Você está na página 1de 28

BAB I

HUBUNGAN FARMAKOGNOSI DENGAN ILMU ILMU LAINYA


1.1 Definisi Farmakognosi
Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari tentang sumber sumber bahan obat
alam,terutama dari tumbuh tumbuhan (bentuk makroskopis dan mikroskopis berbagai
tumbuhan serta organisme lainya yang dapat digunakan dalam pengobatan.(Syamsuni,2006)
Perkataan Farmakognosi berasal dari dua perkataan Yunani yaitu Pharmakon yang berarti
obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi farmakognosi berarti pengetahuan
tentang obat khususnya dari nabati, hewani dan mineral.
1.2 Hubungan Farmakognosi dengan ilmu Sistematika Tumbuhan dan Analisa Sistematika
Tumbuhan
Ilmu ini mempelajari tentang deskripsi, identifikasi, tatanama, klasifikasi, serta
penentuan hubungan kekerabatan tumbuhan. Sistematika tanaman obat dapat mengklasifikasi
penempatan tumbuhan kedalam takson tertentu yang sesuai dengan sistem tata nama
Sistematika tumbuhan. Penetapan identitas botani-zoologi secara tepat merupakan langkah
pertama yang harus ditempuh sebelum melakukan kegiatan lainnya di bidang farmakognosi.
Kondisi simplisia dapat rusak oleh faktor tertentu. Apabila hal tersebut terjadi, maka
keadaannya tidak lagi memenuhi syarat dan dianggap berkualitas rendah. Misalnya saja
simplisia yang akan digunakan bercampur dengan minyak pelumas, basah oleh air laut, rusak
karena bakteri, dan tercampur dengan komposisi bahan lain yang tidak semestinya.
Alam memberikan kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan
dan mineral yang jika diadakan identifikasi dan menentukan sistimatikanya, maka diperoleh
bahan alam berkhasiat obat. Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi, dikeringkan,
diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap pakai atau simplisia,
disinilah keterkaitannya dengan farmakognosi.
1.3 Hubungan Farmakognosi dengan ilmu Fitofarmasetika dan fitokimia
Fitokimia
merupakan studi tentang kimia tumbuhan. Tujuannya adalah
mengidentifikasi komposisi kimia tumbuhan ciri-ciri spesifiknya, dan memberikan gambaran
tentang konstituen kimia dengan efek yang mungkin menarik secara farmakologi. dapat
mengidentifikasi sebuah tanaman berdasarkan efek dari keseluruhan tanaman dan senyawa
kimia khusus yang dihasilkan (fitofarmakognosi).
Farmakognosi merupakan cabang penting dalam fitofarmasi yang berkaitan dengan
identifikasi obat-obat alami. Pada awalnya ahli farmakognosi mengidentifikasi tumbuhan
berdasarkan penampakannya, raba, rasa, dan bau. Walaupun metode semacam itu masih
penting sebagai element2 pengujian modern untuk identifikasi dan qualitynya, identifikasi
obat sekarang diarahkan menggunakan metode pengujian fisiko kimia yang spesifik.

BAB II
SIMPLISIA
2.1 Definisi
Simplisia adalah bentuk jamak dari simpleks yang berasal dari kata simple, yang
berarti satu atau sederhana. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam
yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk.
Departemen Kesehatan RI membuat batasan tentang simplisia sebagai berikut: simplisia
adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses
apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan
(Gunawan, 2004: 9).
2.2 Penggolongan Simplisia
Simplisia terbagi 3 golongan yaitu :
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan
eksudat tanaman. Eskudat tanaman ialah isi yang spontan keluar dari tanaman atau isi sel
yang dikeluarkan dari selnya, dengan cara tertentu atau zat yang dipisahkan dari tanamannya
dengan cara tertentu yang masih belum berupa zat kimia murni.
2. Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat
berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
3. Simplisia mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelikan (mineral) yang belum
diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
Bagian Organ simplisia

Contoh simplisia :

Caryophylli Flos, Hibisci Flos dari tanaman Hibiscus sabdariffa, L


Capsici frutescentis Fructus, Piperis nigri Fructus
Apii graveolentis Folium, Anacardii Folium

1. Pengumpulan bahan baku


memisahkan benda asing seperti bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yan

Sortasi Kering
-Pengeringan alami
(Sinar matahari)
-Pengeringan buatan
(Mesin pengering)

Pengeringan
Perajangan dengan pisau, alat mesin perajang. diperoleh irisan tipis

Perajangan
cian dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air sumur atau air PAM

Pencucian
memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan si

Bagian tanaman yang digunakan.


Umur tanaman yang digunakan.
Waktu panen.
Lingkungan tempat tumbuh.

Sortasi Basah
Pengumpulan
bahan baku

2.3 Prosedur pembuatan simplisia

Cinnamomi aromaticum Cortex


Santali albi Lignum
Coffeae Semen
Glycyrrhizae Radix
Curcumae Rhizoma
Andrographidis Herba

Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam
bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman
tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar.
Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen, umur tanaman,
bagian tanaman yang diambil dan lingkungan tempat tumbuhnya. Pada umumnya waktu
pengumpulan sebagai berikut :
a. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak,
contohnya, daun Athropa belladonnamencapai kadar alkaloid tertinggi pada pucuk tanaman
saat mulai berbunga. Tanaman yang berfotosintesis diambil daunnya saat reaksi fotosintesis
sempurna yaitu pukul 09.00-12.00.
b. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar. Umumnya saat sedang kuncup
c. Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum buah masak.
d. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
e. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus), dikumpulkan sewaktu
proses pertumbuhannya berhenti.
f. Daun, dikumpulkan saat tumbuhan mulai berbunga namun belum masak
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing
lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman
obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak,
serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba
dalam jurnlah yang tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut
dapat mengurangi jumlah mikroba awal.
3.

Pencucian

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat
pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air
sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut di dalam air
yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Pencucian
tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air pencucian yang
digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba. Misalnya jika air yang digunakan
untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat
bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat menipercepat
pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Proteus,
Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter dan Escherishia.
4. Perajangan

Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan
simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan.
Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh
selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus
sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat penguapan air, sehingga
mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat
menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap. Sehingga
mempengaruhi komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bahan simplisia
seperti temulawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan sejenis lainnya dihindari perajangan
yang terlalu tipis untuk mencegah berkurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan
seharusnya jumlah mikroba tidak bertambah.
5. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air
yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat merupakan media pertumbuhan
kapang dan jasad renik lainnya.
Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan
simplisia dapat dikeringkan pada suhu 300 sampai 90C, tetapi suhu yang terbaik adalah
tidak melebihi 60C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan
panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu serendah mungkin, misalnya 300
sampai 450 C, atau dengan cara pengeringan vakum yaitu dengan mengurangi tekanan udara
di dalam ruang atau lemari pengeringan, sehingga tekanan kira-kira 5 mm Hg.
Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua
cara pengeringan yaitu pengeringan secara alamiah dan buatan.
A. Pengeringan Alamiah.
Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk mengeringkan
bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya, dan
rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil. Pengeringan dengan sinar matahari yang
banyak dipraktekkan di Indonesia merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang
dilakukan dengan cara membiarkan bagian yang telah dipotong-potong di udara terbuka di
atas tampah-tampah tanpa kondisi yang terkontrol sepertl suhu, kelembaban dan aliran udara.
Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Cara
ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun,
dan sebagainya dan mengandung senyawa aktif mudah menguap.
B. Pengeringan Buatan

Pengeringan buatan, yaitu dengan menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang
suhu kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan
adalah sebagai berikut: udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor,
mesin disel atau listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari
yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di atas rak-rak pengering.
Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang sederhana, praktis dan murah
dengan hasil yang cukup baik.
6.

Sortasi kering

Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.


Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang
tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masill ada dan tertinggal pada
sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum sirnplisia dibungkus untuk kernudian
disimpan. Pada simplisia bentuk rimpang sering jurnlah akar yang melekat pada rimpang
terlampau besar dan harus dibuang. Demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan
benda-benda tanah lain yang tertinggal harus dibuang sebelum simplisia dibungkus.
-Kemurnian Simplisia
Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia yang
diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu pembuatan atau isolasi
minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain, tidak harus memenuhi persyaratan
tersebut. Persyaratan yang membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari
simplisia nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masingmasing monografi,
sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.

BAB III

DATA TANAMAN
3.1 Tanaman Teridentifikasi
A. Rhoeo discolor (sosongkokan/ nanas karang)
Klasifikasi tanaman
Kingdom (Dunia/Kerajaan):
Subkingdom:
Super divisi:
Divisio (Pembagian):
Classis (Kelas):
Sub Kelas :
Ordo (Bangsa):
Familia (Suku):
Genus (Marga):
Species (Jenis):

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)


Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Liliopsida (berkeping dua / dikotil)
Commelinidae
Commelinales
Commelinaceae
Rhoeo
Rhoeo discolor

Deskripsi dan ciri


Biasa ditanam orang sebagai tanaman hias, tumbuh subur di tanah yang lembab.
Termasuk anggota suku gawar-gawaran, berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Tinggi
pohon 40 cm 60 cm, batang kasar, pendek, lurus, tidak bercabang.
Daun : Tunggal, lonjong,ujung runcing, pangkal memeluk batang, tepi rata, panjang
25-30 cm, lebar 3-6 cm, permukaan atas hijau, permukaan lainnya merah kecoklatan.Daun
lebar dan panjang, mudah patah,warna daun di permukaan atas: Hijau, dan di bagian bawah
berwarna merah tengguli.Panjang daun + 30 cm, lebar 2,5 6 cm. Bunga berwarna putih,
berbentuk bunga kerang.
Bagian tanaman yang berkhasiat
Bunga dan daun.
Kandungan zat aktif
Tumbuhan ini mengandung saponin dan tanin. Sedangkan warna ungu daritumbuhan
ini diduga memiliki kandungan kimia yang berupasenyawa flavonoid yaitu antosianin. Sifat
kimia dan efek farmakologis yang dimilikinya berupa rasa manis, sejuk dan dapat digunakan
sebagai anti radang, memelihara paru, mencairkan dahak, anti batuk, anti diare,
membersihkan darah.

B. Capsicum frutescens L. (Cabe rawit)


Klasifikasi tanaman

Kerajaan:
Subkingdom:
Super divisi:
Divisio
Classis:
Sub Kelas :
Ordo:
Familia:
Genus:
Species:

Plantae (Tumbuhan)
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Asteridae
Solanales
Solanaceae (suku terung-terungan)
Capsicum
Capsicum frutescens L.

Deskripsi dan ciri


Cabe rawit termasuk semak yang tingginya bisa mencapai 1.5 meter, cabe rawit
dianggap cabe yang cukup pedas dari varietas cabe lainnya, karena kepedasannya mencapai
50.000 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual di pasar-pasar bersama
dengan varitas cabai lainnya.Cabe rawit tumbuh liar di hutan dan ladang-ladang yang
tanahnya tidak tandus tapi cukup mendapat sinar matahari, banyak juga yang ditanam di
pekarangan rumah sebagai tanaman dapur(bumbu masak).
Batang : Batangnya berkayu, berbuku-buku dan bercabang banyak.
Daun: Daunnya tunggal bentuknya bulat telur, dengan panjang daun kurang lebih
10cm dan lebar 5cm. Tepi daun rata, tidak berbulu, ujungnya runcing dan pangkalnya tumpul.
Bunga: Bunganya tunggal, 2-3 buah letaknya berdekatan warnanya putih
kekuningan.Mahkota bunga berbentuk bintang yang berwarna putih kehijauan (ada juga
warna ungu), kelopak bunganya berbuku dan tidak berbulu.
Buah dan biji: Buahnya buni, berbentuk bulat telur dan memanjang, Buah cabai rawit
berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang.
Kandungan zat aktif
kapzaisin(capsaicin), kapsantin, protein, lemak vitamin A dan C, flavenoid, kapsisidin,
kapsikol, dan minyak esensia. Kandungan utama kapsaikin berfungsi sebagai antialergi,
memperlancar sirkulasi darah ke jantung, sifatnya yang analgesik juga mampu mengobati
kejang otot ataupun rematik.

C. Peperomia pellucida L (Suruhan)


Klasifikasi tanaman

Kerajaan:
Subkingdom:
Super divisi:
Divisio
Classis:
Sub Kelas :
Ordo:
Familia:
Genus:
Species:

Plantae (Tumbuhan)
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Magnoliidae
Piperales
Piperaceae
Peperomia
Peperomia pellucida L.

Deskripsi dan Ciri


Tumpangan air (Peperomia pellucida) adalah terna kecil semusim dan berakar dangkal yang
mudah ditemukan tumbuh liar di tepi saluran air atau pematang dan taman. Ukurannya 15
sampai 45 cm. Batangnya sukulen (berair), cerah, berdaging, demikian pula daunnya yang
agak tebal tapi lunak.
Batang : Tegak atau menggantung,lunak,beruas, bulat coklat kemerahan
Daun : Tunggal, lonjong tebal, ujung dan pangkal tumpul tapi rata, Pertulangan
menyirip, panjang kurang lebih 7 cm, hijau kekuningan.
Bunga : Majemuk, bentuk bulir, tanpa perhiasan bunga, berkelamin dua, benaograsi
banyak, kepala putik tiga, hijau.
Buah : Buni, bulat kecil, hijau.
Biji : Kecil, Keras coklat.
Kandungan zat aktif
Suruhan mengandung alkaloid, tanin, kalsium oksalat, lemak, minyak atsiri. Berfungsi
sebagai antiseptik dan analgetik. Bisa digunakan untuk menghilangkan jerwart, bisul, luka
bakar dan juga meredakan sakit perut

3.2 Tanaman Tak Teridentifikasi

N Nama tanaman
o
1 Urang-aring
.

Nama latin

Kandungan

Khasiat

Eclipta alba

Ecliptine,
terthienylmet
hanol

Hemostatic,
antipiretik,
antitoksik

Sansevieria
trifasciata

kardenolin,
saponin, dan
polifenol.

Antibiotik,
radang, flu.

Ciri:
Batang : bulat
berwarna hijau,, b.
Daun : warna hijau
bentuk bulat telur
memanjang, ujung
daun meruncing,
pinggir bergerigi
halus atau hampir
rata,
berbentuk bongkol
warna putih kecilkecil..

2
.

Lidah mertua

Ciri: Daun warna hijau


tua kombinasi hijau kuning.
Motif garis-garis

Efek
farmakologis
Menghentikan
pendarahan,
menurunkan
panjas, dan
menghilangkan
racun.

Menyembuhka
n kencing
manis.

3
.

Bunga kertas

Bougainvillea
spectabilis

Ciri:
batang berkayu
bentuk bulat dan
disertai duri-duri kecil.
Tumbuh perdu yang
dapat tumbuh
mencapai ketinggian
4 meter.
bunga majemuk
dengan jumlah bunga
antara 3 sampai 15
bunga per-payung.

betanidin,
isobetanidin,
6-o-Psaphoroside,
dan 6-orhamnosysop
horoside.

Keputihan,
hepatitis,
biang
keringat

Melancarkan
peredarah
daran

BAB IV
KARBOHIDRAT
4.1 Definisi
Karbohidrat merupakan polimer alami yang dihasilkan oleh dan sangat dibutuhkan oleh
manusia dan hewan. Karbohidrat juga merupakan sumber energi yang atas unsur-unusr C, O,
dan dengan rumus molekul n(H2O)n. Pada senyawa karbohidrat terdapat berbaga gugus
fungsi yang diikatnya yaitu gugus fungsi keton, aldehid, dan gugus hidroksi.
4.2 Penggolongan Karbohidrat

Ditinjau dari gugus fungsi yang diikat:

Aldosa: karbohidrat yang mengikat gugus aldehid. Contoh: glukosa, galaktosa, ribosa
Ketosa: karbohdrat yang mengikat gugus keton. Contoh: fruktosa

Ditinjau dari hasil hidrolisisnya:


KARBOHIDRAT

MONO
SAKARIDA

DI
SAKARIDA

OLIGO
SAKARIDA

Monosakarida: karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi molekul-molekul


karbohidrat yang lebih sederhana lagi. Misalnya: glukosa, fruktosa, ribosa, galaktosa

Disakarida: karbohidrat yang terbentuk dari kondensasi 2 molekul monosakarida. Misalnya:


sukrosa (gula tebu), laktosa (gula susu), dan maltosa (gula pati)
Oligosakarida: karbohidrat yang jika dihidrolisis akan terurai menghasilkan 3 10
monosakarida, misalnya dekstrin dan maltopentosa
Polisakarida: karbohirdat yang terbentuk dari banyak molekul monosakarida. Misalnya pati
(amilum), selulosa, dan glikogen.
Beberapa monosakarida penting sebagai berikut.
1. Glukosa
Glukosa dapat diperoleh dari hidrolisis sukrosa (gula tebu) atau pati (amilum). Di alam
glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Dalam alam glukosa dihasilkan dari
reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun .
2. Fruktosa

Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke
kiri dan karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis dari pada
gula tebu atau sukrosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa dengan pereaksi seliwanoff,
yaitu larutan resorsinol (1,3 dhidroksi-benzena) dalam asam clorida. Disebut juga sebagai
gula buah, dperoleh dari hdrolisis sukrosa.
3. Galaktosa
Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yag terdapat dalam
susu. Galaktosa mempunyai sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kanan. Pada proses
oksidasi oleh asam nitrat pekat dan dalam keadaan panas galaktosa menghasilkan asam musat
yang kurang larut dalam air bila dibandingkan dengan asam sakarat yang dihasilkan oleh
oksidasi glukosa. Dapat diperoleh dari hidrolisis gula susu (laktosa), dan mempunyai sifat:

Dapat mereduksi larutan fehling membentuk endapan merah bata

Tidak dapat difermentasi

Beberapa disakarida penting sebagai berikut.


1. Laktosa

Hidrolisis laktosa menghasilkan molekul glukosa dan galaktosa

Hanya terdapat pada binatang mamalia dan manusia

Dapat dperoleh dari hasil samping pembuatan keju

Bereaksi positif terhadap pereaksi fehling, benedict, dan tollens

2. Maltosa
Sifat maltosa antaralain:

Hidrolisis maltosa menghasilkan 2 molekul glukosa

Digunakan dalam makanan bayi dan susu bubuk beragi (malted milk)

Bereaksi positif terhadap pereaksi fehling, benedict, dan tollens

3. Sukrosa
Sukrosa atau gula tebu adalah disakarida dari glukosa dan fruktosa. Sukrosa dibentuk oleh
banyak tanaman tetapi tidak terdapat pada hewan tingkat tinggi. Sukrosa mempunyai sifat
memutar cahaya terpolarisasi ke kanan. Hasil yang diperoleh dari reaksi hidrolisis adalah
glukosa dan fruktosa dalam jumlah yang ekuimolekular.
Beberapa polisakarida penting.
1. Selulosa

Merupakan komponen utama penyusun serat dinding sel tumbuhan

Polimer dari glukosa

Hirolisis lengkap dengan katalis asam dan enzim akan menghasilkan glukosa

2. Pati atau amilum

Polimer dari glukosa

Apabila dilarutkan dalam air panas, pati dapat dipisahkan menjadi amilosa dan
amilopektin

Amilopektin merupakan polimer yang lebih besar dari amilosa

Hirdolisis parsial akan menghasilkan amilosa

Hidrolisis lengkap akan menghasilkan glukosa

3. Glikogen

Hidrolisis glikogen akan menghasilkan glukosa

Dalam sistem hewan, glikogen digunakan sebagai cadangan makanan (glukosa)

BAB V
LIPID
5.1 Definisi
Struktur beberapa lipid umum. Di bagian atas adalah asam oleat dan
kolesterol.Struktur bagian tengah adalah trigliserida yang terdiri dari rantai oleoil, stearoil,
dan palmitoil yang melekat pada kerangka gliserol. Di bagian bawah adalah fosfolipid yang
umum, fosfatidilkolina.
Lipid mengacu pada golongan senyawa hidrokarbon alifatik nonpolar dan hidrofobik.
Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi larut dalam pelarut
nonpolar, seperti alkohol, eter atau kloroform. Fungsi biologis terpenting lipid di antaranya
untuk menyimpan energi, sebagai komponen struktural membran sel, dan sebagai
pensinyalan molekul.
5.2 Penggolongan
Gliserida
a.

Netral (Lemak Netral)

Gliserida netral adalah ester antara asam lemak dengan gliserol. Fungsi dasar dari gliserida
netral adalah sebagai simpanan energi (berupa lemak atau minyak). Setiap gliserol mungkin
berikatan dengan 1, 2 atau 3 asam lemak yang tidak harus sama. Jika gliserol berikatan
dengan 1 asam lemak disebut monogliserida, jika berikatan dengan 2 asam lemak disebut
digliserida dan jika berikatan dengan 3 asam lemak dinamakan trigliserida. Trigliserida
merupakan cadangan energi penting dari sumber lipid.
Lemak dan minyak keduanya merupakan trigliserida. Adapun perbedaan sifat
secara umum dari keduanya adalah:
1. Lemak
-

Umumnya diperoleh dari hewan

Berwujud padat pada suhu ruang

Tersusun dari asam lemak jenuh

2. Minyak
-

Umumnya diperoleh dari tumbuhan

Berwujud cair pada suhu ruang

Tersusun dari asam lemak tak jenuh

b.

Fosfogliserida (Fosfolipid)

Lipid dapat mengandung gugus fosfat. Lemak termodifikasi ketika fosfat mengganti salah
satu rantai asam lemak.
Penggunaan fosfogliserida adalah:
1. Sebagai komponen penyusun membran sel
2. Sebagi agen emulsi

Fosfolipid bilayer (lapisan ganda) sebagai penyusun membran sel


3.

Lipid kompleks

Lipid kompleks adalah kombinasi antara lipid dengan molekul lain. Contoh penting dari lipid
kompleks adalah lipoprotein dan glikolipid.
a.

Lipoprotein Dan Glikolipid

Lipoprotein merupakan gabungan antara lipid dengan protein. Gabungan lipid dengan protein
(lipoprotein) merupakan contoh dari lipid kompleks Ada 4 klas mayor dari lipoprotein plasma
yang masing-masing tersusun atas beberapa jenis lipid, yaitu:

Perbandingan komposisi penyusun 4 klas besar lipoprotein


1.

Kilomikron

Kilomikron berfungsi sebagai alat transportasi trigliserid dari usus ke jaringan lain, kecuali
ginjal
2.

VLDL (very low - density lypoproteins)

VLDL mengikat trigliserid di dalam hati dan mengangkutnya menuju jaringan lemak
3.

LDL (low - density lypoproteins)

LDL berperan mengangkut kolesterol ke jaringan perifer


4.

HDL (high - density lypoproteins)

HDL mengikat kolesterol plasma dan mengangkut kolesterol ke hati.


4.

Lipid non gliserida

Lipid jenis ini tidak mengandung gliserol. Jadi asam lemak bergabung dengan molekulmolekul non gliserol. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah sfingolipid, steroid, kolesterol
dan malam.
a.

Sfingolipid

Sifongolipid adalah fosfolipid yang tidak diturunkan dari lemak. Penggunaan primer dari
sfingolipid adalah sebagai penyusun selubung mielin serabut saraf. Pada manusia, 25% dari
lipid merupakan sfingolipid.
Struktur kimia sfingomielin (perhatikan 4 komponen penyusunnya)
b.

Kolesterol

Selain fosfolipid, kolesterol merupakan jenis lipid yang menyusun membran plasma.
Kolesterol juga menjadi bagian dari beberapa hormon. Kolesterol berhubungan dengan
pengerasan arteri. Dalam hal ini timbul plaque pada dinding arteri, yang mengakibatkan
peningkatan tekanan darah karena arteri menyempit, penurunan kemampuan untuk meregang.
Pembentukan gumpalan dapat menyebabkan infark miokard dan stroke.
Kolesterol merupakan bagian dari membran sel
c.

Steroid

Beberapa hormon reproduktif merupakan steroid, misalnya testosteron dan progesteron.


Progesteron dan testosteron

Steroid lainnya adalah kortison. Hormon ini berhubungan dengan proses metabolisme
karbohidrat, penanganan penyakit arthritis rematoid, asthma, gangguan pencernaan dan
sebagainya.
Kortison
d.

Malam/lilin (waxes)

Malam tidak larut di dalam air dan sulit dihidrolisis. Malam sering digunakan sebagai lapisan
pelindung untuk kulit, rambut dan lain-lain. Malam merupakan ester antara asam lemak
dengan alkohol rantai panjang.
Ester antara asam lemak dengan alkohol membentuk malam
Jenis-Jenis Lipid
Terdapat beberapa jenis lipid yaitu:
1.

Asam lemak, terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh

2.

Gliserida, terdiri atas gliserida netral dan fosfogliserida

3.

Lipid kompleks, terdiri atas lipoprotein dan glikolipid

4.

Non gliserida, terdiri atas sfingolipid, steroid dan malam

VI. GLIKOSIDA
6.1 Definisi
Glikosida merupakan salah satu kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam
kelompok metabolit sekunder. Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua
bagian senyawa, yaitu gula dan bukan gula. Keduanya dihubungkan oleh suatu bentuk ikatan
berupa jembatan oksigen (O glikosida, dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida,
adenosine), jembatan sulfur (Sglikosida, sinigrin), maupun jembatan karbon (C-glikosida,
barbaloin). Bagian gula biasa disebut glikon sedangkan bagian bukan gula disebut sebagai
aglikon atau genin. Apabila glikon dan aglikon saling terikat maka senyawa ini disebut
sebagai glikosida.
Glikon

Agliko

.2 Penggolongan Glikosida
6GLIKOSIDA

Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin. Glikosida


saponin bisa berupa saponin steroid maupun saponin triterpenoid.
Ciri utama rasa pahit dan berbusa. Ex: Leguminose, liliaceae, solanaceae

Glikosida steroid adalah glikosida yang aglikonnya berupa steroid. Glikosida steroid
disebut juga glikosida jantung karena memiliki daya kerja kuat dan spesifik terhadap
otot jantung. Ex: tanaman Digitalis purpurea, Convallaria
Glikosida antrakuinon adalah Glikosida-glikosida yang terdapat di dalam obat
pencahar tersebut mengandung turunan antrasen atau antrakinon sebagai aglikonnya.
Simplisia yang mengandung glikosida ini antara lain
Rhamni purshianae Cortex, Rhamni Frangulae Cortex,
Aloe, Rhei Radix, dan Sennae Folium.

Glikosida sianopora adalah glikosida yang pada ketikadihidrolisis akan terurai


menjadi bagian-bagiannya dan menghasilkan asam sianida (HCN)
Glikosida Isotiosianat Banyak biji dari beberapa tanaman keluarga Crucifera
mengandung glikosida yang aglikonnya adalah isotiosianat. Aglikon ini merupakan
turunan alifatik atau aromatik. Senyawa-senyawa yang penting secara farmasi dari
glikosida ini adalah sinigrin (Brassica nigra = black mustard), sinalbin (Sinapis alba =
white mustard) dan glukonapin (rape seed).
Glikosida flavonol dan aglikon biasanya dinamakan flavonoid, Tersebar luas
diseluruh tanaman tingkat tinggi. Rutin, kuersitrin, ataupun sitrus bioflavonoid
(termasuk hesperidin, hesperetin, diosmin dan naringenin) merupakan kandungan
flavonoid yang paling dikenal
Glikosida alkohol ditunjukkan oleh aglikonnya yang selalu memiliki gugus hidroksi.
Senyawa yang termasuk glikosida alcohol O adalah salisin. Salisin adalah glikosida
yang diperoleh dari beberapa spesies Salix dan Populus
Glikosida Aldehida Salinigrin yang terkandung dalam Salix discolor terdiri dari
glukosa yang diikat oleh m-hidroksibenzaldehida sehingga merupakan glikosida yang
aglikonnya suatu aldehida.

Glikosida Lakton Meskipun kumarin tersebar luas dalam tanaman. Beberapa glikosida
dari turunan hidroksi kumarin ditemukan dalam bahan tanaman seperti skimin dan
Star anise Jepang, aeskulin dalam korteks horse chestnut, daphin dalam mezereum,
fraksin dan limettin.
Glikosida Fenol Beberapa aglikon dari glikosida alami mempunyai kandungan
bercirikan senyawa fenol. Arbutin yang terkandung dalam uva ursi dan tanaman
Ericaceae lain menghasilkan hidrokuinon sebagai aglikonnya. Hesperidin dalam buah
jeruk juga dapat digolongkan sebagai glikosida fenol. Uva ursi adalah daun kering
dari Arctostaphylos uva ursi (Famili Ericaceae).

BAB VII
FLAVONOID
7.1 Definisi
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang umumnya
tersebar di dunia tumbuhan. Senyawa flavanoid merupakan suatu kelompok senyawa fenol
yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah,
ungu, dan biru serta sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.
Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetative maupun dalam
bunga. lavanoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana
dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propane (C3) sehingga membentuk suatu
susunan C6-C3-C6. Inilah struktur dasar flavonoid terbentuk dari jlur asam mevalonat dan
sikhimat

Flavonoid merupakan golongan filifenol sehingga memiliki sifat kimia senyawa fenol,
yaitu
1. Bersifat asam sehingga dapat larut dalam basa.
2. Merupakan senyawa polar karena memiliki sejumlah gugus hidroksil.
3. Sebagai antibakteri karena flavonoid sebagai derivat dari fenol dapat menyebabkan
rusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri.
4. Sebagai antioksidan yaitu kemampuan flavonoid untuk menjalankan fungsi
antioksidan, bergantung pada struktur molekkulnya, posisi gugus hidroksil memiliki
peranan dalam fungsi antioksidan dan aktivitas menyingkirkan radikal bebas
Penggolongan Flavonoid
Flavonoid dapat dikelompokkan berdasarkan keragaman pada rantai C3 yaitu :
1.Flavonol

Flavonol tersebar luas dalam tumbuhan, baik sebagai kopigmen antosianin dalam daum
bunga maupun dalam daun tumbuhan tinggi. Seperti antosianin, mereka paling sering
terdapat sebagai glosida (Harborne : 1987 ) Robinson (1995 dalam Doloksaribu 2009)
menyatakan bahwa Flavonol paling sering terdapat sebagai glikosida, biasanya 3-glikosida
dan aglikon flavonol yang umum yaitu kamferol, kuersetin, dan mirisetin yang berkhasiat
sebagai antioksidan dan antiimflamasi.
2. Flavon

Flavon berbeda dengan flavonol karena flavon tak terdapat penyulihan 3-hidroksi.
Hanya ada dua aglikon flavon umum yaitu apigenin dan luteolin, pola hidroksilasinya serupa
dengan kemferol dan kuersetin. Flavon terdapat juga sebagai glikosida tetapi jenis
glikosidanya lebih sedikit daripada jenis glikosida pada flavonol. Untuk flavon jenis yang
paling umum ialah 7-glikosida, contohnya luteoin 7-glukosida. Terdapat juga flavon yang
terikat pada gula melalui ikatan karbon-karbon. Contohnya luteolin 8-C-glikosida. Flavon
dianggap sebagai induk dalam nomenklatur kelompok senyawa flavonoid.
3. Isoflavon
Isoflavon merupakan isomer flavon, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
Isoflavon ini merupakan insektisida alam yang kuat sehingga berfungsi sebagai pertahanan
terhadap serangan penyakit. Isoflavon sukar dicirikan karena reaksinya tidak khas dengan
pereaksi warna manapun.

4.Khalkon
Khalkon merupakan antoklor, yaitu pigmen fenol kuning. Hal tersebut dapat dibuktikan
dengan bila daun bunga berwarna kuning akan berubah menjadi merah atau jingga bila diuapi
oleh asap basa atau asap amonia. Bila dalam kromatografi kertas, khalkon akan berwarna
coklat kuat dibawah sinar UV. Aglikon flavon dapat dibedakan dari glikosidanya, karena
hanya pigmen dalam bentuk glikosida yang dapat bergerak pada kromatografi kertas dalam
pengembang air. Struktur Khalkon

5.Auron
Aron sama halnya dengan Khalkon yang merupakan antoklor. Auron berupa pigmen kuning
emas yang terdapat dalam bunga tertentu dan briofita.
6. Antosianin merupakan penting dan paling tersebar luas dalam tumbuhan. Pigmen
berwarna kuat dan larut dalan air ini, adalah penyebab hampir semua warna merah jambu,
merah marak, merah, merah seduduk, ungu, dan biru dalam daun bunga, daun dan buah pada
tumbuhan tinggi. (Harborne : 1987) Antosianidin memiliki 6 aglikon yang umum.
Antosianidin merupakan aglikon antosianin yang akan terbentuk bila antosianin dihidrolisis
dengan asam. Sianidin adalah aglikon yang paling umum yang berwarna merah lembayung.
Pelargon merupakan aglikon yang gugus hidroksilnya kurang satu dibandingkan sianiding,
sedangkan Defilnidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dari sianidin. Terdapat pula tiga
jenis eter metil antosianidin yang umum yaitu peonidin yang merupakan turunan sianidin.;
serta petunidin dan malvidin yang merupakan turunan dari delfinidin.
BAB VIII
TERPENOID
8.1 Definisi
Terpenoid merupakan bentuk senyawa dengan keragaman struktur yang besar dalam
produk alami yang diturunkan dan unit isoprena(C5) yang bergandengan dalam model kepala
ke ekor(head-to- tail), sedangkan unit isoprena diturunkan dari metabolisme asam asetat oleh
jalur asam mevalonat

Terpenoid merupakan suatu golonganhidrokarbon yang banyak dihasilkan


olehtumbuhan dan terutama terkandung pada getahdan vakuola selnya. Pada tumbuhan,
senyawa-senyawa golonganterpenoid, merupakan metabolit sekunder.Terpen dan terpenoid
dihasilkan pula olehsejumlah hewan, terutama serangga danbeberapa hewan laut. Di samping
sebagai metabolit sekunder,terpenoid merupakan kerangka penyusunsejumlah senyawa

penting bagi makhluk hidup.Sebagai contoh, senyawa-senyawa steroid adalahturunan


skualena, suatu triterpen; juga karotendan retinol.
Terpenoid adalah komponen- komponentumbuhan yang mempunyai bau dan dapat
diisolasidari bahan nabati dengan penyulingan disebutminyak atsiri. Sebagian besar
komponen minyak atsiri adalahsenyawa yang hanya mengandung karbon danhidrogen (CH)
atau karbon, hidrogen dan oksigen(CHO) yang tidak bersifat aromatik yang secaraumum
disebut terpenoid.
8.2 Penggolongan Terpenoid

Klasifikasi terpenoid ditentukan dari unit isopren atau unit C-5 penyusun senyawa
tersebut. Secara umum biosintesa dari terpenoid dengan terjadinya tiga reaksi dasar yaitu:
1. Pembentukan isopren aktif berasal dari asamasetat melalui asam mevalonat
2. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isoprenakan membentuk monoseskui-, di-, sesterdan poli-terpenoid.
3. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan
steroid
Berdasarkan mekanisme tersebut, maka senyawa terpenoid dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
1. Monoterpenoid
Monoterpenoid merupakan senyawa "essence" dan memiliki bau yang spesifik yang
dibangun oleh 2unit isopren atau dengan jumlah atom karbon 10.Lebih dari 1000 jenis
senyawa monoterpenoid telah diisolasi dari tumbuhan tingkat tinggi, binatanglaut, serangga
dan binatang jenis vertebrata dan struktur senyawanya telah diketahui.
Dalam setiap golongan, monoterpenoid dapat berupa hidrokarbon tak jenuh (misalnya
limonena)atau dapat mempunyai gugus fungsi dan berupa alkohol (misalnya mentol),
aldehida, atau keton(misalnya; menton, karvon).

2. Seskuiterpenoid
Seskuiterpenoid merupakan senyawa yang tersusun atas 15 atom C yang dibangun oleh 3
unit isopren. Senyawa seskuiterpenoid ini mempunyai bioaktivitas yang cukup
besar,diantaranya adalah sebagai antifeedant,hormon, antimikroba, antibiotik dan toksinserta
regulator pertumbuhan tanaman dan pemanis.
3. Diterpenoid
Senyawa diterpenoid merupakan senyawa yang mempunyai kerangka karbon C20 yang
berasal dari 4 unit isopren. Senyawa ini mempunyai bioaktivitas yang cukup luas yaitu
sebagai hormon pertumbuhan tanaman, podolakton inhibitor pertumbuhan tanaman,
antifeedant serangga, inhibitor tumor,senyawa pemanis, anti fouling dan anti karsinogen.
Senyawa ini ditemukan dalam damar, eksudat berupagom dan dalam fraksi bertitik didih
tinggi sepertidamar yang tersisa setelah penyulingan minyak atsiri.Misalnya, rosin yang
tersisa setelah penyulingan terpentin pinus kaya akan diterpenoid
4. Triterpen
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
(unit)isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik. Triterpenoid
tersebar luas dalam damar, gabus dan kutintumbuhan. Triterpenoid mempunyai rasa yang
sangat pahit terutama terdapat dalam tumbuhan Rutaceae, Meliceae dan Simaroubeaceae
seperti limonin dalam buah jeruk (digolongkan juga alkaloid karena rasa pahitnya) dan
kukurbitasin Didalam tumbuhan Cucurbitaceae dan diosgonin. Dalam bentuk getah
triterpenoid terdapat dalam tumbuhan Euphorbia
5. Tetraterpen
Tetraterpenoid yang paling dikenal adalah karotenoid-pigmen larut dalam lemak berwarna
kuning sampai merah terdapat pada semua tumbuhan dan dalam lemak berbagai jenis
jaringan. Pigmen hidrokarbon disebut karoten dan turunannya yang teroksigenasi disebut
xantofil.
8.3 Kegunaan Terpenoid
Kegunaan terpenoid bagi tumbuhan antara lain :
Fitoaleksin
Fitoaleksin adalah suatu senyawa anti-mikrobial yang dibiosintesis (dibuat) dan
diakumulasikan oleh tanaman setelah terjadiinfeksidarimikroorganisme patogen atau terpapar
senyawakimia tertentu dan radiasi dengan sinar UV.
Insect antifectan, repellant
Pertahanan tubuh dari herbifora
Feromon Hormon tumbuhan

ALKALOID
8.1 Definisi
Alkaloid merupakan sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan
heterosiklik dan terdapat di tumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal
dari hewan). Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan
antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid. Struktur alkaloid

8.2 Sifat- sifat Alkaloid


Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada adanya pasangan
elektron pada nitrogen.Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat
melepaskan elektron, sebagai contoh; gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen
naik.

Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari 1
atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5 atom N. Atom N ini dapat berupa amin
primer, sekunder maupun tertier yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya
tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya)
Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan
titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang
berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid
tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, species aromatik berwarna (contoh
berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid
hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudo alkalod dan protoalkaloid larut
dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air
8.4 Klasifikasi Alkaloid
Pada bagian yang memaparkan sejarah alkaloid, jelas kiranya bahwa alkaloid sebagai
kelompok senyawa, tidak diperoleh definisi tunggal tentang alkaloid. Sistem klasifikasi yang
diterima, menurut Hegnauer, alkaloid dikelompokkan sebagai (a) Alkaloid sesungguhnya,
(b)Protoalkaloid, dan (c) Pseudoalkaloid. Meskipun terdapat beberapa perkecualian.
(a) Alkaloid Sesungguhnya
Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas
phisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa; lazim mengandung Nitrogen
dalam cincin heterosiklik ; diturunkan dari asam amino ; biasanya terdapat aturan
tersebutadalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki
cincinheterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
(b) Protoalkaloid
Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam
amino tidak terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloid diperoleh berdasarkan
biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan
untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin, ephedin dan N,Ndimetiltriptamin.
(c) Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya
bersifat basa. Ada dua seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal
(contoh: konessin dan purin (kaffein)
Berdasarkan atom nitrogennya, alkaloid dibedakan atas:
A. Alkaloid dengan atom nitrogen heterosiklik
Dimana atom nitrogen terletak pada cincin karbonnya. Yang termasuk pada golongan ini
adalah :

1. Alkaloid Piridin-Piperidin
Mempunyai satu cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Yang termasuk dalam
kelas ini adalah : Conium maculatum dari famili Apiaceae dan Nicotiana tabacum dari famili
Solanaceae.
2. Alkaloid Tropan
Mengandung satu atom nitrogen dengan gugus metilnya (N-CH3). Alkaloid ini dapat
mempengaruhi sistem saraf pusat termasuk yang ada pada otak maupun sun-sum tulang
belakang. Yang termasuk dalam kelas ini adalah Atropa belladona yang digunakan sebagai
tetes mata untuk melebarkan pupil mata, berasal dari famili Solanaceae, Hyoscyamus niger,
Dubuisia hopwoodii, Datura dan Brugmansia spp, Mandragora officinarum, Alkaloid Kokain
dari Erythroxylum coca (Famili Erythroxylaceae)
3. Alkaloid Quinolin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen. Yang termasuk disini adalah
;Cinchona ledgeriana dari famili Rubiaceae, alkaloid quinin yang toxic terhadap Plasmodium
vivax
4. Alkaloid Isoquinolin
Mempunyai 2 cincin karbon mengandung 1 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada
famili Fabaceae termasuk Lupines (Lupinus spp), Spartium junceum, Cytisus scoparius dan
Sophora secondiflora
5. Alkaloid Indol
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 cincin indol . Ditemukan pada alkaloid ergine
dan psilocybin, alkaloid reserpin dari Rauvolfia serpentine, alkaloid vinblastin dan vinkristin
dari Catharanthus roseus famili Apocynaceae yang sangat efektif pada pengobatan
kemoterapy untuk penyakit Leukimia dan Hodgkins.
6. Alkaloid Imidazol
Berupa cincin karbon mengandung 2 atom nitrogen. Alkaloid ini ditemukan pada
famili Rutaceae. Contohnya; Jaborandi paragua.
7. Alkaloid Lupinan
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 1 atom N, alkaloid ini ditemukan pada Lunpinus
luteus (fam : Leguminocaea).
8. Alkaloid Steroid
Mengandung 2 cincin karbon dengan 1 atom nitrogen dan 1 rangka steroid yang
mengandung 4 cincin karbon. Banyak ditemukan pada famili Solanaceae, Zigadenus
venenosus.

9. Alkaloid Amina
Golongan ini tidak mengandung N heterosiklik. Banyak yang merupakan tutrunan
sederhana dari feniletilamin dan senyawa-senyawa turunan dari asam amino fenilalanin atau
tirosin, alkaloid ini ditemukan pada tumbuhan Ephedra sinica (famili Gnetaceae)
10. Alkaloid Purin
Mempunyai 2 cincin karbon dengan 4 atom nitrogen. Banyak ditemukan pada kopi
(Coffea arabica) famili Rubiaceae, dan Teh (Camellia sinensis) dari famili Theaceae, Ilex
paraguaricasis dari famili Aquifoliaceae, Paullunia cupana dari famili Sapindaceae, Cola
nitida dari famili Sterculiaceae dan Theobroma cacao.

B. Alkaloid tanpa atom nitrogen yang heterosilik


Dimana, atom nitrogen tidak terletak pada cincin karbon tetapi pada salah satu atom karbon
pada rantai samping.
1.Alkaloid Efedrin (alkaloid amine)
Mengandung 1 atau lebih cincin karbon dengan atom Nitrogen pada salah satu atom
karbon pada rantai samping. Termasuk Mescalin dari Lophophora williamsii, Trichocereus
pachanoi, Sophora secundiflora, Agave americana, Agave atrovirens, Ephedra sinica,
Cholchicum autumnale.
2.Alkaloid Capsaicin
Dari Chile peppers, genus Capsicum. Yaitu ; Capsicum pubescens, Capsicum
baccatum, Capsicum annuum, Capsicum frutescens, Capsicum chinense.

DAFTAR PUSTAKA

Harborne, J.B.1996.Metode Fitokimia.Edisi ke-2.ITB Bandung.Bandung..


Sintesis Flavonoid : Potensi Metabolit Sekunder Aromatik dari Sumber Daya Alam Nabati
Indonesia,Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Sudibyo, M., 1998, Alam Sumber Kesehatan: Manfaat dan Kegunaan, Jakarta: Balai Pustaka
Wikipedia.[Online] Available at: http://id.wikipedia.org/wiki/Flavonoid
September 2014]. Doloksaribu, R., 2009

[Diakses

23