Você está na página 1de 13

LAPORAN

ULTRASONIK

WIMBORO GALASAKTI PRABOWO (6513040034)


RIZKY AYU AMALIASARI

(6513040036)

R.A INTAN DWI SARASWATI

(6513040052)

FULIAN NANDA DWI P.

(6513040064)

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2014/2015
BAB VII
UJI ULTRASONIK

7.1 Tujuan
Mahasiswa dapat melakukan pengujian ultrasonic terhadap suatu material dengan
menggunakan prosedur yang benar. Dan mahasiswa diharapkan dapat menggunakan
pesawat ultrasonic dalam memeriksa ketebalan suatu bahan ataupun cacat pada suatu
bahan atau material yang tidak dapat dilihat secara visual/langsung.
7.2 Dasar Teori
Gelombang Ultrasonic adalah gelombang mekanik seperti gelombang suara yang
frekuensinya lebih besar dari 20kHz. Gelombang ini dapat dihasilkan dari probe yang
berdasarkan perubahan energi listrik menjadi energi mekanik. Sebaliknya probe juga
dapat mengubah energi mekanik menjdi energi listrik. Selama perambatannya di
dalam material, gelombang ini dipengaruhi oleh sifat-sifat bahan yang dilaluinya
missal masa jenis, homogenitas, besar butiran, kekerasan dan sebagainya. Sehingga
gelombang ini dapat dipakai untuk mengetahui jenis bahan, tebal dan ada tidaknya
cacat di dalam bahan tersebut. Gelombang Ultrasonic dapat dipantulkan dan dibiaskan
oleh permukaan batas antara dua bahan yang berbeda. Berdasarkan sifat pantulan
tersebut dapat ditentukan tebal bahan, lokasi cacat serta ukuran cacat.
7.2.1 Prinsip dasar ultrasonic.
Pemeriksaan tebal bahan atau adanya cacat dalam bahan dengan gelombang
ultrasonic dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : teknik resonansi, teknik tranmisi
dan teknik gema. Dari ketiga teknik tersebut, teknik gema kontak langsung paling
sering digunakan terutama pada pemeriksaan di lapangan.

Pantulan/Gema
Pada teknik ini, probe secara bergantian mengeluarkan dan menerima
getaran. Tebal bahan dan letak cacat ditentukan dari letak getaran/gema pada layar
osiloskop, sedangkan besarnya ditentukan dari simpangan tinggi getaran yang
diterima kembali.

VII-2

osiloskop

probe

Benda uji

Gambar 7.1 Prinsip Kerja pada Uji Ultrasonik


7.2.2 Gelombang Ultrasonic.
Gelombang ultrasonic adalah gelombang mekanik seperti suara, yang
frekuensinya lebih besar dari pada 20 kHz. Gelombang ini mempunyai besaran
fisis seperti pada suara yakni panjang gelombang ( ), kecepatan rambat (v),
waktu getar (T), amplitudo (A), frekuensi (f), fasa ( ) dan sebagainya. Formula
yang berlaku bagi gelombang suara berlaku pula pada gelombang ultrasonic,
missal :

v
f

s v.t

sin v1

sin v2

(snellius)

I1 r22

I 2 r12

(least aquare law)

VII-3

If

= I 0e

(attenuation)

Hukum seperti hamburan, difraksi, disfersi, disperse dan hukum gelombang


ultrasonic. Tetapi dalam bahasan selanjutnya diutamakan perhitungan tentang
jarak, panjang gelombang, pantulan dan pembiasan.
Dalam perambatannya pada bahan yang sama, kecepatan dan frekuensi
dianggap tetap. Dalam perambatannya dalam berbagai bahan, frekuensi
gelombang selalu dianggap tetap, sedangkan kecepatan rambat bergantung pada
jenis bahan dan mode gelombang. Frekuensi yang sering digunakan untuk uji
tanpa rusak umumnya antara 250 kHz-15 MHz, sedangkan pada pemeriksaan las
digunakan frekuensi 2 MHz-6MHz.
7.2.3 Mode
Dari cara bergetar dan perambatannya maka gelombang ultrasonic dapat
menjalar di dalam bahan dalam berbagai mode :
1. Mode Longitudinal.

Mode longitudinal terjadi bila gelombang ultrasonic merambat pada


suatu arah sejajar dengan arah gerakan atom yang digetarkan, misal
atom digerakkan kekanan dan kekiri sedangkan gelombang bergerak
merambat kearah kekiri atau kekanan. Gelombang longitudinal dapat
merambat pada semua bahan, baik gas, cair maupun padat.

2. Mode Transversal

Mode transversal terjadi bila gelombang ultrasonic merambat pada suatu


arah tegak lurus pada arah gerakan atom yang di getarkan , missal atom
digetarkan keatas dan ke bawah, sedangkan gelombang merambat kea
rah kanan dan kiri .

Gelombang transversal hanya bisa merambat pada benda padat .

Mode Gelombang Transversal dan Longitudinal pada ditunjukkan


Gambar dibawah ini:

VII-4

pada

a
Gambar 7.2 Mode Gelombang Transversal dan Longitudinal
3. Mode Permukaan.

Mode transversal terjadi bila gelombang transversal merambat pada


permukaan. Gerakan atom yang bergetar berbentuk elips. Sesuai dengan
namanya gelombang permukaan hanya merambat pada permukaan
padat dengan kedalaman maksimum satu panjang gelombang. Mode
Permukaan atom ditunjukkan pada Gambar dibawah ini:

VII-5

Gambar 7.3 Mode Permukaan


4. Mode Plat.

Mode pelat terjadi pada bila gelombang transversal merambat pada


bahan pelat tipis yang tebalnya kurang dari setengah panjang
gelombang.

Gerakan

atom

yang

bergetar

berbentuk

elips.

Gelombang pelat merambat pada seluruh benda uji tipis tersebut,


baik dalam bentuk gelombang simetris atau gelombang asimetris.
Perubahan Mode.

Gelombang ultrasonic yang merambat dalam suatu bahan dapat


merubah mode dari satu mode ke mode lainnya. Perubahan mode ini
terjadi misalnya karena pantulan atau pembiasan. Bila mode berubah
maka kecepatan rambatnya berubah, sedangkan frekuensinya tetap,
akibatnya panjang gelombangnya juga akan berubah. Mode Plat
ditunjukkan pada Gambar dibawah ini:

Gambar 7.4.Mode Plat


5. Kemampuan deteksi.

Cacat kecil dapat memantulkan kembali gelombang ultrasonic bila


permukaannya cukup luas. Cacat terkecil yang dapat dideteksi oleh
gelombang ultrasonic adalah bila :

minimum =

1
2

VII-6

6. Kecepatan rambat dan panjang gelombang.

Kecepatan rambat (v) gelombang ultrasonic dalam suatu bahan


tergantung pada jenis bahan yang dilalui oleh mode gelombang
tersebut.

7. Transmisi.

Bila gelombang ultrasonic menjalar dari bahan yang satu ke bahan


dua tegak lurus pada permukaan batas pada kedua bahan tersebut,
maka sebagian bahan akan diteruskan sedangkan sebagian lagi
dipantulkan. Intensitas yang diteruskan atau dipantulkan tergantung
pada koefisien transmisi atau refleksinya.
R

W2 W1
W2 W1

D= 1-R

W1 1V1

dimana :
R = Koefisien refleksi
D = Koefisien transmisi
W = Impedansi akustik

= Massa jenis
V = Kecepataqn rambat.

7.3 Metodologi
7.3.1

Peralatan

VII-7

7.3.2

7.3.3

Alat pesawat ultrasonik

Probe

Blok kalibrasi

Kabel Coaxial

Display (layar CRT)

Specimen 1 berbentuk balok baja

Stam pat

Oli

Bahan

Langkah Kerja
1. Persiapan alat (memasang, menyalakan alat)
2. Menentukan besar range yang akan digunakan (100 atau 125), range > dari
pada benda yang diukur. Pada percobaan ini menggunakan range = 100
3. Kalibrasi awal, yaitu dengan meletakkan probe di atas plat kalibrasi awal
(tebal = 25 mm) yang khusus digunakan untuk kalibrasi. Sebelum
ditempelkan, blok kalibrasi diolesi dengan oli. Kemudian mengatur tombol
pada alat sehingga muncul 4 garis sebagai indikasi (pada titik skala 2.5, 5,
7.5, 10), dimulai dari skala paling kanan display.
4.

Material uji diolesi terlebih dahulu dengan oli. Letakan probe di atas
material yang akan diuji. Cari angka yang paling stabil

5. Jika tinggi indikasi backwall sama dengan indikasi cacat maka itu
merupakan batas cacatnya. Sehingga dapat diketahui bentuk dari cacat
tersebut.
6. Membaca indikasi hanya garis yang pertama yang dibaca hasilnya karena
skala yang selanjutnya hanya merupakan pantulan.
7. Catat data laporan sementara

7.4 Hasil dan Pembahasan

VII-8

Gambar dibawah ini menunjukkan specimen pada Uji Ultrasonik,

30
19

40
20

30
25,5

30

C2
A

50

35

60

B
C

20
30

35

20,5

20,5

30
30

Gambar 7.5 Sketsa Spesiman pada Uji Ultrasonik


Pada pengujian ultrasonic ini, hanya dilakukan untuk mencari ketebalan dan
kedalaman suatu speciment saja tanpa mencari cacat yang berada pada bagian dalam dari
speciment dengan menggunakan teknik gema. Pada percobaan inipun hanya menggunakan
1 specimen, dimana spesimen tersebut berbentuk balok baja, dan tebal specimen dicari
melalui indikasi terakhir yang muncul dengan rumus :
Tebal

IndikasiMu ncul
xRange
SkalaScreen

Hasil pengujian :

VII-9

Spesiment 1.

Dengan menggunakan range 100mm.


Jumlah Indikasi yang muncul =
Indikasi I

25
10=2.5
100

Indikasi II

2 x 25
10=5
100

Indikasi III

3 x 25
10=7.5
100

Indikasi IV

4 x 25
10=10
100

dB scanning

= 30 dB

Kedalaman material =

Range 100
=
=4
Tebal
25

3 x 100
=30 mm
10

Cacat A
2,25 x 100
=22,5 mm
10

Kedalaman cacat A =

Diperoleh hasil :
Panjang
: 50 mm
Lebar
: 30 mm
Kedalaman : 22,5 mm

Kedalaman cacat B =

Diperoleh hasil :
Kedalaman : 20,5 mm
Diameter
: 3,5 mm

Kedalaman cacat C =

Diperoleh hasil :
Panjang
: 60 mm
Lebar
: 30 mm
Kedalaman : 20,5 mm

Cacat B
2,05 x 100
=20,5 mm
10

Cacat C
2,05 x 100
=20,5 mm
10

Cacat D
Kedalaman cacat D =

1,9 x 100
=19mm
10

VII-10

7.5 Kesimpulan
7.5.1

Kesimpulan
Dari pengujian Ultrasonic yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan.
Adapun kesimpulan yang diperoleh sebagai berikut :

Teknik gema merupakan teknik yang sering digunakan untuk mengetahui


ketebalan dan kedalaman dari cacat maupun spesimen.

Dengan menggunakan prinsip pantulan gelombang ultrasonik, dapat


mengetahui ketebalan dan kedalaman cacat pada material.

Untuk mencari cacat pada material dapat dilakukan dengan melihat adanya
gelombang pada display pasawat ultrasonik , kemudian dapat mengetahui
indikasi , kedalaman dan dimensi dari suatu indikasi tersebut.

Dalam percobaan terdapat 4 cacat


1. Cacat A
Diperoleh hasil :
Panjang
: 50 mm
Lebar
: 30 mm
Kedalaman : 22,5 mm
2. Cacat B
Diperoleh hasil :
Kedalaman : 20,5 mm
Diameter
: 3,5 mm
3. Cacat C
Diperoleh hasil :
Panjang
: 60 mm
Lebar
: 30 mm
Kedalaman : 20,5 mm
4. Cacat D
Kedalaman cacat D = 19 mm

7.5.2

Analisa kesalahan
Ketidak tepatan data hasil percobaan dengan hasil perhitungan dapat
disebabkan oleh terjadinya kesalahan pada pembacaan skala yang nampak pada
display ataupun kesalahan pada kalibrasi awal.

VII-11

DAFTAR PUSTAKA

Metode Ultrasonic, 1997, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Harsono, Dr, Ir & T.Okamura, Dr, [1991], Teknologi Pengelasan Logam, PT.
Pradya Paramita, Jakarta

Wachid Suherman, Ir, [1987], Diktat Pengetahuan Bahan, Jurusan Teknik Mesin
FTI, ITS

Dosen Metallurgi, [1986], Petunjuk Praktikum Logam, Jurusan Teknik Mesin FTI,
ITS

M.M. Munir, [2000], Modul Praktek Uji Bahan, Vol 1, Jurusan Teknik Bangunan
Kapal, PPNS

Budi Prasojo, ST [2002], Buku Petunjuk Praktek Uji Bahan, Jurusan Teknik
Permesinan Kapal, PPNS

LAMPIRAN