Você está na página 1de 11

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deterjen
Pengertian deterjen pada umumnya mencakup setiap bahan pembersih termasuk
sabun, namun kebanyakan dihubungkan dengan deterjen sintetik. Deterjen
mempunyai sifat tidak membentuk endapan dengan ion-ion logam divalen dalam air
sadah. Deterjen dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok (kationik, anionik
dan nonionik), namun yang dibicarakan disini hanya anionik.(3)
Pada dasarnya deterjen anionik mempunyai kemiripan dengan sabun. Deterjen
mengandung gugus yang sangat polar, bermuatan negatif (dalam hal ini –SO3-) dan
rantai hidrokarbon yang panjang yang dapat melarutkan oli dan vaselin. Bahan dasar
pembuatan deterjen adalah rantai panjang alkohol jenuh C12 hingga C18. Berikut
langkah-langkah pembuatan deterjen.

O
H2SO4 || NaOH
CH3(CH2)nCH2OH CH3(CH2)nCH2 – O – S - OH
Pekat ||
O
Alkil hidrogensulfat
n = 10, 12, 14, 16

O
||
CH3(CH2)nCH2 – O – S – OӨNa⊕
||
O

Na-alkil sulfat
Deterjen

3.Hart Harold 1998 Kimia organic , Edisi keenam , Erlangga .Jakarta

Universitas Sumatera Utara


Jenis deterjen anionik yang lain adalah natrium alkil benzen sulfonat, dan
pembuatannya sebagai berikut :
Alkilasi H2SO4 NaOH
Benzena Ar – R R SO3H
Friedel-Crafts

R SO3ӨNa⊕
Na-alkil benzesulfonat

Sekarang deterjen yang beredar di pasar merupakan deterjen yang memiliki


rantai karbon yang lurus. Deterjen ini bersifat dapat dirusak oleh mikroorganisme atau
lazim dikenal deterjen yang ”soft” (lunak) atau ”biodegradable”.
Secara singkat dapat diketengahkan sabun mengandung gugus karboksilat, sedangkan
deterjen mengandung gugus sulfat atau sulfonat, keduanya berguna karena larut dalam
air dan memiliki rantai karbon panjang yang larut dalam oli atau vaselin.
Telah dikenal adanya harga-harga khusus yang digunakan untuk menentukan
sifat-sifat lemak seperti : derajat ketidak jenuhan, keasaman dari hidrolisis dan rata-
rata berat molekul. Sifat-sifat ini tergantung pada asal dari lemak.(4)
Deterjen merupakan produk yang mengandung surfaktan yang secara luas
digunakan untuk proses pembersihan. Deterjen sintetik digunakan untuk
membersihkan pakaian, piring, alat rumah tangga dan lain-lain. Tujuan dari deterjen
adalah untuk memindahkan kotoran, minyak dan polutan-polutan lain yang tidak
diinginkan. Kandungan deterjen yang telah dibuat pada saat ini memungkinkan untuk
memperoleh hasil yang sama ataupun lebih baik dengan temperatur pencucian yang
lebih rendah dan energi yang sedikit dan juga menghasilkan proses uraian biologis
yang lebih efisien yang dapat melindungi lingkungan dari pencemaran.(5)
Pada umumnya deterjen mengandung bahan-bahan berikut :
1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai
ujung berbeda yaitu hidrofil dan hidrofob yang berfungsi menurunkan tegangan
permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada
permukaan bahan.
2. Pembentuk (builder) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan
dengan cara menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air.

4. Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Organik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

5. Myers, D. 1946. Sufactant Science & Technology. Third Edition. John Wiley & Sons , Inc. New York.
Universitas Sumatera Utara
3. Pengisi (filler) merupakan bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci tetapi menambah kuantitas. Contoh : Sodium
sulfat.
4. Aditif adalah bahan tambahan untuk membuat produk lebih menarik, seperti
pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan lain-lain yang tidak berhubungan
langsung dengan daya cuci deterjen. Aditif ini ditambahkan lebih untuk maksud
komersialisasi produk..(6)
Dari bentuk fisiknya, ada beberapa jenis deterjen, yaitu deterjen cair dan
deterjen bubuk.

2.2.1 Deterjen cair


Secara umum, deterjen cair hampir sama dengan deterjen bubuk. Hal yang
membedakan hanyalah bentuknya : bubuk dan cair. Produk ini banyak digunakan di
laundry modern yang menggunakan mesin cuci kapasitas besar dengan teknologi yang
canggih.(7)

2.2 Surfaktan
Istilah surfaktan (surface active agent) pada umumnya digunakan untuk
menggambarkan molekul yang berinteraksi pada permukaan cairan. Surfaktan terdiri
dari dua bagian yaitu gugu hidrofobik dan gugus hidrofilik. Surfaktan dapat digunakan
dalam sistem cairan ataupun bukan cairan. Pernyataan lain adalah amfifil yang
mengingatkan bahwa molekul atau ion mempunyai afinitas tertentu baik terhadap
pelarut polar maupun non polar. Sebagai contoh, alkohol-alkohol rantai lurus, amina-
amina dan asam-asam adalah amfifil yang berubah dari hidrofilik dominan menjadi
lipofilik apabila jumlah atom karbon dalam rantai alkil naik. Amfifilik merupakan
sifat dari zat aktif permukaan yang menyebabkan zat ini diadsorbsi pada antar muka,
apakah ini cair/gas atau cair/cair. Jadi dalam suatu dispersi dalam air dari amil
alkohol, gugus alkoholik polar dapat bergabung dengan molekul-molekul air.(8)

6. Luis. Spitz. 1996. Soap and Ditergenta Theoritical and Practical Review. AOCS Press. United States of
America.
7. Permono. Ajar. 2002 . Membuat detergen bubuk, Penebar swadaya. Jakarta.
Universitas
8.Richey, G Herman. 1983. Fundmentals of Organik Chemistry. The Pennsylvania Sumatera
state University, new Utara
jersey
Apabila pada permukaan antara dua fasa yang bersih (seperti gas cairan dan
cairan-cairan) ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga ini akan
teradsorbsi pada permukaan dan komponen ini akan sangat mempengaruhi sifat
permukaan..
Adsorbsi molekul zat terlarut dari larutan oleh permukaan padatan biasanya
hanya membentuk monolayer. Adsorban polar cenderung untuk mengadsorbsi
adsorbat polar secara kuat dan mengadsorbsi adsorbat non polar secara lemah.
Sebaliknya, adsorben nonpolar cenderung untuk mengadsorbsi secara kuat adsorbat
nonpolar dan mengadsorpsi adsorbat secara lemah.(9)

2.2.3 Pembagian surfaktan


Pada umumnya gugus hidropobik merupakan gugus hirokarbon yang berantai
panjang dan gugus hidrofil merupakan gugus yang mempunyai kepolaran yang tinggi
yang dapat meningkatkan kelarutan. Berdasarkan sifat dari gugus hidrofiliknya
surfaktan dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
a. Aninonik, yaitu surfaktan dengan bagian aktif permukaannya mengandung muatan
negatif. Contohnya adalah RC6H4SO3-Na+ (Alkilbenzena sulfonat).
b. Kationik, yaitu surfaktan dengan bagian aktif permukaan mengandung muatan
positif. Contohnya adalah RNH3+Cl- (garam amina rantai panjang)
c. Nonionik, yaitu surfaktan dengan bagian aktif permukaan tidak mengandung
muatan apapun. Contohnya adalah R-OCH2CH2O- (polioksietilen).
d. Ampoterik atau zwitteriontik yaitu surfaktan yang mengandung muatan negatif
maupun positif pada bagian aktif permukaannya. Contohnya adalah
RN+(CH3)2CH2CH2SO3- (sulfobetin)

2.2.3.1 Surfaktan Anionik

Surfaktan anionik membentuk kelompok surfaktan yang paling besar dari


jumlahnya. Sifat hidroliknya berasal dari bagian kepala ionik yang biasanya
merupakan gugus sulfat atau sulfonat. Pada kasus ini, gugus hidrofob diikat ke bagian
hidrofil dengan ikatan C-O-S yang labil, yang mudah dihidrolisis. Beberapa contoh
dari surfaktan anionik adalah linier alkilbenzen sulfonat (LAS), alkohol sulfat (AS),
alpha olefin sulfonat (AOS) dan parafin atau secondary alkane sulfonat (SAS).(10)

9.. Alberty A Robert dan Daniels Farrington. 1984. Kimia Fisika. Erlangga Jakarta.

10. Miller Bernard. 1930 Organic chemisty, the basis of life. The Benjamin / Universitas
cummings Publishing Company.
Sumatera Utara
California.
2.3 Bahan baku pembuatan deterjen

Bahan baku untuk pembuatan deterjen bubuk terdiri dari beberapa jenis, yaitu
bahan aktif, bahan pengisi, bahan penunjang, bahan tambahan, bahan pewangi dan
antifoam. Pada pembuatan deterjen skala kecil dan menengah digunakan bahan baku
yang sama.

2.3.1 Bahan aktif (Active ingredient)

Bahan aktif merupakan bahan inti dari detergen sehingga bahan ini harus ada
dalam proses pembuatan deterjen. Secara kimia bahan ini dapat berupa Sodium Lauril
Eter Sulfonate (SLES). Beberapa nama dagang dari bahan aktif ini diantaranya
Luthensol, Emal dan Neopelex (NP). Di pasar beredar beberapa jenis Emal dan NP,
yaitu Emal-10, Emal-20, Emal-30, NP-10, NP-20 dan NP-30. Secara fungsional bahan
aktif ini mempunyai andil dalam meningkatkan daya bersih. Ciri dari bahan aktif
adalah busanya sangat banyak.

2.3.2 Bahan pengisi (Filler)


Garam dapur adalah sejenis mineral yang lazim dimakan manusia. Bentuknya
kristal putih, dihasilkan dari air laut. Biasanya garam dapat yang tersedia secara umum
adalah Natrium Klorida (NaCl). Senyawa natrium adalah penting dalam perindustrian
kimia, kaca, logam, kertas, petrolium, sabun dan tekstil. Sabun pada umumnya
merupakan garam natrium dengan beberapa jenis asam lemak.
Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku.
Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume.
Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku detergen semata-mata ditinjau dari
aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi detergen digunakan sodium
sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium
pyrophospate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk,
dan mudah larut dalam air.

Universitas Sumatera Utara


2.3.3 Bahan tambahan (Aditif)

Bahan aditif sebenarnya tidak harus ada dalam proses pembuatan detergen
bubuk. Namun demikian, beberapa produsen justru selalu mencari hal-hal baru akan
bahan ini karena justru bahan ini dapat memberi kekhususan dan nilai lebih pada
produk detergen tersebut. Dengan demikian, keberadaan bahan aditif dapat
mengangkat nilai jual produk detergen bubu tersebut.
2.3.4 Bahan pewangi (Parfum)

Parfum termasuk dalam bahan tambahan. Keberadaan parfum memegang


peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk detergen. Artinya,
walaupun secara kualitas detergen yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi
parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk detergen berbentuk
cairan berwarna kekuning-kuningan dengan berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat
parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke mililiter (ml). Sebagai patokan 1 g
parfum = 1,1 ml.
Pada dasarnya, jenis parfum untuk detergen dapat dibagi ke dalam dua jenis,
yaitu parfum umum dan parfum eksklusif. Parfum umum mempunyai aroma yang
sudah dikenal umum di masyarakat, seperti aroma mawar dan aroma kenanga. Pada
umumnya, produsen detergen bubuk menggunakan jenis parfum yang eksklusif.
Artinya, aroma dari parfum tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang
menggunakannya. Kekhasan parfum ekslusif ini diimbangi dengan harganya yang
lebih mahal dari jenis parfum umum.

2.4 Koloid
Keadaan koloid adalah suatu keadaan antara larutan dan suspensi. Suatu
kumpulan dari beberapa ratus atau beberapa ribu partikel yang membentuk partikel
lebih besar dengan ukuran sekitar 10 Å sampai 2 000 Å dikatakan berada dalam
keadaan koloid. Dalam suatu sistem koloid, partikel-partikel koloid terdispersi
(tersebar) dalam medium pendispersinya. Zat terdispersi maupun medium pendispersi
koloid dapat berupa zat padat, cair, atau gas. Terdapat 8 tipe system koloid, yaitu busa
(gas dalam cair), busa padat (gas dalam padat), aerosol padat (cair dalam gas), emulsi

11..Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Organik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Universitas Sumatera Utara
(cair dalam cair), emulsi padat (cair dalam padat), aerosol padat (padat dalam gas), sol
(padat dalam cair), dan sol padat (padat dalam padat).

2.4.1 Kestabilan sistem koloid


Koloid gas dan kebanyakan koloid cairan tidak mengendap dalam waktu yang
sangat lama (berarti koloid ini stabil). Kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya
gerak Brown. Meskipun telah sampai ke dasar tempatnya, partikel koloid dapat naik
kembali dan terus bergerak dalam mediumnya. Penyebab lainnya karena umumnya
partikel koloid mengadsorpsi ion. Partikel koloid yang sama akan mengadsorpsi ion-
ion yang sejenis, sehingga partikel-partikel koloid itu saling tolak-menolak karena
pengaruh ion sejenis yang telah diadsorpsi. Partikel koloid sebenarnya tidak
bermuatan listrik (netral). Peristiwa elektroforesis dapat digunakan untuk mengetahui
jenis muatan ion yang diadsorpsi koloid. Jika koloid mengumpul pada elektroda
negatif, berarti koloid telah mengadsorpsi ion positip, dan sebaliknya.
Kestabilan koloid dapat juga disebabkan adanya adsorpsi molekul atau koloid
yang lain (koloid protektif/pelindung). Misalnya gelatin sebagai penstabil es krim.
Emulsi dapat terbentuk karena adanya koloid lain (emulgator/pengemulsi) sebagai
pengadsorpsi. Misalnya sabun sebagai pengemulsi minyak/lemak dan air. Pengemulsi
yang lain misalnya kasein dalam susu, dan kuning telur dalam pembuatan mayones.(12)

2.5 Viskositas
Di antara semua sifat- sifat fluida, viskositas memerlukan perhatian yang
terbesar dalam telaahan tentang aliran fluida. Viskositas adalah sifat fluida yang
mendasari diberikannya tahanan terhadap tegangan geser oleh fluida tersebut. Hukum
viskositas Newton menyatakan bahwa untuk laju perubahan bentuk sudut fluida yang
tertentu maka tegangan geser berbanding lurus dengan viskositas.
Viskositas gas meningkat dengan suhu, tetapi viskositas cairan berkurang
dengan naiknya suhu. Perbedaan dalam kecendrungan terhadap suhu tersebut dapat
diterangkan dengan menyimak penyebab – penyebab viskositas. Tahanan suatu fluida
terhadap tegangan geser tergantung pada kohesinya dan pada laju perpindahan
momentum molekularnya. Cairan dengan molekul – molekul yang jauh lebih rapat
dari pada gas, mempunyai gaya-gaya kohesi yang jauh lebih besar dari pada gas.

12. Yazid, E. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.

Universitas Sumatera Utara


Kohesi nampaknya merupakan penyebab utama viskositas dalam cairan, dan karena
kohesi berkurang dengan naiknya suhu, maka demikian pula viskositas.
Sebaliknya, gas mempunyai gaya- gaya kohesi yang sangat kecil. Sebagian
besar dari tahanan nya terhadap tegangan geser merupakan akibat perpindahan
momentum molekular.(13)

Perilaku zat cair, terutama air banyak dipelajari dalam bidang teknik sipil, sedang gas
banyak dipelajari dalam bidang teknik mesin, kimia, aeronotika, dan sebagainya. Zat
cair mempunyai bebereapa sifat berikut ini:

1. Apabila ruangan lebih besar dari volume zat cair, akan terbentuk permukaan
bebas horizontal yang berhubungan dengan atmosfer.

2. Mempunyai rapat massa dan berat jenis

3. Dapat dianggap tidak termampatkan

4. Mempunyai viskositas (kekentaalan)

5. Mempunyai kohesi, adhesi dan tegangan permukaan

Kekentalan adalah sifat dari zat cair untuk melawan tegangan geser pada waktu
bergerak / mengalir. Kekentalan disebabkan karena kohesi antara partikel zat cair.zat
cair ideal tidak mempunyai kekentalan. Zat cair kental seperti sirup atau oli,
mempunyai kekentalan besar, sedangkan zat cair encer, seperti air mempunyai
kekentaln kecil. Kekentalan zat cair dapat dibedakan menjadi dua yaitu kekentaln
dinamik (µ) atau kekentalan absolute dan kekentalan kinematis ( V).(14)
Koefisien Viskositas adalah kekuatan dalam dyne yang menggunakan tekanan
diantara dua lapisan sejajar, dapat juga dianggap sebagai gaya p[ersatuan luas yang
diperlukan untuk mengerakkan ataupun memiondahklan satu lapisan yang
memepunyai kecepatan 1 cm detik -1 melewati garis sejajar yang lain yang berjarak 1
cm. Di dalam SI satuan viskositas adalah Nsm-2 (kgm-1s-1) ata Pa s (pascal sekon).
Didalam CGS satuian viskositas adfalh dyne s cm-2 ( gcm -2
s-1). Satuan ini disebut
poise diberi simbol p ( 1 poise = 0,1 Pa s ).

13. Sukardjo.2002. Kimia Fisika. cetakan ketiga. Rineka cipta . Jakarta.

Universitas Sumatera Utara


Ini merupakan penghargaan kepada ilmuwan prancis Poiseulle yang
menurumnkan rumus penetuan Viskositas dan metoide untuk menentukan Viskositas
larutan Satuan viskositas lain adalah centipoise ( 1/100 poise) dan ,ilipoise (1 / 1000
poise.(15)

2.5.1 Faktor – faktor yang memepengaruhi viskositas adalah sebagai berikut :


1. Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naioknya tekanan sedangkan viskositas gas tidak
dipengaruhi oleh tekanan.
2. Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya temperatur, sedangkan viskositas gas naik
dengannaiknya temperatur. Pemanasan zat cair menyebabakan molekul –
molekulnya memperoleh energi. Molekul- molekul caoran bergerak sehingga gaya
interaksi antar molekul melemah. Dengan demiokian viskositas cairan akan turun
dengan kenaikan tempereatur.
3. Kehadiran zat lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan tambahan
seperti bahan suspensi (miksalnya albumin dan globulin) menaikkan viskositas air.
Pada minyak ataupun gliserin adanya penambahan air akan menyebabkan
viskositas akan turun klarena gliserin ataupun minyak akan semakinm encer,
waktu alirnya kan semakin cepat.
4. Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran alkohol cepat,
larutan minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya tinggi. Larutan minyak
misalnya CPO memiliki kekentalan tinggi serta laju aliran lambat sehingga
viskositas juga tinggi.
5. Bentuk molekul
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak.

Universitas Sumatera Utara


6. Kekuatan antar molekul
Viskositas air naik dengan adanya ikatan hidrogen, Viskositas CPO dengan gugus
OH pada trigliseridanya naik pada keadaan yang sama.

2.5.2 Metode pengukuran Viskositas dengan metode Ostwald


Viskosimeter Ostwald telah diperbaharui oleh bingham. Cairan dilewatkan
melalui suatu kapiler dengan penjagaan tekanan udara pada tekanan konstan. Ada
tanda pada atas dan dasar dari bulatan pipa dan waktu yang dibutuhkan untuk cairan
mengalir dari tanda atas ke tanda bawah yang mana wakltu alirnya dicatat.
Pada percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan dipipet ke dalam
viskosimeter. Cairan kemudian dihisap melalui labu pengukur dari Viskosimeter
sampai permukaan cairan lebih tinggi dari batas a. Cairan dibiarkan turun. Ketika
cairan turun melewati batas a, stopwatch di hidupkan dan ketika caioran melewati
batas b, stop watch dimatikan jadi waktu yang dibutuhkan cairan untuk melewati jarak
anatar a dan b dapat ditentukan.
Untuk menghindari kesukaran dalam hal pengukuran, digunakan suatu cairan
pembanding. Yang paling sering digunakan adalah air. Dengan menyusun kembali
persamaan untuk dua cairan nilai V, R dan L akan dapat dihilangkan. Hal ini dapat
dilihat pada persamaan.
η1 πR 4 ( Pt )1 8VL
= x
η2 8 VL πR 4 ( Pt ) 2

η1 ( Pt )1 ρt
= x 11
η2 ( Pt ) 2 ρ 2t 2

P = ρ x konstanta
Ρ = masa jenis cairan
karena tekanan berbanding lurus dengan rapatan cairan (d), maka berlaku :

Jadi bila viskositas dan masa jenis pembanding diketahui, maka viskositas cairan lain
dapat ditentukan. Tabel 1. memperlihatkan viskositas beberapa cairan pada suhu yang
berbeda-beda.(16)

Universitas Sumatera Utara


Tabel 1. Viskositas cairan pada berbagai suhu
(dalam satuan poise*)

Suhu 0C
Cairan
0 10 20 30 40 50
Air 0.0179 0.013 0.0101 0.0080 0.0065 0.0055
Gliserin 105.9 34.4 13.4 6.29 2.89 1.41
Anilin 0.102 0.065 0.0044 0.0316 0.0237 0.0185
Bensin 0.0091 0.0076 0.0065 0.0056 0.0050 0.0044
Etanol 0.0177 0.0147 0.012 0.0100 0.0083 0.007
Minyak lobak 25.3 3.85 1.63 0.96 - -

14. E. B. Wylie. 1992. Mekanika Fluida. Erlangga. Jakarta.


15. Bambang. T. 1993. Hidraulika I. Beta offset. Yogyakarta.
Universitas Sumatera Utara
16. Bird. T. 1987. Kimia Fisik Untuk Universitas. Cetakan Pertama. Gramedia Pustaka. Jakarta.