Você está na página 1de 48

BOOTP

Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol


BOOTP & DHCP

& DHCP

DIAGNOSA WAN

Nama Kelompok :
Ayunda Prima Dewi (02)
Dwi Aryo Febrian (04)

1
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke Tuhan Yang Maha Esa. Atas petunjuk dan
hidayahnya, sehingga kami siswa SMKN 8 Malang kelas XI TKJ-B jurusan Teknik
Komputer Jaringan dapat membuat ebook tentang Bootsrap Protokol (BOOTP) & Dynamic
Host Configuration Protocol (DHCP) sebagaimana tugas yang diberikan oleh guru kami
selaku guru Diagnosa WAN di akhir semester-4.

Ebook ini menampilkan tentang isi materi-materi yang telah ditentukan dengan
syarat-syarat yang diberikan oleh guru kami. Bertujuan untuk meningkatkan pemahaman-
pemahaman tentang BOOTP & DHCP. Ebook ini akan dapat membentuk wawasan siswa
dalam kegiatan belajar guna meraih prestasi belajar yang maksimal dan guna untuk
memberikan pemahaman yang lebih.

Ebook ini kami persembahkan untuk kedua orang tua kami khususnya, juga kepada
guru kami yang telah mengajari kami selama semester 4 ini. Kami tidak mungkin mampu
belajar tanpa bimbingan dan doa dari mereka. Trimakasih kepada mereka yang telah
memberikan kesempatan kepada kami untuk berkarya lebih lagi.

Kami menyadari masih ada kekurangan dalam penyajian ebook ini. Oleh karena itu,
kritik, dan saran yang membangun dari pengguna akan kami terima dengan senang hati,
guna penyempurnaan bagi materi ebook ini.

Penyusun

2
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

BAB 1 BOOTP

I. Pengertian BOOTP

BOOTP berupa konsep protocol standart. Statusnya dianjurkan. Spesifikasi BOOTP


dapat ditemukan pada RFC 951 - Bootstrap Protocol and RFC 1497 - BOOTP Vendor
Information Extensions.
LAN memungkinkan host tanpa harddisk sebagai workstation, router, terminal
concentrator dan masih banyak lagi. Host tanpa harddisk membutuhkan mekanisme untuk
boot dengan di-remote melalui sebuah jaringan. BOOTP protocol digunakan untuk me-
remote booting melalui jaringan IP. BOOTP memperbolehkan protocol IP minimal
sehingga tidak mengganggu informasi konfigurasi yang tidak melakukan apa-apa, biasanya
disimpan di ROM, untuk mendapatkan informasi yang cukup untuk memulai proses
download dengan menggunakan kode boot yang dibutuhkan. BOOTP tidak mendefinisikan
cara untuk men-download selesai, tetapi proses ini biasanya menggunakan TFTP
sebagaimana dideskripsikan RFC 906 – Bootstrap loading menggunakan TFTP.

II. Latar Belakang

Sebelum perangkat dalam jaringan TCP/IP dapat berkomunikasi dengan efektif, ia


harus mengetahui alamat IP-nya. Ketika host konvensional dapat membaca informasi ini
dari internal disk-nya, beberapa perangkat tidak mempunyai ruang penyimpanan, dan tidak
dapat menikmati kelebihan ini. Mereka memerlukan bantuan dari perangkat lain dalam
jaringan untuk menyediakan mereka alamat IP dan informasi lain dan/atau software yang
mereka butuhkan untuk menjadi active IP host. Masalah dalam membuat mesin baru dapat
berjalan selayaknya ini dinamakan bootstraping, dan untuk menyanggupi host IP, TCP/IP
Bootstrap Protocol (BOOTP) dibuat.

3
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

II.I. Memperbaiki Kelemahan dari RARP

Reverse Address Resolution Protocol (RARP) adalah yang pertama berkeinginan


untuk menuntaskan permasalahan “bootstrap” ini. Dibuat pada 1984, RARP merupakan
adaptasi langsung dari low-level Address Resolution Protocol (ARP) yang mengikat
alamat-alamat IP dengan link-layer alamat hardware. RARP dapat mengatasi dalam hal
menyediakan perangkat diskless dengan alamat IP-nya, menggunakan simple client/server
pertukaran dari permintaan dan jawaban antara host dan RARP server.

Kesulitan dari RARP adalah ia mempunyai banyak batasan. Ia mengoperasikan level


rendah menggunakan hardware broadcast, jadi ia memerlukan arahan untuk tipe hardware
yang berbeda. Sebuah RARP server juga membutuhkan setiap jaringan fisik untuk
merespon kepada layer dua broadcast. Setiap RARP server harus memiliki alamat yang
diisikan secara manual yang disediakan oleh administrator. Dan yang paling buruk adalah,
RARP hanya menyediakan sebuah alamat IP untuk sebuah host dan tanpa informasi lain
yang mungkin dibutuhkan oleh host.

RARP jelas tidak memenuhi kebutuhan konfigurasi host untuk TCP/IP. Untuk
mendukung antara kebutuhan dari host tanpa disk dan situasi lain yang menguntungkan
dari auto-konfigurasi yang dibutuhkan, Bootstrap Protocol (BOOTP) pun dibuat. BOOTP
telah distandardisasikan dalam RFC 951, dipublikasikan pada September 1985. Protokol ini
memang didesain sespesifik mungkin untuk kelemahan alamat RARP:

o Protokol ini masih berbasis client/server exchange, tetapi diimplementasikan


sebagai layer yang lebih tinggi yaitu software protokol, menggunakan UDP untuk
pengiriman pesan. Ini tidak bergantung dari kebanyakan hardware dari jaringan
seperti ARP.

o BOOTP men-support pengiriman informasi konfigurasi tambahan untuk klien lebih


dari sekedar alamat IP. Informasi ekstra ini dapat dikirim melalui satu pesan untuk
efisiensi.

4
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

o BOOTP dapat menangani klien dan server pada jaringan yang berbeda pada sebuah
internetwork. Hal ini memungkinkan administrasi dari server yang menyediakan
alamat IP untuk lebih tersentralisasi, menghemat uang seperti administrasi waktu
dan masalah.

III. Kegunaan BOOTP

BOOTP memiliki kegunaan yang sama dengan DHCP, hanya BOOTP didesain
untuk manual pre-configuration dari informasi host di dalam suatu server database. BOOTP
dan DHCP didesain agar bisa route ke jaringan.

IV. Kelebihan BOOTP

Bootp memiliki keunggulan antara lain:


Tidak perlu harddisk, karena dapat digantikan perannya oleh Ethernet card dan BOOT
Lan
Memiliki log file sehingga dapat dilihat sewaktu-waktu penyebab error dengan melihat
log file tersebut.

V. Kelemahan BOOTP

Bootp memiliki kelemahan sebagai berikut:


Harus dilakukan secara manual sehingga resiko menimbulkan masalah cukup besar.
Pengiriman pesan yang tidak dapat diandalkan karena menggunakan UDP.
OS sekarang misalnya Windows sudah tidak memasukkan BOOTP dalam konfigurasi
jaringannya.

5
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

VI. Proses BOOTP

Operasi Boot Protocol

Boot Protocol menggunakan dua langkah simpel pertukaran pesan yang terdiri dari
broadcast permintaan dan broadcast jawaban. Setelah klien menerima informasi konfigurasi
dari BOOTP server, ia akan melengkapi proses bootstraping menggunakan protokol seperti
TFTP.

Proses BOOTP melibatkan tahapan – tahapan berikut:


1. Client menentukan alamat hardware-nya masing-masing; alamat tersebut normalnya
berada di ROM pada hardware.

6
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

2. Client BOOTP mengirimkan alamat hardware-nya di dalam datagram UDP ke


server. Jika client mengetahui IP-nya dan IP dari server, maka datagram UDP dari
client tersebut harus mencantumkannya, tetapi pada umumnya client BOOTP tidak
mempunyai data dari konfigurasi IP dari keduanya. Jika client tidak mengetahui IP-
nya sendiri, maka ia menggunakan IP 0.0.0.0. Jika client tidak mengetahui alamat IP
dari server, maka ia menggunakan alamat broadcast yang terbatas
(255.255.255.255). Port dari UDP adalah 67.
3. Server menerima datagram mencari alamat hardware dari client di dalam file
konfigurasinya, yang berisi alamat IP client. Server mengisi bagian sisa dari
datagram UDP dan mengembalikannya kepada client menggunakan port UDP 68.
Salah satu dari tiga metode mungkin digunakan pada hal berikut:
Jika client mengetahui alamat IP-nya sendiri (hal ini juga terdapat di
permintaan BOOTP), kemudian server mengembalikan datagram langsung
kepada alamat tersebut. Biasanya cache ARP di tumpukan protocol server
tidak akan mengetahui alamat hardware yang mencocokan dengan alamat IP.
ARP menganggap semua itu normal.
Jika client tidak mengetahui alamat IP-nya sendiri (yaitu 0.0.0.0 dalam
permintaan BOOTP), maka server harus memperhatikan hal itu dengan
cache ARP yang dimilikinya. ARP pada server tidak dapat digunakan untuk
mencari alamat hardware dari client karena client tidak mengetahui alamat
IP-nya jadi tidak dapat merespon permintaan ARP. Hal seperti ini sering
disebut masalah “ayam dan telur”. Terdapat dua solusi untuk mengatasinya:
o Jika server mempunyai mekanisme untuk langsung meng-update
cache ARP-nya tanpa menggunakan ARP sendiri, maka akan
mengirim datagramnya langsung.
o Jika server tidak dapat meng-update cache ARP-nya, maka harus
mengirim jawaban broadcast.
4. Jika client telah menerima jawaban, maka klien BOOTP akan merekam alamat IP-
nya (memungkinkan ia untuk merespon permintaan ARP) dan akan memulai proses
bootstrap.
Paket data yang dikirim berbentuk sebagai berikut:

7
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Format Pesan BOOTP

Keterangan :
Code menandakan permintaan atau jawaban. Jika kode 1 maka kode tersebut adalah
permintaan, sedangkan jika kode adalah 2 maka kode tersebut adalah jawaban.
HWtype menandakan tipe dari hardware, contohnya:
1 = Ethernet
6 = IEEE 802 Networks
length menunjukkan panjang dari alamat hardware dalam satuan bytes. Ethernet dan
token-ring menggunakan 6, misalnya loncatan (hops). Klien mengesetnya pada angka 0.
Angka ini terus bertambah oleh router yang me-relay permintaan ke server lain dan
digunakan untuk mengidentifikasi perulangan (loops). RFC 951 menganjurkan angka 3
mengindikasikan perulangan.

8
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Transaction ID yaitu nomor acak yang berguna untuk mencocokkan permintaan boot
dengan respon yang dihasilkan.
A random number used to match this boot request with the response it generates.
Seconds ditentukan oleh client. Ini menunjukkan waktu yang lewat dalam detik sejak
klien memulai proses boot.
Flags Field digunakan untuk broadcast flag. Bita dalam flags field yang tidak
digunakan untuk broadcast flag harus di-set 0, angka 0 itu akan digunakan untuk
keperluan yang akan datang. Biasanya, BOOTP server berusaha untuk mengirimkan
pesan BOOTREPLY langsung kepada klien menggunakan unicast. Alamat tujuan
dalam IP header di-set untuk BOOTP alamat IP-mu dan alamat MAC di-set untuk
alamat hardware klien BOOTP. Jika salah satu host tidak dapat menerima unicast dari
datagram IP hingga mengetahui alamat IP-nya, kemudian bit broadcastnya harus di-set
untuk mengindikasikan server yang BOOTREPLY harus dikirim sebagai IP dan MAC
broadcast. Di sisi lain bit tersebut harus di-set menjadi 0.
Client IP address diatur oleh klien. Jika tidak tahu maka 0.0.0.0.
Your IP Address diatur oleh server jika IP klien adalah 0.0.0.0.
Server IP address diatur oleh server.
Router IP address diatur dengan menyampaikan kepada router jika BOOTP forwarding
sedang digunakan.
Client hardware address diatur oleh klien dan digunakan oleh server untuk
mengidentifikasi klien yang sedang melakukan booting.
Server host name berisi opsional nama host server yang diakhiri dengan X’00’.
Boot file name diisi oleh klien. Klien bisa meninggalkan data ini kosong atau
mengisinya dengan nama, misalnya “router” mengindikasikan tipe dari boot file yang
digunakan. Server mengembalikan filename dari boot file yang sudah terkualifikasi
dengan penuh sehingga cocok dengan klien. Isinya telah dihilangkan oleh X'00'.
Vendor-specific area menandakan opsional tempat spesifik-vendor. Sangat dianjurkan
klien selalu mengisi empat bytes awal dengan “magic cookie”. Jika spesifikasi vendor
“magic cookie” tidak digunakan, klien sebaiknya menggunakan 99.130.83.99 diikuti oleh
akhiran label (255) dan menjadikan byte sisa menjadi nol. Silakan lihat pada RFC 1533
untuk lebih jelasnya.

9
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

10
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Pengoperasian umum dari BOOTP

BOOTP adalah sebuah simple client/server protocol yang mengandalkan broadcast untuk
mengijinkan komunikasi dengan perangkat yang belum mempunyai alamat IP. Dalam
contoh di atas Device A mencoba untuk menentukan alamat IP-nya dan parameter lain. Ia
mem-broadcast sebuah permintaan BOOTP pada jaringan lokal menggunakan UDP port 67
dan kemudian menunggu jawaban pada port 68. Device D telah dikonfigurasi sebagai
BOOTP server dan menunggu pada port ini. Ketika ia menerima permintaan, ia mengirim
sebuah broadcast pada port 68 memberitahu A alamat IP-nya.

Salah satu batasan dengan skema ini ialah penggunaan dari alamat broadcast untuk
permintaan BOOTP yang terbatas; ini membutuhkan server ada pada subnet yang sama
dengan penerima. BOOTP forwarding adalah sebuah mekanisme untuk router, di dalamnya
juga telah terdapat IBM 6611 dan 2210 Network Processors.
Sekali klien BOOTP telah memproses jawaban, maka akan dilanjutkan dengan transfer
boot file dan melakukan boot proses penuh. Lihat RFC 906 untuk spesifikasi tentang cara
ini diselesaikan dengan TFTP. Boot proses penuh akan mengganti protokol IP minimum
yang digunakan oleh BOOTP dan TFTP oleh normal protokol IP yang ditransferkan
sebagai sebuah bagian dari boot file dan berisi kostumisasi yang benar bagi klien.
Bootstrap Protocol (BOOTP) Dikembangkan untuk membuat komputer
menginisialisasi dirinya pada suatu jaringan (RFC951). Dibandingankan dengan DHCP
memang terbatas, tetapi karena DHCP dibangun di atas BOOTP, maka perlu untuk
memahami struktur pesan dan protocol BOOTP sebelum memperhatikan DHCP lebih jauh.
Lebih lanjut, karena kebanyakan implementasi DHCP juga berfungsi sebagai server
BOOTP, maka BOOTP harus dipahami. Biasanya BOOTP mencakup komputer yang
meminta informasi diperlukan untuk menginisialisasi.
Komputer dapat meminta 3 informasi kepada server, yaitu :
1. Informasi mengenai IP Address. Berguna supaya komputer dapat menginisialisasi
interface jaringannya.
2. Informasi IP Address suatu mesin di server (bootserver). Berguna untuk menyediakan
sebuah file bagi sebuah mesin untk load dan berjalan.
3. Nama file yang harus diload.

11
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Dengan informasi tersebut, client dapat menginisialisasi jaringannya, terhubung ke


bootserver (alamatnya sekarang diketahui), dan meload bootfile yang ditunjuk dengan
menggunakan protocol sederhana seperti TFTP.
Bootfile biasanya berisi informasi lain yang dibutuhkan client untuk konfigurasi,
dalam format yang memiliki signifikansi hanya dengan client. Selain itu bootfile dapat
menjadi gambaran software keseluruhan yang akan diload dan dijalankan oleh client.

VII. Implementasi

1. AIX/6000

Fungsi dari BOOTP server telah diimplementasikan dalam bootpd daemon. Daemon ini
adalah subserver yang dikontrol oleh inetd superdaemon. Bootps mencari /etc/bootptab yaitu
alamat dari hardware.
Fungsi dari klien Bootp digunakan dalam penghubung dengan TFTP untuk me-load
executable modules (X station, diskless station) atau file konfigurasi (switch atau router)
otomatis saat sistem startup.

Catatan: permintaan BOOTP dari klien BOOTP tidak dapat memberikan IP router jika
tidak dikostumisasi secara eksplisit.

2. OS/2

Fungsi dari klien dan server telah disediakan:


Fungsi dari server : perintah dari BOOTPD memulai server. Ketika BOOTP server
menerima alamat hardware maka ia akan mencari dengan yang
cocok di file /ETC/BOOTPTAB. Ketika menemukan alamat
hardware yang cocok, server mengirimkannya kembali (dalam paket
UDP) alamat internet, subnet, dan informasi lain kepada klien.
Silakan melihat IBM TCP/IP Version 2.0 for OS/2: User's Guide
untuk lebih jelas tentang file /ETC/BOOTPTAB. Paket broadcast
BOOTP digunakan untuk transfer dan terletak pada jaringan lokal
saja. Paket tersebut tidak dapat menembus router ke jaringan lain.

12
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Fungsi dari klien : perintah dari BOOTP memulai klien. Klien akan menjalankan dan
menampilkan respon dari server secepat klien tersebut bisa.

3. DOS

TCP/IP dari DOS menyediakan fungsi dari BOOTP klien. Perintah dari BOOTP
memastikan fungsi klien ini sangat berguna dalam membuat koneksi SLIP (sejak BOOTP
dapat digunakan untuk memasukkan alamat IP Anda, Anda tidak perlu mengetahui alamat
IP sebelum koneksi terjalin).

VIII. BOOTP Area Spesifik Vendor dan Informasi Extensi Vendor

Pembuat Boot Protocol sadar bahwa beberapa tipe dari hardware yang mungkin
membutuhkan informasi tambahan untuk bisa lolos dari server menuju klien dengan tujuan
agar klien dapat melakukan boot up. Untuk alasan ini, mereka menaruh ke dalam BOOTP
field format dengan 64-byte vendor field; juga biasa disebut area spesifik vendor.
Memasukkan field ini membuat BOOTP fleksibel, sejak BOOTP memperbolehkan vendor
memutuskan untuk mereka sendiri tentang cara mereka menggunakan protokol, dan
mengubah itu menjadi yang mereka butuhkan.

Setiap informasi vendor field menjelaskan tipe – tipe keterangan dari informasi untuk
dikomunikasikan, dan di-kodekan menggunakan struktur spesial subfield yang
menerangkan tipe field, panjang dan isinya. Hal ini merupakan metode biasa dari penentuan
opsi, yang disebut TLV-encoding (untuk type, length, value). Metode dasar yang sama juga
digunakan dalam pengkodean opsi IPv4 dan IPv6.

13
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Format Informasi Field BOOTP Vendor

Ukuran
Nama
Deskripsi
Subfield
(bytes)

Vendor Information Field Code: Oktet tunggal yang menentukan


Code 1
informasi tipe field vendor.

Vendor Information Field Length: The number of bytes in this


particular vendor information field. This does not include the two bytes
Len 1 for the Code and Len fields. Jumlah dari byte dalam keterangan
informasi field vendor ini. Ini tidak termasuk dua byte untuk Code dan
Len fields

Vendor Information Field Data: Data sedang dikirim, yang


Data Variable mempunyai panjang diindikasikan oleh Len subfield, dan yang
diinterpretasikan berbasis dari Code subfield.

Terdapat dua kasus spesial yang melanggar format field pada tabel di atas. Isi dari Code
yang 0 digunakan sebagai blok, ketika subfield harus diratakan dalam lingkup kata; ia tidak
berisi informasi. 255 digunakan sebagai penanda dari informasi field vendor. Kedua kode ini
berisi data yang tidak aktual, jadi untuk menghemat ruang, ketika diantaranya hanya
digunakan satu saja maka isi dari Code ikut dimasukkan; Field Len dan Data dilarang.
Perangkat yang melihat isi dari Code ialah 0 menganggapnya hanya sebagai pengisi;
perangkat yang melihat isi dari Code adalah 255 mengetahui itu telah mencapai akhir dari
informasi field vendor dalam field Vend.

14
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

IX. BOOTP Relay Agent

Ada lagi kelebihan BOOTP dari RARP, yaitu antara klien dan server tidak harus berada
dalam satu jaringan yang sama. Agar semua itu bisa terjadi membutuhkan sesuatu yang
beraksi sebagai perantara antara klien dan server yaitu BOOTP relay agent. Pekerjaan dari
BOOTP relay agent adalah berada di jaringan fisik tempat klien BOOTP berada dan bekerja
sebagai proxy dalam server BOOTP. Agen tersebut mendapatkan namanya karena ia me-
relay pesan antara klien dan server, dan membuat mereka dapat berhubungan meski berada
di jaringan yang berbeda.

15
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Operasi Normal BOOTP Menggunakan Relay Agent

Pada gambar di atas, Device A mencoba untuk mengakses server BOOTP, tetapi berada di
jaringan yang berbeda; keduanya terhubung oleh workgroup routeryang dikonfigurasi
untuk menjadi BOOTP relay agent. Device A menyebarkan permintaannya dan router
menerimanya. Ia menyambungkan permintaan dari Device A tadi menuju server BOOTP,
Device D, dan menaruh alamat IP-nya sendiri (IPR) ke dalam field BOOTP GIAddr. Server
BOOTP mengirim balasan kembali kepada router menggunakan alamat IPR. Kemudian
router menyebarkan pesan tersebut ke jaringan Device A sehingga Device A dapay
menerimanya.

16
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Proses pengiriman pesan pada jaringan BOOTP relay agent:

1. Klien Membuat Permintaan: klien membuat permintaanya seperti biasa.


Keberadaan relay agent transparan di mata klien.

2. Klien Mengirim Permintaanya: Klien menyebarkan pesan BOOTREQUEST


dengan mentransmisikan pesan tersebut ke alamat 255.255.255.255. (Berbeda kasus
jika klien telah mengetahui alamat IP-nya dan alamat IP dari server maka
mengirimkannya tidak perlu relay agent lagi melainkan dengan unicast).

3. Relay Agent Menerima Permintaan dan Memprosesnya: BOOTP relay agent


berada dalam jaringan fisik klien berada dan mendengarkan UDP port 67 di pihak
server. Ia memproses permintaan dengan cara:

Ia mengecek isi dari field Hops. Jika nilainya kurang atau sama dengan 16, ia
akan menambahi nilai tersebut dengan angka 1. Jika nilainya lebih dari 16
maka ia menghapus permintaan tersebut.
Ia mengamati isi dari field GIAddr. Jika field semuanya berisi nol, ia tahu ia
adalah relay agent pertama yang menangani paket itu dan menaruh alamat
IP-nya pada field ini. (Jika relay agentnya adalah router yang memiliki dua IP
maka IP yang diisikan adalah alamat IP yang menerima paket tersebut).

4. Permintaan Penyampaian Relay Agent : Relay agent mengirim permintaan


BOOTP kepada server BOOTP. Jika relay agent mengetahui alamat IP dari server
ia akan mengirim paket unicast langsung kepada server. Selain itu jika agent adalah
router , ia boleh memilih untuk menyebarkan permintaan pada interface yang
berbeda.

5. Server Menerima Permintaan dan Memprosesnya: server BOOTP menerima


pesan yang telah di-relay dari relay agent. Ia memprosesnya seperti biasa.

6. Server Membuat Tanggapan: server membuat pesan tanggapan seperti biasa.

7. Server Mengirim Tanggapan: melihat bahwa field GIAddr pada permintaan bukan
nol, server mengetahui permintaan tersebut telah di-relay. Bukannya mengirim ke
pengirim aslinya, ia mentransmisikan paket itu ke relay agent yang tertulis di field
GIAddr.

17
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

8. Relay Agent Menyalurkan Tanggapan: BOOTP relay agent mentransmisikan


pesan BOOTREPLY kembali ke klien. Unicast atau broadcast tergantung dari nilai
field CIAddr dan bendera broadcast (broadcast flag), sama seperti yang dilakukan
server pada jaringan non-relay.

18
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

BAB 2
DHCP
Pengertian apa itu DHCP

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) dikembangkan pada tahun 1993 sebagai
standar jalur protokol menggantikan BOOTP (Protokol Bootstrap). DHCP merupakan
suatu jaringan komputer protokol yang digunakan oleh host (DHCP client) untuk meminta
informasi pengalamatan IP dari sebuah server DHCP yang meliputi alamat IP, subnet mask,
dan angka-angka opsional. Angka opsional mungkin mencantumkan default alamat pintu
gerbang, alamat DNS, dan alamat server WINS. DHCP (Dynamic Host Configuration
Protocol). Protokol untuk distribusi IP pada jaringan dengan jumlah IP yang terbatas.
Terdapat di OSI Layer Aplikasi dan TCP/IP aplikasi.

Kegunaan dari DHCP

Kegunaan dari DHCP sebagai server yaitu untuk memberikan alamat IP secara otomatis
dan mengeliminasi beberapa masalah, sedangkan yang dimaksud dengan DHCP sebagai
client yaitu komputer client yang meminta alamat IP ke server. Pekerjaan kita akan lebih
efisien, mudah dan lebih cepat untuk mengkonfigurasikan alamat IP dan lainnya pada
komputer client. Meghindari bentroknya IP yang sering kita jumpai ketika pemberian IP
secara manual.
Komputer yang telah dikonfigurasikan agar menggunakan DHCP, sewaktu dihidupkan
akan mencari apakah di Network terdapat DHCP Server dan komputer tersebut akan
berteriak: hai, saya mau menyewa IP, apakah ada yang menawarkannya? . DHCP Server
yang mendengar adanya pihak yang mencari akan berkata ok, saya ada nih IP untuk
disewakan, no nya adalah sebagai berikut bla bla bla.......... Apakah Anda tertarik? .
Komputer yang mendapatkan penawaran dari DHCP Server ini akan memilih dari sekian
penawaran IP secara acak jika dalam network terdapat beberapa DHCP Server. Ketika
pilihan sudah diputuskan, komputer akan mengatakan ke salah satu DHCP Server ok, saya

19
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

akan meminjamnya dari Anda DHCP Server . DHCP Server akan menjawab lagi untuk
terakhir kalinya ok. Dengan demikian administrator tidak perlu lagi memberikan IP
Address secara manual, cukup dengan refrensi kepada DHCP server. Perlu diketahui IP
Address diberikan bersama dengan subnetmask, dan default gateway dalam waktu tertentu.

Proses penyewaan alamat IP secara teknis adalah:


1. Client mengirimkan broadcast DHCPDISCOVER untuk mencari DHCP Server.
2. DHCP Server yang tersedia mengirimkan DHCPOFFER serta IP dan waktu
penyewaan.
3. Client yang menerima penawaran IP dari DHCP Server mengirimkan
DHCPREQUEST.
4. Proses terakhir, DHP Server mengirimkan DHCPPACK.

DHCP Operation

20
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Pembaruan Penyewaan IP

Sebenarnya ketika DHCP Server menyewakan IP ke komputer client, DHCP Server


akan mengatakan, OK, saya akan menyewakan IP ini untuk anda selama sekian hari . Agar
komputer client bisa tetap aktif dan berkomunikasi dalam jaringan, aka penyewaan IP perlu
dilakukan penyewaan kembali sebelum masa akhir penyewaan IP habis.
Komputer client akan secara otomatis memperbaharui penyewaan IP ketika mencapai
50% dari masa waktu penyewaan dengan mengirimkan DHCPREQUEST ke DHCP Server.
Jadi misalkan saja penyewaan IP adalah 8 hari, maka pada hari ke 4, komputer client akan
mencoba memperbaharui penyewaan IP ini secara otomatis. Andaikan saja pada saat
penyewaan mencapai 50% dan penyewaan IP kembali gagal dilakukan karena DHCP server
sedang diperbaiki, maka komputer secara otomatis akan mencoba lagi memperbaharui
penyewaan IP pada saat masa sewa mencapai 87.5%.
Bagaimana jika komputer client tetap tidak dapat memperbaharui masa penyewaan IP
tersebut? Maka tidak seperti hukum di Indonesia yang bisa seenaknya dimainkan, komputer
client harus melepaskan IP yang telah disewa dan mencari DHCP server yang lain atau
tidak mendapatkan alamat IP yang baru.

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol)

IP address dan subnet mask dapat diberikan secara otomatis menggunakan Dynamic
Host Configuration Protocol atau diisi secara manual. DHCP berfungsi untuk memberikan
IP address secara otomatis pada komputer yang menggunakan protokol TCP/IP. DHCP
bekerja dengan relasi client-server, dimana DHCP server menyediakan suatu kelompok IP
address yang dapat diberikan pada DHCP client. Dalam memberikan IP address ini, DHCP
hanya meminjamkan IP address tersebut. Jadi pemberian IP address ini berlangsung secara
dinamis.

21
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Proses pemberian IP secara DHCP

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah suatu protokol jaringan yang
berfungsi untuk mendistribusikan IP pada jaringan secara otomatis. DHCP bekerja dengan
relasi client-server, dimana DHCP server menyediakan suatu kelompok IP address yang
dapat diberikan pada DHCP client. Dalam memberikan IP address ini, DHCP hanya
meminjamkan IP address tersebut. Jadi pemberian IP address ini berlangsung secara
dinamis.

Cara Kerja DHCP

DHCP menggunakan 4 langkah dalam pemberian informasi nomor IP untuk konfigurasi


pada setiap komputer yang dikehendakinya. (Proses DHCP dijalankan untuk setiap adaptor
secara sendiri-sendiri jika client punya NIC Card lebih dari satu dan perlu no IP lebih dari
satu).

22
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

1. IP Least Request

Komputer DHCP Client meminta nomor IP ke server (Broadcast mencari DHCP


Server).

2. IP Least Offer

DHCP server (bisa satu atau lebih server jika memang ada dua atau lebih DHCP s
erver) yang mempunyai no IP memberikan penawaran ke komputer client.

3. IP Lease Selection

Client memilih penawaran DHCP Server yang pertama diterima dan kembali
melakukan broadcast dengan pesan atau message menyetujui peminjaman tersebut
kepada DHCP Server.

4. IP Lease Ackknowledge

DHCP Server memberikan jawaban atas message tersebut berupa konfirmasi IP dan
informasi lain kepada client dengan sebuah ACKnowledgment. Kemudian client
melakukan inisialisasi dengan mengikat nomor IP tersebut dengan client dan dapat
bekerja pada jaringan tersebut. Sedangkan DHCP yang lainnya menarik tawarannya
kembali.

Fitur yang ditawarkan oleh DHCP

 Manual Allocation : dimana administrator server membuat konfigurasi secara


manual pada server dan mencatat MAC Addrress pada setiap komputer. Masing-
masing MAC Address sudah ditentukan setiap IP Addressnya.

 Automatic Allocation : DHCP server secara bebas memberikan alamat IP pada client
yang memintanya secara permanen diasosiasikan dengan MAC addres sesuai dengan
kapasitas yang ditetapkan oleh administrator.

 Dynamic Allocation : Proses permintaan alamat IP menggunakan batas jangka


waktu yang terkontrol. Server akan mencatat status peminjaman IP Address dan

23
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

akan memberikan alamat IP yang sudah expired kepada client DHCP atau ke
komputer lainnya.

Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP)

DHCP memberikan framework untuk disampaikan kepada client yang berisikan


informasi tentang konfigurasi jaringan. DHCP bekerja berdasarkan protokol BOOTP,
dimana ditambahkan fungsi untuk mengalokasikan penggunaan IP address dan konfigurasi
jaringan lainnya.
Spesifikasi DHCP dapat dilihat pada RFC 2131 – Dynamic Host Configuration Protocol,
dan RFC 2132 – DHCP options and BOOTP vendor extension. DHCP melakukan transaksi
dengan melihat pada jenis pesan yang dikirimkan. Pesan-pesan tersebut antara lain :
• DHCPDISCOVER : broadcast oleh client untuk menemukan server
• DHCPOFFER : respon dari server karena menerima DHCPDISCOVER dan menawarkan
IP address kepada client
• DHCPREQUEST : pesan dari client untuk mendapatkan informasi jaringan
• DHCPACK : acknowledge dari server
• DHCPNACK : negative acknowledge dari server yang menyatakan waktu sewa dari client
sudah kadaluwarsa
• DHCPDECLINE : pesan dari client yang menyatakan bahwa dia sedang menggunakan
informasi dari server
• DHCPRELEASE : pesan dari client bahwa client sudah tidak menggunakan lagi informasi
dari server
• DHCPINFORM : pesan dari client bahwa dia sudah menggunakan informasi jaringan
secara manual.

24
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Berikut keterangan dari interaksi antara DHCP client dan DHCP server :
1. Client melakukan broadcast DHCPDISCOVER pada jaringan lokal.
2. Server merespon dengan pesan DHCPOFFER, dimana informasi ini juga
memberikan informasi tentang IP address.
3. DHCP client menerima 1 atau lebih pesan DHCPOFFER dari 1 atau lebih DHCP
server. Client memilih salah satu informasi itu dan mengirimkan pesan
DHCPREQUEST dan informasi jaringan mana yang dipilih.
4. Server menerima pesan DHCPREQUEST tersebut dan membalas dengan
mengirimkan pesan DHCPACK dengan mengirimkan informasi lengkap.
5. Client menerima DHCPACK dan melakukan konfigurasi terhadap interface
jaringannya.
6. Apabila client sudah tidak menginginkan lagi alamat IP tersebut, client akan
mengirimkan pesan DHCPRELEASE.

Tanya Jawab Seputar DHCP

I. Apa Itu DHCP ?

Bagi Anda pemerhati masalah jaringan komputer pasti sudah sering mendengar istilah

25
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

DHCP. Bagi mereka yang belum mengerti mengenai DHCP, maka kali ini kami akan
sajikan berbagai tanya jawab seputar DHCP, khususnya bagi Anda yang masih pemula.
DHCP merupakan singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol.

II. Apa kegunaan dari DHCP?

Guna dari DHCP sangatlah besar dalam suatu jaringan komputer. DHCP digunakan agar
komputer-komputer yang terdapat pada suatu jaringan komputer bisa mengambil
konfigurasi (baik itu IP address, DNS address dan lain sebagainya) bagi mereka dari suatu
server DHCP. Intinya dengan adanya DHCP maka akan mampu mengurangi pekerjaan
dalam mengadministrasi suatu jaringan komputer berbasis IP yang besar. Bayangkan jika
suatu jaringan komputer yang terdiri dari 1000 komputer dan Anda harus mengeset IP
address pada masing-masing komputer secara manual. Payah bukan?

“Siapa yang menciptakan DHCP? Bagaimana mereka menciptakan DHCP?”


DHCP dibuat dan didesain oleh kelompok kerja Dynamic Host Configuration pada Internet
Engineering Task Force (IETF). IETF sendiri merupakan organisasi yang mendefinisikan
berbagai macam protokol dalam hubungannya dengan internet. Selanjutnya, definisi dari
DHCP itu sendiri dituangkan ke dalam suatu dokumen RFC (Request for Comments) dan
kemudian Internet Activities Board (IAB) mengkaji statusnya untuk kemudian menjadi
suatu standar di internet. Sampai dengan bulan Maret 1996, status DHCP merupakan suatu
Internet Proposed Standard Protocol dan sifatnya Elective. Sementara itu BOOTP saat itu
merupakan Internet Draft Standard Protocol dan sifatnya Recommended. Untuk melihat
lebih jauh mengenai standarisasi internet pada saat itu, silakan akses atau baca RFC1920.

“Bagaimana perbedaannya DHCP dibandingkan dengan BOOTP dan RARP?”


DHCP berbasiskan pada BOOTP dan masih kompatibel dengan teknologi sebelumnya.
Perbedaan utamanya adalah BOOTP didesain untuk manual pre-configuration dari
informasi host di dalam suatu server database, sementara itu DHCP digunakan untuk
memberi alokasi alamat jaringan secara dinamis dan juga konfigurasi penting lainnya bagi
host-host yang baru bergabung ke dalam jaringan. Sebagai tambahan, DHCP membolehkan
suatu metode recovery dan juga relokasi dari suatu alamat jaringan melalui suatu
mekanisme leasing.RARP merupakan suatu protokol yang digunakan oleh Sun dan vendor
lainnya yang mana membolehkan suatu komputer untuk mencari nomor IP-nya sendiri,

26
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

yang mana salah satu parameter-parameter protokol diberikan ke client system dengan
DHCP atau BOOTP. RARP tidak mendukung parameter-parameter lainnya dan
menggunakannya. Sebuah server hanya mampu untuk melayani LAN tunggal. Sementara
itu DHCP dan BOOTP didesain agar mereka bisa di-route pada jaringan.

“Bagaimana jika alamat IP pada client diberikan secara otomatis tanpa menggunakan DHCP
server?”
Secara teoritis hal ini sangat mungkin, dimana suatu client atau komputer bisa mengambil
sembarang IP address bagi dia sendiri dan kemudian mem-broadcast suatu request kepada
komputer-komputer lainnya untuk melihat apakah alamat IP tersebut sudah digunakan atau
belum. Appletalk didesain dengan ide seperti itu dan MacTCP pada Apple bisa dikonfigurasi
seperti hal tersebut. Namun demikian, metode alokasi IP seperti itu memiliki beberapa
kelemahan, yaitu:
 Komputer yang memerlukan IP address permanen bisa saja dimatikan dan hal itu
membuatnya kehilangan IP address nya dan IP address tersebut bisa digunakan oleh
komputer lainnya. Ini bisa berakibat pada masalah kesulitan mencari service yang
ada pada jaringan dan juga resiko pada masalah keamanan.
 Jika pemberikan IP address ini harus diberikan dengan mengikuti suatu range
tertentu, maka hal ini akan menimbulkan masalah karena kita harus menentukan
range-nya pada masing-masing komputer. Ini akan bisa mengakibatkan terjadinya
hidden configuration error dan kesulitan dalam mengganti range-nya di kemudian
hari.

“Dapatkah DHCP memberi alamat IP ke dalam jaringan secara statis?”


Ya. Ini bisa diibaratkan bahwa setiap client di dalam jaringan komputer yang menerapkan
DHCP selalu akan menerima IP yang sama selamanya. Ini sangat mungkin
diimplementasikan dan menurut dokumen RFC, ini merupakan suatu alokasi alamat secara
manual tetapi dilakukan secara tersentralisasi.

“Dapatkah suatu client BOOTP melakukan booting dari DHCP server?”


Bisa saja selama DHCP server secara spesifik ditulis untuk juga menghandle BOOTP query.
“Dapatkah suatu client DHCP melakukan booting dari BOOTP server?”
Bisa saja selama client DHCP ditulis secara spesifik untuk menjawab pesan dari suatu
BOOTP server.

27
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

“Bisakah suatu DHCP server menjadi backup bagi DHCP server yang lain?”
Anda bisa saja memiliki beberapa DHCP server dalam suatu jaringan. Selama server-server
DHCP tersebut identik dan memiliki alokasi yang sama bagi semua client dalam jaringan
tersebut, maka apabila salah satu DHCP server mati, data konfigurasi bisa diambil dari
server DHCP lain yang masih hidup. Untuk itu diperlukan suatu metode komunikasi server-
to-server pada server-server DHCP.

III. Di mana DHCP didefinisikan?

Anda bisa membaca dokumen RFC1541, RFC1534 dan RFC1533. Untuk membacanya
silakan Anda menuju ke http://ds.internic.net/ds/dspg1intdoc.html

Di mana saya bisa baca-baca hal yang lebih luas lagi mengenai DHCP ini?
Silakan Anda ke alamat http://www.bucknell.edu/~droms/dhcp/ atau ke
http://info.isoc.org/HMP/PAPER/127/html/paper.html atau seperti biasa, Anda bisa cari
di Google atau Yahoo! dengan keyword DHCP tutorial.

Dynamic Domain Name System (DDNS)

DDNS digunakan pada client yang menggunakan sistem DHCP, dimana DHCP server
mengirimkan pesan kepada nameserver untuk mencatat IP dan nama host.
DDNS (Dynamic Domain Name System)digunakan pada client yang menggunakan
sistem DHCP, dimana DHCP server mengirimkan pesan kepada nameserver untuk
mencatat IP dan nama host.
� Untuk memberikan IP kepada client secara otomatis.(DHCP)

28
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

SETTING DHCP SERVER

a. Masuk Ke Add or Remove Programs

b. Klik Add/Remove Windows Component

29
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

c. Blok/Pilih Networking Services, kemudian Klik Details…

d. Beri tanda Cek utk Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP)


Klik OK

30
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

e. Klik Next…

f. Tunggu Sampai dengan Selesai…

Klik Finish..
Jika Selesai Tutup jendela Add Remove Programnya..

31
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Yang paling umum untuk mengkonfigurasikan DHCP adalah dengan membuat scope
terlebih dahulu. Setelah scope telah ditentukan, setelah itu baru mengonfigurasikan di client.
Client tersebut tidak perlu membuat IP address satu persatu, karena telah didistribusikan
dari server.

g. Klik DHCP

h. Klik Tanda + (di expand)

32
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

i. Klik Kanan di nama servernya, kemudian klik Authorize..

j. Klik Kanan Dinama Servernya, Pilih All Task, Klik Restart…

33
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

k. Klik Kanan si nama servernya, Klik New Scope…

l. Klik Next

34
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

m. Masukan Nama Scopenya dan deskripsinya… Klik Next…

n. Masukan Range ip Local, dicontoh saya menggunakan ip :


192.168.1.1 s/d 192.168.1.254
Kemudian Klik Next…

35
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

o. Pilihan ini adalah optional.


Masukan range ip address yang tidak ingin dibagi ke user..
(NB : Kita juga dapat setting untuk tidak membagikan nomor nomor ip setelah
langkah ini selesai).

p. Masukan Periode waktu sewa ip bagi user.


(Pilihan ini juga Optional kita bisa mengubahnya setelah langak ini selesai.. )
Klik Next…

36
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

q. Apakah Nomor2 ip server DNS, WINS dan ROUTER ingin dimasukan?


Pilih YES
Klik NEXT
(Pilihan ini juga Optional, sesudah ini pun kita bisa setting)

r. Ip Router saya adalah 192.168.1.1, maka saya ADD di kolom IP address.


Klik NEXT

37
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

s. ip DNS Server saya adalah : 192.168.1.1, maka saya masukan di kolom IP address
Kemudian klik NEXT

t. Ip Server WINS saya juga 192.168.1.1 maka saya masukan di kolom IP address
Kemudian KLIK NEXT…

38
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

u. Untuk Langsung mengaktifkan Scope tsb, maka pilih YES, dan Klik NEXT…

v. KONFIGURASI SERVER DHCP SELESAI.. Klik FINISH

39
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

KETERANGAN :

Anda dapat menambahkan settingan tsb, dengan cara klik kanan di folder yg dimaksud.

KONFIGURASI DHCP CLIENT

Setelah melakukan konfigurasi di DHCP Server, yaitu melakukan setting di DHCP


Client pada masing-masing komputer. Berikut contoh setting DHCP client Windows
XP.

40
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

a. Masuk Ke Properties dari TCP/IPnya lalu klik properties..

b. Pilih Obtain an IP address Automatically dan


Pilih Obtain DNS Server Addresses
Klik OK… dua kali dan CLOSE semua jendela..

41
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

c. Untuk melihat apakah ip sudah diberikan dari server atau belum, coba masuk ke
dalam DOS PROMPT.
Kemudian ketik : ipconfig/all <enter>

Contoh diatas berarti :


Ip address pc ini : 192.168.1.2
Subnet MASK : 255.255.255.0
Ip Gateway/ROUTER dan Server DHCP, DNS dan WINS : 192.168.1.1 semua
PHYSICAL ADDRESS : 0003FF22309A (ini adalah nomor MAC ADRESS)
Nomor MAC ADRESS diperlukan jika anda ingin me-RESERVED nomor ip di server.

42
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

d. Untuk melepas no ip ketik : ipconfig/release <enter>


Untuk Meminta nomor ip dari server ketik : ipconfig/renew <enter>

43
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

CARA CLIENT MEMAKAI SERVER DHCP

Komputer yang sedang mengoperasikan client Windows 2003 jika memperoleh suatu
alamat IP yang dipilih pada properti TCP/IP-nya yaitu seperti ditunjukkan pada gambar di
bawah ini.

Ketika suatu komputer sebagai DHCP client diatur, komputer client itu dengan berlahan
akan menyetujui tawaran penyewaan dan dapat menerima dari server:

 Pemakaian alamat IP temporer yang dikenal sah atau sudah ditetapkan bagi jaringan
yang sedang bekerja sama.
 Parameter-parameter konfigurasi TCP/IP tambahan bagi client untuk dipakai dalam
bentuk data pilihan.

44
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

Selain itu, bila terdeteksi perbedaan dikonfigurasi, server DHCP berusaha untuk mem-ping
masing-masing alamat yang tersedia di dalam ruang lingkup itu sebelum menghadirkan
alamat dalam suatu tawaran penyewaan ke client. Hal ini memastikan bahwa masing-
masing alamat IP yang ditawarkan ke client belum dipakai oleh komputer non-DHCP
lainnya yang memakai konfigurasi TCP/IP manual.

CARA SERVER DHCP MENYEDIAKAN DATA OPSIONAL

Selain alamat IP, server DHCP dapat dikonfigurasikan agar dapat menyediakan data
data opsional untuk mengonfigurasikan TCP / IP sepenuhnya bagi client. Tipe yang sering
dipakai dan didistribusikan oleh server DHCP selama penyewaan yang meliputi:

 Parameter – parameter konfigurasi opsional lainnya memberikan ke client DHCP,


seperti alamat-alamat IP untuk server DNS atau server WINS yang dapat dipakai
client dalam memecahkan nama-nama host jaringan.

 Default pintu gerbang (router), yang dipakai untuk menghubungkan suatu segmen
jaringan dengan segmen-segmen jaringan lainnya.

RESERVATION

Anda dapat memilih untuk memesan beberapa alamat IP bagi pemberian penyewaan
permanen ke device atau komputer tertentu pada jaringan Anda. Anda harus membuat
reservasi hanya bagi device yang diaktifkan oleh DHCP dan yang harus dipesan demi tujuan
tertentu pada jaringan Anda (misalnya server cetak). Bila Anda sedang memesan alamat IP
untuk client yang baru atau alamat yang berbeda dari alamat yang aktual, maka Anda harus
memverifikasi bahwa alamat itu belum disewakan oleh server DHCP.

Dengan memesan alamat IP di dalam ruang lingkup tidak berarti secara otomatis
memaksa client yang sedang memakai alamat itu supaya berhenti memakainya. Kalau
alamat itu sudah dipakai, maka client yang sedang memakai alamat tersebut harus lebih dulu

45
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

melepaskannya dengan mengeluarkan suatu pesan pelepasan DHCP. Untuk membuat


semua ini terjadi pada suatu sistem yang sedang menjalankan Windows 2003, pada
command prompt, ketiklah ipconfig /release.

Dengan memesan alamat IP pada server DHCP tidak juga berarti memaksa client yang
baru yang untuknya reservasi itu dibuat agar segera berpindah ke alamat itu. Dalam kasus
ini juga, client harus lebih dulu mengeluarkan pesan permintaan DHCP. Untuk membuat
semua ini terjadi pada suatu sistem yang sedang mengoperasikan Windows 2003, pada
command prompt, ketiklah ipconfig /renew.

MENGATUR PANJANG DURASI PENYEWAAN

Anda dapat memodifikasi durasi penyewaan agar dipakai untuk memberikan penyewaan
alamat IP. Default durasi penyewaan adalah delapan hari. Bagi kebanyakan LAN (local area
network), default nilai dapat diterima tetapi selanjutnya dapat dibesarkan jika komputer-
komputer jarang berpindah atau berganti lokasi. Waktu penyewaan tak terbatas dapat juga
diatur, tetapi harus dipakai dengan hati-hati.

46
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

PROSES PENUKARKAN PESAN JALANNYA DHCP

Jika anda ingin mengaktifkan DHCP server dalam network yang memiliki Active
Directory maka terdapat langkah tambahan yang harus dilakukan yaitu otorisasi
(authorize). Tanpa otorisasi, DHCP server 2003 tidak akan bias diaktifkan. Dikatakan
DHCP server 2003 karena jika anda membuat DHCP server dengan system lain seperti
Linux dan Windows NT, anda tetap bias mengaktifkan DHCP server tanpa otorisasi. Untuk

47
Bootstrap Protocol & Dynamic Host Configuration Protocol
BOOTP & DHCP

melakukan otorisasi, klik menu Action > Manage Authorized Services > sorot server
anda dan klik “Authorized”.

48