Você está na página 1de 5

NAMA : ZULKIFLI FACHRI

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial

NIM : A31115716

AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL


Setiap perusahaan didirikan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan, tujuan
perusahaan dalam suatu kondisi perekonomian yang kompetitif untuk memperoleh
keuntungan maksimal dengan pertumbuhan perusahaan dalam jangka p anjang dan juga
untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri. Dalam usaha untuk mencapai
tujuannya, maka setiap perusahaan senantiasa berusaha untuk meningkatkan efektifitas
maupun efisiensi kerjanya.
Munculnya akuntansi sosial tidak terlepas dari kesadaran perusahaan terhadap
kepentingan lain selain untuk memaksimalkan laba bagi perusahaan. Perusahaan
menyadari bahwa mereka selalu bersinggungan dengan berbagai kontroversi dan masalah
sosial sehingga perusahaan mulai memperhatikan hubungan dengan lingkungan sosial.
Akuntansi sosial yang dikenal selama ini berbentuk corporate social responsibility
(CSR). Akuntansi CSR menjadi perhatian perusahaan sesuai dengan teori legitimasi dimana
perusahaan berusaha untuk memenuhi harapan berbagai pihak yang terkait dalam upaya
mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat.
1. Definisi Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Berikut ini beberapa definisi akuntansi sosial, yaitu:

Ramanathan (1976): proses pemilihan variabel-variabel yang menentukan tingkat


prestasi sosial perusahaan baik secara internal maupun eksternal.

Lee D Parker (1986): proses pengukuran, pengaturan dan pengungkapan dampak


pertukaran antara perusahaan dengan lingkungannya.

Hadibroto (1988); Bambang Sudibyo (1988) dan para pakar akuntansi di


Indonesia: menggunakan istilah Akuntansi pertanggung jawaban sosial (APS)
sebagai

akuntansi

yang

memerlukan

laporan

mengenai

terlaksananya

pertanggungjawaban sosial perusahaan.

Hendriksen (1994), menggambarkan akuntansi sosial sebagai suatu pernyataan


tujuan, serangkaian konsep sosial dan metode pengukurannya, struktur pelaporan
dan komunikasi informasi kepada pihakpihak yang berkepentingan.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa akuntansi sosial erat
berkaitan dengan beberapa masalah berikut ini: 1) Penilaian dampak sosial dari
kegiatan entitas bisnis; 2) mengukur kegiatan tersebut; 3) melaporkan
tanggungjawab sosial perusahaan, dan ; 4) sistem informasi internal dan eksternal
atas penilaian terhadap sumber-sumber daya perusahaan dan dampaknya secara
sosial ekonomi.

Akuntansi CSR didefinisikan sebagai proses seleksi variable-variabel kinerja sosial


tingkat

perusahaan,

ukuran,

dan

prosedur

pengukuran,

yang

secara

sistematis

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


mengembangkan informasi yang bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja sosial perusahaan
dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada kelompok sosial yang tertarik, baik di
dalam maupun di luar perusahaan (Angraini, 2006: 5).
Akuntansi pertanggungjawaban sosial merupakan usaha yang dilakukan perusahaan
untuk bertanggungjawab secara umum. Menurut Ahmed Belkaoui (2001:248), pengertian
akuntansi pertanggungjawaban sosial adalah: The process of ordering, measuring, and
disclosing, the impact of canged between is firm and its social environment. (Proses
penataan, pengukuran dan pengungkapan, dampak pertukaran antara perusahaan dengan
lingkungan masyarakat).
2. Tujuan Akuntansi Sosial
Tujuan akuntansi sosial menurut Hendriksen (1994) adalah untuk memberikan informasi
yang memungkinkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap masyarakat dapat di
evaluasi.
Tujuan akuntansi sosial menurut Ramanathan (1976) antara lain:

mengidentifikasikan dan mengukur kontribusi sosial neto periodik suatu


perusahaan,

membantu menentukan apakah strategi dan praktik perusahaan yang secara


langsung mempengaruhi relatifitas sumberdaya dan status individu, masyarakat
dan segmen-segmen sosial

memberikan dengan cara yang optimal, kepada semua kelompok sosial, informasi
yang relevan tentang tujuan, kebijakan, program, strategi dan kontribusi suatu
perusahaan terhadap tujuan-tujuan sosial perusahaan.

3. Akuntansi untuk Biaya dan Manfaat Sosial


Sebagian landasan teori Akuntansi Sosial muncul dari analisis biaya dan manfaat dari
A.C. Pigou pada tahun 1948. A.C. Pigou adalah pakar ekonomi klasik yang
memperkenalkan konsep biaya dan manfaat ekonomi mikro pada tahun 1920.
Pertimbangan pentingnya adalah bahwa Optimalitas-Pareto (nilai kemakmuran ekonomi
bilamana nilai ini tidak memungkinkan untuk meningkatkan kemakmuran seseorang
tanpa mengurangi kemakmuran orang lain) tidak dapat dicapai sepanjang jika produk
bersih sosial dan produk bersih privat tidak sama.
Sebuah analisis serupa dapat dilakukan melalui pemusatan biaya. Menurut Pigou,
biaya-biaya sosial terdiri dari semua biaya pembuatan produk, biaya yang berkaitan
dengan siapa yang membiayanya. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh produsen disebut
biaya privat. Perbedaan antara biaya sosiual dengan biaya privat (disebut biaya sosial
yang tidak dapat dikompensasi) dapat disebabkan oleh beberapa factor. Perusahaan

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


yang melakukan pencemaran dikenakan biaya terhadap masyarakat, tetapi tidak
dikenakan biaya ganti rugi masyarakat. Disini disebut disekonomi eksternal.
Menurut Pigou, optimalitas-Pareto hanya dicapai jika manfaat sosial marjinal sama
dengan biaya sosial marjinal.
4. Teori Akuntansi Sosial
Berdasarkan

analisis

Pigou

dan

konsep

ikatan

sosial,

K.V.

Ramanathan

mengembangkan sebuah landasan teori untuk akuntansi biaya dan manfaat sosial.
Menurut pendapat Ramanathan, perusahaan memiliki ikatan (kontrak) yang dinyatakan
untuk memberikan manfaat sosial nyata kepada masyarakat. Manfaat nyata adalah
perbedaan antara dukungan perusahaan kepada masyarakat dengan hambatan
perusahaan terhadap kemunduran masyarakat.
Pada pendekatan Ramanathan, terdapat dua masalah penting. Pertama, untuk
mengetahui kontribusi nyata kepada masyarakat, beberapa jenis sistem manfaat
digunakan. Sebuah argument dapat digunakan untuk kesesuaian kepentingan, apakah
perusahaan harus berupaya mengembangkan pernyataan kontribusi sosial berdasarkan
pada nilai-nilai manajemen atau harus melibatkan pihak luar untuk melakukan audit
sosial.
Masalah kedua adalah mengenai pengukuran. Disini sulit untuk mengukur jumlah item
yang akan dilibatkan pada sebuah pernyataan mengenai kontribusinyata untuk
masyarakat.
5. Pengukuran
Dalam penerapannya, akuntansi pertanggungjawaban sosial mengalami berbagai
kendala, terutama dalam masalah pengukuran elemen-elemen sosial dan dalam rangka
penyajiannya di laporan keuangan yang bersifat kuantitatif. Masalah pengukuran timbul
terutama karena tidak semua elemen sosial dapat diukur dengan satuan uang serta
belum terdapatnya standar akuntansi yang baku mengenai pengukuran dan pelaporan
pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.
Satu alasan penting terhadap lambatnya kemajuan Akuntansi Sosial adalah kesulitan
dalam pengukur dukungan dan hambatan. Disini merupakan proses tiga-tahap:

Menetapkan apa saja biaya dan manfat sosial.

Mencoba menjumlahkan semua item-item (pernyataan) yang relevan.

Menetapkan nilai dollar pada jumlah terakhir.

Metode yang biasa dipakai dalam pengukuran Akuntansi sosial yaitu;

Menggunakan penilaian dengan menghitung Opportunity cost approach

Menggunakan daftar kuesioner

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial

Menggunakan hubungan antara kerugian massal dengan permintaan untuk barang


perorangan dalam menghitung kerugian masyarakat

Menggunakan reaksi pasar dalam menentukan harga

6. Laporan Pertanggungjawaban Sosial


Akuntansi pertanggungjawaban merupakan sistem akuntansi yang mengakui berbagai
pusat pertanggungjawaban pada keseluruhan perusahaan yang mencerminkan rencana
dan tindakan setiap pusat pertanggungjawaban dengan menetapkan pendapatan dan
biaya tertentu. Akuntansi pertanggungjawaban sebenarnya timbul sebagai akibat
adanya wewenang yang diberikan dan bagaimana mempertanggungjawabkan dalam
bentuk suatu laporan tertulis.
Beberapa teori yang mendukung penyampaian laporan pertanggungjawaban sosial dan
lingkungan adalah legitimacy theory dan stakeholder theory (Deegan, 2004: 292).
Legitimacy theory menjelaskan bahwa organisasi secara kontinu akan beroperasi
sesuai dengan batas-batas dan nilai yang diterima oleh masyarakat di sekitar
perusahaan dalam usaha untuk mendapatkan legitimasi. Proses untuk mendapatkan
legitimasi berkaitan dengan kontrak sosial antara yang dibuat oleh perusahaan dengan
berbagai pihak dalam masyarakat. Kinerja perusahaan tidak hanya diukur dengan laba
yang dihasilkan oleh perusahaan, tetapi ukuran kinerja lainnya yang berkaitan dengan
berbagai pihak yang berkepentingan.
Untuk mendapatkan legitimasi perusahaan memiliki insentif untuk melakukan kegiatan
sosial yang diharapkan oleh masyarakat di sekitar kegiatan operasional perusahaan.
Kegagalan untuk memenuhi harapan masyarakat akan mengakibatkan hilangya
legitimasi dan kemudian akan berdampak terhadap dukungan yang diberikan oleh
masyarakat kepada perusahaan.
Pengungkapan perusahaan melalui laporan keuangan tahunan merupakan usaha
perusahaan untuk mengkomunikasikan aktivitas sosial yang telah dilakukan oleh
perusahaan untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat sehingga kelangsungan
hidup perusahaan terjamin. Perusahaan akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu
memenuhi kontrak sosial dengan masyarakat di sekitarnya.
Stakeholder theory mempertimbangkan berbagai kelompok (stakeholders) yang
terdapat dalam masyarakat dan bagimana harapan kelompok stakeholder memiliki
dampak yang lebih besar (lebih kecil) terhadap strategi perusahaan. Teori ini
berimplikasi terhadap kebijakan manajemen dalam mengelola harapan stakeholder.
Stakeholder perusahaan pada dasarnya memiliki ekspektasi yang berbeda mengenai
bagaimana perusahaan dioperasikan. Perusahaan akan berusaha untuk mencapai

Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial


harapan stakeholder yang berkuasa dengan penyampaikan pengungkapan, termasuk
pelaporan aktivitas sosial dan lingkungan.
Pelaporan informasi sosial dan lingkungan ternyata bermanfaat bagi perusahaan.
Bewley dan Magnes (2008) menemukan bahwa perusahaan mengungkapkan
perusahaan menggunakan pengungkapan lingkungan untuk membedakan perusahaan
dengan perusahaan lain. Pengungkapan merupakan signal mengenai informasi
keuangan perusahaan pada masa depan. Mahoney et al. (2008) menemukan laporan
CSR secara positif mempengaruhi Return on Asset Perusahaan.
Praktik pelaporan akuntansi sosial yang terdiri dari :

Praktik yang sederhana, yaitu laporan terdiri dari uraian akuntansi sosial yang tidak
disertai dengan data kuantitaif, baik satuan uang maupun satuan yang lainnya

Praktik yang lebih maju, yaitu laporan terdiri dari uraian akuntansi sosial dan
disertai dengan data kuantitatif

Praktik yang paling maju, yaitu laporan dalam bentuk kualitatif, perusahaan juga
menyusun laporannya dalam bentuk neraca

Praktik pengungkapan sosial (Social Disclosure) di Indonesia


Sebagaimana tertulis pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 1
(Revisi 1998). Paragraf 9 yang berbunyi sebagai berikut:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai
lingkungan hidup dan laporan nilai tambah ( value added statement), khususnya bagi
industri dimana faktor faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi
industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang
memegang peranan penting.
Regulasi mengenai akuntansi pertanggungjawaban sosial di Indonesia telah diatur
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 57 yang diterbitkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).