Você está na página 1de 135

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA BAYI NY.

K
DENGAN BBLR DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR
MINGGU JAKARTA SELATAN TAHUN 2015

OLEH
FINA SOFIANA
130410012

PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KEBIDANAN SEKOLAH


TINGGI ILMU KESEHATAN BANTEN TANGERANG SELATAN
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Alhamdulillah Robbilalamin. Dengan mengucapkan puji syukur khadirat Illahi
Robbi karena atas rahmat dan Ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan Asuhan
Kebidanan Komprehensif pada Bayi Ny. K dengan BBLR di Puskesmas
Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan 2015 yang diajukan guna memenuhi
salah satu tugas pada Program Studi Diploma III kebidanan. Sholawat serta salam tak
lupa kita hanturkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Keluarga,
Sahabat dan umatnya yang selalu istiqomah dijalannya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Studi Kasus ini tidak
lepas dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan
banyak terimakasih kepada :
1. Dr. Resna A. Soerawidjaja, MScPH Direktur Akademi Kebidanan STIKES
Banten
2. Siti Dariyani, S.Pd., SST, MKM selaku Ketua Program Studi D3 Kebidanan
di Stikes Banten.
3. Drg. Susilowati selaku Kepala Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.
4. Hanny Desmiati, SST selaku pembimbing materi dan teknis yang telah
banyak memberikan bimbingan dalam penulisan Asuhan Kebidanan
Komprehensif ini.
5. Rosmawati Sebayang, Amd.Keb selaku CI Rumah Bersalin di Puskesmas
Kecamatan Pasar minggu, Bd. Erma Reswita, Bd. Dina Aruan, Bd. Husniyah
Idrus, Bd. Erlyanitha Madumaria, Bd. Ade Mardiana, Bd. Endang Sulastri,
Bd. Isharyani Marcella, Bd.Slyvia Megasari, Bd. Nur Annisa Farhana, Bd.
Deni Marisina. Bd. Lasma Pangaribuan selaku petugas dan Bidan di
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu yang telah membantu dan memberi

kesempatan kepada saya untuk dapat melakukan Asuhan Kebidanan


Komprehensif.
6. Bapak dan Ibu selaku orang yang ku sayangi dan ku jadikan Motivasi untuk
terus maju dan berjuang dalam menyelesaikan tugas ini, dan ucapan
terimkasih dari hatiku untuk sahabat-sahabatku yang selalu menghibur dan
memberikan dukungan semangat,
7. Ny. K dan Keluarga yang telah bersedia menjadi pasien komprehensif
sehingga studi kasus ini dapat terselesaikan.
Pada penulisan studi kasus ini penulis menyadari masih banyak kekurangan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Demikianlah studi kasus ini dibuat, semoga studi kasus ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya guna meningkatkan mutu
pelayanan melalui manajemen asuhan kebidanan yang komprehensif.

Tangerang, Februari 2016

Fina Sofiana

ii

DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI..

iii

DAFTAR TABEL..

vi

DAFTAR GAMBAR.....

vii

DAFTAR LAMPIRAN. viii


BAB I

PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan

1.

Tujuan Umum.. 2

2.

Tujuan Khusus.. 2

C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus.. 3


1.

Waktu Pengambilan Kasus 3

2.

Tempat Pengambilan Kasus.. 3

D. Gambaran Kasus. 4
BAB II

TINJAUAN TEORI... 6
A. Kehamilan..

1.

Definisi Kehamilan.. 6

2.

Perubahan Fisik Pada Kehamilan Trimester 3

3.

Asuhan Kebidanan Trimester 3 8

B. Persalinan 12
1.

Definisi Persalinan 12

2.

Tanda dan Gejala Persalinan. 12

3.

Mekanisme Persalinan Normal. 14

4.

Asuhan Kebidanan Pada Persalinan.. 16

iii

5.

AKDR Post Plasenta 25

6.

Partograf 26

C. Nifas 32
1.

Definisi Nifas... 32

2.

Perubahan Fisik dan Psikologis Pada Masa Nifas 32

3.

Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas 36

D. Neonatus. 41
1.

Definisi Neonatus. 41

2.

Perubahan Fisik Pada Neonatus 41

3.

Asuhan Kebidanan Pada Neonatus... 42

E. Bayi Berat Lahir Rendah.. 46


1.

Definisi BBLR... 46

2.

Klasifikasi.. 46

3.

Faktor Penyebab 47

4.

Penatalaksanaan BBLR. 49

F. Gambaran Lahan Praktek. 50

BAB III

1.

Gambaran Umum.. 50

2.

Visi, Misi dan Tujuan 51

3.

Struktur Organisasi 52

4.

Kegiatan KIA, KB dan RB 52

PERKEMBANGAN KASUS. 55
A. Kehamilan 55
1. Kunjungan Pertama.. 55
2. Kunjungan Kedua. 58
3. Kunjungan Ketiga. 59
4. Kunjungan Keempat. 60
B. Persalinan 61
1. Kala I 61

iv

2. Kala II... 63
3. Kala III.. 64
4. Kala IV.. 65
C. Nifas 66
1. Nifas 6-8 Jam 67
2. Nifas 6 Hari.. 68
3. Nifas 2 Minggu 69
4. Nifas 6 Minggu 70
D. Neonatus..... 72
1. Neonatus (Bayi Baru Lahir).. 72
2. Neonatus 6 Jam.. 74
3. Neonatus 6 Hari 75
4. Neonatus 2 Minggu.. 76
5. Bayi 1 Bulan 5 hari... 77
BAB IV

PEMBAHASAN KASUS.

79

A. Kehamilan..

79

B. Persalinan...

81

C. Neonatus.. 86
D. Nifas.... 89
BAB V

PENUTUP..

91

A. Simpulan. 91
B. Saran... 91
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Interval pemberian imunisasi TT..... 11

Tabel 2.2

Perubahan TFU post partum..........................................................

Tabel 3.1

Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu. 56

Tabel 3.2

Observasi HIS dan DJJ.... 63

33

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1

Halaman Depan Partograf... 30

Gambar 2.2

Halaman Belakang Partograf.. 31

Gambar 2.3

Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu 52

vii

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I

SURAT PERNYATAAN KLIEN

LAMPIRAN II

LEMBAR KONSULTASI PEMBIMBING AKADEMIK

LAMPIRAN III

SATUAN ACARA PENYULUHAN

LAMPIRAN IV

PARTOGRAF

viii

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil
normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 h a r i ) dihitung dari hari
pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 trimester kedua dari bulan
keempat sampai 6 bulan, trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan.
Kehamilan merupakan suatu perubahan dalam rangka melanjutkan keturunan
yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh di dalam rahim ibu.1)
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan
antenatal sekurang-kurangnya empat kali selama masa kehamilan, dengan
distribusi waktu minimal satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12
minggu), satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan dua
kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan).
Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan
terhadap ibu hamil dan atau janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan,
dan penanganan dini komplikasi kehamilan.
Berat Badan Lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir
kurang dari 2500 gram. Disebabkan oleh gizi ibu pada saat masa kehamilan.
Keadaan gizi ibu sebelum hamil, sangat besar pengaruhnya pada berat badan
bayi yang dilahirkan. Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan
sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan oleh ibunya.2)
Bayi dengan BBLR merupakan salah satu faktor risiko yang mempunyai
kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Bayi dengan
BBLR hingga saat ini masih merupakan masalah di seluruh dunia karena
penyebab kematian pada masa bayi baru lahir. Penyebab utama kematian
neonatal adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), sebanyak 29 % 2). Prevalensi

bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia
dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara berkembang atau
sosio-ekonomi rendah 2)
Upaya

penurunan

angka-angka

kematian

tersebut

adalah

dengan

menyediakan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas dan


dekat dengan masyarakat yang difokuskan pada tiga pesan kunci making
pregnancy safer yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih,
setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapatkan pelayanan yang adekuat.
Oleh karena itu tenaga kesehatan khususnya bidan menjadi faktor penting untuk
meningkatkan derajat kesehatan.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA BAYI NY.K DENGAN
BBLR DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU 2015

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan
neonatus.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengumpulkan data subjektif selama hamil, bersalin, nifas, dan
neonatus.
b. Mampu mengumpulkan data objektif selama hamil, bersalin, nifas, dan
neonatus.
c. Mampu melakukan analisis data (assesement) selama hamil, bersalin, nifas
dan neonatus.
d. Mampu melakukan pnatalaksanaan selama hamil, bersalin, nifas, dan
neonatus.
C. WAKTU DAN TEMPAT PENGAMBILAN KASUS

1. Waktu Pengambilan Kasus


Penyusun melaksanakan studi kasus ini sejak tanggal 21 Desember 2015
sampai Di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, dengan menerapkan asuhan
kebidanan komprehensif sebagai berikut :
a. 21 Desember 2015 : Kunjungan pemeriksaan antenatal care (ANC) ke-I.
b. 28 Desember 2015 : Kunjungan pemeriksaan antenatal care (ANC) ke-II.
c. 4 Januari 2016

: Kunjungan pemeriksaan antenatal care (ANC) ke-III.

d. 11 Januari 2016

: Kunjungan pemeriksaan antenatal care (ANC) ke-IV.

e. 18 Januari 2016

: Pertolongan Persalinan Normal dan Bayi Baru Lahir.

f. 18 Januari 2016

: Kunjungan nifas 6 jam dan neonatus.

g. 24 Januari 2016

: Kunjungan nifas 6 hari dan neonatus.

h. 1 Februari 2016

: Kunjungan nifas 2 minggu dan neonatus.

i. 23 Februari 2016

: Kunjungan nifas 6 minggu dan neonatus.

2. Tempat Pengambilan Kasus


a. Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, Jl. Kebagusan Raya No. 4 Jakarta
Selatan.

D. GAMBARAN KASUS
Pada kunjungan ANC pertama Penulis menemukan TFU kecil yaitu 25 cm
dengan TBJ 2015 gram pada Usia Kehamilan 35 mingggu 5 hari. Konseling makan
makanan yang manis dan berprotein tinggi seperti Es Krim, Jus Alpukat, dll.
Dilakukan pemeriksaan USG berat badan bayi 2400gram.
Pada Kunjungan Kedua ditemukan kenaikan berat badan yang signifikan yaitu
3kg, tetapi TFU masih 26cm. Lanjutkan konseling gizi pada ibu hamil. Pada
kunjungan ketiga dan keempat didapatkan kenaikan berat badan 1kg setiap
minggunya. TFU terakhir 28 cm dengan TBJ 2635 gram. Lanjutkan konseling gizi
dan persiapan persalinan serta KB.
Pada tanggal 18 Januari 2016 pukul 08.00 WIB Ny. K datang ke Puskesmas
dengan keluhan perut terasa mulas sejak pukul 00.00 WIB dan sudah keluar lendir
darah sejak pukul 06.00 WIB. Saat pemeriksaan dalam dilakukan dengan hasil vulva
vagina tidak ada kelainan, portio teraba tebal lunak pembukaan 3 cm, ketuban positif,
presentasi kepala, penurunan terendah hodge I, dan tidak ada molase. G2P1A0 hamil
39 minggu 4 hari inpartu kala I fase laten. Janin tunggal hidup intrauterin presentasi
kepala UUK kanan depan.Ibu dianjurkan untuk memenuhi nutrisi dan hidrasinya, ibu
meminum setengah gelas air isotonik.
Kala II, pada pukul 11.40 WIB, dilakukan pemeriksaan dalam kembali atas
indikasi ibu merasa mulas semakin sering dan kuat disertai ingin meneran. Hasil
pemeriksaan portio tidak teraba, pembukaan lengkap, ketuban negatif, dilakukan
amniotomi warna jernih, jumlah 50 cc, bau khas, tidak ada bagian terkecil janin
yang ikut turun, presentasi kepala, penurunan Hodge IV, ubun-ubun kecil di depan.
G2P1A0 hamil 39 minggu 4 hari partus kala II. Janin tunggal hidup presentasi kepala.
Pada pukul 11.56 WIB klien melahirkan bayinya secara spontan, jenis kelamin
perempuan, berat badan 2200 gram, panjang badan 47 cm, Lingkar kepala 33 cm,

lingkar dada 32 cm anus positif, dan cacat negatif. Neonatus cukup bulan kurang
masa kehamilan.
Kala III, dilakukan manajemen aktif kala III. Pukul 12.00 WIB plasenta lahir
spontan, lengkap. Dilakukan pemasangan KB IUD CU 380 A/8tahun post plasenta.
P2A0 partus kala III. Ibu diajarkan cara masase agar kontraksi uterus menjadi baik, ibu
melakukan masase dan kontraksi baik.
Kala IV, melakukan pemeriksaan laserasi dengan melihat adanya robekan pada
perineum,terlihat adanya robekan di mukosa vagina dan kulit perineum (grade I).
Kala IV berjalan normal dengan keadaan ibu baik. P2A0 partus kala IV. Ibu diberikan
dukungan untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.
Pada nifas 6 jam tidak ditemukan adanya indikasi komplikasi.Ibu mengatakan masih
merasa mulas. Keadaan umum ibu semakin membaik.
Pada neonatus 6 jam bayi ibu Ny. K sudah dalam inkubator. Dan dilakukan observasi
TTV setiap jam.
Pada tanggal 24 Januari 2016 dilakukan kunjungan nifas dan neonatus 6 hari. Ibu
mengatakan tidak ada keluhan. Keadaan bayi baik dan menyusu kuat berat bayi sudah
2600gram.
Pada tanggal 1 Februari 2016 kunjungan nifas dan neonatus 2 minggu. Ibu hanya
memberikan ASI pada bayinya. Berat bayi sudah 3000gram. Ibu dianjurkan untuk
melakukan imunisasi BCG pada bayinya pada saat bayi berumur 1 bulan. Ibu
mengerti Dan menyepakati untuk kunjungan ulang beserta KB pada 23 Februari
2016.
Pada tanggal 23 Februari kunjungan nifas dan neonatus 6 minggu. Ibu masih
hanya memberikan ASI pada bayinya. Berat bayi sudah 4000gram. Bayi sudah di
Imunisasi BCG. Pemeriksaan KB; IUD Tidak ada keluhan, pemeriksaan dengan
spekulum benang positif, tidak ada erosi, tidak ada Fluor Albus, dilakukan test IVA
hasil negatif.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A.

KEHAMILAN
1. Definisi Kehamilan
Kehamilan

didefinisikan

sebagai

fertilisasi

atau

penyatuan

spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

dari

1)

2. Perubahan Fisik Pada Kehamilan Trimester III


a. Sistem Reproduksi
1). Uterus
Pada trimester III ithmus lebih nyata menjadi bagian korpus uteri dan
berkembang menjadi segmen bawah rahim (SBR).SBR menjadi lebih
lebar dan tipis, tampak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih
tebal dan segmen bawah yang lebih tipis.Batas itu dikenal sebagai
lingkaran retraksi fisiologis dinding uterus, diatas lingkaran ini jauh lebih
tebal daripada dinding SBR.
a) 28 minggu : fundus uteri terletak kira kira tiga jari diatas pusat atau
1/3 jarak pusat ke prosesus xifoideus (25 cm).
b) 32 minggu : fundus uteri terletak kira kira antara jarak pusat dan
prosesus xifoideus (27 cm).
c) 36 minggu : fundus uteri kira kira 1 jari di bawah prosesus xifoideus
(30 cm).
d) 40 minggu : fundus uteri terletak kira kira 3 jari di bawah prosesus
xifoideus (33 cm).
Setelah minggu ke-28 kontraksi braxton hicks semakin jelas, terutama
pada wanita yang langsing. Pada minggu-minggu terakhir kehamilan
kontraksi semakin kuat sehingga sulit dibedakan dari kontraksi untuk
memulai persalinan. 1)

2) Vagina
Vagina mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh
estrogen sehingga makin merah kebiru-biruan / tanda Chadwick.1)
3) Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan mengalami perubahan karena hormon
estrogen. Jika corpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka
serviks lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10 % jaringan
otot.1)
4) Ovarium (Indung telur)
Pada permulaan kehamilan masih terdapat corpus luteum gravidarum
sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu.
Corpus luteum gravidarum berdiameter kira-kira 3 cm, kemudian
mengecil setelah plasenta terbentuk. Corpus luteum mengeluarkan
hormon estrogen dan progesteron.1)
5) Mammae (Payudara)
Mammae

akan

membesar

dan

estrogen

dan

somatomammotropin,

tegang

akibat

progesteron,

tetapi

hormon
belum

mengeluarkan air susu. Papilla mammae akan membesar, lebih tegak dan
tampak

lebih

hitam

seperti

seluruh

areola

mammae

karena

hiperpigmentasi. Pada kehamilan diatas 12 minggu puting susu dapat


mengeluarkan colostrum.1)
b.Sistem Respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh
tentang rasa sesak dan pendek nafas. Ini ditemukan pada kehamilan 32
minggu ke atas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar
kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak.1)

c.Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus
yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Pada akhir
kehamilan bila kepala janin mulai turun kebawah pintu atas panggul,
keluhan sering kencing timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan
kembali.1)
d.Traktus Digestivus
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek atau nausea
akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tidak jarang dijumpai pada
bulan-bulan pertama kehamilan gejala muntah (emesis), biasanya akan
terjadi pada pagi hari, dikenal sebagai morning sickness. Emesis bila
terlampau sering dan terlampau banyak dikeluarkan disebut hiperemesis
gravidarum, keadaan ini patologi. 1)
e. Metabolisme
Pada wanita hamil basal metabolisme rate atau BMR meningkat, sistem
endokrin juga meningkat. BMR meningkat hingga 15-20% yang umumnya
ditemukan pada trimester terakhir. Berat badan wanita hamil akan naik
kira-kira 6,5-16,5 kg atau rata-rata 12,5 kg. 1)
3. Asuhan Kebidanan Trimester 3
Trimester ketiga sering disebut sebagai periode penantian. Pada periode ini
wanita menanti kehadiran bayinya sebagai bagian dari dirinya, dia menjadi tiak
sabar untuk segera melihat bayinya. Ada perasaan tidak menyenangkan ketika
bayinya tidak lahir tepat pada waktunya, fakta yang menempatkan wanita tersebut
gelisah dan hanya bisa melihat dan menunggu tanda-tanda gejalanya.
Trimester adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan
sebagai orang tua, seperti terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi. Wanita
tersebut akan berusaha melindungi bayinya, dengan menghindari kerumunan atau
seseorang yang di anggap membahayakan. Memilih nama adalah aktivitas yang

dilakukan seperti mencari buku yang berisi namanama atau mengikuti


penyuluhan kesehatan yang berkaitan dalam rangka mempersiapkan kelahiran dan
kesiapan menjadi orang tua, membuat atau membeli pakaian bayi, mengatur
ruangan dan banyak hal yang di berikan untuk merawat bayinya.
Sejumlah

ketakutan

terlihat

selama

trimester

seperti

mimpinya

mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya, dia lebih sering bermimpi tentang


bayinya, anakanak, persalinan, dan kehilangan bayinya. Ibu mulai merasa takut
akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak
nyaman timbul karena perubahan body image yaitu merasa dirinya aneh dan jelek,
canggung, tidak rapih, dia membutuhkan perhatian yang lebih besar dari pasangan
serta membutuhkan dukungan dari keluarga. Pada trimester 3, hasrat seksual tidak
setinggi pada trimester kedua karena abdomen menjadi sebuah penghalang.3)
a. Asuhan yang diberikan pada Ibu Trimester III adalah sebagai berikut :
1)

Pemantauan penambahan berat badan berdasarkan pada IMT ibu

2)

Pemeriksaan tekanan darah

3)

Pemeriksaan tinggi fundus dan penentuan berat badan janin

4)

Penentuan letak janin dengan palpasi abdominal

5)

Melakukan pemeriksaan denyut jantung janin

6)

Deteksi terhadap masalah psikologis dan berikan dukungan selama


kehamilan

7)

Kebutuhan exercise ibu yaitu senam hamil

8)

Deteksi pertumbuhan janin terhambat baik dengan pemeriksaan palpasi

9)

Mengurangi keluhan akibat ketidaknyamanan yang terjadi pada


trimester III

10)

Deteksi dini komplikasi yang terjadi pada trimester III dan melakukan
tindakan kolaborasi dan atau rujukan secara tepat

11)

Melibatkan keluarga dalam setiap asuhan

12)

Persiapan laktasi

13)

Persiapan persalinan

14)

Melakukan kolaborasi pemeriksaan USG jika ditemukan kemungkinan


kelainan letak janin, letak plasenta atau penurunan kesejahteraan janin

15)

Lakukan rujukan jika ditemukan tanda-tanda patologi pada trimester III

b. Pelayanan atau asuhan standar 10 T


1)

Timbang berat badan dan ukur tinggi badan


Kegiatan ini sangat penting dilakukan, terutama saat pertama kali
pemeriksaan, untuk mengetahui kenaikan berat badan ibu selama
hamil. Semakin besar kehamilan janin yang dikandung ibu seharusnya
juga semakin tumbuh dan berkembang secara normal tanpa hambatan
dengan demikian berat badan ibu akan bertambah dari sebelumnya.
Biasanya kenaikan berat badan ibu hamil yang normal berkisar 6,5 kg
16,5 kg.

2)

Ukur Tekanan darah


Tekanan darah ibu hamil harus dalam batas normal (antara 110/70
mmHg sampai 120/80 mmHg) Apabila terjadi kenaikan tekanan darah
(hipertensi) atau penurunan tekanan darah (hipotensi), hal tersebut
perlu diwaspadai karenan dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin
apabila tidak ditangani secara dini.

3)

Nilai sTatus gizi (Ukur Lengan Atas)

4)

Ukur Tinggi Fundus Uteri


Dengan mengukur tinggi fundus uteri dapat diketahui berapa usia
kehamilan ibu, taksiran berat janin, serta taksiran hari persalinan.

5)

Tentukan presentasi janin dan Denyut Jantung Janin (DJJ)

6)

Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT) lengkap


Untuk melindungi janin yang akan dilahirkan terhadap tetanus

neonaturum diberikan suntikan tetanus toxoid (TT) pada ibu hamil.2)

10

Tabel 2.1
Interval pemberian imunisasi TT menurut10)
Antigen

Interval (selang

Lama

waktu minimal)

perlindungan

perlindungan

3 tahun

80

5 tahun

95

10 tahun

99

Pada kunjungan
TT1

Antenatal
pertama

TT2

TT3

TT4

TT5

7)

minggu

setelah TT1
6 bulan setelah
TT2
1 Tahun setelah
TT3
1 Tahun setelah

25

tahun

TT4

seumur hidup

99

Pemberian Tablet Zat Besi minimal 90 tablet selama kehamilan


Wanita dalam masa kehamilannya memerlukan tambahan zat
besi sekitar 800 mg. Ketidakcukupan kadar Fe dalam tubuh akan
menyebabkan kekurangan Hb dalam darah yang diperlukan untuk
membawa oksigen pada janin dari sel ibu hamil. Saat trimester
pertama kehamilan suplemen zat besi tidak perlu diberikan untuk
menghindari resiko mual dan muntah yang bertambah berat.
Kebutuhan Fe yang paling besar pada trimester akhir saat janin
menyimpan Fe sebagai cadangan dalam tubuhnya yang akan
digunakan pada enam bulan pertama. Hal tersebut terjadi karena ASI
tidak begitu kaya akan Fe. Meminum tablet zat besi harus diminum
dengan air putih atau jus jeruk, agar penyerapannya lebih efektif.

11

8)

Tes Laboratorium (rutin dan khusus)


Tes PMS pada ibu hamil sangat penting dilakukan. Bagi ibu
hamil keputihan dalam masa kehamilan adalah normal tetapi apabila
keputihan tersebut merupakan indikasi dari PMS maka harus segera
diobati karena dapat membahayakan janin yang dikandungnya. Akibat
dari PMS terhadap bayi antara lain akan menyebabkan partus
presipitatus, konjungtivitas, bahkan kematian janin.

9)

Tatalaksana Kasus
Melakukan asuhan yang telah direncanakan dan disetujui oleh
pasien guna mensejahterakan kesehatan ibu maupun janin.

10)

Temu Wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan

Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.2)

B. PERSALINAN
1. Definisi
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung dalam waktu 18-24 jam tanpa komplikasi
baik ibu maupun janin.6)
Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu. Persalinan di anggap normal jika prosesnya terjadi pada usia
kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai penyulit. Persalinan
dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada
serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara
lengkap. Ibu belum dapat di kategorikan inpartu jika kontraksi uterus tidak
mengakibatkan perubahan atau pembukaan serviks.5)

12

2. Tanda dan Gejala Persalinan


a. Tanda permulaan persalinan
1) Lightening atau setting atau droping yaitu kepala turun memasuki pintu
atas panggul terutama pada primi, pada multi tidak terlalu terlihat.
2) Perut terlihat terlalu melebar, fundus uteri turun.
3) Perasaan berkemih atau sulit berkemih karena kandung kemih tertekan
oleh bagian terbawah janin.
4) Perasaan sakit diperut atau dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi
lemah dari uterus.
5) Serviks menjadi lembek mendatar dan sekresinya bertambah dan
bercampur darah.
b.

Tanda tanda persalinan


Untuk rasa sakit yang dirasakan oleh wanita pada saat menghadapi
persalinan berbeda-beda tergantung dari ambang rasa sakitnya, akan tetapi
secara umum wanita yang akan mendekati persalinan akan merasakan:
1) Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak yang semakin
pendek.
2) Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan robekan kecil pada serviks.
3) Pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks :
a) Perlunakan serviks.
b) Pendataran serviks.
c) Terjadinya pembukaan serviks
Tanda dan gejala persalinan dapat dibagi menjadi beberapa,yaitu :
1) Kala I
a) Penipisan dan pembukaan serviks
b) His sudah teratur dan frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit
c) Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah.

13

2) Kala II
a) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
b) Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum / vagina
c) Perineum menonjol
d) Vulva dan anus membuka
e) Meningkatnya pengeluaran lendir
3) Kala III
a) Perubahan bentuk dan tinggi fundus
b) Tali pusat memanjang
c) Semburan darah mendadak dan singkat
4) Kala IV
Tingginya fundus uteri 2 jari dibawah pusat
3. Mekanisme Persalinan Normal
Mekanisme persalinan mengacu kepada bagaimana janin menyesuaikan dan
masuk ke panggul ibu yang meliputi gerakan:
a. Engagement
Engagement pada primigravida terjadi pada bulan terakhir kehamilan,
sedangkan pada multigravida dapat terjadi pada awal persalinan. Engagement
adalah peristiwa ketika diameter biparietal melewati pintu atas panggul
dengan sutura sagitalis melintang / oblik didalam jalan lahir dan sedikit
fleksi.6)
b. Fleksi
Gerakan fleksi disebabkan karena janin terus didorong maju tetapi kepala
janin terhambat oleh serviks, dinding panggul atau dasar panggul.Pada kepala
janin, dengan adanya fleksi maka diameter oksipitofrontalis 12 cm berubah
menjadi suboksipitobregmatika 9 cm. posisi dagu bergeser kearah dada
janin.4)
c. Putaran paksi dalam (Rotasi Internal)

14

Rotasi dalam atau putaran paksi dalam adalah pemutaran bagian terendah
janin dari posisi sebelumnya kearah depan sampai dibawah simpisis. Gerakan
ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan dengan bentuk jalan lahir
yaitu bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Rotasi ini terjadi setelah
kepala melewati hodge III (setinggi spina) atau setelah didasar panggul. Pada
pemeriksaan dalam ubun- ubun kecil mengarah ke jam 12.4)
d. Ekstensi
Penyebab dikarenakan sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan dan ke atas, sehingga kepala menyesuaikan dengan cara
ekstensi agar dapat melaluinya. Pada saat itu ada dua gaya yang
mempengaruhi, yaitu :
1) Gaya dorong dari fundus uteri kearah belakang
2) Tahanan dasar panggul dan simpisis kearah depan.
Hasil kerja dari dua gaya tersebut mendorong ke vulva dan terjadilah
ekstensi. Maka berangsurangsur lahirlah ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar,
dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Pada saat kepala sudah lahir seluruhnya,
dagu bayi berada di atas anus ibu.4)
e. Putaran paksi luar (Rotasi Eksternal)
Terjadinya gerakan rotasi luar atau putar paksi luar dipengaruhi oleh
faktor-faktor panggul, sama seperti pada rotasi dalam.4)
f. Ekspulsi
Setelah

terjadinya

rotasi

luar,

bahu

depan

berfungsi

sebagai

hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah kedua bahu


lahir disusul lahirlah trochanter depan dan belakang sampai lahir janin
seluruhnya. Gerakan

kelahiran bahu depan, bahu

belakang, badan

seluruhnya.4)

15

4. Asuhan Kebidanan Pada Persalinan


Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama
persalinan dan setelah bayi lahir,serta upaya pencegahan komplikasi terutama
perdarahan pasca persalinan, hipoterma, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara
itu, fokus utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan
suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi
menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan
mengurangi kesakitan dan kemtian ibu serta bayi baru lahir. Penyesuaian ini
sangat penting dalam upanya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru
lahir. Hal ini dikarenakan sebagian bersalinan di Indonesia masih terjadi di
tingkat pelayanan kesehatan primer dengan penguasaan keterampilan dan
pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum
memadai.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup
dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui
berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi.
a. Melihat tanda dan gejala kala II
1) Mengamati tanda dan gejala persalinan kala II : ibu mempunyai
keinginan untuk meneran, ibu merasa tekanan yang semakin meningkat
pada rektum dan atau vaginanya, perineum menonjol, vulva-vagina
sfingter ani membuka.
b. Menyiapkan Pertolongan persalinan
2) Memastikan

perlengkapan,

bahan,

dan

obat-obatan

esensialsiap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkantabung


suntik steril sekali pakai didalam partus set.
3) Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.

16

4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku, mencuci


kedua

tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan

mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribadi yang bersih.


5) Memakai satu sarung tangan dengan DTT atau steril untuk semua
pemeriksaan dalam.
6) Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai
sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakan kembali
di partus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau steril tanpa
mengontaminasi tabung suntik.
c. Memastikan pembukaan lengkap dengan janin baik
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari
depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah
dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum, atau
anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan cara
menyeka dari depan kebelakang.
8) Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan bahwa pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5 % dan
kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya di
dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit,mencuci kedua tangan (seperti
diatas).
10) Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk
memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100 180 kali/menit).
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan
semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainya pada partograf.
c)

17

d. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu prosesmeneran


11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan
keinginannya.
a) Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin
sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan
temuan-temuan.
b) Menjelaskan kepada anggota keluarga bagimana mereka dapat
mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai
meneran.
12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
(pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia
merasa nyaman).
13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat
untuk meneran.
a) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk
meneran.
b) Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai dengan
pilihannya (tidak meminta ibu berbaring telentang).
d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
e) Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat
pada ibu.
f) Menganjurkan asupan cairan per oral.
g) Menilai DJJ setiap lima menit.
h) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera
dalam waktu 120 menit (2jam) meneran untuk ibu primipara atau 60

18

menit (1jam) untuk ibu multipara, merujuk segera. Jika ibu tidak
mempunyai keinginan untuk meneran.
i) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi
yang aman. Jika belum ingin meneran dalam 60 menit, anjurkan ibu
untuk mulai meneran pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut di
antara kontraksi.
j) Jika bayi belum lahir atu kelahiran bayi belum terjadi segera setelah 60
menit meneran, merujuk ibu dengan segera.
e. Persiapan pertolongan kelahiran bayi
14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakan
handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkannya.
15) Meletakan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
16) Membuka partus set.
17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
f. Menolong Kelahiran Bayi
18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5 6 cm, lindungi
perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakan tangan yang
lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak
menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan.
Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat
kepala lahir.
19) Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau
kasa yang bersih. (langkah ini tidak harus dilakukan).
20) Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal
itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :
a) Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat
bagian atas kepala bayi.

19

b) Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua
tempat dan memotongnya.
21) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan.
22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan
dimasing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat
kontaksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke
arah luar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian
dengan lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar melahirkan bahu
posterior.
23) Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi
yang berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan
lengan posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku
dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah
untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.Menggunakan tangan anterior
(bagian atas) untuk mengendalikan siku dantangan anterior bayi saat
keduanya lahir.
24) Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas
(anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat
punggung kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati
membantu kelahiran bayi.
g. Penanganan Bayi Baru lahir
25) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian meletakan bayi di
atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya
(bila tali pusat terletak pendek, meletakan bayi di tempat yang
memungkinkan). Bila bayi mengalami asfiksia, lakukan resusitasi.

20

26) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan biarkan
kontak kulit ibu bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin /i.m. (lihat
keterangan dibawah).
27) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.
Melakukan urutan

pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan

memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (kerah ibu).


28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting
dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
29) Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi
dengan kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala,
membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas,
ambil tindakan yang sesuai.
30) Memberikan bayi kepada ibu dan menganjurkan ibu untuk memeluk
bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
31) Meletakan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen
untuk menghilangkan kemungkinan adanya janin kedua.
32) Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik.
33) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntik oksitosin 10
IU secara I.M. di 1/3 paha kanan ibu bagian luar, setelah mengaspirasinya
terlebih dahulu.
34) Memindahkan klem pada tali pusat.
35) Meletakan satu tangan di atas kain yag ada di perut ibu, tepat di atas
tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi
kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan
tangan lain.
36) Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan peregangan ke
arah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang
berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus

21

kearah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hati-hati untuk membantu
mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40
detik, hentikan peregangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi
berikut mulai.
a) Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang keluarga
untuk melakukan rangsangan puting susu.
37) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali
pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurva jalan
lahirsambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.
a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak
sekitar 5 10 cm dari vulva.
b) Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan peregangan tali pusat
selama 15 menit :
c) Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit I.M.
d) Menilai kandung kemih dan dilakukan kateterisasi kandung kemih
dengan menggunakan teknik aseptik jika perlu.
e) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
f) Mengulangi peregangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
g) Merujuk ibu jika plasenta tidak terlahir dalam waktu 30 menit sejak
kelahiran bayi.
38) Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta
dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta hingga selaput
ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan melahirkan selaput ketuban
tersebut
a) Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan desinfeksi tingkat
tinggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan
seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau forseps

22

desinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan bagian selaput


yang tertinggal.
39) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus,
meletakan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
menjadi keras).
h. Menilai Perdarahan
40) Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin
dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa plasenta dan selaput
ketuban lengkap dan utuh.
a) Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama5 detik
segera mengambil tindakan yang sesuai.
41) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dari perineum dan segera
menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
i. Melakukan Prosedur Pasca Persalinan
42) Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
43) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5 % membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan
tersebut dengan air disinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya dengan
kain yang bersih dan kering.
44) Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau
mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling
tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
45) Mengikat satu lagi simpul mati di bagian pusat yang berseberangan
dengan simpul mati yang pertama.
46) Melepaskan klem bedah dan meletaknya ke dalam larutan klorin 0,5 %.
47) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan
handuk atau kainnya bersih atau kering.

23

48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.


j. Evaluasi
49) Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :
a) 2 3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.
b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.
c) Setiap 20 30 menit pada jam kedua pascapersalinan.
d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, laksanakan perawatan yang
sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.
e) Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan
penjahitan dengan anastesi lokal dan menggunakan teknik yang sesuai.
50) Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan
memeriksa kontraksi uterus.
51) Mengevaluasi kehilangan darah.
52) Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15
menit selama satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit
selama jam kedua pascapersalinan.
a) Memeriksa temperatur tubuh ibu sesekali setiap jam selama dua jam
pertama pascapersalinan.
b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
53) Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5 % untuk
dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah
dekontaminasi.
54) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah
yang sesuai.
55) Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi.
Membersihkan cairan ketuban, lendir, dan darah. Membantu ibu memakai
pakaian yang bersih dan kering.

24

56) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI.


Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan
yang diinginkan.
57) Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan
larutan klorin 0,5 % dan membilas dengan air bersih.
58) Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan clorin 0,5 %,
membalikan bagian dalam keluar dan merendamnya dalam larutan clorin
0,5 % selama 10 menit.
59) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
k. Dokumentasi
60) Melengkapi Partograf.1)

5. AKDR POST PLASENTA


Dengan adanya cara efektif baru yaitu insersi AKDR Post-Plasenta mungkin
mempunyai harapan dan kesempatan bagi banyak ibu yang tak ingin hamil lagi. Di
Indonesia karena kesulitan hidup tinggi (30% miskin) maka teknologi ini perlu
ditawarkan.

Klien

hendaknya

mendapat

konseling

sebelum

persalinan.

Pemasangan AKDR juga dapat dilakukan pada saat seksio sesarea. Peningkatan
pengguna AKDR akan mengurangi kehamilan yang tidak diinginkan dimasa
depan, sehingga akan mengurangi angka kematian ibu di Indonesia.19)
a. Efektifitas
1) AKDR Post-plasenta telah dibuktikan tidak menambah infeksi,
perforasi dan perdarahan.
2) Diakui bahwa ekspulsi lebih tinggi (6-10%) dan ini harus disadari oleh
klien.
3) Kemampuan penolong meletakkan di fundus amat memperkecil resiko
ekspulsi. Oleh karena itu butuh pelatihan.

25

4) Kontraindikasi pemasangan AKDR Post-Plasenta adalah perdarahan


post partun.
b. Teknologi
1) AKDR umumnya jenis Cu-T dimasukkan ke dalam fundus uteri dalam
10 menit setelah plasenta lahir. Penolong telah menjepit AKDR
diujung jari tengah dan telunjuk yang selanjutnya menyusuri sampai
ke fundus.
2) Pastikan bahwa AKDR diletakkan dengan benar di fundus. Tangan
kiiri penolong memegang fundus dan menekan ke bawah. Jangan lupa
memotong benang AKDR sepanjang 6cm sebelum insersi.19)
c. Pemantauan
Klien hendaknya diberikan pendidikan mengenai manfaat dan resiko
AKDR. Bila terjadi ekspulsi AKDR dapat kembali dipasang. Pemeriksaan
AKDR dapat dilakukan setiap tahun atau bila terdapat keluhan. (nyeri,
perdarahan, demam dsb)19)

6. Partograf
a. Definisi Partograf
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu
persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik.5)
b. Tujuan Utama Partograf
Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah :
1) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai
pembukaan serviks melalui periksa dalam.
2) Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan
demikian juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya
partus lama.

26

3) Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, bayi,


grafik kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang
diberikan, pemeriksaan laboratorium, membuat keputusan klinik dan
asuhan atau tindakan yang diberikan dimana semua itu dicatatkan secara
rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan bayi baru lahir.
c. Manfaat Partograf
Jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan membantu
penolong persalinan untuk :
1) Mencatat kemajuan persalinan.
2) Mencatat kondisi ibu dan janinnya.
3) Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.
4) Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini penyulit
persalinan.
5) Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan klinik
yang sesuai.
d. Waktu Pemantauan
Kondisi ibu dan bayi yang harus dinilai dan dicatat dengan seksama yaitu
1) Denyut jantung janin : setiap jam
2) Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus : setiap jam
3) Nadi : setiap jam
4) Pembukaan serviks : setiap 4 jam
5) Penurunan bagian terbawah janin : setiap 4 jam
6) Tekanan darah dan temperatur tubuh : setiap 4 jam
7) Produksi urin, aseton dan protein : setiap 2 4 jam .
e.

Pendokumentasian
Petugas harus mencatat kondisi ibu dan bayi sebagai berikut
1) Denyut jantung janin, diperiksa setiap jam
2) Air ketuban, catat air ketuban setiap pemeriksaan vagina

27

a) U

: Selaput ketuban masih utuh (belum pecah)

b) J

: Selaput ketuban sudah pecah dan air ketubanjernih

c) M :Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur


meconium
d) K :Selaput ketuban sudah pecah tapi air ketuban tidak mengalir lagi
(kering)
3) Penyusupan tulang kepala janin (molase)
a) 0 :Sutura terpisah
b) 1 :Tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
c) 2 :Tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapimasih dapat
dipisahkan
d) 3: Tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat
dipisahkan
4) Pembukaan mulut rahim (serviks) dinilai setiap 4 jam dan diberikan tanda
silang (x)
5) Penurunan : mengacu pada bagian kepala (dibagian 5 bagian) yang teraba
pada pemeriksaan abdomen/luar diatas simpisis pubis. Catat dengan
lingkaran (O) pada setiap pemeriksaan dalam
6) Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus : setiap jam
a)

: Kurang dari 20 detik

b)

: Antara 20 dan 40 detik

c)

: Lebih dari 40 detik

7) Obat-obatan dan cairan yang diberikan seperti oksitosin jika memakai


oksitosin catat setiap 30 menit jumlah unit oksitosi yang diberikan per
volume cairan infus dan dalam tetesan per menit, serta obat serta cairan
IV
8) Nadi catatlah setiap jam, diberi tanda ()

28

9) Tekanan darah dan temperatur tubuh setiap 4 jam


10)

Produksi urin, aseton dan protein catac setiap kali berkemih. Jika

temuan-temuan melintasi ke arah kanan dari garis waspada, petugas


kesehatan harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan
segera mencari rujukan yang tepat. (Saifudin, 2006).

29

Gambar 2.1 Halaman Depan Partograf

30

Gambar 2.2 Halaman Belakang Partograf

31

C. NIFAS
1. Definisi
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau
waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam
minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang
berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan
lain sebagainya berkaitan saat melahirkan.6)
2. Perubahan Fisik dan Psikologis Pada Nifas
a. Perubahan Fisik
1. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Involusi
Involusi uterus adalah kembalinya uterus ke kesadaan sebelum hamil
baik dalam bentuk maupun posisi. Selain uterus, vagina, ligament uterus
dan otot dasar panggul juga kembali ke keadaan sebelum hamil.7)
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
a) Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot
uterine.
b) Atrofi jaringan:
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam jumlah
besar kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian
produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta.
c) Efek Oksitosin (Kontraksi)
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah
bayi lahir. Hormon Oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis
memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh
darah dan membantu proses hemostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterin
akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu

32

mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta serta mengurangi


perdarahan.
Menurut

6)

Mengenai tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut

masa involusi sebagai berikut:

Tabel 2.2
Perubahan TFU post partum
Involusi

Tinggu fundus uteri

Berat uterus

Bayi lahir

Setinggi pusat

1000 gram

Pelasenta lahir

Dua jari bawah pusat

750 gram

1 minggu

Pertengahan pusat

500 gram

syimphisis
2 minggu

Tak teraba di atas

350 gram

syimhpisis
6 minggu

Bertambah kecil

50 gram

8 minggu

Sebesar normal

30 gram

Disamping itu, dari cavum uteri keluar cairan secret di sebut lochia. Lochia
adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Ada beberapa jenis lochia
yaitu:
a)

Lochia rubra (Cruenta) berisi darah segar dan sisa selaput ketuban,

selama 2 ha ri pasca persalinan.


b)

Lochia sanguinolenta warnanya merah kuning berisi darah segar dan

lender. Ini terjadi pada hari ke 4-7 pasca persalinan.


c)

Lochia serosa berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada

hari ke7-14 pasca persalinan.


d)

Lochia alba cairan putih yang terjadi pada hari setelah 2 minggu.

33

e)

Lochia purulenta adalah Lochia apabila terjadi infeksi, keluarnya

cairan seperti nanah berbau busuk.


f)
2)

Lochiotosis lochia tidak lancar keluarnya9)

Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama dengan uterus. Warna serviks
sendiri makin kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Konsistensi
lunak karena dilatasi. Muara serviks yang berdilatasi 10 cm pada waktu
persalinan, menutup secara bertahap. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa
masuk ke rongga rahim, setelah 2 jam dapat dimasuki 2-3 jari, pada minggu
ke 6 postpartum servik menutup.

3)

Ovarium dan Tuba Fallopi


Setelah kelahiran plasenta, produksi estrogen dan progesteron menurun,
sehingga menimbulkan mekanisme timbal balik dari silus menstruasi. Dimana
dimulainya kembali proses ovulasi sehingga wanita bisa hamil kembali.

4)

Vulva dan Vagina


Vulva dan Vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat
besar selama proses persalinan dan akan kembali secara bertahap dalam 6-8
minggu postpartum. Penurunan hormon estrogen pada masa postpartum
berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Rugae akan
terlihat kembali pada sekitar minggu ke 4.

2. Perubahan Pada Sistem Pencernaan


Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan hal ini umumnya
disebabakan karena makanan padat dan kurangnya berserat selama persalinan.
Disamping itu rasa takut untuk buang air kecil, sehubungan dengan luka
jahitan perineum, jangan sampai lepas dan takut akan rasa nyeri. Buang air
besar harus dilakukan 3-4 setelah persalinan.6)
3. Perubahan Sistem Perkemihan

34

Saluran kencing akan kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 hari,


tergantung pada keadaan atau status sebelum persalinan. Lamanya partus kala
2 besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan.
4. Perubahan Tanda-Tanda Vital Pada Masa Nifas
a. Suhu Badan
24 jam postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5oC-38oC) sebagai
akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan,
apabila keadaan normal suhu badan akan biasa lagi. [ada hari ketiga suhu
badan akan naik kembali karena pembentukan ASI. Dianggap nifas
terganggu jika suhu badan lebih dari 38oC.
b. Denyut Nadi
Denyut nadi normal adalah 60-100 kali permenit. Sehabis melahirkan
biasanya denyut nadi akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100
adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau
perdarahan postpartum yang tertunda.
c. Tekanan Darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah
ibu melahirkan karena adanya perdarahan. Tekanan darah tinggi pada
postpartum dapat menandakan terjadinya preeklampsi postpartum.
d. Respirasi
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut
nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan
mengikutinya kecuali ada gangguan khusus pada saluran pernafasan.
B. Adaptasi Psikologis Masa Nifas
Proses adaptasi psikologis pada seseorang ibu sudah dimulai sejak dia
hamil. Wanita hamil akan mengalami perubahan psikoligis yang nyata
sehingga memerlukan adaptasi. Perubahan mood, seperti sering menangis,

35

lekas marah, sering sedih atau cepat berubah menjadi senang merupakan
manifestasi dari emosional yang labil.
Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani.
Tanggung jawab bertambah dengan hadirnya bayi baru lahir. Dorongan serta
perhatian anggota keluarga lainya merupakan dukungan positif bagi ibu.
Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase
sebagai berikut : 6)
1. Fase Taking In
Yaitu fase ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari pertama
sampai hari ke dua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu sedang berfokus
terutama pada dirinya sendiri.
2. Fase Taking Hold
Yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. pada
fase ini timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung
jawabnya dalam merawat bayi. Ibu mempunyai perasaan yang sangat
sensitif sehingga mudah tersinggung dan gampang marah.
3. Fase Letting Go
Yaitu periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase ini
berlangsung selama sepuluh hari setelah melahirkan. Ibunya sudah mulai
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Ibu memahami bahwa
bayi butuh disusui sehingga siap terjaga untuk memenuhi kebutuhan
bayinya.
3. Asuhan Kebidanan pada Nifas
a. Kunjungan Nifas
Pemerintah melalui Departemen kesehatan, juga telah memberikan
kebijakan dalam hal ini, sesuia dengan dasar kesehatan pada masa nifas,
yakni paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas. 6)
Tujuan kebijakan tersebut adalah :

36

1) Untuk menilai kesehatan ibu dan kesehatan bayi baru lahir.


2) Pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan
kesehatan ibu nifas dan bayinya
3) Mendeteksi adanya kejadian-kejadian pada masa nifas
4) Menangani berbagai masalah yang timbul dan menggangu kesehatan ibu
maupun bayinya pada masa nifas.
Adapun frekuensi kunjungan, waktu dan tujuan kunjungan tersebut
dipaparkan sebagai berikut :
a) Kunjungan I : (6-8 jam setelah persalinan)
Tujuannya :
(1)Mencegah perdarahan pada masa nifas oleh karena atonia uteri
(2)Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, merujuk jika
perdarahan terjadi terus-menerus.
(3)Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas oleh
karena atonia uteri
(4)Pemberian ASI awal
(5)Memberi supervisi pada ibu bagaimana teknik melakukan hubungan
antara ibu dan bayi baru lahir
(6)Menjaga agar tetap sehat dengan cara mencegah terjadinya hipotermi,
dan jika petugas kesehatan menolong persalinan, maka harus tinggal
dengan ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran
b) Kunjungan II : (6 hari setelah persalinan)
(1)Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal
(2)Evaluasi adanya tanda-tanda deman, infeksi atau perdarahan abnormal
(3)Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat
(4)Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda-tanda
adanya penyulit

37

(5)Memberikan konseling pada ibu mengenai hal-hal berkaitan dengan


asuhan pada bayi.
c) Kunjungan III : (2 minggu setelah persalinan) Tujuannya : sama seperti
kunjungan 6 hari
d) Kunjungan IV : (6 minggu setelah persalinan)
(1)Menanyakan penyulit-penyulit yang ada
(2)Memberikan konseling untuk KB secara dini
b. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Nasehat Pada Saat Memulangkan Ibu Pada Masa Nifas Normal menurut8)
diantaranya yaitu :
1) Kebersihan diri :
a) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b) Mengajari ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun
dan air, pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah
disekitar vulva terlebih dahulu dari depan kebelakang, baru kemudian
membersihkan daerah sekitar anus. Nasehati ibu untuk membersihkan
diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
c) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya 2 kali sehari.
d) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
e) Jika ibu mempunyai luka episotomi atau laserasi sarankan pada ibu
untuk menghindari menyentuh daerah luka.
2) Istirahat :
a) Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan.

38

b) Sarankan untuk kembali kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa


perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi
tidur.
c) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu,antara lain:
(1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
(2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
(3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi
dan dirinya sendiri.
3) Latihan
Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul
kembali normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot
perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada perut dan
punggung.
Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat
membantu, seperti: tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik
otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu
kedada, tahan 1 hitungan sampai 5. Rileks dan ulangi 10 kali.
Untuk memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel).Berdiri dengan
tungkai dirapatkan, kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan tahan
sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi sebanyak 5 kali
4) Gizi
Ibu menyusui harus :
a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral
dan vitamin yang cukup.
c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.

39

d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama
40 hari pascapersalinan.
e) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin
A pada bayinya melalui ASInya.
5) Perawatan Payudara
a) Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
b) Menggunakan BH yang menyokong payudara.
c) Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar
pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap
dilakukan dari puting susu yang tidak lecet.
d) Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
e) Untuk menghilangkan nyeri dapat diminum parasetamol 1 tablet setiap
4 - 6 jam.
f) Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan:
(1) Pengompresan payudara dengan mengunakan kain basah dan
hangat selama 5 menit.
(2) Urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunakan sisir
untuk mengurut payudara dengan arah Z menuju puting.
(3) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga
puting susu menjadi lunak.
(4) Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap
seluruh ASI keluarkan dengan tangan.
(5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
(6) Payudara dikeringkan.

40

6) Hubungan Perkawinan / Rumah Tangga


a) Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah
merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan. aman untuk
memulai hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami
istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6
minggu setelah persalinan.

D. NEONATUS
1. Definisi Neonatus
Neonatus normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala
melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu
sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai apgar > 7
dan tanpa cacat bawaan.9)
a. Ciri-ciri Bayi Normal
1) Berat badan 2500-4000 gram.
2) Panjang badan lahir berkisar 45-55 cm.
3) Lingkar dada 30-38 cm.
4) Lingkar kepala 33-35 cm.
5) Bunyi jantung 120-140 x/menit
6) Pernafasan antara 35-50 x/menit.
7) Reflek morrow, reflek rooting, reflek swallowing, reflek sucking, reflek
tonik neck, reflek palmar grasp, reflek babinski, dan reflek walking.

2. Perubahan Fisik Pada Neonatus


a. Gangguan Metabolisme karbohidrat
Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65 mg/100 ml akan
menurun menjadi 50 mg/100 ml dalam waktu 2 jam sesudah lahir, energi

41

tambahan yang diperlukan oleh neonatus pada jam-jam pertama sesudah


lahir diambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah
dapat mencapai 120 mg/100ml.
b. Gangguan Umum
Sesaat sesudah bayi baru lahir ia akan berada di tempat yang suhunya
lebih rendah dari dalam kenddungan dan dalam keadaan basah. Seperti
asfiksia, hipotermi dan lain-lain.
c. Perubahan Sistem Pernafasan
Pernapasan pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 detik sesudah
kelahiran. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktivitas normal susunan
saraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainya, seperti
kemoreseptor karotid yang sangat peka terhadap kekurangan oksigen,
rangsangan hipoksemia, sentuhan dan perubahan suhu di dalam uterus dan di
luar uterus.
d. Perubahan Sistem Sirkulasi
Dengan berkembangnya paru-paru, tekanan oksigen di dalam alveoli
meningkat. Sebaliknya tekanan karbon dioksida turun. Hal tersebut
mengakibatkan turunya resistensi pembuluh-pembuluh darah paru, sehingga
aliran darah ke alat tersebut meningkat.8)
3. Asuhan Kebidanan Pada Neonatus
Penatalaksanaan awal pada bayi baru lahir meliputi :
a. Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, maka saat melakukan
penanganan bayi baru lahir diusahakan cuci tangan secara seksama, pakai
sarung tangan bersih saat menangani bayi yang belum dimandikan, pastikan
bahwa semua pakaian, handuk, selimut yang akan digunakan bayi bersih.
b. Penilaian awal

42

Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat
(0 30 detik).
1) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan.
2) Apakah bayi bergerak aktif atau dalam keadaan lemas.
3) Apakah warna kulit bayi merah muda, pucat atau biru.
c. Pencegahan kehilangan panas
Pada bayi dalam keadaan basah atau tidak di selimuti mungkin akan
mengalami hipotermi apalagi pada bayi premature, BBLR, maka untuk
menghindari kehilangan panas pada bayi yaitu:
1) Keringkan bayi dengan seksama.
2) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat.
3) Selimuti bagian kepala bayi.
4) Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir.
5) Tempatkan bayi dilingkungan hangat.
d. Rangsangan taktil
Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi. Hal ini
biasanya untuk merangsang terjadinya pernafasan spontan.
e. Merawat tali pusat
Klemlah tali pusat dengan menggunakan dua buah klem, pada titik kirakira 2-3 cm dari pangkal pusat bayi, (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara
klem-klem tersebut).Kemudian potonglah tali pusat dengan menggunakan
gunting yang steril, diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting
dengan tangan kiri penolong kemudian diikat dengan pengikat steril.Periksa
tali pusat setiap 15 menit apabila masih terjadi perdarahan maka lakukan
pengikatan ulang.
f. Antropometri dan pemeriksaan fisik pada BBL
1) Penimbangan berat badan merupakan ukuran antropometri yang
terpenting , BB normal 2500 gram- 4000 gram.

43

2) Pengukuran lingkar kepala bayi mencerminkan volume intrkranial,


untuk melihat pertumbuhan otak. Lingkar kepala yang besar terjadi pada
bayi besar, hidrosefalus, tumor serebri, dll. Cara mengukurnya dengan
ukuran fronto occipitalis, ukuran normal lingkar kepala adalah 33-35
cm.
3) Ukuran normal lingkar dada adalah 30-38 cm.
4) Ukuran normal tinggi badan adalah 48-52 cm.
5) Rupa tidak ada kelainan congenital seperti down syndrome.
6) Kulit BBL normal yaitu kemerahan dan terdapat verniks caseosa dan
lanugo.
7) Kepala dan leher tidak ada kelainan seperti moulase, caput
suksedaneum, perdarahan aponeurotik, hematoma sefal, dll.
8) Muka simetris, jarak antara hidung dan mulut, jembatan hidung,
besarnya mandibula, dll.
9) Telinga kanan dan kiri simetris serta hubungan dengan mata dan kepala.
10) Bayi baru lahir akan membuka mata jika ditengkurapkan, strabismus
ringan akan ditemukan pada bayi normal di bawah umur 6 bulan.
11) Hidung tidak ada kelainan seperti atresia koana.
12) Mulut tidak ada kelainan seperti labioschizis, palatoschizis atau labio
palato schizis.
13) Dada/puting

simetris,

pernapasan

biasanya

diagfragmatik

dan

abdominal.
14) Bahu, lengan dan tangan simetris tidak ada kelainan seperti trauma lahir
pada klavikula, syndaktili atau polidaktili.
15) Abdomen (cekung/cembung) dan adakah perdarahan pada tali pusat.
16) Genetalia pada bayi laki-laki apakah testis telah berada dalam skrotum,
apakah penis berlubang. Dan pada perempuan apakah vagina dan uretra
berlubang dan apakah labia mayora sudah menutupi labia minora.

44

17) Pada ekstremitas bayi terlihat aktif bergerak dan tidak ada trauma lahir.
18) Punggung dan anus, perhatikan pada punggung apakah ada benjolan dan
cekungan. Pada anus apakah berlubang.
19) Reflek sucking (menghisap dan menelan), reflek rooting (gerakan
mencari bila diletakkan benda di sekitar mulut), reflek moro (abdukasi
dan ekstensi lengan), reflek graps (fleksi tangan dan kaki), reflek tonik
neck (gerakan menahan leher bila diangkat dari posisi tidur).
g. Membersihkan badan bayi.
h. Memberikan Obat Tetes atau Salep Mata.
Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan
untuk mencegah penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual).
Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan.
i. Memberikan Vit K
Memberikan vitamin K 0,5 cc IM untuk mencegah perdarahan karena
defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir.
j. Identitas Bayi
Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang lebih dari satu ibu yang
bersalin maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan pada
setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatnya sampai bayi
dipulangkan. 10)
k. Pemberian Imunisasi Bayi Baru Lahir Imunisasi Hepatitis B bermanfaat
untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan
ibu bayi. Imunisasi Hepatitis B diberikan 1 jam setelah pemberian
Vitamin K1, pada saat bayi baru berumur 2 jam.
l. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
Pemeriksaan BBL dilakukan pada:
1) Saat bayi berada di klinik (dalam 24 jam)

45

2) Saat kunjungan tindak lanjut (KN), yaitu 1 kali pada umur 1 3 hari, 1
kali pada umur 4 7 hari dan 1 kali pada umur 8 28 hari.

E. BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)


1. Definisi BBLR
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari
2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang
bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth
restriction).11)
2. Klasifikasi
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR12) :
a. Menurut Harapan Hidupnya
1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.
2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 10001500
gram.
3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang
dari 1000 gram.
b. Menurut Masa Gestasinya
1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan
berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau biasa
disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKBSMK).
2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa
kehamilannya (KMK)
d. Manifestasi Klinis

46

Manifestasi klinis yang terdapat pada bayi dengan berat badan lahir
rendah adalah sebagai berikut:
1) Berat badan kurang dari 2.500 gram
2) Panjang badan kurang dari 45 cm
3) Lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm
4) Masa gestasi kurang dari 37 minggu
5) Kepala lebih besar dari tubuh
6) Kulit tipis, transparan, lanugo banyak, dan lemak subkutan sedikit
7) Osifikasi tengkorak sedikit serta ubun-ubun dan sutura lebar
8) Genitalia imatur, labia minora belum tertutup dengan labia mayora
9) Tulang rawan dan daun telinga belum cukup, sehingga elastisitas
belum sempurna
10) Pergerakan kurang dan lemah, tangis lemah, pernapasan belum
teratur, dan sering mendapat apnea
11) Bayi lebih banyak tidur dari pada bangun, refleks mengisap dan
menelan belum sempurna
3. Faktor Penyebab
Faktor Penyebab Beberapa penyebab dari bayi dengan berat badan lahir
rendah.12)
a. Faktor Ibu
a. Penyakit
a) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan
antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih.
b) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.

c) Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.


b.Ibu

47

a) Angka kejadian prematitas tertinggi adalah kehamilan pada usia < 20


tahun atau lebih dari 35 tahun.
b) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun).
c) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
c. Keadaan Sosial Ekonomi
a) Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini
dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang.
b) Aktivitas fisik yang berlebihan
c) Perkawinan yang tidak sah
b. Faktor Janin
Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik (inklusi
sitomegali, rubella bawaan), gawat janin, dan kehamilan kembar.
c. Faktor Plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solutio
plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini.
d. Faktor Lingkungan
Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran tinggi,
terkena radiasi, serta terpapar zat beracun.
4. Cara Perawatan BBLR
Menurut 13) cara perawatan adalah sebagai berikut:
a. Bayi yang baru lahir jangan dimandikan
b. Membersihkan dan mengeringkan bayi dengan kain lunak yang bersih, kering
dan hangat.
c. Menjaga agar tubuh bayi tetap hangat dengan cara:
1) Oleskan tubuh bayi setiap hari dengan minyak kelapa yang telah
dihangatkan
2) Membungkus kain yang bersih, kering dan cukup tebal serta kepala
bayi ditutup dengan topi atau kepala yang bersih

48

3) Bayi tidak boleh di letakkan di tempat yang banyak angin seperti


didepan pintu/jendela yang terbuka
4) Pakaian dan kain pembungkus diganti bila basah
5) Menempatkan bayi secara langsung di atas dada ibu (metode
kangguru)
6) Menjaga kehangatan ruangan misalnya memasang lampu untuk
mengatasi masuknya udara dingin
7) Memberi minum ASI sedini dan sesering mungkin dengan
memperhatikan :
a) Tangan cuci bersih sebelum menyusui
b) Putting susu dibersihkan dengan kapas/kain bersih lembab
c) Bayi dipangku pada posisi tegak
d) Bila bayi tidak dapat mengisap dengan kuat ibu dapat
membantu memegangi/menyangga dagu bayi atau dipompa dan
di berikan dengan sendok.
e) Bila bayi tertidur pada waktu menyusu, bayi dibangunkan
dengan cara menepuk nepuk pipinya.
f) Sisa sisa ASI dimulut dibersihkan dengan kapas atau kain
bersih yang dibasahi dengan air hangat
g) Bayi diawasi sampai kira kira 15 30 menit sesudah
disusukan.
d. Menjaga/memelihara kebersihan bayi
1) Penimbangan berat badan secara teratur 1 kali/1 bulan, bila berat
badan tidak naik dalam sebulan, segera dirujuk ke dokter puskesmas
2) Menjaga dan memelihara lingkungan bayi agar tetap bersih dan hangat
3) Memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup
5. Penatalaksanaan BBLR
Penatalaksanaan BBLR antara lain :

49

a. Mempertahankan Suhu Dengan Ketat


BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya
harus dipertahankan dengan ketat.
b. Mencegah Infeksi Dengan Ketat
BBLR sangat rentan akan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip
pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.
c. Pengawasan nutrisi/ASI
Refleks menelan BBLR belum sempurna oleh sebab itu pemberian
nutrisi harus dilakukan dengan cermat.
d. Penimbangan Ketat
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi bayi dan erat
kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan
harus dilakukan dengan ketat.

F. GAMBARAN LAHAN PRAKTEK


1. Gambaran Umum
a. Sejarah Puskesmas
Puskesmas kecamatan pasar minggu dibangun tahun 1972 diatas tanah
pemda DKI jakarta terletak dijalan raya kebagusan dengan bangunan 2
lantai, luas tanah 1.250 M, luas bangunan 587 M wilayah kecamatan pasar
minggu meliputi 14 kelurahan. Kepala puskesmas dr.Trisnaning. Tahun
1986 puskesmas kecamatan pasar minggu dipecah menjadi dua yaitu
puskesmas kecamatan pasar minggu yang mempunyai 7 kelurahan dengan
satu RB dan puskesmas kecamatan perwakilan dengan 5 kelurahan yang
terletak dijalan Moh.khafi I. Seiring dengan perkembangan kota pada tahun
1993 didirikan puskesmas kecamatan pasar minggu dijalan kabagusan raya
diatas pemda DKI. Dengan gedung 3 lantai, luas tanah 1.700 M luas

50

bangunan 1.500 M. Pelayanan di gedung baru dipuskesmas kecamatan


pasar minggu mulai operasional bulan agustus 1995.
Pada bulan juni 1996 operasional secara penuh sampai sekarang.
b.

Letak wilayah
Wilayah kecamatan pasar minggu terletak dibagikan selatan ibu
kota DKI jakarta. Ketinggian wilayah kecamatan pasar minggu kira kira
26 M diatas permukaan laut suhu rata-rata 27oC , curah hujan rata rata
180.3 mm / tahun dan dibatasi oleh dua buah sungguh yaitu sungai
ciliwung disebelah timur dan sungai krukut di sebelah barat.
Batas-batas wilayah kecamatan pasar minggu.
-

Sebelah Utara : Jl. Empang tiga, Jl. H.Samali dan Jl.Pulo


kecamatan pancoran.

Sebelah Barat : Kali krutuk kecamatan cilandak.

Sebelah Timur : Kali ciliwung kecamatan kramat jati


Jak-Tim

c.

Sebelah Selatan: Kecamatan Jagakarsa

Pembagian Wilayah
Wilayah kecamatan pasar minggu terbagi atas Tujuh kelurahan dengan
65 RW, 725 RT, 93.425 KK, dan 299.467 Jiwa dengan kepadatan
penduduk 14.320 jiwa per KM.

2. Visi, Misi dan Tujuan


a. Visi
Menjadi unit pelayanan prima, profesional, terjangkau,
berkesinambungan dan mengutamakan kepuasan pelanggan.
b. Misi
1) Memperdayakan dan meningkatkan kemampuan SDM dalam
menghadapi persaingan era global.

51

2) Memberikan dan mengembangkan mutu pelayanan secara optimal,


baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif.
3) Menggalang kerjasama dengan mitra kerja.

3. Struktur Organisasi
Gambar 2.3
Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

4. Kegiatan KIA, KB dan RB


a. Kesehatan Ibu dan Anak
1) Melakukan pemeriksaan ANC pada bumil dengan terintegrasi
pada program lain yang terkait.
2) Melakukan pelayanan imunisasi TT dan imunisasi pada bayi sehat.
52

3) Melakukan rujukan internal dan eksternal sesuai dengan kasus


kebidanan.
4) Melakukan kelas ibu
5) Melaksanakan senam hamil
6) Melakukan penyuluhan-penyuluhan pada Bumil dan Buteki
7) Melaksanakan kelompok ibu dan balita (BUBAL)
8) Melaksanakan skrining PMTCT dan UCT.
9) Melakukan konseling ASI
10) Melaksanakan MTBM
11) Membuat dokumentasi kebidanan dan laporan harian, bulanan dan
triwulan serta laporan tahunan.
12) Melaksanakan pertemuan dengan lintas program.
13) Melakukan pertemuan dengan koordinator KIA kelurahan.
14) Melakukan pertemuan dengan bidan praktek swasta
15) Melaksanakan AMP tingkat kecamatan.
b. Keluarga Berencana
1) Memberikan pendidikan kesehatan kepada akseptor baru.
2) Melakukan tindakan dengan teknik steril.
3)

Membuat dokumentasi kebidanan dan laporan harian, bulanan


dan tahunan.

4)

Melakukan pertemuan dengan lintas program.

c. Rumah Bersalin
1)

Memberikan pelayanan ANC pada usia kehamilan 28 minggu


keatas (trimester III)

2)

Melaksanakan pertolongan pasien normal, persalinan beresiko


dengan pengawasan Dokter spesialis kebidanan (kolaborasi)
seperti PE ringan KPD, Grande multi, sumsang partus tak maju.

3)

Kunjungan dokter spesialis kebidanan ( senin & jumat )

53

4)

Pertolongan persalinan normal

5)

Konsultasi Kesehatan Reproduksi (Senin & Jumat)

6)

Kunjungan dokter spesialis kebidanan

7)

Melaksanakan rujukan pada pasien dengan resiko tinggi

8)

Pemeriksaan bufas dan bayi oleh dokter umum.

9)

Penyuluhan ASI Eksklusif

10) Pelayanan darurat


11) Memberikan bimbingan praktek mahasiswa AKBID / AKPER
12) Rapat rutin khusus RB setiap 3 bulan sekali
13) Menambah wawasan petugas
14) Pembinaan dari sudin.

54

BAB III
PERKEMBANGAN KASUS
A. KEHAMILAN

No. Register

: 18-15-15

Tanggal pengkajian

: 21 Desember 2015

Waktu

: 09.15 WIB

Nama Pengkajian

: Fina Sofiana

IDENTITAS
Nama Klien

: Ny. K

Nama Suami

: Tn. W

Umur

: 31 tahun

Umur

: 38 tahun

Kebangsaan

: Indonesia

Kebangsaan

: Indonesia

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Karyawan

Alamat Rumah

: Jl. Kebagusan I RT 03 RW 01 Kebagusan, Pasar Minggu

1. Kunjungan Pertama
21 Desember 2015 Pukul 10.15 WIB
a. Prolog
Hamil anak kedua, pernah melahirkan satu kali dan belum pernah
keguguran. Anak pertama ditolong oleh dukun. HPHT : 15 April 2015, TP : 22
Januari 2016, lama menstruasi 7 hari, siklus haid 28 hari dan konsistensinya
cair. Tidak ada riwayat penyakit keturunan dan tidak ada riwayat penyakit
menular.

Tidak

mengkonsumsi

obat-obatan/alkohol/jamu-jamuan,

tidak

merokok. BB sebelum hamil : 45 kg, Kontrasepsi sebelum hamil adalah Suntik


1 bulan. Pergerakan fetus dirasakan ibu saat usia kehamilan 16 minggu. Selama

55

hamil tidak mengalami tanda-tanda bahaya kehamilan. Pola makan sehari-hari 3


x sehari (nasi, sayur, daging, ikan dan buah). Pola eliminasi yaitu BAB 1 x
sehari dan BAK 5-6 x sehari. Pola istirahat pada siang hari 2 jam dan pada
malam hari 7 jam. Seksualitas masih melakukan 1 x seminggu. Imunisasi TT1
pada tanggal 23 November 2015

Tabel 3.1
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

No

Tgl/

Hasil

Jenis

Thn

persalinan kelamin pada

Partus
1

2007

Keadaan

Bb
Pb

/ Penolong

Lama

persalinan menyusui

kelahiran lahir
LH

Normal

3000/

Dukun

2 tahun

48
2

Hamil
ini

b. Subjektif
Ingin memeriksakan kehamilannya, mengeluh capek dan cepat lelah.

c. Objektif
Keadaan umum: baik, Kesadaran: compos mentis, keadaan emosional: stabil.
Tanda tanda vital: tekanan darah: 110/70 mmHg, nadi : 83x/menit, Pernapasan:
19 x/menit, suhu: 36,7C, berat badan: 52 kg lila 24 cm. Pemeriksaan fisik,
MataSklera putih,konjungtiva merah muda. Hidung: Tidak ada polip dan sekret.
Mulut: bibir tidak pucat, tidak ada sariawan. Telinga: simetris kiri dan kanan
,tidak ada sekret. Leher: Vena jugularis tidak ada bendungan, kelenjar tiroid dan
getah bening tidak ada pembesaran. Payudara: simetris kiri dan kanan, puting
susu menonjol, tidak ada nyeri tekan, pengeluaran belum ada, tidak ada

56

benjolan. Abdomen Tidak ada luka bekas operasi. TFU : 25 cm Leopold I:


Bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting (bokong), Leopold II: Bagian
kanan teraba bagian kecil janin (ekstremitas), bagian kiri teraba keras
memanjang (puki), Leopold III: teraba bagian bulat, keras, melenting (kepala),
Leopold IV: bagian terendah janin belum masuk PAP 5/5, TBJ : (25-12) x 155 =
2015 gram, DJJ 138x/menit, teratur Punctum maksimum terdengar jelas 2 jari
sebelah kiri pusat ibu.
d. Assesment)
G2P1A0 35 mgg 5 hari
Janin tunggal, hidup.
e. Penatalaksanaan
1) Memberikan informed consent persetujuan menjadi pasien komprehensif,
ibu bersedia menjadi pasien komprehensif.
2) Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa usia kehamilan saat ini hamil
35 minggu 5 hari keadaan ibu baik dan keadaan bayi dalam keadaan baik,
tetapi TFU Ibu yang kecil dan TBJ tidak sesuai dengan UK.ibu diberikan
konseling gizi dan dianjurkan makan makanan yang manis dan berprotein
tinggi. Ibu mengerti.
3) Memberikan terapi Penambah darah, Vitamin C dan Kalsium Laktat. 30
tablet 2dd1, ibu bersedia meminumnnya.
4) Memberikan KIE tentang pola istirahat yang baik, Personal Hygiene,
Tanda Bahaya pada Kehamilan, ibu mengerti.
5) Menyepakati kunjungan ulang pada tanggal 28 Desember 2015, ibu
bersedia datang.
6) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

57

2. Kunjungan Kedua
28 Desember 2015 09.00 WIB
a. Subjektif
Ibu ingin memeriksakan kehamilannya dan mengatakan tidak ada
keluhan.
b. Objektif
Keadaan umum: baik, kesadaran: compos mentis, keadaan emosional :
stabil. Tanda tanda vital: tekanan darah: 110/80 mmHg, nadi: 82 x/menit,
pernapasan: 20 x/menit, Suhu : 36,6C, berat badan: 55kg. Abdomen tidak ada
luka bekas operasi TFU: 26cm. Leopold I: Bagian fundus teraba bulat, lunak,
tidak melenting (bokong), Leopold II: Bagian kanan teraba bagian kecil janin
(ekstremitas), bagian kiri teraba keras memanjang (PUKI), Leopold III: teraba
bagian bulat, keras, melenting (kepala), Leopold IV: bagian terendah janin
belum masuk PAP 5/5, TBJ: (26-12) x 155 = 2170 gram. DJJ 129 x/menit,
Punctum maksimum terdengar jelas 2 jari sebelah kiri pusat ibu.
c. Assesment
G2P1A0 36 mgg 5 hari
Janin tunggal, hidup.
d. Penatalaksanaan
1) Menginformasikan hasil pemeriksaan bahwa usia kehamilan saat ini hamil
36 minggu 5 hari keadaan ibu dan bayi secara keseluruhan baik, Ibu
mengerti.
2) Menganjurkan ibu untuk terus makan yang banyak dengan gizi seimbang.
Agar TBJ naik, ibu mengerti.
3) Merujuk ibu ke lab untuk periksa Hb TM III. Hasil 11,4 gr/dL
4) Memganjurkan ibu untuk melanjutkan terapi vitamin. Ibu bersedia
meminumnya.

58

5) Memberi ibu KIE tentang tanda bahaya TM III, ibu mengerti


6) Menyepakati kunjungan ulang pada tanggal 4 Januari 2016, ibu bersedia
datang.
7) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

3. Kunjungan Ketiga
04 Januari 2016 Pukul 09.10 WIB.
a. Subjektif
Ibu mengatakan tidak ada keluhan.
b. Objektif
Keadaan

umum:

baik,

kesadaran:

Compos

Mentis,

Keadaan

Emosional: Stabil. Tanda tanda vital: Tekanan Darah: 110/80 mmHg, Nadi
:82 x/menit, Pernapasan: 19x/menit, Suhu: 36,9C, Berat badan: 56kg.
Pemeriksaan fisik, TFU : 27 cm, Leopold I: Bagian fundus teraba bulat, lunak,
tidak melenting (bokong), Leopold II: Bagian kanan teraba bagian kecil janin
(ekstremitas), Bagian kiri teraba bagian keras memanjang (puki), Leopold III:
Teraba bagian bulat, keras, tidak melenting (kepala), Leopold IV: Kepala
belum masuk PAP 5/5 Konvergen, TBJ : (27-12) x 155 = 2325 gram, DJJ
(positif) 149 x/menit, Punctum maksimum tempat 2 jari disebelah kiri pusat
ibu.
c. Assesment
G2P1A0 37 mgg 5 hari
Janin tunggal, hidup.
d. Penatalaksanaan
1) Memberikan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan kehamilannya bahwa
ibu saat ini hamil 37 minggu 5 hari keadaan ibu dan janin secara
keseluruhan baik, Ibu mengerti.

59

2) Mengingatkan kembali tentang gizi pada ibu hamil, pola istirahat yang
baik, ibu mengerti.
3) Memberikan KIE tentang tanda-tanda persalinan. Ibu mengerti
4) Memberikan KIE tentang perlengkapan Ibu dan Bayi yang diperlukan saat
persalinan nanti. Ibu mengerti
5) Memberikan KIE tentang KB IUD dan Implant. Kerugian beserta
keuntungannya. Ibu memilih ber KB IUD setelah persalinan ini.
6) Menganjurkan ibu untuk meminum vitamin secara teratur. Ibu mengerti
7) Menganjurkan ibu untuk banyak diri jongkok, jalan jalan pagi. Ibu
mengerti.
8) Menyepakati kunjungan pada tanggal 11 Januari 2016, ibu bersedia datang.
9) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan

4. Kunjungan Keempat
11 Januari 2016 Pukul 08.30 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan nyeri bawah perut dan sering BAK.
b. Objektif
Keadaan umum: baik, kesadaran : compos mentis, keadaan emosional: stabil,
Tanda tanda vital: tekanan darah: 110/80 mmHg, nadi: 82 x/menit,
pernapasan: 18x/menit, suhu: 36,6C, berat badan: 57 kg. Pemeriksaan fisik
TFU: 28cm, Leopold I : Bagian fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting
(bokong), Leopold II : Bagian kanan teraba bagian kecil janin (ekstremitas),
Bagian kiri teraba bagian keras memanjang (puki), Leopold III: teraba bagian
bulat, keras, tidak melenting (kepala), Leopold IV: kepala sudah masuk PAP
4/5, TBJ : (28-11)x155= 2635 gram, DJJ (positif) 133 x/menit, punctum
maksimum terdengar jelas 3 jari disebelah kiri bawah pusat ibu.
c. Assesment

60

G2P1A0 38 Minggu 5 hari


Janin tunggal, hidup.
d. Penatalaksanaan
1) Memberikan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan kehamilannya bahwa ibu
saat ini hamil 38 minggu 5 hari keadaan ibu dan janin secara keseluruhan
baik, ibu mengerti.
2) Memberitahu ibu bahwa nyeri bagian bawah perut adalah fisiologis karena
kepala bayi sudah turun dan makin menekan tulang panggul. Begitu juga
dengan sering BAK dengan kepala yang semakin turun maka semakin
menekan kandung kemih. Ibu mengerti.
3) Mengingatkan ibu tentang tanda-tanda persalinan dan tanda bahaya TMIII.
Ibu mengerti
4) Mengingatkan ibu tentang perlengkapan Ibu dan Bayi yang diperlukan saat
persalinan nanti. Ibu mengerti
5) Menganjurkan ibu untuk diri jongkok, jalan-jalan pagi. Ibu mengerti
6) Menganjurkan ibu makan dengan gizi seimbang, dan meminum vitamin
dengan teratur serta pola istirahat yang cukup. Ibu mengerti
7) Menyepakati kunjungan pada tanggal 18 Januari 2015, ibu bersedia datang.
8) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan

B. PERSALINAN

1. Kala I 18 Januari 2016 Pukul 08.00 WIB


a. Subjektif
Ibu datang pukul 08.00 WIB. Mengatakan mules- mules sejak jam 00.00 WIB
dan sudah keluar lendir darah sejak pukul 06.00 WIB. Belum keluar air-air.
Gerakan janin aktif.

61

b. Objektif
Keadaan umum: baik, kesadaran : compos mentis, keadaan emosional : stabil,
Tanda tanda vital : TD : 120/80 mmHg, nadi : 84 x/menit, Pernapasan :
21x/menit, Suhu: 37C. Palpasi: TFU : 28cm, Leopold I : Bagian fundus teraba
bulat, lunak, tidak melenting (bokong), Leopold II : Bagian kanan teraba bagian
kecil janin (ekstremitas), Bagian kiri teraba bagian keras memanjang (puki),
Leopold III: Teraba bagian bulat, keras, tidak melenting (kepala), Leopold IV:
Kepala sudah masuk PAP. Divergen 4/5 bagian, TBJ : (28-11) x 155 = 2635
gram, Auskultasi: DJJ (positif) 142 x/menit, punctum maksimum terdengar jelas
3 jari disebelah kiri bawah pusat ibu. His 3 x 10 25 Pemeriksaan Anogenital :
perineum tidak ada luka parut, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini,VT =
Vulva dan dinding vagina tidak ada ada benjolan dan tidak oedem, pengeluaran
lendir darah, Posisi portio retro, ketebalannya tebal, konsistesinya lunak,
Pembukaan 3 cm, Ketuban utuh, Presentasi kepala, posisi belum jelas. Penurunan
HI, tidak ada molase, imbang feto pelviks tidak ada CPD.
c. Assesment
G2P1A0 39 Minggu 3 hari kala I fase laten
Janin tunggal hidup presentasi kepala
d. Penatalaksanaan
1) Menginformasikan kepada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa ibu dan
janin dalam keadaan baik. Dan sudah dalam masa persalinan. Inu dan keluarga
mengerti.
2) Melakukan informed consent Tindak medis, IMD, KB dan HB0. Ibu dan keluarga
menyutujui dan menandatangani informed consent.
3) Menganjurkan ibu untuk mobilisasi miring kiri, diri jongkok dan jalan-jalan
sekitar puskesmas. Ibu diri jongkok.
4) Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi. Ibu memakan
sepotong roti dan segelas air isotoniik.

62

5) Menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAK dan BAB,Ibu mengerti


6) Mengajarkan ibu teknik relaksasi saat ada his. Ibu mengerti,
7) Menyiapkan partus set, hecting set, alat kegawatdaruratan serta perlengkapan ibu
dan bayi, telah disiapkan.
8) Melakukan observasi his dan DJJ setiap jam dan kemajuan persalinan setiap 4 jam
atau jika ada indikasi. Jadwal VT kembali pukul 12.00 WIB
9) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

Tabel 3.2
Observasi his dan DJJ
Jam

Pemeriksaan

HIS

DJJ

09.00

Observasi HIS dan DJJ

3 x 10 35

143x/m

10.00

Observasi HIS dan DJJ

3 x 10 42

139x/m

11.00

Observasi HIS dan DJJ

4 x 10 45

142x/m

2. Kala II Pukul 11.40


a.

Subjektif
Ibu mengatakan mulas semakin sering, ada dorongan ingin meneran seperti mau
BAB

b.

Objektif
Keadaan umum : Baik, Kesadaran : compos metis, Kesadaran emosional : stabil
TTV : TD 110/70 MmHg, Nadi : 89x/menit, Respirasi 22x/menit, Suhu 36,80C.
DJJ positif 144x/menit, teratur. Puntum maksimum terdengar jelas 2 jari diatas
symfisis. His 4x1045, kekuatan kuat. Terdapat tanda gejala kala II yaitu doran
,teknus, perjol, vulka. VT = portio tidak teraba, pembukaan 10 cm, ketuban
utuh, dilakukan amniotomi, warna jernih, bau khas, tidak ada tali pusat
menumbung, presentasi kepala, posisi UUK depan, molase tidak ada,
Penurunan HIV

63

c.

Assesment
G2P1A0 39 minggu 3 hari partus kala II
Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala

d.

Penatalaksanaan

1. Menjelaskan

hasil

pemeriksaan

kepada

ibu

dan

keluarga

bahwa

pembukaannya sudah lengkap dan ibu sudah boleh meneran jika ada mules,
ibu mengerti.
2. Memanggil pendamping persalinan, ibu didampingi keluarga.
3. Membantu itu untuk memilih posisi bersalin yang nyaman, ibu memilih posisi
litotomi.
4. Mendekatkan partus set dan hecting set, serta kegawatdaruratan. alat telah
didekatkan.
5. Memakai APD. APD telah dipakai
6. Memeriksa DJJ setiap sesudah his. DJJ 145x/m. teratur.
7. Menganjurkan suami untuk memenuhi kebutuhan hidrasi ibu disela his. Ibu
telah meminum segelas air isotonik
8. Membimbing ibu untuk dapat meneran dengan baik dan benar. Ibu meneran
dengan baik dan benar
9. Menolong persalinan sesuai APN, 18/01/2016 Pukul 11.56 Bayi lahir spontan
menangis kuat, tonus otot baik, warna kulit kemerahan, jenis kelamin
perempuan. Cacat (-) Anus (+)
10 .Melakukan IMD, IMD berhasil pukul 12.50 WIB.
3. Kala III Pukul 11.56 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan perutnya masih merasa mulas dan senang atas kelahiran
bayinya.

64

b. Objektif
Keadaan umum: Baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional :
Stabil. TFU sepusat, tidak teraba janin kedua, kontraksi uterus baik, kandung
kemih penuh. Dilakukan kateterisasi 200cc, perdarahan 50 cc vulva :
terlihat tali pusat.
c. Assesment
P2A0 Partus kala III
d. Penatalaksanaan
1) Memberitahukan bahwa plasenta belum lahir dan akan segera
dilahirkan, ibu mengerti.
2) Melakukan Managemen Aktif Kala III
a) Menyuntikan oksitosin 10IU secara IM di1/3 paha luar ibu,
oksitosin telah disuntikan.
b) Melakukan Peregangan Tali pusat Terkendali, terlihat tanda
pelepasan plasenta, plasenta lahir spontan pukul 12.00 WIB.
c) Melakukan masase Fundus uteri selama 15 detik searah jarum
jam, kontraksi baik.
3) Memeriksa kelengkapan plasenta, selaput plasenta lengkap utuh,
kotiledon

lengkap 20 buah, diameter 19cm, ketebalan 2,5cm,

insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat 45 cm, berat plasenta
450 gram.
4. Kala IV Pukul 12.00 WIB.
a. Subjektif
Ibu mengatakan lelah dan merasa senang atas kelahiran bayinya.
b. Objektif
Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis, kesadaraan emosional :
stabil TTV: TD 100/70 MmHg, nadi 82x/menit, respirasi 21 x/menit, suhu

65

36,8oC. Palpasi: TFU 2 jari dibawah pusat, kandung kemih kosong, kontraksi
baik, perdarahan 100, perineum ruptur sampai di kulit perineum.
c. Assesment
P2A1 Partus kala IV
d. Penatalaksanaan
1) Memberitahukan bahwa plasenta telah lahir, ibu menegerti.
2) Memasang IUD CU T 380 A/8tahun post plasenta. Telah dipasang
3) Mengecek laserasi jalan lahir, terdapat ruptur grade I
4) Melakukan heacting dengan teknik jelujur. Heacting telah dilakukan.
5) Merapihkan alat, mendekontaminasikan alat dalam klorin 0,5 % selama 10
menit. Telah dilakukan
6) Membersihkan ibu dengan air DTT dan tempat tidur dengan air klorin lalu
dibilas dengan air DTT. Telah dilakukan
7) Mengajarkan kepada ibu cara masase fundus uteri. Ibu mengerti
8) Memberikan ibu kie tanda bahaya kala IV. Seperti: sakit kepala yang hebat,
pandangan kabur, keluar darah yang banyak. Ibu mengerti
9) Mencuci alat, mengeringkan alat dan mensterilkan alat. Telah dilakukan
10) Melakukan observasi kala IV, setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan
setiap 30 menit pada 1 jam kedua. hasil terlampir didalam partograf.
Memberikan terapi vit A 200.000 unit 2 kapsul softgel 1dd1, Amoxicilin
500mg 10 Tablet

3dd1, Asam Mefenamat 500mg 10 tablet 3dd1,

Penambah darah, Vitamin B Complex, Vitamin B12, Vitamin C 30 tablet


2dd1. Ibu bersedia meminum obat.
11) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan melengkapi partogaf,
dokumentasi telah dilakukan.

66

C. NIFAS
1. NIFAS 6 Jam
Senin, 18 Januari 2016
Pukul 17.56 WIB.
a. Subjektif
Ibu mengatakan masih merasa mulas, ibu mengatakan ASInya sudah keluar dan
ibu sudah BAK dan belum BAB.
b.

Objektif

Keadaan umum: baik, kesadaran: compos mentis, keadaan emosional: stabil.


TTV: TD 100/70MmHg, nadi 82x/menit, respirasi: 21x/menit, suhu : 36,50C.
Payudara simetris kiri dan kanan, puting susu menonjol, pengeluaran ASI (+)
kanan dan kiri, tidak ada benjolan dan nyeri tekan. Abdomen: TFU 2 jari bawah
pusat, kandung kemih kosong, kontraksi baik. Anogenital: vulva vagina tidak ada
kelainan, pengeluaran darah, banyaknya pembalut. luka perineum masih basah.
Tidak ada tanda tanda infeksi Ekstremitas: tidak ada oedem.
c.

Assesment
P2Ao Postpartum 6 jam.

d.

Penatalaksanaan
1) Memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik, ibu
mengerti,
2) Memberitahu ibu penyebab keluhan yang dirasakan ibu adalah hal yang
fisiologis dialami ibu nifas. Rasa mulas diakibatkan dari kontraksi uterus
untuk mencegah perdarahan. Luka jahitan pada luka perineum akan
sembuh dnegan sendirinya selama 6-7 hari dan juga tergantung konsumsi
gizi ibu.
3) Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 8 jam/hari dan
menganjurkan ibu mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang seperti

67

nasi, sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, telur, tempe, tahu,


daging, ikan laut, dll.
4) Menganjurkan ibu banyak minum minimal 8 gelas/hari untuk membantu
memperbanyak produksi ASI. Ibu mengerti
5) Memberikan ibu KIE tentang personal hygiene, sering mengganti pembalut
sehari 2-3 kali sehari. Mencuci dengan sabun luka jahitan dan bilas dengan
air bersih dari arah depan kebelakang. Ibu mengerti.
6) Memberikan ibu KIE tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas yaitu:
a) Kontraksi uterus yang lemah ditandai dengan kontrkasi uterus yang
lembek yang dapat berakibat pada perdarahan
b) Infeksi pada payudara ditandai dengan pembengkakan pada
payudara, putting susu lecet, panas, kemerahan disekitar payudara
dan keluar darah dari putting susu.
c) Infeksi pada luka perineum yang ditandai dengan daerah luka
kemerahan, bengkak, nyeri dan keluar cairan atau nanah yang
berbau
7) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

2. NIFAS 6 hari
Minggu 24 Januari 2016
Pukul 15.00 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan tidak ada keluhan, sudah BAK dan sudah BAB ASInya lancar
dan bayi sudah menghisap kuat, ibu makan makanan yang bernutrisi pola
istirahat baik jika bayi tidur ibupun ikut tidur.
b.

Objektif

Keadaan Umum: baik, kesadaran: compos mentis, keadaan emosional:


stabil.TTV: TD: 110/80 mmHg, S: 36,50C. Payudara: simetris kanan dan kiri,

68

pengeluaran ASI sudah ada, tidak ada pembengkakan, putting susu menonjol,
tidak ada nyeri tekan dan tidak ada benjolan. Abdoment: TFU pertengahan pusat
simfisis,

kandung

kemih

kosong,

kontraksi

baik.

Anogenital:

lochea

sanguinolenta, luka perineum sudah kering.


c.

Assesment
P2Ao Postpartum 6 hari

d.

Penatalaksanaan
1) Memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik. Dan ibu
mengerti.
2) Memberitahu Ibu untuk tetap menyusui bayinya agar tidak terjadi
pembengkakan pada payudara dan bayi tetap mendapatkan nutrisi
3) Mengingatkan ibu tanda bahaya nifas, ibu mengingatnya
4) Memberikan terapi Penambah darah, Vitamin B Complex, Vitamin B12,
Vitamin C 30 tablet 2dd1. Ibu bersedia meminum obat.
5) Menyepakati kunjungan ulang pada tanggal 1 Februari 2016 , ibu bersedia
meluangkan waktu dirumah.
6) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan. dokumentasi telah dilakukan.

3. NIFAS 2 Minggu
Senin, 1 Februari 2016
Pukul 15.00 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan ibu mengatakan pengeluaran ASInya
sangat banyak dan memberikannya tidak ada kesulitan apapun.
b.

Objektif

KU : baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional : stabil. TTV: TD:


110/80 mmHg, S: 36,70C. Nadi :82x/m Rr: 19x/m Payudara : simetris kanan dan
kiri, pengeluaran ASI sudah banyak, tidak ada pembengkakan, putting susu

69

menonjol, tidak ada nyeri tekan dan tidak ada benjolan. Abdomen: TFU tidak
teraba, kandung kemih kosong Anogenital : lochea alba, luka perineum sudah
menyatu dan tidak terlihat.
c.

Assesment
P2A0 postpartum 2 minggu

d.

Penatalaksanaan
1) Memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik. Ibu
mengerti.
2) Memberitahu Ibu untuk tetap menyusui bayinya agar tidak terjadi
pembengkakan pada payudara dan bayi tetap mendapatkan nutrisi
3) Menganjurkan ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan dengan gizi
seimbang. Ibu mengerti.
4) Mengingatkan ibu tanda bahaya nifas, ibu mengingatnya
5) Memberikan terapi Penambah darah, Vitamin B Complex, Vitamin B12,
Vitamin C 30 tablet 2dd1. Ibu bersedia meminum obat.
6) Menyepakati kunjungan ulang untuk ke Puskesmas pada tanggal 1 Februari
2016 untuk pemeriksaan 6 minggu post partum dan kontrol KB IUD di
Poli KB. Ibu bersedia datang.
7) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

5.

NIFAS 6 Minggu
Selasa, 23 Februari 2016
Pukul 10.00 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan ibu mengatakan pengeluaran ASInya
sangat banyak dan memberikannya tidak ada kesulitan apapun. Ibu juga
mengatakan tidak ada keluhan dengan IUD nya

70

b. Objektif
KU : baik, kesadaran composmentis, keadaan emosional : stabil. TTV: TD:
110/80 mmHg, S: 36,70C. Nadi :82x/m Rr: 19x/m Payudara : simetris kanan
dan kiri, pengeluaran ASI sudah banyak, tidak ada pembengkakan, putting
susu menonjol, tidak ada nyeri tekan dan tidak ada benjolan. Abdomen: TFU
tidak teraba, kandung kemih kosong Anogenital: tidak ada pengeluaran,
perineum dalam keadaan baik tidak terlihat luka lagi.
c. Assesment
P2A0 postpartum 6 minggu
d. Penatalaksanaan
1) Memberitahukan hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam keadaan baik. Ibu
mengerti.
2) Memberitahu Ibu untuk tetap menyusui bayinya agar tidak terjadi
pembengkakan pada payudara dan bayi tetap mendapatkan nutrisi
3) Menganjurkan ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan dengan gizi
seimbang. Ibu mengerti.
4) Mengingatkan ibu tanda bahaya nifas, ibu mengingatnya
5) Memberikan terapi Penambah darah, Vitamin B Complex, Vitamin B12,
Vitamin C 30 tablet 2dd1. Ibu bersedia meminum obat.
6) Melakukan pemeriksaan KB IUD, hasil : IUD Tidak ada keluhan.
Pemeriksaan spekulum: benang positif, tidak ada erosi, tidak ada fluor
albus, dilakukan pemeriksaan test IVA hasil Test IVA negatif.
7) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

71

D. NEONATUS
1. NEONATUS (Bayi Baru Lahir)
Tanggal

: 18 Januari 2016.

Jenis kelamin

: Perempuan

Lahir pukul

: 11.56 WIB.

a. Subjektif
b.

Objektif
Keadaan umum baik, menangis kuat, tonus otot baik, warna kulit kemerahan.

Tandatanda

vital

143x/menit,

Respirasi

49x/menit,

Suhu

36,8oC.

Antropometri : BB 2200 gram, PB 47cm, LK 33cm, LD 32cm Pemeriksaan


sistematis : Kepala : simetris, UUK dan UUB datar, tidak ada caput succedenum,
tidak ada cepal hematom, sutura tidak ada molase. Mata : simetris kiri dan kanan,
tidak ada pengeluaran dan perdarahan, sklera tidak kuning. Hidung : tidak ada
pernapasan cuping hidung ada lubang hidung, tidak ada palatokisis. Mulut :
simetris antara atas dan bawah, tidak ada palatokisis, palatum durum dan palatum
mole tertutup, tidak ada oral trush. Telinga : simetris antara telinga dan mata,
daun telinga sudah berbentuk. Leher : tidak ada pembengkakan, pergerakan
aktif. Dada : tidak ada retraksi,puting susu simetris kiri dan kanan. Pernapasan :
tidak ada bunyi tambahan. Denyut jantung : berbunyi lup dup reguler. Perut :
Tidak ada benjolan dan konsistensi lembek, tidak ada kelainan. Kulit : turgor dan
elastis baik, terdapat vernix caseosa didaerah lipatan paha. Ekstremitas : Tangan
dan kaki simetris kiri dan kanan.tidak ada polidaktili dan ssidaktili. tidak aka
paronisia pada kuku Genetalia : labia mayora belum menutupi labia minora,
terdapat dua lubang. Vagina dan uretra. Punggung : tidak ada spina bifida. Anus
(+). Refleks: morro(+), palmar grasp(+), tonick neck(+), rooting(+), sucking(+),
swallowing(+), plantar(+), babynski(+).

72

c.

Assesment
Neonatus Cukup Bulan Kurang Masa Kehamilan usia 2 jam

d.

Penatalaksanaan
1) Menginformasikan kepada ibu tindakan yang akan dilakukan. Ibu mengerti
2) menyalakan lampu sorot 60 watt dan posisikan 60cm dari tubuh bayi
untuk menjaga suhu tubuh bayi. Telah dinyalakan.
3) Membersihkan badan bayi, bayi telah dibersihkan.
4) Menginformasikan kepada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa bayi
dalam keadaan cukup bulan namum beratnya kurang dari normal yaitu
2200gram dan bayi masuk dalam kategori

BBLR. ibu dan keluarga

mengerti.
5) Menyuntikkan Vit K (Phytomenadione) 1mg 0,5cc dipaha kiri anterolateral
secara IM, Vit K telah disuntikan
6) Memberikan salep mata chlorampenicol 1%, salep mata telah diberikan.
7) Memasang peneng warna pink, peneng telah dipasang.
8) Menjaga kehangatan bayi, bayi telah dibedong.
9) Melakukan cap kaki bayi pada SKL. Telah dilakukan
10) Menyuntikkan HB0 (0,5 ml) dipaha kanan anterolateral secara IM, Telah
disuntikkan
11) Konsul dr. SpA atas indikasi BBLR advise Bayi masuk Inkubator, tetap
lanjutkan ASI dan observasi TTV setiap 1 jam.
12) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan..

73

2. NEONATUS 6 Jam
Tanggal

: 18 Januari 2016.

Jenis kelamin

: Perempuan

Jam Pengkajian : 17.56 WIB.


a. Subjektif
Tidak menemukan tanda-tanda bahaya. Bayi menyusu sering dan kuat. Sudah
BAB 1 kali dan sudah BAK 2 kali
b. Objektif
Keadaan umum baik, menangis kuat, tonus otot baik, warna kulit kemerahan.
Tandatanda vital : 143x/menit, Respirasi 49x/menit, Suhu 36,8oC. Konjungtiva
merah muda, sklera putih. Tali pusat masih basah, tidak ada perdarahan dan tidak
berbau. Tidak ditemukan tanda bahaya pada bayi
c. Assesment
Neonatus Cukup Bulan Kurang Masa Kehamilan usia 6 jam
d. Penatalaksanaan
1)

Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu, Ibu mengerti

2)

Mengingatkan kembali kepada ibu untuk ASI eksklusif dan menyusui


bayinya secara on demand, dan jika ingin menyusui harus ke ruang
inkubator Ibu mengerti dan bersedia melakukannya

3)

Memberikan KIE kepada ibu tentang cara perawatan tali pusat, Ibu
mengerti

4)

Mengingatkan kembali kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi,


Ibu mengerti

5)

Melanjutkan observasi TTV setiap 1 jam, observasi telah dilakukan.

6)

Memberikan KIE tentang metode Kangguru, untuk ibu lakukan dirumah


sebagai pengganti inkubator. Ibu mengerti

7)

Mendokumentasikan hasil pemeriksaan, dokumentasi telah dilakukan.

74

3. NEONATUS 6 Hari
Minggu, 24 Januari 2016
Pukul 15.00 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan bayinya menyusu kuat dan hanya diberikan ASI dan tidak
diberi makanan tambahan, BAK dan BAB lancar.
b. Objektif
Keadaan umum bayi tampak sehat. Tanda-Tanda Vital : nadi 128x/menit,
suhu 36,5C, pernafasan 42 x/menit, BB 2600 gram, TB 47 cm, Rambut, mata,
telinga, hidung, mulut, lidah dan kulit bersih. Bayi tidak kuning dan tidak ada
kebiruan, tali pusat belum puput, pusat bersih.Refleks hisap bayi kuat.
c.

Assesment
Neonatus usia 6 Hari

d.

Penatalaksanaan
1) Menginformasikan kepada ibu tindakan yang akan dilakukan. Ibu mengerti
2) Menginformasikan kepada ibu bahwa keadaan bayinya saat ini baik; ibu
mengerti
3) Mengingatkan kepada ibu agar tetap melakukan ASI eksklusif, yaitu
menyusui bayinya kapanpun bayi mau dan tanpa makanan tambahan
apapun selama 6 bulan, ibu sudah memberikan ASI Eksklusif
4) Memberikan KIE tentang tanda bahaya Bayi. Ibu mengerti.
5) Memberikan konseling kepada Ibu mengenai seluruh asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari seperti:
a. Tali pusat tetap dijaga kebersihannya. Biarkan tali pusat dalam kedaan
terbuka atau tidak perlu diisi kasa, alkohol atau apapun. Ikat popok
dibawah tali pusat, untuk menghindari tali pusat terkena kotoran bayi.

75

b. Jaga kehangatan bayi dengan cara, jangan membiarkan bayi


bersentuhan langsung dengan benda dingin, misalnya lantai, atau
tangan yang dingin. Jangan letakkan bayi dekat jendela, atau kipas
angin. Segera keringkan bayi setelah mandi atau saat bayi basah, untuk
mengurangi penguapan, dan jaga lingkungan sekitar bayi tetap hangat.
c. Perawatan bayi sehari-hari seperti: Segera ganti popok bayi setelah
BAK atau BAB. Keringkan bayi segera setelah mandi. Jangan
menggunakan bedak pada badan bayi untuk mencegah iritasi
6) Menjemur setiap pagi sehabis mandi, melakukan perawatan bayi, yaitu
selalu menjaga kebersihan tubuh bayi dengan memandikannya setiap hari
pada pagi dan sore hari, ibu telah melakukannya.
7) Menyepakati kunjungan ulang pada tgl 1 Februari 2016, ibu bersedia
meluangkan waktunya di rumah.

4. NEONATUS 2 Minggu
Senin, 1 Februari 2016
Pukul 15.00 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan bayinya menyusu kuat dan hanya diberikan ASI kapanpun ia
mau, dan tidak diberi makanan tambahan.BAK dan BAB lancar. Tali pusat
sudah puput pada hari ke 7 pada tanggal 25 Januari 2016,
b.

Objektif
Keadaan umum bayi tampak sehat. Tanda-Tanda Vital : nadi 129x/menit,
suhu 36,9C, pernafasan 51 x/menit, BB 3000 gram. Rambut, mata, telinga,
hidung, mulut, lidah dan kulit bersih.Bayi tidak kuning dan tidak ada
kebiruan, pusat bersih.Refleks hisap bayi kuat.

c.

Assesment
Neonatus usia 2 Minggu

76

d.

Penatalaksanaan
1) Menginformasikan kepada ibu bahwa keadaan bayinya saat ini baik; ibu
mengerti.
2) Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kehangatan bayi, seperti segera
mengganti popok bayi jika basah agar bayi tidak kedinginan; ibu sudah
melakukannya.
3) Mengingatkan ibu selalu melakukan perawatan bayi sesuai yang telah
dijelaskan minggu lalu; ibu sudah melakukannya
4) mengingatkan kepada ibu agar tetap melakukan ASI eksklusif, yaitu
menyusui bayinya tanpa jadwal dan tanpa makanan tambahan apapun
selama 6 bulan; bayi telah diberikan ASI
5) Mengingatkan kembali kepada ibu tanda bahaya Bayi, apabila terjadi salah
satu dari tanda bahaya yang disebutkan, ibu harus segera datang ke petugas
kesehatan; ibu mengerti dan akan melakukannya.
6) Menginformasikan kepada ibu bahwa akan dilakukan pemeriksaan
neonatuspada usia 6 minggu tanggal 23 Februari 2016, ibu bersedia datang.
7) Melakukan dokumentasi, Dokumentasi telah dilakukan.

5. Bayi Usia 1 bulan 5 hari


Selasa, 23 Februari 2016
Pukul 09.00 WIB
a. Subjektif
Ibu mengatakan bayinya menyusu kuat dan hanya diberikan ASI kapanpun ia
mau, dan tidak diberi makanan tambahan.BAK dan BAB lancar.
b.

Objektif
Keadaan umum bayi tampak sehat. Tanda-Tanda Vital : nadi 129x/menit,
suhu 36,9C, pernafasan 51 x/menit, BB 4000 gram. Rambut, mata, telinga,

77

hidung, mulut, lidah dan kulit bersih.Bayi tidak kuning dan tidak ada
kebiruan, pusat bersih. Refleks hisap bayi kuat.
c.

Assesment
Bayi usia 1 bulan 5 hari

d.

Penatalaksanaan
1) Menginformasikan kepada ibu bahwa keadaan bayinya saat ini baik; ibu
mengerti.
2) Melakukan informed consent untuk suntik Imunisasi BCG, Telah
dilakukan.
3) Menyuntikkan imunisasi BCG pada lengan sebelah kanan bayi, telah
disuntikkan.
4) Memberikan konseling untuk tidak melakukan apapun pada bekas
imunisasi dan akan timbul koreng hal itu adalah normal, ibu mengerti.
5) Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kehangatan bayi, seperti segera
mengganti popok bayi jika basah agar bayi tidak kedinginan; ibu sudah
melakukannya.
6) Mengingatkan ibu selalu melakukan perawatan bayi sesuai yang telah
dijelaskan minggu lalu; ibu sudah melakukannya
7) mengingatkan kepada ibu agar tetap melakukan ASI eksklusif, yaitu
menyusui bayinya tanpa jadwal dan tanpa makanan tambahan apapun
selama 6 bulan; bayi telah diberikan ASI
8) Mengingatkan kembali kepada ibu tanda bahaya Bayi, apabila terjadi salah
satu dari tanda bahaya yang disebutkan, ibu harus segera datang ke petugas
kesehatan; ibu mengerti dan akan melakukannya.
9) Menginformasikan kepada ibu untuk kembali pada tanggal 23 Maret 2016
untuk imunisasi Polio 2 dan HiB 1, ibu bersedia datang.
10) Melakukan dokumentasi, Dokumentasi telah dilakukan.

78

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
A. KEHAMILAN
Ny.K, usia 31 tahun melakukan pemeriksaan kehamilan rutin di
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Kontak pertama dengan klien pada
tanggal 21 Desember 2016 pada usia kehamilan 35 minggu 5 hari.
Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan ibu sebanyak 2 kali pada trimester
pertama, 3 kali pemeriksaan pada trimester kedua dan 7 kali pemeriksaan pada
trimester ketiga di Puskesmas Pasar Minggu. Jadi total keseluruhan kunjungan
yang dilakukan Ny.K sebanyak 12 kali kunjungan. Hal ini sesuai dengan
teori13) yang menyatakan bahwa pemeriksaan pada ibu hamil sebaiknya
dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan yaitu satu kali pada trimester
pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada trimester ketiga.
Pada pengkajian riwayat kehamilan sekarang didapatkan hari pertama
haid terakhir tanggal 15 April 2015. Kehamilan cukup bulan berlangsung 40
minggu atau 10 bulan1). Pada Ny.K persalinan terjadi pada tanggal dengan
usia kehamilan 40 minggu. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian antara teori
dengan kasus yang ada.
Dari hasil anamnesa didapatkan Ny. K umur 31 tahun hamil anak ke-2.
Hal ini sesuai dengan teori5) bahwa usia yang baik untuk hamil lebih dari 20
tahun dan tidak lebih dari 35 tahun dengan demikian ibu termasuk hamil tidak
beresiko.
Pada usia kehamilan 16 minggu, ibu sudah merasakan gerakan
janinnya, hal ini sesuai dengan pendapat8), dimana pada multigravida
pergerakan janin mulai dirasakan pada kehamilan 16 minggu.

79

Pada saat anamnesa ibu mengatakan bahwa anak terakhir ibu berusia 9
tahun, hal ini sesuai dengan teori2) yang menyatakan bahwa jarak persalinan
terakhir dan kehamilan sekarang lebih dari 2 tahun.
Kenaikan berat badan Ny. K selama kehamilan sebanyak 12 kg, hal ini
sesuai dengan teori13) yang menyebutkan bahwa kenaikan berat badan ibu
hamil normal berkisar 6,5 kg 16,5 kg.
Pada kunjungan ANC ke- 1 dan ke 3 dilakukan pengukuran nilai
status gizi, LILA Ny.K adalah 24 cm ini menunjukan kesesuaian dengan teori
yaitu LILA ibu hamil normal adalah >23,5 cm. 2)
Pemeriksaan palpasi pada ibu hamil di lakukan secara Leopold.
Leopold I untuk menentukan bagian apa yang terdapat di fundus uteri dan
TFU. Leopold II untuk menentukan batas samping uterus dan untuk
menentukan letak punggung janin yang membujur dari atas ke bawah
menghubungkan bokong dan kepala. Pada Leopold III untuk menentukan
bagian apa yang terletak disebelah bawah, sedangkan Leopold IV untuk
menentukan berapa bagian dari kepala yang telah masuk kedalam pintu atas
panggul. Pada kasus Ny.K dilakukan palpasi secara Leopold. Hal ini sesuai
dengan teori22) yang menunjukan kesesuaian antara terori dan kasus yang ada,
dan juga pada pelaksaan pemeriksaan DJJ di dapatkan hasil bahwa DJJ nya
adalah 143x/ menit hal ini menunjukan kesesuaian dengan teori2) yaitu DJJ
normal adalah 120 sampai dengan 160x/ menit.
Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan penulis terhadap Ny.K adalah
sebanyak 4 kali, di mulai sejak kehamilan 35 minggu sampai menjelang
melahirkan. Pada tahap pemeriksaan antenatal care pada Ny.K petugas
menggunakan standar 10 T yang terdiri dari: timbang berat badan, ukur
tekanan darah, nilai status gizi ( ukur lingkar lengan atas ), ukur tinggi fundus
uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, pemberian imunisasi
(Tetanus toksoid) TT lengkap, pemberian tablet zat besi, tes laboratorium,

80

tatalaksana kasus, temu wicara dalam rangka persiapan rujukan, dan tes PMS
dilakukan. Hal ini sesuai dengan ketentuan2) bahwa pemeriksaan antenatal
care dilakukan dengan menggunakan standar 10 T.
Pada pemeriksaan ANC pertama didapatkan TFU tidak sesuai dengan
masa kehamilannya yaitu 25 cm dengan TBJ 2015gram. Dilakukan
pemeriksaan USG dan hasil pemeriksaan Usia Kehamilan 36 minggu dengan
berat Janin 2400gram. Penulis menganjurkan ibu untuk makan makanan
dengan gizi seimbang dan bisa ditambahkan perbanyak makanan manis
seperti Es Krim, Jus alpukan dsb. Agar berat janin cepat naik.
Selama ibu memeriksakan kehamilannya, ibu mendapatkan vitamin zat
besi, dimulai dengan memberikan satu tablet sehari sesegera mungkin setelah
rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung Fe 60 mg dan asam folat 0,25 mg,
sebaiknya diminum bersamaan dengan vitamin C atau air jeruk agar cepat
dalam penyerapan dan tidak diminum bersamaan teh atau kopi karena akan
menggangu penyerapan.14)
Dalam

penatalaksanaan

ANC,

penulis

melakukan

tindakan

berdasarkan standar asuhan. Secara keseluruhan, ANC pada Ny.K berjalan


dengan baik, penulis mengharapkan agar pada saat ibu menghadapai
persalinan juga dapat berjalan dengan baik tanpa komplikasi apapun.

B. PERSALINAN
Pada tanggal 18 Januari 2016, pukul 08.00 WIB Ny. K datang ke
Puskesmas Pasar Minggu dengan keluhan sudah mulas-mulas sejak pukul
00.00 WIB, saat ini usia kehamilan 39 minggu 4 hari. Hal ini sesuai dengan
teori Bahwa proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu).4)

81

1. Kala I
Pada tahap persalinan kala I dimulai dari adanya mulas dan keluar
lendir darah sampai pembukaan lengkap berlangsung 3 jam 40 menit dari
pembukaan 3 cm dan tidak melewati garis waspada pada pemantauan melalui
partograf. Hal ini sesuai dengan teori9) yang menerangkan bahwa pada
primigravida kala I berlangsung kira- kira 13 jam, sedangkan pada multipara
kira- kira 7 jam, dengan perhitungan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan
pembukaan multigravida 2 cm/jam. Kemudian dilakukan pemeriksaan TTV
dan didapatkan hasil tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 37C, nadi 84
x/menit, pernapasan 21x/menit, dan hasil pemeriksaan ini masih dikategorikan
normal. Setelah dilakukan pengukuran abdomen Tinggi Fundus Uteri 28 cm,
dan palpasi, LI: teraba bulat, lunak, tidak melenting (bokong) LII: Sebelah kiri
teraba keras memanjang (punggung). Sebelah kanan teraba bagian-bagian
kecil janin.(ekstremitas). LIII: teraba bulat, keras, tidak melenting(kepala).
LIV: teraba divergen 4/5 bagian, taksiran berat badan janin saat ini adalah
2.635 gram, taksiran berat badan janin juga dalam keadaan normal untuk
dilahirkan hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa taksiran berat
badan janin dalam keadaan normal untuk dilahirkan adalah 2500 sampai
dengan 4000 gram.9) DJJ: 142x/menit. His 3 x 10 25
Pada saat dilakukan pemeriksaan dalam yang pertama didapatkan hasil
vulva dan vagina tidak ada kelainan, keadaan portio tebal, konsistensi lunak,
pembukaan 3 cm ketuban utuh, presentasi kepala posisi belum jelas,
penurunan Hodge I, mollase tidak ada. Diagnosa yang dibuat adalah G2 P1 A0,
hamil 39 minggu 4 hari inpartu kala I fase laten, janin tunggal hidup
presentasi kepala. Hal ini sesuai dengan teori bahwa tanda-tanda inpartu
adalah his yang teratur dan terdapat perubahan pada serviks melunak dan
mendatar15)

82

Pada kala 1 asuhan yang diberikan adalah memberikan dukungan


emosional pada ibu dengan cara membesarkan hati ibu dan mententramkan
hati ibu. Membantu pengaturan posisi pada ibu yaitu dengan menganjurkan
ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayinya.
Memberikan ibu makanan ringan dan teh manis dan juga menganjurkan ibu
untuk tidak menahan BAK, hal tersebut menunjukan kesesuaian dengan teori
menurut teori yaitu memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan
posisi, memberikan cairan dan nutrisi serta memberikan keleluasaan untuk
kekamar mandi secara teratur dan pencegahan infeksi.5)

2. Kala II
Pada pukul 11.40 Ibu mengatakan mulas yang sangat sering dan kuat
disertai rasa ingin meneran sehingga dilakukan pemeriksaan dalam,
didapatkan hasil portio tidak teraba, pembukaan 10 cm. ketuban utuh, lalu
dilakukan amniotomi. Warna jernih. penurunan kepala HIV, posisi ubun-ubun
kecil di depan. His kuat 4 x 10 45 dan bunyi jantung janin 144x/menit. Hal
ini sesuai dengan teori8) bahwa permulaan persalinan terjadi bila sudah
turunnya kepala dalam panggul, his semakin sering, darah lendir semakin
banyak dan terlihat adanya dorongan meneran, tekanan pada anus, perinium
menonjol dan vulva membuka.
Pada kala II berlangsung selama 16 menit, hal ini sesuai dengan
pernyataan10) yang menyatakan bahwa kala II pada primigravida berlangsung
1-2 jam sedangkan pada multigravida berlangsung maksimal 30 menit-1 jam.
Pengeluaran bayi Ny. K dilakukan dengan tehnik sanggah susur, hal ini sesuai
dengan1)
Pada pukul 11.56 WIB, bayi lahir spontan dengan jenis kelamin perempuan,
bayi menangis kuat, tonus otot baik dan warna kulit kemerahan, setelah lahir
bayi diletakkan diatas perut ibu, keringkan seluruh tubuh bayi kecuali tangan,

83

sambil memeriksa keadaan bayi, kemudian dilakukan pemotongan tali pusat


dan diikat, letakan bayi dalam keadaan tengkurap sehingga kulit ibu dan bayi
terjadi kontak langsung kemudian bayi ditutup secara bersama-sama untuk
mencegah hipotermi, kecuali bagian kepala di tutup dengan tutup kepala
(dilakukan IMD), sesuai dengan teori17) bahwa jam pertama bayi menemukan
payudara ibunya adalah awal suatu hubungan menyusui ibu bayi untuk
mempertahankan kehidupan.
3. Kala III
Ibu memasuki kala III, berlangsung selama 4 menit. Setelah bayi lahir
maka segera melakukan palpasi untuk memastikan tidak ada kehamilan
kembar, setelah yakin tidak ada bayi ke dua, sesuai dengan teori5) kemudian
melakukan manajemen aktif kala III, antara lain yaitu : memberikan suntikan
oksitosin, melakukan peregangan tali pusat terkendali dan melakukan massase
fundus. Setelah terlihat tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu adanya semburan
darah, tali pusat memanjang, uterus globuler. Plasenta lahir pukul 12.00 WIB
menurut teori lamanya kala III berlangsung tidak lebih dari 30 menit setelah
bayi lahir. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian antara teori dengan kasus
yang ada. Setelah itu memeriksa kelengkapan plasenta : warna plasenta merah
segar, selaput plasenta lengkap utuh, kotiledon lengkap 20 buah, diameter
19cm, ketebalan 2,5cm, insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat 45
cm, berat plasenta 450 gram, lalu masukkan kedalam kendi. Hal ini sesuai
dengan teori5) yang menyatakan bahwa setelah plasenta lahir, periksa kedua
sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban
lengkap dan utuh. Masukan plasenta kedalam kantung plastik atau tempat
khusus.
4. Kala IV
Pada kala IV keadaan umum ibu baik dengan tanda-tanda vital dalam
batas normal. Pada Ny.K terjadi rupture perineum tingkat I, tidak terjadi

84

rembesan pada robekan tetapi atas indikasi estetika maka dilakukan penjahitan
dengan metode jahitan jelujur. Sebelum melaksanakan jahitan, pasien tidak
diberikan anestesia, hal ini tidak sesuai dengan teori1) menyebutkan bahwa
teknik penjahitan memerlukan asisten, anastesi lokal, penerangan lampu yang
cukup, serta spekulum dan memperhatikan kedalaman luka.
Menurut teori observasi yang dilakukan pada kala IV yaitu setiap 15
menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua.9)
Terdapat kesesuaian antara teori dan kasus dimana pada kasus Ny.K,
pemantauan kala IV semua dilakukan dengan baik dan hasilnya di
dokumentasikan dalam bentuk catatan dan pengisian partograf dengan
lengkap.
Dilakukan vulva hygiene pada Ny.K, kemudian ibu dibersihkan,
dipasang pembalut, dan pakaian. Hal ini sesuai dengan teori1) yaitu
membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi.
Membersihkan cairan ketuban, lendir, dan darah. Membantu ibu memakai
pakaian yang bersih dan kering.
Jumlah pendarahan dari kala 1 sampai dengan kala IV adalah 150cc, jumlah
ini masih dalam batas normal yaitu tidak melebihi 400-500cc, sesuai dengan
teori14)
Selama persalinan, penulis melakukan pencatataan hasil observasi dan
kemajuan persalinan dan mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara
normal dengan menggunakan partograf, hal ini sesuai dengan5) bahwa
partograf dipakai untuk memantau kemajuan dan membantu petugas
kesehatan dalam penatalaksanaan partograf dimulai pada pembukaan 4 cm
(fase aktif), atau sebagai alat pencatat persalinan untuk menilai keadaan ibu,
janin dan seluruh proses persalinan.
Secara keseluruhan, penulis melakukan tindakan sesuai dengan standar
asuhan kebidanan.

85

C. NEONATUS
Bayi Baru Lahir Normal adalah bayi yang dilahirkan dari kehamilan
37 minggu sampai 42 minggu dan dengan berat badan lahir dari 2500 gram
sampai dengan 4000 gram. Pada kasus ini, bayi yang dilahirkan Ny. K sesuai
dengan masa kehamilan yaitu 39 minggu 4 hari. Namun, berat badan lahir
tidak sesuai yaitu 2200 gram. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian pada
masa kehamilan dengan teori namun tidak sesuai dengan berat badan antara
teori dengan kasus yang ada.9) Kesimpulan berat bayi Ny. K sesuai dengan
teori11). Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang
dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. Bayi Ny. K BBLR karena
adanya gangguan pertumbuhan pada kehamilan.
Pada bayi baru lahir didapatkan bayi Ny.K dengan usia kehamilan 39
minggu 5 hari lahir spontan, presentasi kepala, bayi menangis kuat, warna
kulit kemerahan, tonus otot baik, jenis kelamin perempuan, anus positif dapat
dinilai karena terlihat adanya mekonium dan tidak ada cacat bawaan. Keadaan
tersebut sesuai dengan pernyataan10) bahwa tanda-tanda neonatus sehat dan
cukup bulan adalah bayi langsung menangis, warna kulit kemerahan dan
pergerakan aktif. Asuhan lain yang diberikan pada bayi baru lahir adalah
mencegah terjadinya hipotermi, memberikan bayi kepada ibunya untuk segera
mendapatkan ASI sedini mungkin dan melakukan bounding attachment,
observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital dan melakukan perawatan tali
pusat.
Pada bayi Ny.K telah diberikan salep mata Chloramphenicol 1% dan
vit K 1 mg. Hal ini sesuai dengan teori10) yaitu Bayi baru lahir diberikan salep
mata untuk mencegah penyakit menular seksual kemungkinan terjadi infeksi
pada neonatus selama melewati jalan lahir seorang ibu dengan gonorhoe atau
klamidia dan pemberian vit K untuk mencegah perdarahan karena defisiensi

86

vitamin K pada bayi baru lahir. Pada bayi Ny.K telah diberikan Imunisasi
hepatitis B0 2 jam setelah lahir. Hal tersebut sesuai dengan16) yang
menyatakan bahwa Imunisasi hepatitis B0 diberikan dalam 12 jam setelah bayi
lahir.
Pada saat 2 jam setelah bayi lahir, dilakukan konsultasi kepada dokter
spesialis anak. Advise yang diberikan adalah masukkan bayi dalam inkubator
dan dilakukan pemantauan TTV setiap 1 jam. Berikan ASI Eksklusif.
Keadaan neonatus pada kunjungan 6 jam baik, refleks hisap baik, BAB dan
BAK normal serta menganjurkan memberikan ASI sedini mungkin. Hal ini
sesuai dengan teori menyatakan bahwa salah satu tujuan kunjungan 6 jam
adalah pemberian ASI awal.8) Pada kunjungan ini ibu juga diberikan informasi
mengenai tanda-tanda bahaya pada bayi dan salah satu penatalaksanaan pada
kunjungan 6 jam adalah memberikan informasi pada ibu agar mengenali
tanda-tanda bahaya pada bayi.
Pada kunjungan 6 hari keadaan umum bayi baik, tidak ditemukan
adanya tanda - tanda infeksi dan tali pusat bayi belum puput. Bayi menyusu
dengan kuat karena produksi ASI yang banyak. Hal ini sesuai dengan teori 18)
yang menyatakan bahwa pada hari ke 6, merupakan ASI peralihan dari
kolostrum menjadi ASI yang matur karena di sekresi dari hari ke-4 sampai
hari ke-10. Terjadi peningkatan berat badan sebanyak 400 gram dari berat
badan lahir 2200 gram menjadi 2600 gram, hal ini terjadi karena asupan ASI
yang cukup. Pernyataan ini sesuai dengan teori10) bahwa tanda ASI cukup
adalah bayi bertambah berat badannya.
Pada kunjungan 2 minggu keadaan bayi baik. Penatalaksanaan yang
diberikan adalah menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara On
Demand (sesuka hati) dan memberikan konseling mengenai imunisasi BCG.
Hal ini sesuai dengan teori10) bahwa bayi harus diberi ASI setiap kali ia lapar
atau 10-12 kali/24 jam. Terjadi peningkatan berat badan sebanyak 800 gram

87

dari berat badan lahir 2200 gram menjadi 3000 gram lalu sesuai dengan10)
yang menyatakan bahwa imunisasi BCG dapat diberikan 0-2 bulan.
Pada kunjungan 6 minggu keadaan bayi baik, bayi berusia 1 Bulan 5 hari,
berat sudah 4000gram dan panjang badan 50cm. bayi sudah disuntik BCG.

88

D. NIFAS
Menurut teori bahwa kunjungan nifas dilakukan sebanyak 4 kali
kunjungan, yaitu 6 jam setelah persalinan, 6 hari setelah persalinan, 2 minggu
setelah persalinan dan 6 minggu6), hal ini sesuai dengan asuhan kebidanan ibu
post partum yang diberikan pada Ny.K karena pada kunjungan nifas Ny.K
dilakukan sebanyak 4 kali.
Hasil pemeriksaan 6 jam post partum keadaan umum: baik, tekanan
darah: 100/70 mmHg, nadi: 82 x/mnt, respirasi: 21 x/mnt, suhu: 36.5C,
pengeluaran kolostrum: positif, Tinggi Fundus Uteri (TFU): 2 jari bawah
pusat, kontraksi: baik, kandung kemih: kosong, perdarahan: normal, lochea
rubra, warna merah segar, luka bekas jahitan tidak bengkak, tidak ada bau dan
tidak ada tanda-tanda infeksi. Hal ini sesuai dengan teori6) yang menyatakan
bahwa tujuan ibu nifas 6-8 jam salah satunya yaitu pemberian ASI awal.
Karena ibu mendapatkan jahitan maka ibu diberikan penyuluhan
tentang perawatan luka perineum yaitu dengan cara: Menganjurkan ibu untuk
menjaga kebersihan seluruh tubuh, mengajarkan ibu bagaimana cara
membersihkan daerah genitalnya dengan sabun dan air bersih setiap kali BAK
dan BAB. Sebelum dan sesudah membersihkan alat genitalnya ibu harus cuci
tangan sampai bersih, pada waktu mencucinya dari arah depan kebelakang
dan mencuci daerah anusnya terakhir dan menyarankan ibu untuk mengganti
pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari.10). Hal tersebut
menunjukkan kesesuaian antara teori dengan kasus yang ada
Pada 6 hari post partum keadaan umum: baik, tekanan darah: 110/80
mmHg, nadi: 81 x/mnt, respirasi: 21 x/mnt, Suhu: 36,5C, pengeluaran ASI:
positif, involusi berjalan normal, didapatkan data tinggi fundus uteri
pertengahan pusat-simfisis, kandung kemih kosong, lochea sanguinolenta
warna merah kekuningan berisi darah dan lendir, perdarahan sedikit, tidak

89

berbau, tidak ada tanda-tanda infeksi, luka bekas jahitan sudah kering dan
pengeluaran ASI lancar. Hal ini sesuai dengan pernyataan6) bahwa kunjungan
6 hari post partum yaitu, untuk memastikan involusi uterus berjalan normal,
evaluasi adanya tanda-tanda deman, infeksi atau perdarahan abnormal,
memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat, memastikan ibu menyusui
dengan benar dan tidak ada tanda-tanda adanya penyulit.
Setelah 2 minggu masa nifas keadaan umum: baik, tekanan darah:
110/80 mmHg, nadi: 82 x/mnt, respirasi: 19 x/mnt, Suhu: 36,7C, pengeluaran
ASI: positif, involusi berjalan normal, TFU: tidak teraba, pengeluaran lochea
alba. Hal ini tidak dengan pernyataan8) bahwa lochea serosa berwarna agak
kuning, cairan tidak berdarah lagi, terjadi pada hari ketujuh sampai keempat
belas. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny.K adalah mengingatkan
pada ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang,
menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya tanpa tambahan makanan
apapun. Hal ini sesuai dengan pernyataan6) bahwa pada kunjungan 2 minggu
setelah persalinan adalah memberikan konseling pada ibu mengenai hal-hal
berkaitan dengan asuhan pada bayi.
Pada 6 minggu masa nifas keadaan umum baik, tekanan darah 110/80
mmHg, Nadi 81x/m, Rr 19x/m Suhu 36,7 C Pengeluaran ASI positif dan
banyak. TFU sudah tidak teraba dan tidak ada pengeluaran pervaginam.
Pemeriksaan KB IUD. Hasil: IUD Tidak ada keluhan, Benang Positif, tidak
ada erosi, dilakukan pemeriksaan test IVA. Hasil IVA test negatif.

90

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Setelah melakukan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. K yang


dilaksanakan mulai tanggal 21 Desember 2015 sampai dengan tanggal 22 Febuari
2016, sejak usia kehamilan 35 minggu 5 hari sampai dengan 6 minggu masa nifas
Penulis membuat kesimpulan dan saran yang menghubungkan teori dengan kasus
yang dialami oleh Ny.K:
1.

Penulis telah mampu melakukan pengkajian pada Ny. K selama masa kehamilan,
persalinan, bayi baru lahir dengan BBLR, dan masa nifas.

2.

Penulis telah mampu mengumpulkan data objektif pada Ny. K selama masa
kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dengan BBLR, dan masa nifas.

3.

Penulis telah mampu melakukan analisis data (assesment) pada Ny. K selama
masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dan BBLR, dan masa nifas.

4.

Penulis telah mampu melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan pada Ny. K


selama masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir dengan BBLR, dan masa
nifas.

B. SARAN
a. Bagi Lahan Praktek
Di harapkan agar lahan praktek dapat melakukan asuhan kebidanan kepada ibu
sesuai

dengan

teori

yang

sedang

berlaku

serta

selalu

menambah

keterampilannya.

91

b. Untuk institusi pendidikan


Di harapkan mahasiswa mudah untuk mencari buku-buku di perpustakaan
dengan sumber-sumber terbaru terutama dalam hal kebidanan agar mahasiswa
mudah untuk mencari sesuai referensi untuk pembuatan tugas.
c. Untuk Mahasiswa
Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam
memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru
lahir serta Keluarga Berencana.

92

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawiroharjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka.
2. Departemen Kesehatan RI. 2009. Pedoman Pelayanan Antenatal. JNPK-KR,
Jakarta
3. Kusmiyati,Yun dkk. 2009. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya
4. Sumarah, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Yogyakarta:
Fitramaya
5. JNPK-KR. 2014.Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: Depkes
6. Suherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya
7. Wulandari,

Retno

Setyo.

2011.

Asuhan

Kebidanan

Ibu

Masa

Nifas.Yogyakarta: Gosyen Publishing


8. Winkjosastro, Hanifa Prof Dr. DSOG.2007 .Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
9. Rukiyah, Ai Y. 2009. Asuhan Kebidanan II (Persalinan), TIM: Jakarta
10. Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Acuan Nasional pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
11. Pudjiadi Antonius, H., Hegar Badriul, dkk. (2010). Pedoman Pelayanan
Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
12. Proverawati Atikah, & Ismawati Cahyo, S. (2010). BBLR : Berat Badan Lahir
Rendah. Yogyakarta: Nuha Medika.
13. Syafrudin., Hamidah., 2012, Kebidanan Komunitas, Jakarta : penerbit buku
kedokteran EGC.
14. Manuaba, Ida Ayu Dkk. 2010. Ilmu kebidanan, Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
15. Siwi Walyani, Elisabeth. 2015. Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru
Lahir. Yogyakarta: PUSTAKABARUPRESS

16. http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscapeFinal.pdf
17. Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif .Jakarta : Pustaka
Bunda
18. Bahiyatun., 2009. Buku Ajar Kebidanan Asuhan Nifas Normal. Jakarta: EGC.
19. KKB. 2011. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawiroraharjo

KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI

Pokok Bahasan

: Antenatal Care

Sub Pokok Bahasan

: Tanda-tanda persalinan

Sasaran

: Ny. K

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

Tanggal

: 4 Januari 2016

Waktu

: 10.00 wib

Pelaksanaan

: Fina Sofiana

A. Tujuan Umum
Sebelum mendapatkan penyuluhan diharapkan ibu hamil mengetahui
persiapan yang harus dilakukan sebelum persalinan.
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan ibu dapat :
1. Menjelaskan pengertian persalinan
2. Menjelaskan tentang tanda-tanda persalinan
3. Menjelaskan persiapan apa yang harus dilakukan sebelum persalinan
C. Materi
1.

Pengertian persalinan

2.

Tanda-tanda pasti persalinan

3.

Persiapan sebelum persalinan

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Media / Alat
1.

Gambar tanda-tanda persalinan

2.

Lembar balik

F. Evaluasi
1. Ibu dapat menjelaskan kembali mengenai :
a. Pengertian persalinan
b. Tanda-tanda persalinan
c. Persiapan apa yang harus dilakukan sebelum persalinan
G. Sumber
(prawirohardjo, 2012)
(Medika, 2011)

MATERI
TANDA-TANDA PERSALINAN

A. Apa yang dimaksud dengan persalinan ?


Persalinan adalah suatu proses alamiah di mana terjadi dilatasi serviks,
lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu. (Asuhan Persalinan Normal, 2004)
B. Apakah tanda-tanda persalinan ?
Tanda-tanda persalinan :
1.

Kekuatan His semakin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi
semakin pendek, frekuensi minimal 2 x 10 menit lamanya > 40 detik

2.

Nyeri yang melingkar dari pinggang memancar ke perut bagian depan

3. Keluar lendir bercampur darah


4.

Dapat disertai ketuban pecah

5.

Uterus mengeras pada waktu kontraksi

6. Pada saat pemeriksaan dalam dijumpai pelunakan serviks dan terjadi


pembukaan serviks
C. Persiapan sebelum persalinan
a.

Pemilihan tenaga penolong:


Apakah di bidan, dokter kandungan dan dalam pengambilan keputusan harus
menyertakan suami

b.

Pemilihan tempat persalinan :


Apakah puskesmas, RB dan RS

c.

Persiapan Ibu :
Psikologis Ibu, suami dan seluruh keluarga

d.

Perlengkapan yang harus dibawa


1. Baju ibu ( daster/kaos )
2. Perlengkapan pribadi ( celana dalam, BH )
3. Alat mandi ibu dan bayi

4. Kain
5. Perlengkapan bayi

KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI

Pokok Bahasan

: Antenatal Care

Sub Pokok Bahasan

: Tanda bahaya pada ibu hamil

Sasaran

: Ny. K

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

Tanggal

: 21 Desember 2015

Waktu

: 10.30 WIB

Pelaksana

: Fina Sofiana

A. Tujuan Intruksional Umum


Sebelum mendapatkan penyuluhan diharapkan ibu hamil dapat mengetahui
beberapa hal tentang tanda bahya pada ibu hamil.
B. Tujuan Intruksional Khusus
Setelah diadakan kegiatan kegiatan penyuluhan diharapkan ibu dapat
mengetahui Tanda bahaya pada kehamilan.
C. Materi Penyuluhan
Tanda bahaya pada kehamilan
D. Metode
1.

Ceramah

2.

Tanya jawab

E. Media
1.
F.

Buku

Sumber :
Kusmiyati, dkk, 2009

MATERI PENYULUHAN
TANDA BAHAYA PADA KEHAMILAN
Tanda tanda bahaya yang harus diinformasikan kepada klien antara lain :
1. Perdarahan pervaginam
Perdarahan pervaginam pada awal kehamilan ibu akan mengalami perdarahan
sedikit / spotting pada awal kehamilan perdarahan ini adalah tanda Hartman tetapi
perdarahan yang berbahaya pada kehamilan adalah:
a. Perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu,
perdarahan yang keluar berwarna merah dan berjumlah banyak dan terasa nyeri
perdarahan ini bisa dicurigai yaitu abortus, kehamilan ektopik atau mola.
b. Perdarahan yang terjadi pada kehamilan lanjut atau di atas 22 minggu darah
yang keluar berwarna merah segar atau kehitaman dengan bekuan, perdarahan
terus menerus dan terasa nyeri dapat di curigai plasenta previa atau solusio
plasenta.
2. Sakit kepala lebih dari biasanya atau sakit kepala yang menetap dan terus menerus.
3. Gangguan penglihatan ini terjadi secara tiba-tiba dan hanya terlihat bayangan dan
disertai sakit kepala yang hebat.
4. Pembengkakan pada wajah dan tangan yang dialami ibu dan tidak hilang setelah
beristirahat.
5. Nyeri abdomen yang dirasakan bukan nyeri perut persalinan tetapi nyeri perut
yang menetap dan tidak hilang setelah istirahat
6. Janin kurang bergerak seperti biasanya dapat dibedakan pada ibu dalam keadaan
berbaring pergerakan janin akan melemah dari biasanya

KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI

Pokok Bahasan

: Post Natal Care

Sub Pokok Bahasan

: Tanda-Tanda Bahaya Pada Ibu Nifas

Sasaran

: Ny. K

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

Tanggal

: 18 Januari 2016

Waktu

: 18.00 WIB

Penyuluh

: Fina Sofiana

A. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan dapat mengetahui tanda-tanda
bahaya pada masa nifas dan dapat melaksanakan apa yang harus dilakukan
apabila mengalami tanda-tanda tersebut.
B. Tujuan Khusus
Setelah mendapat penyuluhan diharapkan ibu mengetahui dan mampu
menjelaskan tentang :
a. Pengertian tanda-tanda bahaya pada masa nifas
b. Macam-macam tanda-tanda bahaya pada masa nifas
c. Apa yang dilakukan jika menemukan tanda-tanda bahaya pada masa nifas
C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. Media atau Alat
Buku
E. Referensi
1. (Manuaba, 2012)
2. (medika, 2011)

F. Evaluasi
Setelah dapat penyuluhan ibu mampu menjelaskan :
a. Pengertian tanda bahaya masa nifas
b. Macam-macam tanda bahaya pada masa nifas
c. Apa yang dilakukan apabila menemukan tanda bahaya

MATERI
TANDA BAHAYA PADA MASA NIFAS

A. Pengertian tanda bahaya pada masa nifas.


Adalah keadaan yang terjadi pada saat nifas atau sesudah melahirkan, yang
mengancam jiwa ibu.
B. Macam-macam tanda bahaya pada masa nifas.
1. Peningkatan perdarahan, bekuan darah atau keluar jaringan,
2. Perdarahan pervaginam merah terang setiap waktu setelah kelahiran,
3. Nyeri lebih hebat dari yang seharusnya,
4. Kenaikan suhu lebih dari 38o C,
5. Merasa kandung kemih penuh disertai ketidakmampuan untuk berkemih,
6. Pembesaran hematoma,
7. Perasaan gelisah disertai kulit yang pucat, dingin, dan lembab, denyut
jantung cepat, pusing dan gangguan penglihatan,
8. Nyeri, kemerahan dan hangat disertai dengan area yang keras pada betis,
9. Sulit bernafas, denyut jantung cepat, nyeri dada, batuk, persaan gelisah,
telapak tangan pucat, dingin atau kebiruan.
C. Apa yang harus dilakukan ibu apabila menemukan tanda bahaya?
Pada keadaan tersebut ibu harus segera mendapatkan pertolongan oleh Dokter
atau Bidan di Rumah Sakit.

KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI

Pokok Bahasan

: Personal Hygiene

Sub Pokok Bahasan

: Vulva Hygiene

Sasaran

: Ny. K

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

Tanggal

: 19 Januari 2016

Waktu

: 06.00 wib

Pelaksana

: Fina Sofiana

A. Tujuan Umum
Ibu di harapkan dapat mengerti pentingnya melakukan vulva higiene dan mau
melakukannya di rumah.
B. Tujuan Khusus
Setelah mendapat penyuluhan diharapkan ibu dapat :
a. Menjelaskan pengertian vulva higiene
b. Dapat menyebutkan tujuan vulva higiene
c. Mengetahui hal hal yang harus di perhatikan dalam melakukan vulva higiene
C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. Media atau Alat
Buku
E. Referensi
1. Catatan kuliah teknik keperawatan dasar
2. Buku petunjuk perawatan nifas
F. Evaluasi
Evaluasi dalam bentuk lisan :
Setelah diberikan penyuluhan ibu mampu menjelaskan:

1. Pengertian vulva higiene


2. Tujuan vulva higiene
3. Hal hal yang harus di perhatikan dalam melakukan vulva higiene

MATERI PENYULUHAN
VULVA HYGIENE

A. Pengertian
Vulva higiene adalah membersihkan alat kelamin wanita pada bagian luar
B. Tujuan melakukan vulva higiene
1. Menjaga agar vulva dan perineun tetap kering dan bersih
2. Mencegah terjadinya infeksi
C. Hal hal yang harus di perhatikan dalam melakukan vulva higiene

7. Vulva higiene di lakukan setelah buang BAB dan BAK secara rutin
8. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan vulva higiene
9. Bersihkan dengan sabun yang lembut
10. Membersihkan vulva dan perineum di mulai dari sympisis sampai anus
sehingga tidak terjadi infeksi
11. Pembalut yang sudah kotor haus segera di ganti
12. Pada saat mengganti pembalut, bagian dalam jangan sampai terkontaminasi

KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI

Pokok Bahasan

: Post Natal Care

Sub Pokok Bahasan

: Perawatan Tali pusat

Sasaran

: Ny. K

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

Tanggal

: 19 Januari 2016

Waktu

: 07. 30 wib

Pelaksanaan

: Fina Sofiana

A. Tujuan Umum
Sebelum mendapatkan penyuluhan diharapkan ibu nifas mengetahui
persiapan yang harus dilakukan sebelum melakukan perawatan tali pusat.
B. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan ibu dapat :
a. Menjelaskan tentang fungsi perawatan tali pusat
b. Menjelaskan tentang alat alat yang diperlukan saat perawatan tali pusat
c. Menjelaskan cara perawatan tali pusat
C. Materi
1. Penjelasan tentang fungsi perawatan tali pusat
2. Penjelasan tentang alat alat yang diperlukan saat perawatan tali pusat
3. Penjelasan cara perawatan tali pusat
D.

Metode
1. Praktek
2. Tanya jawab

E. Media / Alat
1. Ceramah

F. Evaluasi
Ibu dapat menjelaskan dan mempraktekkan kembali mengenai :
a. Fungsi perawatan tali pusat
b. Alat alat yang diperlukan saat perawatan tali pusat
c. Cara perawatan tali pusat
G. Sumber
1. (TIM, 2010)
2. (medika, 2011)

MATERI
PERAWATAN TALI PUSAT

A. Fungsi Perawatan Tali pusat


Fungsi perawatan tali pusat adalah melaksanakan perawatan tali pusat secara
benar agar menghindari terjadinya perdarahan atau infeksi pada tali pusat bayi
B. Alat alat yang diperlukan dalam perawatan tali pusat
Alat :
a. Kasa steril untuk membungkus tali pusat
b. Kapas bulat untuk membersihkan tali pusat
c. Kain bersih dan kering
d. Kom kecil yang berisi air bersih
e. Kotak plastik untuk membuang kasa / kapas yang sudah kotor
C. Cara Perawatan Tali pusat
Cara perawatan :
a. Buka kasa steril yamg masih melekat pada tali pusat bayi
b. Bersihkan tali pusat bayi dengan kasa yang telah dicelupkan dalam air
bersih
c. Keringkan tali pusat bayi dengan kain yang kering dan bersih agar tidak
lembab
d. Bungkus tali pusat bayi dengan kasa steril, dan anjurkan ibu untuk tidak
memberikan alkohol atau betadin pada tali pusat bayi agar tali pusat cepat
puput dan menghindari terjadinya infeksi
e. Bungkus tali pusat bayi dengan baik dan jangan terlalu kencang
f. Buang kasa atau kapas yang telah kotor pada kotak plastik yang tersedia
g. Anjurkan ibu untuk mengganti kasa setiap bayi akan dimandikan

KOMUNIKASI INFORMASI dan EDUKASI


Pokok Bahasan

: Neonatus

Sub Pokok Bahasan

: Tanda bahaya pada bayi

Sasaran

: Ny. K

Tempat

: Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu

Tanggal

: 18 Januari 2016

Waktu

: 18.00 wib

Pelaksana

: Fina Sofiana

A. Tujuan Umum
Sebelum mendapatkan penyuluhan diharapkan ibu nifas mengetahui
beberapa hal tentang tanda bahaya pada bayi.
B. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan dan pengarahan diharapkan ibu mengetahui :
1.

Asuhan apa saja yang harus diberikan pada bayi

2.

Apa saja yang harus dipantau pada bayi

3.

Tanda-tanda bahaya pada bayi

4.

Tanda-tanda bayi sakit berat

C. Materi
1.

Pengertian Asuhan Bayi Baru Lahir

2.

Yang Harus Dipantau pada Bayi Baru Lahir

3.

Pemantauan Tanda-tanda Vital

4.

Penilaian Bayi untuk Tanda Kegawatan

5.

Tanda-tanda Bayi Sakit Berat

D. Metode
1.

Ceramah

2.

Evaluasi

E. Media / Alat
1.

Ceramah

F. Evaluasi
Setelah mendapat penyuluhan tentang Tanda Bahaya pada Bayi, ibu dapat
mengetahui:

G.

1.

Asuhan apa saja yang harus diberikan pada bayi

2.

Apa saja yang harus dipantau pada bayi

3.

Tanda bahaya pada bayi

4.

Tanda-tanda bayi sakit berat

Sumber
Prawirohardjo, Sarwono. .2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

MATERI
TANDA-TANDA BAHAYA PADA BAYI

A. Pengertian Asuhan pada Bayi Baru Lahir


Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan kepada
bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar bayi yang
baru lahir akan menunjukan usaha pernafasan spontan dengan sedikit bantuan
atau gangguan.
B. Yang Harus Dipantau pada Bayi Baru Lahir
Menurut Sarwono Prawirohardjo, 2006 yang harus dipantau pada bayi baru
lahir adalah sebagai berikut :
1.

Suhu badan dan lingkungan

2.

Tanda-tanda vital

3.

Berat badan

4.

Mandi dan perawatan kulit

5.

Pakaian

6.

Perawatan tali pusat

C. Pemantauan Tanda-tanda Vital


Menurut Sarwono Prawirohardjo (2006) pemantauan tanda-tanda vital bayi
adalah sebagai berikut:
1. Suhu tubuh bayi diukur melalui dubur atau ketiak.
2. Pada pernapasan normal, perut dan dada bergerak hampir bersamaan tanpa
adanya retraksi, tanpa terdengar suara pada waktu inspirasi maupun
ekspirasi. Gerak pernapasan 30-60 kali permenit.
3. Nadi dapat dipantau disemua titik-titik nadi perifer.
4. Tekanan darah dipantau hanya bila ada indikasi.
D. Penilaian Bayi untuk Tanda Kegawatan
Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa
tanda-tanda berikut (Sarwono Prawirohardjo, 2006) :

1.

Sesak nafas.

2.

Frekuensi pernafasan 60 x/menit.

3.

Gerak retraksi didada.

4.

Malas minum.

5.

Panas atau suhu badan bayi rendah.

6.

Kurang aktif.

7.

Berat lahir rendah (1500-2500 gram) dengan kesulitan minum.

E. Tanda-tanda bayi sakit berat


Apabila terdapat salah satu atau lebih tanda-tanda berikut (Sarwono
Prawirohardjo, 2006).
1.

Sulit minum

2.

Sianosis sentral (lidah biru)

3.

Perut kembung

4.

Periode apneu

5.

Kejang/periode kejang-kejang kecil

6.

Merintih

7.

Perdarahan

8.

Sangat kuning

9.

Berat badan lahir < 1500 gram

10.