Você está na página 1de 18

Apakah Berdoa itu Percuma?

1. Rangkaian artikel tentang doa:


Manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya. Hal
ini dinyatakan dalam doa, sehingga doa menjadi bagian hakiki dalam kehidupan manusia.
Tulisan ini akan membahas tentang hakekat doa, juga kesalahan-kesalahan persepsi
tentang doa. Pembahasan akan dibagi menjadi empat bagian, yang terdiri dari:
1. Kesalahan persepsi doa (bagian 1): Tuhan tidak campur tangan dalam kejadian di
dunia ini.
2. Kesalahan persepsi doa (bagian 2): Semua sudah diatur dan ditakdirkan Tuhan,
sehingga berdoa tidak merubah apapun.
3. Kesalahan persepsi doa (bagian 3): Berdoa dapat merubah keputusan Tuhan.
4. Kesimpulan: Kenapa kita harus berdoa?

Mengapa kita berdoa?


Doa sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan semua orang dari semua agama, karena
manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya.
(KGK, 31, 356, 1721, 2002) Namun pertanyaannya adalah, kenapa kita harus berdoa?
Mungkin kita tidak pernah memikirkan pertanyaan ini, karena doa sudah menjadi bagian
sehari-hari atau mungkin juga karena doa dianggap tidak penting. Dalam tulisan ini akan
ditelusuri beberapa pertanyaan yang mendasar tentang doa. Pertama kita akan melihat
beberapa kesalahan umum yang tidak hanya dilakukan di jaman sekarang, namun juga
dilakukan dalam sejarah umat manusia. St. Thomas Aquinas mendefinisikan ada tiga
kesalahan umum tentang persepsi doa.[1]

Kesalahan 1: Tuhan tidak campur tangan dalam


kejadian di dunia ini.
Argumen yang paling ekstrem adalah karena ketidakpercayaan akan keberadaan Tuhan.
Bagi yang masih mempertanyakan keberadaan Tuhan, silakan membaca artikel: :
Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Karena tidak percaya kepada Tuhan
atau sesuatu yang lebih besar dari keberadaan dirinya, maka orang-orang yang tidak
percaya kepada Tuhan tidak merasa perlu untuk berdoa.[2]

Selanjutnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa memang Tuhan menciptakan segala
sesuatu; namun setelah penciptaan, Tuhan tidak campur tangan lagi, dan semuanya
berjalan menurut hukum alam berdasarkan sistem yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.
Pendapat ini dianut oleh aliran deism[3] Aliran ini menerima ke-Tuhanan hanya dari
sisi filosofi, tanpa percaya adanya wahyu Tuhan.[4] Menurut pemahaman ini, Tuhan
dilihat sebagai seseorang yang yang duduk di tahta suci dan melihat semua perbuatan
manusia dan perjalanan sejarah, namun Dia tidak melakukan apa-apa.
Dalam kapasitas yang lebih kecil, berapa sering kita mendengar seseorang mengatakan
Ah, jangan terlalu banyak merepotkan Tuhan. Masa Tuhan mengatur urusan-urusan
yang kecil? Seolah-olah Tuhan tidak tertarik untuk membantu manusia dalam urusanurusan yang kecil. Kadang urusan yang bagi seseorang dianggap kecil, bagi Tuhan
menjadi sesuatu yang penting untuk kehidupan rohani seseorang.[5]

Tuhan menciptakan manusia karena kasih dan untuk menyatakan


kemuliaan-Nya.
Pertama, kita harus mempertanyakan kenapa Tuhan menciptakan dunia ini, terutama
kenapa menciptakan manusia menurut gambaran-Nya (Lih Kej 1:26-27). Kalau kita dan
juga Deism percaya bahwa Tuhan adalah Maha dalam segalanya, maka konsekuensinya
Tuhan tidak membutuhkan siapa-siapa, termasuk dunia ini dan manusia. Bisa dikatakan
bahwa keberadaan kita tidak menambah kemuliaan Tuhan, karena Tuhan adalah absolut
baik. Sebaliknya kalau kita berdosa, juga tidak mengurangi kemuliaan Tuhan, karena Dia
maha sempurna.
Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa motif dari penciptaan dunia dan manusia
adalah karena kasih (KGK, 1604) dan untuk merefleksikan kemuliaan Tuhan. (KGK,
294) Kalau kita percaya bahwa keberadaan kita adalah karena kebetulan saja, dan bukan
akibat dari kasih Tuhan, maka pendapat ini sebenarnya sangat tragis. Argumen ini sama
seperti pendapat bahwa keberadaan kita sebagai anak tidaklah diinginkan oleh orang tua
kita, dan hanya terjadi secara kebetulan. Tentu saja ini adalah kejadian yang tragis.
Kemungkinan ini disanggah oleh Tuhan sendiri, sebab Dia berkata dalam kitab nabi
Yesaya, Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak
menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan
melupakan engkau (Yes 49:15). Dengan demikian Tuhan mau menyampaikan bahwa Ia
mengasihi lebih kita lebih daripada ibu kita mengasihi kita.
Jadi kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah maha dalam segalanya, termasuk maha baik
dan maha kasih, sangatlah tidak mungkin kalau Tuhan menciptakan manusia hanya
secara kebetulan atau eksistensi manusia terjadi secara kebetulan. Argumen yang
memungkinkan adalah Tuhan mengasihi manusia. Kasihnya begitu besar kepada
manusia, sehingga Dia memberikan Putera-Nya kepada dunia untuk menebus dosa umat
manusia (Lih. Yoh 3:16). Dan inilah yang dapat menjelaskan keberadaan kita. Karena
kasihlah, maka Tuhan ingin semua manusia mengalami dan turut berpartisipasi dalam
kemuliaan-Nya, yaitu dalam kehidupan abadi di surga.

Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah kasih, maka akan sulit membayangkan
kepercayaan yang dianut oleh Deism, yaitu Tuhan hanya berpangku tangan melihat
semua yang terjadi di dunia ini, termasuk penderitaan umat-Nya. Ibaratnya, Tuhan hanya
sebagai penonton. Bayangkan kalau seseorang mempunyai ayah konglomerat. Kemudian
orang ini jatuh miskin sampai menderita kelaparan. Sesuai dengan prinsip dari Deism,
maka konglomerat ini hanya berpangku tangan saja, hanya menonton tanpa berbuat
apapun. Kita bisa simpulkan bahwa perbuatan konglomerat ini jauh dari kategori kasih.
Dengan melihat contoh ini, kita bisa juga menyimpulkan kepercayaan Deism adalah
bertentangan dengan prinsip bahwa Tuhan adalah kasih.
Orang yang mempunyai kepercayaan Deism, sangat sulit untuk berdoa, karena mereka
tidak melihat gunanya berdoa. Mereka melihat bahwa semua yang terjadi adalah
merupakan hasil usaha mereka tanpa campur tangan Tuhan. Dan tentu saja ini jauh dari
sikap kerendahan hati, sikap utama yang diperlukan dalam doa. Mari sekarang kita
melihat bahwa Allah kita adalah Allah yang terus bekerja untuk keselamatan umat
manusia, dan juga keselamatan kita masing-masing.

Allah Trinitas dan seluruh isi surga terus bekerja untuk keselamatan
seluruh umat manusia.
Orang-orang farisi mengajukan keberatan kepada Yesus, karena Yesus menyembuhkan
orang yang sudah 38 tahun sakit pada hari Sabat. Dan Yesus menjawab Bapa-Ku bekerja
sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga (Yoh 5:17). Kemudian sebelum Yesus
mengalami penderitaan-Nya, Dia menjanjikan murid-murid-Nya Roh Kebenaran, yaitu
Roh Kudus (Yoh 14;16-18). Dan Roh Kudus menyatakan diri-Nya secara penuh pada saat
Pentakosta (Kis 2:1-40). Kemudian Roh Kudus terus bekerja melalui para murid, para
pengikut Kristus, Gereja, dan melalui kita masing-masing (melalui rahmat awal yang kita
terima lewat sakramen pembaptisan). Roh Kudus juga terus menerus berkarya untuk
memurnikan Gereja dan seluruh anggota Gereja sampai akhir jaman. Jadi kalau Roh
Kudus, pribadi ketiga dari Trinitas terus bekerja, maka Yesus, pribadi kedua, dan
Allah Bapa, pribadi pertama juga terus bekerja, karena mereka adalah satu.
Dan karena para kudus di surga berpartisipasi dalam kasih Allah, maka mereka juga
berpartisipasi dalam karya keselamatan seluruh umat manusia dengan doa-doa syafaat
mereka. Di kitab Wahyu diceritakan bagaimana para kudus mempersembahkan doa
mereka (Wah 5:8; 8:3-4). Di sinilah perannya persatuan para kudus, sehingga umat
Katolik berdoa bersama dengan para kudus di surga.

Tuhan telah bekerja dan sedang bekerja dalam sejarah umat manusia.
Tuhan telah bekerja dan terus bekerja dalam sejarah umat manusia. Kita melihat
bagaimana Tuhan bekerja dalam pembentukan bangsa Israel dan juga dalam perjalanan
bangsa ini, sehingga bangsa Israel menjadi bangsa pilihan Allah. Bangsa pilihan Allah
ini mendapatkan arti yang baru pada saat Yesus mendirikan Gereja-Nya. Sehingga Gereja
juga disebut Bangsa Pilihan Tuhan yang baru / New People of God. (LG, 13)

Jadi, Allah kita adalah Allah yang terus bekerja dalam sejarah umat manusia, juga dalam
sejarah kehidupan kita masing-masing. Marilah kita imani bahwa Tuhan adalah Maha
Kasih. Dan dalam kasih-Nya yang tak terselami, Dia tetap akan campur tangan dalam
setiap hal yang kita alami. Mari kita percayakan kehidupan kita masing-masing ke dalam
tangan Yesus yang juga mengerti akan kehidupan manusia, karena Dia sudah menjelma
menjadi manusia. Mari kita percayakan setiap penderitaan kita kepada Yesus yang sudah
terlebih dahulu menderita buat kita, dan juga segala sukacita dan kebahagiaan kita yang
semuanya berasal dari Allah.
Marilah kita berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Ya, Tuhan, pada saat ini aku datang di hadapan-Mu, memohon agar Engkau memberikan
kepadaku hati yang rindu untuk bersatu dengan-Mu dalam doa. Berikanlah kepadaku hati
yang percaya akan penyelenggaraan tangan-Mu, sebab Engkau adalah Allah yang penuh
kasih. Dalam naungan kasih-Mu, bantulah aku setiap hari untuk menyadari bahwa
Engkau hadir dalam setiap hal yang aku lakukan. Aku juga mengundang Engkau untuk
selalu campur tangan dalam suka maupun duka di dalam kehidupanku. Bunda Maria,
para malaikat dan para kudus di surga, doakanlah aku. Dalam nama Yesus, aku naikkan
doa ini. Amin.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

2. Mengapa kita berdoa?


Doa sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan semua orang dari semua agama, karena
manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya.
(KGK, 31, 356, 1721, 2002) Dalam tulisan pertama telah dibahas kesalahan persepsi doa,
yaitu: Tuhan tidak campur tangan dalam kejadiaan di dunia ini. Dengan pembuktian yang
sama dari St. Thomas Aquinas, kita akan menelusuri kesalahan persepsi kita tentang doa
yang ke-2.

Kesalahan 2: Semua sudah ditakdirkan Tuhan,


sehingga berdoa tidak mengubah apapun.
Kesalahan kedua adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa berdoa itu percuma,
karena semua sudah ditakdirkan. Berapa banyak orang yang mengatakan, kalau semua
sudah ditakdirkan, maka tidak ada gunanya lagi berdoa, karena tidak akan mengubah
apapun. Sering orang mengatakan sudah nasib saya begini, doa atau tidak doa sama
saja.

Kalau kita meneliti pernyataan-pernyataan di atas, sebetulnya ada kecenderungan untuk


menyalahkan Tuhan. Apakah kita pernah berkata Ya memang sudah nasib saya untuk
menjadi kaya atau menjadi pintar atau saya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang
yang baik. Dalam hal-hal yang menurut kita positif dan bagus, kita cenderung untuk
diam saja, seolah-olah memang itu sudah layak dan sepantasnya. Namun pada saat terjadi
sesuatu yang kurang baik, kita cenderung untuk menyalahkan Tuhan dengan tameng
nasib atau takdir.
Bukankah ini sama saja seorang yang ditanya Kamu kaya, pintar, juga baik. Bagaimana
kamu bisa mendapatkan semua itu? Anak itu menjawab Oh, saya berusaha dengan
sekuat tenaga untuk bekerja, membaca buku dan juga aktif dalam kegiatan Gereja.
Kemudian ada seseorang yang ditanya Kamu kok hidupnya menderita sekali, sekolah
tidak selesai dan pekerjaan juga susah. Dan kemudian anak ini menjawab Oh, memang
saya sudah ditakdirkan seperti ini, saya sudah usaha dan doa, namun tetap saja sial.
Mungkin ini juga bawaan dari orang keluarga saya. Semua saudara-saudara saya juga
mengalami nasib seperti saya.
Kalau kita mau jujur, Tuhan sebetulnya sering menjadi kambing hitam dalam masalahmasalah yang kita hadapi. Seolah semua kejadian yang baik adalah hasil kerja dan usaha
kita sendiri, sedang sesuatu yang buruk terjadi karena takdir Tuhan. Mari, sekarang kita
melihat dengan lebih teliti kesalahan kedua tentang persepsi doa.

Prinsip sebab-akibat dan urutan kejadian sampai doa dikabulkan.


Untuk meluruskan pendapat ini, pertama kita harus melihat bahwa Tuhan memberikan
kepada kita bukan hanya akibat, namun sebab, dan juga rangkaian dari sebabakibat.[1] Sebagai contoh: kita berdoa untuk minta pekerjaan. Akibat yang diinginkan
adalah pekerjaan. Namun Tuhan memberikan sebab dan rangkaian kejadian, seperti: kita
diberi semangat juang untuk mengisi formulir aplikasi pekerjaan, kita diberi kesempatan
untuk bertemu dengan teman lama, atau diberi ide untuk memulai usaha sendiri, dll. Hal
sebab atau kejadian ini akan mengarah kepada sebab yang lain, dan seterusnya, sampai
kita mendapatkan pekerjaan (yaitu akibat), jika semuanya ini sesuai dengan kehendak
Tuhan.
Sebagai orang tua, kita bisa melihat contoh yang jelas pada anak-anak. Pada waktu saya
tinggal bersama dengan keponakan-keponakan, saya sering melihat mereka bermain
puzzle. Dan sering mereka meminta pertolongan saya. Reaksi saya biasanya tidak
dengan secara langsung membantu mereka, namun memberikan ide-ide kepada mereka
untuk menyelesaikannya sendiri, sebagai contoh: coba lihat warna yang sama, coba cari
bagian pojok, terus cari juga bagian tepi, dll. Dengan cara seperti ini, maka keponakan
saya dapat belajar menyelesaikan puzzle dengan kapasitas mereka. Pertanyaannya,
apakah saya tidak membantu keponakan saya? Tentu saja saya membantu, dengan cara
yang lebih baik daripada yang mereka inginkan, walaupun sering mereka tidak bisa
melihatnya.

Dengan prinsip yang sama, Tuhan juga membantu kita. Masalahnya bukan dengan cara
yang kita inginkan, namun dengan cara-Nya sendiri yang melebihi pemikiran kita (lih Yes
55:9). Begitu sering kita mendengar kesaksian tentang seseorang yang ingin
mendapatkan pekerjaan. Mereka bertekun dalam doa, namun Tuhan menjawab dengan
cara-Nya yang ajaib yang tidak pernah mereka pikirkan. Bukan hanya pekerjaan, namun
mereka juga mengalami proses pertobatan, dan hubungan mereka dengan Tuhan dan
sesama juga diperbaharui. Sebab bagi Tuhan, pekerjaan bukanlah yang paling penting,
namun proses pertobatan dan pemulihan hubungan dengan Tuhan dan sesama yang
diinginkan Tuhan.

Tuhan adalah kasih.


Satu hal yang harus kita pegang teguh, Tuhan adalah kasih (1 Yoh 4:8b). St. Paulus
menyanyikan senandung kasih di 1 Kor 13:4-7 dengan begitu indahnya. Namun apa yang
menyebabkan kasih? Penyebab dari kasih adalah kebaikan / good.[2] Jadi kalau kita
mengasihi seseorang, kita melihat sesuatu yang baik, ataupun kita menginginkan
sesuatu yang baik bagi orang tersebut. Tuhan, di dalam kasih-Nya yang sempurna
melihat sesuatu yang baik dari manusia, dan Tuhan juga menginginkan sesuatu yang baik
terjadi untuk manusia.
Kita melihat contoh bagaimana seorang wanita Samaria meminta air kepada Yesus,
dengan harapan bahwa wanita itu tidak perlu menimba air lagi (Yoh 4:15). Dalam kasihNya yang sempurna, Yesus melihat sesuatu yang baik dan menginginkan kebaikan buat
wanita Samaria itu. Yesus bukan saja memberikan air, namun Yesus memberikan
kepada wanita itu Air Kehidupan, yaitu Yesus sendiri. Namun untuk sampai ke tahap
tersebut, Yesus melakukan sesuatu, yaitu menghadapkan wanita itu dengan kenyataan
tentang diri wanita itu sendiri, yaitu bahwa ia adalah seorang yang berdosa. Setelah itu,
baru Yesus membuka identitas diri-Nya, yaitu Mesias. Tiga hal terjadi dalam hal ini: 1)
pengetahuan tentang diri sendiri, 2) pengetahuan tentang Tuhan, 3) dan kedua hal tersebut
menimbulkan kerendahan hati. Mengetahui bahwa Yesus adalah segalanya, dan kita
adalah bukan apa-apa, akan menimbulkan kerendahan hati. Sikap ini adalah sikap yang
paling diperlukan dalam doa. Katekismus Gereja Katolik 2559 mengatakan bahwa
kerendahan hati adalah dasar doa.

Tuhan tidak pernah menakdirkan sesuatu yang buruk untuk manusia.


Pengetahun Tuhan yang benar, bahwa Dia adalah maha dalam segalanya, termasuk Maha
Kasih, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan
sesuatu yang yang buruk terjadi pada manusia. Tuhan tidak mungkin menyangkal diriNya sendiri, yang pada hakikatnya adalah kasih (Lih 2 Tim 2:13). Bahkan Tuhan sendiri
mengatakan bahwa rencana-Nya adalah damai sejahtera dan bukanlah rancangan
kecelakaan (Yer 29:11). Namun kalau demikian, kenapa terjadi begitu banyak
penderitaan dan ketidakadilan di dunia ini? (pembahasan hal ini akan ditulis dalam
artikel tersendiri penderitaan di dunia ini: di manakah Tuhan? ).

Lalu kenapa doa saya tidak dikabulkan?

Lalu, kalau Tuhan tidak mempunyai rencana yang buruk, kenapa kalau saya berdoa tidak
dikabulkan? Kembali, kita harus menghubungkan semuanya dengan prinsip akibat,
sebab, dan rangkaian sebab-akibat seperti yang telah diterangkan di atas, dan juga
dengan prinsip Tuhan adalah kasih. Dengan kedua prinsip ini, maka apapun hasil dari
doa akan bisa kita terima semuanya dengan lebih lapang dada.
Marilah merefleksikan kembali kejadian-kejadian yang silam, pada waktu kita berdoa
untuk sesuatu, baik pekerjaan, masalah rumah tangga, hubungan dengan atasan,
keuangan, dll. Mungkin pada waktu kita mengalami kejadian-kejadian tersebut, seolaholah Tuhan tidak mendengarkan dan membantu kita. Hal ini disebabkan karena cerita dan
rangkaian sebab-akitab yang akan terjadi belum selesai. Namun, setelah kejadian tersebut
terlewati, maka kita dapat melihat akibat, sebab, dan rangkain sebab-akibat, dan
juga bagaimana sebetulnya semuanya saling berhubungan dan menghasilkan sesuatu
yang mungkin lebih baik daripada yang kita pernah pikirkan. Tuhan membantu kita
dengan cara-Nya sendiri, bahkan cara-Nya jauh lebih bijaksana dari apa yang kita
inginkan dan pikirkan. Tuhan mengatakan bahwa RancanganKu bukanlah rancanganmu,
dan jalanKu bukanlah jalan-Mu (lih. Yes 55:8).

Lalu kenapa hasilnya berbeda dengan yang saya


inginkan?
Selain Tuhan memberikan cara dan waktu yang berbeda dengan yang kita inginkan,
Tuhan juga memberikan hasil (akibat) yang berbeda dengan yang kita inginkan. Hal ini
disebabkan karena Tuhan adalah kasih, menginginkan sesuatu yang terbaik terjadi dalam
kehidupan kita. Contohnya, kadang orang tua tidak mengabulkan semua permintaan
anaknya, karena kalau semua permintaan dikabulkan, maka hal itu akan merusak
perkembangan anak mereka dan bahkan bisa membahayakan kehidupan mereka. Kalau
orang tua dalam kasih dan kebijaksanaannya yang terbatas dapat melakukan ini, maka
Tuhan, dalam kasih dan kebijaksaan-Nya yang tak terbatas, melakukan hal yang sama
dengan cara yang paling sempurna.

Percayalah kepada Tuhan


Kita dapat memberikan keberatan-keberatan yang lain. Namun pada akhirnya semua
bermuara kepada Tuhan seperti apakah yang kita percayai? Apakah Tuhan yang
hanya siap menghukum yang bersalah atau Tuhan yang bijaksana dan penuh kasih?
Suatu saat saya punya kesempatan untuk bermain dengan keponakan saya di suatu tempat
yang namanya sliding rock. Sliding rock ini sebenarnya seperti kali yang dasarnya
bukan kerikil, tapi batu-batu besar yang licin, sehingga kita bisa duduk atau merebahkan
diri di atas batu dan tubuh kita bisa terseret oleh arus air tanpa tergores. Nah, keponakan
saya ingin sekali mencobanya, tetapi takut. Kemudian saya berkatanya Andrew, ayo kita
sama-sama mencoba. Namun dia ketakutan dan memberikan alasan bermacam-macam,
seperti: bagaimana kalau saya terbentur batu, kalau airnya masuk ke hidung dan telinga,
kalau kaki saya terkilir, dll. Saya mencoba meyakinkan dia agar supaya dia tidak takut,
namun tidak berhasil. Kemudian saya mengatakan ini kepadanya, Andrew, coba lihat

saya. Apakah kamu percaya kepadaku bahwa aku akan melindungimu? Kemudian dia
menatap mata saya, dan berkata lirih ya, saya percaya. Kemudian kami mencoba
sliding rock bersama-sama, dan akhirnya kami mengulanginya berkali-kali, karena
Andrew senang sekali bermain sliding.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan doa kita. Kita dapat memberikan pertanyaan,
protes dan keberatan kepada Tuhan akan tidak atau belum terjawabnya doa kita. Namun
Tuhan mengatakan kepada kita masing-masing Lihatlah pada-Ku apakah engkau
percaya bahwa Aku mengasihimu? Aku yang tidak ragu-ragu untuk memberikan PuteraKu datang ke dunia untuk menyelamatkanmu. Percayakah engkau bahwa Aku
mempunyai rancangan indah dalam hidupmu? Percayakah engkau bahwa Aku memegang
tanganmu setiap saat, terutama pada saat engkau mengalami permasalahan?
Marilah kita berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Ya, Tuhan, pada saat ini, kembali aku menghadap Engkau dengan segala kerendahan hati.
Aku mengakui bahwa Engkau mengetahui segalanya, dan Engkau juga mengetahui yang
terbaik untuk kehidupanku. Tuhan, ubahlah hatiku, agar aku dapat sepenuhnya percaya
kepada penyelenggaraan tangan-Mu. Tolonglah, agar aku percaya bahwa Engkau turut
bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan dalam hidupku, terutama
agar aku dapat mengalami bahwa Engkau dekat padaku dan selalu menopangku. Dalam
nama Yesus, aku naikkan doa ini.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

3. Pendahuluan:
Tulisan ini adalah bagian ke 3 dari topik Apakah berdoa itu percuma? (Silakan melihat
juga bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4) Kesalahan doa yang ketiga adalah
memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sampai ingin mengubah Tuhan untuk
mengikuti keinginan kita. Pendapat ini keliru, karena Tuhan adalah Maha tahu dan Maha
sempurna, sehingga Tuhan tidak dapat berubah.

Mengapa kita berdoa?


Doa sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan semua orang dari semua agama, karena
manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya.[1]
Dalam tulisan pertama telah dibahas kesalahan persepsi doa, yaitu: Tuhan tidak campur
tangan dalam kejadiaan di dunia ini. Dalam tulisan ke-2, kita telah melihat kesalahan
pendapat yang mengatakan semuanya sudah diatur dan ditakdirkan oleh Tuhan, sehingga

tidak perlu lagi berdoa. Dengan pembuktian yang sama dari St. Thomas Aquinas, kita
akan menelusuri kesalahan persepsi kita tentang doa yang ke-3.[2]

Kesalahan 3: Berdoa dapat mengubah keputusan


Tuhan dan Alkitab sendiri mengajarkan bahwa doa
manusia dapat merubah keputusan Tuhan.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering mendengar pendapat bahwa berdoa sangatlah
penting, karena kita dapat memenangkan hati Tuhan dan mengubah keputusan-Nya. Kita
harus berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga Tuhan berbelas kasih kepada kita dan
kemudian mengubah keputusan-Nya sesuai dengan kemauan kita. Bahkan jika kita
berdoa dalam nama Yesus, apa yang kita minta pasti akan dikabulkan.
Perjanjian Lama mencatat cerita tentang nabi Nuh, di mana Tuhan menyesal bahwa Dia
telah menciptakan manusia (Kej 6:5-6). Lalu Abraham, berdoa bagi orang-orang di
Sodom dan Gomorah, seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan (Kej 18:23-33). Musa
berdoa dengan sungguh-sungguh bagi kaum Israel, sehingga kemarahan Tuhan tidak
terjadi (Kel 32:7-14). Bukankah semua itu adalah tanda bahwa keputusan Tuhan dapat
berubah?
Di Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengatakan, Mintalah, maka akan diberikan
kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan
bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari,
mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan (Mat 7:7-8).
Kemudian, Yesus juga mengatakan bahwa apa saja yang kita minta dalam doa dengan
penuh kepercayaan, maka kita akan menerimanya (lih. Mat 21:22). Dan kembali Yesus
menegaskan apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah
menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Mar 11:24). Ayat- ayat ini
sepertinya mengatakan bahwa Yesus akan mengabulkan doa kita sesuai dengan
permintaan kita.

Tuhan tidak berubah


Mari kita meneliti lebih jauh tentang pendapat ini. Pertama, apakah benar bahwa kita
dapat mengubah keputusan Tuhan? Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Tahu,
Maha Sempurna, maka konsekuensi logis dari pernyataan ini adalah Tuhan tidak
mungkin berubah. Berubah adalah suatu pernyataan yamg mempunyai implikasi
perubahan dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik atau sebaliknya. Padahal di
dalam Tuhan tidak ada perubahan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan
Itu Ada?). Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka sebelum dunia ini
diciptakan Dia telah mengetahui secara persis apa yang terjadi, juga keinginan dan
permohonan doa kita. Dan di dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Dia tahu secara persis
apa yang terbaik buat kita. Jadi kalau kita mengatakan Tuhan dapat berubah karena doa
kita, maka sebetulnya kita membuat kontradiksi tentang hakekat Tuhan yang Maha Tahu

dan Maha Sempurna, seolah-olah kita lebih tahu apa yang terbaik buat kita daripada
Tuhan. Hal ini tentu tidak mungkin.
Pengajaran bahwa Tuhan tidak mungkin berubah dalam hal pengabulan doa ini
termasuk sulit diterima, karena sering tanpa sengaja kita berpikir bahwa proses
pengabulan doa oleh Tuhan itu adalah proses yang linier. Kita memohon tentang hal A,
lalu Tuhan dapat mengabulkan atau tidak, yang baru Tuhan putuskan pada saat/ setelah
kita memohon. Padahal tidaklah demikian. Tuhan sudah terlebih dahulu mengetahui
segala kemungkinan yang akan terjadi, sebagai hasil dari pilihan kehendak bebas kita,
pada saat awal mula dunia. Pada saat kita memohon A, Dia sudah mengetahui bahwa Ia
akan menjawab dengan B, atau kalau kita memutuskan untuk tidak berdoa, dan berbuat
X, Dia sudah tahu akan memberi Y. Dalam hal ini, B selalu lebih baik daripada A, dan Y
adalah konsekuensi dari X. Nah, kalau kita bertanya akankah B diberikan kalau kita tidak
berdoa, jawabnya adalah tidak (yang diberi adalah Y). Makanya kita perlu berdoa. Dalam
hal ini Tuhan tidak berubah, karena dengan sifatNya yang Maha Tahu, Tuhan telah
mengetahui segalanya. Nothing takes God by surprise. Tidak ada sesuatu hal yang
mengejutkan Tuhan, sehingga Ia perlu berubah. Ia sudah mengetahui segalanya dan
segala sesuatu telah direncanakan-Nya dengan sempurna.
Sekarang kita melihat contoh kejadian di Perjanjian Lama. Perkataan Tuhan menyesal
dalam kisah nabi Nuh adalah suatu perkataan yang mencoba mengekpresikan Tuhan dari
sisi manusia. Tuhan tidak berubah dan menyesal, karena Dia adalah Tuhan yang Maha
Tahu dan Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya berdasarkan kebijaksanaan dan KasihNya untuk keselamatan umat manusia.
Bagaimana dengan Abraham dan Musa yang seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan?
Dalam hal ini, kita harus memegang teguh prinsip bahwa Tuhan tidak mungkin berubah,
yang artinya tidak memungkinkan adanya negosiasi. Abraham dan Musa adalah
merupakan gambaran/prefigurement dari diri Yesus. Kita juga melihat bagaimana Kitab
Suci menggambarkan kedekatan mereka dengan Tuhan. Mereka tidak memikirkan
kepentingan pribadi. Dalam pemikiran Abraham dan Musa, membantu manusia menuju
Tanah Terjanji dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan adalah yang paling penting
dalam hidup mereka. Dan ini adalah sama dengan pemikiran Tuhan. Ini hanya mungkin
dicapai pada orang-orang dengan derajat kasih yang begitu tinggi (dalam kadar heroic
love).[3] Jadi terkabulnya doa bukan berarti mereka dapat mengubah keputusan Tuhan,
namun karena 1) mereka diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam karya
keselamatan, yang pada akhirnya dipenuhi secara sempurna dalam diri Yesus Kristus
(KGK, 2574), 2) kedekatan mereka dengan Tuhan, sehingga apa yang mereka pikirkan
dan doakan adalah sesuai dengan keinginan Tuhan (KGK, 2577).

Tuhan mengubah kita melalui doa.


Memang keputusan Tuhan tidak dapat berubah, karena Dia Maha Tahu dan Maha
Sempurna. Namun Tuhan menginginkan kita mengikuti jejak Abraham dan Musa, agar
kita turut berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan, salah satunya yaitu dengan berdoa.
Jadi, kita berdoa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan karena itu tidak mungkin

namun mempersiapkan sikap hati kita untuk menerima apa yang kita minta dalam doa
((St. Thomas Aquinas, ST, II-II, q.83, a.2 St. Thomas mengutip St. Gregory By asking,
men may deserve to receive that almighty God from all eternity is disposed to give.))
atau mengubah sikap hati kita jika doa kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di
dalam kebijaksanaan dan kasihNya, Tuhan telah melihat bahwa kita akan menerima suatu
jawaban doa lewat doa-doa yang kita panjatkan. Jadi di dalam kasus Abraham dan Musa,
sebelum terbentuknya dunia ini, Tuhan sudah melihat bahwa Abraham dan Musa akan
berpartisipasi dalam karya keselamatan bangsa Israel, dan doa mereka dikabulkan olehNya lewat doa-doa mereka yang mengalir dari kasih.
Hal lain yang penting adalah, dengan bertekun dalam doa, kita tidak mengubah Tuhan,
namun kita diubah oleh Tuhan. Kita melihat contoh dari Rasul Paulus, ketika dia berdoa
agar Tuhan mengambil duri di dalam dagingnya[4] , namun doanya tidak dijawab
Tuhan menurut kehendak St. Paulus (2 Kor 12:7-10). Namun dengan kejadian ini, Rasul
Paulus mendapatkan sesuatu yang lebih baik, bahwa dia menjadi rendah hati dan tidak
bermegah dengan berkat-berkat yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan Rasul
Paulus dapat menerima dengan senang dan rela menghadapi segala kesulitan, siksaan,
tantangan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dari sini, kita melihat Rasul Paulus diubah oleh
Tuhan, untuk menerima kehendakNya seperti yang difirmankan-Nya, sebab dalam
kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2 Kor 12:9).

Tapi Yesus menyuruh untuk meminta, mencari, mengetok, dan apa saja
yang kamu minta akan diberikan.
Mari sekarang kita menelaah perkataan Yesus dalam Mat 21:22 dan Mar 11:24. Yesus
mengatakan bahwa kalau kita mendoakan dengan penuh kepercayaan bahwa kita telah
menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada kita. Kalau kita membaca dengan
seksama, kita harus melihat bahwa kunci dari ayat ini adalah iman (Mat 21:21; Mar
11:22). Iman yang ditekankan di sini adalah iman yang hidup. Iman yang bukan cuma
slogan, hanya dimulut, namun tanpa perbuatan (Yak 2:26). Iman seperti ini adalah iman
dan percaya yang dicontohkan oleh Abraham dan Musa. Iman yang menempatkan
kebenaran Tuhan lebih tinggi daripada kepentingan sendiri (KGK, 150). Iman seperti
inilah yang membuat doa menjadi selaras dengan apa yang dipikirkan dan diinginkan
oleh Tuhan. Dengan kata lain, karena sesuai dengan kehendak Tuhan, maka doa yang
mengalir dari iman seperti ini akan dikabulkan oleh Tuhan. Iman seperti ini hanya
meminta sesuatu yang berguna untuk keselamatan kekal, permohonan yang baik untuk
menuju ke kehidupan kekal. Ini juga bisa berarti sesuatu yang sifatnya sementara sejauh
ini mendukung kita menuju tujuan akhir.
Namun bukankah Yesus sendiri juga mengatakan bahwa setiap orang yang meminta,
mencari, dan mengetok akan dipenuhi permintaannya? (Mat 7:7-8). Ayat inilah yang
sering dipakai untuk menekankan bahwa doa yang sungguh-sungguh dan terus-menerus
dapat mengubah keputusan Tuhan. Namun, apakah kalau doa tidak sesuai dengan
kehendak Tuhan maka akan dikabulkan? Bagaimana kita tahu bahwa doa kita sesuai
dengan kehendak Tuhan? Kalau kita perhatikan, Yesus tidak berkata kalau kamu minta A,
maka kamu akan mendapatkan A. Berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya, kadangkala

Tuhan memberikan sesuatu yang sama sekali lain dari yang kita minta. Dia tahu yang
terbaik buat kita melebihi pengetahuan dan kasih kita akan diri kita sendiri. Jadi, kalau
dalam beberapa hal Tuhan tidak mengabulkan doa kita, hal ini disebabkan karena Tuhan
mengasihi kita. (pembahasan lengkap tentang ayat ini dapat dilihat di: Apakah Berdoa itu
Percuma bagian 4).
Kita sering melihat atau mendengar cerita bahwa suatu keluarga berdoa sungguh-sungguh
untuk kesembuhan anggota keluarga mereka, namun yang terjadi adalah bertolak
belakang dengan apa yang diminta dalam doa. Masih teringat di hati umat Katolik
seluruh dunia, ketika Paus Yohanes Paulus II terbaring sakit menjelang ajalnya dan semua
orang mendoakan Paus yang kita kasihi. Namun doa seluruh umat beriman tidak
mengubah keputusan Tuhan. Mungkin ribuan atau jutaan perayaan ekaristi dirayakan
dengan intensi doa untuk kesembuhan Paus, namun tidak dapat mengubah keputusan
Tuhan. Mungkin ratusan juta umat Katolik termasuk dari umat Katolik yang benarbenar hidup kudus berdoa secara pribadi untuk kesembuhan Paus, namun Paus tetap
dipanggil Tuhan.Tuhan, di dalam kebijaksanaan-Nya tetap memanggil hamba-Nya yang
setia. Bukan karena Dia tidak mendengar doa kita, tapi karena Dia tahu yang paling baik
untuk kita dan juga untuk Gereja-Nya.
Namun melalui peristiwa tersebut, begitu banyak orang di dunia ini, termasuk yang tidak
mengenal Kristus, yang tidak percaya akan Gereja Katolik sebagai Gereja Kristus, anakanak muda yang tadinya suam-suam kuku terhadap iman Katolik mereka, tergugah oleh
kejadian tersebut. Dan misa pemakamannya menjadi acara pemakaman paling besar
dalam sejarah umat manusia. Paus Yohanes Paulus II dalam kematiannya melakukan
karya pewartaan yang menjangkau banyak orang, mungkin lebih banyak daripada semasa
dia hidup. Dan nama Tuhan dipermuliakan. Dari contoh tersebut, bukan kita yang
mengubah Tuhan melalui doa kita, namun kita yang diubah oleh Tuhan untuk
kebaikan kita.
Kalaupun doa kita dikabulkan, bukan berarti bahwa kita berhasil untuk mengubah Tuhan,
namun sebelum terjadinya dunia ini, dalam kebijaksanaan-Nya dan kasih-Nya, Tuhan
sudah melihat adalah baik untuk keselamatan kita dan orang-orang di sekitar kita untuk
mengabulkan doa kita. Jadi, janganlah beranggapan bahwa jika ada doa dikabulkan itu
disebabkan karena melulu permohonan kita. Sebab sesungguhNya pengabulan doa
adalah sepenuhnya kehendak Tuhan. Dengan demikian, tidak ada yang dapat
dibanggakan dari diri kita. Kita hanya patut bersyukur bahwa Tuhan memberi
kesempatan pada kita untuk turut mendatangkan kebaikan kepada kita dan sesama
melalui doa-doa kita. Maka sikap yang terbaik adalah seperti Bunda Maria, Terjadilah
padaku seturut perkataanMu, ya Tuhan (Luk 1:38). Mari di dalam keterbatasan kita, kita
percayakan doa-doa kita kepada Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan lebih bijaksana untuk
memutuskan apakah doa kita baik untuk keselamatan jiwa kita. Mari kita juga
berpartisipasi dalam karya keselamatan Tuhan melalui doa dan perbuatan yang mengalir
dari kasih kita kepada Tuhan, untuk mendatangkan kebaikan buat diri kita dan semua
orang.
Marilah kita berdoa.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.


Ya, Tuhan, kembali aku menghadap-Mu, mengakui bahwa Engkau Maha Tahu dan Maha
Sempurna. Dalam keterbatasanku, berilah aku kepercayaan kepada-Mu, bahwa segala
yang Engkau putuskan adalah demi kebaikanku. Jangan biarkan aku memaksakan
kehendakku, ya Bapa, melainkan biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi dalam
kehidupanku sebab aku percaya, itulah yang terbaik bagiku. Dalam nama Yesus, aku
naikkan doa ini.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

4.Kesalahan persepsi doa menurut St. Thomas Aquinas


Dalam tiga tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang tiga kesalahan persepsi tentang doa
yang sering kita jumpai sehari-hari bagian 1, bagian 2, bagian 3), baik yang kita lakukan
sendiri maupun oleh teman-teman kita. Kalau kita lihat, tiga kesalahan persepsi yang
diajukan oleh St. Thomas, mungkin telah mencakup semua kesalahan persepsi tentang
doa. St. Thomas membaginya menjadi tiga bagian, yang dapat disimpulkan sebagai
berikut:

Tuhan dianggap netral: seolah-olah Dia hanya berpangku tangan saja, baik
kejadian yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Seolah-olah Tuhan hanya
sebagai penonton.
Tuhan dianggap negatif: seolah-olah Tuhan sudah menentukan semuanya, di
mana lebih kepada pengertian yang negatif, sehingga doa juga percuma, karena
semuanya sudah ditakdirkan.
Tuhan dianggap positif: seolah-olah kasih Tuhan diukur sampai seberapa jauh
Tuhan memenuhi permintaan doa kita, sampai pada titik bahwa doa kita dapat
mengubah keputusan Tuhan.

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kita harus dapat menangkap hakekat dari
doa itu sendiri. Dalam tulisan ini akan diuraikan definisi doa menurut St. Teresia kanakkanak Yesus.

Definisi Doa menurut St. Teresia yang dikutip oleh


Katekismus Gereja Katolik.
Katekismus Gereja Katolik 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus,
mengatakan Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga,
satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan.
Definisi ini terlihat sederhana, namun mencakup banyak hal. Mari kita lihat satu persatu.

Doa harus melibatkan hati


Dalam doa, akal budi (reason or intellect) dan keinginan hati (the will) harus bekerjasama
untuk menerima dan mengalami kehadiran Tuhan.[1] Kita mencoba menggunakan akal
budi kita untuk berfikir tentang Tuhan dan dengan keinginan hati, kita mau untuk
mengalami kehadiran Tuhan. Sebagai contoh, kita harus terlebih dahulu mengetahui
tentang hukum Tuhan dan pelanggaran kita terhadap Tuhan, sebelum kita dapat
mengalami pertobatan. Tidak mungkin kita mengalami pertobatan tanpa terlebih dahulu
tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah salah di mata Tuhan. Namun sebaliknya, hanya
berfikir tentang Tuhan tidaklah cukup, namun kita harus memberikan hati kita
kepada Tuhan di dalam doa.[2] Kalau mau dikatakan, setanpun berfikir tentang Tuhan.
Mereka punya pengetahuan tentang Tuhan dalam derajat tertentu, namun mereka tidak
memberikan hati mereka kepada Tuhan. Katekismus Gereja Katolik menegaskan,
memang benar bahwa keseluruhan diri manusia yang berdoa, namun terlebih lagi adalah
hati yang berdoa. (KGK, 2562) Sehingga dapat dikatakan bahwa jika hati kita jauh dari
Tuhan, maka kata-kata di dalam doa adalah percuma. Disinilah perkataan St. Teresia
menjadi begitu nyata dan benar: doa adalah ayunan hati.

Tuhan adalah penggerak utama dalam doa.


Kalau bagi St. Teresia doa adalah ayunan hati, maka yang mengayun hati adalah
Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang menanti kita di dalam doa. Dikatakan bahwa manusia
mencari Tuhan, namun Tuhan yang memanggil manusia terlebih dahulu (KGK, 25662567). Bahkan doa sebenarnya adalah suatu anugerah dari Tuhan (KGK, 2559-2561).
Drama tentang doa ditunjukkan pada waktu Yesus menunggu di sumur dan kemudian
bertemu dengan wanita Samaria (Yoh 4:1-26; KGK, 2560). Yesus yang menanti kita
karena haus akan balasan kasih kita. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa Tuhan
tidak campur tangan dalam kehidupan kita atau malah beranggapan bahwa Tuhan telah
menakdirkan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan seseorang, maka anggapan ini
adalah salah sekali. Bukan hanya dia menjawab doa kita, bahkan Dia yang terlebih
dahulu menggerakkan hati kita untuk berdoa, karena Dia sudah menunggu kita di
sumber air, di hati kita, di tempat di mana kita dapat bertemu dengan Tuhan (KGK,
2563).

Kita diciptakan dengan kapasitas untuk mengarahkan hidup kita pada


tujuan akhir.
Bahkan sebenarnya, Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga manusia
mempunyai kapasitas untuk mengarahkan hidupnya kepada tujuan akhir. Sadar atau
tidak, kita mempunyai kapasitas untuk ini. Dengan kapasitas inilah, St. Agustinus berkata
Hatiku tidak akan tenang, sampai aku menemukan Engkau, ya Tuhan. Dan kapasitas
ini bukan hanya milik beberapa orang saja, namun semua orang, karena pada dasarnya
manusia adalah seorang filsuf.[3] Pada saat kita mempertanyakan apa itu hidup, apa
tujuan kehidupan, apakah kebahagiaan, dll, maka kita dihadapkan kepada suatu
permenungan akan suatu awal dan tujuan akhir. Pada saat pertanyaan ini didiskusikan
dengan Tuhan, maka ini adalah suatu wujud doa, karena Tuhan adalah awal dan akhir.

Dialog ini akan menjadi doa seorang Kristen kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus.
Dan ini akan menjadi doa seorang Katolik, kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus yang
diteruskan dalam Tradisi Katolik dan ajaran Katolik yang mendasari doa tersebut, di
mana doa mencapai puncaknya pada perayaan Ekaristi Kudus[4] (lihat artikel: Sudahkah
kita pahami pengertian Ekaristi? ).

Doa adalah pandangan sederhana ke surga


St. Teresia lebih lanjut mengatakan bahwa doa adalah pandangan sederhana ke surga.
Di dalam doa, derajat kedekatan dengan Tuhan yang kita alami hanyalah merupakan
pandangan sederhana atau sekilas yang sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan
kebahagiaan sejati pada waktu nanti kita bertemu dengan Yesus muka dengan muka (1
Kor 2:9). Pada waktu kita berdoa, kita juga mengarahkan hati bukan kepada hal-hal di
dunia ini, namun untuk hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan jiwa kita, yaitu
tujuan akhir yang utama: persatuan dengan Tuhan di surga. Jadi kita perlu
mengintrospeksi, apakah isi dari doa kita? Apakah semuanya berisi dengan kebutuhan
yang bersifat jasmani semata, ataukah dipenuhi dengan hal-hal untuk keselamatan jiwa
kita? Pandangan sederhana ke surga adalah suatu pandangan yang begitu dalam.
Kedalamannya terletak pada keserhanaannya. Kesederhanaan suatu konsep Manusia
akan mengarahkan segala sesuatunya kepada tujuan akhir. Dalam Alkitab dikatakan
di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada (Mat 6:21; Luk 12:34). Seperti
seorang yang bekerja di bagian sales atau penjualan. Tujuan akhir dari pekerjaan ini
adalah memenuhi target penjualan. Jadi semua usaha, pikiran, dan hati diarahkan
seluruhnya untuk mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan. Dari contoh ini, kita
melihat bahwa tujuan akhir menentukan semua sikap, perilaku, dan juga pikiran dan hati.

Tujuan akhir dan definisi tentang kebahagiaan menentukan sikap kita


dalam doa.
Nah, mari kita melihat dalam kehidupan rohani kita. Di atas telah diulas bahwa manusia
diciptakan dengan kapasitas untuk mengenal tujuan akhir, yaitu untuk bersatu dengan
Tuhan. Kalau kita membuat hal ini benar-benar menjadi tujuan akhir hidup kita, maka
segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mencapai tujuan ini. Dan cara yang dapat
kita lakukan di dunia ini untuk mencapai tujuan akhir ini adalah melalui doa. Dengan
kata lain apa yang kita doakan adalah tergantung dari definisi kita tentang tujuan akhir
hidup kita maupun definisi kita tentang kebahagiaan.
Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah untuk menjadi orang kaya, maka
doa-doanya akan dipenuhi dengan urusan pekerjaan, proyek, uang, dll. Kalau seseorang
yang definisi kebahagiaannya adalah keluarga, maka doanya dipenuhi dengan doa untuk
keselamatan dan kebahagiaan anggota keluarga. Nah dalam definisi St. Teresia, definisi
kebahagiaannya adalah pandangan ke surga. Inilah yang membedakan doa kita dengan
doa para orang kudus. Bagi orang kudus, definisi kebahagiaan dan tujuan akhir dari hidup
begitu jelas yaitu persatuan dengan Allah sehingga doa adalah menjadi cara (the
means) untuk mencapai tujuan akhir ini (end). Kita sering membalik ini dan melihat doa
sebagai akhir. Akibatnya, kalau doa kita tidak dijawab oleh Tuhan seperti yang kita

inginkan, maka kita akan kecewa, putus asa, dan marah. Namun kalau kita melihat doa
adalah suatu cara untuk mencapai tujuan akhir, maka apapun jawaban Tuhan terhadap
doa kita akan kita terima dengan lapang hati karena pada akhirnya semuanya akan
mendatangkan kebaikan buat kita (Roma 8:28), yaitu untuk mencapai tujuan akhir,
bersatu dengan Tuhan.
St. Yohanes dari Damaskus mengatakan bahwa doa adalah pengangkatan jiwa kepada
Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik. (KGK, 2559)
Hal-hal yang baik disini adalah dalam relasinya dengan tujuan akhir manusia, persatuan
dengan Allah di surga.

Doa didasarkan kepada iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan.


St. Teresia juga menekankan pentingnya seruan syukur (dalam edisi bahasa Inggis
dikatakan a cry of recognition atau seruan pengakuan) dan cinta kasih. Seruan syukur
adalah suatu ungkapan kepada seseorang atas pertolongan dan pemeliharaannya kepada
kita. Dan kalau kita mengucap syukur kepada Tuhan, berarti kita mengakui pertolonganNya dan pemiliharaan tangan-Nya dalam kehidupan kita. Kita mengakui bahwa tanpa
Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah sikap kerendahan hati yang berkenan di
mata Tuhan dan menjadi dasar utama dari doa.
Seruan syukur atau seruan pengakuan menjadi suatu ekspresi iman dan pengharapan.
Mengaku bahwa Tuhan adalah segalanya adalah suatu pernyataan iman. Mendaraskan
doa kita kepada Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Baik adalah suatu pernyataan
pengharapan. Doa juga merupakan tempat pertemuan antara kasih Allah yang sudah
terlebih dahulu menunggu kita dengan kasih kita kepada Allah (KGK, 2560). Bahkan
dikatakan bahwa kasih adalah penyebab dari doa.[5] Jadi kita bisa melihat bahwa doa
yang benar dilandaskan pada kebajikan ilahi iman, pengharapan, kasih. Tanpa ketiga
hal ini, doa menjadi sia-sia. Kalau kerendahan hati adalah dasar dari doa, maka iman
adalah suatu bentuk kerendahan hati akal budi, dan pengharapan adalah bentuk
kerendahan hati dari keinginan.[6] Ini berarti bahwa kalau doa kita didasari oleh iman
dan pengharapan yang berlandaskan kasih yang benar, maka Tuhan akan mengabulkan
doa kita.
Mari kita melihat apa yang dikatakan Yesus Mintalah, maka akan diberikan kepadamu;
carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Mat
7:7; 21:22; Mar 11:24; Luk 11:9; Yoh 14:13). Mengomentari hal ini, St. Thomas Aquinas
di dalam bukunya Catena Aurea, mengatakan bahwa Kita meminta dengan iman,
mencari dengan harapan, dan mengetuk dengan kasih. Jadi dalam hal ini kebajikan
Ilahi, yang terdiri dari: iman, pengharapan, dan kasih menjadi dasar doa kita[7] Iman
memungkinkan manusia untuk menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah, termasuk
seluruh kejadian dalam kehidupannya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak
menyenangkan. Harapan, membuat kita merindukan kehidupan kekal bersama Allah
sebagai tujuan akhir dan tujuan utama kehidupan kita (KGK, 1817) Kasih,
memungkinkan kita untuk mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu di dunia ini, dan
mengasihi sesama demi kasih kita kepada Allah (KGK, 1822).

Kalau kita melihat definisi di atas dan jujur terhadap diri sendiri, maka kita dapat
mengatakan bahwa doa yang kita minta sering tidak didasari oleh kebajikan ilahi.
Mungkin kita berdoa dengan iman dan pengharapan yang kelihatannya begitu besar,
namun sebenarnya tanpa didasari kasih kepada Tuhan.[8] Berapa sering kita mendengar
doa-doa yang dipanjatkan dalam nama Yesus, kutolak kemiskinan, sakit penyakit, dll
Kalau doa kita didominasi oleh pekerjaan dan juga kekayaan, maka kita dapat
mempertanyakan, apakah doa ini berdasarkan kasih kepada diri sendiri atau kasih kepada
Tuhan.
Kalau kasih adalah melihat sesuatu yang baik dari seseorang atau menginginkan sesuatu
yang baik terjadi bagi orang tersebut, maka pertanyaannya, apakah kekayaan
mendatangkan kebaikan buat Tuhan? Tidak juga. Tuhan tidak bertambah mulia dengan
kekayaan kita, walaupun kita dapat memuliakan Tuhan dengan kekayaan yang diberikan
oleh Tuhan. Namun sering kita meminta kekayaan bukan untuk memuliakan Tuhan,
namun untuk kesenangan diri kita pribadi.

Pertobatan hati menuntun kita kepada doa yang benar.


Namun, sebelum kita dapat melandaskan doa berdasarkan kebajikan Ilahi, maka kita
terlebih dahulu akan dihadapkan pada suatu realitas bahwa kita adalah orang berdosa
(KGK, 2631). Realitas ini adalah pengetahuan terhadap diri kita sendiri. Namun
pengetahuan tentang diri sendiri tidaklah cukup, karena hanya akan berakhir pada
keputusasaan, seperti yang dicontohkan oleh Yudas Iskariot. Pengetahuan ini perlu
digabungkan dengan pengetahuan akan Allah yang Maha Kasih dan Pengampun. Dua
pengetahuan ini akan membawa kita kepada kerendahan hati dan pertobatan yang benar
yang memungkinkan kita mempunyai hati murni, yang akhirnya akan membukakan hati
kita untuk menyelaraskan hidup kita dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan (lihat
artikel Kerendahan hati: dasar dan jalan menuju Kekudusan), seperti yang telah
dicontohkan oleh Santo Petrus. Yesus mengatakan bahwa Berbahagialah orang suci
hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Mat 5:8).
Kembali kita diingatkan bahwa bukan kita yang mengubah Tuhan dengan doa kita,
namun dengan kesucian hati, seseorang dapat menyesuaikan hidupnya dengan kehendak
Tuhan (KGK, 2518), yang pada akhirnya menuntun kepada kesesuaian dengan kehendak
Tuhan, seperti yang dicontohkan oleh Yesus sendiri. Di dalam doa-Nya di taman
Getsemani, Yesus berkata Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari
pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (Luk
22:42). Inilah doa dengan nafas, Tuhan apakah yang Engkau kehendaki? dan Tuhan,
apa yang Engkau ingin aku lakukan untuk melaksanakan kehendak-Mu? (KGK, 27052706)
Doa yang mengutamakan kehendak Tuhan ialah doa yang lepas dari kepentingan pribadi.
Doa seperti inilah yang dilandaskan oleh kebajikan Ilahi: iman, pengharapan, dan kasih.
Inilah doa yang dicontohkan oleh Abraham, Musa, dan para orang kudus. Inilah doa,
dimana Roh Kudus sendiri yang membantu kita untuk berdoa.

Dan doa yang mengalir dari kebajikan Ilahi tidak akan terpisah dari kehidupan yang
nyata, karena doa dan kehidupan bersumber pada kasih yang sama. Pada saat seseorang
dapat menggabungkan antara pekerjaan dan kegiatan yang lain dengan nafas doa, maka
seseorang mencapai doa yang tiada henti atau prayer without ceasing. Dan inilah
yang diserukan oleh St. Teresia, bahwa doa harus dilakukan di tengah percobaan dan di
tengah kegembiraan. Ini berarti doa harus dilakukan setiap saat tanpa memandang
situasi yang sedang kita alami.

Doa tidaklah percuma, namun harus menjadi nafas


kehidupan kita
Dengan semua argumen di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa tidaklah percuma,
bahkan doa harus menjadi kebutuhan utama orang Kristen, sama seperti oksigen
menjadi kebutuhan utama manusia. Semakin kita mengerti akan kesalahan persepsi
doa, semakin kita tersadar akan kekuatan doa yang sesungguhnya, yaitu doa yang
dituntun oleh Roh Kudus, yang menjadikan kita untuk semakin serupa dengan
Kristus, sehingga kita dapat mengikuti kehendak Allah Bapa. Hanya dengan doa
yang tiada henti, dilakukan dengan disposisi hati yang benar, maka kita akan melihat
buah-buah doa dalam kehidupan kita. Mari kita mengikuti teladan Yesus, yang
memberikan kepada kita doa yang paling sempurna, doa Bapa Kami. Kita juga mengikuti
teladan Maria, dan para kudus, dimana setiap tarikan nafas dari mereka merupakan doa
yang tak putus-putusnya, yang rindu untuk melaksanakan kehendak Bapa.
Mari kita mengingat sekali lagi apa yang dikatakan oleh St. Teresia kanak-kanak Yesus.
Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan
syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan.
Marilah kita berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin. Ya, Tuhan, pada saat ini aku
datang kepada-Mu, mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa. Dalam segala
kelemahanku, bantulah aku ya Tuhan agar aku dapat mempunyai hati yang kudus,
sehingga Engkau dapat meraja dalam hatiku. Tuhan, ubahlah hatiku walaupun aku belum
siap. Bantulah agar aku dapat menyesuaikan segala pikiran, keinginan, dan perbuatanku
sesuai dengan kehendak-Mu. Berikan aku kekuatan agar aku dapat menjadi seorang
pendoa yang benar, karena aku tahu hanya melalui doa saja, iman, pengharapan, dan
kasihku kepada-Mu dapat bertumbuh. Bantu aku ya Tuhan, agar doa juga dapat menjadi
nafas perbuatanku setiap hari. Aku mengundang Engkau ya Tuhan, untuk terus
membentuk aku sesuai dengan kehendak-Mu. Dengan perantaraan Yesus Kristus, PuteraMu, aku naikkan doa ini. Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.