Você está na página 1de 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN KATARAK

Disusun oleh

TIARA APRIANA PUTRI


NIM. PO.71.20.1.12.057

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG


JURUSAN KEPERAWATAN PALEMBANG
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahanrahmat dan karuniaNya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat
menyelesaikanmakalah tentang Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Katarak
ini dengan lancar.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang dibe
rikan oleh dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Kegawat daruratan.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan datadata sekunder yang penulis per
oleh dari buku panduan dan hasil dari browsing internet yang berkaitan dengan
asuhan keperawatan pasien dengan katarak dan halhal yang berkaitan dengan hal
tersebut.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi
kita,dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai asuhan keperawatan p
asien dengan katarak dan mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari,
khususnya bagi para praktisi medis yang bersangkutan dengan hal-hal ini.
Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang
lebih baik.

Palembang, Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
1.2
Rumusan Masalah
1.3
Tujuan
1.4
Manfaat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Definisi katarak
2.2
Etiologi
2.3
Klasifikasi
2.4
Patofisiologi
2.5
Manifestasi Klinis
2.6
Pemeriksaan Diagnostik
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KATARAK
3.1
Pengkajian Keperawatan
3.2
Diagnosa Keperawatan
3.3
Perencanaan Keperawatan
BAB 4 PENUTUP
4.1
Kesimpulan
4.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Katarak merupakan penyebab kebutaan nomor satu di dunia.
Indonesia memiliki angka penderita katarak tertinggi di Asia Tenggara.
Dari sekitar 234 juta penduduk, 1,5 persen atau lebih dari tiga juta orang
menderita katarak. Sebagian besar penderita katarak adalah lansia berusia
60 tahun ke atas. Lansia yang mengalami kebutaan karena katarak tidak
bisa mandiri dan bergantung pada orang yang lebih muda untuk mengurus
dirinya.
Berdasarkan survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran
tahun 1993-1996, menunjukkan angka kebutaan di Indonesia sebesar
1,5%, dengan penyebab utama adalah katarak (0,78%); glaukoma (0,20%);
kelainan refraksi (0,14%); dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan
dengan lanjut usia (0,38%).
Dibandingkan dengan negara-negara di regional Asia Tenggara,
angka kebutaan di Indonesia adalah yang tertinggi (Bangladesh 1%, India
0,7%, Thailand 0,3%). Sedangkan insiden katarak 0,1% (210.000
orang/tahun), sedangkan operasi mata yang dapat dilakukan lebih kurang
80.000 orang/ tahun. Akibatnya timbul backlog (penumpukan penderita)
katarak yang cukup tinggi. Penumpukan ini antara lain disebabkan oleh
daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya
pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, serta ketersediaan
tenaga dan fasilitas pelayan kesehatan mata yang masih terbatas.
Maka dari itu kami terdorong untuk menyusun makalah
ini, sehingga dapat menambah pengetahuan kita tentang insiden katarak itu
sendiri.

1.2

Rumusan Masalah
1.2.1

Apa Definisi, Etiologi dan Patofisiologi Katarak ?

1.2.2

Bagaimana pengkajian pada klien Katarak ?

1.2.3

Diagnosa Keperawatan apa yang muncul pada Klien Katarak dan


Intervensinya ?

1.3

Tujuan Penulisan
1.3.1

Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui gambaran secara umum tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan katarak.

1.3.2

Tujuan Khusus
a

Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan

katarak.
Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada

klien dengan katarak.


Mahasiswa mampu menyusun intervensi keperawatan pada

klien dengan katarak.


Mahasiswa mampu menerapkan implementasi keperawatan
pada klien dengan katarak.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian

Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada


serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998)
Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada
lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi
pada semua orang lebih dari 65 tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000).
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih.
Biasanya terjadi akibat proses penuaan dapat timbul pada saat kelahiran
(katarak congenital). Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam
maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit
sistemis seperti diabetes mellitus atau hipoparatiroidisme, pemejanan
radiasi, pemajanan yang lama sinar mata hari (sinar ultra violet), atau
kelainan mata lain seperti uveitis anterior. (Brunner & suddart, 2001)
2.2

Etiologi
1. Beberapa pandangan teoritis oleh beberapa ahli tentang penjabaran
penyebab terjadinya penyakit (etiologi) katarak :
a. Penyebab dari katarak adalah usia lanjut (senile) tapi dapat terjadi
secara kongenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin,
genetik, dan gangguan perkembangan, kelainan sistemik, atau
metabolik, seperti diabetes melitus, galaktosemi, atau distrofi
mekanik, traumatik: terapi kortikosteroid, sistemik, rokok, dan
konsumsi alkohol meningkatkan resiko katarak (Mansjoer,2000).
b. Penyebab utama katarak adalah penuaan. Anak dapat menerima
katarak

yang

biasanya

merupakan

penyakit

yang

sedang

diturunkan, peradangan dalam kehamilan. Faktor lain yaitu


diabetes mellitus dan obat tertentu, sinar UV B dari cahaya
matahari, efek racun, rokok, dan alkohol, gizi kurang vitamin E
dan radang menahun didalam bola mata, serta adanya cidera mata
(Ilyas,1997).
c. Katarak terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat
kelahiran (katarak kongenital) dapat juga berhubungan dengan
trauma mata tajam/tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka
panjang,

penyakit

sistemis,

seperti

dibetes

melitus

atau

hiperparatiroidisme, pemajanan radiasi, pemajanan sinar matahari


(sinar ultraviolet) atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior
(Smeltzer,2002).
d. Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau
bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak
adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula
terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil
muda.
2. Penyebab katarak lainnya meliputi :
a Faktor keturunan.
b Cacat bawaan sejak lahir. (congenital)
c Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
d Operasi mata sebelumnya.
e Trauma (kecelakaan) pada mata.
f Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.
2.3

Klasifikasi
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam :
1. katarak kongenital, katarak yang terlihat pada usia di bawah 1 tahun
2. katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun dan di
bawah 40 tahun
3. katarak presenil, yaltu katarak sesudah usia 30 - 40 tahun
4. katarak senil, yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40
tahun.

2.4

Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi
yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona
sentral terdapat nucleus, diperifer ada korteks, dan yang mengelilingi
keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia,
nekleus

mengalami

perubahan

warna

menjadi

cokelat

kekuningan.Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior dan


posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk
katarak yang paling bermakna nampak seperti cristal salju pada jendela.

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa menyebabkan hilangnya


transparansi. Perubahan pada serabut halus mltiple (zunula) yang
memanjang dari badan silier kesekitar daerah diluar lensa, misalnya, dapat
menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam
protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan
pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori
menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influs air
ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
mengganggu transmisi sinar. Teori lain menyebutkan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim
akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan
pasien yang tenderita katarak.
Katarak biasanya terjadi di lateral, namun mempunyai kecepatan
yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemas,
seperti diabetes, Namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses
penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan
matang ketika orang memasuki dekade ke tujuh. Katarak dapat bersifat
kongenitaldan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa
dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen.
Factor yang paling sering berperan dalam terjadinya katrak meliputi
radiasi sinar ultra violet B, obat-obatan, alcohol, merokok, diabetes, dan
asupan vitamin anti oxidan yang kurang dalam jangka waktu lama
Lensa berisi 65% air, 35% protein, dan mineral penting. Katarak
merupakan

kondisi

penurunan

ambulan

oksigen,

penurunan

air,

peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat larut


menjadi tidak dapat larut. Pada proses penuaan ,lensa secara bertahap
kehilangan

air

dan

mengalami

peningkatan

dalam

usuran

dan

densitasnya.Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi central serat


lensa yang lebih tua. Saat serat lensa yang baru diproduksi dikortek, serat
lensa ditekan menjadi central. Serat-serat lensa yang padat lama-lam
menyebabkan hilangnya tranparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan
sering bilateral. Selain itu, berbagai penyebab katarak diatas menyebabkan

ganguan metabolisme pada lensa mata. Gangguan metabolisme ini,


menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada didalam lensa
yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat
berkembang diberbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini
sinar yang masuk melalui kornea dihalangi oleh lensa yang keruh atau
buram. Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai pada retina.
Akibatnya otak menginterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut.
Pada katarak yang tidak diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian
berubah kuning, bahkan menjadi coklat atau hitam dan klien mengalami
kesulitan dalam membedakan warna (Diambil dari buku Asuhan
Keperawatan Klien Gangguan Mata,Ns.Indriana N. Istiqomah,S.Kep
2.5

Manifestasi Klinis
Gejala umum gangguan katarak meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

2.6

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek


Peka terhadap sinar atau cahaya
Dapat melihat dobel pada satu mata
Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca
Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

Pemeriksaan Diagnostik
1. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan
kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi,
penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.
2. Lapang Penglihatan : penuruan mngkin karena massa tumor, karotis,
glukoma.
3. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
4. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma.
5. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe gllukoma
6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik,
papiledema, perdarahan.
7. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
8. EKG, kolesterol serum, lipid
9. Tes toleransi glukosa : kotrol DM

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1

Pengkajian
1. Identitas Klien, meliputi :
Nama, Umur, Jenis Kelamin, Agama, Status Perkawinan, Suku
Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Tgl. Masuk RS, No. Register Serta
Penanggung Jawab.
2. Keluhan utama
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan Sekarang
b. Riwayat Penyakit Dahulu
c. Riwayat Penyakit Keluarga
4. Pemeriksaan Fisik
a. Pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pola nutrisi dan metabolisme
Pola eliminasi

Pola aktivitas dan latihan


Pola istirahat dan tidur
Pola kognitif dan persepsi
Persepsi diri dan konsep diri
Pola peran hubungan
Pola koping dan toleransi aktivitas
Keyakinan dan kepercayaan
b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Tanda-tanda vital
Kulit
Kepala
Mata
Telinga
Hidung dan sinus
Mulut dan tenggokan
Leher
Thorak/paru
Jantung
Abdomen
Ekstremitas
Neurologis
3.2

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan sensori persepsi (penglihatan) b/d gangguan penerimaan
sensori/status organ indra penglihatan
2. Resiko Cedera b/d Disfungsi Sensori Penglihatan
3. Harga Diri Rendah Situasional b/d Hambatan Fungsi Penglihatan.

3.3

No.

Intervensi NIC dan Hasil NOC

Diagnosa Keperawatan

1 Gangguan

Intervensi NIC

Kriteria Hasil NOC


sensoriSetelah

persepsi (penglihatan)
gangguan

Tujuan dan

Membantu

b/ddilakukantindakan selama

memberikan

penerimaan3X24 jam diharapkan gangguan

sensori /status organ indrasensori persepsi dapat diatasi.


penglihatan

Klien
mengambil
pribadi

pelajaran

penerimaan metode

mampu

alternative

tindakan

menjalani

untuk

dan

hidupdengan

untuk

mengompensasi

menjalani

gangguan penglihatan.
Klien
mengetahui
metode alternative untuk

dengan

hidup
penurunan

fungsi penglihatan.
Meningkatkan

menjalani hidup dengan

kenyamanan,

penuunan

keamanan

fungsi

penglihatan.

dan

orientasi

realitas

pasien

yang

mengalami
keyakinan yang kuat
dan salah yang tidak
sesuai

gengan

kenyataan.
Memanipulasi
lingkungan

sekitar

pasien untuk manfaat


terapeutik.
Mengumpulkan dan
menganalisis

data

pasien

untuk

mencegah

atau

meminimalkan
komplikasi
neurologis.
Memberikan

2 Ketakutan b/d KehilanganSetelah


pandangan komplek.

dilakukantindakan selama

informasi

3X24

tentang

jam

diharapkan Klien

tampak tenang.
Mencari informasi untuk
menurunkan ketakutan.
Menghindari
sumber
ketakutan bila mungkin.

factual
diagnosis,

pengobatan

dan

prognosa.
Gunakan pendekatan
yang

tenang

dan

meyakinkan.
Anjurkan
pasien
tentang penggunaan

tehnik relaksasi.
Menilai tanda
tanda

verbal

dan

kecemasan
3 Resiko Cedera b/dDisfung
si Sensori penglihatan

Klien

terbebas

nonverbal
dariManajemen Lingkungan :

Cedera.
Klien mampu mengatasi
factor

resiko

dari

lingkungan / perilaku
personal.
Mampu memodifikasi
gaya

hidup

Sediakan lingkungan
yang

aman

untuk

pasien.
Identifikasi
kebutuhan keamanan
pasien,

sesuai

untuk

dengan kondisi fisik

mencegah Injury.
Menggunakan fasilitas

dan fungsi kognitif

kesehatan yang ada


Mampu
mengenali
perubahan
kesehatan

status

pasien.
Menghindarkan
lingkungan
berbahaya

yang
/

memindahkan
perabotan

yg

berbahaya
Menyediakan tempat
tidut yang nyaman
dan bersih.

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang
mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan

di dalam mata, seperti melihat air terjun menjadi kabur atau redup, mata
silau yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya klien
melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan
fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan
penglihatan tadi. Temuan objektif biasanya meliputi pengembunann
seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak
dengan oftalmoskop.
Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan
bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada
retina. Hasilnya adalah pendangan di malam hari. Pupil yang normalnya
hitam akan tampak abu-abu atau putih.
4.2

Saran
Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa
keperawatan dapat mengerti dan memahami serta menambah wawasan
tentang Asuhan keperawatan pada klien dengan Katarak.

DAFTAR PUSTAKA
Buku Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosis medis & NANDA
(North American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC Edisi revisi
jilid 2 tahun 2013.

Buku saku Diagnosis keperawatan edisi 9 Diagnosis Nanda Intervensi NIC dan
Kriteria hasil NOC Judith M.Wilkinson dan Nanchy R.Ahern
Buku Nanda international diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi 20122014
Buku Kapita selekta kedokteran edisi ketiga jilid 1 editor Arif Mansjoer, Kuspuji
Triyanti, Rakhmi Savitri, Wahyu Ika Wardani dan Wiwiek Setiowulan.