Você está na página 1de 3

Agama, Manusia, dan Alam

Oleh A Halim Fathani Yahya

Manusia sebagaimana makhluk lainnya, memiliki keterkaitan dan ketergantungan


terhadap alam dan lingkungannya. Namun demikian, pada akhir-akhir ini, manusia justru
semakin aktif mengambil langkah-langkah yang merusak, atau bahkan menghancurkan
lingkungan hidup. Hampir setiap hari kita mendengar berita menyedihkan tentang
kerusakan alam yang timbul pada sumber air, gunung, laut, atau udara. Bencana lumpur
lapindo yang tak kunjung usai, gunung meletus, demam berdarah, flu burung, kekeringan,
dan sebagainya selalu menghiasi berita di televisi maupun di koran-koran.

Pemanfaatan alam lingkungan secara serampangan dan tanpa aturan telah dimulai sejak
manusia memiliki kemampuan lebih besar dalam menguasai alam lingkungannya.
Dengan mengeksploitasi alam, manusia menikmati kemakmuran hidup yang lebih
banyak. Namun sayangnya, seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, alam
lingkungan malah dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan kerusakan yang
dahsyat.

Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh manusia bersumber dari cara pandang manusia
terhadap alam lingkungannya. Dalam pandangan manusia yang oportunis, alam adalah
barang dagang yang menguntungkan dan manusia bebas untuk melakukan apa saja
terhadap alam. Menurutnya, alam dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi
kesenangan manusia. Sebaliknya, manusia yang religius akan menyadari adanya
keterkaitan antara dirinya dan alam lingkungan. Manusia seperti ini akan memandang
alam sebagai sahabatnya yang tidak bisa dieksploitasi secara sewenang-wenang.

Sadar Lingkungan
Secara umum, agama-agama samawi memiliki pandangan yang sama mengenai
perlindungan terhadap alam semesta. Agama-agama samawi menyatakan bahwa bumi
dan segala sesuatu yang tersimpan di dalamnya diciptakan Tuhan untuk manusia. Allah
swt berfirman, (al-Baqarah: 29): “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di
bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menciptakan langit, lalu dijadikan-Nya tujuh
langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Tuhan menyebut alam lingkungan sebagai nikmat besar yang diberikan-Nya untuk
manusia agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupannya secara benar. Allah berfirman
(dalam QS. Jaatsiyah: 13), “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan
apa yang di bumi, semuanya berasal dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Dengan demikian, manusia
sebagai khalifah Tuhan di muka bumi memiliki kemampuan dan kesempatan untuk
memanfaatkan alam semesta bagi kehidupannya, baik di bumi, maupun di langit.

Selain berhak memanfaatkan alam semesta, manusia juga diberi tanggung jawab untuk
menjaga agar alam semesta tidak mengalami kerusakan. Allah SWT berfirman (QS. al-
Ruum: 41), “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh perbuatan
tangan manusia; Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari perilaku
mereka itu supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan alam lingkungan pada akhirnya akan
memberikan dampak negatif kepada diri manusia. Misalnya, perilaku manusia yang
merusak hutan, membuang sampah sembarangan berakibat pada bencana banjir yang
merenggut nyawa dan melenyapkan harta benda manusia. Ketika bencana alam datang,
manusia seharusnya menyadari kesalahannya dalam mengeksploitasi alam secara
semena-mena.

Kerusakan lingkungan hidup merupakan akibat dari ketidak taatan, keserakahan dan
ketidakperduliaan (manusia) terhadap karunia besar kehidupan (Budha), Kita harus,
mendeklarasikan sikap kita untuk menghentikan kerusakan, menghidupkan kembali
menghormati tradisi lama kita (Hindu), Kami melawan segala terhadap segala bentuk
eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam yang kemudian mengancam kerusakannya
(Kristen), dan Manusia adalah pengemban amanah, berkewajiban untuk memelihara
keutuhan Ciptaan-Nya, integritas bumi, serta flora dan faunanya, baik hidupan liar
maupun keadaan alam asli.

Krisis Lingkungan
Kerusakan alam lainnya yang dikhawatirkan oleh para ilmuwan lingkungan hidup adalah
rusaknya lapisan ozon di atmosfer. Penyebab menipisnya lapisan ozon adalah gas
karbondioksida (CO2) yang bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil dan
chloroflourocarbon (CFC) yang bersumber dari penggunaan kulkas dan AC. Kedua gas
itu mengeluarkan atom yang merusak molekul ozon di atmosfer. Kerusakan ozon
membuat sinar matahari masuk ke bumi secara berlebihan, tanpa ada yang menangkal,
sehingga dapat menyebabkan kanker kulit dan berbagai penyakit lainnya. Akibat lain dari
kerusakan ozon adalah meningkatnya temperatur bumi.

Para ilmuwan lingkungan hidup menyatakan bahwa aturan utama dalam memanfaatkan
alam adalah memperhatikan standar dan kapasitas yang ada. Eksploitasi alam secara
berlebihan dan tanpa aturan dan pertimbangan yang matang akan menyebabkan krisis
lingkungan. Hal ini sesuai dengan aturan Islam, sebagaimana tercantum dalam QS. al-
Hijr: 19, “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-
gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”

Pemanfaatan sumber daya alam harus selalu memperhatikan dampak negatif yang terjadi
terhadap lingkungan. Misalnya kasus, dalam sebuah tambang emas, biasa digunakan
bahan-bahan kimia untuk memisahkan kandungan emas dari zat-zat lainnya. Sisa-sisa
bahan kimia ini bila dibuang begitu saja ke laut, akan menyebabkan tercemarnya air laut
dan teracuninya makhluk hidup di laut. Akibatnya, manusia tidak dapat memanfaatkan
makhluk-makhluk laut untuk kehidupannya.

Dalam kasus ini, kecerobohan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam telah
menyebabkan kerugian yang berdampak terhadap diri mereka sendiri. Dalam hal ini,
Imam Ridha as. pernah bersabda, “Keadilan dan kedermawanan menyebabkan abadinya
nikmat Allah. Karena itu, seadainya manusia memperhatikan dampak lingkungan hidup,
sesungguhnya, dia telah menjaga kelestarian nikmat Tuhan bagi dirinya sendiri.”

Penutup
Sebagai kesimpulan, kita sebagai umat beragama haruslah berusaha semaksimal mungkin
untuk tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan hidup. Kemajuan di bidang sains
dan teknologi memang diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup. Kita memerlukan agama
untuk terlibat dan keluar dari krisis lingkungan. Agama-agama samawi, terutama agama
Islam, telah menekankan bahwa manusia tidak boleh melakukan kerusakan di alam
karena yang akan menerima dampak negatifnya adalah diri manusia sendiri.

Agama Islam memandang pemanfaatan alam semesta tanpa metode dan membabi-buta
merupakan sebuah bentuk kedzaliman dan akan merugikan manusia sendiri. Berlebih-
lebihan dalam memanfaatkan alam dipandang sebagai perilaku mubadzir dan dicela oleh
Islam. Dalam QS. al-A’raf: 31, Allah swt berfirman, “Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap masjid , makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-
lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [ahf]