Você está na página 1de 45

Tugas Kelompok Audit 1

AUDIT PLAN, AUDIT PROGRAM, AUDIT


PROCEDURES, AUDIT TEKNIK, RISIKO AUDIT
DAN MATERIALITAS

OLEH :
Ari Medyanto

361 14 029

Checia Eka Ananda :

361 14 033

Sitti Annisa Farah

361 14 048

Astita Artia

361 14 052

Ilham Aprianto

361 14 056

Kelas 2B D3

JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2016
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena dengan karunia-Nya saya dapat menyelesaiakan makalah yang
berjudul audit plan, audit program, audit procedures, audit teknik, risiko
audit dan materialitas. Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada
Dosen pembimbing yang telah membantu dan membimbing saya dalam
mengerjakan makalah ini.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman
mahasiswa dan seluruh pihak

yang telah memberikan masukan dan

kontribusi baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam


pembuatan makalah ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masi h jauh dari
kata sempurna. Maka dari itu, saya mengharapkan bantuan berupa kritik,
dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan saya berkah atas
makalah yang telah saya susun sedemikian rupa dan semoga makalah
saya membawa manfaat bagi setiap pihak yang membacanya.
Makassar, 18 April 2016

Kelompok 2

DAFTAR ISI
Halaman Judul.......................................................................................i
Kata Pengantar......................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................3
1.4 Manfaat Penulisan......................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori............................................................................4
2.1.1.......................................................................................Audi
t Plan................................................................................4
2.1.2.......................................................................................................
Tujuan
Management
Audit
..........................................................................................................
4
2.1.3.......................................................................................Oper
ational Audit......................................................................5
2.1.4.......................................................................................................
Perbedaan

Antara

Management

Audit

Dan

Financial
Audit
..........................................................................................................
6

2.1.5.......................................................................................Taha
pan Dalam Pelaksanaan Mangement Audit.....................8
2.1.6.......................................................................................Audit
Objectives.........................................................................11
2.1.7.......................................................................................Fung
si fungsi Management Audit..........................................12
2.1.8.......................................................................................Prog
ram Audit Dalam Management Audit...............................14
2.2 Analisis Masalah.........................................................................14
2.2.1.......................................................................................
Persamaan Management Audit Dengan Financial Audit
.........................................................................................
14
2.2.2.......................................................................................Pros
edur prosedur Management Audit.................................15

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan.................................................................................17

3.2

Saran...........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Auditing merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan

secar kritis dan sistematis, oleh pihak yang indeoenden terhadap


laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatancatatan pembukuan dan bukti-bukti pendukunnya, dengan tujuan untuk
dapat memberikan pendapatan mengenai kewajaran laporan keuangan
tersebut.
Dalam

melakukan

pemeriksaannya,

akuntanpublik

berpedoman pada standar professional akuntan public ( di USA:


Generally Accepted Auditing Standards ), menaati kode etik IAI dan
aturan

etika

profesi

akuntan

public

serta

mematuhi

standar

pengendalian mutu.
Agar pemeriksaan dapat dilakukan secara sistematis,
akuntan publik harus merencanakan pemeriksaannya sebelum proses
pemeriksaan dimulai, dengan membuat apa yang disebut rencana
pemeriksaan ( audit plan ). Dalam audit plan antara lain dicantumkan
kapan pemeriksaan dimulai, berapa lama jangka waktu pemeriksaan
diperkirakan, kapan laporan harus selesai, berapa orang audit staf yang
ditugaskan, masalah-maslah yang diperkirakan akan dihadapi di bidang
auditing, akuntansi (accounting), perpajakan dan lain-lain. Selain itu
1

dalam audit plan , akuntan public harus menetapkan batas materialitas


dan memperhitungkan resiko audit.
Selain audit plan, terdapat jenis audit lain seperti audit
program, audit procedures dan audit teknik, serta resiko audit dan
materialitas. Audit program membantu auditor dalam memberikan
perintah kepada asisten mengenai pekerjaan yang harus dilaksanakan.
Dan audit procedures dilakukan dalam rangka mendapatkan bahanbahan bukti ( audit avidence ) yang cukup untuk mendukung pendapat
auditor atas kewajaran laporan keuangan, serta risiko audit dan
materialitas dalam PSA No. 25 diberikan pedoman bagi auditor dalam
mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan dan
pelaksaan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar auditing
yang ditetapkan ikatan akuntan Indonesia.

1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana manfaat audit program bagi auditor?
2. Bagaimana hubungan antara materialitas, risiko audit dan
bukti audit?

1.3

Tujuan Penulisan
1.

Mengetahui manfaat audit program bagi auditor;

2.

Mengetahui hubungan antara materialitas, risiko audit dan


bukti audit.

1.4 Manfaat Penulisan


Sebagai sarana yang sangat bermanfaat untuk memperoleh ilmu
mengenai audit plan, audit program, audit procedures, audit teknik,
risiko audit, materialitas dan berguna untuk kedepannya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Landasan Teori
2.1.1 Audit Plan
Audit Plan adalah pengembangan strategi menyeluruh
pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan disusun segera
setelah management letter (surat perikatan) disetujui klien.

Perencanaan

dan

supervisi

berlangsung

Terus-

menerus selama audit, dan Prosedur berkaitan Sering Kali


tumpang tindih (overlap). Auditor sebagai Penanggung
jawab akhir atas Audit dapat mendelegasikan sebagian
fungsi perencanaan dan supervisi auditnya Ke staf lain
dalam kantor akuntannya (Asisten).
Perencanaan
Pengembangan

audit

strategi

meliputi

Menyeluruh

development

Pelaksanaan

dan

lingkup audit yang diharapkan. Sifat, Luas, dan saat


perencanaan bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas
satuan usaha, pengalaman mengenai satuan usaha. Dalam
Perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan antara
lain:

a. Masalah Yang berkaitan dengan bisnis satuan usaha


tersebut dan Industri di mana satuan usaha tersebut
beroperasi di dalamnya.;
b. Kebijakan dan prosedur akuntansi satuan usaha tersebut;
c. Metode yang digunakan oleh satuan usaha tersebut dalam
mengolah informasi

akuntansi yang signifikan, termasuk

penggunaan organisasi jasa dari luar untuk

mengolah

informasi akuntansi pokok Perusahaan;


d. Penetapan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan;
e. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan
audit;
f. Pos

laporan

keuangan

yang

mungkin

memerlukan

penyesuaian (adjustment);
g. Kondisi

yang

mungkin

memerlukan

perluasan

atau

pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliruan dan


ketidakberesan yang material atau adanya transaksi antar
pihak-pihak yang mempunyai huhungan Istimewa;
h. Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada
pemberi tugas (sebaga contoh, audit laporan tentang laporan
Keuangan

konsolidasi,

menggambarkan

laporan

Kepatuhan

khusus
Klien

untuk
Terhadap

kontrak/perjanjian).
Prosedur yang dapat dipertimbangkan oleh auditor
dalam perencanaan dan supervisi biasanya mencakup

review terhadap catatan auditor yang berkaitan dengan


satuan usaha dan diskusi dengan staf dalam kantor akuntan
dan pegawai satuan usaha tersebut.
Contoh Prosedur tersebut meliputi:.
a. Mereview arsip korespondensi, kertas kerja, arsip permanen,
laporan keuangan dan laporan audit tahun lalu;
b. Membahas masalah-masalah yang berdampak terhadap
audit dengan staf kantor akuntan yang bertanggung jawab
atas jasa non audit yang bagi satuan usaha;
c. Mengajukan Pertanyaan tentang perkembangan bisnis saat
ini yang berdampak terhadap satuan usaha;
d. Membaca laporan keuangan interim tahun berjalan;
e. Membicarakan

tipe,

luas,

dan

waktu

audit

dengan

manajemen, dewan komisaris, atau komite audit;


f. Mempertimbangkan

dampak

diterapkannya

pernyataan

standar akuntansi dan standar auditing yang ditetapkan


Ikatan Akuntan Indonesia, terutama yang baru;
g. Mengkoordinasikan bantuan dari pegawai satuan usaha
dalam penyiapan data;
h. Menentukan luasnya keterlibatan, jika ada, konsultan,
spesialis, dan auditor intern;
i. Membuat jadwal pekerjaan audit (time schedule);
j. Menentukan dan mengkoordinasikan kebutuhan staf audit;

k. Melaksanakan diskusi dengan pihak pemberi tugas untuk


memperoleh tambahan informasi tentang tujuan audit yang
akan dilaksanakan sehingga auditor dapat mengantisipasi
dan memberikan perhatian hal-hal yang berkaitan yang
dipandang perlu.
Agar dapat membuat perencanaan audit dengan
sbaik-baiknya, auditor harus memahami bisnis klien dengan
sebaik-baiknya (understanding client business), termasuk
sifat dan jenis usaha klien, struktur organisasinya, struktur
permodalan, metode produksi, pemasaran, distribus dan
lain-lain.
Pengetahuan mengenai bisnis satuan usaha biasanya
diperoleh auditor melalui pengalaman dengan satuan usaha
atau industrinya serta dari pengajuan pertanyaan kepada
pegawai perusahaan. kertas kerja dari tahun sebelumnya
dapat berisi informasi yang bermanfaat mengenai sifat
bisnis, Struktur organisasi, dan karakteristik operasi, serta
transaksi yang memerlukan pertimbangan khusus. Sumber
lain yang dapat digunakan oleh auditor adalah publikasi yang
dikeluarkan oleh industri, laporan keuangan satuan usaha
lain dalam industri, buku teks, majalah, dan perorangan yang
memiliki pengetahuan mengenai industri
Pengetahuan tentang bisnis Klien, membantu auditor dalam:

a. Mengindentifikasikan

bidang

yang

memerlukan

pertimbangan khusus;
b. Menilai Kondisi yang di dalamnya data akuntansi yang
dihasilkan,

diolah,

di-review

dan

dikumpulkan

dalam

organisasi;
c. Menilai kewjaran estimasi seperti penilaian atas persediaan,
depresiasi, penyisihan

piutang ragu-ragu, persentase

penyelesaian kontrak jangka panjang;


d. Menilai kewajaran representasi manajemen;
e. Mempertimbangkan kesesuaian standar akuntansi yang
diterapkan dan kecukupan pengungkapannya.
Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten yang
terkait dalam pencapaian tujuan audit dan menentukan
apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah
memberikan

instruksi

kepada

asisten,

tetap

menjaga

penyampaian informasi masalah-masalah penting yang


dijumpai

dalam

audit,

me-review

pekerjaan

yang

dilaksanakan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat di


antara staf audit kantor akuntan. Luasnya supervisi yang
memadai bagi suatu keadaan tergantung atas banyak faktor,
termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang
melaksanakan audit.
Para asisten harus diberitahu tanggung jawab mereka
dan tujuan prosedur audit yang mereka laksanakan. Mereka

harus diberitahu hal-hal yang kemungkinan berpengaruh


terhadap sifat, luas, dan saat prosedur yang harus
dilaksanakan, seperti sifat bisnis satuan usaha yang
bersangkutan dengan penugasan dan masalah-masalah
akuntansi dan audit auditor dengan tanggung jawab akhir
untuk setiap audit harus mengarahkan asisten untuk
mengemukakan pertanyaan akuntansi dan auditing signifikan
yang

muncul

dalam

audit

sehingga

auditor

dapat

menetapkan seberapa signifikan masalah tersebut.


Pekerjaan yang dilaksanakan oleh asisten harus direview untuk menentukan apakah dengan pekerjaan tersebut
telah dilaksanakan secara memadai dan menilai apakah
hasilnya sejalan dengan kesimpulan yang disajikan dalam
laporan audit.
Auditor harus menyusun rencana Audit Plan , segera setelah
Engagement letter oleh klien,
Isi dari Audit Plan mencakup:
1. Hal-hal mengenai klien;
2. Hal-hal yang mempengaruhi Klien;
3. Rencana kerja auditor.
ad 1. Hal-hal Mengenai Klien
1. Bidang usaha klien, alamat, nomor telephon, faksimili dan
Lain-lain;
2. Status hukum perusahaan (Berdasarkan Akta Pendirian)

1.) Nama Pemilik


2.) Permodalan
3. Accounting Policy (Kebijakan Akuntansi)
1.) Buku-buku yang digunakan:
a.) Buku Penjualan
b.) Buku Pembelian
c.) Buku Kas / Bank
d.) Buku Memorial
2.) Metode Pembukuan a.
a.) Manual;
-

Tulis tembus

Biasa

b.) Komputer
c.) Mesin Pembukuan
3.) Komentar mengenai mutu pembukuan seora umum
(membantu dalam menyusun budget dan pemilihan
tenaga-tenaga yang akan ditugaskan di Klien tersebut).
4. Neraca

(Laporan

Posisi

Keuangan)

Komparatif

Dan

Perbandingan Penjualan, laba/Rugi tahun lalu dan sekarang.


Perbandingan antara neraca tahun lalu dan neraca tahun
sekarang/bulan terakhir tahun sekarang agar diperoleh
gambaran mengenai bukuran besar kecilnya perusahaan.
5. Client Contack

10

Yaitu mengenai nama di Dari orang-orang yang akan sering


dihubungi auditor misalnya;
1.) Presiden Direktur;
2.) Controller, Chief Accountant;
3.) Audit Dewan Komisaris Dan Komite.
Selain itu perlu juga diketahui penasehat hukumnya siapa
berikut Aaamat, nomor telepon, faks, dan email address
6. Accounting, Auditing & Tax Problem
Harus dijelaskan Persoalan-persoalan yang (mungkin) akan
dihadapi oleh klien seperti:
1.) Accounting Problem, misalnya:
a.) Perubahan

metode

pencatatan

dari

manual

ke

kopmputer
b.) Revaluasi fixed asset.
c.) Perubahan metode atau Tarif penyusutan.
2.) Auditing Problem, misalnya:
a.) Hasil Konfirmasi tahun lalu tidak memuaskan.
b.) Perubahan accounting policy.
3.) Tax Problem misalnya:
a.) Masalah restitusi, kekurangan penyetoran.
b.) Adanya 2 pembukuan di dalam perusahaan.
ad-2. Hal-hal yang Mempengaruhi Klien
Bisa didapat dari majalah-majalah ekonomi/surat kabar,
antara lain: Business News, Ekonomi Keuangan Indonesia.

11

Contoh: adanya peraturan-peraturan baru yang dapat


mempengaruhi Klien.
ad 3. Rencana Kerja Auditor
Hal-hal yang penting antara lain:

1. Staffing
1.) Nama partner
2.) Nama manajer
3.) Nama supervisor
4.) Nama senior
5.) Nama asisten
2. Waktu Pemeriksaan:
1.) Waktu dimulainya suatu pemeriksaan
2.) Berapa lama waktu pemeriksaan
3.) Dead line, dalam arti laporan pemeriksaan:
-

Selesai Kapan?

Dikirim ke mana Dan waktu sampainya kapan?

Kepada siapa laporan itu dikirim?

4.) Budget, baik dalam Jumlah jam Keria maupun biaya


pemeriksaan.
Tarif yang dibebankan kepada klien antara antara
lain:
a.) Tarif masing-masing staf dan taksiran jumlah
jam kerja masing-masing stat, antara lain:

12

Partner

Manager

Senior

Yunior

Budget per section/area


(misalnya pemeriksaan piutang 60 jam),
terdiri atas 10 jam incharge, 50 jam asisten.

3. Jenis-jenis jasa yang diberikan


a.) General Audit.
b.) Special Bahas.
c.) Bantuan Administrasi.
d.) Menyusun laporan posisi keuangan (Neraca) / Laba
Rugi (L/R Komphrensif)
e.) Perpajakan
Hal-hal tambahan:
4. Bantuan-bantuan yang dapat diberikan klien.
1.) Mengisi formulir konfirmasi piutang, Utang
2.) Membuat schedule-schedule:
a.) Aging schedule.
b.) Rincian aset tetap
c.) Rincian utang dan piutang
d.) Rincian biaya yang masih harus dibayar
5. Time Schedule
Misal:
13

Bulan November:
1.) Review Internal Control.
2.) Tentative Audit Program (audit Program sementara)
Bulan Desember:
1.) Cash count
2.) Observasi persediaan
3.) dan lain-lain
Pada time schedule

juga ditulis siapa yang

mengerjakan dan berapa jam kira-kira waktu yang


dibutuhkan
Pada akhir audit plan dituliskan:
1.) Dibuat oleh:
2.) Review oleh:
3.) Approved oleh:
Audit plan tersebut harus disapproved oleh
partner.
2.1.2 Audit Program
Audit program merupakan kumpulan prosedur audit
(dibuat tertulis ) yang rinci dan dijalankan untuk mencapai
tujuan audit ( akan lebih baik jika audit program dibuat
terpisah untuk compliance test dan substantive test.
Tujuan audit program :untuk mengetahui apakah
penyajian

laporan

keuangan

oleh

manajemen

dari

sisieksistensi atau keterjadian, kelengkapan, hak dan

14

kewajiban, penilaian atau alokasi serta panyjian dan


pengungkapan

dapat

dipercaya,

wajar

dan

tidak

menyesatkan terhadap pihak yang berkepentingan terhadap


laporan keuangan tersebut
Audit program membantu auditor dalam memberikan
perintah kepada asisten mengenai pekerjaan yang harus
dilaksanakan. Audit prigram harus menggariskan secara
rinci, prosedur audit yang menurut keyakinan auditor
diperlukan untuk mencapai tujuan audit. Audit program yang
baik harus mencantumkan:
a.) Tujuan pemeriksaan
b.) Prosedur audit yang akan dilaksanakan
c.) Kesimpulan pemeriksaan
Sebagian KAP menggunakan audit program yang
sudah terstandarisasi dan digunakan di setiap kliennya,
sebagian lagi menggunakan audit program yang disusun
sesuai kondisi dan situasi di perusahaan (tailor made). Akan
lebih baik apabila audit program dibuat terpisah untuk
Complience Test dan Substantive Test.
2.1.3

Pengertian Procedures
Audit prosedur adalah langkah-langkah yang harus

dilaksanakan

auditor

dalam

melaksanakan

pemeriksanaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar

15

tidak melkukan penyimpangan dan dapat bekerja secara


efisien dan efektif.
Audit

procedures

dilakukan

dalam

rangka

mendapatkan bahn-bahan bukti (audit evidence) yang cukup


untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan
keuangan. Untuk itu diperlukan audit teknik yaitu cara-cara
untuk memperoleh audit evidence.
2.1.4 Tujuan Audit Procedures
1. Untuk memahami entitas dan lingkungan bisnis klien,
termasuk didalamnya pengendalian internal, untuk menilai
risiko salah saji material dalam tingkat laporan keuangan
dan tingkat asersi (prosedur penilaian risiko). Auditor selalu
melakukan prosedur penilaian risiko untuk memberikan
kepuasan terhadap risiko yang dinilai dari salah saji
material. Namun, prosedur penilaian risiko sendiri tidak
memberikan bukti yang cukup kompeten yang menjadi
dasar opini audit
2. Untuk menguji keefektifan operasi pengendalian prefentif
atau deteksi salah saji material dalam tingkat asersi
(pengujian

pengendalian).

Pengujian

pengendalian

dibutuhkan ketika auditor merencanakan untuk menilai


pengendalian

risiko

di

bawah

maksimum

dan

mengembangkan strategi audit yang mengasumsikan


keefektifan pengendalian internal aktiva lain. Pengujian

16

pengendalian juga dibutuhkan ketika sistem akuntansi klien


begitu intens terhadap teknologi informasi bahwa prosedur
substantif saja tidak memberikan cukup bukti audit
kompeten.
3. Untuk mendukung asersi dan deteksi salah saji material
pada

tingkat

asersi

(pengujian

substantive).

Audit

merencanakan dan menyajikan pengujian substantive yang


responsive terhadap risiko asersi. Selanjutnya, auditor
selalu menyajikan pengujian substantive karena batasan
inheren dari pengendalian internal dan karena prosedur
penilaian risiko secara inheren telah menghakimi.
2.1.5 Manfaat Audit Procedures
1. Memfasilitasi evaluasi kinerja, sistem kontrol, dan prosedur
penjaminan mutu.
2. Menyakinkan bahwa sebuah institusi memiliki akuntabilitas
terhadap mutu dan standar yang telah ditentukan
3. Meningkatkan kemampuan institusi untuk memprioritaskan
lingkup tertentu dan memfasilitasi pengambilan keputusan.
4. Memudahkan institusi untuk mrmberikan tanggapan lebih
baik terhadap persyaratan yang diminta audit mutu
eksternal serta untuk menilai mutu.
5. Menyediakan sarana untuk identifikasi cara kerja yang baik
untuk disebarluaskan.

17

6. Menyediakan sarana yang tepat untuk peningkatan dan


pengembangan mutu.
2.1.6 Pengertian Audit Teknik
Setiap prosedur audit berisi cara yang harus dilakukan
untuk memperoleh bukti audit. Cara untuk memperoleh bukti
audit tersebut disebut teknik audit. Teknik audit adalah caracara yang ditempuh auditor untuk memperoleh pembuktian
dalam membandingkan keadaan yang sebenarnya dengan
keadaan yang seharusnya.
Pada

dasarnya

seorang

auditor

dalam

proses

membandingkan apa yang sebenarnya dengan apa yang


seharusnya, harus mengumpulkan bukti-bukti, baik bukti
mengenai keadaan yang sebenarnya maupun bukti-bukti
mengenai keadaan yang seharusnya. Dalam hubungan ini
perlu disadari tindakan membuktikan tidaklah selalu mudah
dilakukan.
Selain bukti-bukti itu tidak mudah dipahami oleh
auditor, sering kali bukti-bukti tersebut tidak mudah diperoleh
pada saat audit. Dengan demikian perlu ditempuh berbagai
cara agar bukti-bukti itu dapat diperoleh dan dipahami oleh
auditor. Mengingat pembuktian di dalam audit adalah mutlak
diperlukan, sedangkan hal itu hanya bisa diperoleh dengan
cara-cara tertentu, maka jelaslah bahwa teknik audit harus

18

dipelajari secara mendalam oleh auditor. Dengan kata lain


teknik audit memegang peranan penting dalam audit.
2.1.7 Tujuan Audit Teknik
1. Memperoleh bukti-bukti audit, baik bukti mengenai keadaan
yang sebenarnya maupun bukti-bukti mengenai keadaan
yang seharusnya.
2. Membandingkan

keadaan

yang

sebenarnya

dengan

keadaan yang seharusnya atas bukti audit yang diperoleh.

2.1.8 Macam-macam Audit Teknik


1. Observasi/Pengamatan
Observasi/pengamatan

adalah

peninjauan

dan

pengamatan terhadap suatu objek secara hati-hati, ilmiah dan


kontinu selama kurun waktu tertentu untuk membuktikan suatu
keadaan atau masalah. Teknik ini sering dilakukan dari jarak
jauh dan tanpa disadari oleh pihak yang diamati. Observasi
banyak

mengandalkan

panca

indera,

kecermatan

dan

pengetahuan auditor.
Observasi umumnya dilaksanakan pada tahap survai
pendahuluan dan evaluasi SPM untuk mendeteksi kondisi
yang tidak memenuhi syarat/kriteria. Kemudian, terhadap hasil
pengamatan akan diikuti dengan pengujian substantif. Hasil
observasi harus dituangkan dalam kertas kerja audit.

19

2. Inventarisasi/Opname
Inventarisasi atau opname adalah pemeriksaan fisik
dengan menghitung fisik barang, menilai kondisinya (rusak
berat, rusak ringan, atau baik) dan membandingkannya
dengan saldo menurut buku (administrasi), kemudian mencari
sebab-sebab terjadinya perbedaan apabila ada. Hasil opname
biasanya dituangkan dalam suatu berita acara (BA). Teknik
audit inventarisasi dapat diterapkan misalnya untuk: barang
inventaris, perabot kantor, kebun ataupun ternak, kas,
persediaan barang, sejauh ada fisiknya.
3. Inspeksi
Inspeksiadalah meneliti secara langsung ke tempat
kejadian, yang lazim pula disebut on the spot inspection, yang
dilakukan secara rinci dan teliti. Inspeksi sering dilakukan
dengan pendadakan dan biasanya tidak diikuti dengan
pembuatan suatu berita acara (BA).
4. Verifikasi
Verifikasi adalah pengujian secara rinci dan teliti
tentang

kebenaran,

pembukuan,
Verifikasi

pemilikan

mencakup

ketelitian
dan

perhitungan,

eksistensi

teknik-teknik

kesahihan,

suatu

audit

dokumen.

lain

untuk

mengumpulkan dan mengevaluasi bukti dokumen.


5. Cek

20

Cek

adalah menguji kebenaran atau keberadaan sesuatu,

dengan teliti.
6. Uji atau test
Uji atau test adalah penelitian secara mendalam terhadap halhal yang esensial atau penting.
7. Footing
Footing

adalah

menguji

kebenaran

penjumlahan

subtotal dan total dari atas ke bawah (vertikal). Footing


dilakukan terhadap data yang disediakan oleh auditi. Tujuan
teknik audit footing adalah untuk menentukan apakah data
atau laporan yang disediakan auditi dapat diyakini ketepatan
perhitungannya. Teknik audit footing tidak digunakan untuk
menguji kebenaran penjumlahan dari atas ke bawah (vertikal)
atas kertas kerja yang dibuat sendiri oleh auditor.
8. Cross Footing
Cross Footing adalah menguji kebenaran penjumlahan
subtotal dan total dari kiri ke kanan (horizontal). Sama halnya
dengan teknik audit footing, cross footing dilakukan terhadap
perhitungan yang dibuat oleh auditor
9. Vouching
Vouching

adalah

menelusuri

suatu

informasi/data

dalam suatu dokumen dari pencatatan menuju kepada adanya


bukti

pendukung

(voucher);

atau

menelusur

mengikuti

ketentuan/prosedur yang berlaku dari hasil menuju awal

21

kegiatan. Vouching hanya mengecek adanya bukti (voucher)


tetapi belum meneliti isinya (substantif).
10. Trasir/Telusuri
Trasir atau Telusur adalah teknik audit dengan
menelusuri suatu bukti transaksi/kejadian (voucher) menuju ke
penyajian/informasi dalam suatu dokumen. Teknik audit trasir
merupakan cara perolehan bukti dengan arah pengujian yang
terbalik dari teknik audit vouching.
11. Scanning
Scanning adalah penelaahan secara umum dan
dilakukan dengan cepat tetapi teliti untuk menemukan hal-hal
yang tidak lazim atas suatu informasi/data.
12. Rekonsiliasi
Rekonsiliasi adalah mencocokkan dua data yang
terpisah, mengenai hal yang sama yang dikerjakan oleh
instansi/unit/bagian
rekonsiliasi

yang

adalah

berbeda.

untuk

Tujuan

memperoleh

teknik

audit

jumlah

yang

seharusnya atau jumlah yang benar mengenai suatu hal


tertentu.
13. Analisis
Analisis adalah memecah/mengurai data/informasi ke
dalam unsur-unsur yang lebih kecil atau bagian-bagian
sehingga dapat diketahui pola hubungan antar unsur atau
unsur

penting

yang

tersembunyi.

Auditor

juga

dapat

melakukan pengujian dengan mencari pola hubungan dan


22

kecenderungan, baik berdasarkan data internal auditi maupun


berdasarkan data dari luar. Dari hasil analisis ini diketahui
adanya kekurangan, kecenderungan dan kelemahan yang
perlu diperhatikan.
14. Evaluasi
Evaluasi

adalah

cara

untuk

memperoleh

suatu

simpulan atau pandangan/penilaian dengan mencari pola


hubungan

atau

dengan

menghubungkan

atau

merakit

berbagai informasi yang telah diperoleh, baik informasi/bukti


intern maupun bukti ekstern. Evaluasi dapat dilaksanakan
dengan menyusun bagan arus (flowchart) dan melaksanakan
walkthrough test. Walkthrough test yaitu melakukan pengujian
dengan mengikuti proses suatu transaksi yang disampel untuk
mengevaluasi sesuai atau tidaknya proses yang dilaksanakan
dengan sistem dan prosedur yang ditentukan, hingga akhir
prosesnya. Sampel yang diambil dapat berupa transaksi semu
yaitu transaksi penguji yang dibuat oleh auditor, ataupun
dengan transaksi yang sebenarnya.
15. Pembandingan
Pembandingan adalah membandingkan data dari satu
unit kerja dengan data dari unit kerja yang lain, atas hal yang
sama dan periode yang sama atau hal yang sama dari periode
yang berbeda, kemudian ditarik kesimpulannya. Teknik

23

pembandingan ini umumnya digunakan sebelum teknik


analisis.
16. Konfirmasi
Konfirmasi adalah memperoleh bukti sebagai peyakin
bagi auditor, dengan cara mendapatkan/meminta informasi
yang sah dari pihak yang relevan, umumnya pihak di luar
auditi. Dalam konfirmasi, auditor telah memiliki informasi/data
yang akan dikonfirmasikan. Konfirmasi dapat dilakukan
dengan lisan yaitu dengan wawancara langsung kepada pihak
yang bersangkutan, atau dapat dilakukan secara tertulis
dengan mengirimkan surat konfirmasi.
Dalam konfirmasi, jawaban harus diterima langsung
oleh auditor. Jika konfirmasi dilakukan secara tertulis, maka
harus ditegaskan bahwa jawaban agar dialamatkan kepada
auditor. Surat permintaan konfirmasi kepada responden
sebaiknya ditandatangani oleh auditi.
17. Permintaan Informasi
Permintaan informasi (inquiry) dapat dilakukan untuk
menggali

informasi

tertentu

dari

berbagai

pihak

yang

berkompeten. Pihak yang kompeten bisa berarti pegawai atau


pejabat auditi yang berkaitan dengan permasalahan atau
pihak ketiga termasuk para spesialis atau profesional suatu
bidang ilmu.

24

Teknik ini dapat dilakukan dengan mengajukannya


secara tertulis maupun secara lisan. Permintaan informasi
secara tertulis dapat dilakukan dengan kuesioner (questioner),
menulis surat permintaan informasi, atau nota permintaan
informasi. Sedangkan wawancara adalah upaya memperoleh
informasi/data melalui lisan yang lebih bersifat menggali
informasi/data dari pihak yang relevan.
2.1.9 Risiko Audit dan Materialitas
Materialitas merupakan

dasar

penerapan

standar

auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar


pelaporan. Oleh karena itu, materialitas mempunyai pengaruh
yang

mencakup

semua

aspek

audit

dalam

audit

atas

laporankeuangan. Dalam SA Seksi 319 Risiko Audit dan


Materialitas Audit dalamPelaksanaan Audit mengharuskan
auditor

untuk

mempertimbangkan

materialitas

dalam

perencanaan audit, dan penilaian terhadap kewajaran laporan


keuangan

secara

keseluruhan

sesuai

dengan

prinsip

akuntansi berterima umum.Pengertian


Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan
atausalah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan
yang melingkupinya,dapat mengakibatkan perubahan atas
atau pengaruh terhadap pertimbangan orangyang meletakkan
kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya
penghilangan atau salah saji itu.

25

Dalam PSAK No. 25, diberikan pedoman bagi auditor


dalam mempertimbangkan risisko dan materialitas pada saat
perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan
berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan
Indonesia:
1 Risiko audit dan materialitas mempengaruhi penerapan
standar auditing, khususnya standar pekerjaan lapangan
dan standar pelaporan, serta tercermin dalma laporan
audit bentuk baku. Risiko audit dan materealitas bersama
dengan

hal-hal

lain

perlu

dipertimbangkan

dalam

menentukan sifat, saat dan luas prosedur audit serta


dalam mengevaluasi hasil prosedur tersebut.
2 Adanya risiko audit diakui dengan pernyataan dalam
pelaksanaan tentang tanggung jawab dan fungsi auditor
independen yang berbunyi sebagai berikut: Karena sifat
bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor dapat
memperoleh keyakinan yang memadai, bukan mutlak,
bahwa salah saji material terdeteksi. Risiko audit adalah
risiko yang timbul karena auditor tanpa

disadari tidak

memodofikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas


suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji
material.
3 Konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik
secara individual atau keseluruhan adalah penting bagi
kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan

26

prisip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,


sedangkan beberapa hal lainnya adalah tidak penting.
Frasa menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia menunjukkan keyakinan auditor
bahwa laporan keuangan secara keseluruhan tidak
mengandung salah saji materi.
4 Laporan keuangan mengandung salah saji materi apabila
laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang
dampaknya, secara individual atau secara keseluruhan,
cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan
keuangan tidak disajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Salah saji dapat terjadi
sebagai akibat dari kekeliruan dan kecurangan.
5 Dalam perencanaan audit, auditor berkepentingan dengan
masalah-masalah

yang

mungkin

material

terhadap

laporan keuangan, auditor tidak bertanggung jawab untuk


merencanakan

dan

melaksanakan

audit

untuk

memperoleh keyakinan yang memadai bahwa salah saji,


yang disebabkan karena kekeliruan atau kecurangan,
tidak material terhadap laporan keuangan.
6 Istilah kekeliruan berarti salah saji atau penghilangan yang
tidak disengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan
keuangan, kekeliruan mencakup:

27

a Kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data


yang menjadi sumber penyusunan laporan keuangan
b Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul
c

dari kecerobohan atau salah tafsir fakta.


Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi yang
berkaitan dengan jumlah klasifikasi, cara penyajian atau

pengungkapan.
7 Meskipun kecurangan merupakan pengertian yang luas
dari segi hukum, kepentingan auditor secara khusus
berkaitan dengan tindakan curang yang menyebabkan
salah saji material dalam laporan keuangan. Dua tipe
salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor
dalam audit laporan keungan-salah saji yang timbul dari
kecurangan dalam pelaporan keuangan dan salah saji
yang timbul dari perlakuan tidak semestinyaterhadap
aktiva. Dua tipe salah saji ini dijelaskan lebih lanjut dalam
SA Seksi 316 (PSA No. 31 dan PSA No. 70) Pertimbangan
atas kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan. Faktor
utama yang menyebabkan perbedaan kecurangan dengan
kekeliruan adalah apakah tindakan yang mendasarinya
yang berakibat pada salah saji dalam laporan keuangan
merupakan tindakan yang disengaja atau tidak disengaja.
8 Pada waktu mempertimbangkan tanggung jawab auditor
memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan
keuangan bebas salah saji material, tidak ada perbedaan
penting

antara

kekeliruan

dan

kecurangan.

Namu,

28

terdapat perbedaan dalam hal tanggapan auditor terhadap


salah saji yang terdeteksi. Umumnya, kekeliruan yang
terisolasi, tidak material dalam pengolahan data akuntansi
atau penerapan prinsip akuntansi tidak signifikan terhadap
audit. Sebaliknya, bila kecurangan terdeteksi, auditor
harus mempertimbangkan implikasi integritas manajemen
atau karyawan dan kemungkinan dampaknya terhadap
aspek audit.
9 Pada waktu menyimpulkan apakah dampak salah saji,
secara individual atau secara gabungan, material, auditor
biasanya harus mempertimbangkan sifat dan jumlah
dalam kaitannya dengan sifat dan jumlah pos dalam
laporan keuangan yang diaudit. Sebagai contoh, suatu
jumlah yang material bagi laporan keuangan di suatu
entitas mungkin tidak material bagi entitas lain dengan
ukuran dan sifat yang berbeda. Begitu juga, apa yang
material

bagi

laporan

keuangan

entitas

tertentu

kemungkinan berubah dari satu periode ke periode yang


lain.
10 Pertimbangan auditor mengenai materialitas merupakan
pertimbangan professional dan diperngaruhi oleh persepsi
auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan
memadai

dan

yang

akan

meletakkan

kepercayaan

terhadap laporan keuangan. Pertimbangan mengenai


materialitas yang digunakan oleh auditor dihubungkan

29

dengan keadaan yang ada di sekitarnya dan mencakup


pertimbangan kuantitatif dan kualitatif. Materialitas adalah
besarnya

informasi

akuntansi

yang

apabila

terjadi

penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang


melingkupinya,

mungkin

dapat

mengubah

atau

mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan


kepercayaan atas informasi tersebut. Definisi tersebut
mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan
memeprhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu
melibatkan baik pertimbangan kuantitatif dan kualitatif.
11 Auditor harus mempertimbangkan risiko audit dan
materialitas baik dalam:
a Merencanakan audit dan merancang prosedur audit,
dan
b Mengevaluasi

apakah

laporan

keuangan

secara

keseluruhan disajikan secara wajar, dalam semua hal


yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia
Auditor harus mempertimbangkan

risiko

audit

dan

meterialitas untuk hal yang disebutkan pada butir (a) untuk


memperoleh bukti kompeten yang cukup dan sebagai
dasar memadai untuk mengevaluasi laporan keuangan
untuk bukti (b)
12 Auditor harus merencanakan auditnya sedemikian rupa,
sehingga risiko audit dapat dibatasi pada tingkat yang
rendah, yang menurut pertimbangan profesionalnya,
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
30

keuangan. Risiko audit dapat ditentukan dalam ukuran


kuantitaitf dan kualitatif.
13 Dalam merencanakan audit, auditor harus menggunakan
pertimbangan dalam menentukan risiko audit yang cukup
rendah

dan

pertimbangan

awal

mengenai

tungkat

materialitas dengan suatu cara yang diharapkan, dalam


keterbatasan

bawaan

dalam

proses

audit,

dapat

memberikan bukti audit yang cukup untuk mencapai


keyakinan memadai bahwa laporan kuangan bebasa dari
salah saji yang material. Tingkat materialitas mencakup
tingkat yang menyeluruh untuk masing-masing laporan
keungan pokok, namun karena laporan keuangan saling
berhubungan

dan

sebagian

besar

prosedur

audit

berhubungan dengan lebih dari satu jenis laporan


keuangan, agar efisien, untuk tujuan perencanaan, auditor
biasanya mempertimbangkan materialitas pada tingkat
kumpulan salah saji terkecil yang dapat dianggap material
untuk salah satu laporan keuangan pokok. Sebagai
contoh, jika auditor berkeyakinan bahwa salah saji secara
keseluruhan

yang

berjumlah

kurang

lebih

Rp

100.000.000,- akan memberi pengaruh material tehadap


pos pendapatan, namun baru akan mempengaruhi neraca
secara material apabila mencapai angka Rp 200.000.000,adalah tidak memadai baginya untuk merancang suatu

31

prosedur audit yang diharapkan dapat mendeteksi salah


saji yang berjumlah Rp 200.000.000,- saja.
14 Auditor merencanakan audit untuk mendapatkan
keyakinan memadai guna mendeteksi salah saji yang
diyakini jumlahnya cukup besar, secara individual atau
keseluruhan, yang secara kuantitatif berdampak material
terhadap laporan keuangan. Walaupun auditor harus
waspada terhadap salah saji yang mungkin material
secara kualitatif, pada umumnya adalah tidak praktis
untuk merancang prosedur pendeteksiaanya. SA Seksi
326 (PSA No. 07) Bukti audit paragraf 20 menyatakan
bahwa, auditor pada hakikatnya bekerja dalam batasbatas ekonomis, agar mempunyai manfaat ekonomis,
pendapat auditor harus dirimuskan dalam jangka waktu
dan biaya yang wajar.
15 Dalam situasi tertentu, untuk perencanaan audit, auditor
mempertimbangkan

materialitas

sebelum

laporan

keuangan yang akan diaudit selesai disusun. Dalam


situasi lain, perencanaannya baru akan dialkukan setelah
laporan keuangan yang diaudit selesai disusun, namun ia
mungkin menyadari bahwa laporan keuangan tersebut
masih memerlukan modifikasi yang signifikan. Dalam
kedua keadaan tersebut, pertimbangan awal auditor
tentang materialitas

mungkin didasarkan atas laporan

keuangan interim entitas tersebut yang disetahunkan atau

32

laporan keuangan tahunan satu periode atau lebih


sebelumnya,

asalkan

ia

memperhatikan

pengaruh

perubahan besar dalam entitias tersebut (contoh: merger)


dan perubahan lain yang relevan dalam perekonomian
secara keseluruhan atau industri yang merupakan tempat
entitas tersebut berusaha.
16 Pada tingkat saldo akun atau golongan transaksi, risiko
audit terdiri dari (a) risiko [yang meliputi risiko bawaan
(inherentrisk) dan risiko pengendalian (control risk)] bahwa
saldo akun atau golongan transaksi mengadung salah saji
(disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan) yang dapat
menjadi material terhadap laporan keuangan apabila
digabungkan dengan salah saji pada golongan saldo akun
atau golongan transaksi lainnya, dan (b) risiko [risiko
deteksi

(detektionrisk)]

bahwa

auditor

tidak

akan

mendeteksi salah saji tersebut. Pembahasan berikut


menjelaskan risiko audit dalam konteks tiga komponen
risiko di atas. Cara yang digunakan oleh auditor untuk
mempertimbangkan
kombinasinya

komponen

melibatkan

tersebut

pertimbangan

dan

professional

auditor dan tergantung pada pendekatan audit yang


dilakukan.
a Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun
atau golongan transaksi terhadap sutu salah saji
materi, dengan asumsi tidak terdapat pengendalian
33

yang terkait, risiko salah saji demikian adalah lebih


besar dari saldo akun atau golongan transaksi tertentu
dibandingkan dengan yang lain. Sebagai contoh,
perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah
jika

dibandingkan

dengan

perhitungan

yang

sederhana. Uang tunai lebih mudah dicuri daripada


persediaan batu bara. Akun yang terdiri dari jumlah
yang berasal dari estimasi akuntansi cenderung
mengandung risiko lebig besar dibandingkan denagn
akun yang sifatnya relative rutin dan berisi data
berupa fakta. Faktor ekstern juga mempengaruhi
risiko

bawaan.

Sebagai

contoh,

perkembangan

teknologi mungkin menyebabkan produk tertentu


menjadi usang, sehingga persediaan cenderung
dilaporkan lebig besar. Di samping itu, terhadap
faktor-faktor tersebut yang khusus menyangkut saldo
akun atau golongan transaksi tertentu,faktor-faktor
yang berhubungan dengan beberapa atau seluruh
saldo

akun

atau

golongan

transaksi

mungkin

mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan


dengan saldo akun atau golongan transaksi tertentu.
Faktor terakhir ini mencakup, misalnya kekurangan
modal kerja untuk melanjutka usaha atau penurunan
aktivitas industry yang ditandai oleh banyaknya

34

kegagalan usaha. Lihat SA Seksi 316 [PSA No. 32


dan PSA No. 70] pertimbangan atas Kecurangan
dalam Audit Laporan Keuangan, paragraf 10.
b Risiko Pengedalian
Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah
saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi
tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu
oleh pengendalian intern entitas. Risiko ini merupakan
fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian
intern untuk mencapai tujuan entitas yang relevan
dengan

penyusunan

laporan

keuangan

entitas.

Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena


keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian
c

intern.
Risiko Deteksi
Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak dapat
mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam
suatu

asersi.

Risiko

deteksi

merupakan

fungsi

efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh


auditor.

Risiko

ini

timbul

sebagian

karena

ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak


memeriksa 100% salso akun atau golongan transaksi
dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang
ada, walaupun saldo akun atau golongan transaksi
tersebut

diperiksa

100%.

Ketidakpastian

lain

35

semacam itu timbul karena auditor mungkin memilih


suatu prosedur audit yang tidak sesuai, menerapkan
secar

keliru

prosedur

yang

semestinya

atau

menafsirkan secara keliru hasil audit. Ketidakpastian


ini dapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat
diabaikan melalui perencanaan dan supervise yang
memadai dan pelaksanaan praktek audit yang sesuai
dengan standar pengendalian mutu.
17 Risiko bawaan, risiko pengendalian berbeda dengan risiko
deteksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas
dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan,
sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur
audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri.
Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik dengan
risiko bawan dan risiko pengedalian. Semakin kecil risiko
bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini oleh
auditor, semakin besar risiko deteksi yang dapat diterima.
Sebaliknya, semakin besar adanya risiko bawaan dan
risiko pengendalian yang diyakini auditor, semakin kecil
tingkat risiko deteksi yang dapat diterima. Komponen
risiko audit ini, dapat ditentukan secara kuantitaif seperti
dalam bentuk presentase atau secara nonkumulatif yang
berkisar, misalnya, dari minimum sampai maksimum.

36

AR =IR CR DR

Atau
DR=

AR
AR CR

Dimana:
AR = Overall Audit Risk
IR = Inherent Risk
CR = Control Risk
DR = Detection Risk
18 Risiko deteksi yang dapat diterima oleh auditor dalam
merancang prosedur audit tergantung pada tingkat yang
diinginka untuk membatasi risiko audit suatu saldo akun
atau golongan transaksi dan tergantung atas penetapan
auditor terhadap risiko bawaan dan risiko pengendalian.
Apabila penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan
risiko

pengendalian

menuru,

risiko

deteksi

yang

diterimanya akan meningkat. Namun, auditor tidak boleh


sepenuhnya mengandalkan risiko bawaan dan risiko
pengendalian

dengan

tidak

melakukan

pengujian

substantive terhadap saldo akun atau golongan transaksi,


yang di dalmnya mungkin terdapat salah saji yang
mungkin material jika digabungkan dengan salah saji yang
ada pada saldo akun atau golongan transaksi lain.

2.2

Analisis Masalah

2.2.1 Manfaat Audit Program Bagi Auditor

37

Adapun manfaat audit program bagi auditor seperti:


1 Sebagai petunjuk kerja yang harus dilakukan dan instruksi
bagaimana harus menyelesaikan suatu pemeriksaan.
2 Sebagai dasar untuk koordinasi, pengawasan, dan
pengendalian pemeriksaan.
3 Sebagai dasar penilaian kerja yang dilakukan klien.
2.2.2

Hubungan Antara Materialitas, Risiko Audit dan Bukti

Audit
Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti
audit dan risiko audit sebagai berikut:
1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan
tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah
jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan
dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko
audit menjadi meningkat.
3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit,
auditor dapat menempuh salah satu dari 3 cara berikut:
(a)

menambah

tingkat

materialitas,

sementara

itu

mempertahakan jumlah bukti audit yang dikumpulkan,


(b) menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan,
sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan,
dan (c) menambah sedikit jumlah bukti audit yang

38

dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersamasama.

BAB III
39

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Manfaat audit program bagi auditor:
a. Sebagai petunjuk kerja yang harus dilakukan dan instruksi
bagaimana harus menyelesaikan suatu pemeriksaan;
b. Sebagai

dasar

untuk

koordinasi,

pengawasan,

dan

pengendalian pemeriksaan;
c. Sebagai dasar penilaian kerja yang dilakukan klien.
2. Sanksi yang dapat diterima Siti Hardiyanti Rukmana adalah
berupa membayar

ganti rugi (schade vergoeding) tersebut

tidak timbul seketika terjadi kelalaian, melainkan baru efektif


setelah debitur dinyatakan lalai (ingebrekestelling) dan tetap
tidak

melaksanakan

prestasinya,

pembatalan

perjanjian,

peralihan resiko, dan membayar biaya perkara bila sampai


diperkarakan secara hukum di pengadilan.

3.2

Saran

Dengan ditulisnya makalah yang menjelaskan tentang audit plan,


audit program, audit procedures, audit teknik, risiko audit dan
materialitas, semoga kita semua benar-benar memahami. Dengan
harapan kedepannya dapat diapplikasikan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
40

Agoes Sukrisno. 2014, Auditing, Salemba Empat:Jakarta Selatan.


Kemenkeu RI Pusdiklat Bea dan Cukai.2011, Modul Dasar-dasar
Pemeriksaan, Tim Penyusun Modul Pusdiklat Bea dan
Cukai:Jakarta.

41