < persentil 10 defisit BB, > persentil
90 kelebihan
b. Didapatkan pada kurva persentil 5, maka anak dikatakan defisit berat
badan.
2. TB/U
a. TB/U pada kurva:< persentil 5 defisit berat, Antara persentil 5 dan
10 perlu evaluasi lebih lanjut, untuk membedakan antara perawakan
pendek sebagai akibat defisiensi nutrisi kronik atau karena faktor
genetik
b. Didapatkan pada kurva, persentil 10, maka perlu evaluasi lebih
lanjut, untuk membedakan antara perawakan pendek sebagai akibat
defisiensi nutrisi kronik atau karena faktor genetik
3. BB/TB
a. BB saat ini/BB ideal < 70%
: Gizi buruk
b. BB saat ini/BB ideal 70% 80% : Gizi kurang
c. BB saat ini/BB ideal 80% 100% : Gizi baik
d. BB saat ini/BB ideal 100% 110 %: Gizi lebih
e. BB saat ini/BB ideal > 110%
: Obesitas (harus dihitung BMI)
Dari growth chart PB 55 cm menyentuh kurva persentil 10. Kurva
berat badan pada persentil 10 didapatkan BB Ideal adalah 4,4 kg. Rasio
BB saat ini dengan ideal yaitu 4/4,4 = 90,9 % Berdasarkan interpretasi
diatas maka anak dikatakan saat ini bergizi baik.

B. Status Generalis
1. Kelainan Mukosa Kulit/Subkutan yang Menyeluruh
Pucat
: tidak ada
Sianosis
: tidak ada
Ikterus
: tidak ada
Oedem
: tidak ada
Turgor
: cukup
Pembesaran KGB : tidak ada
5

2. Kepala
Muka
Rambut
UUB
Mata

: edema (-), merah


: hitam, lurus, tidak mudah dicabut
: cekung (-), menonjol (-)
: konjungtiva ananemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
kornea jernih, reflek cahaya (+/+)

Telinga

: bentuk normal, liang lapang, simetris,serumen (-/-)

Hidung

: normal, deviasi septum (-),nafas cuping hidung (+)

Mulut

: bibir kering, sianosis (+) perioral, lidah kotor (-),


gusi tidak ada perdarahan

3. Leher
Bentuk
Trachea
KGB

: simetris
: letak di tengah
: tidak membesar

4. Thoraks
Bentuk
Retraksi suprasternal
Retraksi substernal
Retraksi intercostal

: simetris, pengembangan dada simetris


: (+)
: (+)
: (+)

5. Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: iktus kordis tidak terlihat


: iktus kordis teraba sela iga IV garis midclavicula sinistra
: batas jantung kanan sela iga IV garis parasternal dextra
batas jantung kiri sela iga IV garis midclavicula sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

6. Paru

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultas
i

Anterior
Bentuk dan pergerakan

Posterior
Bentuk dan pergerakan

hemithoraks kiri=kanan
Fremitus taktil hemithoraks

hemithoraks kiri=kanan
Fremitus taktil hemithoraks

kiri=kanan
Sonor
Vesikuler +/+

kiri=kanan
Sonor
Vesikuler +/+

Ronkhi basah halus nyaring +/+

Ronkhi basah halus nyaring +/+

wheezing -/-

wheezing -/-

7. Abdomen
Inspeksi
: datar, simetris
6

Palpasi
: turgor baik, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
Perkusi
: tympani
Auskultasi : bising usus (+) normal
8. Genitalia eksterna
Kelamin : laki-laki normal, tidak ada kelainan
9. Ekstremitas

III.

Superior
Anemis
-/Sianosis
-/Akral dingin
-/Edema
-/Pemeriksaan Penunjang
A. Darah Rutin
Hb
:12,2 gr/dL
LED
: 25 mm/jam
Leukosit
: 9300/ul
Hitung jenis
Basofil : 0%
Eosinofil : 0%
Batang : 0%
Segmen : %
Limfosit : %
Monosit : %
Trombosit : .000/ul
GDS
: mg/dl

Inferior
-/-/-/-/-

B. Urin Rutin
Tidak dilakukan
C. Feces Rutin
Tidak dilakukan
D. Pemeriksaan Penunjang Lain/Anjuran
Rontgent Thorax AP
IV.

Resume
Pasien adalah seorang anak laki-laki, An.P, usia 2,5 bln, BB : 4kg. Awalnya
mengalami demam tinggi sejak 3 hari SMRS. Demam naik turun sepanjang
hari disertai batuk berdahak dan pilek. Dahak berwarna putih dan tidak
bercampur darah. Selang 1 hari kemudian pasien sesak dan bertambah berat.
Sesak terlihat terus menerus, tidak disertai suara mengi atau mengorok.

Pasien tidak mendapatkan pengobatan apa-apa sebelum ke rumah sakit.


Riwayat muntah, BAB cair, kejang, dan penurunan kesadaran selama demam
disangkal. Riwayat BAK biasa. Riwayat tersedak air susu disangkal. Riwayat
pasien dengan keluhan yang sama disangkal. Riwayat keluarga menderita
batuk, sesak, bersin pagi hari, asma, alergi dan gatal-gatal di kulit disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, kesadaran compos
mentis, gerak pasif, menangis, rewel, nadi : 145x/menit, RR : 66x/menit,
suhu : 37,8C, bibir kering, sianosis perioral (+), nafas cuping hidung (+), dan
ronkhi basah halus nyaring +/+.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit dan hitung jenis dbn,
peningkatan LED, dan trombositosis.
V.

VI.

Diagnosis Banding
A. Bronkopneumonia
B. Bronkhitis
C. Bronkiolitis
Diagnosis Kerja
Bronkopneumonia

VII. Penatalaksanaan
- IVFD N4D5 XV-XX gtt mikro/menit
- O2 0,5 lt/menit (sampai sesak berkurang)
- Injeksi ceftriaxon 200mg/12 jam
- Paracetamol drop 3x0,5cc (bila panas)
VIII.

Prognosis
Quo ad Vitam
Quo ad Fungtionam
Quo ad Sanationam

:
:
:

Dubia ad Bonam
Dubia ad Bonam
Dubia ad Bonam

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Rontgent Thorax AP
8

Expertisi
-Bronchopneumonia
-Besar cor normal

FOLLOW UP
Hari/Tanggal

Keluhan

Status
KU : lemah
Present
Kes : CM

Kamis,
5 April 2012

- Anak rewel
- Demam (+)
- Sesak (+)
- Batuk (+)
- Pilek (+)

Vital sign
Nadi : 145x
RR : 68x
T
: 38,7
Pem.Fisik
Retraksi +/+

Penatalaksanaan
- IVFD N4D5 15 gtt
mikro/menit
- O2 0,5 lt/menit
sampai sesak
berkurang
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas

Ronkhi basah
halus nyaring+/+

Wheezing -/-

KU : lemah
Kes : CM

Jumat,
6 April 2012

- Anak rewel
- Demam (+)
- Sesak (+)
- Batuk (+)
- Pilek (+)

Vital sign
Nadi : 140x
RR : 66x
T
: 38,5
Pem.Fisik
Retraksi +/+
Ronkhi basah
halus nyaring+/+

KU : lemah
Kes : CM

Sabtu,
7 April 2012

- Anak rewel
- Demam (+)
- Sesak (+)
- Batuk (+)
- Pilek (+)

Vital sign
Nadi : 130x
RR : 62x
T
: 38
Pem.Fisik
Retraksi +/+

- IVFD N4D5 15 gtt


mikro/menit
- O2 0,5 lt/menit
sampai sesak
berkurang
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas
- R/ Rontgent thorax
AP
- IVFD N4D5 15 gtt
mikro/menit
- O2 0,5 lt/menit
sampai sesak
berkurang
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas
- Rontgent thorax AP

Ronkhi basah
halus nyaring+/+

Wheezing
KU
: lemah-/Kes : CM

Minggu,
8 April 2012

- Anak tidak rewel


- Demam (+)
- Sesak ()
- Batuk (+)
- Pilek (+)

Vital sign
Nadi : 120x
RR : 45x
T
: 37,8
Pem.Fisik
Retraksi /
Ronkhi basah
halus nyaring+/+

- IVFD N4D5 15 gtt


mikro/menit
- O2 0,5 lt/menit
sampai sesak
berkurang
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas
- Chest therapy bila
suhu <37

10

KU : Baik
Kes : CM

Senin,
9 April 2012

- Anak tdk rewel


- Demam (-)
- Sesak ()
- Batuk (+)
- Pilek (+)

Vital sign
Nadi : 110x
RR : 34x
T
: 36,6

- IVFD N4D5 15 gtt


mikro/menit
- O2 stop
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas
- Chest therapy

Pem.Fisik
Retraksi /
Ronkhi basah
halus nyaring +/+

KU : lemah
Kes : CM

Selasa,
10 April 2012

- Anak tdk rewel


- Demam (-)
- Sesak ()
- Batuk ()
- Pilek ()

Vital sign
Nadi : 112x
RR : 32x
T
: 37,1

- IVFD N4D5 15 gtt


mikro/menit
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas

Pem.Fisik
Retraksi /
Ronkhi basah
halus nyaring +/+

KU : Baik
Kes : CM

Rabu,
11 April 2012

- Anak kooperatif
- Demam (-)
- Sesak (-)
- Batuk (-)
- Pilek (-)

Vital sign
Nadi : 115x
RR : 32x
T
: 37,4

- IVFD N4D5 15 gtt


mikro/menit
- Injeksi ceftriaxon
200mg/12 jam
- Paracetamol drop
3x0,5cc bila panas

Pem.Fisik
Retraksi -/Ronkhi basah
halus nyaring -/-

11

KU : baik
Kes : CM

Kamis,
12 April 2012

Tidak ada

Vital sign
Nadi : 110x
RR : 36x
T
: 37,2

- IVFD stop
- Injeksi ceftriaxon
stop
- Paracetamol drop
Stop
Acc pulang

Pem.Fisik
Retraksi -/Ronkhi basah
halus nyaring -/-

12

ANALISA KASUS

1. Apakah diagnosis pada kasus ini sudah tepat ?


Diagnosa kerja pada pasien ini adalah Bronkopneumonia, sudah tepat.
Bronkopneumonia ditegakkan berdasarkan gejala klinik :
- Adanya retraksi epigastrik, interkostal, suprasternal
- Adanya pernapasan cuping hidung
- Adanya pernapasan yang cepat
- Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas selama
-

beberapa hari
Demam
Anak dispneu
Kadang disertai muntah dan diare
Batuk biasanya tidak pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk

beberapa hari yang mula-mula kering kemudian menjadi produktif.


Pada auskultasi ditemukan ronkhi basah halus nyaring
Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan adanya leukositosis dengan

predominan PMN
Pada pemeriksaan rontgen thoraks ditemukan adanya infiltrat interstitial
dan infiltrat alveolar serta gambaran bronkopneumonia

Laporan kasus ini seorang bayi laki-laki berusia 2,5 bulan datang dengan
keluhan utama sesak nafas. Dari aloanamnesa dengan ibu pasien didapatkan
sejak 3 hari SMRS anaknya menderita batuk disertai pilek. Dahak berwarna
putih dan tidak bercampur darah. Demam tinggi (+), terus menerus naik turun
sepanjang hari. Sejak 2 hari SMRS pasien menderita sesak nafas yang
dirasakan tiba-tiba dan semakin berat. Sesak napas tidak berhubungan dengan
aktivitas dan cuaca. Keluhan sesak nafas tidak disertai adanya suara nafas
berbunyi (mengi) atau mengorok, buang air besar dan buang air kecil tidak ada
keluhan. Ibu os kemudian membawa os berobat ke RSAM. Pada pemeriksaan
umum didapatkan peningkatan frekuensi pernapasan 66x/menit dan demam
dimana temperatur 38,5C.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya takipneu, terdapat retraksi
suprasternal dan interkostal, pada auskultasi paru ditemukan ronkhi basah halus

13

nyaring pada kedua paru. Pada pemeriksaan rontgen foto thorak ditemukan
sillhoute sign dan air bronchogram (+) dengan kesan bronkopneumonia.
Penderita datang dengan keluhan utama sesak nafas. Dari keluhan ini dapat
dipikirkan adanya kelainan pada paru-paru, jantung, kelainan metabolic seperti
asidosis dan uremia serta adanya kelainan di otak. Dari alloanamnesis tidak
didapatkan keluhan BAK sehingga kemungkinan kelainan metabolic dapat
disingkirkan. Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan penurunan kesadaran
sehingga kelainan disentral dapat disingkirkan, selain itu dari hasil
pemeriksaan pada jantung didapatkan dalam batas normal sehingga kelainan
pada jantung dapat disingkirkan.
Oleh karena itu dapat dipastikan merupakan kelainan pada paru-paru. Dari
alloanamnesis didapatkan pasien mengalami batuk serta demam,sehingga dapat
dipikirkan adanya suatu penyakit infeksi. Selain itu, di dapatkan ronki basah
halus nyaring yang khas untuk gejala bronkopneumonia, sehingga diagnosis
bronkopneumonia pada pasien ini sudah tepat.
2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat ?

Pemberian O2 0,5 L/menit sudah tepat. O2 diberikan

untuk mengatasi

hipoksemia, menurunkan usaha untuk bernapas, dan mengurangi kerja


miokardium. Oksigen diberikan pada anak yang menunjukkan gejala adanya
tarikan dinding dada (retraksi) bagian bawah yang dalam, SpO2 < 90%,
frekuensi nafas 60x/menit atau lebih, merintih setiap kali bernafas untuk
bayi muda, dan adanya head nodding (anggukan kepala). Pemberian O2
melalui nasal pronge yaitu 1-2 L/menit atau 0,5 L /menit untuk bayi muda.
Pemberian O2 melalui kateter nasal yaitu 1-6 L/menit untuk memberikan
konsentrasi O2 24-44%. Pemberian O2 melalui sungkup biasa yaitu 5-8
L/menit untuk memberikan konsentrasi oksigen 40-60%. Serta pemberian
O2 melalui sungkup reservoir yaitu 6-10 L/menit untk memberikan
konsentrasi oksigen 60-99%.

14

Pemberian IVFD N4D5 XV-XX tetes permenit dalam mikro drip sudah
tepat. N4D5 terdiri dari 100cc D5% + 25 cc NaCl, dengan kandungan
dekstrosa 50g (200kkal), Na 38,5 mEq/L, Cl 38,5 mEq/L, Ca 200 mg/dL,
dan total Osm 353.
BB=4 kg Kebutuhan cairan : 100 ml/kg BB x 4kg = 400ml/hari
Mikrodrip 1ml=60 tetes
400ml/hari 400ml x 60tetes = 16,67 gtt/ menit
24jam x 60menit

Pemberian ceftriaxon 200mg/12 jam sudah tepat. Ceftriaxone merupakan


antibiotik sefalosoprin generasi ketiga dengan aktivitas yang lebih luas
terhadap bakteri gram negatif, namun umumnya kurang aktif terhadap
kokus gram positif. Sedangkan jika dilihat berdasarkan etiologi dari
bronkopneumonia akibat bakteri, bakteri yang cukup banyak menyebabkan
bronkopneumonia adalah bakteri kokus gram positif seperti streptococcus
pneumonia, dan pneumococcus. Pemberian ceftriaxone juga memiliki lebih
banyak efek samping, seperti nefrotoksik dan depresi sumsum tulang.
Dosis ceftriaxone yaitu 50-100 mg/kgBB/hari, dalam 2 dosis pemberian.
Pada pasien ini BB=4kg 4x100mg=400mg/hari 200mg/12jam (dosis
pemberian ceftriaxon injeksi sudah tepat)

Pemberian paracetamol diberikan selama pasien mengalami demam, dengan


dosis 10-15mg/kgBB/kali dapat diulang 4-6 jam.
Pada pasien ini BB=4kg 4x10mg=40mg/kali pemberian
Paracetamol drops 60mg/ml 40/60=0,67 ~ 0,6cc/kali pemberian

3. Bagaimana prognosis pada kasus ini ?


Prognosis pada kasus ini baik, Umumnya penderita bahkan dapat sembuh
spontan dalam 2-3 minggu. Apalagi jika dilihat berdasarkan gambaran klinis
selama perawatan pasien sudah sangat membaik. Keluhan juga telah berkurang
secara berangsur-angsur. Hal ini ditandai dengan batuk yang sudah mulai
menghilang, demikian pula dengan retraksi serta pernapasan cuping hidung
sudah menghilang. Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam untuk quo

15

ad vitam dan functionam karena pada pasien ini telah dilakukan pengobatan
yang adekuat serta belum ada tanda-tanda yang mengarah pada komplikasi.

TINJAUAN PUSTAKA

16

I. Pendahuluan
Struktur dasar jalan nafas telah ada sejak lahir dan berkembang selama
neonatus dan dewasa menjadi sistem bronkhopulmonal. Jalan nafas pada
setiap usia tidak simetris. Apabila dibagi menjadi dua bagian, ada perbedaan
bentuk dan jumlah cabang yangtergantung dari lokasinya. Variasi tersebut
menyebabkan implikasi fisiologi yang berbeda. Alur yang berbeda
menyebabkan

perbedaan

resistensi

terhadap

aliran

udara,

sehingga

menyebabkan distribusi udara atau partikel yang terhisap tidak merata.


Cabang dari bronkus mengalami pengecilan ukuran dan kehilangan kartilago,
yang kemudian disebut bronkhiolus. Bronkhiolus terminalis membuka saat
pertukaran udara dalam paru-paru. Jalan nafas dilapisi oleh membran epitel
yang berganti secara bertahap dari epitelkolumner bertingkat bersilia di
bronkus menjadi epitel kubus bersilia pada area tempat pertukaran udara.
Sillia berfungsi untuk menghantarkan mukus dari pinggir jalan nafas
kefaring. Sistem transport mukosilier ini berperan penting dalam mekanisme
pertahananparu. Sel goblet pada trakhea dan bronkhus memproduksi musin
dalam reticulum endoplasma kasar dan apparatus golgi. Sel goblet meningkat
jumlahnya pada beberapagangguan seperti bronkhitis kronis yang hasilnya
terjadi hipersekresi mukus danpeningkatan produksi sputum.Unit pertukaran
udara (terminal respiratory) terdiri dari bronkhiolus distal sampai terminal :
bronkhiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveoli. Pada pemeriksaan
luar pulmo dekstra lebih pendek dan lebih berat dibanding pulmo sinistra.
Pulmo dekstra dan sinistra dibagi oleh alur yang disebut incissura interlobaris
dalam beberapa LobusPulmonis.Pulmo dekstra dibagi menjadi 3 lobi, yaitu:
1. Lobus Superior dibagi menjadi 3 segmen: apikal, posterior, inferior
2. Lobus Medius dibagi menjadi 2 segmen: lateralis dan medialis
3. Lobus Inferior dibagi menjadi 5 segmen: apikal, mediobasal, anterobasal,
laterobasal,posterobasal.
Pulmo sinistra dibagi menjadi 2 lobi, yaitu:
1. Lobus Superior dibagi menjadi segmen: apikoposterior, anterior, lingularis
superior, lingularis inferior.
2. Lobus Inferior dibagi menjadi 4 segmen: apikal, anteromediobasal,
laterobasal, dan posterobasal.

17

Pneumonia adalah peradangan parenkim paru, distal dari bronkhiolus


terminalis yang mencakup bronkhiolus respiratorius, dan alveoli yang berupa
infiltrat ataukonsolidasi pada alveoli atau jaringan interstisial. Pneumonia ini
dapat mengakibatkangangguan pertukaran gas setempat. Istilah pneumonia
lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses infeksi akut yang
merupakan penyebab tersering, sedangkan istilah pneumonitis sering dipakai
untuk proses non infeksi.

II. Definisi
Bronchopneumonia merupakan salah satu bagian dari penyakit Pneumonia.
Bronchopneumonia (penumonia lobaris) adalah suatu infeksi saluran
pernafasan akut bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus /
bronkiolus

yang

berupa

distribusi

berbentuk bercak-bercak

(patchy

distribution) yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri,


virus,jamur, dan benda asing.
Bronchopneumonia

adalah

peradangan

paru,

biasanya

dimulai

di

bronkioliterminalis. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat


mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang
bersebelahan. Penyakit ini seringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari
saluran nafas atas, demam padainfeksi spesifik dan penyakit yang
18

melemahkan sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang


lemah, Pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer.

III.

Epidemiologi
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak
dibawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di
Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi
pada anak dibawah umur 2 tahun. Infeksi saluran napas bawah masih tetap
merupakan masalah utama dalambidang kesehatan, baik di negara yang
sedang berkembang maupun yang sudah maju. Dari data SEAMIC Health
Statistic 2001 influenza dan pneumonia merupakan penyebab kematian
nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7 di Malaysia, nomor 3 di
Singapura, nomor 6 di Thailand dan nomor 3 di Vietnam. Laporan WHO1999
menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi
didunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza.
Insidensipneumonia komuniti di Amerika adalah 12 kasus per 1000 orang per
tahun dan merupakan penyebab kematian utama akibat infeksi pada orang
dewasa di negara itu. Angka kematian akibat pneumonia di Amerika adalah
10%. Di Amerika dengan cara invasif pun penyebab pneumonia hanya
ditemukan 50%. Penyebab pneumonia sulit ditemukan dan memerlukan
waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya, sedangkan pneumonia
dapat menyebabkan kematian bila tidak segera diobati, maka pada
pengobatan awal pneumonia diberikan antibiotika secara empiris. Hasil
Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes tahun 2001, penyakit infeksi
saluran napas bawahmenempati urutan ke-2 sebagai penyebab kematian di
Indonesia. Di SMF Paru RSUP Persahabatan tahun 2001 infeksi juga
merupakan penyakit paru utama, 58% diantarapenderita rawat jalan adalah
kasus infeksi dan 11,6% diantaranya kasusnontuberkulosis, pada penderita
rawat inap 58,8% kasus infeksi dan 14,6% diantaranya kasus nontuberkulosis.
Di RSUP H. Adam Malik Medan 53,8% kasus infeksi dan 28,6% diantaranya
infeksi nontuberkulosis. Di RSUD Dr. SoetomoSurabaya didapatkan data
sekitar 180 pneumonia komuniti dengan angka kematianantara 20-35%.

19

Pneumonia komuniti menduduki peringkat keempat dan sepuluh penyakit


terbanyak yang dirawat per tahun.
Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumococcus
denganserotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih
dari 80%, sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6 dan 9. Angka kejadian
tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan megurang dengan
meningkatnya umur. Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh
pneumococus, ditemukan pada orang dewasa dan anak besar, sedangkan
bronkopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan bayi.

IV.

Etiologi
Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada
perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi,
gambaran klinis, dan strategi pengobatan. Spektrum mikroorganisme
penyebab pada neonatus dan bayi kecil berbeda dengan anak yang lebih
besar. Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi
Streptococcus grup B dan bakteri gram negatif seperti E. Colli, Pseudomonas
sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih beeasr dan anak balita,
pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococus pneumoniae,
Haemophillus inflienzae tipe B, dan Staphylococcusaureus, sedangkan pada
anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga
ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae.
Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh virus,
disamping bakteri, atau campuran bakteri dan virus. Virkki dkk. Melakukan
penelitian pada pneumonia anak dan menemukan etiologi virus sebanyak
32%,campuran bakteri dan virus 30%, dan bakteri saja 22%. Virus yang
terbanyak ditemukan

adalah

Respiratory

Syncytical

Virus

(RSV),

Rhinovirus,dan virus Paraifluenza.


Kelompok anak usia 2 tahun ke atas mempunyai etiologi infeksi bakteriyang
lebih banyak daripada anak berusia di bawah 2 tahun. Secara klinis, umumya
pneumoia bakteri sulit dibedakan dengan pneumoniavirus. Demikian juga

20

dengan pemerikksaan radiologis dan laboratorium, biasanya tidak dapat


menentukan etiologi.
Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah :
A. Faktor Infeksi
1. Pada neonatus : Streptokokus grup B, Respiratory Sincytial Virus
(RSV).
2. Pada bayi : Virus : Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus,
RSV, Cytomegalovirus. Organisme atipikal : Chlamidia trachomatis,
Pneumocytis. Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza,
Mycobacteriumtuberculosa, B. pertusis.
3. Pada anak-anak : Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus,
RSP Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia, Bakteri :
Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosa.
4. Pada anak besar dewasa muda : Organisme atipikal : Mycoplasma
pneumonia, C. Trachomatis. Bakteri : Pneumokokus, B. Pertusis, M.
tuberculosis.
B. Faktor Non Infeksi
Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :
a. Bronkopneumonia hidrokarbon : Terjadi oleh karena aspirasi selama
penelanan muntah atau sonde lambung ( zat hidrokarbon seperti
pelitur, minyak tanah dan bensin).
b. Bronkopneumonia lipoid : Terjadi akibat pemasukan obat yang
mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap
keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis,
pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan
pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang
menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang
terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak
tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.
Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk
terjadinya bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderitapenderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang
belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi
terjadinya penyakit ini.

21

Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya
bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita berpenyakit berat
seperti AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan
anak merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit ini.

UMUR
< 1 bulan

1-3 bulan

3 bulan 5 tahun

5 10 tahun

> 10 tahun

BAKTERI
Grup B streptococcus
Gram negativ
E.Coli
Klebsiela
Chlamydia
Staphylococcus aureus
Grup B streptococcus
H. influenza
S. pneumonia
S. aureus
Grup A streptococcus
Mycoplasma
Mycoplasma
S. aureus
Grup A streptococcus
S. pneumonia
Mycoplasma
Grup A streptococcus
Klebsiela

V. Klasifikasi
Pembagian secara anatomis :
1. Pneumonia lobaris
2. Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)
3. Pneumonia intersisialis (bronkiolitis)
Pembagian secara etiologi :
1. Bakteri : Pneumococcus

pneumonia,

Sreptococcus

pneumonia,

Staphylococcus pneumonia, Haemofilus influenza


2. Virus : Respiratory synctitial virus, Parainfluenza virus, Adenovirus
3. Jamur : Candida, Aspergillus, Mucor, Histoplasmosis, Coccidiomycosis,
Blastomycosis, Cryptoccosis
4. Corpus alienum
5. Aspirasi
6. Penumonia hipostatik

22

VI.

Patogenesis
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui
berbagai cara, antara lain :
1. Inhalasi langsung dari udara
2. Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring
3. Perluasan langsung dari tempat lain
4. Penyebaran secara hemtogen
Dalam keadaan sehat pada paru tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme,
keadaanini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Mekanisme
daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk mencegah
infeksi dan terdiri dari :
1. Susunan anatomis rongga hidung
2. Jaringan limfoid di naso-oro-faring3.
3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan
4.
5.
6.
7.

secret liatyang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut


Refleks batuk
Refleks epiglottis yang mencegah terjadinya aspirasi secret yang terinfeksi
Drainase system limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.
Fagositosis, aksi enzimatik dan respon immuno-humoral terutama dari
immunoglobilin A (IgA).

Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme penyebab terhisap ke


paru perifer melalui saluran napas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema
yang mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman.
1. Stadium Kongesti. Kapiler melebar dan kongesti serta dalam alveolus
terdapateksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrophil
dan makrophag.
2. Stadium Hepatisasi Merah. Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat
tidak mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti
hepar. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit netrofil, eksudat dan
banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek.
3. Stadium Hepatisasi Kelabu. Lobus masih tetap padat dan warna merah
berubah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura suram karena diliputi
oleh fibrin. Alveolusterisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi fagositosis
pneumococcus, kapiler tidak lagikongestif.
4. Stadium Resolusi. Eksudat berkurang. Dalam alveolus macrofag
bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin

23

di resorbsi dan menghilang. Proses kerusakan yang terjadi dapat di batasi


dengan pemberian antibiotik sedini mungkin agar system bronkopulmonal
yang tidak terkena dapat diselamatkan.
VII.

Gejala Klinis
Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara
ringanhingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil
yang berat,mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi
sehingga memerlukanperawatan di RS. Beberapa faktor yang mempengaruhi
gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomikdan
imunologik, mikroorganisme penyebab yang luas, gejala klinik yang kadangkadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya penggunaan prosedur
diagnostik invasif, etiologi non infeksi yang relatif lebih sering, dan faktor
patogenesis. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung
pada beratringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:
1. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise,
penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mutah atau diare;
kadang-kadang ditemukan geala infeksi ekstrapulmoner.
2. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak nafas, retraksi
dada,takipnea, nafas cuping hidung, air hunger , merintih, dan sianosis.
Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas bagian atas
selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40C dan
mungkin disertai kejang demam yang tinggi. Anak megalami kegelisahan,
kecemasan, dispnoe pernapasan. Kerusakan pernapasan diwujudkan dalam
bentuk napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, retraksi pada
daerah supraclavikular, ruang-ruang intercostal, sianosis sekitar mulut dan
hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare. Pada awalnya batuk jarang
ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut, mulamula batuk kering kemudian menjadi produktif. Pada bronkopneumonia,
pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang terkena. Pada
perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin
terdengar ronki basah nyaring halus sedang. Bila sarang bronkopneumonia
menjadi satu (konfluens), mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan
24

suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada stadium resolusi,


ronki terengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi
sesudah 2-3 minggu. Gambaran pneumonia pada neonatus dan bayi kecil
tidak khas, mencakupserangan apnea, sianosis, merintih, nafas cuping hidung,
takipnea, letargi, muntah,tidak mau minum, takikardi atau bradikardi, retraksi
subkosta, dan demam. Ada bayi BBLR sering terjadi hipotermi. Gambaran
klinis tersebut sulit dibedakan antara sepsisdan meningitis. Sepsis pada
pneumonia neonatus dan bayi kecil sering ditemukansebelum 48 jam
pertama. Angka mortalitas sangat tiggi di negara maju, yaitudilaporkan 2050%. Angka kematian di Indonesia dan di negara berkembang lainnyadiduga
lebih tinggi. Oleh karena itu, setiap kemungkinan adanya pneumonia
padaneonatus dan bayi kecil berusia dibawah 2 bulan harus segera dirawat di
RS.infeksi olehChamydia trachomatis merupakan infeksi perinatologi dan
dapat menyebabkan pneumonia pada bayi berusia dibawah 2 bula.
Umumnya bayi mendapatkan infeksi dari ibu pada masa persalinan. Port
dentree infeksi meliputi mata, nasofaring, saluran respiratori, dan vagina.
Gejala timbul pada usia 4-12 minggu. Gejala umum ; gejala infeksi respiratori
ringan-sedang, ditandai dengan batuk-batuk stacatto (inspirasi diantara setiap
satu kali batuk), kadang-kadang disertai muntah, umumnya pasien tidak
demam. Beberapa kasus infeksi berkembang menjadi pneumonia berat
(sindrom pneumonitis) dan memerlukan perawatan. Gejala klinis meliputi
ronki atau mengi, takipnea, dan sianosis. Gambaran foto rontgenthoraks tidak
khas, umumnya terlihat tanda-tanda hiperinflasi bilateral denganberbagai
bentuk infiltrat difus, seperti infiltrat iinterstisial, retikulonoduler, atelektasis,
bronkopneumonia, dan gambaran milier. Antibiotik pilihan adalah makrolid
intravena.

VIII. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1. Gejala Klinis

25

Gambaran klinik biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas akut


bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam,
menggigil. Suhu tubuh kadang-kadang melebihi 400C, sakit tenggorok,
nyeri otot, dan sendi. Juga disertai batuk dengan sputum mukoid atau
purulen, kadang-kadang berdarah.
2. Pemeriksaan Fisik
Dalam pemeriksaan fisik penderita bronkhopneumoni ditemukan hal-hal
sebagai berikut :
a. Pada setiap nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal,
suprasternal, dan pernapasan cuping hidung.
b. Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.
c. Pada perkusi tidak terdapat kelainan
d. Pada auskultasi ditemukan crackles (Ronkhi basah) sedang nyaring.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.00040.000/mm3 dengan pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak
meningkat berhubungan dengan infeksi virus atau mycoplasma.
b. Hitung leukosit dapat membantu membedakan pneumoni viral dan
bakterial. Infeksi virus leukosit normal atau meningkat (tidak
melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit predominan) dan bakteri
leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm3 dengan neutrofil yang
predominan.
c. Nilai Hb biasanya tetap normal atau menurun
d. Peningkatan LED
e. Kultur dahak dapat positif pada 20-50% penderita yang tidak
diobati. Selain kultur dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara
hapusan tenggorok (throat swat).
f. Analisa Gas Darah (AGD) menunjukkan

hipoksemia

dan

hiperkarbia. Pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.


g. Pengambilan sekret secara bronkoskopi dan fungsi paru untuk
preparasi langsung, biakan dan test resistensi dapat menemukan atau
mencari etiologinya, tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sulit.
h. Foto thoraks bronkopneumonia terdapat bercak-bercak infiltrat pada
satu atau beberapa lobus jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya
konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.
4. Gambaran Radiologis
Merupakan pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang
dapat tersumbat oleh eksudat mukopuren untuk membentuk bercak
26

konsolidasi dalam lobus. Gambaran radiologis mempunyai bentuk difus


bilateral dengan peningkatan corakan bronkhovaskular dan infiltrat kecil
dan halus yang tersebar di pinggir lapang paru. Bayangan bercak ini
sering terlihat pada lobus bawah.Tampak infiltrate peribronkial yang
semi opak dan inhomogen di daerah hilus yang menyebabkan batas
jantung menghilang (silhoute sign). Tampak juga air bronkogram, dapat
terjadi nekrosis dan kavitas pada parenkim paru.
WHO mengajukan pedoman diagnosa dan tata laksana yang lebih
sederhana. Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumonia dibedakan
berdasarkan :
1. Bronkopneumonia sangat berat : bila terjadi sianosis sentral dan anak
tidak sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan di
beri antibiotik.
2. Bronkopneumonia berat : bila dijumpai retraksi tanpa sianosis dan
masih sanggup minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan di
beri antibiotik.
3. Bronkopneumonia : bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan
yang cepat
> 60 x/menit : pada anak usia kurang dari dua bulan
> 50x/menit : pada anak usia 2 bulan - 1 tahun
> 40x/menit : pada anak usia 1-5 tahun
4. Bukan Bronkopneumonia : hanya batuk tanpa adanya gejala dan tanda
seperti di atas, tidak perlu dirawat dan tidak perlu di beri antibiotik.
Diagnosis pasti dilakukan dengan idientifikasi kuman penyebab :
- Kultur sputum/bilasan cairan lambung
- Kultur Nasofaring atau kultur tenggorokan (throat swab), terutama
-

virus
Deteksi antigen bakteri

IX.

Diagnosis Banding
1. Bronkiolitis
2. Bronkhitis
3. TB paru primer
4. Aspirasi pneumonia

X.

Penatalaksanaan
A. Penatalaksaan umum:
27

1. O2 2-4 liter/ menit sampai sesak hilang


2. Infus 20 tetes per menit mikro (untuk obat)
B. Penatalaksanaan khusus:
1. Mukolitik, ekspektoran, dan obat penurun panas sebaiknya tidak
diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan
interpretasi reaksi antibiotik awal.
2. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu
tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung.
3. Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan
manifestasi klinis. Antibiotik yang merupakan drug of choice untuk
kuman yang dicurigai.Bila tidak ada kuman yang dicurigai, berikan
antibiotik awal (24-72 jam pertama) menurut kelompok usia.
Ampisilin 2x200 mg iv Ampisilin (100mg/kgbb/hari IV) untuk
Pneumonia ringan. Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bl-5 thn)
betalaktam amoksisillin / amoksisillin/ amoksisillin klavulanat/
golongan sefalosporin / kotrimoksazol / makrolid (eritromisin).
Antibiotika selanjutnya tergantung dari pemantauan terhadap respon
24-72 jam pengobatan. Apabila mengalami perbaikan teruskan
sampai 3 hari klinis baik, sedangkan apabila bertambah berat/ tidak
ada perbaikan ganti antibiotik sesuai bakteri penyebab.
XI.

Komplikasi
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau
kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk
hilang.
2. Emfisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam
rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
4. Endokarditis adalah peradangan pada setiap katup endokardial.
5. Meningitis adalah infeksi yang menyerang selaput otak.

XII.

Prognosis
Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat yang dimulai secara
dini pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selam masa bayi
dan masa kanak-kanak dapat diturunkan sampai kurang 1% dan sesuai

28

dengan kenyataan ini morbiditas yang berlangsung lama juga menjadi


rendah. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang
terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.
XIII. Pencegahan
Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak
dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini.
Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya
tahan tubuh kita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti : cara
hidup sehat, makan makanan yang bergizi dan teratur, menjaga kebersihan,
beristirahat cukup, rajin berolahraga dll.
Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan
terinfeksi antara lain :
a. Vaksinasi Pneumokokus
b. Vaksinasi H.Influenza
c. Vaksinasi Varisela yang dianjurkan pada anak dengan daya tahan tubuh
rendah
d. Vaksin influenza yang diberikan pada anak sebelum anak sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Nelson Textbook of Pediatrics 2008


Price, Sylvia Anderson 1994. Pathophysiology : Clinical Concepts of Disease
Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C. 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume I,
Jakarta : EGC.
Rahajoe, Nastini N. 2008. Buku Ajar Respirologi, Edisi I. Jakarta IDAI.

29

Murray Nedels. 2005. Text Book of Respiratology Medicine, Edisi I. Volume I


United State of America : Elseiver Saunders.
Zul Dahlan, 2000. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15, Volume 2. Jakarta : EGC.

30