Você está na página 1de 2

Analisis Artikel

JUDUL : Erythropoetin receptor and tissue factor ae co-expressed in human breast


cancer cells
DETAIL JURNAL : JBUON 2015; 20(6): 1426 1431
PERMASALAHAN :
Erithropoiesis stimulating aegnts (ESAs) telah di rekomendasikan untuk pengobatan
anemia pada kemoterapi pasien kangker payudarah. ESAs di ketahui menurunkan resiko
kematian akibat komplikasi thromboembolic complication, komplikasi akibat donor darah
terhadap pasien kangker yang melakukan kemoterapi. Akan tetapi mekanisme kerja dari
ESAs sendiri belum di ketahui secara jelas. Proses aktivasi koagulasi darah pada kangker di
atur oleh Tissue Factor (TF). Banyak data penelitian menunjukan bahwa reseptor eritropoitin
(EPO-R) nayak di temukan terdapat di sel kangker dan tumor. Sehingga masalah dari study
dan penelitian ini adalah bagana evaluasi pengaturan ekspresi dari reseptor EPO dan Tissue
Factor (TF) pada kangker payudarah.
METODE :
Ekspresi dari EPO-R dan TF di analisis dari spesimen benjolan kangker payudarah,
yang di dapat dari 24 orang pasien yang di ambil dengan cara pembedahan operasi. Untuk
kontrol positif di ambil dari jaringan tissue payudarah dengan cara neoplasm-free surgical
margins. Jaringan yang telah di dapat kemudian di pelajari dan di uji dengan munggunakan
prosedur IHC mamanfaatkan Avidin-Biodin Complex (ABC). Pewarnaan untuk mendeteksi
antigen menggunakan produk dari THE DARK BROWN. Hasil pengamatan dari EPO-R dan
TF di analisis denga metode semiquantitatif. Data di dapatkan dari Immunoreactiv Score
(IRS) atau nilai imuno reaktiv. Nilai IRS memilki rentangan 0 sampai 12 dimana, 0
menunjukan tidak adanya pewarnaan yang terjadi, 1- 4 menunjukkan pewanaan yang sedikit,
5-8 dan 9-12 menunjjukan pewarnaana sedang dan tinggi.
PEMBAHASAN :
Pada penelitian sebelumnya tentang EPO-R pada sel kangker payudara dapat di
deteksi menggunakan immunohistokimia, dan di ketahui hampir 100% spesimen dari sel
kangker mengandung EPO-R. Berdasarkan berbagai literatur dan penelitian lain EPO-R pada
sel kangker telah di identivikasi menggunakan imunihistokimia, Western Blot, dan RT-PCR.
Dari semua penelitian tidak ada satupun yang menunjukan bahwa EPO-R tereskpresi pada
jaringan tissu payudara yang sehat. Selian pada kangker payudara EPO-R juga terdeteksi
pada berbagai jenis kangker lainya. Akan tetapi terdapat perbedaan sensitivitas dan
kemampuan antibodi di study yang berbeda yang secara langsung akan mempengaruhi hasil.
Pada study immunohistokimia tidak hanya mampu mendeteksi reseptor yang terdapat pada
permukaan asel tetapi juga reseptor EPO yang terdapat di dalam sel atau sitoplasma. Ekspresi
dari EPO-R di temukan pada sebagian besar kangker memiliki nilar IRS yang tinggi (IRC 912). Akan tetapi pada jaringa tisue payudara normal ridak terdapat perubahan warna maupun
exkspresi dari EPO-R.

Seperti yang terlihat pada gambar, pewarnaan spesifik pada sel kangker payudara
menunjukan bintik hitam/coklat yang menunjukan terdapar EPO-R pada sel tersebut. Tanda
panah penuh menunjukan sel yang meng eskpresikan EPO-R dan tanda panah yang putus
putus menunjukan sajingan yang normal. Berbeda pada jaringan payu dara normal, tidak
terdapat bintik coklat yang menandakan adanya ekspresi EPO-R pada jaringan. Sehingga
dapat di ambil kesimpulan bahwa EPO-R hanya terekspresikan pada kangker. Sedangkan
payu dara yang tidak mengalami kangker sama sekali tidak mengekspresikan EPO-R.
Ekspresi dari TF dimana merupakan activator dari hiperkoagulasi pada pasien kangker juga
di temukan pada pasien kangeker payu darah. Hubungan dari EPO-R dan TF pada sel
kangker payudara menunjukan respon trombotic pada kpenderita kangker payu dara.
KESIMPULAN :
Ekspresi dari EPO-R dan TF seta hubungan keduanya pada sel kangker payudara
mengindikasikan bahwa EPO-R kemungkinan bertanggung jawab terhadap beberapa respon
dan penurunan angka keberhasilan pada pesien kangker payudara yang mengalami anemia
dengan terapi ESAs. Pada penelitian lebih lanjut dapat di ketahui hubungan antara EPO-R,
TF dan terapi ESAs pada penderita kangker payudara yang menjalani kemoterapi dan
mengidap anemia.