Você está na página 1de 16

Arti Perkawinan dalam Hukum Perkawinan Adat

Arti perkawinan bagi hukum adat adalah penting karena tidak saja
menyangkut hubungan antara kedua mempelai, akan tetapi juga
menyangkut hubungan antara kedua belah pihak mempelai seperti
saudara-saudara atau keluarga kedua mempelai.
Menurut M.M. Djojodigoeno hubungan suami istri setelah
perkawinan bukan saja merupakan suatu hubungan perikatan
yang berdasarkan perjanjian atau kontrak akan tetapi juga
merupakan suatu paguyuban.3
Hukum Adat Perkawinan
Hukum adat perkawinan adalah aturan-aturan hukum adat yang
mengatur bentuk-bentuk perkawinan, cara-cara pelamaran,
upacara perkawinan dan putusnya perkawinan di Indonesia.4
Aturan-aturan hukum adat perkawinan di berbagai daerah di
Indonesia berbeda-beda. Hal ini dikarenakan sifat
kemasyarakatan, adat-istiadat, agama dan kepercayaan
masyarakat yang berbeda-beda. Di samping itu juga dikarenakan
kemajuan zaman, selain adat perkawinan itu juga sudah
mengalami pergeser dan jyga telah terjadi perkawinan campuran
antar suku, adat istiadat. Misalnya perkawinan antara Edhie
Baskoro Yudhoyono dengan Aliya yang merupakan perkawinan
campuran antara adat Palembang dengan adat Jawa.Walaupun
sudah berlaku undang-undang perkawinan yang bersifat nasional
yang berlaku di seluruh Indonesia, namun di berbagai daerah dan
berbagai golongan masih berlaku hukum perkawinan adat.
Undang-undang No. 1 tahun 1974 yang terdiri dari XIV bab dan 67
pasal mengatur tentang dasar-dasar perkawinan, syarat-syarat
perkawinan, pencegahan perkawinan, batalnya perkawinan,
perjanjian perkawinan, hak dan kewajiban suami dan istri, harta
benda dalam perkawinan, putusnya perkawinan, kedudukan anak,
perwalian dan ketentuan yang lainnya. Namun di dalam undangundang tersebut tidak diatur bentuk-bentuk perkawinan, cara
peminangan, upacara-upacara perkawinan yang semuanya ini
masih berada dalam lingkup hukum adat. Hal-hal yang tidak
terdapat dalam undang-undang perkawinan yang berkaitan
dengan perkawinan ini masih tetap dan boleh diberlakukan di
Indonesia asal tidak menyimpang dari makna perkawinan itu
sendiri.
B. Bentuk-bentuk Perkawinan
Dalam hal ini susunan masyarakat di Indonesia terdapat banyak
perbedaan, ada yang bersifat patrilinial, matrilinial, parental dan
campuran. Dari sini juga terdapat bentuk-bentuk perkawinan yang

berbeda pula. Adapun bentuk-bentuk perkawinan yang ada dalam


masyarakat adat di Indonesia ini antara lain:5
a. Perkawinan Jujur
Perkawinan jujur adalah perkawinan dengan pemberian
(pembayaran) uang (barang). Pada umumnya berlaku di
lingkungan masyarakat hukum adat yang mempertahankan
keturunan garis bapak. Yakni perkawinan yang terdapat dalam
masyarakat adat Gayo (unjuk), Batak(boli, tuhor, parunjuk,
pangoli), Nias(beuli niha), Lampung(segreh,seroh,daw adat), Bali,
Timor(belis,welie), Maluku(beli,wilin). Bentuk perkawinan ini
dilakukan oleh pihak kerabat (marga,suku) calon suami kepada
pihak kerabat calon istri sebagai tanda pengganti pelepasan
mempelai wanita keluar dari kewargaan adat persekutuan hukum
bapaknya, pindah dan masuk ke dalam persekutuan hukum
suaminya. Setelah perkawinan, maka istri berada di bawah
kekuasaan kerabat suami, hidup matinya menjadi tanggungjawab
kerabat suami, berkedudukan hukum dan menetap diam di pihak
kerabat suaminya.begitu pula anak-anaknya dan keturunannya
melanjutkan keturunan suami dan harta kekayaan yang di bawa si
istri semuanya dikuasai oleh suami, kecuali ditentukan oleh pihak
istri.
Pada umumnya dalam bentuk perkawinan jujur berlaku adat
pantang cerai. Jadi senang atau susah selama hidupnya istri di
bawah kekuasaan kerabat suami. Jika suami wafat maka istri
harus melakukan perkawinan dengan saudara suami. Jika istri
wafat maka suami harus kawin lagi dengan saudara istri. Jika
perkawinan antara suami dengan saudara istri dan istri dengan
saudara suami tidak disetujui, maka perkawinan dapat dilakukan
dengan orang lain di luar kerabat, namun orang yang di luar
kerabat itu harus tetap menggantikan suami atau istri yang wafat
itu dalam kedudukan hukum adatnya.
Menurut hukum Islam pembayaran jujur tidak sama dengan mas
kawin. Uang jujur adalah kewajiban adat ketika dilakukan
pelamaran yang harus dipenuhi oleh kerabat pria kepada kerabat
wanita untuk dibagikan pada tua-tua kerabat (marga/suku) pihak
wanita, sedangkan mas kawin adalah kewajiban agama ketika
dilaksanakan akad nikah yang harus dipenuhi oleh mempelai pria
untuk mempelai wanita yang sifatnya pribadi. Uang jujur tidak
boleh dihutangkan sedangkan mas kawin boleh dihutangkan.
b. Perkawinan Semenda
Perkawinan semenda pada hukumnya berlaku di lingkungan
masyarakat adat matrilinial, dalam rangka mempertahankan garis
keturunan pihak ibu. Perkawinan ini merupakan kebalikan dari

perkawinan jujur. Dalam perkawinan semenda, calon mempelai


pria dan kerabatnya tidak melakukan pemberian uang jujur kepada
pihak wanita, malahan sebagaimana berlaku di minangkabau
berlaku adat pelamaran dari pihak wanita kepada pihak pria.
Setelah perkawinan terjadi, maka suami berada di bawah
kekuasaan istri dan kedudukan hukumnya bergantung pada
bentuk perkawinan semenda yang berlaku. Adapun bentuk
perkawinan semenda yakni:6
a) Semanda raja-raja
Suami dan istri berkedudukan sama
b) Semanda lepas
Suami mengikuti tempat kediaman istri (matrilokal)
c) Semanda bebas
Suami tetap pada kerabat orang tuanya
d) Semanda nunggu
Suami dan istri berkediaman di pihak kerabat istri selama
menunggu adik ipar (istri) sampai dapat mandiri
e) Semanda ngangkit
Suami mengambil istri untuk dijadikan penerus keturunan pihak
ibu suami dikarenakan ibu tidak mempunyai keturunan anak
wanita
f) Semanda anak daging
Suami tidak menetap di tempat si istri melainkan datang sewaktuwaktu, kemudian pergi lagi seperti burung yang hinggap
sementara, maka disebut juga semanda burung.
Di daerah Bengkulu, perkawinan semanda dibedakan semanda
beradat dan semanda tidak beradat. Semanda beradat ialah
bentuk perkawinan semanda di mana pihak pria membayar uang
adat kepada kerabat wanita. Sedangkan semanda tidak beradat
ialah pihak pria tidak membayar uang adat, karena semua biaya
perkawinan ditanggung pihak wanita. Di daerah Lampung beradat
pesisir terdapat istilah semanda mati tunggu mati manuk, di mana
suami mengabdi di tempat istri.
Bentuk perkawinan semanda ini tidak berlaku lagi di Indonesia
sejak berlakunya UU No. 1 tahun 1974. Yang masih berlaku
adalah bentuk perkawinan semanda raja-raja, semanda nunggu,
semanda bebas, semanda ngangkit karena tidak ada penerus
keturunan wanita atau dalam masyarakat patrilinial semanda
ngiken untuk meneruskan keturunan laki-laki bagi keluarga yang
tidak mempunyai anak lelaki sebagai penerus keturunan. Pada
umumnya dalam bentuk perkawinan semanda kekuasaan pihak
istri yang lebih berperanan, sedangkan suami tidak ubahnya
sebagai istilah nginjam jago (meminjam jantan) hanya sebagai

pemberi bibit saja dan kurang tanggung jawab dalam keluarga.


c. Perkawinan Bebas (mandiri)
Bentuk perkawinan bebas atau perkawinan mandiri pada
umumnya berlaku di lingkungan masyarakat adat yang bersifat
parental (keorangtuaan) seperti berlaku di kalangan masyarakat
Jawa, Sunda, Aceh, Melayu, Kalimantan, Sulawesi. Bentuk
perkawinan ini sesuai dengan UU No. 1 tahun 1974, di mana
kedudukan dan hak suami dan istri berimbang, suami adalah
kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga. Setelah
perkawinan suami dan istri pisah dari orang tua dan keluarga
masing-masing. Orang tua kedua pihak hanya memberi bekal
(sangu) bagi kelanjutan hidup rumah tangga kedua mempelai
dengan harta pemberian atau warisan sebaga harta bawaan ke
dalam perkawinan. Sebelum perkawinan orang tua hanya
memberi nasihat, petunjuk memilih jodoh dan setelah perkawinan
hanya mengawasi kehidupan rumah tangga anaknya yang sudah
menikah. Di dalam masyarkat parental bisa saja terjadi
perkawinan ganti suami apabila suami wafat, di mana istri kawin
lagi dengan saudara suami atau terjadi perkawinan ganti istri
apabila istri wafat, di mana suami kawin lagi dengan saudara istri.
Tapi hal ini bukan merupakan suatu keharusan sebagaimana
dalam masyarakat patrilinial ataupun masyarakat matrilinial.
d. Perkawinan Campuran
Perkawinan campuran dalam arti hukum adat adalah perkawinan
yang terjadi antara suami dan istri yang berbeda bangsa, adat,
budaya. Undang-undang perkawinan nasional tidak mengatur hal
demikian, yang diatur hanya perkawinan antara suami dan istri
yang berbeda kewarganegaraan sebagaimana dinyatakan dalam
pasal 57 UU No. 1 tahun 1974. Terjadinya perkawinan
menimbulkan maslah hukum antara tata hukum adat dan hukum
agama, yaitu hukum mana dan apa yang diperlakukan dalam
pelaksanaan perkawinan itu. Pada dasarnya hukum adat atau
hukum agama tidak membenarkan terjadinya perkawinan
campuran. Tapi dalam perkembangannya hukum adat setempat
memberikan jalan keluar untuk mengatasi masalahnya, sehingga
perkawinan campuran itu dapat dilaksanakan.
Menurut hukum adat Batak apabila akan diselenggarakan
perkawinan campuran antar suku, adat dan agama yang berbeda,
maka dilaksanakan dengan marsileban, yaitu pria atau wanita
yang bukan warga adat Batak harus diangkat dan dimasukkan
lebih dulu sebagai warga adat batak dalam ruang lingkup dalihan
na tolu. Jika calon suami orang luar adata Batak maka masuk ke
dalam warga adat hula-hula, dan apabila calon istri yang dari luar

adat Batak, maka harus diangkat ke dalam warga adat namboru.


Sehingga perkawinan adat tetap di dalam jalur assymmetrisch
connubium
Dalam hal perbedaan agama antara calon suami dan istri, agar
perkawinannya itu sh maka salah satu dari keduanya harus
mengalah salah satu yakni dengan cara masuk kedalam salah
satu agama si calon suami atau si calon istri. Menurut agama
Islam perkawinan campuran antar agama di mana calon suami
istri tidak bersedia meninggalkan agama yang dianutnya, maka
Islam hanya membolehkan pria Islam kawin dengan wanita
beragama lain. Di dalam agama Kristen Katolik boleh terjadi
perkawinan di mana suami dan istri tetap mempertahankan agama
yang dianutnya, hanya saja dengan perjanjian suami atau istri
yang beragama Katolik harus berjanji akan mendidik anakanaknya ke dalam Katolik.7
e. Perkawinan Lari
Perkawinan lari terjadi di suatu lingkungan masyarakat adat yang
terjadi dalam masyarakat adat Batak (mangaluwa), Lampung
(sebambungan, metudau, nakat, cakak lakei), Bali (ngerorod,
merangkat), Bugis (silariang), Maluku. Sebenarnya perkawinan lari
bukanlah bentuk perkawinan melainkan merupakan sistem
pelamaran. Sistem perkawinan lari dapat dibedakan antara
perkawinan lari bersama dan perkawinan lari paksaan.
Perkawinan lari bersama adalah perbuatan berlarian untuk
melaksanakan perkawinan atas persetujuan si gadis. Cara
melakukan berlarian tersebut ialah bujang gadis sepakat
melakukan kawin lari pada waktu yang sudah ditentukan
melakukan lari bersama atau si gadis secara diam-diam diambil
kerabat pihak bujang dari tempat kediamannya, atau si gadis
datang sendiri ke tempat kediaman pihak bujang. Segala
sesuatunya berjalan menurut tata tertib adat berlarian.
Perkawinan lari paksaan (Belanda: schaak-huwelijk,
lampung:dibembangkan, ditekep, ditenggang, Bali:melegandong)
adalah perbuatan melarikan gadis dengan akal tipu, atau dengan
paksaan atau kekerasan, tidak atas persetujuan si gadis dan tidak
menurut tata tertib adat berlarian.
Perkawinan lari bersama biasanya dilakukan dengan mengikuti
tata tertib adat berlarian setempat. Di kalangan masyarakat
Lampungberadat pepadun setidaknya-tidaknya gadis yang pergi
berlarian harus meninggalkan tanda kepergiannya berupa surat
atau sejumlah uang, pergi menuju ke tempat kediaman kepala
adat bujang, kemudian pihak bujang mengadakan pertemuan
kerabat dan mengirim utusan untuk menyampaikan permintaan

maaf dan memohon penyelesaian yang baik dari pihak kerabat


wanita, lalu diadakan perundingan kedua pihak.
Di lingkungan Dayak Ngaju Kalimantan berlaku adat si gadis
mendatangi rumah bujang untuk memaksakan perkawinan atau
sebaliknya si bujang mendatangi rumah gadis dengan membawa
barang-barang pemberian meminta diakwinkan, jika pihak gadis
menolak atau pihak gadis harus mengganti senilai barang
pemberiannya dan dapat pula terjadi si bujang ketika berada di
rumah gadis dikurung sampai pagi lalu gadis memaksa untuk
dikawinkan dengan pemuda itu.
C. Asas-asas Perkawinan
Asas- asas yang terkandung dalam UU perkawinan sesuai dengan
falsafah Pancasila dan UUD 1945, maka UU ini harus dapat
mewujudkan prinsip- prinsip yang terkandung dalam Pancasiladan
UUD 1945, dan harus dapat menampung segala yang hidup
dalam masyarakat. Asas- asas ini tercantum dalam pada
penjelasan umum tiga UU perkawinan.
Asas- asas yang tercantum adalah :
1. Bahwa perkawinan adalah untuk membentuk keluarga bahagia
dan kekal. Untuk itu suami istri perlu saling membantu dan
melengkapi, keduanya dapat mengembangkan kepribadian untuk
mencapai kesejahteraan yang bersifat material dan spiritual.
2. Perkawinan sah bilamana dilakukan menurut hukum masingmasing agama dan kepercayaannya, dan di samping itu tiap-tiap
perkawinan harus dicatat menurut perundangan yang berlaku.
3. Perkawinan harus memenuhi administrasi dengan jalan
mencatatkan diri pada kantor pencatatan yang telah ditentukan
oleh perundang- undangan.
4. Perkawinan menurut asas monogami, meskipun tidak bersifat
mutlak karena masih ada kemungkinan untuk beristri lebih dari
seorang, bila dikehendaki olehpihak- pihak yang bersangkutan dan
ajaran agamanya mengijinkan untuk itu ketentuan harus
memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam undangundang.
5. Perkawinan dilakukan oleh pihak yang telah matang jiwa
raganya atau telah dewasa, kematangan ini sesuai dengan
tuntutan jaman di manabaru dilancarkan keluarga berencana
dalam rangka pembangunan nasional.
6. Memperkecil dan mempersulit perceraian.
7. Kedudukan suami istri dalam kehidupan perkawinan adalah
seimbang baik kehidupan rumah tangga maupun dalam kehidupan
masyarakat.

D. Sistem Perkawinan Adat


Dalam suatu masyarakat adat ada suatu sistem perkawinan, di
mana masing-masing sistem mempunyai pengaruh tersendiri
terhadap status anak, waris, kedudukan anak di dalam suatu
masyarakat adat, adapun sistem perkawinan tersebut adalah:
Sistem perkawinan adat antara lain sebagai berikut:8
a. Sistem Endogami
Sistem endogami adalah suatu perkawinan yang hanya
memperbolehkan seseorang menikah, harus berasal dari
keluarganya sendiri atau marganya sendiri.
b. Sistem Exogami
Sistem exogami adalah suatu sistem perkawinan yang hanya
memperbolehkan seseorang menikah dengan orang lain yang
berasal dari suku atau marga lain.
c. Sistem Eleuxthrogami
Sistem eleuxthrogami adalah suatu sistem perkawinan yang
menganut sistem endogami dan exogami. sistem ini tidak
mengenal larangan-larangan maupun keharusan-keharusan.
Adapun larangan-larang dalam sistem ini adalah larangan yang
bertalian dengan ikatan kekeluargaan. Larangan-larangan tersebut
adalah yang berkaitan dengan nasab di mana dilarang menikah
dengan ibu, nenek, anak kandung, cucu, saudara kandung,
saudara bapak atau ibu. Di samping larangan nasab ada juga
larangan musyarahah (periparan) yakni dilarang menikahi ibu tiri,
menantu, mertua dan anak tiri.
Sistem Perkawinan Adat di Lampung9
Menurut ketentuan-ketentuan adat system perkawian masyarakat
Lampung Saibatin yang menganut garis keturunan Bapak
(Patrachaat) menganut 2 sistem pokok yaitu :
1. Sistem Perkawian Nyakak Atau Matudau
Sistem ini disebut juga sistem perkawina Jujur karena lelaki
mengeluarkan uang untuk membayar jujur/Jojokh (Bandi Lunik)
kepada pihak keluarga gadis (calon istri).
Sistem nyakak atau mantudau dapat dialksanakan dua cara:
Cara Sabambangan
Cara ini si gadis dilarikan oleh bujang dari rumahnya dibawa
rumah adat atau rumah si bujang. Biasanya pertama kali sampai si
gadis ditempat si bujang dinaikan kerumah kepala adat atau
jukhagan baru di bawa pulang kerumahnya oleh keluarga si
bujang. Ciri bahwa si gadis nyakak/mentudau si gadis meletakkan
surat yang isinya memberitahu orang tuanya kepergiannya Nyakak
atau mentudau dengan seorang bujang (dituliskan Namanya),

keluarganya, kepenyimbangannya serta untuk menjadi istri


keberapa, selain itu meninggalakan uang pengepik atau pengluah
yang tidak ditentukan besarnya, hanya kadang-kadang besarnya
uang pengepik dijadikan ukuran untuk menentukan ukuran uang
jujur (bandi lunik). Surat dan uang diletakkan ditempat tersembunyi
oleh si gadis. Setelah gadis sampai di tempat keluarga si bujang,
kepala adat pihak si bujang memerintahkan orang-orang adat
yang sudah menjadi tugasnya untuk memberi kabar secara resmi
kepada pihak keluarga si gadis bahwa anak gadisnya yang hilang
telah berada di kelaurga mereka dengan tujuan untuk dipersunting
oleh salah satu bujang anggota mereka. Mereka yang
memberitahu ini membawa tanda-tanda mengaku salah bersalah
ada yang menyerahkan Kris, Badik dan ada juga dengan tanda
Mengajak pesahabatan (Ngangasan, Rokok, Gula, Kelapa,dsb)
acara ini disebut Ngebeni Pandai atau Ngebekhi tahu. Sesudah itu
berarti terbuka luang untuk mengadakan perundingan secara adat
guna menyelesaikan kedua pasangan itu.Segala ketentuan adat
dilaksankan sampai ditemukan titik kemufakatan, kewajiban, pihak
bujang pula membayar uang penggalang sila ke pihak adat si
gadis.
Cara Tekahang (Sakicik Betik)
Cara ini dilakukan terang-terangan. Keluarga bujang melamar
langsung si gadis setelah mendapat laporan dari pihak bujang
bahwa dia dan si gadis saling setuju untuk mendirikan rumah
tangga pertemuan lamaran antara pihak bujang dan si gadis
apabila telah mendapat kecocokan menentukan tanggal
pernikahan tempat pernikahan uang jujur, uang pengeni jama
hulun tuha bandi balak (Mas Kawin), bagaimana caranya
penjemputan, kapan di jemput dan lain-lain. Yang berhungan
dengan kelancaran upacara pernikahan.Biasanya saat menjemput
pihak keluarga lelaki menjemput dan si gadis mengantar.Setelah
samapi ditempat sibujang, pengantin putri dinaikan kerumah
kepala adat/ jukhagan, baru di bawa pulang ketempat si
bujang.Sesudah itu dilangsungkan acara keramaian yang sudah
dirancanakan. Dalam sistem kawin tekhang ini uang pengepik,
surat pemberian dan ngebekhitahu tidak ada, yang penting diingat
dalam sistem dalam nyakak atau mentudau kewajiban pihak
pengantin pria adalah :
a. Mengeluarkan uang jujur (bandi Lunik) yang diberitahukan
kepada pihak pengantin wanita.
b. Pengantin membayar kontan mas kawin mahar (Bandi Balak).
Kepada si gadis yang sesuai dengan kemufakatan si gadis dengan
sibujang.keluarga pihak pria membayar uang penggalang

silaKepada kelompok adat si gadis


c. Mengeluarkan Jajulang / Katil yang berisi kue-kue (24 macam
kue adat) kepada keluarga si gadis jajulang/katil ini duhulu ada 3
buah yaitu : Katil penetuh Bukha Katil Gukhu Ngaji Katil Kuakha
Sekarang keadaan ekonomi yang susah katil cukup satu.
d. Ajang yaitu nasi dangan lauk pauknya sebagai kawan katil.
Memberi gelar / Adok kepada kedua pengantin sesuai dengan
strata pengantin pria, sedangkan dari pihak gadis memberi barang
berupa pakaian, alat tidur, alat dapur, alat kosmetik, dan lain
sebagainya. Barang ini disebut sesan atau benatok, Benatok ini
dapat diserahkan pada saat manjau pedom sedangkan pada
sistem sebambangan dibawa pada saat menjemput, pada sistem
tekhang kadang-kadang dibawa belakangan.
2. Sistem Perkawinan Cambokh Sumbay.
Sistem perkawinan Cambokh Sumbay disebut juga Perkawianan
semanda, yang sebenarnya adalah bentuk perkawinan yang calon
suami tidak mengeluarkan jujur (Bandi lunik) kepada pihak isteri,
sang pria setelah melaksanakan akad nikah melepaskan hak dan
tanggung jawabnya terhadap keluarganya sendiri dia bertanggung
jawab dan berkewajiban mengurus dan melaksankan tugas-tugas
di pihak isteri. Hal ini sesuai dengan apa yang di kemukakan Prof.
Hi. Hilman Hadi kusuma, :Perkawinan semanda adalah bentuk
perkawinan tanpa membayar jujur dari pihak pria kepad pihak
wanita, setelah perkawinan harus menetap dipihak kerabat istri
atau bertanggung jawab meneruskan keturunan wanita di pihak
isteri
Di masyarakat Lampung saibatin kawin semanda (Cambokh
Sumbay) ini ada beberapa macam sesuai dengan perjanjian
sewaktu akad nikah antara calon suami dan calon isteri atau pihak
keluarga pengantin wanita.
Dalam perkawinan semanda/ Cambokh sumbay yang perlu diingat
adalah pihak isteri harus mengeluarkan pemberian kepada pihak
keluarga pria berupa :
a. Memberikan Katil atau Jajulang kepada pihak pengantin pria
b. Ajang dengan lauk-pauknya sebagai kawan katil.
c. Memberikan seperangkat pakaian untuk pengantin pria.
d. Memberi gelar/adok sesuai dengan strata pengantin wanita.
Sedangkan Bandi lunik atau jujur tidak ada sedangkan Bandi
Balak atau maskawin dapat tidak kontan (Hutang). Pelunasannya
etelah sang suami mampu membayarnya. Termasuk uang
penggalang Silapun tidak ada,Selain dari kedua sistem
perkawinan diatas ada satu sistem perkawinan yang banyak

dilakukan oleh banyak orang pada era sekarang. Akan tetapi


bukan yang diakui oleh adat justru menentang atau berlawanan
dengan adat system ini adalah Sistem Kawin Lari atau kawin Mid
Naib Sistem perkawinan ini maksudnya adalah lari menghindari
adat, Lari dimaksud disini tidak sama denga Sebambangan,
Karena sebambangan lari di bawa ke badan hukum adat atau
penyimbang, sedangkan kawin lari ini adalah si gadis melarikan
bujang ke badan huku agama islam yaitu Naib (KUA) untuk
meminta di nikahkan, masalh adat tidak disinggung-singgung,
penyelesaian kawin seperti ini tidak ada yang bertanggung jawab
secara adat, sebab kadang-kadang keluarga tidak mengetahui hal
ini, penyelesaian secara adat biasanya setelah akad nikah
berlangsung apabila kedua belah pihak ada kecocokan masalah
adatnya, antara siapa yang berhak anatara keduanya perempuan
Nyakak/mentudau atau sang pria Cambokh Sumbay
/Semanda.Kawin lari seperti ini sering dilakukan karena antara
kedua belah pihak tidak ada kecocokan dikarnakan beberapa hal
diantaranya :
a. Sang Bujang belum mampu untuk berkeluarga sedangkan si
Gadis mendesak harus di nikahkan secepatnya karena ada hal
yang memberatkan Si gadis.
b. Kawin lari semacam ini dilakukan karena keterbatasan Biaya,
apabila perkawinan ini dilakukan secara adat atau dapat pula di
simpulkan untuk menghemat biaya.
Macam-macam sistem perkawinan Cambokh Sumbay/Semanda :
a. Cambokh Sumabay Mati manuk Mati Tungu, Lepas Tegi Lepas
Asakh. Cambokh Sumbay seperti ini merupaka cambokh sumbay
yang murni karene Sang Pria datang hanya membawa pakaian
saja, segala biaya pernikahan titanggung oleh si Gadis, anak
keturunan dan harta perolehan bersama milik isteri sang pria
hanya membantu saja, apabila terjadi perceraian maka semua
anak, harta perolehan bersama milik sang isteri, suami tidak dapat
apa.
b. Cambokh Sumbay Ikhing Beli, cara semacam ini dilakukan
karena Sang Bujang tidak mampu membayar jujur (Bandi Lunik)
yang diminta sang Gadis, pada hal Sang Bujang telah Melarika
Sang Gadis secara nyakak mentudau, selam Sang Bujang belum
mampu membayar jujur (Bandi Lunik) dinyatakan belum bebas
dari Cambokh Sumabay yang dilakukannya. Apabila Sang Bujang
sudah membayar Jujur (Bandi Lunik) barulah dilakukan acara adat
dipihak Sang Bujang
c. Cambokh Sumbay Ngebabang, Bentuk ini dikakukan karena
sebenarnya keluarga sigadis tidak akan mengambil bujang. Atau

tidak akan memasukkan orang lain kedalam keluarga adat


mereka, akan tetapi karena terpaksa sementara masih ada
keberatan kebneratan untuk melepas Si Gadis Nyakak atau
mentudau ketempat orang lain, maka di adakan perundingan
cambokh sumbay Ngebabang, cambokh Sumaby ini bersyarat,
umpanya batas waktu cambokh sumbay berakhir setelah yang
menjadi keberatan pihak si gadis berakhir, Contoh : Seorang
Gadis Anak tertua, ibunya sudah tiada bapaknya kawin lagi,
sedangkan adik laki yang akan mewarisi tahta masih kecil, maka
gadis tersebut mengambil bujang dengan cara Cambokh Sumabay
Ngebabang, berakhirnya masa cambokh sumbay ini setelah adaik
laki-laki tadi berkeluarga.
d. Cambokh Sumbay Tunggang Putawok atau Sai Iwa khua
Penyesuk, Cara semacam ini dikarenakan antara pihak keluarga
Sang Bujang dan Sang Wanita merasa keberatan untuk
melepaskan anak mereka masing-masing. Sedangkan perkawinan
ini tidak dapat di hindarkan, maka dilakukan permusyawaratan
denga system Cambokh sumbay Say Iwa khua penyesuk
cambokh sumabi ini berarti Sang pria bertanggung jawab pada
keluarga isteri dengan tidak melepaskan tanggung jawab pada
keluarganya sendiri, demikian pula halnya dengan Sang Gadis,
Kadang kala sang wanita menetap di tempat sang suami
e. Cambokh Sumbay Khaja-Kaja, ini merupakan bentuk yang
paling unik diantara cambokh sumabay lainnya karena menurut
adat Lampung Saibatin, Raja tidak boleh Cambokh Sumbay, ini
terjadi Cambokh Sumbay karena Seorang anak Tua yang harus
mewarisi tahta keluarganya Cambokh Sumbay kepada Seorang
Gadis yang juga kuat kedudukan dalam adatnya, dan Sang Gadis
tidak akan di izinkan untuk pergi ketempat orang lain.
E. Larangan Perkawinan dalam Hukum Perkawinan Adat
Yang dimaksud dengan larangan perkawinan dalam hukum adat
adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan perkawinan itu
tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi persyaratan
sebagaiman dikehendaki oleh hukum adat atau larangan agama
yang telah masuk menjadi ketentuan hukum adat. Adapun
larangan tersebut adalah sebagai berikut:10
a. Hubungan kekerabatan
Larangan perkawinan karena ikatan hubungan kekerabatan dapat
terlihat dalam hukum adat Batak yang bersifat asymmetrisch
connubium, dilarang terjadinya perkawinan antara laki-laki dengan
perempuan yang satu marga. Pada masyarakat Minangkabau
disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan dilarang kawin apabila
mereka satu suku. Pelanggaran terhadap larangan ini akan

dijatuhkan hukuman denda adat yang harus dibayarkan kepada


para prowatin adat dan harus menyembelih ternak agar terhindar
dari kutukan arwah-arwah ghaib.
b. Perbedaan Kedudukan
Dilarangnya perkawinan karena alasan perbedaan kedudukan
terjadi pada masyarakat yang masih bertradisi feodalisme.
Misalnya seorang laki-laki dilarang melakukan perkawinan dengan
perempuan dari golongan rendah atau sebaliknya. Di
Minangkabau seorang perempuan dari golongan penghulu
dilarang kawin dengan laki-laki yang tergolong kemanakan di
bawah lutut. Di Bali, karena pengaruh ajaran agama Hindu,
seorang laki-laki dari keturunan triwana atau triwangsa
(Brahmana, Ksatria dan Weisha) dilarang menikah dengan
seorang perempuan dari golongan sudra ( orang-orang biasa).
c. Perbedaan Agama
Perbedaan agama dapat menjadi penghalang terjadinya
perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan,
seperti di daerah Lampung yang setiap warga adat harus
menganut agama Islam, bagi yang tidak beragama Islam tidak
dapat diterima menjadi anggota warga adat. Oleh karena itu, lakilaki dan perempuan yang beragama lain yang hendak
melangsungkan pernikahan salah satu dari keduanya harus
terlebih dahulu memasuki agama Islam.
F. Akibat Putusnya Perkawinan
Menurut UU No. 1 tahun 1974 dikatakan bahwa perkawinan dapat
putus karena kematian, perceraian dan atas putusan pengadilan
(pasal 38). Akibat putus perkawinan karena perceraian, baik ibu
atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anakanaknya. Apabila perkawinan putus karena perceraian, harta
bersama diatur menurut hukumnya masing-masing (pasal 37).
Hukumnya masing-masing yang dimaksud adalah hukum agama,
hukum adat dan hukum-hukum lainnya (penjelasan pasal 37).
Pada masyarakat yang bersifat patrilinial, yang mengharamkan
terjadinya perceraian, maka putusnya perkawinan karena
kematian atau perceraian tidak mengubah pertanggunganjawab
kerabat pihak suami terhadap anak dan istri dari anggota
keluarga/rumah tangga seketurunan ayah, kakek dan seterusnya
ke atas.
Pada masyarakat yang bersifat matrilinial, demikian pula
sebaliknya, putusnya perkawinan karena kematian atau perceraian
tidak mengubah tanggungjawab mamak terhadap kemenakan (di

Minangkabau) atau Payung Jurai terhadap kemenakannya (di


Semendo) atau para Kelama (di Lampung pesisir).
Pada masyarakat yang bersifat parental, begitu pula kerabat
patrilinial atau matrilinial yang telah jauh merantau dari kampung
halamnnya, pertanggungjawaban pengurusan dan pemeliharaan
anak kemenakan, janda, yang dalam kekurangan hidupnya adalah
pihak suami atau pihak istri, tergantung pada keadaan dan
kemampuan serta kesediaan dari kerabat yang bersangkutan.
Perceraian dapat terjadi karena:
a. Istri berzina
b. Istri mandul
c. Suami impoten
d. Suami meninggalkan istri dalam waktu yang lama
e. Istri berkelakuan tidak sopan
f. Istri dan suami tidak menghormati adat-istiadat
Tata Cara Perceraian Adat
Perceraian dapat timbul karena ada hal-hal yang menyebabkan
terjadinya perceraian antara suami dan istri .Setiap perselisihan
suami istri harus dicarikan jalan penyelesaian oleh kerabat agar
mereka dapat hidup rukun dan damai.. Menurut hukum adat
kampung dukuh, kalau ada sepasang suami-isteri yang akan
bercemai karena tidak sejalan dan tidak menjadikan rumah tangga
harmonis maka cara penyelesaiannya dilakukan di depan kepala
adat, sehingga perceraian yang terjadi berjalan dengan sesuai
adat dikampung tersebut. Kecuali apabila kerabat sudah tidak
dapat lagi menyelesaikan perselisihan secara damai, barulah
diteruskan ke pengadilan resmi.
Tata Cara Perceraian Menurut Hukum Perdata
Menurut Pasal 14 UU Perkawinanseorang suami yang telah
melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, yang akan
menceraikan isterinya, mengajukan surat kepada Pengadilan di
tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia
bermaksud menceraikan isterinya disertai alasan-alasannya serta
meminta kepada Pengadilan agar diadakan sidang untuk
keperluan itu. Pengadilan yang bersangkutan mempelajari isi surat
tersebut dan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari
memanggil pengirim surat dan juga isterinya untuk meminta
penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
maksud perceraian tersebut.
Pengadilan hanya memutuskan untuk mengadakan sidang
pengadilan untuk menyaksikan perceraian apabila memang
terdapat alasan-alasan (Pasal 19 disebutkan dibawah) dan
Pengadilan berpendapat bahwa antara suami isteri yang

bersangkutan tidak mungkin lagi didamaikan untuk hidup rukun


lagi dalam rumah tangga. Sesaat setelah dilakukan sidang untuk
menyaksikan perceraian yang dimaksud maka Ketua Pengadilan
membuat surat keterangan tentang terjadinya perceraian tersebut.
Surat keterangan itu dikirimkan kepada pegawai Pencatat di
tempat perceraian itu terjadi untuk diadakan pencatatan
perceraian.
Disamping itu pasal 19menyebutkan bahwa perceraian dapat
terjadi karena alasan atau alasan-alasan:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok; pemadat,
penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun
berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah
karena hal lain di luar kemampuannya.
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun
atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan
berat yang membahayakan pihak lain.
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan
akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri.
f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan
pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam
rumah tangga.
Gugatan perceraian diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya
kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat
kediaman tergugat.Dalam hal tempat kediaman tergugat tidak
jelas atau tidak diketahui atau tidak mempunyai tempat kediaman
yang tetap, gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan di
tempat kediaman penggugat.
Dalam hal tergugat bertempat kediaman di luar negeri, gugatan
perceraian diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman
penggugat.Ketua Pengadilan menyampaikan permohonan
tersebut kepada tergugat melalui Perwakilan Republik Indonesia
setempat (Pasal 20 (1), (2), (3) UU Perkawinan).
Jika gugatan perceraian karena alasan salah satu pihak
meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa
izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah karena hal lain di luar
kemampuannya maka diajukan kepada Pengadilan di tempat
kediaman penggugat. Gugatan tersebut dapat diajukan setelah
lampau 2 (dua) tahun terhitung sejak tergugat meninggalkan
rumah.Gugatan dapat diterima apabila tergugat menyatakan atau
menunjukkan sikap tidak mau lagi kembali ke rumah kediaman
bersama (Pasal 21).

Dalam hal gugatan karena alasan antara suami dan isteri terus
menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada
harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga maka gugatan
diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman tergugat.
Gugatan dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan
mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan
setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang yang dekat
dengan suami isteri itu (Pasal 22).
Menurut Pasal 23 UU Perkawinan gugatan perceraian karena
alasan salah seorang dari suami isteri mendapat hukuman penjara
5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat, maka untuk
mendapatkan putusan perceraian, sebagai bukti penggugatan
cukup menyampaikan salinan putusan Pengadilan yang memutus
perkara disertai keterangan yang mengatakan bahwa putusan itu
telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan
penggugat atau tergugat berdasarkan pertimbangan bahaya yang
mungkin ditimbulkan, Pengadilan dapat mengizinkan suami isteri
tersebut tidak tinggal dalam satu rumah. Selama berlangsungnya
gugatan perceraian, atas permohonan penggugat atau tergugat,
Pengadilan dapat:
a. Menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami.
b. Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan
dan pendidikan anak.
c. Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin terpeliharanya
barang-barang yang menjadi hak bersama suami isteri atau
barang-barang yang menjadi hak suami atau barang-barang yang
menjadi hak isteri.
Mengenai gugatan perceraian gugur apabila suami atau isteri
meninggal sebelum adanya putusan Pengadilan mengenai
gugatan perceraian itu.Gugatan diajukan dengan alasan yang
sama maka tidak akan diterima oleh Pengadilan.Jika gugatan
akan diajukan kembali maka harus dengan alasan-alasan yang
berbeda dengan alasan yang sebelumnya.
G. Perkawinan Anak-anak
Perkawinan anak-anak atau perkawinan di bawah umur masih
menjadi perdebatan terutama berkaitan dengan batasan usia
minimal bagi seorang anak untuk menikah. Dalam hal ini penulis
mengambil contoh perkawinan anak-anak yang terjadi di
Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Pada masyarakat Indramayu
masih terjadi perkawinan di bawah umur hal ini disebabkan
dengan alasan faktor adat atau kebiasaan yang turun temurun
dilakukan masyarakat setempat. Di samping itu faktor

pengetahuan dan pemahaman yang kurang terhadap resiko


pernikahan di bawah umur. Faktor ekonomi juga menjadi alasan
bagi orang tua yang menyebabkan anak-anaknya menikah di
bawah umur. Hal ini berbeda dengan masyarakat bugis yang hidup
di Jambi, masyarakat adat bugis melakukan perjodohan antara
keluarga si A dengan keluarga si B, tapi kebanyakan masyrakat
Bugis di Jambi perjodohannya dilakukan pada saat putra-putri
mereka menginjak sekolah SMA. Pernikahan di bawah umur atau
anak-anak juga dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan,
baik permasalahan sosial dan juga hukum. Padahal di Indonesia
ini juga sudah ada undang-undang yang mengatur mengenai usia
pernikahan di Indonesia yang tercantum dalam UU No. 1 tahun
1974 tentang perkawinan pasal 7 ayat 1 yang
berbunyi:perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah
mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita berusia 16 tahun.
Pemberlakuan undang-undang ini diberlakukan atas dasar
perlindungan atas hak anak, kesehatan yang berkaitan dengan
organ reproduksi dan psikologis anak dalam hal kedewasaan anak
untuk menentukan pilihan yang tepat dan untuk menanggung
resiko banyaknya kerugian atau kewenang-wenangan yang akan
dialami oleh si istri.
Memang perkawinan anak-anak pada zaman dahulu di Jawa pun
banyak terjadi sehingga orang-orang jaman dahulu memiliki
banyak anak, ada yang memiliki anak 7 ada yang 10 bahkan ada
yang di atas 10 anak. Akan tetapi pada masa sekarang ini sudah
jarang terjadinya perkawinan anak-anak di bawah umur mengingat
jumlah populasi penduduk yang ada di Indonesia ini yang semakin
banyak.